• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) merupakan Lembaga Tinggi Negara yang memegang amanat konstitusi UUD 1945 untuk memeriksa pengelolaan dan tanggungjawab keuangan Negara/Daerah. Pelaksanaan pemeriksaan tersebut dijabarkan secara nyata dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara. Rencana Strategis BPK RI Tahun 2010-2015 menyatakan bahwa Pemeriksaan Keuangan Negara yang dilakukan BPK bertujuan untuk mendorong terwujudnya pengelolaan keuangan negara yang tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, ekonomis, efisien, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan; dan menghasilkan laporan hasil pemeriksaan yang bermanfaat dan sesuai dengan kebutuhan pemangku kepentingan.

Adapun objek pemeriksaan BPK adalah Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Lembaga Negara lainnya, Bank Indonesia, Badan Usaha Milik Negara/Daerah, Badan Layanan Umum, dan lembaga atau badan lain yang mengelola keuangan negara. Pelaksanaan pemeriksaan BPK tersebut dilakukan berdasarkan undang-undang tentang pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara, yang mencakup pemeriksaan keuangan, pemeriksaan kinerja, dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu.

Pelaksanaan pemeriksaan keuangan negara pada BPK dilakukan dengan penunjukan suatu Tim Pemeriksa melalui Surat Tugas Pemeriksaan. Suatu Tim Pemeriksa terdiri beberapa pemeriksa (selanjutnya disebut sebagai auditor) dengan jenjang jabatan tertentu, yaitu Penanggungjawab, Pengendali Teknis, Ketua Tim dan beberapa Anggota Tim. Adapun komposisi jumlah orang dan latar belakang pendidikan akan disesuaikan dengan tema dan ruang lingkup pemeriksaan serta karakter dari entitas yang diperiksa.

(2)

commit to user

Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam bentuk Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) yang berisikan rekomendasi atas simpulan maupun temuan pemeriksaan. Rekomendasi BPK adalah bentuk akhir dari hasil komunikasi yang terjadi dalam pemeriksaan antara tim pemeriksa dengan auditee. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara diatur bahwa semua rekomendasi BPK dapat ditindaklanjuti sepenuhnya oleh auditee dalam jangka waktu yang telah ditentukan, yakni maksimal 60 hari sejak LHP diterbitkan.

Dalam perkembangannya persentase tindaklanjut rekomendasi BPK saat ini masih cukup rendah. Data pada Ikhitisar Hasil Pemeriksaan Semester I Tahun 2014 BPK RI menunjukkan bahwa jumlah objek pemeriksaan sebanyak 495 pemerintah daerah provinsi/kabupaten/kota, jumlah temuan sebanyak 69.265 dan rekomendasi sebanyak 169.296 senilai Rp18,450 trilyun. Posisi tindak lanjut terakhir adalah sebanyak 85.441 rekomendasi atau 50,47% telah ditindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi, dan sisanya sebanyak 83.855 rekomendasi atau 49,53% belum/belum selesai/tidak dapat ditindaklanjuti. Dengan demikian hanya kurang lebih separuh rekomendasi yang ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah selaku auditee.

Persentase tindaklanjut rekomendasi BPK yang cukup rendah diatas mengindikasikan bahwa rekomendasi BPK sebagai hasil akhir proses komunikasi pemeriksaan belum sepenuhnya “dipahami” oleh Pemerintah Daerah selaku auditee. Dengan demikian rekomendasi belum dapat dilaksanakan sebagai bentuk perbaikan sistem pengendalian intern dan/atau

Sesuai Rekomendasi (50,47%) Belum Sesuai Rekomendasi (28,55%) Belum Ditindaklanjuti (20,94%) Tidak Dapat Ditindaklanjuti (0,05%) 50,47%

0,04%

28,55%

20,94%

Sumber: Olahan data IHPS BPK RI Semester I Tahun 2014

Gambar 1. Status Pemantauan Tindak Lanjut pada Pemerintah Daerah Periode 2010 sd 2014 (Semester I)

(3)

commit to user

sebagai bentuk pelaksanaan sanksi atas ketidakpatuhan terhadap perundang-undangan yang berujung pada peningkatan kualitas pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara oleh auditee. Sehingga pada tahap yang lebih lanjut dapat menimbulkan penilaian pemeriksaan BPK kurang efektif mencapai tujuannya.

