9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian TerdahuluPradipta dan Firdaus, (2014) Menganalisis tentang “Posisi Daya Saing Dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ekspor Buah-Buahan Indonesia”. Tujuan dari penelitian ini adalah bagaimana posisi daya saing ekspor buahi-ibuahaniIndonesia di negaraitujuaniutamaiekspor danidunia, faktori-ifaktor yangimemengaruhi ekspor buahi-ibuahan Indonesia, dan strategi yang dapat mendukung keberhasilan untuk meningkatkan dayaisaing buahi-ibuahan Indonesia di pasar internasional. Pada penelitian ini, digunakan metode analisis kuantitatifiRCA dan EPDiselama 2003 – 2012 untukiimenganalisis keunggulaniikomparatifiidaniikompetitif, sedangkani metode kuantitatif Gravity Model digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhiiekspor buahi-ibuahaniIndonesia ke negara tujuanidigunakan.
Variabel dependen modelimangga, manggis, rambutan, pisang, dan melon menggunakanivolumeiekspor. Analisis metode RCA menunjukkan bahwa ekspor mangga, manggis, dan jambu ke dunia memiliki rata-rata nilai RCA terbesar (1,008), sedangkan pisang memiliki daya saing terendah denganiratai-irataiRCA sebesar 0,14. Kuatnya daya saing mangga, manggis, dan jambu didukung dengan nilai dan volume ekspor yang cenderung meningkat setiap tahunnya. Pertumbuhan nilai dan volume ekspor tertinggi pada buah mangga, manggis, dan jambu tercapai pada tahun 2012, yaitu sebesar 60,49% dan 52,76%. Daya saing ekspor stroberi, nanas, melon dan semangka serta pisang Indonesia ke dunia tergolong masih lemah, daya saing yang lemah pada ekspor stroberi disebabkan oleh penurunan nilai ekspor yang cukup signifikan pada tahun 2004 menjadi 95.050 dollar dibanding ekspor di
10
tahun sebelumnya yang mencapai nilai ekspor sebesar 4.961.308 dollar.
Secara keseluruhan, daya saing mangga, manggis, dan jambu Indonesia yang memiliki daya saing rendah berada pada negara tujuan Jepang, Jerman, AS, Itali, Switzerland, Belanda, Saudi Arabia, Perancis, Vietnam, India, dan Oman. Hasil estimasi EPD, ekspor mangga, manggis, dan jambu Indonesia ke negara-negara tujuan berada pada posisi pasar yang sudah cukup baik (rising star).
Ekspor pisang Indonesia selama tahun 2003–2012 memiliki kecenderungan daya saing yang rendah secara komparatif pada sebagian besar negara tujuan. Potensi terbesar ekspor pisang Indonesia berada di Malaysia dan Iran, sedangkan peluang terkecil berada di AS dan Jepang dengan rata-rata nilai RCA hanya mencapai 0,0002 dan 0,0007. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor - faktor
yang memengaruhi ekspor buah Indonesia ke negara tujuan yaitu harga ekspor, populasi, jarak ekonomi, GDP riil dan perikapita, nilai tukar riil indeks
harga konsumen Indonesia, dan variabel dummy krisis yang terjadi di Eropa. (Pradipta dan Firdaus, 2014). Penelitian pada jurnal tersebut memiliki beberapa perbedaan yaitu dari jumlah variabel yang digunakan lebih banyak, model analisis yang digunakan tidak hanya menggunakan RCA tetapi terdapat tambahan model analisis yang lain.
