SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Sosiologi
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
Oleh
DEWI SATRIANI NIM.105383251 15
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI SEPTEMBER, 2020
keberhasilan tanpa kerja keras, keuletan,kegigihan dan kedisiplinan. Hal itu
juga harus dibarengi dengan sikap pantang menyerah dan tidak cepat putus asa. Semua cita-
cita dan ambisi hanya bisa direngkuh apabila kita mau terus belajar berbagai hal, dimanapun
dan kepada siapapun”
: Kedua orang tua tercinta, Bapak Mustafa dan Ibu Nursiah terima kasih atas ketulusan, kesabaran, kasih sayang, semangat, bimbingan, dan do’a yang senantiasa mengiringi langkah demi keberhasilan penulis.
: Adikku tersayang, Samtidar, Ilham Saputra dan Putri Nadia.
: Kakak tersayang Sufianti dan Muhammad Irfandi
: Kekasihku tercinta Sufiadi, terima kasih atas semua pengorbananmu selama ini.
: Tercinta ambo Sukardi dan indo Sumiati yang telah aku anggap sebagai orang tua ku
: Tercinta alm.kakek ummara’ dan alm. kakek mamang. Almh. Nenek Saha dan almh. Nenek mari’
Penelitian ini mengamati dan mendeskripsikan pola interaksi social pecandu gadged serta menjelaskan faktor yang memengaruhi terjadinya pola interkasi sosial tersebut. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) mengetahui Untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan pola interaksi sosial pecandu gadged di Bantilang Kecamatan Towuti Kabupaten Luwu Timur. (2) Untuk mengetahui dampak interraksi social pecandu gadged di Desa Bantilang Kecamatan Towuti Kabupaten Luwu Timur.
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif yang bertujuan mengetahui terjadinya interaksi social pecandu gadged di Desa Bantilang. Informan di tentukan secara purposive sampling berdasarkan karasteristik informan yang telah ditetapkan yaitu informan yang digunakan yakni 8 informan terdiri dari 3 orang tua yang berjenis kelamin 1 perempuan dan 2 laki-laki, 3 remaja penguna gadged 2 laki-laki dan 1 perempuan 2 masyarakat biasa. Teknik pengumpulan data yaitu dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku atau pola interaksi pecandu gadged dalam hal ini mengarah pada bentuk disosiatif dimana bentuk awalan dari aosiatif menuju pola interaksi disosiatif. Para pecandu gadged semakin terjerumus pada pola disosiatif semenjak diberlakukannya pemebelajaran daring. Sehingga anak-anak cenderung lebih banyak menghabiskan aktifitasnya didepan layar dan kurang hubungan kontak secara langsung dengan teman, keluarga, dan juga masyarakat sekitar. Begitupun juga didorong dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih yang menyediakan berbagai macam hal-hal yang dapat menarik perhatian para generasi muda.
Kata kunci: Gedged, Pecandu Gadged, Pola interaksi.
Mukramin.
This study observes and describes the social interaction patterns of gadged addicts and explains the factors that influence the occurrence of these social interaction patterns. The purpose of this study aims to determine (1) know To identify and describe the social interaction patterns of gadged addicts in Bantilang, Towuti District, East Luwu Regency. (2) To determine the impact of gadged addict social interactions in Bantilang Village, Towuti District, East Luwu Regency.
The type of research used is qualitative research which aims to determine the social interaction of gadged addicts in Bantilang Village. The informants were determined by purposive sampling based on the informant characteristics that had been determined, namely the informants used, namely 8 informants consisting of 3 parents who were 1 female and 2 male, 3 teenage gadged users 2 boys and 1 female 2 ordinary people. Data collection techniques are by means of observation, interviews and documentation.
The results showed that the behavior or interaction patterns of gadged addicts in this case lead to a dissociative form where the prefix forms from associative to dissociative interaction patterns. Gadged addicts have increasingly fallen into dissociative patterns since the introduction of online learning. So that children tend to spend more of their activities in front of the screen and have less direct contact with friends, family, and the surrounding community. Likewise, it is also encouraged by the development of increasingly sophisticated technology that provides various kinds of things that can attract the attention of the younger generation.
Keywords: Gedged, Gadged Addicts, Interaction patterns.
ini penulis dapat selesaikan, meskipun dalam bentuk sederhana. Semoga dalam kesederhanaan ini, dari padanya dapat dipetik manfaat sebagai tambahan referensi pada pembaca yang budiman. Penulis juga selalu mengharapkan saran dan koreksi yang bersifat membangun. Demikian pula salawat dan taslim atas junjungan Nabi besar Muhammad saw., sebagai rahmatan lil alamiin.
Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan partisipasi dari semua pihak,baik dalam bentuk dorongan moral maupun material, Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang sangat spesial peneliti haturkan dengan rendah hati dan rasa hormat kepada kedua orang tua peneliti yang tercinta serta seluruh keluarga yang senangtiasa mendukung peneliti dalam penyelesaian skripsi ini.
Mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag selaku Rekror Universitas Muhammadiah Makassar beserta jajarannya dan juga menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Erwind Akib, S.Pd., M.Pd., Ph.D, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan serta para Wakil Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Drs. H. Nurdin, M.Pd, Ketua Program Studi Pendidikan Sosiologi dan Kaharuddin, S.Pd., M.Pd., Ph.D, Sekertaris Program Studi Pendidikan Sosiologi beserta seluruh stafnya.
Bapak dan Ibu dosen Program Studi Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang telah memberikan ilmunya kepada peneliti.
Bapak pimpinan beserta para staf Perpustakan Pusat, Perpustakaan Fakultas dan Keguruan atas segala kemudahan yang diberikan kepadda peneliti untuk mendapatkan referensi yang mendukung skripsi ini.
Ungkapan terima kasih juga peneliti sampaikan kepada masyarakat Desa Bantilang yang kiranya telah membantu peneliti dalam memberikan informasi- informasi terkait dengan skripsi ini.
Kawan-kawan Mahasiswa program studi pendidikan sosiologi khususnya kawan-kawan seperjuangan kelas C angkatan 2015 yang selalu memberikan support kepada peneliti terkhusus kepada teman saya Rosita, Nurmi, Nuramal, Nun Ainun, dan Arisal Sente atas dukungan serta bantuannya dan kepada teman saya Nur Aniswan dan Rahmat Taufik atas kerjasamanya selama penyusunan skripsi ini.
Akhirnya kepada Allah swt, jualah penulis memohon, semoga atas jasa dan partisipasi dari semua pihak akan mendapatkan limpahan rahmat dari padaNya.
Semoga apa yang telah ditulis dalam skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Amin ya Rabbal aalamiin.
Makassar, September 2020 Dewi Satriani
iii
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING... iv
SURAT PERNYATAAN ... v
SURAT PERJANJIAN ... vi
MOTTO DAN PERSEMBAHAN... vii
ABSTRAK BAHASA INDONESIA ... viii
ABSTRAK BAHASA INGGRIS ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan masalah... 6
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Manfaat Penelitian ... 6
E. Defenisi Operasional... 7
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 9
A. Kajian Konsep... 9
B. Kajian Teori ... 23
C. Kerangka Pikir ... 25
BAB III METODE PENELITIAN ... 27
A. Jenis dan Pendekatan Penelitian... 27
B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 28
C. Informan Penelitian... 28
D. Fokus Penelitian ... 30
E. Instrument Penelitian ... 30
F. Jenis dan Sumberr Data... 31
G. Teknik Pengumpulan Data... 32
H. Tehnik Analisis Data... 34
I. Tehnik Keabsahan Data ... 36
BAB IV GAMBARAN DAN HISTORIS LOKASI PENELITIAN... 37
A. Deskripsi Umum Lokasi Penelitian ... 37
B. Deskripsi Khusus Lokasi Penelitian... 55
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 58
A. Hasil Penelitian ... 58
B. Pembahasan... 70
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN... 80
A. Kesimpulan Hasil Penelitian ... 80
B. Saran Peneliti ... 82
DAFTAR PUSTAKA ... 84 LAMPIRAN-LAMPIRAN ...
RIWAYAT HIDUP ...
DAFTAR TABEL
4.1 Pembagian Daerah Adsminitratif di Kabupaten Luwu Timur Tahun 2013.. 53 4.2 Jumlah Penduduk dan Tingkat Kepadatan Penduduk Kabupaten Luwu Timur
2013... 54 4.3 Jumlah Penduduk Kabupaten Luwu Timur Menurut Jenis Kelamin Tahun
2019... 55 DAFTAR GAMBAR
4.1 Gambar Peta Kab. Luwu Timur, Sulawesi Selatan... 53 DAFTAR BAGAN
2.1 Bagan Kerangka Fikir ... 25
1
Teknologi komunikasi dan informasi dirasakan berkembang secara luar bias. Internet dapat dikatakan sebagai penemuan besar dalam dunia teknologi dan komunikasi yang memberikan dampak yang sangat besarbagi kemajuan manusia. Namun titik pandang kemajuan teknologi komunikasi dan informasi tak hanya tertumpu pada kehadiran perangkat komunikasi yang semakin canggih, melainkan juga memberikan pengaruh pada kultur yang terjadi di tengah masyarakat ( Murodi:2012).
