• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN MATERI AJAR BAHASA INDONESIA KELAS X SMAN 4 LUWU UTARA BERBASIS FLIPBOOK MAKER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGEMBANGAN MATERI AJAR BAHASA INDONESIA KELAS X SMAN 4 LUWU UTARA BERBASIS FLIPBOOK MAKER"

Copied!
152
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN MATERI AJAR BAHASA INDONESIA KELAS X SMAN 4 LUWU UTARA BERBASIS FLIPBOOK MAKER

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Teknologi Pendidikan

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh :

ABD. KARIM MAHMUT 105311102817

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR Agustus, 2021

(2)

ii

(3)

iii

(4)
(5)

iv

(6)

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Lakukanlah Sesuatu Yang Orang Lain Belum Lakukan,

Maka Kau Akan Mendapatkan Sesuatu Yang Orang Lain Belum Dapatkan…

Kupersembahkan karya ini buat:

Kedua orang tuaku, saudaraku, dan semua orang terdekatku untuk doa dan dukungan yang diberikan tanpa henti dalam proses penyelesaian studi penulis.

v

(7)

ABSTRAK

Abd. Karim Mahmut, 2021. Pengembangan Materi Ajar Bahasa Indonesia Kelas X SMAN 4 Luwu Utara Berbasis Flipbook Maker. Skripsi Program Studi Teknologi Pendidikan Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Dibimbing Oleh Andi Adam Dan Akram. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan produk materi ajar yang layak, praktis, dan efektif bagi siswa SMAN 4 Luwu Utara kelas X dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Jenis penelitian ini yaitu penelitian dan pengembangan (research and development). Model pengembangan yang digunakan adalah model Four-D (4-D) yang telah di modifikasi menjadi model Three-D (3-D) terdiri dari 3 tahap yang meliputi: Define (Pendefinisian), Design (Perancangan), Develop (Pengembangan). Desain tindakan yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan (R&d) ini adalah pretest- posttest design. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah validasi dan observasi. Hasil penelitian dan pengembangan (R&D) ini: (a) dihasilkan produk materi ajar Bahasa Indonesia kelas X SMAN 4 Luwu Utara berbasis media flipbook maker, (b) materi ajar Bahasa Indonesia kelas X berbasis media flipbook maker yang telah dinyatakan layak oleh ahli dan subjek uji coba, (c) materi ajar Bahasa Indonesia kelas X berbasis media flipbook maker yang telah dinyatakan efektif untuk digunakan dalam pembelajaran. Hal ini ditunjukkan oleh tingkat ketuntasan tes kemampuan kelompok uji lapangan I dan II masing-masing sebesar 59% dan 77%. (d) materi ajar Bahasa Indonesia kelas X berbasis media flipbook maker yang telah dinyatakan praktis untuk digunakan dalam pembelajaran. Hal ini ditunjukkan dengan hasil angket respon siswa dan guru. Rerata total respon guru terhadap materi ajar sebesar 3,8 atau dengan kategori baik. Rerata respon siswa uji coba lapangan I dan II masing-masing sebesar 4,1 dengan kategori praktis.

Kata kunci: Pengembangan, Materi ajar, Bahasa Indonesia, flipbook Maker

(8)

KATA PENGANTAR

Segala puji peneliti haturkan atas kehadirat Allah Subhanahuwata’ala yang telah menciptakan manusia dengan sepasang mata agar dapat memandang segala ciptaan-Nya, sehingga manusia sadar akan besarnya kuasa-Nya. Salawat serta salam tidak lupa penulis kirimkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Nabi yang telah mengorbankan segalanya demi memperjuangkan Islam dan menjadi suri tauladan bagi umat manusia.

Kesempurnaan bagaikan fatamorgana yang semakin dikejar, semakin hilang dari pandangan. Karena jika manusia mencari kesempurnaan, maka manusia tidak akan pernah merasa puas. Begitupun dengan Skripsi ini. Penulis berharap kesempurnaan dari tulisan ini, namun penulis hanya manusia biasa yang memiliki keterbatasan. Maka dengan segala upaya peneliti menyusun tulisan ini menjadi baik dan bermanfaat.

Tidak lupa pula penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh pihak yang memotivasi, memberikan dukungan, dan nasihat dalam merampungkan tulisan ini. Segala rasa hormat, khususnya kepada:

Kedua orang tua penulis, yaitu Ibu tercinta Muaheni, Kedua tante saya, yaitu tante Sennang dan tante Atti dan saudara kandung yang selalu mendidik, menyemangati, merawat, membesarkan, dan membiayai penulis sehingga mampu merasakan suka dan dukanya mengenyam dunia pendidikan. Terima kasih kepada

vi

(9)

sodara saya aziz thaba yang telah membimbing dan membiaya saya untuk mengeyam dunia pendidikan tingakat universitas.

Kepada Bapak Andi Adam, S.Pd.,M.Pd selaku pembimbing I dan Pak Akram, S.Pd.,M.Pd selaku pembimbing II, yang telah memberikan bimbingan, arahan, dan motivasi sejak awal penyusunan proposal hingga selesainya penulisan skripsi ini.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar Prof. Dr. H. Ambo Asse, M. Ag., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar Dr. H.

Erwin Akib, M. Pd., Ph. D., dan Ketua Program Studi Teknologi Pendidikan Pendidikan Dr. Muhammad Nawir, M.Pd., serta seluruh dosen dan para staf pegawai dalam lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah membekali penulis dengan berbagai pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi penulis.

Terima kasih kepada semua Manusia Hebat Lembaga Swadaya Penelitian dan Pengembangan Pendidikan (LSP3) Matutu Sulawesi selatan, terkhusus kepada mentor terbaik Bapak Aziz Thaba, S.Pd., M.Pd., yang telah mengenalkan dunia penulisan, dunia penelitian serta terus memberikan berbagai bantuan yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, terima kasih pula kepada Kak Amrul, Kak Cici, kak Devi, Adik Ayu, Kak Darna, Kak Pipit, Kak Ari, Adik Lulu atas bantuannya selama di lembaga.

(10)

Terima kasih kepada semua responden yang telah membatu penulis dalam memberikan data sehingga skripsi ini dapat selesai. Terima kasih kepada teman- teman Relasi 2017 Teknologi Pendidkan terkhusus untuk Kelas A yang telah melukiskan pelangi dari mahasiswa baru hingga menjadi mahasiswa basi. Terakhir untuk Rastika Aulia dan Girman Budianto santoso yang selalu memberikan bantuan selama saya melakukan penyusunan skirpsi ini.

Akhirnya dengan segala kerendahan hati, penulis senantiasa mengharapkan kritikan dan saran dari berbagai pihak, selama saran dan kritikan tersebut sifatnya membangun karena penulis yakin bahwa persoalan tidak akan berarti sama sekali tanpa adanya kritikan. Harapan terbesar mudah-mudahan tulisan ini dapat memberi manfaat bagi para pembaca, terutama bagi diri penulis. Aamiin.

Makassar, Juli 2021

Abd. Karim Mahmut viii ix

(11)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

SURAT PERNYATAAN ... iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... v

ABSTRAK ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR TABEL ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Pengembangan ... 7

D. Spesifikasi Produk yang Dharapkan ... 7

E. Pentingnya Pengembangan ... 8

F. Asumsi dan Keterbatasan Pengembangan ... 8

G. Definisi Operasional Variabel ... 9

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR ... 11

A. Kajian Teori ... 11

1. Pengembangan ... 11

2. Materi Ajar ... 19

3. Pengajaran Bahasa Indonesia ... 35

4. Flipbook Maker ... 37

5. Kajian Penelitian Relevan ... 43

B. Kerangka Pikir ... 45

x

(12)

BAB III METODE PENELITIAN ... 47

A. Model Pengembangan ... 47

B. Prosedur Pengembangan ... 48

C. Data dan Sumber Data ... 55

D. Instrumen Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data ... 56

E. Teknik Analisis Data ... 60

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 66

A. Hasil Penelitian ... 66

B. Pembahasan ... 121

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 126

A. Simpulan ... 126

B. Saran ... 127

DAFTAR PUSTAKA ... 128

LAMPIRAN ... 132

RIWAYAT HIDUP ... 183

xi

(13)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

Gambar 2.1 Kerangka Pikir... 47

Gambar 3.1 Model Pengembangan 4-D ... 48

Gambar 3.2 Model Pengembangan 3-D ... 49

Gambar 3.3 Prosedur Pengembangan Model 3-D ... 50

Gambar 3.4 Peta Konsep ... 52

Gambar 3.5 Tampilan Media Flipbook Maker ... 55

Gambar 4.1 Grafik Distribusi Frekuensi Ketuntasan Pretest... 101

Gambar 4.2 Grafik Distribusi Frekuensi Ketuntasan posttest ... 103

xii

(14)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

Tabel 4.1 Uji kelayakan I RPP ... 71

Tabel 4.2 Uji kelayakan II RPP... 73

Tabel 4.3 Uji Kelayakan Materi Ajar Tahap I Aspek Isi ... 75

Tabel 4.4 Uji Kelayakan Materi Ajar Tahap II Aspek Isi ... 77

Tabel 4.5 Uji Kelayakan Materi Ajar Tahap I Aspek Penyajian ... 79

Tabel 4.6 Uji Kelayakan Materi Ajar Tahap II Aspek Penyajian ... 81

Tabel 4.7 Uji Kelayakan Materi Ajar Tahap I Aspek Kegrafikan ... 82

Tabel 4.8 Uji Kelayakan Materi Ajar Tahap II Aspek Kegarfikan ... 86

Tabel 4.9 Uji Kelayakan Materi Ajar Tahap I Aspek Bahasa... 89

Tabel 4.10 Uji Kelayakan Materi Ajar Tahap II Aspek Bahasa ... 91

Tabel 4.11 Uji Kelayakan Materi Ajar Tahap I Aspek Media ... 93

Tabel 4.12 Uji Kelayakan Materi Ajar Tahap II Aspek Media... 96

Tabel 4.13 Presntase Peningkatan Kognitif siswa, uji coba terbatas ... 98

Tabel 4.14 Distribusi Frekuensi Ketuntasan pretest, uji coba terbatas ... 100

Tabel 4.15 Distribusi Frekuensi Ketuntasan posttest, uji coba terbatas ... 101

Tabel 4.16 Presntase Peningkatan Kognitif siswa, uji coba Lapangan I ... 105

(15)

