• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Kerjasama dalam bentuk kemitraan mampu membantu petani dalam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Kerjasama dalam bentuk kemitraan mampu membantu petani dalam"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

8 BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Terdahulu

Kerjasama dalam bentuk kemitraan mampu membantu petani dalam menyelesaikan permasalahan usahataninya seperti permasalahan dalam permodalan, pemasaran dan teknologi. Badan Usaha Milik Rakyat (BUMR) menawarkan kemitraan dengan petani di Kabupaten Sukabumi, untuk mengetahui apakah kemitraan tersebut mendapatkan respon baik dari petani maka diperlukan penelitian terkait persepsi petani. Hal ini diteliti oleh Hikmah (2020) dengan judul penelitian Persepsi Petani Terhadap Kemitraan dengan BUMR. Metode penelitian ini menggunakan metode survey dengan pengukuran variabel menggunakan skala likert. Hasil dari penelitian tersebut yaitu pola kemitraan yang dilakukan oleh BUMR Pangan dengan petani padi sawah termasuk pola kemitraan Kerjasama Operasional Agribisnis (KOA) karena BUMR Pangan memberikan pinjaman non kolateral dan sebagai off taker. Persepsi petani terhadap kemitraan yang dilakukan oleh BUMR Pangan ditinjau dari indikator keuntungan relatif, tingkat keseuaian dan tingkat kerumitan. Berdasarkan hasil wawancara dan pengukuran menggunakan skala likert didapatkan hasil bahwa petani memberikan respon positif terhadap kegiatan kemitraan tersebut.

Kegiatan kemitraan memiliki prinsip yang saling menguntungkan, saling membutuhkan, dan saling menguatkan untuk perusahaan agribisnis dan petani.

(2)

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui apakah kemitraan tersebut berlangsung sesuai dengan prinsip maka diperlukan analisis persepsi petani terhadap kegiatan kemitraan. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Salsabila (2021), persepsi petani terhadap kemitraan termasuk baik karena berdasarkan analisis respon petani terhadap kemitraan di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung mendapatkan respon positif. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis persepsi petani kentang terhadap kemitraan yang dilakukan oleh PT Indofood Frytolar Makmur. Teknik pengambilan sample menggunakan teknik Proportionate Stratified Random Sampling. Penentuan jumlah responden

menggunakan rumus slovin. Persepsi petani diukur menggunakan skala likert.

Penelitian tersebut juga dilakukan oleh Hadi Hidayatul Falah (2018) dengan menggunakan Metode penelitian deskriptif kualitatif, snowball sampling dan analisis model Milles and Huberman. Hasil dari penelitian tersebut yaitu petani cabai merah yang bermitra dengan Koperasi Hortikultura Lestari beranggapan bahwa kegiatan kemitraan sudah berjalan baik. Pihak Koperasi Hortikultura Lestari juga berpendapat bahwa secara keseluruhan kegiatan kemitraan sudah berjalan baik.

Petani yang bergabung dalam kemitraan beranggapan bahwa dengan bergabung dalam kemitraan maka pendapatan yang diterima akan lebih tinggi dari petani non- mitra. Sedangkan untuk petani non-mitra beranggapan bahwa menjadi petani non- mitra lebih bebas dalam menjalankan usahataninya, tidak terikat dengan aturan yang ditetapkan oleh perusahaan mitra. Untuk mengetahui apakah dengan bergabung dalam kemitraan akan berpengaruh terhadap pendapatan, maka

(3)

diperlukan penelitian yang dilakukan oleh Pintakami (2021) tentang “Analisis Pendapatan Dan Persepsi Petani Terhadap Kemitraan Usaha Kampung Kucai Di Kabupaten Blitar” Penelitian ini menggunakan data kualitatif dengan menggunakan skala likert sebagai alat analisisnya dan menggunakan purposive sampling dalam menentukan lokasi penelitian.

