• Tidak ada hasil yang ditemukan

DIKTAT MATA KULIAH BAHASA INDONESIA. Disusun Oleh : Ruri Aditya Sari, M.Sc

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DIKTAT MATA KULIAH BAHASA INDONESIA. Disusun Oleh : Ruri Aditya Sari, M.Sc"

Copied!
67
0
0

Teks penuh

(1)

DIKTAT

MATA KULIAH BAHASA INDONESIA

Disusun Oleh : Ruri Aditya Sari, M.Sc

POLITEKNIK LP3I MEDAN

2016

(2)

TINJAUAN MATA KULIAH

NAMA MATA KULIAH : Bahasa Indonesia

SEMESTER : I

JUMLAH SKS : 2

METODE PEMBELAJARAN : Ceramah, Diskusi, Pembahasan Kasus, Evaluasi, Tugas Mandiri

DESKRIPSI SINGKAT :

Kemampuan dan keterampilan bahasa Indonesia merupakan syarat bagi mahasiswa Indonesia agar mampu mengutarakan pikirannya dan mampu menuangkan hasil pikirannya kedalam sebuah tulisan agar dapat dimengerti oleh pihak lain secara efektif. Melalui mata kuliah bahasa Indonesia diharapkan menjadikan mahasiswa memiliki keterampilan komunikasi yang tinggi.

Didasari oleh penugasan atas pengetahuan atas fungsi bahasa, ragam dan laras bahasa, ihwal diksi dan ihwal kalimat, paragraf, kalimat efektif, membaca dan berpikir ilmiah, penulisan karya ilmiah, teknik kutipan dalam penulisan makalah dan sistematika tugas akhir.

STANDAR KOMPETENSI :

Setelah mengikuti matakuliah ini mahasiswa mampu:

1. Memahami peran, fungsi dan ragam bahasa meliputi lisan maupun tulisan 2. Memahami Ihwal Diksi dan Ihwal Kalimat

3. Memahami Kalimat efektif

4. Memahami membaca dan berpikir ilmiah 5. Memahami penulisan karya ilmiah

6. Memahami teknik kutipan dalam penulisan makalah 7. Memahami sistematika tugas akhir

CAPAIAN PEMBELAJARAN :

1. Mampu berbahasa Indonesia yang baik dan benar

2. Mampu menghasilkan karya tulis ilmiah

(3)

DAFTAR ISI

Tinjauan Mata Kuliah Daftar Isi

BAB I PENGANTAR BAHASA ... 1

A. Arti Bahasa ... 1

B. Fungsi Bahasa ... 1

BAB II RAGAM BAHASA INDONESIA ... 3

A. Ragam Bahasa dan Laras Bahasa ... 3

B. Penulisan Ejaan dan Tanda Baca ... 4

BAB III IHWAL DIKSI DAN IHWAL KALIMAT ... 12

A. Ihwal Diksi ... 12

B. Ihwal Kalimat ... 15

C. Frasa... 16

D. Klausa ... 17

E. Kalimat ... 18

BAB IV PARAGRAF ... 20

A. Pengertian ... 20

B. Fungsi Paragraf ... 20

C. Syarat-Syarat Paragraf ... 20

D. Jenis-Jenis Paragraf ... 21

BAB V KALIMAT EFEKTIF ... 27

A. Pengertian Kalimat dan Kalimat Efektif ... 27

B. Persyaratan Kalimat Efektif... 27

BAB VI MEMBACA DAN BERPIKIR ILMIAH ... 37

BAB VII PENULISAN KARYA ILMIAH ... 44

A. Pengertian Karya Ilmiah ... 44

B. Ciri-Ciri Karya Ilmiah ... 44

C. Syarat Menulis Karya Ilmiah ... 46

D. Jenis Karya Ilmiah ... 47

E. Tahap-Tahap Penulisan Karya Imliah ... 49

F. Contoh Artikel Ilmiah ... 51

BAB VIII TEKNIK KUTIPAN DALAM PENULISAN MAKALAH .. 60

A. Kutipan Tidak Langsung ... 60

B. Kutipan Langsung... 60

C. Format Kutipan dalam Penulisan Makalah ... 60

BAB IX SISTEMATIKA PENULISAN TUGAS AKHIR ... 62

DAFTAR PUSTAKA

(4)

BAB I

PENGANTAR BAHASA

A. Arti Bahasa

Budaya, masyarakat dan bahasa merupakan entitas yang erat terpadu. Bahasa adalah sarana komunikasi dalam menyampaikan ide dan perasaan secara lisan dan tulisan. Sistem lambang bunyi ujaran dan lambang tulisan digunakan untuk berkomunikasi dengan sesama manusia. Bahasa yang baik dikembangkan oleh pemakai berdasarkan kaidah yang tertata dalam suatu sistem.

B. Fungsi Bahasa

Fungsi bahasa yang adalah sebagai fungsi ekspresi dalam bahasa, fungsi komunikasi dalam bahasa, fungsi adaptasi dan integrasi dalam bahasa dan fungsi kontrol sosial (direktif dalam bahasa). Keraf (2000) menyatakan terdapat beberapa fungsi tambahan bahasa yaitu fungsi lebih mengenal kemampuan diri, fungsi lebih memahami orang lain, fungsi belajar mengamati dunia, fungsi mengembangkan proses berpikir yang jelas, fungsi mengembangkan atau mempengaruhi orang lain, fungsi mengembangkan kemungkinan kecerdasan ganda, fungsi membentuk karakter diri, fungsi membangun dan mengembangkan profesi diri dan fungsi menciptakan berbagai kreativitas baru (Widodo, 2005).

1. Fungsi ekspresi diri

Fungsi ekspresi saling terkait dalam aktifitas dna interaktif individu, menyatakan sesuatu yang akan disampaikan pembicara sebagai menarik perhatian orang lain, membebaskan diri dari semua tekanan dalam diri seperti emosi, melatih diri untuk menyampaikan suatu ide dengan baik dan menunjukkan keberanian menyampaikan ide.

2. Fungsi Komunikasi

Komunikasi tidak akan berwujud tanpa dimulai dengan ekspresi diri, hal ini karena komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi. Komunikasi tidak tercapai bila ekspresi tidak diterima.

3. Fungsi Integrasi dan Adaptasi Sosial

Bahasa digunakan sebagai sarana menyatakan hidup bersama dalam suatu ikatan, dengan kata lain bahasa berkorelasi dengan kekuatan orang lain dalam integritas sosial. Bahasa digunakan sebagai alat pemersatu atau alat untuk menyusaikan diri dengan lingkungan.

4. Fungsi Kontrol Sosial

(5)

Bahasa bermaksud mempengaruhi perilaku dan tindakan orang dalam masyarakat, sehingga seseorang terlibat dalam komunikasi dan dapat saling memahami. Melalui kontrol sosial, bahasa mempunyai relasi dengan proses sosial suatu masyarakat seperti penerus tradisi, keahlian bicara, indentifikasi diri, dan penanam rasa keterlibatan pada masyarakat bahasanya.

Bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan, bahasa nasional, bahasa negara dan bahasa standar. Fungsi bahasa persatuan adalah sebagai pemersatu suku bangsa, sedangkan fungsi bahasa nasional adalah fungsi sebagai jati diri bangsa. Fungsi bahasa negara adalah bahasa yang digunakan dalam administrasi negara untuk berbagai aktivitas.

Soal Mandiri :

1. Jelaskan mengapa bahasa daerah tidak dapat digunakan sebagai bahasa pemersatu ?

2. Jelaskan hubungan antara bahasa, komunikasi dan budaya !

(6)

BAB II

RAGAM BAHASA INDONESIA

A. Ragam Bahasa dan Laras Bahasa

Ragam Bahasa adalah variasi bahasa yang terbentuk karena pemakaian bahasa yang dibedakan berdasarkan media yang digunakan topik pembicaraan dan sikap pembicaranya.

Indonesia memiliki ragam bahasa yang banyak, hal ini karena pertimbangan kepentingan dan perhitungan konteksnya.

1. Ragam Bahasa Berdasarkan Situasi Pemakaiannya

Ragam bahasa terdiri dari tiga bagian berdasarkan situasi pemakaiannya yaitu ragam bahasa formal, semiformal atau nonformal. Ragam bahasa formal memperhatikan beberapa kriteria agar menjadi resmi yaitu kemantapan dinamis dalam pemakaian kaidah sehingga tidak kaku, penggunaan fungsi – fungsi gramatikal secara konsisten, penggunaan bentuk kata secara lengkap dan tidak disingkat, penggunaan imbuhan (afiksasi) secara eksplisit dan konsisten dan penggunaan ejaan yang baku. Pembeda ragam bahasa formal dan nonformal adalah pada penggunaan kata sapaan dan kata ganti (contoh; saya diganti gue), penggunaan imbuhan (afiksasi), awalan (prefiks, contoh; mengopi - ngopi), akhiran (sufiks, contoh; laporan – laporin), gabungan awalan dan akhiran (simulfiks, contoh; menemukan – nemuin) dan imbuhan terpisah (konfiks, contoh; kesalahan – nyalahin).

