1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Universitas Kristen Petra

Teks penuh

(1)

1.1 Latar Belakang

Kota Samarinda merupakan kota sederhana, berbeda dengan kota besar di Indonesia yang memiliki gedung yang tinggi-tinggi, kota samarinda hanya memiliki penduduk 53.9726 (SUSEDA, 2002). Penduduk kota Samarinda tidak hanya berasal dari suku Dayak tetapi juga suku Bugis, Madura, Pontianak dan juga Jawa.

Menurut sumber dari website Samarinda:

Kota Samarinda adalah ibu kota propinsi Kalimantan Timur, berbatasan langsung dengan kabupaten Kutai Kartanegara. Kota Samarinda dapat dicapai dalam perjalanan darat, udara mau pun laut. Dengan sungai Mahakam yang membelah ditengah kota Samarinda yang menjadi gerbang menuju pedalaman Kalimantan Timur. Letak kota Samarinda antara 0o 21’

18” – 1o 09’ 16” lintang selatan dan 116o 15’ 36’- 117o 24’ 16” bujur timur, kota Samarinda terbagi menjadi beberapa kota yaitu Palaran, Samarinda Ilir, Samarinda Seberang, Sungai Kunjang, Samarinda Ulu dan Samarinda Utara. Dari beberapa kota tersebut terbagi lagi menjadi beberapa desa.

Kota Samarinda bukanlah kota metropolitan melainkan sebuah kota yang penduduknya masih memelihara kebudayaan Dayak, hal ini dapat dilihat dengan usaha pemerintah yang membangun sebuah pusat perbelanjaan pada tahun 1970 an, dimana pusat perbelanjaan ini pertama kali diberi nama Tehage dan kemudian pada awal 1990 an pusat perbelanjaan ini menganti nama Tehage dengan Citra Niaga. Pusat perbelanjaan Citra Niaga ini tidak hanya menjual baju dan berbagai macam kebutuhan lainnya melainkan juga barang-barang tradisional suku Dayak seperti manik-manik, baju Dayak, sarung dan obat tradisional Dayak. Melihat perkembangan Citra Niaga sebagai pusat perbelanjaan maka banyak pengusaha swasta yang ikut membangun pusat perbelanjaan yang lebih moderen seperti

(2)

1.1.1 Sejarah Pusat Perbelanjaan

Pasar merupakan suatu tempat di mana manusia dapat mencari keperluan hidupnya sehari-hari. Sejak jaman dahulu, pasar sudah dikenal sebagai tempat tukar menukar berbagai macam benda, mulai dari ternak, beras, sabun dan sebagainya. Masa kini pasar masih berfungsi sebagai tempat untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun pada dekade terahkir ini, tampak suatu gejala pergeseran bentuk pasar. Kalau pada masa lalu pasar hanya sekedar merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhan hidup, kini pasar sudah mulai ditata, diatur dan didesain dengan bentuk-bentuk baru. Kegiatan berbelanja di pasar menjadi kegiatan rutin para ibu sehari-hari. Pasar pun berubah menjadi suatu tempat belanja yang menyenangkan bahkan juga menjadi suatu kegiatan yang sangat rekreatif.

Usaha perdagangan dewasa ini terus mengalami kemajuan, kemajuan itu dianggap cukup mengembangkan kemajuan kualitas dan kuantitas. Dalam beberapa tahun terakhir ini banyak muncul pasar swalayan modern di Indonesia, dari segi kualitas barang-barang yang ditawarkan juga semakin baik, nampaknya hal ini disebabkan oleh peningkatan hidup para konsumen. Menurut Ir. Ciputra, pada masa kini terjadi pergeseran nilai-nilai, termasuk pergeseran dalam bidang perbelanjaan. Trend masa kini dimulai dari perubahan pola yaitu pola tradisional ke pola modern, juga permintaan yang semula sederhana menjadi semakin kompleks. Hal ini mengakibatkan perubahan pada market kalau semula konsumen mengejar produsen maka kini produsen yang mengejar konsumen, semakin banyak produsen yang menawarkan barang-barang bagus sehingga terjadi persaingan diantara produsen.

