• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

C. Data dan Sumber Data

Data dari penelitian ini berupa naskah dalam jurnal yang kemudian dianalisis dan dikaji berdasarkan kajian semiotika Ferdinan de Saussure.

2. Sumber Data

Sumber data dari penelitian ini berupa naskah atau teks Angngaru yang telah diwariskan secara turun-temurun pada masyarakat suku Makassar.

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan dokumentasi, menyimak serta mencatat informasi yang diperoleh melalui narasumber mengenai kebudayaan Angngaru. Peneliti memahami terlebih dahulu arti dari naskah ataupun teks Angngaru kemudian menyimak makna apa saja yang terkandung dalam Angngaru dengan didukung dengan wawancara beberapa tokoh dalam masyarakat suku Makassar sehingga peneliti mampu memecahkan rumusan masalah.

E. Teknik Analisis Data

Analisis data kualitatif biasanya digunakan untuk karya tulis ilmiah yang mengkaji karya sastra seperti karya sastra lisan penulis ingin teliti yaitu Angngari. Adapun langkah yang dilakukan peneliti dalam menganalisis data yaitu:

1. Menelaah dan menganalisis naskah atau teks yang telah diperoleh dari beberapa narasumber dan kemudian dikaji dengan kajian semiotika Ferdinand de Saussure.

2. Setelah hasil penelitian telah dianggap sesuai, masa hasil tersebut dianggap sebagai hasil akhir.

31 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian dalam skripsi ini menunjukkan bahwa Angngaru merupakan satu dari banyaknya tradisi dalam masyarakat suku Makassar yang hingga saat ini masih dipertahankan dan dilestarikan sebagai sebuah bentuk merawat dan menjaga suatu kebudayaan. Sebagai folklor sebagian lisan dan sastra sebagian lisan Angngaru melambangkan kesetiaan seorang prajurit kepada Rajanya yang disampaikan dalam bentuk sumpah atau ikrar dan disaksikan oleh banyak orang. Pada era sekarang eksistensi tradisi Angngaru dalam masyarakat suku Makassar lebih mengarah pada persembahan pertunjukkan sebagai bentuk rasa hormat pada tamu-tamu tertentu di suatu upacara adat, pesta pernikahan dan pementasan seni yang dilakukan dalam waktu tertentu.

Untuk mendeskripsikan (petanda dan penanda) dalam tradisi Angngaru peneliti menggunakan teori Ferdinand de Saussure yang mengkaji tentang semiotika. Peneliti mendeskripsikan

Petanda bahwa seseorang yang menjadikan dirinya sebagai tameng dalam melindungi Karaeng (Raja) yang siap

memecahkan kelak hulu keris di arena, akan mematahkan kelak gagang tombak di tengah gelanggang)

bertarung demi keselamatan, melalui tradisi yang bertujuan memecahkan masalah di dalam sebuah arena pertarungan.

Pada kutipan tersebut memberikan petanda bahwa seseorang yang menjadikan dirinya sebagai tameng dalam melindungi Raja yang siap bertarung demi keselamatan melalui tradisi yang bertujuan memecahkan di dalam sebuah arena pertarungan. Lanjut kutipan

Penanda Petanda

Kusalagai sirinna, kuisara parallakkenna (Kuhancurkan tempatnya berpijak, kululuhkan ruang geraknya)

Petanda bahwa seseorang yang bertekad untuk memberi perhitungan kepada siapapun yang berbuat sesuatu yang bertentangan dengan adat atau Karaeng (Raja), tidak ada ketenangan untuk mereka yang bermaksud menyalahi ketentuan adat.

Pada kutipan tersebut memberikan petanda bahwa seseorang yang bertekad memberi perhitungan kepada siapapun yang berbuat sesuatu yang bertentangan dengan adat atau Raja, tidak ada ketenangan untuk mereka yang bermaksud menyalahi ketentuan adat. Teruskan dengan kutipan

Penanda Petanda Berangja kunipatebba, pangkulu’

kunisoeang (aku ibarat parang yang dihantamkan, kapak yang diayunkan).

Petanda bahwa seseorang akan rela dititahkan untuk melakukan apapun atau siap melaksanakan tugas bahkan jika itu seberat gunung dan sedalam lautan.