2. Ragam Bahasa Berdasarkan Mediumnya

Ragam bahasa berdarakan mediumnya terdiri atas ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis. Ragam bahasa lisan adalah bahasa yang dilafalkan langsung oleh penuturnya kepada teman bicara dan ditentukan oleh intonasi dalam pemahaman maknanya. Contohnya, a) semut/

gigit gajah mati, b) semut gigit// gajah mati, c) semut gigit gajah/ mati.

Sedangkan ragam bahasa tulis adalah ragam bahasa yang ditulis atau dicetak dengan memperhatikan penempatan tanda baca dan ejaan yang benar, dapat bersifat formal, semiformal dan nonformal.

3. Ragam Bahasa Berdasarkan Waktunya

Berdasarkan waktu, sebuah bahasa akan dapat diperinci menjadi ragam bahasa lama

(kuno), ragam bahasa baru (modern), dan ragam bahasa kontemporer (bahasa terkini). Melalui

ragam bahasa lama dapat dilacak keberadaan dan makna sejumlah dokumen kuno, prasasti,

dan tulisan – tulisan yang ada dalam peranti yang masih sederhana. Sedangkan ragam bahasa

baru dimungkinkan terjadi inovasi – inovasi kebahasaan yang baru. Bahasa kontemporer

(7)

cenderung tidak peduli dengan pembedaan fungsi bahasa dalam kaitan dengan kedudukan bahasa.

4. Ragan Bahasa Berdasarkan Pesan Komunikasinya

Ragam bahasa berdasarkan pesan komunikasinya dapat dibedakan menjadi ragam bahasa ilmiah, ragam bahasa sastra, ragam bahasa pidato, dan ragam bahasa berita. Laras bahasa adalah kesesuaian antara bahasa dan fungsi pemakaiannya yang terkait langsung dengan selingkung bidang dan keilmuan.

Soal :

1. Jelaskan fungsi Bahasa Indonesia !

2. Jelaskan apakah yang dimaksud dengan hakikat dan fungsi bahasa !

B. Penulisan Ejaan dan Tanda Baca

Ejaan adalah keseluruhan pelambang bunyi bahasa, penggabungan dan pemisahan kata, penempatan tanda baca dalam satuan bahasa (Hasan, 2005). Ejaan adalah kaidarh cara menggambarkan bunyi dalam bentuk huruf serta penggunaan tanda baca dalam tataran wacana.

Cakupan bahasan ejaan berdasarkan konsepsi ejaan yaitu pemakaian huruf vokal dan konsonan, penggunaan huruf kapital dan kursif, penulisan kosakata dan bentuk akta, penulisan unsur serapan afiksasi dan kosakata asing dan penempatan serta pemakaian tanda baca.

1. Kaidah Penempatan Ejaan dalam Penulisan

Penulisan ejaan dan tanda baca diatur dalam kaidah masing – masing diantaranya pemakaian abjad, huruf vocal, huruf konsonan dan abjad, persukuan (pemisahan suku kata), penulisan hruuf besar, penulisan huruf miring, penulisan kata dasar, kata ulang, berimbuhan, gabungan kata, penulisan angka dan lambang bilangan, penempatan tanda baca (pungtuasi).

2. Penempatan Ejaan dan Tanda Baca

Penulisan ejaan dan tanda baca diatur dalam kaidah pemakaian abjad, persukuan, penulisan huruf besar, penulisan hruuf miring, penulisan kata dasar, penulisan angka dan lambang bilangan dan penempatan tanda baca. Penempatan tanda baca dideskripsikan dalam buku buku Pedoman PUEBI (Badan Pengembang dan Pembinaan Bahasa, 2016).

3. Pemakaian tanda titik (.)

a. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat pernyataan. Misalnya: Mereka duduk di sana.

b. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar. Misalnya: a. I. Kondisi Kebahasaan di Indonesia

A. Bahasa Indonesia

(8)

1. Kedudukan 2. Fungsi

Catatan: tanda titik tidak dipakai pada angka atau huruf yang sudah bertanda kurung dalam suatu perincian dan tidak dipakai di belakang angka atau angka terkahir dalam penomoran deret digital yang lebih dari satu angka dalam judul tabel.

Misalnya: 1) Bahasa Nasional yang berfungsi, antara lain, a) lambang kebanggaan nasional, b) identitas nasional

Tabel 1 Kondisi Kebahsaaan Tabel 1.1 Kondisi Bahasa Daerah

c. Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di antara nama penulis, tahun, judul tulisan (yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru), dan tempat terbit.

Misalnya:

Pukul 01.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik atau pukul 1, 35 menit, 20 detik) d. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannyayang

menunjukkan jumlah. Misalnya: Penduduk Kota Medan itu lebih dari 7.500.000 orang.

4. Tanda Koma (,)

a. Tanda Koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan. Misalnya: telepon, komputer, atau internet.

b. Tanda koma dipakai sebelum kata penghubung, seperti tetapi, melainkan dan sedangkan, dalam kalimat majemuk (setara). Misalnya: Ini bukan milik saya, melainkan milik ibu saya.

c. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimatnya. Misalnya: kalau diundang, maka saya akan datang.

d. Tanda koma dipakai sebelum dan/sesudah kata seru seperti o, ya, wah, aduh, atau hai, dan kata dipakai sebagai sapaan, seperti Bu, Dik, atau Nak. Misalnya: O, begitu?

e. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat. Misalnya: Kata nenek, “Kita harus berbagai dalam hidup ini.”

f. Tanda koma dipakai untuk memisahkan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka. Misalnya: Gunawan, B. 2016. Kamus Bahasa A. Jakarta:

Restu Agung.

(9)

g. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalan catatan kaki atau catatan akhir.

Misalnya: Sutan Takdir Alisjahbana, Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia, Jilid 2 (Jakarta: Pustaka Rakyat, 1950)., hlm. 25.

h. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan singkatan gelar akademis yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga. Misalnya: Sam, R.

i. Tanda koma dipakai sebelum angka desimal atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka. Misalnya: 12,5 m.

j. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan atau keterangan aposisi.

Misalnya: Soekarno, Presiden I RI, merupakan seorang pendiri Gerakan Nonblok.

k. Tanda koma dipakai di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimut untuk menghindari salah baca/salah pengertian.

5. Tanda Titik Koma (;)

a. Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara yang lain di dalam kalimat majemuk.

Misalnya: hari sudah malam; anak-anak masih membaca majalah.

b. Tanda titik koma dipakai pada akhir perincian yang berupa klausa. Misalnya: Syarat penerimaan pegawai ini adalah :

1) WNI;

2) Sarjana S1; dan 3) Berbadan sehat

c. Tanda titik koma dipakai untuk memisahkan bagian-bagian pemerincian dalam kalimat yang sudah menggunakan tanda koma. Misalnya: agenda rapat harini meliputi:

a) Pemilihan ketua, sekretaris, dan bendahara;

b) Pendataan anggota, dokumentasi, dan aset organisasi.

6. Tanda Titik Dua (:)

a. Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap diikuti pemerincian atau

penjelasan. Misalnya: Hanya ada dua pilihan bagi para pejuang kemerdekaan: hidup

atau mati.

(10)

b. Tanda titik dua dalam naskah drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan. Misalnya: Ibu: “Bawa koper ini, Nak!”

c. Tanda titik dua dipakai di antara (a) jilid atau nomor dan halaman, (b) surah dan ayat dalam kitab suci, (c) judul dan anak judul suatu karangan, serta (d) nama kota dan penerbit dalam daftar pustaka. Misalnya: Horison, XLIII, No. 8/2008: 8.

7. Tanda Petik (“...”)

a. Tanda petik dipakai untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain. Misalnya: “Merdeka atau Mati” seru Bung Tomo dalam pidatonya.

b. Tanda petik dipakai untuk mengapit judul sajak, lagu, film, sinetron, artikel, naskah, bab buku yang dipakai dalam kalimat. Misalnya: Film “Maju Tak Gentar”!

c. Tanda petik dipakai untuk mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus. Misalnya: “Tetikus” komputer sudah tidak berfungsi.

8. Tanda Seru (!)

Tanda seru dipakai untuk mengakhiri ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau emosi yang kuat.

Misalnya: Alangkah nyamannya ruangan ini ! 9. Tanda Tanya (?)

Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya atau dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya. Misalnya: Siapakah Pencipta Lagu “Nyiur Melambai”?

Monumen Nasional mulai dibangun pada tahun 1961 (?).

10. Terdapat lagi beberapa tanda baca seperti tanda pisah (-), tanda elipsis (...), tanda petik tunggal (‘..’), tanda kurung siku ([..]), tanda garis miring (/), dan tanda penyingkat (‘) yang digunakan dalam penulisan (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016).

Soal Kelompok :

1. Perbaikilah kalimat dibawah ini berdasarkan penempatan ejaan dan tanda bacanya ! Lurah Arogan di Delitua, Ibu Gendong Anak Didorong Hingga Terpental, “Siapa deking kau, kau tandai aku.” (Pos Metro, 2016).