Berangkat dari beberapa hal tersebut diatas, dalam dinamisasi kinerja yang terus berkembang, setiap auditor dalam Tim Pemeriksa melakukan pemeriksaan dengan mengemban nilai-nilai dasar BPK, yaitu independensi, integritas, dan profesional. Independensi berarti bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan dan tidak tergantung pada pihak lain, baik secara kelembagaan, organisasi maupun individu yang berkaitan dengan pekerjaan pemeriksaan. Selain itu dimaksudkan sebagai prinsip bebas nilai dalam sikap mental dan penampilan dari gangguan pribadi, ekstern, dan/atau organisasi yang dapat mempengaruhi independensi. Integritas adalah memiliki karakter mampu untuk untuk mewujudkan apa yang telah disanggupinya dan diyakini kebenarannya, dengan bersikap jujur, objektif, dan tegas dalam menerapkan prinsip, nilai dan keputusan. Sedangkan profesionalisme adalah menerapkan prinsip kehati-hatian, dan kecermatan, serta berpedoman kepada standar yang berlaku.

Sejalan dengan hasil penelitian Badjuri (2008), selain memiliki prinsip-prinsip dasar dalam melaksanakan tugas profesionalnya, seorang auditor juga harus memiliki kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi dengan pihak yang diaudit atau auditee. Pendapat tersebut dikuatkan oleh Halim (2008:65) yang menyatakan auditor juga harus dapat mengembangkan hubungan yang saling percaya dan saling menghargai dengan auditee, baik pada saat pemeriksaan maupun untuk masa yang akan datang dengan tetap menjaga independensi dan objektivitasnya.

Kemampuan interaksi dan mengembangkan hubungan dapat tercipta dengan adanya kemampuan komunikasi yang dimiliki auditor. Kemampuan komunikasi, khususnya komunikasi interpersonal penting karena dalam proses audit, seorang auditor senantiasa berhubungan dengan pihak yang diaudit (disebut sebagai auditee). Adapun hubungan antara auditor dengan

(4)

commit to user

auditee ini tentunya diarahkan pada suatu kerjasama agar proses audit dapat berjalan dengan lancar dan hasil yang dicapai sesuai dengan yang diharapkan kedua belah pihak.

Dalam beberapa jurnal internasional ditemukan hasil penelitian yang menyatakan kemampuan komunikasi auditor sangat mendukung pelaksanaan kegiatan audit, antara lain:

1. McKnight, C.A. dengan judul Characteristics of Relatively

High-Performance Auditors (2011) menjelaskan bahwa auditor dengan

kemampuan komunikasi dan interaksi yang baik cenderung akan memperluas standar dan prosedur pemeriksaan dan lebih pro aktif dalam pengendalian dan penilaian pemeriksaan. Yang mana selanjutnya mendukung kinerjanya dalam bidang pemeriksaan.

2. Bamber, E.M. dengan judul Auditors Identification with Their Clients and

its Effect on Auditors Objectivity (2007) menjelaskan bahwa keakraban

antara auditor dengan kliennya merupakan salah satu dari lima ancaman independensi. Namun demikian keakraban tersebut akan memberikan pemahaman klien secara lebih untuk merencanakan dan melaksanakan audit yang efektif dan efisien.

Pentingnya komunikasi sebagai salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh auditor dijabarkan dalam Serian Panduan: Wawancara dalam

rangka Pemeriksaan yang terbitkan oleh BPK RI. Dimana dinyatakan bahwa

selama proses pemeriksaan, komunikasi menjadi bagian yang selalu dilakukan mulai dari kegiatan perencanaan, persiapan, dan pelaksanaan pemeriksaan. Dengan menerapkan keterampilan berkomunikasi, pelaksanaan pemeriksaan akan berjalan dengan efektif dan efisien, antara lain dalam hal: 1. Memperoleh data dan informasi yang diperlukan dalam pengujian audit; 2. Mengendalikan dan mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan tim

pemeriksaan;