Pada kutipan diatas terdapat petanda bahwa seorang prajurit akan rela melakukan apapun atau menjalankan titah Raja (karaeng) walau seberat gunung bahkan sedalam lautan. ibarat batang kayu, mengalirlah air kurela hanyut bersamamu).

Petanda bahwa seorang ata atau prajurit akan ikut bersama dengan apa yang dikehendaki Raja (karaeng) dan tidak akan bisa melepaskan diri dari belakang sang Raja untuk mengabdikan diri atas apa yang diperintahkan.

Pada kutipan diatas terdapat petanda bahwa seorang prajurit akan ikut bersama dengan perintah yang dikehendaki Raja (karaeng) dan tidak akan mampu melepaskan diri dari perintahnya layaknya sebatang kayu yang akan terus mengalir mengikuti air yang mengalir.

Penanda Petanda Ikau jarung karaeng naikambe

bannang panjai, ta’leko jarung namminawang bannang panjai (engkau ibarat jarum Raja aku ibarat benang jahit, tembuslah jarum aku akan ikut bekas jejakmu).

Petanda bahwa seorang ata atau prajurit akan melanjutkan apa yang akan dan telah dimulai oleh sang Raja (karaeng), tak terdapat perbedaan, apalagi menyeleweng dari apa yang diharapkan karaeng atau sang Raja.

Kutipan diatas memiliki petanda bahwa ata atau prajurit akan melaksanakan segala hal yang akan maupun yang telah dimulai oleh sang Raja (karaeng), tidak memilki perbedaan, apalagi menyeleweng dari apa yang diharapkan oleh Rajanya (karaeng).

Penanda Petanda

Makkana mamaki mae karaeng naikambe mappajari, mannyabbu mamaki mae karaeng naikambe mapparuppa (bersabdalah karaeng aku akan berbuat, bertitahlah karaeng aku akan berbakti).

Petanda dalam kutipan tersebut adalah seorang Raja (karaeng) hanya perlu berbicara memberikan titah atau perintahnya dan yang akan melaksanakan atau menjadikannya adalah tanggung jawab seorang ata atau prajurit.

Kutipan diatas memiliki petanda bahwa tugas Raja (karaeng) hanya perlu berbicara dan memberikan titahnya dan yang akan melakukan atau melaksanakannya adalah prajurit atau ata sesuai dengan perintah yang diterima sebagai tanggung jawabnya.

Penanda Petanda

Punna sallang takammaya Aruku ri dallekangta pangkai jerakku, tinra bate onjokku (bila nanti janji tak kutepati pasak pusaraku, coret namaku dalam sejarah).

Petanda dalam kutipan sebagai bentuk jaminan seorang prajurit atau ata kepada Rajanya yang apabila sumpah atau ikrarnya tak dilaksanakan atau tak ditepati maka akan rela segala fasilitas kenyamanan dan keamanan yang telah dipeloreh dicabut dan diasingkan dari lingkup kerajaan dan maupun dalam masyarakat.

Kutipan diatas memiliki petanda bahwa apabila seorang prajurit atau ata tidak menepati janji atau ikrarnya maka rela dicabut fasilitas kenyamanan dan keamanan yang diberikan sang Raja bahkan diasingkan dari lingkup kerajaan maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

Penanda Petanda

Pawwang ana’ riboko pasang ana’ tanjari, tumakkanaya karaeng tanarupai janjinna

Petanda dalam kutipan tersebut dimaksudkan apabila menjadi seorang Raja bukan hanya sekadar

(sampaikan pada generasi mendatang pesankan pada anak cucu, apabila hanya mampu berikrar karaeng tapi tak mampu membuktikan ikrarnya).

menyandang sebuah gelar atau hanya sebatas nama tetapi juga memiliki tanggung jawab penuh atas apa yang menjadi tugasnya dalam memimpin sebuah masyarakat sehingga mampu disandang seorang Raja (karaeng) yang sebenar-benarnya.