Ulah lurah yang satu ini tak pantas ditiru. Akibat sikap arogannya, seorang istri guru

yang sedang menggendong bayinya terpental ke tanah. Parahnya, aksi itu terjadi di

(11)

depan warga dan murid-murid Sekolah Dasar (SD). Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 13.00 Wib, Jumat (26/8). Saat itu, lurah yang diketahui bernama Suyitno melakukan gotong royong bersama warganya di Kelurahan Suka Makmur Deli Tua, Deliserdang, Sumut. Di sela aktivitas tersebut, melintas sejumlah murid dari salah satu SD bersama guru mata pelajaran Pendidikan Jasmani (Penjas) bernama Irwansyah.Ternyata para murid itu baru saja pulang berenang dari kolam renang Istiqlal Patumbak Satu Kabupaten Deliserdang. Selain si guru Penjas tersebut, turut ikut istrinya, Lisa Rahayu (29) dan bayi mereka yang masih balita. Karena hari sudah menjelang siang, Irwansyah takut 13 murid yang di atas becak terlambat tiba ke sekolah. Sementara, murid-murid yang lain ada naik angkot.Sayangnya di tengah perjalanan terjadi kemacetan. Ternyata jalan macet itu terjadi karena Suyitno sedang melakukan gotong-royong bersama warganya.demi mengejar jam sekolah, Irwansyah pun meminta izin kepada Suyitno untuk memperbolehkan muridnya jalan. Tapi permintaan itu malah ditolak mentah- mentah oleh lurah Suka Makmur itu. Perdebatan pun terjadi antara si guru Penjas dan sang lurah. tak senang karena diajak berdebat, Suyitno mendorong Lisa Rahayu yang sedang menggendong bayinya di atas sepeda motor. Seketika Lisa terjatuh ke belakang bersama putri mungilnya.Bukannya minta maaf, Suyitno mengeluarkan kata-kata tak sedap. “Siapa deking kau, kau tandai aku,” cetusnya lurah Suka Makmur itu sambil menunjukkan bad namanya. Si guru Penjas tak mau terpancing emosi dan malah permisi untuk melanjutkan perjalanan bersama 13 muridnya yang ada di atas becak motor. Karena menurutnya yang terpenting, 70 orang anak didiknya itu tiba terlebih dahulu bisa tiba dengan selamat di sekolah. Setelah mengantarkan murid-muridnya kembali ke sekolah, Irwansyah datang ke Polsek Delitua untuk melaporkan perkara itu.

“Awalnya aku mau pulang sama 13 muridku. Aku naik motor, muridku naik becak. Di

tengah perjalanan, aku berdebat sama lurah Suka Makmur. Karena aku permisi biar

muridku ini bisa jalan duluan,” ungkap Irwansyah menceritakan kronologis naas yang

dialaminya itu.Sesampainya di Polsek Delitua, Irwansyah diarahkan SPKT Delitua

menuju ruang PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak). “Siapa deking kau, itu

katanya yang mendengung di kupingku. Seolah-olah negara ini tidak punya hukum

dibuatnya,” kata Irwansyah yang diamini Lisa.“Kami tadi ke PPA di Polsek Delitua,

tapi kata polisi itu aku disuruh bawa berobat anakku dulu. Besok akan kita mediasikan

dulu bang,” lanjut Irwansyah meniru perkataan Polsek Delitua.Sementara, Kapolsek

Delitua AKP Wira Prayatna SH.Sik yang dikonfirmasi membenarkan menerima

laporan tersebut. “Benar tadi ada datang guru SD bersama putrinya dan istrinya,” kata

(12)

Wira.Terpisah, Kadis Infokom Deliserdang, Drs. Haris Binar Ginting saat mintai tanggapan terkait kasus yang menimpa warga Desa Ajibaho, Kecamatan Biru-biru tersebut, mengatakan akan menindak tegas lurah Suka Makmur, Kecamatan Deli Tua itu. “Kalau memang begitu akan kita tegas,” ucap Haris, tadi malam sekitar pukul 22.15 Wib melalui telepon seluler. Menurutnya, tindakan tegas yang diberikan oleh pihak Pemerintah Kabupaten Deliserdang tak boleh tanggung-tanggung. Bila perlu Suyitno dipecat saja dari jabatannya sebagai lurah Suka Makmur. “Kita berhentikan, kita pecat dia jadi lurah,” tandasnya.

2. Todongkan Pisau ke Penumpang Angkot, Perampok Ini ‘Tamat’

(Sumber: Sumut Pos, 2016)

Maraknya aksi perampokan dengan kekerasan membuat masyarakat resah. Akibatnya,

para pelaku kejahatan yang ketangkap massa mau tak mau menjadi korban amukan

hingga babak belur, bahkan sampai menghilangkan nyawa.

(13)

Seperti yang dialami Dedy Sanjaya. Pria 23 ini ‘tamat’ setelah diamuk massa saat merampok penumpang angkot Morina Trayek 81 dengan mengunakan senjata tajam di Jalan KL Yos Sudarso, Maden Lama, Kecamatan Medan Belawan dan sepeda motornya ikut dibakar massa, Kamis (1/9) malam.

Warga yang menetap di Jalan Penghubung I Blok I Lingkuangan 3 P. Sicanang, Medan Belawan itu tewas meski sempat menjalani perawatan di RS Bhayangkara Medan.

Informasi diperoleh menyebutkan, malam itu pelaku bersama temannya telah merencanakan perampokan. Dengan menunggangi kereta jenis Yamaha Vega mengincar sasarannya.

Nah, ketika melihat seorang perempuan yang sedang menyetop angkot dan angkutan itu berhenti, pelaku langsung menodongkan pisau ke arah mangsanya tersebut. Seketika korban langsung berteriak ‘rampok, rampok’ hingga membuat kedua pelaku kebingungan dan laku tancap gas.

Ternyata, saat masih sekitar 50 meter dari lokasi arah ke Belawan melarikan diri, kedua pelaku terjatuh. Warga sekitar yang mengetahui aksi pelaku langsung mengejar.

Seorangnya berhasil kabur, sedangkan Dedy ditangkap. Tanpa ada aba-aba, massa menghakimi Dedy hingga babak belur.

Warga yang sudah terlanjur emosi lalu membakar sepeda motor pelaku. Tak berapa lama polisi pun datang. Dengan keadaan babak belur, Dedy langsung diamankan polisi sehingga tak sempat dibakar massa.

Malam itu juga, Dedy dibawa ke RS TNI AL untuk menjalani pengobatan. Lantas dievakuasi ke RS Bhayangkara Medan. "Kalau tak ada polisi, mungkin perampok itu sudah dibakar juga," kata warga di sekitar lokasi.

Setelah dirawat di rumah sakit, akhirnya, Jumat (2/9) siang, Dedy tewas. Pihak keluarga yang dihubungi langsung menjemput jenazah korban untuk disemayamkan ke rumah duka.

Kanit Reskrim Polsek Belawan, Iptu B Sebayang dikonfirmasi membenarkan kejadian itu dan pelakunya tewas. "Kasusnya sudah kita tangani, pelaku yang tewas sudah dibawa pulang keluarga," kata Sebayang.

Disinggung apakah korban yang dirampok sudah membuat laporan dan keluarga pelaku

keberatan, disebut belum menerima hal tersebut. "Untuk saat ini belum ada yang datang

dari korban maupun keluarga pelaku, yang jelas warga dan kepling sebagai saksi sudah

kita periksa," kata Sebayang.

(14)

Saat alamat rumah pelaku didatangi, ternyata dia tak lagi tinggal di alamat tersebut.

"Kurang tahu kami tinggal dimana sekarang, yang jelas kami dengar dia memang sering

merampok," kata pemuda di kawasan Canang.

(15)

BAB III

IHWAL DIKSI DAN IHWAL KALIMAT

A. Ihwal Diksi

Diksi adalah pilihan kata untuk mencapai komunikasi yang efektif dan efisien serta untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman dalam berkomunikasi. Terdapat beberapa peranti diksi yaitu:

1. Peranti Kata Berdenotasi dan Berkonotasi

Denotasi adalah kata yang tidak mengandung makna tambahan, contohnya ‘kursi’, kata kursi adalah sebuah peranti duduk dalam perkantoran, maka peranti untuk duduk itu disebut sebagai kursi. Sedangkan makna konotasi adalah makna kias, bukan makna yang sesungguhnya, maka sebuah kata bisa diartikan berbeda pada masyarakat yang satu dengan yang lainnya. Contohnya, ‘Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan...’ kata memanjatkan pada kalimat tersebut tidak memiliki arti sesungguhnya, namun memberikan makna kiasan.

2. Peranti Kata Bersinonim dan Berantonim

Kata sinonim artinya kata sejenis, sepadan, sejajar dan serumpun atau memiliki arti yang sama. Contohnya, kata ‘hamil’ dan ‘bunting’. Sedangkan antonim memiliki makna yang berlawanan, contohnya, kata ‘panas’ dan ‘dingin’.

3. Peranti Kata Bernilai Rasa

Diksi juga mengajarkan untuk menggunakan kata-kata yang bernilai rasa dengan cermat. Contohnya, kata ‘wanita’ dinilai lebih bernilai rasa daripada kata ‘perempuan’.

4. Peranti Kata Konkret dan Abstrak

Kata konkret adalah kata – kata yang menunjuk apda objek yang dapat dipilih, didengar, dirasakan, diraba atau dicium sehingga lebih mudah dipahami. Contohnya, kata ‘meja’.

