• Tidak ada hasil yang ditemukan

Adapun manfaat penelitian ini terbagi menjadi dua yaitu, manfaat teoritis dan manfaat praktis:

1. Manfaat Teoritis

Dalam menganalisis Tradisi Angngaru dengan pendekatan “Semiotika Ferdinan de Saussure” diharapkan mampu memberikan ilmu pengetahuan sebagai disiplin ilmu pengetahuan.

2. Manfaat Praktis

Adapun manfaat praktis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Bagi masyarakat, diharapkan mampu membantu dalam mengungkapkan makna Angngaru.

b. Bagi masyarakat dan dosen, diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan informasi terkhusus program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra

Indonesia, Universitas Muhammadiyah Makassar.

c. Bagi peneliti lain, diharapkan mampu memberikan pemahaman tentang nilai-nilai yang terkandung dalam Tradisi Angngaru sebagai referensi selanjutnya.

6 BAB II PEMBAHASAN A. Kajian Pustaka

1. Penelitian Relevan

Beberapa penelitian yang relevan dengan topik penelitian penulis, di antaranya penelitian yang dilakukan oleh Fani Atmawijaya pada tahun pada tahun 2016 dalam jurnal yang berjudul Kritik Pada Pelaku Tindak Pidana Korupsi Melalui Lagu (Analisis Semiotika Ferdinand de saussure pada Lagu Vonis Simponi). Hasil penelitian mengungkapkan Analisis Semiotika Kritik Pada Pelaku Tindak Pidana Korupsi Melalui Lagu “Vonis” Karya Simponi (Kajian Semiotika Ferdinand de Saussure. Hasil dari penelitian ini dari lirik lagu Vonis Simponi memiliki makna yang saling berkaitan mengandung pesan Kritik. Kritik yang terkandung dalam lirik lagu Vonis Simponi sangat kuat, karena di dalamnya terdapat kata-kata yang sifatnya sangat gamblang menyampaikan betapa buruknya dampak dari praktek korupsi dalam bidang apapun, dan pada akhirnya dapat merugikan banyak orang. Perbedaan yang terdapat dengan penelitian yang dilakukan penulis adalah objek kajiannya, Fani Atmawijaya mengangkat sebuah lagu karya Simponi berjudul Vonis Simponi kemudian peneliti mengangkat kebudayaan Angngaru sebagai objek kajiannya. Kemudian persamaan dalam penelitian ini adalah kajian teori semiotika oleh Ferdinan de Saussure.

Penelitian yang relevan selanjutnya dilakukan oleh Rahmadiyah Putra Nagraha tahun 2016 dalam jurnal yang berjudul Konstruksi Nilai-nilai Nasionalisme dalam Lirik Lagu (Analisis Semiotika Ferdinand De Saussure pada Lirik Lagu “Bendera”). Hasil dari penelitian ini dalam sebuah lirik lagu pasti memiliki sebuah pesan yang ingin disampaikan oleh penciptanya dan penyanyinya yang kemudian memiliki kesesuaian makna antara lirik lagu dengan dengan realitasnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan analisis semiotik dari Ferdinand de Saussure dimana objek yang digunakan adalah sebuah lirik lagu yang dianalisis setiap baris dalam bait-baitnya. Perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan penulis adalah Putra Nugraha melakukan tahapan analisis menentukan tanda (sign) dari lirik lagu sebagai objek penelitiannya sedangkan penulis menganalisis tanda dan penanda pada naskah Angngaru.