Petanda dalam kutipan diatas adalah gelar seorang Raja (karaeng) bukan hanya sebatas nama ataupun gelar namun memiliki tanggung jawab penuh atas apa yang menjadi kewajibannya dalam memimpin sekelompok masyarakat sehingga dapat dikatakan sebagai Raja yang sebenar-benarnya.

b. Narasumber

Ala Akkarena Dg. Sitonra

“Narasumber pertama atas nama Ala Akkarena Dg. Sitonra menjelaskan tentang etika dan prinsip dalam Angngaru. Pada era sekarang banyak kalangan yang hanya sekadar menghafal naskah dan sekadar memiliki kepercayaan diri serta keberanian menampilkan Angngaru didepan banyak orang tapi sangat minim pemahaman tentang pentingnya etika yang harus dimiliki sebelum menampilkan tradisi Angngaru. Etika yang dimaksud adalah sikap loyal, amanah, patriot dan kesungguhan yang harus benar-benar

ditanamkan dalam diri dan hati sebagai prinsip dalam Angngaru agar tidak semerta-merta diucapkan”.

Apabila kembali pada konteks awal Angngaru maka tidak sembarang orang yang dapat melakukan Angngaru dan tidak sembarang orang yang dapat dipangngarui, kualleangangi tallanga na toalia (tidak akan sekali-kali engkau kupermalukan wahai Rajaku, aku lebih baik mati daripada pulang membawa malu) sebagai bentuk kesakralan dalam Angngaru. Etika yang pertama kali harus dipahami adalah caraa memegang badik (senjata) yang digunakan dalam Angngaru sehingga mampu mengontrol diri agar tidak terjadi kecelakaan atau kesalahan yang dapat melukai orang yang menampilkan Angngaru tersebut, berbeda ada zaman dulu yang pada dasarnya prajurit kerajaan sudah kebal. Eksistensi Angngaru sekarang lebih condong kepada bentuk pelestarian budaya yang dibungkus dalam bentuk pementasan karya seni, perjemputan tamu tertentu, upacara adat, serta yang paling sering digunakan adalah dalam upacara pernikahan. Terdapat aturan dalam menampilkan Angngaru, pada saat ini Angngaru dapat ditampilkan oleh siapa saja asal memenuhi etika, prinsip dan hal-hal yang wajin diketahui sebelum menampilkan Angngaru dalam bentuk konteks pementasan karya seni. Apabila penampilan Angngaru berada pada konsep ritual maka tidak sembarang orang dapat melakukannya dan memiliki beberapa hal yang lebih dulu harus dilakukan sebagai

syarat sebelum Angngaru didepan orang yang siratang (pantas) dipangngarui.

Nasruddin (Arul Sederhana)

“Narasumber kedua atas nama Nasruddin tapi sering disebut Arul Sederhana menjelaskan tentang sejarah Angngaru secara umum.

Tradisi dalam konteks masyarakat masyarakat Makassar, terdapat satu peristiwa tradisi sumpah yang masih dapat dijumpai dan telah dikemas menjadi suatu bentuk kesenian dan pertunjukkan, peristiwa tersebut disebut dengan Angngaru. Perlu diketahui, bahwa kerajaan Gowa terikat dengan narasi tentang ebuah peristiwa mitologi kedatangan seorang putri dari alam atas (kayangan).

Kisah tersebut secara garis besar bagaimana proses pengangkatan Raja Gowa yang pertama. Dalam peristiwa tersebut, dilakukan sebuah ritual sumpah atau kontrak politik antara Raja dan Rakyat yang diwakili oleh Kasuwiyang Salapang. Kasuwiyang Salapang merupakan kumpulan sembilan pengabdi Kerajaan Gowa, hal ini dapat diartikan sebagai sembilan negeri yang merupakan federasi kecil yang membentuk Kerajaan Gowa. Sayangnya, tidak ada istilah yang digunakan untuk penamaan peristiwa sumpah/ikrar tersebut. Oleh karena itu pada tulisan ini disebutlah peristiwa Angngaru yang berarti ikrar prajurit kepada Rajanya.

