• Tidak ada hasil yang ditemukan

THE RELATIONSHIP BETWEEN EMOTIONAL MATURITY AND RISKY DRIVING BEHAVIOUR ON TEENAGERS AT YOGYAKARTA CITY

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "THE RELATIONSHIP BETWEEN EMOTIONAL MATURITY AND RISKY DRIVING BEHAVIOUR ON TEENAGERS AT YOGYAKARTA CITY"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

THE RELATIONSHIP BETWEEN EMOTIONAL MATURITY AND RISKY DRIVING BEHAVIOUR ON TEENAGERS AT YOGYAKARTA

CITY

Fristya Puspa Kirana Nur ARiza Thobagus Moh. Nu’man

ABSTRACT

This research aims to find out the correlation between emotional maturity and risky driving of adolescence. This research was conducted for adolescence 17 to 22 years old who drive in everyday activities in the city of Yogyakarta with 120 respondents. Measuring instrument in this research was risky driving scale developed by Iversen (2004) and the scale of emotional maturity of Gorlow and Katkovsky (1976). The data analysis resulted that use correlation technique of product moment from Spearman show there was a negative correlation between emotional maturity and risky driving, with the value of r = -0.356 dan p = 0.00 (p < 0,05). In this research, additional analysis was conducted, in which it was between each aspect of emotional maturity and aspects of risky driving. The result of the additional analysis showed that the three aspects of emotional maturity which gives a significant influence on some aspects of driving risk that aspects of emotional maturity adaptability, feel safe, and the ability to master the rage.

Keywords: Emotional maturity, Risky driving, Teenager

(4)

A. Pengantar

Pengendara yang banyak mengalami kecelakaan lalu lintas adalah pengendara remaja dengan usia 15-24 tahun (OECD, 2006 dan NHTSA, 2010).

Berdasarkan laporan OECD Tahun 2006 menyatakan bahwa lebih dari 8500 pengendara remaja meninggal di 30 Negara OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) tiap tahun. Kondisi serupa juga terjadi di

Indonesia, kasus kecelakaan bermotor di Indonesia sepanjang tahun 2007 hingga 2013 terjadi 541.804 kasus (Dephub, 2013). Jenis kecelakaan lalu lintas darat yang paling sering terjadi adalah tabrakan. Secara khusus data kecelakaan yang terjadi di DIY tahun 2014 dilaporkan oleh Direktorat Lalu Lintas DIY yang menyatakan bahwa telah tejadi kecelakaan lalu lintas sebanyak 2.237 kali kejadian dalam rentang bulan Januari hingga Agustus 2014. Jumlah korban meninggal akibat kecelakaan lalu lintas di DIY selama Januari-Agustus 2014 tersebut mencapai 214 orang. Tingginya angka kecelakaan di DIY dan banyaknya jumlah remaja pengguna kendaraan di DIY memberi ketertarikan bagi peneliti untuk mengkaji hubungan antara kematangan emosi dengan resiko dalam berkendara para remaja di DIY.

Kecelakaan banyak disebabkan oleh kelalaian manusia dalam berkendara, maka bisa disimpulkan bahwa fenomena kecelakaan yang muncul, paling banyak disebabkan risky driving behaviour (perilaku mengemudi berisiko).

Risky driving behaviour adalah perilaku yang dapat meningkatkan resiko terjadinya kecelakaan (Parker, 2012).World Health Organization (2003) menyatakan bahwa penyebab terbesar dari kecelakaan bermotor di dunia

(5)

dikarenakan tidak menggunakan sabuk pengaman saat mengemudi dan melaju dengan kecepatan tinggi, berada dibawah pengaruh minuman berakohol, sehingga mengakibatkan cedera ringan ataupun cedera berat bahkan meninggal dunia.