Tabel 4.17 Distribusi Frekuensi Ketuntasan pretest, uji coba lapangan I ... 106

Tabel 4.18 Distribusi Frekuensi Ketuntasan posttest, uji coba lapangan I ... 108

Tabel 4.19 Presntase Peningkatan Kognitif siswa, uji coba lapangan II ... 110

Tabel 4.20 Distribusi Frekuensi Ketuntasan pretest, uji coba lapangan II ... 112

Tabel 4.21 Distribusi Frekuensi Ketuntasan posttest, uji coba lapangan II ... 114

xiii

xiv

(16)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Konstitusi dengan jelas menjabarkan tugas dan fungsi tenaga guru sebagai perwalian tugas dan kewajiban negara yang diatur di dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945 Pasal 31 Ayat (3) bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. Selanjutnya, dipertegas di dalam Undang- Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 40 Ayat (2a) bahwa tenaga pendidik (guru) berkewajiban memiliki komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan. Jadi, tidak ada lagi alasan bagi tenaga pendidik khususnya guru untuk tidak berpikir, berkegiatan, berkreasi, dan melahirkan inovasi-inovasi terbaru dalam rangka menunaikan tugas dan tanggung jawab tersebut. Apa lagi, sekarang ini Indonesia diperhadapkan pada era pembangunan berencana menuju peradaban bangsa yang berkemajuan guna memeroleh posisi yang strategis di dunia internasional.

Davis, E (2006) dan Villegas & Lucas (2002) dalam tulisannya menjelaskan bahwa pendidik pada era sekarang ini dituntut untuk bersikap dan berpikir kritis demi memajukan kurikulum pendidikan. Berpikir dan bersikap kritis sebaiknya telah menjadi kebudayaan atau kebiasaan bagi mereka. Namun, Remillard, J. T., &

Bryans, M. B. (2004) mengungkapkan bahwa kesemua itu akan berhasil jika

1

(17)

orientasi pendidik sejalan dengan kebijakan pengembangan kurikulum pendidikan.

Bukan dengan sikap acuh terhadap kurikulum dan perkembangan siswanya.

Undang-Undang secara rinci menjelaskan petunjuk instruksional pelaksanaan kinerja profesional guru, salah satu diantaranya pengembangan proses dan satuan pendidikan sebagaimana yang dijelaskan di dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 39 Ayat (1) bahwa tenaga pendidik bertugas untuk melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses dan satuan pendidikan.

Seperti yang dikemukakan Cronje (2006) bahwa yang menjadi permasalahan adalah keadaan guru atau tenaga pendidik yang tidak mengerti dan memahami dengan baik tugas dan fungsinya sebagaimana yang dijelaskan di dalam undang- undang tersebut.

Salah satu wujud pengembangan mutu satuan pendidikan yang dapat dilakukan guru adalah pengembangan materi ajar sebagai salah satu perangkat kurikulum yang penting dan menentukan keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan (Ball, D. L., & Cohen, D. K, 1996). Tugas pengembangan materi ajar bagi guru juga diatur di dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 20 bahwa guru diharapkan mengembangkan materi pembelajaran atau materi ajar serta perangkat pendukung lainnya. PP tersebut dipertegas melalui Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses yang berbunyi perencanaan proses pembelajaran yang mensyaratkan guru untuk mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran. Dengan demikian, guru tidak lagi dapat berkelit atau menghindari kewajibannya untuk melakukan pengembangan materi ajar.

(18)

Penelitian dan pengembangan materi ajar Bahasa Indonesia ini didasari pada harapan dan kenyataan mengenai materi ajar yang sesuai dengan kebutuhan pembelajar, memenuhi standar proses, serta mendukung peningkatan hasil atau prestasi siswa. Sebab, jika sebuah materi ajar dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, memenuhi standar proses, serta berorientasi pada peningkatan kognitif, afektif, dan psikomotor pengguna tentunya akan memudahkan dalam pencapaian tujuan (Barab, S. A., & Luehmann, A. L., 2003).

Terkait dengan materi ajar, siswa dan guru menghendaki produk yang sesuai dengan kebutuhan belajar dan mengajar mereka. Bagi siswa, tujuannya sederhana yaitu memudahkan mereka untuk belajar, memahami materi, memberikan kemudahan akses, menarik, mudah dimiliki, sehingga berdampak positif terhadap hasil atau prestasi belajarnya. Sedangkan bagi guru, materi ajar yang baik mampu mempermudah proses pemberian materi sehingga harapan pencapaian proses dan tujuan pembelajaran dengan mudah terlaksana (Putra, 2011). Faktanya, selama ini produk materi ajar Bahasa Indonesia yang digunakan oleh guru SMA N 4 Luwu Utara masih mengandalkan (secara mentah) produk materi ajar yang sudah disediahkan oleh pemerintah tanpa ada usaha untuk mengembangkan materi ajar tersebut.

Jika permasalahannya demikian, hal ini berarti guru belum melaksanakan fungsi dan kedudukan profesional sebagaimana mestinya. Sebab, dalam Undang- Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 39 Ayat (1) telah dijelaskan bahwa salah satu tugas guru adalah mengembangkan mutu dan satuan pendidikan melalui lembaga profesionalitasnya. Atau di dalam Peraturan

(19)

Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 20 dan Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses.

Selanjutnya, terkait dengan budaya mengajar dan belajar, di SMA N 4 Luwu Utara khususnya kelas X, kegiatan belajar dan mengajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia masih belum mengalami kemajuan berarti. Hal ini didukung oleh temuan awal peneliti dari hasil observasi dimana hingga saat ini, kegiatan belajar mengajar masih mengandalkan materi ajar cetak. Modelnya pun dominan masih konvensional seperti ceramah, diskusi, atau penugasan. Meskipun ada yang telah menggunakan basis teknologi seperti power point, tetapi tentu hal tersebut dapat dikatakan tertinggal melihat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini (Rukayah, Tolla, dan Ramly, 2017).

Masih terkait dengan materi ajar dan proses belajar dan mengajar. Setiap guru tentunya menghendaki hasil atau pencapaian yang maksimal baik proses maupun tujuan pembelajarannya. Menjadi indikator peneliti bahwa jika materi ajar dan proses belajar dirancang dan dikembangkan dengan baik, tentu hasil atau prestasi belajar siswa juga akan baik. Hal tersebut sesuai dengan yang diungkapkan Tessmer (1993) dalam bukunya “Planning and Conducting Formative Evaluations” bahwa materi ajar pembelajaran bertalian langsung dengan proses dan hasil belajar siswa. Namun faktanya, hasil atau prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia masih sangat rendah dengan tingkat ketuntasan belajar hanya sebesar 42,17%. Sedangkan yang di persyaratkan yaitu 70% berdasarkan standar kriteria ketuntasan minimal (kkm).

(20)

Berdasarkan harapan, kenyataan, dan landasan konstitusi di atas, peneliti tertantang mengembangkan materi ajar elektronik Bahasa Indonesia berbasis FlipBook Maker sebagai solusi yang ditawarkan dari permasalahan tersebut.

Dengan materi ajar ini, siswa akan memperoleh pemahaman yang sistematis karena materi yang disajikan berdasarkan kebutuhan belajar siswa dan mengacu pada kelemahan dan kekurangan materi ajar terdahulu yang telah disempurnakan.

