• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN POTENSI DAYA TARIK WISATA KAWASAN BARAT PULAU NUSA PENIDA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN POTENSI DAYA TARIK WISATA KAWASAN BARAT PULAU NUSA PENIDA"

Copied!
43
0
0

Teks penuh

(1)

52   

PENIDA

Dari 17 objek daya tarik wisata yang telah di tetapkan, khusus di Kecamatan Nusa Penida baru enam objek yang telah di tetapakan sebagai objek daya tarik wisata, seperti: Suana, Karang Bolong, Nusa Penida, Lembongan dan Jungut Batu serta Pantai Atuh. (Sumber: SK Bupati Nomor 335 Tahun 1998, Kabupaten Klungkung).

Delapan desa yang ada di wilayah barat Kecamatan Nusa Penida, hanya dua desa yang yang sudah di tetapkan sebagai objek daya tarik wisata yaitu Desa lembongan dan Desa Jungtbatu di mana kedua desa tersebut berada di Pulau Lembongan. Kepariwisataanya Desa lembongan dan Desa Jungutbatu sudah berkembang sejak tahun 1992 hal ini dapat dilihat dengan berdirinya Waka Nusa Resort, Nusa Lembongan Resort, berlabuhnya kapal Bali Hai dan kapal Bounty.

Ke enam desa yang ada di wilayah barat Pulau Nusa Penida seperti; Desa Ped, Bunga Mekar, Sakti, dan Desa Toyapakeh, Batu Kandik dan Desa Batumadeg kepariwisatanya belum berkembang dan belum ditetapkan sebagai Daya Tarik Wisata (DTW) di Kabupaten Klungkung, padahal sebagain besar desa yang berada di kawasan barat Pulau Nusa Penida memeliki potensi daya tarik wisata yang beraneka ragam dan layak untuk dikembangkan.

(2)

Berdasarkan pengamatan, potensi daya tarik wisata yang ada di kawasan barat Pulau Nusa Penida tersebar di beberapa tempat, seperti: 1) Desa Sakti, 2) Desa Bunga Mekar, 3) Desa Toyepakeh, 4) Desa Ped. Untuk mengetahui lebih lanjut keberadaan potensi – potensi daya tarik wisata yang ada di kawasan barat Pulau Nusa Penida, maka akan diuraikan masing - masing daya tarik wisata tersebut.

5.1 Desa Sakti (Wisata Alam dan Wisata Bahari)

Pulau Nusa Penida memeliki beberapa Teluk salah satunya adalah teluk Penida/Penida Bay yang berada di Desa Sakti. Teluk ini memeliki potensi daya tarik wisata yang berpeluang besar untuk dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata.

5.1.1 Identifikasi Potensi Daya Tarik Wisata

Daya tarik wisata yang terdapat di Desa Sakti berupa wisata alam dan wisata bahari serta di dukung oleh keadaan alam seperti indahnya perbukitan yang berbentuk teras siring dan adanya sumber mata air. Potensi daya tarik wisata yang terdapat di Penida Bay Desa Sakti adalah sebagai berikut:

1. Pantai Penida (Crystal Bay Beach) dan Batu Jineng (Crystal Stone)

Pantai Penida terletak di Banjar Penida Desa Sakti, konon di pantai inilah orang menginjakkan kaki pertama kalinya di Pulau Nusa Penida sehigga menamakan pantai ini dengan nama pantai Penida, namun tidak ada sumber data yang pasti tentang sejarah pantai ini. Pantai Penida memiliki panjang pantai sekitar 200 meter dan lebarnya diperkirakan mencapai 15 meter.

(3)

Kebanyakan wisatawan yang berkunjung pantai Penida menamakan pantai ini dengan sebutan Pantai Crystal Bay. Salah satu daya tarik Pantai Crystal Bay adalah pantai dengan hamparan pasir putih sangat cocok untuk berjemur (sun bathing). Pantai ini juga menyajikan panorama pantai yang masih alami dengan udara yang sejuk, sepanjang pantai ditumbuhi pohon kelapa, seperti pada Gambar 5.1

Gambar: 5.1 Pantai Penida dengan hamparan pasir putih di Desa Sakti Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011

Selain memiliki pantai dengan hamparan pasir putih, di kawasan pantai Penida juga di temukan Pulau kecil dengan luas kira - kira 1 Ha dan masyarakat setempat menamakan pulau ini dengan sebutan “Batu Jineng” dimana masyarakat setempat menggunakan tempat tersebut sebagai tempat untuk memancing karena di sekitar Batu Jineng di temukan beraneka ragam ikan. Jarak pulau ini dengan Pantai Crystal

(4)

Bay lebih kurang 300 meter, untuk mencapainya masyarakat menggunakan perahu tradisional dengan jarak tempuh lima menit, seperti pada Gambar 5.2

Gambar 5.2 Crystal Stone dan Kapal Aristocat dari pantai Crystal Bay  Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011

Berdasarkan keterangan dari seorang pemandu wisata setempat mengenai daya tarik wisata pantai Crystal Bay dan Crystal Stone, adalah:

“…bahwa pantai Penida di manfaatkan oleh wisatawan untuk berjemur dan para wisatawan menyebut pantai Penida dengan nama Crystal Bay Beach dan terdapat juga pemandangan alam yaitu Batu Jineng sekitar 300 meter dari pantai Crystal Bay, Batu Jineng tersebut di mannfaatkan oleh masyarakat sebagai tempat untuk memancing dimana setiap harinya ada beberapa speed boat dan kapal wisata yang berlabuh di sekitar kawasan Batu Jineng/Crystal Stone”. (Ardana, wawancara 22 Mei 2011). Berdasarkan pernyataan informan tersebut dapat disimpulkan bahwa potensi pemandangan alam yaitu pantai Crystal Bay dan Crystal Stone layak di kembangkan sebagai daya tarik wisata alam.

