• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan E-Modul Sistem Koloid Berbasis Discovery Learning untuk SMA/MA. Rahma Ranny 1, Rahadian Zainul 1* Sumatera Barat 25171, Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Pengembangan E-Modul Sistem Koloid Berbasis Discovery Learning untuk SMA/MA. Rahma Ranny 1, Rahadian Zainul 1* Sumatera Barat 25171, Indonesia"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

160 Pengembangan E-Modul Sistem Koloid

Berbasis Discovery Learning untuk SMA/MA

Rahma Ranny1, Rahadian Zainul1*

1Pendidikan Kimia, Universitas Negeri Padang, Jl. Prof. Dr. Hamka Air Tawar Barat, Sumatera Barat 25171, Indonesia

*[email protected]

Abstract

Learning in the 2013 curriculum for all levels of education is using the scientific approach.

One of learning model that is relevant to the application of the scientific approach is discovery learning. This research aims to determine the level of validity and practicality of e-module developed. The type of research conducted is Research and Development (R&D) and used 4-D model which includes four stages, define, design, develop, and disseminate.

Validity and practicality of the colloidal system e-module based on discovery learning were tested. The validity test was carried out by two chemistry lecturers at FMIPA UNP and three chemistry teachers at SMAN 4 Pariaman using a validity questionnaire.

Practicality test was carried out by three chemistry teachers and 21 students of class XI IPA 1 at SMAN 4 Pariaman using a practicality questionnaire. The average kappa moment (k) result of the validity and practicality tests by teacher and student of e-module are 0,89;

0,89; 0,79 with a very high validity category, very high practicality category from teacher and high practicality category from student. The data shows that the colloidal system e- module based on discovery learning for SMA/MA is valid and practical.

Key work: E-Modul, Discovery Learning A. Pendahuluan

Di era globalisasi saat ini, teknologi informasi (IT) telah berkembang pesat.

Perkembangan teknologi informasi sudah mempengaruhi segala aspek kehidupan baik dibidang politik, ekonomi, seni, budaya, dan bahkan dibidang pendidikan. Berbagai usaha dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, salah satunya dengan pemanfaatan teknologi informasi sebagai penunjang proses pembelajaran di sekolah. Penggunaan media pembelajaran yang didukung dengan teknologi informasi secara tidak langsung dapat membantu siswa mengembangkan kemampuannya dibidang IT dan tentunya bisa meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Hal ini berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 tahun 2010 pasal 48 dan 59 mengenai penyelenggaraan sistem pendidikan nasional di satuan atau suatu program pendidikan dengan melaksanakan sistem informasi pendidikan.

Salah satu media pembelajaran yang didukung dengan teknologi informasi adalah modul yang dikemas dalam bentuk elektronik digital, dikenal dengan e-module atau electronic module, e-modul merupakan hasil inovasi dari modul cetak. E-modul memiliki kelebihan dibandingkan dengan modul cetak, karena dilengkapi dengan audio, gambar, animasi, video, serta tes/kuis untuk memberikan umpan balik bagi siswa secara otomatis

(2)

[1]. Kita dapat menggunakan e-modul melalui perangkat elektronik seperti laptop, smartphone, dan komputer. Perangkat elektronik tersebut bukanlah hal yang baru pada masa kini. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan tiga orang guru kimia, yaitu guru SMAN 3 Padang, SMAN 7 Padang, dan SMAN 4 Pariaman, sekolah sudah memiliki labor komputer, sehingga e-modul dapat digunakan sebagai media pembelajaran di sekolah.

Berdasarkan hasil kuisioner yang peneliti beri kepada 20 orang siswa kelas XII IPA SMAN 3 Padang, SMAN 7 Padang, dan SMAN 4 Pariaman tahun ajaran 2018/2019, dengan total semua siswa untuk ketiga sekolah adalah 60 orang, 52% sudah memiliki laptop atau komputer sehingga e-modul juga dapat digunakan sebgaai media pembelajaran mandiri di rumah.

