• Tidak ada hasil yang ditemukan

WALI KOTA BINJAI PROVINSI SUMATERA UTARA PERATURAN WALI KOTA BINJAI NOMOR 21 TAHUN 2021 TENTANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "WALI KOTA BINJAI PROVINSI SUMATERA UTARA PERATURAN WALI KOTA BINJAI NOMOR 21 TAHUN 2021 TENTANG"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

WALI KOTA BINJAI PROVINSI SUMATERA UTARA PERATURAN WALI KOTA BINJAI

NOMOR 21 TAHUN 2021 TENTANG

TATA CARA PENGANGGARAN, PELAKSANAAN DAN PENATAUSAHAAN, PERTANGGUNGJAWABAN DAN PELAPORAN SERTA MONITORING

DAN EVALUASI BELANJA TIDAK TERDUGA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALI KOTA BINJAI,

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Bab II huruf D angka 4 huruf m Lampiran Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 77 Tahun 2020 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Daerah, perlu menetapkan Peraturan Wali Kota tentang Tata Cara Penganggaran, Pelaksanaan, Penatausahaan, Pertanggungjawaban dan Pelaporan serta Monitoring dan Evaluasi Belanja Tidak Terduga;

Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Darurat Nomor 9 Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kota-kota Kecil dalam Lingkungan Daerah Propinsi Sumatera Utara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1956 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1092);

3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 245, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6573);

4. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1986 tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Binjai, Kabupaten Daerah Tingkat II Langkat dan Kabupaten Daerah Tingkat II Deli Serdang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor 11, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3322);

5. Peraturan...

SALINAN

(2)

5. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6322);

6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 77 Tahun 2020 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 1781);

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN WALI KOTA TENTANG TATA CARA PENGANGGARAN, PELAKSANAAN DAN PENATAUSAHAAN, PERTANGGUNGJAWABAN DAN PELAPORAN SERTA MONITORING DAN EVALUASI BELANJA TIDAK TERDUGA.

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan Wali Kota ini yang dimaksud dengan:

1. Daerah adalah Kota Binjai.

2. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan dewan perwakilan rakyat daerah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

3. Pemerintah Daerah adalah Wali Kota sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom.

4. Wali Kota adalah Wali Kota Binjai.

5. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang selanjutnya disingkat APBD adalah rencana keuangan tahunan Daerah yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

6. Peraturan Daerah yang selanjutnya disebut Perda adalah Peraturan Daerah Kota Binjai.

7. Peraturan Wali Kota adalah Peraturan Wali Kota Binjai.

8. Pengeluaran Daerah adalah uang yang keluar dari kas Daerah.

9. Belanja Daerah adalah semua kewajiban Pemerintah Daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih dalam periode tahun anggaran berkenaan.

10. Rencana Kerja Anggaran dan Satuan Kerja Perangkat Daerah, yang selanjutnya disingkat RKA SKPD adalah dokumen yang memuat rencana pendapatan dan belanja SKPD atau dokumen yang memuat rencana pendapatan, belanja, dan pembiayaan SKPD yang melaksanakan fungsi bendahara umum daerah yang digunakan sebagai dasar penyusunan rancangan APBD.

11.Dokumen...

(3)

11. Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disingkat DPA SKPD adalah dokumen yang memuat pendapatan dan belanja SKPD atau dokumen yang memuat pendapatan, belanja, dan pembiayaan SKPD yang melaksanakan fungsi bendahara umum daerah yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan anggaran oleh pengguna anggaran.

12. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah unsur perangkat daerah pada Pemerintah Daerah yang melaksanakan urusan pemerintahan daerah.

13. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah yang selanjutnya disingkat PPKD adalah kepala SKPKD yang mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan APBD dan bertindak sebagai bendahara umum daerah.

14. Perangkat Daerah adalah Perangkat Daerah di lingkungan Pemerintah Daerah.

15. Belanja Tidak Terduga adalah merupakan pengeluaran anggaran atas beban APBD untuk keperluan darurat termasuk keperluan mendesak yang tidak dapat diprediksi sebelumnya.

16. Rencana Kebutuhan Belanja yang selanjutnya disingkat RKB adalah rencana kebutuhan belanja untuk kebutuhan tanggap darurat bencana yang diajukan oleh SKPD terkait.

