• Tidak ada hasil yang ditemukan

MATA KULIAH PSIKIATRI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MATA KULIAH PSIKIATRI"

Copied!
72
0
0

Teks penuh

(1)

BAHAN A'AR

MATA KULIAH PSIKIATRI

.12-t-t=oo _ll4_ x

Olefr:.

Marlina, $.P*, r+.S NrP. 132206170

*K!

t! lH.t- leqq-6ut

totb. 89 l,anr b

r

1

[y r \'';ll -

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI PADANG

TAHUN 2OO7

E a

!.

i -' t

(2)

HALAMAN JUDUL SEPATAH

KATA..

DAFTAR rsr ...

BAB 1

BAB II

DAFTAR ISI

Behavioristik...

Kognitif ...

Humanistik Eksistensial lntrapersonal

Sosiokultural (Lingkungan).

HAKIKAT PSIKIATR!

A.

Pengertian Psikiatri

B.

Kaitan antara Psikiatri dan Keabnormalan ...

C.

Kriteria Orang dengan Perilaku Sehat

PENDEKATAN.PEilDEKATAN DALAIII PSIKIATRI

A.

Pendekatan Biologis

B.

Pendekatan Psikoanalitis

1

1

1

C.

D.

E.

F.

G.

H.

Pendekatan Pendekatan Pendekatan Pendekatan Pendekatan Pendekatan

5 5 5 5 6 6 6 6

BAB

III

STRESS

A.

Pengertian

Sbes

...

B.

Faktor Penyebab Stres..

C.

Tanda-tanda Stres...

D.

Cara Praktis Meredakan Stres

7 7

I

c

I

E.

Beberapa Kasus Stres

(3)

BAB

IV

DEPRESI

A.

Pengertian Depresi...

B.

Faktor Penyebab Depresi...

C.

Tandatanda Depresi...

D.

Beberapa Kasus Depresi

BAB

V

PSIKOPAT

A.

Pengertian Psikopat

B.

Faktor Penyebab Psikopat

C.

Tanda-tanda Psikopat...

D.

Beberapa Kasus Psikopat.

BAB VI WAHATI

A.

Pengertian Waham...

B.

Faktor Penyebab Waham

C.

Tanda{anda Waham...

D.

Beberapa Kasus Waham

BAB

VII

SKIZOPHRENIA

A.

Pengertian Skizophrenia

B.

Faktor Penyebab Skizophrenia .

C.

Tanda-tanda Skizophrenia ...

D.

Pembagian Skizophrenia ...

E.

Beberapa Kasus Skizophrenia

BAB

VIII

OBSiESIF KOMPULSIF

A.

Pengertian Obsesif Kompulsif

't0 10 12 14

15 15 16 16

18 18 18 19

20 2'.!

2',1

23 24

25

B.

Faktor Penyebab Obsesif Kompulsif ... 25

]t

(4)

C.

Tanda-tanda Obsesif Kompulsif

D.

Beberapa Kasus Obsesif Kompulsif .

BAB

IX

ILUSI, DELUSI

DAil

HALUSINASI

A.

Pengertian llusi, Delusi dan Halusinasi

B.

Faktor Penyebab llusi, Delusi dan Halusinasi ...

C.

Tanda-tanda llusi, Delusi dan Halusinasi

D.

Kasus llusi, Delusi dan Halusinasi.

BAB

X

PHOBIA

A.

Pengertian Phobia...

B.

Faktor Penyebab Phobia...

C.

Tanda-tanda Phobia

D.

Jenis-jenis Phobia...

E.

Beberapa Kasus Phobia

BAB XI ANXIETY

A.

Pengertian Anxiety...

B.

Faktor Penyebab Anxiety....

C.

Tanda-tanda Anxieg ...

D.

Beberapa Kasus Anxiety...

BAB

XII

NEUROSIS

A.

Pengertian Neurosis.

B.

Faktor Penyebab Neurosis

C.

Tanda-tanda Neurosis...

D.

Beberapa Kasus Neurosis...

E.

Upaya Pencegahan Neurosis.

iii

27 26 26

27

28

29 29 30 30 31

32 33

u

36

37 28

38 38

39 40

(5)

BAB

XIII

PSIKOSOMATIS

A.

Pengertian Psikosomatis...

B.

Faktor Penyebab Psikosomatis

C.

Tanda-tanda Psikosomatis...

D.

Beberapa Kasus Psikosomatis

BAB

XIV

EKSHIBISIONIS

A.

Pengertian Ekshibisionis

B.

Faktor Penyebab Ekshibisionis ...

C.

Tanda-tanda Ekshibisionis

D.

Beberapa Kasus Ekshibisionis

BAB

XV

ABNORTIALITAS SEKSUAL

A.

PengertianAbnormalitasSeksual

B.

Jenis-jenis Abnormalitas Seksual

C.

Beberapa Kasus Abnormalitas Seksual ...

DAFTAR PUSTAKA...

SUPLEMEN.

41 4',l

42 42

43 43 44 44

46 46 58 60 6'r

IV

(6)

BAB I

HAKIKAT

PSIKIATRI

A.

Pengertian

Psikiatri

Psikiatri adalah cabang

dari

ilmu kedokteran

yang

mengkhususkan diri dalam pencegahan, diagnosa, penyembuhan,

dan

penyembuhan

bagi

orang-orang yang menderita gangguan emosi

serta

gangguan mental (Feffrey

S.

Nevid,

dkk,

2005).

Dari defenisi tersebut dapat diketahui bahwasanya kajian dari psikiabi adalah orang- orang yang menderita gangguan emosi serta gangguan mental. Orang-orang seperti

ini

biasanya diindikasikan sebagai pribadi

yang

abnormal, karena

pada

umumnya orang-orang abnormal dihinggapi gangguan mental,

selalu diliputi

banyak konflik-

konflik

batin,

jiwanya tidak stabil, tidak ada

perhatian

pada

lingkungan, terpisah hidupnya dari masyarakat, selalu gelisah dan takut serta jasmaniahnya sering sakit- sakitan (Fefftey S. Nevid, dkk, 2005).

B.

Kaitan

Antara Psikiatri

dan Keabnormalan

Dari uraian terdahulu kita telah dibahas mengenai definisi psikiatri

dan abnormalitas (keabnormalan),

dimana diantara keduanya

mempunyai hubungan

yang saling terkait satu sama lain yaitu keabnormalan (perilaku

abnormal)

merupakan objek kajian dari psikiatri, yakni dengan ilmu psikiatri kita

dapat melakukan pencegahan, mendiagnosis

serta

melakukan penyembuhan terhadap pribadi-pribadi yang abnormal, untuk bisa kembali menjadi pribadi yang sewajamya.

C. Kriteria

Orang dengan Perilaku Sehat

Jika mengkaji tentang prilaku sehat, berarti kita mengkaji pribadi yang normal, sebagaimana

yang

dikemukakan Kilander (seorang

ahli

kesehatan mental) dalam Sutardjo

A.

Wiramihardja (2005:10)

yaitu : 'Orang yang

berperilaku

sehat

sama

Bdtn A,,/ Asikidn 6f

rldhs

S.Qt

hui

1

(7)

dengan orang yang berkepribadian normal. Sementara individu yang normal adalah

orang yang memperlihatkan kematangan emosional, menerima realitas,

bisa bekerjasama dan bisa hidup bersama dengan orang lain serta memiliki filsafat hidup

yang

menjaga

dirinya ketika

komplikasi-komplikasi kehidupan sehari-harl menjadi gangguan'.

Berdasarkan kutipan tersebut secara tidak langsung sudah

tergambar

bagaimana pribadi yang normal atau sehat. Selain itu WHO juga memberikan definisi tentang normal yang menyangkut pengertian kesehatan secara menyeluruh. Sehat

menurut WHO adalah suatu keadaan fisik, mental dan

kehidupan

sosial

yang lengkap dan tidak semata-mata karena tidak adanya penyakit atau cacat atau luka (Sutarjo A. Wiramihardja, 2005 : 9).

Deskripsi

tentang

pribadi

yang

normal dengan mental

yang

sehat dilukiskan dalam safu daftar kriteria oleh Maslow and Miflemann dalam bukunya "Principles

of Abnormal

Psychology,

yang dikutip dalam Fefftey S. Nevid, dkk (2005)

sebagai berikut:

1.

Memiliki perasaan aman (sense of

secuity)

yang tepat. Dia mampu mengadakan kontak yang lancar dengan orang lain dalam bidang kerja, pergaulan (sosialisasi) dan dalam lingkungan keluarga.

2.

Memiliki penilaian di'i' (self evaluation) dan insight atau wawasan yang rasional,

juga

punya harga diri yang cukup dan tidak berlebihan. Memiliki perasaan sehat

secara moril tanpa ada

rasa-rasa berdosa,

serta

mampu menilai

tingkah

laku manusia lain yang menyimpang.

3. Memiliki spontanitas dan

emosionalitas

yang tepat. la mampu

menciptakan hubungan yang erat, kuat dan lama, seperti persahabatan, komunikasi sosial dan

relasi cinta. Dia mampu

mengekspresikan kebencian

dan kekesalan

hatinya

2 @ahdn APt asiLiai b tqdin4 S.Ad ,{-Si

(8)

tanpa

kehilangan kontrol terhadap

diri sendiri.