Penelitian yang dilakukan oleh Farenta dkk (2016), menunjukkan bahwa hasil belajar siswa meningkat dengan menggunakan e-modul [2]. Penelitian yang dilakukan oleh Zulkarnain (2015), melaporkan bahwa hasil belajar siswa meningkat dengan menggunakan e-modul pada materi teori atom mekanika kuantum [3]. Penelitian yang dilakukan oleh Nugroho dkk (2017), menunjukkan bahwa hasil belajar siswa meningkat dengan menggunaan e-modul pada materi hidrolisis garam [4]. Pemerintah memberlakukan kurikulum 2013 dengan harapan bisa meningkatkan mutu pendidikan. Pada kurikulum 2013, pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik, yaitu pendekatan berbasis keilmuan [5]. Pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik dirancang supaya dapat berpusat pada siswa untuk mendorong minat, motivasi, kemandirian, inspirasi, dan kreativitas siswa. Ada lima tahap dalam pendekatan saintifik, diantaranya: mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasi [6].

Salah satu model pembelajaran yang relevan dalam penerapan pendekatan saintifik yakni discovery learning. Discovery learning adalah model pembelajaran yang membuat siswa aktif di dalam pembelajaran dengan menekankan pada pemahaman struktur, yaitu ide-ide penting pada disiplin ilmu. Model discovery learning bisa membantu siswa dalam belajar mandiri dan menyebabkan terjadinya pembelajaran yang efektif karena siswa menerapkan pengetahuan yang sudah ada ke situasi baru [7].

Penelitian yang dilakukan Uside (2013), melaporkan bahwa pembelajaran yang menggunakan model discovery learning bisa menanamkan kepercayaan diri dan meningkatkan retensi memori siswa, serta merangsang siswa untuk menemukan konsep yang benar [8]. Model discovery learning berpengaruh terhadap ketercapaian siswa dalam meningkatkan ilmu pengetahuan. Hasil penelitian Wulandari (2018) menunjukkan bahwa model discovery learning dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa. Siswa melakukan pembelajaran yang praktis di dalam kelompok dan diawasi oleh guru dalam menjawab permasalahan dari guru [9]. Selanjutnya Balim (2009) melaporkan bahwa model discovery learning terbukti bisa meningkatkan hasil belajar siswa secara signifikan pada ranah kognitif [10].

Dalam jurnal pengembangan e-modul Zulkarnain (2015) menunjukkan bahwa bahan ajar yang digunakan belum sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013. Guru masih belum terampil dalam pembuatan bahan ajar karena masih menggunakan bahan ajar dari penerbit tertentu [3]. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan tiga orang guru kimia SMA, didapatkan informasi bahwa di dalam pembelajaran kimia khususnya materi sistem koloid, guru menggunakan bahan ajar berupa buku cetak, LKS, PPT, dan modul yang belum sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013. Bahan ajar tersebut baru sebagian dapat membimbing siswa dalam menemukan konsep secara mandiri.

Salah satu materi kimia yang dipelajari di sekolah oleh siswa kelas XI SMA/MA pada semester II adalah sistem koloid. Sistem koloid terdiri dari pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan prinsip. Materi sistem koloid bersifat konstektual namun dalam

(3)

162 pelaksanaannya, sistem koloid sering dihafal oleh siswa, hal ini dapat menimbulkan beberapa miskonsepsi [10].

Hasil analisis kuisioner yang peneliti sebar kepada 60 orang siswa kelas XII IPA, diperoleh informasi bahwa 68% siswa mengatakan materi sistem koloid sulit dipahami, 68% siswa belum dapat memahami materi sistem koloid dengan bahan ajar yang digunakan guru, dan 70% siswa mengatakan bahwa bahan ajar yang digunakan guru pada materi sistem koloid belum dikemas dalam tampilan yang menarik. Lalu, 88% siswa juga mengatakan senang jika belajar melalui gambar, video, animasi, dan bahan ajar yang berwarna. Berdasarkan pemaparan di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Pengembangan E-Modul Sistem Koloid Berbasis Discovery Learning untuk SMA/MA”, yang merupakan pengembangan dari modul sistem koloid berbasis discovery learning oleh saudari Verawati, pendidikan kimia UNP 2013.

B. Metode

Jenis penelitian yang dilakukan adalah Research and Development (R&D). Karena tujuan penelitian ini yaitu mengembangkan dan menghasilkan bahan ajar dalam bentuk e- modul sistem koloid berbasis discovery learning untuk SMA/MA. Subjek penelitian ini adalah dua orang dosen kimia FMIPA UNP dan tiga orang guru kimia SMAN 4 Pariaman sebagai validator dan 21 orang siswa kelas XI IPA 1 SMAN 4 Pariaman tahun ajaran 2018/2019 sebagai subjek praktikalitas. Objek penelitian ini adalah e-modul sistem koloid berbasis discovery learning untuk SMA/MA. Model penelitian ini adalah model 4-D.

Model 4-D terdiri dari empat tahap, yaitu define (pendefinisian), design (perancangan), develop (pengembangan), dan disseminate (penyebaran) [11]. Penelitian ini hanya dilakukan hingga tahap develop (pengembangan), sedangkan tahap disseminate (penyebaran) tidak dilakukan karena keterbatasan waktu dan biaya. Jenis data dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer merupakan jenis data yang diperoleh secara langsung baik dari dosen kimia, guru kimia SMA, dan siswa dengan cara menyebarkan angket pengujian validitas dan praktikalitas yang dianalisis menggunakan momen kappa cohen [12].

𝑚𝑜𝑚𝑒𝑛𝑡𝑘𝑎𝑝𝑝𝑎 (𝑘) = 𝑃 − 𝑃𝑒 1 − 𝑃𝑒 Keterangan:

k = momen kappa cohen yang menunjukkan validitas/praktikalitas produk

P = Proporsi yang terealisasi (observed agreement), caranya dengan menghitung jumlah nilai yang diberi oleh validator dibagi jumlah nilai maksimal

Pe= Proporsi yang tidak terealisasi (expected agreement), caranya dengan menghitung jumlah nilai maksimal dikurangi dengan jumlah nilai total yang diberi oleh validator dibagi jumlah nilai maksimal.

Tabel 1. Kategori Keputusan Berdasarkan Moment Kappa (k)

Interval Kategori

0,81–1,00 Sangat tinggi

0,61–0,80 Tinggi

0,41–0,60 Sedang

0,21–0,40 Rendah

0,01–0,20 Sangat rendah

≤0,00 Tidak valid

(4)

C. Hasil dan Pembahasan

Berikut ini adalah hasil yang didapat selama proses penelitian yang dilakukan berdasarkan tahapan pada model 4-D.

C.1. Define (Pendefinisian)

C.1.1. Analisis ujung depan.Analisis ujung depan diperoleh dari hasil wawancara dengan tiga orang guru kimia SMA. Hasil yang diperoleh dari wawancara guru dapat disimpulkan bahwa pembelajaran khususnya pada materi sistem koloid di SMAN 3 dan SMAN 7 Padang sudah dilaksanakan sesuai kurikulum 2013, namun di SMAN 4 Pariaman masih pembelajaran KTSP. Guru menggunakan bahan ajar berupa buku cetak, LKS, PPT, dan modul yang belum sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013. Bahan ajar tersebut baru sebagian dapat membimbing siswa dalam menemukan konsep secara mandiri.

C.1.2. Analisis siswa. Analisis siswa diperoleh dari hasil analisis kuisioner yang peneliti beri kepada 20 orang siswa di SMAN 3 Padang, SMAN 7 Padang, dan SMAN 4 Pariaman dengan total siswa dari ketiga sekolah adalah 60 orang. Hasil yang diperoleh dari analisis kuisioner bahwa 68% siswa mengatakan materi sistem koloid sulit dipahami, 68% siswa belum dapat memahami materi sistemkoloid dengan bahan ajar yang digunakan guru, dan 70% siswa mengatakan bahwa bahan ajar yang digunakan guru pada materi sistem koloid belum dikemas dalam tampilan yang menarik. Lalu 88% siswa juga mengatakan senang jika belajar melalui gambar, video, animasi, dan bahan ajar yang berwarna. Analisis siswa ini dijadikan gambaran awal dalam pembuatan e-modul sistem koloid, sehingga e-modul yang dihasilkan sesuai dengan kemampuan siswa.

