Perkembangan dan Prospek Perekonomian Global dan Domestik
Februari 2017
Contact Us
PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) Grha SMF
Jl. Panglima Polim I No 1 Jakarta 12160
Telp. + 62 21 2700400 Fax. + 62 21 2701400 [email protected] www.smf-indonesia.co.id
P
ERKEMBANGAN DANP
ROSPEKP
EREKONOMIANG
LOBALData mengenai perekonomian global terakhir pada Q4 2016 masih mengindikasikan bahwa pertembuhan masih bergerak lambat cenderung stagnan khususnya pada negara Tiongkok. Hal ini terlihat pada pertumbuhan ekonomi Tiongkok dimana sepanjang 4 triwulan berturut-turut ekonominya tumbuh 6,7% yang berarti masih dalam kisaran yang ditargetkan oleh pemerintahnya sekitar 6,5% - 7,0%. Untuk Amerika Serikat sendiri pertumbuhannya tercatat mengalami perbaikan pada Q4 2016 yaitu tumbuh sebesar 1.9% YoY, sedikit membaik dibandingkan dengan Q3 2016 sebesar 1,7% YoY namun masih cukup jauh dibawah rata-rata pertumbuhan sepanjang tahun 2015 sebesar 2.6%.
Di awal tahun 2017 ini, prospek perekonomian global diperikirakan akan lebih membaik. Hal ini dapat terlihat dari harga komoditas yang mulai membaik. Dengan begitu, nilai ekspor negara berkembang, seperti Indonesia, pasti akan terdongkrak naik dan hal ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Selain itu, pemulihan perekonomian global salah satunya ditandai oleh pertumbuhan ekonomi AS yang terus membaik. Perbaikan ini dapat terlihat pada salah satu indikatornya yaitu tingkat pengangguran yang turun ke level 4,7% pada Desember 2016. Namun demikian, indikator ini semakin mengindikasikan bahwa The Fed akan segera menaikkan suku bunga acuannya yang selanjutnya akan menjadi sentimen volatilitas pasar.
Pertumbuhan ekonomi di Eropa sendiri mengalami sedikit perlambatan pada Q4 2016 yaitu sebesar 1,5% YoY dari 1,8% YoY pada Q3 2016. Berbeda dengan Jepang yang mengalami perbaikan dari pertumbuhan pada Q3 2016 sebesar 1,1% YoY menjadi 1,6% YoY pada Q4 2016.
Namun demikian, perkembangan indikator makroekonomi secara keseluruhan menggambarkan prospek ekonomi kedepan hanya sedikit mengalami kenaikan, bahkan ada kecenderungan mendatar. Artinya prospek pertumbuhan ekonomi kedua negara ini kedepan akan cenderung tidak berbeda jauh dengan kondisi saat ini karena kebijakan moneter yang longgar akibat rendahnya suku bunga acuan dan Quantitative Easing. Sementara itu perekonomian Tiongkok dan India diproyeksikan akan mengalami perbaikan secara bertahap. Meskipun tidak akan tumbuh double digit (seperti awal tahun 2000-an), namun pertumbuhan yang ditargetkan pemerintahnya sangat mungkin untuk dicapai.
Di bulan Januari ini diperkirakan The Fed masih menanti kondisi perekonomian AS ke depannya untuk dapat memutuskan apakah akan terjadi kenaikan FFR atau tidak. Selain itu, kebijakan- kebijakan yang mungkin akan diterapkan Trump juga akan menjadi bahan pertimbangan, khususnya arah kebijakan Trump yang akan menerapkan kebijakan fiskal ekspansif namun lebih proteksionis yang telah direalisasikan dengan cara menarik diri dari perjanjian Trans Pacific Partnership (TPP). Dampak yang telah dirasakan bagi sektor industri di AS adalah pertumbuhan industri baja yang menurun karena industri tersebut lebih banyak melakukan kegiatan impor dengan negara-negara TPP. Hal ini menandakan bahwa kebijakan proteksionis yang diterapkan Trump ternyata tidak serta merta membuat pertumbuhan positif di AS. Maka dari itu, hal-hal seperti ini akan mempengaruhi perekonomian negara-negara yang memiliki hubungan kerjasama dengan AS, salah satunya negara berkembang seperti Indonesia.