Teknologi dengan fasilitas media sosial dan game sangat mudah di jumpai dalam kehidupan masyarakat. Kebutuhan akan konsumsi informasi menjadi dasar akan penggunaan media gadged yang mampu menjelajah dunia dalam genggaman. Selain itu game online yang tersedia juga menjad daya tarik dari penggunaan media gadged. Penguanaan teknologi gadged di era globalisasi sangat meninggkat dengan pesat dimana daya tarik dari aplikasi media sosial menjadi candu bagi penggunanya.
Menurut Undang-undang ITE II Tahun 2008 tentang Undang-undang yang mengatur tentang informasi elektornik secara umum. Undang-undang ini memiliki Yurisdiksi yang berlaku untuk setiap orang yang melakukan perbuatan hokum sebagai mana diatur dalam undang-undang ini.
Pasal 27 ayat 3 undang – undang ITE menyebut melarang setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendestribusikan dan mentransmisikan atau
membuat dapat diaksesnya informasi elektronik atau dokumen yang memiliki muatan penghinaan atau merugikan yang menggunakan gadged dalam dampak negative maupun positif.
Pada ketentuan pasal 27 ayat 3 dilakukan 3 perubahan sebagai berikut;
1. Menambahkan penjelasan atas istilah “mendestribusikan, mentransmisikan atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik”
2. Menegaskan bahwa ketentuan tersebut adalah delik aduan bukan delik umum; dan
3. Menegaskan bahwa unsur pidana pada ketentuan tersebut mengacu pada ketentuan pancemaran nama baik dan fitna yang diautur dalam KUHP. Undang nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik disampaikan kepada DPR RI sebelum di sahkan.
Menurut Iskandar Alisyahbana (1980) teknologi telah di kenali manusia sejak jutaan tahun yang lalu karna dorongan untuk hidup yang lebih nyaman, lebih makmur dan lebih sejahtera. Jadi sejak awal peradaban sebenarnya telah ada teknologi, miskipun istilah teknologi belum digunakan.
Istilah teknologi berasal dari Techne atau cara dan Logos atau pengetahuan jadi secara harfiah teknologi dapat di artikan pengetahuan tentang cara.
Pengertian teknologi adalah cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan bantuan akal dan alat sehingga seakan-akan
memperpanjang, memperkuat, atau membuat lebih ampun anggota tubuh, pancaindra dan otak manusia.
Interksi social adalah hubungan timbal balik antara dua orang atau lebih baik individu dengan individu, indvidu dengan kelompok dan memiliki serta terlibat di dalamnya. interaksi yang terjadi antara individu dengan individu saja baik secara bahasa maupun hanya sekedar isyarat. Interaksi ini dapat terjadi dimana saja seperti saat sedang berbicara ataupun curhat dengan teman sebaya.
Interaksi antara kelompok dengan kelompok adalah interaksi yang terjadi seperti pertemuan antara Lembaga keorganisasisan yang membahas masalah kajian-kajian islam hal tersebut dapat dimaknai sebagai interaksi antara kelompok, sedangkan interaksi individu dengan kelompok adalah hubungan yang terjadi antara perorangan dengan keompok. Seperti guru dengan siswanya ketika dalam menyampaikan suatu mata pelajaran.
Interaksi yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah interaksi individu dengan kelompok. Dimana interaksi antara pecandu gadged dengan lingkungannya dinilai sebagai suatu interaksi sosial.
Interaksi yang bersifat asosiatif mampu terjalin dikarenakan adanya komunikasi yang baik antara pecandu gadged dengan kelompok masyarakat yang ada. Dimana dengan penggunaan gadged mampu mempererat hubungan- hubungan antara pecandu gadged dengan kelompoknya mampu menciptakan hubungan yang harmonis dan baik.
Banyaknya manfaat dari gadged yang didapat adalah mampu menemukan informasi-informasi baru dan mampu menjelajah dunia baru dalam genggaman, membuat gadget menjadi popular. Selain itu dengan gadget juga mampu menunjang perkembangan dan kemajuan akan informasi dan teknologi. Pemanfaatan gadged dengan bijak mampu memberikan dampak yang besar bagi kehidupan masyarakat.
Selain itu fungsi dari gadged adalah alat komunikasi yang mampu menghubungkan penggunanya. Interaksi yang terjadi pun memiliki beberapa pola seperti interaksi antara individu dengan individu, kelompok dengan kelompok dan individu dengan kelompok.
Pemanfaatan media teknologi dengan baik dan bijak mampu menjadi sebuah batu loncata untuk sebuah kemajuan. Pemanfaatan teknologi berupa sebagai alat pencari informasi, sebagai media ekonomi bahkan sebagai media untuk pembelajaran berbasis daring dan masih banyak manfaat yang ada.
Interaksi yang diharapkan dari pecandu gadged sekiranya mampu dan masih bisa berinteraksi baik dengan teman sebayanya maupun dengan kelompok social yang ada dilingkungannya. Dalam hal ini interaksi diharapkan mampu memicu interaksi yang bersifat asosiatif. Hubungan- hubungan ini dapat menjadi sesuatu yang baik apabila terjalin komunikasi yang baik antara individu dengan kelompok sosial maupun individu dengan individu.
Meski secara demikian penggunaan teknologi juga memerlukan pengawasan dari .teknologi memiliki peran penting dalam kemajuan pendidikan, media juga mampu menjadi boomerang bagi siswa yang menyalagunakan media. Penyalagunaan ini berupa pembajakan hingga pengaksesan situs-situs yang tidak senonoh.
Selain masalah tersebut kecanduan akan gadget menjadi sangat perlu diperhatikan. Banyaknya masyarakat yang tidak bisa lepas dari genggaman gadged menjadi masalah sosial. Seperti masalah yang timbul dalam diri anak- anak akibat kecanduan gadged. Banyaknya anak-anak yang kecanduan akan gadged sehingga malas untuk belajar dan mengakibatkan kemunduran dalam pembelajaran. Mereka lebih sering bermain game online dan aktif di jejaring sosial. Selain itu anak-anak lebih mementingkan bermain game dan media sosial lainnya ketimbang berinteraksi dan bermain dengan teman sebayanya.
Bahkan lebih parahnya akibad dari kecanduan gadged banyaknya anak yang tidak mau sekolah dan lebih memilih bermain gadged. Hal ini dipicu oleh kebiasaan orangtua yang memberikan gadged kepada anak-anak sejak usia dini.
Akibat dari kecanduan ini sehingga anak-anak mulai melupakan interaksi secara langsung dengan teman sebayanya. Kurangnya dari interaksi sosial dalam diri anak-anak diakibatkan penggunan gadged yang lebih dominan berinteraksi melalui media sosial dan bermain game. Hal ini membuat interaksi secara langsung dalam diri anak-anak menjadi menurun.
Bahkan parahnya anak-anak mulai enggan untuk berinteraksi dengan dunia
nyata, mereka lebih memilih hidup dalam dunianya sendiri dan menjadi acuh terhadap teman sebayanya bahkan orang tuanya. Hal ini dipengaruhi kurangnya rasa sosial dalam diri anak yang diakibatkan kurangnya interaksi dalam kehidupan sosialnya, dari uraian diatas penulis mengangkat judul “Pola Interaksi Sosial Pecandu Gadget di Desa Bantilang, Kecamatan Towuti Kabupaten Luwu Timur.”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas maka penulis merumuskan beberapa masalah sebagai berikut
1. Bagaimana pola interaksi sosial pecandu gadged di desa bantilang kec.
Towuti kab. Luwu Timur?
2. Bagaimana dampak interaksi sosial pecandu gadged di desa bantilang kec.
Towuti kab. Luwu Timur?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada rumusun masalah diatas, maka tujuan yang inging dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan pola interaksi sosial pecandu gadged di Bantilang Kecamatan Towuti Kabupaten Luwu Timur.
2. Untuk Mengetahui dampak interaksi social pecandu gadged di desa Bantilang Kecamatan Towuti Kabupaten Luwu Timur.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
Dapat memberikan konstribusi baik secara metodologis maupun empiris bagi akademisi dalam bidang pengkajian sosiologi
2. Manfaat Praktis a. Bagi Orang Tua
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi konstribusi untuk orang tua dalam membina dan mendidik anak dalam penggunaan media teknologi (gadged). Hal ini akan mengurangi kemungkinan munculnya sikap kecanduan yang berlebihan pada diri anak.
b. Bagi Anak
Diharapkan dengan penelitian ini mampu menekan sikap kecanduan gadget pada diri anak-anak remaja maupun dewasa.
c. Bagi Penulis
Penelitian ini dapat menambah pengetahuan sebagai bekal dalam mengaplikasikan pengetahuan teoritik terhadap masalah praktis.