Sedangkan kata abstrak adalah lebih menunjukkan pada konsep atau gagasan yang sering dipakai untuk mengungkapkan gagasan yang cenderung rumit, contohnya kata ‘pembodohan’,

‘kemiskinan’ atau ‘kepandaian’.

5. Peranti Keumuman dan Kekhususan Kata

Kata umum adalah kata yang perlu dijabarka nlebih lanjut dengan kata yang sifatnya

khusus utnuk mendapatkan perincian yang lebih baik, sehingga dirasa tidak tepat untuk

mendeskripsikan sesuatu karena memiliki akurasi yang rendah. Contohnya, banyak korban

banjir Jakarta yang diungsikan ke dataran yang lebih tinggi. ‘Banyak korban banjir’ merupakan

(16)

kata-kata umum yang memiliki akurasi yang rendah. Sedangkan kata khusus adalah kata yang jelas akurasinya, contohnya korban banjir sebanyak 50 orang yang terdiri dari 20 laki – laki dan 30 orang perempuran.

6. Peranti Kelugasan Kata

Kata yang lugas bermakna kata yang menjurus, tegas, lurus, apa adanya sekaligus ingkas dan tidak berbelit – belit. Contohnya, mengambil hak orang lain dapat diganti menjadi Korupsi.

7. Peranti Penyempitan dan Perluasan Makna Kata

Sebuah kata dikatakan mengalami penyempitan makna apabila didalam kurun waktu tertentu terjadi pergeseran makna dari awal yang luas ke makna yang sempit atau sangat terbatas. Contohnya, kata ‘biyung’ adalah julukan untuk seorang ibu (dalam bahas Jawa) mengalami penyempitan makna menjadi seorang pembantu rumah tangga. Sedangkan kata yang mengandung perluasan makna adalah jika dalam kurun waktu tertentu kata tersebut bergeser maknanya dari makna yang sempit menjadi lebih luas, contohnya, kata ‘ibu’ dulu memiliki makna orang tua perempuan, sekarang meluas menjadi semua wanita yang dewasa.

8. Peranti Keaktifan dan Kepasifan Kata

Dalam kerangka diksi yang dimaksudkan dengan kata – kata aktif adalah kata – kata yang banyak digunakan oleh tokoh masyarakat, sehingga kata tersebut menjadi aktif dan siap digunakan kembali. Sedangkan kata pasif, adalah kata yang sangat jarang digunakan.

9. Peranti Ameliorasi dan Peyorasi

Ameliorasi adalah proses perubahan makna dari yang lama ke yang baru ketika bentuk yang baru dianggap dan diarasakan lebih tinggi dan lebih tepat nilai rasa serta konotasinya dibandingkan dengan yang lama. Contohnya, kata ‘kakus’ berubah menjadi ‘kamar mandi’.

Sedangkan peyorasi adalah perubahan makna dari yang baru ke yang lama ketika yang lama dinilai lebih tinggi nilai rasa serta konotasinya.

10. Peranti Kesenyawaan Kata

Kesenyawaan kata atau idiomatis adalah kata yang sangat berhubungan erat satu dengan yang lainnya. Contohnya, ‘disebabkan oleh’, ‘sesuai dengan’.

11. Peranti Kebakuan dan Ketidakbakuan Kata

Peranti kebakuan membuat bahasa Indonesia semakin bermartabat. Contoh kata baku,

aktif, antre, bus, cabai. Sedangkan kata tidak baku contohnya, aktip, antri, bis, cabe.

(17)

Soal Mandiri :

1. Berikan 5 contoh untuk masing – masing peranti Diksi !

2. Buatlah kalimat dari contoh peranti – peranti Diksi !

(18)

B. Ihwal Kalimat 1. Kata

1.1 Verba

Verba adalah kata kerja yang diidentifikasikan dengan mencermati bentuk morfologisnya, mencermati perilaku sintaksisnya, dan mencermati perilaku semantisnya.

Berdasarkan ciri morfologisnya, verba dibagi keatas verba dasar, verba berafiks, verba reduplikasi (contoh, minum – minum), dan verba majemuk (contoh, naik haji). Sedangkan berdasarkan fungsinya verba terbagi keatas verba menduduki fungsi subjek (contohnya, Bekerja giat merupakan kewajiban di Era MEA), verba menduduki posisi keterangan (contohnya, Mereka sedang bertamsya dibelakang), verba menduduki posisi objek (contohnya, mereka sedang mengajar menulis dan membaca).

1.2 Adjektiva

Adjektiva disebut juga dengan kata sifat. Contohnya, cantik, murah hati, panjang tangan.

1.3 Nomina

Nomina disebut juga dengan kata benda, terbagi keatas nomina dasar (contohnya buku, meja, rumah) dan nomina turunan (contohnya, mendapat imbuhan ‘ke-‘, ‘per-‘, ‘pe-‘, ‘peng-‘,

‘-an’, ‘peng-an’, ‘per-an’ dan ‘ke-an’).

1.4 Pronomina

Pronomina disebut juga kata ganti yang terdiri atas pronomina persona (contohnya saya, aku, kami), pronomina penunjuk (contohnya, ini, itu, sini, sana), pronomina penanya (contohnya, mengapa, kenapa, bagaimana, yang mana, dari mana).

1.5 Numeralia

Numeralia adalah kata bilangan yang digunakan untuk menghitung jumlah dan sebuah konsep. Terdiri atas numeralia pokok tentu (contohnya, dua, tiga, seratus), numeralia pokok kolektif (contohnya, ketiga, berlima), numeralia pokok distributif (contohnya, setiap, tiap – tiap, masing – masing), numeralia pokok tak tentu (contohnya, berbagai, segenap, seluruh).

1.6 Adverbia

Adverbia adalah kata keterangan yang terdiri dari dua macam yaitu adverbia monomorfemis (contohnya, sangat, hanya, segera, agak, akan) dan adverbia polimorfemis (contohnya, jangan – jangan, lebih – lebih, mula – mula, mau tidak mau, tidak mungkin).

1.7 Interogativa

Kata yang berfungsi untuk meminta informasi tertentu kepada orang lain disebut

interogativa. Contohnya, siapa, berapa, mana, mengapa, dan kapan.

(19)

1.8 Demonstrativa

Demonstrativa adalah kata yang difungsikan untuk menunjukkan sesuatu yang berada di dalam atau di luar sebuah wacana. Contohnya, ini, itu, sana, situ, berikut, begitu.

1.9 Artikula

Artikula menunjuk pada gelar seperti ‘sri’, ‘sang’, ‘hang’, ‘para’, ‘si’.

1.10 Preposisi

Preposisi atau kata depan hadir di depan kata lain dalam kalimat yang berada di depan nomina, adjektiva, dan adverbial. Contohnya, ‘di’, ‘ke’, ‘dari’, ‘pada’, ‘demi’, ‘ke samping’,

‘ke dalam’ dan lainnya.

1.11 Konjungsi

Konjungsi adalah kata penghubung yang berfungsi untuk emnghubungkan entitas kebahasaan dalam sebuah kalimat dan digunakan untuk menghubungkan entitas kebahasaan pada kalimat yang satu dengan yang lainnya. Contohnya, ‘maka’, ‘dan’, ‘tetapi’, ‘sehingga’,

‘melainkan’ dan lainnya.

1.12 Interjeksi

Interjeksi adalah kata seru yang bertugas mengungkapkan rasa hati seseorang.

Contohnya, ‘syukur’, ‘nah’, ‘sialan’, ‘astaga’, ‘alhamdulillah’, dan lainnya.

1.13 Kategori Fatis

Kategori fatis adalah kata dalam sebuah kalimat yang bertugas untuk memulai, mempertahankan, dan mengukuhkan komunikasi. Contohnya, ‘dengan hormat’, ‘hormat kami’, ‘selamat siang’ dan lainnya.

C. Frasa

Frasa disebut juga dengan kelompok kata merupakan satuan gramatikal yang berupa gabungan kata dan gabungan kata bersifat nonpredikatif. Frasa dibedakan menjadi dua bagian yaitu frasa eksosentris dan frasa endosentris. Frasa eksosentris berfungsi sebagai keterangan, sedangkan frasa endosentris adalah frasa yang seluruh bagiannya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan perilaku salah satu komponen frasa. Berikut kategori frasa dan contohnya : 1. Frasa Nominal

Frasa nomina adalah frasa yang induknya terdiri dari nomina yang berupa adjektiva, verba, numeralia, demonstrativa dan pronominal sebagai penjelasnya. Contohnya,

‘kursi rotan’, ‘wanita cantik jelita’, ‘kawan seperjuangan’ dan lainnya.

(20)

2. Frasa Pronominal

Frasa Pronominal merupakan gabungan antara pronomina dan pronomina dengan insur lainnya seperti adjektiva, adverbial. Numeralia dan demonstrativa. Contohnya, ‘kamu itu’, ‘mereka berdua’, ‘saudara sekalian’, ‘kamu dan dia’.

3. Frasa Numeral

Frasa numeral adalah frasa gabungan antara numeralia dan unsur lainnya, contohnya

‘dua puluh’, ‘cetakan pertama’, ‘dua ekor’, ‘ribuan masalah’ dan lainnya.