Jika The Fed menerapkan kebijakan moneter yang ketat dengan cara menaikkan FFR, maka hal ini dikhawatirkan akan menyebabkan terjadinya capital outflow dari negara berkembang seperti Indonesia. Meskipun demikian, jika fundamental perekonomian Indonesia masih kuat, hal ini
tidak akan mengguncang pasar terlalu besar, baik pengaruhnya terhadap nilai tukar maupun pasar modal.
Pertumbuhan Ekonomi Dunia dan Kelompok Negara
Source : Bloomberg, diolah
Perkembangan dan prospek ekonomi dunia seperti itu juga mempengaruhi kebijakan moneter dan fiskal serta perekonomian Indonesia. Kebijakan moneter yang longgar di banyak negara (disamping faktor makroekonomi domestik seperti inflasi, nilai tukar, neraca transaksi berjalan dan lain-lain) memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk melonggarkan kebijakan moneter nya dengan menurunkan suku bunga acuan. Kebijakan ini seharusnya dapat memberikan dampak yang positif terhadap pasar perumahan maupun pasar pembiayaan perumahan. Karena penurunan suku bunga akan menurunkan beban bunga maupun uang muka pembelian rumah.
P
ERKEMBANGAN DANP
ROSPEKP
EREKONOMIAND
OMESTIKPada bulan pertama di tahun 2017, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju pertumbuhan inflasi bulanan sebesar 0,97% dan tahunan 3,49%. Adapun penyumbang naiknya inflasi pada bulan ini diakibatkan oleh beberapa hal, terutama harga barang-barang yang sifatnya diatur pemerintah (administered price). Kebijakan mengenaik naiknya biaya perpanjangan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) dan Buku Pemiliki Kendaraan Bermotor (BPKB) merupakan penyumbang terbesar naiknya pertumbuhan inflasi dengan andil sebesar 0,23%. Peningkatan tarif listrik 900VA, naiknya harga cabai rawit, dan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi juga menjadi beberapa faktor yang berpengaruh bagi lajunya inflasi di Januari 2017 ini. Laju inflasi untuk Februari 2017 diperkirakan masih akan mengalami peningkatan. Hal ini utamanya dipicu oleh dampak dari penyesuaian tariff listrik 900VA pada Januari 2017 yang akan terlihat di bulan Februari.. Selain itu jika harga barang-barang administered price tidak dikontrol pemerintah juga dapat menyebabkan terjadinya kenaikan harga lebih lanjut
Rilis siaran pers Bank Indonesia (BI) mengenai hasil Rapat Dewan Gubernur menyatakan bahwa BI 7-day Repo Rate (7-day RR) dipertahankan pada level 4,75%, dengan suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 4,00% dan Lending Facility tetap sebesar 5,50%. Keputusan ini diambil BI dengan mengacu kepada kondisi perekonomian baik global maupun domestik. Ketidakpastian pada kondisi global salah satunya dipengaruhi oleh perkiraan The Fed yang akan menaikkan Fed Fund Rate (FFR) sebanyak 2 hingga 3 kali pada tahun 2017. Pada kondisi domestik sendiri BI memperhatikan keadaan perekonomian Indonesia yang masih cukup stabil digambarkan dengan angka inflasi yang masih terkendali pada angka 0,42% pada Desember 2016.
Pada akhir Januari 2017 Rupiah mengalami apresiasi sebesar 0,54% dibandingkan Desember 2016 dan bergerak dari level Rp13.441/US$ ke level Rp13.343/US$. Penguatan ini bergerak
3.5 3.3 3.4
3.1 2.9
3.2 3.3
-1.0 0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0
2012 2013 2014 2015 2016F 2017F 2018F
Pertumbuhan Ekonomi Dunia, %YoY Dunia Asia Amerika Utara Eropa Barat
seiring terjadinya pelemahan Dollar AS terhadap mata uang utama lainnya. Hal ini diakibatkan oleh adanya ketidakpastian terkait kebijakan Presiden Trump. Terlebih lagi dengan adanya kebijakan ekstrim seperti pembangunan tembok pemisah di Meksiko dan juga pelarangan masuknya imigran. Hasil pertemuan Federal Open Market Meeting Committee (FOMC) pada bulan Februari menyatakan bahwa belum ada kenaikan suku bunga FFR. Keputusan ini tentunya berkaitan dengan nilai tukar Rupiah yang masih akan berada pada batas aman. Pergerakan nilai Rupiah ke depannya tentu masih dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal seperti kebijakan perekonomian AS dan juga kondisi kestabilan perekonomian dalam negeri seperti inflasi
Pada triwulan ketiga tahun 2016 pertumbuhan ekonomi secara triwulanan (Q-on-Q) kita kembali melambat sebesar 3.2% lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 4.0%. dan secara tahunan pun pertumbuhan ekonomi kita melambat menjadi 5.02% YoY dari 5.18% YoY pada triwulan kedua 2016. Pertumbuhan PDB triwulan ketiga 2016 ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang masih tumbuh baik dan tetap terjadi sebesar 5.0% YoY dan Lembaga Non- Profit yang Melayani Rumah Tangga atau LNPRT sebesar 6.7% YoY sejalan dengan inflasi yang terjaga dan indeks kepercayaan konsumen yang tetap tinggi serta tren suku bunga yang mulai menurun. Tetapi, sementara itu konsumsi pemerintah yang pada triwulan kedua melambat - 3.0% pada Q3 yang disebabkan adanya restrukturisasi APBN yang dilakukan pemerintah berupa pemotongan beberapa pos anggaran yang dinilai memiliki efek pengganda yang relatif kecil.