17. Bendahara Umum Daerah yang selanjutnya disingkat BUD adalah PPKD yang bertindak dalam kapasitas sebagai BUD.

BAB II

MAKSUD DAN TUJUAN Pasal 2

Maksud ditetapkannya Peraturan Wali Kota ini adalah sebagai pedoman bagi PPKD dan SKPD terkait tentang tata cara penganggaran, pelaksanaan dan penatausahaan, pertanggungjawaban dan pelaporan serta monitoring dan evaluasi Belanja Tidak Terduga.

Pasal 3

Tujuan ditetapkannya Peraturan Wali Kota ini adalah agar PPKD dan SKPD terkait dalam pengelolaan Belanja Tidak Terduga berjalan dengan tertib, lancar tepat guna, tepat sasaran serta sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan.

BAB III RUANG LINGKUP

Pasal 4

Ruang lingkup Peraturan Wali Kota ini meliputi tata cara penganggaran, pelaksanaan dan penatausahaan, pertanggungjawaban dan pelaporan serta monitoring dan evaluasi Belanja Tidak Terduga yang bersumber dari APBD.

BAB IV...

(4)

BAB IV

BELANJA TIDAK TERDUGA Bagian Kesatu

Umum Pasal 5

Belanja Tidak Terduga digunakan untuk menganggarkan pengeluaran dalam hal:

a. untuk keadaan darurat;

b. keperluan mendesak yang tidak dapat diprediksi sebelumnya;

c. pengembalian atas kelebihan pembayaran atas penerimaan daerah tahun sebelumnya; dan

d. bantuan sosial yang tidak dapat direncanakan sebelumnya.

Pasal 6

(1) Keadaan darurat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a meliputi:

a. bencana alam;

b. bencana non-alam;

c. bencana sosial;

d. kejadian luar biasa;

e. pelaksanaan operasi pencarian dan pertolongan;

dan/atau

f. kerusakan sarana/prasarana yang dapat mengganggu kegiatan pelayanan publik.

(2) Belanja Tidak Terduga untuk keadaan darurat bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, huruf b, dan huruf c, meliputi antara lain:

a. pencarian dan penyelamatan korban;

b. pertolongan darurat;

c. evakuasi korban;

d. kebutuhan air bersih dan sanitasi;

e. pangan dan sandang;

f. pelayanan kesehatan; dan

g. penampungan atau tempat hunian sementara.

Pasal 7

(1) Keperluan mendesak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf b meliputi:

a. kebutuhan Daerah dalam rangka pelayanan dasar masyarakat yang anggarannya belum tersedia dalam tahun anggaran berjalan;

b. Belanja Daerah yang bersifat mengikat;

c. Belanja Daerah yang bersifat wajib;

d. Pengeluaran Daerah yang berada di luar kendali Pemerintah Daerah dan tidak dapat diprediksikan sebelumnya, serta amanat peraturan perundang- undangan; dan/atau

e. Pengeluaran Daerah lainnya yang apabila ditunda akan menimbulkan kerugian yang lebih besar bagi Pemerintah Daerah dan/atau masyarakat.

(2)Belanja...

(5)

(2) Belanja Daerah yang bersifat mengikat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan belanja yang dibutuhkan secara terus menerus dan harus dialokasikan oleh Pemerintah Daerah dengan jumlah yang cukup untuk keperluan setiap bulan dalam tahun anggaran berkenaan, yakni:

a. belanja pegawai antara lain untuk pembayaran kekurangan gaji, tunjangan; dan

b. belanja barang dan jasa antara lain untuk pembayaran telepon, air, listrik dan internet.

(3) Belanja Daerah yang bersifat wajib sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c merupakan belanja untuk terjaminnya kelangsungan pemenuhan pendanaan pelayanan dasar masyarakat antara lain pendidikan, kesehatan, melaksanakan kewajiban kepada pihak ketiga, kewajiban pembayaran pokok pinjaman, bunga pinjaman yang telah jatuh tempo, dan kewajiban lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.

Pasal 8

Belanja Tidak Terduga untuk pengembalian atas kelebihan pembayaran atas penerimaan Daerah tahun sebelumnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf c meliputi pengembalian atas kelebihan pembayaran atas penerimaan Daerah yang bersifat tidak berulang.

Pasal 9

Bantuan sosial yang tidak dapat direncanakan sebelumnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf d meliputi kebutuhan akibat resiko sosial yang tidak dapat diperkirakan pada saat penyusunan APBD yang apabila ditunda penanganannya akan menimbulkan resiko sosial yang lebih besar bagi masyarakat.

Bagian Kedua Penganggaran

Pasal 10

(1) Belanja Tidak Terduga diuraikan menurut jenis, objek, rincian objek, dan sub rincian objek dengan nama Belanja Tidak Terduga.

(2) Dalam hal Belanja Tidak Terduga tidak mencukupi untuk mendanai keadaan darurat, Pemerintah Daerah menggunakan:

a. dana dari hasil penjadwalan ulang capaian program, kegiatan, dan sub kegiatan lainnya serta pengeluaran Pembiayaan dalam tahun anggaran berjalan;

dan/atau

b. memanfaatkan kas yang tersedia.

(3)Penjadwalan...

(6)

(3) Penjadwalan ulang capaian program, kegiatan, dan sub kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diformulasikan terlebih dahulu dalam Perubahan DPA SKPD.

Bagian Ketiga

Pelaksanaan dan Penatausahaan Belanja Tidak Terduga

Pasal 11

(1) Belanja Tidak Terduga untuk keadaan darurat yang belum tersedia anggarannya diformulasikan terlebih dahulu dalam RKA SKPD, kecuali untuk kebutuhan tanggap darurat bencana, konflik sosial, dan/atau kejadian luar biasa.

(2) Pengunaan Belanja Tidak Terduga untuk keadaan darurat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

a. Wali Kota menetapkan status tanggap darurat untuk bencana alam, bencana non-alam, bencana sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan;

b. Kepala SKPD yang tugas dan fungsi mengajukan RKB kepada PPKD selaku BUD berdasarkan penetapan status sebagaimana dimaksud pada huruf a;

c. PPKD selaku BUD melakukan verifikasi terhadap RKB sebagaimana dimaksud pada huruf b;

d. PPKD selaku BUD melakukan pencairan dana Belanja Tidak Terduga sesuai dengan peraturan perundang- undangan, paling lambat 1 (satu) hari kerja terhitung sejak diterimanya RKB;

e. dana Belanja Tidak Terduga sebagaimana dimaksud pada huruf d diserahkan kepada bendahara pengeluaran SKPD yang mengajukan RKB;

f. penggunaan dana Belanja Tidak Terduga dicatat pada buku kas umum tersendiri oleh Bendahara Pengeluaran SKPD yang mengajukan RKB.

(3) Belanja Tidak Terduga untuk keadaan darurat bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (2) digunakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(4) Batas waktu penggunaan Belanja Tidak Terduga untuk keadaan darurat yakni terhitung sejak berlakunya status tanggap darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a hingga ketetapan tanggap darurat selesai.

(5) Format RKB sebagaimana dimaksud pada huruf b tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Wali Kota ini.

Pasal 12

(1) Belanja Tidak Terduga untuk mendanai keperluan mendesak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf b dilakukan melalui pergeseran anggaran dari Belanja Tidak Terduga kepada belanja SKPD/unit SKPD yang membidangi.

(2)Penggunaaan...

(7)

(2) Pengunaan Belanja Tidak Terduga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:

a. dalam hal anggaran belum tersedia, penggunaan Belanja Tidak Terduga terlebih dahulu diformulasikan dalam RKA-SKPD yang membidangi keuangan daerah;

b. dalam hal anggaran belum tercukupi, penggunaan Belanja Tidak Terduga terlebih dahulu diformulasikan dalam Perubahan DPA-SKPD; dan

c. RKA-SKPD dan/atau Perubahan DPA-SKPD sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b menjadi dasar dalam melakukan perubahan Peraturan Wali Kota tentang Penjabaran APBD untuk selanjutnya ditampung dalam Perda tentang Perubahan APBD atau dituangkan dalam Laporan Realisasi Anggaran apabila Pemerintah Daerah tidak melakukan perubahan APBD atau telah melakukan perubahan APBD.

Pasal 13

Ketentuan Pengunaan Belanja Tidak Terduga untuk mendanai keperluan yang tidak dapat diprediksi sebelumnya sebagaimana dimaksud pada Pasal 12 ayat (2) berlaku juga terhadap pengunaan Belanja Tidak Terduga untuk memenuhi kebutuhan lainnya sesuai ketentuan peraturan perundang- undangan.

Pasal 14

Pengunaan Belanja Tidak Terduga untuk Bantuan sosial yang tidak dapat direncanakan sebelumnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf d diusulkan oleh SKPD dengan tahapan sebagai berikut:

a. kepala SKPD mengajukan RKB paling lama 1 (satu) hari kepada PPKD selaku BUD;

b. PPKD selaku BUD melakukan verifikasi dan mencairkan Belanja Tidak Terduga kepada kepala SKPD paling lama 1 (satu) hari terhitung sejak diterimanya RKB.

Bagian Keempat

Pertanggungjawaban dan Pelaporan Pasal 15

(1) Kepala SKPD yang mengajukan RKB untuk mendanai Belanja Tidak Terduga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) huruf b, bertanggungjawab secara formal dan material terhadap Belanja Tidak Terduga yang dikelolanya.

(2) Pertanggungjawaban Belanja Tidak Terduga untuk mendanai keadaan darurat, disampaikan oleh kepala SKPD yang mengajukan RKB kepada PPKD dengan melampirkan laporan penggunaan belanja dan surat pernyataan tanggung jawab belanja sedangkan bukti pengeluaran yang sah dan lengkap tetap berada di SKPD.

(3)Format...

(8)

(3) Format laporan penggunaan belanja dan surat pernyataan tanggungjawab Belanja Tidak Terduga sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum pada Lampiran II dan Lampiran III yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Wali Kota ini.

Bagian Kelima Monitoring dan Evaluasi

Pasal 16

(1) Perangkat Daerah yang melakukan fungsi pengawasan melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala atas pelaksanaan Belanja Tidak Terduga.

(2) Hasil monitoring dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Wali Kota.

BAB V

KETENTUAN PENUTUP Pasal 17

Pada saat Peraturan Wali Kota ini mulai berlaku, Peraturan Walikota Binjai Nomor 59 Tahun 2016 tentang Tata Cara Pemberian dan Pertanggungjawaban Belanja Tidak Terduga (Berita Daerah Kota Binjai Tahun 2016 Nomor 59) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 18

Peraturan Wali Kota ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Wali Kota ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kota Binjai.

Ditetapkan di Binjai

pada tanggal 26 Nopember 2021 WALI KOTA BINJAI,

ttd

AMIR HAMZAH Diundangkan di Binjai

pada tanggal 26 Nopember 2021 SEKRETARIS DAERAH KOTA BINJAI,

ttd

IRWANSYAH NASUTION

BERITA DAERAH KOTA BINJAI TAHUN 2021 NOMOR 21

(9)

LAMPIRAN I

PERATURAN WALI KOTA BINJAI NOMOR 21 TAHUN 2021 TENTANG

TATA CARA PENGANGGARAN, PELAKSANAAN DAN PENATAUSAHAAN, PERTANGGUNGJAWABAN DAN PELAPORAN, SERTA MONITORING DAN EVALUASI BELANJA TIDAK TERDUGA

RENCANA KEBUTUHAN BELANJA TIDAK TERDUGA UNTUK MENDANAI KEADAAN DARURAT

NO JENIS KEBUTUHAN VOLUME HARGA SATUAN (Rp)

PERKIRAAN KEBUTUHAN

DANA (Rp) 1.

2.

3.

4.

5.

dst

TOTAL

Binjai,

KEPALA SKPD,

NAMA

NIP.

WALI KOTA BINJAI, ttd

AMIR HAMZAH

(10)

LAMPIRAN II

PERATURAN WALI KOTA BINJAI NOMOR 21 TAHUN 2021 TENTANG

TATA CARA PENGANGGARAN, PELAKSANAAN DAN PENATAUSAHAAN, PERTANGGUNGJAWABAN DAN PELAPORAN, SERTA MONITORING DAN EVALUASI BELANJA TIDAK TERDUGA

LAPORAN PENGGUNAAN BELANJA TIDAK TERDUGA

NO URAIAN ANGGARAN

(Rp) REALISASI

(Rp) PENYERAPAN (Rp

CAPAIAN OUTPUT VOLUME SATUAN 1.

2.

3.

4.

5.

TOTAL

Dengan ini menyatakan bahwa saya bertanggungjawab penuh atas kebenarannya.

Demikian laporan ini dibuat dengan sebenarnya.

Binjai,

KEPALA SKPD,

NAMA

NIP.

WALI KOTA BINJAI, ttd

AMIR HAMZAH

(11)

LAMPIRAN III

PERATURAN WALI KOTA BINJAI NOMOR 21 TAHUN 2021 TENTANG

TATA CARA PENGANGGARAN, PELAKSANAAN DAN PENATAUSAHAAN, PERTANGGUNGJAWABAN DAN PELAPORAN, SERTA MONITORING DAN EVALUASI BELANJA TIDAK TERDUGA

SURAT PERNYATAAN TANGGUNG JAWAB Yang bertanda tangan dibawah ini,

Nama :

NIP :

Jabatan :

Alamat

a. Rumah :

b. Organisasi :

Telepon :

Dengan ini menyatakan dengan sesungguhnya:

a. Kami bertanggungjawab penuh atas Belanja Tidak Terduga yang diberikan Pemerintah Kota Binjai sebesar Rp...……… ,- (………..….Rupiah).

b. Dana Belanja Tidak Terduga yang telah diterima digunakan seluruhnya untuk………...sesuai Ketetapan Wali Kota Binjai tentang Tanggap Darurat.

c. Belanja Tidak Terduga yang kami terima akan dipertanggungjawabkan yang dilengkapi dengan bukti-bukti pengeluaran yang lengkap dan sah sesuai peraturan perundang-undangan yang akan kami sampaikan kepada PPKD.

d. Seluruh dokumen pertanggungjawaban yang diserahkan merupakan tanggung jawab kami sepenuhnya selaku penerima dana Belanja Tidak Terduga dan apabila pertanggungjawaban dan penggunaan dana Belanja Tidak Terduga yang kami terima ternyata tidak sesuai dengan ketentuan dan harus dikembalikan ke Kas Daerah, maka kami bersedia mengembalikannya secara keseluruhan dana Belanja Tidak Terduga yang telah kami terima tersebut.

e. Bersedia dan sanggup menyampaikan Laporan Penggunaan dana Belanja Tidak Terduga yang kami terima kepada Pemerintah Daerah Kota Binjai paling lambat tanggal …….. bulan ……….……….... tahun ...

f. Apabila nanti kami tidak dapat mempertanggungjawabkan penggunaan dana Belanja Tidak Terduga yang kami terima, maka kami bersedia untuk diperiksa oleh pihak yang berwenang serta siap menerima sanksi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Demikian Surat Pernyataan ini kami buat dan ditandatangani di atas Materai Rp10.000.- dengan penuh tanggungjawab tanpa ada paksaan dari pihak-pihak lain, untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.

Binjai,

KEPALA SKPD,

NAMA

NIP.

WALI KOTA BINJAI, ttd

AMIR HAMZAH

Referensi

Dokumen terkait

Menimbang : bahwa berdasarkan ketentuan Bab V huruf D Angka 1 huruf a angka 1) Lampiran Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2014 tentang Pedoman

b. bahwa berdasarkan ketentuan angka V angka 26 huruf a dan huruf b Lampiran Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 38 Tahun 2018 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran

Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Peraturan Wali Kota Bekasi Nomor 29 Tahun 2021 tentang Tata Cara Penerimaan Peserta Didik Baru Pada Taman

Hasil dari proyek akhir ini, berupa sistem 4 band Equalizer yang berupa filter LPF dengan cut-off 5200Hz, filter BPF1 dengan cut-off antara 800Hz-7600Hz, filter BPF2

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahrn Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, telah ditetapkan Peraturan Wali Kota Depok Nomor 21 Tahun 2020 tentang Fasilitas Pajak

b. bahwa berdasarkan Pasal 4 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 77 Tahun 2020 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Daerah, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor

SALINAN.. bahwa berdasarkan ketentuan Lampiran BAB I Huruf D angka 2 huruf b angka 7) huruf g) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 77 Tahun 2020 tentang Pedoman