4. Frasa Interogativa

Frasa interogativa merupakan frasa yang intinya interogativa, contohnya, ‘siapa dan apa’, ‘mengapa’, ‘bagaimana’ dan lainnya.

5. Frasa Verbal

Frasa verbal merupakan frasa gabungan antara verba dan verba, verba dengan adverbia atau lainnya. Contohnya, ‘pergi ke Jakarta’, ‘berangkat tidur’, ‘membuka persoalan’,

‘tidur dengan nyenyak’ dan lainnya.

6. Frasa Adjektiva

Frasa adjektiva frasa gabungan adjektiva dengan komponen lain seperti ‘panas terik’,

‘agak sulit’, ‘cantik sekali’ dan lainnya.

7. Frasa Demonstrativa

Frasa demonstrativa adalah frasa yang induknya demonstrativa. Contohnya, ‘sana’,

‘sini’, ‘ini’, ‘itu’.

8. Frasa Preposisional

Frasa preposisional mempunyai induk preposisi. Contohnya, ‘dari dan ke’, ‘dari’,

‘oleh’,’untuk’.

D. Klausa

Klausa merupakan gabungan kelompok kata yang terdiri dari subjek dan predikat.

Terdapat dua jenis klausa yaitu klausa pada kalimat majemuk setara dan klausa pada kalimat majemuk bertingkat. Contohnya,

klausa pada kalimat majemuk setara : saya dan ibu akan berangkat ke Solo.

Klausa pada kalimat majemuk bertingkat : kecelakaan itu terjadi akibat pengemudi

mengantuk.

(21)

E. Kalimat

Kalimat merupakan satuan bahasa terkecil yang berdiri sendiri, mempunyai intonasi akhir dan terdiri atas klausa serta digunakan untuk menyampaikan gagasan. Terdapat beberapa unsur pembentuk kalimat yaitu subjek, predikat, objek, pelengkap dan keterangan.

Kalimat dalam bahasa Indonesia dibedakan emnjadi dua yaitu kalimat tunggal (kalimat dasar) dan kalimat majemuk. Kalimat dasar hanya memiliki satu subjek dan satu predikat, contohnya; ‘Adik menangis di belakang rumah’

‘Ibu sedang memasak

‘Mereka tidak pernah merasa lelah’

Kalimat majemuk terbagi ke atas tiga jenis yaitu kalimat majemuk setara, kalimat majemuk bertingkat dan kalimat majemuk campuran. Untuk kalimat majemuk setara, konstruksi kalimatnya terdiri atas beberapa kalimat dasar yang digabungkan oleh kata penghubung, contohnya; ‘Adik sedan gmenangis, sedangkan Ibu sedang memasak di dapur’.

Sedangkan, kalimat majemuk bertingkat adalah memiliki konstruksi klausa yang satu dengan klausa lainnya tidak setara hubungannya. Contohnya, ‘Meskipun hujan deras, dia tetap berusaha datang’. Kalimat majemuk campuran memiliki konstruksi kalimat majemuk bertingkat dan kalimat majemuk setara. Contohnya, ‘karena persoalan belum selesai, maka diadakan rapat hingga hari berikutnya, dan juga diundang seorang yang berpengalaman’.

Soal Mandiri :

1. Jelaskan perbedaan antara kalimat, klausa dan frasa !

(22)

2. Berikan contoh lain klausa, frasa dan kalimat !

3. Jelaskan definisi diksi dan bagaimana kaitannya dengan gaya bahasa !

(23)

BAB IV PARAGRAF (Sumber : Dikti, 2013)

A. Pengertian

Paragraf adalah satuan bahasa yang lebih besar daripada kalimat yang mengemukakan pokok pikiran dan disampaikan dalam himpunan kalimat. Gagasan utama harus dijelaskan oleh gagasan bawahan sehingga dalam paragraf terdapat kalimat yang saling terkait. Kalimat yang berisi gagasan utama disebut juga dengan kalimat topik dan yang berisi gagawan bawahan adalah kalimat penjelas. Sebuah paragraf minimal terdiri dari tiga kalimat.

B. Fungsi Paragraf

Terdapat beberapa fungsi paragraf seperti paragraf memudahkan pemahaman dan pengertian dengan memisahkan satu tema dari tema yang lain dalam teks, paragraf juga merupakan wadah untuk mengungkapkan ide pokok pikiran secara tertulis, melalui paragraf juga harus memisahkan setiap unit pikiran sehingga tidak terjadi pencampuran, sehingga penulis tidak cepat lelah dalam menyeleaikan sebuah karangan dan temotivasi utnuk menyusun paragraf berikutnya. Paragraf dimanfaatkan sebagai pemabatas antara bab karangan dalam satu kesatuan.

Sedangkan fungsi paragraf bagi pembaca adalah untuk menegaskan dan memisahkan perhentian secara wajar dan formal, pembaca memahami gagasan utama dengan jelas, selain itu pembaca mudah untuk menikmati karangan secara utuh untuk memperoleh informasi penting. Paragraf juga dapat membuat pembaca merasa tertarik dan termotivasi cara penjelasan dalam paragraf selain dari kata – kata, gambar, bagan dan lainnya.

C. Syarat – Syarat Paragraf

Paragraf yang baik memiliki beberapa syarat yaitu:

1. Kesatuan yang kompak, semua kalimat harus mengemukakan satu tema yang jelas.

2. Antar kalimat dalam paragraf saling terkait dengan cara pengulangan kata kunci atau penggunaan kata penghubung yang tepat atau penggunaan kata ganti orang sebagai pengganti gagasan utama.

3. Menggunakan pengembangan paragraf sebagai penjelasan gagasan utama paragraf

4. Setiap paragraf mempunyai satu gagasan utama.

(24)

5. Penulisan memperhatikan kaidah satuan bahasa seperti ejaan, tanda baca, kalimat, diksi dan bentuk kata.

6. Penulisan paragraf harus memperhatikan teknis penulisan seperti sumber rujukan, kutipan, kurva dan lainnya.

7. Memperhatikan jenis – jnis paragraf pada posisi bagian karangan pendahuluan, isi dan kesimpulan.

8. Penulisan paragrah diawali dengan menjorok ke dalam, sejajar atau menekuk.

9. Penulis juga memperhatikan jumlah kata atau jumlah kalimat dalam sebuah paragraf yaitu kosakata paragraf antara 30 – 100 kata dan minimal mengandung tiga kalimat.

10. Jika uraian paragraf lebih dari 100 kata maka sebaiknya dibua tmenjadi 2 paragraf.

D. Jenis – Jenis Paragraf

Dalam karangan terdapat bermacam-macam jenis paragraph. Macam jenis paragraph tersebut jika diperhatikan dari berbagai sudut pandang. Berikut ini ditampilkan berbagai jenis paragaraf.

(1) Jenis paragraph diperhatikan dari satuan karangan, di antaranya;

(a) Paragraf pembuka yang terdapat pada awal karangan sebagai pengantar pokok pikiran penulis yang ditempatkan pada bagian pendahuluan.

(b) Paragraf isi adalah paragraph yang menguraikan pokok masalah dalam karangan, yaitu bagian isi atau uraian karangan.

(c) Paragraf penutup adalah paragraph yang menyimpulkan atau mengakhiri sebuah karangan,yaitu bagian penutup atau kesimpulan.

(2) Jenis paragraph diperhatikan dari sudut pandang sifat tujuan karangan, di antaranya:

(a) Paragraf eksposisi adalah paragraph yang menginformasikan atau memaparkan pokok masalah.

(b) Paragraf argumentative adalah paragaraf yang mengemukan suatu pikiran dngan alasanlogis.

(c) Paragraf deskriptif adalah jenis paragraf yang memerikan suatu suasana, area, dan benda.

(d) Paragraf naratif adalah jenis paragraf yang menceritakan suatu masalah.

(e) Paragraf persuasive adalah jenis paragraf yang mempengaruhi atau merujuk orang tentang sesuatu.

(3) Jenis paragraph diperhatikan dari posisi kalimat topik dalam paragraph,diantaranya:

(25)

(a) Paragraf deduktif adalah jenis paragraf yang menempatkan kalimat topik pada awal paragraph.

(b) Paragraf induktif adalahjenis paragraf yang menempatkan kalimat topik pada akhir paragraf.

(c) Paragraf deduktif - induktif adalah jenis paragraf yang menempatkan kalimat topik pada awal dan akhir paragraf.

(d)Paragraf ineratif adalah jenis paragraf yang meletakkan kalimat topik pada tengah paragraf.

(e) Paragraf tanpa kalimat topik adalah paragraf yang menyembangkan paragraf yang melebihi satu paragraf.

(4) Jenis paragraph diperhatikan dari cara atau metode pengambangan paragraph, di antaranya:

(a)Paragraf menerangkan, (b) Paragraf merinci, (c) Paragraf contoh, (d) Paragraf buktian, (e) ParagrafPertanyaan, (f) Paragraf perbandingan, (g) Paragraf sebab akibat

Dari ke-4 sudut paragraph di atas, paragraph darisudut pandang satuan karangan dan paragraph sudut pandang sifat tujuan karangan yang perlu dipahami lanjut. Setelah memerhatikan jenis- jenis paragrafdari berbagai sudut pandang, berikut ini akan dijelaskan Janis paragraf dari sudut pandang satuan karangan, yaitu paragraf pembuka, paragraf isi, dan paragraf penutup.