Dari sini lah maka mulai tumbuh pusat perbelanjaan karena pada pusat perbelanjaan fungsi utamanya adalah sarana bagi penjualan barang yang paling efesien, ekonomis dan paling menguntungkan dan hal itu ditentukan oleh adanya persaingan, pola kehidupan dan pola konsumen masyarakat serta perkembangan ekonomi nasional. Pusat perbelanjaan memiliki strategi penjualan dan manajemen yang berbeda dengan pasar tradisional, pola distribusi yang dilakukan pada pusat- pusat perbelanjaan sudah semakin singkat. Pada pasar tradisional, banyak pihak yang terlibat dalam pengadaan barang dagangan, seperti produsen atau

(3)

manufacturer, distributor, importer barulah sampai pada pedagang. Sedangkan pada pusat perbelanjaan dari manufacture langsung ke pedagang.

Perkembangan pusat perbelanjaan akan terus melaju, seirama dengan kemajuan jaman, pasar dan pusat perbelanjaan selain sebagai tempat berbelanja juga merupakan bagian dari objek yang didatangi wisatawan, meskipun bagi Indonesia pusat perbelanjaan bukan merupakan tujuan utama wisatawan seperti halnya Singapura. Sehingga pusat perbelanjaan akan dapat menjadi salah satu potensi di bidang pariwisata, terutama sebagai potensi menambah lama waktu tinggal dan pengeluaran wisatawan, selain juga dapat meninggalkan kenangan dan citra bagi wisatawan asing maupun domestik. Hal tersebut menyebabkan pergeseran dari pusat perbelanjaan yang semula sebagai tempat sarana berbelanja sekarang semakin dilengkapi dengan sarana hiburan dan bersuasanakan rekreatif sehingga tercapai prinsip “one stop shopping” di mana pengunjung akan memperoleh kemudahan-kemudahan dengan satu tujuan maka akan tercukupi beberapa kebutuhan hidup.

1.1.2 Perkembangan Pusat Perbelanjaan Di Samarinda.

Perkembangan pusat perbelanjaan di Samarinda dimulai melalui pasar, Samarinda memiliki 3 pasar yang cukup terkenal seperti pasar pagi, pasar sungai damak dan pasar subuh. diantara 3 pasar salah satu pasar yang sangat dikenal adalah pasar pagi. kegiatan pasar pagi dimulai pada jam 6 pagi hingga jam 3 siang, selain menjual aneka sayuran, daging dan kebutuhan rumah tangga pasar pagi juga menjual beberapa kebutuhan hidup seperti baju, mainan dan masih banyak lagi. Kelengkapan kebutuhan pangan, sandang dan papan ini lah yang membuat pasar pagi hingga siang masih banyak dikunjungi oleh pengunjung, pasar pagi bukan hanya dikenal oleh penduduk Samarinda yang tinggal di Samarinda akan tetapi juga penduduk Samarinda yang tinggal di pedalaman.

Melihat perkembangan ini maka pemerintah membangun sebuah pusat perbelanjaan pada tahun 1970 an, dimana pusat perbelanjaan ini pertama kali diberi nama Tehage dan kemudian pada awal 1990 an pusat perbelanjaan ini menganti nama Tehage dengan Citra Niaga. Pusat perbelanjaan Citra Niaga ini

(4)

lebih difokuskan pada penjualan barang-barang tradisional suku Dayak seperti manik-manik, baju Dayak, sarung dan obat tradisional Dayak.

