• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Kegiatan Pembelajaran Model Pembelajaran: Discovery Learning

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "B. Kegiatan Pembelajaran Model Pembelajaran: Discovery Learning"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Sekolah : SMA Negeri 5 Depok Mata Pelajaran : Sejarah Indonesia Kelas/Semester : XII /1

Materi Pokok : Kehidupan Awal Masa Transisi Politik pada masa Orde Baru Alokasi Waktu : 1 Pertemuan (1 JP × 45 menit)

❖ Pertemuan ke-1 Kompetensi Dasar: 3.5

A. Tujuan Pembelajaran

Setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran melalui model Discovery Learning Peserta didik mendeskripsikan kehidupan awal masa transisi politik pada masa Orde Baru.

B. Kegiatan Pembelajaran Model

Pembelajaran:

Discovery Learning

Pendekatan:

Saintifik

Media/Alat: Kartu bergambar, Spidol, Papan Tulis serta LKPD

Sumber Belajar:

● Buku Sejarah Indonesia untuk SMA/MA/SMK/

Kelas XII \Wajib Penerbit Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.

● Buku lain yang relevan

● Referensi digital

1. Kegiatan Pendahuluan (5 menit)

a. Guru melakukan pembukaan dengan salam pembuka dan berdoa untuk memulai pembelajaran.

b. Guru mengkondisikan Peserta didik untuk belajar dan memotivasi Peserta didik terkait pokok bahasan Kehidupan Awal Masa Transisi Politik pada masa Orde Baru kemudian mendiskusikannya terkait kondisi saat ini.

c. Guru melakukan apersepsi tentang materi Kehidupan Awal Masa Transisi Politik pada masa Orde Baru. Selain itu, Guru menyampaikan tujuan materi dan menyampaikan kompetensi yang akan dicapai.

2. Kegiatan Inti (35 menit) KEGIATAN LITERASI

a. Peserta didik diberi motivasi atau rangsangan untuk memusatkan perhatian pada topik materi Kehidupan Awal Masa Transisi Politik pada masa Orde Baru dengan cara melihat gambar/foto/video yang relevan.

CRITICAL THINKING (BERPIKIR KRITIK)

a. Peserta didik diberikan kesempatan untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin pertanyaan yang berkaitan dengan gambar yang disajikan dan akan dijawab melalui kegiatan belajar COLLABORATION (KERJASAMA) dan CRITICAL THINKING (BERPIKIR KRITIK) a. Guru memberikan Lembar Kerja Peserta Didik yang berkaitan dengan Kehidupan Awal

Masa Transisi Politik pada masa Orde Baru.

b. Peserta didik mengumpulkan data/informasi dari berbagai sumber belajar yang berkaitan dengan Kehidupan Awal Masa Transisi Politik pada masa Orde Baru.

COMMUNICATION (BERKOMUNIKASI)

a. Peserta didik mempresentasikan hasil diskusi pembelajaran terkait Kehidupan Awal Masa Transisi Politik pada masa Orde Baru dengan dibacakan didepan kelas.

CREATIVITY (KREATIVITAS)

a. Peserta didik berdiskusi dan melakukan tanya jawab dari hasil presentasi

b. Peserta didik Mengevaluasi tentang Kehidupan Awal Masa Transisi Politik pada masa Orde Baru.

3. Kegiatan Penutup (10 menit)

a. Peserta didik untuk melakukan menyimpulkan, merefleksi, dan menemukan nilai-nilai yang dapat dipetik dari aktivitas hari ini.

b. Peserta didik dibimbing guru untuk selalu teliti dan cermat ketika membaca dan menyimpulkan sebuah kesimpulan ilmiah.

c. Mengingatkan Peserta didik untuk bersyukur atas kekuasaan Tuhan yang mampu menciptakan makhluk hidup dengan bermacam peranan dalam kehidupan.

d. Memberikan penghargaan kepada kelompok atau individu yang berkinerja baik.