Selain itu, penelitian yang terkait dilakukan oleh Putra Chaniago pada tahun 2016 dalam jurnal yang berjudul Representasi Pendidikan Karakter dalam Film Surau dan Silek (Analisis Semiotik Ferdunand de Saussure). Hasil dari penelitian tersebut membahas tentang nilai-nilai pendidikan karakter dalam ranah komunikasi Islam pada Film Surau dan Silek. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode analisis semiotika Ferdinan de Saussure. Dalam metodenya ia mengembangkan dua sistem yaitu penanda, pertanda serta makna yang terkandung dan yang ingin disampaikan di dalamnya. Terdapat perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian yang diangkat penulis yaitu Putra

Chaniago membahas tentang nilai Pendidikan karakter dalam ranah komunikasi islam pada suatu film sedangkan penulis menjadikan sebuah kebudayaan dari suku Makassar yang kemudian akan dianalisis berdasarkan kajian teori Semiotika.

Terkait penelitian analisis Semiotik Lilis Nikmatul Jannah juga melakukan penelitian yang sama pada tahun 2019 dalam jurnal berjudul Makna Perdamaian Pada Lagu Deen Assalam Yang Dipopulerkan Oleh Sabyan Gambus (Analisis Semiotika Ferdinand De Saussure). Hasil penelitian tersebut berisi tentang makna perdamaian yang terdapat di dalam lirik lagu Deen Assalam. Analisis yang digunakan dalam meneliti makna di balik lirik lagu menggunakan semiotika Ferdinand de Saussure. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna perdamaian dibalik lirik lagu Deen Assalam yaitu menanamkan sikap toleransi kepada sesama, dengan perasaan cinta, perilaku yang mulia, tutur kata yang baik, saling hormat-menghormati, dan menyebarkan kepada masyarakat luas bahwa Islam cinta perdamaian. Sama dengan beberapa penelitian relevan diatas, Lilis Nikmatul Jannah juga mengangkat sebuah judul lagu sebagai objek kajiannya, tentu berbeda dengan objek kajian yang dianalisis oleh penulis yaitu kebudayaan.

Penelitian selanjutnya telah dilakukan oleh Nadia Inda Syartanti pada tahun 2020 dalam jurnal yang berjudul Covid-19 dalam meme: Satire di tengah pandemi (Kajian semiotika Ferdinand de Saussure). Hasil penelitian tersebut yaitu mengungkapkan maksud atau makna tersirat yang

terkandung pada meme terkait Covid-19 melalui pemaknaan tanda dengan pendekatan semiotika Ferdinand de Saussure. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari empat jenis klasifikasi tanda pada meme berkaitan Covid-19 terdapat dua jenis klasifikasi tanda yang ditemukan dalam media internet, yaitu visual sign dan written sign, serta ditemukan juga gabungan dari kedua jenis klasifikasi tanda tersebut, yaitu written visual sign.

Berdasarkan uraian lima penelitian relevan tersebut, perbedaan mendasar dengan penelitian ini adalah objek kajian budaya yang ada pada penelitian ini. Budaya atau tradisi yang dimaksud adalah angngaru. Dengan menggunakaan teori semiotika Ferdinand de Saussure dengan konsep metode penanda dan petanda diharapkan dapat mendeskripsikan makn angngaru sesuai dengan tradisi yang ada pada suku Makassar.

2. Teori Sastra a. Pengertian satra

Sastra berisi kehidupan yang telah diwarnai dengan sikap penulis. Karya sastra mengandung suatu kebenaran yang berbentuk keyakinan dan kebenaran indrawi. Karya sastra bersifat imajinatif menurut Wellek (Badrum Ahmad, 1983:17). Sastra adalah suatu hasil karya seni yang muncul dari imajinatif atau rekaan para sastrawan (Suhendi, 2014: 6).

Sastra berasal dari kata sas (ajaran) dan tra (alat). Sastra adalah alat untuk memberikan ajaran filsafat hidup (Endraswara, 2012:5). Membaca karya sastra berarti ibaratkan berusaha menyelami diri pengarang (Sastrawan). Hal ini tentu

bergantung pada kemampuan mengartikan makna kalimat serta ungkapan dalam karya sastra itu sendiri. Meski menempatkan diri sebagai sastrawan yang menciptakan karya sastra tersebut. Jadi dituntut adanya hubungan timbal balik antara seorang pencipta dan penikmatnya. Sehubungan dengan konsep itu, seorang bertindak menjadi pribadi sastrawan.