E. Defenisi Oprasional 1. Pola Interaksi
Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik antara dua orang atau lebih maka dapat dimaknai interaksi sosial yaitu adanya hubungan secara langsung antara dua orang baik itu individu dengan individu, kelompok dengan kelompok maupun individu dengan kelompok. Interaksi ini dapat berupa sapaan lisan maupun dalam gerakan tubuh. Secara mudahnya interaksi itu adalah ketika kita memberi respon maka akan ada timbal baliknya.
Pola interaksi pecandu gadged adalah pola-pola interaksi yang di alami oleh pecandu gadged. Dalam hal ini pola yang dimaksudkan adalah pola interaksi antara individu dengan kelompok. Yakni hubungan emosional dan hubungan sosialnya dengan lingkungan masyarakat yang ada di sekitarnya.
Apakah interaksi yang terjadi bersifat asosiatif atau disosiatif. Selain itu pecandu gadged yang dimaksud adalah anak-anak yang kecanduan bermain game online dan sosial media.
2. Pecandu Gadged
Pecandu gadged adalah orang-orang yang tidak bisa lepas dari alat modern yang sudah mendunia di kalangan remaja seperti penggunaan smartphone.
Dimana gadged disini adalah smartphone yang marak di gunakan dalam kehidupan masyarakat. Dapat dimaknai bahwasanya pecandu gadged adalah suatu tindakan dimana seseorang akan merasa resah dan gelisah apabila meninggalkan kebiasaanya ini. Sehingga dapat disimpulkan pecandu gadged adalah orang yang merasa resah dan gelisa bila lepas dari gadged.
9 1. Penelitian Relevan
Ada beberapa penelitian yang telah dilakukan dan berkaitan dengan penelitian yang penulis lakukan, baik yang dituangkan dalam skripsi maupun buku. Di antaranya sebagai berikut:
Munawar (2018) dengan judul “Pengaruh Gadged Terhadap Interaksi dan Perubahan Perilaku Anak Usia Dini di Gampong Rumpet Kecamatan Krueng Barona Jaya Kab. Aceh Besar”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan gadget terhadap anak usia dini memberikan dampak positif dan negatif. Dampak positif yaitu gadget dapat membantu anak dalam hal proses belajar, misalnya membantu anak saat sedang mengerjakan pekerjaan rumah, membantu anak belajar agama seperti lebih memudahkan anak menghafal ayat-ayat pendek. Adapun dampak negatif anak yang menggunakan gadget akan lebih sulit mengontrol emosi dan lebih agresif.
Febrino (2017) dengan judul “Tindakan Preventif Pengaruh Negatif Gadget Terhadap Anak”. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah dampak negatif dari gadget adalah menanamkan nilai-nilai agama, mengarahkan anak-anak tanpa kekerasan, mengajar anak-anak tujuan dan tangga kesuksesan, dan mengajar anak-anak untuk mengatur waktu.
Maheswari (2013) dengan judul “Pola Perilaku Dewasa Muda yang Kecenderungan Kecanduan Situs Jejaring Sosial”. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk memberikan pola perilaku faktual dan komprehensif dari orang dewasa muda yang cenderung kecanduan situs jejaring sosial. penelitian kualitatif menunjukkan partisipan memiliki interpretasi ketiga yang positif terhadap jejaring sosial dan ketiganya memiliki 6 komponen perilaku adiktif.
Dampak positif yang dirasakan ketiga peserta adalah meningkatnya modal sosial dan kepekaan sosial dan emosional. Dampak negatif yang dirasakan adalah masalah signifikan yang muncul dengan orang tersebut, penundaan, manajemen waktu yang buruk, dan kurang mampu mengendalikan diri terhadap penggunaan jejaring sosial.
Dari hasil uraian diatas yang menjadi perbandingan antara penelitian ini dengan penelitian yang terdahulu yakni memiliki perbedaan dan kesamaan.
Kesamaannya adalah peneliti sama-sama membahas akan pengaruh gadged.
Sedangkan yang menjadi perbedaannya yaitu penelitian ini berfokus pada pola interaksi yang terjadi pada para pecandu gadged.
2. Pola Interaksi
Pola intersksi sosial dalam hal ini dipengaruhi oleh beberapa hal.
Ada selain karena faktor keb utuhan yang timbul dari dalam dirinya yang tercakup dalam kebutuhan mendasar, kebutuhan sosial dan kebutuhan integratif, mnusia juga mempunyai naluri untuk selalu hidup berkelompok atau bersama dengan orang lain. Hal ini disebut dengan naluri gregariousness. Dengan demikian, faktor-faktor yang mendorongnya (Narwoko, J. Dwi Bagong Suyanto, 2007).
a. Dorongan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
b. Dorongan untuk mempertahankan diri
c. Dorongan untuk meneruskan generasi atau turunan d. Dorongan untuk hidup bersama yang di wujudkan dalam e. Bentuk hasrat untuk menjadi satu dengan manusia f. Sekelilingnya, dan hasrat untuk menjaadi satu dengan g. Suasana alam sekitarnya.
Upaya manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan mendasar, sosial dan integratif dilakukan melalui suatu proses yang disebut dengan interaksi sosial. Menurut, interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial, oleh karena itu, tanpa interaksi sosial tidak akan mungkin ada kehidupan bersama. Menurut Gillin, interaksi sosial adalah suatu hubungan social yang dinamis antara perorangan, antara individu, dan antar kelompok manusia. Dari pengertian tersebut, kita dapat membedakan pola-pola interaksi sosial dalam kehidupan sehari-hari, yaitu dalam wujud sebagai berikut:
1). Interaksi Sosial Antar Individu.
Apabila dua individu bertemu, dan terjadinya proses interaksipun dimulai pada saat mereka saling menegur, berjabat tangan, dan berkomunikasi. Walaupun dua individu yang bertatap muka itu tidak saling mengadakan aktivitas atau tindakan langsung, sebenarnya interaksi telah terjadi karena masing-masing pihak sadar akan adanya pihak lain lain yang menyebabkan perubahan perasaan dan syaraf orang-orang yang bersangkutan.
a. Interaksi Sosial Antar Individu dan Kelompok
Ditunjukkan dalam contoh seorang guru yang sedang mengadakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Pada tahap awal, guru mencoba menguasai kelasnya sehingga proses interaksi sosial akan berlangsung dan berjalan seimbang antara guru dan kelompok-kelompok siswa (Doyle Paul Johnson, 1980).
3. Gadged
a. Pengertian Gadget
Gadget adalah sebuah perangkat atau instrumen elektronik yang memiliki tujuan dan fungsi praktis terutama untuk membantu pekerjaan manusia.perangkat elektronik kecil yang memiliki fungsi khusus. Diantaranya smartphone seperti iphone dan blackberry, serta notebook (perpaduan antara komputer portabel seperti notebook dan internet).
Gadget adalah sebuah istilah yang berasal dari bahasa Inggris, yang artinya perangkat elektronik kecil yang memiliki fungsi khusus. Salah satu hal yang membedakan gadget dengan perangkat elektronik lainnya adalah unsur kebaruan artinya, dari hari ke hari gadget selalu muncul dengan menyajikan teknologi terbaru yang membuat hidup manusia menjadi lebih praktis. Fungsi gadget sangat banyak sekali ada yang sering digunakan ada juga yang hanya sekedarnya saja dalam menggunakan yang paling sering digunakan diantaranya adalah menelpon, mengirim SMS, mengakses internet, mengabadikan suatu momen dengan menggunakan fitur camera/vidio. Gadged pun menjadi salah
satu alat yang sangat di gandrungi oleh kaum muda untuk mengakses berbagai hal dan menjadikannya salah satu peantara komunikasi.
b. Macam-macam Aplikasi Gadget
Sebuah fitur yang terdapat pada setiap telpepon genggam, yang mempermudah pengguna untuk menggunakannya:
1) Aplikasi Jejaring Sosial a) Facebook
Salah satu kelebiha facebook dibandingkan jejaring sosial lainnya adalah kemampuannya untuk tetap terhubung serta mencari teman yang hilang atau sudah lama tidak bertemu. Selain profil, foto, dan teman, di facebook juga tersedia fitur pesan instan, blogging (catatan), agenda atau event, grub, serta unggah foto maupun vidio. Pada Januari 2011, total pengguna Facebook telah melebihi angka 600 juta. Menurut situs Check Facebook.com, Indonesia menduduki peringkat kedua dibawah Amerika Serikat sebagai negara yang penduduknya paling banyak menggunakan Facebook.
b) Twiter
Situs jejaring sosial karya Jack Dorsey ini sangat unik. Salah satu keunikan tersebut adalah perihal follower (pengikut) dan following (mengikuti). Twiter adalah media sosial yang masuk dalam ranah microblogging atau ngeblokg singkat. Update status hanya bisa dituliskan dalam 160 karakter atau kurang. Berbicara masah pengguna, tidak sedikit artis, sniman, figur terkenal, olahragawan, dan politisi yang memiliki akun
Twiter. Contohnya Justin Bieber ( selebritas Internasional), Sudjiwo Tedjo (seniman Indonesia) dan masih banyak lagi.
c) Instagram
Instagram adalah sebuah aplikasi jejaring sosial dengan berbagi foto.
