• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS SEMIOTIKA FERDINAND DE SAUSSURE (PETANDA DAN PENANDA) DALAM TRADISI ANGNGARU PADA SUKU MAKASSAR SKRIPSI. Gelar Sarjana

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS SEMIOTIKA FERDINAND DE SAUSSURE (PETANDA DAN PENANDA) DALAM TRADISI ANGNGARU PADA SUKU MAKASSAR SKRIPSI. Gelar Sarjana"

Copied!
67
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS SEMIOTIKA FERDINAND DE SAUSSURE (PETANDA DAN PENANDA) DALAM TRADISI ANGNGARU PADA SUKU MAKASSAR

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana

pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh

Syahruni 105331109017

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

(2)
(3)
(4)

ii ABSTRAK

Syahruni, 2021. Analisis Semiotika Ferdinand de Saussure Petanda dan Penanda dalam Tradisi Angngaru pada Suku Makassar. Skripsi. Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Universitas Muhammadiyah Makassar. Dibimbing oleh Drs.

Hambali,S.P.,M.Hum. dan Rahmatiah , S.Ag., M.Pd.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan Penanda dan Petanda (Semiotika Ferdinand de Saussure) dalam Tradisi Angngaru Pada Suku Makassar.

Penelitian ini berjenis penelitian kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini berupa naskah atau teks Angngaru serta hasil wawancara dari beberapa narasumber. Teknik pengumpulan data berupa dokumentasi, teknik baca dan teknik mencatat. Analisis data yang data kualitatif biasanya digunakan untuk karya tulis ilmiah yang mengkaji karya sastra seperti karya sastra lisan penulis ingin teliti yaitu Angngaru.

Berdasarkan hasil penelitian dalam skripsi ini menunjukkan bahwa Angngaru merupakan satu dari banyaknya tradisi dalam masyarakat suku Makassar yang hingga saat ini masih dipertahankan dan dilestarikan sebagai sebuah bentuk merawat dan menjaga suatu kebudayaan. Sebagai folklor sebagian lisan dan sastra sebagian lisan Angngaru melambangkan kesetiaan seorang prajurit kepada Rajanya yang disampaikan dalam bentuk sumpah atau ikrar dan disaksikan oleh banyak orang. Pada era sekarang eksistensi tradisi Angngaru dalam masyarakat suku Makassar lebih mengarah pada persembahan pertunjukkan sebagai bentuk rasa hormat pada tamu-tamu tertentu di suatu upacara adat, pesta pernikahan dan pementasan seni yang dilakukan dalam waktu tertentu.

Kata kunci: Angngaru, Semiotika

(5)

iii MOTTO

“Tidak Apa Jika Langkahmu Pelan, Asal Jangan Pernah Berhenti”

(6)

iv

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Swt, yang telah memberi rahmat dan karunia-Nya serta kekuatan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Semiotika Ferdinand de Saussure (Petanda dan Penanda) dalam Tradisi Angngaru pada Suku Makassar”. Shalawat serta salam

tak lupa dikirimkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw, Nabi suri tauladan dan pendobrak kegelapan menuju terang benderang.

Ucapan terima kasih kepada kedua orang tua penulis Nurhaedah dan Aiptu M. Sakhrir yang telah melahirkan dan membesarkan serta mendukung penuh penulis sehingga dapat mencapai titik sekarang ini. Prof. Dr. Ambo Asse M.Ag, Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, Dosen pembimbing penulis, Drs Hambali, S.P., M. Hum. dan Rahmatiah, S.Ag., M.Pd. dan Dosen yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu, yang mengajarkan hal-hal yang belum diketahui dan memberikan ilmu pengetahuan kepada penulis. Terakhir, kawan-kawan yang selalu mendukung dan membantu penulis dalam proses mengerjakan proposal ini.

Semoga proposal ini dapat bermanfaat bagi penulis maupun pembacanya. Aamiin.

Makassar, Januari 2021

Penulis,

(7)

v DAFTAR ISI

SAMPUL

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ...

KARTU KONTROL PEMBIMBING 1 ...

KARTU KONTROL PEMBIMBING 2 ...

ABSTRAK ...

MOTTO ...

KATA PENGANTAR ...

DAFTAR ISI ...

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 4

D. Manfaat Penelitian ... 4

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Pustaka ... 6

1. Penelitian Relevan ... 6

2. Teori Sastra ... 11

3. Folklor ... 18

4. Tradisi Masyarakat Suku Makassar ... 19

5. Pengertian Angngru ... 22

6. Teori Semiotika ... 24

B. Kerangka Pikir ... 26

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 29

B. Definisi Istilah ... 29

C. Data dan Sumber Data ... 31

D. Instrumen Penelitian ... 31

E. Teknik Pengumpulan Data ... 31

(8)

vi

F. Teknik Analisis Data ... 31 BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Hasil Penelitian ... 31 B. Pembahasan ... 39 BAB V PENUTUP

A. Simpulan ... 45 B. Saran ... 45

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

DOKUMENTASI KORPUS DATA DAFTAR PUSTAKA

(9)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Karya sastra sifatnya imajinatif namun permasalahan yang disampaikan pengarang tidak terlepas dari aktifitas dunianya. Karya sastra dan manusia memberikan pemahaman nilai moral dan estetika dalam membangun karya sastra. Satra berkaitan dengan kehidupan manusia, sastra menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan budaya dan peradaban karya cipta manusia itu sendiri. Menurut Sumardjo (Solicha, 2019:7) sastra merupakan produk masyarakat karena sastra berada ditengah masyarakat dan dibentuk oleh anggota-anggota masyarakat yang berdasarkan desakan-desakan emosional atau rasional masyarakat, jelas bahwa karya sastra bisa dipelajari berdasarkan disiplin ilmu sosial juga. Perlindungan terhadap Bahasa daerah juga juga didasarkan pada amanat Pasal 32 Ayat 2 UUD 1954 yang menyatakan bahwa negara menghormati dan memelihara Bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional.

Kebudayaan menanamkan nilai-nilai luhur yang mengandung aspek yang berkaitan dengan masyarakat. Budaya merupakan konfigurasi dari tingkah laku dan hasil laku yang memiliki unsur pembentuk dan pendukung kemudian diteruskan oleh anggota masyarakat tertentu. Tradisi adalah sesuatu yang diwariskan tidak berarti harus diterima, dihargai, diasmilasi atau disimpan sampai mati. Tradisi merupakan suatu gambaran sikap dan perilaku manusia

(10)

yang telah berproses dalam waktu lama dan dilakukan secara turun-temurun dimulai dari nenek moyang. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) tradisi adalah kebiasaan turun-temurun dari nenek moyang yang masih dijalankan dalam masyarakat, penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan yang paling baik dan benar. Untuk memahami tradisi yang diwariskan secara kolektif dalam masyarakat tertentu maka perlunya pemahaman tentang folklor.

Folklor adalah sekelompok manusia yang memiliki ciri-ciri pengenal sosial fisik dan kebudayaan. Ciri-ciri pengenal yang dimaksud adalah warna kulit, bentuk rambut, bahasa, pendidikan dan mata pencaharian yang sama. Sejalan dengan Alan Dandes (Danandjaja, 1986 : 1) yang menyatakan bahwa Folklor merupakan gambaran kebudayaan yang sifatnya kolektif. Pada masa sekarang ini, pengkajian tentang folklor sangat kurang diminati oleh masyarakat. Bahkan banyak masyarakat yang tidak mengetahui makna folklor yang ada pada daerahnya sendiri. Salah satu folklor yang kurang dipahami dalam tradisi suku Makassar yaitu, Angngaru.

Angngaru menurut Latief (2000) merupakan suatu peristiwa bersumpah yang dilakukan oleh suatu pria yang sambil memegang keris atau senjata lainnya dan umumnya bersumpah dihadapan orang banyak atau Raja. Angngaru dilaksanakan pada upacara pelantikan Raja, peperangan, perkawinan Raja, ataupun upacara lainnya. Aru yang diucapkan oleh prajurit disebut Aru Tubarani (sumpah pemberani). Secara konvensional, khususnya daerah Kabupaten Gowa

(11)

tradisi angngaru dikenal sebagai suatu peristiwa sosial-budaya yang berada dalam masyarakat suku Makassar.

Berdasarkan uraian gambaran umum tentang angngaru, peneliti menggunakan kajian teori Semiotika (Ferdinand de Saussure) untuk mengkaji dan memahami makna tradisi angngaru. Pada dasarnya Simiotika merupakan ilmu tentang tanda yang dapat memperjelas makna sebuah teks khususnya makna karya sastra. Makna karya sastra tertuang secara implisit dan harus dipahami secara ilmiah. Kesulitan memahami makna karya sastra dikarenakan kurangnya pengetahuan tentang aliran-aliran karya sastra seperti, semiotika. Semiotika adalah cabang ilmu yang berkaitan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubugan dengan tanda seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi penggunaan tanda (Zoest, 1993:1). Salah satu pakar teori yang teori simotikanya sering digunakan dalam mengkaji atau memahami karya sastra adalah Ferdinand De Saussure

Ferdinand De Saussure (1996, 82-83) berpendapat bahwa, linguistik merupakan bagian dari semiotika yang dikenal sebagai sebutan semiologi. Bahkan Saussure menyatakan bahwa ilmu semiologi belum ada, tapi berhak ada.