Tradisi Angngaru merupakan salah satu tradisi yang sudah lama ada dalam tubuh masyarakat Makassar. Dalam catatan sejarah

Angngaru disebut juga sebagai tradisi tertua dikerajaan Gowa. Hal tersebut dapat dikatakan valid karena Angngaru merupakan suatu fenomena sosial-budaya (ikrar) yang biasanya ditampilkan dalam pelantikan Raja, sumpah sebelum menuju medan perang dan beberapa agenda sakral terkait kegiatan dilingkungan Kerajaan Gowa. Angngaru mengandung nilai-nilai masyarakat Makassar utamanya kesetiaan ata’ (bawahan) terhadap karaeng (raja). Dalam konteks masyarakat modern nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut tetap terjaga namun dakam bentuk yang lebih transformatif dari sebelumnya, yakni budaya pertunjukkan. Perubahan tersebut dilihat dari bentuk tradisi Angngaru yang mengalami pergeseran yang pada mulanya merupakan sebuah upacara sakral kemudian menjadi sebuah komuditi perjunjukkan dimasa sekarang yang profan dan tidak dapat disimplifikasi sebagai suatu bentuk komodifikasi budaya dalam arti negatif.

B. Pembahasan

Sastra berisi kehidupan yang telah diwarnai dengan sikap penulis. Karya sastra mengandung suatu kebenaran yang berbentuk keyakinan dan kebenaran indrawi. Karya sastra bersifat imajinatif menurut Wellek (Badrum Ahmad, 1983:17). Sastra adalah suatu hasil karya seni yang muncul dari imajinatif atau rekaan para sastrawan (Suhendi, 2014: 6).

Ada tiga aspek dalam karya sastra yaitu keindahan, kejujuran, dan kebenaran. Jika karya sastra yang meengorbankan salah satu aspek ini maka sastra bernilai estetika. Pengarang ataupun sastrawan itu ingin agar pembacanya dapat merasakan apa yang dirasakan. Mengundang para pembaca dan penikmat memasuki dunia nyata maupun dunia imajinatifnya, yang diperoleh dari pengalaman dari indra. Dituang, dilampiaskan dalam bentuk karya sastra dan didalamnya menggambarkan keserasian antara bentuk dan isi. Karya sastra menarik dan disukai pembaca jika terungkap nilai, estetika dan nilai moral.

Lore adalah tradisi Folk yaitu sebagian kebudayaannya yang diwariskan secara turun menurun secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat/alat pembantu pengingat. Definisi folklor secara keseluruhan adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan secara turun-menurun, diantara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat. Dundes (Rafiek, 2010:50) menyatakan bahwa Folk adalah sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenalan fisik, sosial, dan kebudayaan, sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya. Namun yang lebih penting lagi adalah bahwa mereka telah memiliki suatu tradisi. Sedangkan lore adalah tradisi folk, yaitu sebagai kebudayaannya yang diwariskan secara turu-temurun secara lisan.

Ferdinand De Saussure (1996, 82-83) berpendapat bahwa, linguistic merupakan bagian dari semiotika yang dikenal sebagai sebutan 41ystem41e41. Ketika menyebut demikian, ia bahkan menyatakan bahwa ilmu 41ystem41e41 belum ada tapi berhak ada. Pengakuan Saussure tentang perkembangan semiotika memperlihatkan bahwa semiotika/41ystem41e41 berbeda dengan strukturalisme linguistic. Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda. Kegiatan yang dilakukan dengan semiotika memang tertuju pada tanda. Memandang sesuatu sebagai tanda, kita mengenakan kacamata semiotika

Simiotika merupakan ilmu tentang tanda yang dapat memperjelas makna sebuah teks khususnya sastra. Makna karya sastra tertuang secara implisit yang harus dipahami secara ilmia. Kesulitan memahami makna karya sastra karena kurangnya pengetahuan tentang teori semiotika.

Tradisi adalah sesuatu yang diwariskan tidak berarti harus di terima, dihargai, diasmilasi atau disimpan sampai mati. Tradisi merupakan suatu gambaran sikap dan perilaku manusia yang telah berproses dalam waktu lama dan dilakukan secara turun-temurun dimulai dari nenek moyang. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) tradisi adalah kebiasaan turun-temurun dari nenek moyang yang masih dijalankan dalam masyrakat, penilaian atau angapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan yang paling baik dan benar.