(Firdaus dan Silalahi, 2008) menganalisis tentang “Posisi Bersaing Nanas dan Pisang Indonesia di Pasar Dunia” yang bertujuan untuk mengetahui konsentrasi pasar nenas dan pisang dunia serta menganalisis posisi bersaing nenas dan pisang Indonesia dibanding pesaingnya di pasar dunia. Metode yang di gunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan analisis konsentrasi pasar dengan perhitungan herfindahl index (HI) dan Formula RCA untuk menganalisis keunggulan
11
komparatif. Perhitungan Herfindahl Index (HI) nenas menunjukkan bahwa pada tahun 1996 – 1999 komoditas nenas di dunia memiliki tingkat konsentrasi pasar tinggi. Tahun 2000 – 2005 pasar komoditas nenas di dunia memiliki tingkat konsentrasi sedang. Pada tahun 2006 pasar nenas dunia memiliki tingkat konsentrasi tinggi. Pada tahun 2006 data hanya diperoleh dari 15 negara pengekspor
nenas saja. Perhitungan Herfindahl Index (HI) komoditas pisang menunjukkan bahwa tahun 1996 - 2006 pasar komoditas pisang di dunia memiliki tingkat konsentrasi pasar tinggi. Pada tahun 1997–2005 pasar komoditas pisang dunia memiliki tingkat konsentrasi pasar sedang. Rasio konsentrasi yang ditunjukkan dengan nilai CR4 dan CR8 memperlihatkan kecenderungan empat negara produsen terbesar pisang menguasai lebih dari 40 persen pangsa pasariselamaiperiode 1996 – 2006. Pasar pisangiduniaididominasiioleh negara Ekuador Kostarika, Kolombia dan Filipina.
Indeks RCA Indonesia menunjukkan bahwa belum memiliki keunggulan komparatif dalam perdagangan nenas di pasar dunia. Nilai indeks RCA dari ekspor nenas Indonesia selama periode 2001 – 2005 bernilai kurang dari 1. Analisis dari teori Berlian Porter menunjukkan faktor internal dan eksternal yang dapat meningkatkan daya saing kompetitif nenas Indonesia adalah: ketersediaan sumber daya alam; kondisi permintaan dalam negeri yang tercukupi; belum optimalnya keberadaaan industri – industri penangkar benih/bibit dan perusahaanipengolahan nenas sertaiadanyaikelompokitani/gapoktanidalamimenghadapiipersaingan. Pada kondisi eksternal, belum maksimalnya dukungan pemerintah dalamimemanfaatkan peluangieksporiyang potensialiseperti pada negara Jepang yangimengandalkan pasokaninenas dari negara Thailand dan Filipina.
12
AnalisisiRCAipisangiIndonesia selamaiperiodei2001 – 2005ibernilaiikurang dari 1, faktori-ifaktor internalidariiteoriiBerlianiPorter juga hampirisama dengan yang tejadi pada industri nenas. Tetapiiterdapatitantanganipengembangan ke depan lebih besar untuk pisangikarenaiancamaniseranganipenyakitisepertiilayuifusarium dan darahi (blood diseases). Dari kondisi eksternal, peran pemerintah belum terlihat maksimal dalam memanfaatkan peluang eksporiyangipotensial sepertiiAmerika Serikat yangimengimporipisang sebesar 27,30 persenidariitotal eksporidunia serta pasariTimuriTengahiyangibelumidigarap dengan baik. (Firdaus dan Silalahi, 2008). Perbedaan pada penelitian ini yaitu pada metode analisis herfindal Indeks (HI) untuk mengukur konsentrasi pasar dunia, sedangkan pada metode analisis RCA juga memiliki jumlah dan variabel yang berbeda.
Hasibuan, Nurmalina dan Wahyudi, (2012) menganalisis tentang “Analisis
Kinerja dan Daya Saing Perdagangan Biji Kakao dan Produk Kakao Olahan Indonesia di Pasar Internasional” yang bertujuan untuk untuk menganalisis kinerja
dan daya saing perdagangan biji kakao dan produk - produk kakao olahan Indonesia di pasar internasional. Analisis daya saing dilakukan dengan menggunakan pendekatan matematis terhadap ukuran daya saing komoditas di pasar internasional. Ukuran – ukuran daya saing yang digunakan adalah Revealed Comparative
Advantage (RCA), Indeks Spesialisasi Perdagangani (ISP), Export Product Dynam-ics (EPD), dan Constant Market Share Analysis (CMSA).
