SKRIPSI
KANDUNGAN FRAKSI SERAT WAFER RANSUM KOMPLIT BERBASIS AMPAS SAGU DENGAN LEVEL BERBEDA PADA
RANSUM TERNAK RUMINANSIA
Oleh:
JAMALUDIN AHMAD 11780113737
PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN DAN PETERNAKAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU PEKANBARU
2022
SKRIPSI
KANDUNGAN FRAKSI SERAT WAFER RANSUM KOMPLIT BERBASIS AMPAS SAGU DENGAN LEVEL BERBEDA PADA
RANSUM TERNAK RUMINANSIA
Oleh:
JAMALUDIN AHMAD 11780113737
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Peternakan
PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN DAN PETERNAKAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU PEKANBARU
2022
RIWAYAT HIDUP
Jamaludin Ahmad dilahirkan di Kampar, Provinsi Riau pada
tanggal 09 Maret 1999. Lahir dari pasangan Bapak H.
Jaharudin (Alm) dan Ibu Nurmi, yang merupakan anak terakhir dari 4 bersaudara. Masuk sekolah dasar di SD Negeri 001 Buluh Cina, Kecamatan Siak Hulu pada tahun 2006 dan selesai pada tahun 2011.
Pada tahun 2011 penulis melanjutkan pendidikan ke sekolah lanjutan tingkat pertama di Pondok Pesantren Al-Munawwarah dan tamat pada tahun 2014 di Pondok Pesantren Al-Munawwarah. Pada tahun 2014 penulis melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 1 Siak Hulu dan tamat pada tahun 2017.
Pada tahun 2017 melalui jalur Ujian Tulis Mandiri penulis diterima menjadi mahasiswa pada Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Pada bulan Juli sampai Agustus tahun 2019 penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapang (PKL) di UPT Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BBPTU-HPT) Purwokerto. Pada bulan Juli sampai dengan Agustus 2020 penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) secara online di Desa Buluh Cina, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.
Pada bulan Februari 2022, penulis melaksanakan penelitian di Laboratorium Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau dan di Analisis Fraksi Serat di Laboratorium Analisis Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Riau.
Pada tanggal 13 Desember 2022 dinyatakan lulus melalui sidang tertutup Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, dengan judul “Kandungan Fraksi Serat Wafer Ransum Komplit Berbasis Ampas Sagu dengan Level Berbeda Pada Ransum Ternak Ruminansia” di bawah bimbingan Ibu Dewi Ananda Mucra, S.Pt., M.P dan Ibu Dr. Triani Adelina, S.Pt., M.P.
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Kandungan Fraksi Serat Wafer Ransum Komplit Berbasis Ampas Sagu Dengan Level Berbeda Pada Ransum Ternak Ruminansia’’ Skripsi ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan, Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
Pada kesempatan bahagia ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang turut ikut serta membantu dan membimbing dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk itu penulis mengucapkan ribuan terima kasih kepada :
1. Teristimewa untuk kedua orang tua saya Ayahanda H. Jaharudin (Alm) dan Ibunda Nurmi yang selalu menjadi motivator, penyemangat serta tempat berkeluh kesah dari awal pertama masuk kuliah hingga sampai saat ini. Abang tersayang Nazarudin, S.Si yang selalu memberikan semangat dan senyuman kepada saya hingga saat ini. Kalianlah orang-orang yang sangat berharga dalam kehidupan saya yang tak akan tergantikan hingga kapan pun terimakasih atas jasa-jasa yang diberikan kepada saya yang tidak terhingga.
2. Bapak Prof. Dr. Hairunas, M.Ag selaku Rektor Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
3. Bapak Dr. Arsyadi Ali, S.Pt, M.Agr. Sc selaku Dekan Fakultas Pertanian dan Peternakan, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
4. Bapak Dr. Irwan Taslapratama, M.Sc. selaku Wakil Dekan I, Ibu Dr. Ir. Hj Elfawati, M.Si selaku Wakil Dekan II dan Bapak Dr. Syukria Ikhsan Zam, M.Si selaku Wakil Dekan III Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
5. Ibu Dr. Triani Adelina, S.Pt., M.P selaku Ketua Program Studi Peternakan, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
6. Ibu Dewi Ananda Mucra, S.Pt., M.P selaku dosen pembimbing I sekaligus Penasehat Akademik (PA) dan Ibu Dr. Triani Adelina, S.Pt., M.P selaku dosen pembimbing II yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini yang telah
banyak meluangkan waktu serta memberikan arahan dalam proses selama bimbingan.
7. Bapak Jepri Juliantoni, S.Pt., M.P selaku penguji I dan Dr. Elviriadi, S.Pi., M.Si selaku penguji II yang telah memberikan kritikan dan saran dalam menyelesaikan perbaikan penulisan skripsi.
8. Untuk teman seperjuangan Donny Damara, yang telah melewati masa suka dan duka bersama dari awal penelitian hingga sampai selesai penelitian.
9. Untuk teman sekaligus sahabat, Shinta Bella dan Donny Damara yang selalu memberikan semangat dan menemani saya dari awal penelitian hingga penulis mendapatkan gelar sarjana.
10. Para senior di peternakan, Halimatuss’adiah, S.Pt dan Leni Perianita, S.Pt, yang telah mengarahkan selama proses penelitian.
11. Untuk teman-teman Peternakan Angkatan 2017
Atas segala peran dan partisipasi yang telah diberikan mudah-mudahan Allah Subbahanahu Wataala membalas jasa baik mereka dengan imbalan pahala berlipat ganda. Penulisan skripsi ini masih terdapat kekurangan yang perlu disempurnakan lagi dengan saran dan kritikan dari semua pihak. Semoga Allah SWT melimpahkan berkah dan taufik-Nya kepada kita semua dan semoga skripsi ini bermanfaat tidak hanya bagi penulis tetapi juga untuk seluruh pembaca. Amin ya rabbal’alamin.
Pekanbaru, 13 Desember 2022
Penulis
i KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah Subhanahu wa ta’ala atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul
“Kandungan Fraksi Serat Wafer Ransum Komplit Berbasis Ampas Sagu Dengan Level Berbeda Pada Ransum Ternak Ruminansia’’ .
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing I Ibu Dewi Ananda Mucra, S.Pt., M.P yang banyak memberikan arahan terhadap skripsi ini, dan kepada Ibu Dr. Triani Adelina, S.Pt., M.P Pembimbing II yang banyak memberikan arahan, masukan baik berupa penulisan dan memotivasi penulis untuk lebih detail menulis skripsi ini. Kepada seluruh rekan-rekan yang banyak membantu penulis di dalam penyelesaian skripsi ini, yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu, penulis ucapkan terima kasih dan semoga mendapatkan balasan dari Allah Subhanahu wa ta’ala untuk kemajuan kita semua dalam mencapai masa depan nanti.
Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan penulisan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua baik untuk masa kini maupun untuk masa yang akan datang.
Pekanbaru, 13 Desember 2022
Penulis
ii
KANDUNGAN FRAKSI SERAT WAFER RANSUM KOMPLIT BERBASIS AMPAS SAGU DENGAN LEVEL BERBEDA PADA
RANSUM TERNAK RUMINANSIA
Jamaludin Ahmad (11780113737)
Di bawah bimbingan Dewi Ananda Mucra dan Triani Adelina INTISARI
Ampas sagu merupakan hasil limbah pertanian yang penggunaannya sebagai pakan masih sangat terbatas padahal jumlahnya cukup banyak, namun ampas sagu memiliki kandungan serat kasar yang tinggi, dan kandungan protein kasar yang rendah, maka perlu pengolahan lebih lanjut yaitu dijadikan wafer ransum komplit agar mudah dicerna oleh ternak ruminansia khususnya kambing kacang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan fraksi serat yang terkandung di dalam wafer ransum komplit dengan penambahan level ampas sagu berbeda pada ransum kambing kacang. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau pada bulan Januari-Februari 2022. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan yaitu P0: Wafer ransum komplit + 0% ampas sagu, P1: wafer ransum komplit + 10% ampas sagu, P2:
wafer ransum komplit + 20% ampas sagu, P3: wafer ransum komplit + 30%
ampas sagu. Parameter yang diukur meliputi kandungan neutral detergent fiber, acid detergent fiber, acid detergent lignin, hemiselulosa dan selulosa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap kandungan NDF, ADF, dan Selulosa pakan. Penambahan level ampas sagu sampai 30% dapat menurunkan kandungan fraksi serat wafer ransum komplit. Perlakuan terbaik dari penambahan level ampas sagu yaitu pada level 30% dengan kandungan NDF 32,69%, ADF 20,16%.