Setiap suku bangsa tentu memiliki tradisi dan kebudayaannya masing-masing, baik dalam bentuk norma adat maupun kebiasaan yang terdapat pada

masyarakat Indonesia secara umun. Salah satu tradisi unik yang hingga saat ini masih dilestarikan oleh suatu masyarakat adalah tradisi angaru’ yang ada di Kabupaten Gowa. Tradisi yang menjadi kebiasaan masyarakat tersebut awalnya hanya boleh dilakukan oleh para prajurit ketika ingin berperang. Hal tersebut dilakukan berfungsi sebagai bentuk setia ataupun sumpah janji mereka kepada rajanya. Akan tetapi, kebiasaan yang sering dipraktekkan mereka kini mengalami pergeseran budaya.

Angngaru memiliki esensi yang sama, yaitu sebuah peristiwa sumpah.

Angngaru menurut Latief (2000) merupakan suatu peristiwa bersumpah yang dilakukan oleh suatu pria yang sambiol memegang keris atau senjata lainnya dan umumnya bersumpah dihadapan orang banyak atau Raja. Angngaru dilaksanakan pada upacara pelantikan Raja, peperangan, perkawinan Raja, ataupun upacara lainnya.

Berdasarkan wawancara langsung dengan salah satu praktisi Angngaru sekaligus budayawan Kabupaten Gowa Syafruddin Dg. Tutu (2019) Angngaru merupakan suatu bentuk ikrar kesetiaan terhadap Raja Gowa yang sifatnya sangat sakral. Tradisi tersebut merupakan tradisi yang disaksikan oleh Tumanurung Baineya seorang putri yang turun dari kayangan saat diangkat menjadi Raja Gowa yang pertama oleh kesembilan federasi kerajaan yang atau disebut dengan Kasuwiyang Salapang. Tradisi Angngaru dapat dikatakan sebagai salah satu ritual tertua dalam lingkungan Kerajaan Gowa.

Hal tersebut menjadi signifikan dari Hamid Abdullah (1985) yang

mengatakan bahwa tradisi Angngaru merupakan tradisi tertua yang ada di Kerajaan Gowa karena disaksikan langsung oleh Tumanurung Baineya.

Angngaru ini memiliki banyak makna-makna di dalamnya. Makna petanda salah satunya berasal dari kalimat

“Nakareppekangi sallang karaeng pangngulu ri barugayya, nakatepokangi sallang karaeng pasorang attangnga parang(Akan memecahkan kelak hulu keris di arena, akan mematahkan kelak gagang tombak di tengah gelanggang)”

Artinya

Petanda bahwa seseorang yang menjadikan dirinya sebagai tameng dalam melindungi Karaeng (Raja) yang siap bertarung demi keselamatan, melalui tradisi yang bertujuan memecahkan masalah di dalam sebuah arena pertarungan.

Pada kutipan tersebut memberikan petanda bahwa seseorang yang menjadikan dirinya sebagai tameng dalam melindungi Raja yang siap bertarung demi keselamatan melalui tradisi yang bertujuan memecahkan di dalam sebuah arena pertarungan. Selain itu, petanda yang terdapat dalam kalimat Angngaru ini memberikan banyak pelajaran-pelajaran suku yang bisa di petik maksudnya.

Seperti yang telah di paparkan oleh pihak narasumber makna-makna yang terkandung dalam angngaru yakni kita harus bersikap loyal, amanah, patriot dan bertanggung jawab. Amanat itulah yang tertanam dalam setiap kalimat angngaru. Menurut narasumber, masyarakat beberapa sulit memaknai

petanda atau penanda yang ada didalam angngaru. Dengan mengetahui petanda dan penanda dalam angngaru dapat lebih dengan serius jika mempraktikan angngaru.

45 BAB IV PENUTUP A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan yakni makna-makna yang terkandung dalam angngaru yakni kita harus bersikap loyal, amanah, patriot dan bertanggung jawab. Amanat itulah yang tertanam dalam setiap kalimat angngaru. Menurut narasumber, masyarakat beberapa sulit memaknai petanda atau penanda yang ada didalam angngaru. Dengan mengetahui petanda dan penanda dalam angngaru dapat lebih dengan serius jika mempraktikan angngaru.