Restrukturisasi itu sendiri dimaksudkan untuk menciptakan APBN yang lebih kredibel. Disamping itu melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia menyebabkan FDI ikut melambat, sehingga pertumbuhan PMTDB pun melambat menjadi 4,1% YoY pada triwulan ketiga dari 5,1% YoY pada triwulan kedua, sementara itu ekspor masih mengalami kontraksi -6.0% YoY. Untuk tahun 2017, motor pertumbuhan ekonomi masih bertumpu pada konsumsi rumah tangga, pemerintah dan investasi. Sementara dari sektor ekspor tampaknya belum bisa memberikan sumbangan yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Terlepas dari adanya perlambatan, prediksi di kuartal IV 2016 pertumbuhan ekonomi akan semakin baik. Hal ini didukung oleh hal-hal seperti berikut:
Perbaikan harga komoditas dunia, sebagai contoh adalah harga batu bara yang semula pada kuartal II 2016 turun sebesar -17,8% tetapi sudah menunjukkan tren positif pada kuartal III 2016 dengan mengalami kenaikan sebesar 6,2%.
Pilkada bagi 101 daerah di Indonesia yang akan mendorong tingkat konsumsi, baik rumah tangga maupun belanja pemerintah.
D
AMPAKT
ERHADAPP
ASARP
ERUMAHAN DANP
ASARP
EMBIAYAANP
ERUMAHANSebagaimana kita ketahui daya beli masyarakat sangat mempengaruhi pasar perumahan, dan dengan demikian juga akan sangat mempengaruhi pasar pembiayaan perumahan. Daya beli itu sendiri antara lain bisa digambarkan oleh indikator laju inflasi, indeks kepercayaan konsumen, pendapatan per kapita, beban bunga, dan lain-lain. Apabila kondisi pertumbuhan ekonomi melemah ditambah dengan tingkat suku bunga pinjaman yang masih relatif tinggi menyebabkan sedikitnya daya beli masyarakat. Mencermati pembahasan diatas, dimana laju inflasi yang cenderung meningkat akan memberikan sedikit tekanan pada pasar perumahan. Salah satu jalur yang dapat memberikan dampak kepada pasar perumahan adalah suku bunga acuan BI, yaitu BI 7-day RR. Jika kebijakan AS yang akan menerapkan kebijakan moneter ketat, maka BI 7-day RR kemungkinan akan mengalami peningkatan pula. Seiring dengan kenaikan tersebut, tentu akan berpengaruh terhadap suku bunga dasar KPR. Hal ini lah yang dikhawatirkan akan menurunkan pertumbuhan pasar perumahan.
Disclaimer:
The information contained in this report has been taken from sources which we deem reliable. However, none of any PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) and/or their respective employees and/or agents make any representation or warranty (express or implied) or accepts any responsibility or liability as to, or in relation to, the accuracy or completeness of the information and opinions contained in this report or as to any information contained in this report or any other such information or opinions remaining unchanged after the issue thereof.
We expressly disclaim any responsibility or liability (express or implied) of PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) employees and agents whatsoever and howsoever arising (including, without limitation for any claims, proceedings, action, suits, losses, expenses, damages or costs) which may be brought against or suffered by any person as a result of acting in reliance upon the whole or any part of the contents of this report. For further information please contact our number +6221-2700 400.