PARAGRAF PEMBUKA

Paragraf pembuka adalah paragraph yang mengawali sebuah penulisan karangan dengan mengantarkan pokok masalah dalam bagian pendahuluan karangan. Hal - hal yang harus diperhatikan dalam menyusun paragraf pembuka karangan.

(1) Paragraf itu berfungsi mengantar pokokmasalah karangan.

(2) Paragraf ini sanggup menyiapkan pikiran pembaca pada pokok masalah yang akan dijelaskan.

(3) Kata-kata dalam paragraf ini hendaknya menarik perhatian pembaca, sehingga

mudah memahami pokok masalah yang akan diuraikan.

(26)

(4) Kalimat dan paragraf dalam bagian ini tidak terlalu panjang karena paragraf belum menguraikan.

PARAGRAF ISI

Paragraf isi atau paragraf pengembang adalah jenis paragraf yang berfungsi menuraikan atau memperjelas pokok masalah yang akan diuraikan dalam karangan. Uraian pokok masalah dalam paragraf ini dapat disampaikan dengan berbagai metode pengembangan dan menampilkan hal - hal teknis uraian dalam karangan ilmiah. Hal – hal yang diperhatikan dalam jenis paragraf ini diantaranya:

(1) mengemukakan pokok masalah dengan jelas dan eksplisit.

(2) Perlu dijaga keserasian dan kelogisan antarparagraf.

(3) pengambangan paragraph dapat menggunakan jenis paragraph ekspositoris, argumentative, deskriptif, dan naratif.

(4) memperhatikanhalteknis penulisan seperti kutipan, sumber kutipan, penggunaan bagan diagram grafik kurfa.

(5) menyiapkan uraian pokok masalah yang disentesiskan sebagai bahan paragraf kesimpulan.

PARAGRAF PENUTUP

Paragraf penutup merupakan pernyataan kembali gagasan yang diuraikan atau merupakan jawaban pertanyaan yang terdapat pada paragraf pembuka. Paragraf ini merupakan akhir sebuah karangan yang dapat disampai secara horisontal dan vertikal dalam rincian. Hal - hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan paragraf penutup ini, antara lain:

1) Paragraf ini tidak boleh terlalu panjang dan tidak begitu saja memutuskannya.

2) Paragraf ini ditampilkan sebagai cerminan sebuah kesimpulan.

3) Paragraf ini harus mendapat kesan positif dan informasi 4) pengetahuan yang logis dan kondusif.

5) Paragraf ini dapat berupa jawaban singkat dari uraian atau pertanyaan yang terdapat pada paragraf pembuka.

6) Paragraf ini jangan lagi menguraikan, mengutip, dan mengemukakan masalah baru.

7) Berdasarkan apa yang disimpulkan dalam paragraf, penulis dapat mengajukan

rekomendasi atau

(27)

8) Usulan yang berupa saran karena keterbatasan waktu dan dana yang penulis dapatkan.

Soal Mandiri :

1. Buatlah sebuah karangan yang berjudul “Peran Mahasiswa dalam Memberantas Korupsi” dengan memperhatikan syarat – syarat paragraf ! (minimal 5 paragraf).

2. Tentukanlah kesalahan – kesalahan yang ada pada wacana dibawah (sumber: Pos Metro Medan):

Kawasan Pasar 4 Barat Gang Mangga Lingkungan 8 Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan mendadak gempar, Minggu (28/8) sore.

Pasalnya, tiba-tiba terdengar suara letusan pistol. Ternyata, Fauzi alias Balung, seorang buruh bangunan tewas didor.

Informasi yang dihimpun, sekitar pukul 15.30 Wib, tiga pria mengendarai dua kereta

jenis matic berhenti persis di depan rumah korban.

(28)

Seorang pelaku lalu turun menjemput Fauzi alias Balung. Sedangkan, dua lainnya tetap berada di atas kendaraan.

Tak lama kemudian korban keluar dari dalam rumah, lalu diajak menemui dua orang pria di dalam mobil jenis Avanza warna hitam yang parkir sekitar 50 meter dari kediamannya.

Lalu dua pria memakai sorban dan sebo warna putih turun dari mobil. Dan tiga pelaku yang menjemput bergegas masuk ke dalam kendaraan roda empat itu.

Antara korban dan dua pelaku saat itu sempat terlibat pertengkaran mulut. Tak lama kemudian pria bersebo mengeluarkan sepucuk pistol, lalu duar!!! Dada kanan korban ditembak, dan seketika Balung roboh terkapar bersimbah darah.

Warga yang kebetulan sedang bergotong royong tidak jauh dari rumah korban, begitu mendengar suara letusan itu langsung berdatangan. Sedangkan, para pelaku kabur dan meninggalkan dua unit sepeda motor.

Syahputra alias Putra (30), salah seorang warga sekitar menuturkan, sebelum penembakan itu terjadi, dia maupun beberapa warga lainnya sempat melihat Balung dijemput oleh tiga orang pria. Dan, seorang diantaranya pernah berkunjung ke rumah korban.

“Satu orang yang menjemput korban itu sering datang ke rumah korban. Tapi, aku tak tahu namanya,” aku Putra.

Hanya saja, Putra mengaku tidak sempat menandai nomor plat polisi mobil Avanza tersebut. Dan dia baru mengetahui korban ditembak setelah mendengar satu kali suara senjata itu.

“Mobilnya parkir agak jauh, begitu dengar suara tembakan kami mendatangi lokasi.

Tapi, pelaku sudah kabur dan korban terkapar di tanah,” kata Putra.

Warga lainnya, Sarwono (43) menyebutkan, Balung adalah warga pendatang dan baru dua tahun menetap di kampung tersebut.

“Korban sehari-hari bekerja sebagai buruh bangunan. Biarpun warga pendatang, tapi dia ramah dan orangnya bermasyarakat,” kata Sarwono.

Disebutkan, rumah yang ditempati Balung, dibeli dari warga setempat, dan dihuni oleh korban dan Rara (13), anak perempuannya yang masih duduk di bangku kelas satu SMP.

Balung juga diketahui sudah lama bercerai dengan perempuan yang saat ini sudah

menjadi mantan istrinya.

(29)

“Cuma saat terjadi penembakan, anaknya tak di rumah. Karena kalau hari libur sekolah (Minggu), dia ke rumah neneknya di Pasar 3 Marelan,” katanya.

Sementara, Kepala Satuan Reskrim Polres Pelabuhan Belawan, AKP Edi Safari mengatakan, saat ini polisi belum bisa mengungkap motif penembakan korban.

Pihaknya, masih mengumpulkan barang bukti dan keterangan saksi-saksi yang berada di sekitar TKP.

“Penyelidikan awal mengamankan barang bukti dua unit sepeda motor dan memintai

keterangan saksi warga sekitar,” jelas Edi, seraya mengatakan berdasarkan keterangan

saksi, kalau tersangka digambarkan ada yang memiliki ciri-ciri bertubuh tegap dan

kurus, serta di antaranya ada yang memakai sebo.

(30)

BAB V

KALIMAT EFEKTIF (Sumber: Dikti, 2013)

A. Pengertian Kalimat dan Kalimat Efektif

Dalam proses penulisan karya ilmiah ada dua jenis kalimat yang mendapat perhatian penulis, yaitu masalah kalimat dan masalah kalimat efektif. Pernyataan sebuah kalimat bukanlah sebatas rangkaian kata dalam frasa dan klausa. Rangkaian kata dalamkalimat itu ditata dalam struktur gramatikal yang benar unsur-unsurnya dalam membentuk makna yang akan disampaikan secara logis. Kalimat-kalimat dalam penulisan ilmiah harus lebih cermat lagi menata kalimat yang benar dan efektif karena kalimat-kalimat yang tertata itu berada dalam laras bahasa ilmiah. Kalimat dalam tataran sintaksis adalah satuan bahasa yang menyampaikan sebuah gagasan bersifat predikatif dan berakhir dengan tanda titik sebagai pembatas. Sifat predikatif dalam kalimat berstruktur yang dibentuk oleh unsur subjek, unsure predikat,dan unsur objek (S-P+O). Unsur subjek dan predikat itu harus mewujudkan makna gramatikal kalimat yang logis. Konsepsi kalimat itu belum cukup untuk menampilkan kalimat

efektif, sehingga diperlukan faktor lain dalam perwujudan kalimat menjadi kalimat efektif.

Oleh karena itu, KALIMAT EFEKTIF adalah satuan bahasa (kalimat) yang secara tepat harus mewakili gagasan atau perasaan penulis dan harus pula dimengerti oleh pembaca sebagaimana yang dimaksudkan penulis. Jadi, kalimat efektif merupakan kalimat yang harus tepat sasaran dalam penyampaian dan pemerian bagi pembacanya. Disamping kaidah yang ada dalam kalimat, kalimat efektif perlu memperhatikan persyaratasn dan menghindari hal-hal yang menyalahi kalimat efektif.