Pengakuan Saussure tentang perkembangan semiotika memperlihatkan bahwa semiotika/semiologi berbeda dengan strukturalisme linguistik. Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda. Kegiatan yang dilakukan dengan semiotika memang tertuju pada tanda.

Penelitian ini sesuai dengan teori Semiotika Ferdinand de Saussure yang mengkaji tentang tanda dan petanda dalam sebuah teks atau karya sastra.

(12)

Berdasarkan kesesuaian teori dan objek penelitian yang ada pada penelittian ini peneliti berinisiatif untuk memilih judul Analisis Semiotika Ferdinan de Saussure (Petanda dan Penanda) dalam Tradisi Angngaru pada Suku Makassar. Landasan mengangkat judul ini berawal dari terbiasanya menyaksikan penampilan tradisi Angngaru pada waktu tertentu, misalnya upacara adat, penjemputan tamu, pentas seni, serta pada sebuah pernikahan yang melambangkan prosesi penyambutan tamu. Ketertarikan peneliti terhadap salah satu kebudayaan yang terdapat pada suku Makassar ini serta ketertarikan mengenai teori Semiotika (Ferdinand de Saussure) dan kemudian dirangkai menjadi satu sehingga peneliti tidak hanya memahami unsur intrinsik dalam kebudayaan Angngaru namun juga memahami ilmu tanda yang dapat memperjelas makna yang terkandung didalamnya. Diharapkan penelitian ini dapat menambah wawasan tentang pentingnya untuk mengetahui makna tradisi angngaru dan bermanfaat bagi peneliti selanjutnya.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah Penanda dan Petanda (Semiotika Ferdinand de Saussure) dalam Tradisi Angngaru Suku Makassar.

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan Penanda dan Petanda (Semiotika Ferdinand de Saussure) dalam Tradisi Angngaru Pada Suku Makassar.

(13)

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini terbagi menjadi dua yaitu, manfaat teoritis dan manfaat praktis:

1. Manfaat Teoritis

Dalam menganalisis Tradisi Angngaru dengan pendekatan “Semiotika Ferdinan de Saussure” diharapkan mampu memberikan ilmu pengetahuan sebagai disiplin ilmu pengetahuan.

2. Manfaat Praktis

Adapun manfaat praktis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Bagi masyarakat, diharapkan mampu membantu dalam mengungkapkan makna Angngaru.

b. Bagi masyarakat dan dosen, diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan informasi terkhusus program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra

Indonesia, Universitas Muhammadiyah Makassar.

c. Bagi peneliti lain, diharapkan mampu memberikan pemahaman tentang nilai-nilai yang terkandung dalam Tradisi Angngaru sebagai referensi selanjutnya.

(14)

6 BAB II PEMBAHASAN A. Kajian Pustaka

1. Penelitian Relevan

Beberapa penelitian yang relevan dengan topik penelitian penulis, di antaranya penelitian yang dilakukan oleh Fani Atmawijaya pada tahun pada tahun 2016 dalam jurnal yang berjudul Kritik Pada Pelaku Tindak Pidana Korupsi Melalui Lagu (Analisis Semiotika Ferdinand de saussure pada Lagu Vonis Simponi). Hasil penelitian mengungkapkan Analisis Semiotika Kritik Pada Pelaku Tindak Pidana Korupsi Melalui Lagu “Vonis” Karya Simponi (Kajian Semiotika Ferdinand de Saussure. Hasil dari penelitian ini dari lirik lagu Vonis Simponi memiliki makna yang saling berkaitan mengandung pesan Kritik. Kritik yang terkandung dalam lirik lagu Vonis Simponi sangat kuat, karena di dalamnya terdapat kata-kata yang sifatnya sangat gamblang menyampaikan betapa buruknya dampak dari praktek korupsi dalam bidang apapun, dan pada akhirnya dapat merugikan banyak orang. Perbedaan yang terdapat dengan penelitian yang dilakukan penulis adalah objek kajiannya, Fani Atmawijaya mengangkat sebuah lagu karya Simponi berjudul Vonis Simponi kemudian peneliti mengangkat kebudayaan Angngaru sebagai objek kajiannya. Kemudian persamaan dalam penelitian ini adalah kajian teori semiotika oleh Ferdinan de Saussure.

(15)

Penelitian yang relevan selanjutnya dilakukan oleh Rahmadiyah Putra Nagraha tahun 2016 dalam jurnal yang berjudul Konstruksi Nilai-nilai Nasionalisme dalam Lirik Lagu (Analisis Semiotika Ferdinand De Saussure pada Lirik Lagu “Bendera”). Hasil dari penelitian ini dalam sebuah lirik lagu pasti memiliki sebuah pesan yang ingin disampaikan oleh penciptanya dan penyanyinya yang kemudian memiliki kesesuaian makna antara lirik lagu dengan dengan realitasnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan analisis semiotik dari Ferdinand de Saussure dimana objek yang digunakan adalah sebuah lirik lagu yang dianalisis setiap baris dalam bait-baitnya. Perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan penulis adalah Putra Nugraha melakukan tahapan analisis menentukan tanda (sign) dari lirik lagu sebagai objek penelitiannya sedangkan penulis menganalisis tanda dan penanda pada naskah Angngaru.

Selain itu, penelitian yang terkait dilakukan oleh Putra Chaniago pada tahun 2016 dalam jurnal yang berjudul Representasi Pendidikan Karakter dalam Film Surau dan Silek (Analisis Semiotik Ferdunand de Saussure). Hasil dari penelitian tersebut membahas tentang nilai-nilai pendidikan karakter dalam ranah komunikasi Islam pada Film Surau dan Silek. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode analisis semiotika Ferdinan de Saussure. Dalam metodenya ia mengembangkan dua sistem yaitu penanda, pertanda serta makna yang terkandung dan yang ingin disampaikan di dalamnya. Terdapat perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian yang diangkat penulis yaitu Putra

(16)

Chaniago membahas tentang nilai Pendidikan karakter dalam ranah komunikasi islam pada suatu film sedangkan penulis menjadikan sebuah kebudayaan dari suku Makassar yang kemudian akan dianalisis berdasarkan kajian teori Semiotika.

Terkait penelitian analisis Semiotik Lilis Nikmatul Jannah juga melakukan penelitian yang sama pada tahun 2019 dalam jurnal berjudul Makna Perdamaian Pada Lagu Deen Assalam Yang Dipopulerkan Oleh Sabyan Gambus (Analisis Semiotika Ferdinand De Saussure). Hasil penelitian tersebut berisi tentang makna perdamaian yang terdapat di dalam lirik lagu Deen Assalam. Analisis yang digunakan dalam meneliti makna di balik lirik lagu menggunakan semiotika Ferdinand de Saussure. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna perdamaian dibalik lirik lagu Deen Assalam yaitu menanamkan sikap toleransi kepada sesama, dengan perasaan cinta, perilaku yang mulia, tutur kata yang baik, saling hormat- menghormati, dan menyebarkan kepada masyarakat luas bahwa Islam cinta perdamaian. Sama dengan beberapa penelitian relevan diatas, Lilis Nikmatul Jannah juga mengangkat sebuah judul lagu sebagai objek kajiannya, tentu berbeda dengan objek kajian yang dianalisis oleh penulis yaitu kebudayaan.

Penelitian selanjutnya telah dilakukan oleh Nadia Inda Syartanti pada tahun 2020 dalam jurnal yang berjudul Covid-19 dalam meme: Satire di tengah pandemi (Kajian semiotika Ferdinand de Saussure). Hasil penelitian tersebut yaitu mengungkapkan maksud atau makna tersirat yang

(17)

terkandung pada meme terkait Covid-19 melalui pemaknaan tanda dengan pendekatan semiotika Ferdinand de Saussure. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari empat jenis klasifikasi tanda pada meme berkaitan Covid-19 terdapat dua jenis klasifikasi tanda yang ditemukan dalam media internet, yaitu visual sign dan written sign, serta ditemukan juga gabungan dari kedua jenis klasifikasi tanda tersebut, yaitu written visual sign.

Berdasarkan uraian lima penelitian relevan tersebut, perbedaan mendasar dengan penelitian ini adalah objek kajian budaya yang ada pada penelitian ini. Budaya atau tradisi yang dimaksud adalah angngaru. Dengan menggunakaan teori semiotika Ferdinand de Saussure dengan konsep metode penanda dan petanda diharapkan dapat mendeskripsikan makn angngaru sesuai dengan tradisi yang ada pada suku Makassar.