C. Penilaian

1. Penilaian Sikap: Observasi baik dalam KBM atau di luar KBM, penilaian antarteman, dan penilaian diri.

2. Penilaian Pengetahuan: Tes tertulis, tes lisan, dan penugasan.

3. Penilaian Keterampilan: Praktik, produk, proyek, dan portofolio.

(2)

Mengetahui, Kepala Sekolah

Zarnifatma, M.Pd

NIP.196408141987032011

Depok, Juli. 2021 Guru Mata Pelajaran

M.Arief S.Hum, M.Pd NIP. 197512192006041006

(3)

LAMPIRAN

Lembar Pengamatan : Rubrik kegiatan Diskusi

No. Nama Siswa

A s p e k P e n g a m a t a n Skor Jumlah Nilai Ket.

Kerjasama Mengkomunikasi

kan pendapat Toleransi Ketaktifan

Menghargai pendapat

teman

Keterangan Skor :

Masing-masing kolom diisi dengan kriteria 4 = Baik Sekali

3 = Baik 2 = Cukup 1 = Kurang

Σ Skor perolehan

Nilai = X 100

Skor Maksimal (20)

Kriteria Nilai

A = 80 – 100 : Baik Sekali B = 70 – 79 : Baik

C = 60 – 69 : Cukup D = ‹ 60 : Kurang

Rubrik Penilaian presentasi

No. NamaSiswa

A s p e k P e n g a m a t a n

JumlahSkor Nilai Ket.

Komunikasi Sistematika

penyampaian Wawasan Keberanian Antusias Gesture dan penampilan

Keterangan Skor :

Masing-masing kolom diisi dengan kriteria 4 = Baik Sekali

3 = Baik 2 = Cukup

(4)

1 = Kurang

Σ Skor perolehan

Nilai = X 100

Skor Maksimal (20)

Kriteria Nilai

A = 80 – 100 : Baik Sekali B = 70 – 79 : Baik

C = 60 – 69 : Cukup D = < 60 : Kurang

KUNCI JAWABAN LKPD Jawaban Nomor 1

Ketidakstabilan politik pada masa Orde Baru berdampak pada kondisi ekonomi yang membuat rakyat merasa kesulitan. Sementara pertemuan KAMI tanggal 9 Januari 1966 juga telah menyepakati beberapa rumusan tuntutan yang pada kemudian hari disebut Tritura atau Tri Tuntutan Rakyat yang akan disampaikan kepada Presiden Soekarno. Isi Tritura Tritura dihasilkan dari hasil diskusi para mahasiswa, tanpa campur tangan pihak lain. Tiga orang wakil KAMI Pusat yaitu, lsmid Hadad (Ikatan Pers Mahasiswa), Saverinus Suwardi (PMKRI) dan Nazaruddin Nasution (HMI) adalah orang-orang yang merumuskan tiga tuntutan bersejarah itu. Isi Tritura atau Tri Tuntutan Rakyat adalah: Bubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) Bersihkan Kabinet Dwikora dari unsur-unsur yang terlibat G30S Turunkan harga Presidium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) Pusat yang mengadakan rapat di sekretariatnya, di Jalan Sam Ratulangi No. I dan memutuskan untuk menyelenggarakan demonstrasi secara besar-besaran pada 10 Januari 1966. Pada hari itu, di halaman Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia untuk pertama kalinya Tritura dikumandangkan. Kolonel Sarwo Edhi, yang ketika itu sebagai komandan pasukan elite RPKAD juga hadir dalam momen bersejarah tersebut. Pada hari itu juga terjadi aksi-aksi dan pendudukan tempat-tempat strategis di Jakarta.

Jawaban Nomor 2

Supersemar adalah surat yang mengawali peralihan kepemimpinan nasional dari pemerintahan Orde Lama ke Orde Baru. Lewat surat yang dikeluarkan pada 11 Maret 1966 ini, terjadi penyerahan mandat kekuasaan dari Presiden Soekarno ke Soeharto, yang saat itu masih menjabat sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat. Supersemar dikeluarkan dengan tujuan mengatasi konflik dalam negeri saat itu, yang salah satunya dipicu peristiwa G30S/PKI pada 1 Oktober 1965. Namun, hingga saat ini, Supersemar masih menjadi kontroversi karena naskah aslinya tidak pernah ditemukan.

Latar belakang lahirnya Supersemar

Supersemar adalah singkatan dari Surat Perintah Sebelas Maret 1966. Supersemar terjadi karena gejolak di dalam negeri usai peristiwa G30S/PKI pada 1 Oktober 1965.