Perilaku berkendara berisiko lain seperti melakukan balapan mobil untuk mencari sensasi, melanggar rambu lalu lintas, penutupan ilegal dan kehilangan, juga telah menyebabkan peningkatan resiko di sejumlah kelompok, kasus dan studi cross- sectional (Fergusson, 2003).Ivers (2009), peneliti menyebutkan beberapa faktor

atau penyebab dari perilaku mengemudi yang berisiko, antara lain mengemudi pada malam hari (driving at night); alkohol (alcohol); menggunakan ponsel saat mengemudi (using a mobile phone while drivging); membawa penumpang (carrying multiple peer passengers).

Penyebab kecelakaan yang terjadi di Indonesia juga didominasi oleh faktor manusia atau pengendara. Departemen Perhubungan RI melaporkan bahwa faktor penyebab kecelakaan lalu lintas didominasi oleh faktor pengendara yaitu mencapai sekitar 85% dari seluruh kejadian kecelakaan. Sebanyak 4%

dipengaruhi oleh faktor kendaraan, sebesar 3% dipengaruhi oleh faktor jalan dan prasarana, sebesar 3% dipengaruhi oleh faktor pemakai jalan lainnya, dan sebesar 5% dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan lain-lain (BPS, 2010). Data BPS (2010) tersebut melaporkan bahwa dari 85% kejadian kecelakaan yang disebabkan oleh faktor pengendara, terdiri dari berbagai sebab antara lain pengemudi tidak sabar dan tidak mau mengalah (26%), menyalip atau mendahului (17%), berkecepatan tinggi (11%), Sedangkan penyebab lainnya seperti perlanggaran rambu, kondisi pengemudi dan lain-lain berkisar antara 0,5 sampai 8%.

(6)

Perilaku pengemudi sangat berpengaruh besar terhadap terjadinya kecelakaan lalu lintas. Remaja lebih sering lalai dalam menggunakam sabuk pengaman dibandingkan dengan orang dewasa, sehingga menyebabkan resiko cedera atau bahkan kematian dalam tabrakan. Faktor lainnya yang berkontribusi dalam kecelakaan bermotor pada remaja adalah mengemudi dengan kondisi terpengaruh minuman beralkohol. Resiko terjadinya tabrakan lebih sering terjadi pada remaja yang sedang dipengaruhi minum-minuman beralkohol dibandingkan orang dewasa meskipun para remaja kurang suka berkendara dalam keadaan mabuk dibandingkan dengan orang dewasa (Williams, 2003). Cara yang dilakukan remaja dalam mengemudi juga merupakan faktor resiko yang terlibat dalam tabrakan. Sejumlah studi menemukan bahwa remaja lebih suka melakukan berbagai tindakan tidak aman seperti mengikuti mobil lain dengan sangat dekat, melakukan pelanggaran rambu lalu lintas, dan mengebut (Fergusson, 2002).

Hasil dari penelitian sebelumnya menurut Erisman (1971) menjelaskan bahwa jenis kelamin, usia, melanggar peraturan lalu lintas, atau kecelakaan sangat berhubungan dengan kematangan emosi. Huffman (1984) menjelaskan bahwa ada hubungan yang signifikan antara risky driving dengan kematangan emosi. Kedua penelitian tersebut menunjukan bahwa hasil hubungan antara risky driving behaviour dengan kematangan emosiitu sendiri belum dapat ditarik sebuah kesimpulan yang memuaskan. Dari dua hal tersebut bisa dilihat bahwa adanya sebuah kemiripan dalam subjek yang diteliti yaitu remaja dan risky driving behaviour. Oleh karena itu bisa ditarik sebuah kesimpulan bahwa remaja memiliki kecenderungan yang sama untuk melakukan risky driving behaviour yang disebabkan kematangan emosi yang rendah.