Yang menjadi salah satu ciri menarik dari instagram adalah bahwa ada batas foto berbentuk persegi, mirip dengan gambar kodak Instamatic dan polaroid, yang sangat berbeda dengan rasio aspek 16:9 sekarang, yang biasanya digunakan oleh kamera ponsel.
d) WhatsApp
Aplikasi WhatsApp Messenger tidak begitu banyak mengurangi memory internal dan memiliki menu yang sangat banyak. Dengan menggunakan WhatsApp kita bisa langsung chat dengan orang yang sudah tercantum nomernya dikontak ponsel. Kirim suara juga sangat mendukung, emotion sangat banyak sesuai dengan pilihan anda. Kirim file vidio, foto, musik bisa langssung klik bagian atas yang menunjukan dengan adanya pengiriman file. Peta juga dapat kita tunjukan kepada teman untuk keberadaan kita.
e) BBM (Blackberry Messeger)
BBM (Blackberry messeger) merupakan aplikasi instant messager yang sangat populer milik Blackberry limited. BBM dirancang untuk menjadi “ the future” dari produk telephonnya dan terintegrasi dengan beberapa kelebihan yang dimiliki aplikasi dari Blackberry Messeger pada perangkat Blackberry sendiri.
f) Aplikasi Browsing (1) UC Browser
UC Browsr memiliki akselerasi penjajahan yang cepat, mekanisme siap pakai untuk mempercept penjelajahan, pelindungan dari penipuan, serta perlindungan dri unduhan yang jahat.
(2) Google
Google adalah mesin pencari yang paling sering dipakai oleh pengguna internet. Pada awal lahirnya google ditahun 1997, mesin pencari ini kurang diminati oleh para pengguna internet. Ketika mencari sesuatu di internet, mereka lebih percaya dengan nama-nama besar seperti yahoo, altavista, hotbot, excit, infoseek, dan lycos. Lambat laun google mampu bersaing dan kini menjadi mesin pencari nomor satu di dunia. Fitur-fitur yang ditawarkan sangat beragam. Tak hanya pencarian situs, namun juga gambar, berita, vidio, buku, lokasi,blog,diskusi,dan masih banyak lagi.
2) Aplikasi Game a) Assassins Creed
Assassins Creed adalah sebuah game yang menceritakan tentang perjalanan seorang pembunuh bayaran bernama Altair yang mencoba mengembalikan reputasinya sebagai seorang Assassins, yaitu orang yang membunuh dengan sangat cepat dan tenang. Game pertualangan ini cukup seru bila dimainkan, karena selain grafis yang lumayan bagus, suara dari game ini juga cukum memanjakan telinga. Untuk menambah kesan sram,
game ini menampilkan efek darah bila kita berhasil membunuh lawan dan lengkingan suara kematian karena lehernya ditikam oleh Altair.
b) Missions Imposible 3
Ini adalah salah satu game pertualangan seru yang ceritanya diambil berdasarkan film Missions Imposible 3. Berawal dari penyelidikan senjata biokimia oleh agen wanita dari IMF mengalami kegagalan, karena agen tersebut melakukan kesalahan dan akhirnya ditawan oleh teroris.
Beruntungnya alat pemandu yang berisi data kegiatan oprasional agen IMF telah disembunyikan oleh agen itu sehingga agen itu tidak dibunuh.
Organisasi rahasia IMF menemukan data tentang senjata biokimia yang dicuri dari pemerintah oleh para teroris untuk dijual pada organisasi kejahatan. Tujuannya tentu saja untuk menghancurkan dunia. Dan akhirnya dimulailah pertualangan untuk mendapatkan senjata biokimia yaang akan sgera dijual kepada penawar tertinggi, juga untuk menyelamatkan agen IMF yang disandera.
3) Asphalt 3D
Game racing seru dan menantang ditambah dengan grafik yang keren dan kehalusan grafis 3D. Sebelum game 3D ini terbit, game dengan grafik 2 dimensi juga telah dibuat dengan judul yang sama tapi tanpa embel- embel HD (High Definition). Seperti game racing pada umumnya, pemain harus menyelesaikan misi untuk menjadi yang terbaik, untuk mendapatkan uang.
4) Yoville
Permainan yoville ini dimulai dari tempat tinggal kita yang ada di apartemen dipinggiran kota. Untuk tampilan apartemen, terdiri dari tiga ruang utama yaitu living room, bedroom, hall, dan kitchen, serta adanya tambahan ruangan berupa bathroom. Memainkan game ini seperti memainkan peran diri kita sendiri, dimana pada game ini kita setiap harinya harus bekerja untuk mendapatkan coin (besarnya coin tergantung dari posisi/title dari kita sendiri).
4. Anak-Anak
Pengertian anak adalah seorang lelaki atau perempuan yang belum dewasa atau belum mengalami masa pubertas. Anak juga merupakan keturunan kedua, di mana kata "anak" merujuk pada lawan dari orang tua, orang dewasa adalah anak dari orang tua mereka, meskipun mereka telah dewasa.
Menurut psikologi, anak adalah periode pekembangan yang merentang dari masa bayi hingga usia lima atau enam tahun, periode ini biasanya disebut dengan periode prasekolah, kemudian berkembang setara dengan tahun tahun sekolah dasar.
Berdasarkan UU Peradilan Anak. Anak dalam UU No.3 tahun 1997 tercantum dalam pasal 1 ayat (2) yang berbunyi: “ Anak adalah orang dalam perkara anak nakal yang telah mencapai umur 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai umur 18 tahun (delapan belas) tahun dan belum pernah menikah .
Walaupun begitu istilah ini juga sering merujuk pada perkembangan mental seseorang, walaupun usianya secara biologis dan kronologis seseorang sudah termasuk dewasa namun apabila perkembangan mentalnya ataukah
urutan umurnya maka seseorang dapat saja diasosiasikan dengan istilah
"anak".Secara umum dikatakan anak adalah seorang yang dilahirkan dari perkawinan antar seorang perempuan dengan seorang laki-laki dengan tidak menyangkut bahwa seseorang yang dilahirkan oleh wanita meskipun tidak pernah melakukan pernikahan tetap dikatakan anak. Anak adalah orang dalam perkara anak nakal yang telah mencapai umur 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai umur 18 tahun (delapan belas) tahun dan belum pernah menikah.
Anak juga merupakan cikal bakal lahirnya suatu generasi baru yang merupakan penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber daya manusia bagi pembangunan Nasional.Anak adalah asset bangsa.Masa depan bangsa dan Negara dimasa yang akan datang berada ditangan anak sekarang.Semakin baik keperibadian anak sekarang maka semakin baik pula kehidupan masa depan bangsa.Begitu pula sebaliknya, Apabila keperibadian anak tersebut buruk maka akan bobrok pula kehidupan bangsa yang akan datang.
Pada umumnya orang berpendapat bahwa masa kanak-kanak merupakan masa yang panjang dalam rentang kehidupan.Bagi kehidupan anak, masa kanak-kanak seringkali dianggap tidak ada akhirnya, sehingga mereka tidak sabar menunggu saat yang didambakan yaitu pengakuan dari masyarakat bahwa mreka bukan lagi anak-ank tapi orang dewasa.
Menurut Hurlock (1980), manusia berkembang melalui beberapa tahapan yang berlangsung secara berurutan, terus menerus dan dalam tempo perkembangan y6ang tertentu, terus menerus dan dalam tempo perkembangan yang tertentu dan bias berlaku umum.
Dalam pemaknaan yang umum mendapat perhatian tidak saja dalam bidang ilmu pengetahuan (the body of knowledge) tetapi dapat di telah dari sisi pandang sentralistis kehidupan, misalnya agama, hukum dan sosiologi menjadikan pengertian anak semakin rasional dan aktual dalam lingkungan social.