Dipilihnya basis FlipBook Maker dalam pengembangan materi ajar ini sebagai bentuk adaptif terhadap laju perkembangan pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat. FlipBook Maker sendiri merupakan perangkat lunak (software) digital yang sekarang ini banyak diminati masyarakat baik dari kalangan pendidik (guru), siswa, pengusaha, dan masyarakat umum lainnya untuk berbagai kepentingan informatif seperti penyajian materi pembelajaran, promosi barang dagangan, iklan, penyimpanan (storage) pengalaman atau dokumen pribadi, dan lain sebagainya. Selain itu, FlipBook Maker dipilih atas pertimbangan bahwa perangkat ajar digital atau elektronik dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran karena memungkinkan siswa untuk terlibat aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran, karena perangkat ajar tersebut dilengkapi dengan berbagai fasilitas atau fitur menarik serta rancangan eksperimen virtual yang dapat menggiring siswa terlibat atau mengalami proses sains (“sciensing”) sebagaimana laporan Chris (2007). Irlidiyah, Tolla, Noni, dan Anshari (2015) juga mengungkapkan bahwa media yang memiliki berbagai variasi keinderaan (multimedia) sangat efektif terhadap peningklatan hasil belajar siswa. Hal ini disebabkan oleh daya dukung masing-masing gaya atau style media yang menyatu dalam satu media. Dengan

(21)

alasan tersebut, kebutuhan belajar berdasarkan pada penekanan keinderaan siswa dapat terpenuhi. Selanjutnya, materi ajar digital memiliki tingkat efisiensi yang tinggi dalam segala hal. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Opara & Oguzor (2011) di dalam laporan penelitiannya yang dipublikasikan di International Journal Research of Social Science bahwa tingkat efisiensi e-learning lebih baik dari pembelajaran konvensional yang harus membawa lembaran atau kumpulan buku ke dalam kelas. Sedangkan, e-learning hanya memanfaatkan satu teknologi (komputer/laptop atau handphone) yang mampu menampung ribuan materi atau materi ajar.

Semoga dengan pengembangan materi ajar Bahasa Indonesia berbasis media FlipBook Maker ini mampu menyelesaikan permasalahan yang telah dikemukakan sebelumnya dan menjawab tantangan laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, diharapkan pengembangan materi ajar ini mampu menjadi rule model bagi segenap guru untuk mengembangkan inovasi dan kreatifitas khususnya di SMA N 4 Luwu Utara.

B. Rumusan Masalah

Setelah memahami latar belakang penelitian dan pengembangan ini, dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut:

1. Bagaimanakah kelayakan materi ajar Bahasa Indonesia berbasis media FlipBook Maker di SMA N 4 Luwu Utara?

2. Bagaimanakah keefektifan materi ajar Bahasa Indonesia berbasis media FlipBook Maker di SMA N 4 Luwu Utara?

(22)

3. Bagaimanakah kepraktisan materi ajar Bahasa Indonesia berbasis media FlipBook Maker di SMA N 4 Luwu Utara?

C. Tujuan Pengembangan

Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian dan pengembangan materi ajar ini sebagai berikut:

1. Untuk menghasilkan produk materi ajar Bahasa Indonesia berbasis media FlipBook Maker yang teruji kelayakannya bagi siswa di SMA N 4 Luwu Utara.

2. Untuk menghasilkan produk materi ajar Bahasa Indonesia berbasis media FlipBook Maker yang efektif bagi siswa di SMA N 4 Luwu Utara.

3. Untuk menghasilkan produk materi ajar Bahasa Indonesia berbasis media FlipBook Maker yang praktis bagi siswa di SMA N 4 Luwu Utara.

D. Spesifikasi Produk yang Diharapkan

Produk yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah sebuah produk materi ajar yang berbasis flipBook Maker, dimana materi ajar yang dihasilkan merupakan materi ajar berbentuk digital dengan mengunakan flipBook Maker dan sudah melalui tahap pengujian kelayakan, efektif dan praktis yang diuji oleh ahli atau pakar dalam bidangnya. Materi ajar yang dikembangkan dapat memenuhi kriteria kebenaran, keluasan dan kedalaman konsep, kesesuaian dengan Standar Isi, kebahasaan dan kejelasan kalimat, keterlaksanaan, serta tampilan yang baik dan menarik sehingga dapat dikategorikan sebagai materi ajar yang berkualitas baik.

(23)

E. Pentingnya Pengembangan

Penelitian ini penting karena dapat memberikan sebuah solusi atau alternative baik bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA yaitu menciptakan produk materi ajar yang berbentuk digital yang dimana materi ajar yang diciptakan sudah teruji kelayakan, kevalidan dan kepraktisan oleh para ahli dan pakar dalam bidangnya.

F. Asumsi dan Keterbatasan Pengembangan 1. Asumsi Pengembangan

Asumsi dalam penelitian dan pengembangan ini yaitu sebagai berikut:

a. Pengembangan materi ajar berbasis FlipBook Maker pada mata pelajaran Bahasa Indonesia ini mampu membuat media pembelajaran yang inovatif, kreatif dan efektif untuk menagani persoalan permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah.

b. Pengembangan materi ajar berbasis FlipBook Maker ini mampu menghasilkan sebuah materi ajar yang berkualitas yang dimana materi ajar ini sudah teruji kevalidan, kelayakan dan kepraktisan oleh ahli dan pakar dalam bidangnya.

c. Siswa dapat belajar dengan mandiri.

d. Dalam penelitian dan pengembangan materi ajar ini mengunakan media FlipBook Maker yang dimana dalam pengunaan media tidak menyulitkan siswa dalam pembelajaran.

(24)

2. Asumsi Keterbatasan Pengembangan

Adapun asumsi keterbatasan pengembangan penelitian ini ialah produk yang di kembangkan hanya baru sampai pada materi tertentu atau materi khusus yang ada di mata pelajaran Bahasa Indonesia dan belum mencakup secara keseluruhan SK dan KD mata pelajaran Bahasa Indonesia Kelas X semester satu dan dua.

G. Definisi Operasional Variabel

Dalam penelitian dan pengembangan ini definisi operasionnal vairabel yaitu sebagai berikut:

1. Validitas (layak)

Validitas materi ajar merupakan capaian yang menandai materi ajar memiliki kepatutan berdasarkan penilaian komponen atau struktur yang membangun materi ajar tersebut. Komponen yang dinilai untuk dijadikan sebagai dasar pengukuran kevalidan materi ajar adalah komponen isi atau materi, tata, penyajian, tata grafis atau keagrafikan, serta kebahasan.

2. Keefektifan

Keefektifan materi ajar merupakan capaian yang menandai materi ajar memiliki daya pakai yang baik untuk mencapai tujuan atau memecahkan suatu masalah. Penilaian keefektifan materi ajar mengacu pada hasil implementasi materi ajar itu sendiri.

3. Praktikalitas

Praktikalitas materi ajar merupakan capaian yang menandai materi ajar memiliki ciri praktis (mudah digunakan) dan menyenangkan ketika digunakan.

(25)

Ukuran kepraktisan materi ajar dinilai dari evaluasi proses pembelajaran dan aktivitas belajar siswa.

4. Penelitian dan Pengembangan

Penelitian dan pengembangan didefinisikan sebagai kajian secara sistematik untuk merancang, mengembangkan dan mengevaluasi program- program, proses dan hasil pembelajaran yang memenuhi kriteria konsistensi dan keefektifan secara internal.

5. FlipBook Maker

FlipBook Maker adalah sebuah software yang mempunyai fungsi untuk membuka setiap halaman menjadi layaknya sebuah buku. Software flipbook maker dapat membuat dan mengubah file pdf, image/photo menjadi sebuah buku atau album fisik ketika kita buka per halamannya.

6. Materi ajar

Materi ajar adalah segala bentuk materi yang digunakan untuk membantu guru/instruktor dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

Materi yang dimaksud bisa berupa materi tertulis, maupun materi tidak tertulis.

7. Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia adalah salah satu dari banyak varietas bahasa Melayu.

Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi.

(26)

BAB II

KAJIAN TEORI, KERANGKA PIKIR

A. Kajian Teori

1. Pengembangan

Pengembangan adalah suatu usaha untuk meningkatkan kemampuan teknis, teoritis, konseptual, dan moral sesuai dengan kebutuhan melalui pendidikan dan latihan. Pengembangan adalah suatu proses mendesain pembelajaran secara logis, dan sistematis dalam rangka untuk menetapkan segala sesuatu yang akan dilaksanakan dalam proses kegiatan belajar dengan memperhatikan potensi dan kompetensi peserta didik.

Maka pengembangan pembelajaran lebih realistik, bukan sekedar idealisme pendidikan yang sulit diterapkan dalam kehidupan. Pengembangan pembelajaran adalah usaha meningkatkan kualitas proses pembelajaran, baik secara materi maupun metode dan subtitusinya. Secara materi, artinya dari aspek bahan ajar yang disesuaikan dengan perkembangan pengetahuan, sedangkan secara metodologis dan subtansinya berkaitan dengan pengembangan strategi pembelajaran, baik secara teoritis maupun praktis.

Penelitian pengembangan adalah suatu atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada, yang dapat dipertanggung jawabkan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menghasilkan produk baru melalui pengembangan.

11

(27)

Berdasarkan pengertian pengembangan yang telah diuraikan yang dimaksud dengan pengembangan adalah suatu proses untuk menjadikan potensi yang ada menjadi sesuatu yang lebih baik dan berguna sedangkan penelitian dan pengembangan adalah suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk atau menyempurnakan produk yang telah ada menjadi produk yang dapat dipertanggung jawabkan.