(7)

Kondisi emosi menjadi salah satu permasalahan yang dialami oleh para remaja yang dapat menimbulkan risky driving. Beberapa penelitian terkait dengan pengaruh kondisi emosi terhadap resiko dalam berkendara telah dilaporkan oleh beberapa peneliti. Sala-Roca (2012) melaporkan bahwa kondisi emosi terutama kecerdasan emosi berpengaruh terhadap resiko berkendara dan telah berkontribusi terhadap kecelakaan dalam berkendara. Suraji dkk. (2010) menyatakan bahwa emosi dan kedewasaan berpengaruh terhadap kecelakaan sepeda motor. Semakin rendah tingkat kedewasaan menunjukkan semakin besar tingkat kecelakaan yang terjadi. Muhaz (2013) melaporkan bahwa kematangan emosi berpengaruh negatif terhadap aggressive driving mahasiswa.

Penjelasan hubungan kematangan emosi dengan risky driving dipaparkan oleh beberapa peneliti. Slovic (2004) menyatakan bahwa perilaku dan kematangan emosi yang tinggi akan mampu memahami dan mengevaluasi suatu resiko yang ditimbulkan dalam berlalu lintas. Rendahnya pengontrolan emosi seseorang berhubungan dengan tingginya kecenderungan untuk mengambil resiko dan tidak mematuhi aturan dalam berkendara. Hal serupa dinyatakan oleh Ulleberg dan Rundmo (2003) yang menyatakan bahwa kurangnya pengontrolan emosi akan menaikkan resiko berkendara risky driving dan risk-taking.

Emosi yang berhubungan dengan resiko berkendara menurut Banuls dan Mantoro (2001) adalah emosi seperti cemas, stress, agresif dan permusuhan.

Emosi-emosi yang muncul ketika berkendara tersebut akan menyita perhatian/pikiran pengendara sehingga pengendara tidak berkonsentrasi dalam berkendara. Hurlock (1996) menyatakan bahwa kematangan emosi pada diri

(8)

individu adalah kemampuan individu untuk menilai situasi secara kritis terlebih dahulu sebelum bereaksi secara emosional, tidak lagi bereaksi tanpa berfikir sebelumnya seperti anak-anak atau orang yang tidak matang, sehingga akan menimbulkan reaksi emosional yang stabil dan tidak berubah-ubah dari satu emosi atau suasana hati ke emosi atau suasana hati lain. Individu dikatakan telah mencapai kematangan emosi apabila mampu mengontrol dan mengendalikan emosinya sesuai dengan taraf perkembangan emosinya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kematangan emosi remaja adalah kemampuan pada diri remaja dalam mengekspresikan emosinya secara tepat dan wajar dengan mengendalikan diri, memiliki kemandirian, memiliki konsekuensi terhadap diri sendiri, serta memiliki penerimaan diri yang tinggi.

Banyak remaja yang belum matang secara emosi cenderung berperilaku menyimpang dengan tidak disiplin dalam berkendara dan tidak menaati peraturan lalu lintas. Kondisi tersebut membuat para remaja banyak melampiaskan rasa emosionalnya di jalanan dengan berkendara secara ugal-ugalan. Selain itu, para remaja juga cenderung tidak disiplin berlalu lintas dalam menghadapi situasi jalanan yang penuh sesak. Kondisi tersebut berakibat pada meningkatnya resiko dalam berkendara sehingga dapat berakibat pada meningkatnya angka kecelakaan.

B. Metode Penelitian

Subjek yang digunakan pada penelitian ini adalah remaja yang menggunakan mobil sebagai kendaraan pribadi. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah dengan teknik skala. Dalam penelitian ini peneliti

(9)

melihat perilaku seorang remaja dalam mengemudi berisiko diukur dengan menggunakan skala kematangan emosi. Analisis data penelitian menggunakan teknik korelasi product moment dari program Statistical Program for Social Science (SPSS) for Windows versi 16.0

C. Hasil Penelitian

Total keseluruhan subjek dalam penelitian berjumlah 120subjek. Subjek penelitian berada dalam rentang usia 17 sampai 22 tahun yang terdiri dari remaja yang berada di kota Yogyakarta.