Memiliki empati terhadap orang

lain, bisa gembira dan tertawa. Mampu menghayati arti penderitaan

dan kebahagiaan tanpa lupa diri.

4.

Mempunyai kontak dengan realitas secara efisien.

yaitu

kontak dengan dunia fisik/materil, tanpa ada fantasi dan angan-angan yang berlebihan, baik itu dengan orang lain maupun dengan dirinya sendiri.

5. Memiliki dorongan{orongan dan nafsu jasmaniah yang sehat serta

memiliki kemampuan untuk memenuhi dan memuaskannya.

6.

Mempunyai pengetahuan diri yang cukup, antara lain bisa menghayati motif-motif hidupnya dalam

status sadar.

Menyadari natsu-nafsu

dan

hasratnya,

cita+ita

dan tujuan hidupnya yang realistis dan bisa membatasi ambisi-ambisinya dalam batas kenormalan.

7.

Mempunyai tujuan atau objek hidup yang adekuat. la mempunyai tujuan hidupnya itu dengan kemampuan sendiri, serta mempunyai keuletan untuk mencapai tujuan hidupnya.

8.

Memiliki kemampuan untuk belajar dari pengalaman hidupnya.

9.

Ada kesanggupan untuk memuaskan tuntutan-tuntutan dan kebutuhan-kebufuhan

dari

kelompok tempat

ia

berada. ra

bisa

mengikuti adat,

tata

cara

dan

norma- norma dari kelompok.

10.Ada sikap emansipasi yang sehat terhadap kelompoknya dan

terhadap

kebudayaan. Namun ia masih tetap memiliki originalitas (keaslian)

serta individualitas

yang khas dan bisa

membedakan

perbuatan baik dan

buruk.

Memiliki derajat toreransi dan apresiasi yang cukup besar terhadap kebudayaan bangsa dan terhadap perubahan-perubahan sosial yang ada.

1 1 . Ada integrasi dalam kepribadiannya.

3 qafraqldl qrsltiatti

E ,tdfin4 S.tpt gt.Si

(9)

Ada pertumbuhan dan ped(embangan jasmani dan rohani yang bulat. Mempunyai

minat

terhadap berbagai aktivitas. Mampu berkonsentrasi terhadap

satu

usaha

dan tidak ada

konllik-konflik

serius di dalam dirinya sendiri tanpa

diganggu dissosiasi terhadap lingkungan sosialnya.

Kriteria-kriteria tersebut di atas merupakan ukuran ideal. Dalam

artian, merupakan standar yang relatif tinggi sifatnya. Seorang

yang

normal itu

tidak

bisa

diharapkan memenuhi semua kriteria tersebut. Sebab pada umumnya

setiap

manusia normal pasti memiliki

kekurangan-kekurangan

dalam beberapa

segi kepribadiannya. Namun demikian

ia tetap

memiliki kesehatan mental

yang

qrkup

baik, sehingga bisa digolongkan dalam kelas normal.

Maka, apabila seseorang itu terlalu

jauh

menyimpang

dari

kriteria

di

atas dan

banyak segi-segi karakteristiknya yang tidak efisien, maka pribadi

tersebut digolongkan dalam kelompok abnormal.

4 qafratAF asiLiati b *Larfrfl4 S.at

,lsi

(10)

BAB II

PENDEKATAN.PENDEKATAN DALATYT PSIKIATRI

A. Perdekatan Biologis

Yaitu suatu

pendekatan

dalam

psikiatri

yang

memandang gangguan mental sebagai penyakit dari sistem syaraf pusat yang disebabkan oleh patologi otak. Tidak ada faktor-faktor psikologis maupun lingkungan psiko-sosial yang diyakini berperan sebagai penyebab gangguan mental. Akar dari pandangan biologis ditandai oleh tiga hal

yaitu : 1)

Patologi otak sebagai faktor penyebab,

2)

Penyebab biokimiawi atas abnormalitas, dan 3) Faktor-faktor genetik dalam abnormalitias.

B.

Pendekatan

Psikoanalitis

Pendekatan

ini

memberikan tekanan pada peranan

dorongan{orongan

dasar

yang

bersifat naluriah

dan tidak

disadari

yang

terdapat

pada

manusia umumnya,

sepedi dorongan seks, sebagai penyebab utama terjadinya perilaku,

termasuk perilaku

yang

menyimpang

atau

gangguan

jiwa.

Dalam pandangan

ini

kesehalan

mental

dipandang

sebagai kondisi yang

memungkinkan individual

mampu

untuk meredakan dan menyalurkan dorongan-dorongan dasar ini dalam batas-batas yang diajukan atau diminta masyarakat, agama dan budaya.

C.

Pendekatan

Behavioristik

Pendekatan ini menekankan pada perilaku yang terbuka serta

obyektif.

Abnormalitas dilihat sebagai adaptasi yang tidak efektif atau menyimpang sebagai hasil belajar atau respon-respon mal-adaptif dan atau kegagalan unfuk mempelajari kemampuan apa yang dibutuhkan.

D.

Pendekatan

Kognitif

5 $dfiatnitrAsiLiad

E

d1frfl4 S.@t ,1.5i

(11)

Pendekatan

ini

merupakan kelanjutan

dari

pendekatan behaviorisme, dimana pendekatan kognitif berpendapat bahwa kognisi

ialah

pikiran

dan

keyakinan yang membentuk perilaku kita maupun emosi yang kita alami.

E.

Pendekatan

Humanistik

Pendekatan ini menekankan pada

kecenderungan-kecenderungan alamiah manusia

dalam hal

pengarahan

diri yang

bertanggung

jawab dan

kepuasan diri.

Abnormalitas dilihat sebagai kegagalan untuk mengembangkan

humanitas seseorang secara penuh

atau

lengkap. Dalam pendekatan

ini ada

asumsi bahwa pada dasamya manusia mampu mencapai apa

yang

ingin

ia

capai melalui proses yang disebut aktualisasi diri.

F. PendekatanEksistensial

Pendekatan ini menekankan pada realitas primer kesadaran atau pengalaman

dan

keputusan-keputusan individual

yang

dilakukan secara sadar.

Aliran ini

yakin

bahwa manusia pada dasarnya adalah

makhluk

yang ingin eksis.

Abnormalltas dipandang sebagai kegagalan untuk eksis mencapai identitas diri yang adekuat dan cara hidup yang penuh makna (meaningful life).

G.

Pendekatan

lntrapersonal

Pendekatan ini menekankan pada pemn relasi antar pribadi dalam membentuk perkembangan

dan

perilaku individual. Abnormalitas dipandang sebagai hasil atau berasal dari relasi antar individu, gagal sebagai subyek yang membangun interaksi dengan sesamanya, sehingga kualitas pribadinya turun.

H.

Pendekatan

Sosiokultural (Lingkungan)

Pendekatan ini menekankan pada perubahan sosial dan

ketidakpastian

(uncertainty) yang terjadi di lingkungan. Setiap perubahan akan

menimbulkan ketegangan, untuk selanjutnya bisa menimbulkan masalah atau gangguan kejiwaan.

6 qofron Arr/ tPsi&ltti b rldtii4 S.Qt ,-ln.Si

(12)

BAB III STRESS

A.

Pengertian

Stress

Stress

menurut Sutardjo

A.

Wiramihardja

(2005: 44)

mendefenisikan stress sebagai suatu respon organisme unfuk menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan yang bedangsung, baik itu berupa hal-hal yang faktual. Saat itu bisa jadi juga hal-hal yang baru mungkin akan terjadi, tetapi dipersepsi secara akfual.

Selain itu A. Supratiknya dalam bukunya "Mengenal Perilaku

Abnormal"

mendefenisikan

stress

sebagai

suatu

keadaan

yang

menekan khususnya secara

psikologis, yang ter,adi pada diri individu. Dari kedua defenisi lersebut

dapat disimpulkan bahwa stress adalah: suatu keadaan yang menekan pada diri seseorang

khususnya secara psikologis sebagai respon untuk

menyesuaikan

diri

dengan tuntutan-tuntutan yang berlangsung (lingkungan).

B.

Faktor Penyebab

Stress

Beberapa faktor yang dapat menimbulkan stress :

't. Frustrasi, yang menyebabkan hilangnya harga diri, yang disebabkan

oleh

berbagai macam faktor, misalnya kegagalan dalam berbagai bldang kehidupan, kehilangan sesuatu yang berharga.

2.

Konflik nilal, yakni pertentangan antara nilai pribadi khususnya antara nilai yang

bersifat egoistis, altruistik, atau nilai-nilai destruktif misalnya, sikap acuh tak acuh terhadap sesama, dorongan mengatasi masalah, sikap jujur terhadap diri sendiri dan orang lain.

3.

Tekanan kehidupan modem, berupa persaingan di segala bidang, tuntutan yang semakin tinggi dalam hal pendidikan, irama hidup yang serba instant, dan ruang fisik yang semakin sempit.

'l 'bai&nldvwovn o) lnorafi4 ).tto- ,t.Jt

(13)

C.