Untuk meletakan anak kedalam pengertian subjek hukum maka diperlukan unsur-unsur internal maupun eksternal di dalam ruang lingkup untuk menggolongkan status anak tersebut. Untuk dapat memahami pengertian tentang anak itu sendiri sehingga mendekati makna yang benar, diperlukan suatu pengelompokan yang dapat dilihat dari berbagai aspek kehidupan, yaitu aspek agam, ekonomi, sosiologis dan hukum.
Pengertian Anak Dari Aspek Agama. Dalam sudut pandang yang dibangun oleh agama khususnya dalam hal ini adalah agama islam, anak merupakan makhluk yang dhaif dan mulia, yang keberadaannya adalah kewenangan dari kehendak Allah SWT dengan melalui proses penciptaan. Oleh karena anak mempunyai kehidupan yang mulia dalam pandangan agama islam, maka anak harus diperlakukan secara manusiawi seperti dioberi nafkah baik lahir maupun batin, sehingga kelak anak tersebut tumbuh menjadi anak yang berakhlak mulia seperti dapat bertanggung jawab dalam mensosialisasikan dirinya untuk mencapai kebutuhan hidupnya dimasa mendatang.
Dalam pengertian Islam,anak adalah titipan Allah SWT kepada kedua orang tua, masyarakat bangsa dan negara yang kelak akan memakmurkan dunia sebagai rahmatan lila’lamin dan sebagai pewaris ajaran islam pengertian
ini mengandung arti bahwa setiap anak yang dilahirkan harus diakui, diyakini, dan diamankan sebagai implementasi amalan yang diterima oleh akan dari orang tua, masyarakat , bangsa dan negara.
Pengertian Dari aspek Ekonomi. Dalam pengertian ekonom, anak dikelompokan pada golongan non produktif.Apabila terdapat kemampuan yang persuasive pada kelompok anak, hal itu disebabkan karena anak mengalami transpormasi financial sebagai akibat terjadinya interaksi dalam lingkungan keluarga yang didasarkan nilai kemanusiaan.
Fakta-fakta yang timbul dimasyarakat anak sering diproses untuk melakukan kegiatan ekonomi atau produktivitas yang dapat menghasilkan nilai-nilai ekonomi. Kelompok pengertian anak dalam bidang ekonomi mengarah pada konsepsi kesejahteraan anak sebagaimana yang ditetapkan oleh UU no.4 tahun 1979 tentang kesejahteraan anak yaitu anak berhak atas kepeliharaan dan perlingdungan, baik semasa dalam kendungan , dalam lingkungan masyarakat yang dapat menghambat atau membahayakan perkembanganya, sehingga anak tidak lagui menjadi korban dari ketidakmampuan ekonomi keluarga dan masyarakat.
Pengerian Dari Apek Sosiologis Dalam aspek sosiologis anak diartikan sebagai makhluk ciptaan Allah SWT yang senan tiasa berinteraksi dalam lingkungan masyarakat bangsa dan negara.Dalam hal ini anak diposisikan sebagai kelompok social yang mempunyai setatus social yang lebih rendah dari masyarakat dilingkungan tempat berinteraksi. Makna anak dalam aspek sosial ini lebih mengarah pada perlindungan kodrati anak itu sendiri.
Hal ini dikarenakan adanya keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki oleh sang anak sebagai wujud untuk berekspresi sebagaimana orang dewasa, misalnya terbatasnya kemajuan anak karena anak tersebut berada pada proses pertumbuhan, proses belajar dan proses sosialisasi dari akibat usia yang belum dewasa.
Pengertian Anak dari Aspek Hukum. Dalam hukum kita terdapat pluralisme mengenai pengertian anak.Hal ini adalah sebagai akibat tiap-tiap peraturan perundang-undangan yang mengatur secara tersendiri mengenai peraturan anak itu sendiri.Pengertian anak dalam kedudukan hukum meliputi pengertian anak dari pandangan system hukum atau disebut kedudukan dalam arti khusus sebagai objek hukum.
Pengertian anak berdasarkan UUD 1945. Pengertian anak dalam UUD 1945 terdapat di dalam pasal 34 yang berbunyi: “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara” Hal ini mengandung makna bahwa anak adalah subjek hukum dari hukum nasional yang harus dilindungi, dipelihara dan dibina untuk mencapai kesejahteraan anak.
Dengan kata lain anak tersebut merupakan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat Terhadap pengertian anak menurut UUD 1945 ini, Irma Setyowati Soemitri, SH menjabarkan sebagai berikut. “ketentuan UUD 1945, ditegaskan pengaturanya dengan dikeluarkanya UU No. 4 tahun 1979 tentang kesejahteraan anak, yang berarti makna anak (pengertian tentang anak) yaitu seseorang yang harus memproleh hak-hak yang kemudian hak-hak tersebut dapat menjamin pertumbuhan dan perkembangan dengan wajar baik secara
rahasia, jasmaniah, maupun sosial. Atau anak juga berahak atas pelayanan untuk mengembangkan kemampuan dan kehidupan sosial.Anak juga berhak atas pemelihraan dan perlindungan baik semasa dalam kandungan maupun sesuadah ia dilahirkan “.
B. Kajian Teori
Dalam penelitian kualitatif sebagai landasan untuk memperkuat pembahasan hasil penelitian. Maka dari itu teori yang di gunakan dalam penelitian ini yaitu teori interaksi social tentang interaksionis simbolik oleh George Herbert Mead yang menekankan pada peran komunikasi dalam membentuk dan mengelola hubungan interpersonal dan kelompok sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang menyangkut hubungan antarindividu, individu (seseorang) dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok. Tanpa adanya interkasi sosial maka tidak akan mungkin ada kehidupan Bersama. Menurut Soerjono Soekanto, proses sosial diartikan sebagai cara-cara berhubungan yang dapat dilihat jika individu dan kelompok-kelompok sosial saling bertemu serta menentukan sistem dan bentuk hubungan sosial. (Soekanto, 1992:67).
Manusia merupakan makhluk sosial, dimana manusia bergantung dan membutuhkan individu lain atau makhluk lainnya. Dalam hidup bermasyarakat, manusia dituntut untuk berinteraksi dengan sesama secara baik agar tercipta masyarakat yang tentram dan damai. Secara etimologis, interaksi terdiri dari dua kata, yakni action (aksi) dan inter (antara). Jadi, Interaksi adalah suatu rangkaian tingkah laku yang terjadi antara dua orang atau lebih dari dua atau beberapa orang yang saling mengadakan respons secar timbal balik. Oleh karena itu, interaksi
dapat pula diartikan sebagai saling mempengaruhi perilaku masing-masing. Hal ini bisa terjadi antara individu dan individu lain, antara individu dan kelompok, atau antara kelompok dan kelompok lain. Dalam hal ini gadget merupakan salah satu alat komunikasi.
Teori yang digunakan peneliti bertujuan untuk membahas pola-pola interaksi pada para pecandu gadged. Teori ini dimaksudkan sebagai pisau analisi untuk membandingkan konsep teori dengan realitas yang ada.
Selain itu teori perubahan sosial digunakan sebagai pendukung akan pola-pola interaksi pecandu gadged. Pengertian perubahan sosial menurut Max Weber adalah perubahan situasi dalam masyarakat sebagai akibat adanya ketidaksesuaian unsur-unsur. Diamana ketidak sesuai dalam penelitian ini adalah tingkah laku dari pecandu gadged.
Kehidupan sosial itu sendiri tidak pernah bisa terlepas dari adanya suatu proses untuk menuju dalam perkembangan. Sebagaimana perubahan sosial itu sendiri akan dipandang sebagai sebuah konsep yang mana mencakup dan menunjuk pada perubahan sosial yang telah terjadi pada masyarakat sebagaimana pada perubahan fenomena sosial di berbagai tingkat kehidupan manusia dan masyarakat. Perubahan yang terjadi pada suatu tempat tentunya tidak telepas dari ide atau pemikiran serta keinginan untuk berubah. Sama halnya dengan perubahan yang terjadi pada para peandu gadget di Desa bantilang.
Terjadinya suatu perubahan sosial ialah karena timbulnya perubahan pada unsur-unsur yang mempertahankan keseimbangan masyarakat, misalnya perubahan pada unsur geografi, biologi, ekonomi atau kebudayaan. Kondisi
seperti inilah yang menyebabkan terjadinya perubahan pada aspek-aspek kehidupan sosial lainnya. Proses perubahan terjadi karena manusia ialah mahkluk yang berfikir dan bekerja. Manusia disamping itu selalu berusaha untuk memperbaiki nasibnya dan sekurang-kurangnya berusaha untuk mempertahankan hidupnya.