3. Meningkatkan mutu pemeriksaan; 4. Memperbaiki citra pemeriksa

(5)

commit to user

Berikut pernyataan dari pegawai teladan sekaligus pemeriksa BPK RI terkait kemampuan komunikasi sebagai salah satu faktor keberhasilan pemeriksaan yang dilakukannya:

“Salah satu tantangannya adalah kalau ketemu auditee yang susah

diminta data. Sebagai auditor, kita harus mampu

mengkomunikasikan, harus mampu menjelaskan dengan baik, dengan argumen-argumen yang tepat, sehingga auditee mau memberikan data yang kita butuhkan” (Herny Widiyasih, Warta BPK: Januari

2013)

“Salah satu kunci hubungan kerja yang baik dengan auditee adalah dengan membangun komunikasi yang baik dengan para auditee. Dengan begitu, hal ini memudahkan kami untuk meminta data. Jika kami meminta data yang diperlukan, auditee akan cepat merespon.”

(Ida Irawati, Warta BPK: Februari 2013)

Dengan adanya komunikasi interpersonal yang baik diantara auditor dan auditee, maka proses penyampaian informasi berupa data dokumenter maupun keterangan para pihak yang terkait akan terlaksana dengan baik. Selanjutnya auditor akan dapat menuangkan kondisi pemeriksaan dalam bentuk temuan pemeriksaan, baik yang bersifat positif maupun negatif, secara lengkap, sesuai kenyataan (faktual) dan dapat dipertanggungjawabkan. Pada tahapan lebih lanjut, berdasarkan temuan pemeriksaan yang baik tersebut, maka akan dapat dirumuskan rekomendasi yang tepat dari BPK kepada auditee untuk segera ditindaklanjuti. Sesuai tujuan pemeriksaan, maka tindak lanjut auditee ini harus diarahkan pada perbaikan/peningkatan pengelolaan dan tanggungjawab keuangan negara yang diselenggarakan auditee.

Kondisi pemeriksaan ideal diatas, dimana komunikasi interpersonal terjalin baik antara auditor dan auditee, tidak akan tercipta jika dalam interaksi awal keduanya memiliki hambatan komunikasi interpersonal. Hambatan komunikasi interpersonal yang terbesar dalam pemeriksaan adalah sikap tidak percaya yang dimiliki antara kedua belah pihak. Sikap tidak percaya tersebut akan menimbulkan ketidakpastian dalam pemeriksaan, dimana auditor dan auditee akan saling mempertanyakan posisi diri mereka dan lawannya dalam hubungan pemeriksaan tersebut.

Fisher (1987:2) menyatakan dalam proses komunikasi antar pribadi akan selalu mempengaruhi dan dipengaruhi oleh individu yang terlibat dalam

(6)

commit to user

komunikasi, yaitu: perasaan, emosi, kepercayaan, kepribadian juga termasuk pemahaman seseorang. Sedangkan Rahkmat dalam Psikologi Komunikasi (2015:41) menjelaskan bahwa kepercayaan memberikan perspektif pada manusia dalam mempersepsi kenyataan, memberi dasar bagi pengambilan keputusan dan menentukan sikap kepada objek sikap.

Ketidakpercayaan auditor terhadap auditee terbentuk karena adanya batasan profesionalnya, yakni skeptisme profesional serta ketentuan kode etik yang dimilikinya. Batasan profesional auditor tersebut seringkali menyebabkan adanya jarak antara auditor dengan auditee itu sendiri dan akhirnya menghilangkan unsur keakraban yang diperlukan dalam membina hubungan interpersonal dengan auditee. Selain itu auditor juga memiliki pandangan bahwa auditee tidak menyukai dan memiliki kecenderungan untuk menghindar dari pemeriksaan dengan cara mencicil dokumen/data yang diminta, tidak memberikan nomor telepon yang bisa dihubungi, tidak dapat ditemui/dipanggil, dan lain sebagainya yang mempersulit pelaksanaan prosedur pemeriksaan.

