LATAR BELAKANG
Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu faktor yang penting dan mempunyai peran yang paling besar di suatu perusahaan. Di setiap perusahaan menyadari bahwa sumber daya manusia professional, terpercaya, berkomitmen dan tekun merupakan kunci bagi perusahaan untuk mencapai tujuannya. Karyawan sebagai sumber daya manusia yang dominan di suatu perusahaan merupakan salah satu faktor internal perusahaan yang mempunyai peranan penting untuk menghasilkan suatu kinerja yang berkualitas. Kinerja karyawan yang baik dapat memberikan dampak yang positif bagi perusahaan secara keseluruhan. Salah satunya yaitu dalam peningkatan penyelesaian tanggung jawab yang telah diberikan perusahaan kepada para pekerja (Anjani, Hamiyah, Prasetya, 2014).
Sumber Daya Manusia sebagai karyawan tidak bisa lepas dari masalah yang berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan kerja sewaktu bekerja dengan menjamin kesehatan dan keselamatan kerja dapat menumbuhkan semangat kerja bagi perusahaan. Karyawan yang bekerja memiliki hak atas kesehatan dan keselamatan kerja yang pelaksanaannya dilandasi dengan adanya peraturan perundang-undang. Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) yang dijadikan sebagai aspek perlindungan tenaga kerja sekaligus dapat melindungi asset bagi perusahaan yang bertujuan untuk memberikan jaminan kondisi yang aman dan sehat bagi setiap karyawan dan untuk melindungi SDM itu sendiri. Adanya keselamatan dan kesehatan kerja mempunyai tujuan yaitu untuk mengurangi angka kecelakaan kerja di Indonesia (Elphiana, Diah, Kosasih, 2017)
Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan kegiatan yang menjamin terciptanya kondisi kerja yang aman, dan terhindar dari adanya gangguan fisik dan mental melalui pembinaan dan pelatihan, pengarahan dan kontrol terhadap pelaksanaan tugas dari para karyawan dan pemberian bantuan sesuai aturan yang berlaku baik bagi Lembaga pemerintah maupun perusahaan dimana karyawan bekerja (Yuli,2005).
Di Indonesia terdapat undang-undang yang mengatur tentang kesehatan dan keselamatan.
Dasar Hukum Keselamatan dan Kesehatan Kerja pemerintah memberikan jaminan kepada karyawan dengan menyusun Undang-Undang Tentang Kecelakaan Tahun 1947 Nomor 33, yang dinyatakan berlaku pada tanggal 6 Januari 1951, kemudian disusul dengan Peraturan Pemerintah Tentang Pernyataan berlakunya peraturan kecelakan tahun 1947 (PP No. 2 Tahun 1948), yang merupakan bukti tentang disadarinya arti penting keselamatan kerja di dalam perusahaan.
Penerapan K3 dalam perusahaan akan selalu terkait dengan landasan hukum penerapan program K3 itu sendiri. Landasan hukum tersebutlah yang menjadi pijakan utama dalam menafsirkan aturan dalam menentukan seperti apa ataupun bagaimana program Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) tersebut harus diterapkan. Menjelaskan sumber-sumber hukum yang menjadi dasar penerapan program K3 adalah sebagai berikut: 1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. 2. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang jaminan Sosial Tenaga Kerja. 3. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja. 4. Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 1993 tentang Penyakit yang timbul karena hubungan kerja. 5. Peraturan Pendaftaran Kepesertaan, Pembayaran Iuran, Pembayaran Santunan dan Pelayanan Jaminan Sosial Tenaga Kerja. 6. Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Elphiana, Diah, Kosasih, 2017).