Kata kunci : Ampas sagu, wafer ransum komplit, fraksi serat.
iii
FIBER FRACTION CONTENT OF COMPLETE WAFER RATION BASED ON SAGO WASTE WITH DIFFERENT
LEVELS IN RUMINANT RATIONS
Jamaludin Ahmad (11780113737)
Under the guidance of Dewi Ananda Mucra and Triani Adelina
ABSTRACT
Sago waste is a product of agricultural waste whose use as feed is still very limited even though there are quite a lot of them, but sago waste have a high crude fiber content and low crude protein content, so it needs further processing, which is used as a complete wafer ration so that it is easily digested by livestock.
ruminants, especially peanuts. This study aimed to determine the content of fiber fraction contained in complete wafer rations with the addition of different levels of sago waste in goat nut rations. This research was conducted at the Nutrition and Feed Technology Laboratory, Faculty of Agriculture and Animal Science, Sultan Syarif Kasim Islamic State University, Riau in January-February 2022. This study used an experimental method using Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 5 replications, namely P0: completed wafer ration + 0% sago waste, P1: completed wafer ration + 10% sago waste, P2: completed wafer ration + 20% sago waste, P3: completed wafer ration + 30% sago waste.
Parameters measured include the content of neutral detergent fiber, acid detergent fiber, acid detergent lignin, hemicellulose and cellulose. The results showed that the treatment had high significant effect (P<0.01) on the NDF, ADF, and Cellulose content of the feed. The addition of sago waste level up to 30% can reduce the fiber content of the complete ration wafer fiber. The best treatment from the addition of sago waste level was at the level of 30% with a neutral detergent fiber content of 32.69%, and an acid detergent fiber content of 20.16%.
Key words : Sago waste, complete ration wafer, fiber fraction.
iv DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ... i
INTISARI ... ii
ABSTRACT ... iii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR GAMBAR ... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... viii
I. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Tujuan Penelitian ... 4
1.3. Manfaat Penelitian ... 4
1.4. Hipotesis ... 4
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 5
2.1. Ternak Kambing Kacang ... 5
2.2. Potensi Ampas Sagu ... 5
2.3. Bahan Ransum Komplit ... 6
2.4. Wafer ... 11
2.5. Analisis Fraksi Serat ... 12
III. MATERI DAN METODE ... 14
3.1. Waktu dan Tempat ... 14
3.2. Materi Penelitian ... 14
3.3. Metode Penelitian ... 14
3.4. Prosedur Penelitian ... 16
3.5. Parameter Yang Diamati ... 20
3.6. Prosedur Analisis Fraksi Serat ... 20
3.7. Analisi Data………. 22
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 24
4.1. Kandungan Neutral Detergent Fiber (NDF)... 24
4.2. Kandungan Acid Detergent Fiber (ADF) ... 25
4.3. Kandungan Selulosa ... 26
4.4. Kandungan Acid Detergent Lignin (ADL ... 27
4.5. Kandungan Hemiselulosa ... 28
V. PENUTUP ... 30
5.1. Kesimpulan ... 30
5.2. Saran ... 30
v DAFTAR PUSTAKA ... 31 LAMPIRAN ... 37
vi DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
3.1. Kebutuhan Nutrisi Kambing Kacang Untuk Penggemukan ... 15
3.2. Kandungan Nutrisi Bahan Pakan Penyusun Wafer ... 15
3.3. Formulasi Ransum Penelitian ... 16
3.4. Analisis Sidik Ragam ... 22
4.1. Rataan Kandungan Neutral Detergent Fiber Wafer Penelitian ... 24
4.2. Rataan Kandungan Acid Detergent Fiber Wafer Penelitian ... 25
4.3. Rataan Kandungan Selulosa Wafer Penelitian ... 26
4.4. Rataan Kandungan Acid Detergent Lignin Wafer Penelitian ... 27
4.5. Rataan Kandungan Hemiselulosa Wafer Penelitian ... 28
vii DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
2.1. Kambing Kacang ... 5
2.2. Pohon Sagu ... 6
2.3. Ampas Sagu ... 7
2.4. Ampas Tahu ... 8
2.5. Dedak Padi ... 9
2.6. Tepung Jagung ... 10
2.7. Molases ... 11
2.8. Wafer ... 11
3.1. Mesin Wafer ... 18
3.2. Prosedur Pembuatan Wafer ... 19
viii DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. Jumlah Bahan Untuk Wafer Ransum Komplit... 37
2. Data Analisis Statistik (NDF) (%) Wafer ... 40
3. Data Analisis Statistik (ADF) (%) Wafer ... 43
4. Data Analisis Statistik (Selulosa) (%) Wafer ... 46
5. Data Analisis Statistik (ADL) (%) Wafer ... 49
6. Data Analisis Statistik (Hemiselulosa) (%) Wafer... 51
7. Dokumentasi Penelitian ... 54
1 I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Populasi kambing di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat, terbukti dengan data Badan Pusat Statistik (2019) menyebutkan bahwa ada 18.720.706 ekor kambing diseluruh Indonesia. Pada tahun 2019 hanya ada 15.815.317 ekor, jika dirata-ratakan ada 322.821 ekor kambing yang lahir setiap tahunnya atau 26.902 ekor kambing lahir setiap bulannya, atau sama dengan 897 ekor kambing lahir setiap harinya di Indonesia. Pada data Badan Pusat Statistik Provinsi Riau (2019) menyebutkan bahwa ada 217.106 ekor ternak kambing di Provinsi Riau.
Berdasarkan jumlah ternak kambing yang tercatat pada tahun 2019, peternakan ternak kambing di Provinsi Riau berpotensi untuk dikembangkan.
Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan ternak di Indonesia pada musim kemarau adalah kesulitan untuk mendapatkan pakan hijauan. Masalah kelangkaan pada musim kemarau tersebut dapat menurunkan produktivitas ternak, oleh sebab itu penyediaan pakan yang berkualitas dapat dilakukan selain dengan pemberian rumput lapang, dapat juga dengan pemanfaatan berbagai limbah dari hasil pertanian. Salah satu limbah pertanian tersebut yang dapat dimanfaatkan cara optimal adalah ampas sagu.
Limbah sagu dari hasil samping industri pengolahan pati berupa kulit batang dan ampas sagu mengandung pati, serat kasar, protein kasar, lemak, dan abu. Ampas mengandung 65,7% pati yang terdiri atas residu lignin sebesar 20,67%, sedangkan kandungan selulosa di dalamnya sebesar 19,55% dan sisanya merupakan zat ekstraktif dan abu. Kulit batang sagu mengandung selulosa (56,86%) dan lignin yang lebih banyak (37,70%) dari pada ampas sagu (Hardikawati, 2017).
Berdasarkan hasil dari analisis Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Kimia UIN Suska Riau (2014), Kandungan nutrisi ampas sagu bahan kering 47,20%, Protein Kasar (PK) 0,83 %, Serat Kasar (SK) 11,44 %, Lemak Kasar (LK) 0,99%, Abu 1,80%, dan Bahan Ekstark Tanpa Nitrogen 84, 94%, serta kandungan fraksi serat
2 ampas sagu ADF 13,79%. ADL 10,34%, NDF 39,65%, selulosa 1,74% dan hemiselulosa 39,65%.
Ampas sagu memiliki nilai protein, daya cerna, dan palatabilitas yang rendah sehingga memerlukan metode untuk memperbaiki kualitas ampas sagu sehingga dapat dijadikan sumber pakan. Ampas sagu merupakan limbah hasil sampingan dari industri pengolahan pati yang berwujud padat. Limbah tersebut berpotensi menimbulkan dampak pencemaran lingkungan seperti bau yang tidak sedap dan belum dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Limbah ampas sagu mengandung 65,7% pati, 14,8% serat kasar, 1% protein kasar, dan 4,1% abu (Aziz, 2002).
Pengolahan batang-batang sagu menjadi pati sagu menyisakan ampas yang disebut dengan repu atau ampas sagu. Bentuknya berserat dengan warna putih kekuningan. Ermanto, (2012) menyatakan ampas sagu merupakan limbah hasil sampingan dari industri pengolahan pati yang berwujud padat. Limbah tersebut berpotensi menimbulkan dampak pencemaran lingkungan seperti bau yang tidak sedap dan belum dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Noviagama (2002) menyatakan wafer adalah salah satu bentuk pakan ternak yang merupakan modifikasi bentuk cube, dalam proses pembuatannya mengalami pemadatan dengan tekanan dan pemanasan dalam suhu tertentu. Wafer ransum komplit merupakan susatu bentuk pakan yang memiliki bentuk fisik kompak dan ringkas sehingga diharapkan dapat memudahkan dalam penanganan dan transportasi, di samping itu memiliki kandungan nutrisi yang lengkap dan menggunakan teknologi yang relatif sederhana sehingga mudah diterapkan (Trisyulianti dkk., 2003).
