RISA LAH
RAPAT DENGAR PENDAPAT PANSUS RUU TENTANG BADAN PEMERIKSA KEUANGAN DENGAN BANK INDONESIA
Tahun Sidang Masa Persidangan Jenis Rapat HarifTanggal Waktu Tempat Acara Ketua Rapat Sekretaris Rapat Rapat ke
Hadir
KAMIS, 6 JULI 2006
2005-2006 IV (Empat)
Rapat Dengar Pendapat Rabu, 6 Juli 2006
14.30 WIB s.d 15.45 WIB
Ruang Rapat Sadan Legislasi DPR RI
Mendengarkan masukan atas RUU tentang BPK dari Bank Indonesia.
H. Suharso Monoarfa K. Johnson R., SH., MH.
26 Anggota dari 50 orang 1. ANGGOTA PANSUS RUU BPK:
1. H. Asep Ruchimat Sudjana, 2. H. Suharso Monoarfa, 3. Ors. RB. Suryama, MS.S.Psi, 4. Musfihin Dahlan, 5. DR. H. Harry Azhar Azis, 6. Hafiz Zawawi, 7. Voris Thraweyai, 8. Hamka Yandhu, Yr, SE, 9. Ny. Hj. Nurhayati Yasin Limpo, 10. Agus Condra Prayitno, 11. Ramson Siagian, 12. Sonny Soemarsono, 13. Ors. Cyprianus Aoer, 14. DR. Sutradara Ginting, 15. Ors. H. Razak Porosi, 16. DRS. H. Ahmad Kurdi Moekri, 17. Anita Yacoba Gah, 18. DRS. Wayan Sugiana, 19. Prof. Dr. Mirrian S. Arief, MEC, 20. Ora. Mardiana lndraswati, 21. IR. lchwan Ishak, M.Si, 22. Ir. Akmaldin Noor, MBA, 23. Dr. H. L. Misbah Hidayat, 24. Ors. Almuzamil Yusuf, 25. Ma'mur Hsanuddin, MA, 26. Nursanita Nasution, SE., ME
2. BANK INDONESIA DAN JAJARANNYA:
1. Bun Bunan E.J. Hutapea 2. Rizal A Jaafara 3. Rudiatin S Djatmiko 4. Dody Danindra 5. Bambang Djauhari 6. Arief R. Permana 7. Hilman Tisnawan
8.
JBP Simandjuntak3. TENAGA PERANCANG:
1. Arif Usman 2. Wiwin Sri Rahyani 4. JALANNYA RAPAT:
KETUA RAPAT (H. SUHARSO MONOARFA):
Selamat Siang; dan
ARSIP DPR RI
Salam sejahtera untuk kita semua.
Yang terhormat Saudara Gubernur Bank Indonesia;
Rekan·rekan Pimpinan dan Anggota Pansus yang terhormat.
Marilah kita pertama menyampaikan rasa syukur kita kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang karena-Nya lah kita dapat hadir di Rapat Dengar Pendapat pada hari ini dalam rangka memperoleh masukan atas Rancangan Undang-undang tentang Sadan Pemeriksa Keuangan yang pada hari ini akan kita dengarkan dari Gubernur Bank Indonesia.
Berdasarkan laporan sekretariat, rapat hari ini dihadiri 17 orang dan 10 orang izin.
Oleh karena itu, rapat kita dapat mulai dan izinkanlah saya membuka rapat ini dan rapat ini dinyatakan terbuka untuk umum.
(RAPAT DIBUKA PUKUL 14.30 WIB)
Pertama-tama perkenankanlah saya atas nama Pansus RUU tentang BPK DPR RI menyampaikan terima kasih kepada Saudara Gubemur Bank Indonesia atau Pejabat yang mewakili dalam hal ini adalah Pak Hutapea Deputi Gubemur Bank Indonesia dan para stafnya yang berkenan hadir memenuhi undangan Pansus pada siang hari ini. Kami sampaikan bahwa pada saat ini pembahasan RUU tentang BPK ini telah memasuki pembahasan Tingkat I. Guna mendapatkan masukan dan pemahaman Anggota Pansus dalam rangka pembahasan RUU ini ke depan, kami memerlukan masukan-masukan dari berbagai pihak yang terkait termasuk yang kami nilai penting adalah pendapat dari Bank Indonesia sebagai Bank Sentral di tanah air.
Sebelum kami memberikan kesempatan kepada Bank Indonesia untuk menyampaikan masukan-masukan ini, terlebih dahulu kami menawarkan acara rapat hari ini adalah:
1. Pengantar Ketua Rapat.
2. Penyampaian masukan dari Gubemur Bank Indonesia.
3. Tanya Jawab.
4. Penutup.
Acara ini mungkin kita akhiri sampai pukul 16.00 WIB, kecuali kalau ada yang lebih cepat. Apakah ini dapat kita setujui.
(KETOK PALU 1X)
Maka selanjutnya, kami persilahkan kepada Gubemur Bank Indonesia untuk menyampaikan masukan atas RUU tentang BPK. Kami persilahkan.
DEPUTI GUBERNUR Bl:
Yang kami hormati Bapak Ketua;
Yang kami hormati Wakil Ketua; dan
Yang kami hormati Anggota Pansus RUU tentang BPK.
SeJamat sore; dan
Salam sejahtera bagi kita semua.
Pertama-tama kami atas nama Dewan Gubemur Bank Indonesia mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada kami untuk melakukan Rapat Dengar Pendapat dengan Pansus RUU tentang BPK dalam rangka memberikan masukan terhadap RUU tentang BPK yang sedang dalam proses ini. Kami sangat mendukung adanya RUU tentang BPK ini yang akan menggantikan U U No. 5 Tahun 1973 tentang Sadan Pemeriksa
ARSIP DPR RI
Keuangan yang nampaknya perlu untuk disesuaikan terkait dengan perkembangan sistem ketatanegaraan serta kebutuhan pelaksanaan pemeriksaan pengelolaan keuangan negara.
Bapak Ketua, Wakil Ketua dan Para Anggota Pansus yang kami hormati, Terhadap Rancangan Undang-undang tentang BPK dimaksud yang telah disampaikan kepada kami, terdapat beberapa masukan yang dapat kami sampaikan kepada Pansus khususnya yang terkait dengan kedudukan Bank Indonesia sebagai lembaga negara maupun sebagai prioritas di bidang perbankan, moneter, sistem pembayaran yang kiranya dapat melengkapi dan menyempumakan RUU tersebut. Terkait dengan Audit BPK terhadap Bank Indonesia, dapat kami kemukakan bahwa sebagaimana diatur dalam Pasal 59 dan Pasal 61 UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan UU No. 4 Tahun 2004 UU Bank Indonesia, BPK melakukan pemeriksaan khusus dan pemeriksaan laporan keuangan tahuna Bank Indonesia. Pemeriksaan khusus sebagaimana diatur dalam Pasal 59 UU Bank Indonesia dilakukan atas permintaan DPR dan apabila diperlukan untuk mengetahui secara lebih mendalam mengenai suatu permasalahan atau suatu kegiatan tertentu yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan dan pelaksanaan anggaran oleh Bank Indonesia.