Kepuasan kerja (job statifaction) yaitu keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dimana para karyawan memandang pekerjaan. Kepuasan kerja sangat diperlukan dan diharapkan akan dapat bekerja sesuai kapasitas yang sudah diberikan, sehingga dapat meningkatkan kinerja organisai. Sebaliknya jika para pegawai tidak merasa puas dalam bekerja maka yang terjadi adalah kinerja mereka akan mengalami penurunan Handoko (2008). Semangat kerja yaitu suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya atas dasar kecakapan, pengalaman, dan kesungguhan serta waktu.
Semangat dalam organisasi merupakan jawaban atas berhasil atau tidaknya tujuan didalam suatu organisasi yang sudah ditetapkan, dan merupakan suatu kondisi yang harus diketahui dan dikonfirmasi kepada pihak tententu guna mengetahui tingkat pencapaian suatu perusahaan yang sudah dihubungkan melalui visi yang diemban bagi perusahaan atau organisasi serta mengetahui dampak positif dan negatif mengenai suatu kebijakan operasional.
Kinerja karyawan adalah proses menyelaraskan tujuan organisasi dengan pengukuran ketrampilan karyawan, kebutuhan kompetensi, rencana pegembangan dan penyampaian hasil (Oluoch, 2015). Kinerja karyawan akan meningkat bila manajer mengontrol dan memotivasi karyawan dengan memberikan imbalan (Fadlallh, 2015). Terjadinya kecelakaan atau penyakit kerja dan dapat berakibat kematian, atau karyawan bisa mengalami cacat atau sakit untuk sementara dan tidak bisa bekerja, maka karyawan yang bersangkutan tidak mampu lagi bekerja dengan baik atau tingkat produktivitas kerjanya akan mengalami penurunan dibanding waktu
sehat. Oleh sebab itu perlu sistem pemberian kompensasi akibat kecelakan dan penyakit kerja, karena itu akan menumbuhkan semangat kerja untuk meningkatkan kinerja karyawan (Elphiana, Diah, Kosasih 2017). Kinerja merupakan tingkat keberhasilan seseorang secara keseluruhan dalam periode tetentu didalam melaksanakan tugas dibanding dengan berbagai kemungkinan seperti standart hasil kerja, target sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati bersama. Hal ini dapat ini dapat tercapai apabila perusahaan selalu memperhatikan faktor keselamatan dan kesehatan kerja (K3) karena hal ini akan dapat meningkatakan kinerja karyawan. Perhatian terhadap kesehatan pekerjaan pada mulanya lebih menekankan pada masalah keselamatan kerja yaitu perlindungan pekerjaan dari kerugian atau luka yang disebabkan oleh kecelakan berkaitan dengan kerja. kemudian seiring dengan perkembangan industri, perusahaan mulai memperhatikan kesehatan pekerja dalam arti luas yaitu terbebasnya pekerjaan dari kesakitan fisik maupun psikis (Mondy dan Noe III, 2005)
Penelitian mengenai pengaruh keselamatan dan kesehatan kerja terhadap kinerja karyawan memiliki hasil yang beragam. Penelitian menurut Anjani, Utami dan Prasetya (2014) dan (Elphiana, Diah, dan Kosasih 2017) menunjukan bahwa keselamatan kerja memiliki pengaruh terhadap kinerja karyawan. Namun ada juga penelitian yang menunjukkan bahwa keselamatan tidak berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan (Marom dan Bambang, 2018). Penelitian yang di lakukkan oleh (Firmanzah dkk, 2017) dan (Christina, Yuni, Ludfi dan Armanu 2012) menunjukkan bahwa kesehatan kerja memiliki pengaruh terhadap kinerja karyawan. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh (Nisak dan Isharijadi, 2017) menunjukkan bahwa kesehatan kerja tidak berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan.
Karena adanya perbedaan hasil dari penelitian ini maka ditemukan celah untuk melakukan penelitian ulang mengenai pengaruh keselamatan dan kesehatan kerja terhadap kinerja karyawan melalui kepuasan kerja sebagai variabel intervening agar diperoleh kejelasan mengenai hubungan variabel tersebut.