Ampas sagu ini dapat diolah kembali menjadi wafer pakan ternak yang bergizi. Pakan menjadi masalah mendasar dalam usaha peternakan. Pakan merupakan salah satu komponen dalam budidaya ternak yang berperan penting untuk mencapai hasil yang diinginkan selain manajemen dan pembibitan. Setiap ternak ruminansia membutuhkan pakan dari segi kualitas maupun kuantitas dikategorikan baik sehingga kebutuhan hidupnya tercukupi, pakan berguna untuk kebutuhan pokok, produksi, dan reproduksi. Oleh karena itu, ternak harus mendapatkan maupun kandungan zat yang diberikan. Pemberian pakan yang tidak
3 sesuai kebutuhan akan menyebabkan penurunan terhadap pertumbuhan, produksi, dan reproduksi. Oleh sebab itu, dibutuhkan pakan yang berkualitas dan ketersediaannya kontinyu (Mursalim dkk., 2019).
Tinggi rendahnya produktivitas ternak antara lain ditentukan oleh kuantitas dan kualitas pakan yang dikonsumsinya. Kebutuhan nutrisi ternak untuk produksi (baik berupa pertambahan bobot badan, susu maupun janin) mutlak harus dipasok dari nutrisi yang terdapat di dalam bahan pakan. Ternak ruminansia mempunyai keistimewaan karena memiliki mikroba dalam rumen sehingga mampu memanfaatkan hijauan nonkonvensional seperti limbah pertanian sebagai pakan utama pengganti hijauan pakan.
Wafer adalah salah satu bentuk pakan ternak yang merupakan modifikasi bentuk cube, dalam proses pembuatannya mengalami pemadatan dengan tekanan dan pemanasan dalam suhu tertentu (Noviagama, 2002). Menurut Manley (2000), wafer adalah jenis biskuit khusus yang membutuhkan peralatan berbeda untuk membuatnya, wafer dibentuk diantara sepasang lempengan besi panas, bentuk lapisan wafer biasanya tipis dan memiliki pola tertentu pada bagian permukaan akibat dari tekanan lapisan besi.
Berdasarkan hasil penelitian Halimatussa’diyah (2019), bahwa penambahan level ampas sagu 30% dan diberikan untuk ternak sapi bali memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap penurunan kandungan NDF wafer ransum komplit dengan nilai berkisar antara 74,09% - 57,50%, ADF dengan nilai berkisar 67,64% - 54,23%, ADL dengan nilai berkisar antara 39,03% - 27,17%.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis telah melakukan penelitian dengan judul “Kandungan Fraksi Serat Wafer Ransum Komplit Berbasis Ampas Sagu Dengan Level Berbeda Pada Ransum Ternak Ruminansia”.
4 1.2. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan fraksi serat berupa Neutral Detergent Fiber (NDF), Acid Detergent Fiber (ADF), Acid Detergent Lignin (ADL), hemiselulosa dan selulosa yang terkandung di dalam wafer ransum komplit dengan penambahan level ampas sagu berbeda pada ransum ternak ruminansia.
1.3. Manfaat Penelitian
1. Manfaat dari penelitian ini adalah untuk memberikan informasi kepada petani mengenai kandungan fraksi serat wafer ransum komplit dengan penambahan level ampas sagu berbeda pada ransum ternak ruminansia dan informasi untuk masyarakat mengenai teknologi pembuatan wafer.
1.4. Hipotesis
Hipotesis penelitian ini adalah dengan penambahan level ampas sagu sampai 30% dalam wafer ransum komplit dapat meningkatkan kualitas wafer yang dilihat dari menurunnya kandungan fraksi serat berupa Neutral Detergent Fiber (NDF), Acid Detergent Fiber (ADF), Acid Detergent Lignin (ADL) dan peningkatan hemiselulosa serta selulosa.
5 II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Ternak Kambing Kacang
Kambing kacang merupakan salah satu rumpun kambing lokal Indonesia yang mempunyai sebaran asli geografis di sebagian besar wilayah negara Republik Indonesia, dan telah dibudidayakan secara turun-temurun. Kambing Kacang merupakan kekayaan sumber daya genetik ternak lokal Indonesia yang perlu dilindungi dan dilestarikan. Kambing kacang merupakan kambing asli Indonesia. Kambing ini tersebar hampir di seluruh Indonesia. Ciri-ciri kambing kacang: badan kecil, telinga pendek tegak, leher pendek, punggung meninggi, jantan dan betina bertanduk, tinggi badan jantan dewasa rata-rata 60–65 cm, tinggi badan betina dewasa rata-rata 56 cm, bobot dewasa untuk betina rata-rata 20 kg dan jantan 25 kg, (Prabowo, 2010).
Kambing kacang memiliki keunggulan diantaranya mudah beradaptasi dengan lingkungan setempat dan reproduksinya cukup baik sehingga pada umur 15-18 bulan bisa menghasilkan keturunan, (Boer Indonesia, 2008). Gambar kambing kacang dapat dilihat pada Gambar 2.1. berikut ini.
Gambar 2.1. Kambing Kacang.
Sumber : Dokumentasi Penelitian (2022)
2.2. Potensi Ampas Sagu
Tanaman sagu (Metroxylon sp.) secara taksonomi masuk ke dalam ordo Spadicifora, family Palmae, genus Metroxylon, spesies Metroxylon sp. Kata Metroxylon berasal dari bahasa Yunani, yaitu Metro berarti isi batang dan xylon yang berarti xylem (Tenda dkk., 2009).
Nuraini (2005) menyatakan bahwa ampas sagu berupa serat–serat empelur yang diperoleh dari pemarutan dan pemerasan isi batang sagu dalam pengolahan
6 batang sagu menjadi tepung sagu. Gambar pohon sagu dapat dilihat pada Gambar 2.2.berikut ini :
Gambar 2.2. Pohon Sagu
Sumber : Dokumentasi Penelitian (2022).
Potensi lain yang mendukung keunggulan sagu yaitu sagu mengandung karbohidrat tinggi dengan kandungan pati kering 200-400 kg/ pohon dan jika dilakukan pemanenan dalam 1 ha akan menghasilkan 20-40 ton pati/ha/tahun.
Produk pati dari sagu juga dapat dijadikan produk turunan ain seperti gula cair dan lain-lain, (Bintoro dkk., 2010).
Nutrisi yang terkandung dalam sagu terbilang lengkap, paling dominan adalah karbohidrat murni dalam jumlah yang banyak. Terkandung pula protein, mineral, dan vitamin. Dalam 100 gram sagu kering, karbohidrat yang terkandung didalamnya adalah 94 gram, protein 0,2 gram, serat makanan 0,5 gram, zat besi 1,2mg, dan kalsium sebanyak 10 mg. Dalam 100 gram sagu, terdapat 355 kalori, (Rosse, 2016).
2.3. Bahan Ransum Komplit 2.3.1. Ampas Sagu
Proses produksi sagu menghasilkan tiga jenis limbah, yaitu limbah empelur sagu berserat (ampas sagu), kulit batang sagu (bark) dan air buangan (waste water). Kulit batang sagu dan ampas sagu yang dihasilkan dari proses produksi sagu berturut-turut sekitar 26% dan 14% berdasarkan bobot total batang sagu (Idral dkk., 2012).
Ampas sagu dapat menjadi bahan pakan alternatif sumber energi karena mengandung BETN yang tinggi yaitu 76,51% tetapi ampas sagu harus dilakukan
7 pengolahan karena ampas sagu kurang baik jika digunakan sebagai bahan pakan tunggal karena berdasarkan bahan keringnya, ampas sagu memiliki kandungan protein kasar yang rendah. Meskipun kandungan nutrien terutama protein kasar rendah sekitar antara 2,30-3,36%, pati dalam ampas sagu masih cukup tinggi yaitu 52,98% (Ralahalu, 2012). Gambar ampas sagu dapat dilihat pada Gambar 2.3.berikut ini :
Sumber 2.3. Ampas Sagu
Sumber : Dokumentasi Penelitian, (2022).
2.3.2. Ampas Tahu
Menurut Tarmidi (2010) ampas tahu merupakan hasil ikutan dari proses pembuatan tahu yang banyak terdapat di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.
Oleh karena itu untuk menghasilkan ampas tahu tidak terlepas dari proses pembuatan tahu. Pembuatan tahu terdiri dari dua tahapan : (1) Pembuatan susu kedelai, dan (2) penggumpalan protein dari susu kedelai sehingga selanjutnya tahu dicetak menurut bentuk yang diinginkan. Penggunaan ampas tahu di samping sebagai makanan ternak juga dipakai sebagai bahan baku untuk pembuatan oncom yaitu sejenis makanan yang kualitasnya lebih rendah daripada tempe.