Sementara itu, pemeriksaan laporan keuangan tahunan Bank Indonesia dilakukan secara rutin setiap tahun untuk memeriksa laporan keuangan tahunan Bank Indonesia yang hasilnya disampaikan oleh BPK kepada DPR.
Terkait dengan hal tersebut, kiranya dalam RUU tentang BPK ini perlu kiranya dilengkapi dengan penegasan tentang ruang lingkup kewenangan pemeriksaan BPK terhadap lembaga negara seperti Bank Indonesia yang telah mempunyai pengaturan tersendiri dalam UU-nya mengenai ruang lingkup kewenangan BPK dalam melakukan pemeriksaannya. Penegasan hal tersebut, kiranya perlu diatur dalam RUU tentang BPK ini untuk dapat menghindarkan kemungkinan adanya perbedaan persepsi tentang ruang lingkup keuangan BPK dalam melakukan pemeriksaan terhadap Bank Indonesia.
Mengingat dalam UU Bank Indonesia telah diatur secara khusus mengenai tata cara dan ruang lingkup kewenangan pemeriksaan BPK termasuk pengaturan mekanisme pemeriksaan BPK, maka menurut hemat kami ruang lingkup kewenangan pemeriksaan BPK tersebut terhadap Bank Indonesia seyogyanya mengacu pula kepada Bank Indonesia.
Selanjutnya berdasarkan UU Bank Indonesia, hasil pemeriksaan BPK hanya disampaikan kepada DPR sebagai lembaga yang menurut Ketentuan UU Bank Indonesia diberi kewenangan untuk melakukan pengawasan terhadap Bank Indonesia dalam rangka memenuhi prinsip akuntabilitas publik. Terkait dengan itu, Ketentuan Pasal 7 ayat (6) RUU tentang BPK yang memungkinkan BPK untuk mempublikasikan hasil pemeriksaan terhadap Bank Indonesia tampaknya belum sejalan dengan UU Bank Indonesia, karena hanya DPR yang kiranya berwenang untuk mempublikasikan hasil pemeriksaan dimaksud.
Bapak Ketua, Wakil Ketua dan Para Anggota Pansus yang kami hormati, Terkait dengan masukan dan tanggapan terhadap RUU tentang BPK dimaksud, dapat kami kemukakan bahwa Bank Indonesia juga akan memberikan tanggapan masukan terhadap RUU dimaksud dalam kedudukan Bank Indonesia sebagai lembaga negara maupun sebagai otoritas di bidang perbankan sebagai berikut:
1. Perumusan dalam ketentuan umum sebagaimana tercantum dalam Pasal 1 angka (13) mengenai kerugian negara, menurut pandangan kami.
IR. ICHWAN ISHAK, MSi (F·PAN):
lnterupsi Pimpinan.
Mungkin tidak apa yang dibacakan bisa kita terima untuk bisa lebih mengikuti.
Terima kasih.
DEPUTI GUBERNUR Bl:
ARSIP DPR RI
Sedang difotokopi Pak, karena kami baru terlambat menerima bahannya dan baru tadi diselesaikan. Mohon maaf, tetapi sedang difotokopi Pak. Boleh kami lanjutkan?
Baik.
1. Perumusan dalam ketentuan umum sebagaimana tercantum dalam Pasal 1 angka (13) mengenai kerugian negara, menurut pandangan kami agak lebih luas dari pengertian yang sama yang telah diatur dalam UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara atau UU PN sehingga suatu rumusan yang diatur dalam beberapa UU dengan pengertian berlainan kiranya perlu dihindarkan. Untuk sinkronisasi dan memberikan kepastian hukum, menurut pandangan kami rumusan Pasal 1 angka (13) tersebut perlu disesuaikan dengan rumusan yang telah diatur dalam UU yang berlaku saat ini.
2. Dalam hal dipakai pengertian baru sesuai dengan RUU tentang BPK ini, menurut pandangan kami perluasan pengertian dimaksud terutama mengenai kerugian negara yang antara lain menambahkan kriteria kehilangan yang diharapkan atau tidak tercapainya tujuan dari keuangan negara yang disebabkan oleh suatu tindakan kiranya perlu dikaji lebih lanjut agar jangan sampai menimbulkan dampak negatif seperti demotivasi terhadap pengelola keuangan negara terutama bagi yang bergerak di bidang usaha antara lain bank.
3. Kewenangan BPK dalam melakukan pemeriksaan terhadap Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Lembaga Negara lainnya, Bank Indonesia, BUMN, Sadan Pelayanan Umum, Sadan Usaha Milik Daerah dan Sadan lainnya yang mengelola keuangan negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1), menurut pandangan kami perlu memperhatikan ulang Peratuan Perundangan yang mengatur mengenai lembaga atau badan tersebut. Dengan demikian kewenangan pemeriksaan tersebut dikecualikan sepanjang telah terdapat peraturan perundang- undangan tersendiri yang mengatur pemeriksaan terhadap lembaga atau badan tersebut. Selain itu, pengertian badan lain yang mengelola keuangan negara sebagaimana ditegaskan lebih lanjut dalam penjelasan RUU tentang BPK terutama mengenai badan swasta yang menerima dan atau mengelola uang negara, menurut pandangan kami perlu ada suatu kriteria dan pembatasan yang jelas untuk lebih menjamin suatu kepastian hukum. Mengingat rumusan seperti tersebut di atas, agak terlalu luas cakupannya. Misalnya, BPK dapat melakukan pemeriksaan terhadap Bank Swasta atau Asing yang di dalamnya terdapat simpanan milik Pemerintah.
4. Pemberitahuan hasil pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang telah disampaikan kepada DPR, DPD dan DPRD yang dinyatakan terbuka untuk umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (6), menurut hemat kami perlu mempertimbangkan kemungkinan timbulnya dampak yang lebih luas atas pengumuman tersebut khusus terhadap laporan hasil pemeriksaan Bank.
Berdasarkan UU Perbankan, azas yang dianut dalam perlakuan terhadap hasil pemeriksaan bank adalah tidak diumumkan dan bersifat rahasia. Dalam hal ini, otoritas pengawasan bank yaitu Bank Indonesia juga tunduk pada azas dalam rangka memelihara kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan nasional.
Berhubung dengan itu, terkait dengan Pasal 7 ayat (6) RUU tentang BPK dimaksud maka RUU tentang BPK dimaksud seharusnya sejalan dengan azas norma sebagaimana dianut dalam Pasal 30 ayat (3) UU Perbankan. Apabila terobosan Pasal 7 ayat (6) RUU BPK dimaksud tetap memberikan kewenangan bahwa laporan hasil pemeriksaan BPK terhadap Bank dapat dipubilkasikan maka tampaknya tujuan filosofis dari Pasal 30 ayat (3) UU Perbankan dengan cara menafsirkan tindakan tersebut, menurut hemat kami kiranya perlu diluruskan.