Hasil dari analisis RCA keunggulan komparatif perdagangan biji kakao sebagai negara eksportir biji kakao terbesar ketiga di dunia, Indonesia memiliki keunggulanikomparatif yang relatif bagus. Pada periode tahun 2001- 2010, rata-rata nilai RCA biji kakao Indonesia adalah 14,41. Namun, pada tahun 2009idan
13
2010 terjadi penurunan nilai RCA dibanding tahun 2008 karena peningkatan nilai ekspor biji kakao Indonesia relatif lebih lambat dibandingkan denganipeningkatan nilaiieksporibijiikakao dunia. Jika dibandingkan dengan eksportir utama biji kakao lainnya, keunggulan komparatif ekspor biji kakao Indonesia jauh di bawah Pantai Gading, Ghana dan Nigeria. Dalami10itahun terakhirinilai RCA pantai Gading dan Ghanaisangatitinggi sehingga menempatkan negara tersebut memiliki keunggulan komparatif yang sangat tinggi sebagai pengeksporibijiikakao. SedangkaniMalaysia yangiterusimengalami penurunaniproduksi kakaoidalam dua dasawarsa terakhir tidakimemilikiikeunggulan komparatif. (Hasibuan, Nurmalina dan Wahyudi, 2012). Penelitian pada jurnal tersebut meneliti daya saing komoditas kopi dengan beberapa metode dan hanya memiliki 1 metode yang sama digunakan pada penelitian yang sedang dilakukan penulis saat ini.
Asmara dan Artdiyasa, (2008) menganalisis tentang “Analisis Tingkat Daya Saing Ekspor Komoditi Perkebunan Indonesia” yang bertujuan untuk mengetahui tingkat daya saing ekspor komoditi perkebunan Indonesia dan posisi tingkat daya saing masing - masing komoditi. Penelitian ini juga membandingkan dan mengetahui hubungan tingkat daya saing ekspor komoditi perkebunan Indonesia dengan 4 negara ASEAN yaitu Malaysia, Philipina, Singapura dan Thailand. Metode Analisa daya saing yang digunakan adalah indikator Revealed Comparative
Advantage (RCA). Komoditi ekspor yang akan diteliti yaitu cengkeh, jahe, jambu
mete, biji jarak, biji kakao, kapas, pala-kapulaga, kayu manis, karet alam, kelapa, minyak sawit, kopi (green coffee), lada (white/long/black), panili, tebu, teh dan tembakau. Periode yang diteliti adalah tahun 1994 sampai 2003 atau selama 10 tahun. Negara yang diteliti meliputi Indonesia, Malaysia, Philipina, Singapura dan
14
Thailand. Penelitian ini menggunakan Spearman Rank Correlation untuk meneliti korelasi RCA antara Indonesia dengan negara ASEAN lainnya.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki tingkat daya saing tinggi dalam ekspor perkebunan dengan nilai rata-rata RCA dari 17 komoditi ekspor utama perkebunan sebesar 10,47. Peringkat lima besar komoditi dengan rata-rata nilai RCA tertinggi adalah minyak sawit (25,39), kayu manis (24,6), lada (23,26), kapulaga-pala (18,86) dan panili (17,46). Jika dibandingkan dengan 4 negara ASEAN lainnya, Indonesia memiliki tingkat daya saing tertinggi dalam ekspor perkebunan. Nilai rata-rata RCA masing-masing adalah 10.7 (Indonesia), 3.8 (Malaysia), 0.19 (Phillipina), -0.93 (Singapura) dan 2.32 (Thailand). Dari analisa Spearman Rank Correlation dapat disimpulkan bahwa nilai RCA Indonesia tidak memiliki korelasi dengan negara ASEAN yang diteliti. Hal tersebut menunjukkan bahwa secara umum ketiga negara yang diteliti (Thailand, Phillipina dan Malaysia) bukan merupakan pesaing bagi Indonesia.(Asmara dan Artdiyasa, 2008). Penelitian ini menganalisis daya saing menggunakan metode analisis RCA di negara negara ASEAN, yang menjadi pembeda dengan penelitian penulis yaitu pada negara tujuan dan juga komoditas yang diteliti adalah ekspor pada perkebunan sedangkan penelitian penulis yaitu pada komoditas pisang.
Baroh, (2014) yang menganalisis tentang “Indonesian Coffee
Competitive-ness in the International Market: Review from the Demand Side”. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk menganalisis daya saing kopi Indonesia di pasar domes-tik dan pasar internasional, dalam hal permintaan kopi Indonesia. Data deret waktu sekunder dari 1990 hingga 2011 digunakan untuk menganalisis daya saing kopi di dua pasar yang berbeda.