B. Persyaratan Kalimat Efektif

1. Fungsi Gramatikal Dalam Kalimat Efektif Atau Kesatuan Fungsi Gramatikal

Fungsi gramatikal atau unsur struktur dalam kalimat dikenal dengan istilah subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan yang dirumuskan atau disingkat menjadi S + P + (O/Pel.) + (Ket) /

S : adalah subjek

P : adalah predikat

O : adalah objek

Pel.: adalah pelengkap

Ket. : adalah keterangan.

(31)

Fungsi subjek dan fungsi predikat harus ada dan jelas dalam kalimat dan secara fakultatif diperlukan fungsi objek, fungsi pelengkap, dan fungsi keterangan. Subjek adalah fungsi kalimat yang menandai apa yang dinyatakan oleh penulis. Posisi subjek dalam kalimat bebas, yaitu terdapat pada awal, tengah, atau akhir kalimat. Predikat adalah fungsi kalimat yang menandai apa yang dinyatakan oleh penulis tentang subjek. Posisi predikat dalam kalimat juga bebas, kecuali tidak boleh di belakang objek dan di belakang pelengkap.

Objek adalah fungsi kalimat yang melengkapi kata kerja aktif dan kata kerja pasif sebagai hasil perbuatan, yang dikenai perbuatan, yang menerima, atau yang diuntungkan oleh perbuatan sebagai predikat. Fungsi objek selalu terletak di belakang predikat berkata kerja transitif. Pelengkap adalah fungsi yang melengkapi fungsi kata kerja berawalan ber- dalampredikat, sehingga predikat kalimat menjadi lebih lengkap. Posisi pelengkap dalam kalimat terletak di belakang predikat berawalan ber-. Keterangan adalah fungsi kalimat yang melengkapi fungsi – fungsi kalimat,yaitu melengkapi fungsi subjek, fungsi predikat, dan fungsi objek, atau fungsi semua unsur dalam kalimat. Posisi keterangan dalam kalimat bebas dan tidakn terbatas. Tidak terbatas dimaksudkan fungsi keterangan dalam dapat lebih dari satu pada posisi bebas yang sesuai dengan kepentingan fungsi - fungsi kalimat.

Perhatikanlah posisi fungsi - fungsi kalimat berikut:

(1) Setelah bekerja selama tiga hari,panitia pelaksana seminar lingkungan hidup itu berhasil merumuskan undang-undang kebersihan tata kota Jakarta di Kantor DPD DKI Jakarta. (P-Pel-S-P-O-K).

(2) Keputusan hakim perlu ditinjau kembali. (S – P) (3) Perlu ditinjau kembali keputusan hakim. (P – S)

(4) Kelompok Pialang (broker) berbicara tentang fluktuasi harga sama IHSG. (S – P – Pel.)

(5) Selama tahun 2012 fluktuasi harga saham IHSG mengalami kenaikan yang signifikan sebanyak 12 kali di Bursa Efek Jakarta (K – S – P – O –K)

(6) Pengacara tersebut mempelajari undang - undang pencemaran nama baik dan membandingkannya dengan Undang-undang Dasar RI. (S1 – P1 – O1 – P2 – K) (7) Evaluasi pembelajaran mahasiswa meliputi empat komponen, yaitu komponen UTS, komponen UAS, komponen kehadiran, dan komponen makalah ilmiah. (S1 – P1 – O1 – K1 – K2- K3 – K4)

(8) Jika stabilitas nasional mantap, masyarakat dapat bekerja dengan tenang dan dapat beribadah dengan leluasa. (S3- P3 – S1 – P1 – S2 –P2)

Perhatikanlah contoh kalimat majemuk dalam posisi fungsi yang berbeda

(32)

Berikut :

(9) Bahwa kemerdekaan itu hak semua bangsa sudahdiketahui semua orang. (S1 (konjungsi + S2 + P2) - P1 - O1)

(10) Dosen mengatakan bahwa komponen nilai UAS berbobot 40%. (S1 -P1 - O1 (S2+P2)).

(11) Hasil UAS mahasiswa dibatalkan jika mahasiswa ketahuan mencontek. (S1 – P1 – K1 (S2+P2)).

(12) Kelompok C berpresentasi dan tim juri menilainya. (S1 – P1 + S2 – P2)

(13) Kinerja bisnis mulai membaik dan perkembangan ekonomi menjadi stabil setelah pemilu berlangsung damai. (S1 - P1 + S2 – P2 + (S3 + P3)

2. Kepaduan (Koherensi) Dalam Kalimat

Kepaduan atau keherensi dalam kalimat efektif adalah hubungan timbal balik atau hubungan kedua arah di antara kata atau frasa dengan jelas, benar, dan logis. Hubungan timbal baik terjad dapat antarkata dalam frasa satu unsur atau dapat terjadi antar frasa dalam antarfungsi dalam kalimat. Hubungan antar fungsi itu dapat menimbulkan kekacauan makna gramatikal kalimat. Perhatikanlah contoh kalimat yang berprasyarat koherensi berikut : Contoh kalimat yang tidak koherensif :

(1) Setiap hari dia pulang pergi Bogor –Jakarta dengan kereta api.

(2) Oleh panitia seminar makalah itu dimasukkan ke dalam antologi.

(3) Pelaksanaan seminar itu karena jalan macet harus ditunda satu jam kemudian.

Pembetulan kalimat yang koherensif

(1a) Setiap hari dia pergi pulang Bogor—Jakarta dengan kereta api (2b) Makalah seminar itu dimasukkan ke dalamantologi.

(3a) Karena jalan macet,pelaksanaan seminar itu ditunda satu jam kemudian.

3. Kehematan Kalimat Atau Ekonomi Bahasa

Kehematan atau ekonomi bahasa adalah penulisan kalimat yang langsung menyampaikan gagasan ataupesan kalimat secara jelas, lugas, dan logis. Kalimat yang hemat dalam penulisan menghindari dan memperhatikan hal - hal berikut:

(1) Penulis menggunakan kata bermakna leksikal yang jelas dan lugas dan penenpatan afiksasi yang benar.

(2) Penulis menghindari subjek yang sama dalam kalimat majemuk.

(3) Penulis menghindari pemakaian hiponimi dan sinonimi yang tidak perlu.

(4) Penulis menghindari penggunaan kata depan (preposisi) di depan kalimat dan di

depan subjek.

(33)

(5) Penulis menghindari penggunaan kata penghubung (konjungsi) di depan subjek dan di belakang predikat yang berkata kerja transitif.

(6) Penulis menghindari kata ulang jika sudah ada kata bilangan tak tentu di depan kata benda.

(7) Penulis menghindarifungsi tanda baca dan pengulangan kata dalam rincian.

(8) Penulis menghindariketerangan yang berbelit-belit dan panjang yang seharusnya ditempatkan dalam catatan kaki (footnotes).

(9) Penulis menghindari pemborosan kata dan afiksasi yang tidak jelas fungsinya.

Perhatikanlah contoh berikut, kalimat kurang memperhatikan ekonomi bahasa :

(a) Dalam ruangan ini kita dapat menemukan barang - barang, antara lain seperti meja, kursi, buku, lampu, dan lain - lain.

(b) Karena modal di bank terbatas, sehingga tidak semua pengusaha lemah memperoleh kredit.

(c) Apabila pada hari itu saya berhalangan hadir, maka rapat akan dipimpin oleh Sdr.

Tadjudin.

Perbaikan kalimat yang memperhatikan ekonomi bahasa berikut :

(a1) Dalam ruangan ini kita dapat menemukan meja, kursi, buku, lampu, dan lain-lain.

(b1) Karena modal di bank terbatas, tidak semua pengusaha lemah memperoleh kredit.

(b2) Modal di bank terbatas, sehingga tidak semua pengusaha lemah memperoleh kredit.

(c1) Pada hari itu saya berhalangan hadir, maka rapat akan dipimpin oleh Sdr. Tadjudin.

(c2) Apabila pada hariitu saya berhalangan hadir, rapat akan dipimpin oleh Sdr. Tadjudin.

4. Penekanan Dalam Kalimat Efektif

Dalam kalimat efektif penekanan atau penonjolan adalah upaya penulis untuk memfokuskan kata atau frasa dalam kalimat. Penekanan dalam kalimat dapat berupa kata, frasa, klausa, dalam kalimat yang dapat berpindah pindah. Namun, penekanan tidak sama dengan penentuan gagasan utama dan ekonomi bahasa. Penekanan dapat dilakukan dalam kalimat lisan dan kalimat tulis. Pada kalimat lisan, penekanan dilakukan dengan intonasi yang dapat disertai mimik muka dan bentuk nonverbal lainnya. Penekanan dalam kalimat tulis dapat dilakukan dengan cara-cara berikut:

(1) Mutasi, yaitu mengubah posisi kalimat dengan menempatkan bagian yang dipenting pada awal kalimat.

Contoh:

Minggu depan akan diadakan seminar”Pencerahan Pancasila bagi Mahasiswa”

(34)

(2) Repetisi, yaitu mengulang kata yang sama dalam kalimat yang bukan berupa sinonim kata.

Contoh:

Kalau pimpinan sudah mengatakan tidak tetap tidak.