2. Teori Sastra a. Pengertian satra

Sastra berisi kehidupan yang telah diwarnai dengan sikap penulis. Karya sastra mengandung suatu kebenaran yang berbentuk keyakinan dan kebenaran indrawi. Karya sastra bersifat imajinatif menurut Wellek (Badrum Ahmad, 1983:17). Sastra adalah suatu hasil karya seni yang muncul dari imajinatif atau rekaan para sastrawan (Suhendi, 2014: 6).

Sastra berasal dari kata sas (ajaran) dan tra (alat). Sastra adalah alat untuk memberikan ajaran filsafat hidup (Endraswara, 2012:5). Membaca karya sastra berarti ibaratkan berusaha menyelami diri pengarang (Sastrawan). Hal ini tentu

(18)

bergantung pada kemampuan mengartikan makna kalimat serta ungkapan dalam karya sastra itu sendiri. Meski menempatkan diri sebagai sastrawan yang menciptakan karya sastra tersebut. Jadi dituntut adanya hubungan timbal balik antara seorang pencipta dan penikmatnya. Sehubungan dengan konsep itu, seorang bertindak menjadi pribadi sastrawan.

Dengan cara itu dengan mudah membayangkan kembali situasi yang melatarbelakangi penciptaan serta bisa merasakan, menghayati, dan mencerna kata demi kata Bahasa karya sastra itu. Penghayatan karya sastra merupakan suatu usaha menghidupkan pengalaman itu melalui karyanya. Sastra dapat dibahas berdasarkan dua hal, yaitu bentuk dan isi.

Ditinjau dari bentuk, sastra adalah karangan fiksi dan non fiksi. Apabila dikaji melalui bentuk atau cara pengungkapannya, sastra dapat dianalisis melalui genre sastra itu sendiri, yaitu puisi, novel, dan drama. Karya sastra juga digunakan pengarang untuk menyampaikan pikirannya tentang sesuatu yang ada dalam realitas yang duhadapinya. Realitas ini adalah adalah salah satu faktor penyebab pengarang penciptakan karya disamping unsur imajinasi.

Ada tiga aspek dalam karya sastra yaitu keindahan, kejujuran, dan kebenaran. Jika karya sastra yang meengorbankan salah satu aspek ini maka sastra bernilai estetika. Pengarang ataupun sastrawan itu ingin agar pembacanya dapat merasakan apa yang dirasakan. Mengundang para pembaca dan penikmat memasuki dunia nyata maupun dunia imajinatifnya, yang diperoleh dari pengalaman dari indra. Dituang, dilampiaskan dalam bentuk karya sastra dan didalamnya menggambarkan keserasian antara bentuk dan isi.

(19)

Karya sastra menarik dan disukai pembaca jika terungkap nilai, estetika dan nilai moral.

b. Jenis Karya Sastra 1) Puisi

Puisi adalah olahan pikiran, kehadiran puisi dalam menyampaikan pesan kepada orang lain untuk diberi makna sangat berdampak. Buktinya adalah ketika seseorang sedang sedih, sedang jatuh cinta dan lain sebagainya. Orang yang kaya dengan imajinasi tentu puisi adalah alatnya.

Dalam puisi terkadang mengandung beberapa unsur ekstrensik berikut aspek Pendidikan, aspek social budaya, aspek sosial masyarakat, aspek politik, aspek ekonomi, aspek adat dan sebagainya. Puisi termasuk salah satu bentuk karya sastra. Karya sastra merupakan bentuk komunikasi antara sastrawan dengan pembacanya.

2) Cerpen

Cerita pendek (cerpen) merupakan sebuah bentuk karya sastra berupa prosa naratif yang bersifat fiktif. Isinya tidak lebih dari 10.000 kata. Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adaalah suatu bentuk prosa negative fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih Panjang seperti novella (dalam pengertian modern) dan novel. Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, Bahasa dan insight secara lebih luas

(20)

dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Ceritanya bisa dalam berbagai jenis.

Cerita pendek berasal dari anekdot sebuah situasi yang digambarkan singkat yang dengan cepat tiba pada tujuan, dengan pararel pada tradisi penceritaan lisan. Dengan munculnya novel yang realistis, cerita pendek berkembang sebagai sebuah miniatur, dengan contoh- contoh dalam cerita karya E. T. A. Hoffmann dan Anton Chekhov.

3) Novel

Novel merupakan suatu bentuk sastra yang sangat populer di dunia.

Bentuk satra yang satu ini paling banyak beredar dan dicetak karena daya komunitasnya yang sangat luas di dalam masyarakat (Drs. Jakob Sumardjo).

Novel merupakan suatu bentuk karya sastra yang berbentuk prosa yang memiliki unsur intrinsik dan ekstrinsik. Kata novel berasal dari Bahasa Itali yaitu “novella” yang berarti kisah atau cerita. Penulis yang menulis sebuah novel disebut sebagai novelis. Isi novel lebih Panjang dan lebih kompleks dari isi cerpen, serta tidak mempunyai Batasan struktural akan sajak.

Sebuah novel menceritakan atau menggambarkan tentang kehidupan manusia yang berinteraksi dengan lingkungan dan juga sesamanya. Sebuah novel, biasanya pengarang berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan arahan kepada pembaca untuk mengetahui

(21)

pesan tersembunyi seperti gambaran realita kehidupan melalui sebuah cerita yang terkandung di dalam novel tersebut.

4) Prosa dan Monolog

Prosa adalah karya sastra yang disusun dalam bentuk cerita atau narasi. Prosa pada umumnya merupakan cangkokan dari bentuk monolog dengan dialog. Karena itu, prosa disebut juga dengan teks pencakokan.

Teks pencakokan itu adalah pencerita (pengarang) mencengkokan pikirannya kedalam pikiran-pikiran took sehingga timbullah dialog diantara tokoh-tokohnya itu.

Monolog adalah orang yang sedang berbicara dengan dirinya sendiri. Percakapan monolog bisa dilakukan seorang tokoh dengan dirinya sendiri di dalam hati yang berbunyi. Monolog merupakan ilmu terapan yang mempelajari tentang seni peran. Untuk melakukan adegan monolog, dibutuhkan sesorang yang punya kemampuan dialog bisu.

Monolog adalah percakapan seorang pemain dengan dirinya sendiri. Apa yang diucapkan itu tidak ditunjukkan kepada orang lain.

c. Aliran Sastra

Kata mashab atau aliran berhasal dari kata stroming (dalam Belanda) yang mulai muncul di Indonesia pada zaman Pujangga Baru. Kata itu bermakna keyakinan yang dianut golongan-golongan pengaranng yang sepaham, ditimbulkan karena menentang paham-paham lama (hadimadja, 1972:9). Aliran sastra pada dasarnya berupaya menggambarkan priinsip- prinsip (pandangan hidup, politik dll) yang dianut sastrawan dalam

(22)

menghasilkan karya sastra. Dengan kata lain, Aliran sangat erat dengan sikap dan jiwa pengarang dan objek yang dikemukakan dalam karaangannya. Pada prinsipnya, Aliran sastra dibedakan menjadi beberapa bagian, yaitu:

1) Realisme

Aliran sastra ini merupakan sastra yang melukiskan keadaan/peristiwa sesuai dengan kenyataan apa adanya. Pengarang tidak menambah ataupun mengurangi suatu kejadian yang dilihatnya secara positif dan yang diuraikan baik-baik saja.

2) Naturalisme

Aliran sastra ini melukiskan sesuatu secara apa adanya yang dijiwai adalah hal-hal yang kurang baik.

3) Neonaturalisme

Merupakan aliran baru dari aliran naturalism. Aliran ini tidaak hanyaa mengungkapkan sisi jelek,namunjuga memandang sesuatu dari sudut yang baik pula.

4) Ekspresionisme

Ekspresionisme adalah aliran dalam sastra yang menekankan pada perasaan jiwa pemerannya.

5) Impresionisme

Impresionisme adalah aliran dalam sastra yang menekankan pada kesan sepintas tentang suatu peristiwa, kejadian atau benda yang

(23)

ditemui atau dilihat pengarang. Dalam hal tersebut, engarang mengambil hal-hal yang penting-penting saja.

6) Determinisme

Determinisme adalah aliran dalam sastra yang melukiskan suatu peristiwa atau kejadian dari sisi jeleknya saja. Biasanya menyoroti pada ketidakadilan, penyelewengan dan lain-lain yang dianggap kurang baik pengarang.

7) Surealisme

Surealisme adalah liran dalam sastra yang melukiskan sesuatu secara berlebihan sehingga sulit dipahami oleh penikmat atau pembaca.

8) Idealisme.

Idealisme adalah aliran dalam sastra yang selalu melukiskan cita-cita, gagasan, atau pendirian engarangnya.

9) Simbolisme

Simbiolisme adalah aliran sastra yang menampilkan simbol- simbol (isyarat) dalam karyanya. Hal ini dilakukan pengarang untuk mengelabui maksud yang sesungguhnya.

10) Romantisme

Romantisme adalah aliran dalam sastra yang selalu melukiskan sesuatunya secara sentimentil penuh perasaan.