Tanda-Tanda

Strcss

Seseorang

yang

mengalami

stress, dapat

dilihat

dari

tanda-tanda berikut :

1.

Sukar berkonsentrasi atau pelupa.

2.

Dalam bertindak agresif dan defensif.

3.

Mudah tersinggung, marah, dan tidak sabaran.

4.

Perasaan takut mati.

5.

Bingung.

6.

Jantung berdebar-debar dan otot-otot menjadi tegang.

7.

Gangguan tidur (insomnia).

8.

Sakit kepala, sakit perut dan diare.

9.

Perasaan bersalah.

Selain itu,

tanda-tanda

atau gejala stress dapat dilihat dari

beberapa kategori. Dalam hal ini dapat dilihat dari 3 kategori, yaitu :

1.

Stress fisik, dengan gejalanya : sakit kepala, mulut terasa kering, sulit menelan,

sakit leher, sulit berbicara, sakit pinggang, sering buang air

kecil,

tangan dan

telapak kaki berkeringat, dan lain-lain.

2. Stress emosi, dengan gejala:

mudah tersinggung,

agresif yang tidak

wajar,

kehilangan ingatan (konsenhasi), berprilaku impulsif, geisah atau

bergairah secara berlebihan, panik, dan sering menangis.

3.

Stress perilaku, dengan gejala

:

dahi suka berkerut, suka menggerak-gerakkan gigi, suka menggigit kuku,

suka

berjalan mondar-mandir,

tidak

peduli, merokok secara berlebihan, dan lain-lain.

D.

Gara Praktis

teredakan Stress

Ada 9 langkah praktis untuk meredakan stress, yaitu

I

tuIa4irrasif-i4tri 5J rlarfu4 S.at ,LSi

(14)

1.

Bangunlah lebih pagi, idealnya satu jam lebih awal dan gunakan waktu yang ada untuk menata kegiatan pada hari itu.

2.

Buat rencana kegiatan untuk hari itu.

3.

Bagilah pekerjaan dengan teman, rekan atau keluarga anda.

4.

Saat bekerja sisihkan waktu untuk istirahat, sekalipun sepuluh menit. lni berguna untuk menjernihkan pikiran dan menarik napas.

5.

Lakukan

gerakan badan, bila tak ada waktu

cobalah

berjalan kaki atau

naik tangga.

6.

Rapikan rumah dan meja kerja anda dan benda-benda yang tidak berguna.

7.

Sesekali belajar untuk santai, mendengarkan musik yang anda sukai,

jika

tidak belajarlah untuk mencintai musik.

8.

Jangan paksa diri anda menjadi manusia sempurna.

9.

Tumbuhkan sikap mudah memaafl<an dan berfikir positif.

E.

Beberapa Kasus

Stress

Johan adalah siswa kelas lll SMA. Di sekolahnya pada hari itu

akan diumumkan kelulusan siswa setelah mengikuti ujian EBTANAS. Selama perjalanan

dari

rumah

ke

sekolahnya

jantung Johan

berdebar-debar

dan

berdegup kencang, badannya

terasa

panas dingin. Sesampai

di

sekolah perasaan itu

juga tidak

bisa hilang malah bertambah parah, sampai saatnya pengumuman kelulusan dibacakan.

lmas adalah mahasiswa semester satu pada salah satu jurusan

di

Universitas Negeri

di

Padang. Setiap hari ia disibukkan dengan tugas-tugas yang diberikan oleh dosen. Karena

ia

belum terbiasa dengan keadaan seperti itu selama masih duduk

dibangku SMA, sehingga ia nampak

kewalahan,

susah tidur karena

memikirkan tugasnya. la panik dan bingung bagaimana cara menyelesaikan semua tugas-lugas itu dengan baik serta tepat pada waktunya.

9

(15)

BAB IV DEPRESI

A.

Pengertian Depresi

Depresi didefenisikan sebagai kemuraman hati (kepedihan,

kesenduan,

keburaman

perasaan)

yang

patologis sifatnya. Menurut kamus psikologi depresi dipandang dari dua sudut, yaitu :

1.

Pada orang normal, depresi merupakan keadaan kemurungan (kesedihan, patah semangat)

yang ditandai dengan

perasaan

tidak pas,

menurunnya kegiatan (aktivitas) dan pesimis menghadapi masa mendatang.

2. Pada kasus patologis, depresi merupakan

ketidakmauan

ekstrim

mereaksi

terhadap perangsang, disertai menurunnya nilai-nilai ketidakpastian,

tidak mampu dan putus asa.

Depresi biasanya terjadi saat stress yang dialami oleh seseorang tidak kunjung

reda,

depresi

yang dialami

berkorelasi dengan kejadian dramatis

yang baru

saja terjadi atau menimpa seseorang, misalnya saja kehilangan seseorang yang sangat dicintai. Depresi adalah masalah yang bisa dialami oleh siapapun di dunia ini.

Dengan demikian dapat disimpulkan bah\ira depresi adalah suatu

yang

menekan pada diri seseorang sehingga menimbulkan kepedihan,

kesenduan, keburaman perasaan serta keputusasaan di dalam dirinya.

B. Faktor

Penyebab Depresi

Sebenamya penyebab depresi dapat dilihat dari 2 faktor, yaitu:

'1. Faktor biologis, misalnya karena sakit, pengaruh hormonal, depresi

pasca- melahirkan, penurunan berat badan yang drastis.

2.

Faktor psikososial misalnya konflik individual, eksistensi, masalah kepribadian, masalah keluarga serta kehilangan sesuatu yang berharga atau yang dicintai.

10

aaiaa]larctsilia; fu,t4otin4 s.@t *t.si

(16)

BAB IV DEPRESI

A. Pengertian Depesi

Depresi didefenisikan sebagai kemuraman hati (kepedihan,

kesenduan,

keburaman

perasaan)

yang

patologis sifatnya. Menurut kamus psikologi depresi dipandang dari dua sudut, yaitu :

1.

Pada orang normal, depresi merupakan keadaan kemurungan (kesedihan, patah semangat)

yang ditandai dengan

perasaan

tidak pas,

menurunnya kegiatan (aktivitas) dan pesimis menghadapi masa mendatang.

2. Pada kasus patologis, depresi merupakan ketidakmauan ekstrim

mereaksi

terhadap perangsang, disertai menurunnya nilai-nilai ketidakpastian,

tidak mampu dan putus asa.

Oepresi biasanya terjadi saat stress yang dialami oleh seseorang tidak kunjung

reda,

depresi

yang dialami

berkorelasi

dengan

keiadian dramatis

yang baru

saja terjadi atau menimpa seseorang, misalnya saja kehilangan seseorang yang sangat dicintai. Depresi adalah masalah yang bisa dialami oleh siapapun di dunia ini.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa depresi adalah suatu

yang

menekan pada diri seseorang sehingga menimbulkan kepedihan,

kesenduan, keburaman perasaan serta keputusasaan di dalam dirinya.

B. Faktor

Penyebab Depresi

Sebenamya penyebab depresi dapat dilihat dari 2 faktor, yaitu:

1. Faktor biologis, misalnya karena sakit, pengaruh hormonal, depresi

pasca- melahirkan, penurunan berat badan yang drastis.

2.

Faktor psikososial misalnya

konfiik

individual, eksistensi, masalah kepribadian, masalah keluarga serta kehilangan sesuatu yang berharga atau yang dicintai.

11

$aiaflharAsiLiafi brtafrn4 S.et gl.Si

(17)

G.

Tanda-Tanda Depresi

Tandatanda atau gejala yang khas seGtra umum dari depresi adalah : di dalam bertindak cenderung lamban

dan pasif, daya fikir

lambat,

dan

suasana perasaan sering negatif, seperti sedih, pesimis, dan murung.

Selain

itu

tanda-tanda atau gejala depresi

ini

bisa dilihat

dari tiga

segi, yaitu segi fisik, psikis dan sosial.

'1.

Gejala Fisik

Sebagian ahli berpendapat, gejala depresi ini mempunyai rentangan dan variasi luas sesuai dengan berat

dan

ringannya depresi yang dialami oleh seseorang.

Namun secara garis besar ada beberapa gejala fisik secara umum yang mudah dideteksi, gejala ini meliputi:

a. Gangguan pola tidur (sulit tidur, atau bisa juga terlalu banyak tidur).

b. Gangguan pola makan (susah makan atau makan yang berlebihan),

c.

Gangguan berat badan,

d. Menunjukkan perilaku

yang pasif,

menyukai kegiatan yang

tidak

melibatkan orang lain seperti tidur, makan dan menonton TV,

e.

Sulit

berkonsentrasi

pada suatu hal atau pekerjaan, sehingga akan

sulit memfokuskan energi pada hal-hal prioritas. Kebanyakan yang dilakukan justru

hal-hal yang tidak efisien dan tidak berguna, seperti melamun,

ngemil, merokok yang berlebihan. Yang jelas metode kerja dari orang yang depresi ini kurang sistematis, kacau dan lamban.

f.

Kehilangan sebahagian atau seluruh motivasi kerja. Sebab, ia tidak bisa lagi menikmati dan merasakan kepuasan atas apa yang dilakukannya. la menjadi kehilangan minat

dan

motivasi untuk melakukan kegiatannya seperti semula.