Dengan cara itu dengan mudah membayangkan kembali situasi yang melatarbelakangi penciptaan serta bisa merasakan, menghayati, dan mencerna kata demi kata Bahasa karya sastra itu. Penghayatan karya sastra merupakan suatu usaha menghidupkan pengalaman itu melalui karyanya. Sastra dapat dibahas berdasarkan dua hal, yaitu bentuk dan isi.

Ditinjau dari bentuk, sastra adalah karangan fiksi dan non fiksi. Apabila dikaji melalui bentuk atau cara pengungkapannya, sastra dapat dianalisis melalui genre sastra itu sendiri, yaitu puisi, novel, dan drama. Karya sastra juga digunakan pengarang untuk menyampaikan pikirannya tentang sesuatu yang ada dalam realitas yang duhadapinya. Realitas ini adalah adalah salah satu faktor penyebab pengarang penciptakan karya disamping unsur imajinasi.

Ada tiga aspek dalam karya sastra yaitu keindahan, kejujuran, dan kebenaran. Jika karya sastra yang meengorbankan salah satu aspek ini maka sastra bernilai estetika. Pengarang ataupun sastrawan itu ingin agar pembacanya dapat merasakan apa yang dirasakan. Mengundang para pembaca dan penikmat memasuki dunia nyata maupun dunia imajinatifnya, yang diperoleh dari pengalaman dari indra. Dituang, dilampiaskan dalam bentuk karya sastra dan didalamnya menggambarkan keserasian antara bentuk dan isi.

Karya sastra menarik dan disukai pembaca jika terungkap nilai, estetika dan nilai moral.

b. Jenis Karya Sastra 1) Puisi

Puisi adalah olahan pikiran, kehadiran puisi dalam menyampaikan pesan kepada orang lain untuk diberi makna sangat berdampak. Buktinya adalah ketika seseorang sedang sedih, sedang jatuh cinta dan lain sebagainya. Orang yang kaya dengan imajinasi tentu puisi adalah alatnya.

Dalam puisi terkadang mengandung beberapa unsur ekstrensik berikut aspek Pendidikan, aspek social budaya, aspek sosial masyarakat, aspek politik, aspek ekonomi, aspek adat dan sebagainya. Puisi termasuk salah satu bentuk karya sastra. Karya sastra merupakan bentuk komunikasi antara sastrawan dengan pembacanya.

2) Cerpen

Cerita pendek (cerpen) merupakan sebuah bentuk karya sastra berupa prosa naratif yang bersifat fiktif. Isinya tidak lebih dari 10.000 kata. Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adaalah suatu bentuk prosa negative fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih Panjang seperti novella (dalam pengertian modern) dan novel. Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, Bahasa dan insight secara lebih luas

dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Ceritanya bisa dalam berbagai jenis.

Cerita pendek berasal dari anekdot sebuah situasi yang digambarkan singkat yang dengan cepat tiba pada tujuan, dengan pararel pada tradisi penceritaan lisan. Dengan munculnya novel yang realistis, cerita pendek berkembang sebagai sebuah miniatur, dengan contoh-contoh dalam cerita karya E. T. A. Hoffmann dan Anton Chekhov.

3) Novel

Novel merupakan suatu bentuk sastra yang sangat populer di dunia.

Bentuk satra yang satu ini paling banyak beredar dan dicetak karena daya komunitasnya yang sangat luas di dalam masyarakat (Drs. Jakob Sumardjo).

Novel merupakan suatu bentuk karya sastra yang berbentuk prosa yang memiliki unsur intrinsik dan ekstrinsik. Kata novel berasal dari Bahasa Itali yaitu “novella” yang berarti kisah atau cerita. Penulis yang menulis sebuah novel disebut sebagai novelis. Isi novel lebih Panjang dan lebih kompleks dari isi cerpen, serta tidak mempunyai Batasan struktural akan sajak.