(24)

11) Psikologisme

Psikologisme adalah aliran dalam sastra yang selalu menekankan pada aspek-aspek kejiwaan.

12) Simiotika

Simiotika mengajarkan kita menyadari bahwa kita pernah berhadapan langsung dengan realitas, yang datang kepada kita melalui bantuan tanda, tanda mengentarai kita dan realitas. Peran tanda begitu penting bagi siapapun untuk menyadari peran tanda sebagai medium.

Berdasarkan 12 (dua belas) peneliti menggunakan aliran simiotika untuk mengkaji tradisi angngaru yang dimiliki suku Makassar.

d. Folklor

Folklor merupakan sebuah gambaran kebudayaan yang bersifat kolektif. Oleh karena itu, penyebaran folklor hanya diwariskan secara turun-temurun dalam suatu komunitas tertentu.

Berdasarkan empat uraian tersebut, peneliti memfokuskan kajiannya terhadap folklor yang sesuai dengan tradisi angngaru yang ada pada suku Makassar

3. Folklor

Alan Dundes (Danandjaja, 1986 : 1) berpendapat bahwa Folk adalah sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal sosial fisik dan kebudayaan sehingga dibedakan kelompok-kelompok lainnya. Ciri- ciri pengenal itu antara lain dapat terwujud warna kulit yang sama,

(25)

bentuk rambut yang sama, taraf pendidikan yang sama, mata pencaharian yang sama, bahsa yang sama, dan agama yang sama. Lebih penting adalah mereka telah memiliki suatu tradisi yakni kebudayaan yang telah mereka warisi turun-temurun sedikitnya dua generasi yang mereka akui sebagai milik bersama. Lore adalah tradisi Folk yaitu sebagian kebudayaannya yang diwariskan secara turun menurun secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat/alat pembantu pengingat. Definisi folklor secara keseluruhan adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan secara turun-menurun, diantara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat. Dundes (Rafiek, 2010:50) menyatakan bahwa Folk adalah sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenalan fisik, sosial, dan kebudayaan, sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya. Namun yang lebih penting lagi adalah bahwa mereka telah memiliki suatu tradisi. Sedangkan lore adalah tradisi folk, yaitu sebagai kebudayaannya yang diwariskan secara turu-temurun secara lisan. Pendapat tersebut selaras dengan (Endraswara, 2006: 58) yang menyatakan bahwa Folklor berasal dari kata folk dan lore. Folk sama artinya dengan kolektif. Folk dapat berarti rakyat dan lore artinya tradisi. Jadi folklor adalah salah satu bentuk tradisi rakyat.

(26)

Folklor merupakan sebuah gambaran kebudayaan yang bersifat kolektif. Oleh karena itu, penyebaran folklor hanya diwariskan secara turun-temurun dalam suatu komunitas tertentu. Pendapat tersebut selaras dengan Pundentia (2015) yang mengemukakan bahwa folklor merupakan produk mengenai budaya kolektif tertentu, yang diwariskan melalui lisan maupun alat bantu lisan. Pentingnya untuk memahami nilai-nilai sebuah folklor yang dalam suatu komunitas tertentu memberikan gambaran pendidikan yang terkandung dalam nilai folklor tersebut. Dimensi masa lampau yang bisa dijadikan sebagai media pembelajaran yang terbaik untuk melanbgkah di masa depan. Oleh karena itu, folklor dalam pendidikan menjadi resolusi untuk mencerminkan dan menjaga kearifan lokal.

a. bentuk-bentuk folklor

Jan Harold Burnvand (Danandjaja,1996: 21) mengelompokkan folklor menjadi tiga bagian yaitu:

1). Folklor lisan

Folklor lisan, yaitu folklor yang bentuknya memang murni lisan.

Bentuk- bentuk (genre) folklor yang termasuk kedalam kelompok besar yaitu, bahasa rakyat ungkaapan tradisional, pertanyaan tradisional, puisi rakyat, cerita prosa rakyat dan nyanyian rakyat.

2). Folklor sebagian lisan

Folklor bukan lisan yaitu folklor yang bentuknya merupakan campuran unsur lisan dan unsur bukan lisan.

(27)

3). Folklor bukan lisan

Foklor bukan lisan yaitu yang bentuknya bukan lisan, walaupun cara pembentuknya diajarkan secara lisan. Kelompok besar ini dapat dibagi menjadi dua sub kelompok, yakni yang material dan yang bukan material.

Berdasarkan ketiga jenis folklor tersebut peneliti menfokuskan kajiannya terhadap folklor sebagian lisan yang sesuai dengan tradisi angngaru yang ada pada suku Makassar.

4. Tradisi Masyarakat Suku Makassar a. Tradisi

Tradisi adalah sesuatu yang diwariskan tidak berarti harus di terima, dihargai, diasmilasi atau disimpan sampai mati. Tradisi merupakan suatu gambaran sikap dan perilaku manusia yang telah berproses dalam waktu lama dan dilakukan secara turun-temurun dimulai dari nenek moyang. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) tradisi adalah kebiasaan turun-temurun dari nenek moyang yang masih dijalankan dalam masyrakat, penilaian atau angapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan yang paling baik dan benar.

Koentjaraningrat dalam (Daud, Arifin , & D, 2018), kata tradisi berasal dari bahasa latin traditium yang berarti di teruskan dalam pengertian yang sederhana, tradisi diartikan sebagai sesuatu yang telah

(28)

di inginkan untuk sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyrakat. Dalam pengertian tradisi ini, hal yang paling mendasar dari tradisi adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun lisan oleh karena tanpa adanya ini suatu tradisi dapat penuh. selain itu tradisi juga dapat diartikan sebagai kebiasaan bersama dalam masyarakat manusia, yang secara otomatis akan mempengaruhi aksi dan reaksi dalam kehidupan sehari-hari para angota masyarakat itu.

Setiap suku bangsa tentu memiliki tradisi dan kebudayaannya masing-masing, baik dalam bentuk norma adat maupun kebiasaan yang terdapat pada masyarakat Indonesia secara umun. Salah satu tradisi unik yang hingga saat ini masih dilestarikan oleh suatu masyarakat adalah tradisi angaru’ yang ada di Kabupaten Gowa.

Tradisi yang menjadi kebiasaan masyarakat tersebut awalnya hanya boleh dilakukan oleh para prajurit ketika ingin berperang. Hal tersebut dilakukan berfungsi sebagai bentuk setia ataupun sumpah janji mereka kepada rajanya. Akan tetapi, kebiasaan yang sering dipraktekkan mereka kini mengalami pergeseran budaya.

5. Pengertian Angngaru

Angngaru memiliki esensi yang sama, yaitu sebuah peristiwa sumpah. Angngaru menurut Latief (2000) merupakan suatu peristiwa bersumpah yang dilakukan oleh suatu pria yang sambiol memegang keris atau senjata lainnya dan umumnya bersumpah dihadapan orang

(29)

banyak atau Raja. Angngaru dilaksanakan pada upacara pelantikan Raja, peperangan, perkawinan Raja, ataupun upacara lainnya.

Berdasarkan wawancara langsung dengan salah satu praktisi Angngaru sekaligus budayawan Kabupaten Gowa Syafruddin Dg.

Tutu (2019) Angngaru merupakan suatu bentuk ikrar kesetiaan terhadap Raja Gowa yang sifatnya sangat sakral. Tradisi tersebut merupakan tradisi yang disaksikan oleh Tumanurung Baineya seorang putri yang turun dari kayangan saat diangkat menjadi Raja Gowa yang pertama oleh kesembilan federasi kerajaan yang atau disebut dengan Kasuwiyang Salapang. Tradisi Angngaru dapat dikatakan sebagai salah satu ritual tertua dalam lingkungan Kerajaan Gowa. Hal tersebut menjadi signifikan dari Hamid Abdullah (1985) yang mengatakan bahwa tradisi Angngaru merupakan tradisi tertua yang ada di Kerajaan Gowa karena disaksikan langsung oleh Tumanurung Baineya.

Menurut etimologi kata Angngaru berasal dari kata dasar aru yang berarti sumpah, diberi prefiks a’/lang sebagai bentuk kata kerja yang bermakna sumpah. Angngaru adalah ikrar yang diucapkan masyarakat Gowa pada jaman dahulu di wilayah Sembilan negeri federasi (gallarrang) yang membentuk wilayah Kerajaan Gowa.

Aru yang diucapkan oleh prajurit disebut “Aru Tubarani” (sumpah pemberani). Secara konvensional, tradisi Angngaru dikenal sebagai suatu peristiwa sosial-budaya yang berada dalam masyarakat suku Makassar khususnya daerah Kabupaten Gowa. Berdasarkan catatan

(30)

sejarah, Angngaru dahulunya hanya dilakukan dalam lingkungan Kerajaan Gowa mengingat tradisi tersebut merupakan ikrar yang hanya diperuntukkan bagi Raja-Raja baru yang akan dilantik.