Data hasil pengolahan berupa data uji normalitas untuk kematangan emosi menghasilkan nilai p = 0,275 ( > 0,05) yang menunjukkan bahwa data dari variabel kematangan emosi terdistribusi normal. Data uji normalitas untuk variabel mengemudi berisiko menghasilkan nilai p = 0,042 (< 0,05) yang menunjukkan bahwa data variabel mengemudi berisiko tidak berdistribusi normal.

Hasil pengolahan data uji linieritas menunjukkan bahwa hubungan kematangan emosi dan mengemudi berisiko pada remaja memenuhi asumsi linearitas karena menghasilkan nilai p = 0,164 (>0,05).

Hasil pengelolaan data berdasarkan uji korelasi menggunakan program komputer statistik menghasilkan nilai korelasi, r = -0,356 dengan p = 0000 (<

0,05). Hasil tersebut menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kematangan emosi dengan mengemudi berisikodan hubungan kematangan emosi dan mengemudi berisiko berbanding terbalik.

(10)

D. Pembahasan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kematangan emosi dengan mengendara beresiko pada remaja.

Berdasarkan hasil korelasi Spearman dapat diketahui bahwa koefisienr = -0,356 dengan p = 0,000 (p<0,01). Hal ini berarti menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kematangan emosi dengan mengemudi beresiko pada remaja. Nilai r sebesar -0,356 yang bertanda negatif menunjukkan bahwa hubungan antara kematangan emosi dengan mengemudi beresiko berbanding terbalik, artinya semakin tinggi kematangan emosi remaja maka tingkat mengemudi beresiko semakin rendah.

Berdasarkan hasil korelasi tiap aspek kematangan emosi dengan aspek mengendara beresiko menunjukkan bahwa hanya tiga aspek kematangan emosi yang memberikan pengaruh yang signifikan terhadap beberapa aspek mengemudi beresiko yaitu aspek kematangan emosi kemampuan beradaptasi, merasa aman, dan kemampuan menguasai amarah. Korelasi signifikan pada aspek kematangan emosi kemampuan beradaptasi yaitu aspek kematangan emosi kemampuan beradaptasi dengan aspek mengemudi beresiko banyaknya pelanggaran terhadap peraturan lalu lintas dengan r = -0,250 dan p = 0,006, aspek kematangan emosi kemampuan beradaptasi dengan aspek mengemudi beresiko sembarangan dalam mengemudi dengan r = -0,315 dan p = 0,000, aspek kematangan emosi kemampuan beradaptasi dengan aspek mengemudi beresiko tidak menggunakan sabuk pengaman r = -0,362 dan p = 0,000, aspek kematangan emosi kemampuan beradaptasi dengan aspek drinking and driving dengan r = -0,445 dan p =0,000,

(11)

dan aspek kematangan emosi kemampuan beradaptasi dengan aspek mengemudi beresikomengemudi di bawah kecepatan dengan r = -0,297 dan p = 0,001.

Korelasi signifikan pada aspek kematangan emosi merasa aman yaitu aspek kematangan emosi merasa aman dengan aspek mengendara beresiko drinking and driving dengan r = -0,249 dan p = 0,006. Korelasi signifikan pada

aspek kematangan emosi kemampuan menguasai amarah yaitu pada aspek kematangan emosi kemampuan menguasai amarah dengan aspek mengendara beresikobanyaknya pelanggaran terhadap peraturan lalu lintas dengan r = -0,313 dan p = 0,000, aspek kematangan emosi kemampuan menguasai amarah dengan aspek mengendara beresiko sembarangan dalam mengemudi dengan r = -0,347 dan p = 0,000, aspek kematangan emosi kemampuan menguasai amarah dengan aspek mengendara beresikodrinking and driving dengan r = -0,252 dan p = 0,006, dan aspek kematangan emosi kemampuan menguasai amarah dengan aspek mengendara beresiko mengemudi di bawah kecepatan dengan nilai r = -0,312 dan p = 0,001.

