Jurnal Kependidikan, Nomor
I
Tahun XXXilL Mei 2003BUDAYA BACA GURU DAN SISWA SEKOLAH DASAR DI KOTA YOGYAKARTA
Oleh:
Pujiati
Su-vata Universitas Ne geri Yo gyakartaAbstract
School reading culture
is
oneof
the tltinking qttality improvement assets of the individual which has potenttalfor
raising the graduate quality. This investigation was an elfort to get the idea of reading culture in school, teachers and pttptls. in the city
of
Yogtakarta. A study was done usingJ2
primary school teachers o7 seven schools in the city oJ'yogiakarta. In addition, 324 pupils taught by these teachers were also involved in this stuav\.. A questionaire was developed and tested. used tocollect the
data.
Description method analysis u;as usec!. The results indicated as lollowing.(l)
The reading culture o1 the primary schooi teachers in Yogtakarta citv was "i,bund generally high supported bv readingJ'acilities at home as weil as in school.It
had ctn associarionwith
lhe J'actthat
mant, leachers succeeded*-ih
rheir universiry program. tZ) primarv schoolpupils' reading culture was found high both those who had reading facilities at home and those who had not. The correlate of the reading culture was the education and the occuDotion their parents.
kel,words ; reading cultttre. teacher and pupil. pnn1ary school
Pendahuluan
Kualitas sumber daya manusia (SDM)
Indonesia memprihatinkan.DataHuman
DevelopmentReport
1996jukkan
Indonesiamendilduki peringkat ke-102 dari
174yang diteliti.
Sebagaiperbandingil,
Singapura peringkatsangat menun- negara ke-34,
97
'ol.
fiah ::Na
_i:r.
i:,an
.,-11
a.]3n
,ran
3iika
t ian
l1 iLlU
Budaya Baca Guru dan Siswa Sekolah Dasar di Kota Yog/alearta
Brunei ke-36, Thailand ke-52, dan Malaysia ke-53.
PosisiIndonesia sangat rendah
di tingkat
regional dan hanya satu tingkat lebih baik dari Vietnam.Kondisi
tersebutmakin
memburukjika dilihat hal
yangsama pada tahun 2000. Vietnam yang semula
di
bawah Indonesia,pada tahun 2000 telah berada setingkat
di
atas Indonesia.Nilai HDI
(Human Development Index) 2000 LrNDP yang dilaporkan Human Development Report 2002,Indonesia 0,684 peringkat 110,vietnam
0,688peringkat
109,Filipina
A,762 peringkat77,
Thalland 0,762 peringkat 76,Malaysia0,782
peringkat 59, Brunei 0,856 peringkat32, dan Singapura 0,886 peringkat 25.
Pada
sisi lain,
persaingan tenagakerja
akanmakin
terbuka dengandimulainya AFTA
(AseanFree
TradeArea )
dan AFLA(Asean
Free Labour Area).
Bisajadi, SDM
Indonesia hanya akanmenjadi penonton di negara sendiri, jika tidak
segera berbuat sesuatu. Peranpendidikan menjadi
sangatpenting dalam
meng-hadapi
tantanganitu.
Berbagai upayaperlu dicari dalam
rangka meningkatkan kualitas SDM Indonesia.Yang
terjadi
seiamaini,
aktivitas terbanyak yang dilakukan oleh siswadi
sekolah adalah mendengarkan keterangan guru. Siswa iebih suka dengan paparan gurudi
kelas. Mereka terbiasa menyukaiinformasi lisan yang
disampaikanoleh gunr di ruang kelas
dankurang menyrkai
tugas-tugas membacabuku atau
menuiiskan laporandari hasil
bacaannya. Sisrva cenderungpasif dan
kurangaktif dalam
proses pembelajaran. Buda.va dengar dominan dalamaktivitas
pembelajaran, sebaliknyakegiatan aktif seperti
budayabaca belum
berkembang.Kondisi ini perlu
segeradiubah
agarpendidikan
dapat menghasilkan luiusan yang berpotensidan
siap bersaingdi
era global.98
Jurnal Kependidikan, Nomar
I
TahunXXXIil, Mei 20a3Kota
Yogyakarta sejak dahutu dikenal sebagai kota pelajar, pendidikan, budaya, dan pariwisata. sesuai dengan predikat sebagai kota pelajar danpendidikarl
kotaini
banyak dikunjungi pelajar dan mahasiswadari
segaiapenjuru
Indonesia, bahkanjuga dari
luar negeri.situasi ini
membawa pengaruhpositif
maupun negatif bagiwarga Yogyakarta. salah satu pengaruh positif bagi
duniapendidikan di kota Yogyakarta
adarahiklim belajar,
kegiatanmembaca, dan aktivitas yang terkait dengan studi. Hai itu
diperkirakan berpengaruh pada sivitas akademika baik pada tingkat SD, SLTP, SMU, atau pT.Pendidikan masa depan yang berorientasi pada pembekalan kecakapan
hidup (life skilr)