Angngaru juga memberikan banyak penanda ataupun petanda-petanda kepada tiap-tiap yang menolaknya.

B. Saran

Jika dilihat dari uraian di atas, maka peneliti memberikan saran-saran yang semoga dapat membangun yakni sebagai berikut.

1. Penelitiannya dapat dijadikan sebuah acunnya khususnya para mahasiswa. Khususnya dibidang linguistik budaya.

2. Dapat dijadikan referensi tambahan untuk peneliti-peneliti selanjutnya yang akan meneliti di bidang linguistik dan budaya.

3. Khusus untuk mahasiswa selanjutnya dapat mengembangkan teori-teori baru yang membahas topik kajian tersebut’

DAFTAR PUSTAKA

Adat, P. (n.d.). Nilai Karakter Dalam Parno Adat Pernikahan Di Kecamatan Siulak Kabupaten Kerinci. Diakses pada tanggal 4 agustus 2021, pukul 12.32 WIB.

Alit Kumala, D. (2010). Semiotika, bagian I. Artikel Bulan Oktober, 10, 1.

Diakses pada tanggal 4 agustus 2021, Pukul 19.12 WIB

Anis Diah, S. W. (2019). Analisis Semiotika Pada Novel Jantera Bianglala Karya Ahmad Tohari Dan Implikasinya Dalam Pembelajaran Sastra Indonesia Di SMA.

Universitas Pancasakti Tegal. Diakses pada tanggal 10 agustus 2021, pukul 13.37 WIB.

Atmawijaya, F. (n.d.). Kritik Pada Pelaku Tindak Pidana Korupsi Melalui Lagu (Analisis Semiotika Ferdinand de saussure pada Lagu Vonis Simponi).

Universitas Bengkulu. Diakses pada tanggal 7 agustus 2021, pukul 17.47 WIB.

Chaniago, P. (2020). Representasi Pendidikan Karakter dalam Film Surau dan Silek (Analisis Semiotik Ferdinand De Saussure). Journal Of Islamic Education Policy, 4(2). Diakses padda tanggal 21 agustus 2021, pukul 21.29 WIB.

Daud, W., Arifin, S., & Dahlan, D. (2018). Analisis Tuturan Tradisi Upacara Ladung Bio’Suku Dayak Kenyah Lepo’Tau Di Desa Nawang Baru Kecamatan Kayan Hulu Kabupaten Malinau: Kajian Folklor. Ilmu Budaya:

Jurnal Bahasa, Sastra, Seni Dan Budaya, 2(2), 167–174. Diakses tanggal 16 agustus 2021, pukul 23.47 WIB.

Febriana, H. (2014). Kajian Folklor Tradisi Nglamar Mayit di Desa Sawangan, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen. Pend. Bhs Jawa. Diakses tanggal 2 september 2021, pukul 18.47 WIB.

Fitriyah, N. (2019). Penerapan Metode Dongeng Dan Media Papan Flanel Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Tema 8 Materi “Menentukan Tokoh Cerita Fiksi” Pada Siswa Kelas Iv Mi Darussalam Sumowono Kabupaten Semarang Tahun Pelajaran 2018/2019. Iain Salatiga. Diakses tanggal 7 september 2021, pukul 22.54 WIB.

Harjito, H. (2007). Potret Sastra Indonesia. IKIP PGRI Semarang Press. Diakses tanggal 4 seotember 2021, pukul 11.26 WIB.

Jannah, L. N. (2019). Makna Perdamaian Pada Lagu Deen Assalam Yang Dipopulerkan Oleh Sabyan Gambus (Analisis Semiotika Ferdinand De

Saussure). IAIN Purwokerto. Diakses tanggal 20 september 2021, pukul 08.39 WIB.

Jatiyasa, I. W. (2014). Eksistensi Folklor di Bali. Lampuhyang, 5(1), 61–76.

Diakses tanggal 20 september 2021, pukul 12.02 WIB.