15
PendekataniRevealediComparativeiAdvantage (RCA) digunakaniuntuk menganalisisidaya saing di pasar domestik, sementara model Armington digunakan untuk menganalisis dayaisaingikopi Indonesiaidi pasarinternasional. Analisis RCA yang digunakan dirusmuskan sebagai berikut:
𝑅𝐶𝐴 = (𝑋𝐼𝐽 𝑋𝐽 ) / (
𝑋𝐼𝑊 𝑋𝑊) Dimana
XIJ : nilai ekspor Komoditas I negara J XJ : total nilai ekspor negara J
XIW : nilai ekspor Komoditas I dunia XW : total nilai ekspor dunia
Ketentuan dari RCA adalah nilai 1 merupakan garis pemisah antara keunggu-lan dan ketidak unggukeunggu-lan komperatif. Jadi jika nilai indeks RCA lebih besar dari 1, memperlihatkan bahwasanya daya saing produk tertentu disuatu negara memiliki daya saing yang cukup kuat terhadap produk yang diukur secara rata-rata. Se-dangkan indeks RCA lebih kecil dari 1 memperlihatkan tidak adanya daya saing produk tertentu disuatu negara tersebut berdasarkan indeks RCA, daya saing kopi Indonesia di antara 10 komoditas utama di pasar domestik berada di peringkat ke 6.
Sementara berdasarkan model Armington, kopi Indonesia menghadapi pesaing yang berbeda di setiap negara tujuan ekspor. Temuan ini menyiratkan bahwa Indonesia harus menjalin kerjasama dengan negara mitra serta negara-negara yang netral untuk bersaing dengan kopi dari pesaing. Di antara 10 perkebunan, ada 8 komoditas yang dianggap kompetitif di pasar domestik. Daya
16
saing komoditas kopi Indonesia berada pada peringkat 7. Delapan komoditas tersebut adalah arang pinang; karet; kelapa; lada; biji cokelat; kopi; dan teh. Sementara tembakau dan tebu dianggap sebagai komoditas yang tidak kompetitif. (Baroh, 2014). Persamaan pada penelitian ini terletak pada metode analisis yang sama – sama menggunakan analisis RCA, tetapi berbeda pada jumlah tujuan negara yang dianalisis dan komoditas yang digunakan yaitu sector perkebunan.
Mona, Kekenusa dan Prang, (2015) menganalisis “ Penggunaan Regresi Linear Berganda untuk Menganalisis Pendapatan Petani Kelapa Studi Kasus: Petani Kelapa Di Desa Beo, Kecamatan Beo Kabupaten Talaud “ Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis jumlah produksi buah kelapa, biaya, jumlah pohon kelapa, luas lahan dan jumlah anggota keluargaisecaraibersama-samaiapakah ada pengaruh signifikan terhadap pendapatanipetaniikelapa serta Mengetahui variabel bebas manakah yang memiliki pengaruh yang dominan terhadap pendapatan petani kelapa dan berapa besar pengaruh dari variabel tersebut terhadap pendapatan petani kelapa dengan menggunakan alatianalisisiregresiilinieriberganda.
Pada hasil penelitian dengan pengujian hipotesis menggunakaniujiiF diketahuiibahwaijumlah produksi buah kelapa, biaya, jumlah pohon kelapa, luas lahan, dan jumlah anggota keluargaisecaraibersama-samaiberpengaruh terhadap pendapatanipetani kelapa. Hal ini ditunjukkan dari nilai Fihitungisebesar 85,075 dengan angka signifikansi sebesar 0,000. Nilai koefisien determinasi gandaiyang dihasilkaniadalahi0,918 dan nilai adalahi0,907 atau 90,7%. Pada hasil analisis regresi linier berganda diperoleh bahwa yang memiliki pengaruh terhadap pendapatan petani kelapa adalah variabel jumlah produksi buah kelapa (X1) dan biaya (X2) dengan persamaan sebagai berikut: Y = 110373,477 + 680,423 – 0,214.