Menurut Nuraini dkk. (2005), ampas tahu mengandung protein kasar 27,55%, lemak 4,93%, serat kasar 7,11%, BETN 44,50%. Tarmidi (2010) menyatakan ampas tahu mengandung bahan kering (BK) 13,3%, protein kasar (PK) 21%, serat kasar 23,58%, lemak kasar 10,49%, NDF 51,93%, ADF 25,63%, abu 2,96%, kalsium (Ca) 0,53%, phosfor (P) 0,24% dan energi bruto 4.730 kkal/kg.
Tarmidi (2010) menyatakan bahwa (1) Ampas tahu memiliki nilai nutrisi yang baik dan digolongkan ke dalam bahan pakan sebagai sumber protein. (2)
8 Ampas tahu apabila diolah dan diawetkan, baik secara kering maupun secara basah dapat dimanfaatkan dan disimpan dalam waktu yang cukup lama. (3) Ampas tahu digunakan sebagai ransum memberikan pengaruh yang baik terhadap performans ternak ruminansia, dan (4) Ampas tahu apabila diproteksi dengan tannin dalam rumen akan tahan terhadap degradasi, hal ini dicerminkan dengan menurunnya konsentrasi VFA, NH3, bakteri, dan protozoa rumen. Gambar ampas tahu dapat dilihat pada Gambar 2.4. berikut ini .
Gambar. 2.4. Ampas Tahu
Sumber : Dokumentasi Penelitian, (2022)
2.3.3. Dedak Padi
Menurut Akbarillah dkk (2007) hasil sampingan proses pengolahan padi adalah dedak padi (rice brand), Bahan ini dihasilkan dalam tahapan-tahapan proses pengupasan kulit gabah dan penyosohan beras pecah kulit. Bengkulu Utara merupakan penghasil dedak. Sebagai by product penggilingan padi menjadi beras.
Yudono dkk. (1996) menyatakan proses penggilingan padi dapat menghasilkan beras giling sebanyak 65% dan limbah hasil gilingan sebanyak 35%, yang terdiri dari sekam 23%, dedak dan bekatul sebanyak 10%. Protein dedak berkisar antara 12-14%, lemak sekitar 7-9%, serat kasar sekitar 8-13% dan abu sekitar 9-12% (Murni dkk., 2008).
Varietas merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas dedak, karena kandungan protein dan serat kasar ditentukan oleh keragaman sifat fisik dan sifat kimia gabah terutama disebabkan oleh faktor genetik yang dibawa oleh varietas padi (Ishaq dkk., 2001). Gambar dedak padi dapat dilihat pada Gambar 2.5. berikut ini :
9 Gambar 2.5. Dedak Padi
Sumber : Dokumentasi Penelitian, (2022)
2.3.4. Tepung Jagung
Tepung jagung merupakan butiran butiran halus yang berasal dari jagung kering yang dihancurkan. Pengolahan jagung menjadi bentuk tepung lebih dianjurkan dibanding produk setengah jadi lainnya, karena tepung lebih tahan disimpan, mudah dicampur, dapat diperkaya dengan zat gizi, dan serta mudah digunakan untuk proses pengolahan lanjutan. Selama proses pengolahan tepung jagung, cara penanganan yang diterapkan oleh pekerja akan berdampak terhadap mutu jagung. Cara cara yang kasar, tidak bersih dan higienis akan menyebabkan penurunan mutu dan tercemarnya jagung hasil olahan (Arief dkk., 2014).
Kandungan nutrisi tepung jagung terdiri atas KA 14,77%, abu 1,88%, SK 1,63%, LK 7,78%, PK 7,35% dan BETN 81,35% (Umam dkk., 2014). Tepung jagung dimanfaatkan sebagai pakan karena sumber energi yaitu 3370 Kkal/kg, protein berkisar 8-10%, namun rendah kandungan lysine dan tryptopan, tepung jagung yang digunakan sebagai sumber energi utama dan sumber xantofil (Kiay, 2014).
Kandungan energi yang tinggi dapat dilihat dari persentase pati yang ada didalamnya yakni berkisar antara 72-73%. Pati ini terdiri atas amilosa, dan amilopiktin, kadar gula sederhana jagung (glukosa, fruktosa, dan sukrosa) berkisar anatar 1-3%. Jagung dapat menyediakan karbohidrat fermentasi karena merupakan sumber non fiber carbohydrate (NFC) yang dapat digunakan sebagai bahan tambahan hijauan dalam proses ensilase sehingga dapat mempercepat penurunan pH selama fermentasi (Yang et al., 2004). Selain itu ketersediaan karbohidrat pada jagung akibat panas yang ditimbulkan selama proses ensilase dapat meningkatkan pertumbuhan bakteri asam laktat selama fermentasi (Theurer et al. 1999). Gambar tepung jagung dapat dilihat pada Gambar 2.6. berikut ini.
10 Gambar 2.6. Tepung Jagung
Sumber : Dokumentasi Penelitian (2022)
2.3.5. Molases
Molase (bahasa Inggris: molasses) merupakan produk sampingan dari industri pengolahan gula yang masih mengandung gula dan asam-asam organik.
Molase yang dihasilkan oleh industri gula tebu di Indonesia dikenal dengan nama tetes tebu. Molase mengandung sejumlah besar gula, baik sukrosa maupun gula reduksi. Total kandungan gula berkisar 48-56% dan pH-nya sekitar 5,5-5,6. Gula reduksi merupakan faktor penting bagi sel yeast saccharomyces cerevisiae sebagai sumber energy untuk melakukan metabolism yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kosentrasi alkohol yang dihasilkan . Molase pekat berasal dari cairan gula yang diuapkan sehingga mengandung 70-80% gula yang terdiri dari 70% gula invert. Salah satu penentu kualitas molase adalah pengaruh kondisi penyimpanan, selama penyimpanan molase tidak boleh mengandung mikroorganisme, adanya mikroorganisme didalam molase menyebabkan timbulnya buih dan menurunkan kualitas molase tersebut. (Puspitasari, 2008).
Molasses bermanfaat untuk digunakan sebagai suplemen ruminansia karena memiliki palatabilitas yang tinggi dan harganya murah serta dapat diberikan kepada ternak dalam berbagai bentuk dan proporsi (Senthilkumar et al., 2016). Hasil analisis Laboratorium Pusat penelitian sumberdaya Hayati dan Bioteknologi LPPM IPB (2018) melaporkan bahwa molases memiliki kandungan nutrisi bahan kering (BK) 73,13%, protein kasar (PK) 3,31%, serat kasar (SK) 0,11%, lemak kasar (LK) 0,19%, abu 7,55% dan BETN 88,84%. Gambar molases dapat dilihat pada Gambar 2.7. berikut ini.
11
Gambar 2.7. Molases
Sumber : Dokumentasi Penelitian (2022).
2.4. Wafer
Wafer adalah salah satu bentuk pakan ternak yang merupakan modifikasi bentuk cube, dalam proses pembuatannya mengalami pemadatan dengan tekanan dan pemanasan dalam suhu tertentu (Noviagama, 2002). Menurut Manley (2000), wafer adalah jenis biskuit khusus yang membutuhkan peralatan berbeda untuk membuatnya, wafer dibentuk diantara sepasang lempengan besi panas, bentuk lapisan wafer biasanya tipis dan memiliki pola tertentu pada bagian permukaan akibat dari tekanan lapisan besi.
Menurut Coleman dan Lawrence (2000) hijauan dalam bentuk wafer memiliki kelebihan dan kekurangan. Salah satu kelebihannya adalah dapat meningkatkan konsumsi pakan serta kandungan nutrien yang konsisten dan stabil, sedangkan kekurangannya adalah membutuhkan biaya tambahan yang akan mempengaruhi biaya produksi. Pengawetan dalam bentuk wafer akan memberikan kemudahan dalam pemberian pada ternak dan dalam penyimpanan. Gambar wafer dapat dilihat pada Gambar 2.8. berikut ini :
Gambar 2.8. Wafer
Sumber : Dokumentasi Penelitian (2022)
12 2.5. Analisis Fraksi Serat
Kualitas nutrisi bahan pakan merupakan faktor dalam memilih dan menggunakan bahan pakan tersebut sebagai sumber zat makanan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan produksinya. Kualitas nutrisi bahan pakan terdiri atas komposisi nilai gizi, serta energi dan aplikasinya pada nilai palatabilitas dan daya cernanya. Penentuan nilai gizi dapat digambarkan secara terperinci berdasarkan nilai manfaatnya dan kecernaan pada ternak, untuk dapat menyempurnakan komponen serat tersebut dapat dianalisis menggunakan analisis (Amelia dkk, 2000 ).
2.5.1. Kandungan Neutral Detergent Fiber (NDF)
Neutral Detergent Fiber (NDF) merupakan serat yang tidak larut dalam detergent netral dan NDF bagian terbesar dari dinding sel tanaman. Bahan ini terdiri dari selulosa, hemiselulosa, lignin dan silika serta protein fibrosa (Usman dkk., 2019).