Dalam peristiwa itu, tentara menuding Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai dalang di balik pembunuhan tujuh jenderal. Hal ini kemudian memicu amarah para pemuda anti komunis, yang selanjutnya membentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) pada Oktober 1965. Selain itu, ada juga Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), KABI, KASI, KAWI, dan KAGI, yang semuanya tergabung Front Pancasila yang dilindungi tentara. Mereka kemudian menyuarakan

(5)

protes kepada Soekarno, yang dianggap tidak mengusut G30S dan buruknya perekonomian di masa pemerintahannya. Aksi unjuk rasa semakin kencang saat inflasi pada awal 1966 telah mencapai 600 persen lebih dan Soekarno masih bergeming. Pada 12 Januari 1966, Front Pancasila melakukan demonstrasi di halaman Gedung DPR-GR dan melayangkan tiga tuntutan. Berikut isi tiga tuntutan yang kemudian dikenal dengan Tritura. Pembubaran PKI Pembersihan Kabinet Dwikora dari unsur-unsur yang terlibat G30S Penurunan harga Demonstrasi besar-besaran kembali terjadi pada 11 Maret 1966, yang dilakukan di depan Istana Negara dan didukung oleh tentara.

Tujuan Supersemar

Melihat situasi saat itu, Menteri/Panglima Angkatan Darat Letnan Jenderal Soeharto menitip pesan kepada tiga jenderal. Tiga jenderal tersebut adalah Brigjen Amir Machmud (Panglima Kodam Jaya), Brigjen M Yusuf (Menteri Perindustrian Dasar), dan Mayjen Basuki Rachmat (Menteri Veteran dan Demobilisasi), yang hendak menemui Soekarno. Soeharto meminta Presiden Soekarno memberikan surat perintah untuk mengatasi keadaan apabila diberi kepercayaan. Setelah pesan tersebut sampai, Soekarno langsung menandatangani surat perintah untuk mengatasi konflik pada 11 Maret 1966 sore. Surat tersebut kemudian dikenal sebagai Surat Perintah 11 Maret atau Supersemar, yang dibuat di Istana Bogor. Surat Perintah Sebelas Maret bertujuan untuk mengatasi situasi saat itu, yang semakin memanas. Setelah Supersemar dikeluarkan oleh Soekarno, Soeharto mengambil sejumlah keputusan lewat SK Presiden No 1/3/1966 tanggal 12 Maret 1966 atas nama Presiden/Panglima Tertinggi ABRI/Mandataris MPRS/PBR. Berikut ini isi keputusan tersebut. Pembubaran PKI beserta ormasnya dan menyatakannya sebagai partai terlarang Penangkapan 15 menteri yang terlibat ataupun mendukung G30S Pemurnian MPRS dan lembaga negara lainnya dari unsur PKI dan menempatkan peranan lembaga itu sesuai UUD 1945.

Isi Supersemar

Selama ini, beredar 3 versi Supersemar yang tidak ada satu pun yang asli. Ketiga versi tersebut datang dari Pusat Penerangan (Puspen) TNI AD, Sekretariat Negara (Setneg), dan Akademi Kebangsaan. Meski Supersemar ada berapa versi, terdapat beberapa pokok pikiran yang diakui Orde Baru dan dijadikan acuan. Supersemar berisi tentang beberapa hal, sebagai berikut. Mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk terjaminnya keamanan dan ketenangan serta kestabilan jalannya pemerintahan dan jalannya Revolusi, serta menjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan Pimpinan Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPRS, demi untuk keutuhan Bangsa dan Negara Republik Indonesia, dan melaksanakan dengan pasti segala ajaran Pemimpin Besar Revolusi. Mengadakan koordinasi pelaksanaan perintah dengan Panglima-Panglima Angkatan Lain dengan sebaik-baiknya. Supaya melaporkan segala sesuatu yang bersangkut paut dalam tugas dan tanggung jawabnya seperti tersebut di atas.

Kontroversi Supersemar

Setidaknya ada tiga kontroversi Supersemar, yaitu: Keberadaan naskah Supersemar asli hingga kini belum diketahui dan tiga versi yang ada tidak otentik Supersemar diberikan bukan atas kemauan Soekarno, tetapi di bawah tekanan Supersemar merupakan perintah pengendalian keamanan, tetapi dimaknai oleh jenderal yang membawa surat itu dari Istana Bogor ke Jakarta sebagai penyerahan kekuasaan, sehingga digunakan Soeharto melakukan beberapa aksi beruntun, termasuk pembubaran PKI.