Aspek kematangan emosi yang berkorelasi secara signifikan terhadap aspek mengemudi beresiko hanya pada aspek kemampuan beradaptasi, merasa aman dan kemampuan menguasai amarah. Amarah merupakan wujud dari luapan emosi negatif. Mengemudi dibawah keadaan emosi negatif dapat menimbulkan agresif mengemudi (James and Nahl, 2000). agresif mengemudi dapat menimbulkan resiko mengemudi. Perilaku tidak dapat menahan emosi negatif yang dialami saat mengemudi dengan tidak dapat menahan amarah cenderung memiliki efek yang dapat merusak tingkat perhatian pengemudi. Pengemudi yang

(12)

kurang dapat mengendalikan amarahnya dapat mengalami kemarahan yang besar ketika mengemudi sehingga akan mengalami kekurangan sumber daya kognitif yang digunakan untuk mengemudi dengan aman (Dulla dan Geller, 2003). Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian dari Ulleberg dan Rundmo (2003) yang menyatakan bahwa faktor emosional seperti kecemasan, dan agresi dan kurangnya kontrol diri berkaitan dengan mengemudi berisiko. Hal ini karena emosi memainkan peran utama dalam memotivasi perilaku (Barrett dan Salovey, 2002).

Amarah yang muncul pada pengemudi merupakan akibat dari sulitnya kontrol impuls sehingga kurangnya kesadaran emosional dengan kurang dapat menahan amarah menimbulkan resiko mengemudi yang semakin besar.

Aspek kematangan emosi merasa aman juga merupakan aspek yang berhubungan secara signifikan terhadap mengemudui beresiko. Rasa aman merupakan wujud dari penilaian resiko. Sjoberg (2006) mengakui pengaruh emosi dalam penilaian risiko, tetapi juga mengklaim bahwa emosi tidak sepenuhnya menjelaskan penilaian resiko.Meskipun demikian, Slovic et al.(2004) menyatakan bahwa emosi dan komponen afektif sangat mempengaruhi manusia dalam melakukan pengambilan keputusan dan risiko yang dirasakan melalui heuristic affect yang sangat menjelaskan penilaian resiko.

Aspek kematangan emosi kemampuan beradaptasi dalam penelitian ini juga memberikan hasil yang signifikan dalam hubungannya dengan mengemudi beresiko. Arnau-sabates (2012)menegaskan bahwa komponen interpersonal dan komponen adaptasi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap mengemudi beresiko. Kemampuan yang lebih untuk beradaptasi terhadap perasaan seseorang

(13)

dengan situasi baru berkaitan denganrendahnya kecenderungan seseorang untuk mengemudi dalam keadaan mabuk.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aspek drinking and driving mempunyai hubungan yang signifikan dari ketiga aspek kematangan emosi kemampuan menahan amarah, rasa aman dan kemampuan beradaptasi. Drinking and driving telah dinyatakan sebagai faktor penyebab dan mempengaruhi

kecelakaan berkendara dan bahkan merupakan penyebab kematian dalam berkendara. The national safety council (1980) telah melaporkan bahwa minum- minuman beralkohol merupakan faktor yang dapat mempengaruhi kematian pada kecelakaan berkendara paling sedikit setengah dari total kecelakaan yang terjadi.

World Health Organization (2003) menambahkan bahwa penyebab terbesar dari kecelakaan bermotor di dunia dikarenakan tidak menggunakan sabuk pengaman saat mengemudi dan melaju dengan kecepatan tinggi, berada dibawah pengaruh minuman berakohol, sehingga mengakibatkan cedera ringan ataupun cedera berat bahkan meninggal dunia.

Kematangan emosi berhubungan dengan kemampuan kontrol emosi (Ulleberg dan Rundmo, 2003) dan regulasi emosi (Trogolo et al., 2014)kurangnya kontrol atas komponen emosional dan sulitnya melakukan regulasi emosi dapat meningkatkan mengemudi berisiko. Rendahnya regulasi emosi berkaitan dengan meningkatnya rasa cemas, disosiatif, berisiko dan marah saat mengemudi.