2.5.2. Kandungan Acid Detergent Fiber (ADF)
Acid Detergen Fiber (ADF) merupakan serat yang tidak larut dalam detergent asam yang terdiri dari selulosa, lignin dan silica . Komponen ADF yang mudah dicerna adalah selulosa, sedangkan lignin sulit dicerna karena memiliki ikatan rangkap, jika kandungan lignin dalam bahan pakan tinggi maka koefisien cerna pakan tersebut menjadi rendah. (Usman dkk., 2019).
2.5.3. Kandungan Acid detergent Lignin (ADL)
Lignin merupakan bagian dari dinding sel tanaman dengan polimer terbanyak setelah selolusa. Selulosa berasosiasi dengan hemiselulosa dan lignin membentuk kerangka dari dinding sel tanaman. Selulosa sulit untuk didegradasi baik secara kimia maupun mekanis. Berbagai mikroorganisme mampu menghidrolisis selulosa untuk sumber energi (Osvaldo dkk., 2012).
13 2.5.4. Kandungan Hemiselulosa
Hemiselulosa merupakan heteropolisakarida yang mengandung berbagai gula, terutama pentose. Hemiselulosa umumnya terdiri dari dua atau lebih residu pentose yang berbeda. Komposisi polimer hemiselulosa sering mengandung asam uronat sehingga mempunyai sifat asam. Hemiselulosa memiliki derajat polimerisasi yang lebih rendah, lebih muda dibandingkan selulosa dan tidak berbentuk serat-serat yang panjang (Kusnandar, 2010).
2.5.5. Kandungan Selulosa
Selulosa merupakan komponen utama penyusun dinding sel tanaman.
Kandungan selulosa pada dinding sel tanaman tingkat tinggi sekitar 35-50% dari berat kering tanaman (Lynd et al., 2002). Selulosa adalah zat penyusun tanaman yang terdapat pada sruktur sel. kadar selulosa dan hemiselulosa pada tanaman pakan yang muda mencapai 40% dari bahan kering. Bila hijauan makin tua proporsi selulosa dan hemiselulosa makin bertambah (Tillman dkk, 1991).
14 III. MATERI DAN METODE
3.1. Waktu dan Tempat
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Februari-Maret 2022 di Laboratorium Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
3.2. Materi Penelitian
3.2.1. Bahan
Bahan yang digunakan dalam pembuatan wafer adalah ampas sagu yang diperoleh dari Kabupaten Kepulauan Meranti. Dedak padi, ampas tahu, tepung jagung yang diperoleh dari toko penjualan di sekitar Kota Pekanbaru. Bahan aditif yang digunakan adalah molases dan air mineral. Bahan yang digunakan untuk analisis fraksi serat adalah aquades 1 liter, natrium – lauryl sulfat 30 gram, trittilex III 18,61 gram, natrium borat 10 H2 5,81 gram, disodium hydrogen phosphate Na2HPO4 4,58 gram, H2SO4 1 N : 27,26 ml, CTAB (Cetyl – Trymethyl Amonium Bromide) : 20 gram, oktanol, alkohol 96%.
3.2.2. Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah antara lain baskom, nampan, garok, gunting, pisau, aluminum foil, kuas, plastik, timbangan pakan, timbangan digital, gelas ukur, terpal, mesin grinder, mesin cetak wafer dan alat- alat yang digunakan dalam analisis fraksi serat.
3.3. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan adalah penambahan ampas sagu pada wafer ransum komplit dengan level yang berbeda. Rincian perlakuan ransum adalah sebagai berikut:
15 P0 : 0% AS + 47% DP + 18% TJ + 30% AT + 2% Mol
P1 : 10% AS + 47% DP + 10% TJ + 31% AT + 2% Mol P2 : 20% AS + 44% DP + 10% TJ + 24% AT + 2% Mol P3 : 30% AS + 35% DP + 8% TJ + 25% AT + 2% Mol
Keterangan :
AS = Ampas Sagu AT = Ampas Tahu DP = Dedak Padi TJ = Tepung Jagung Mol = Molasses
Masing – masing dari perlakuan telah dibuat formulasi ransum wafer kambing kacang. Formulasi ransum wafer kambing kacang untuk penggemukan dapat dilihat pada Lampiran 1. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL).
Tabel kebutuhan nutrisi kambing kacang untuk penggemukan dapat dilihat pada Tabel 3.1. di bawah ini.
Tabel 3.1. Kebutuhan Nutrisi Kambing Kacang untuk Penggemukan
Zat Pakan Jumlah Kebutuhan % Protein (%) 10,00 – 18,00 TDN (%) 60 – 68
Sumber : Permentan No 10 Tahun 2014.
Tabel kandungan nutrisi bahan pakan penyusun wafer dapat dilihat pada Tabel 3.2. di bawah ini.
Tabel 3.2 Kandungan Nutrisi Bahan Pakan Penyusun Wafer (%)
Bahan Pakan PK SK LK TDN
Ampas sagu** 3.38 12.44 1.01 81,83
Dedak padi*** 7.55 9.69 2.50 55,90
Tepung jagung*** 8.48 2.08 6.50 80,80
Ampas tahu* 23,70 23,60 3,45 78,00
Molases*** 4,00 0.40 0.00 80.00
Sumber: *Sukria, H.A dan R. Krisnan (2009) **Adelina (2008)
*** Laboratorium Analisis Hasil Pertanian, Universitas Riau (2018)
16 Tabel formulasi ransum dapat dilihat pada Tabel 3.3. di bawah ini.
Tabel 3.3. Formulasi Ransum Penelitian (%)
Bahan Pakan P0 P1 P2 P3
Ampas sagu 0 10 20 30
Dedak halus 47 47 44 35
Tepung jagung 18 10 10 8
Ampas Tahu 30 31 24 25
Molases 2 2 2 2
Total 100 100 100 100
PK 12,38 12,16 10,61 10,33
TDN 68,22 68,31 69,35 71,6
3.4. Prosedur Penelitian
3.4.1. Persiapan Materi Penelitian 1. Ampas Sagu
Ampas sagu segar diambil dari Kabupaten Kepulauan Meranti, dari pabrik pengolahan tepung sagu. Besar jumlah ampas sagu yang diambil sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan pada saat penelitian.
Sebelum pembuatan wafer, ampas sagu terlebih dahulu dilakukan pengurangan kadar air dengan cara dikeringkan dibawah terik matahari setelah itu dilakukan penggilingan.
2. Dedak Padi
Dedak padi yang diperoleh dari toko Bina Ternak Marpoyan.
Besar jumlah dedak padi yang diambil sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan pada saat penelitian. Sebelum pembuatan wafer dedak padi terlebih dahulu dilakukan penggilingan dan pengayakan.
3. Ampas Tahu
Ampas tahu yang diperoleh dari pemilik perusahaan tahu di Pasir Putih. Besar jumlah ampas tahu yang diambil sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan pada saat penelitian. Sebelum pembuatan wafer ampas tahu terlebih dahulu dilakukan pengeringan lalu penggilingan.
17 4. Tepung Jagung
Biji jagung pecah yang diperoleh dari toko Bina Ternak Marpoyan . Besar jumlah biji jagung pecah yang diambil sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan pada saat penelitian. Sebelum pembuatan wafer biji jagung pecah terlebih dahulu dilakukan penggilingan.
5. Molases
Molases yang diperoleh dari toko Bina Ternak Marpoyan. Besar jumlah molases yang diambil sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan pada saat penelitian.
3.4.2. Proses Pembuatan Wafer
1. Pencampuran Bahan-bahan Wafer
Ampas sagu dan ampas tahu dikeringkan di bawah sinar matahari dan bahan pakan lainnya digiling halus. Semua bahan pakan ditimbang setelah diformulasikan, kemudian dicampur diaduk hingga homogen dengan formulasi ransum dalam setiap perlakuan yang sudah disusun, sesuai dengan kebutuhan perlakuan.
2. Pencetakan wafer
Campuran bahan yang telah homogen siap untuk dicetak menjadi wafer menggunakan mesin kempa panas pada suhu 120˚C dengan tekanan 200 kg / cm2 selama 15 menit kemudian ransum tersebut dimasukan ke dalam cetakan berbentuk segi empat dengan ukuran 5cm x 5cm x 1 cm3 dengan mesin cetakan wafer yang berkapasitas 25 kotak.
18 Berikut mesin wafer dapat dilihat pada Gambar 3.1.
Gambar 3.1. Mesin Wafer
Sumber : Dokumentasi Penelitian, (2022)
3. Persiapan sampel analisis
Wafer yang telah dicetak didinginkan selama 30 menit dan dikeringkan selama 30 menit dengan sinar matahari setelah beratnya konstan dilanjutkan pada tahap berikutnya persiapan sampel untuk dianalisis.