Dampak dari Supersemar

(6)

Supersemar menyebabkan kedudukan Soekarno sebagai Presiden RI kian tergerus, sementara posisi Soeharto kian menguat Soeharto membubarkan PKI dan menangkap para menteri yang diduga terlibat dalam G30S Status Soekarno yang menjabat sebagai presiden seumur hidup dicabut oleh MPRS pada 7 Maret 1967 Soekarno lengser dari kursi kepresidenan dan Soeharto menjadi presiden pada 27 Maret 1968 Supersemar menjadi tonggak lahirnya Orde Baru yang bertahan hingga 1998 Hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat dan Malaysia menguat Indonesia kembali bergabung dengan PBB

Jawaban Nomor 3

Dualisme kepemimpinan terjadi ketika Soeharto mengambil alih pemerintahan, sementara Soekarno masih menjabat sebagai presiden.

Latar belakang dualisme kepemimpinan nasional

Di awal 1966, kondisi politik bergejolak. Soekarno diprotes keras karena G30S dan perekonomian yang memburuk. Puncaknya, pada 11 Maret 1966. Demonstrasi mahasiswa secara besar-besaran terjadi di depan Istana Negara. Demonstrasi ini didukung tentara. Menteri/Panglima Angkatan Darat Letnan Jenderal Soeharto pun meminta agar Soekarno memberikan surat perintah untuk mengatasi konflik apabila diberi kepercayaan. Maka, pada 11 Maret 1996 sore di Istana Bogor, Soekarno menandatangani surat perintah untuk mengatasi keadaan. Isinya, Soekarno memerintahkan Soeharto untuk: Mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk terjaminnya keamanan dan ketenangan serta kestabilan jalannya pemerintahan dan jalannya Revolusi, serta menjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan Pimpinan Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPRS, demi untuk keutuhan Bangsa dan Negara Republik Indonesia, dan melaksanakan dengan pasti segala ajaran Pemimpin Besar Revolusi. Mengadakan koordinasi pelaksanaan perintah dengan Panglima-Panglima Angkatan Lain dengan sebaik- baiknya. Supaya melaporkan segala sesuatu yang bersangkut paut dalam tugas dan tanggung jawabnya seperti tersebut di atas.

Soeharto memimpin pemerintahan

Supersemar bertujan mengatasi situasi saat itu. Pada praktiknya, Setelah mengantongi Supersemar, Soeharto mengambil sejumlah keputusan lewat SK Presiden No 1/3/1966 tertanggal 12 Maret 1966 atas nama Presiden/Panglima Tertinggi ABRI/Mandataris MPRS/PBR. Keputusan tersebut yakni: Pembubaran PKI beserta ormasnya dan menyatakannya sebagai partai terlarang Penangkapan 15 menteri yang terlibat atau pun mendukung G30S Pemurnian MPRS dan lembaga negara lainnya dari unsur PKI dan menempatkan peranan lembaga itu sesuai UUD 1945.

Soekarno yang diasingkan tak bisa berbuat banyak. Sementara Soeharto mendapat kekuasaan yang semakin besar. Dikutip dari Hari-hari Yang Panjang: Transisi Orde Lama Ke Orde Baru, Sebuah Memoar (2008), dualisme kepemimpinan memunculkan polarisasi. Ada yang setuju dengan Soeharto untuk membubarkan. Namun ada juga yang masih setia kepada Soekarno.

Soekarno terdesak

Memasuki pertengahan 1966, masalah dualisme kepemimpinan nasional makin terasa.

Soekarno tidak lagi bisa mencabut Supersemar ketika MPRS memutuskannya sebagai TAP MPRS Nomor IX/1966 pada 21 Juni 1966. Saat itu, MPRS mencabut Soekarno sebagai presiden seumur hidup sekaligus memberi kewenangan Soeharto sebagai pengemban Supersemar untuk membentuk kabinet pada 5 Juli 1966. Pada 22 Juni 1966, Soekarno menyampaikan pidato pertanggungjawaban di Sidang MPRS. Dalam pidato itu, Soekarno bersikeras tidak mau membubarkan PKI. Pidato yang dikenal

(7)

sebagai Nawaksara ini ditolak oleh MPRS. Kemudian pada 10 Januari 1967, Soekarno mengirim surat kepada Ketua MPRS Jenderal AH Nasution. Surat yang bernama "Pelengkap Nawaksara" itu berisi kurang lebih sama dengan Nawaksara.