C. Kerangka Fikir
Dalam penelitian yang berjudul “ Pola Interaksi Sosial Pecandu Gadged di desa bantilang Kec. Towutti Kab. Luwu Timur. Media dijadikan sebagai objek yang mempengaruhi pola interaksi pada pecandu gadged. Dimana pola-pola interaksi ini menjadi sorotan bagi peneliti. Rumusan masalah yang hendak di teliti oleh peneliti adalah pola-pola interaksi dan dampak interaksi pecandu gadged.
Sehingga diharapkan dengan adanya penelitian ini mampu digambarkan bahwasanya media teknologi mampu menjadi alat penunjang kemajuan, mauypun menjadi bomerang bagi diri sendiri. Media yang dimaksud salah satunya adalah gadged. Banyaknya pengguna gadged memberikan dampak yang berpariasi pada penggunanya salah satunya adalah pecandu gadged
Pola interaksi pecandu gadged menjadi fokus utama dalam penelitian ini. Pola interaksi yang ingin dikaji adalah, pola interaksi pecandu gadged denghan hubungan masyarakatnya. Selain pola-pola interaksi pecandu gadged dampak dari pola interaksi pecandu gadged menjadi fokus kajian yang ingin diketahui juga oleh peneliti. Dari pengklajian pola interaksi ini dapat diambil hikma yang terkandung didalamnya. Antara lain pola interaksi dalam masyarakat dan dampak dari pecandu gadged.
Bagan Kerangka Pikir
Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir Media Teknologi (Gadged)
Pecandu Gadged
Interaksi
Pola Interaksi
· Interaksi social antar individu
· Interaksi social anatara individu dan kelompok
Dampak Interaksi
· Negative
· positif
Hasil dan Temuan dalam hal ini pecandu gadged mengarah pada bentuk disosiatif dimana bentuk awalan dari aosiatif
menuju pola interaksi disosiatif.
27 1. Jenis Penelitian
Berdasarkan judul penelitian ini, maka penelitian ini dapat dikategorikan ke dalam jenis penenlitian kualitatif, sebab penelitiannya diarahkan untuk mendiskripsikan keadaan mengenai dinamika religiusitaas.
Bodgan & Taylor (2007) mendefinisikan metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati. Pendekatan ini diarahkan latar dan individu secara holistic (utuh). Jadi dalam hal ini tidak boleh mengisolasi individu atau kelompok kedalam variable atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya sebagai bagian dari keutuhan. Sejalan dengan itu Kirk dan Miller (2002) mendefenisikan penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan social yang secara fundamental bergantung dari pengamatan pada manusia baik dalam kawasanya maupun dalam peristilahannya.
2. Pendekayan Penelitian
Sedangkan pendekatan yang digunakan oleh peneliti adalah pendekatan studi kasus. Studi kasus atau penelitian kasus adalah penelitian tentang subjek penelitian yang berkenaan dengan sajtu fase spesifik atau khas dari keseluruhan
personalitas. Subjek penelitian bisa jadi individu, kelompok, lembaga maupun masyarakat. Peneliti ingin mempelajari secara intensif latar belakang serta interaksi sosial dari unit-unit sosial yang menjadi subjek. Tujuan studi kasus adalah memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang, sifat-sifat serta karakter-karakter khas dari kasus, ataupun status dari individu, yang kemudian dari sifat-sifat khas diatas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umum.
B. Lokus dan Waktu Penelitian 1. Lokus Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Luwu Timur tepatnya di desa Bantilang. Wilaya tersebut merupakan salah satu tempat yang termasuk pola hidup masyarakat rata–rata menggunkan gadged dan mengikuti perkembangan zaman. Selain itu, lokasi wilaya tersebut di Provinsi Sulawesi Selatan, Kabupaten Luwu Timur, kecamatan Towuti, desa Bantilang
2. Waktu Penelitian
Penelitiain ini dilaksanakan pada bulan september – oktober 2019 sesuai dengan prediksi penelitian dalam fenomena tersebut.
C. Informan Penelitian
Informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar belakang penelitian Melong (2000:97). Informan merupakan orang yang benar-benar mengetahui permasalahn yang akan diteliti.
Dalam penelitian ini terdapat 2 informan diantaranya:
1. Informan kunci, yaitu orang-orang yang sangat memahami permasalahan yang diteliti. Dalam hal ini yang menjadi informan kunci adalah orang tua
2. Informan utama, yaitu mereka yang terlibat langsung dalam interaksi sosial yang terjadi. Informan utama dalam penelitian ini adalah anak-anak yang kecanduan gadged
Informan dalam penelitian kualitatif yaitu informan penelitian yang memahami informasi tentang objek penelitian. Informasi yang dipilih harus memiliki kriteria agar informasi yang didapatkan bermanfaat untuk penelitian yang dilakukan. Menurut pendapat Spradely dalam Faisal (1990:45) informan harus memiliki beberapa kriteria yang perlu dipertimbangkan yaitu:
1. Subjek yang telah lama dan intensif menyatu dengan suatu kegiatan atau medan aktivitas yang menjadi sasaran atau perhatian penelitian dan ini biasanya ditandai oleh kemampuan memberikan informasi diluar kepala tentang sesuatu yang ditanyakan.
2. Subjek masih terikat secara penuh serta aktif pada lingkungan dan kegiatan menjadi sasaran atau penelitian
3. Subjek mempunyai banyak waktu dan kesempatan untuk dimintai informasi.
4. Subjek yang dalam memberikan informasi tidak cenderung diolah atau dikemas terlebih dahulu dan mereka relative masih lugu dalam memberikan informasi.
Purposive sampling adalah salah satu teknik sampling non random sampling dimana peneliti menentukan pengambilan sampel dengan cara
menetapkan ciri-ciri khusus yang sesuai dengan tujuan penelitian, sehingga diharapkan dapat menjawab permasalahn penelitian. Dari penjelasan diatas, maka penentuan informan pada penelitian ini dilakukan dengan teknik purposive sampling, dimana pemilihan dilakukan secara sengaja berdasarkan kriteria yang telah ditentukan dan ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian. Adapun informan yang digunakan yakni 8 informan terdiri dari 3 orang tua yang berjenis kelamin 1 perempuan dan 2 laki-laki, 3 remaja penguna gadged 2 laki-laki dan 1 perempuan 2 masyarakat biasa dan 1 laki-laki.
D. Fokus Penelitian
Fokus pada penelitian ini adalah pola interaksi social pecandu gadged di desa Bantilang serta bagaimana dampak interaksi sosial pecandu gadged didesa Bantilang Kecamatan Towuti Kabupaten Luwu. Provinsi Sulawesi Selatan
E. Instrument Penelitian
Arikunto (2002:136) menyatakan bahwa instrument penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga lebih mudah diolah.
Adapun instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah pada saat pengumpulan data pada desa Bantilang telah dipersiapkan alat-alat yang digunakan sebelumnya, antara lain yang dipersiapkan adalah:
1. Buku catatan: berfungsi untuk mencatat semua percakapan dengan sumber data
2. Membuat format wawancara: untuk memudahkan peneliti dalam melakukan wawancara kepada informan yang dianggap dapat memberikan data-data kongkrit yang ada hunbungannya dengan pembahasan penelitian ini, serta mengumpulkan data sesuai dengan yang diperlukan.
3. Kamera: untuk memotret kalo peneliti sedang melakukan pembicaraan dengan informan/sumber data. Dengan adanya foto ini, maka dapat meningkatkan keabsahan penelitian akan lebih terjamin, karena peneliti bertul-netul melakukan pengumpulan data.
Dengan beberapa alat yang digunakan diatas, dirumuskan berdasarkan masalah serta analisis variable yang terkandung didalamnya. Tentu saja dalam pengumpulan data tersebut diatas sudah pula diidentifikasikan terhadap jenis data yang akan sikumpulkan, apakah kualitatif atau kuantitatif.
Instrument utama dalam penelitian ini yaitu peneliti itu sendiri, sebagai informan utama peneliti lah yang akan melihat langsung fenomena yang terjadi dilokasi penelitian.
F. Jenis dan Sumber Data
Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan ada dua macam yaitu:
1. Data Primer
Data primer adalah sumber data yang diperoleh secara langsung dari sumber aslinya. Data ini bersumber dari informan secara langsung dalam
prakteknya diperoleh dari wawancara. Selain dari pengamatan langsung terhadap situasi lokasi penelitia.
2. Data Skunder
Data skunder adalah data yang diperoleh peneliti dari sumber yang sudah ada. Data ini diperoleh dari sumber-sumber pendukung lokasi penelitian yaitu dokumen-dokumen dan statistik, buku-buku, majalah, Koran dan keterangan lainnya yang ada kaitannya dengan objek penelitian.