3.4.3. Analisis Fraksi Serat
Adapun analisis fraksi serat dapat dilakukan pada wafer yang telah dicetak dan didinginkan kemudian dibedakan setiap perlakuan untuk dianalisis fraksi serat di Laboratorium Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Hasil analisis fraksi serat diolah dengan menggunakan analisis sidik ragam menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan.
19 Prosedur pembuatan wafer pakan komplit dapat dilihat pada Gambar 3.2.
berikut.
Gambar 3.2. Prosedur Pembuatan Wafer
Pendinginan dan penjemuran
Analisis Fraksi serat dilaksanakan dengan dibedakan setiap perlakuan untuk selanjutnya di analisisis
Analisis Data
Pencetakan wafer menggunakan mesin kempa dengan ukuran 5 x 5 x 1 cm3, setelah itu dilakukan pengempaan selama 10 menit
pada suhu 120°C dengan tekanan 200 kg /𝑐𝑚2. P0 : 0% AS +47% DP
+18% TJ +30% AT + 2% molases
P1 : 10% AS +47%
DP + 10% TJ + 31%
AT + 2% molases
P2: 20% AS + 44% DP + 10% TJ + 24% AT +
2% molases
P3: 30% AS + 35% DP + 8% TJ + 25% AT +
2% molasses pengeringan
Penggilingan
Pencampuran bahan setelah ditimbang dengan perlakuan
sesuai formulasi.
Persiapan Bahan Wafer
Ampas Sagu Ampas Tahu Dedak Padi Jagung Molases
20 3.5. Parameter yang diamati
Parameter yang diamati dalam fraksi serat yaitu neutral detergent fiber (%), acid detergent fiber (%), selulosa (%), acid detergent lignin (%) dan hemiselulosa (%).
3.6. Prosedur Analisis Fraksi Serat
3.6.1. Penentuan Kandungan Neutral Detergent Fiber (NDF)
Cara kerja analisis kandungan Neutral Detergent Fiber adalah sebagai berikut: Timbang sampel 1 gram (a gram) masukkan ke dalam erlenmeyer 600 mL tambahkan 100 mL larutan Neutral Detergent Soluble kemudian ekstraksi (panaskan) dengan waterbath selama 1 jam dihitung mulai dari mendidih. Hasil ekstraksi disaring dengan menggunakan kertas saring telah diketahui beratnya (b gram) dengan bantuan pompa vacum. Residu hasil penyaringan dibilas dengan 300 mL air panas ± 5 kali dan terakhir bilas dengan 25 mL alkohol 96% /aseton
±2 kali Residu kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 105oC selama 8 jam.
Dinginkan dalam desikator lebih kurang 30 menit kemudian timbang (c gram).
Keterangan :
a = berat sampel b = berat kertas saring
c = berat sampel setelah di oven
3.6.2. Penentuan Kandungan Acid Detergent Fiber (ADF)
Cara kerja analisis kandungan Acid Detergent Fiber adalah timbang sampel 1 gram (a gram) kemudian masukkan ke dalam erlenmeyer 600 mL kemudian tambahkan 100 mL larutan Acid Detergent Soluble Kemudian ekstraksi (panaskan) dengan waterbath selama 1 jam dihitung mulai dari mendidih. Hasil ekstraksi disaring dengan menggunakan kertas saring telah diketahui beratnya (b gram) dengan bantuan pompa vacum. Residu hasil penyaringan dibilas dengan air panas kurang lebih 300 mL sampai busa hilang dan terakhir bilas dengan 25 mL
21 alkohol 96%/aseton residu kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 105˚ C selama 8 jam. Dinginkan dalam desikator lebih kurang 30 menit kemudian timbang (c gram).
Keterangan :
a = berat sampel b = berat kertas Filter
c = berat sampel setelah di oven
3.6.3. Penentuan Kandungan Selulosa Prosedur kerja :
Penetapan kandungan selulosa merupakan lanjutan dari analisis ADF, dimana residu ADF (c gram) direndam dengan H₂SO₄ 72% selama 3 jam. Setelah direndam kemudian dibilas dengan air panas dan terakhir dengan aseton. Residu tersebut dikeringkan dalam oven pada suhu 135°C selama 2 jam (d gram), kemudian didinginkan dalam desikator dan ditimbang (e gram).
Keterangan :
d = berat yang telah dikeringkan dioven c = berat residu ADF
e = berat residu setelah dioven dan desikator
3.6.4. Penentuan Kandungan Acid Detergent Lignin (ADL)
Merupakan lanjutan dari residu selulosa (a gram). Residu dalam gelas filter dimasukkan ke dalam tanur 500˚C selama 3 jam (c gram). Dinginkan dalam desikator kemudian timbang (b gram).
22 Keterangan :
a = berat sampel
b = sampel yang telah dioven lalu di masukkan ke desikator c = berat residu ditanur dan didinginkan di desikator
3.6.4. Penentuan Kandungan Hemiselulosa
Kadar hemiselulosa dihitung dari selisih antara neutral detergent fiber dengan acid detergent fiber, yaitu dengan persamaan :
% Hemiselulosa = %NDF - %ADF 3.7. Analisis Data
Analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakukan dan 5 ulangan yang mengacu pada rumus Steel dan Torrie (1993). Model sistematis Rancangan Acak Lengkap adalah sebagai berikut:
Y
ij= μ + τ
i+ ε
ijKeterangan :
Yij : Nilai pengamatan pada perlakuan ke-i dan ulangan ke-j μ : Rataan Umum
τi : Pengaruh perlakuan ke-i
εij : Pengaruh galat percobaan pada dari perlakuan ke-I ulangan ke-j i : 1, 2, 3, dan 4 (Perlakuan)
j : 1,2,3,4 dan 5 (Ulangan)
Tabel 3.4. Analisis Sidik Ragam
SK DB JK KT Fhitung Ftabel
5% 1%
Perlakuan t-1 JKP KTP KTP/KTG - -
Galat t(r-1) JKG KTG -
Total rt-1 JKT - - -
23 Keterangan :
Faktor Koreksi (FK) = Y..2
r.t
Jumlah Kuadrat Total (JKT) = ∑ (Yij)2 – FK
Jumlah Kuadrat Perlakuan (JKP) = ∑ (Yj)2 – FK r
Jumlah Kuadrat Galat (JKG) = JKT – JKP
Kuadrat Tengah Perlakuan (KTP) = JKP/dbP
Kuadrat Tengah Galat (KTG) = JKG/dbG
F Hitung
=
Apabila perlakuan berpengaruh nyata, disana F hitung > F tabel (α 0,05) atau (α 0,01) akan dilanjutkan dengan uji lanjut menggunakan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT).
30 V. PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Kesimpulan dari penelitian ini adalah:
1. Penambahan level ampas sagu pada wafer ransum komplit sampai dengan 30% dapat menurunkan kandungan fraksi serat dengan kisaran nilai yaitu NDF (39,53 % sampai 32,69 %), ADF (25,51%
sampai 20,16%), tapi belum dapat meningkatkan hemiselulosa (17,49% sampai 12,53) dan selulosa (13,73% sampai 9,67%).
2. Perlakuan penambahan ampas sagu pada wafer ransum komplit yang terbaik yaitu terdapat pada level pemberian 30% ampas sagu dengan nilai kandungan NDF 32,69%, ADF 20,16%.
5.2. Saran
Di sarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan melihat nilai kecernaan zat nutrisi wafer ransum komplit secara in vitro.
31 DAFTAR PUSTAKA
Adelina, T. 2008. Pengaruh Komposisi Substrat dan Dosis Inokulum Laru terhadap Nilai Gizi Ampas Sagu (Metroxylon sp) Fermentasi. Jurnal Peternakan. 5 (2) : 71-74.
Akbarillah, T., Hidayat., dan T. Khoiriyah. 2007.Kualitas Dedak dari Berbagai Varietas Padi di Bengkulu Utara. Jurnal Sain Peternakan Indonesia.
2(1).
Amelia L,. L. Aboenawan. E. B. Laconi, N. Ramli., M. Ridla, L. dan A. Darobin.
2000. Pengetahuan Bahan Makanan Ternak. Diktat. Laboratorium Ilmu Dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
Ariadi, R., S. 2018. Kandungan Fraksi Serat Wafer yang Berasal dari Silase Pelepah Sawit yang Difermentasi dengan Waktu Berbeda. Skripsi.
Fakultas Pertanian Peternakan. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Pekanbaru.
Arief, R.W., A. Yani, Asropi dan F. Dewi. 2014. Kajian pembuatan tepung jagung dengan proses pengolahan yang berbeda. Prosiding. Seminar Nasional “ Inovasi Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi”, Banjarbaru 6-7 Agustus 2014. Hlm 611-618.
Aziz, A.S. 2002. Sago Starch and its utilization. Journal of Bioscience and Bioengineering. 94(6): 526-529. http://doi.org/cjwwkx. (29 Agustus 2022).