Sebaliknya, kemudahan seseorang dalam melakukan regulasi emosi menunjukkan sikapyang lebih adaptif, dan hati-hati dalam mengemudi.

(14)

Penelitian ini dilakukan kepada para remaja. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kematangan emosi yang dimiliki oleh para remaja sebagian besar berada pada tingkat sedang yaitu sebanyak 73,3%. Hal ini karena masa remaja sedang berada dalam tahap perkembangan yang belum memiliki kemampuan emosi secara matang. Usia para remaja berkisar 17 sampai 22 tahun dengan lama mengemudi dari 1 ampai lebih dari 6 tahun. Usia, dan lama mengemudi remaja yang dijadikan sebagai subjek penelitian beragam dan penelitian ini tidak mengkaji pengaruh perbedaan tersebut, namun Arnau-sabates (2012) menegaskan bahwa pengalaman berkendara dan usia tidak berkorelasi dengan mengemudi berisiko.Kemampuan emosional berpengaruh negatif terhadap mengemudi beresiko.

E. Kesimpulan

Berdasarkan hasil uji analisis, maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kematangan emosi dan mengemudi berisiko pada remaja. Hal ini menunjukkan bahwa jika remaja memiliki kematangan emosi yang baik maka akan meminimalisir terjadinya mengemudi berisiko, begitu pula sebaliknya jika remaja memiliki kematangan emosi yang rendah maka semakin tinggi pula perilaku mengemudi berisiko yang akan muncul.

F. Saran

1. Bagi Subjek Penelitian

(15)

Kematangan emosi berpengaruh terhadap mengendara beresiko pada remaja, oleh karena itu diharapkan para remaja mendapatkan pengawasan dari orang tua dan lebih berhati-hati serta meningkatkan kemampuan emosinya sehingga lebih dapat mengontrol emosi dengan baik yang berdampak pada rendahnya mengemudi beresiko.

2. Bagi Penelitian Selanjutnya

Diharapkan untuk penelitian selanjutnya melakukan try out dan pada saat mengambil data lebih teliti lagi dan terstruktur sebelum melakukan pengambilan untuk mengurangi hal-hal yang tidak diinginkan.

Peneliti juga sebaiknya pada saat mengambil data lebih spesifik dalam menyebar skala di lapangan.

Referensi

Dokumen terkait

12 penghasilan yang diinginkan saja, dan tidak mau mencari pekerjaan yang tidak sesuai dengan bidang dan tingkat upah yang diharapkan.Variable inflasi

dalam pakan buatan pada Grass carp mampu menghasilkan efisiensi pemanfaatan pakan yang lebih baik yaitu sebesar 22,39%, dibandingkan dengan pakan tanpa tepung

Dalam: Ranuh IGN, Suyitno H., Hadinegoro SRS, Kartasasmita CB, Ismoedijanto, Soedjatmiko, editor.. Pedoman imunisasi di

Agar lebih memperluas sasaran analisa biaya konstruksi ini, maka SNI Tata Cara perhitungan harga satuan pekerjaan persiapan tersebut diatas pada tahun 2001 dikaji kembali

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan fasilitas sosial ekonomi di Kecamatan Padamara Kabupaten Purbalingga secara geospasial, mengingat kecamatan ini

melalui RAMSI Australia berusaha untuk dapat diakui dan diterima sebagai regional powers di kawasan Pasifik Selatan, yang mana dari segi ekonomi dan militer Australia

Keberhasilan penebangan sangat ditentukan oleh arah rebah pohon. Arah rebah yang benar akan menghasilkan kayu sesuai dengan yang diinginkan dan kecelakan kerja

Upaya Meningkatkan Kemampuan Menyelesaikan Soal.. yang dicapai nantinya bisa digunakan sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah