Oleh:
Haliadi
(korespondensi: [email protected]) Prof. Dr. Nordin Hussen, MA.
Dr. Ahmad Ali Bin Seman
Kata Kunci: Demokratisasi, Lokal, Elit Lama dan Elit Baru A. Pengantar
Indonesia sejak merdeka pada tahun 1945 hanya memiliki 8 provinsi,1 namun sekarang ini di tahun 2014 Indonesia telah memiliki sekitar 34 provinsi. Sejarah perkembangan jumlah provinsi di Indonesia bertambah dari tahun ke tahun yakni dari hanya 8 provinsi menjadi 11 di tahun 1950, kemudian menjadi 13 pada tahun 1956, dan menjadi 16 di tahun 1957, lalu menjadi 20 pada 1959, untuk kemudian menjadi 21 provinsi di tahun 1960, ditambah lagi satu menjadi 22 pada tahun 1963, selanjutnya menjadi 23 pada tahun 1964. Sehingga menjadi 25 provinsi pada tahun 1969, lalu menjadi 26 di tahun1968 hingga tahun 1976 dan seterusnya. Pada masa reformasi sekarang ini (2014) telah berjumlah 34 provinsi.2 Provinsi terakhir yang terbentuk adalah Provinsi Kalimantan Utara. Provinsi Kalimantan Utara ini dibentuk dengan UU No. 20 Tahun 2012 tentang Pembentukan Provinsi Kalimantan Utara. Sebagaimana disebutkan dalam pasal 3 ayat (1) UU 20/2012, Provinsi Kalimantan Utara berasal dari sebagian wilayah Provinsi Kalimantan Timur yang terdiri dari:
Kabupaten Bulungan; Kota Tarakan; Kabupaten Malinau; Kabupaten Nunukan; dan Kabupaten Tana Tidung. Berdasarkan perkembangan provinsi tersebut sadar atau tidak, ada upaya menyempitkan wilayah dan menambah kuasa (baca: oleh elit politik) dalam sistem demokratisasi lokal di Indonesia.
Tulisan mengenai elit di beberapa tempat dunia masih menjadi sorotan yang menarik di negara-negara demokrasi dan negara-negara sedang berkembang. Kajian tentang elit sekarang ini masih banyak diminati oleh sarjana sains sosial terutama peneliti di Indonesia oleh J.
1 Provinsi Itu antara lain: Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Sunda Kecil,Maluku,Jawa Timur,Jawa Tengah, dan Jawa Barat.
2 Ke-34 Provinsi di Indonesia itu adalah: Sumatra Utara,Jambi,Sumatra Selatan, Riau,Sumatra Barat,Jawa Timur,Jawa Tengah, Jawa Barat,Kalimantan Barat,Kalimantan Selatan,Kalimantan Timur,Kalimantan Tengah, Nanggro Aceh Darussalam, Nusa Tenggara Barat,Nusa Tenggara Timur,Bali, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara,Sulawesi Barat, Kepulauan Riau,Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, DKI Jakarta, Banten, DI Yogyakarta, Maluku,Gorontalo, Maluku Utara,Papua,Papua Barat , dan Provinsi Kalimantan Utara.
MacDugall (1981),3 di Amerika oleh Thomas B. Priest (1995),4 di India oleh K. Singh (1996),5 di Cina oleh Jianjung Zhang (2008),6 di Inggeris oleh Gareth Willliam dan Ourania Filippakou (2009),7 dan di Amerika oleh Sarah H. Brown (2011).8 Para peneliti ini membuat dua kategori besar iaitu elit tradisional dan elit moderen. MacDougall melihat ikatan pertemanan akrab elit dalam fungsi organisasi politik pada masa Orde Baru di Indonesia secara politik dalam masa moderen. Lain halnya dengan Singh yang menguraikan sejarah kompetisi antara elit tradisional dan elit moderen Trinidian pada tahun 1917-1956. Elit tradisional mementingkan aspek budaya dan agama sementara elit moderen pada tahun 1950-an mementingkan aspek kelembagaan di India. Sementara, kajian Zhang mengenai keterkaitan elit dalam privatisasi politik industri modern di pedesaan Wenzhou Cina. Sementara, William dan Filippakou menyoroti formasi elit pendidikan tinggi di Inggeris pada abad ke-20 menggunakan sumber annual publication who’s who dengan analisis kuantitatif. Kedua- duanya menemui adanya klaim dari politik nasional tentang institusi pendidikan (Oxford dan Cambridge) yang mendistribusi elit nasional.
Kajian Brown mendeskripsikan peranan kepemimpinan elit di Amerika Selatan tahun 1954-1964. Thomas B. Priest menyoroti elit dan kelas bawah di Philadelphia pada tahun 1975. Sementara hubungan antara dua kelas itu dikomparasi dengan tulisan E. Digby Baltzell tentang tema yang sama pada tahun 1940. Baltzell dalam tulisan yang bertajuk “Philadelphia Gentlement” menggunakan sumber daripada indeks of the nation’s elit sebagai sebuah sususnan data dari Nasional Amerika. Data-data Batzel kemudian ditulis kembali oleh Priest untuk kajiannya tentang elit dan kelas bawah pada tahun 1975 di Philadelphia. Metode yang digunakan oleh Priest adalah membandingkan data sosial register elit di Philadelphia pada tahun 1940 dan tahun 1975. Keenam kajian di pelbagai belahan dunia tersebut menyoroti adanya elit tradisional dan elit moderen dalam dinamika politik. Konsepsi-konsepsi tulisan itu akan digunakan dalam tulisan ringkas ini.
Tulisan ini bukan menjelaskan sejarah perkembangan provinsi di Indonesia, namun akan mencoba menguraikan perbandingan persaingan elit lama dengan elit baru di Provinsi Sulawesi Tengah yang baru
3
J. MacDougall, “Elit friendship ties and their political - organizational functions; the case of Indonesia,“Bijdragen totde Taal-, Land-en Volkenkunde 137 (1981), no: 1, Leiden, hlm. 61-89.
4 Thomas B. Priest, “Elit and Upper Class in Philadelphia, 1975,” dimuat dalam: Jurnal Sociological Forum, Vol.10, No.1 (Mar., 1995), hlm. 165-173.
5 K. Singh, “Conflict and collaboration: tradition and modenizing Indo-Trinidadian elits (1917-56),” New West Indian Guide/Nieuwe West-lndische Gids 70 (1996), no: 3/4, Leiden, hlm. 229-253.
6 Tianjun Zhang, “State Power, Elit Relations, and the Politics of Privatization in China's Rural Industry:
Different Approaches in Two Regions,” Asia/1 Survey, Vol. 48, No. 2 (March/April 2008), pp. 215-238, diposting dari http: //www.jstor. Org/stable/10.1525/as.2008.48.2.215, Accessed: 24/03/2012 01: 04.
7 Gareth Williams dan Ourania Filippakou, “Higher education and UK elit formation in the twentieth century,”
Publish on line 2 Mei 2009, hlm. 1-20.
8 Sarah H. Brown,” The Role of Elit Leadership in the Southern Defense of Segregation, 1954-1964,” The Journal of Southern History, Volume LXXVII, No. 4. November 2011, hlm. 827-864.
terbentuk pada tahun 1964 dan kasus Pilkada di Kota Palu 2005, dan kerana juga Kota palu adalah Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah. Sumber data tulisan ini adalah arsip dan tulisan-tulisan yang dimuat dalam surat kabar lokal dan ditambai dengan wawancara dengan tokoh politik sesuai masanya. Tulisan ini akan diuraikan dalam dua bagian utama yakni:
Pertama, Persaingan elit lama dan elit baru di Provinsi Sulawesi Tengah sejak terbentuknya tahun 1964 dan Kedua, Persaingan elit lama dan elit baru dalam pilkada Kota Palu.
B. Provinsi Sulawesi Tengah: Elit Luar dan Elit Birokrati dan Militer Pemekaran pada tahun 1964 dari sejumlah 22 provinsi kepada 23 provinsi di Indonesia salah satunya adalah Provinsi Sulawesi Tengah yang dimekarkan dari Provinsi Sulawesi Utara Tengah. Wilayah yang dimekarkan itu adalah wilayah Indonesia yang terletak pada batas koordinat 2º,22’ LU – 3º,48’LS, dan 119º,22’ BT - 124º,22’ BT. Dengan luas wilayah secara keseluruhan 63.689,2 km. Tahun 1960 secara administratif, Propinsi Sulawesi Tengah dibahagi menjadi 4 kabupaten dan 1 kota administratif memiliki 62 kecamatan dan 1.302 desa. Adapun batas wilayah Sulawesi Tengah di Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Sulawesi dan Propinsi Gorontalo. Sebelah Selatan berbatasan dengan Propinsi Sulawesi Barat, Propinsi Sulawesi Selatan dan Propinsi Sulawesi Tenggara. Sebelah Timur berbatasan dengan Propinsi Maluku dan Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makasar. Pada pemekaran ini terjadi pada masa akhir-akhir pelaksanaan demokrasi terpimpin 1963/1964 secara nasional dan melibatkan berbagai elemen elit lokal di wilayah ini. Namun, terasa lucu karena setelah penentuan Gubernur pertama Provinsi Sulawesi Tengah dipegang oleh Anwar Gelar Datuk Madjo Basah Nan Kuning seorang birokrat karir dari Jakarta yang berasal dari Minangkabau. Apa yang sesungguhnya terjadi?, mengapa perjuangan elit lokal dalam pembentukan Provinsi Sulawesi Tengah justru dimenangkan oleh elit luar dari Minangkabau? Apakah itu tuntutan nasional atau kemenangan tokoh-tokoh elite lokal?
Perjuangan masyarakat Sulawesi Tengah secara politik dimulai sejak tahun 1960 yakni sejak dibentuknya Kabupaten Banggai yang dimekarkan dari Kabupaten Poso dan Kabupaten Buol Tolitoli yang dimekarkan dari Kabupaten Donggala pada tahun 1960. Dengan demikian pada tahun 1960 telah ada empat Kabupaten di wilayah Sulawesi Tengah yang masih dalam lingkupan wilayah Provinsi Sulawesi Utara Tengah.
Pada tahun ini empat kabupaten menjadi cikal bakal pembentukan Provinsi Sulawesi Tengah yang diperjuangkan oleh elit-elit lokal pada saat itu. Pada waktu itu, perjuangan elit dilakukan secara politik oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Gotong Royong (DPRD-GR) bentukan Sukarno. Lalu kemudian merembet kepada perjuangan masyarakat dalam bentuk organisasi sosial atau organisasi wadah perjuangan pembentukan Provinsi Sulawesi Tengah. Organisasi Gerakan Pemuda Sulawesi Tengah
(GPST) di Poso antara tahun 1957-1960 memperjuangan pembentukan Provinsi Sulawesi Tengah lengkap dengan organisasi militer induk di Sulawesi Tengah dipimpin oleh elit baru yang bernama Asa Bungkundapu seorang birokrat atau pegawai Pajak di Poso.9 Organisasi perjuangan yang kedua adalah Gerakan Penuntut Pembentukan Provinsi Sulawesi Tengah (GPPST) di Donggala 1958-1964 yang dipimpin oleh Kiai H. Z.A.
Betalemba seorang tokoh AlKhairat Palu.
Elit politik dan elit-elit lokal yang bergabung dalam GPST Poso dan GPPST Donggala telah mengerucut menjadi delapan konsepsi pembentukan Provinsi Sulawesi Tengah. Delapan konsepsi tersebut antara lain: Konsepsi Residen Manoppo, Konsepsi Toraja Raya, Konsepsi Makassar, Konsepsi Zakaria Imban, Konsepsi Tobing, Konsepsi Ngitung, Konsepsi Propinsi Tomini Raya, dan Konsepsi Mahasiswa Sulteng.10 Pertama, Konsepsi Residen Manoppo. Konsepsi Propinsi Sulawesi Tengah yang wilayahnya meliputi Kabupaten Donggala, Kabupaten Poso, dan Kabupaten Gorontalo. Konsep ini dikenal dengan nama “Konsepsi Residen Manoppo” dan mendapat dukungan dari DPRD Donggala pada tahun 1954.11 Konsepsi ini tentu saja dilakukan dari Manado dengan tidak terlalu banyak memperhatikan kasus lokal di Sulawesi Tengah secara otonom.
Kedua, Konsepsi Toraja Raya. Konsepsi Propinsi Sulawesi Tengah yang wilayahnya meliputi Kabupaten Donggala, Kabupaten Poso, dan Kabupaten Tanah Toraja. Konsepsi ini terkenal dengan nama
“Konsepsi Tumakaka-Tambing” atau “Konsepsi Toraja Raya” Konsepsi ini didukung oleh penempatan militer pimpinan Frans Karangan di Palu.
Tumakaka juga adalah seorang anggota DPR Pusat sehingga segala urusan di Pusat atau di Jakarta, beliau yang selalu melakukannya.
Demikian juga dengan Tambing seorang kelahiran Toraja yang menjadi anggota DPR Pusat waktu itu yang getol mempejuangkan terbentuknya Propinsi Sulawesi Tengah di Jakarta. Ketiga, Konsepsi Makassar.
Konsepsi Propinsi Sulawesi Tengah yang wilayahnya meliputi Kabupaten Donggala, Kabupaten Poso, dan Kabupaten Luwu Palopo. Konsepsi ini dikenal dengan nama Konsepsi “Hamid Syahid Arsyad Pane” atau
“Konsepsi Makassar” yang berdasarkan hak historis dari Kerajaan Luwu- Palopo. Konsepsi ini dilakukan dari Makassar sehingga perspektif atau pandangan terhadap Sulawesi Tengah selalu dihubungkan dengan
9 Haliadi, Dkk., Gerakan Pemuda Sulawesi Tengah (Gpst) Di Poso 1957-1963: Sebuah Perjuangan Anti Permesta dan Pembentukan Propinsi Sulawesi Tengah (Yogyakarta: Ombak, 2007).
10 Haliadi, Gerakan Pemuda Sulawesi Tengah di Poso: Antara Otonomi dan Pemikiran Kekuasaan Lokal, disampaikan pada Konferensi nasional Sejarah IX dan Kongres Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) oleh Direktorat Geografi Sejarah tanggal 5-8 Juli 2011, baca juga: Haliadi, Historiografi Lokal Dan Nasionalisme Di Sulawesi Tengah: Menuju Terbentuknya Nation Character Building di Daerah, diajukan sebagai bahan FGD yang bertema “Pembentukan Badan Pengkajian dan Pemasyarakatan Empat Pilar Kehidupan Bernegara, Urgensi dan Relevansinya dalam Mewujudkan Nation Character Building”, yang diadakan oleh Kerjasama UNTAD dengan MPR RI di SwissBel Hotel, tanggal 26 Juli 2011.
11 Sutrisno Kutoyo dkk., Sejarah Daerah Sulawesi Tengah (Jakarta: Pemda Sulteng dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, 2005), hal. 247-8.
keberadaan konstalasi politik di Makassar sebagai pusat kegiatan anak sekolah atau anak-anak daerah yang melakukan studi di Makassar.
Keempat, Konsepsi Zakaria Imban. Konsepsi Propinsi Sulawesi Tengah yang wilayahnya meliputi Kabupaten Donggala, Kabupaten Poso, Kabupaten Gorontalo, dan Kabupaten Bolaang Mongondow. Konsepsi ini biasa dikenal dengan nama, “Konsepsi Zakaria Imban” (anggota DPR-GR asal Bolaang Mongondow). Konsepsi ini juga dilakukan dari Jakarta untuk mengimbangi konsepsi dari Manado dan dari Sulawesi Tengah, namun tujuan utamanya adalah memasukan Bolaang Mongondow dalam wilayah Sulawesi Tengah dan keluar dari wilayah Sulawesi Utara atau keluar dari Manado. Kelima, Konsepsi Tobing. Konsepsi Propinsi Sulawesi Tengah yang wilayahnya meliputi Kabupaten Donggala, Kabupaten Poso, Kabupaten Tana Toraja dan Mamuju. Konsepsi ini dikemukakan oleh bekas Menteri Antar Daerah dalam Kabinet Karya oleh Dr. Tobing.
Keenam, Konsepsi Ngitung. Konsepsi Propinsi Sulawesi Tengah yang wilayahnya meliputi daerah Luwuk/Banggai, Daerah Kolonodale, Daerah Bungku, dan Daerah Kendari. Konsepsi ini kemudian berubah menjadi “konsepsi Ngitung” (Mantan Kepala Daerah Poso). Ngitung merupakan seorang putra kelahiran Bungku yang menjabat sebagai Bupati Kepala daerah Poso periode 1960-1962. Ketujuh, Konsepsi Propinsi Tomini Raya. Konsepsi Propinsi Sulawesi Tengah yang wilayahnya meliputi daerah Tolitoli, daerah Buol, Kepulauan Una-Una, Gorontalo, dan Bolaang Mongondow. Konsepsi ini kemudian berubah menjadi Konsepsi “Propinsi Tomini Raya,” yang dikenal pula sebagai
“Konsepsi Nani Wartabone” (Mantan Residen Koordinator Sulawesi Utara). Nani Wartabone melakukan aktifitas politik dan perjuangan di wilayah Gorontalo dan sekitarnya sehingga diangkat menjadi pahlawan nasional bagi Gorontalo.
Kedelapan, Konsepsi Mahasiswa Sulteng. Konsepsi Propinsi Sulawesi Tengah yang wilayahnya hanya meliputi Kabupaten Donggala dan Kabupaten Poso. Konsepsi ini dikenal dengan nama “Konsepsi Mahasiswa Sulteng” atau konsepsi “Rusdi Toana-Mene Lamakarate.”
Rusdi Toana merupakan tokoh masyarakat dan intelektual serta aktif sebagai wartawan di Sulawesi Tengah. Mene Lamakarate merupakan seorang bangsawan Kaili dari Biromaru. Rusdi Toana merupakan tokoh Sulawesi Tengah yang aktif sebagai wartawan dalam mendirikan koran Mercusuar.12 Konsepsi kedua tokoh elit lama dan elit baru ini menjadi acuan pembentukan Provinsi Sulawesi Tengah. Akhirnya, proses pembentukan Provinsi Sulawesi Tengah sebagai daerah otonom mencapai puncaknya pada tahun 1964. Setelah dilakukan berbagai 12 Koran Mercusuar merupakan nama koran awal yang diketahui secara umum di Sulawesi Tengah yang dirintis oleh Rusdy Toana. Koran Mercusuar diterbitkan pada tanggal 1 September 1962 hingga sekarang ini (baca, 2011). Pada awalnya pimpinan koran ini dipegang oleh Rusdy Toana baik sebagai pemimpin umum dan pemimpin redaksi. Wakilnya dipegang oleh Tri Putra Toana, General Manager dipegang oleh Joko Intarto.
Rusdy Toana selain sebagai tokoh pers yang tertua di Palu Sulawesi Tengah, beliau juga tokoh Muhammadiyah Propinsi Sulawesi Tengah. Rusdy Toana juga pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Palu. Perjuangan Rusdy Toana sekarang (baca, 2011) sudah dilanjutkan oleh putra-putranya dengan mendirikan Koran Mercusuar di Kota Palu.
macam pertimbangan sehingga konsepsi pemuda yang dipilih sebagai satu-satunya dasar untuk pembentukan Provinsi Sulawesi Tengah.
Pemerintah Pusat mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPU) nomor 2 tahun 1964 tentang pembentukan Provinsi Sulawesi Tengah dengan ibu kota di Palu. Perpu tersebut disahkan dengan Undang-Undang nomor 13 yang diundangkan pada tanggal 23 September 1964 dan berlaku pada tanggal 1 Januari 1964 (Lembaran Negara tahun 1964 nomor 94). Upacara serah terima dilakukan oleh Gubernur J.F. Tumbelaka selaku penguasa Sulawesi Utara Tengah kepada Anwar Datuk Madjo Basah Nan Kuning sebagai Gubernur Provinsi Sulawesi Tengah yang pertama sesuai Surat Keputusan Pemerintah Republik Indonesia nomor 36 tahun 1964 pada tanggal 13 Pebruari 1964.13
C. Kota Palu: Kemenangan Elit Baru dalam dua Periode
Menurut Leo Agustino bahwa pilkada di Indonesia adalah politik subnasional pasca Orde Baru juga membawa dampak negative dalam pelaksanaan sistem demokratisasi di Indonesia. Keadaan itu terlihat pada adanya politik uang yang semakin mewabah, merebaknya dinasti politik di tingkat lokal, hadirnya local strongmen yang melukai demokrasi dan lain sebagainya.14 Pemilihan Kepala Daerah Langsung (PILKADA) merupakan fenomena baru bagi sistem demokrasi masyarakat Indonesia. Model pemilihan yang mulai digulirkan pada tahun 2004 lalu itu, ternyata menuai sukses dalam dalam proses politik di beberapa daerah walupun tidak semuanya juga dapat berhasil sebagaimana yang diinginkan. Contoh kasus, kemelut yang terjadi pasca pemilihan Walikota Depok Jawa Barat selalu menjadi salah satu kasus yang sering menjadi acuan bagi penulis dalam pelaksanaan pilkada di berbagai daerah di Indonesia. Tulisan ini akan menyoroti proses pemilihan (kampanye, perhitungan suara, dan pasca pilkada) Walikota secara langsung di Kota Palu Sulawesi Tengah tahun 2005.
Pada umumnya, setiap pilkada yang telah dilaksanakan banyak diwarnai oleh berbagai permasalahan hingga persoalan, mulai dari friksi- friksi yang terjadi di Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD), pelanggaran hukum oleh Tim Sukses maupun kandidat, dan adanya sikap fanatisme buta yang menggiring konstituen pada konflik horizontal antara sesama pendukung. Menurut Mulyana W. Kusumah memberikan langsiran bahwa pelanggaran, penyimpangan, dan kecurangan dalam
13
Tanggal ini yang dipilih untuk menjadi hari ulang tahun Provinsi Sulawesi Tengah setiap tahunnya.
14 Mohammad Agus Yusoff Leo Agustino, Daripada Orde Baru Ke Orde Reformasi: Politik Lokal Di Indonesia Pasca Orde Baru, dalam Jurnal: Jebat, Malaysian Journal of History, Politics & Strategic Studies, Vol. 39 (1) (July 2012): 76-97@ School of History, Politics & Strategic Studies, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM);
ISSN 2180-0251 (electronic), 0126-5644 (paper)
pemilu (baca: Pilkada) merupakan ancaman potensial yang bukan saja menodai, tetapi juga dapat menimbulkan kerawanan sosial politik dalam pemilu. Dengan begitu, keberhasilan pemilu yang demokratis amat ditentukan oleh efektifitas pengawasan dan penegakan hukum. Pranata- pranata pengawasan dan penegakan hukum harus mampu bekerja menangkal dan menangani segenap bentuk pelanggaran dan kecurangan mulai tahap-tahap awal pemilu.15 Tulisan ini akan melihat bentuk-bentuk kampanye, program yang ditawarkan kepada konstituen, analisis hasil pilkada, dan beberapa bentuk pelanggaran-pelanggaran dalam pelaksanaan pilkada Kota Palu. Penelaahannya lebih banyak didasarkan pada informasi yang disampaikan oleh koran lokal yaitu Radar Sulteng Edisi Juli-Agustus 2005.16 Demikian juga, kesaksian langsung dari penulis dalam mengamati secara langsung maupun melalui rumor di Kota Palu sepanjang bulan Juli Agustus 2005.
C. 1 Gerakan Politik dan Janji Podium: Elite Versus Elite
Sebelum membahas topik kampanye para Calon Walikota (Cawali) dan Calon Wakil Walikota (Cawawali), sebaik disimak terlebih dahulu sebuah analisis yang dikemukakan oleh Irwan Waris17 tentang peluang tentang kelebihan dan kekurangan memenangkan pemilihan Kepala Daerah secara langsung (PILKADAL) di Kota Palu 1 Agustus 2005.
Analisis ini menyatakan bahwa seluruh kandidat memiliki peluang yang sama dalam memenangkan pilkada ini.18 Hasil analisis tersebut disampaikan dalam bentuk tabel di bawah ini.
Tabel 1
Kelebihan dan Kekurangan Cawali Dan Cawawali menurut Irwan Waris19
N O
PASANGA N
KELEBIHAN KEKURANGAN
1 Anwar- Achrul
1. Cukup populis dengan klan Ponulelenya
2. Mempunyai basis
penegtahuan pemerintahan yang baik.
3. Sebagai orang Dispenda, paham mencari kantong-kantong retribusi yang tidak membebani rakyat.
4. Sebagai pengusaha Achruk mempunyai kelebihan konsep
1. Klan Ponulele tidak utuh mendukung.
2. Basis Achrul di KKSS belum mengkristal
3. Achrul tak punya pengalaman di pemerintahan.
15 Mulyana W. Kusumah, Titik-titik Rawan Pemilu 2004, Kompas, Selasa 22 April 2003, hlm 5
16 Koran inilah merupakan media cetak terbesar di Sulawesi Tengah, dan koran ini banyak memuat hal-hal yang berkaitan dengan proses pelaksanaan pilkada di Kota Palu.
17 Irwan Waris Dosen Sospol UNTAD Palu
18 Baca, Semua Pasangan Imbang: Analisis Irwan Waris Terhadap Peluang Cawali, Radar Sulteng, Selasa 5 Juli 2005, hlm 2.
19 Baca, Ibid, Komentar: Peluang Cawali-Cawawali Versi Irwan Waris.
pembangunan ekonomi mikro.
2 Cudi- Suardin
1. Populis.
2. Didukung Parpol pemenang pemilu.
3. Punya pengalaman di DPRD
4. Suardi Suebo sebagai walikota mudah dikenal warga.
5. Suardi dengan posisinya mudah bikin program yang menyentuh kepentingan warga.
1. Sebagai penguasa
kelemahannya mudah menjadi sasaran tembak
2. Beberapa persoalan kota yang mendasar belum terselesaikan, seperti parkir, sampah, trayek, dll.
3. Problem ekonomi seperti lapangan kerja dan penataan PKL belum tertata baik.
4. Cudi tak punya basic pemerintahan
3 Taufik- Arena
1. Punya pengalaman
birokrasi.
2. Mau mendengarkan
rekomendasi pihak lain.
3. arena seorang tokoh muda.
4. Punya jaringan keluarga yang fanatik.
5. Modal basis massa riil pada pemilu legislatif lalu.
1. Kurang populis.
2. Ada gejala psikologis bagi pemilih dewasa untuk memilih figur muda.
3. Di level pemilih rasional masih kurang familiar.
4 Ali Hanafi- Maulidin
1. Pengalaman mengelola
pemerintahan.
2. Nyaris tidak mempunyai catatan buruk dalam pemerintahan keduanya.
3. Maulidin peletak dasar pondasi pembangunan Kota Palu.
4. Maulidin punya basis massa (PNS) semasa menjabat sekkot.
5. Banyak PNS Donggal bawahan Ali Hanafi berdomisili di Palu.
1. Tidak punya kekuatan
penyeimbang di parlemen.
2. Hanya dikenal dikalangan pemilih tertentu.
3. sebagai mantan Sekkot Maulidin punya andil terhadap persoalan birokrasi di Kota Palu.
Sumber: Radar Sulteng, Selasa 5 Juli 2005:2.
Analisis Irwan Waris di atas, sepintas rasanya sulit ditolak. Hal ini juga dapat dilihat melalui visi dan misi yang ditawarkan para kandidat tersebut kepada calon pemilih di Kota Palu. Pada tanggal 15 Juli 2005, empat pasangan calon tersebut menyampaikan visi dan misinya di depan rapat paripurna DPRD Kota Palu. Secara umum, visi dan misi keempat pasangan tersebut lebih menekankan adanya peningkatan taraf hidup masyarakat Kota Palu. peningkatan taraf hidup ini dapat dicapai melalui beberapa pendekatan, seperti pendekatan melalui aspek religius, peningkatan ekonomi dengan komoditi andalan, pendekatan keamanan (security approach), untuk mewujudkan ketertiban dan demokrasi, bahkan mengajak masyarakat kota untuk bersatu menuju perubahan dan pembaharuan. Akan tetapi, dari keempat calon tersebut tidak seorang pun yang menjadikan issu hemat energi, korupsi, dan keberadaan pendidikan tinggi sebagai platform dalam visi dan misi, serta kampanye mereka.20 Lebih jelasnya, visi dan misi tersebut disampaikan dalam tabel 2.
Tabel 2
Visi-Misi Cawali Dan Cawawali Kota Palu Periode 2006-2011
20 Analisa lengkap tentang visi-misi ini dapat dilihat dalam “Visi-Misi Calon Walikota Palu: Cawali Tidak Tekankan Hemat BBM, Radar Sulteng, Jumat 15 Juli 2005:2.
NO PASANGAN V I S I M I S I 1 Anwar-
Achrul Terwujudnya Kota Palu yang aman, tertib, demokratis, dan sejahtera melalui SDM yang berkualitas yang dilandasi imtaq
1. Menciptakan kondisi yang aman, tertib, damai, dan nyaman.
2. Memberdayakan potensi daerah untuk mendorong/ menggerakan investasi.
3. Penguatan kelembagaan dan tata pemerintahan.
4. Mengoptimalkan aksebilitas pelayanan kesehatan yang bermutu.
5. Meningkatkan upaya pelestarian lingkungan hidup.
6. meningkatkan kualitas pendidikan di semua tingkatan.
7. Mendorong berkembangnya kehidupan masyarakat dalam pengamalan agama.
2 Cudi-Suardin Kota Palu pusat industri dan perdagangan kakao Sulawesi Tengah dan sentra industri rotan nasional pada tahun 2010.
1. Tata pemerintahan yang baik.
2. Penyediaan/pengembangan infrastruktur perkotaan.
3. Penciptaan peluang pasar.
4. Membangun masyarakat agamais berbasisi industri.
3 Taufik- Arena
Bersatu untuk menuju perubahan 1. Pemberdayaan ekonomi.
2. Pemukiman dan lingkungan.
3. Penciptaan keamanan dan ketertiban.
4. Pendidikan, seni, dan budaya.
5. Penguatan pemerintahan dan sumber daya aparatur.
6. serta pemberdayaan perempuan 4 Ali Hanafi-
Maulidin
Terwujudnya Kota Palu makin aman dan tertib, mampu berperan sebagai kota perdagangan dan jasa yang bermutu dengan masyarakat yang konsisten terhadap nilai-nilai religius yang mampu memberi konstribusi nyata dalam pembangunan yang manusiawi dan berkelanjutan.
1. Menciptakan kepedulian dan kewaspadaan lingkungan.
2. Mewujudkan budaya tertib sebagai bagian kehidupan sehari-hari.
3. Mempersiapkan Kota Palu menjadi kota perdagangan dan jasa.
4. Membangun filter sosial berdasarkan agama dan nilai budaya lokal.
5. Membangun kemampuan aparat dalam melakukan pelayanan publik.
6. Menyelenggarakan pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat.
Sumber : Radar Sulteng, Jumat 15 Juli 2005:2.
Setelah rapat paripurna DPRD Kota Palu, pelaksanaan kampanye masalpun dilaksanakan.21 Kampanye seringkali dikatakan sebagai metode paling efektif dalam mengumpulkan suara (dukungan) masyarakat konstituen. Dalam kancah demokrasi, politik melalui kepartaian maupun perorangan merupakan perwujudan dari rasa dan penentuan demokrasi dalam perkembangan masyarakat. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila kampanye diwarnai pengerahan massa, orasi politik, perang urat syaraf antar tim sukses, dan hingga adanya friksi pelanggaran hukum, bahkan konflik yang berujung pada kekerasan kolektif. Ketika kampanye berlangsung, dan hasil pilkada tidak diterima oleh salah satu kekuatan yang ikut dalam kontes tersebut dapat menyebabkan timbulnya kekerasan kolektif yang disebabkan oleh rasa fanatisme buta22 yang sering membuat 21 Kampanye dilakukan sejak tanggal 15 Juli sampai dengan 28 Juli 2005.
22 Mohammad Asrodin menyatakan bahwa… sebagian besar Rakyat Indonesia ternyata menganut budaya paternalistik yang sangat mengagungkan simbol ketokohan sebagai panutan yang ‘petuah’ dan wejangannya dijadikan patokan bagi penganutnya tanpa memikirkan apa yang dikatakan oleh sang tokoh atau disebut fantisme buta yang masih menggunakan pola-pola irrasional dalam merespon tindakan sang tokoh tersebut. M.
Asrodin, Menguatnya Simbol Ketokohan Dalam Percaturan Politik, Kompas Mahasiswa No. 70 Th. XXVI 2002,
konstituen (pemilih) lupa segala-galanya. Bukan lagi menjadi rahasia umum dalam setiap pilkada di Indonesia, ketika permulaan kampanye mulai dilakukan banyak aksi eufhoria dan simpatik yang dijadikan elite sebagai bentuk politik praktis. Tim sukses dari empat kekuatan calon Walikota yang didukung atau dijembatani oleh kekuatan politik yang berkoalisi, mulai menjual program, visi, misi, track record, dan simbol- simbol ketokohan sang kandidat (calon Walikota dan Wakil Walikota).23
Persaingan antar kandidat mulai ditentukan oleh efisiensi dan efektifitas kampanye yang dilakukan. Oleh karena itu, pada tanggal 15 Juli 2005 pukul 15.30-17.00 diadakan pawai yang melibatkan keempat kandidat tersebut. Pawai ini berlangsung damai, tanpa kendala dan pergesekan politik.24 Kampanye umumnya dilakukan pada tanggal 16 Juli 2005, hari ini pasangan Cudi-Suardin melakukan kampanye melalui media massa cetak, yaitu Koran Radar Sulteng. Kampanye dalam pilkada Kota Palu terbagi dalam empat kategori, yaitu pertemuan terbatas, tatap muka dan dialog, pemasangan bahan kampanye kepada umum, dan pembagian selebaran. Keempat kategori ini menggunakan massa Kota Palu sebagai obyeknya.
Bentuk kampanye tersebut telah dijalankan sesuai ketentuan yang berlaku oleh keempat pasangan calon walikota dan wakil walikota. Akan tetapi, ada hal yang menarik dari prosesi kampanye yaitu munculnya kegiatan yang unik seperti melakukan kegiatan sosial,25 menyebar empati kepada warga,26 melihat keadaan dan kebutuhan masyarakat dari dekat, bahkan rela berjalan kaki untuk mendengar keluh kesah pemilih.27 Bentuk kampanye berupa pertemuan terbatas, tatap muka dan dialog, serta pembagian selebaran diisi dengan orasi politik yang merupakan upaya penyampaian platform yang diusungnya. Orasi politik umumnya berkiblat pada visi-misi pasangan tersebut. Hal ini dapat dilihat dalam kampanye yang dilakukan pasangan Anwar-Achrul di Kelurahan Lasoani hari Minggu tanggal 17 Juli 2005 yang menyampaikan janji memberantas korupsi dan membenahi persoalan kesejahteraan masyarakat melalui pembukaan lapangan kerja.
hal 42.
23 Keempat kekuatan politik tersebut adalah Koalisi Palu Bersatu yang mengusung pasangan Anwar Ponulele-Achrul Udaya (AA), Koalisi Partai Golkar, PKPB, dan PBB mengusung pasangan Rusdy Mastura- Suardi Suebo, Koalisi Demokrat Amanat Perjuangan mengusung Taufik R. Tiangso-Arena JR Parampasi, dan Koalisi Masyarakat Madani (KMM), koalisi yang berkekuatan 17 persen suara saat Pemilu legislatif 2004 ini mengusung Ali Hanafi-Maulidin Labalo.
24 Loc.cit, Radar Sulteng, Jumat 15 Juli 2005:2
25 Melalui Cudi-Suardin peduli diadakanlah sunatan massal terhadap 150 anak berusia antara 7-13 tahun di Kelurahan Ujuna (radar Sulteng, 18 Juli 2005:2), dan pada tanggal 23 Juli 2005, Cudi hadir dalam acara peringatan Hari Anak Nasional yang dipusatkan di Taman Kesenian Jln. Mohammad Hatta Palu.
26 Pasangan Taufik_Arena mengunjungi Pasar Mosomba, Rumah Sakit Bala Keselamatan, dan Budi Agung untuk berdialog dengan mereka. Kunjungan ke Rumah Sakit disebabkan oleh salah satu misinya menitikberatkan pada sektor kesehatan.Lihat “Taufik-Arena Dialo DenganWarga Pasar” dan “Bersatu Menuju Perubahan Bersama Kandidat No. 3”, Radar Sulteng, 18 Juli 2005, hlm 2-3.
27 Jalan kaki berkilometer jauhnya dilakukan oleh keempat pasangan pada tempat yang berbeda untuk mencari dukungan dalam pilkada 1 Agustus 2005. Ibid..
Lain lagi dengan pasangan Taufik-Arena menawarkan empat hal sebagai program andalan mereka yaitu bebas KTP, bebas akta kelahiran dan kematian, serta nomor rumah. Tetapi kedua pasangan ini tidak menjanjikan adanya pendidikan gratis. Pasangan Cudi-Suardin menjanjikan tidak ada penggusuran serta pendidikan gratis pada tingkat SD dan SMP. Kampanye juga diwarnai oleh adanya orasi politik para calon walikota dan wakil walikota. Orasi politik yang dimaksud disini yakni penyampaian program, visi-misi, dan upaya-upaya lain dengan maksud tertentu atau sering disebut black campaigne (kampanye hitam) melalui podium di mimbar kehormatan28 maupun dalam pernyataan sikap melaui media massa. Dalam orasi-orasi politik keempat pasangan kandidat selama kampanye pilkada ada beberapa hal yang menjadi prioritas utama para calon jika terpilih nanti, yaitu pemberantasan korupsi, peningkatan mutu pendidikan,29 dan kesejahteraan sosial, seperti peningkatan ekonomi rakyat kecil dan pengobatan, pembuatan kartu tanda penduduk (KTP), akta gratis bagi keluarga tidak mampu, bahkan janji perbaikan kinerja birokrasi pemerintahan Kota. Melalui orasi politik inilah, pertarungan memburu dukungan (suara) para konstituen dimulai. Dengan kata lain, konflik dimulai melalui pertarungan elite yang merambah ke bawah.
Orasi politik yang dikemukakan para calon seringkali ditafsirkan berbeda oleh kandidat lain. Melalui tim suksesnya, dikumandangkanlah pernyataan sikap guna menyerang orasi politik yang lain, sehingga menghasilkan polemik. Polemik ini dikatakan sebagai hal biasa dalam permainan politik praktis untuk menggalang dukungan yang lebih besar.
Polemik ini dapat disebut sebagai bentuk perang urat syaraf. Perang ini umumnya dilakukan oleh tim sukses kandidat. Benturan kepentingan antar tim sukses semakin menambah semaraknya suasana kampanye di Kota Palu. Tim sukses tetaplah tim sukses yang selalu berada di bawah kendali kandidat dalam pilkada. Namun perlu diingat juga bahwa tanpa tim sukses, seorang kandidat tidak berarti apa-apa di tengah-tengah massa.
Keterangan-keterangan di atas, telah memberi gambaran bahwa dalam setiap pesta demokrasi sekecil apapun selalu saja terjadi pelanggaran hukum. Penyebabnya adalah keberadaaan tim sukses dan massa pendukung yang memiliki sikap fanatisme berlebihan (fanatisme buta). Adanya pelanggaran hukum yang dilakukan oleh massa diakibatkan oleh eufhoria massa. Hal ini semakin memperbanyak kerja tim sukses, karena mereka adalah penanggung jawab terlaksananya kampanye dengan baik. Pelanggaran ini membawa tim sukses kepada perseteruan
28 Hal ini dilakukan Anwar Ponulele yang menyerang pasangan lain. Menurut anggota Panwas Kota Palu, Naharuddin bahwa “apa yang dikemukakan Pak Anwar dalam setiap kampanyenya bukan bagian dari black campaign tetapi sikap kritis melihat berbagai hasil pembangunan, Pak Anwar masih dalam koridor demokrasi”.
Dalam Radar Sulteng, Kamis 21 Juli 2005, “Sikap Kritis Bukan Black Campaign”
29 Issu ini diangkat setelah mendapat tanggapan dari berbagai pihak, termasuk Rektor Untad.
dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU), dan Panitia Pengawas Pemilu (PANWASLU), khususnya di daerah. Melalui pernyataan sikap, mereka saling serang, tuding, atau melakukan pembenaran tentang peristiwa yang telah terjadi (apologi). Perseteruan Panwas dan pasangan calon dimulai ketika ditemukan beberapa pelanggaran hukum terhadap aturan kampanye seperti yang kelihatan di jalur dua Baliho bergambarkan pasangan Rusdy Mastura-Suardi Suebo dilempar lumpur kotor oleh orang tak dikenal.
C. 2 Hasil Pilkada Kota Palu: Sumber Suara Kota Palu
Pada tanggal 1 Agustus 2005 merupakan hari bersejarah bagi warga masyarakat Kota Palu, sebab pada hari ini dilaksanakan pemilihan Walikota dan wakil Walikota secara langsung untuk pertama kalinya, sejak Kota ini berdiri sebagai kota pada tahun 1984. Kota Palu sebagai ibukota Propinsi Sulawesi Tengah melaksanakan pilkada walikota dan wakil walikota periode 2005-2010. Pilkada ini diwarnai persaingan untuk memperebutkan suara terbanyak melalui pemungutan suara yang berlangsung di 385 Tempat Pemungutan Suara (TPS).30 Akan tetapi, penanggung jawab pelaksanaan pilkada ini adalah Komisi Pemilihan Umum Daerah Kota Palu yang dipimpin oleh Drs. H. Tampari Masuara, M.Si sebagai Ketua.
Pada hari H (pemungutan suara), Radar Sulteng menurunkan laporan tentang dukungan yang diberikan kepada para pasangan calon walikota dan wakil walikota Palu.31 Sehingga di atas kertas pilkada Kota Palu dapat belangsung seru, dan menarik. Ini hanya sebuah prakiraan saja, dan pada akhirnya hal ini tidak berarti apa-apa. Akan tetapi, berdasarkan data tersebut dapat dikatakan bahwa dukungan yang berlipat ganda kepada pasangan Cudi-Suardin merupakan fenomena nyata dalam pilkada Kota Palu ini. Asumsi ini diambil dari kenyataan bahwa apabila pasangan ini memiliki 18 (delapan belas) kursi yang mendukung mereka, maka suara konstituen dalam pemilu legislatif lalu akan terserap masuk ke pundi-pundi suara pasangan ini. Asal-usul prakiraan tersebut dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3
Sumber Dukungan dan Kekuatan Para Cawali-Cawawali dalam Pilkada Kota Palu
NO URUT
NAMA PASANGAN PARTAI PENDUKUNG SIMBOL KEKUATAN KEKUATAN DI
PARLEMEN 1 Anwar Ponulele -Achrul
Udaya
PDS, PPP, & Koalisi 8 Partai Koalisi Palu Bersatu (KPB)
3 Kursi 2 Rusdy Mastura- Suardin Golkar, PKPB, & PBB Koalisi Partai Golakar 18 Kursi
30 Jumlah TPSdalam Pilkada Kota Palu yakni Kecamatan Palu Selatan: 128 buah, Kecamatan Palu Barat 112 buah, Palu Timur: 85 buah, Palu Utara: 46 buah, dan TPS Khusus sebanyak 16 buah. Dalam “Pemilih Terbanyak di Palu Selatan”, Radar Sulteng, Senin 4 Juli2005. hal, 2.
31 “Kandidat: Mereka Yang Bertarung Hari Ini”, radar Sulteng, Senin 1 Agustus 2005, hlm 2.
Suebo
3 Taufik R. Tiango – Arena
JR. Parampasi Demokrat, PAN, & PDIP Koalisi Demokrat Amanat Perjuangan (DAP)
5 Kursi
4 Ali Hanafi Ponulele - Maulidin Labalo
Koalisi10 Partai Peserta Pemilu Legislatif
Koalisi Masyarakat Madani (KMM)
17 % Suara pada Pemilu Legislatif Sumber: Radar Sulteng, 1 Agustus 2005.
Ada beberapa hal yang menarik untuk dikaji dari tabel 3 di atas.
Pertama, bila diamati dengan seksama, maka terdapat pertentangan antar suku, elite tradisional dan modern, birokrat, politisi, dan pengusaha.
Simbol kesukuan ditemukan dua konlik, yaitu konflik antar sesama suku kali(setempat/putra daerah), dan antara suku pendatang dengan suku Kaili. Persaingan ini semakin kental, jika mempehatikan komposisi calon wakil walikota yang terdiri dari 3 (tiga) tokoh atau 75 persen, yakni Suardin Suebo, Arena Jaya Rahmat Parampasi, dan Maulidin Labalo dari suku Kaili, dan 1 (satu) tokoh atau 25 persen, yakni Achrul Udaya dari suku Bugis yang berpasangan dengan Anwar Ponulele dari Kaili.
Mengapa Anwar menggaet Achrul sebagai wakil walikota medampinginya? Jawabannya ada dua, yaitu 1) pasangan ini berharap dukungan dari orang Sulawesi Selatan (KKSS) di Kota Palu; dan 2) adanya kedekatan emosional antara Achrul dengan PPP yang dipimpin oleh Andi Patongai. Mereka merupakan elite masyarakat Sulawesi Selatan di Sulawesi Tengah. Andi Patongai adalah Ketua KKSS, sedangkan Achrul Udaya masuk dalam jajaran Dewan Penasihat KKSS.
Walaupun kemungkinan hubungan ini ada, namun Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan menolak fenomena ini. Ketua KKSS Kota Palu H. Amin Badawi 32menyatakan bahwa KKSS sebagai organisasi sosial dan kekeluargaan yang lebih mengutamakan aspek kekeluargaan, tetap menjaga jarak yang sama kepada semua calon walikota. Pengurus dan anggota diberi kesempatan untuk mengaktualisasikan pilihan politiknya serta tidak dibenarkan membawa nama KKSS dan pilar-pilarnya untuk kepentingannya. KKSS Kota Palu tidak mendukung salah satu calon, karena hal itu tidak sesuai dengan misi yang diemban KKSS.33 Orang- orang KKSS juga hampir-hampir sersebar di semua tim sukses Pilkada Kita Palu.
Selain itu juga, terdapat persaingan kelompok antara birokrasi, politisi, dan pengusaha. Calon Walikota dari kelompok Birokrasi yang menghadirkan nama-nama seperti Anwar Ponulele, Taufik R. Tiangso, dan Ali Hanafi Ponulele atau sebesar 75 persen, sedangkan calon wakil walikota dari kelompok ini hanya diwakili oleh Suardi Suebo, dan Maulidin Labalo atau sebesar 50 persen saja. Kelompok politisi, calon walikota hanya menghadirkan nama Rusdy Mastura, Ketua Partai Golkar sekaligus Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palu, sedangkan 32 H. Amin Badawi, Ketua KKSS Kota Palu, menyampaikan hal itu didampingi oleh Wakil Ketau KKSS Kota Palu Tukan, SE. Baca, “Badawi: KKSS Tetap Independen”, Radar Sulteng, Sabtu 16 Juli 2005, hlm 2-3.
33 “Visi-Misi Tak Sentuh Masalah Korupsi”, Radar Sulteng, Sabtu 16 Juli 2005, hlm 2-3.
untuk calon walikota hanya ada nama Arena Jaya Rahmat Parampasi.
Berarti kelompok politisi hanya memiliki porsi sebesar 25 persen pada setiap posisi (Walikota dan Wakil Walikota). Begitu juga dengan kelompok pengusaha hanya memiliki nama Achrul Udaya, Presiden Direktur PT.
Sentosa Group berarti hanya 25 persen saja.
Kedua, adanya koalisi yang menyebabkan hilangnya jurang pemisah antar partai politik, walaupun pada dasarnya partai-partai tersebut secara prinsipil berseberangan. Lihat saja, Koalisi Palu Bersatu (KPB) yang menjadikan Partai Damai Sejahtera (PDS) yang berbasis ideologi Kristen dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang berideologi Islam, duduk bersama mengusung pasangan Anwar Ponulele- Achrul Udaya. Koalisi ini memiliki kekuatan 3 (tiga) kursi di DPRD Kota Palu periode 2004-2009. Begitu juga dengan Koalisi Demokrat Amanat Perjuangan (DAP) yang mengusung pasangan Taufik R. Tiangso-Arena JR. Parampasi. Kenyataan yang terjadi di pentas politik nasional bahwa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), bahkan Partai Amanat Nasinal (PAN) dapat dikatakan sebagai oposisi pemerintahan yang dipegang oleh Partai Demokrat dan Partai Golkar. Akan tetapi, kenyataan di Kota Palu berbicara lain, yakni Demokrat, PAN, dan PDIP duduk satu meja untuk membicarakan strategi memenangkan jagoannya. Kemudian juga terdapat hubungan erat laksana orang tua dan anak, antara Partai Golkar dan PKPB. Harus diakui bahwa dari pohon beringin inilah PKPB dibesarkan, artinya alumni (kader) Partai Golkar-lah yang membesarkan PKPB di Kota Palu34. Sedangkan, kehadiran Partai Bulan Bintang (PBB), salah satu Partai Islam merupakan pemberi tambahan kekuatan 1 (satu) kursi di DPRD sekaligus untuk memberi kesan religius bagi koalisi ini.
Maksudnya agar koalisi ini dapat mendulang suara melalui pemilih religius atau yang biasa disebut sebagai santri kota. Selain itu juga, adanya kedekatan profesi yang diusung Koalisi Masyarakat Madani (KMM).
Koalisi ini mendukung Ali Hanafi Ponulele-Maulidin Labalo. Sebagai birokrat, keduanya elite yaitu elite tradisional dan elite modern yang terlihat dari nama mereka. Ali Hanafi Ponulele adalah bagian dari keluarga besar Ponulele, sedangkan Maulidin Labalo adalah simbol elite modern atau birokrat karier yang berasal dari luar Kota Palu (urban).
Ketiga, berdasarkan kekuatan dukungan partai politik di parlemen Kota Palu terdapat perbedaan mencolok. Pasangan Anwar Ponulele- Achrul Udaya yang didukung oleh Koalisi Palu Bersatu (KPB) hanya memiliki 3 (tiga) kursi di parlemen yang diwakili oleh PPP sebanyak 3 (tiga) kursi35, dan PDS tidak memiliki wakil rakyat di DPRD Kota Palu periode 2004-2009. Begitu juga dengan pasangan Taufik-Arena yang didukung oleh koalisi Demokrat Amanat Perjuangan (DAP) pun hanya memiliki 5 (lima) kursi di DPRD Kota Palu yang diwakili oleh Partai Demokrat 1 (satu) kursi, PAN 2 (dua) kursi, dan PDIP 2 (dua) kursi36. Hal sulit dirasakan oleh pasangan Ali Hanafi-Maulidin. Pasangan ini 34 Salah seorang petinggi PKPB, Amiluddin Haludin merupakan mantan petinggi diakhir era 1990-an.
35 Wakil Rakyat dari KPB adalah PPP di DPRD Kota Palu adalah Andi Patongai, Rizal Dj. Hense,
memperoleh dukungan dari sebuah Koalisi 10 (sepuluh) partai politik kecil di Kota Palu. Kesepuluh partai tersebut bergabung dalam Koalasi Masyarakat Madani (KMM) yang memiliki kekuatan 17 persen suara sah dalam pemilihan umum anggota legislatif tahun 2004 yang lalu. Artinya, pasangan tidak didukung oleh partai politik yang tidak memiliki wakil di DPRD Kota Palu pada periode yang sama. Fenomena ini berbanding terbalik dengan dukungan yang diberikan kepada pasangan Cudi-Suardin.
Pasangan yang didukung oleh Koalisi Partai Golkar bersama PKPB, dan PBB memiliki kekuatan politik di DPRD Kota Palu yang besar, yakni sebanyak 18 kursi. Partai Golkar sebagai pemenang pemilu legislatif 2004 memiliki wakil sebanyak 15 orang, PKPB sebanyak 2 (dua) kursi, dan PBB memiliki 1 (satu) kursi.37 Dengan demikian, di atas kertas memang pasangan Cudi-Suardin bisa melenggang mulus dalam pilkada Walikota dan Wakil Walikota Palu periode 2006-2011.
Keberadaan mereka dalam persaingan memperebutkan kursi Walikota dan Wakil Walikota Palu periode 2005-2010 memunculkan istilah
“menang-kalah”. Menang atau kalah adalah hal biasa dalam setiap penyelenggaraan pilkada. Oleh karena itu, seorang demokrat sejati harus siap menghadapi resiko yang terjadi. Hasil pilkada Kota Palu membuat ribuan pasang mata tertegun, karena banyak orang yang tidak percaya dengan perolehan suara yang didominasi oleh salah satu pasangan calon, jauh meninggalkan pasangan lainnya. Kemenangan mutlak ini semakin menandaskan bahwa bila mesin politik berjalan dengan baik, maka hasilnya akan jauh lebih baik. Hasil Pilkada Walikota dan Wakil Walikota Palu periode 2005-2010 dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4 Hasil Pilkada Kota Palu Tanggal 1 Agustus 2005
Kecamatan AA CS TA AM Jml
Pemilih
Pemilih Terdaftar
Tidak Memilih
1 2 3 4 5 6 7 8
Palu Utara 2.127 8.877 2.583 1.391 14.978 22.287 7.309
Palu Timur 4.468 14.837 2.292 3.235 24.832 48.752 23.920
Palu Selatan 6.558 23.041 3.268 5.036 37.903 69.585 22.925
Palu Barat 6.337 22.168 3.070 3.795 35.370 58.295 31.683
Jumlah 19.490 68.923 11.213 13.457 113.083 198.920 85.837
Prosentase 17,24 60,95 9.92 11.90 100.00 - 43
Sumber: Radar Sulteng, Selasa 2 Agustus 2005.
36 Wakil Rakyat dari Koalisi DAP adalah PD: Yos Sudarso Mardjuni; PAN: Ishak Cae dan Kaharuddin Syah;
PDIP:…
37 Wakil Rakyat dari Koalisi Partai Golkar adalah PG: Rusdy Mastura, A. M. Tombolotutu, Jebo Samani, Setri Dg. Pariwa, Iskandar Saenong, Fatimah Halim, Zulfikar Lamakarate, Moh. J. Wartabone, Markus Sattu, Pakharuddin, … ; PKPB: Revi Arifin Passau dan Amiludin Haludin; PBB: Arifin Sunusi.
Berdasarkan data dari tabel 4 di atas, maka dapat dijelaskan bahwa hasil pilkada Walikota dan Wakil Walikota Palu periode 2006-2011 sangat mengejutkan berbagai pihak. Pasalnya, adanya kemenangan mutlak dari salah satu pasangan kandidat. Hal ini kemudian mementahka analisis Irwan Waris yang menyatakan bahwa peluang setiap calon berimbang. Akan tetapi kenyataannya, pasangan Anwar Ponulele-Achrul Udaya memeperoleh suara sebesar 19.490 atau setara dengan 17,24 persen. Kemudian pasangan nomor dua yaitu Rusdy Mastura-Suardin Suebo meraih suara sebanyak 68.923 atau sebesar 60,95 persen.
Selanjutnya, pasangan Taufik R. Tiangso-Arena JR. Parampasi meraih suara sebanyak 11.213 atau sebesar 9,92 persen. terakhir, pasangan Ali Hanafi Ponulele-Maulidin Labalo meraih suara sebesar 13.457 atau sebesar 11,90 persen. dengan demikian, pasangan Cudi-Suardin merupakan peraih dukungan suara terbanyak pada urutan pertama, disusul pasangan Anwar-Achrul pada urutan kedua, pasangan Ali Hanafi- Maulidin pada urutan ketiga, dan pasangan Taufik-Arena pada urutan keempat.
Kemenangan pasangan nomor urut dua ini dapat dilihat dari dua sudut pandang dengan melihat komposisi kemenangannya, di Palu Utara CS meraih suara sebanyak 8.877, Palu Timur 14.837 suara, di Palu Barat 22.168 suara, dan di Palu Selatan sebanyak 23.041 suara. Komposisi kemenangan CS ini dapat dilihat dari adanya peran simbol suku yang dapat disebut daerah pusat dan pinggiran. Menurut posisi georafis Kota Palu yang dihuni oleh dua komunitas secara geografis yaitu Palu desa (rural) dan Palu Kota (urban).
Kecamatan Palu Utara dan Palu Barat merupakan daerah yang memiliki wilayah pedesaan jauh lebih banyak dibanding dengan dua kecamatan lainnya. Oleh karena itu, wilayah ini lebih banyak dihuni oleh pemilih tradisional. Model ini umumnya masih menggunakan simbol ketokohan dan atau kesukuan dalam memilih pasangan walikota. Apalagi pasangan ini dikenal dan jauh lebih populis di kalangan pemilih seperti ini yang disebabkan oleh kedudukan mereka masing-masing. Rusdy Mastura mantan Ketua DPRD Kota Palu, dan Suardin Suebo mantan Walikota Palu. Posisi inilah yang kemudian membawa mereka semakin populis (dikenal) massa Partai Golkar, PKPB, dan PBB, serta masyarakat pinggiran (rural) Kota Palu.
Pada bagian lain, sebagian besar pemilih rasional berada di Kecamatan Palu Selatan dan Kecamatan Palu Timur. Palu Selatan dihuni oleh komunitas rasional dari para Pegawai dan kelompok menengah Kota Palu. Sedangkan Palu Timur lebih jamak, wilayah ini lebih banyak dihuni oleh komunitas ilmiah. Pada wilayah inilah konsentrasi kaum urban terlihat jelas. Kaum urban dapat berfungsi sebagai pemilih rasional atau dalam istilah politiknya “massa mengambang.”
Keberadaan massa mengambang Kota palu ikut menentukan perolehan suara yang diperoleh dalam berbagai pemilihan, baik di tingkat
lokal maupun nasional. Akan tetapi, kemenangan mutlak dalam pilkada Kota Palu ini merupakan hasil kerja mesin politik (Tim Sukses) yang diketuai oleh A. Mulhanan Tombolotutu.38 Pria ini dikenal luar biasa, karena tiga kali sukses menjadi ketua Tim Sukses, masing-masing saat pemilu legislatif, Pilpres putaran pertama, dan pemilihan Walikota Palu.
Dari pengalamannya sebagai ketua tim sukses, ada tiga hal yang harus dipenuhi, yaitu anggaran yang cukup, jaringan, dan sistem managemen kampanye yang jelas dan pasti. Apabila ketiga hal itu telah dipenuhi, maka sebagian besar kemenangan telah dicapai, selebihnya tinggal kreativitas tim sukses.39
Fenomena yang hadir saat pilkada sebagai “sejarah baru” sekali lagi “sejarah baru” telah mengantarkan pasangan Cudi-Suardin meraih angka kemenangan mutlak. Pasangan nomor dua ini unggul di semua TPS.40 Akan tetapi, pilkada ini juga diwarnai oleh tingginya angka (jumlah) pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya, yakni sebesar 43 persen.
Kecamatan Palu Selatan memberikan sumbangan suara terbesar pemilih yang tidak menggunakan haknya sebesar 31.683 pemilih, disusul Kecamatan Palu Timur sebesar 23.920 pemilih, kemudian Kecamatan Palu Barat sebesar 22.925 pemilih, dan Kecamatan Palu Utara sebanyak 7.309 pemilih. Sehingga, secara keseluruhan jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya sebanyak 83.837 pemilih dari total pemilih terdaftar di Kota Palu yang berjumlah 198.920 pemilih.
Tingginya angka warga Kota Palu (jumlah penduduk)yang tidak menggunakan hak pilihnya disebabkan oleh berbagai hal, antara lain adanya pemilih yang tidak mendapatkan surat panggilan, karena alamatnya tidak ditemukan atau pindah alamat sehingga surat panggilan untuk memilih tersebut tidak dimilikinya.41 Namun, ada segelintir warga yang tidak memiliki surat panggilan tetapi mereka tetap menggunakan hak pilihnya dengan bermodalkan kartu pemilih yang pernah dikantonginya.
Bahkan yang lebih memprihatinkan lagi, data pemilih yang digunakan KPUD ternyata tidak sesuai dengan fakta di lapangan, karena ada pemilih yang sudah meninggal masih terdaftar sebagai pemilih tetap.42 selain itu juga, hal ini terjadi karena berbagai sebab, antara lain ada yang sengaja tidak dipanggil untuk memilih, lokasi TPS-nya diacak sehingga
38 A. Mulhanan Tombolotutu, lahir di Palu 15 Maret 1957 menikah dengan Dra. Rosniar. Toni, panggilannya adalah putera mantan Ketua Masyumi Sulawesi Tengah. ini pernah berkarier sebagai PNS. Karier politiknya diawali sebagai fungsionaris Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan pernah menjabat sebagai Bendahara PPP Sulawesi Tengah di era 1970-an. Kesuksesannya sebagai ketua tim sukses juga ditunjang oleh keakrabannya dengan dunia aktivis yang memberi pengaruh bagi kehidupannya, di almamaternya Toni pernah menjadi aktivis Senat Untad, Dewan Mahasiswa, Himpunan Mahasiswa Islam. Oleh karena itu, Toni merupakan calon pengganti Cudi sebagai Ketua DPRD Kota Palu.
39 Lihat dalam “Mulhanan, Arsitek Dibalik Suksesnya Cudi Suardin: Berikan Peran Pada Semua Jaringan Secara Merata”, Radar Sulteng, Senin 8 Agustus 2005, hlm 3.
40 Lihat dalam “43 Persen Warga Kota Palu Golput: Pasangan Rusdy-Suardin Menang Mutlak”, Radar Sulteng, Selasa 2 Agustus 2005, hlm 1 & 15.
41 Ibid
42 Op.cit, hlm 3.
menyulitkan calon pemilih, dan lain sebagainya.43 Menanggapi kenyataan ini, Yahdi Basma menyatakan bahwa “tingkat partisipasi publik yang rendah tidak bisa dijadikan alasan untuk mendeligitimasi hasil pemilu.
Karena memilih bukan kewajiban tetapi hak warga”.44
C. 4 Hasil Pilkada Kota Palu: antara Penolakan dan Penerimaan Ketika acara pencoblosan dimulai, para kandidat berpendapat bahwa mereka telah siap menang maupun kalah dalam kontes politik ini.
Menang atau kalah merupakan resiko pilihan politik yang telah dilakukan oleh setiap calon yang maju dalam pilkada tersebut. Rasa kecewa apabila menjadi bagian dari dinamika politik yang harus dilalui, jika ingin mengatakan sukses maka hal pertama yang dilakukan adalah mengakui keunggulan dan kekalahan orang lain. Pandangan ini didasarkan pada pernyataan Rusdy Mastura bahwa “saya sudah siap dari awal untuk menang maupun kalah karena pilkada bukan tujuan akhir tetapi membangun Kota Palu adalah tujuan akhirnya. Kedepan membangun kota ini berdasarkan kemauan rakyat. Kalau menang maka komitmen yang sudah saya sampaikan di setiap kampanye dan masukan masyarakat itulah yang saya tindak lanjuti bersama dengan Suardin Suebo”.45
Pada dasarnya, semua kandidat calon walikota dan wakil walikota menerima dengan kebesaran jiwa hasil pilkada Kota Palu. Akan tetapi, yang menjadi permasalahan baru yaitu adanya ketimpangan-ketimpangan yang terjadi sehingga menyebabkan sekitar 43 persen warga yang memiliki hak pilih tidak dapat menyalurkan aspirasinya dalam pilkada langsung pertama di Kota Palu. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila semua calon yang kalah maupun tim suksesnya melakukan beberapa upaya protes. Upaya ini telah dimulai sejak tanggal 31 Juli 2005, ketika massa pendukung Koalisi Masyarakat Madani (KMM) melakukan demonstrasi menuntut penundaan pelaksanaan pilkada. Namun KPUD Kota Palu sebagai penanggung jawab pelaksanaan pilkada di Kota ini tidak menanggapi tuntutan ini.
Perhelatan demokrasi di Kota Palu, pilkada walikota dan wakil walikota Palu periode 2005-2010 tanggal 1 Agustus 2005 ternyata meninggalkan kekecewaan yang mendalam kepada berbagai pihak yang berkompeten dengan pesta tersebut. Hal ini dapat dilihat dari berbagai pernyataan mereka. Boy Tambing Ketua Tim Sukses Koalisi Masyarakat Madani (KMM) menyatakan bahwa “kalau kecewa memang iya, tapi kami masih akan mempelajari lebih jauh terkait langkah apa yang akan diambil”.Sementara, Taufik R. Tiangso juga menyesalkan banyak warga 43 “Anwar serahkan ke Tim Advokasi: Soal Indikasi Rekayasa DPT Pilwali Palu”, Radar Sulteng, Sabtu 6 Agustus 2005, hlm 8.
44 Loc.cit. hlm 3.
45 Penyataan ini disampaikan Rusdy Mastura sesaat setelah melakukan acara pencoblosan surat suara di TPS V di gedung serba guna sekolah minggu Lorong Nangka, Kelurahan Besusu Tengah Kecamatan Palu Timur tanggal 1 Agustus 2005. Op.cit. hlm 2.
Kota Palu yang tidak terdaftar sebagai pemilih. Hal ini tidak terjadi, apabila pendataaan pemilih dilakukan dengan selektif dalam waktu yang panjang.
“saya menyesalkan hal itu terjadi tapi biarlah Panwaslu sebagai lembaga yang paling berkompeten yang menindaklanjutinya”.46
Pada bagian lain, Calon walikota dari Koalisi Palu Bersatu (KPB), Anwar Ponulele menyatakan bahwa adanya temuan yang berindikasi pada upaya rekayasa dalam penentuan daftar calon tetap (DPT) yang ditemukan timnya, tetapi itu sepenuhnya adalah urusan tim advokasi.
“Karena mereka yang tahu persis. Jadi biarkan tim advokasi bekerja kalau mereka menganggap terdapat pelanggaran yang bisa dijadikan bukti, maka proses tentu dilanjutkan”.47 Selain itu juga, menanggapi adanya persoalan yang terjadi selama pilkada berlangsung, salah seorang calon wakil walikota dari Koalisi Palu Bersatu (KPB) Achrul Udaya mengaku menerima kekalahan itu dengan lapang dada. Adapun permasalahan- permasalahan yang timbul dalam proses pilkada sepenuhnya diserahkan kepada lembaga yang berwenang. Namun, Achrul berharap agar KPUD Kota Palu dapat berbenah diri dengan munculnya berbagai persoalan yang timbul selama pelaksanaan pilkada. Lebih lanjut, pada bagian lain juga, Achrul juga mengajak semua pendukung dan simpatisannya untuk bersama-sama walikota dan wakil walikota terpilih membangun Kota Palu.
Gontok-gontokan dan saling sikut –menyikut, hanya akan menambah permasalahan. Hal itu dapat merusak pembangunan yang sudah dicapai selama ini.48
Pertarungan politik telah usai, dan telah menghadirkan pemimpin baru Kota Palu selama lima tahun mendatang. Pasangan yang terpilih merupakan hasil pilihan hati nurani rakyat kota ini. Oleh karena itu, ada tiga hal penting yang perlu dilakukan oleh mereka yang terpilih. Pertama,
“kepada semua tim pemenangan, pendukung fanatik, dan bahkan para kandidat yang kurang beruntung, marilah kita menjadikan kekalahan ini sebagai bahan instropeksi dan koreksi diri bahwa ternyata kita masih belum mampu membeli hati rakyat kita, akuilah kemenangan lawan, akan tetapi dengan catatan untuk sebuah pelanggaran hukum, praktik-praktik KKN dan semua hal inkonstitusional hanya ada satu kata ‘lawan’”.49
Kedua, sudah sepatutnya masyarakat Palu memberikan dukungan bagi terlaksananya janji-janji mereka selam melakukan kampanye. Janji adalah utang, sifatnya. Jadi, sebuah keharusan bagi mereka yang terpilih untuk merealisasikannya, tanpa melihat asal-usul dukungan yang terima saat pilkada berlangsung. Akan tetapi, masih banyak persoalan yang belum terselesaikan di Kota Palu selain yang diungkapkan dalam berbagai 46 Loc.cit. hlm 1 & 15.
47 Anwar serahkan ke Tim Advokasi: Soal Indikasi Rekayasa DPT Pilwali Palu”, Radar Sulteng, Sabtu 6 Agustus 2005, hlm 8.
48 Achrul Udaya salah seorang pengusaha yang juga wakil ketua KKSS Sulawesi Tengah menyatakan bahwa setelah gagal dalam pemilihan ini, ia akan kembalibergelut dalam dunia usaha keluarganya. Ia menyatakan bahwa Saya tidak punya beban. Tidak terpilih jadi wakil walikota, saya akan kembali mengurusi usaha keluarga. Radar Sulteng, Rabu 3 Agustus 2005, hlm 2.
49 Gunawan M. Arsyad, Walikota, Opini dalam Radar Sulteng, Senin 8 Agustus 2005, hlm 4.
kampanye maupun media massa, seperti persoalan tata ruang, dan bentuk-bentuk pungutan liar di malam hari yang dirasakan oleh beberapa kelompok pekerja di sektor informal.
Ketiga, berdasarkan pendapat Rustam Abdul Rauf bahwa untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Kota Palu, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian bersama. Pertama, dalam jangka pendek, jika memang sumber daya masih kurang (dalam artian tidak sesuai dengan bidangnya), sebaiknya calon-calon yang diperkirakan potensial dikirim ke tempat-tempat pelatihan jangka pendek sesuai dengan bidang kerjanya untuk melengkapi wawasan dan kerangka berpikir, sehingga pada saat menduduki jabatannya paling tida dia sudah bisa bekerja dan mengerti pekerjaan yang diembannya (tupoksi instansinya), terutama para tenaga yang akan diposisikan menduduki jabatan strtegis pada era kepemimpinan baru. Kedua, dalam jangka menengah,para kader muda yang diperkirakan potensial dikirim untuk melanjutkan pendidikannya sesuai dengan bidangnya dan bidang yang dibutuhkan oleh pemerintah Kota Palu. Dengan denikian, ketika pada saat segala persyaratannya terpenuhi mereka sudah matang. Ketiga, dalam jangka panjang, menjaring murid/siswa dan mahasiswa berprestasi untuk menimba ilmu ke perguruan-perguruan tinggi yang berkualitas terutama bagi mereka yang mempunyai bakat khusus dan langka.Pemerintah kota juga dapat melibatkan perguruan tinggi yang ada di daerah dalam bentuk kerjasama dalam mendirikan program khusus sesuai yang dibutuhkan daerah.50
Pada bagian akhir tulisan ini, penulis kembali menyampaikan bahwa konflik antar elite pada pilkada terjadi melalui tiga situasi yaitu, pertama, saat kampanye berlangsung. Para kandidat maupun tim sukses sering melakukan orasi politik yang sering ditanggapi sebagi black campigne. Kedua, ketika hasil pemungutan suara diumumkan (diketahui).
Saat seperti inilah yang paling rentan, karena rasa tidak puas dan kecewa dari pihak yang kalah biasa dilakukan oleh para pendukung fanatik untuk melakukan penolakan terhadap hasil tersebut. Hal ini dapat menimbulkan reaksi balasan dari pihak pemenang pilkada. Ketiga, kesalahan dalam pengambilan kebijakan akan selalu menjadi barometer kinerja kabinet mereka yang terpilih. Oleh karena itu, bila terdapat celah reaksi spontanitas pendukung calon-calon yang kalah dpat saja terjadi, maka tidak ada jalan lain kecuali mengakomodir kepentingan mereka sebagai bagian dari seluruh kepentingan masyarakat yang dipimpin. Akhirnya, sejarah (proses pilkada) Kota Palu telah berubah yakni telah datang orang baru di pentas politik yakni Rusdi Mastura dan Suardin Suebo.
D. Kesimpulan
50 Rustam Abdul Rauf, Peningkatan Kualitas SDM Upaya Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Pasca Pilwali Palu, Opini dalam Radar Sulteng, Kamis 11 Agustus 2005, hlm 4.