Oleh karena itu keharusannya untuk tetap beraktivitas membuatrya semakin

12 (BafiaAPt asi4i&n b r,ldtii4

S.At

.Si

(18)

kehilangan

energi, mereka mudah sekali lelah padahal belum

melakukan aktivitas yang berarti.

2.

Gejala Psikis

Gejala-gejala psikis ini meliputi :

a. Hilangnya rasa percaya diri

Penyebabnya, orang yang mengalami depresi cenderung memandang segala sesuatu itu dari sisi

negalt

(negative thinking), termasuk menilai diri sendiri.

Mereka cenderung memandang

dirinya lemah, tidak

sempurna sedangkan

orang lain senang sekali

membandingkan

dirinya dengan orang lain

yang dianggap paling hebat, sukses, beruntung, dan berpengalaman dari dirinya.

b. Perasaan terbebani oleh tanggung jawab yang berat.

c.

Merasa diri tidak berguna.

a. Perasaan ini muncul karena beberapa kegagalan yang dialaminya yang mana seharusnya mereka kuasai.

d. Cenderung berpikir kematian.

e. Perasaan bersalah.

f.

Sensitif.

3.

Gejala Sosial

Masalah depresi

yang

berawal

dari diri sendiri pada akhimya

berpengaruh

pada

lingkungan

dan pekerjaan. Problem sosial yang terjadi biasanya

berkisar kepada masalah interaksi dengan rekan kerja, atasan

atau

bawahan. Masalah ini

titiak hanya

berbentuk

konflik, namun

masalah

lainnya seperti

perasaan minder,

malu, @mas jika berada diantara kelompok dan merasa tidak nyaman

untuk berkomunikasi

secara normal.

Mereka

tidak mampu untuk

bersikap

terbuka

dan secara aktif menjalin hubungan dengan lingkungan sekalipun ada kesempatan.

13 qafian,ryrr asiLiari 6f 91drii4 S.@t ,1.5i

(19)

D.

Beberapa

Kasus

Tingginya nada suara Herman (nama samaran) telah membuat sebagian staf di kantomya terhenyak. Bagaimana tidak, direktur operasional di bidang jasa angkutan

ini dikenal sebagai lelaki humoris, halus tutur bahasa dan baik hati.

Namun belakangan

sikapnya berubah drastis. la akan

mengeluarkan perkataan dengan

nada keras

kepada stafnya

yang

membuat kekeliruan.

Di kantor ia lebih

banyak mengurung

diri di ruang kerjanya. Wajahnya memang terlihat sedih, kaku,

tak

bergairah. Menurut rekannya

perubahan

sikap Herman tersebut, terkait

dengan

pemindahan posisi kerja yang akan dihadapinya. Kabamya, akibat

ketahuan memanipulasi uang kantor dan untuk calon penggantinya sudah dipersiapkan.

Endang (39) tahun yang masih berstatus lajang ini, semenjak tiga bulan terakhir menduduki posisi puncak disebuah perusahaan percetakan ini, sering meninggalkan kantor pada jam-jam sibuk. Mulanya karyawan (rekannya) berpikir kalau alasannya itu sedang jenuh. Maklum hidupnya selama ini hanya untuk bekerja dan bekerja. Lain dari itu tidak ada yang ia pedu urusi di rumah seperti suami atau anak. la sering sakit

kepala yang berkepanjangan, padahal sudah diperiksakan ke dokter

dan

mendapatkan obat. Tapi, begitu obatnya habis sakit kepalanya kembali menyerang.

14 EofraiAj AsiLidti 6J rldrfrtu, S.Ad .Si

(20)

BABV

PSIKOPAT

A.

Pengertian

Psikopat

Secara etimologis (bahasa), istilah psikopat berasal dari dua kata yaitu : psvche yang berarti jiwa, dan pathos yang berarti penyakit. Maka dari segi bahasa psikopat berarti sakit jiwa. Dalam pemahaman masyarakatpun sama halnya, seorang psikopat

dalam

pemahaman masyarakat

sering

digambarkan sebagai pembunuh berdarah dingin. Mereka tampak seperti

kaum

normal

dan

banyak berada

di

tengahtengah masyarakat. Dan sebenamya mereka ini adalah seorang psikopat.

Namun

saat

sekarang

ini istilah

psikopat

tidak hanya

berhubungan dengan

perilaku

pembunuhan

atau tindak kekerasan lain yang bersifat sadis.

Padahal

menurut Robert D. Hate, kejahatan psikopat tidak selalu tindak

kekerasan dan kejahatan yang menyengsarakan korbannya.

Orang yang berkepribadian psikopat sama sekali tidak memiliki keseimbangan moral, tidak memiliki konsistensia. Apa yang diinginkan dikerjakan. Dia tidak memiliki perasaan bersalah

dan licin sekali

berbohong

(M. Dimyati

Mahmud, 1989: 253).

Selain itu menurut Mahar Agusno seorang psikiater pada fakultas kedoKeran UGM

Yogyakarta

menyatakan

seorang

psikopat

tidak akan

merasakan

kelainan

pada dirinya,

justru

orang lain yang memandangnya sebagai seorang pengidap kelainan

jiwa.

Lantaran itu,

tak

banyak psikopat yang masuk rumah sakit. Dengan demikian

dapat diambil suatu kesimpulan bahwa psikopat adalah

ketidaksanggupan menyesuaikan diri yang mendalam dan kronis.

B. Faktor

Penyebab

Psikopat

Apa yang

men,adi penyebab

seseorang menjadi psikopat,

belumlah jelas

hingga sekarang. Tapi hipotesis ahli psikopat dunia, Robert D. Hate

menduga

15

tsainfllartPsiliatn fu,.)16&n4 S.Ad r|.Si

(21)

psikopat terjadi akibat kelainan pada

otak.

Hal

ini

didasarkan kepada pengalaman Hate pada

saat

memeriksa seorang pasien psikopat yang berusia

46 tahun.

pada

otak si pasien tersebut terbukti ditemukan kelainan. Si pasien tidak

dapat memisahkan

antara

stimulus

yang bersifat

rasional

dan yang

bersifat emosional.

Semua stimulus diolah sekaligus oleh belahan otak kiri (pusat rasio) dan otak kanan

(pusat emosi). Dugaan adanya fiaktor biologis ini juga muncul dalam

laporan Pridmore Chamber

dan MC Arthur (2005)

melaporkan

adanya

hubungan antara gejala psikopat dengan kelainan sistem senetonim, struktural dan fungsi pada otak.

G.

Tanda-Tanda

Psikopat

Seseorang yang psikopat dapat kita ketahui dengan gejala sebagai berikut:

'1.

Biasanya menimpakan kesalahan yang dibuabrya kepada orang lain.

2.

Agresif.

3.

Egois.

4.

Tidak jujur dan tidak bisa diberi kepercayaan.

5.

Tidak punya rasa malu.

6.

Anti sosial (suka menyendiri).

7.

Emosi meledak-ledak.

8.

Selalu ingin dikagumi.

D.

Beberapa

Kasus Psikopat

Di

negara Mesir, pada ribuan tahun

yang

lalu,

para

suami yang

takut

mayat

istrinya

diperlakukan

tak

senonoh

oleh

pembalseman, menyimpan

mayat

istrinya dirumah sampai benar-benar membusuk. Salah satu yang menjadi legenda adalah

@a Haroed yang membunuh istrinya, kemudian berhubungan seks

dengan mayatnya selama lebih dari tujuh tahun. Kasus yang lebih ringan adalah

:

seorang siswi SMA yang ketahuan melihat buku pada saat ulangan oleh gurunya. Akan tetapi

16 tbanot^larva4ant o7 ,n4tu14 ).tfal 'l-'),

(22)

rq/ /+tr luas - uu/ bt6

3)

'1"'\N/'

ul

dalam keadaan tersebut

ia tidak mau

mengakui perbuatannya

yang salah ifu

dan yang parahnya ia malah menuduh teman sebelahnya yang menyuruhnya membuka buku, padahal sebenamya tidak. Sebagai konsekuensi dari perbuatannya itu si guru menyuruhnya keluar kelas. Dengan santai

dan

tanpa

ada

rasa malu

dan

bersalah terpancar dari wajahnya.

17 AafiaaiyrOsilan

fu

afiaa, S.Ad-

5i

(23)

BABVI

WAHAM

A.

Pengertian Waham

Waham adalah gangguan kejiwaan yang

ada

pada

diri

seseorang dimana ia merasa dirinya

yang

paling hebat, paling

besar

(kuat) seolah-olah

tidak ada

yang lebih dari dia dan sebenamya itu tidak sesuai dengan kenyataan dirinya. Orang yang

waham tidak mampu

memperhatikan,

menimbang dan menyeleksi realita

dari khayalan-khayalan. la tidak mampu membedakan dirinya sendiri dengan dunia luar.

Sehingga tidak ada pembatasan antara fantasi dengan kenyataan.

Karena ketidakmampuan tersebut terjadilah kekacauan diantara

pengamatan,

tanggapan, dan realitas.

B.