G. Teknik Pengumpulan Data
Penentuan metode pengumpulan data tergantung pada jenis dan sumber data yang diperlukan. Pada umumnya, pengumpulan data dapat dilakukan dengan beberapa metode, baik secara alternative maupun komulatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilaksanakan sesuai focus penelitian. Adapun secara ringkas pengumpulan data dilakukan dengan beberapa teknik, yaitu:
1. Observasi
Observasi penelitian adalah metode penelitian yang menggunakan cara pengamatan terhadap objek yang menjadi pusat perhatian penelitian. Metode observasi umumnya ditujukan untuk jenis penelitian yang berusaha memberikan gambaran mengenai peristiwa apa yang terjadi di lapangan.
Observasi dilakukan sesuai dengan kebutuhan penelitian. Pengamatan atau observasi yang dilakukan akan memakan waktu yang lebih lama apabila ingin melihat suatu proses perubahan dan pengamatan. Observasi merupakan pengamatan yang dilakukan secara sengaja, sistematis, mengenal fenomena social
dengan gejala-gejala psikis untuk kemudian dilakukan pencatatan. Dimana dilakukan pengamatan atau pemusatan perhatian terhadap objek yang akan digunakan untuk mengetahui tentang pola interaksi pecandu gadged. Dalam penelitian ini menggunakan alat bantu buku catatan, telpon genggam (untuk merekam suara dan mengambil gambar) yang nantinya digunakan untuk mencari dan mencatat hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan. Dalam penelitian ini, metode observasi digunakan untuk mengumpulkan data, anatara lain:
a. Mengaati kegiatan sehari-hari pengguna gadged
b. Mengamati sikap dan prilaku dalam berinteraksi antara masyarakat dan para pengguna gadged
2. Wawancara
Yang dimaksud dengan wawancara adalah suatu percakapan yang diarahkan pada suatu masalah tertentu dan merupakan proses Tanya jawab lisan dimana dua orang atau lebih berhadapan secara fisik.
Wawancara memerankan peranan penting dalam pengumpulan data. Pada instrument ini digunakan untuk mendasarkan diri pada pengetahuan dan atau keyakinan pribadi. Jaddi dengan wawancara, maka akan mengetahui hal-hal yang menddalam tentang partisipan dalam menginterprestasikan situasi dan fenomena yang terjadi.
3. Dokumentasi
Dokumentasi dari asal katanya dokumen yang berarti barang-barang tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda- benda tertulis seperti buku-buku, dokumen, peraturan-peraturan dan sebagainya.
Dalam penelitian kualitatif, teknik ini merupakan alat mengumpulkan data yang utama, karena pengujian datanya yang diajukan secara logis dan rasional melalui pendapat ataupun teori yang diterima. Cara mengumpulkan data melalui arsip tertulis.
Metode dokumentasi digunakan oleh peneliti untuk memperoleh data-data yang akurat mengenai data-data yang terkait dinamika religiusita pola interaksi pecandu gadged seperti peraturan, tata tertib, dan juga data terkait sejarah serta perkembangan kelembagaan.
H. Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan upaya mencari dan menata secara sistematis catatan hasil observasi, wawancara dan lainnya untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan bagi orang lain. Metode analisis data yang digunakan adalah menggunakan analisis deskriptif,yaitu siuatu model untuk memecahkan atau menjawab permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang.
Untuk menghasilkan suatu kesimpulan maka analisis data merupakan langkah untuk mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari nhasil wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi, dengan cara,
mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang lebih penting dan akan dipelajari dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain, adapun langkah-langkah yang akan di terapkan dalam pengumpulan data ini adalah sebagai berikut:
1. Pengumpulan data
Peneliti ini mencatat seluruh data objektif dan apa adanya sesuai hasil observasi dan wawancara di lapangan dimana tempat meneliti. Data ini di kumpulkan secara efektif dan efesian dalam mengambil data keseluruhan.
2. Data reduction (reduksi data)
Reduksi data berarti merangkum memilih hal-hal pokok memfokuskan pada hal-hal penting, kemudian dicari tema dan polanya. Sehingga dapat memberikan gambaran secara jelas dan dapat mempermudah peneliti untuk mengumpulkan data berikutnya, yaitu dengan observasi, wawancara dan dokumentasi untuk kemudian dijadikan rangkuman.
3. Data Display (Penyajian Data)
Penyajiaan adalah suatu cara merangkai data dalam suatu organisasi yang memudahkan untuk membuat kesimpulan atau tindakan yang diusulkan.
4. Conclusion drawing/ verication ( Penarikan Kesimpulan atau Verivikasi) Setelah melakukan penyajian data, langkah selanjutnya yaitu penarikan kesimpulan dan verifikasi, kesimpulan awal yang dikemukakan
masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti- bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel. Dalam pengambilan keputusan didasarkan pada reduksi data dan penyajian data yang merrupakan jawaban atas masalah yang diangkat peneliti.
I. Teknik Keabsahan Data
Untuk mengembangkan validitas data yang dikumpulkan dalam penelitian ini maka teknik pengembangan yang digunakan dalam penelitian kualitatif yaitu teknik triagulasi. Dalam teknik pengumpulan data, triagulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan bersumber data yang telah ada. Teknik yang menggunakan pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. Triagulasi dilakukan dengan tiga strategi yaitu:
1. Sumber: penulis mengambil dan mencari informasi tentang topic yang dikaji dari beberapa sumber.
2. Teknik penelitian: peneliti melaksanakan pengecekan kembali dengan lebih dari satu teknik.
3. Waktu: pemeriksaan pada waktu ataupun kesempatan yang berbeda. Cara ini memiliki potensi untuk meningkatkan akurasi, keterpercayaan, kerincian serta kedalaman data.
37
1. Gambaran umum Luwu Timur
Sejarah Tanah Luwu sudah berawal jauh sebelum masa pemerintahan Hindia Belanda bermula. Sebelumnya Luwu telah menjadi sebuah kerajaan yang mewilayahi Kolaka (Sulawesi Tenggara) dan Poso (Sulawesi Tengah). Hal sejarah Luwu ini dikenal pula dengan nama Tanah Luwu yang dihubungkan dengan nama La Galigo dan Sawerigading. Setelah Belanda menundukkan Luwu, mematahkan perlawanan Luwu pada pendaratan tentara Belanda yang ditantang oleh hulubalang Kerajaan Luwu Andi Tadda bersama dengan laskarnya di Ponjalae pantai Palopo pada tahun 1905. Belanda selanjutnya mebangun sarana dan prasarana untuk memenuhi keperluan pemerintah penjajah diseluruh wilayah kerajaan Luwu mulai dari Selatan, Pitumpanua ke utara Poso, dan dari Tenggara Kolaka (Mengkongga) ke Barat Tana Toraja. Pada Pemerintahan Hindia Belanda, sistem pemerintahan di Luwu dibagi atas dua tingkatan pemerintahan, yaitu pemerintahan tingkat tinggi dipegang langsung oleh Pihak Belanda dan pemerintahan tingkat rendah dipegang oleh Pihak Swapraja.
Dengan terjadinya sistem pemerintahan dualisme dalam tata pemerintahan di Luwu pada masa itu, pemerintahan tingkat tinggi dipegang oleh Hindia Belanda, dan yang tingkat rendah dipegang oleh Swapraja tetapi tetap masih diatur oleh Belanda, namun secara de jure Pemerintahan Swapraja tetap ada. Menyusul setelah Belanda berkuasa penuh di Luwu, maka wilayah Kerajaan Luwu mulai diperkecil, dan dipecah sesuai dengan kehendak dan kepentingan Belanda, yaitu Poso (yang masuk Sulawesi Tengah sekarang) yang semula termasuk daerah Kerajaan Luwu
Kecamatan Pitumpanua dan Keera) dipisah dan dimasukkan kedalam wilayah kekuasaan Wajo. Kemudian dibentuk satu afdeling di Luwu yang dikepalai oleh seorang Asisten Residen yang berkedudukan di Palopo. Selanjutnya Afdeling Luwu dibagi menjadi 5 (lima) Onder Afdeling, yaitu:
a. Onder Afdeling Palopo, dengan ibu kotanya Palopo.
b. Onder Afdeling Makale, dengan ibu kotanya Makale.
c. Onder Afdeling Masamba, dengan ibu kotanya Masamba.
d. Onder Afdeling Malili, dengan ibu kotanya Malili.
e. Onder Afdeling Mekongga, dengan ibu kotanya Kolaka.