(5)

2. Wisata bahari/Marine Tourism

Atraksi lainya yang paling menarik di Penida Bay adalah wisata bahari / marine tourism di kawasan perairan Penida (Crystal Bay) memeliki kekayaan hayati laut atau pemandangan bawah lautnya yang sangat indah serta kawasan ini ditemukan satu titik penyelaman. Aktraksi wisata bahari yang ada di Penida Bay, seperti:

a) Snorkeling

Air laut yang ada di Penida Bay sangat jernih sehingga beberapa masyarakat lokal menggunakannya untuk berenang sedangkan para wisatawan melakukan aktivitas dalam bentuk snorkelling untuk melihat terumbu karangnya sehabis mereka melakukan snorkelling para wisatawan berjemur, seperti pada Gambar 5.3

 

Gambar 5.3 Aktivitas snorkeling di Criystal Bay dan wisatawan yang sedang beristirahat.  Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011

(6)

b) Divin Wi snorkeling wisatawan dan daerah menamaka         Be (Wakil Bu Penida san “… temukan I ini baik w temukan d Gede Agu ng isatawan y g mereka ju n bisa melih h perairan i an ikan ini d Gambar 5.4 Sumbe erdasarkan upati) men gat bagus, ya …bahwa sal Ikan Mola – wisatawan di perairan N ung, Wawan yang berkun uga dapat m hat pemand ini ditemuk dengan Ikan Ikan Mola-M er: Foto Peni

keterangan ngenai poten aitu: ah satu yan – Mola seh dari Eropa Nusa Penid ncara 08 Jun njung ke k melakukan a angan bawa kan salah sa n Mola Mol Mola dan wi ida Dive Res

dari Waki nsi daya ta ng menjadi i hingga mena a maupun d da salah satu ni 2011) kawasan Pe aktivitas div ah laut sepe atu jenis ika la, seperti G

satawan di C sort Nusa Pen

il Kepala D arik wisata ikon kawasa arik wisataw dari Asia, unya di Cry nida Bay s ving, diman erti terumbu an yang san Gambar 5.4 Crystal Bay D nida  Daerah Ka di kawasa an Pantai C wan untuk m ikan ini la ystal Bay d selain berje na di tempa u karang (co ngat unik, w Desa Sakti abupaten K n barat Pu Crystal Bay mengunjun angka dan di Desa Sak emur dan at ini para oral reef) wisatawan Klungkung ulau Nusa adalah di gi daerah hanya di kti”. (Tjok

(7)

Hal senada juga diungkapkan oleh Willy Martin dari TNC (The nature Conservancy) mengenai keberadaan Ikan Mola Mola di Crystal Bay sebagai pemandangan bawah laut yang sangat langka, yaitu:

“…bahwa Ikan Mola Mola ini hidup di laut dalam hingga kedalaman 400 meter dan muncul di perairan antara bulan Juli - September untuk mendapatkan sinar matahari serta membersihkan tubuhnya dari berbagai parasit dengan bantuan ikan karang seperti ikan Bidadari ( angel fish) dan ikan Bendera (bannerfish). Ikan Mola Mola ini di jumpai pada kedalaman antara 25-45 meter dengan ukuran rata-rata dua meter, oleh sebab itu pada bulan -bulan tersebut para penyelam dari seluruh dunia datang ke Pantai Penida / Crystal Bay”.( Martin, wawancara 17 Juni 2011)

Pernyatan pendukung lainnya dari Bendesa Adat Sakti memberikan pernyataan tentang potensi daya tarik wisata yang ada di Desa Sakti sudah dikunjungi oleh para wisatawan dengan menggunakan jasa dari dive operator, yaitu:

“…bahwa setiap harinya ada 20 sampai 30 speed bout yang berkunjung ke Penida Bay untuk diving, snorkeling dan beberapa tamu ada yang berjemur di pantai Penida yang mana para wisatawan menyebut pantai ini Crystal Bay Beach dan setiap hari rabu dan jumat salah satu kapal arystocat milik Bali Hai Cruise bersandar 5 meter di sebelah selatan Batu Jineng yang membawa wisatawan rata- rata dalam sekali kunjungan 20-30 orang”. ( Nondrawan, wawancara 21 Mei 2011).

Berdasarkan pernyataan ketiga informan tersebut dapat disimpulkan bahwa potensi dari keindahan laut di teluk Penida/Penida Bay di Desa Sakti berpeluang besar untuk di kembangkan sebagai daya tarik wisata bahari/marine tourism serta keberadaan fauna yang langka seperti Ikan Mola Mola menjadi aset daya tarik wisata di kawasan barat Pulau Nusa Penida.

Potensi pendukung daya tarik wisata lainya yang ada di Penida Bay adalah adanya tempat suci/Pura Segara letaknya berdekatan dengan pantai Crystal Bay. Pura ini dikelola oleh dua Desa Adat yaitu Desa Adat Sakti dan Desa Adat Bunga Mekar.

(8)

Potensi pendukung yang lain yaitu terdapatnya sumber mata air Penida, dimana sumber mata air Penida sudah dikelola oleh PDAM sejak Tahun 1996 dan sudah dikomsumsi oleh masyarakat Nusa Penida.

5.1.2 Lokasi

Kawasan ini termasuk kawasan perbukitan yang mencapai ketinggian 100 meter di atas permukaan laut (dpl) dengan kemiringan rata - rata 25-40 derajat. Desa Sakti terletak sekitar 30 Km² dari Pelabuhan Kapal RORO dan di sebelah utara berbatasan Desa Toyepakeh, di sebelah selatan Desa Bunga Mekar dan di sebelah barat berbatasan dengan Selat Badung. Desa Sakti memiliki luas wilayah 13,160 Km² dengan jumlah penduduk 3,477 jiwa.

Sebagian besar penduduk Desa Sakti sudah menggunakan PLN sebagai sarana penerangan rumah tangga, namun masih ada beberapa warga yang belum dapat mengakses penerangan dari PLN karena letak rumahnya cukup jauh dari pusat pemukiman (Banjar). Kondisi jalan sudah diaspal dengan lebar jalan empat meter dan tersedianya sarana transportasi yang cukup memadai.

Akses menuju daya tarik wisata ini bisa ditempuh melalui pelabuhan Tanjung Benoa, pelabuhan Padang Bai, pelabuhan Sanur, Pelabuhan Kusamba dan Pelabuhan Tri Buana dengan menggunakan Speed Boat, Perahu Tradisional dan Kapal Wisata dengan waktu tempuh 1 – 1,5 jam. Akses menuju Pulau Nusa Penida sekarang dipermudah dengan beroprasinya dua buah kapal RORO ( Roll On Roll Off) sehingga

(9)

dapat mempermudah para wisatawan dan masyarakat lokal untuk membawa kendaraan bermotor untuk menuju kawasan wisata bahari Desa Sakti dengan waktu tempuh 45 menit dari pelabuhan kapal RORO.

5.1.3 Fasilitas

Fasilitas penunjang pariwisata di kawasan Penida Bay Desa Sakti seperti; hotel, villa, restaurant, bar, café, spa, tour dan travel, toilet, Tourist Information Centre (TIC), tempat parkir, artshop, long chair, sarana wisata air seperti canoe, jet sky, perlengakapan diving dan badan pengelola belum tersedia. Fasilitas yang sudah ada yaitu sebuah tempat peristirahatan semi permanen yang di bangun oleh pelaku usaha pariwisata yang mana tempat tersebut tidak untuk umum melainkan khusus untuk wisatawan pengguna jasa Bali Hai Cruise, seperti pada Gambar 5.5

   

Gambar 5.5 Bangunan semi permanen yang dibangun oleh Bali Hai Cruise Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011

(10)

Pengelolaan daya tarik wisata di kawasan barat Pulau Nusa Penida belum tersedia, berdasarkan pernyataan dari Camat Nusa Penida, yaitu:

”… bahwa mengenai pengelolaan daya tarik wisata di Desa sakti belum dilakukan sepenuhnya oleh Dinas terkait, hanya sebatas memungut dana retribusi keperusahaan dive operator yang berlabuh di Penida Bay oleh Bendesa Adat setempat, pengujung ke kawasan tersebut dikenakan biaya sebesar Rp 15000 per Bout / Kapal”. ( Sudiarta Jaya, wawancara 24 Mei 2011).