17
Berdasarkan persamaan di atas, variabel jumlah produksi buah kelapa memiliki nilai koefisien regresi sebesar 680,423 dengan nilai signifikansi 0,000. Sedangkan
variabel biaya memiliki nilai koefisien regresi sebesar 0,214 dengan nilai signifkansi sebesar 0,000. Nilai koefisien determinasi ganda yang dihasilkan adalah
0,918 dan nilai adalahi0,907 atau 90,7%. (Mona, Kekenusa dan Prang, 2015). Pada penelitian ini memiliki metode analisis yang sama yaitu regresi linier berganda, tetapi yang berbeda dengan penelitian penulis yaitu tujuan penelitian tersebut untuk mengetahui pengaruh terhadap pendapatan.
2.2 Kajian Pustaka 2.2.1 Pisang
Pisang merupakan tanaman buah berbentuk herba berasal dari kawasan di Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Tanaman ini kemudian menyebar ke Afrika (Madagaskar), Amerika Selatan dan Tengah. Di Indonesia, pisang merupakan sa-lah satu buah yang sangat populer di masyarakat karena mudah ditemukan dan tersedia dalam berbagai jenis, disamping harganya yang sangat terjangkau dan nilai gizinya yang sangat lengkap. Budidaya buah pisang saat ini tidak hanya dil-akukan secara sederhana hanya di pekarangan/kebun rumah, tetapi telah dildil-akukan secara intensif terutama pisang untuk keperluan ekspor. Menurut Prihatman (2000), pisang dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan jenis dan pemanfaa-tannya yakni: 1) pisang yang dimakan buahnya tanpa dimasak yaitu M.
paradisi-aca var sapientum, M. nana atau disebut juga M. cavendishii, M. sinensis,
misal-nya pisang ambon, susu, raja, cavendis, barangan dan mas; 2) pisang yang di-makan setelah buahnya dimasak yaitu M. paradisiaca forma typicaatau disebut juga M. paradisiaca normalis, misalnya pisang nangka, tanduk, dan kepok; 3)
18
pisang berbiji yaitu M. brachycarpa yang di Indonesia dimanfaatkan daunnya, misalnya pisang batu dan klutuk; 4) pisang yang diambil seratnya misal pisang manila (Bappenas, 2016).
Tanaman pisang saat ini sangat di perhitungkan. Pengembangan komoditas pisang bertujuan memenuhi kebutuhan akan konsumsi buah - buahan seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi dimana pisang merupakan sumber vitamin, mineral dan juga karbohidrat. Selain rasanya lezat, bergizi tinggi dan harganya relatif murah, pisang juga merupakan salah satu tanaman yang mempunyai prospek cerah karena di seluruh dunia hampir setiap orang gemar mengkonsumsi buah pisang (Komaryati, 2012).
Dilihat dari segi kesehatan buah pisang mengandung gizi cukup tinggi, kolesterol rendah serta vitamin B6 dan vitamin C tinggi. Zat gizi terbesar pada buah pisang masak adalah kalium sebesar 373 miligram per 100gram pisang, vitamin A 250-335 gram per 100 gram pisang dan klor sebesar 125 miligram per 100 gram pisang. Pisang juga merupakan sumber karbohidrat, vitaminn A dan C, serta mineral. Komponen karbohidrat terbesar pada buah pisang adalah pati pada daging buahnya, dan akan diubah menjadi sukrosa, glukosa dan fruktosa pada saat pisang matang (15-20 %) (Dame Y.A, Sartini B dan Setiado, 2015).
Pisang (Musa paradiaca L.) adalah salah satu komoditas unggulan yang dimiliki oleh Indonesia. Relatif besarnya produksi nasional dan luas panen dibandingkan dengan komoditas buah lainnya, menjadikan pisang merupakan tanaman unggulan di Indonesia. Namun, pengelolaan pisang masih sebatas
19
tanaman pekarangan atau perkebunan rakyat yang kurang dikelola secara intensif.(Tri Nur Hidayati, 2018) .