Selanjutnya pada masa pendudukan tentara Dai Nippon, Pemerintah Jepang tidak mengubah sistem pemerintahan, yang diterapkan tentara Dai Noppon pada masa berkuasa di Luwu (Tahun 1942), pada prinsipnya hanya meneruskan sistem pemerintahan yang telah diterapkan oleh Belanda, hanya digantikan oleh pembesar- pembesar Jepang. Kedudukan Datu Luwu dalam sistem pemerintahan Sipil, sedangkan pemerintahan Militer dipegang oleh Pihak Jepang. Dalam menjalankan Pemerintahan Sipil, Datu Luwu diberi kebebasan, namun tetap diawasi secara ketat oleh pemerintahan Militer Jepang yang sewaktu-waktu siap menghukum pejabat sipil yang tidak menjalankan kehendak Jepang, dan yang menjadi pemerintahan sipil atau Datu Luwu pada masa itu ialah " Andi Kambo Opu Tenrisompa"
kemudian diganti oleh putranya "Andi Patiware" yang kemuadian bergelar "Andi Jemma".
Pada bulan April 1950 Andi Jemma dikukuhkan kembali kedudukannya sebagai Datu/Pajung Luwu dengan wilayah seperti sediakala. Afdeling Luwu meliputi lima
Kolaka. Tahun 1953 Andi Jemma Datu Luwu diangkat menjadi Penasehat Gubernur Sulawesi, waktu itu Sudiro. Ketika Luwu dijadikan Pemerintahan Swapraja, Andi Jemma diangkat sebagai Kepala Swapraja Luwu, pada tahun 1957 hingga 1960.
Atas jasa-jasa dia terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia, Andi Jemma telah dianugerahi Bintang Gerilya tertanggal 10 November 1958, Nomor 36.822 yang ditandatangani Presiden Soekarno. Pada masa periode kepemimpinan Andi Jemma sebagai Raja atau Datu Luwu terakhir, sekaligus menandai berakhirnya sistem pemerintahan Swatantra (Desentralisasi). Belasan tanda jasa kenegaraan Tingkat Nasional telah diberikan kepada Andi Jemma sebelum dia wafat tanggal 23 Februari 1965 di Kota Makassar. Presiden Soekarno memerintahkan agar Datu Luwu dimakamkan secara kenegaraan di ‘Taman Makam Pahlawan’ Panaikang Makassar, yang dipimpin langsung oleh Panglima Kodam Hasanuddin.
Selanjutnya pada masa setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, secara otomatis Kerajaan Luwu berintegrasi masuk kedalam Negara Republik Indonesia. Hal itu ditandai dengan adanya pernyataan Raja Luwu pada masa itu Andi Jemma yang antara lain menyatakan "Kerajaan Luwu adalah bagian dari Wilayah Kesatuan Republik Indonesia".
Pemerintah Pusat mengeluarkan Peraturan Pemerintah No.34/1952 tentang Pembubaran Daerah Sulawesi Selatan bentukan Belanda/Jepang termasuk Daerah yang berstatus Kerajaan. Peraturan Pemerintah No.56/1951 tentang Pembentukan Gabungan Sulawesi Selatan. Dengan demikian daerah gabungan tersebut dibubarkan dan wilayahnya dibagi menjadi 7 tujuh daerah swatantra. Satu di
dan Tana Toraja dengan pusat Pemerintahan berada di Kota Palopo.
Berselang beberapa tahun kemudian, Pemerintah Pusat menetapkan beberapa Undang-Undang Darurat, antara lain:
a. Undang-Undang Darurat No.2/1957 tentang Pembubaran Daerah Makassar, Jeneponto dan Takalar.
b. Undang-Undang Darurat No. 3/1957 tentang Pembubaran Daerah Luwu dan Pembentukan Bone, Wajo dan Soppeng. Dengan dikeluarkannya Undang- Undang Darurat No. 4/1957, maka Daerah Luwu menjadi daerah Swatantra dan terpisah dengan Tana Toraja.
c. Daerah Swatantra Luwu sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Darurat No.3/1957 adalah meliputi:
1) Kewedanaan Palopo
2) Kewedanaan Masamba dan 3) Kewedanaan Malili
Kemudian pada tanggal 1 Maret 1960 ditetapkan PP Nomor 5 Tahun 1960 tentang Pembentukan Provinsi Administratif Sulawesi Selatan mempunyai 23 Daerah Tingkat II, salah satu diantaranya adalah Daerah Tingkat II Luwu. Untuk menciptakan keseragaman dan efisiensi struktur Pemerintahan Daerah, maka berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Tenggara No.1100/1961, dibentuk 16 Distrik di Daerah Tingkat II Luwu, yaitu:
a. Wara b. Larompong c. Suli
d. Bajo
f. Bastem
g. Walenrang(Batusitanduk) h. Limbong
i. Sabbang j. Malangke k. Masamba l. Bone-Bone m. Wotu n. Mangkutana o. Malili p. Nuha
Dengan 143 Desa gaya baru. Empat bulan kemudian, terbit SK Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Tenggara No.2067/1961 tanggal 18 Desember 1961 tentang Perubahan Status Distrik di Sulawesi Selatan termasuk di Daerah Tingkat II Luwu menjadi Kecamatan. Dengan berpedoman pula pada SK tersebut, maka status Distrik di Daerah Tingkat II Luwu berubah menjadi kecamatan dan nama-nama kecamatannya tetap berpedoman pada SK Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Tenggara No. 1100/1961 tertanggal 16 Agustus 1961, dengan luas wilayah 25.149 km2. Perkembangan dari segi Administratif Pemerintahan di Dati II Luwu, selain pemekaran kecamatan, desa dan kelurahan juga ditetapkannya Dati II Luwu sebagai salah satu Kota Administratif (KOTIP) berdasarkan SK Mendagri No.42/1986 tanggal 17 September 1986.
Dengan demikian secara Administratif Dati II Luwu terdiri dari satu Kota Administratip, tiga Pembantu Bupati, 21 Kecamatan Definitif, 13 Kecamatan
wilayah berdasarkan data dari Subdit Tata Guna Tanah Direktorat Agraria Provinsi Sulawesi Selatan adalah 17.791,43 km2 dan dikuatkan dengan Surat Keputusan Gubernur KDH Tingkat I Sulawesi Selatan Nomor 124/III/1983 tanggal 9 Maret 1983 tentang penetapan luas provinsi, kabupaten/kotamadya dan kecamatan dalam wilayah provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan.
Luas Wilayah Provinsi Kabupaten/Kotamadya dan Kecamatan yang ada sekarang sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan nyata dilapangan oleh karena telah terjadi penyempurnaan batas wilayah antar provinsi di Sulawesi Selatan, maka melalui kerjasama Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Sul-Sel dan Topografi Kodam VII Wirabuana, Pemerintah Provinsi Tingkat I Sulawesi Selatan telah berhasil menyusun data tentang luas wilayah provinsi, kabupaten/ kotamadya dan kecamatan di daerah Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan dengan Surat Keputusan Gubernur KDH Tk.I Sul-Sel Nomor:
SK.164/IV/1994 tanggal 4 April 1994. Total luas wilayah Kabupaten Luwu adalah 17.695,23 km2 dengan 21 kecamatan definitif dan 13 Kecamatan Pembantu.
Pada tahun 1999, saat awal bergulirnya Reformasi di seluruh wilayah Republik Indonesia, dimana telah dikeluarkannya UU No.22 Tahun 1999, tentang Pemerintahan di Daerah, dan mengubah mekanisme pemerintahan yang mengarah pada Otonomi Daerah. Tepatnya pada tanggal 10 Februari 1999, oleh DPRD Kabupaten Luwu mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 03/Kpts/DPRD/II/1999, tentang Usul dan Persetujuan Pemekaran Wilayah Kabupaten Dati II Luwu yang dibagi menjadi dua Wilayah Kabupaten dan selanjutnya Gubernur KDH Tk.I Sul- Sel menindaklanjuti dengan Surat Keputusan No.136/776/OTODA tanggal 12 Februari 1999. Akhirnya pada tanggal 20 April 1999, terbentuklah Kabupaten
Pemekaran Wilayah Kabupaten Dati II Luwu terbagi atas:
a. Kabupaten Dati II Luwu dengan batas Saluampak Kec. Lamasi dengan batas Kabupaten Wajo dan Kabupaten Tana Toraja, dari 16 kecamatan, yaitu:
1) Kecamatan Lamasi 2) Kecamatan Walenrang
3) Kecamatan Pembantu Telluwanua 4) Kecamatan Warautara
5) Kecamatan Wara
6) Kecamatan Pembantu Wara Selatan 7) Kecamatan Bua
8) Kecamatan Pembantu Ponrang 9) Kecamatan Bupon
10) Kecamatan Bastem
11) Kecamatan Pembantu Latimojong 12) Kecamatan Bajo
13) Kecamatan Belopa 14) Kecamatan Suli
15) Kecamatan Larompong
16) Kecamatan Pembantu Larompong Selatan
b. Kabupaten Luwu Utara dengan batas Saluampak Kec. Sabbang sampai dengan batas Provinsi Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara, terdiri dari 19 Kecamatan, yaitu:
1) Kecamatan Sabbang