C.1.3. Analisis tugas. Analisis tugas dilakukan dengan cara menganalisis Kompetensi Dasar (KD) 3.14 yaitu mengelompokkan berbagai jenis sistem koloid dan menjelaskan kegunaan koloid berdasarkan sifat-sifatnya dalam kehidupan dan 4.14 yaitu membuat produk atau makanan berupa koloid atau yang melibatkan prinsip koloid berdasarkan kurikulum 2013 revisi 2017. Hasil analisis KD 3.14, didapatkan Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK) yaitu 3.14.1: menjelaskan pengertian koloid, 3.14.2: mengelompokkan jenis koloid berdasarkan fase terdispersi dan medium pendispersi, 3.14.3: menjelaskan sifat-sifat koloid, 3.14.4:

membedakan koloid liofil dan liofob berdasarkan interaksi fase terdispersi terhadap medium pendispersi, 3.14.5: menjelaskan pembuatan koloid, dan 3.14.6: menjelaskan peranan koloid dalam kehidupan sehari-hari. Hasil analisis KD 4.14, didapatkan IPK yaitu 4.14.1: membuat produk berupa koloid atau yang melibatkan prinsip koloid di dalam kehidupan sehari-hari dan 4.14.2: membuat makanan berupa koloid atau yang melibatkan prinsip koloid di dalam kehidupan sehari-hari.

C.1.4. Analisis konsep.Konsep-konsep yang akan dipelajari pada KD 3.14 didapatkan dari analisis konsep, sehingga diperolehlah tabel analisis konsep. Hasil analisis konsep juga digunakan untuk merancang peta konsep.

C.1.5. Perumusan tujuan pembelajaran. Untuk merumuskan tujuan pembelajaran, didasarkan pada IPK yang harus dikuasi oleh siswa. Adapun tujuan pembelajarannya adalah melalui pendekatan saintifik yang menggunakan model discovery learning, siswa diharapkan dapat aktif pada proses pembelajaran, punya rasa tanggung jawab, ingin tahu, dan teliti dalam memberi pendapat, saran dan kritik, menjawab pertanyaan. Siswa diharapkan dapat menjelaskan pengertian koloid, mengelompokkan jenis koloid berdasarkan fase terdispersi dan medium pendispersi, menjelaskan sifat-sifat koloid, membedakan koloid liofil dan liofob

(5)

164 berdasarkan interaksi fase terdispersi terhadap medium pendispersi, menjelaskan pembuatan koloid, dan menjelaskan peranan koloid dalam kehidupan sehari-hari.

C.2. Design (Perancangan)

Pada tahap ini, dihasilkan desain awal e-modul sistem koloid yang didasarkan pada telaah ditahap pendefinisian. Tahap design terdiri dari (1) pemilihan model pembelajaran yaitu discovery learning,(2) pemilihan media yaitu media pembelajaran e-modul, (3) pemilihan format untuk merancang isi pembelajaran yang disesuaikan dengan komponen-komponen yang terdapat dalam e-modul, diantaranya:cover, petunjuk belajar (petunjuk guru dan siswa), kompetensi pembelajaran, lembar kegiatan, lembar kerja, lembar evaluasi, dan kunci lembar kerja dan evaluasi, dan (4) desain awal yang bertujuan untuk mempersiapkan rancangan e- modul dengan menggunakan laptop. E-modul dirancang terlebih dahulu di Microsoft Word 2007 dan menyimpannya dalam format PDF. E-modul yang sudah dalam format PDF dimasukkan ke dalam software e-modul, yaitu Kvisoft Flipbook Maker, dan menyimpannya dalam format .exe. Animasi dan soal evaluasi dirancang menggunakan Adobe Flash CS6 dalam format swf.

C.3. Develop (Pengembangan)

Tahap pengembangan dilakukan dengan tujuan menghasilkan e-modul yang sudah diperbaiki berdasarkan masukan para ahli. Berikut tahap pengembangan.

C.3.1. Uji validitas. Adapun rata-rata hasil uji validitas oleh validator terhadap e-modul yaitu 0,89 dengan kategori kevalidan sangat tinggi dilihat dari empat komponen yaitu komponen isi, kebahasaan, penyajian, dan kegrafikan.

Komponen isi e-modul memiliki kategori kevalidan sangat tinggi dengan momen kappa sebesar 0,92. Hal ini menunjukkan bahwa e-modul sistem koloid berbasis discovery learning sesuai dengan tuntutan kompetensi dasar 3.14. Modul yang baik adalah modul yang terdapat kompetensi dasar [13]. E-modul yang dihasilkan sesuai dengan kemampuan siswa, dapat menambah wawasan siswa, dan pertanyaan maupun soal-soal yang diberikan sesuai dengan materi pembelajaran.