Pisang (Musa spp.) merupakan komoditas unggulan yang memberikan kontribusi paling besar terhadap produksi buah-buahan nasional. Produksi pisang Indonesia menduduki tempat ketujuh dunia dengan besaran 5,4 juta ton. Tingkat produktivitas pisang juga sangat tinggi dibandingkan sumber karbohidrat lainnya, sehingga dapat digunakan sebagai bahan pangan alternatif pengganti beras khususnya di daerah yang berlabel rawan pangan. Sebaran dari produksi pisang di Indonesia dengan sebaran produksi tertinggi berada di Pulau Jawa yang terdiri dari Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah yaitu sebesar 2.821.773 ton atau 52,6% dari total produksi pisang nasional (Nedha purnamaningsih, 2017). 2.2.2 Perdagangan Internasional
Perekonomian yang terjadi saat ini pada seluruh belahan dunia mengacu pada perekonomian terbuka, dimana setiap negara akan melakukan perdagangan antar negara atau perdagangan internasional. Suatu negara akan memanfaatkan keuntungan yang timbul dari adanya perdagangan internasional (gains from
trade). Sehingga dengan demikian, negara yang melakukan perdagangan
mengharapkan adanya peningkatan welfare atau kesejahteraan negara itu sendiri. Hal inilah menjadi tujuan dari suatu perdagangan internasional. Perdagangan internasional mendorong masing-masing Negara kearah spesialisasi dalam produksi barang di mana Negara tersebut memiliki keunggulan komperatifnya. Yang perlu diingat disini adalah spesialisasi itu sendiri tidak membawa manfaat kepada masyarakat kecuali apabila disertai kemungkinan menukarkan hasil produksinya dengan barang-barang lain yang dibutuhkan (Prasetia, 2012).
20
Teori perdagangan internasional dari Hecksher - Ohlin. Hecksher dan Ohlin berpendapat bahwa perdagangan internasional ditentukan oleh adanya perbedaan relatif dalam kekayaan alam sehingga terdapat perbedaan dalam harga faktor produksi antar negara, sehingga suatu negara akan membuat dan mengekspor barang yang menggunakan faktor produksi yang relatif berlimpah sehingga biaya produksi menjadi relatif lebih rendah dibandingkan dengan negara lain. Kaidah pokok atau teori cukup banyak dalam analisis ekonomi modern yang muncul dari abad keenam belas tersebut dengan topik memperdebatkan kebijakan-kebijakan perdagangan dan moneter internasional, namun sekarang ini, belum pernah terjadi sebelumnya, bidang studi ekonomi internasional menjadi begitu penting. Benefit dari terselenggaranya perdagangan internasional, baik dalam barang-barang maupun jasa, serta terus berkembangnya lalu lintas keuangan internasional, perekonomian setiap negara kini menjadi semakin terkait secara erat satu sama lain dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Kini, dalam waktu yang bersamaan, perekonomian dunia semakin sering bergejolak, suatu fenomena yang belum pernah terjadi pada dekade yang lalu. Fakta baru ini masih ditambah lagi dengan adanya berbagai perubahan di lingkungan internasional (international
environment), sehingga ilmu ekonomi internasional semakin menjadi perhatian
utama, baik itu dalam perumusan strategi perusahaan maupun dalam penyusunan kebijakan ekonomi nasional dari berbagai negara (Prasetia, 2012).
Menurut Hasoloan, (2013) Pedagangan luar negeri mempunyai pengaruh yang kompleks terhadap sector produksi di dalam negeri. Secara umum kita bisa menyebutkan empat macam pengaruh yang bekerja melalui adanya:
21 1. Spesialisasi produksi
2. Kenaikan “investasi surplus” 3. “Vent for Surplus”.
4. Kenaikan produktivitas.
Perdagangan bisa meningkatkan pendapatan riil masyarakat, akan tetapi sepesialiasasi tanpa perdagangan mungkin justru menurunkan kesejahteraan masyarakat. Tetapi apakah spesialisasi plus perdagangan selalu menguntungkan suatu negara. Dalam uraian diatas dapat menyimpulakan, bahwa CPF sesudah perdagangan selalu lebih tinggi atau setidak - tidaknya sama dengan CPF sebelum perdangangan. Ini berarti bahwa perdagangan tidak akan membuat pendapatan riil masyarakat lebih rendah, dan mungkin membuatnya lebih tinggi. Perhatikan bahwa analisa semacam ini bersifat “statik”, yaitu tidak memperhitungkan pengaruh-pengaruh yang timbul apabila situasi berubah atau berkembang, seperti yang kita jumpai dalam kenyataan. Perdagangan meningkat pendapatan riil masyarakat. Dengan pendapatan riil yang lebih tinggi berarti negara tersebut mampu untuk menyisihkan dana sumber-sumber ekonomi yang lebih besar bagi investasi (inilah yang disebut “investible surplus”). Investasi yang lebih tinggi berarti laju pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Jadi perdagangan bisa mendorong laju pertumbuhan ekonomi. Inilah inti dari pengaruh perdagangan internasional terhadap produksi lewat investible surplus. Menurut Adam Smith, perdagangan luar negeri membuka daerah pasar baru yang lebih luas bagi hasil - hasil di dalam negeri. Produksi dalam negeri yang semula terbatas karena terbatasnya pasar di dalam negeri, sekarang bisa diperbesar lagi. Sumber-sumber ekonomi yang semula menggangur (surplus) sekarang memperoleh saluran (vent)
22
untuk bisa dimanfaatkan, karena adanya daerah pasar yang baru. Inti dari konsep
“vent for surplus” adalah bahwa pertumbuhan ekonomi terangsang oleh terbukanya daerah pasar baru (Hasoloan, 2013).