menghendaki pemberajarann yangbersifat aktif dan produktif
sesuai dengankondisi nyata
dalam kehidupan.orientasi
pada kinerja dan keotentikanini
salah satudi
antaranya adaiah
unjuk ke{a
dalam membaca secaraefektif. yang menjadi
masalah, apakahsivitas
akademikadi kota
yogyakartatelah mengembangkan kegiatan tersebut? Apakah
kegiatanmembaca telah menjadi suatu kebutuhan? Apakah
aktivitasmembaca itu sudatr merupakan budaya baca? Jika
aktivitas membeca sudah menjadi budaya baca, seberapatinggi
budaya baca mereka?Penelitian ini merupakan rangkarr awal sebagai
usaha memperoleh gambarantentang budaya baca sekolah, guru
dansiswa, di Kota
Yogyakarta, yang berpredikat sebagaikoia
pelajardan pendidikan. Penelitian dimulai dari tataran SD. Hasil
yangdiperoleh akan bermanfaat baik
secarateori maupun
praktik.Secara teori, hasil penelitian
ini
bermanfaat bagi teoriLehjar
sebab keberhasilan mempelajari suatuilmu
berkaitan dengan cara belajaryang
dilakukan" Sementaraitu,
budaya baca yangdimiliki
dapat99
Budaya Baca Guru dan Siswa Sekolah Dasar di Kota Yogtalarta
diaplikasikan pada pemerolehan ilmu dan
pengetahuan yang berguna bagi kehidupan masyarakat' Dalam skala yanglebih
luas'diketahuinya budaya baca
masyarakatKota Yogyakxta
dapatmenjadi
masukanbagi
program-program pengembangan daerah' khususnyadalammempertahankanYogyakartasebagaikotapelajar dan pendidikan dalam era otonomi daeratr'Studi tentang Membaca
Membaca merupakan
pintu
gerbang pengetahuan' Denganmembaca, ilmu dan
pengetahuandipelajari' banyak
informasi diperoleh, dan terbukalah wawasan yang lebih luasQ'iuttall,
1985)'Kegiatan
membacamelibatkan berbagai proses mental'
sepertip"ngerralarrkembali,asosiasimakna,evaluasi'sertageneralisasi
berdasarkanmakna detail yang
adapada
keseluruhan konteks bacaan.Hal itu terjadi
karena membaca merupakan aktivitas yangmengikutsertakanberpikir(Pumfrey,1976)daningatan(Johnston'
1983). Dalam
hal ini Flood
danLapp
(1931) mengatakan bahwaberpikir
memegangperan
sentral karenauntuk
membaca diper- lukanberpikir
secara cermat, mempertimbangkan' menghubungkan dengan memori sebelumnya, membandingkan, untuk pada akhirnyamembpat evaluasi serta generalisasi makna yang
dibacanya' Dengan demikian, budaya baca akan dapat meningkatkan kualitasberpikir
seseorang.Membacajugamerupakansuatuketerampilan.olehkarena
itu, kepintaran
membacadapat dilatih, seperti dikatakan
olehThorndike (1967) dalam law of
exersicebahwa makin
seringseseorangberlatihmembaca,makincanggihlahkepandaiannya dalam
menangkapisi bacaan'
Seperti pisauyang
sering diasah'100
,trnal Kependidikan, Nomor
I
TahunXyyIIt. Mei 2003naka
dengan banvaknya kegiatan membaca ,,,,ang diiakukan. akanmakin tajamlah pikiran
pembaca daram menganaiisisapa
yangiibacanya. Kualitas
seseorangmeningkat
dengan meningkatnya kegiatan membaca yang dilakukan.Kebiasaan membaca dapat
dilakukan oreh
semua pesefiadidik
sejak sekolah dasar sampai perguruantinggi. Materi
bacaanjuga
bermacam-macam, seperti koran, majaiah. nover" buku-buku bacaan populer, atau buku-buku bacaanilmiah.
Budaya baca siswa merupakan suatu kegiatan yang sangat bermanfaat vang seiavaknva dilakukan oieh setiap siswa, agar mereka maju"Istilah Budaya dan Kebudayaan
Ada
1'ang membedakanistilah
bucraya ,J,an kebucral,aon.tetapi ada pula )''ang menganggap kecrua istirah itu
sama(Kuncaraningrat,
1983:183). Dikatakan berbeda sebab
bttclal,crberasal
dari
bahasa Sanskerta'b*ddhi', yang berarti .bucli,
atau'akai'
yang berupacipta,
rasa, dan karsa, sedangkan kebuc{a.;aan adalahhasil dari cipta,
rasa. dan karsaitu.
Dikatakan sama sebabdari segi anthropologi budaya. misalnya.
budar.a merupakansingkatan dari
kebudayaan. Dengandemikian. kedua istilah
itu sebenarnya mempun-yai pengertian,vanq sama.Lebih
jauh
Kuncaraningrat(19g3:
1g2) berpendapat bahwa kebudayaanadalah
gagasan,tindakan. dan hasil ta.,ua
manusiayang dibiasakan dengan belajar. pada kenr.ataarinla hampir
seiur,h tindakan manusia dibiasakan dengan beiajar. ttany.a
sedikittindakan yang tidak seperli itu. misalnva
tinciakan karena naiuri.refleks.