Komponen kebahasaan e-modul memiliki kategori kevalidan sangat tinggi dengan momen kappa sebesar 0,89. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan pada e-modul mudah dipahami sehingga tidak menimbulkan penafsiran ganda. Informasi yang diberikan jelas serta konsisten dalam penggunaan simbol maupun lambang. Hal ini sesuai dengan karakteristik e- modul berdasarkan Kemendikbud (2017) [14].

Komponen penyajian e-modul memiliki kategori kevalidan sangat tinggi dengan momen kappa sebesar 0,89. Hal ini menunjukkan bahwa e-modul disusun secara sistematis dengan komponen-komponen penyajian berdasarkan Depdiknas (2008) [5]. Komponen penyajian meliputi kejelasan tujuan yang akan dicapai, urutan penyajian, serta sistematika tahapan discovery learning yang diterapkan dalam penyampaian materi. Tahap discovery learning terdiri dari tahap stimulation (pemberian rangsangan), problem statement (mengidentifikasi masalah), data collection (pengumpulan data), data processing (pengolahan data), verification (pembuktian), dan generalization (penarikan kesimpulan).

Komponen kegrafikan e-modul memiliki kategori kevalidan sangat tinggi dengan momen kappa sebesar 0,88. Hal ini menunjukkan bahwa jenis dan ukuran huruf yang digunakan jelas dibaca, memiliki lay out atau tampilan cover yang menarik, serta gambar, video, dan animasi yang diberikan dapat diamati dengan jelas, sesuai dengan komponen kegrafikan Depdiknas (2008) [15]. Rata-rata hasil uji validitas e-modul oleh validator dapat dilihat pada Grafik 1.

(6)

Grafik 1. Rata-rata Hasil Uji Validitas oleh Validator

C.3.2. Uji Praktikalitas. Uji praktikalitas dilakukan setelah tidak ada revisi lagi dari validator.

Adapun rata-rata hasil uji praktikalitas oleh guru dan siswa yaitu 0,89 dan 0,79 dengan kategori kepraktisan sangat tinggi dan tinggi dilihat dari komponen kemudahan penggunaan, efisiensi waktu pembelajaran, dan manfaat dari e-modul.

Komponen kemudahan penggunaan e-modul memiliki kategori kepraktisan sangat tinggi dari guru dan siswa dengan momen kappa sebesar 0,92 dan 0,85. Hal ini menunjukkan bahwa petunjuk penggunaan e-modul mudah dipahami dan bahasa yang digunakan mudah dimengerti. E-modul juga dapat digunakan berulang-ulang dan mudah dibawa karena dapat disimpan di dalam compact disk atau flashdisk.

Komponen efisiensi waktu pembelajaran e-modul memiliki kategori kepraktisan sangat tinggi dari guru dan tinggi dari siswa dengan momen kappa sebesar 0,85 dan 0,70. Hal ini menunjukkan bahwa e-modul dapat membantu siswa belajar sesuai dengan kecepatannya dan menjadikan pembelajaran lebih efisien.

Komponen manfaat e-modul memiliki kategori kepraktisan sangat tinggi dari guru dan siswa dengan momen kappa sebesar 0,91 dan 0,81. Hal ini menunjukkan bahwa e-modul dapat mendukung peran guru sebagai fasilitator, mengurangi beban guru dalam menjelaskan materi berulang-ulang, membantu siswa belajar mandiri, meningkatkan rasa ingin tahu siswa, dan membuat pembelajaran menjadi menyenangkan. Rata-rata hasil uji praktikalitas e-modul oleh guru dan siswa dapat dilihat pada Grafik 2.

Grafik 2. Rata-rata Hasil Uji Praktikalitas oleh Guru dan Siswa

0.92

0.89 0.89

0.88

0.86 0.87 0.88 0.89 0.9 0.91 0.92 0.93

Isi Kebahasaan Penyajian Kegrafikan

Rata-rata Nilai k

Komponen yang Dinilai

0.920.85 0.85 0.91

0.70 0.81

0 0.2 0.4 0.6 0.8 1

Kemudahan penggunaan

Efisiensi waktu pembelajaran

Manfaat

Rata-rata nilai k

Komponen yang Dinilai

Guru Siswa

(7)

166 D. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pengolahan data, maka dapat disimpulkan bahwa e- modul sistem koloid berbasis discovery learning untuk SMA/MA yang telah dikembangkan memiliki kategori kevalidan dan kepraktisan dari guru sangat tinggi dan kepraktisan dari siswa tinggi.