Sebuah novel menceritakan atau menggambarkan tentang kehidupan manusia yang berinteraksi dengan lingkungan dan juga sesamanya. Sebuah novel, biasanya pengarang berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan arahan kepada pembaca untuk mengetahui

pesan tersembunyi seperti gambaran realita kehidupan melalui sebuah cerita yang terkandung di dalam novel tersebut.

4) Prosa dan Monolog

Prosa adalah karya sastra yang disusun dalam bentuk cerita atau narasi. Prosa pada umumnya merupakan cangkokan dari bentuk monolog dengan dialog. Karena itu, prosa disebut juga dengan teks pencakokan.

Teks pencakokan itu adalah pencerita (pengarang) mencengkokan pikirannya kedalam pikiran-pikiran took sehingga timbullah dialog diantara tokoh-tokohnya itu.

Monolog adalah orang yang sedang berbicara dengan dirinya sendiri. Percakapan monolog bisa dilakukan seorang tokoh dengan dirinya sendiri di dalam hati yang berbunyi. Monolog merupakan ilmu terapan yang mempelajari tentang seni peran. Untuk melakukan adegan monolog, dibutuhkan sesorang yang punya kemampuan dialog bisu.

Monolog adalah percakapan seorang pemain dengan dirinya sendiri. Apa yang diucapkan itu tidak ditunjukkan kepada orang lain.

c. Aliran Sastra

Kata mashab atau aliran berhasal dari kata stroming (dalam Belanda) yang mulai muncul di Indonesia pada zaman Pujangga Baru. Kata itu bermakna keyakinan yang dianut golongan-golongan pengaranng yang sepaham, ditimbulkan karena menentang paham-paham lama (hadimadja, 1972:9). Aliran sastra pada dasarnya berupaya menggambarkan priinsip-prinsip (pandangan hidup, politik dll) yang dianut sastrawan dalam

menghasilkan karya sastra. Dengan kata lain, Aliran sangat erat dengan sikap dan jiwa pengarang dan objek yang dikemukakan dalam karaangannya. Pada prinsipnya, Aliran sastra dibedakan menjadi beberapa bagian, yaitu:

1) Realisme

Aliran sastra ini merupakan sastra yang melukiskan keadaan/peristiwa sesuai dengan kenyataan apa adanya. Pengarang tidak menambah ataupun mengurangi suatu kejadian yang dilihatnya secara positif dan yang diuraikan baik-baik saja.

2) Naturalisme

Aliran sastra ini melukiskan sesuatu secara apa adanya yang dijiwai adalah hal-hal yang kurang baik.

3) Neonaturalisme

Merupakan aliran baru dari aliran naturalism. Aliran ini tidaak hanyaa mengungkapkan sisi jelek,namunjuga memandang sesuatu dari sudut yang baik pula.

4) Ekspresionisme

Ekspresionisme adalah aliran dalam sastra yang menekankan pada perasaan jiwa pemerannya.

5) Impresionisme

Impresionisme adalah aliran dalam sastra yang menekankan pada kesan sepintas tentang suatu peristiwa, kejadian atau benda yang

ditemui atau dilihat pengarang. Dalam hal tersebut, engarang mengambil hal-hal yang penting-penting saja.

6) Determinisme

Determinisme adalah aliran dalam sastra yang melukiskan suatu peristiwa atau kejadian dari sisi jeleknya saja. Biasanya menyoroti pada ketidakadilan, penyelewengan dan lain-lain yang dianggap kurang baik pengarang.

7) Surealisme

Surealisme adalah liran dalam sastra yang melukiskan sesuatu secara berlebihan sehingga sulit dipahami oleh penikmat atau pembaca.

8) Idealisme.