atau tindakan yang membabi buta.Dari
pendapat tersebut terungkap bahrva kebuda,v-aan atau buday'a mempun;rai ti_ea indi-101
Budaya Baca Guru dan Siswa Sekolah Dasar di Kota Yogtalwrta
kator yang dapat diamati,
yaitu (1)
gagasan'(2)
tindakan'(3)
hasiikarya yang
dibiasakan karenabelajar' Dalam kaitannya
denganbudaya baca, dapat
ditarik
pengertian batrwa budaya baca jugajuga meniandung tiga komponen, yaitu adanya gagasan
tentang*.*bu.u,
tindakan*.*iutu,
danhasil
membaca yang dilakukan karena kebiasaan dan belajar'Beberapa ahli anthropologi
iain' seperti
Wissler'Kluckhon'
sertaHoebel (Kuncaraningrat' 1983)
mempunyai pendapatyang' hampir
sama,yaitu
bahwa kebudayaan atau budaya adalah segalatindakan yang harus dibiasakan oleh manusia dengan
belajar' Tampaknya,unsur tindakan yang
berdasarkan kebiasaan karenabetajaqinimenjadipusatperhatianparaahlitersebut.Dalamhalini,
dalam budaya terkandung komponen(1) tindakan' (2)
kebiasaan' dan(3)
belajar, Dernikianjuga
halnya dalam budaya baca'Di
sanaterdapat un$tr-unsur yang sama dalam kaitannya dengan tindakan membaca.
Selanjutnya Kuncaraningrat berpendapat bahwa kebudayaan atau budaya mempunyai tiga macam
wujud'
yaitu :1. kebudayan sebagai ide, gagasan' nilai' norna'
atauPeraturan
2.kebudayaansebagaiaktivitasatautindakanmanusiayang berpola
sebagaiiangkaian aktivitas
manusiadalam
suatu masYarakat3.
kebudayaan sebagai benda hasil karya manusia'Pendapat tentang pengertian budaya atau kebudayaan yang
lain
datangdari Solebai S*ut** (1999)' ketua Dewan Kesenian
Jakarta. Dikatakannya kebudayaan adalah sumber utama sistem tata
nilaimasyarakatv*g."*uentuksikapmentalataupolaberpikir
102
rl n
2
o J]
Jurnal Kependidikan, Nomor
I
TahunXXXIil, Mei 2003manusia.
Kondisi ini
sering terpantul pada pola sikap atau tingkah laku sehari-hari dalam berbagai segi kehidupanBudaya atau
kebudayaandapat diamati dari dua
sudut pandang:1.
pandangansempit, yaitu
kebudayaandari sudut
pandang kesenian2.
pengertian yanglebih
luas,yaitu
makna kebudayaan daram hubungannyadengan berbagai segi kehidupan
manusia.Kebudayaan berperan dalam memicu dan
mendorong perkembangan masyarakat.Sementara
itu, Muchtar Lubis (Sarjono, 1999)
menge_Trlkakan pendapat tentang budaya masyarakat.
Dikatakannya bahwa budaya adalahtingkah laku
manusia atau masyarakat yangberpola, ada unsur
kebiasaan,sikap, dan
pandangan hidup-atai
persepsi yangmenjiwai tingkah
lakuitu.
Dengan demikian, dalamkaitannya
dengan budaya baca masyarakat, budaya bacadi
sini dapatdimaknai
sebagaitingkah laku
masyarakat dalam membaca yang berpola dan ada unsur kebiasaan, sikap, pandangan hidup atau persepsi yang menjiwai tindakan membaca itu.Taiior (Tilaar, 1999) mengaitkan budaya dengan
pera- daban. Dikemukakannya bahwa budaya adalahkeselurulun
yangkompleks dari
pengetahuan,moral, hukum,
kepercayaan, 'adaiistiadat,
kebiasaan,dan
kemampuan-kemampuan lairurya' yang diperoleh manusia sebagaiunggoti
masyarakat. Dengan demikian,d{am
kaitannya dengan budaya baca, budayabaci
adarah per- adaban manusia atau masyarakat yangkomplels
yang mengandung unsur kebiasaan, pengetahuan, serta unsur-unsur yangtair.
'Budaya Baca
Bertolak dari pendapat-pendapat
di
atas, dapat disimpulkan bahwa budaya baca mengandungunJ.'(1)
ide,g*gur*
ataunilai,
11.
i;
iI.
aa
I.
i ld
3n
ian
iau
tno
,ri
i15
:lan
-_LIa
..,-:.
--\Il
r03
Budaya Baca Guru dan Siswa Sekolah Dasor di Kota Yogtalcarta
persepsi, serta pandanga0
hidup
tentang membaca yan-g tampak aafam(2)
aktivitas yangberpolq
teratur,dan
ada unsgr kebiasaan,serta (i)
menghasilkansesurtu
sebagaikarya
manusia. Dengandemikian,
secafasingkat di
sana ada konsep tentang membacqkemudian
konsepteriebut diwujudkan dalam tindakan
membacayang berpola dan teratur, dan ada hasil yang diperoleh
daritindakan membaca tersebut.
Daiam hal ini
budaya baca merupakan peradaban manusia yang dilandasi oleh berbagai unsur, seperti pengetahuan, kebiasaan, p"rs-epsi, pandanganhidup,
serta unsur-unsurlain
dan menghasil-l* r..*to
yang bermakna. Dikatakan peradaban sebab kemam-puan membaca tidak diperolah dengan sendirinya,
melainkan didapatdari
belajar, dan berusaha.Berkat
kepandaian dan penge- tahuan manusialah, kemampuan membaca tersebut diperoleh.Cara Penelitian
Penelitian ini
merupakanpenelitian awal,
sebagai usaha memperoleh gambaran tentang budayabac4
guru dan siswa SDdi
Kota Yogyakarta. Tataran itu diambil dengan
pertimbangan, sekoiah dasar adalah landasanbagi pendidikan berikutnya.