Pengamatan awal telah dilakukan di Dinas Pemadam Kebakaran di Ungaran. Dinas Pemadam Kebakaran merupakan instansi, dimana tugas dari Disdamker adalah memadamkan api ketika terjadi kebakaran, melakukan penyelamatan binatang, mengambil sarang tawon, menangani hewan buas seperti ular, kemudian melakukan persiapan, pengecekan, perawatan seluruh alat, kendaraan agar selalu siap ketika akan digunakan. Saat menangani tugas tersebut di DAMKAR
yang sering terjadi adalah luka ringan seperti lecet, memar tertancap paku dan lainnya. Karena pada saat para karyawan melakukan pemadam kebakaran mereka harus fokus pada api dan korban jika ada sehingga mereka kurang memperhatikan diri sendiri. Selain luka ringan karyawan sering mengalami luka bakar karena terlalu lama berada dalam kobaran api. Kemudian penyakit yang sering dialami oleh pemadan kebakaran adalah pernafasan, para karyawan sering mengalami susah bernafas setelah selesai memadamkan api dikarenakan terlalu banyak menghirup asap yang mengandung banyak C02. Oleh karena itu para pekerja dianjurkan untuk memakai APD yaitu berupa masker sebagai pelindung dari gas CO2. Oleh karena itu keselamatan dan kesehatan kerja ini sangat penting diterapkan bagi karyawan agar mereka dapat merasakan keamanan dan kenyamanan serta sehat didalam melakukan pekerjaan tersebut, sehingga kepuasan kerja yang diinginkan karyawan bisa tercapai secara optimal. (Petugas Damkar)
Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di Dinas Pemadam Kebakaran Ungaran) dengan judul “Pengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Melalui Kepuasan Kerja Sebagai Variabel Intervening di Dinas Pemadam Kebakaran.
Rumusan penelitian ini yaitu: 1. Apakah terdapat pengaruh keselamatan terhadap kinerja karyawan?. 2. Apakah terdapat pengaruh kesehatan kerja terhadap kinerja karyawan? 3. Apakah terdapat pengaruh kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan?. 4. Apakah terdapat pengaruh keselamatan terhadap kepuasan kerja?. 5. Apakah terdapat pengaruh kesehatan kerja terhadap kepuasan kerja?. 6. Apakah terdapat pengaruh keselamatan terhadap kinerja karyawan melalui kepuasan kerja sebagai variabel intervening?. 7. Apakah terdapat pengaruh kesehatan kerja terhadap kinerja karyawan melalui kepuasan kerja sebagai variabel intervening. Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah 1. Untuk menguji pengaruh keselamatan terhadap kinerja karyawan di Dinas Pemadan Kebakaran di Ungaran. 2. Untuk menguji pengaruh kesehatan kerja terhadap kinerja karyawan di Dinas Pemadam Kebakaran Ungaran. 3. Untuk menguji pengaruh kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan di Dinas Pemadam Kebakaran Ungaran. 4. Untuk menguji pengaruh kesehatan terhadap kepuasan kerja di Dinas Pemadam Kebakaran Ungaran. 5. Untuk menguji pengaruh ksehatan kerja terhadap kepuasan kerja di Dinas Pemadam Kebakaran Ungaran.
6.Untuk mengetahui pengaruh keselamatan terhadap kinerja karyawan melalui kepuasan kerja sebagai variabel intervening di Dinas Pemadam Kebakaran Ungaran. 7. Untuk menguji pengaruh
kesehatan kerja terhadap kinerja karyawan melalui kepuasan kerja sebagai variabel intervening di Dinas Pemadam Kebakaran Ungaran.
Manfaat dari penelitian ini yaitu: bagi Dinas Pemadam Kebakaran diharapkan dari hasil penelitian ini bisa digunakan sebagai evaluasi keselamatan dan kesehatan kerja agar bisa meningkatkan kinerja karyawan. Dapat digunakan sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya.