BAB III
STUDI KASUS
A. Identitas Pasien
Pasien berinisial Ny. RA yang bertempat tinggal di Piyungan, Bantul, Yogyakarta. Pasien berusia 28 tahun dan bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga. Pasien sudah menikah dan mempunyai seorang anak perempuan berusia 6 tahun. Pasien tinggal dengan ibunya dan tidak serumah dengan suaminya. Pasien memiliki diagnosis medis aksis I yaitu Skizofrenia Paranoid, aksis II yaitu Gangguan Kepribadian Paranoid, aksis III yaitu tidak ada, aksis IV yaitu Primary Support Group dan aksis V yaitu GAF 60-51 yang berarti mengalami gejala dan disabilitas sedang.
B. Data Subjektif
1. Initial Assessment
Berdasarkan hasil interview pada tanggal 11 Februari 2017, keluhan pasien yaitu pusing dan tidak bisa tidur karena memikirkan bapaknya yang sedang sakit gagal ginjal dan sedang dirawat di Rumah Sakit. Alasan pasien datang ke unit Okupasi Terapi karena pasien menjalani rehabilitasi bagi pasien rawat inap di RSJ Soedjarwadi Klaten. Pasien mempunyai riwayat gangguan jiwa sejak beberapa tahun yang lalu dan sudah beberapa kali dirawat di RSJ Soedjarwadi Klaten. Harapan pasien yaitu ingin sembuh dan cepat pulang ke rumah sehingga bisa merawat anaknya kembali.
2. Observasi klinis
Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 11 Februari 2017, penampilan pasien terlihat bersih dan rapi. Pasien kooperatif, kontak mata kurang (tidak sepenuhnya
menatap orang yang mengajak bicara), atensi dan konsentrasi pasien kurang dari 15 menit. Mobilitas pasien dapat dilakukan dengan mandiri. Perilaku pasien aktif, mempunyai inisiasi untuk mengajak orang lain berbicara atau beraktivitas, tatapan mata kadang terlihat kosong dan bingung serta mudah terdistraksi.
3. Screening test
Berdasarkan psychiatric screening tanggal 11 Februari 2017, diperoleh data bahwa pasien memiliki kepribadian ekstrovert sehingga pasien memiliki relasi dengan lawan jenis dalam ikatan pernikahan. Selain itu pasien juga memiliki teman dekat yaitu ibu teman anaknya. Pasien memiliki riwayat gangguan jiwa sejak lama dan sudah beberapa kali dirawat di RSJ Soedjarwadi Klaten. Pasien merupakan anak pertama dari tiga bersaudara yang tinggal bersama orang tuanya namun pasien tidak serumah dengan suaminya. Pasien dibesarkan dengan cara asuh yang baik sehingga pasien sangat dekat dengan ibunya. Keluarga pasien tidak ada yang memiliki riwayat gangguan jiwa seperti pasien. Pasien tidak memiliki peran dalam masyarakat namun mempunyai hubungan baik dengan orang lain. Pasien memiliki riwayat pendidikan sampai SMP karena orang tuanya tidak memiliki biaya untuk menyekolahkan. Pasien pernah bekerja sebagai pelayan toko sampai tahun 2000. Perilaku pasien masih terlihat bingung dengan tatapan mata kosong, atensi dan konsentrasinya juga kurang baik.
Penampilan pasien bersih dan rapi karena ADLnya bagus dan dapat melakukannya dengan mandiri.
4. Model Treatment
Kerangka acuan yang digunakan yaitu kerangka acuan kognitif perilaku karena kerangka acuan tersebut dapat diterapkan untuk memunculkan perilaku yang
diharapkan melalui kognitif yang masih dimiliki pasien, melalui pola pikir pasien yang tidak terganggu dan melalui aset yang dimiliki pasien.
C. Data Objektif
Berdasarkan hasil pemeriksaan pada tanggal 11 Februari 2017 diperoleh data menggunakan Cognitive Abilities Screening Test (CAST) diperoleh skor 68 yang terdiri dari bagian atensi diperoleh skor 15, bagian daya ingat dipeoleh skor 11, bagian abstrak diperoleh skor 17, bagian orientasi diperoleh skor 8, bagian menyebutkan nama diperoleh skor 10, bagian copy design diperoleh skor 5 dan bagian membuat kata diperoleh skor 2.
Berdasarkan data dari CAST diketahui bahwa pasien mengalami gangguan pada bagian membuat kata, copy design dan orientasi. Mini Mental Status Examination (MMSE) diperoleh skor 21 yang berarti pasien mengalami gangguan kognitif ringan.
Comprehensive Occupational Therapy Evaluation (COTE) diperoleh skor 12 yang terdiri dari bagian perilaku umum diperoleh skor 4, dari bagian interpersonal diperoleh skor 1 dan dari perilaku melaksanakan tugas diperoleh skor 7. Berdasarkan data COTE diketahui bahwa pasien mengalami gangguan dalam perilaku melaksanakan tugas. The Kohlman Evaluation Of Living Skills (KELS) diperoleh skor 5½ yang terdiri dari self care mendapatkan skor 0, dari bagian safety and health mendapatkan skor 1 pada pengetahuan tentang keberadaan fasilitas medis dan gigi, pada bagian manajemen keuangan mendapatkan skor 2 pada penggunaan uang untuk membelanjakan barang dan belanja untuk keperluan satu bulan, pada bagian penggunaan transportasi dan telepon mendapatkan skor 2 pada mobilitas dengan transportasi umum dan pengetahuan sistem transit serta pada bagian kerja dan leisure mendapatkan skor ½ pada perencanaan untuk pekerjaan masa mendatang. Berdasarkan data KELS diketahui bahwa pasien
memungkinkan untuk hidup mandiri. Pemeriksaan Interest checklist diperoleh data bahwa pasien memiliki banyak kesenangan diantaranya membaca, menyulam, berkebun, memasak dan berketrampilan. Hal ini dibuktikan pada saat assesment untuk mengetahui limitasi pasien menggunakan bunga dari flanel, pasien tertarik untuk melakukannya kembali. The Role Checklist pasien di masa lalu dan saat ini tidak banyak mempunyai peran hanya sebagai anggota keluarga, pengasuh, pekerja dan melakukan pekerjaan kerumahtanggaan.
D. Assessment atau Pengkajian Data
1. Rangkuman Data Subjektif dan Objektif
Berdasarkan data subjektif dan objektif dapat disimpulkan bahwa penampilan pasien terlihat bersih dan rapi. Pasien kooperatif, kontak mata kurang (tidak sepenuhnya menatap orang yang mengajak bicara), atensi dan konsentrasi pasien kurang dari 15 menit. Mobilitas pasien dapat dilakukan dengan mandiri. Perilaku pasien aktif, mempunyai inisiasi untuk mengajak orang lain berbicara atau beraktivitas, tatapan mata kadang terlihat kosong dan bingung serta mudah terdistraksi.
2. Aset
Aset yang dimiliki pasien yaitu bicaranya kooperatif, perilakunya aktif dan mempunyai inisiasi untuk mengajak orang lain berbicara atau beraktivitas.
3. Limitasi
Limitasi pasien yaitu kontak mata tidak sepenuhnya menatap orang yang mengajak bicara, atensi dan konsentrasi pasien kurang dari 15 menit serta tatapan mata kadang terlihat kosong dan bingung serta mudah terdistraksi.
4. Prioritas Masalah
Prioritas masalah pasien yaitu atensi dan konsentrasi pasien kurang dari 15 menit serta mudah terdistraksi.
E. Perencanaan Terapi
1. Tujuan Terapi Jangka Panjang
Pasien dapat mempertahankan atensi dan konsentrasi dalam aktivitas membuat rangkaian bunga dari kain flanel selama 30 menit dalam 20 kali sesi terapi.
2. Tujuan Jangka Pendek
STG 1 : pasien dapat menulis dan menyebutkan alat, bahan dan cara membuat rangkaian bunga dari kain flanel selama 10 menit dalam 3 kali sesi terapi
STG 2 : pasien dapat membuat dan memotong pola awal dengan bentuk lingkaran selama 15 menit dalam 5 kali sesi terapi
STG 3 : pasien dapat memotong pola lingkaran menjadi spiral dengan potongan bergelombang selama 20 menit dalam 8 kali sesi terapi
STG 4 : pasien dapat menggulung potongan spiral bergelombang menjadi bunga selama 25 menit dalam 10 kali sesi terapi
STG 5 : pasien dapat menyatukan bunga menjadi rangkaian bunga selama 30 menit dalam 15 kali sesi terapi
3. Strategi
Strategi yang digunakan yaitu modelling, tugas atau pekerjaan rumah dan problem solving.
4. Frekuensi
Terapi dilakukan selama 20 kali sesi terapi dengan frekuensi setiap hari (Senin - Sabtu).
5. Durasi
Proses terapi dilakukan dengan durasi 30 menit.
6. Media terapi
Media terapi yang digunakan yaitu kain flanel, benang, jarum, pensil, gunting dan lem tembak.
7. Home Program
Home program yang akan diberikan kepada pasien yaitu ketrampilan membuat pernak-pernik dari kain flanel, cara membuat cilok dan memberi informasi pada pasien mengenai makanan maupun benda-benda yang dapat dijual di rumah sebagai sarana untuk mendapatkan uang tambahan untuk keluarga serta memberikan edukasi pada pasien untuk lebih bersyukur dan tidak banyak permintaan yang berlebihan kepada suaminya.
F. Pelaksanaan Terapi
1. Selasa, 14 Februari 2017
a. Pemanasan: pemanasan dimulai dengan orientasi waktu, menanyakan kegiatan pasien sebelum ke rehab dan melakukan senam bersama.
b. Aktivitas Inti: aktivitas inti terapi diawali dengan menjelaskan kepada pasien terapi yang akan dilakukan. Kemudian pasien diminta untuk menuliskan alat, bahan dan langkah-langkah membuat rangkaian bunga. Setelah itu, pasien diminta untuk menyebutkan alat, bahan dan langkah-langkah membuat rangkaian bunga yang telah dituliskannya. Proses terapi dilakukan dengan durasi selama 10 menit.
Media terapi yang digunakan yaitu bolpoin dan kertas.
c. Penutup: proses terapi diakhiri dengan menanyakan kembali langkah pertama dalam membuat rangkaian bunga, menanyakan keinginan pasien setelah pulang dan ucapan terima kasih.
2. Rabu, 15 Februari 2017
a. Pemanasan: pemanasan diawali dengan menanyakan kabar pasien, orientasi waktu dan melakukan senam bersama.
b. Aktivitas Inti: aktivitas inti dimulai dengan menanyakan kembali alat, bahan dan langkah-langkah dalam membuat rangkaian bunga. Setelah itu, pasien diminta untuk menggambar pola awal bentuk lingkaran untuk membuat bunga dari flanel.
Proses terapi dilakukan dengan durasi 15 menit. Media terapi yang digunakan yaitu kain flanel, pensil dan bentuk lingkaran.
Dokumentasi Penulis
Gambar 3.1 Membuat Pola Lingkaran
c. Penutup: proses terapi diakhiri dengan menanyakan langkah selanjutnya untuk membuat bunga, makan snack dan ucapan terima kasih.
3. Kamis, 16 Februari 2017
a. Pemanasan: pemanasan diawali dengan menanyakan kegiatan pasien di rehab, menanyakan proses terapi yang telah dilakukan dan melakukan senam bersama.
b. Aktivitas Inti: aktivitas inti dimulai dengan melanjutkan proses terapi sebelumnya yaitu membuat pola awal bentuk lingkaran. Kemudian pasien diminta untuk memotong lingkaran-lingkaran yang telah dibuat. Setelah itu, pasien diminta untuk memotong masing-masing lingkaran dengan bentuk spiral bergelombang agar saat digulung dapat membentuk bunga. Kemudian pasien diminta untuk menggulung kain flanel yang telah dipotong dengan bentuk spiral bergelombang.
Proses terapi dilakukan dengan durasi 20 menit. Media terapi yang digunakan yaitu kain flanel, gunting dan lem tembak.
Dokumentasi Penulis
Gambar 3.2 Memotong Pola Lingkaran
Dokumentasi Penulis
Gambar 3.3 Menggunting Pola Lingkaran Menjadi Spiral
c. Penutup: proses terapi diakhiri dengan menanyakan kesulitan pasien saat melakukan terapi, menanyakan langkah selanjutnya, makan snack dan ucapan terima kasih.
4. Sabtu, 18 Februari 2017
a. Pemanasan: proses terapi diawali dengan orientasi waktu, menanyakan keadaan pasien dan senam bersama.
b. Aktivitas Inti: aktivitas inti dimulai dengan pasien diminta untuk melanjutkan menggulung kain flanel yang telah dipotong dengan bentuk spiral bergelombang membentuk bunga dan memberi lem pada bagian bawah bunga. Setelah itu pasien diminta untuk merangkai bunga-bunga dari kain flanel hingga membentuk sebuah rangkaian bunga. Proses terapi dilakukan dengan durasi 30 menit. Media terapi yang digunakan yaitu lem tembak, keranjang, pita dan tutup gelas.
Dokumentasi Penulis
Gambar 3.4 Menggulung Bentuk Spiral
Dokumentasi Penulis
Gambar 3.5 Membentuk Bunga Dari Bentuk Spiral
Dokumentasi Penulis
Gambar 3.6 Merangkai Beberapa Bunga Menjadi Rangkaian Bunga
c. Penutup: proses terapi diakhiri dengan menanyakan kesulitan pasien saat melakukan proses terapi, memberikan edukasi kepada pasien untuk lebih bersyukur, makan snack dan ucapan terima kasih.
G. Re evaluasi
1. Data Subjektif
Setelah pasien melaksanakan proses terapi pada tanggal 14-18 Februari 2017, memperoleh hasil sebagai berikut: penampilan pasien terlihat bersih dan rapi, pasien kooperatif, kontak mata sudah mulai menatap lawan bicaranya, atensi dan konsentrasi pasien menjadi 25 menit. Mobilitas pasien dapat dilakukan dengan mandiri. Perilaku pasien aktif, mempunyai inisiasi untuk mengajak orang lain berbicara atau
beraktivitas, tatapan mata yang terlihat kosong sudah mulai berkurang. Pasien masih mudah terdistraksi namun dapat kembali ke aktivitas.
2. Data Objektif
Hasil re evaluasi pada tanggal 18 Februari 2017 dengan menggunakan Cognitive Abilities Screening Test (CAST) diperoleh skor 68 yang terdiri dari:
Tabel 3. 1 Hasil Reevaluasi Pemeriksaan
No. Bagian Skor
1. Atensi 15
2. Daya Ingat 11
3. Abstrak 17
4. Orientasi 8
5. Menyebutkan Nama 10
6. Copy Design 5
7. Membuat Kata 2
Berdasarkan data CAST, diketahui bahwa pasien mengalami gangguan pada bagian membuat kata, copy design dan orientasi. pemeriksaan Mini Mental Status Examination (MMSE) diperoleh skor 21 yang berarti pasien mengalami gangguan kognitif ringan. Comprehensive Occupational Therapy Evaluation (COTE) diperoleh skor 12 yang terdiri dari bagian perilaku umum diperoleh skor 4, dari bagian interpersonal diperoleh skor 1 dan dari perilaku melaksanakan tugas diperoleh skor 7. Berdasarkan data dari COTE diketahui bahwa pasien mengalami gangguan dalam perilaku melaksanakan tugas. The Kohlman Evaluation Of Living Skills (KELS) diperoleh skor 5½ yang terdiri dari self care mendapatkan skor 0, dari bagian safety and health mendapatkan skor 1 pada pengetahuan tentang keberadaan fasilitas medis dan gigi, pada bagian manajemen keuangan mendapatkan skor 2 pada penggunaan uang untuk membelanjakan barang dan belanja untuk keperluan satu bulan, pada bagian penggunaan transportasi dan telepon mendapatkan skor 2 pada mobilitas dengan transportasi umum dan pengetahuan sistem transit serta pada
bagian kerja dan leisure mendapatkan skor ½ pada perencanaan untuk pekerjaan masa mendatang. Berdasarkan data dari KELS diketahui bahwa pasien memungkinkan untuk hidup mandiri. Pemeriksaan Interest checklist diperoleh data bahwa pasien memiliki banyak kesenangan diantaranya membaca, menyulam, berkebun, memasak dan berketrampilan. Hal ini dibuktikan pada saat assesment untuk mengetahui limitasi pasien menggunakan bunga dari flanel, pasien tertarik untuk melakukannya kembali. Tidak terjadi perubahan peran pada pemeriksaan The Role Checklist.
3. Hasil atau Pencapaian Terapi
Setelah dilakukan proses terapi pada tanggal 14-18 Februari 2017 hasil terapi yang didapatkan yaitu kontak mata sudah mulai menatap lawan bicaranya, atensi dan konsentrasi pasien menjadi 25 menit. Tatapan mata yang terlihat kosong sudah mulai berkurang. Pasien masih mudah terdistraksi namun dapat kembali ke aktivitas.
H. Follow Up
Follow up yang akan dilakukan yaitu melanjutkan proses terapi dengan aktivitas yang lebih rumit seperti menyulam atau membatik agar pasien dapat lebih berkonsentrasi dalam melakukan segala aktivitas dan tidak mudah terdistraksi. Agar pasien tidak mudah terdistraksi, sebaiknya pasien berada dalam suatu ruangan yang tidak banyak orang atau ramai.