Jika budaya baca tataranitu diketahui,
gambaran serupa akan tampak pada pada tataran di atasnYa'Untuk itu,
dilakukan penelitian terhadap42
orung guru SD,yang
mempunyai siswakelas 5 dan kelas 6
sebanyak324, dali iuiutr
sekotunai Kota
Yogyakarta.Tujuh
sekolah tersebut adalah(1)
SD BatikanII, (2)
KotagedeIII, (3)
SerayuII, (4)
Demangan I, (5) NgabeanI,
(6) SurakarsanII,
dan (7) GedongtengenII'
Karakteristik
sekolah tersebut adalah SD BatikanII
dan SD KotagedeIII
beradadi Kota Yogyaka*a
bagian selatan. Tingkatpendidikan guru
sebagian besarD-2, diikuti
S-1,D-3, dan
SPG'bebagian
beiar
orang tua siswa berpendidikan menengah ke bawahr04
)
r.
t1
Jurnal Kependidikan, Nomor
I
TahunXXXIil, Mei 2003dan bekerja sebagai wiraswastawan, pedagang, atau buruh berbagai
kerajinan. SD Serayu II dan Demangan I berada di
KotaYogyakana bagian tengah. Tingkat pendidikan guru sebagian besar
S-1, diikuti D-3, D-2,
danSPGiSMK.
Sebagian besar orang tuasiswa
berpendidikan sarjanadan bekerja
sebagaipNS,
pegawaiswasta, atau wiraswasta. SD Ngabean
I
beradadi Kota
Yogyakarta bagian barat.Tingkat
pendidikan guru sebagian besarD-2, diikuti D-3,
S-1, dan SPG. Sebagian besar orang tua siswa berpendidikan menengahdan bekerja
sebagai pegawai swasta,pNS,
pedagmg, danburuh. SD
SurakarsanII
beradadi Kota
Yogyakarta bagiantimur/
selatan. Tingkat pendidikan guru sebagian besarD-2, diikuti D-3, S-1, dan
SPG. Pendidikanorang tua siswa
sebagian besartingkat SLTP dan bekerja
sebagaipegawai
swasta, wiraswasta, PNS, dan buruh.SD
GedongtengenII
beradadi Kota
yogyakarta bagian barat.Tingkat
pendidikanguru
adalahD-2, D-3,
S-1, danSPG/SMK. Pendidikan orang tua siswa
sebagian besar tingkat menengah dan bekerja sebagai pegawai swasta, wiraswasta, pNS, dan pedagang. Budaya baca guruditeliti
sebab sebab budaya bacayang dimiliki guru akan
mengimbas kepada siswanya. Dengan diketahuinya budaya baca guru, berbagai hal dapat dilakukan untuk memacu budaya baca siswa.Data penelitian
ini diambil
dengan instrumen angket. Ada dua macam angketdalam hal ini, yaitu
angketuntuk
siswa dan angketuntuk guru.
Instrumen angket dikembangkan berdasarkanindikator (1)
konsep, persepsi, dan pandangan tentang membaca,(2) aktivitas
membaca,pola keteraturan, dan
kebiasaan, dan(3) hasil aktivitas membaca. Kualitas
instrumen diperiksa rewatvaliditas rasional dan reliabilitas instrumen diuji
dengan meng- gunakanformula alfa cronbach.
Instrumen cukup reliaber dengankoefisien
sebesar 0,745 untuk angket guru dan A,712 untuk angket siswa.Data penelitian
dianalisis secaradeskriptif
dan dilaporkan dalam bentuk persentase dan statistik deskriptif.105
Budaya Baca Guru dan Siswa Sekolah Dasar di Kota Yogtalarta
Hasil Penelitian
dan Pembahasan Budaya Baca GuruHasil penelitian meliputi
deskripsi budaya bacaguru
dan budaya baca siswa.Data
menunjukkan bahwa budaya baca guruSD
mempunyai skor terendah76
dantertinggi
1156 dengan rerata sebesar 896. Dibandingkan dengan rerataideal
yang sebesar 645, yaitu 30+
1260 dibagi 2, skor budaya baca guru SD termasuk baik.Secara
rinci budaya
bacaguru yang tergolong kategori tinggi
sebesar 8l,4yo,kategori sedang sebesar !0,0yo, dan kategori rendah sebesar 8,6yo. Dengan
demikian,
dapatdiketahui bahwa
budaya baca gurusD
Kota Yogyakarta termasuktinggi.
Tabel berikut akan menjelaskan hal itu.Tabel 1.
Budaya Baca Guru SD Kota YogYakana
Klasifikasi
Frekuensi Persentase1 026 81,40
Sedang 121 10,0%
Rendah
ru/
8,6yot260 t00%
Budayabacatampakdaritigahal,yaitu(1)ideataukonsep tentang budaya
baca,(2) aktivitas
membacayang berpola'
dan(3) hasii karya dari tindakan
membaca.Dilihat dari ketiga
haltersebut pada umumnya ide atau konsep tentang budaya baca guru
termasuk tinggi, aktivitas membaca tinggi, dan hasil
karyamembaca juga
tinggi.