Faktor Penyebab

Seseorang menjadi waham, dapat disebabkan oleh faktor-faktor berikut :

1

.

Kurang bisa mengontrol diri dan tidak mengenali diri sendiri

2.

Kurangnya pendekatan agama (rohani)

3. Tidak dapat

bersikap

dan

bertindak

menurut aturan serta

norma-norma yang berlaku.

4.

Mengalami gangguan dalam proses berpikir, yang bersumber pada otak.

5.

Tekanan batin dan tekanan ekonomi.

C.

Tanda-Tanda Waham

1.

Egois (mementingkan diri sendiri).

2.

Di dalam berbicara lebih banyak bohongnya daripada benarnya.

3.

Suka memuji dan memuja

diri

sendiri yang sebenamya itu tidak sesuai dengan kenyataan.

4.

Berkhayal jauh lebih dari kenyataan yang sebenamya.

lg \Dultut.^lu \nqrl.tt u) ,Lutltt4 r.ru. .fl-).

(24)

D.

Beberapa Kasus Waham

Seorang

remaja putri yang baru sala

berpisah

dengan orang tuanya

untuk menuntut

ilmu di sebuah

Universitas Negeri

di Kota

Padang. Namanya

si A,

di Padang ia kost bersama beberapa orang temannya. Pada saat makan malam semua

anak kost makan

terpisah-pisah

(masak sendiri). Pada saat akan makan si

A

bercerita kepada

teman-temannya

kalau

biasanya

di

kampungnya

dulu ia

kalau makan

sering yang

enak-€nak

seperti ayam dan daging. Dan

katanya

lagi

yang paling sering ia makan ayam. lbunya paling sering masak itu. Mendengar itu teman- temannya

hanya

mengiya-iyakan

saja.

Mereka seolah-olah

tidak percaya

karena mereka mengukur perkataan si

A

tadi dengan kebiasaan sehari-harinya yang biasa- biasa saja seperti orang kebanyakan. Sebenarnya apa yang dikatakan si A tadi tidak sepenuhnya benar dan banyak yang bertentangan dengan kenyataan.

Kasus lain adalah, di sebuah SMA diadakan pentas seni yang dapat diikuti oleh seluruh siswa kelas

I

hingga kelas

lll.

Acara ini sangat bagus dan dipuji oleh pihak sekolah karena

telah

dilaksanakan dengan baik,

tertib dan aman.

Kepala sekolah mengucapkan terimakasih yang sebesar-besamya kepada semua panitia pelaksana acara tersebut. Di saat yang bersamaan Dodi berkata kepada temannya yang lain yang bukan merupakan panitia di acara tersebut, "kamu tahu tidak, acara ini sukses karena saya, sayalah yang membuat acara menjadi sebagus ini". Temannya tersebut hanya tersenyum mendengarkan perkataan

Dodi tadi, karena ia tahu

suksesnya acara ini bukan karena Dodi saja tetapi atas kerjasama tim yang solid dari panitianya.

19 aafui ljar ePsi{iatri 5f gfotEnq S.At ,1.5i

(25)

BABVII

SKIZOPHRENIA

A.

Pengertian

Skizophrenia

lstilah Schizofrenia berasal

dari

kata Schizo

yang

berarti terbelah

dan

Phren yang berarti jiwa. Jika digabung berarti

'liwa

yang terbelah". lstilah ini diberikan oleh Eugen Bleuler seorang Psikiatris Jerman. Bleuler menekankan bahwa kondisi jiwa yang

terpeeh

itu umum sekali terlihat pada penyakit ini. Bleuler menjelaskan bahwa

antara tingkah laku dan emosi

penderitanya

tidak ada kesesuaian (M.

Dimyati Mahmud, 1989: 270).

Pada penderita Skhizofrenia

ada

desintegrasi pribadi

dan

kepecanan pribadi.

Tingkah laku emosional dan intelektualnya

jadi

ambigious (majemuk). Dia melarikan diri

dari

kenyataan hidup

dan

berdiam dalam dunia fantasinya. Perasaannya selalu tidak cocok, mengalami gangguan intelektual berat, sehingga pikirannya melompat- lompat tanpa arah. (Feffrey S. Nevid, dkk, 2005).

Skhizofrenia

menurut kamus psikologi,

merupakan

reaksi psikotis,

dicirikan dengan pengunduran atau pengurungan

diri,

gangguan pada kehidupan emosional

dan efeklif dan

bergantung

pada tipe dan adanya

halusinasi,

delusi tingkah

laku negativisme dan kemunduran atiau kerusakan yang progresif.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa skhizofienia adalah kondisi psikotis

di dalam diri seseorang dengan gangguan disintegrasi, depersonalisasi

dan

kebelahan atau kepecahan shuktur

kepribadian,

serta regresi aku yang

parah (Kartini Kartono, 1986: 259).

20 tufranAitr.PsiLiad 6f rlar&g S.Qt

rlsi

(26)

B. Faktor

Penyebab

Skizophrenia

Sebab-sebab Skhizofrenia adalah :

1

.

Lebih

dari

separuh

jumlah

penderita schizofrenia mempunyai keluarga psikotis (sakit jiwa atau mental).

2. Tipe kepribadian yang schizothym (dengan jiwa yang cenderung

menjadi

schizofren) dan bentuk jasmaniah asthenis (tidak berdaya atau

bertenaga), mempunyai kecenderungan kuat menjadi schizofren.

3.

Sebab-sebab organis :

a.

Perubahan atau kerusakan pada sistem saraf sentral.

b. Gangguan pada sistem kelenjer adrenal dan kelenjar di bawah otak.

c.

Proses klimakterik dan

gangguan{angguan

menstruasi.

4.

Sebab-sebab psikologis

a. Adanya kebiasaan-kebiasaan infantil yang buruk dan salah.

b. Konflik diantara ld, ego dan super-ego (Freud).

c.

lntegrasi kepribadiannya sangat miskin, dan ada kompleks inferior yang berat.

C.

Tanda-Tanda

Skizophrenia

1. hnda

Fisik

Gangguan

motorik

berupa

jasmani dan

ramban geraknya.

Ada tingkah

raku stereotipis, kadang-kadang

ada gerak

motorik

yang

lamban,

tidak teratur

dan kaku.

2.

Tanda Psikis

Ada beberapa tanda-tanda penting, yang menunjukkan

seseorang menderita Skizophrenia, yaitu :

a.

Apatis (dingin

perasaan),

tak ada

perhatian

terhadap apa yang terjadi

di sekitamya. Segala sesuatu dihadapi dengan acuh tak acuh dan introvert.

21

ckfraa jjarAsifuatn

fu tua$no S.Ad ht.Si

(27)

b. Banyak tenggelam

dalam

lamunan yang

jauh dari

kenyataan, sangat sukar bagi seseorang untuk memahami pikirannya.

c.

Dia menjadi jorok dan kotor. Menipislah perasaan kemesraan dan afeksinya.

d. Dihinggapi bermacam-macam angan-angan dan pikiran yang keliru, misalnya halusinasi, dan delusi yang salah.

e. Sering mengarang kata-kata

atau

istilah-istilah baru

tanpa

mengandung arti sesuafupun.

f.

Gangguan kepribadian, breakdown mental secara total. (Feffrey S. Nevid, dkk,

2005).

Selain itu ada pula gejala (tanda) dari skizophrenia ini dipandang dari dua sisi yaitu sisi positif dan sisi negatif.

1.

Gejala-gejala sisi positif :

a. Jika berlcicara tidak bisa diterima akal.

b. Halusinasi (pengalaman pancaindra tanpa rangsangan).

c.

Kekacauan alam pikiran.

d. Gaduh, gelisah, mondar-mandir.

e.

Bicara penuh semangat tapi terlalu berlebihan.

f. Pikiran penuh kecurigaan seolah-olah ada yang menghantui

atau mengikutinya.

2. Geiala{ejala

sisi negatif :

a. Alam perasaannya tumpul atau datar dan wajah tanpa ekspresi.

b. Menarik diri dan suka melamun.

c.

Miskin emosional dan pendiam.

22 <tufiaaljar <PsiNiatn fu 9vla{aw S.At hl.Si

(28)
(29)

O.

Pembagian

Skizophrenia

1. Skizophrenia Hebefrenik

Gejala umumnya :

a.

Tingkah laku kegila-gilaan, sering dihinggapi sarkasme

(sindiran tajam) dan marah yang meledakJedak.

b. Pikirannya banyak melantur, tersenyum-senyum, mukanya selalu perat perot tanpa ada satu stimulus.

c.

Bersifat kekanak-kanakan.

2. Skizophrenia Katatonik

Gejala umum skizophrenia jenis ini adalah :

a. Terjadi kekakuan pada urat-uratnya dan mengalami catalepsy, yaitu keadaan tidak sadar. Seluruh badannya menjadi kaku, tidak bisa dibengkokkan. Jika ia telah mengambil satu posisi tertentu seperti jongkok, maka dia bisa bertingkah sedemikian itu selama berjam-jam bahkan berhari-hari. Dirinya seperti dalam keadaan tidur.

b. Pola tingkah laku yang aneh-aneh yang tidak terkendalikan oleh kemauan.

c.