Hasil dari penelitian tersebut yaitu terdapat perbedaan pendapatan antara petani kucai mitra dengan pendapatan kucai mandiri. Perbedaan tersebut disebabkan oleh hasil produksi petani mitra lebih besar dibanding hasil produksi petani mandiri. Selain itu, biaya usahatani yang dikeluarkan petani mitra lebih kecil karena mendapat bantuan dari Lembaga Keuangan “Bank BRI”, sedangkan untuk petani kucai mandiri lebih besar karena tidak mendapatkan bantuan modal dan sarana produksi. Persepsi petani kucai terhadap sistem kemitraan yang dilakukan oleh Bank BRI sangat baik. Hal ini dibuktikan dengan hasil kuisioner yang mendapatkan persentase 80%. Sebanyak 10 variabel dalam kuisioner terdapat 8 variabel yang mendapatkan nilai sangat baik dan 2 variabel mendapatkan nilai yang cukup baik.

Kemitraan dengan petani diperlukan untuk membantu mengatasi permasalahan yang dihadapi petani, namun tidak semua program kemitraan yang ditawarkan dapat diterima dan diterapkan begitu saja oleh petani, persepsi dari petani terhadap kemitraan atau kerjasama yang ditawarkan tersebut juga akan mempengaruhi keberlangsungan program kemitraan tersebut. PT Fajar Mulia Transindo salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang pertanian menawarkan kerjasama kemitraan bawang putih dengan petani di Kecamatan

(4)

Tawangmangu dengan tujuan saling menguntungkan bagi kedua belah pihak, akan tetapi petani bawang putih di Kecamatan Tawangmangu masih belum semuanya bersedia mengikuti program kemitraan tersebut. Berdasarkan uraian tersebut maka Imaduddin Xena (2021) meneliti tentang “Persepsi Petani Terhadap Program Kemitraan Tanam Bawang Putih PT. Fajar Mulia Transindo Di Tawangmangu Kabupaten Karanganyar”. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode survey dan menggunakan uji regresi linier berganda untuk menganalisis data.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa program kemitraan tanam bawang putih berlangsung sejak tahun 2017. Program kemitraan ini dilakukan oleh Gapoktan Desa Sepanjang dan Desa Nglebak Kecamatan Tawangmangu. Tujuan dari adanya program kemitraan yaitu untuk memperoleh hasil maksimal dan saling menguntungkan kedua pihak. Fasilitas yang diberikan PT Fajar Mulia kepada gapoktan berupa bantuan penyediaan bibit dan pemasaran. Gapoktan memberikan 20% hasil panen kepada PT Fajar Mulia. Persepsi petani terhadap adanya program kemitraan tanam bawang putih mendapatkan respon positif dan negatif, karena adanya keterlambatan pasokan benih dan rendahnya kualitas benih sehingga berpengaruh terhadap hasil panen bawang putih. Hasil analisis data menggunakan regresi linier berganda yaitu secara parsial variabel faktor konsep diri, kebutuhan, pengalaman, harapan, sesuatu yang berbeda, intensitas, dan kedekatan terhadap suatu obyek tidak berpengaruh secara signifikan pada persepsi petani terhadap program kemitraan tanam bawang putih.

PT. Ramajaya Pramukti merupakan salah satu perusahaan perkebunan yang menjalin kerjasama dengan petani atau masyarakat. Untuk menganalisis jenis

(5)

kemitraan yang dilakukan PT Ramajaya Pramukti maka diperlukan penelitian “ Pola Kemitraan Di Perkebunan Kelapa Sawit (Studi Kasus Di PT. Ramajaya Pramukti Kecamatan Tapung Kabupaten Kampar, Riau)” penelitian ini dilakukan oleh Ardhi (2018) yang bertujuan untuk menganalisis persepsi petani plasma terhadap kemitraan perkebunan dan menganalisis pola kemitraan yang dijalankan oleh petani plasma dengan perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Tapung Kabupaten Kampar, Riau. Metode penelitian tersebut menggunakan metode deskriptif analisis dan menggunakan snowball sampling.

Hasil penelitian tersebut yaitu pola kemitraan yang dilakukan oleh petani plasma dengan perkebunan kelapa sawit termasuk ke dalam pola kemitraan PIR- Trans. Persepsi petani plasma terkait adanya kemitraan dengan perkebunan kelapa sawit tergolong baik karena adanya kemitraan tersebut mampu meningkatkan pendapatan petani plasma dan membentuk petani plasma menjadi petani mandiri.