Referensi

[1] Suarsana, I.M dan Mahayukti, G.A. 2013. Pengembangan E-Modul Berorientasi Pemecahan Masalah untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis mahasiswa, Jurnal Pendidikan Indonesia, 2(2).

[2] Farenta, A., Sulton., dan Setyosari, P. 2016. Pengembangan E-Module Berbasis Problem Based Learning Mata Pelajaran Kimia untuk Siswa Kelas X SMA Negeri Malang, Jurnal Pendidikan, 1(16), 1159-1168.

[3] Zulkarnain, Andi., Kadaritna, Nina., dan Tania, Lisa. 2015. Pengembangan E-Modul Teori Atom Mekanika Kuantum Berbasis Web dengan Pendekatan Saintifik, Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Kimia, 4(1), 222-235.

[4] Nugroho, K., Raharjo, Sentot Budi., dan Masykuri, Mohammad. 2017. Pengembangan E-Modul Kimia Berbasis Problem Based Solving dengan Menggunakan Moodle pada Materi Hidrolisis Garam untuk Kelas XI SMA/MA Semester II, Jurnal Inkuiri, 6(1), 175-180.

[5] Permendikbud No.59. 2014. Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah, Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

[6] Permendikbud No.59. 2013. Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah, Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

[7] Mahmoud. 2014. The Effect of Using Discovery Learning Strategy in Teaching Grammatical Rules to First Year General Secondary Student on Developing Their Achievement and Metacognitive Skills, International Journal of Innovation and Scientific Research, 5(2), 146-153.

[8] Uside, Otiende Noel., Barchok, K.H., dan Abura, O.G. 2013. Effect of Discovery Learning Method on Secondary School Student’s Achievement in Physics in Kenya, Asian Journal of Social Sciences & Humanities, 2(3).

[9] Wulandari, Martina Diah., Sarwi., dan Yulianto, Agus. 2018. Development of Discovery Learning Model Using Scientific Approach to Increase Student’s Comprehension and Communication Skills, Journal of Innovative Science Education, 7(2), 223-228.

[10] Novilia, Lita., Iskandar, Srini M., dan Fajaroh, Fauziatul 2016. Pengembangan Modul Pembelajaran dengan Pendekatan Inkuiri Terbimbing pada Materi Koloid di SMA, Jurnal Pendidikan Sains, 4(3), 95-101.

[11] Trianto. 2012. Model Pembelajaran Terpadu: Konsep, Strategi, dan Implementasinya dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Jakarta: PT. Bumi Aksara.

[12] Boslaugh, S. Dan Watters, P.A. 2008. Statistics in a Nutshell, a Desktop Quick Reference, United State of America: O’Reilley Media, Inc.

[13] Daryanto. 2014. Pengembangan Pembelajaran Saintifik Kurikulum 2013, Yogyakarta:

Gava Media.

[14] Kemendikbud. 2017. Panduan Praktis Penyusunan E-Modul, Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas.

[15] Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Penulisan Modul. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan adanya penggunaaan komputer dalam pencatatan penjualan sparepart akan lebih cepat dari pada menggunakan cara manual, dengan menggunakan komputer sekaligus akan mendapatkan

Penyakit jantung merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak di Amerika Serikat (Bernard et al ., 2004), oleh karena itu mengenali penyebab kardiak sangatlah

Dari tabel 9 dan berdasarkan nilai packet loss sesuai dengan versi TIPHON sebagai standarisasi, pada area Kantor Bandar Udara Rendani untuk kategori degredasi

PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI soundx,sample_freq % hObject handle to pushbutton2 see GCBO % eventdata reserved - to be defined in

Waktu kegiatan penelitian dimulai dari Agustus – Desember 2017 dengan populasi yang dijadikan dalam penelitian ini adalah seluruh semester III Pendidikan Bahasa

Broadcast adalah sebuah operasi komunikasi kolektif dimana sebuah proses dalam suatu kelompok jaringan (communicator) mengirimkan data yang sama kepada semua proses yang lain

golongan yang sekarang ini menamakan dirinya orang yang memperjuangkan Islam, belumlah dapat dinamakan sebagai “ fiatin qalilatin ...,” yang demikian

maka variabel yang paling berpengaruh terhadap peningkatan volume penjualan adalah promosi.Berkaitan dengan pentingnya masalah promosi, maka hal ini perlu diperhatikan