Ada

gejala stupor,

yaifu bisa

merasa, seperti terbius. Sikapnya negatif dan pasif, disertai delusidelusi kematian.

d. Tidak ada kontak sosial. Penderita terus menerus membisu dalam wakfu yang lama.

e.

Kadang-kadang tanpa sebab emosinya meledak-ledak dan ribut hiruk pikuk.

f.

Mengalami regresi total.

3. SkizophrcniaParanoid

Gejala umum skizophrenia jenis ini adalah:

23 <Botta tryr<Psi{tun 6J

r

afin4 S.et Xl.Si

(30)

a. Diliputi

delusi dan

halusinasi

yang terus berganti{anti

coraknya

dan

tidak teratur.

b. Sering merasa iri hati, cemburu, dan curiga.

c. Apatis dan emosinya kaku.

d. Bersikap sangat bermusuhan pada siapapun juga.

e. Sangat fanatik dan religius secara berlebihan.

f.

Bersifat hipokondris.

E.

Beberapa Kasus

Skizophrenia

WN (49 th) adalah

seorang

janda yang tidak

mempunyai

anak. la

tinggal bersama kedua orangtuanya beserta satu orang kakak perempuannya, seorang adik laki-laki serta satu orang keponakan perempuannya, WN di dalam kesehariannya ia menggunakan sepeda memakai helm, baju

yang

kumal

serta

rnembawa beberapa kantong yang digantung di stang sepedanya. WN sering bepergian tak tahu kemana (tanpa arah), perilakunya aneh serta tidak bergaul dengan orang-orang yang ada di sekitamya. Orang-orang

di

sekitar tempat tinggalnya menganggap

WN

mengalami gangguan

jiwa

turunan yaitu kakaknya yang perempuan mengalami gangguan jiwa

juga. Terkadang WN berjalan kaki sendiri, terkadang berbicara sendiri

sampai berjalan di atas sepedanya.

24 tufian AfurttsiQiatri fu Xla{a+ S.ePt 91.5i

(31)

BAB VIII

OBSESIF KOMPULSIF

A.

Pengertian

Obsesif Kompulsif

Obsesif => obsesi => adalah ide-ide atau emosi-emosi keharusan yang terus menerus melekat

dan tidak mau

hilang, sungguhpun individu

yang

bersangkutan dengan sadar berusaha keras untuk menghilangkannya. Kompulsi

->

kompulsi =>

Dorongan

yang tidak

tertahankan

atau tidak bisa

dicegah untuk melakukan suatu perbuatan

yang

merupakan keinginan

yang tidak bisa

dikontrol

dan

dikendalikan yang bertentangan dengan kemauan yang sadar sewaktu melakukannya.

Jadi

dengan demikian

Obsesif

Kompulsif

dapat

diartikan sebagai gangguan

kejiwaan dengan kekacauan psikoneurotis dengan kecemasan yang

berkaitan dengan pikiran-pikiran untuk melakukan suatu tindakan yang tak terkontrol.

Obsesi =>

ldeide

Kompulsif => Keinginan yang disertai tindakan yang tak diinginkan.

B. Faktor

Penyebab Oboesif

Kompulsif

Faktor penyebab obsesif :

1.

Menurut Freud

ialah :

karena penekanan pengalaman-pengalaman seksual di masa lampau.

2. Timbul konflik diantara

kecenderungan

untuk

melakukan

sesuatu

perbuatan

sebab didorong satu nafsu keinginan melawan ketakutan yang hebat

untuk melakukannya atau takut akan konsekuensi akibat dari perbuatan tadi. Juga ada konfiik kronis diantara elemen-elemen yang tertekan itu.

Faktor penyebab kompulsif :

'1.

Represi pengalaman lama, ada trauma mental dan trauma emosional.

25 <tufiat

fljr

<PsiN*n

E

arfrna S.a[. ,1.5i

(32)

2.

Ada konflik-konflik

antara naftu atau

keinginan-keinginan dengan ketakutan- ketakutan.

3.

Ada kebiasaan-kebiasaan tertenfu dan

id*fixed.

4.

Penggantian keinginan-keinginan yang ditekan.

C.

Tanda-Tanda Oboesif

Kompulsif

Bila diteliti penderita obsesi kompulsif itu memiliki sifat-sifat yang

serupa.

Mereka biasanya sangat rapi, dermawan dan sopan. Bersamaan dengan itu kadang- kadang mereka menunjukkan sifat yang sebaliknya yakni jorok, kikir dan kejam.

Kepribadian

begini tidak akan dapat

mengendalikan

dirinya sendiri.

Untuk

meyakinkan bahwa tidak ada impuls-impuls tedarangnya yang dilahirkan,

dia sebanyak mungkin melakukan perbuatan dengan cara

yang

ritualistis, tanggal dan

jam

merajai hidupnya. lmpuls-impuls

yang

terlarang

itu

muncul

dalam

kesadaran sebagai gagasan yang obsesif. Dengan perasaan cemas, penderita lalu melakukan perbuatan kompulsif untuk "melenyapkan" obsesi.

D.

Kasus

Obsesif

Kompulsaf

Seorang wanita berumur 30 tahun telah mengembangkan urutan tindakan rutin

yang rinci sehingga sebagian besar waktu bangunnya digunakan

unfuk melaksanakan kegiatan

tersebut. Dia tidak dapat tidur pada

malam

hari

sebelum mengecek semua pintu dan jendela secara berulang-ulang, kompor, lampu gas, dan pemanas air

juga

harus

dicek untuk

memastikan

tidak ada gas yang

merembes.

Mandi 3-4 kali

berturulturut

untuk memastikan tubuhnya sudah bersih.

26 rtufraa flfurtkiftjatn

b

%a{sq,s.tPd

ltSi

(33)

BAB IX

ILUSI, DELUSI, DAN HALUSINASI

A.

Pengertian

llusi, Ilelusi,

dan

Halusinasi

llusi adalah pengamatan yang keliru, yaitu peristiwa objektif yang diterima oleh

indera temyata ditangkap secara salah, semua sifafiya sehingga

subjek menginterpretasikan pengamatannya secara keliru. Delusi merupakan gambar tipuan

dan

pengamatan,

gambar semu atau gambar yang

memperdayai

kita

dengan kesesatan-kesesatan

yang tidak bisa

dibenarkan

dan tidak cocok dengan

pikiran serta pendapat sendiri. Sedangkan halusinasi adalah pengamatan yang sebenamya tidak ada, namun dialami sebagai suatu realitas (Feffrey S. Nevid, dkk, 2005).

B.

Faktor Penyebab

llusi,

Delusi,

dan Halusinasi

llusi disebabkan karena adanya gangguan pengamatan.

Gangguan pengamatan

yang

dimaksud

adalah

pengamatan

yang

keliru.

Selain itu

ilusi juga

disebabkan oleh adanya ketakutan-ketakutan, kecemasan, keinginan,

dan

pengharapan tertentu, seiring dengan semakin menyimpangnya

interprestasi- interprestasi.

Delusi pada umumnya ditimbulkan oleh pengalaman-pengalaman masa lampau yang diliputi oleh perasaan-perasaan berdosa dan bersalah, serta harapan-harapan yang tidak atau belum tercapai. Orang yang mengalami halusinasi dalam mendapat peristiwa-peristiwa tertentu, namun perangsang fisik

dari

peristiwa yang dialaminya

tidak ada.

Halusinasi

biasanya

berlangsung

pada

orang-orang

yang sakit

berat, terkena racun-racun tertentu (candu, alkohol, bahan narkotika) dan penderita psikosa berat.

27 \Dt4ut. /tat \rtL\utLt t 0),L4t.su1 r.\ru.,1.).

(34)

C.

Tanda-Tanda

llusi,

Delusi,

Halusinasi

Tanda-tanda ilusi adalah antara lain ketakutan, cermas, interpretasi yang salah

dari

informasi-informasi indrawi, dihinggapi waham

dan

delusi. Tanda-tanda delusi

antara lain 1) tidak dapat

membedakan

dirinya dengan lingkungan sekitdr,

2) perasaan berdosa

dan

bersalah,

3)

harapan yang tidak/belum tercapai. Seddngkan

tandalanda halusinasi antara lain 1) adanya fantasi-fantasi kecemasan, 2)

si penderita mengetahui apa

yang ia

lihat

dan

dengar bukan kenyataan,

tapi ia

sulit melepaskan diri dari belenggu tanggapan tersebut, 3) gejala psikis berupa mimpi.

Halusinasi dibedakan menurut indera orang yang mengalaminya, yaitu : '1

.

Halusinasi optis (visual) => pada pengamatan

2.

Halusinasi auditif (akustik) => pada pendengaran

3.

Halusinasi olfaktoris

->

pada pembauan

4. Halusinasipenge€pan

5.

Halusinasi haptis => pada rasa jasmaniah

D. Kasus llusi,

Delusi,

Halusinasi

1.

Kasus llusi

Bila

senja

sudah mulai menghampiri, lyem

tidak

berani

lagi

keluar rumahnya

dan

melewati kebun singkong

milik

Pak

Adit.