Metode penelitian pengembangan adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji kefektifan produk tersebut. Untuk dapat menghasilkan produk tertentu digunakan penelitian yang bersifat analisis kebutuhan dan untuk menguji keefektifan produk tersebut supaya dapat berfungsi di masyarakat luas, maka diperlukan penelitian untuk menguji keefektifan produk tersebut. Menurut Sujadi (2003:164), penelitian pengembangan adalah suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru, atau menyempurnakan produk yang telah ada, yang dapat dipertanggungjawabkan. Produk tersebut tidak selalu berbentuk benda atau perangkat keras (hardware), seperti buku, modul, alat bantu pembelajaran di kelas atau di laboratorium, tetapi bisa juga perangkat lunak (software), seperti program komputer untuk pengolahan data, pembelajaran di kelas, perpustakaan atau laboratorium, ataupun model-model pendidikan, pembelajaran, pelatihan, bimbingan, evaluasi, manajemen, dll.

Model 4D merupakan salah satu metode penelitian dan pengembangan.

Model 4D digunakan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran. Model 4D dikembangkan oleh S. Thiagarajan, Dorothy S. Semmel, dan Melvyn I.

(28)

Semmel pada tahun 1974. Sesuai namanya, model 4D terdiri dari 4 tahapan utama yakni Define (Pendefinisian), Design (Perancangan), Develop (Pengembangan), dan Disseminate (Penyebaran).

Tahap Pengembangan Perangkat Pembelajaran Model 4D

a.

Tahap Define (Pendefinisian)

Tahap awal dalam model 4D ialah pendefinisian terkait sayarat pengembangan. Sederhananya, pada tahap ini adalah tahap analisis kebutuhan. Dalam pengembangan produk pengembang perlu mengacu kepada syarat pengembangan, manganalisa dan mengumpulkan informasi sejauh mana pengembangan perlu dilakukan.

Tahap pendefinisian atau analisa kebutuhan dapat dilakukan melalui analisa terhadap penelitian terdahulu dan studi literatur. Thiagarajan dkk

(29)

(1974) menyebut ada lima kegiatan yang bisa dilakukan pada tahap define, yakni meliputi:

1) Front-end Analysis (Analisa Awal)

Analisa awal dilakukan untuk mengidentifikasi dan menentukan dasar permasalahan yang dihadapi dalam proses pembelajaran sehingga melatarbelakangi perlunya pengembangan (Thiagarajan, dkk 1974).

Dengan melakukan analisis awal peneliti/pengembang memperoleh gambaran fakta dan alternatif penyelesaian. Hal ini dapat membantu dalan menentukan dan pemilihan perangkat pembelajaran yang akan dikembangkan.

2) Learner Analysis (Analisa Peserta Didik)

Analisa peserta didik merupakan kegiatan mengidentifikasi bagaimana karakteristik peserta didik yang menjadi target atas pengembangan perangkat pembelajaran. Karakteristik yang dimaksud ialah berkaitan dengan kemampuan akademik, perkembangan kognitif, motivasi dan keterampilan individu yang berkaitan dengan topik pembelajaran, media, format, dan bahasa.

3) Task Analysis (Analisa Tugas)

Analisa tugas bertujuan untuk mengidentifikasi keterampilan yang dikaji peneliti untuk kemudian dianalisa ke dalam himpunan keterampilan tambahan yang mungkin diperlukan (Thiagarajan, dkk 1974).Dalam hal ini, pendidik menganalisa tugas pokok yang harus dikuasai peserta didik agar peserta didik bisa mencapai kompetensi minimal yang ditetapkan.

(30)

4)

Concept Analysis (Analisa Konsep)

Dalam analisa konsep dilakukan identifkasi konsep pokok yang akan diajarkan, menuangkannya dalam bentuk hirarki, dan merinci konsep- konsep individu ke dalam hal yang kritis dan tidak relevan (Thiagarajan, dkk 1974). Analisa konsep selain menganalisis konsep yang akan diajarkan juga menyusun langkah-langkah yang akan dilakukan secara rasional.

Analisa konsep ini meliputi analisa standar kompetensi yang bertujuan untuk menentukan jumlah dan jenis bahan ajar dan analisis sumber belajar, yaitu identifikasi terhadap sumber-sumber yang mendukung penyusunan bahan ajar.

5) Specifying Instructional Objectives (Perumusan Tujuan Pembelajaran) Perumusan tujuan pembelajaran berguna untuk merangkum hasil dari analisa konsep (concept analysis) dan analisa tugas (task analysis) untuk menentukan perilaku objek penelitian (Thiagarajan, dkk 1974).

Rangkuman tersebut akan menjadi landasan dasar dalam menyusun tes dan merancang perangkat pembelajaran untuk selanjutnya diintegrasikan ke dalam materi perangkat pembelajaran yang akan digunakan.

b. Tahap Design (Perancangan)

Tahap kedua dalam model 4D adalah perancangan (design). Ada 4 langkah yang harus dilalui pada tahap ini yakni constructing criterion- referenced test (penyusunan standar tes), media selection (pemilihan

(31)

media), format selection (pemilihan format), dan initial design (rancangan awal) (Thiagarajan, dkk 1974).

1) Constructing Criterion-Referenced Test (Penyusunan Standar Tes)

Penyusunan standar tes adalah langkah yang menghubungkan tahappendefinisan dengan tahap perancangan. Penyusunan standar tes didasarkan pada hasil analisa spesifikasi tujuan pembelajaran dan analisa peserta didik. Dari hal ini disusun kisi-kisi tes hasil belajar. Tes disesuaikan dengan kemampuan kognitif peserta didik dan penskoran hasil tes menggunakan panduan evaluasi yang memuat penduan penskoran dan kunci jawaban soal.

2) Media Selection (Pemilihan Media)

Secara garis besar pemilihan media dilakukan untuk identifikasi media pembelajaran yang sesuai/relevan dengan karakteristik materi.

Pemilihan media didasarkan kepada hasil analisa konsep, analisis tugas, karakteristik peserta didik sebagai pengguna, serta rencana penyebaran menggunakan variasi media yang beragam. Pemilihan media harus didasari untuk memaksimalkan penggunaan bahan ajar dalam proses pengembanan bahan ajar pada proses pembelajaran.

3) Format Selection (Pemilihan Format)

Pemilihan format dalam pengembangan perangkat pembelajaran bertujuan untuk merumuskan rancangan media pembelajaran, pemilihan strategi, pendekatan, metode, dan sumber pembelajaran.

(32)

4) Initial Design (Rancangan Awal)

Thiagarajan dkk (1974) menyebut bahwa rancangan awal adalah keseluruhan rancangan perangkat pembelajaran yang harus dikerjakan sebelum ujicoba dilakukan. Rancangan ini meliputi berbagai aktifitas pembelajaran yang terstruktur dan praktik kemampuan pembelajaran yang berbeda melalui praktik mengajar (Microteaching).

c. Tahap Develop (Pengembangan)

Tahap ketiga dalam pengembangan perangkat pembelajaran model 4D adalah pengembangan (develop). Tahap pengembangan merupakan tahap untuk menghasilkan sebuah produk pengembangan. Tahap ini terdiri dari dua langkah yaitu expert appraisal (penilaian ahli) yang disertai revisi dan delopmental testing (uji coba pengembangan).

1) Expert Appraisal (Penilaian Ahli)

Expert appraisal merupakan teknik untuk mendapatkan saran perbaikan materi Thiagarajan dkk (1974). Dengan melakukan penilaian oleh ahli dan mendapatkan saran perbaikan perangkat pembelajaran yang dikembangkan selanjutnya direvisi sesuai saran ahli. Penilaian ahli diharapkan membuat perangkat pembelajaran lebih tepat, efektif, teruji, dan memiliki teknik yang tinggi.

2) Delopmental Testing (Uji Coba Pengembangan)

Uji coba pengembangan dilaksanakan untuk mendapatkan masukan langsung berupa respon, reaksi, komentar peserta didik, para pengamat atas perangkat pembelajaran yang sudah disusun. Uji coba dan revisi dilakukan

(33)

berulang dengan tujuan memperoleh perangkat pembelajaran yang efektif dan konsisten (Thiagarajan dkk, 1974).

d. Tahap Disseminate (Penyebarluasan)

Tahap terakhir dalam pengembangan perangkat pembelajaran model 4D ialah tahap penyebarluasan. (Thiagarajan dkk, 1974) menjelaskan bahwa tahap akhir pengemasan akhir, difusi, dan adopsi adalah yang paling penting meskipun paling sering diabaikan.

Tahap penyebarluasan dilakukan untuk mempromosikan produk hasil pengembangan adar diterima pengguna oleh individu, kelompok, atau sistem. Pengemasan materi harus selektif agar menghasilkan bentuk yang tepat. Menurut Thiagarajan (1974) ada tiga tahap utama dalam tahap disseminate yakni validation testing, packaging, serta diffusion and adoption.

