ISSN: 2721-5407 (Online) Jurnal SIPATOKKONG BPSDM SULSEL Volume 2 Nomor 3 (Juli – September) Tahun 2021
JSBPSDM 2(3)(2021); 285-294
Jurnal Sipatokkong BPSDM Sulawesi Selatan
https://ojs.bpsdmsulsel.id/index.php/sipatokkong/login
Perkembangan dan Istilah BK di Indonesia
Arianto
Guru BK UPTD SMP Negeri 5 Takisung Email: [email protected]
ABSTRACT
This article aims to conceptually describe the development and terms of BK in Indonesia.
The guidance and counseling paradigm is a psycho-educational assistance service within a cultural framework. This means that guidance and counseling services are based on scientific principles and educational technology and psychology which are packaged in an applied study of guidance and counseling services which are colored by the environmental culture of students. The personal acknowledgment that is meant here is the acknowledgment of the personal characteristics that must be possessed by the supervising teacher, including: broad-minded, caring for children, patient and wise, gentle and kind, diligent and thorough, being an example, responsive and able to take action, understanding and acting positive on guidance and counseling services, Having professional capital. Which states that the counselor has good personality traits.
Recognition of promotion to counselors in the form of acknowledgment of the performance of counselors which introduces counselors or BK teachers is very necessary in the field of education or schools.
Keywords: Guidance, Counseling, Paradigm, Profession, Counselor
ABSTRAK
Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara konseptual tentang Perkembangan dan Istilah BK di Indonesia. Paradigma bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan psiko-pendidikan dalam bingkai budaya. Artinya, pelayanan bimbingan dan konseling berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan dan teknologi pendidikan serta psikologi yang dikemas dalam kajian terapan pelayanan bimbingan dan konseling yang diwarnai oleh budaya lingkungan peserta didik. Pengakuan personal yang dimaksudkan disini adalah pengakuan terhadap ciri personal yang harus dimiliki oleh guru pembimbing diantaranya adalah : Berwawasan luas, Menyayangi anak, Sabar dan bijaksana, Lembut dan baik hati, Tekun dan teliti, Menjadi contoh, Tanggap dan mampu mengambil
ISSN: 2721-5407 (Online) Jurnal SIPATOKKONG BPSDM SULSEL Volume 2 Nomor 3 (Juli – September) Tahun 2021 Mempunyai modal profesional. Yang menyatakan bahwa konselor memiliki ciri personality yang baik. Pengakuan promosi terhadap konselor berupa pengakuan terhadap kinerja konselor yang mana memperkenalkan konselor atau guru bk sangat diperlukan dibidang pendidikan atau sekolah.
Kata Kuncil: Bimbingan, Konseling, Paradigma, Profesi, Konselor
PENDAHULUAN
Kualifikasi sumber daya manusia Bimbinga dan Konseling merupakan kebutuhan mendasar yang harus ditata, disiapkan, dan dibina secara profesional oleh ABKIN dan LPTK. Salah satu usaha memperoleh kepercayaan dari masyarakat dalam layanan Bimbingan dan Konseling adalah menentukan dan mencapai standardisasi profesi konseling. Usaha untuk mencapai standardisasi profesi Konseling di Indonesia telah dilakukan dan terus akan direalisasikan, khususnya dimulai dengan peningkatan kompetensi konselor dalam profesionalisasi konseling. Standardisasi profesi konseling tidak hanya ditujukan pada pendidikan prajabatan konselor tetapi juga pada peningkatan profesi dari petugas bimbingan yang sudah berkarya di sekolah.
Kondisi yang perlu dikaji lebih mendalam dapat ditinjau dari kondisi internal dan kondisi ekstemal yang dialami petugas bimbingan dalam menjalankan tugas sehari-hari di sekolah. Sebutan atau nama petugas bimbingan di sekolah sampai saat ini berbeda-beda, antara lain guru BP, guru BK, konselor, guru pembimbing. Oleh karena belum ada kepastian yang jelas tentang sebutan ini maka dalam tulisan ini digunakan istilah guru pembimbing.