Sedangkan ketidakpercayaan auditee terhadap auditor terbentuk dari adanya persepsi dari auditee dan stereotipe tentang auditor yang justru menghambat kelancaran pemeriksaan, terutama dalam proses komunikasi diantara auditor dengan auditee. Persepsi auditee dan stereotipe auditor ini antara lain, bahwa pemeriksaan yang dilakukan BPK semata-mata hanya mencari-cari kesalahan; pemeriksaan BPK hanya merepotkan saja (contohnya dalam satu tahun anggaran pemeriksaan terhadap auditee Pemerintah Daerah bisa saja dilakukan oleh Inspektorat Propinsi, Inspektorat Kabupaten/Kota, Badan Pengawas Keuangan Pemerintah (BPKP), dan/atau BPK secara bergantian); auditor BPK punya motif lain (mencari keuntungan finansial) melalui temuan pemeriksaan; pemeriksa BPK tidak ramah, sok pintar dan sewenang-wenang; dan lain sebagainya.

Auditor seharusnya lebih memperhatikan auditee yang mana di dalam pikirannya memiliki pandangan bahwa tidak semua auditor mampu melakukan komunikasi yang efektif dengan auditeenya. Tidak tersampaikannya maksud seseorang atau tidak terpuaskannya komunikasi dari

(7)

commit to user

salah satu pihak akan menimbulkan kerugian. Menurut Liliweri dalam bukunya, komunikasi antar pribadi dapat diartikan sebagai kebutuhan untuk melakukan hubungan dengan orang lain, bilamana tidak terealisasi akan menghasilkan akibat yang tidak menyenangkan antar individu (Liliweri, 1994:137).

Gambaran audit dan hubungan antara auditor dengan auditee yang memiliki rasa tidak percaya satu sama lain ini tentunya berdampak pada kinerja pemeriksaan secara menyeluruh. Kerjasama yang baik antara auditor dengan auditee menjadi sulit dibangun karena bagi auditee yang memiliki pandangan demikian maka ia akan cenderung bersikap tertutup, defensif, tidak mau bekerja sama dan bahkan ada yang menghalangi/menghambat proses audit yang sedang dilaksanakan.

Salomon E. dalam Rahkmat (2015:42) menyatakan kepercayaan terbentuk oleh: pengetahuan, kebutuhan dan kepentingan. Pengetahuan dalam hal ini adalah jumlah informasi yang diterima oleh pihak terkait dari pihak lainnya. Dengan demikian ketidakpercayaan dapat dikurangi dengan adanya penerimaan informasi yang banyak dan relevan. Dari segi psikologi komunikasi (Rakhmat, 2015:120), dinyatakan bahwa makin baik hubungan interpersonal makin terbuka komunikator untuk mengungkapkan dirinya, makin cermat persepsinya tentang orang lain (komunikan) dan persepsi dirinya, sehingga makin efektif komunikasi yang berlangsung diantara komunikator dan komunikan.

Proses komunikasi yang efektif antara auditor dan auditee akan menciptakan suatu komunikasi dialogis, dimana pihak pemberi dan penerima kedua-duanya berperan sebagai komunikator, yaitu sebagai pemberi pesan sekaligus juga sebagai penerima pesan, dan sebagai penerima sekaligus sebagai pemberi. Dengan demikian auditor dan auditee berperan aktif dalam saling memberi dan menerima pesan, sehingga dapat meningkatkan pemahaman informasi di antara kedua belah pihak.

Saat dua orang berhubungan satu sama lain, mereka membentuk ikatan dan saling menghormati. Menciptakan hubungan-hubungan yang sukses adalah faktor penting dalam membangun hubungan. Sebagai kunci

(8)

commit to user

sukses hubungan auditor-auditee ini penting untuk mengetahui bagaimana hubungan yang mulai berkembang langsung dari percakapan pertama kali antara auditor dengan auditee. Untuk memastikan bahwa suatu hubungan dapat dibentuk, auditor perlu berhati-hati tentang bagaimana auditee memandang dia dan menilai dia dari komunikasi yang tidak hanya secara verbal tetapi juga nonverbal. Dengan menunjukan energi, antuasiasme, rasa hormat, empati, perhatian, pemahaman tentang isu-isu antar budaya dari awal. Auditor akan dapat memulai proses membangun hubungan yang sama dengan keahlian berkomunikasi yang merupakan kunci keterampilan praktek pemeriksaan.