Tabel berikut akan menjelaskan hal itu.106
Ti
Jurnql Kependidikan, Nomor
I
Tahun XXXIil, Mei 2003Tabel2.
Konsep Budaya
Bac4 Aktivitas
Membaca,danHasi Membaca
Klasifikasi
t Ide,4(onsep Membaca
Aktivitas
MembacaHasil Karya Membaca
Tineei 584
(73,3%\394
(85,3%\3t
(73,9%)Sedang 64 (8,0%)
37
(80%\Rendah 1s0 (18.7%)
3t
(6,7%)rt
(26.2%\Dari tabel di
atas, dapatdiketahui
bahwaide
atau konsep tgnJang membacaguru SD
termasuktinggi, yaitu
sebesar 73,2yr,aktivitas
membacajuga tinggi, yaitu
sebesar gs,3yo,dan
hasil membacajuga tinggi, yaitu
sebesar 73,goh.Dalam hal ini,
hasil membaca tampak dari keberhasilan mereka melakukan studi lanjut.Tidak
dapatdipungkiri
bahwastudi lanjut
memerlukan aktivitas membaca yang cukuptinggi.
Banyak bukuilmu
pengetahuan yangharus dipeiajari dalam rangka
menyelesaikanstudi
tersebut.Di
antara guru-guru
itu,
sebagian besar berhasil melakukan studi lanjut baik pada tataranD-2,D-3,
atau S-1.Dilihat dari tingkat pendidikan guru, maka
pendidikan mereka saatini
adalah sebagian besar adalah D-2, yaitui3,
gyo,s-l
sebesar
ll,9oA, SPG 7yo, dan D-3,
SarjanaMuda, serta SMK
masing-masing 2,4Yo.Hal itu
mengisyaratkan perlunya pendidikan Janjutan b3gi guru-guru tersebut sebab masih sedikitnya guru yang berpendidikanS-1, D-3, atau
SarjanaMuda
sertamasih
adanya guru SD yang berpendidikan SpG serta SMK.Motivasi
studilanjut
bagi mereka tampaknya
adakaitannya {errgan kepangkatan.Ada
pangkat-pangkat tertentu yang memer-lukan tingkat pendidikan tertentu. Dilihat dari
kepangkatan,umunnya
mereka berada pada golonganIIIc
danIIId,
yaitu sebesar 38,0Yo dan33,43o/o. Golonganrv relatif
tidak banyak, yaitu sebesarl6,7yo,
dan sisanya tersebar pada golonganIIIb, IIIa, IIc,
dan IIb.107
Budaya Baca Guru dan Siswa Sekolah Dasar di Kota Yogtalarn
Tampaknya mereka mengalami kesulitan
untuk naik ke
golonganIVa
mengingat syarat-syarat yang perlu dipenutri cukup berat. Studi lanjut ke S-1 mungkin merupakan salah satu cara ke arah itu.Data yang berhasil dikumpulkan
juga
menunjukkan batrwabudaya baca yang cukup tinggi di kalangan guru SD
KotaJogjakarta antara
lain
didukung oleh tersedianya bacaandi
rumah.Fasilitas bacaan sebagai pendukung budaya baca
di
rumah tampak pada tabel berikut.Tabel 3.
Fasilitas Bacaan di Rumah Jenis Bacaan Persentase
Koran 66,7yo
Buku 52,4yo
Maialah 38%
Bacaan lain 38%
Tabel di
atas menunjukkan bahwa guru-guruSD di Kota
Yogyakarta mempunyai fasilitas pendukung kegiatan membacadi rumah. Bacaan mereka bermacm-macam, ada koran,
buku, majalah, atau bacaanlain.
Selainitu, di
antara mereka ada yang tersedia empatjenis
bacaan,yaitu
ada koran,buku,
majalah, dan bacaan lain, ada yang tiga jenis, dua jenis, atau satujenis
saja.Meskipun
sebagian besarguru
tersedia bacaandi
rumah,ada sebagian guru yang tidak ada sarana bacaan di
rumah.Tampaknya hal ini berkaitan dengan
ketersediaandana
untuk bacaan tersebut.Di
antara mereka adalah guru yang pendidikannya SPG dantidak
studi lanjut, tetapi ada juga yang berpendidikan D-2 dan melakukan studi lanjut. Untuk yang studi lanjut dengan budaya baca yangtinggi,
tampaknya mereka membacadari
sarana bacaan108
Lgan
S:,.rdi
Jurnal Kependidikan, Nomor
I
TahunXXXil, Mei 2003di luar
rumah, sepertidi
sekolah atau perpustakaan.data sarana bacaan para guru adalatr sebagai berikut.
Secara
rinci
"'aaIq
Kota unah.
mpak
.
Kota aca dibuku, 1 )'ang
h.
danramah, rrmah.
,.rntuk kannya an D-2 'cudaya
bacaan
Tabel 4.