(3) Kursif, yaitu menulis miring, menghitamkan, atau menggarisbawahi kata yang dipentingkan.

Contoh:

Bab II skripsi ini tidak membicarakan fluktuasi harga saham.

(4) Pertentangan,yaitu menempatkan kata yang bertentangan dalam kalimat.

Pertentangan bukan berarti antonym kata.

Contoh:

Dia sebetulnya pintar tetapi malas kuliah.

(5) Partikel, yaitu menempatkan paretikel (lah,kah, pun,per, tah) sebelum atau sesudah kata yang dipentingkan dalam kalimat.

Contoh:

Dalam berdemokrasi, apa pun harus transparan kepada rakyat.

(5) Penekanan dalamkalimat tidak berarti penonjolan gagasan kalimat atau bukan ekonomi bahasa.

5. Kesejajaran dalam Kalimat (Paralelisme)

Kesejajaran (paralelisme) adalah upaya penulis merinci unsur yang sama penting dan sama fungsi secara kronologis dan logis dalam kalimat. Dalam kalimat dan paragraf, rincian itu harus menggunakan bentuk bahasa yang sama, yaitu rincian sesama kata, sesama frasa, sesama kalimat. Kesamaan bentuk dalam paralelisme menjaga pemahaman yang fokus bagi pembaca dan sekaligus menunjukkan kekonsistenan sebuah kalimat dalam penulisan karya ilmiah. Hal - hal yang harus diperhatikan dalam kesejajaran rincian kalimat efektif adalah sebagai berikut:

(1) Tentukanlah apakah kesejajaran beradabentuk bahasa kalimat atau paragraf.

(2) Jika urutan rincian dalam bentuk frasa, rincian uruan berikut harus dalam bentuk frasa juga.

(3) Penomoran dalam rincian harus konsisten.

(4) Perhatikanlah penempatan tanda baca yang benar.

(5) Hindarilah gejala ekonomi bahasa yang bermakna sama: seperti……dan lain lain, antara lain…..Sebagai berikut, yakni:….

Perhatikanlah contoh kesejajaran yang benar berikut:

(35)

Kami sangat mengharapkan kehadiran Bapak/Ibu/Saudara pada:

hari :…, tanggal:…., waktu: …., acara: …., dan Tempat: …..

6. Kevariasian Dalam Kalimat Efektif

Kevariasian dalam kalimat efektif adalah upaya penulis menggunakan berbagai pola kalimat dan jenis kalimat untuk menghindari kejenuhan atau kemalasan pembaca terhadap teks karangan ilmiah. Fungsi utama kevariasian ini adalah menjaga perhatian dan minat baca terhadap teks ilmiah berlanjut bagi pembaca. Pada dasarnya kevariasian adalah upaya penganekaragaman pola, bentuk, dan jenis kalimat agar pembaca tetap termotivasi membaca dan memahami teks sebuah karangan ilmiah. Agar kevariasi dapat menjaga motivasi pembaca terhadap teks, penulis perlu memperhatikan hal - hal berikut :

(1) Awal kalimat tidak selalu dimulai dengan unsure subjek, tetapi kalimat dapat dimulai dengan predikat dan keterangan sebagai variasi dalam penataan pola kalimat.

(2) Kalimat yang panjang dapat diselingi dengan kalimat yang pendek.

(3) Kalimat berita dapat divariasikan dengan kalimat Tanya, kalimat perintah, dan kalimat seruan.

(4) Kalimat aktif dapat divareiasikan dengan kalimat pasif.

(5) Kalimat tunggal dapat divariasikan dengankalimat majemuk.

(6) Kalimat taklangsung dapat divariasikan dengan kalimat langsung.

(7) Kalimat yang diuraikan dengan kata-kata dapat divariasikan dengan tampilan gambar, bagan, grafik, kurva, marik, dan lain-lain.

(8) Apa pun bentuk kevariasian yang dilakukan oleh penulis jangan sampai mengubah atau keluar dari pokok masalah yang dibicarakan.

Perhatikanlah contoh kalimat dengan variasinya.

(a) Dari renungan itu seorang manajer menemukan suatu makna, suatu realitas yang baru, suatu kebenaran yang menjadi ide sentral yang menjiwai bisnisnya ke depan.

(b) Seorang ahli Inggris mengemukakan bahwa seharus tidak dibangun pelabuhan samudera.

Namun, pemerintah tidak memutuskan demikian. Memang cukup banyak mengendorkan

semangat kalau melihat keadaan di Indonesia belahan Timur meskipun fasulitas pengangkutan

laut dan udara sudah banyak dibangun. (Variasi kalimat dengan kata berawalan me- dan

berawalan di-).

(36)

7. Penalaran Dalam Kalimat Efektif

Penalaran (reasoning) adalah proses mental dalam mengembangkan pikiran logis (nalar) dari beberapa fakta atau prinsip (Hasan,2005:772). Hal yang diutamakan dalam penalaran adalah proses berpikr logis dan bukan dengan perasaan atau bukan pengalaman.

Penalaran tidak akan tercapai jika tidak didukung oleh kesatuan dan kepaduan kalimat. Dalam penalaran alur berpikirlah ang ditonjolkan agar kalimat dapat dipertanggungjawabkan dan dapat dipahami dengan benar dan tepat sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman atau salah kaprah. Kesatuan pikiran akan logis jika didukung atau dikaitkan dari gabungan unsur atau fungsi kalimat. Hubungan logis dalam kalimat dapat dilihat melalui kaitan antarunsur dan kaitan antarbagian kalimat. Hubungan logis dalam kalimat terdiri atas tiga jenis hubungan berikut :

(1) Hubungan logis koordinatif adalah hubungan setara di antara bagianbagian kalimat dalam kalimat majemuk setara. Hubungan logis koordinatif ini ditandai dengan konjungsi dan, serta, tetapi, atau, melainkan, sedangkan, padahal. Contoh: Mobil itu kecil tetapi pajaknya sangat besar.

(2) Hubungan logis korelatif adalah hubungan saling kait di antara bagian kalimat.

Hubungan korelatif ini ditandai oleh konjungsi berikut :

Hubungan penambahan : baik….maupun, tidak hanya..., tetapi juga……..

Hubungan perlawanan : tidak….., tetapi….., bukan……., melainkan Hubungan pemilihan : apakah…., atau….., entah….entah……

Hubungan akibat : demikian…..sehingga, sedemikian rupa……sehingga Hubungan penegasan : jangankan…..,…..pun…..

(3) Hubungan logis subordinatif adalah hubungan kebergantungan di antara induk kalimat dan anak kalimat.

Contoh: Dosen itu tidak masuk karena rumahnya kebanjiran.

Hubungan subordinatif dalam kalimat majemuk tak setara (bertingkat) cukup banyak hubungan antara induk kalimat dan anak kalimat yang ditandai dengan konjungsi - konjungsi berikut :

(a) Hubungan waktu : ketika,setelah, sebelum, (b) Hubungan syarat : jika,, kalau, jikalau,

(c) Hubungan pengandaian : seandainya andaikan,andai kata, (d) Hubungan tujuan : untuk, agar,supaya,

(e) Hubungan perlawanan : meskipun,walaupun, kendatipun,

(f) Hubungan pembandiungan : seolah-olah, seperti, daripada, alih-alih,

(g) Hubungan sebab : sebab,karena, oleh sebab,lantaran,

(37)

(h) Hubunganhasil/akibat : sehingga, maka, sampai (sampai) (i) Hubungan alat : dengan, tanpa

(j) Hubungan cara : dengan, tanpa,

(k) Hubungan pelengkap : bahwa, untuk, apakah, (l) Hubungan keterangan : yang,

(m) Hubungan perbandingan : sama….dengan, lebih….daripada, berbeda…..dari Contoh kalimat yang salah karena tidak logis (salah nalar)

(1) Di antara masalah nasional yang penting itu mencantumkan masalah MPKT dalam pendidikan (SALAH).

Di antara masalah pendidikan nasional itu tercantum masalah MPKT dalam pendidikan (BENAR)

(2) Untuk mengetahui baik buruk pribadi seseorang dapat dilihat dari tingkah lakunya sehari-hari. (SALAH)

Baik buruk pribadi seseorang dapat dilihat dari pribadinya sehari-hari. (BENAR) (3) PT Gudang Garam termasuk lima penghasil terbesar devisa negara tahun 2010.

(SALAH)

PT Gudang Garam termasuk lima besar penghasil devisa negara tahun 2010. (BENAR).

(4) Meskipun dia datang terlambat, namun dia dapat menyelesaikan masalah itu.

(SALAH)

Meskipun datangterlambat, dia dapat menyelesaikan masalah itu. (BENAR) Dia datang terlamat, namun dapat menyelesaikan masalah itu. (BENAR)

(5) Dia membantah bahwa bukan dia yang korupsi tetapi staf keungan perusahaan.

(SALAH)

Dia menyatakan bahwa bukan dia yang korupsi melainkan staf keuangan perusahaan.

(BENAR)

Soal :

1. Perbaikilah artikel dibawah ini sehingga menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar !

2 Hari Lagi Bebas, Tahanan Tewas Setelah Lihat Penampakan Kuntilanak

(Sumber: Pos Metro, 2016)

Referensi

Dokumen terkait