Setelah memahami asal usul Angngaru, peneliti dapat menyimpulkan bahwa Angngaru pada zaman dahulu merupakan prosesi sumpah kesetiaan seorang hamba pada Rajanya dan kemudian di era sekarang masyarakat umum menghadirkan Angngaru sebagai kebudayaan yang wajib ada sebagai bentuk penghormatan dan penjemputan tamu dalam acara adat maupun pernikahan.

6. Teori Simiotika

a. Pengertian Semiotik

Simiotika merupakan ilmu tentang tanda yang dapat memperjelas makna sebuah teks khususnya sastra. Makna karya sastra tertuang secara implisit yang harus dipahami secara ilmia. Kesulitan memahami makna karya sastra karena kurangnya pengetahuan tentang teori semiotika. Kata semiotika berasal dar 22ystem semion yang berarti tanda. Maka semiotika berarti ilmu tanda. Semiotika adalah cabang ilmu yang barusan dengan pengkajian tanda dan segalah sesuatu yang berhubugan dengan tanda seperti system tanda dan proses yang berlaku bagi penggunaan tanda (Zoest, 1993:1) Semiotika memiliki dua tokoh, yakni Ferdinand de Saussure (1857-1913) dan Charles Sander peirce (1839-1914). Kedua tokoh tersebut mengembangkan ilmu semiotika secara terpisah dan tidak mengenal satu sama lain. Latar belakang

(31)

keilmuan adalah linguistic sedangkan pierce filsafat. Hal tertersebut dikemukakan oleh Zoest (1993:3) bahwa Saussure menampilkan semiotic dengan membawa latar belakang ciri-ciri linguistic yang diistilahkan dengan semiology.

b. Semiotika Ferdinand De Saussure

Ferdinand De Saussure (1996, 82-83) berpendapat bahwa, linguistic merupakan bagian dari semiotika yang dikenal sebagai sebutan 23ystem23e23. Ketika menyebut demikian, ia bahkan menyatakan bahwa ilmu 23ystem23e23 belum ada tapi berhak ada. Pengakuan Saussure tentang perkembangan semiotika memperlihatkan bahwa semiotika/23ystem23e23 berbeda dengan strukturalisme linguistic.

Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda. Kegiatan yang dilakukan dengan semiotika memang tertuju pada tanda. Memandang sesuatu sebagai tanda, kita mengenakan kacamata semiotika.

Pandangan (Ferdinand de Saussure dalam buku Nazaruddin Kahfie 2015 : 1) 23ystem23e23 (istilah semiotika dan semiology kita pergunakan dalam pengertian yang sama). Menurut Saussure, semiotika dalah iyang menelaah peran tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial, ilmu ini meneliti hakikat tanda dan hukum yang mengatur tanda (Saussure 1993:82).

Semiotika memberikan pemahaman bahwa manisa tidak pernah berhadapan langsung dengan realitas yang 23ystem kepada dirinya

(32)

melalui bantuan tanda, tanda mengantarai kita dan realitas. Peran tanda, begitu penting bagi siapapun untuk menyadari peran tanda sebagai medium. Berdasarkan kesadaran itu, kita tidak akan menerima begitu saja setiap realitas yang dihadapi.

B. Kerangka Pikir

Satra pada dasarnya merupakan cerminan kehidupan, oleh karena itu, sastra bersifat imajinatif dan diwariskan secara turun temurun. Hubungan sastra dan kebudayaan sangat erat kaitannya oleh karena itu pemahaman tentang kebudayaan sangat diperlukan dalam memahami karya sastra.

Kebudayaan merupakan konfigurasi dari sebuah tingkah laku yang unsur- unsur pembentuknya didukung serta diteruskan oleh anggota masyarakat tertentu. Kebudayaan yang diwariskan dengan sebuah ciri terntentu disebut sebagai 24ystem24e.

Folklor merupakan sebagian kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan secara turun-temurun, diantara kolektif masyarakat, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan mau pun contoh yang disertai dengan gerak isyarat. Dalam pengelompokan folklore, terdapat tiga bagian yaitu, 24ystem24e lisan, 24ystem24e sebagian lisan. Dari ketiga jenis 24ystem24e tersebut peniliti menggunakan folklore Sebagian lisan.

Folklor sebagian lisan boleh dikatakan 24ystem24e campuran. Di dalamnya ada yang berupa lisan (vocal/verbal) dan bukan lisan

(33)

(gerak,material). Karna itu teori penelitian yang digunakan pun sebenarnya fleksibel. Hal ini amat tergantung pada penekanan penelitian.

Angngaru adalah ikrar yang diucapkan masyarakat Gowa pada jaman dahulu di wilayah Sembilan negeri federasi (gallarrang) yang membentuk wilayah Kerajaan Gowa. Berdasarkan catatan sejarah, Angngaru dahulunya hanya dilakukan dalam lingkungan Kerajaan Gowa mengingat tradisi tersebut merupakan ikrar yang hanya diperuntukkan bagi Raja-Raja baru yang akan dilantik.

Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda. Kegiatan yang dilakukan dengan semiotika memang tertuju pada tanda. Memandang sesuatu sebagai tanda, kita mengenakan kacamata semiotika. Bagi de Saussure, 25ystem terdiri atas sejumlah tanda yang terdapat dalam suatu jaringan 25ystem dan dapat disusun dalam sejumlah struktur. Setiap tanda dalam jaringan itu memiliki dua sisi yang tak terpisahkan seperti dua halaman pada selembar kertas. Oleh karena itu, Sassure menggunakan metode penanda dan dan petanda dalam memahami sebuah teks.

Data yang diperoleh dari hasil penelitian ini kemudian dianalisis dengan teori tersebut untuk mendapatkan temuan serta diharapkan dapat memberikan ilmu pengetahuan bagi masyarakat maupun peneliti lainnya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari bagan kerangka piker berikut.

(34)

Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir

Sastra

Folklor

Folklor Sebagian Lisan

Tradisi Angngaru

Simiotika/Ferdinand dnd

Penanda Petanda

Analisis Data

Temuan

(35)

27 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Peneleitian

Jenis penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode yang bersifat analisist deskriptif kualitatif. Analisisnya mengarah pada pendeskriosian secara rinci dan mendalam. Jenis penelitian ini juga berupa metode penelitian yang dilakukan terfokus pada suatu kasus untuk diamati dan dianalisis secara cermat.

Menurut Bogdan dan Taylor (Sujarweni, 2014:19) berpendapat bahwasanya penelitian kualitatif adalah salah satu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa ucapan atau tulisan dan perilaku orang- orang yang diamati. Pendekatan kualitatif diharapkan mampu menghasilkan uraian mendalam tentang ucapan, tulisam, dan atau perilaku yang dapat diamati suatu individu, kelompok, masyarakat, dan atau organisasi tertentu dalam keadaan konteks tertentu yang dikaji dari sudut pandang yang utuh, komprehensif, dan holistik.

B. Definisi Istilah

Istilah merupakan unsur yang membantu dalam pelaksanaan proses pengumpulan data pada penelitian. Adapun definisi istilah yang berhubungan dengan penelitian ini yaitu:

(36)

a. Sastra

Ketisan dalam isi naskah angngaru mmenjadikan naskah tersebut menjadi sebuah karya sastra. Hal tersebut dapat dilihat dari penggunaan kata-kata yang ada pada naskah yang banyak menggunakan bahasa kiasan dan mengandung maksud tertentu sesuai dengan sejarah angngaru.

b. Kebudayaan

Kebudayaan yang digunakan dalam peneitian ini adalah budaya yang lahir dan berkembang dalam suku Makassar

c. Folklor sebagian lisan

Folklor sebagian lisan yang dimaksud dalam penilitian ini adalah tradisi angngaru. Pewarisan anggaru tidak hanya didukung oleh unsur lisan tetapapi ada unsur lain yang menjadi pembentuknya seperti, unsur fisik, dan unsur mental dalam pengaplikasiannya

d. Angngaru

Angngaru merupakan sebuah bentuk ikrar kesetiaan kepada Raja Gowa yang sifatnya sangat sakral. Angngaru merupakan suatu peristiwa bersumpah yang dilakukan oleh seorang pria yang memegang keris atau senjata lainnya yang umunya bersumpah di hadapan orang banyak atau raja.

e. Simiotika Ferdinand de Sassure

Simiotika Sassure digunakan seebagai media untuk memahami makna angngaru dengan kedua metodenya yaitu, penanda dan petanda.

(37)

C. Data dan Sumber Data 1. Data

Data dari penelitian ini berupa naskah dalam jurnal yang kemudian dianalisis dan dikaji berdasarkan kajian semiotika Ferdinan de Saussure.

2. Sumber Data

Sumber data dari penelitian ini berupa naskah atau teks Angngaru yang telah diwariskan secara turun-temurun pada masyarakat suku Makassar.