Sarana Bacaan Guru
di
Rumah Jenis Bacaan Persentase4 macam 26,lyo
3 macam 29,00A
2 macam 19.0%
l
macam 12.r%0 macam 23,8oA
Jumlah 100%
Dari
rabel 4
dapat diketahui bahwa cukup berimbang antara guru yang mempunyai empat bacaandi
rumah dantidak
ada sama sekali bacaandi
rumah. Empatjenis
bacaan yang dimaksud adalahkoran, buku-buku pengetahuan, majalah, da, bacaan
lain.Sementara
itu,
tiga macam bacaan adalahtiga di
antara empat itu, dua macam bacaan adalah duadi
antara empat tersebut, dan satu adalah satudi
antara empatjenis
bacaanitu. Hal itu
mengisyarat- kan perlunya sekolah berlangganan koran, majarah, sertaLeleng- kapi buku-buku di
perpustakaanagar dapat
dimanfaatkan oleh guru-guru yang kebetulan tidak ada sarana bacaan di rumah.Budaya Baca Siswa
Data menunjukkan bahwa skor budaya baca siswa terendah
98 dan tertinggi
1153 dengan rerata sebesar945.
Dibandingkan dengan rerata ideal yang sebesar 645,yaitu
30+
1260 dibagi2 :
645, budaya baca siswa termasuk
baik.
Secararinci,
yang terma-109
a
Budaya Baca Guru dan Siswa Sekolah Dasar di Kota Yogtakarn
suk dalam klasifikasi
budaya bacatinggi
sebesar 78,!Yo, sedang 8,8oA, dan rendah sebesarl3,lyo.
Dengan demikian, pada umum- nya budaya baca mereka cukuptinggr
ataubaik
dan hanya sedikit yang termasuk rendah. Tabel berikut akan menjelaskan hal itu.Tabel 5.
Budaya Baca Siswa SD Kota Yogyakarta
Klasifikasi
Frekuensi PersentaseTinsei
7280 78,10Sedang 825 8,80
Rendah
t225
13,10Tabel di
atasmenunjukkan bahwa
sebagian besar siswa mempunyai budaya baca yang termasuktinggi.
Tampaknyahal itu terimbas dari
budaya bacaguru
yangjuga tinggi. Guru
denganbudaya
bacayang tinggi akan
melengkapi pengetatruannya dari bacaanyang dibacanyq
pengetahuannyamenjadi luas, dan itu berdampak positif pada siswa. Siswa juga menjadi
senangmembaca karena mendapat tugas-tugas
dari guru
atau karena hal lain.Dilihat dari sekolah, budaya baca tertinggi adalah
SD SerayuII, diikuti SD
DemanganI,
danSD
Gedongtengen. Tabel berikut dapat menjelaskan kondisi tersebut.110
Jurnal Kependidikan, Nomor
i
TahunXWIil,
Mei 2003Tabel 6.
Budaya Baca Siswa
Tabel 6 menunjukkan bahwa
secara keseluruhan budaya baca siswa SD termasrrk-ba1k, yaitu tergolongtinggi
7g,lyo, sedang 8,8oh,dan rendah l3,1yo.tinggi, semint*i ** setiap SD,
SD SerayuII
memang m_empunyai budaya baca siswatertinggi,
yaituyang
termasukklasifikasi tinggi
sebesar g4JoA dan yang rendahhanya sebesar 6,5oh. Tingginya budaya baca siswa
tersebut tampaknya didukung oleh pendidikan orang tua yang hampir semua sarjana,baik
S-1. S-2,maup,n
S-3, yangsebeiar gly, i*rhanya 1Y di
antaranyabukan
sarjana,itu pun
berpendidikanD-3
dan.sry
Pendidikan yangtinggi
dengan mayoriias adalahpNS
dariberbagai profesi berpengaruh atas
pirilaku
anak-anaknyadi
rumah,111 Nama Sekolah dan
Jumlah Siswa
Frekuensi Tinggi
Frekuensi Sedane
Frekuensi Rendah Serayu
iI
(75) 1906(84,7%)
198 (8,8%)
t46
(6,5%) Kotagedelll (77)
779(70,2%)
lt2
(t0,t%)
(19,7yo\219Demangan
i
(3S)t723
(74,6%\169 (7,4%)
358 (18,1%) GedongtengenQ4) 920
$a,7yo\
103
(9,0%)
tt7
(l0,3Yo\
Batikan
II (37)
574 (79,7Yo)40 -(5,5%)
106 (l4,&Yo) Surokarsan
I (25)
850(76,5%)
105 (9,4%)
155
(14,t%)
NgabeanI (37)
528(70,4%)
98 (13,1%)
t24
(16,5%)
Jumlah 7280
(79,1%')
825 (8,8%)
1225 (13,Loh) I
1
l
;1
I
3
l
Budcya Baca Guru dan Siswa Sekolah Dasar di Kota Yognkarta
seperti orang tuanya gemar membaca
anaknyajuga
terimbas dengan perilaku tersebut..Penelitian
ini juga
menunjukkan bahwadi
antara siswa ada yang tersedia sarana bacaandi
rumah,tetapi
adapula
yangtidak
i".ridiu
sarana bacaan apa pun.Di
antara yang tersedia dantidak
tersedia bacaandi
rumatr tersebut, dapat diketahui seberapatinggi
budaya baca mereka.Tabel berikut akan menjelaskan hal itu.Tabel 7
Sarana Bacaan dan BudaYa Baca
Dari Tabel 7
dapatdiketahui bahwa hampir
berimbangantara siswa yang tersedia
sarana bacaandi rumah dan tidak
tersedia bacaan
di
rumah dalam hal tingginya budaya baca mereka.Meskipun
ketersediaan sarana bacaandi rumah dapat
mening-katkan
budaya baca siswa, tampaknyatidak
tersedia bacaan pun siswa mempunyai budaya baca yang cukuptinggi
pula. Tampaknya selamaini
siswaSD Kota
Yogyakarta telah memanfaatkan sarana bacaandi luar rumah,
sepertitoko buku,
perpustakaan sekolah, majalahdinding
sekolah, koran yang terpampangdi
tempat ulnlun,dan
sebagainya.Hal itu
mengisyaratkanperlunya
melengkapi perpustakaan sekolatr denganbuku-buku yang
bermanfaat serta memperbanyak tempat-tempat bacaan untuk umum.ll2
Sekolah Tersedia Bacaan
Tidak Tersedia Bacaan
Budaya Baca
Tinegi
Seraw
II
89,3yo L0,7o 84,7yoKotaeede
III
32,4oh 67,60 70,zYoDemangan
I
53,2yo 46,\yo 74,6yoGedongtengen 23,6yo 76,40 90,70
Batikan
II
68% 32% 79,7yoSurokarsan
I
84,5yo 15,50 76,50Ngabean
I
3l,4yo 68,6yo 70,40A^ J^
!1r!- _-^1- 1\-:4N
- ---ri
-0
AJ ^
-ob
i'1'.-
IJ i-UL
.-,
o
1rsang :idak 3ieka.