Baginya,

bila

malam

tiba

kebun Pak Adit itu tepatnya pada pohon pisang yang ada di pinggir kebun yang tidak terlalu luas itu ia merasa melihat pohon pisang seperti hantu yang sebenarnya tidak ada.

2.

Kasus Delusi dan Halusinasi

Seorang pasien depresif dengan

kecemasan

kronis, selalu melihat

iringan

keranda orang mati, melihat api neraka yang menyala berkobar yang

akan membakar dirinya, melihat orang yang dirobek-robek dan dianiaya, mendengar suara ancaman yang mengandung maut, dan lain sebagainya.

28

cBafui fljar tkifrtatri

b

rlarfrn4 S.ad. tu.Si

(35)

BAB X PHOBIA

A.

Pengertian Phobia

Defenisi Phobia (fobia) menurut kamus psikologi adalah suatu ketakutan yang kuat, tegar terus menerus dan inasional yang ditimbulkan oleh safu perangsang atau

situasi khusus, seperti satu ketakutan yang abnormal terhadap

tempat-tempat tertutup.

Selain itu Dimyati Mahmud (1989:239) dan bukunya "Psikologi

Suatu

Penganta/',

mendefinisikan Phobia sebagai ketakutan

yang tidak

beralasan yang dialihkan kepada obyek atau situasi

te(entu,

bukan hal-hal yang mungkin terjadi di

waktu-waktu yang akan datang. Sementara itu Kartini Kartono

(1989:112) mendefenisikan Phobia sebagai ketakutan

atau

kecemasan

yang

abnormal, tidak rasional dan tidak bisa dikontrol terhadap suafu situasi atau obyek tertentu.

Semua pbobia adalah ketakutan yang tidak beralasan, yang bertalian dengan perasaan bersalah ataupun malu, ditekan. Kemudian berubah

takut

pada sesuatu yang lain. Dengan begitu terpendamlah konflik atau frustrasi yang dialaminya.

Dengan demikian

dapat

disimpulkan

phobia adalah

ketakutan

yang

bersifat menetap terhadap situasi tertentu yang sesungguhnya menimbulkan ancaman bagi dirinya yang bagi orang lain itu bukanlah sesuatu yang menakutkan.

B. FaKor

Penyebab Phobia

Sebab-sebab phobia, sebagaimana dinyatakan Kartini Kartono (1989), yakni:

1

.

Pemah mengalami ketakutan yang hebat.

2.

Pengalaman

asli ini dibarengi oleh rasa malu dan rasa

bersalah, kemudian semuanya ditekan (repressed) untuk melupakan kejadian-kejadian tersebut.

29 tuttn nitr

NLiofi

b hlafin4

S.at,/.si

(36)

3. Jika

mengalami

stimulus yang serupa, akan timbul respons

ketakutan yang bersyarat kembali, sungguhpun peristiwa pengalaman yang asli sudah dilupakan.

Respon-respon ketakutan hebat selalu timbul kembali, sungguhpun ada usaha- usaha untuk menekan dan melenyapkan respon-respon tersebut.

C.

Tanda-Tanda Phobia

Seseorang

yang

menderita

phobia, memiliki

beberapa tanda-tanda sebagai berikut:

1.

Perasaan

takutnya intens dan

mengganggu kegiatan sehari-hari

si

penderita

apabila dihadapkan dengan situasi yang menuruhya menakutkan itu.

2. Biasanya disertai sindrom-sindrom (gejala) lain seperti gelisah,

mudah tersinggung, pusing, sakit punggung, sakit perut dan lain-lain.

D. Jenis-jenis

Phopia

Jenis phobia ini sangat banyak

sekali, sebagaimana yang terdapat dalam Kartini Kartono (1989), ada 118jenis phobia, sepuluh diantaranya adalah :

1.

Acarophobia

yaifu

ketakutan pada fungau, binatang kecir, cacing

atau

benda- benda mati seperti peniti.

2.

Acerbophobia, Acerophobia yaitu takut pada asam.

3.

Acluophobia yaitu ketakutan abnormal pada kegelapan.

4.

Acrophobia yaitu takut pada ketinggian.

5.

Agyophobia yaitu takut pada jalan-jalan atau menyeberang jalan.

6.

Brontophohia yaitu takut pada guruh, guntur dan halilintar.

7.

Chrematophobia yaifu takut pada uang.

8.

Doraphobia yaitu takut menjamah bulu, takut kulit binatang.

9.

Ereuthophobia yaitu takut pada wama merah.

10. Gynaephobia yaitu takut pada wanita.

30 \D.utut./aJq v!w..Lt. u) ,,rutt,,tu!, r.\ru- ,ati.

(37)

E.

Beberapa

Kasus Phobia

Thalassophobia = takut lautan, samudra.

Ratih

SanggaMati atau

lebih dikenal dengan sebutan Ratih

Sang ini

adalah seorang mantan

model

lndonesia yang sekarang beralih profesi meniadi desainer baju-baju muslimah ini, takut dengan hal-hal yang berlcau lautan, pantai dan ombak.

Wanita berparas cantik ini bila diajak liburan oleh keluarganya ke pantai ia tidak akan mau ikut, kalaupun terpaksa ia akan berada agak jauh dari pinggir pantiai. Pada saat terjadi tsunami

di Aceh dan

Pangandaran kemarin,

ia tidak berani

menonton TV, apalagi

yang

namanya berita.

la takut

melihat ombak

tinggi

besar yang bergulung tersebut.

Automyshophobia = takut pada hal-hal yang kotor, orang kotor.

Claudia (17 tahun) adalah cewek manis, imut dan terkenal dengan sebutan si

"super bersih"

di

sekolahnya.

la

diberi gelar seperti

itu

karena

ia

sangat takut dan benci terhadap sesuatu

yang

kotor, segala sesuatu yang akan dipegang, dimakan dan dikenakannya diteliti dahulu kebersihannya higienis atau tidak. Apabila ia makan

di

kantin sekolahnya sendok makannya harus dicuci dulu dengan

air

panas. Hal ini dilakukan sendiri

oleh

Claudia.

Lain lagi

ketika

la

bertemu Dio

teman

sekolahnya

yang

dekil,

jarang

mandi

dan bau yang tak mengenakkan bagi

Claudia. Ketika berhadapan dengan cowok ini Claudia akan lari menjauh setelah itu badannya akan

terasa

gatal-gatal

dan geli. Hal ini hanya

Claudia

saja yang

mengalami, teman- temannya yang lain tidak, setelah diselidiki temyata ketakutan yang dialami Claudia

ini

bukanlah

tanpa

alasan.

Waktu SD ia

pernah masuk rumah

sakit

karena diare disebabkan

jajanan yang tidak

bersih,

sejak itulah

Claudia

jadi

sensitif terhadap sesuatu yang kotor.

3r

(38)

BABXI

ANXIETY

A.

Pengertian

Anxiety

AnxietY = Kecemasan

Cemas

tidak sama dengan takut.

Kecemasan :

Rasa ragu-ragu, gentar terhadap hal-hal yang

tidak

konkrit. tidak riil, semu, hal-hal tidak jelas.

Ketakutan :

Rasa gentar atau tidak berani terhadap sesuatu obyek yang konkrit.

Pengertian Anxiety menurut kamus Psikologi:

1

.

Perasaan

campuran berisikan ketakutan dan keprihatinan

mengenai masa- masa mendatang tanpa sebab khusus untuk ketakutan tersebut.

2.

Rasa takut atau kekhawatiran kronis pada tingkat yang ringan.

3.

Kekbawatiran atau ketakutan yang kuat dan meluapJuap.

4.

Satu dorongan sekunder mencakup suatu reaksi penghindaran yang dipelajari.

Beberapa istilah yang berhubungan dengan anxiety (gangguan kecemasan) :

1

.

Anx i ety eq u iv a le n (padanan kecemasan/psikoanalisa)

Suatu reaksi simpatetik yang kuat, seperti detak jantung yang

cepat, menggantikan kecemasan yang tidak disadari.

2.

Anxiety fixation (flksasi kecemasan)

Mempertahankan atau memindahkan reaksi kecemasan

dari

masa atau tingkat lebih dini dari perkembangan ke tiaraf lebih lanjut.

3.

Anxiety hysfena (histeria kecemasan)

Neorosa dengan karakteristik ketakutan

dan gejala konversia (pengubahan,

penukaran)

atau

dengan

perwujudan

konflik

berupa gangguan atau penyakit somatis.

32 ckfrtn ljar <PsiNiatri

q

a?frna S.at %.Si

(39)

4.

Anxiety neurosis (neurasa kecemasan)

Suatu bentuk neurosa dengan ciri utama ialah kecemasan yang tidak disebabkan oleh satu rangsangan atau sebab khusus sifatnya kronis dan mendalam.

4.

Anxiety objecf (objek kecemasan)

Penggantian atau pemindahan ketakutan pada suatu objek yang mewakili pribadi yang dahulunya menyebabkan timbulnya rasa ketakutan tersebut.

4.

Anxiety reacllon (reaksi kecemasan)

Pola reaksi

yang

kompleks ditandai

oleh

perasaan-perasaan kecemasan yang kuat, disertai gejaragejara somatis, seperti berdebarnya jantung, rasa tercekik, sesak dada, gemetar, pingsan dan lain-lain.