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan dokumentasi, menyimak serta mencatat informasi yang diperoleh melalui narasumber mengenai kebudayaan Angngaru. Peneliti memahami terlebih dahulu arti dari naskah ataupun teks Angngaru kemudian menyimak makna apa saja yang terkandung dalam Angngaru dengan didukung dengan wawancara beberapa tokoh dalam masyarakat suku Makassar sehingga peneliti mampu memecahkan rumusan masalah.

E. Teknik Analisis Data

Analisis data kualitatif biasanya digunakan untuk karya tulis ilmiah yang mengkaji karya sastra seperti karya sastra lisan penulis ingin teliti yaitu Angngari. Adapun langkah yang dilakukan peneliti dalam menganalisis data yaitu:

1. Menelaah dan menganalisis naskah atau teks yang telah diperoleh dari beberapa narasumber dan kemudian dikaji dengan kajian semiotika Ferdinand de Saussure.

(38)

2. Setelah hasil penelitian telah dianggap sesuai, masa hasil tersebut dianggap sebagai hasil akhir.

(39)

31 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian dalam skripsi ini menunjukkan bahwa Angngaru merupakan satu dari banyaknya tradisi dalam masyarakat suku Makassar yang hingga saat ini masih dipertahankan dan dilestarikan sebagai sebuah bentuk merawat dan menjaga suatu kebudayaan. Sebagai folklor sebagian lisan dan sastra sebagian lisan Angngaru melambangkan kesetiaan seorang prajurit kepada Rajanya yang disampaikan dalam bentuk sumpah atau ikrar dan disaksikan oleh banyak orang. Pada era sekarang eksistensi tradisi Angngaru dalam masyarakat suku Makassar lebih mengarah pada persembahan pertunjukkan sebagai bentuk rasa hormat pada tamu-tamu tertentu di suatu upacara adat, pesta pernikahan dan pementasan seni yang dilakukan dalam waktu tertentu.

Untuk mendeskripsikan (petanda dan penanda) dalam tradisi Angngaru peneliti menggunakan teori Ferdinand de Saussure yang mengkaji tentang semiotika. Peneliti mendeskripsikan

Penanda Petanda

Nakareppekangi sallang karaeng pangngulu ri barugayya, nakatepokangi sallang karaeng pasorang attangnga parang(Akan

Petanda bahwa seseorang yang menjadikan dirinya sebagai tameng dalam melindungi Karaeng (Raja) yang siap

(40)

memecahkan kelak hulu keris di arena, akan mematahkan kelak gagang tombak di tengah gelanggang)

bertarung demi keselamatan, melalui tradisi yang bertujuan memecahkan masalah di dalam sebuah arena pertarungan.

Pada kutipan tersebut memberikan petanda bahwa seseorang yang menjadikan dirinya sebagai tameng dalam melindungi Raja yang siap bertarung demi keselamatan melalui tradisi yang bertujuan memecahkan di dalam sebuah arena pertarungan. Lanjut kutipan

Penanda Petanda

Kusalagai sirinna, kuisara parallakkenna (Kuhancurkan tempatnya berpijak, kululuhkan ruang geraknya)

Petanda bahwa seseorang yang bertekad untuk memberi perhitungan kepada siapapun yang berbuat sesuatu yang bertentangan dengan adat atau Karaeng (Raja), tidak ada ketenangan untuk mereka yang bermaksud menyalahi ketentuan adat.

Pada kutipan tersebut memberikan petanda bahwa seseorang yang bertekad memberi perhitungan kepada siapapun yang berbuat sesuatu yang bertentangan dengan adat atau Raja, tidak ada ketenangan untuk mereka yang bermaksud menyalahi ketentuan adat. Teruskan dengan kutipan

(41)

Penanda Petanda Berangja kunipatebba, pangkulu’

kunisoeang (aku ibarat parang yang dihantamkan, kapak yang diayunkan).

Petanda bahwa seseorang akan rela dititahkan untuk melakukan apapun atau siap melaksanakan tugas bahkan jika itu seberat gunung dan sedalam lautan.

Pada kutipan diatas terdapat petanda bahwa seorang prajurit akan rela melakukan apapun atau menjalankan titah Raja (karaeng) walau seberat gunung bahkan sedalam lautan.

Penanda Petanda

Ikau je’ne karaeng naikambe batang mamayu, assolongko je’ne mamayu batang kayu (engkau ibarat air karaeng aku ibarat batang kayu, mengalirlah air kurela hanyut bersamamu).

Petanda bahwa seorang ata atau prajurit akan ikut bersama dengan apa yang dikehendaki Raja (karaeng) dan tidak akan bisa melepaskan diri dari belakang sang Raja untuk mengabdikan diri atas apa yang diperintahkan.

Pada kutipan diatas terdapat petanda bahwa seorang prajurit akan ikut bersama dengan perintah yang dikehendaki Raja (karaeng) dan tidak akan mampu melepaskan diri dari perintahnya layaknya sebatang kayu yang akan terus mengalir mengikuti air yang mengalir.

(42)

Penanda Petanda Ikau jarung karaeng naikambe

bannang panjai, ta’leko jarung namminawang bannang panjai (engkau ibarat jarum Raja aku ibarat benang jahit, tembuslah jarum aku akan ikut bekas jejakmu).

Petanda bahwa seorang ata atau prajurit akan melanjutkan apa yang akan dan telah dimulai oleh sang Raja (karaeng), tak terdapat perbedaan, apalagi menyeleweng dari apa yang diharapkan karaeng atau sang Raja.

Kutipan diatas memiliki petanda bahwa ata atau prajurit akan melaksanakan segala hal yang akan maupun yang telah dimulai oleh sang Raja (karaeng), tidak memilki perbedaan, apalagi menyeleweng dari apa yang diharapkan oleh Rajanya (karaeng).

Penanda Petanda

Makkana mamaki mae karaeng naikambe mappajari, mannyabbu mamaki mae karaeng naikambe mapparuppa (bersabdalah karaeng aku akan berbuat, bertitahlah karaeng aku akan berbakti).

Petanda dalam kutipan tersebut adalah seorang Raja (karaeng) hanya perlu berbicara memberikan titah atau perintahnya dan yang akan melaksanakan atau menjadikannya adalah tanggung jawab seorang ata atau prajurit.

(43)

Kutipan diatas memiliki petanda bahwa tugas Raja (karaeng) hanya perlu berbicara dan memberikan titahnya dan yang akan melakukan atau melaksanakannya adalah prajurit atau ata sesuai dengan perintah yang diterima sebagai tanggung jawabnya.

Penanda Petanda

Punna sallang takammaya Aruku ri dallekangta pangkai jerakku, tinra bate onjokku (bila nanti janji tak kutepati pasak pusaraku, coret namaku dalam sejarah).

Petanda dalam kutipan sebagai bentuk jaminan seorang prajurit atau ata kepada Rajanya yang apabila sumpah atau ikrarnya tak dilaksanakan atau tak ditepati maka akan rela segala fasilitas kenyamanan dan keamanan yang telah dipeloreh dicabut dan diasingkan dari lingkup kerajaan dan maupun dalam masyarakat.

Kutipan diatas memiliki petanda bahwa apabila seorang prajurit atau ata tidak menepati janji atau ikrarnya maka rela dicabut fasilitas kenyamanan dan keamanan yang diberikan sang Raja bahkan diasingkan dari lingkup kerajaan maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

Penanda Petanda

Pawwang ana’ riboko pasang ana’ tanjari, tumakkanaya karaeng tanarupai janjinna

Petanda dalam kutipan tersebut dimaksudkan apabila menjadi seorang Raja bukan hanya sekadar

(44)

(sampaikan pada generasi mendatang pesankan pada anak cucu, apabila hanya mampu berikrar karaeng tapi tak mampu membuktikan ikrarnya).

menyandang sebuah gelar atau hanya sebatas nama tetapi juga memiliki tanggung jawab penuh atas apa yang menjadi tugasnya dalam memimpin sebuah masyarakat sehingga mampu disandang seorang Raja (karaeng) yang sebenar-benarnya.

Petanda dalam kutipan diatas adalah gelar seorang Raja (karaeng) bukan hanya sebatas nama ataupun gelar namun memiliki tanggung jawab penuh atas apa yang menjadi kewajibannya dalam memimpin sekelompok masyarakat sehingga dapat dikatakan sebagai Raja yang sebenar-benarnya.

b. Narasumber

Ala Akkarena Dg. Sitonra

“Narasumber pertama atas nama Ala Akkarena Dg. Sitonra menjelaskan tentang etika dan prinsip dalam Angngaru. Pada era sekarang banyak kalangan yang hanya sekadar menghafal naskah dan sekadar memiliki kepercayaan diri serta keberanian menampilkan Angngaru didepan banyak orang tapi sangat minim pemahaman tentang pentingnya etika yang harus dimiliki sebelum menampilkan tradisi Angngaru. Etika yang dimaksud adalah sikap loyal, amanah, patriot dan kesungguhan yang harus benar-benar

(45)

ditanamkan dalam diri dan hati sebagai prinsip dalam Angngaru agar tidak semerta-merta diucapkan”.