'rrno- i'- Dun :-kny'a tarana k.rlah,
[nuln,
rgkapiserta
Jurnal Kependidikan, Nomor
I
TahunXXXilI, Mei 2003Tampaknya ketersediaan dana menjadi faktor
utama tersedia tidaknya sarana bacaandi
rumah. Namun demikian, tidak adanya bacaandi
rumahtidak
membuat merekatidak
melakukanaktivitas membaca.
Berbagai cara dapat dilakukanuntuk
melaku- kanaktivitas
membaca tersebut.Dilihat dari
pendidikan orang tuasiswa, tidak ada
perbedaanantara siswa yang orang
tuanya berpendidikantinggi dan yang
berpendidikan rendahdalam
hal ketersediaan sarana bacaan,namun ada
perbedaanyang
cukupnyata antara siswa yang orang tuanya mempunyai
pekerjaan wiraswasta dan berpendidikan menengah dengan siswa yang orang tuanya pensiunandan
berpendidikantinggi. Mereka yang
peker-jaannya wiraswasta dan berpendidikan menengah umunnya
menyediakan bacaandi rumah,
sementara merekayang
berpen-didikan sarjana akan tetapi sudah pensiun umumnya
tidak menyediakan bacaan dirumah.
rMeskipun
tersediatidaknya
sarana bacaandi
rumah tidak mempengaruhibudaya
membacasiswa, yaitu tetap
mempunyai budaya bacatinggi, akan tetapi
merekayang
tersedia bacaan di rumah tetap lebihtinggi
budaya baca mereka dibanding yangtidak
tersedia sarana bacaandi
rumah. Tabelberikut
akan menjelaskan hal itu.Tabel 8.
Ketersediaan Sarana Bacaan dan Budaya Baca Siswa
l13
Sekolah Tersediaan Bacaan Tidak Tersedia Bacaan Tineei Sedang Rendah Tineei Sedane Rendah
Serayu
II
83J% 9,70h 2.0% 72,6yo 9.2% t8,2%Kotagede
III
68,lyo 14.7% 17,3yo 66,3yoll,3yo
27,4YoDemangan
I
80.8% 7,zyo 12,0% 69.2% 23,lyo 7,70AGedongtengen 75.5% l,0yo 23,syo 62.4% l4,6yo 23.1%
Batikan
II
82.7% 3,1yo 13.6% 79,tyo r,9% 12,3o/o SurokarsanII
79,00 8.9% 13,lyo 42,7yo 45.2%t2,t%
Ngabean 83,6yo 6.7% 9,7yo 62,syo 15,3yo 22.2%
$udaya Baca Gwu dan Siswa Selalah Dasar di Kota Yognkarta
Tabel 8 menunjukkan batrwa ada
perbedaan persentase tingginya budaya baca siswa antara mereka yang tersedia bacaandi rumatr dan tidak
tersedia bacaan.Meskipun
secara keseluruhan, budaya baca siswa tetaptinggi
tanpa sarana bacaandi
rumah, akantetapi
merekayang
tersedia bacaandi rumah
akanlebih tinggi
budaya baca mereka.Hal itu
mengisyara&an bahwa ketersediaana bacaandi rumah
memangefektif untuk
mendukung budaya bacasiswa. Jika karena
sesuatuhal di rumah tidak tersedia
sarana bacaan,maka dapat ditempuh
cara-caraagar siswa tetap
dapat melalcukanaktivitas
membaca,seperti melengkapi
perpustakaansekolah, menggalakkan semangat membaca di perpustakaan,
menyediakan koran di tempat publik,
dan sebagainya.