Idealisme adalah aliran dalam sastra yang selalu melukiskan cita-cita, gagasan, atau pendirian engarangnya.

9) Simbolisme

Simbiolisme adalah aliran sastra yang menampilkan simbol-simbol (isyarat) dalam karyanya. Hal ini dilakukan pengarang untuk mengelabui maksud yang sesungguhnya.

10) Romantisme

Romantisme adalah aliran dalam sastra yang selalu melukiskan sesuatunya secara sentimentil penuh perasaan.

11) Psikologisme

Psikologisme adalah aliran dalam sastra yang selalu menekankan pada aspek-aspek kejiwaan.

12) Simiotika

Simiotika mengajarkan kita menyadari bahwa kita pernah berhadapan langsung dengan realitas, yang datang kepada kita melalui bantuan tanda, tanda mengentarai kita dan realitas. Peran tanda begitu penting bagi siapapun untuk menyadari peran tanda sebagai medium.

Berdasarkan 12 (dua belas) peneliti menggunakan aliran simiotika untuk mengkaji tradisi angngaru yang dimiliki suku Makassar.

d. Folklor

Folklor merupakan sebuah gambaran kebudayaan yang bersifat kolektif. Oleh karena itu, penyebaran folklor hanya diwariskan secara turun-temurun dalam suatu komunitas tertentu.

Berdasarkan empat uraian tersebut, peneliti memfokuskan kajiannya terhadap folklor yang sesuai dengan tradisi angngaru yang ada pada suku Makassar

3. Folklor

Alan Dundes (Danandjaja, 1986 : 1) berpendapat bahwa Folk adalah sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal sosial fisik dan kebudayaan sehingga dibedakan kelompok-kelompok lainnya. Ciri-ciri pengenal itu antara lain dapat terwujud warna kulit yang sama,

bentuk rambut yang sama, taraf pendidikan yang sama, mata pencaharian yang sama, bahsa yang sama, dan agama yang sama. Lebih penting adalah mereka telah memiliki suatu tradisi yakni kebudayaan yang telah mereka warisi turun-temurun sedikitnya dua generasi yang mereka akui sebagai milik bersama. Lore adalah tradisi Folk yaitu sebagian kebudayaannya yang diwariskan secara turun menurun secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat/alat pembantu pengingat. Definisi folklor secara keseluruhan adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan secara turun-menurun, diantara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat. Dundes (Rafiek, 2010:50) menyatakan bahwa Folk adalah sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenalan fisik, sosial, dan kebudayaan, sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya. Namun yang lebih penting lagi adalah bahwa mereka telah memiliki suatu tradisi. Sedangkan lore adalah tradisi folk, yaitu sebagai kebudayaannya yang diwariskan secara turu-temurun secara lisan. Pendapat tersebut selaras dengan (Endraswara, 2006: 58) yang menyatakan bahwa Folklor berasal dari kata folk dan lore. Folk sama artinya dengan kolektif. Folk dapat berarti rakyat dan lore artinya tradisi. Jadi folklor adalah salah satu bentuk tradisi rakyat.

Folklor merupakan sebuah gambaran kebudayaan yang bersifat kolektif. Oleh karena itu, penyebaran folklor hanya diwariskan secara turun-temurun dalam suatu komunitas tertentu. Pendapat tersebut selaras dengan Pundentia (2015) yang mengemukakan bahwa folklor merupakan produk mengenai budaya kolektif tertentu, yang diwariskan melalui lisan maupun alat bantu lisan. Pentingnya untuk memahami nilai-nilai sebuah folklor yang dalam suatu komunitas tertentu memberikan gambaran pendidikan yang terkandung dalam nilai folklor tersebut. Dimensi masa lampau yang bisa dijadikan sebagai media pembelajaran yang terbaik untuk melanbgkah di masa depan. Oleh karena itu, folklor dalam pendidikan menjadi resolusi untuk mencerminkan dan menjaga kearifan lokal.

a. bentuk-bentuk folklor

Jan Harold Burnvand (Danandjaja,1996: 21) mengelompokkan folklor menjadi tiga bagian yaitu:

1). Folklor lisan

Folklor lisan, yaitu folklor yang bentuknya memang murni lisan.