Dalam tahap validation testing, produk yang selesai direvisi pada tahap pengembangan diimplementasikan pada target atau sasaran sesungguhnya. Pada tahap ini juga dilakukan pengukuran ketercapaian tujuan yang bertujuan untuk mengetahui efektivitas produk yang dikembangkan. Selanjutnya setelah diterapkan, peneliti/pengembang perlu mengamati hasil pencapaian tujuan, tujuan yang belum dapat tercapai harus dijelaskan solusinya agar tidak berulang saat setelah produk disebarluaskan.

Pada tahap packaging serta diffusion and adoption, pengemasan produk dilakukan dengan mencetak buku panduan penerapan yang

(34)

selanjutnya disebarluaskan agar dapat diserap (difusi) atau dipahami orang lain dan dapat digunakan (diadopsi) pada kelas mereka.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalm melaksanakan diseminasi/penyebarluasan adalah analisa pengguna, strategi dan tema, pemilihan waktu penyebaran, dan pemilihan media penyebaran.

2. Materi Ajar

a. Definisi Materi Ajar

Pengembangan pendidikan menjadi topik yang selalu hangat dibicarakan dari masa ke masa. Isu ini selalu juga muncul tatkala orang membicarakan tentang hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan. Yazzie, T. (1999) mengungkapkan bahwa budaya kurikulum yang baik adalah pembaruan melalui kegiatan penelitian dan pengembangan dengan mengacu pada kebutuhan masyarakat belajar. Menurut Yazzie, T, kurikulum yang tepat akan memudahkan pebelajar memperoleh pengetahuan sesuai dengan tujuan yang ditetapkan di lembaga pendidikan terkait.

Warren, B., dkk. (2001) menyatakan bahwa untuk mencapai hasil yang maksimal, keragaman pembelajaran memang hal yang wajib untuk dipikirkan secara terus menerus tentang cara agar pebelajar (siswa) lebih termotivasi untuk belajar dan memahami ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, pengembangan pendidikan merupakan salah satu kunci dalam menciptakan keberagaman pembelajaran sebagai suatu upaya menuju pada proses dan hasil yang lebih baik.

(35)

Dalam pengembangan pendidikan, secara umum dapat diberikan dua buah model pengembangan yang baru yaitu: Pertama, "top-down model" yaitu pengembangan pendidikan yang diciptakan oleh pihak tertentu sebagai pimpinan/atasan yang diterapkan kepada bawahan; seperti halnya pengembangan pendidikan yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional selama ini. Kedua, "bottom-up model" yaitu model pengembangan yang bersumber dan hasil ciptaan dari bawah dan dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan penyelenggaraan dan mutu pendidikan.

Davis, E., & Krajcik, J. S. (2005) menyatakan bahwa sebenarnya perencanaan dan pengembangan kurikulum pada hakikatnya adalah kepentingan utama yang harus dilakukan oleh seorang pendidik untuk mempromosikan eksistensi dirinya sebagai bagian dari dunia pendidikan.

Davis & Krajcik menambahkan bahwa pendidik tanpa berkarya adalah mati atau kosong. Melalui tulisannya, Davis, E., & Krajcik memperkenalkan kurikulum heuristik yang kepada pendidik untuk mengembangkan konten pedagogik yang dimiliki.

Sebelum diuraikan tentang pengembangan bahan materi, terlebih dahulu diuraikan konsep pengembangan pembelajaran yang menjadi dasar pengembangan materi ajar.

Majid (2005) mendefinisikan pengembangan pembelajaran adalah suatu proses mendesain pembelajaran secara logis, dan sistematis dalam rangka untuk menetapkan segala sesuatu yang akan dilaksanakan dalam proses kegiatan belajar dengan memperhatikan potensi dan kompetensi

(36)

siswa. Pengembangan pembelajaran hadir didasarkan pada adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah membawa perubahan di hampir semua aspek kehidupan manusia dimana berbagai permasalahan hanya dapat dipecahkan dengan upaya penguasaan dan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Selain ilmu pengetahuan dan teknologi, pengembangan pembelajaran hadir juga didasarkan pada adanya sebuah kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan yang berkualitas bagi anak-anaknya semakin meningkat, sekolah yang berkualitas semakin dicari, dan sekolah yang mutunya rendah semakin ditinggalkan. Orang tua tidak peduli apakah sekolah negeri ataupun swasta. Kenyataan ini terjadi hampir di setiap kota di Indonesia, sehingga memunculkan sekolah-sekolah unggulan di setiap kota.

Sehubungan dengan hal tersebut, maka proses belajar mengajar di ruang kelas telah banyak menarik perhatian para peneliti dan praktisi pendidikan dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran. Oleh karena itu, pengembangan pembelajaran perlu digalakkan, sehingga dapat diketahui secara nyata, apa, mengapa dan bagaimana upaya-upaya yang seharusnya dilakukan dalam meningkatkan mutu pembelajaran yang diharapkan.

Dengan demikian pembelajaran perlu dikelola dengan baik agar dapat mencapai hasil yang optimal. Untuk mewujudkan hal tersebut,

(37)

pengelolaan pembelajaran merupakan kunci keberhasilan menuju pembelajaran yang berkualitas.

Dimensi-dimensi yang harus diperhatikan dalam pengembangan pembelajaran (Rukayah, 2016) sebagai berikut:

1) Signifikansi

Tingkat signifikasi tergantung pada tujuan pendidikan yang diajukan dan signifikansi dapat ditentukan berdasarkan kriteria-kriteria yang dibangun selama proses pembelajaran

2) Fleksibilitas

Artinya pengembangan pembelajaran harus disusun berdasarkan pertimbangan realities baik yang berkaitan dengan biaya maupun pengimplementasianya.

3) Relevansi

Konsep relevansi berkaitan dengan jaminan bahwa pengembangan pembelajaran memungkinkan penyelesaian persoalan secara lebih spesifik pada waktu yang tepat agar dapat dicapai tujuan spesifik secara optimal.

4) Kepastian

Konsep kepastian minimum diharapkan dapat mengurangi kejadian- kejadian yang tidak terduga.

5) Ketelitian

Prinsip utama yang perlu diperhatikan ialah agar pengembangan pembelajaran disusun dalam bentuk yang sederhana, serta perlu diperhatikan secara sensitive kaitan-kaitan yang pasti terjadi antara berbagai komponen.

(38)

6) Adaptabilitas

Diakui bahwa pengembangan pembelajaran bersifat dinamis, sehingga senantiasa perlu mencari informasi sebagai umpan balik.

Penggunaan berbagai proses memungkinkan pembelajaran yang fleksibel atau adaptable dapat dirancang untuk menghindari hal-hal yang tidak diharapkan

7) Waktu

Faktor yang berkaitan dengan waktu cukup banyak, selain keterlibatan perencanaan dalam memprediksikan masa dep an, juga validasi dan reliabilitas analisis yang dipakai, serta kapan untuk menilai kebutuhan kependidikan masa kini dalam kaitanya dengan masa mendatang.

8) Monitoring

Merupakan proses mengembangkan kriteria untuk menjamin bahwa berbagai komponen bekerja secara efektif.

9) Isi pembelajaran

Artinya dalam isi pembelajaran merujuk pada hal-hal yang akan direncanakan. dalam pembelajaran yang baik perlu memuat: a) tujuan apa yang diinginkan, atau bagaimana cara mengorganisasi aktivitas belajar dan layanan pendukungnya; b) bagaimana cara mengorganisasi aktivitas belajar dan layanan-layanan pendukungnya; c) tenaga manusia, yakni mencakup cara-cara mengembangkan prestasi, spesialisasi, prilaku, kompetensi maupun kepuasan siswa; dan d) Konteks sosial atau elemen-elemen lainnya yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan pengajaran.

(39)

Salah satu komponen pembelajaran yang dapat menjadi fokus pengembangan adalah materi ajar. Schneider, R. M., Krajcik, J., & Marx, R. (2000) menjelaskan bahwa pengembangan materi ajar pada sebuah kurikulum adalah tuntutan yang tidak dapat dihindari. Sebab, pengembangan materi kurikulum adalah upaya untuk mereformasi kurikulum itu sendiri sebagai bentuk adaptasi dari perkembangan ilmu pengetahuan.

AECT atau Association for Educational Communications and Technology (1986) mendefinisikan materi ajar sebagai bahan pembelajaran yang berupa barang-barang (media atau perangkat lunak) yang berisi pesan untuk disampaikan dengan menggunakan peralatan. Kadang-kadang barang itu sendiri sudah merupakan bentuk penyajian. Materi ajar dapat dipandang dari dua sisi, yakni sebagai proses dan sebagai produk. Sebagai proses, materi ajar berfungsi sebagai alat penunjang proses pembelajaran dalam rangka penyampaian bahan pembelajaran kepada siswa. Sebagai produk, materi ajar merupakan hasil dari serangkaian bahan yang dimuat dalam bentuk buku/media sesuai kurikulum yang berlaku dan sebagai sumber belajar.