Dikaitkan dengan pendidikan dan pekerjaan orang
tua siswa, mereka yangtidak
tersedia bacaandi
rumahumunnya
yang berpendidikandi
bawahSD
dengan pekerjaanburuh
atau swasta.Yang menarik dari
penelitianini
adalatr siswa yang orang tuanya bekerja sebagai sopir umumnya ada bacaandi
rumah, seperti koran.Tampaknya, para
sopir perlu
mengetahui berita- berita di koran
dan karena itu menyisihkan dananya untuk membeli
koran meskipuntidak
secara rutin.Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian awal tentang budaya baca guru dan siswa SD
di Kota
Yogyakartadi
atas, dapatditarik
kesimpulan sebagai berikut.1. Budaya
bacaguru SD di Kota
Yogyakarta,yang
tergambar dalam sasaranpenelitian, umunnya tinggi.
Budaya baca yangtinggi,
menaikkan kualiatasberpikir individu, menjadi
modalbagi
usaha-usahake arah
peningkatankualitas SDM,
baik kualitas guruitu
sendiri maupun kualitas siswa mereka.tl4
ase
rdi
an.
(an
es1
d.l4
rpat t2n :2n
Jurnal Kependidikan, Nomor
t
TahunXXilil, Mei 20Aj2. Guru
yang budaya bacanyatinggi
pada umumnya mempunyaikonsep, persepsi, dan sikap yang baik tentang
membaca, mempunyai aktivitas yangtinggi
dalam membaca, dan berhasil dalam karya yang berkaitan dengan membaca.3.
Budaya baca guru yangtinggi didukung oleh
fasilitas bacaan,baik di
rumah maupundi
sekolatr.Hal itu
berasosiasi denganjumlah
guru yang berhasil menyelesaikan studi lanjut.4.
Budaya baca siswa SD asuhan para guru tersebut terimbas oleh budaya baca guru,juga
termasuktinggi,
baik pada mereka yang tersedia bacaandi
rumatr maupun yangtidak
tersedia sarana bacaan apa pun. Namun demikian, meskipun sama-samatinggi budaya bacanya, mereka yang tersedia bacaan di
rumahmempunyai budaya baca
yang lebih tinggi dibanding
budaya baca mereka yang tidak tersedia bacaan di rumah.5.
Budaya baca siswa berkaitan dengantingkat
pendidikan orangtua.
Siswa atau sekolah yang pendidikan orang tuanyarelatif tinggi,
budaya bacanyajuga tinggi.
Siswa yang orang tuanyaberpendidikan rendah, tidak tamat SD misalny4
terbukti budaya baca mereka juga termasuk rendah.6. Selain itu, pekerjaim orang tua siswa juga
mempengaruhi budaya baca mereka. Siswa dengan peke{aan orang tua buruh,umumnya budaya baca mereka rendah dan siswa
dengan pekerjaanorang tua PNS, pegawai
swasta, wiraswasta, serta sopir mempunyai budaya baca yang tinggi.Hasil penelitian ini berimplikasi
pada perlunya pemberian motivasi terus-menerus dari kepala sekolatr atau jajaran yang rebihtinggi
dariitu
untuk mempertahankan dan bahkan mengembangkanbudaya baca tersebut. Dalam kaitannya
dengan sarana bacaan,perlu
penyediaan saranabacaan di sekolah baik untuk
siswa maupun guru. Perpustakaan sekolah menjadi sesuatu yang penting, perlu penyempurnun koleksi bacaan dengan bacaanyangmenaril,
baru, dantinggi
manfaatnya.ang t5Ia.
ran.
lran
0ran
guru 'u1an
nbar i ang rodal
raik
n5
Budaya Baca Gunr dan Siarya Sekolah Dosar di Kota Yognharta
Diketatruinya budaya baca sebagian guru dan siswa
S?
giKota Yogyakarta,
dapat membuka wawasanbagi
instansi terkait dalam program yangiebih
besar,terkait
denganotonomi
daerah.ptogt*i, pittu ait i- bekedasama dengan lembaga pendidikan dan lembaga lain Yang terkait.
Penelitianinimerupakanpenelitianawaldalamusatra m"mperoleh
gambarantentang budaya baca sekolah' grrru
dansiswa SD.
Peneiitianperlu ditlruskan
denganpenelitian
lanjutan agar diperoleh simpulan yang lebih komprehensif dan bermakna.Daftar
PustakaCronbach,L.J'(19s4).Essentialofpsychologicaltesting.Cambridge:
Harper
&
Row.Flood,J.&Lapp,D.(1981).Language/readinginsffuctionfortheyoung c&i/d. New York: Macmillan'
Johnstone,
J &
Jiyono.(i990). "out of high
school mathematics by females and males, Attribution and attitude". Research Journal,6(5),
110-123.Kaplan,
D &
Manners,A' A. (1999)' Teori
budaya' (Terjemahan Landun g S imatupang). Yo gyakarta: Pustaka Pe laj ar'Kuncaraningrat. (1983) . Antropologi budaya. Jakarta: Gramedia.
Nuttall, C.
(1985). Teachingreading skills in a foreign
languoge'London: Heinemann.
Pumfrey, P.D. (1976). Reading: Test and assessment technique. London:
T
&
A. Constable.Sarjono,A.R.(1999).Pembebasanbudaya-budayakita.Jakarta:
Gramedia.
Soejatmoko.
(1985). Dimensi
manusiadan
pembangunan' Jakarta:LP3ES.
116