Apabila kembali pada konteks awal Angngaru maka tidak sembarang orang yang dapat melakukan Angngaru dan tidak sembarang orang yang dapat dipangngarui, kualleangangi tallanga na toalia (tidak akan sekali-kali engkau kupermalukan wahai Rajaku, aku lebih baik mati daripada pulang membawa malu) sebagai bentuk kesakralan dalam Angngaru. Etika yang pertama kali harus dipahami adalah caraa memegang badik (senjata) yang digunakan dalam Angngaru sehingga mampu mengontrol diri agar tidak terjadi kecelakaan atau kesalahan yang dapat melukai orang yang menampilkan Angngaru tersebut, berbeda ada zaman dulu yang pada dasarnya prajurit kerajaan sudah kebal. Eksistensi Angngaru sekarang lebih condong kepada bentuk pelestarian budaya yang dibungkus dalam bentuk pementasan karya seni, perjemputan tamu tertentu, upacara adat, serta yang paling sering digunakan adalah dalam upacara pernikahan. Terdapat aturan dalam menampilkan Angngaru, pada saat ini Angngaru dapat ditampilkan oleh siapa saja asal memenuhi etika, prinsip dan hal-hal yang wajin diketahui sebelum menampilkan Angngaru dalam bentuk konteks pementasan karya seni. Apabila penampilan Angngaru berada pada konsep ritual maka tidak sembarang orang dapat melakukannya dan memiliki beberapa hal yang lebih dulu harus dilakukan sebagai

(46)

syarat sebelum Angngaru didepan orang yang siratang (pantas) dipangngarui.

Nasruddin (Arul Sederhana)

“Narasumber kedua atas nama Nasruddin tapi sering disebut Arul Sederhana menjelaskan tentang sejarah Angngaru secara umum.

Tradisi dalam konteks masyarakat masyarakat Makassar, terdapat satu peristiwa tradisi sumpah yang masih dapat dijumpai dan telah dikemas menjadi suatu bentuk kesenian dan pertunjukkan, peristiwa tersebut disebut dengan Angngaru. Perlu diketahui, bahwa kerajaan Gowa terikat dengan narasi tentang ebuah peristiwa mitologi kedatangan seorang putri dari alam atas (kayangan).

Kisah tersebut secara garis besar bagaimana proses pengangkatan Raja Gowa yang pertama. Dalam peristiwa tersebut, dilakukan sebuah ritual sumpah atau kontrak politik antara Raja dan Rakyat yang diwakili oleh Kasuwiyang Salapang. Kasuwiyang Salapang merupakan kumpulan sembilan pengabdi Kerajaan Gowa, hal ini dapat diartikan sebagai sembilan negeri yang merupakan federasi kecil yang membentuk Kerajaan Gowa. Sayangnya, tidak ada istilah yang digunakan untuk penamaan peristiwa sumpah/ikrar tersebut. Oleh karena itu pada tulisan ini disebutlah peristiwa Angngaru yang berarti ikrar prajurit kepada Rajanya.

Tradisi Angngaru merupakan salah satu tradisi yang sudah lama ada dalam tubuh masyarakat Makassar. Dalam catatan sejarah

(47)

Angngaru disebut juga sebagai tradisi tertua dikerajaan Gowa. Hal tersebut dapat dikatakan valid karena Angngaru merupakan suatu fenomena sosial-budaya (ikrar) yang biasanya ditampilkan dalam pelantikan Raja, sumpah sebelum menuju medan perang dan beberapa agenda sakral terkait kegiatan dilingkungan Kerajaan Gowa. Angngaru mengandung nilai-nilai masyarakat Makassar utamanya kesetiaan ata’ (bawahan) terhadap karaeng (raja). Dalam konteks masyarakat modern nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut tetap terjaga namun dakam bentuk yang lebih transformatif dari sebelumnya, yakni budaya pertunjukkan. Perubahan tersebut dilihat dari bentuk tradisi Angngaru yang mengalami pergeseran yang pada mulanya merupakan sebuah upacara sakral kemudian menjadi sebuah komuditi perjunjukkan dimasa sekarang yang profan dan tidak dapat disimplifikasi sebagai suatu bentuk komodifikasi budaya dalam arti negatif.

B. Pembahasan

Sastra berisi kehidupan yang telah diwarnai dengan sikap penulis. Karya sastra mengandung suatu kebenaran yang berbentuk keyakinan dan kebenaran indrawi. Karya sastra bersifat imajinatif menurut Wellek (Badrum Ahmad, 1983:17). Sastra adalah suatu hasil karya seni yang muncul dari imajinatif atau rekaan para sastrawan (Suhendi, 2014: 6).

(48)

Ada tiga aspek dalam karya sastra yaitu keindahan, kejujuran, dan kebenaran. Jika karya sastra yang meengorbankan salah satu aspek ini maka sastra bernilai estetika. Pengarang ataupun sastrawan itu ingin agar pembacanya dapat merasakan apa yang dirasakan. Mengundang para pembaca dan penikmat memasuki dunia nyata maupun dunia imajinatifnya, yang diperoleh dari pengalaman dari indra. Dituang, dilampiaskan dalam bentuk karya sastra dan didalamnya menggambarkan keserasian antara bentuk dan isi. Karya sastra menarik dan disukai pembaca jika terungkap nilai, estetika dan nilai moral.

Lore adalah tradisi Folk yaitu sebagian kebudayaannya yang diwariskan secara turun menurun secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat/alat pembantu pengingat. Definisi folklor secara keseluruhan adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan secara turun-menurun, diantara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat. Dundes (Rafiek, 2010:50) menyatakan bahwa Folk adalah sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenalan fisik, sosial, dan kebudayaan, sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya. Namun yang lebih penting lagi adalah bahwa mereka telah memiliki suatu tradisi. Sedangkan lore adalah tradisi folk, yaitu sebagai kebudayaannya yang diwariskan secara turu- temurun secara lisan.

(49)

Ferdinand De Saussure (1996, 82-83) berpendapat bahwa, linguistic merupakan bagian dari semiotika yang dikenal sebagai sebutan 41ystem41e41. Ketika menyebut demikian, ia bahkan menyatakan bahwa ilmu 41ystem41e41 belum ada tapi berhak ada. Pengakuan Saussure tentang perkembangan semiotika memperlihatkan bahwa semiotika/41ystem41e41 berbeda dengan strukturalisme linguistic. Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda. Kegiatan yang dilakukan dengan semiotika memang tertuju pada tanda. Memandang sesuatu sebagai tanda, kita mengenakan kacamata semiotika

Simiotika merupakan ilmu tentang tanda yang dapat memperjelas makna sebuah teks khususnya sastra. Makna karya sastra tertuang secara implisit yang harus dipahami secara ilmia. Kesulitan memahami makna karya sastra karena kurangnya pengetahuan tentang teori semiotika.

Tradisi adalah sesuatu yang diwariskan tidak berarti harus di terima, dihargai, diasmilasi atau disimpan sampai mati. Tradisi merupakan suatu gambaran sikap dan perilaku manusia yang telah berproses dalam waktu lama dan dilakukan secara turun-temurun dimulai dari nenek moyang. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) tradisi adalah kebiasaan turun- temurun dari nenek moyang yang masih dijalankan dalam masyrakat, penilaian atau angapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan yang paling baik dan benar.

Setiap suku bangsa tentu memiliki tradisi dan kebudayaannya masing- masing, baik dalam bentuk norma adat maupun kebiasaan yang terdapat pada

(50)

masyarakat Indonesia secara umun. Salah satu tradisi unik yang hingga saat ini masih dilestarikan oleh suatu masyarakat adalah tradisi angaru’ yang ada di Kabupaten Gowa. Tradisi yang menjadi kebiasaan masyarakat tersebut awalnya hanya boleh dilakukan oleh para prajurit ketika ingin berperang. Hal tersebut dilakukan berfungsi sebagai bentuk setia ataupun sumpah janji mereka kepada rajanya. Akan tetapi, kebiasaan yang sering dipraktekkan mereka kini mengalami pergeseran budaya.

Angngaru memiliki esensi yang sama, yaitu sebuah peristiwa sumpah.

Angngaru menurut Latief (2000) merupakan suatu peristiwa bersumpah yang dilakukan oleh suatu pria yang sambiol memegang keris atau senjata lainnya dan umumnya bersumpah dihadapan orang banyak atau Raja. Angngaru dilaksanakan pada upacara pelantikan Raja, peperangan, perkawinan Raja, ataupun upacara lainnya.

Berdasarkan wawancara langsung dengan salah satu praktisi Angngaru sekaligus budayawan Kabupaten Gowa Syafruddin Dg. Tutu (2019) Angngaru merupakan suatu bentuk ikrar kesetiaan terhadap Raja Gowa yang sifatnya sangat sakral. Tradisi tersebut merupakan tradisi yang disaksikan oleh Tumanurung Baineya seorang putri yang turun dari kayangan saat diangkat menjadi Raja Gowa yang pertama oleh kesembilan federasi kerajaan yang atau disebut dengan Kasuwiyang Salapang. Tradisi Angngaru dapat dikatakan sebagai salah satu ritual tertua dalam lingkungan Kerajaan Gowa.