Kondisi internal antara lain latar belakang pendidikan, motivasi, kepribadian, penguasaan kompetensi konseling, komitmen karir petugas pembimbing di sekolah.
Kondisi ekstemal adalah kondisi pendukung dari lingkungan di sekolah, antara lain iklim kerja (perhatian kepala sekolah, hubungan kerja dengan staf guru, kebijakan sekolah), imbalan jasa, sarana yang tersedia. Kenyataan di sekolah ditemukan cukup banyak petugas bimbingan yang belum berperan melakukan profesi konseling sebagaimana diharapkan. Kinerja petugas bimbingan umumnya jauh dari rnemenuhi standar kualitas.
ISSN: 2721-5407 (Online) Jurnal SIPATOKKONG BPSDM SULSEL Volume 2 Nomor 3 (Juli – September) Tahun 2021 Paradigma bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan psiko-pendidikan dalam bingkai budaya. Artinya, pelayanan bimbingan dan konseling berdasarkan kaidah- kaidah keilmuan dan teknologi pendidikan serta psikologi yang dikemas dalam kajian terapan pelayanan bimbingan dan konseling yang diwarnai oleh budaya lingkungan peserta didik (Zainal Aqib, 2012).
Perkembangan gerakan bimbingan di indonesia
Selama perkembangannya sejak awal sampai dewasa ini terdapat beberapa peristiwa penting yang menjadi tonggak-tonggak sejarah perkembangan bimbingan dan konseling di indonesia, yatu:
a. Tahun 1971
Berdirinya pronyek perintis sekolah pembangunan (PPSP) pada delapan IKIP, yaitu IKIP pandang, IKIP jakarta, IKIP bandung, IKIP yogyakarta, IKIP Malang, IKIP surabaya, dan IKIP malang. Melalui proyek itu, pelayanan bimbingan dan konseling ikut dikembangkan.
Setelah beberapa kali lokakarya yang dihadiri oleh beberapa pakar pada waktu itu, berhasil disusun buku “pola dasar rencana dan pengembang bimbingan penyuluhan pada proyek perintis sekolah pembagunan. Selanjutnya buku ini dimodifikasi menjadi buku
“pedoman operasional pelayanan bimbingan pada proyek-proyek perintis sekolah pembangunan.
b. Tahun 1975
Lahir dan berlkunya kurikulum sekolah menegah umum yang disebut kurikulum SMA 1975 sebagai pengganti kurikulum sebelumnya (kurikulum 1968). Kurikulum 1975 memuat beberapa pedoman pelaksanaan kurikulum tersebut, yang salah satu di antaranya adalah buku pedoman bimbingan dan penyuluhan.
c. Tahun 1975
Diadakannya konvensi nasional bimbingan I di malang. Konvernsi ini berhasil menelurkan beberapa keputusan penting, yaitu:
1. Terbukanya organisasi profesi ikatan petugas bimbingan indonesia (IPBI)
ISSN: 2721-5407 (Online) Jurnal SIPATOKKONG BPSDM SULSEL Volume 2 Nomor 3 (Juli – September) Tahun 2021 2. Tersusunnya D/ART IPBI,kode etik jabatan konselor, dan program kerja IPBI
periode 1976-1978. Selanjutnya konversi ini diikuti oleh beberapa kali konversi dan kogres, yang diadakan secara berturut-turut di salatiga, semarang, bandung,yogyakarta, denpasar, dan padang.
d. Tahun 1978
Diselenggarakannya program PGSLP dan PGSLA bimbingan dan penyuluhan sebagai suatu upaya pengangkatan tamatan jurusan BP yang telah dihasilkan oleh IKIP tetapi belum ada jatah jabtannya, di samping untuk mengisi kekosongan jabatan guru bimbingan disekolah. Agaknya tamatan program-program itulah yang pertama kali diangkat sebagai konselor atau guru bimbingan di sekolah.
e. Tahun 1989
Lahirnya surat keputusan menteri pendayagunaan peraturan negara No.