Menurut Raka (1984) materi ajar menspesifikasi pengalaman belajar dalam bentuk penstrukturan kegiatan pembelajaran yang kaya dengan variasi sehingga dapat memberikan efek pengiring yang sama efeknya dengan pencapaian tujuan-tujuan pembelajaran. Untuk mencapainya, materi ajar harus mencakup semua bahan, alat, dan cara yang ditata secara

(40)

sistematis, siswa sasaran, dan tujuan tertentu. Greene dan Petty (dalam Hakim, 2001) menyatakan bahwa materi ajar harus (1) memberikan petunjuk yang jelas bagi pengajar dan pengelola kegiatan pembelajaran, (2) menyediakan bahan, alat yang lengkap dan diperlukan untuk setiap kegiatan pembelajaran, (3) merupakan media penghubung antara pengajar dan pebelajar, (4) dapat dipakai oleh pebelajar sendiri dalam mencapai kemampuan yang telah ditetapkan, dan (5) dapat dipakai sebagai program perbaikan.

Sulistyowati (2009) materi ajar berfungsi sebagai (1) pedoman bagi guru yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya diajarkan kepada siswa, (2) pedoman bagi siswa yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya dipelajari/dikuasainya, dan (3) alat evaluasi pencapaian atau penguasaan hasil pembelajaran.

Kementerian Pendidikan Nasional (2008) memberikan cakupan materi ajar, meliputi “(1) judul, (2) materi pembelajaran, (3) standar kompetensi, (4) kompetensi dasar, (5) indikator, (6) petunjuk belajar, (7) tujuan yang dicapai, (8) informasi pendukung, (9) latihan, (10) petunjuk kerja, dan (11) penilaian”. Mbulu dan Suhartono (2004) menyatakan bahwa penyusunan materi ajar harus memuat (1) teori, istilah, persamaan, (2) contoh soal dan contoh praktik, (3) tugas-tugas latihan, pertanyaan, dan soal-soal latihan, (4) jawaban dan penyelesaian tugas-tugas itu, (5)

(41)

penjelasan mengenai sasaran belajar, contoh ujian, (6) petunjuk tentang bahan yang dianggap diketahui, (7) sumber pustaka, dan (8) petunjuk belajar. Sulistyowati (2009) menyatakan bahwa komponen materi ajar terdiri atas “(1) petunjuk belajar (petunjuk siswa/guru), (2) kompetensi yang akan dicapai, (3) content atau isi materi pembelajaran, (4) informasi pendukung, (5) latihan-latihan, (6) petunjuk kerja, dapat berupa lembar kerja, (7) evaluasi, dan (8) respon atau balikan terhadap hasil evaluasi.

Berdasarkan ketiga pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa komponen materi ajar yang akan dikembangkan terdiri atas (1) identitas mata pelajaran, meliputi judul, materi, kompetensi, indikator, tujuan (2) petunjuk belajar, meliputi petunjuk untuk siswa dan guru, (3) isi materi pembelajaran, (4) informasi pendukung, (5) latihan-latihan, lembar kerja, (6) penilaian, (7) respon/balikan/refleksi. (8) daftar pustaka, (9) glosarium.

b. Indikator Kelayakan Materi Ajar

Solano-Flores, & Nelson-Barber, (2001) mengungkapkan bahwa sekarang ini, banyak material pembelajaran yang digunakan tanpa melalui tahapan pengujian atau penilaian secara ilmiah sehingga luaran yang dihasilkan dari material tersebut tidak benar-benar ilmiah. Solano-Flores, &

Nelson-Barber, (2001), sebelum digunakan, material pembelajaran harus benar-benar melalui tahapan uji validitas atau kelayakan sehingga material tersebut menjadi terstandar. Hamsiah, dkk (2017) menyatakan bahwa kurikulum (materi ajar) yang dikembangkan oleh tenaga pendidik (guru)

(42)

harus terukur kelayakannya melalui pengujian kelayakan baik yang dilakukan oleh ahli atau melalui serangkaian uji coba.

Dalam mengembangkan materi ajar, prinsip desain dan proses pengembangan yang digunakan harus mengikuti standar nasional (Reiser, dkk. 2003). Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP 2006), kelayakan materi ajar ditinjau dari hasil penilaian beberapa aspek meliputi isi/materi, penyajian, kegrafikan, dan kebahasaan.

1) Materi/isi

Materi pelajaran merupakan bahan pembelajaran yang disajikan di dalam buku pelajaran dengan sub aspek:

a) Kesesuaian materi dengan silabus yang dikembangkan b) Memuat materi sesuai kompetensi dasar dan indikator

c) Memuat latihan yang sesuai dengan indikator/ tujuan pembelajaran yang tertuang dalam silabus

d) Memuat materi dengan fokus keterampilan berbahasa

e) Memuat kegiatan pembelajaran yang berkaitan dengan kebutuhan dan/

atau karakteristik siswa

Seleksi dan organisasi materi sesuai dengan pemahaman pembelajar a) Memuat kosakata dan struktur yang frekuensinya tinggi

b) Memuat kosakata dan struktur yang berkaitan dengan isi teks tulis/lisan c) Memuat kosakata dan struktur yang berkait dengan pengalaman

pembelajar

d) Memuat latihan yang diurutkan dari mudah ke sulit

(43)

2) Penyajian

Aspek penyajian ini dapat dijabarkan menjadi subaspek berikut:

a) Tujuan/Indikator penyajian pembelajaran dinyatakan secara jelas b) Menyebut tujuan/ indikator pembelajaran pada setiap unit

c) Mengarahkan pembelajaran pada penguasaan keterampilan berbahasa d) Menyajikan butir ajar untuk mengembangkan keterampilan berbahasa

yang sejalan dengan kompetensi dasar dan indikator

e) Menyajikan butir ajar/ materi dengan urutan mudah ke sulit

Penyajian materi ajar secara terintegrasi dan sesuai dengan karakteristik pembelajar

a) Menyajikan keterkaitan keterampilan berbahasa, sekurang-kurangnya dua keterampilan

b) Menyajikan materi ajar yang beranjak dari bahasa lisan pada kelas rendah dan berlanjut ke bahasa tulis pada kelas tinggi

c) Menyajikan unsur bahasa (lafal,ejaan, kosakata, struktur) yang dihubungkan dengan keterampilan berbahasa

d) Menyajikan materi ajar dari yang secara sistematik

Penyajian materi ajar mendorong pembelajar seara aktif dan kreatif a) Menuntut aktivitas pembelajar untuk mendengar, berbicara, membaca

dan menulis pada tingkatannya

b) Mendorong pembelajar untuk aktif berkomunikasi

c) Mendorong pembelajar untuk kreatif berbahasa dengan menggunakan situasi konkrit

(44)

d) Mendorong pembelajar mencurahkan waktu lebih banyak dalam mengerjakan latihan

3) Kegrafikan

Komponen yang dinilai pada aspek kegrafikan materi meliputi;

a) Penggunaan font atau huruf di dalam materi ajar harmonis ditinjau jenis dan ukuran huruf

b) Lay out atau tata letak proporsional, menarik, dan memudahkan pembaca untuk memahami isi materi ajar

c) Ilustrasi, gambar, atau foto memiliki ukuran proporsional, jelas, dan memudahkan pembaca untuk memahaminya

d) Desain tampilan menarik minat pembaca 4) Kebahasaan

Bahasa adalah sarana penyampaian dan penyajian bahan yang menjadi ukuran kualitas materi ajar.

a) Teks menggunakan tata bahasa yang tepat b) Instruksi jelas dan mudah dipahami

c) Instruksi menggunakan struktur yang tepat

d) Latihan yang dikembangkan menggunakan tata bahasa yang baik dan benar secara tata bahasa

5) Media atau teknologi

Selanjutnya, terkait dengan penilaian kelayakan aspek media atau teknologi yang dijadikan sebagai basis materi ajar Shubhi, dkk (2015) memberikan dua batasan kelayakan yaitu kelayakan tampilan komunikasi

(45)

visual dan kelayakan ditinjau dari pemanfataan medianya. Kedua aspek tersebut diuraikan sebagai berikut.

a) Tampilan komunikasi visual

Komponen yang dinilai pada aspek ini meliputi;

 Semua bagian pada media mudah di akses

 Besar huruf dan ruang tampilan proporsional

 Gambar, suara, dan video sesuai dengan materi yang disajikan

 Komposisi warna pada media sudah tepat

 Animasi yang ditampilkan sesuai dengan materi pembelajaran

 Desain tampilan materi ajar menarik dan proporsional b) Pemanfaatan media

Komponen yang dinilai pada aspek ini sebagai berikut;

 Interaktivitas latihan dan evaluasi sudah memberikan umpan balik pada pengguna

 Software pendukung untuk menjalankan animasi sudah bekerja dengan baik

 Navigasi mudah dijalankan untuk mengakses bagian demi bagian di dalam materi ajar

c. Indikator Keefektifan Materi Ajar

Efektivitas memiliki arti berhasil atau tepat guna. Efektif merupakan kata dasar, sementara kata sifat dari efek tif adalah efektivitas. Effendy (1989) mendefinisikan efektivitas sebagai komunikasi yang prosesnya mencapai tujuan yang direncanakan sesuai dengan biaya yang dianggarkan,

(46)

waktu yang ditetapkan dan jumlah personil yang ditentukan. Efektivitas menurut pengertian di atas mengartikan bahwa indikator efektivitas dalam arti tercapainya sasaran atau tujuan yang telah ditentukan sebelumnya merupakan sebuah pengukuran dimana suatu target telah tercapai sesuai dengan apa yang telah direncanakan.