Penelitian yang dilakukan oleh Maesarah (2017) yang berjudul “Persepsi Peternak Ayam Pedaging (Broiler) Terhadap Kemitraan Di Kabupaten Bekasi Provinsi Jawa Barat” bertujuan untuk menganalisis persepsi peternak ayam terhadap kemitraan di Kabupaten Bekasi Provinsi Jawa Barat dan menganalisis hubungan antara persepsi peternak ayam terhadap kemitraan dengan karakteristik peternak ayam. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis deskriptif korelasi yang meliputi uji korelasi rank spearman dan korelasi koefisien kontingensi.

(6)

Indikator variabel yang digunakan untuk menganalisis persepsi peternak ayam terhadap kemitraan meliputi kendala, kontrak kerjasama, bantuan modal/kredit.

Hasil analisis yang diperoleh yaitu peternak mandiri memberikan persepsi sangat baik terhadap kemitraan dengan nilai rataan skor keseluruhan sebesar 3,38.

Peternak petani plasma memberikan respon positif terkait kemitraan yang dijalin di Kabupaten Bekasi karena petani plasma mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan kontrak kerjasama.

Sedangkan Hasil dari analisis yang dilakukan oleh Yuristia, (2020) yaitu persepsi peternak ayam terhadap kemitraan yang dijalin sangat baik. Hal ini dibuktikan dengan kesesuaian perjanjian yang diberikan oleh perusahaan inti, komitmen yang dijalin oleh perusahaan inti sama dengan peternak plasma, dan perusahaan inti sangat terbuka terutama dalam memberikan informasi kepada peternak plasma. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Pondok Kubang Kabupaten Bengkulu Tengah. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis statistik deskriptif dan metode miles and huberman dengan pengukuran variabel menggunakan skala likert.

Berdasarkan uraian penelitian terdahulu di atas, terdapat persamaan dengan penelitian ini yaitu mengkaji tentang persepsi petani terhadap proses kemitraan, pengolahan data dilakukan menggunakan skala likert dan menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Sesuai dengan tujuan peneliti yaitu: menganalisis pelaksanaan sistem kemitraan dan menganalisis persepsi petani terhadap sistem kemitraan di Kecamatan Wates Kabupaten Kediri. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu yaitu pada penelitian terdahulu menggunakan jenis data kualitatif dan

(7)

kuantitatif sedangkan pada penelitian ini hanya menggunakan data kualitatif.

Selain itu, pada penelitian terdahulu hanya menganalisis pola kemitraan saja sedangkan pada penelitian ini menganalisis pada sistem kemitraan yang dijalankan.

2.1 Inovasi

Inovasi merupakan suatu gagasan ataupun ide yang dianggap baru oleh masyarakat. Inovasi tidak hanya sebatas suatu gagasan ataupun ide tetapi inovasi juga tentang sikap, perilaku seseorang untuk terus berproses di dalam kehidupan masyarakat (Wahyudi, 2019). Sehingga dapat disimpulkan bahwa inovasi merupakan sebuah ide, perilaku, nilai-nilai, dan proses yang baru dan belum digunakan oleh beberapa masyarakat. Tujuan adanya inovasi adalah untuk mendorong adanya perbaikan ataupun perubahan pada aspek kehidupan masyarakat agar dapat memperbaiki kualitas dan mutu setiap individu ataupun masyarakat yang bersangkutan. Terdapat tiga karakteristik inovasi yang mempengaruhi laju sebuah inovasi (Rogers, 2003) :

1. Keuntungan Relatif

Keuntungan relatif dalam inovasi dapat diukur dari nilai ekonomi, faktor status sosial, dan kepuasan. Indikator keuntungan relatif digunakan untuk mengukur perbandingan keuntungan yang diperoleh oleh masyarakat sebelum mendapatkan inovasi dan sesudah menerima inovasi.

2. Tingkat Kesesuaian

Indikator tingkat kesesuaian digunakan untuk menganalisis pandangan masayarakat tentang adanya inovasi. Tingkat kesesuaian ini dapat diukur

(8)

dari nilai norma di lingkungan tersebut, pengalaman masa lalu, dan kebutuhan dari masyarakat.