Bentuk- bentuk (genre) folklor yang termasuk kedalam kelompok besar yaitu, bahasa rakyat ungkaapan tradisional, pertanyaan tradisional, puisi rakyat, cerita prosa rakyat dan nyanyian rakyat.

2). Folklor sebagian lisan

Folklor bukan lisan yaitu folklor yang bentuknya merupakan campuran unsur lisan dan unsur bukan lisan.

3). Folklor bukan lisan

Foklor bukan lisan yaitu yang bentuknya bukan lisan, walaupun cara pembentuknya diajarkan secara lisan. Kelompok besar ini dapat dibagi menjadi dua sub kelompok, yakni yang material dan yang bukan material.

Berdasarkan ketiga jenis folklor tersebut peneliti menfokuskan kajiannya terhadap folklor sebagian lisan yang sesuai dengan tradisi angngaru yang ada pada suku Makassar.

4. Tradisi Masyarakat Suku Makassar a. Tradisi

Tradisi adalah sesuatu yang diwariskan tidak berarti harus di terima, dihargai, diasmilasi atau disimpan sampai mati. Tradisi merupakan suatu gambaran sikap dan perilaku manusia yang telah berproses dalam waktu lama dan dilakukan secara turun-temurun dimulai dari nenek moyang. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) tradisi adalah kebiasaan turun-temurun dari nenek moyang yang masih dijalankan dalam masyrakat, penilaian atau angapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan yang paling baik dan benar.

Koentjaraningrat dalam (Daud, Arifin , & D, 2018), kata tradisi berasal dari bahasa latin traditium yang berarti di teruskan dalam pengertian yang sederhana, tradisi diartikan sebagai sesuatu yang telah

di inginkan untuk sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyrakat. Dalam pengertian tradisi ini, hal yang paling mendasar dari tradisi adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun lisan oleh karena tanpa adanya ini suatu tradisi dapat penuh. selain itu tradisi juga dapat diartikan sebagai kebiasaan bersama dalam masyarakat manusia, yang secara otomatis akan mempengaruhi aksi dan reaksi dalam kehidupan sehari-hari para angota masyarakat itu.

Setiap suku bangsa tentu memiliki tradisi dan kebudayaannya masing-masing, baik dalam bentuk norma adat maupun kebiasaan yang terdapat pada masyarakat Indonesia secara umun. Salah satu tradisi unik yang hingga saat ini masih dilestarikan oleh suatu masyarakat adalah tradisi angaru’ yang ada di Kabupaten Gowa.

Tradisi yang menjadi kebiasaan masyarakat tersebut awalnya hanya boleh dilakukan oleh para prajurit ketika ingin berperang. Hal tersebut dilakukan berfungsi sebagai bentuk setia ataupun sumpah janji mereka kepada rajanya. Akan tetapi, kebiasaan yang sering dipraktekkan mereka kini mengalami pergeseran budaya.

5. Pengertian Angngaru

Angngaru memiliki esensi yang sama, yaitu sebuah peristiwa sumpah. Angngaru menurut Latief (2000) merupakan suatu peristiwa bersumpah yang dilakukan oleh suatu pria yang sambiol memegang keris atau senjata lainnya dan umumnya bersumpah dihadapan orang

banyak atau Raja. Angngaru dilaksanakan pada upacara pelantikan Raja, peperangan, perkawinan Raja, ataupun upacara lainnya.

Berdasarkan wawancara langsung dengan salah satu praktisi Angngaru sekaligus budayawan Kabupaten Gowa Syafruddin Dg.