4. Anxieu

tolerance (toleransi kecemasan)

Tingkat kecemasan yang masih dapat ditanggung seseorang tanpa menimburkan

gangguan psikologis serius atau tanpa mengakibatkan

ketidakmampuan menyesuaikan diri.

B.

Faktor Penyebab

Anxiety

Faktor penyebab kecemasan (bersifat neurotik) yaitu :

7.

Ketakutan

yang terus menerus,

disebabkan

oleh

kesusahan-kesusahan dan kegagalan yang bertubi-tubi.

7.

Dorongan-dorongan seksuar

yang tidak mendapat

kepuasan

dan

terhambat, hingga mengakibatkan timbulnya konflik-konflik batin (Freud).

7.

Kecenderungan-kecenderungan kesadaran diri sendiri yang terharang (Adrer).

8. Represi terhadap macam-macam masarah emosionar, tapi tidak

bisa berlangsung secara sempuma (incomplete).

33 (tufran

ljal

asiLiafi b ,laiiaa,

S.Ad

.Si

(40)

C.

Tanda-Tanda

Anxiety

Tanda-tanda Anxiety adalah:

1.

Diliputi ketegangan emosional dan diganggu oleh bayangan-bayangan.

2.

Berdebar-debar

3.

Diare ringan

4.

Berkeringat pada telapak tangan

5.

Tegang, lamban bereaksi terhadap rangsangan yang datang

6.

Mimpi buruk

7.

Mudah tersinggung

8.

Merasa mual, muntah

9.

Sering gelisah

Jika dilihat dari ciri-ciri fisik, perilaku dan kognitif orang yang sedang mengalami kecemasan, dapat dilihat pada hal-hal berikut :

1.

Ciri-ciri Fisik Kecemasan :

a.

Kegelisahan, kegugupan.

b.

Tangan atau anggota tubuh yang bergetar atau gemetar.

c.

Sensasi dari pita ketat yang mengikat di sekitar dahi.

d.

Kekencangan pada pori-pori kulit perut atau dada.

e.

Banyak berkeringat.

f.

Telapak tangan yang berkeringat.

g.

Pening atau pingsan.

h.

Mulut atau kerongkongan terasa kering.

i.

Sulit berbicara.

j.

Sulit bernafas, dan kalaupun bernapas pendek-pendek.

k.

Jantung yang berdebar keras atau berdetak kencang

u

rBafrat jjarAsifijatri

6!

dfin4

S.et

.Si

(41)

l.

Suara yang gemetar.

m. Jar-jari atau anggota tubuh yang menjadi dingin

n.

Pusing.

o.

Merasa lemas atau mati rasa.

p.

Sulit menelan.

q.

Kerongkongan tersa tersekat.

r.

Leher atau punggung terasa kaku.

s.

Sensasi seperti tercekik atau tertahan.

t.

Tangan yang dingin atau lembab.

u.

Terdapat ganguan sakit perut atau mual.

v.

Panas dingin.

w.

Sering buang air kecil.

x.

Wajah terasa memerah.

y.

Diare

z.

Merasa sensitif atau'mudah marah".

2.

Ciri-ciri Behavioral dari Kecemasan :

a.

Perilaku menghindar.

b.

Perilaku melekat dan dependen.

c.

Perilaku terguncang.

3.

Ciri-ciri Kognitif dari Kecemasan

a.

Khawatir tentang sesuafu.

b Perasaan terganggu

akan

ketakutan

atau

aprehensi terhadap sesuatu yang terjadi di masa depan.

Keyakinan bahwa sesuatu

yang

mengerikan akan segera terjadi,

tanpa

ada c

penjelasan yang jelas.

35 ctufianfljarAsifuatri

q

tuofin4 S.ad rt.Si

(42)

d.

Terpaku pada sensasi kefubuhan.

.

Merasa terancam

oleh orang atau

peristiwa

yang

normalnya hanya sedikit atau tidak mendapat perhatian.

.

Ketakutan akan kehilangan kontrol.

.

Ketakutan akan ketidakmampuan untuk mengatasi masalah.

.

Berpikir bahwa dunia mengalamikeruntuhan.

.

Berpikir bahwa semuanya tidak lagi bisa dikendalikan.

.

Berpikir bahwa semuanya terasa sangat membingungkan tanpa bisa diatasi.

.

Khawatir terhadap hal-hal sepele.

.

Berpikir tentang hal mengganggu yang sama secara berulang_ulang.

. Berpikir bahwa harus bisa kabur dari

keramaian,

kalau tidak pasti

akan pinsan.

.

Pikiran terasa bercampur aduk atau kebingungan.

.

Tidak mempu menghilangkan pikiran-pikiran terganggu.

.

Berpikir akan segera mati, meskipun dokter

tidak

menemukan sesuatu yang salah secara medis.

.

Khawatir akan ditinggal sendirian.

.

Sulit berkonsentrasi atau menfokuskan diri.

D.

Beberapa Kasus

Anxiety

seorang ibu

muda yang merasa takut dan was-was ketika untuk pertama kari melepas anaknya pergi sendirian berangkat ke sekolah. la cemas kalau-kalau nanti anaknya

tidak

mampu menyeberang

jalan,

tertabrak mobil. Dan

si

anak sendiri ia

merasa sudah cukup mampu dan tidak perlu diantar. Di benak ibunya

timbul bayangan-bayangan yang akan menimpa anaknya,

36 tufiai

4tt

hitiatri 6t ,torfin4 5.a4. 9t .Si

(43)

BAB XII NEUROSIS

A.

Pengertian

Neurosis

lstilah

neurotik

atau

neurosis pertama

kali

dikemukakan

oleh William

Cullen yang mengacu pada

gangguan{angguan

sensasi dari sistem saraf, sebagai akibat

dari tidak

berfungsinya (malfungsi)

dari neuron (syarafl yang

ditampilkan dalam

bentuk perilaku. Akan tetapi, kemudian keyakinan ini hilang setelah

Freud, menemukan peranan psikologis dari latar belakangnya, bukan karena syaraf. Secara

khusus

Freud mengemukakan bahwa neurotik merupakan tampilan

dari konllik

di dalam

diri

individu yang melibatkan keinginan-keinginan yang

tidak

dapat dipenuhi karena adanya hambatan dari super ego, sedangkan ego tidak dapat membuat suatu

keputusan untuk

mendamaikannya,

sehingga mendorongnya untuk

melakukan tindakan

yang

merugikan dlrinya sendiri

dalam

upaya mempertahankan

diri

untuk keluar dari konllik yang dihadapinya. (Sutardjo A. Mihardja, 2005).

Neurosis adalah bentuk

ekstim dari

mekanisme penyesuaian

diri yang

tidak

berhasil (Dimyati Mahmud, 1989). Dengan demlkian dapat disimpulkan

bahwa

neurosis

(psikoneurosa)

adalah

sekelompok

reaksi psikis dengan ciri khas

yaitu

kecemasan yang secara tidak sadar diekspresikan dengan

menggunakan pertahanan

diri dalam

upaya keluar

dari

masalah

yang

dihadapi berupa tindakan

yang

nantinya

akan

menimbulkan dampak tersendiri

baik itu bagi

dirinya maupun bagi orang lain.

Berdasarkan pandangan di atas, dapat dipahami bahwasanya

neurosis bukanlah dilatarbelakangi oleh terjadinya gangguan pada saraf tetapi lebih kepada masalah psikologis di dalam diri individu yang berawal dari kecemasan.

37 tufran

A/r

<hifiatri E hLa{at4 S.e[. 91.5i

Referensi

Dokumen terkait

• Bila keserupaan dinamis telah terpenuhi, maka setiap data yang diukur pada aliran model dapat dihubungkan secara kualitatif dengan setia bagian dari prototype. Untuk contoh soal

Di dalam masyarakat Lamandau masih kental budaya atau tradisi turun temurunnya yang dihormati dan diyakini sebagai suatu keharusan yang harus dilaksanakan.

Alasan-alasan penolakan Hadhrat Khalifah ‘Utsman (ra) kepada berbagai Sahabat yang mendesak memerangi para pemberontak: [1] jika mengobarkan perlawanan dan

Kinerja geotekstil terbukti efektif untuk memperbaiki kondisi sistem perkerasan sela- ma 5 tahun walaupun terjadi migrasi partikel halus dari lapisan tanah dasar ke

Wanita cenderung mengalami frailty karena memiliki faktor intrinsik seperti massa dan kekuatan otot yang rendah dibandingkan dengan laki-laki pada usia yang sama, wanita

Tahunan / Annual Period of financial statements submissions Tanggal awal periode berjalan January 01, 2020 Current period start date Tanggal akhir periode berjalan December 31,

Pembahasan penelitian kesantunan dan daya pragmatik tindak tutur direktif Paslon pemilihan gubernur di wacana politik skh nasional dan implikasinya sebagai bahan ajar

Populasi penelitian ini adalah ibu yang mempunyai riwayat menyusui yang mem- punyai bayi 6-12 bulan berjumlah 150 orang yang terdiri dari 58 orang ibu yang mem- punyai riwayat