3. Tingkat Kerumitan

Indikator tingkat kerumitan digunakan untuk menganalisis kendala ataupun hambatan yang dihadapi oleh masyarakat dalam menerima inovasi. Semakin banyak kendala yang dihadapi oleh masyarakat dalam menerima inovasi maka semakin sulit inovasi tersebut untuk diterima oleh masyarakat begitupun sebaliknya.

2.2 Kemitraan

Kemitraan merupakan bentuk kerjasama yang melibatkan dua pihak ataupun lebih yang saling membutuhkan dan saling menguntungkan. Kemitraan Agribisnis merupakan salah satu program kegiatan di bidang pertanian yang menawarkan keuntungan dalam kontribusi untuk pembangunan pertanian berkelanjutan yang melibatkan petani (Rankin et al., 2016). Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 9 Tahun 1995 kemitraan adalah bentuk kerjasama usaha antara usaha kecil, usaha menengah atau usaha besar disertai pembinaan dan pengembangan yang bersifat saling memerlukan, memperkuat dan menguntungkan. Prinsip yang harus dipahami dalam membangun kemitraan yaitu:

1. Komunikasi, yaitu melakukan interaksi dengan mitra untuk mendapatkan informasi terkait kebutuhan dari mitra.

2. Komitmen, yaitu memiliki keyakinan dan kepercayaan bahwa mitra akan menjalankan kewajibannya.

(9)

3. Kerjasama, pelaku mitra bersedia melakukan kewajibannya untuk mencapai tujuan bersama.

4. Prinsip saling memerlukan berfungsi agar tidak ada pihak mitra yang bersifat lebih dominan dari pihak lainnya dan tujuan dari adanya kemitraan dapat tercapai.

5. Prinsip saling memperkuat sangat penting untuk diterapkan di dalam sebuah kemitraan, karena pada dasarnya pihak mitra memiliki keterbatasan ataupun permasalahan baik itu di bidang manajemen, teknologi atau sumber daya.

Sehingga tugas dari pihak mitra yaitu saling menopang, membantu mitra lainnya untuk memperkuat kesinambungan dalam kemitraan.

6. Salah satu tujuan kemitraan yaitu “win win solution” yang memiliki arti bahwa program kemitraan ini bersifat saling menguntungkan satu sama lain.

Kemitraan dapat dibentuk melalui 5 tahapan (Zakaria, 2015) :

1. Membangun hubungan dengan mitra :Pelaku usaha akan menentukan target untuk membentuk sebuah kemitraan. Tentunya diperlukan pendekatan terhadap target mitra untuk mengetahui informasi terkait target mitra.

2. Proses selanjutnya yaitu pihak mitra harus mengetahui kondisi mitranya, seperti kebutuhan yang diperlukan oleh mitra, permasalahan yang dihadapi.

3. Setelah terjalin hubungan yang baik dengan mitra dan mengetahui kondisi mitra, langkah selanjutnya yaitu melakukan perencanaan (planning) terkait kegiatan yang akan dilaksanakan dalam kemitraan, membuat kontrak kerjasama dan perjanjian.

(10)

4. Jika perencanaan sudah dibuat maka program kemitraan dapat dilaksanakan.

Pelaksanaan setiap kegiatan dalam program kemitraan juga harus di monitoring agar kegiatan tersebut tidak menyimpang dari planning yang sudah dibuat.

5. Kegiatan evaluasi sangat diperlukan dalam program kemitraan. Adanya kegiatan evaluasi bertujuan untuk mengetahui kendala yang terjadi dalam kegiatan kemitraan sehingga dapat memberikan solusi untuk kegiatan selanjutnya.

2.4 Persepsi

Setiap orang mempunyai persepsi yang berbeda terkait sesuatu yang sedang dilihat, dirasakan, ataupun dipikirkan. Persepsi merupakan bentuk interpretasi seseorang yang didapatkan dari pengetahuan terhadap suatu kondisi ataupun kegiatan yang sedang dijalankan. Persepsi juga dapat diartikan sebagai pendapat atau pandangan seseorang terhadap peristiwa yang dialami ataupun peristiwa yang berada di lingkungan sekitar. Persepsi dibedakan menjadi 2 macam, yaitu persepsi positif dan persepsi negatif. Persepsi positif terjadi jika seseorang memiliki penilaian yang baik terhadap suatu obyek. Adanya persepsi negatif dapat ditandai dengan tanggapan seseorang yang menyimpang dari apa yang diharapkan oleh komunikator (Brillian Pintakami, 2020).