Efektivitas juga diartikan sebagai daya pesan untuk mempengaruhi atau tingkat kemampuan pesan-pesan untuk mempengaruhi (Susanto, 1975). Menurut pengertian Susanto diatas, efektivitas bisa diartikan sebagai suatu pengukuran akan tercapainya tujuan yang telah direncanakan sebelumnya secara matang.

Menurut Reigeluth (Yazid, 2011), aspek penting dalam keefektifan (efek potensial) dari suatu instrument, teori, atau model adalah mengetahui tingkat/derajat dari penerapan teori, atau model dalam suatu situasi tertentu.

Tingkat keefektifan ini menurut Mager, biasanya dinyatakan dengan suatu skala numeric yang didasarkan pada kriteria tertentu.

Berkaitan dengan keefektifan pengembangan instrument, model, teori dalam dunia pendidikan, Akker (1999) menyatakan “Effectiveness refer to the extent that the experiences and outcomes with the intervention are consistent with the intended aims” Artinya, keefektifan mengacu pada tingkatan bahwa pengalaman dan hasil intervensi konsisten dengan tujuan yang dimaksud.

Menurut Kesidou, S., & Roseman, J. E. (2002) kurikulum yang baik itu adalah (a) memotivasi siswa untuk belajar, (b) tidak menyulitkan siswa

(47)

dalam belajar, (c) mendukung siswa untuk menciptakan ide-ide ilmiah melalui kegiatan pembelajaran. Ketiga konsep tersebut oleh Kesidou, S., &

Roseman, J. E. dapat dijadikan sebagai project acuan pengembangan kurikulum di tahun 2061.

Menurut Lynch, dkk (2005) sebuah produk kurikulum harus terukur efeknya terhadap subjek sasarannya. Lynch, dkk. menjelaskan bahwa keefektifan produk kurikulum (materi ajar) diukur dari hasil belajar siswa dengan membandingkan peningkatan hasil belajar tersebut antara hasil belajar sebelum dan setelah penerapan produk kurikulum tersebut. Jika hasil belajar tersebut konsisten mengalami peningkatan dari waktu ke waktu maka produk tersebut dapat dikatakan efektif.

Keefektifan suatu materi ajar biasanya dilihat dari potensial efek berupa kualitas hasil belajar, sikap., dan motivasi siswa. Menurut Akker (1999) ada dua aspek keefektivan yang harus dipenuhi oleh suatu materi ajar, yakni :

1) Ahli dan praktisi berdasarkan pengalamannya menyatakan bahwa materi ajar tersebut efektif

2) Secara operasional materi ajar tersebut memberikan hasil sesuai yang diharapkan.

Menurut Suryadi (Yazid, 2011) materi ajar dapat dikatakan efektif apabila memenuhi kriteria berikut :

1) Rata-rata siswa aktif dalam aktivitas pembelajaran.

2) Rata-rata siswa aktif dalam mengerjakan tugas.

(48)

3) Rata-rata siswa relatif menguasai isi bahan pengajaran.

4) Respon siswa terhadap pembelajaran yang dilaksanakan baik/positif 5) Respon guru terhadap pembelajaran yang dilaksanakan baik/positif d. Indikator Kepraktisan Materi Ajar

Kepraktisan dapat diartikan sebagai suatu yang bersifat praktis atau efisien. Arikunto (2010) mengartikan kepraktisan dalam evaluasi pendidikan merupakan kemudahan-kemudahan yang ada pada instrument evaluasi baik dalam mempersiapkan, menggunakan, menginterpretasi atau memperoleh hasil, maupun kemudahan dalam menyimpannya.

Kepraktisan juga merupakan salah satu ukuran suatu materi ajar dikatakan baik atau tidak. Kepraktisan diartikan pula sebagai kemudahan dalam penyelenggaraan, membuat instrumen, dan dalam pemeriksaan atau penentuan keputusan yang objektif, sehingga keputusan tidak menjadi bias dan meragukan. Kepraktisan dihubungkan pula dengan efisien dan efektifitas waktu dan dana. Sebuah materi ajar dikatakan baik bila tidak memerlukan waktu yang banyak dalam pelaksanaannya hingga isinya dapat dipahami, dan tidak memerlukan dana yang besar atau mahal.

Berkaitan kepraktisan dalam penelitian pengembangan Van den Akker (1999) menyatakan : “Practically refers to the extent that user (or other expert) consider the intervention as appealing and usable in ‘normal’

conditions” Artinya, kepraktisan mengacu pada tingkat bahwa pengguna (atau pakar-pakar lainnya) mempertimbangkan intervensi dapat digunakan dan disukai dalam kondisi normal. Untuk mengukur tingkat kepraktisan

(49)

yang berkaitan dengan pengembangan instrument berupa materi pembelajaran, Nieveen (1999) berpendapat bahwa untuk mengukur kepraktisannya dengan melihat apakah guru (dan pakar-pakar lainnya) mempertimbangkan bahwa materi mudah dan dapat digunakan oleh guru dan siswa.

Khusus untuk pengembangan materi ajar, dikatakan praktis jika para ahli, praktisi, atau subjek sasaran menyatakan bahwa secara teoritis bahwa model dapat diterapkan di lapangan dan tingkat keterlaksanaannya model tersebut termasuk kategori “baik”. Istilah “baik” ini masih memerlukan indikator-indikator yang diperlukan untuk menentunkan tingkat “kebaikan”

dari keterlaksanaan materi ajar yang di kembangkan.

Menurut Kustiawan M. (Anggiya, 2015) menguji kepraktisan materi ajar dapat dilakukan dengan cara berikut;

1) Uji praktikalitas oleh guru

a) Peneliti memberikan materi ajar cetak atau non cetak yang telah divalidasi dan direvisi kepada guru.

b) Peneliti memberi pengarahan tentang cara pengisian angket kepada guru.

c) Peneliti memberikan petunjuk singkat materi ajar cetak ataupun noncetak yang telah dikembangkan.

d) Guru menggunakan materi ajar berdasarkan petunjuk yang sudah ada dalam pembelajaran.

(50)

e) Peneliti meminta guru untuk mengisi angket praktikalitas materi ajar cetak atu pun non cetak yang dikembangkan.

2) Uji praktikalitas oleh siswa

a) Peneliti memberikan pengarahan cara pengisian angket kepada siswa.

b) Peneliti membagikan materi ajar cetak ataupun noncetak yang dikembangkan kepada masing-masing siswa.

c) Peneliti memberikan petunjuk singkat penggunaan materi ajar cetak ataupun noncetak yang dikembangkan kepada siswa.

d) Siswa menggunakan materi ajar yang telah dikembangkan di dalam proses pembelajaran.

e) Peneliti meminta siswa untuk mengisi angket praktikalitas materi ajar cetak atau non cetak

3. Pengajaran Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional negara Indonesia yang merupakan bahasa pemersatu. Bahasa Indonesia sudah diajarkan sejak tingkat SD, SMP, dan SMA. Oleh karena itu sebaiknya setelah jenjang SMA bahasa Indonesia sudah dikuasai atau setidaknya mempunyai pengetahuan yang memadai tentang Bahasa Indonesia. Namun faktanya, masih sedikit siswa yang memiliki kemampuan berbahasa Indonesia secara maksimal.

Di sekolah, siswa akan mempelajari Bahasa Indonesia. Mereka dituntut untuk mempertahankan Bahasa Indonesia supaya tidak luntur di kalangan banyak pemuda dan pengaruh budaya asing yang cenderung mempengaruhi stigma berbahasa para generasi muda Indonesia.

(51)

Selain itu, bahasa Indonesia penting untuk dipelajari di sekolah menegah atas, karna setiap sekolah menegah atas memiliki siswa yang berasal dari berbagai daerah. Kemudian, bahasa Indonesia sebagai panduan untuk penyusunan dan penggunaan tata bahasa yang baik dan benar dalam komunikasi ilmiah (skripsi, tesis, disertasi, dan karya ilmiah lainnya). Selain itu mempelajari Bahasa Indonesia bagi siswa di sekolah menegah atas sama halnya seperti mempelajari mata pelajaran bahasa Indonesia di SMP dan SD, namun pembahasan di sekolah menegah atas lebih spesifik dan mendalam, dan sebagian besar siswa masih tetap ingin mempelajari Bahasa Indonesia agar mereka mampu bertata bahasa dengan baik dan benar.

Di dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, siswa akan mempelajari dan memahami arti pentingnya tata bahasa dan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dalam pembuatan karya ilmiah dan sejenisnya. Setelah memahami EYD dengan baik dan benar, siswa akan mengetahui konsep penggunaan Bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai siswa, sudah menjadi kewajiban menambah kosakata yang sesuai dengan keilmuan yang ditekuni di sekolah menegah atas. siswa diharapkan mampu menggunakan diksi-diksi benar sesuai standar dan kalimat-kalimat yang efektif sesuai jenjang pendidikan, bukan seperti anak SMP lagi.

Dengan demikian, sangat penting untuk mengajarkan mata pelajaran Bahasa Indonesia di setiap sekolah menegah atas. Selain karena Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional dan sebagai bahasa pemersatu, dengan

(52)

mengajarkan bahasa Indonesia di sekolah menegah atas, secara tidak langsung telah melestarikan bahasa kita.

4. Flip Book Maker

Perdana, (2013) mengemukakan bahwa Flip Book adalah salah satu jenis animasi klasik yang dibuat dari setumpuk kertas menyerupai buku tebal, pada setiap halamannya di gambarkan proses tentang sesuatu yang nantinya proses tersebut terlihat bergerak atau beranimasi. Ide Flip Book yang pada awalnya hanya digunakan untuk menampilkan animasi kini diadopsi oleh banyak vendor untuk berbagai jenis aplikasi digital, seperti majalah, buku, komik dan sebagainya. Software yang disediakan oleh vendor ini kini mampu membuat animasi Flip Book dengan lebih variatif, tidak hanya teks, gambar, video dan audio juga bisa disisipkan dalam Flip Book yang kita buat.

Flip Book merupakan buku berbentuk file digital, yang pembacanya dapat membuka lembar demi lembar halaman Flip Book sebagaimana layaknya membaca sebuah buku atau majalah pada umumnya. Flip book biasanya merupakan booklet atau majalah yang biasanya dicetak secara fisik dalam media kertas. Namun dengan mekanisme pemrograman tertentu, Flip Book dapat dikemas secara digital, sehingga bisa dibuka layaknya lembaran-lembaran kertas di layar monitor maupun smartphone. Desain Flip Book yang menarik dapat menimbulkan kesan eksklusifitas, elegan, dan inovasi yang baru (Perdana, 2013:43).

Flip Book merupakan multimedia berbasis komputer. Multimedia merupakan perpaduan antara berbagai media (format file) yang berupa teks,

(53)

gambar, grafik, musik, animasi, video, interaksi dan lain-lain, yang dikemas menjadi file digital (komputerisasi), serta digunakan untuk menyampaikan pesan kepada pengguna (Sugianto, 2013:27). Multimedia menurut Gayestik (dalam Munir, 2012:15) menjelaskan bahwa multimedia sebagai suatu sistem komunikasi interaktif berbasis komputer yang mampu menciptakan, menyimpan, menyajikan, dan mengakses kembali informasi berupa teks, grafik, suara, video atau animasi.

Munir dan Zaman (dalam Munir, 2012:16) mendefinisikan multimedia sebagai keterpaduan diantara berbagai media teks, gambar, video dan animasi dalam satu media digital yang mempunyai kemampuan untuk interaktif, umpan balik dan informasi diperoleh dengan cara yang nonlinear. Menurut Reddi (dalam Munir, 2012:17) mengartikan multimedia sebagai suatu integrasi elemen beberapa media (audio, video, gravik, teks, animasi, dan sebagainya) menjadi sebuah kesatuan yang sinergis dan simbiosis yang memberikan hasil lebih menguntungkan bagi pengguna dari pada elemen media secara individual.

Multimedia yang digunakan dalam pengembangan ini adalah presentasi instruksional yang menkombinasikan tampilan teks, grafis, video dan audio.

Sebagai salah satu komponen sistem pembelajaran, Prasetyo (2007:26) menjelaskan tentang pemilihan dan penggunaan multimedia pembelajaran yang harus memperhatikan karakteristik komponen lain, seperti: tujuan, materi, strategi dan juga evaluasi pembelajaran. Karakteristik multimedia pembelajaran adalah: 1) memiliki lebih dari satu media yang konvergen, misalnya menggabungkan unsur audio dan visual; 2) bersifat interaktif, dalam pengertian

(54)

memiliki kemampuan untuk mengakomodasi respon pengguna; 3) bersifat mandiri, dalam pengertian memberi kemudahan dan kelengkapan isi sedemikian rupa sehingga pengguna bias menggunakan tanpa bimbingan oran lain. Selain memenuhi ketiga karakteristik tersebut, multimedia pembelajaran sebaiknya memenuhi fungsi sebagai berikut: 1) mampu memperkuat respon pengguna secepatnya dan sesering mungkin; 2) mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengontrol laju kecepatan belajarnya sendiri;

3) memperhatikan bahwa siswa mengikuti suatu urutan yang koheren dan terkendalikan; 4) mampu memberikan kesempatan adanya partisipasi dari pengguna dalam bentuk respon, baik berupa jawaban, pemilihan, keputusan, percobaan dan lain-lain.

Secara umum manfaat yang dapat diperoleh adalah proses pembelajaran lebih menarik, lebih interaktif, jumlah waktu mengajar dapat dikurangi, kualitas belajar siswa dapat ditingkatkan dan proses belajar mengajar dapat dilakukan di mana dan kapan saja, serta sikap belajar siswa dapat ditingkatkan. Manfaat di atas akan diperoleh mengingat terdapat keunggulan dari sebuah multimedia pembelajaran, yaitu: 1) memperbesar benda yang sangat kecil dan tidak tampak oleh mata, seperti kuman, bakteri, elektron dan sebagainya; 2) memperkecil benda yang sangat besar yang tidak mungkin dihadirkan ke perguruan tinggi, seperti gajah, rumah, gunung, dan sebagainya; 3) menyajikan benda atau peristiwa yang kompleks, rumit dan berlangsung cepat atau lambat, seperti sistem dalam tubuh manusia; 4) menyajikan benda atau peristiwa yang jauh, seperti bulan, bintang, salju, dan sebagainya; 5) menyajikan benda atau

(55)

peristiwa yang berbahaya, seperti letusan gunung berapi, harimau, racun, dan sebagainya; 6) meningkatkan daya tarik dan perhatian siswa (Haryadi, 2005:51).

Sugianto (2013:49) menambahkan bahwa teknologi multimedia telah menjanjikan potensi besar dalam merubah cara seseorang untuk belajar, untuk memperoleh informasi, menyesuaikan informasi dan sebagainya. Multimedia juga menyediakan peluang bagi pendidik untuk mengembangkan teknik pembelajaran sehingga menghasilkan hasil yang maksimal. Demikian juga bagi siswa, dengan multimedia diharapkan mereka akan lebih mudah untuk menentukan dengan apa dan bagaimana dapat menyerap informasi secara cepat dan efisien. Oleh karena itu, kehadiran multimedia dalam proses belajar menjadi sangat bermanfaat.

Menurut Sugianto (2013:52) salah satu multimedia yang diharapkan dapat menciptakan suasana belajar yang menarik dan kondusif yaitu dengan penggunaan multimedia Flip Book. Penggunaan media Flip Book dapat menambah motivasi belajar siswa dan juga dapat mempengaruhi prestasi atau hasil belajar siswa (Ramdania, 2013:17). Penggunaan Flip Book juga dapat meningkatkan pemahaman dan meningkatkan pencapaian hasil belajar (Nazeri, 2013:21).

Software yang digunakan untuk membuat Flip Book dalam pengembangan media ini adalah Flip Book maker. Ramdania (2013:19) mendefinisikan Flip Book Maker sebagai perangkat lunak yang handal yang dirancang untuk mengkonversi file PDF ke halaman balik publikasi digital.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan latar belakang tersebut peneliti merasa tertarik untuk mengembangkan bahan ajar berbasis e-book menggunakan kvisoft flipbook maker sebagai sarana

Tahap pengembangan merupakan tahap pembuatan modul elektronik fisika menggunakan aplikasi Kvisoft flipbook maker. Modul elektronik yang dibuat disesuaikan dengan desain

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengembangan modul pembelajaran berbantu Wolfram Mathematica dan Flipbook Maker dengan model TGT pada materi Turunan

Sehingga Modul Pembelajaran Berbantuan Flipbook Maker dengan model NHT berbasis teory vygotsky untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada materi relasi dan

Dari aspek efesiensi waktu pembelajaran didapat hasil analisis praktikalitas bahan ajar Biologi berbasis Movie Maker oleh guru sebesar 92% dengan kriteria sangat

Pengembangan E-Modul Pembelajaran Muatan Lokal Bahasa Sasak Menggunakan Aplikasi Kvisoft Flipbook Maker Masrur, Muhammad Ali, Hary Murcahyanto Universitas Hamzanwadi Corresponding

Tujuan dalam penelitian ini adalah mengetahui pengembangan media pembelajaran Kvisoft Flipbook Maker Pelajaran Bahasa Inggris materi Things in the classroom untuk kelas I SD/MI dan

DOI: 10.30865/json.v1i1.1397 Mulyadi Rusli, Copyright © 2019, JSON, Page 59 Meningkatkan Kognitif Siswa SMAN I Jambi Melalui Modul Berbasis E-Book Kvisoft Flipbook Maker Mulyadi