Hal senada juga dikatakan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Klungkung mengenai pengelolaan daya tarik wisata di kawasan barat Pulau Nusa Penida, yaitu:

“Pengelolaan kepariwisataan di Pulau Nusa Penida pada umumnya memang belum sepenuhnya diatur oleh Pemerintah Kabupaten Klungkung sehingga dana retribusi tersebut masih di kelola oleh Bendesa Adat setempat asalkan sesuai dengan prosedur dan sampai saat ini dana retribusi tersebut belum masuk ke Kabupaten Klungkung”.(Wijana, wawancara 06 Juni 2011)

Berdasarkan pernyataan kedua informan tersebut dapat disimpulkan bahwa belum adanya perencanaanan penetapan badan pengelola daya tarik wisata di Desa Sakti, hanya sebatas dana retribusi dari jasa dive operator yang dikelola oleh desa adat setempat.

5.1.4 Kunjungan Wisatawan

Berdasarkan data dari Bali Hai Cruise jumlah kunjungan wisatawan pada tahun 2010 berjumlah 2308 wisatawan dan jumlah tersebut belum termasuk data kunjungan wisatawan yang menggunakan jasa dari Dive Operator, seperti pada Tabel 5.1

(11)

Kapal Aristocat milik PT. Bali Hai Cruise yang membawa wisatawan berkunjung ke pantai Crystal Bay beroprasi dua kali dalam seminggu dan dalam periode bulan tertentu seperti pada bulan Mei sampai Desember, hal ini di sebabkan pada periode bulan Januari sampai April faktor cuaca yang tidak mendukung yaitu angin laut yang kencang dan arus gelombang air laut yang sangat keras dan tinggi.

Tabel 5.1

Data Kunjungan Wisatawan ke Crystal Bay Tahun 2010

No Tahun Jumlah Kunjungan

1 2006 1.534 2 2007 1.600 3 2008 3.476 4 2009 2.512 5 2010 2.308

Sumber: PT.Bali Hai Cruises, 2010

5.2 Desa Bunga Mekar (Wisata Alam, Wisata Bahari dan Wisata Religi dan Spritual)

Desa Bunga Mekar berada di ujung selatan kawasan barat Pulau Nusa Penida dimana desa ini terdapat satu titik penyelaman yang terletak di Banjar Karangdawa.

(12)

5.2.1 Identifikasi Potensi Daya Tarik Wisata

Potensi daya tarik wisata yang ada di Desa Bunga Mekar yaitu; 1) Pura Paluang (wisata spiritual dan wisata religi) 2) Pantai Klingking (Dream Beach) dan Manta View, 3) Manta Point 1, 4) Lingkungan Pasih Uug. Potensi – potensi daya tarik tersebut akan di uraikan sebagai berikut:

1) Pura Paluang/ Pura Mobil

Pura Paluang letaknya di Banjar Karangdawa, Desa Bunga Mekar, sekitar 15 meter dari tebing pantai dan satu kilometer dari pemukiman masyarakat serta dengan luas areal sekitar 20 are yang di kelilingi oleh pohon-pohon yang rindang. Pura ini memiliki keunikan tersendiri dan tidak terdapat di pura-pura lain di Pulau Bali, keunikan yang dimilki oleh Pura Paluang adalah ditemukan dua buah pelinggih yang menyerupai Mobil Batu. Kedua Mobil Batu tersebut sudah ada sejak adanya Pura Paluang, namun belum ada data yang pasti kapan ditemukannya Pura tersebut. Mobil Batu ini mempunyai dua bentuk yang berbeda, yaitu:

a) Mobil Batu Besar bentuknya menyerupai Mobil Jeep dan di dalamnya terdapat dua buah Pratima yang dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai perwujudan Ida Batari Hyang Mami.

b) Mobil Batu Kecil bentuknya menyerupai Mobil VW Kodok, dan di dalam mobil ini terdapat satu buah Pratima yang merupakan perwujudan Ida Batara Lingsir. Kedua Mobil Batu tersebut disajikan pada Gambar 5.6

(13)

Gambar 5.6 Dua buah Mobil Batu yang ada di Jaba Tengah Pura Paluang Banjar Karangdawa Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011

Menurut informasi dari pemangku pura tersebut mengenai keberadaan kedua mobil tersebut, yaitu:

“…bahwa konon pada hari - hari tertentu kedua Mobil Batu tersebut digunakan sebagai simbol kendaraan Ida Batari Hyang Mami dan Batara Lingsir Paluang ketika hendak bepergian (Ida Batara Lunga) untuk menemui Panjak/ masyarakatnya yang merantau ke daerah lain. (Setawan, hasil wawancara 21 Mei 2011)

Selain memeliki keunikan berupa dua buah Mobil Batu, Pura Paluang terdapat enam pelinggih yaitu;

a) Pelinggih Gedong Lingga

Pelinggih ini merupakan pelinggih utama Ida Batara Jero Gede Paluang dan menurut masyarakat setempat pelinggih ini difungsikan untuk memohon keselamatan, dan memohon sesuatu yang positif, seperti pada Gambar 5.7

(14)

Gambar 5.7 Pelinggih Utama Pura Paluang Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011 b) Pelinggih Dugul

Diatas pelinggih ini terdapat sebuah batu yang menyerupai patung dewa dimana masyarakat setempat menyebutnya Dugul, seperti pada Gambar 5.8

Gambar 5.8 Pelinggih Dugul di Pura Paluang Desa Bunga Mekar Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011

(15)

Menurut informasi tokoh masyarakat Banjar Karangdawa mengenai keberadaan batu tersebut, yaitu:

“… bahwa batu yang menyerupai patung dewa tersebut dipercaya sebagai bukti awal berdirinya Pura Paluang. Di mana pada jaman dahulu di areal Pura Paluang ini merupakan sebuah hutan kecil yang diubah menjadi lahan pertanian oleh masyarakat setempat, pada saat pengalih fungsian hutan tersebut ditemukan batu yang menyerupai bentuk patung dewa. Namun belum ada sumber data yang pasti tentang sejarah berdirinya Pura Paluang. Pioadalan Pura Paluang jatuh pada hari Sabtu /Saniscara Tumpek Krulut.(Permadi, hasil wawancara 23 Mei 2011).

c) Pelinggih Gedong Limas merupakan tempat berkumpulnya para Dewa/Bhatara (Batara Sami) dimana masyarakat setempat menyebutnya sebagai penyiwi (berkumpulnya Ida Batara Sami), seperti pada Gambar 5.9

Gambar 5.9 Pelinggih Gedong Limas di Pura Paluang Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011

d) Gedong Simpeng

Pelinggih ini berfungsi sebagai tempat pesimpenan/penyimpanan Pratima (benda-benda yang dianggap suci dan merupakan simbol simbol dari dewa - dewi yang dipuja di pura tersebut), seperti pada Gambar 5.10

(16)

Gambar 5.10 Pelinggih Gedong Simpen di Pura Paluang Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011

e) Balai Piyasan

Balai ini berfungsi untuk menghias Ida Batara-Batari yang melinggih di Pura paluang sehari sebelum upacara piodalan, seperti Gambar 5.11

Gambar 5.11 Balai Piasan di Pura Paluang Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011 f) Pelinggih Pakelik/Kelik

Balai ini berfungsi sebagai tempat untuk menaruh Pratima dan Ida Bhatara- Bhatari ketika upacara piodalan dimulai, seperti Gambar 5.12

(17)

Gambar 5.12 Pelinggih Kelik di Pura Paluang Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011 g) Pelinggih Menjangan

Pelinggih ini merupakan simbol dari Ida Batara Awatara dimana bagian pelinggih ini menurut kepercayaan masyarakat setempat berfungsi untuk memberikan perlindungan dan kesempurnaan terhadap binatang peliharaan mereka, seperti pada Gambar 5.13

Gambar 5.13 Pelinggih Menjangan di Pura Paluang

(18)

h) Balai Gong dan Balai Perantenan

Kedua bangunan ini berada di Jaba Sisi, fungsi dari kedua bangunan ini adalah sebagai tempat Perantenan (dapur) dan Balai Gong untuk menaruh Gamelan dan sekaligus sebagai tempat pertunjukan seni, seperti pertunjukan tarian-tarian dan Mawirama. Sekitar Pura Paluang juga terdapat banyak kera dimana masyarakat setempat mempercayai sebagai Duwe (Peliharaan) Ida Batara Peluang dan dapat juga melihat pemandangan perbukitan serta pulau-pulau kecil yang berada di tengah laut.

Berdasarkan kedua informan di atas dapat disimpulkan bahwa keberadaan dari Pura Paluang di Desa Bunga Mekar layak dikembangkan sebagai daya tarik wisata spiritual dan wisata relegi serta merupakan aset dari daya tarik wisata yang ada di Desa Bunga Mekar, hal ini di sebabkan Pura Paluang hanya berada di Desa bunga Mekar dan tidak ada di tempat lainnya.

Pada sore hari di kawasan Pura Paluang cocok untuk melihat matahari terbit (Sunrise) dan matahari terbenam (Sunset), seperti disajikan Pada Gambar 5.14

Gambar 5.14 Suasana Sunrise dan Sunset di Pura Paluang Banjar Karangdawa Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011

(19)

2. Pantai Klingking/ Dream Beach dan Manta View 

Pantai Klingking merupakan potensi yang di miliki oleh Desa Bunga Mekar yang berada di Banjar Karang Dawa, pantai ini memiliki panjang pantai sekitar 20 - 30 meter dan lebar 8 meter. Para wisatawan menyebut pantai ini dengan nama Dream beach di mana letaknya sekitar 400 meter dari Pura Paluang.

Wisatawan yang hendak menikmati keindahan pantai ini seperti berjemur kebanyakan menggunakan dari jasa dive operator. Wisatawan juga dapat mengakses melalui jalan darat untuk melihat keindahan pantai Klingking dan pasir putihnya dari ketinggian tebing sekitar 150 meter, hal ini disebabkan karena akses ke tepi pantai tidak memadai.

Pemandangan dari atas tebing tersebut dan pulau - pulau kecil dan bukit Klingking yang menyerupai bentuk Kodok yang berdekatan dengan Dream Beach. Di sisi lain tebing tersebut terdapat sebuah pura yang oleh masyarakat setempat diberi nama Pura Klingking.

Wisatawan yang datang juga bisa melihat pemandangan bawah laut seperti ikan Pari-Pari (Manta Ray) dan kebanyakan wisatawan mengunjungi tempat ini pada siang hari dengan menggunakan kendaran bermotor, beberapa wisatawan yang sempat mengunjungi tempat ini dengan sebutan Manta View, seperti Gambar 5.15

(20)

       

 

Gambar 5.15 Pantai dengan hamparan pasir putih dan view bukit di Banjar Karangdawa Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011

Salah seorang pemandu wisata diving/Dive Guide dari Desa Toyepakeh menyatakan:

“Beberapa wisatawan yang diajak ketempat ini sangat tertarik melihat pemandangan pantai dan pasir putihnya, pemandangan bukit yang indah, pulau-pulau kecil yang indah dan menarik serta melihat keberadaan ikan Pari Manta dari atas tebing. Kebanyakan wisatawan saya menamakan tempat ini dengan sebutan Manta View”. (Eko, wawancara 24 Mei 2011).

Berdasarkan pernyataan informan di atas dapat disimpulkan bahwa pontensi pantai Klingking, pemandangan bukit yang indah dan pulau-pulau yang unik berpeluang sebagai daya tarik wisata alam, hal ini di sebabkan wisatawan membutuhkan ketenangan dan tertarik dengan panaroma alam yang masih alami.

(21)

3) Wisata Bahari/ Marine Tourism (Manta Point 1)

Potensi daya tarik wisata yang terdapat di kawasan Teluk Klingking Banjar Karangdawa adalah potensi wisata bahari, seperti diving, snorkelling dan fishing dan di kawasan ini terdapat titik penyelaman yang oleh wisatawan di beri nama Manta Point 1 yang artinya wisatawan bisa secara langsung melihat dengan jarak yang dekat dan bermain dengan Ikan Pari Pari (Manta Ray).

Berdasarkan keterangan dari salah satu pemandu wisata (Dive Guide) yang berasal dari Nusa Penida,yaitu:

” …Di perairan daerah Klingking memiliki pemandangan bawah laut yang menarik seperti terumbu karang, beraneka ragam ikan hias salah satunya yang terkenal adalah Manta Ray (Pari Manta) merupakan ikon wisata bahari di kawasan Klinking Bay dan merupakan kawasan para nelayan untuk menan gkap ikan. (Eko, wawancara 24 Mei 2011).

Hal senada juga di ungkapkan oleh Willy Martin dari TNC (The Nature Conservancy) mengenai keberadaan Ikan Pari Pari tersebut, yaitu:

“bahwa diperairan Nusa Penida di temukan 4 jenis Ikan Pari, seperti: Pari Manta, Pari Burung, Pari Totol dan Pari Hantu dengan panjan rata- rata dua meter serta salah satu dari Pari itu berada di kawasan perairan Klingking bay Karangdawa Desa sakti yaitu Pari Manta (Manta Ray) sehingga di sebut dengan Manta Point 1dan di kawasan ini termasuk salah satu titik penyelaman”. (Martin, wawancara 17 Juni 2011)

Berdasarkan pernyataan dari kedua informan tersebut dapat di simpulkan bahwa potensi – potensi pemandangan bawah laut seperti ditemukannya Ikan Pari Manta dan penangkapan ikan oleh nelayan sehingga kawasan ini layak di kembangkan sebagai wisata baharin/marine tourism seperti Gambar 5.16  

(22)

     

Gambar 5.16 Ikan Pari Manta dengan wisatawan di Manta Point 1 Banjar Karang dawa Sumber: Foto Penida Dive Resort Nusa Penida

4) Pasih Uug/ Sea Crater dan Pura Telaga Sakti (Wisata Budaya)

Pasih Uug merupakan salah satu pemandangan alam yang unik yang berada di Banjar Adat Sompang, Desa Bunga Mekar. Wisatawan yang mengunjungi tempat ini menamakan tempat ini dengan sebutan Sea Crater yang artinya kawah angker sedangkan masyarakat setempat menyebut tempat ini dengan nama Pasih Uug yaitu Pasih berarti laut dan Uug berarti rusak.

Menurut informasi masyarakat setempat bahwa Pasih Uug dulunya adalah tempat pemukiman masyarakat (banjar), lambat laun pemukiman tersebut menghilang di sebabkan karena longsor, sampai sekarang masih di temukan sisa – sisa peninggalan masyarakat setempat, seperti Lesung Batu dan areal tanah yang mengalami kelongsoran berupa bundaran kedalam yang memiliki ketinggian sekitar 75 meter.

(23)

Selain memiliki bentuk yang unik, Pasih Uug juga memeliki pantai dengan hamparan pasir putih. Pantai ini panjangnya sekitar 20 meter dan lebar 6 meter, terdapat juga jembatan kecil yang terbentuk secara alami. Tebing yang ada di sekitar pasih Uug sering digunakan sebagai tempat memancing oleh masyarakat setempat, hal ini di sebabkan karena sekitar laut Pasih Uug merupakan kawasan penangkapan ikan oleh nelayan, seperti di sajikan pada Gambar 5.17

Gambar 5.17 Jembatan alami dan keadaan pantai Pasih Uug Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011

Selain itu wisatawan juga bisa melihat hamparan ombak yang sangat bagus, di mana masyarakat setempat menyebut hamparan ombak tersebut dengan nama Pasih Endus dan pada sore hari tempat ini cocok untuk melihat Sunset, seperti pada Gambar 5.18

(24)

Gambar 5.18 Suasana Sunset dan indah ombak di pasih Uug Banjar Sompang. Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011

Potensi pendukung daya tarik wisata di sekitar Pasih Uug adalah terdapatnya sebuah Taman dan terdapatnya sebuah pura dimana masyarakat Banjar Adat Sompang menyebut pura ini dengan nama Pura Telaga Sakti. Menurut cerita masyarakat Sompang Pura Telaga sakti awalnya di empon/di kelola oleh masyarakat Pasih Uug, setelah menghilangnya pemukiman masyarakat Pasih Uug akibat longsor maka Pura Telaga Sakti di empon Masyarakat Banjar Sompang.

Pura Telaga Sakti terletak di tengah hutan kecil 5 km² dari Desa Bunga mekar, Pintu keluarnya menghadap keselatan 20 meter dari tebing pantai dengan luas areal 8 are serta belum ditemukannya sumber data tentang sejarah Pura Telaga Sakti. Piodalan di pura ini jatuh pada Budha Cemeng Menail yang di peringati setiap enam bulan sekali. Pura Telaga Sakti berpeluang besar untuk di kembangkan sebagai wisata spritual dan meditasi karena letaknya berada di tengah hutan kecil serta jauh dari pemukiman masyarakat, seperti pada Gambar 5.19

(25)

Gambar 5.19 Pura Telaga sakti dan Taman di sekitar Pasih Uug Banjar Sompang Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011

5.2.2 Lokasi

Desa Bunga Mekar termasuk wilayah perbukitan yang mencapai ketinggian 200 meter di atas permukaan laut dengan kemiringan rata - rata 30 - 45 derajat. Desa Bunga Mekar terletak sekitar 50 km² dari pelabuhan Kapal RORO dan sebelah utara berbatasan dengan Desa Sakti, di sebelah selatan Samudra Hindia dan disebelah barat berbatasan dengan Selat Badung. Desa Bunga Mekar memiliki luas wilayah sekitar 19,730 km² dengan jumlah penduduk 2,440 jiwa. Kondisi jalan sudah diaspal dan memeliki lebar jalan 4 meter, tersedianya sarana transportasi yang cukup memadai.

Akses menuju daya tarik wisata ini bisa di tempuh dengan menggunakan kendaraan bermotor selama 1,5 jam dari Pelabuhan Kapal RORO dan bisa di tempuh dengan menggunakan speed boat dan perahu tradisional dari Pelabuhan Benoa, Tanjung Benoa, Sanur, Padang Bay, dan Pelabuhan Kusamba dengan waktu tempuh sekitar 2 jam.

(26)

Akses menuju Nusa Penida sekarang di permudah dengan beroperasinya dua buah kapal RORO sehingga dapat mempermudah para wisatawan domestik dan mancanegara untuk mengunjungi daya tarik wisata relegi dan keindahan alam Desa Bunga Mekar seperti: Pura Paluang dan Pasih Uug (sea crater) dengan membawa kendaraan pribadi.

5.2.3 Fasilitas

Penduduk di Desa Bunga Mekar sudah menggunakan PLN sebagai sarana penerangan rumah tangga, namun masih ada beberapa warga yang belum dapat mengakses penerangan dari PLN karena letak rumahnya cukup jauh dari pusat pemukiman (Banjar).

Fasilitas Penunjang pariwisata di Desa Bunga Mekar belum tersedia, seperti; hotel, villa, restaurant, bar, café, spa, tour dan travel, tourist information centre, artshop. dan belum tersedianya badan pengeloaan daya tarik wisata.

Fasilitas Penunjang pariwisata yang ditemukan yaitu dua Buah unit toilet dan tempat parkir dengan luas 10x10 meter yang digunakan untuk menfasilitasi para Pemedek yang melakukan persembahyangan serta terdapatnya sebuah rumah penginapan yang tidak jauh dari pemukiman masyarakat, seperti pada Gambar 5.20

(27)

Gambar 5.20 Rumah Penginapan di Desa Bunga Mekar Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011

Sekitar kawasan daya tarik wisata ini ditemukan potensi sumber mata air Seganing yang mana belum di kelola oleh Pemerintah Daerah dan sebagian besar masyarakat Desa Bunga Mekar mengkomsumsi air PDAM dari sumber mata air Guyangan, namun ada juga beberapa penduduk di Desa Bunga Mekar yang masih menggunakan sumur penampungan dari air hujan / Cubang.

5.2.4 Kunjungan Wisatawan

Wisatawan yang berkunjung ke daya tarik wisata ini kebanyakan wisatawan yang menggunakan jasa dive operator dan beberapa wisatawan mengunjungi daya tarik wisata ini dengan menggunakan kendaraan bermotor. Data kunjungan wisatawan kedaya tarik wisata ini belum terdata di sebabkan belum adanya keterlibatan bendesa adat untuk memungut dana retribusi baik terhadap wisatawan maupun kepihak dive operator seperti yang sudah dilakukan oleh Bendesa adat Desa Sakti

(28)

5.3 Toyapakeh Bay

Desa Toyapakeh merupakan kawasan pesisir yang mana secara aksesbiliti sudah cukup bagus karena terdapat Pelabuhan Toyapakeh penghubung antara Pulau Lembongan dan antar Kabupaten Klungkung, Karangasem dan Kabupaten Badung serta tersedianya pasar tradisional sebagai pusat perekonomian di kawasan ini.

5.3.1 Identifikasi Potensi Daya Tarik Wisata

Potensi daya tarik wisata di Desa Toyapakeh adalah berupa Water sport dan wisata bahari seperti: snorkeling dan diving yang diuraikan sebagai berikut.

1) Water Sport

Desa Toyepakeh memeliki potensi daya tarik wisata water sport yang berpotensi besar untuk dikembangkan menjadi salah satu daya tarik wisata, adapun potensi water sport yang bisa dikembangkan, seperti: parasailing, glass battom, snorkeling, jet sky, canoe, seperti yang disajikan pada Gambar 5.21

Gambar 5.21 Aktivitas water sport di Desa Toyapakeh

(29)

2) Pasar Tradisonal dan Pasar Seni 

Potensi lainya yang terdapat di Desa Toyapakeh adalah terdapat dua buah pasar tradisional, dimana letak kedua pasar ini berjarak sekitar 300 meter dengan fungsi yang berbeda. Kedua jenis pasar tersebut yaitu; Pasar tradisional Toyapakeh dan Pasar Seni (art market).

a) Pasar Tradisional Toyapakeh

Pasar ini berdiri sekitar tahun 1960 di Desa Toyapakeh dan nama pasar ini berasal dari nama desa tersebut yaitu Desa Toyapakeh. Pasar Toyapakeh pertama kali di didirikan oleh masyarakat muslim yang tinggal di desa tersebut karena asal mula warga muslim datang ke Nusa Penida adalah berdagang. Warga muslim tersebut kebanyakan berasal dari Kampung Kusamba, Kabupaten Klungkung dan ada beberapa yang datang dari Pulau Jawa.

Pasar ini banyak di kunjungi oleh masyarakat Nusa Penida khususnya masyarakat yang berada di kawasan barat Pulau Nusa penida dan masyarakat yang berasal dari Pulau Lembongan. Pasar ini buka mulai dari jam 6 pagi sampai jam 11 siang dan luas areal pasar ini sekitar 75 are. Pasar ini mengalami keramaian pada saat hari raya Galungan dan Kuningan, Saraswati dan pioadalan di Pura Penataran Dalem Ped. Aktivitas yang di lakukan masyarakat Nusa penida saat tranksaksi jual beli barang di Pasar Toyapakeh seperti yang disajikan pada gambar 5.22

(30)

Gambar 5.22 Akvitas masyarakat Nusa Penida di Pasar Tradisonal di Desa Toyapakeh Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011

b) Pasar Seni

Pasar seni ini didirikan pada tahun 1994 atas inisiatif dari beberapa warga untuk menfasilitasi kunjungan wisatawan yang berkunjung kedesa Toyapakeh melalui jasa kapal Quiksilver milik PT. Bahari Nusantara. Luas pasar ini sekitar 30 are, dan beroperasi mulai dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore. Para pedagang menjual menjual beberapa souvenir khas Bali, seperti: baju, lukisan, patung, seperti Gambar 5.23

Gambar 5.23 Aktivitas wisatawan di pasar Seni Desa Toyapakeh Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011

(31)

Menurut pernyataan Kepala Desa Toyapakeh tentang fungsi dari pasar seni (art market ), yaitu:

”bahwa pasar ini di sedikan khusus untuk menfasilitasi wisatawan yang berkunjung melalu jasa kapal Quiksilver, wisatawan yang mengunjungi wisata ini kebanyakan berasal dari wisatawan Asia, seperti: Cina, Taiwan dan Korea. Wisatawan yang berkunjung di beri waktu lebih kurang satu jam untuk masuk ke areal wisata yang sudah di sediakan oleh pihak pengelola areal wisata ini yaitu PT. Bali Bahari Nusantara. Selama satu jam tersebut wisatawan dapat menyaksikan pertujukan sabung Ayam, para wisatawan bermain poli pantai, melihat penyu dan terakhir baru mengunjungi pasar seni.( Kabir, wawancara 25 Mei 2011).

Berdasarkan informan di atas dapat disimpulkan bahwa kedua pasar tersebut yaitu Pasar Tradisonal Toyapakeh dan Pasar Seni ( art market) layak dikembangkan sebagai wisata budaya.

5.3.2 Lokasi

Desa Toyapakeh merupakan kawasan pesisir desa ini terletak sekitar 15 km² di sebelah barat Kantor Camat Nusa Penida Desa Batununggul, dan berada sebelah Utara Desa Ped dan sebelah selatan Desa Sakti. Desa Toyapakeh memeliki luas wilayah paling kecil diantara enam desa yang ada di kawasan barat Nusa Penida yaitu sekitar 0,650 km² dengan jumlah penduduk 551 jiwa.

5.3.3 Fasilitas

Desa Toyapakeh merupakan salah satu Desa yang ada di kawasan barat Nusa Penida yang memeliki pasar tradisional sehingga sarana dan prasarana yang di butuhkan cukup memadai, seperti tersedianya sarana telekomonikasi yaitu

(32)

terdapatnya satu unit wartel, warung makan sederhana, tersedianya beberapa toko, sehingga keperluan rumah tangga dan keperluan lainya cukup terpenuhi. Sarana angkutan transportasi baik darat maupun transportasi laut cukup memadai. Desa Toyapakeh merupakan tempat mangkalnya 23 angkutan daerah dan mangkalnya persatuan tukang ojek serta berlabuhnya empat Perahu Tradisional/ Jukung dengan tujuan Pelabuhan Kusamba, dan beberapa buah sampan tujauan Nusa Lembongan, seperti pada Gambar 5.24

Gambar 5.24 Perahu Tradisional dan suasana Desa Toyapakeh Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011

Penduduk di Desa Toyapakeh hampir semuanya mengkonsumsi air PDAM dan sudah menggunakan PLN sebagai sarana penerangan rumah tangga. Fasilitas sarana pariwisata di kawasan Desa Toyapakeh seperti; hotel, villa, restaurant, bar, café, spa, tourist information centre, tempat parkir, artshop serta badan pengelolaan belum tersedia. Fasilitas pariwisata yang ada berupa tempat wisata, seperti lapangan bola volly pantai dan sarana water sport, seperti pada Gambar 5.25

(33)

Gambar 5.25 Fasilitas yang disediakan oleh PT Bahari Nusantara

Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011

Berdasarkan pengamatan di Desa Toyapakeh baru di temukan satu buah bungalow, satu buah restouran, dan satu buah unit perusahaan dive operator. Kedua fasilitas akomodasi tersebut namanya Mutiara Bungalow dan Restouran Mutiara. Bungalow tersebut memeliki enam kamar dengan fasilitas kamar yang tersedia yaitu: tiga kamar pakai AC dan tiga kamar pakai Kipas Angin, TV dan rata- rata harga per malam Rp 100.000 - Rp 200.000 per malam tergantung fasilitas kamar yang di pesan, seperti pada Gambar.5.26

Gambar 5.26 Bungalow Mutiara dan Rumah makan Mutiara di Desa Toyapakeh Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011

(34)

Sekitar pelabuhan Desa Toyapakeh terdapat empat buah warung makan sederhana dan dua buah toilet, satu unit pos Balawisata, satu unit pos untuk penjualan tiket serta sebuah pos kecil untuk peristirahatan para porter, seperti pada Gambar 5.27

Gambar 5.27 Rumah Makan dan Pos Balawista di Desa Toyapakeh Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011

5. 3.4 Kunjungan Wisatawan

Wisatawan yang berkunjung ke daya tarik wisata ini kebanyakan wisatawan Asia seperti; Cina, Taiwan dan Korea yang menggunakan jasa kapal Quiksilver dan beberapa wisatawan dari negara Ceko. Data kunjungan wisatawan yang mengunjungi Desa Toyapakeh dengan menggunakan jasa Kapal Quiksilvrier dari pelabuhan Tanjung Benoa dan kapasitas penumpang rata-rata 100 sampai 150 orang. Wisatawan yang melalui jasa dive operator sebagain besar wisatawan dari asia dan beroprasi satu kali dalam sehari, dari jam sembilan pagi sampai jam tiga sore. Data kunjungan wisatawan disajikan pada Tabel 5.2

(35)

Tabel 5.2

Data Kunjungan Wisatawan ke Desa Toyepakeh Tahun 2010 No. Tahun JumlahKunjungan

1 2006 16.744 2 2007 50.497 3 2008 60.692 4 2009 63.286 5 2010 69.354 Sumber: PT.Bali Bahari Nusantara , 2010

5.4 Desa Ped (Wisata Religi/ Spritual dan Wisata Bahari) dan Pembudidayaan Rumput laut

Potensi yang terdapat di Desa Ped adalah berupa potensi wisata relegi, spritual, wisata bahari dan pembudidayaan rumput laut.

5. 4.1 Identifikasi Potensi Daya Tarik Wisata

Desa Ped meruapakan salah salah kawasan pesisir pantai Nusa Penida. Sebagain besar masyarakat bermata pencaharian sebagai petani Rumput Laut (sea wead). Potensi yang dimilki oleh Desa Ped, yaitu: 1) Pura Penataran Dalem Ped, 2) Wisata Bahari, 3) Pembudidayaan Rumput Laut.

(36)

1) Pura Penataran Dalem Ped

Pura Penataran Dalem Ped merupakan salah satu pura Sad Khayangan yang ada di Kecamatan Nusa Penida, Pura ini terletak di tepi pantai sekitar 50 meter dari laut dan berada di Desa Ped dan lebih kurang 4 mm di sebelah timur Desa Toyepakeh. Pura Penataran Dalem Ped memeliki luas areal mencapai 50x50 meter di daratan pantai yang di kelilingi oleh pohon kelapa dan pohon – pohon rindang lainya.

Pintu keluar Pura ini menghadap ke selatan dan di belakang atau di sebelah utaranya adalah Selat Nusa yang menpunyai aliran air yang deras. Mengenai nama Pura Penataran Dalem Ped sedikit simpang siur di sebabkan sumber sumber informasi tentang sejarah itu sangat minim.

Menurut Putera dkk ( 1985) dalam bukunya” Sejarah Nusa dan sejarah Pura Dalem ” bahwa Pura Dalem Ped awalnya bernama Pura Dalem Nusa. Pengantian nama itu di lakukan tokoh Puri Klungkung pada zaman Pemerintahan I Dewa Agung tetapi sejarah keberadaan Pura Penataran Dalem Ped belum diketahui sampai sekarang

Hari Piodalanya jatuh pada tiap Budha Cemeng Kelawu setiap enam bulan sekali selama tiga hari yaitu hari rabu, kamis dan jumat serta penyimpen/ penutupannya pada hari selasa (enam hari setelah puncak piodalannya). Pura Penataran Dalem Ped memiliki lima pura yang lokasi saling berdekatan, seperti:

(37)

1) Pura Segara sebagai tempat berstananya Batara Baruna terletak pada bagian paling utara dekat dengan bibir pantai lautan Selat Nusa, seperti pada Gambar 5.28

Gambar 5.28 Pura Segara di Dalem Ped Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011 2) Pura Taman

Beberapa meter mengarah keselatan ada Pura Taman dengan kolam mengitari pelinggih yang ada didalamnya di mana pura ini berfungsi sebagai tempat penyucian, seperti pada Gambar 5.29

Gambar 5.29 Pura Taman Dalem Ped Desa Ped Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011

(38)

3) Pura Utama

Pura utama yakni Penataran Agung Gede Mecaling sebagai simbol kesaktian Nusa pada jamannya, seperti Gambar 5.30

Gambar 5.30 Pelinggih Ratu Gede Mecaling Ped Desa Ped Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011

4) Pura Penataran Agung

Di sebelah timur Pura Utama( Ratu Gede Mecaling) yakni sebagai simbol pelabaan Ratu Mas, seperti pada Gambar 5.31

Gambar 5.31 Pura Penataran Agung Ped Desa Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011

(39)

5) Bale Agung

Tempat yang terakhir berada di Jabe Tengah ada Bale Agung yang merupakan pelinggih batara-batara pada waktu ngusaba,seperti disajikan pada Gambar 5.32

Gambar 5.32 Bale Agung di Pura Dalem Ped Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011

. Selain itu, di posisi jaba ada tiga buah wantilan yang berbentuk menyerupai bangunan Balai Banjar yang berfungsi untuk pertunjukan kesenian dan sangkep/ musyawarah serta sebagai tempat beristirahat bagi pemedek / masyarakat yang mekemit di Pura Dalem Ped

2) Wisata Bahari

Desa Ped juga berpotensi dikembangkan sebagai daya tarik wisata bahari terbukti di kawasan desa ini di temukan dua titik penyelaman seperti Ped point, SD Point dan Sental Point. Ketiga titik penyelaman tersebut terdapat terumbu karang yang indah dan beraneka ragam ikan hias, seperti pada Gambar 5.33

(40)

GG Gambar 5.33 Terumbu Karang dan Ikan Hias di Ped Point dan SD Point Sumber: Foto di ambil dari Penida Dive Resort Nusa Penida 3) Pembudidayaan Rumput Laut (Seaweed)

Sepanjang Pantai Desa Ped sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai petani rumput laut karena inilah mata pencaharian mereka. Jenis rumput laut yang ditanam adalah jenis rumput Spinosum. Harga rumput laut jenis Spinosum adalah Rp 2000-2500 per kilogram dan untuk penjualannya di koordinir oleh seorang pengepul untuk kemudian dikirim ke Surabaya, untuk di eksport ke China, Taiwan, Korea dan Jepang, seperti pada Gambar 5.34

Gambar 5.34 Petani dan Lingkungan lokasi penanaman Rumput laut di Desa Ped Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011

(41)

Potensi pendukung daya tarik wisata di Desa Ped yaitu terdapatnya sebuah dermaga terletak di Banjar Nyuh Desa Ped sekitar satu kilometer dari Desa Toyapakeh dan tiga kilometer dari Pura Dalem Ped. Dermaga ini memiliki panjang mencapai 200 meter dari Pantai Banjar Nyuh. Dermaga ini digunakan oleh masyarakat setempat untuk kegiatan memancing dan pada sore hari sangat cocok untuk melihat matahari terbenam, seperti pada Gambar 5.35

Gambar 5.35 Suasana Sunset dan Dermaga Banjar Nyuh Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011 5.4.2 Lokasi

Desa Ped merupakan kawasan pesisir desa ini terletak sekitar 4 km² di sebelah barat berbatasan dengan Selat Badung, sebelah timur berbatasan dengan Desa Kutampi dan Desa Klumpu, sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Toyapakeh. Desa Ped memeliki luas wilayah seluas 21,150 km² dengan jumlah penduduk 3.725 jiwa. Penduduk di Desa Ped hampir semuanya mengkomsumsi air PDAM dan beberapa penduduk menggunakan Sumur Bor dan desa ini sudah menggunakan PLN sebagai sarana penerangan rumah tangga.

(42)

5.4.3 Fasilitas

Sarana tranportasi di Desa Ped sudah memadai dimana terdapat 55 angkutan pedesaan yang tergabung dalam satu wadah organisasi yaitu Organda (Organisasi Angkutan Daerah) dan terdapatnya delapan Perahu Tradisonal yang masih aktif dan satu buah unit Speed Boat untuk menfasilitasi masyarakat Nusa Penida yang bepergian ke luar Pulau Nusa Penida serta 56 Tukang Ojek, seperti Gambar 5.36

Gambar 5.36 Sarana angkutan tranportasi darat dan laut di Desa Ped Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011

Fasilitas sarana pariwisata di kawasan Desa Ped seperti; hotel, villa, restaurant, bar, café, Spa, tourist information centre, artshop dan badan pengelola belum di temukan. Fasilitas penunjang pariwisata yang cukup memadai berupa dua buah toilet di lingkungan Pura Penataran Palem Ped dan tersedia tempat parkir dengan luas sekitar empat are sedangkan fasilitas pariwisata yang tersedia berupa satu Rumah Makan dan dua buah penginapan dan beberapa warung kecil yang letaknya berhadapan dengan Pura Dalem Ped, seperti Gambar 5.37

(43)

Gambar 5.37 Rumah Penginapan dan Warung makan yang ada di Desa Ped Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011

5.4.4 Kunjungan Wisatawan

Wisatawan yang berkunjung ke daya tarik wisata ini kebanyakan wisatawan dari Australia, Jepang German melalui jasa Dive Operator yang ada di Pelabuhan Sanur, Padang Bai, Tanjung Benoa dan ada bebearapa wisatawan dari Pulau lembongan dengan menggunakan Perahu Tradisional dan speed boat namun belum ada data jumlah kunjungan wisatawan ke Desa Ped, seperti pada Gambar 5.38

Gambar 5.38 Speed Boat dan sebuah Pura Kecil di Sental Point Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011

Gambar

Gambar 5.2 Crystal Stone dan Kapal Aristocat dari pantai Crystal Bay   Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011
Gambar 5.5 Bangunan semi permanen yang dibangun oleh Bali Hai Cruise  Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011
Gambar 5.6 Dua buah Mobil Batu yang ada di Jaba Tengah Pura Paluang Banjar Karangdawa  Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011
Gambar 5.7 Pelinggih Utama Pura Paluang  Sumber: Dokumentasi Peneliti 2011  b) Pelinggih Dugul
+7

Referensi

Dokumen terkait

Gambar-gambar 1, 2, 3, dan 4 menunjukkan beberapa macam bahan makanan dan makanan hasil olahan yang mengalami kerusakan dan terkontaminasi oleh kapang kontaminan,

(1) Seksi Pemeliharaan Sarana Prasarana Bencana mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas dan fungsi Bidang Sarana Prasarana Bencana yang berkenaan dengan

Setelah dilakukan analisis statistik terhadap peubah indeks eritrosit (selisih nilai MCH, MCHC, dan MCV), tidak ditemukan interaksi antara lama waktu tempuh transportasi

Menurut Jamilah et al, (2007) menyatakan bahwa klien dapat mempengaruhi proses pemeriksaan yang dilakukan oleh auditor. Tekanan ketaatan dapat semakin kompleks

Pemilihan kawasan barat Pulau Nusa Penida sebagai lokasi penelitian didasarkan atas beberapa pertimbangan yaitu: (1) kawasan Barat Pulau Nusa Penida memiliki potensi – potensi

Saat ini petani rumput laut di Pulau Nusa Penida belum dapat mengolah sendiri hasil budidaya mereka, hanya ada beberapa masyarakat yang mulai mengolah rumput laut

Sedangkan kompresor sentrifugal, termasuk dalam kelompok kompresor Sedangkan kompresor sentrifugal, termasuk dalam kelompok kompresor dinamik adalah kompresor dengan

Sebagian besar responden berpendapat bahwa yang memperoleh bobot tertinggi pertama dan sangat penting adalah pada indikator promosi dengan bobot 0.067 dan indikator