Proses terbentuknya persepsi dimulai dari sebuah objek yang membuat stimulus mengenai alat indera. Stimulus tersebut kemudian diterima oleh alat indera dan diteruskan ke otak, pada bagian otak yang berfungsi sebagai pusat kesadaran menyebabkan seseorang menyadari tentang apa yang dia lihat, dengar

(11)

dan rasakan. Faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang dibedakan menjadi 2 macam yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi persepsi seseorang meliputi sikap, perasaan, dan karakteristik seseorang. Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi persepsi seseorang yaitu informasi dan pengetahuan yang diperoleh dan latar belakang keluarga (Fuady et al., 2017). Adanya persepsi ini membuat seseorang menyadari, mengerti tentang keadaan di lingkungannya. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa persepsi setiap individu berbeda meskipun stimulusnya sama tetapi pengalaman yang didapat berbeda, kemampuan berpikir juga berbeda.

2.5 Pola Kemitraan

Pola kemitraan merupakan jenis-jenis kerjasama yang saling menguntungkan antara dua pihak yang terlibat atau lebih untuk mencapai tujuan bersama (Vitratin, 2017). Peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1997. mengatur tentang pola kemitraan. Pola kemitraan tersebut dibagi menjadi lima jenis yaitu, pola kemitraan inti plasma, pola kemitraan sub kontrak, pola kemitraan dagang umum, pola kemitraan keagenan, dan pola kemitraan waralaba. Berikut adalah penjelasan terkait jenis-jenis pola kemitraan :

1. Pola Kemitraan Inti Plasma

Pola kemitraan merupakan bentuk kemitraan yang melibatkan usaha kecil, dan usaha besar seperti petani atau kelompok tani dan perusahaan di bidang agribisnis (Saputra et al., 2017). Peran petani dalam pola kemitraan inti plasma yaitu sebagai plasma, sedangkan peran perusahaan dalam pola kemitraan inti plasma yaitu sebagai inti. Fungsi adanya perusahaan inti yaitu memberikan bimbingan untuk

(12)

mengembangkan usaha kecil yang berperan sebagai plasma. Selain itu perusahaan inti juga memberikan fasilitas berupa pinjaman modal dan sarana produksi.

Fungsi adanya petani plasma yaitu sebagai penyedia bahan baku yang dibutuhkan oleh perusahaan inti. Pola kemitraan inti plasma juga melibatkan perbankan sebagai penyedia modal untuk petani plasma.

Keunggulan dari pola kemitraan inti plasma yaitu :

a. Perusahaan inti akan mendapatkan kualitas bahan baku yang sesuai dengan SOP industri.

b. Petani plasma akan mendapatkan bantuan berupa pinjaman modal, benih, pupuk, sarana produksi, dan mendapatkan bimbingan untuk meningkatkan produktivitas usahataninya.

2. Pola Kemitraan Sub Kontrak

Pola kemitraan sub kontrak yaitu pola kemitraan yang melibatkan perusahaan mitra dengan kelompok mitra. Kelompok mitra dalam pola kemitraan sub kontrak bertugas untuk menyediakan bahan baku yang diperlukan oleh perusahaan mitra. Sedangkan perusahaan mitra dalam pola kemitraan sub kontrak bertugas untuk membeli bahan baku dari kelompok mitra dengan harga jual yang sudah ditentukan (Azmie, 2019). Pola kemitraan sub kontrak dengan pola kemitraan inti plasma memiliki kesamaan fungsi dan tugas dalam melaksanakan kemitraan namun yang membedakan antara pola kemitraan sub kontrak dengan pola kemitraan inti plasma yaitu pada pola kemitraan sub kontrak perusahaan mitra tidak memberikan bantuan pinjaman modal kepada kelompok mitra.