Hal tersebut menjadi signifikan dari Hamid Abdullah (1985) yang

(51)

mengatakan bahwa tradisi Angngaru merupakan tradisi tertua yang ada di Kerajaan Gowa karena disaksikan langsung oleh Tumanurung Baineya.

Angngaru ini memiliki banyak makna-makna di dalamnya. Makna petanda salah satunya berasal dari kalimat

“Nakareppekangi sallang karaeng pangngulu ri barugayya, nakatepokangi sallang karaeng pasorang attangnga parang(Akan memecahkan kelak hulu keris di arena, akan mematahkan kelak gagang tombak di tengah gelanggang)”

Artinya

Petanda bahwa seseorang yang menjadikan dirinya sebagai tameng dalam melindungi Karaeng (Raja) yang siap bertarung demi keselamatan, melalui tradisi yang bertujuan memecahkan masalah di dalam sebuah arena pertarungan.

Pada kutipan tersebut memberikan petanda bahwa seseorang yang menjadikan dirinya sebagai tameng dalam melindungi Raja yang siap bertarung demi keselamatan melalui tradisi yang bertujuan memecahkan di dalam sebuah arena pertarungan. Selain itu, petanda yang terdapat dalam kalimat Angngaru ini memberikan banyak pelajaran-pelajaran suku yang bisa di petik maksudnya.

Seperti yang telah di paparkan oleh pihak narasumber makna-makna yang terkandung dalam angngaru yakni kita harus bersikap loyal, amanah, patriot dan bertanggung jawab. Amanat itulah yang tertanam dalam setiap kalimat angngaru. Menurut narasumber, masyarakat beberapa sulit memaknai

(52)

petanda atau penanda yang ada didalam angngaru. Dengan mengetahui petanda dan penanda dalam angngaru dapat lebih dengan serius jika mempraktikan angngaru.

(53)

45 BAB IV PENUTUP A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan yakni makna-makna yang terkandung dalam angngaru yakni kita harus bersikap loyal, amanah, patriot dan bertanggung jawab. Amanat itulah yang tertanam dalam setiap kalimat angngaru. Menurut narasumber, masyarakat beberapa sulit memaknai petanda atau penanda yang ada didalam angngaru. Dengan mengetahui petanda dan penanda dalam angngaru dapat lebih dengan serius jika mempraktikan angngaru.

Angngaru juga memberikan banyak penanda ataupun petanda-petanda kepada tiap-tiap yang menolaknya.

B. Saran

Jika dilihat dari uraian di atas, maka peneliti memberikan saran- saran yang semoga dapat membangun yakni sebagai berikut.

1. Penelitiannya dapat dijadikan sebuah acunnya khususnya para mahasiswa. Khususnya dibidang linguistik budaya.

2. Dapat dijadikan referensi tambahan untuk peneliti-peneliti selanjutnya yang akan meneliti di bidang linguistik dan budaya.

3. Khusus untuk mahasiswa selanjutnya dapat mengembangkan teori-teori baru yang membahas topik kajian tersebut’

(54)

DAFTAR PUSTAKA

Adat, P. (n.d.). Nilai Karakter Dalam Parno Adat Pernikahan Di Kecamatan Siulak Kabupaten Kerinci. Diakses pada tanggal 4 agustus 2021, pukul 12.32 WIB.

Alit Kumala, D. (2010). Semiotika, bagian I. Artikel Bulan Oktober, 10, 1.

Diakses pada tanggal 4 agustus 2021, Pukul 19.12 WIB

Anis Diah, S. W. (2019). Analisis Semiotika Pada Novel Jantera Bianglala Karya Ahmad Tohari Dan Implikasinya Dalam Pembelajaran Sastra Indonesia Di SMA.

Universitas Pancasakti Tegal. Diakses pada tanggal 10 agustus 2021, pukul 13.37 WIB.

Atmawijaya, F. (n.d.). Kritik Pada Pelaku Tindak Pidana Korupsi Melalui Lagu (Analisis Semiotika Ferdinand de saussure pada Lagu Vonis Simponi).

Universitas Bengkulu. Diakses pada tanggal 7 agustus 2021, pukul 17.47 WIB.

Chaniago, P. (2020). Representasi Pendidikan Karakter dalam Film Surau dan Silek (Analisis Semiotik Ferdinand De Saussure). Journal Of Islamic Education Policy, 4(2). Diakses padda tanggal 21 agustus 2021, pukul 21.29 WIB.

Daud, W., Arifin, S., & Dahlan, D. (2018). Analisis Tuturan Tradisi Upacara Ladung Bio’Suku Dayak Kenyah Lepo’Tau Di Desa Nawang Baru Kecamatan Kayan Hulu Kabupaten Malinau: Kajian Folklor. Ilmu Budaya:

Jurnal Bahasa, Sastra, Seni Dan Budaya, 2(2), 167–174. Diakses tanggal 16 agustus 2021, pukul 23.47 WIB.

Febriana, H. (2014). Kajian Folklor Tradisi Nglamar Mayit di Desa Sawangan, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen. Pend. Bhs Jawa. Diakses tanggal 2 september 2021, pukul 18.47 WIB.

Fitriyah, N. (2019). Penerapan Metode Dongeng Dan Media Papan Flanel Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Tema 8 Materi “Menentukan Tokoh Cerita Fiksi” Pada Siswa Kelas Iv Mi Darussalam Sumowono Kabupaten Semarang Tahun Pelajaran 2018/2019. Iain Salatiga. Diakses tanggal 7 september 2021, pukul 22.54 WIB.

Harjito, H. (2007). Potret Sastra Indonesia. IKIP PGRI Semarang Press. Diakses tanggal 4 seotember 2021, pukul 11.26 WIB.

Jannah, L. N. (2019). Makna Perdamaian Pada Lagu Deen Assalam Yang Dipopulerkan Oleh Sabyan Gambus (Analisis Semiotika Ferdinand De

(55)

Saussure). IAIN Purwokerto. Diakses tanggal 20 september 2021, pukul 08.39 WIB.

Jatiyasa, I. W. (2014). Eksistensi Folklor di Bali. Lampuhyang, 5(1), 61–76.

Diakses tanggal 20 september 2021, pukul 12.02 WIB.

Kurniawan, F. (n.d.). Tradisi Angngaru Tubarani Gowa: Dari Ritual Menjadi Pertunjukan Populer. Pangadereng, 6(1), 47–56. Diakses tanggal 22 agustus 2021, pukul 19.40 WIB.

Lukman, F. (2015). Pendekatan Semiotika dan Penerapannya dalam Teori Asma’Al-Qur’an. Religia, 207–226. Diakses 29 agustus 2021, pukul 13.44 WIB.

Maharani, P., Suhendi, D., & Ansori, A. (2020). Hibriditas Dan Ambibelansi Dalam Kumpulan Cerpen Semua Untuk Hindia Dan Teh Dan Pengkhianat Karya Iksaka Banu: Kajian Sastra Postkolonialisme Dan Implikasi Dalam Pembelajaran Sastra. Sriwijaya University. Diakses 5 september 2021, pukul 18.33 WIB.

Nugraha, R. P. (2016). Konstruksi Nilai-Nilai Nasionalisme Dalam Lirik Lagu (Analisis Semiotika Ferdinand De Saussure Pada Lirik Lagu “Bendera”). Jurnal Ilmu Ekonomi Dan Sosial, 5(3), 290–303. Diakses 30 agustus 2021, pukul 12.33 WIB.

Pamungkas, K. S., & Sartika, N. (n.d.). Nilai-Nilai Agama Dalam Novel Mahamimpi Anak Negeri. Diakses 5 september 2021, pukul 15.43 WIB.

Perempuan, P., & El Saadawi, K. N. (N.D.). Analisis Deiksis Pada Novel

“Catatan Dari. Diakses tanggal 16 september 2021, pukul 14.07 WIB.

Rahman, G. (2020). Dampak sedekah bagi perkembangan usaha (studi kasus donatur Panti Asuhan Darul Amin Palangka Raya). IAIN Palangka Raya.

Diakses tanggal 4 september 2021, pukul 17.55 WIB.

Rahmawati, F. Y. (2020). Pembelajaran menulis slogan dengan menggunakan media gambar siswa kelas VIII SMP Negeri 10 Malang tahun pelajaran 2008/2009. SKRIPSI Mahasiswa UM. Diakses tannga 20 september 2021, pukul 23.05 WIB.

Ratih, K., Novi, A., & Titik, M. (2014). Realitas sosial dan representasi fiksimini dalam tinjauan sosiologi sastra. Publika Budaya, 2(1), 50–57. Diakses tanggal 9 september 2021, pukul 22.43 WIB.

Referensi

Dokumen terkait