Kondisi bagaimana auditor dan auditee melakukan komunikasi dalam konteks pemeriksaan sangat menarik untuk diteliti karena banyaknya pertimbangan dan persepsi yang melatarbelakanginya sebagaimana telah dijabarkan diatas. Dalam penelitian ini, penulis berusaha menjelaskan bagaimana cara auditor dan auditee mencari informasi satu sama lain dalam rangka mengurangi ketidakpastian hubungan yang terjadi karena adanya ketidakpercayaan para pihak dalam pelaksanaan pemeriksaan. Selain itu penelitian ini juga ditujukan untuk melihat model penerapan teori pengurangan ketidakpastian ini pada posisi auditor dan auditee yang berperan sebagai komunikator dan komunikan dalam pemeriksaan yang dilakukan BPK.

Jika dilihat dari sudut pandang ilmu komunikasi, penelitian ini mengambil elemen komunikasi yaitu percakapan dan hubungan, dimana baik auditor maupun auditee sama-sama saling bertukar informasi melalui percakapannya demi membina hubungan interpersonal yang baik. Adapun hubungan komunikasi antara auditor dengan auditee ini termasuk level dan bidang kajian komunikasi interpersonal (antar pribadi).

Penelitian mengenai bagaimana bentuk dan/atau proses hubungan interpersonal antara auditor BPK dengan auditee dalam konteks pemeriksaan keuangan negara belum pernah dilakukan. Sejauh ini penelitian terkait auditor BPK masih terbatas pada bidang manajemen sumber daya manusia dan bidang ekonomi akuntansi semata, seperti contohnya: Pengaruh Independensi,

(9)

commit to user

Profesionalisme, Struktur Audit, dan Role Stress terhadap Kinerja Auditor BPK RI Perwakilan Bali oleh I Gede Bandar Wira Putra (2010); Pengaruh Faktor-faktor skeptisisme profesional auditor terhadap pemberian opini (Studi Empiris pada Pemeriksa BPK RI Provinsi Jawa Tengah oleh Astri Bunga Pratiwi (2013); dan Identifikasi dan Perbedaan Karakteristik Kompetensi Audit: Auditor Pemerintah Ditinjau dari Pengalaman dan Gender oleh Indira Januarti (2012).

Sedangkan penelitian pada BPK RI terkait bidang komunikasi yang pernah dilakukan antara lain: Gaya Kepemimpinan di Humas BPK RI oleh Esti Adysti (2013), dan Tinjauan Kegiatan Komunikasi Horisontal dan Penggunaan Saluran Komunikasi di Divisi Humas Bagian Publikasi dan Layanan Informasi di Kantor Pusat BPK RI oleh Mayangsari Wilandini (2010).

Berangkat dari pemahaman akan konsep komunikasi interpersonal dan teori pengurangan ketidakpastian dalam hubungan interaksi auditor dengan auditee pada saat pemeriksaan yang dirasa oleh peneliti memiliki keunikan tersendiri yang belum pernah diteliti. Pemilihan lokasi penelitian yakni BPK RI Perwakilan Propinsi Jawa Tengah dikarenakan predikatnya sebagai kantor perwakilan termuda dan terbaik pada tahun 2014. Sedangkan Pemerintah Kota Surakarta dipilih karena merupakan salah satu entitas pemeriksaan BPK RI yang telah mendapatkan opini atas aporan Keuangan Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) selama tahun 2011-2014 berturut-turut. Diharapkan dengan kondisi kedua lokasi penelitian diatas dapat menyediakan gambaran komunikasi interpersonal antara auditor dengan auditee yang baik dalam suatu kegiatan pelaksanaan pemeriksaan keuangan daerah.

Berdasarkan penjelasan di atas, sebagai arahan dalam penelitian ini maka peneliti berupaya untuk mendeskripsikannya dalam sebuah penelitian dengan judul “KOMUNIKASI INTERPERSONAL DALAM PENGELOLAAN

KETIDAKPASTIAN AUDITOR- AUDITEE DALAM PEMERIKSAAN KEUANGAN DAERAH (Studi Kasus pada BPK RI Perwakilan Propinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kota Surakarta)”

(10)

commit to user

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka peneliti merumuskan permasalahan, yaitu:

1. Bagaimanakah pola dan karakteristik komunikasi interpersonal antara auditor BPK dengan auditee bendahara secara umum?

2. Bagaimana pola pengelolaan ketidakpastian komunikasi yang dilakukan oleh auditor BPK RI Perwakilan Propinsi Jawa Tengah dan auditee bendahara Pemerintah Kota Surakarta dalam suatu pelaksanaan pemeriksaan keuangan daerah?