3. Pola Kemitraan Keagenan

(13)

Pola kemitraan keagenan merupakan pola kemitraan yang melibatkan perusahaan mitra dengan pedagang atau distributor. Perusahaan mitra dalam pola kemitraan keagenan memiliki tugas untuk membuat produk dan memberikan hak khusus kepada pedagang atau distributor (Alam, 2017). Hak khusus yang diberikan juga memberikan fasilitas berupa pinjaman modal dan sarana produksi. Fungsi adanya petani plasma yaitu sebagai penyedia bahan baku yang dibutuhkan oleh perusahaan inti. Pola kemitraan inti plasma juga melibatkan perbankan sebagai penyedia modal untuk petani plasma.

Keunggulan dari pola kemitraan inti plasma yaitu :

c. Perusahaan inti akan mendapatkan kualitas bahan baku yang sesuai dengan SOP industri.

d. Petani plasma akan mendapatkan bantuan berupa pinjaman modal, benih, pupuk, sarana produksi, dan mendapatkan bimbingan untuk meningkatkan produktivitas usahataninya.

4. Pola Kemitraan Sub Kontrak

Pola kemitraan sub kontrak yaitu pola kemitraan yang melibatkan perusahaan mitra dengan kelompok mitra. Kelompok mitra dalam pola kemitraan sub kontrak bertugas untuk menyediakan bahan baku yang diperlukan oleh perusahaan mitra. Sedangkan perusahaan mitra dalam pola kemitraan sub kontrak bertugas untuk membeli bahan baku dari kelompok mitra dengan harga jual yang sudah ditentukan (Azmie, 2019). Pola kemitraan sub kontrak dengan pola kemitraan inti plasma memiliki kesamaan fungsi dan tugas dalam melaksanakan

(14)

kemitraan namun yang membedakan antara pola kemitraan sub kontrak dengan pola kemitraan inti plasma yaitu pada pola kemitraan sub kontrak perusahaan mitra tidak memberikan bantuan pinjaman modal kepada kelompok mitra.

5. Pola Kemitraan Keagenan

Pola kemitraan keagenan merupakan pola kemitraan yang melibatkan perusahaan mitra dengan pedagang atau distributor. Perusahaan mitra dalam pola kemitraan keagenan memiliki tugas untuk membuat produk dan memberikan hak khusus kepada pedagang atau distributor (Alam, 2017). Hak khusus yang diberikan oleh perusahaan mitra biasanya berupa ketetapan harga beli dan kuantitas produk yang harus dibeli. Pedagang atau distributor dalam pola kemitraan keagenan memiliki tugas untuk memasarkan produk dari perusahaan mitra.

6. Pola kemitraan dagang umum

Pola kemitraan dagang umum merupakan pola kemitraan yang melibatkan perusahaan mitra dan usaha kecil. Perusahaan mitra dalam pola kemitraan dagang umum bertugas untuk memasarkan produk yang dihasilkan oleh usaha kecil.

Fungsi pola kemitraan dagang umum yaitu melakukan kerjasama di bidang pemasaran produk (Amam et al., 2019).

7. Pola Kemitraan Kerjasama Operasional Agribisnis (KOA)

Pola kemitraan Kerjasama Operasional Agribisnis (KOA) merupakan jenis pola kemitraan yang melibatkan kelompok mitra dengan perusahaan mitra.

Perusahaan mitra dalam pola kemitraan ini menyediakan modal, teknologi, dan biaya dalam budidaya pertanian sedangkan kelompok mitra menyediakan tenaga

(15)

kerja, lahan, dan sarana produksi untuk budidaya pertanian. Kelebihan dari pola kemitraan kerjasama operasional agribisnis yaitu kelompok mitra dan perusahaan mitra mendapatkan keuntungan yang sesuai dari kesepakatan (Zakaria, 2015).

2.6 Hak dan Kewajiban Kemitraan

Hak dan Kewajiban dalam sebuah kemitraan sangat penting. Adanya hak dan kewajiban dalam kemitraan dapat membentuk sebuah komitmen dan tanggung jawab kepada pihak mitra yang terlibat (Kalis, 2016). Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1997 mengatur tentang hak dan kewajiban dalam kemitraan. Tujuan dari adanya peraturan tersebut agar pelaku mitra memiliki kedudukan yang sama. Perusahaan inti memiliki kewajiban untuk menyediakan lahan bagi petani plasma, menyediakan sarana produksi, mengadakan sosialisasi atau bimbingan terkait budidaya usahatani yang dilakukan oleh petani plasma, memberikan pembiayaan berupa pinjaman modal dalam meingkatkan efisiensi dan produktivitas bagi petani plasma. Adapun hak yang dimiliki oleh petani plasma yaitu mendapatkan bimbingan ataupun sosialisasi dari perusahaan inti, mendapatkan bantuan modal dalam mengembangkan produktivitas usahatani.