Bapak Ketua, Wakil Ketua dan Para Anggota RUU BPK yang kami hormati,
ARSIP DPR RI
Demikian masukan yang dapat kami sampaikan tentang RUU BPK dimaksud yang saat ini sedang dibahas dan perlu kami kemukakan kembali bahwa Bank Indonesia sangat mendukung keberadaan UU BPK sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945. Berkenan dengan hal tersebut, apabila dipandang perlu kami senantiasa terbuka untuk melakukan diskusi lebih lanjut tentang RUU tersebut. Dan sebelum kami akhiri, Pak Gubernur berhalangan hadir mohon maaf karena pada saat yang sama Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI.
Demikian dan terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih kepada Deputi Bank Indonesia dan kami persilahkan kepada anggota untuk memberikan tanggapannya. Silahkan Pak Ramson.
RAMSON SIAGIAN (F·PDIP):
Terima kasih Pak Ketua.
Saya langsung saja, karena ada tamu juga dari daerah. lni yang menarik Pak Ketua, saya dalam DIM No. 13 ini sama persepsi dengan Bank Indonesia mengenai kerugian negara bahwa ketentuan umum tentang kerugian negara ini terlalu luas sehingga bagi BUMN itu suatu saat akan menjadi persoalan di dalam menyusun ataupun membuat dan mengimplementasikan strategi-strategi bisnis yang mereka lakukan. Padahal sesuai juga dengan UUD Pasal 33 bahwa kita tetap memerlukan instrumen BUMN untuk hal-hal yang strategis yang menyangkut kehidupan (artinya hajat hidup orang banyak). Jadi, tidak mungkin kita tidak menggunakan instrumen BUMN. Padahal namanya BUMN itu adalah suatu aktivitas bisnis. Kalau ini terfalu luas, kehilangan keuntungan yang diharapkan itu dianggap sebagai kerugian negara nanti tidak akan ada lagi anak bangsa yang mengelola BUMN, karena itukan dalam strategi bisnis ada target-target yang dibuat tetapi itu kadang- kadang ibarat sumbu XY ini, titik resultannya tidak bergeser dia tergantung pengaruhnya kan? Jadi, tidak mencapai target. Karena ini bisa diasumsikan menjadi kerugian negara.
Hanya masalahnya sekarang, kita juga terhambat oleh mekanisme Pak Ketua. Kita tidak bisa mengubah ini lagi. Hanya yang bisa kita harapkan dari sisi pemerintah, karena kalau kuta mengubah dari sisi DPR nanti ini menjadi problem di Mahkamah Konstitusi kalau suatu saat ada yang melakukan yudisial review ke Mahkamah Konstitusi kalau ini sudah menjadi UU. Ada kesalahan mekanisme, karena pada saat kita, sudah saya telusuri ini, karena ini terus terang saja ada problem yang kita hadapi Pak Ketua. lni saya telusuri, RUU ini, inisiatif DPR ini diputuskan sebelum terbentuk Pansus dengan persetujuan tanpa perubahan. Dari sisi DPR, tidak bisa lagi melakukan perubahan. Karena kalau ada tadi itu mengajukan ke Mahkamah Konstitusi suatu saat berarti ada kesalahan mekanisme, ini bisa batal Pak. Jadi, yang kita harapkan dari sisi pemerintah yang bisa melakukan perubahan.
lni memang problem juga yang dihadapi Pak Tumbun sebagai mewakili Bank Indonesia.
Jadi, ini yang sekarang problem karena kami juga menghadapi masalah yang sama di RUU Energi yang namanya hak inisiatif DPR. Jadi, itu Pak Ketua masukan dari saya karena saya mau permisi 10 menit ke atas dulu. Ada tamu dari daerah, setelah itu ke ruangan.
Karena tadi ada persoalan persepsi, itu bagus. Cuman dari sisi kita. lni memang harus diubah, karena kerugian negara ini terJalu luas. Cuman dari sisi kita, kita tidak bisa mengubah ini. Karena ini diputuskan di Paripurna dengan tanpa perubahan sesuai dengan Tata Tertib Pasal 130 ayat ini, kalau itu yang dibuat tidak bisa kita ubah. Makanya saya di fraksi sudah minta, setiap ada usul inisiatif sekarang harus Pasal 130 ayat (78) persetujuan dengan perubahan sehingga biarpun itu usulan siapa, ada waktu untuk pendalaman untuk kita, karena biasanya baru terangsang membahas lebih hangat kalau di Pansus. Kalau hanya di meja, kita tidak terangsang untuk membahas Pak. Betul ini, di energi juga begitu.
Saya lihat wah ini belum mendalam benar. Nah ini sebagai restropeksi juga buat kita.
Terima kasih Pak Ketua.
ARSIP DPR RI
KETUA RAPAT:
Sebagai informasi saja bahwa Undang-undang ini merupakan carry over dari periode yang sebelum dan mengenai kerugian negara ini, sebenarnya DIM dari Pemerintah itu persis yang diajukan oleh Bank Indonesia untuk kembali kepada definisi yang termaktub di dalam UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara Bab I Pasal 1 ayat {22).
Saya kira konkordan dengan pendapat dari Bank Indonesia. Selanjutnya, Pak Kurdi.
DRS. H. AHMAD KURDI MOEKRI (F·PPP):
Terima kasih Pimpinan.
Bapak-bapak dari Deputi Bank Indonesia.
Pertama saya ingin memberi apresiasi kepada Bl yang telah peka dan peduli terhadap kepentingan bangsa dan kepentingan bersama saya kira, bahwa kemudian ini adalah merupakan usul inisiatif yang secara vaksun mungkin tidak tepat dan bahkan diatur oleh Undang-undang tidak bisa dilakukan oleh Dewan. Saya kira ini forumnya masih tepat, karena terus terang saja Pansus ini sekarang pada tahapan sedang melakukan sinkronisasi dan ada DIM dari Pemerintah yang sedang dibahas. Kebetulan tadi nyambung saya kira disampaikan Pak Ketua bahwa DIM Pemerintah pun sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Bl. Saya kira sudah tidak ada masalah dan tinggal bagaimana dewannya menyesuaikan dengan DIM Pemerintah itu. Saya kira ini masih yang sesuatu yang relevan dan tepat disampaikan oleh Bl pada hari ini. Terus terang saja, memang kita pun di Pansus ini menjadi suatu perbincangan yang serius saya kira sejak awal bahwa kita melihat banyak hal-hal yang kemudian dikesankan menjadi apa seperti tumpang tindih atau over lap antar berbagai Undang-undang. Oleh karena itu, kami sudah minta sekretariat termasuk Tim Ahli kemarin untuk melakukan sinkronisasi termasuk DIM yang internal ini yang untuk melihat bagaimana Undang-undang yang selama ini sudah berjalan di berbagai itu untuk disesuaikan dengan rancangan ini sehingga kalau memang itu benturan, itu harus ditinjau kembali mana yang lebih besar manfaatnya dan menghindari ma'syahdat dan ulmuvasit mukadamut min dzal bil masalim. ltu faseh, kalau perlu didalilin begitu.
Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Selanjutnya, Pak Muzamil.
DRS. ALMUZAMIL YUSUF (F·PKS):
Terima kasih Pak Pimpinan.
Saya hanya, ini tidak langsung terkait dengan Bl melainkan terkait dengan apa yang disampaikan Pak Ramson tadi. Apa iya Mahkamah Konstitusi, Yudisial Review membahas persoalan mekanisme di dalam. Setahu saya tidak. Setahu saya persoalan esensi Undang-undang itu bertentangan tidak dengan UUD 1945. Bukan persoalan tetek bengek yang kita bahas dalam ruangan ini,· tetapi yang keluar menjadi setelah diundangkan setahu saya, tetapi ini mohon di, sehingga kalau benar apa kata yang saya sampaikan tidak perlu dikhawatirkan yang Pak Ramson katakan tadi.
Kedua, saya kira memang T atib kita mengatur seperti itu tetapi kita sadari betul Pimpinan kemarin sudah membuka bahwa apapun yang sudah kita tetapkan masih mungkin ketika terjadi berbeda pendapat. Toh kita juga mewakili seluruh fraksi yang ada dan Pemerintah yang mewakili pihak Pemerintah memang 2 pihak yang berwenang untuk membahas. Saya kira yang dikhawatirkan Pak Ramson tidak perlu kita khawatirkan menurut saya. Saya tidak ada komentar, itu hanya menanggapi kekhawatiran Beliau saja.
Terima kasih Pimpinan.
IR. ICHWAN ISHAK, MSi (F·PAN):
Terima kasih Pak.
ARSIP DPR RI
Seluruh jajaran Bank Indonesia yang saya hormati;
Kawan-kawan Pansus.
Assalamu'alaikum Waffahmatullahi Wabarakaatuh.
Saya langsung saja. Mencermati apa yang disampaikan Pak Tumbun tadi, itu ada 3 hal kelihatan. Jadi, yang pertama masalah kerugian negara. Kemarin pun kita sudah bicarakan ini. Artinya, apa yang dirumuskan sebelumnya memang luas sekali dan ini pertu ada suatu penelitian kembali karena memang bisa saja orang semua takut ambil kebijakan dan ada potensi keuntungan lagi. Jadi, itu yang susah bagi memproteksi keuntungan. Nah ini yang kemarin sempat kita permasalahkan dan ya tadi sudah disampaikan walaupun ini inisiatif DPR, kita juga sedang berusaha merumuskan yang paling pas buat bangsa kita.
Sebetulnya saya berharap juga barangkali kalau 3 hal ini yang tadi yang pertama.
Yang kedua, soal apakah kalau misalkan di suatu badan atau badan usaha ada sedikit unsur keuangan negara. ltu juga masih BPK. lni juga suatu pertanyaan. Artinya, bagaimana kita merumuskan sampai kepada porsi berapa bahwa memang BPK bisa memeriksa 1 badan usaha katakan misalnya yang agak besar kayak lndosat cuman 15%
milik negara. Apakah memang juga dapat diperiksa, ini juga masih barangkali di pansus ini kita perlu diskusikan. Nah ini kembali tadi saya katakan, hal-hal seperti ini mungkin ada dari pengalaman dart Bank Indonesia, ini porsinya berapa? Yang masih pas itu masih bisa mungkin BPK itu masuk dalam kerangka pemeriksaan keuangan negara ini, karena kalau semua nanti memang diperiksa repot juga swasta untuk bisa berusaha di negeri kita. Jadi, memang ini ada tarik ulurnya. Tidak diperiksa bagaimana, diperiksa juga pada porsi seperti apa supaya memang berusaha juga cukup menarik di Indonesia.
Yang terakhir, yang disampaikan disini soal kerahasiaan. Nah ini juga yang menjadi ramai diskusi kita. Sejauhmana kerahasiaan seperti yang diharapkan dari Pasal 30 Perbankan. ltu kita definsikan apakah memang ada pengecualian, karena kalau sudah sampai kepada DPR, itukan sudah menjadi milik publik. Nah kalau sudah menjadi publik, itu artinya bisa terbuka cuman problemnya itu berbenturan dengan semangat atau prinsip kerahasiaan bank. lni juga pengecualiannya akan seperti apa? Mungkin ada yang konkrit yang bisa disampaikan Bank Indonesia, karena walaupun kita sudah sampai pembahasan, DIM ini sifatnya Rapat Dengar Pendapat. Jadi, kita mendengarkan pendapat mungkin dari kawan-kawan Bank Indonesia lebih berpengalaman.
Yang keempat, saya juga ingin dapat suatu gambaran mengenai pemeriksaan perbankan yang BUMN. Karena kalau saya perhatikan perbankan yang BUMN, itu periksa berkali-kali dan apakah memang bisa ada 1 prinsip yang sekarang sedang diwacanakan bahwa BPK ini nanti sebangsa supreme auditor yang itu memang pemeriksaan Bank Indonesia sudah dianggap menjadi pemeriksaan BPK. Mungkin seperti itu, kita belum tahu wacananya. Tetapi kalau kita lihat bahwa misalkan perbankan BUMN sudah menuruti aturan-aturan dan laporan maupun pemeriksaan Bank Indonesia, itu sebetulnya bisa dianggap sudah diperiksa, tetapi ini juga tentunya masih menjadi wacana sejauhmana memang itu bisa dipercayakan bahwa sebuah perbankan yang BUMN sudah dianggap diperiksa kalau kita mengarah tadi bahwa BPK ini yang ke depan akan menjadi supreme auditor seperti itu. Nah ini yang juga pemikirannya bagaimana ini Pak Hutapea. lnikan kecenderungan sekarang terjadi in-efisiensi karena pemeriksaan yang berkali-kali sehingga banyak kelembagaan di negeri kita ini yang waktu itu habis dari pemeriksaan ke pemeriksaan dan ini juga membuat, ya dari segi bahwa itu menjadi lebih baik, bagus tetapi dari segi efisiensi pekerjaan dan sebagainya menjadi tanda tanya juga. Dan itu juga, mungkin pendapatnya bagaimana Pak Hutapea.
Terima kasih.
NURSANITA NASUTION, SE, ME (F·PKS):
Terima kasih Pimpinan.
ARSIP DPR RI
Bapak/lbu Anggota Pansus BPK yang saya hormati;
Bapak Deputi Gubemur Bank Indonesia serta jajarannya yang saya hormati.
Saya mohon maaf sebelumnya, mungkin habis bertanya saya izin ke Komisi XI DPR RI dan jawabannya mohon disampaikan karena dari PKS bisa catat.
Yang pertama, kaitan bahwa usulan dari Bank Indonesia bahwa ruang lingkup dan kewenangan BPK ini perlu dibatasi. Saya ingin mendapatkan usulan konkritnya, seperti apa rumusannya. ltu yanng pertama dan pertanyaan saya apakah ini terkait dengan pengalaman dari Bank Indonesia. Karena terus terang kita tahu bahwa Ketua BPK kan sebelumnya dari orang Bl juga dan hasil pemeriksaan dari Bank Indonesia selalu dislamer.
Yang terakhir saya kira lebih baik, mungkin ungkapan dari Pimpina BPK begitu. Nah saya ingin menanyakan apakah ruang lingkup ini dimaksudkan kesitu yang dialami oleh Bank Indonesia. Jadi, apa usulan konkrit dari Bank Indonesia kaitan dengan untuk memasukan ruang lingkup dan kewenangan BPK.
Yang kedua, ini juga menarik dan berkembang juga di kalangan teman-teman yaitu kaitannya dengan kerugian negara. Saya mungkin juga lebih konkrit, saya ingin mungkin dari sudut pandangan Bank Indonesia sebagai pengelola moneter negeri ini, kira-kira apa bunyinya Pak. Mungkin ini penting buat kita versi dari Bank Indonesia, karena tadi saya tahu juga efeknya kepada perusahaan-perusahaan yang juga kita tahu ini terkait erat kalau misalnya perusahaan tidak, proyek tidak jalan segala macam, inflasi akan semakin tinggi.
lnikan tugas Bank Indonesia untuk mengontrol inflasi. Jadi, kira-kira versinya Bank Indonesia seperti apa yang terkait dengan masalah kerugian negara ini.
Yang terakhir, terkait dengan hasil pemeriksaan yang tidak diumumkan dan bersifat rahasia. Tadi juga disampaikan Pak lchwan. Jadi, saya kira kalau kita bicara DPR maka semua barang yang sampai di DPR ini adalah barang publik Pak. Apakah diminta pengecualian dalam artiannya begini. Misalnya, kalau pemeriksaan itu qualified opinion atau un-qualified opinion, itu boleh dibuka atau disclamer yang divert, itu yang akhimya ditutup. Apa spesifik begitu? Ataukah seperti apa konkritnya? Karena kalau kita bicara DPR, bagaimana pun kita dipilih masyarakat banyak dan kita wakil karena kita automatically memang harus terbuka kepada masyarakat. Nah ini dilema yang kita hadapi.
Nah mungkin ada usulan khusus atau dari versinya Bank Indonesia kira-kira mungkin kita bisa didapatkan yang saya kira itu berguna buat kita nanti ketika kita sekarang sedang membahas secara langsung dengan Pemerintah kaitan dengan DIM dari Pemerintah.
Terima kasih, saya langsung pamit Pak Ketua.
Wassalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakaatuh.
KETUA RAPAT:
Pak Musfihin dulu Bu Mirrian, silahkan.
MUSFIHIN DAHLAN (f·PG):
Terima kasih Pimpinan.
Sudah banyak yang ditanya kawan-kawan, tetapi saya cuman 1 saja ingin dapat kejelasan lebih jauh mengenai uang negara yang ditempatkan di badan swasta. Mungkin Bl punya pengalaman, misalnya dalam kasus BLBI misalnya. ltukan kita tidak berharap hal itu akan terjadi lagi, tetapi pada saat memang negara harus mengcover suatu kerugian suatu badan swasta, nah dimana menempatkan BPK disana. Saya kira Bl sudah berpengalaman, mungkin periksa berkali-kali setelah itu. Nah ruang lingkup ini ditempatkannya sebagai apa? Misalnya, ada dana yang di BCA, ada dana di Danamon. lni bagaimana pun kan ini uang rakyat Pak. Saya kira ini saja yang saya ingin dapat kejelasan.
Terima kasih.
PROF. DR. MIRRIAN S ARIEF, MEc (F·PD):
Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakaatuh.
ARSIP DPR RI
Bapak Deputi Gubernur Bank Indonesia beserta jajaran Beliau yang saya hormati;
Teman-teman Pansus serta Pimpinan yang saya cintai.
Saya juga meragukan Pak seperti Bapak tadi itu, maaf saya terlambat karena disana baru selesai Pansus juga. Nah kehilangan keuntungan. Bagaimana kalau misalnya negara itu kehilangan kesempatan. Misalnya, i/egal loging
itu.
Harusnya itu kesempatan itu masuk ke dalam keuangan negara, tetapi itu masuk ke dalam kantong orang. Jadi, belum tentu itu untung. Apakah arti keuntungan ini berlaba atau bagaimana ini, tidak jelas ini.Jadi, kalau kehilangan kesempatan jadi harusnya negara yang mengambil, tetapi orang pribadi begitu. ltu yang saya maksudkan negara juga rugi. Nah ini saya ingin kalau orang keuangan tentu lebih, Bapak di depan ini memang ahli-ahli uang ini. Apa maksudnya saya memang tidak ahli uang begitu. Jadi, kalau memang bagaimana ya mungkin ini juga terlalu menonjol keuntungan. Jadi, Bapak tadi keberatan jadi tidak mau orang berusaha di Indonesia.
Yang kedua, saya juga ingin bertanya. Ya seperti yang dikatakan teman saya tadi itu, kita ini sudah kebanyakan pemerintah ini tukang periksa. BPK itukan tukang periksa.
Banyak benar begitu, berlapis-lapis kata Beliau. Namun, uang negara itu bocornya juga banyak begitu. Jadi, sekarang bagaimana kita untuk menyerderhanakan. Oleh sebab itu, disini di poin 3 ini Pasal 6 nampaknya Bank Indonesia begitu kurang berkenan dengan Pasal 6 sehingga harus ada yang dikecualikan. Jadi, kalau begitu BPK inikan ada di dalam UUD ya? lya kan? Nah, jadi kata Bapak supreme auditor. Jadi, disini kalau memang ada perundang-undang tersendiri siapa yang memeriksa ini, Bank Indonesia umpamanya.
Siapa yang memeriksa Bank Indonesia ini? Atau BUMN itu siapa yang memeriksa kalau kita ada Undang-undang tersendiri. Apakah sebaiknya Undang-undang yang itu kita sesuaikan dengan Undang-undang yang BPK ini? Nah itu. Nah saya tidak tahu ini mestinya, karena memang saya belum baca. Maaf saja belum baca dan entah kapan membaca Undang-undang tersendiri yang mengatur pemeriksaan terhadap lembaga dan badan negara tersebut. Jadi, kalau begitu Undang-undang ini lebih menonjol apakah? ltu yang saya tanyakan daripada UUD BPK ini. ltu yang kedua. Oleh sebab itu, inti dari Undang-undang BPK ini terus terang begitu. Kalau bisa kita mengurangi atau menyederhanakan pemeriksaan auditor yang berlapis-lapis itu. Toh uang negara ban yak bocornya. Di samping bocor, juga banyak manipulasinya. ltulah intinya Pak. Jadi, terima kasih. lni saja yang menarik saya dari apa yang Bapak kemukakan dan mungkin pengetahuan pula bagi saya, siapa yang periksa Bank Indonesia itu siapa harusnya.
Terima kasih.
Wassalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakaatuh.
KETUA RAPAT:
Baiklah.
Sebelum dijawab oleh Pak Tumbunan, dari meja pimpinan ada Pak Suryama bertanya.
DRS. RB. SURYAMA, MS.S.Psi (WAKIL KETUA):
Terima kasih.
Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakaatuh.
Saudara Deputi Gubernur Bank Indonesia dan jajaran yang hadir hari ini;
Teman-teman Anggota Pansus.
Terima kasih atas kesempatan yang diberikan. Biasanya kalau bertanya itu harus menanggal posisi sebagai Pimpinan dulu dan kalau perlu pindah dulu disitu. Perlu tidak?
Jadi, diizinkan disini saja. Yang jelas kami berbahagia, karena saya kira untuk sekian kalinya Bank Indonesia menyampaikan beberapa catatan yang terkait dengan kewenangan
ARSIP DPR RI
BPK baik mengacu kepada Undang-undang yang lama (UU Tahun 1975) maupun RUU yang sedang dibahas ini. Ketika kami mentelaah apa yang dikemukakan oleh Saudara Deputi Gubernur, tiba-tiba saya teringat apa yang pemah kami sarankan kepada BPK sebagai Lembaga Negara yang memperoleh mandat kewenangannya dari konstitusi.
Demikian juga Bank Indonesia adalah Lembaga Negara yang memperoleh mandat kewenangannya dari konstitusi, temyata ada kewenangannya yang menurut Deputi Gubernur ini persepsi yang berbeda yang dalam sakah satu kalimat yang halus, tetapi mengena. Kiranya hal ini perlu diluruskan. Tadi saya bisik-bisik dengan Pak Asep, ini halus tetapi mengena. Kalau dalam bahasa konstitusi kita yang baru, ini artinya ada sengketa kewenangan konstitusional. Kami menganggap apa yang Saudara Deputi Gubemur bacakan lisan dan seterusnya adalah pandangan resmi Bank Indonesia sebagai Lembaga Negara dan ini kami juga sebagai Wakil Ketua merangkap Anggota Pansus menyampaikan saran secara resmi. Masalah ini bisa diselesaikan dengan cara mengajukan permohonan sengketa kewenangan konstitusional kepada Mahkamah Konstitusi, mengapa demikian ? karena secara jelas apa-apa yang disampaikan oleh Saudara Deputi Gubernur mempertanyakan batasan kewenangan Bl akibat produk atau peraturan yang dibuat oleh lembaga negara lain yang juga memperoleh kewenangan dari konstitusi dalam hal ini yang menjadi termohon adalah BPK atau bisa juga yang menjadi termohon adalah DPR bersama Pemerintah karena telah melahirkan sejumlah UU yang bisa membatasi kewenangan Bl dalam bahasa beberapa ungkapan yang dikemukakan disini perbedaan persepsi atau perlu diluruskan dst. Kami menyarankan butir-butir yang dikemukakan tadi diajukan ke Mahkamah Konstitusi karena jika tidak maka yang terjadi di Pansus ini adalah satu proses dialog, suatu proses perdebatan yang kita harus mengakui itu mewakili persepsi dan kepentingan setiap pihak dan solusinya adalah consensus politik yang dituangkan dalam bentuk klausul perundangan disini.
Apa yang dikemukakan oleh Saudara Ramson Anggota Pansus yang tadi lebih dahulu meninggalkan atau yang kemudian diberikan catatan oleh Saudara Muzamil kekhawatiran tentang gugatan atau yudisial review itu bukan pada masalah prosedumya tetapi masalah produknya yang akan menambah keruwetan, menambah perbedaan persepsi saling tumpang tindih dan ketidak-pastian hukum seperti yang tadi Bapak kemukakan jadi dengan perkataan lain kami di Pansus ini akan sangat terbantu, akan sangat berbahagia apabila Bl mengajukan persoalan ini ke Mahkamah Konstitusi sehingga ketika Mahkamah Konstitusi memberikan keputusan dan menurut konstitusi keputusan itu bersifat final maka apa yang akan dibahas disini adalah mengacu kepada keputusan yang bersifat final tersebut sehingga yang akan diajukan itu adalah sesuatu yang hilang apakah kewenangan Bl yang dibatasi ataukah kewenangan BPK yang dibatasi atau UU mengenai kerahasiaan bank yang mendapat pengecualian atau UU BPK yang mendapat pengecualian ketika melakukan pemeriksaan atas perbankan, itu akan sangat membantu.
Last poin, apabila Bl atau BPK atau pihak lain yang merasa dirugikan kewenangannya oleh klausul-klausul UU yang sedang kita bahas tidak mengajukan sengketa kewenangan ke Mahkamah Konstitusional maka jalan yang akan ditempuh adalah sebuah consensus politik di DPR RI dan itu bisa bersesuaian dengan peraturan perundangan yang ada bisa juga tidak namanya juga lembaga politik.
Terima kasih.
Wassalamualaikum Warrohmatullahi Wabarokatuh.
KETUA RAPAT:
Namanya juga Anggot~ merangkap Pimpinan dan Pimpinan merangkap Anggota jadi sah-sah saja untuk menyampaikan. Silahkan kepada Deputi Gubemur untuk memberikan tanggapan atau memberikan jawaban.
DEPUTI GUBERNUR Bl : Terima kasih Bapak Pimpinan.
ARSIP DPR RI
lbu dan Bapak yang saya hormati,
Saya akan mencoba memberikan jawaban sedikit mungkin, ada baiknya satu persatu saja Pak Pimpinan.
Dari Yang Terhormat Pak lchwan tadi menanyakan pengalaman Bl dalam menentukan besaran, mohon maaf Pak lchwan kalau Pak Muzammil tadi tidak bertanya ya Pak. Mengenai porsi berapa besar supaya bisa masuk ke pemeriksaan itu barangkali yang bisa saya tangkapl berdasarkan pengalaman kami Pak, kami dalam hal normal maka yang kami anggap memasuki atau apabila ada suatu yang disebut dengan tahap pengendali jadi apabila besaran dari saham atau apa itu dalam suatu perusahaan ada suatu kriterianya yaitu pengendali ataupun mempunyai kekuasaan dalam mengatur jalannya usaha dari suatu perusahaan itu maka itu kami anggap salah satu yang bisa dimasuki1 sedangkan kalau itu kaitannya dengan pidana saya kira ada aturannya tersendiri yaitu dengan meminta surat izin dan lain sebagainya saya kira itu hal yang lain, persisnya dalam aturan absolut barangkali kami berdasarkan pengalaman kami menggunakan pengendali dan kekuasaan untuk mengatur jalannya perusahaaan, barangkali ini bisa digunakan sebagai salah satu acuan dari pengalaman kami untuk menentukan.
Sedangkan kalau kerahasiaan, mengapa kerahasiaan itu perlu mungkin lbu dan Bapak sekalian sudah mengetahui bahwa berdasarkan pengalaman-pengalaman di negara yang sudah lebih dulu melakukan membuat UU tentang Kerahasiaan itu temyata ada filosofinya katanya Pak yaitu ada Hak Asasi Manusia yang melekat pada uang dimana uang itu disimpannya itu disebut hak Asasi1 mengapa ? karena asumsi yang kami gunakan pada waktu kami mendengar cerita itu dia dalam keadaan positif tidak berpikiran negatif sudah mencari uang itu dengan susah payah, uang itu disimpan di dalam suatu lembaga yang dipercayai untuk menyimpan, oleh karena itu hak asasinya maka dia minta agar uang saya itu tidak diberitahu kemana-mana, ini yang menjadi filosofi mendasar dalam UU Perbankan yang juga berlaku universal di Swiss secara umum kalau ada pidana itu lain lagi Pak itu bisa dimasukan, jadi hal yang mendasar tadi adalah dari sudut liabilities, uang misalnya Bapak Pimpinan menyimpan disana kalau dibuka itu hak asasi saya hilang sehingga hal yang mendasar itu yang dipelihara terus, ini pun karena sudah digunakan sebagai dasar di dalam UU Perbankan dan Bl juga tunduk disitu dan kebetulan kita mengetahui bahwa lembaga perbankan adalah lembaga kepercayaan oleh kepercayaan ini perlu dijaga agar apa yang nanti diharapkan dari perbankan dalam mendorong menciptakan suatu pembangunan di dalam menciptakan masyarakat yang adil dan makmur yang kita citakan dalam UUD 1945 bisa terbawa dengan baik, ini yang kami sampaikan di dalam saran ini sebab kalau ini menjadi tidak sinkron barangkali tidak tercapai harapannya Bl ini diundang.
Mengenai banyaknya pemeriksaan memang ini suatu hal yang dilematis juga Bapak-bapak dan lbu-ibu sekalian dengan good corporate governance yang sudah bermacam-macam dilakukan ternyata kasus ... juga terjadi, jadi barangkali pemeriksaan yang dilakukan itu yang sebaiknya memang sedikit tetapi masing-masing institusi, masing- masing lembaga yang terkait dengan satu lembaga yang ada kepentingannya misalnya pasar modal Bl dan sebagainya itu punya kepentingan untuk memeriksa jadi kalau dari sudut banyaknya pemeriksaan itu memang sulit untuk dibatasi, tetapi yang dianggap sebagai sesuatu yang perlu diperhatikan adalah agar skop pemeriksaannya jelas sehingga orang bisa menyediakan jauh-jauh hari secara sistem, secara urak apa yang perlu diperiksa, sebab kalau pemeriksaannya berkembang ini menjadi kontraproduktif.
ltu barangkali yang dapat kami sampaikan, untuk pertanyaan yang menyangkut banyak pemeriksaan, untuk lbu Nursanita yang akuntan usulan konkret barangkali tadi kami bisikan memang kami belum siap untuk memberikan usulan konkret kalau memang dipernankan kami akan mencoba menyusun usulan yang barangkali akan kami sampaikan kemudian.
ARSIP DPR RI
Dari Pak Musfihin, ini tadi barangkali sama juga bahwa kalau itu sudah ada unsure pidana dan dengan adanya surat dari tentu bisa masuk tetapi kalau pemeriksaan yang umum tadi itu memang susah untuk dibatasi tetapi yang jelas adalah itu ada aturan yang meminta suatu lembaga masuk tetapi skopnya agar jelas dikeluarkan maka bisa diterima.
Kemudian dari lbu Dr. Mirrian hasil keuntungan, barangkali yang menonjok disini Bu adalah kepastian, kalau sesuatu diperiksa. diputuskan dalam jumlah yang tidak pasti maka ini akan menjadi tidak mudah, hal ini rupanya telah menjadi perhatian pada waktu UU Perbendaharaan Negara yang membuat definisi kerugian negara agak lebih spesifik supaya jelas yang mana yang salah, kalau misalnya tadi dikatakan hanya keuntungan apalagi keuntungan yang diharapkan itu seperti tadi dikemukakan oleh Pak lchwan, dalam suatu bisnis apalagi kalau ini melakukan total football disini bisa rugi disana bisa untung, tahun ini bisa rugi karena memang harus rugi, tahun depan bisa untung, sehingga kalau tidak ada suatu kepastian terhadap definisi tadi itu tadi dikhawatirkan akan menjadi sasaran akhir yang ingin dicapai dalam menjalankan perusahaan yang diawasi maka perusahaan akan jalan, saya kira harapannya bukan membuat perusahaan tidak jalan tetapi perusahaan itu berjalan dengan baik. Oleh karena itu kepastiannya demikian.
Kemudian kalau banyaknya pemeriksaan tadi sudah kami kemukakan, lbu tadi bertanya kalau begitu Bl diaudit oleh siapa, terima kasih lbu kalau tadi mengatakan belum membaca UU kami dan UU yang lain yang kebetulan atau jelas-jelas menyebutkan siapa yang mengaudit, bagaimana cara mengaudit, kami sarankan agar diperhatikan supaya sinkron, supaya tumpang tindih, jadi kalau usulan kami tolong diluruskan Pak, demikian Bapak Pimpinan yang menjadi Aggota, begitu jadi artinya begini kami juga memahami bahwa BPK itu supreme audit dan memang kalau dilihat mohon maaf kami pada beberapa waktu yang lalu juga pernah diundang Baleg bahwa memang BPK ini dalam konteks keuangan negara Kepala Pemerintahan itu Presiden kebetulan Menteri pula sebagai bendahara dan BPK sebagai audit, dalam konteks keuangan negara jadi kami menghargai itu tetapi dari pengelolaan keuangan negara tadi untuk kesejahteraan yang sebesar- besarnya yang kami melihat UU lain pun tentu mengarah kesana sehingga sinkron, sehingga semua tercapai dengan baik, dalam kaitan ini pun barangkali kalau boleh saya meningkat pada pertanyaan Pak Suryama yang kami itu bukan sengketa Pak, tetapi tadi mengapa mohon agar diluruskan pemeriksaan ini misalnya dalam hal mengumumkan kemudian skopnya supaya sasaran yang ingin dicapai dari semua UU termasuk RUU tentang BPK ini bisa bersinergi dengan baik, bahwa diumumkan kemudian kami meminta karena urunan kami yang dikurangi tetapi sasaran akhir atau filosofi yang mendasari mengapa itu dirahasiakan kami melihat belum sepenuhnya, mudah-mudahan kami salah diperhatikan, nah yang kedua saya bukan ahli hukum saya akuntan kebetulan asuhan dari Bapak Monoarfa.
Mengenai mengajukan ke Mahkamah Konstitusi kehadiran kami disini memberikan pendapat bukan mempersalahkan untuk itu kami dengan halus barangkali tidak berani untuk atau bukan waktunya untuk karena yang dimasalahkan bukan sengketa akan tetapi mensinergikan semua upaya-upaya yang diatur supaya hasil akhimya baik jangan bertentangan satu dengan yang lain.
Barangkali itu yang dapat kami sampaikan, terima kasih.
PROF. DR. MIRRIAN S. ARIEF, MEC (F·PD):
lnterupsi Pak.
lngin saya tertarik ini karena memang tidak tahu tentang suatu masalah lebih baik bertanya khususnya kalau rahasia negara itu saya mengerti termasuk rahasia bank Cuma saya baca bisnis itu sudah ada sedikit tolak asurnya kalau seandainya negara itu dengan negara bisa kalau hasil korupsi katanya itu yang saya baca, apakah Bl juga begitu atau memang mempertahankan kerahasiaannya tidak bisa ini demi si klien.
Dan yang kedua bisa tidak BPK masuk ke Bl itu atau ke Bank lain, itu yang ingin saya tegaskan mungkin bukan yang rahasia-rahasia itu kalau seandainya syukur
ARSIP DPR RI
Alhamdulillah Bl ini belum tercemar tapi kalau BNI, Bank Mandiri itu sudah, bisa tidak BPK masuk seperti itu.
ltu yang saya maksudkan.
Terima kasih Pak.
DEPUTI GUBERNUR Bl : Ya terima kasih Bu.
Kalau Bl menurut UU yang ada, yang melakukan audit kepada Bl adalah BPK dalam dua tugas yang pertama melakukan audit keuangan tahunan itu dilakukan secara rutin tetapi kalau audit khusus di dalam UU kami dikatakan dengan persetujuan DPR RI, jadi itu aturan-aturan sudah dibuat Bu, bukan tidak boleh.
Yang kedua, tadi saya mengatakan bahwa kalau ada unsure pidana itu boleh tetapi ada mekanismenya, itu barangkali mudah-mudahan bisa menjawab lbu.
DRS. WAYAN SUGIANA (F·PD):
Pak Ketua sedikit Pak.
Dari Bl tadi Bapak berulang kali Bapak menyebut bahwa perlu skop pemeriksaan harus hilang, disatu sisi RUU ini kita ada salah satu ayat itu menyebut bahwa BPK itu diberi kewenangan lain yang ditetapkan dengan UU artinya selain juga BPK ini memeriksa objek yang menyangkut masalah uang juga BPK akan diberi kewenangan juga mengenai audit lain sepanjang ditetapkan UU, disatu sisi Bapak tadi menjelaskan ada sesuatu ruang yang sulit juga BPK bisa tembus kesitu, bagaimana ini kira-kira Pak disatu sisi BPK ada kewenangan plusnya sampai dengan bukan hanya keuangan yang lainnya pun bisa sepanjang yang diatur UU tetapi Bl juga kira-kira ini tidak boleh, tidak boleh, tidak boleh.
Kira-kira bagaimana itu ?
DEPUTI GUBERNUR Bl : Pak Wayan.
KETUA RAPAT:
Maaf Pak mungkin saya perlu klarifikasi dengan anggota dengan yang dimaksud kewenangan lain yang diberikan kepada BPK itu yang mana ?
DRS. WAYAN SUGIANA (F·PD):
Pada Pasal 9 kalau tidak salah.
KETUA RAPAT:
Memang dalam penjelasannya kalau tidak salah kalau umpamanya BPK ini lebih banyak auditomya ahli-ahli dari Sarjana Keuangan tetapi kalau pada saat BPK memeriksa pada instansi lain seperti Badan Antariksa itu juga kerja sama dengan pihak lain, ini kewenangan-kewenangan itu barangkali.
H. ASEP RUCHllMAT SUDJANA (KETUA PANSUS):
Halaman 68 ini ada mulai barangkali di Bl ada juga, ini sebetulnya mulai dari halaman kewenangan sampai halaman 20 kemudian halaman 21 disitu, pasal 9 di huruf n halaman 21 : "melaksanakan kewenangan lain yang ditetapkan dalam UU" ini ada komentar pemerintah, tanggapan pemerintah, rumusan dihapus karena suatu ketetapan yang sudah diatur maka hal tersebut akan menjadi kewenangannya, melaksanakan kewenangan lain yang ditetapkan UU.
ARSIP DPR RI
DEPUTI GUBERNUR Bl:
Baik Pak Wayan barangkali ini yang dimaksud, jadi kami tadi beranjak dari adanya suatu kepastian kemudian ada suatu jangkauan kemudian persiapan yang tadi dimaksud supaya di dalam menjalankan lembaga itu orang menjadi positif, memang dalam sudut pandang kami "n" ini kalau dia masuk kepada perbankan misalnya itu menjadi ... karena ini menurut hemat kami sebaiknya ada suatu kejelasan supaya tidak semua, sebab tadi seandainya ada hal yang khusus bisa saja diminta suatu pemeriksaan yang khusus oleh DPR-RI atau DPRD itu dari sudut pandang kami di dalam melihat ini karena tadi juga seperti ditanyakan oleh lbu dan Bapak yang lain kalau tidak ada skopnya yang jelas maka institusi .. institusi itu kerjanya hanya melayani pemeriksaan, barangkali itu maksudnya.
Begitu barangkali Pak Wayan yang dapat kami sampaikan.
KETUA RAPAT:
Baik masih ada lagi ? cukup ?
Demikianlah telah kita dengarkan apa yang tadi diuraikan oleh Saudara Deputi Gubemur Bl yang mewakili Gubemur Bl pada rapat dengar pendapat pada sore hari ini dan juga kita telah mendengarkan tanggapan-tanggapan dari Pak Anggota maka rapat Pansus pada hari ini kita nyatakan selesai dan meskipun demikian Bl akan berkenan menberikan rumusan .. rumusan yang tadi diminta dan bahkan bersedia melakukan diskusi yang lebih lanjut atau lebih intens apabila memang diperlukan yang berkaitan dengan institusi dan tugas kewenangan Bl.
Demikianlah acara rapat kita pada hari ini semoga Tuhan Yang Maha Esa melimpahkan rahmat dan berkahnya pada kita dalam menjalankan tugas-tugas konstitusional, dengan demikian saya akhiri rapat ini.
Wassalamu'alaikum Warrahmatulahi Wabarakaatuh.
(RAPAT DITUTUP PUKUL 15.45 WIB)
Jakarta, 6 Juli 2006 a.n. Pimpinan Rapat Sekretari Rapat,