Badan Pusat Statistik (BPS). 2019. Riau dalam Angka. Provinsi Riau, Pekanbaru.
Badan Pusat Statistik (BPS). 2019. Kementerian Pertanian. Jakarta Pusat, Indonesia.
Bintoro, H. M. H., H.M.Yanuar., J. Purwanto, dan S. Amarilis. 2010. Sagu di Lahan Gambut. IPB Press. Bogor.
Boer Indonesia. 2008. Tujuh Plasma Nutfah Kambing Lokal Indonesia.
http://www.boerindonesia.co.cc/jenis-kambing.html. (29 Agustus 2022).
Coleman, R. J dan L.M. Lawrence. 2000. Alfa Cubes for horses. Departemen of Animal Sciences; Jimmy C. Henning, Departemen of Agronomy.
University of Kentucky Cooperative.
Darwis. 2017. Pengaruh Penambahan Daun Trembesi dengan Level Berbeda pada Wafer Komplit terhadap Kandungan Selulosa dan Lignin. Skripsi. Fakultas Peternakan Universitas Hasanudin. Makasar.
32 Ermanto. 2012. Berococok Tanam Sagu. Http//Www.Bppt.Go.id. Diakses 15
Agustus 2021.
Fajrul, M. 2017. Pengaruh Penambahan Daun Trembesi dengan Level Berbeda pada Wafer Komplit terhadap Kandungan Neutral Detergent Fiber dan Acid Detergent Fiber. Skripsi. Fakultas Peternakan Universitas Hasanudin.
Makasar.
Fitriani., R. Juliawati. dan Intan. 2018. Kandungan Sellulosa, Hemisellulosa Dan Lignin Pakan Komplit Berbasis Tongkol Jagung. Jurnal Galung Tropika.
7(3) : 12-18.
Hardikawati, M. I. 2017. Uji Kandungan Nitrogen dan Phospor Pupuk Organik Cair Kombinasi Ampas Sagu dan Lamtoro dengan Penambahan Kotoran Itik Sebagai Bioaktivator. Skripsi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta.
Hakim, M. 1992. Laju Degradasi Protein Kasar dan Organik Setaria splendida, Rumput Lapangan dan Alang-alang (Imperate cylindrica) dengan Teknik In Sacco. Skripsi. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Halimatussa’diyah. 2019. Kandungan Fraksi Serat Wafer Ransum Komplit Dengan Penambahan Level Ampas Sagu Berbeda Pada Ransum Sapi Bali. Skripsi. Fakultas Pertanian dan Peternakan. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Pekanbaru. .
Idral, D. D., S. Marniati, dan Elida. 2012. Pembuatan bioetanol dari ampas sagu dengan proses hidrolisis asam dan menggunakan Saccharomyces cerevisiae. Jurnal Kimia, 1(1) : 34.
Iftitah, AF. 2017. Pengaruh Pemberian Sumber Protein Berbeda Terhadap Kandungan Selulosa dan Hemiselulosa Wafer Pakan Komplit Berbasis Ampas Sagu (Metroxylon sago). Skripsi . Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin. Makassar.
Irawati, E., L. Fitri., T, Adelina. Elviriadi. 2017. Fraksi Serat Kulit Ubi Kayu (Manihot utilissima) yang Difermentasi Dengan Ragi Tape (Saccharomyces cerevisae). Jurnal Peternakan. 14(2) : 48-53.
Ishaq, A. M., A. Amril., dan N. Lahay. 2001. Pengaruh jenis penggilingan dan varietas padi terhadap kandungan protein dan serat kasar dedak padi yang telah mengalami penyimpanan satu bulan. Buletin Nutrisi dan Makanan Ternak, 2 (2) : 55 – 63.
Kiat, L.J. 2006. Preparation and characterization of carboxymethyl sago waste and its hydrogel. Tesis. Universiti Putra Malaysia. Malaysia.
33 Kiston., S, Antonius. dan J., Sirait. 2013. Penggunaan Ampas Sagu Sebagai Campuran Pakan Komplit Kambing Boerka Fase Pertumbuhan. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Sumatera Utara.
Khalifa, F. 2017. Pengaruh Pemberian Sumber Protein Berbedap Terhadap Kandungan NDF dan ADF Wafer Pakan Komplit Berbasis Ampas Sagu (Metroxylon sago). Skripsi. Fakultas Peternakan. Universitas Hasanuddin.
Makassar.
Kiay, M.Z. 2014. Level penambah tepung daun lamtoro (Leucaena leucocephala) dalam ransum untuk meningkatkan kualitas kuning telur puyuh. Skripsi.
Universitas Negeri Gorontalo.
Kusnandar, F. 2010. Mengenal Serat Pangan. Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan. IPB. http://itp.fateta.ipb.ac.id/ Diakses tanggal 25 Juli 2022.
Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Kimia. 2014. Hasil Analisis Proksimat Kulit Buah Kopi, Ampas Sagu dan Jagung. Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Pekanbaru.
Laboratorium Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi 2018. Hasil Analisis Proksimat molases, Indigofera sp, Dedak Padi, Onggok dan Ampas Sagu. Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Lynd L.R., P.J. Weimer, W.H. Van Zyl W.H and I.S. Pretorius. 2002. Microbial cellulose Utilization: Fundamentals and Biotechnology. Microbiol. Mol.
Biol. Rev. 66(3) : 506-577.
Manley, D. J. R. 2000. Technology of Biscuits, Crackers and Cookies. Ellis Horwood Limited. Chiecester Publisher. Inggris.
Maulidayanti, 2015. Sifat Fisik dan Fraksi Serat Silase Pelepah Kelapa Sawit yang ditambah Biomassa Indigofera. Skripsi. Fakultas Pertanian dan Peternakan. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
Pekanbaru.
Mucra, D.A., T. Adelina., A.E Harahap., I. Mirdhayati., L. Perianita. dan Halimatussa’diyah. 2020. Kualitas Nutrisi dan Fraksi Serat Wafer Ransum Komplit Substitusi Dedak Jagung Dengan Level Persentase Ampas Sagu Yang Berbeda. Jurnal Peternakan, 17(1) : 49-55.
Murni, R., Suparjo. Akmal, dan B. L. Ginting. 2008. Buku Ajar Teknologi Pemanfaatan Limbah untuk Pakan. Laboratorium Makanan Ternak.
Fakultas Peternakan. Universitas Jambi. Jambi.
34 Mursalim., Munir., Fitriani. dan I. D. Novieta. 2019. Kandungan Selulosa, Hemiselulosa Dan Lignin Serbuk Gergaji Kayu Jati (Tectona grandits L.F) dan Daun Murbei (Morus alba) yang Dikombinasikan sebagai Pakan Ternak. Jurnal. Seminar Nasional Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. 2 (2) : 323-327.
Musofie, A. 1985. Potensi dan Pemanfaatan Pucuk Tebu Sebagai Pakan Ternak. J.
Litbang Pertanian. 4 (2): 32-37.
Nuraini., H. Abbas., Y. Rizal dan Y. Marlida. 2005. Pemanfaatan Ampas Sagu Fermentasi Kaya Ƀeta Karotin dalam Ransum terhadap Produksi dan Kualitas Telur Ayam Ras. Jurnal Ilmiah Ilmu Peternakan Jambi, 8 : 55- 59.
Noviagama, V. R. 2002. Penggunaan tepung gaplek sebagai bahan perekat alternatif dalam pembuatan wafer ransum komplit. Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Osvaldo, Z.S., Putra, S.P., M. Faizal. 2012. Pengaruh Konsentrasi Asam dan Waktu Pada Proses Hidrolisis dan Fermentasi Pembuatan Bioetanol dari Alang-Alang. Jurnal Teknik Kimia. 2 (18) : 52-62.
Prabowo, A. 2010. Budidaya Ternak Kambing (Materi Pelatihan Agribisnis KMPH). Report No. 51. STE. Final. Sumatera Selatan.
Prastowo, B. 2007. Potensi Sektor Pertanian Sebagai Penghasil dan Pengguna Energy Terbarukan. Perpektif. 6 (2) : 84-92.
Puspitasari, R. 2008. Kualitas Molase Sebagai Bahan Baku Produksi Alkohol Pabrik Spritus Madukismo Yogyakarta. Skripsi. Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta.
Ralahalu, T.N. 2012. Potensi Ampas Sagu dan Limbah Udang sebagai Sumber Serat dalam Ransum dan Pengaruhnya terhadap Kadar Kolesterol serta Kualitas Karkas Babi. Disertasi. Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Ruddel, A. L. and M. Potrat. 2002. Understanding Your Forage Test Result.
Oregon State University. Extension Service.
Rustan, Z. 2017. Waktu Penyimpanan Wafer Pakan Komplit Berbasis Ampas Sagu Dengan Sumber Protein Yang Berbeda. Skripsi. Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin Makassar.
Rosse, D. 2016. Nutrisi Pada Sagu Mengandung Protein Mineral dan Vitamin.
https://www.aryanto.id/artikel/id/39/. Diakses tanggal 01 November 2021.
35 Senthilkumar, S., T. Suganya., K. Deepa., J. Muralidharan, and K., Sasikala.
2016. Supplementation Of Molasses In Livestock Feed. International Journal of Science, Environment and Technology, 5 (3) : 1243-1250.
Steel, R.G.D. dan J.H. Torrie. 1993. Prinsip dan Prosedur Statistika. Gramedia.
Jakarta. 2 (3).
Suhartanto, B., Kustantinah dan S. Padmowijoto. 2000. Degradasi in sacco Bahan Organik dan Protein Kasar Empat Macam Bahan Pakan diukur Menggunakan Kantong Inra dan Rowett Research Institute. Buletin Peternakan. 24(2) : 82-93.
Sutardi, T., S. H Pratiwi, A, Adnan dan Nuraini, S. 1980. Peningkatan Pemanfaatan Jerami Padi melalui Hidrolisa Basa, Suplementasi Urea dan Belarang. Bull. Makanan Ternak. Bogor.
Tarmidi, A.R. 2010. Penggunaan Ampas Tahu dan Pengaruhnya pada Pakan Ruminansia. Artikel Ilmiah, Layanan dan Produk Umban Sari Farm.
Yogyakarta.
Tenda, E., T. R. T. P. Hutapea dan M . Syakir. 2009. Sagu tanaman perkebunan penghasil bahan bakar nabati. Jurnal. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. Hlm. 143-160.
Theurer, C. B., J. T. Huber, A. Delgado-Elorduy, and R. Wanderlay. 1999. Invited Review; Summary of Steam-Flaking Corn or Sorghum Grain for Lactating Dairy Cows. Journal Dairy Sci,82:1950-1959.
Tillman, A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo dan S.
Lebdosoekojo, 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Trisyulianti, E., Suryahadi dan V. N. Rakhma. 2003. Pengaruh Penggunaan Molases dan Tepung Glapek Sebagai Bahan Perekat Terhadap Sifat Fisik Wafer Ransum Komplit. Media Peternakan. 26 (2): 35-39.
Umam, S., N.P. Indriani dan A. Budiman. 2014. Pengaruh Tingkat Penggunaan Tepung Jagung Sebagai Aditif pada Silase Rumput Gajah (Pennisetum purpureum) terhadap asam laktat, NH3 dan pH. Jurnal Peternakan.
Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran. Bandung.
Usman, N., J. Ellen., N. Saleh., Musrifah. 2019. Kandungan Acid Detergent Fiber dan Neutral Detergent Fiber Jerami Jagung fermentasi Dengan Menggunakan Jamur Trichoderma viride Dengan Lama Inkubasi Berbeda. Jurnal Peternakan. 1(2) : 2655-4356.
Yang, C., M. J., S.C Huang, T. Chang. Y.H. Cheng, and C. T. Chang. 2004.
Fermentation Acids, Aerobic Fungal Growth, and intake of Napier Grass Ensiled with non Fiber Carbohidrates. Journal Dairy Sci, 87 : 630-636.
36 Yudono, B., F. Oesman, dan Hermansyah. 1996. Komposisi Asam Lemak Sekam
dan Dedak Padi. Majalah Sriwijaya. 32 (2) : 8-11.
Yunilas. 2009. Bioteknologi Jerami Padi melalui Fermentasi sebagai Bahan Pakan Ternak Ruminansia. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Medan.
37 LAMPIRAN
Lampiran 1. Jumlah Bahan Untuk Wafer Ransum Komplit Perlakuan 0
Bahan Persenan (%) Satuan (gram)
Ampas Sagu 0 0
Dedak Padi 47 470
Tepung Jagung 18 180
Ampas Tahu 30 300
Molases 5 50
Total 100 1.000
Ampas Sagu = 0
100 x 1000 gr = 0 gr Dedak Padi = 47
100 x 1000 gr = 470 gr Tepung Jagung = 18
100 x 1000 gr = 180 gr Ampas Tahu = 30
100 x 1000 gr = 300 gr Molases = 5
100 x 1000 ml = 50 ml = 50 gr
Perlakuan 1
Bahan Persenan (%) Satuan (gram)
Ampas Sagu 10 100
Dedak Padi 47 470
Tepung Jagung 10 100
Ampas Tahu 31 310
Molases 2 20
Total 100 1.000
Ampas Sagu = 10
100 x 1000 gr = 100 gr Dedak Padi = 47
100 x 1000 gr = 470 gr
38 Tepung Jagung = 10
100 x 1000 gr = 100 gr Ampas Tahu = 31
100 x 1000 gr = 310 gr Molases = 2
100 x 1000 ml = 20 ml = 20 gr
Perlakuan 2
Bahan Persenan (%) Satuan (gram)
Ampas Sagu 20 200
Dedak Padi 44 440
Tepung Jagung 10 100
Ampas Tahu 24 240
Molases 2 20
Total 100 1.000
Ampas Sagu = 20
100 x 1000 gr = 200 gr Dedak Padi = 44
100 x 1000 gr = 440 gr Tepung Jagung = 10
100 x 1000 gr = 100 gr Ampas Tahu = 24
100 x 1000 gr = 240 gr Molases = 2
100 x 1000 ml = 20 ml = 20 gr
Perlakuan 3
Bahan Persenan (%) Satuan (gram)
Ampas Sagu 30 300
Dedak Padi 35 350
Tepung Jagung 8 80
Ampas Tahu 25 250
Molases 2 20
Total 100 1.000
39 Ampas Sagu = 30
100 x 1000 gr = 300 gr Dedak Padi = 35
100 x 1000 gr = 350 gr Tepung Jagung = 80
100 x 1000 gr = 80 gr Ampas Tahu = 25
100 x 1000 gr = 250 gr Molases = 2
100 x 1000 ml = 20 ml = 20 gr
40 Lampiran 2. Data Analisis Statistik (NDF) (%) Wafer.
Perlakuan Ulangan
Total Rataan Stdev
1 2 3 4 5
P0 37,25 41,17 38,46 42,30 37,73 196,91 39,38 2,23 P1 40,38 40,38 38,46 37,25 41,17 197,64 39,53 1,62 P2 43,13 39,62 35,29 36,53 42,30 196,87 39,37 3,45 P3 31,37 32,69 34,61 32,07 32,69 163,43 32,69 1,21 Total 152,13 153,86 146,82 148,15 153,89 754,85 150,97 8,50
FK=( )2
r x t= (754,85)2
4 x 5 = 569.798,52
20 =28.489,93
JKT = ∑ ( ij)2-FK
= ∑(37,252+41,172+38,462+ +32,692)-28.489,93 = 28.744,08 - 28.489,93
= 254,15
JKP= ∑ ( 1)2+( 2)2+ +( n)2
r -FK
= ∑ ( 1)2+( 2)2+( 3)2+( 4)2
r -FK
= ∑ (196,91)2+(197,64)2+(196,87)2+(163,43)2
5 -28.489,93
= ∑ 38.773,55+39.061,57+38.757,80+26.709,36
5 -28.489,93
= 143.302,28
5 -28.489,93 = 28.660,46-28.489,93 = 170,53
JKG = JKT – JKP = 254,15 – 170,53
= 83,62
41 KTP = JKP/dbP
= 170,53/3 = 56,84
KTG = JKG/dbG
= 83,62/16
= 5,22
Fhit = KTP/KTG
= 56,84/ 5,22
= 10,87
Analisis Sidik Ragam Sumber
Keragaman db JK KT Fhit F Tabel
5% 1%
Perlakuan 3 170,53 56,84 10,87** 3,24 5,29
Galat 16 83,62 5,22
Total 19 254,21
Keterangan : ** (Berpengaruh Sangat Nyata)
Uji Lanjut DMRT :
Sy =√KT
r
= √5,22
5 =√1,04 = 1,02
P SSR 5% LSR 5% SSR 1% LSR 1%
2 2,99 3,05 4,13 4,21
3 3,14 3,20 4,30 4,38
4 3,23 3,29 4,42 4,50
42 Perlakuan diurutkan dari Nilai Terkecil sampai Terbesar
P3 P2 P0 P1
32,69 39,37 39,38 39,53
Pengujian:
Perlakuan Selisih LSR 5% LSR 1% Keterangan
P3-P2 6,68 3,05 4,21 **
P3-P0 6,69 3,20 4,38 **
P3-P1 6,84 3,29 4,50 **
P2-P0 0,01 3,05 4,21 Ns
P2-P1 0,16 3,20 4,38 Ns
P0-P1 0,15 3,05 4,21 Ns
Superskrip: P3 P2 P0 P1
a b b B