Tutu (2019) Angngaru merupakan suatu bentuk ikrar kesetiaan terhadap Raja Gowa yang sifatnya sangat sakral. Tradisi tersebut merupakan tradisi yang disaksikan oleh Tumanurung Baineya seorang putri yang turun dari kayangan saat diangkat menjadi Raja Gowa yang pertama oleh kesembilan federasi kerajaan yang atau disebut dengan Kasuwiyang Salapang. Tradisi Angngaru dapat dikatakan sebagai salah satu ritual tertua dalam lingkungan Kerajaan Gowa. Hal tersebut menjadi signifikan dari Hamid Abdullah (1985) yang mengatakan bahwa tradisi Angngaru merupakan tradisi tertua yang ada di Kerajaan Gowa karena disaksikan langsung oleh Tumanurung Baineya.

Menurut etimologi kata Angngaru berasal dari kata dasar aru yang berarti sumpah, diberi prefiks a’/lang sebagai bentuk kata kerja yang bermakna sumpah. Angngaru adalah ikrar yang diucapkan masyarakat Gowa pada jaman dahulu di wilayah Sembilan negeri federasi (gallarrang) yang membentuk wilayah Kerajaan Gowa.

Aru yang diucapkan oleh prajurit disebut “Aru Tubarani” (sumpah pemberani). Secara konvensional, tradisi Angngaru dikenal sebagai suatu peristiwa sosial-budaya yang berada dalam masyarakat suku Makassar khususnya daerah Kabupaten Gowa. Berdasarkan catatan

sejarah, Angngaru dahulunya hanya dilakukan dalam lingkungan Kerajaan Gowa mengingat tradisi tersebut merupakan ikrar yang hanya diperuntukkan bagi Raja-Raja baru yang akan dilantik.

Setelah memahami asal usul Angngaru, peneliti dapat menyimpulkan bahwa Angngaru pada zaman dahulu merupakan prosesi sumpah kesetiaan seorang hamba pada Rajanya dan kemudian di era sekarang masyarakat umum menghadirkan Angngaru sebagai kebudayaan yang wajib ada sebagai bentuk penghormatan dan penjemputan tamu dalam acara adat maupun pernikahan.

6. Teori Simiotika

a. Pengertian Semiotik

Simiotika merupakan ilmu tentang tanda yang dapat memperjelas makna sebuah teks khususnya sastra. Makna karya sastra tertuang secara implisit yang harus dipahami secara ilmia. Kesulitan memahami makna karya sastra karena kurangnya pengetahuan tentang teori semiotika. Kata semiotika berasal dar 22ystem semion yang berarti tanda. Maka semiotika berarti ilmu tanda. Semiotika adalah cabang ilmu yang barusan dengan pengkajian tanda dan segalah sesuatu yang berhubugan dengan tanda seperti system tanda dan proses yang berlaku bagi penggunaan tanda (Zoest, 1993:1) Semiotika memiliki dua tokoh, yakni Ferdinand de Saussure (1857-1913) dan Charles Sander peirce (1839-1914). Kedua tokoh tersebut mengembangkan ilmu semiotika

Simiotika merupakan ilmu tentang tanda yang dapat memperjelas makna sebuah teks khususnya sastra. Makna karya sastra tertuang secara implisit yang harus dipahami secara ilmia. Kesulitan memahami makna karya sastra karena kurangnya pengetahuan tentang teori semiotika. Kata semiotika berasal dar 22ystem semion yang berarti tanda. Maka semiotika berarti ilmu tanda. Semiotika adalah cabang ilmu yang barusan dengan pengkajian tanda dan segalah sesuatu yang berhubugan dengan tanda seperti system tanda dan proses yang berlaku bagi penggunaan tanda (Zoest, 1993:1) Semiotika memiliki dua tokoh, yakni Ferdinand de Saussure (1857-1913) dan Charles Sander peirce (1839-1914). Kedua tokoh tersebut mengembangkan ilmu semiotika

Dokumen terkait