Sedangkan hak dan kewajiban dari petani plasma dan perusahaan inti yaitu membuat kontrak perjanjian kemitraan yang telah disepakati oleh kedua pihak dan perjanjian dapat dibatalkan jika salah satu pelaku mitra tidak metaati peraturan (Puteri, 2017).

Proses kemitraan tidak terlepas dari hak dan kewajiban antara PT. Ayotani Berjaya dan Kelompok Tani Cabai. Hak yang diperoleh oleh petani yaitu mendapatkan bibit, pupuk, alat panen, material pestisida dan pemasaran hasil

(16)

panen, sedangkan hak-hak dari perusahaan adalah mendapatkan hasil panen yang berasal dari petani. Kewajiban yang harus dilakukan petani yaitu memberikan hasil panen cabai yang berkualitas. sedangkan kewajiban dari perusahaan yaitu menyediakan apa yang dibutuhkan oleh petani seperti pupuk, alat panen, material pestisida, dan hak hasil panen.

2.7 Kerangka Berfikir

PT Ayotani Berjaya melakukan kemitraan dengan petani yang berada di Kecamatan Wates Kabupaten Kediri. Adanya kemitraan ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan yang dialami oleh para petani. Kegiatan kemitraan yang dijalankan oleh PT Ayotani Berjaya dengan para petani di Kecamatan Wates Kabupaten Kediri meliputi kontrak kerjasama, hak dan kewajiban, bimbingan atau sosialisasi, dan penentuan harga beli. Perlu adanya tanggapan dari petani untuk menilai sistem kemitraan tersebut sudah sesuai dengan kontrak kerjasama dan hak kewajiban yang dibuat, sehingga perlu dianalisis persepsi petani terhadap sistem kemitraan PT Ayotani di Kecamatan Wates Kabupaten Kediri. Indikator yang digunakan untuk menganalisis persepsi tersebut yaitu indikator tingkat kesesuaian, tingkat kerumitan, dan keuntungan relatif. Berikut adalah bagan kerangka berfikir :

(17)

Bagan 1. Kerangka Berpikir BERJAYA

PETANI MITRA

Sistem Kemitraan

Persepsi Petani terhadap sistem kemitraan

Keuntungan Relatif Tingkat

Kesesuaian

Tingkat Kerumitan Proses Kerjasama

Kemitraan

Kegiatan Kemitraan

Fasilitas Pembagian keuntungan

Referensi

Dokumen terkait

Putusan Mahkamah Konstitusi No 46/PUU-VIII/2010 terhadap Pasal 43 ayat (1) tentang Perkawinan selanjutnya disebut (Undang-Undang Perkawinan), dikabulkan karena hubungan

Berdasarkan penelitian dapat disim- pulkan bahwa Rata-rata N-gain keterampilan mengkomunikasikan dan penguasaan konsep pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan

Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh variabel kepemilikan institusional, nilai gender dewan direksi, komite audit dan ukuran perusahaan terhadap

Kewibawaan merupakan faktor penting dalam kehidupan kepemimpinan, sebab dengan faktor itu seorang pemimpin akan dapat mempengaruhi perilaku orang lain

Dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan diperoleh kesimpulan bahwa ubikayu varietas UJ 5/Kasetsart memiliki kandungan pati, rendemen, dan keuntungan

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah CRISP-DM (Cross Industry Standard Process for Data Mining) dimulai dari pemahaman bisnis dimana belum dapat

Pelatihan membuat daftar pustaka dengan baik secara otomatis dengan aplikasi mendelay untuk mahasiswa akhir STMIK Pelita Nusantara Medan dilaksanakan dengan metode ceramah,.. 16

Siswa dapat mempraktikkan kombinasi pola gerak dasar lokomotor yang dilandasi konsep gerak dalam berbagai bentuk permainan sederhana dengan memperhatikan tanggung jawab