026/Menpan/1989 tentang angka kredit bagi jabatan guru dalam lingkungan depertemen pendidikan dan kebudayaan. Di dalam komponen tersebut ditetapkan secara resmi adanya kegiatan pelayanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah. Disamping itu disinggung pula adanya pengaturan kenaikan pangkat jabatan guru pembimbing, kendatipun tidak begitu tegas.
f. Tahun 1989
Lahirnya undang-undang republik indonesia No. 2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional, undang-undang ini selanjutnya disusul dengan lahirnya peraturan pemerintah (PP) No.28 dan 29 yang secara tegas mencatumkan adanya pelayanan bimbingan dan konseling pada satuan-satuan pendidikan (masing-masing Bab X Pasal 25, Bab X Pasal 27).
g. Tahun 1991 s.d. 1993
(1) Dibentuk divisi-divisi dalam IPBI, yaitu:
Ikatan pendidikan konselor indonesia (IPKON)
Ikatan guru pembimbing indonesia (IGPI)
Ikatan sarjana konseling indonesia (ISKIN)
ISSN: 2721-5407 (Online) Jurnal SIPATOKKONG BPSDM SULSEL Volume 2 Nomor 3 (Juli – September) Tahun 2021 (2) Diperjuangkan oleh IPBI jabatan fungsional tersendiri bagi petugas bimbingan disekolah. Diyakini apabila jabatan fungsional tersendiri itu terwujud, maka upaya profesionallisasi pelayanan bimbingan dan konseling akan lebih terjamin untuk dapat terlaksana dengan berhasil.
Pengembangan pekerjaan menjadi suatu profesional biasanya tidak sekaligus jadi. Demikian juga untuk mengembangkan pelayanan bimbingan dan konseling menjadi pekerjaan profesional memerlukan upaya-upaya tersebut, bahkan perjuangan.
Perumusan unjuk kerja profesional merupakan upaya pokok untuk memberikan pedoman tentang hal-hal apa saja yang harus dilakukan oleh seorang konselor profesional dalam memberikan jasa kepada sasaran layanannya. Pembinaan dan poengembangan unjuk kerja tersebut sampai benar-benar dikuasai oleh (calon) konselor diselenggrakn melalui progrm pendidikan konselor, baik pendidikan prajabatan maupun jabatan (Priyanto, 1999).
Istilah Penyuluhan Dan Konseling
Pelaksanaan bimbingan dan konseling telah dirintis sejak tahun 1960-an dan dilaksanakan secara serempak di sekolah sejak tahun 1975, yaitu saat diberlakukannya kurikulum 75. Pada saat itu istilah yang diperkenalkan dan dipergunakan adalah Bimbingan dan Penyuluhan (BP). Istilah tersebut pada akhirnya memunculkan suatu sebutan bagi pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan di sekolah dengan sebutan guru BP.
Perkembangan dunia bimbingan dan konseling di Indonesia mengalami proses yang berliku, hingga pada tahun 1994, melalui kurikulum 1994, istilah Bimbingan dan Penyuluhan mulai diganti dengan istilah Bimbingan dan Konseling (BK). Perubahan mendasar dari istilah “penyuluhan” menjadi “konseling” didasari pada paradigma bahwa konselor tidak melakukan penyuluhan yang mempunyai konotasi sebagai pekerja lapangan (mis: penyuluh pertanian atau penyuluh KB), tetapi lebih pada usaha membantu klien/siswa sesuai dengan karakter siswa yang bersangkutan. Siswa lebih dihargai untuk dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. Dengan demikian, istilah guru BP dirubah menjadi guru BK (Prayitno, 1999). Istilah konseling dalam buku ini digunakan untuk menggantikan istilah “penyuluhan” yang selama ini menyertai kata bimbingan, yaitu
ISSN: 2721-5407 (Online) Jurnal SIPATOKKONG BPSDM SULSEL Volume 2 Nomor 3 (Juli – September) Tahun 2021 dan penyuluhan dalam arti “pembinaan masyarakat” seolah-olah berlomba dan saling mempertahankan keberadaan masing-masing.
Sejak tahun 1980-an, gerakan bimbingan mulai digalakkan dengan penggunaan istilah konseling. Para pemakai istilah ini sengaja memakainya untuk benar-benar menampilkan pelayanan yang sebenarnya dari usaha yang dimaksudkan itu. Lebih jauh,pemakaian istilah konseling juga dimaksudkan untuk menggantikan istilah penyuluhan yang ternyata sudah dipakai secara lebih meluas untuk pengertian yang lebih bersifat non konseling. Digalakkannya penggunaan istilah konseling itu menimbulkan semacam dua “aliran” dalam gerakan bimbingan di tanah air, yang pertama ingin tetap mempertahankan istilah bimbingan dan penyuluhan, sedangkan yang lain berkehendak memakai istilah bimbingan dan konseling.
Istilah baru secara meluas dan memasyarakat. Jalan tengah yang kedua ialah dengan membagi dua tingkat pelayanan bimbingan. Untuk tingkat sekolah dasar dan menengah dipakai istilah bimbingan dan penyuluhan, dan untuk perguruan tinggi dipakai istilah bimbingan dan konseling. Jalan tengah kedua ini tidak tepat. Pertama, karena pelayanan bimbingan untuk siswa-siswi sekolah dasar/menengah dan mahasiswa pada dasarnya tidak berbeda. Pengertian,prinsip,asas dan aspek- aspeknpenyelenggarannya pada dasarnya sama, yang berbeda hanyalah penyesuaian terhadap mereka yang dilayani.
Pelayanan terhadap anak- anak, remaja,pemuda dan juga orang yang dilayani itu.
Penyesuaian pelayanan ini sudah dengan sendirinya merupakan salah satu variasi kompetensi seorang konselor. Kedua, jika untuk siswa-siswa sekolah dasar dan sekolah menengah dipakai istilah “penyuluhan” dan untuk mahasiswa dipakai istilah “konseling”, istilah apa yang dipergunakan untuk masyarakat umum atau mereka yang berada di luar lingkungan sekolah? Untuk ini tidak ada jawaban yang dapat diberikan (Priyanto, 1999).
Profesi Konselor
Profesi adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian. Syarat-syarat suatu profesi:
ISSN: 2721-5407 (Online) Jurnal SIPATOKKONG BPSDM SULSEL Volume 2 Nomor 3 (Juli – September) Tahun 2021
• Memerlukan persiapan profesional yang dalam dan bukan sekedar latihan.
• Memerlukan latihan dalam jabatan yang berkesinambungan.
• Menjanjikan karir hidup dan keanggotaan yang permanen.
• Mementingkan layanan di atas keuntungan pribadi.
• Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
• Menentukan baku standarnya sendiri, dalam hal ini adalah kode etik.
Konselor adalah seorang yang mempunyai keahlian dalam melakukan konseling.
Yang berlatar belakang pendidikan minimal sarjana setara 1 (S1) dari jurusan bimbingan dan Konseling , atau Bimbingan Penyuluhan. Mempunyai organisasi profesi bernama Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia (ABKIN). Melalui proses sertifikasi, asosiasi ini memberikan lisensi bagi para konselor tertentu sebagai tanda bahwa yang bersangkutan berwenang menyelenggarakan konseling dan pelatihan bagi masyarakat umum secara resmi. Konselor bergerak terutama dalam konseling di bidang pendidikan, tapi juga merambah pada bidang industri dan organisasi, penanganan korban bencana, dan konseling secara umum di masyarakat. Khusus bagi konselor pendidikan yang bertugas dan bertanggungjawab memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada peserta didik disatuan pendidikan sering disebut Guru BP/BK atau Guru Pembimbing. Jadi, profesi konselor adalah seseorang yang memiliki keterampilan dan keahlian dalam bidang konseling yang berlatar belakang pendidikan minimal S1 bimbingan dan konseling.
Modal dasar untuk memahami profesi bimbingan dan konseling secara formal o Menempuh program studi S-1 Bimbingan dan Konseling,
o Mempelajari berbagai upaya pengembangan yang dilakukan organisasi bimbingan dan konseling
o Mempelajari Undang-Undang / Peraturan/Keputusan Pemerintah yang terkait dengan profesi bimbingan dan konseling.
Upaya Memahami Lebih Lanjut Terhadap Profesi Bimbingan dan Konseling Secara Formal:
o Menempuh Pendidikan Profesi Konselor
o Menempuh Studi Lanjut S-2 dan S-3 Bimbingan dan Konseling
ISSN: 2721-5407 (Online) Jurnal SIPATOKKONG BPSDM SULSEL Volume 2 Nomor 3 (Juli – September) Tahun 2021 o Melakukan Penelitian Bidang Bimbingan dan Konseling (Akhmad Sudrajat,
2013).
Komitmen guru pembimbing terhadap karir
Komitmen karir yang diukur terdiri dari tiga komponen yaitu orientasi karir, komitmen jabatan, dan komitmen profesional. Untuk mendapatkan gambaran mengenai gradasi komitmen guru pembimbing terhadap karimya dibuat klasifikasi menjadi empat tingkatan yaitu tinggi dan jelas, cukup, kurang, dan tidak. Tiap tingkatan terdiri dari 25%
rentang skor maksimal sampai skor minimal dari tiap komponen komitmen karir. Hasil penelitian menunjukkan hampir seluruh subjek penelitian (90%) memiliki komitroen terhadap karir sebagai pembimbing. Berdasarkan kategori tinggi pada ketiga komponen diketahui pada umumnya guru pembimbing lebih banyak yang memiliki komitmen profesional (82%) daripada orientasi karir (62%) dan komitmen jabatan (54%). Hal ini menunjukkan adanya usaha untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan dengan berbagai kegiatan ilmiah dalam pengembangan profesinya sebagai guru pembimbing.
Hasil penelitian menunjukkan hampir seluruh subjek penelitian (90%) memiliki komitmen terhadap karir sebagai pembimbing. Berdasarkan kategori tinggi pada ketiga komponen diketahui pada umumnya guru pembimbing lebih banyak yang memiliki komitmen profesional (82%) daripada orientasi karir (62%) dan komitmen jabatan (54%).
Hal ini menunjukkan adanya usaha untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan dengan berbagai kegiatan ilmiah dalam pengembangan profesinya sebagai guru pembimbing.
Persepsi terhadap imbalan jasa
Imbalan jasa yang diterima dapat berasal dari faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik.
Persepsi terhadap imbalan jasa dibedakan atas eropat klasifikasi yaitu positif, cukup positif, kurang positif, dan tidak positif. Tiap klasifikasi terdiri dari 25% rentang skor maksimal dan skor minimal dari tiap faktor tersebut.
Pengakuan Personal Dan Promosi Terhadap Konselor
Pengakuan personal yang dimaksudkan disini adalah pengakuan terhadap ciri
ISSN: 2721-5407 (Online) Jurnal SIPATOKKONG BPSDM SULSEL Volume 2 Nomor 3 (Juli – September) Tahun 2021 Berwawasan luas, Menyayangi anak, Sabar dan bijaksana, Lembut dan baik hati, Tekun dan teliti, Menjadi contoh, Tanggap dan mampu mengambil tindakan, Memahami dan bersikap positif terhadap pelayanan bimbingan dan konseling,
Mempunyai modal profesional. Yang menyatakan bahwa konselor memiliki ciri personality yang baik. 9 selain itu juga pengakuan terhadap guru pembimbing adalah bagian integral dari pendidikan, dicantumkan dalam dalam UU Sisdiknas 2003.
Pengakuan promosi terhadap konselor dapat berarti pengakuan terhadap kinerja konselor yang kemudian dapat diakui dan dikenal kesetiap sekolah bahwa keberadaan konselor atau guru BK itu juga diperlukan di dalam dunia pendidikan atau sekolah.
Benntuk promosi dan konseling dapat berupa pengetahuan dan kesadaran terhadap peserta didik dari bahaya narkoba bagaimana cara seorang konselor dapat memberi pengarahan.
PENUTUP
Selama perkembangannya sejak awal sampai dewasa ini terdapat beberapa peristiwa penting yang menjadi tonggak-tonggak sejarah perkembangan bimbingan dan konseling di indonesia, Pengembangan pekerjaan menjadi suatu profesional biasanya tidak sekaligus jadi. Perumusan unjuk kerja profesional merupakan upaya pokok untuk memberikan pedoman tentang hal-hal apa saja yang harus dilakukan oleh seorang konselor profesional dalam memberikan jasa kepada sasaran layanannya. Pembinaan dan pengembangan unjuk kerja tersebut sampai benar-benar dikuasai oleh (calon) konselor diselenggarakan melalui program pendidikan konselor, baik pendidikan prajabatan maupun jabatan. Perubahan mendasar dari istilah “penyuluhan” menjadi “konseling”
didasari pada paradigma bahwa konselor tidak melakukan penyuluhan yang mempunyai konotasi sebagai pekerja lapangan (misi: penyuluh pertanian atau penyuluh KB), tetapi lebih pada usaha membantu klien/siswa sesuai dengan karakter siswa yang bersangkutan.
Siswa lebih dihargai untuk dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. Dengan demikian, istilah guru BP dirubah menjadi guru BK.
Profesi adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian. Jadi, profesi konselor
ISSN: 2721-5407 (Online) Jurnal SIPATOKKONG BPSDM SULSEL Volume 2 Nomor 3 (Juli – September) Tahun 2021 berlatar belakang pendidikan minimal S1 bimbingan dan konseling. Komitmen karir yang diukur terdiri dari tiga komponen yaitu orientasi karir, komitmen jabatan, dan komitmen profesional. Untuk mendapatkan gambaran mengenai gradasi komitmen guru pembimbing terhadap karimya dibuat klasifikasi menjadi empat tingkatan yaitu tinggi dan jelas, cukup, kurang, dan tidak.
Imbalan jasa yang diterima dapat berasal dari faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik.
Persepsi terhadap imbalan jasa dibedakan atas eropat klasifikasi yaitu positif, cukup positif, kurang positif, dan tidak positif. Tiap klasifikasi terdiri dari 25% rentang skor maksimal dan skor minimal dari tiap faktor tersebut.
Pengakuan personal yang dimaksudkan disini adalah pengakuan terhadap ciri personal yang harus dimiliki oleh guru pembimbing diantaranya adalah : Berwawasan luas, Menyayangi anak, Sabar dan bijaksana, Lembut dan baik hati, Tekun dan teliti, Menjadi contoh, Tanggap dan mampu mengambil tindakan, Memahami dan bersikap positif terhadap pelayanan bimbingan dan konseling, Mempunyai modal profesional.
Yang menyatakan bahwa konselor memiliki ciri personality yang baik. Pengakuan promosi terhadap konselor berupa pengakuan terhadap kinerja konselor yang mana memperkenalkan konselor atau guru bk sangat diperlukan dibidang pendidikan atau sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Prayitno, Amti, Erman, 1999. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.
Priyanto, 1999. Dasar-dasar Bimbingan & Konseling. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Zainal Aqib, 2012. Ikhtisar Bimbingan & Konseling di sekolah. Surabaya: Yrama Widya.
akhmadsudrajat.files. wordpress.com/2013/03/peran-profesibimbingan-dan-konseling- dalam-implementasi-.(diunduhtanggal02mei2013)
http://tsanawiyahnlengkongnganjuk-njk.sch-id.net/informasi-2903.html (diunduhtanggal02mei2013)
http://konselorindonesia.blogspot.com/2010/11/kode-etik-konselorindonesia.
html(diunduhtanggal02mei2013)