Soekarno kembali menyampaikan beberapa alasan terjadinya peristiwa G30S atau yang disebutnya dengan Gestok (Gerakan 1 Oktober). Sebulan kemudian, pada 7 Februari 1967, Soekarno kembali mengirim surat, kali ini untuk Soeharto. Dalam surat itu, Soekarno menyatakan akan menyerahkan pemerintahan kepada Soeharto.

Penyerahan kekuasaan itu terjadi pada 22 Februari 1967. Soekarno menyampaikan kepada menteri-menteri di Istana Merdeka. Malam harinya, Menteri Penerangan BM Diah membacakan pengumuman Soekarno. Tak lama kemudian, MPRS mencabut kekuasaan Presiden Soekarno dan menetapkan Soeharto sebagai pejabat presiden.

Ketetapan itu tertuang dalam TAP MPRS Nomor XXXIII/1967.

(8)

NAMA LENGKAP:

1.

2.

CLASS: XII

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK

MATA PELAJARAN: SEJARAH INDONESIA HARI/TANGGAL: KAMIS, 21 APRIL 2022

TUGAS KELOMPOK

3.5.1 Menjelaskan hasil identifikasi tentang perkembangan kehidupan politik dan ekonomi Bangsa Indonesia pada masa Orde Baru

3.5.2 Menganalisis perkembangan kehidupan politik dan ekonomi Bangsa Indonesia pada masa Orde Baru

Jawablah soal-soal di bawah ini dengan cermat dan tepat!.

Sebelum mengerjakan soal dibawah ini diharapkan membaca materi terlebih dahulu. Setiap jawaban yang Anda peroleh, berikanlah sumber referensi/literatur. Sumber referensi/ literatur dapat diperoleh melalui buku paket atau referensi digital (website, blogspot, dsb). Apabila tidak mencatumkan sumber pencarian maka, akan ada pengurangan poin.

Diharapkan menulis jawaban secara rapih sehingga dapat terbaca dengan jelas.

Petunjuk Pengerjaan:

2.1.

3.

Apakah yang dimaksud dengan Konsep Tritura dan bagaimanakah isi dari konsep tersebut?

Menurut Anda, apakah yang dimaksud dengan Supersemar dan bagaimanakah proses terjadinya Supersemar itu terjadi?

Pada saat memasuki Masa Orde Baru dimulai Masa Transisi Awal yang ditandai dengan munculnya Dualisme Kepemipinan? Mengapa demikian!

1.

2.

3.

Referensi

Dokumen terkait

pihak menyelesaikan sengketanya melalui cara-cara penyelesaian sengketa yang dikenal dalam hukum (perdagangan) internasional, yakni negosiasi, mediasi, konsiliasi, arbitrase,

Keyakinan mengenai bahwa Yesaya adalah penulis Kitab dengan judul yang dari namanya sendiri, telah tertera di dalam kitab itu sendiri, yang menyaksikan bahwa:

Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 3 Tahun 2015 Tentang Tata Kerja Komisi Pemilihan Umum, Komisi Pemilihan Umum Provinsi/Komisi Independen Pemilihan Aceh d

Perlakuan pemberian jenis pupuk kambing menunjukkan pengruh terhadap pertumbuhan jumlah cabang 8.11 luas daun yaitu 1810,08 cm, dan rata-rata bobot kering berangkas

Jika rasio luas permukaan membran dengan volume pelarut besar maka laju difusi akan berlangsung dengan cepat karena molekul terlarut dapat berdifusi dalam jarak yang dekat..

Dalam metode fuzzy diperlukan penentuan aturan yang nantinya akan digunakan untuk menentukan variabel yang akan ditentukan. Hal ini, dilakukan sesuai dengan langkah

generasi muda adalah bentuk pendidikan petualangan berbasis lingkungan alam. Oleh karenanya peneliti memfokuskan penelitian pada model pendidikan.. petualangan berbasis

efektif dan membuat keaktifan siswa dalam melakukan kegiatan dan hasil belajar. dan hasil belajar yang diterima oleh siswa