Kurniawan, F. (n.d.). Tradisi Angngaru Tubarani Gowa: Dari Ritual Menjadi Pertunjukan Populer. Pangadereng, 6(1), 47–56. Diakses tanggal 22 agustus 2021, pukul 19.40 WIB.

Lukman, F. (2015). Pendekatan Semiotika dan Penerapannya dalam Teori Asma’Al-Qur’an. Religia, 207–226. Diakses 29 agustus 2021, pukul 13.44 WIB.

Maharani, P., Suhendi, D., & Ansori, A. (2020). Hibriditas Dan Ambibelansi Dalam Kumpulan Cerpen Semua Untuk Hindia Dan Teh Dan Pengkhianat Karya Iksaka Banu: Kajian Sastra Postkolonialisme Dan Implikasi Dalam Pembelajaran Sastra. Sriwijaya University. Diakses 5 september 2021, pukul 18.33 WIB.

Nugraha, R. P. (2016). Konstruksi Nilai-Nilai Nasionalisme Dalam Lirik Lagu (Analisis Semiotika Ferdinand De Saussure Pada Lirik Lagu “Bendera”). Jurnal Ilmu Ekonomi Dan Sosial, 5(3), 290–303. Diakses 30 agustus 2021, pukul 12.33 WIB.

Pamungkas, K. S., & Sartika, N. (n.d.). Nilai-Nilai Agama Dalam Novel Mahamimpi Anak Negeri. Diakses 5 september 2021, pukul 15.43 WIB.

Perempuan, P., & El Saadawi, K. N. (N.D.). Analisis Deiksis Pada Novel

“Catatan Dari. Diakses tanggal 16 september 2021, pukul 14.07 WIB.

Rahman, G. (2020). Dampak sedekah bagi perkembangan usaha (studi kasus donatur Panti Asuhan Darul Amin Palangka Raya). IAIN Palangka Raya.

Diakses tanggal 4 september 2021, pukul 17.55 WIB.

Rahmawati, F. Y. (2020). Pembelajaran menulis slogan dengan menggunakan media gambar siswa kelas VIII SMP Negeri 10 Malang tahun pelajaran 2008/2009. SKRIPSI Mahasiswa UM. Diakses tannga 20 september 2021, pukul 23.05 WIB.

Ratih, K., Novi, A., & Titik, M. (2014). Realitas sosial dan representasi fiksimini dalam tinjauan sosiologi sastra. Publika Budaya, 2(1), 50–57. Diakses tanggal 9 september 2021, pukul 22.43 WIB.

Rosyida, S., Munzil, M., & Joharmawan, R. (2017). Pengaruh penggunaan media audio visual dalam pembelajaran problem posing terhadap motivasi dan hasil belajar larutan penyangga. J-PEK (Jurnal Pembelajaran Kimia), 2(1), 41–52.

Diakses tanggal 23 agustus 2021, pukul 21.45 WIB.

Sawitri, Y. S. (2009). Rasisme dalam film crash (analisis semiotik tentang representasi rasisme di negara multi ras dalam film crash). Diakses tanggal 14 september 2021, pukul 20.39 WIB.

Subakti, H. (2018). Pengembangan Bahan Ajar Menulis Slogan Dan Poster Dengan Pendekatan Proses Siswa Kelas Viii Smp Syaichona Cholil Samarinda. Jurnal Pendas Mahakam, 3(2), 85–97. Diakses tanggal 3 september 2021, pukul 14.20 WIB.

Sujono, T. A., Suhendi, A., & Yen, K. H. (2014). Antioxidant activity and chemical constituents of some indonesian fruit peels. Medicinal Plants-International Journal of Phytomedicines and Related Industries, 6(1), 43–46.

Diakses tanggal 4 september 2021, pukul 13.22 WIB.

Sulistiyono, E. (2013). Kajian Folklor Upacara Adat Mertitani Di Dusun Mandang Desa Sucen Kecamatan Gemawang Kabupaten Temaggung.

Yogyakarta: Skripsi Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa Fakultas Bahasa. Diakses tanggal 15 september 2021, pukul 17.40 WIB.

Yogyakarta: Skripsi Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa Fakultas Bahasa. Diakses tanggal 15 september 2021, pukul 17.40 WIB.

Dokumen terkait