2.2.3 Daya Saing
Istilah daya saing (competitiveness), meskipun setidaknya telah “diawali” oleh konsep keunggulan komparatif (comparative advantage) Ricardo abad 18, mendapat perhatian yang semakin besar terutama pada tiga dekade belakangan ini. Daya saing, satu dari sekian jargon yang sangat populer, tetapi tetap tidak sederhana untuk dipahami. Menurut Porter (1990), istilah daya saing sama dengan
competitiveness atau competitive. Sedangkan istilah keunggulan bersaing sama
dengan competitive advantage. Dengan demikian daya saing dapat bermakna kekuatan untuk berusaha menjadi unggul dalam hal tertentu yang dilakukan seseorang, kelompok atau institusi tertentu (Mahatama dan F., 2013).
Imawan, (2002) mengatakan Konsep daya saing umumnya dikaitkan dengan konsep comparative advantage, yakni dimilikinya unsur-unsur penunjang proses produksi yang memungkinkan satu negara menarik investor untuk melakukan investasi ke negaranya, tidak ke negara yang lain. Konotasi advantage di sini adalah situasi yang memungkinkan pemodal menuai keuntungan maksimal. Misalnya dengan menyediakan lahan murah, upah buruh murah, dan suplai bahan mentah produksi yang terjamin kontinyuitasnya dengan harga yang lebih murah dari pada harga yang ditawarkan oleh negara lain. Artinya, kekuatan modal dan keunggulan teknologi menjadi kunci penentu peningkatan daya saing (penjualan produk) satu negara. Sayang di saat bangsa-bangsa di dunia ini mulai menapaki era baru, negara-negara sedang berkembang (termasuk Indonesia) umumnya
23
lemah di kedua elemen terakhir ini. Melalui kelemahan ini kepentingan negara berkembang dikendalikan oleh kepentingan negara maju. Artinya dilihat dari sudut kepentingan negara sedang berkembang, konsep comparative advantage ini lebih tepat dibaca sebagai comparative disadvantage.
Daya saing ekspor suatu komoditas adalah kemampuan suatu komoditas untuk memasuki pasar luar negeri yang kemudian memiliki kemampuan untuk mempertahankan pasar tersebut. Daya saing suatu komoditas dapat diukur atas perbandingan pangsa pasar (market share) komoditi tersebut pada kondisi pasar
yang tetap. Daya saing merupakan kemampuan suatu komoditas untuk memberikan keuntungan secara terus - menerus dan kemampuan memperbaiki
pangsa pasar (market share). Oleh sebab itu pengukuran daya saing dapat dilakukan dengan pendekatan keuntungan dan pangsa pasar. Pengukuran daya
saing dapat juga dilihat dari rasio orientasi ekspor bersih yaitu perbedaan ekspor dan impor industri tertentu, yang diekspresikan sebagai persentase rata-rata produksi dan konsumsi domestik. Tanda pengukuran tersebut menunjukkan apakah industri tersebut merupakan net - exportir atau net-importir, dan ukuran absolut tersebut mengindikasikan kepentingan perdagangan secara relatif (Hagi dan Tety, 2012).