3. Bagaimanakah peranan fasilitator pemeriksaan pada Pemerintah Kota Surakarta dalam pengelolaan ketidakpastian komunikasi pemeriksaan keuangan daerah oleh BPK RI Perwakilan Propinsi Jawa Tengah?

1.3 Tujuan Penelitian

Sejalan dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seperti apa pola dan karakteristik komunikasi interpersonal yang terjadi antara auditor BPK dengan auditee bendahara Pemerintah Daerah dalam suatu pemeriksaan keuangan daerah.

2. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk ketidakpastian/kecemasan komunikasi dan strategi yang diterapkan oleh auditor dan auditee dalam suatu pemeriksaan keuangan daerah. Kemudian bagaimana peranan fasilitator pemeriksaan dari Pemerintah Kota Surakarta sebagai pihak ketiga dalam pengelolaan ketidakpastian pemeriksaan BPK RI Perwakilan Propinsi Jawa Tengah tersebut.

1.4 Manfaat Penelitian A. Manfaat Teoritis

Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang karakteristik dan pola komunikasi interpersonal yang dilakukan oleh

(11)

commit to user

auditor dan auditee dalam mengurangi ketidakpastian dalam interaksi pemeriksaan yang dilakukan oleh BPK Perwakilan Propinsi Jawa Tengah. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pengembangan teori ketidakpastian yang dikembangkan oleh Charles Berger, sehingga dapat melengkapi dan menyempurnakan kelemahan yang ada dalam teori tersebut, terutama yang terkait dengan pembentukan interaksi awal hubungan interpersonal antara auditor dengan auditee.

B. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan penjelasan dan pemahaman secara praktis mengenai komunikasi interpersonal dalam pemeriksaan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran faktor pendukung dan penghambat yang mempengaruhi hubungan komunikasi interpersonal antara auditor dengan auditeenya. Gambaran ini akan selanjutnya akan dapat memberi pemahaman bahwa komunikasi yang terjalin antara auditor BPK Perwakilan Propinsi Jawa Tengah dan auditeenya tidak hanya sekedar komunikasi sosial biasa, namun adalah komunikasi yang membutuhkan teknik dan cara yang berbeda dalam penerapannya.

Referensi

Dokumen terkait

Namun kemudahan strategi penjualan ini ternyata masih belum dimanfaatkan oleh banyak pedagang kecil dan menengah, sehingga dibutuhkan pelatihan singkat untuk memahami strategi

Pada saat biji gandum melewati alat ini, biji gandum dipisahkan antara separation round grain (biji bulat) dan separation long grain (biji panjang). Hal ini dilakukan

Berikut merupakan salah satu contoh pengujian yang dilakukan pada aplikasi ARMIPA yaitu pengujian ketepatan titik lokasi pada peta dan kamera dengan markerless

Pada Ruang Baca Pascasarjan perlu dilakukan pemebersihan debu baik pada koleksi yang sering dipakai pengguna maupun

Menurut teori hukum Perdata Internasional, untuk menentukan status anak dan hubungan antara anak dan orang tua, perlu dilihat dahulu perkawinan orang tuanya sebagai

Pada perancangan alat Portable Lampu Emergency ini Intensitas cahaya matahari yang terbias pada solar cell mempengaruhi daya yang tersimpan pada baterai, dengan

Penyusunan LBP Kementerian Keuangan Tahunan Tahun Angggaran 2020 (Audited), mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 27 Tahun 2014 sebagaimana telah diubah dengan

Pendapatan masyarakat, memanfaatkan Tahura Djuanda sebagai sumber pendapatan masyarakat setempat yang bersumber dari wisatawan yang datang ke Tahura Djuanda. Pengeluaran