2.3.4 Konsep Keunggulan Komparatif
Teori keunggulan komparatif Ricardo disempurnakan oleh teori biaya imbangan (theory opportunity cost). Argumentasi dasar- nya adalah bahwa harga relatif dari komoditas yang berbeda ditentukan oleh perbedaan biaya. Biaya disini menunjukkan produksi komoditas alternatif yang harus dikorbankan untuk menghasilkan komoditas yang bersangkutan.
24
Teori Heckscer Ohlin tentang pola perdagangan menyatakan bahwa: Komoditi-komoditi yang dalam produksinya memerlukan faktor produksi (yang melimpah) dan faktor produksi (yang langka) diekspor untuk ditukar dengan ba-rang-barang yang membutuhkan faktor produksi dalam produksi yang sebaliknya. Jadi secara tidak langsung faktor produksi yang melimpah diekspor dan faktor produksi yang langka diimpor (Indraningsih, 2006).
2.2.5 Konsep Keungulan Kompetitif
Menurut Porter (1990) dalam Lestari Baso dan Anindita, (2018), suatu negara memperoleh keunggulan daya saing jika perusahaan tersebut kompetitif. Daya saing suatu negara ditentukan oleh kemampuan industri melakukan inovasi dan meningkatkan kemampuannya. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Keunggulan kompetitif akan dianalisis menggunakan Teori Berlian Porter atau lazim disebut Porter Diamond Theory.
Teori Berlian Porter menjelaskan bahwa ada 4 atribut yang berkaitan keunggulan kompetitif yaitu kondisi faktor, kondisi permintaan, Industri pendukung dan terkait serta Strategi, struktur dan persaingan antar industri (Lestari Baso dan Anindita, 2018).
2.3 Kerangka Pemikiran
Pisang merupakan tanamana buah asal Asia Tenggara termasuk Indonesia, Tanaman ini memiliki tingkat produksi cukup tinggi di Indonesia karena ke sesuaian lahan, iklim, dan sumber daya manusia. Pisang juga dikenal mudah berkembang di berbagai macam ketinggian, dari daerah yang berdataran rendah maupun daerah yang memiliki dataran tinggi. Pisang di Indonesia juga telah menembus pasar ekspor. Volume ekspor pisang di Indonesia dalam beberapa tahun
25
terakhir mengalami fluktuasi. Tetapi semakin tahun ekspor pisang Indonesia semakin membaik sejalan dengan produksi pisang di Indonesia.
Analisis yang akan dilakukan dengan menggunakan analisis Revealed
Com-parative Advantage (RCA). Metode ini digunakan untuk mengetahui kekuatan daya
saing komoditi pisang di pasar internasional. Penelitian ini juga akan menggunakan analisis regresi untuk melihat faktor – faktor yang mempengaruhi volume ekspor pisang Indonesia di 3 negara tujuan utama yaitu China, Arab Saudi, dan Jepang.
26
Gambar 1. Kerangka pemikiran. Keterangan :
Alat Analisis yang digunakan yaitu metode RCA dan Regressi Linier Berganda. Analisis Daya Saing
Pisang
Faktor – faktor yang mempengaruhi permintaan jumlah volume ekspor pisang di 3 negara tujuan
Ekspor
China Arab Saudi Jepang
RCA
1. RCA > 1 Daya Saing Kuat. 2. RCA ≤ 1 Daya Saing Lemah.
- Produksi pisang In-donesia (X1) - Pendapatan perkapita negara tujuan (X2) - Harga ekspor di negara tujuan (X3)
- - Volume Ekspor Pi-sang ke Negara Tujuan (Y)
Peningkatan Jumlah Ekspor pisang Indonesia di Negara tujuan
Regressi Linier Berganda
27 2.4 Hipotesis
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah serta urian kerangka pemikiran diatas maka dalam penelitian ini dapat diajukan hipotesis sebagi berikut: 1. Diduga faktor produksi pisang di Indonesia, pendapatan perkapita, harga ekspor
pisang, berpengaruh terhadap jumlah ekspor pisang di China.
2. Diduga faktor produksi pisang di Indonesia, pendapatan perkapita, harga ekspor pisang, berpengaruh terhadap jumlah ekspor pisang di Arab Saudi.
3. Diduga faktor produksi pisang di Indonesia, pendapatan perkapita, harga ekspor pisang berpengaruh terhadap jumlah ekspor pisang di Jepang.