Kemudian sesuai dengan perkembangan jaman, dengan banyaknya penduduk dari luar yang bertempat tinggal di Samarinda pusat perbelanjaan di Samarinda mulai berkembang menjadi mal, mal pertama kali yang dibangun adalah mal Mesra Indah. Mal Mesra Indah terletak dekat dengan pasar pagi, mal Mesra Indah merupakan mal yang pertama kali menghadirkan supermarket Hero di Samarinda, Supermarket Hero ini menjadi daya tarik tersendiri bagi mal Mesra Indah. Terinspirasi dengan kesuksesan mal Mesra Indah maka pada tahun 1995 dibangun sebuah mal yang dikenal dengan mal Lembuswana dan agar mal Lembuswana dapat bersaing dengan mal Mesra Indah maka mal Lembuswana menghadirkan Matahari Departemen Store, Timezone dan juga Gramedia. Hal ini menyebabkan adanya persaingan antara mal yang satu dengan yang lainnya yang pada ahkirnya pihak mal harus memiliki kelebihan dan daya tarik untuk menarik pengunjung.

1.1.3 Latar Belakang Masalah

Samarinda Central Plaza merupakan pusat perbelanjaan ke tiga yang hadir di Samarinda setelah mal Lembuswana, untuk menarik pengunjung maka Samarinda Central Plaza juga mengahadirkan McDonald, Pizza Hut, Go Skate, Happy Puppy, Studio 21 dan juga King’s Bowl. Dengan adanya 3 pusat perbelanjaan di Samarinda maka terjadilah persaingan diantara pusat perbelanjaan ini untuk menarik para pengunjung sehingga Samarinda Central Plaza berkeinginan memperkuat segmentasi untuk mengantisipasi kegiatan yang dilakukan kompetitor yang dapat mengancam Samarinda Central Plaza dengan melakukan promosi.

1.1.4 Rumusan Permasalahan

• Bagaimana merancang aplikasi promosi secara ekonomis dan efektif.

• Bagaimana memilih aplikasi promosi Samarinda Central Plaza yang efektif dan efesien sehingga mencapai misi dan visi yang ingin disampaikan.

(5)

• Bagaimana cara mengembangkan potensi besar yang dimiliki Samarinda Central Plaza melalui promosi.

1.1.5 Batasan Ruang Lingkup Permasalahan.

Ruang lingkup perancangan pada bentuk perancangan promosi Samarinda Central Plaza yaitu mencakup pada perancangan promosi Samarinda Central Plaza yang akan digunakan di lokasi kawasan Samarinda Central Plaza baik dalam lingkungan indoor maupun outdoor.

1.1.6 Tujuan Perancangan.

• Merancang aplikasi promosi secara ekonomis dan efektif.

• Memilih aplikasi promosi Samarinda Central Plaza yang efektif dan efesien sehingga mencapai misi dan visi yang ingin disampaikan.

• Mengembangkan potensi besar yang dimiliki pusat perbelanjaan Samarinda Central Plaza.

• Menarik minat masyarakat untuk berbelanja di Samarinda Central Plaza melalui promosi dengan berbagai strategi yang kreatif.

1.1.7 Manfaat Perancangan

• Manfaat perancangan bagi mahasiswa :

Melalui perancangan ini penulis sebagai mahasiswi tingkat akhir akan mendapat wawasan dan alternatif desain tentang promosi sehingga dapat mengasah bakat dan kemampuan mahasiswa secara totalitas dalam hasil karya terakhir sebagai mahasiswa.

• Manfaat perancangan bagi Samarinda Central Plaza :

Diharapkan perancangan ini mampu untuk mempromosikan dan mempositioningkan Samarinda Central Plaza sehingga dapat meningkatkan pemasukan Samarinda Central Plaza dan mengantisipasi kegiatan yang dilakukan kompetitor yang dapat mengancam Samarinda Central Plaza

(6)

1.2 Metode Perancangan

Metode perancangan yang akan digunakan didalam perancangan komunikasi visual berserta aplikasi penunjang promosi Samarinda Central Plaza meliputi metode pengumpulan data dan metode analisis.

1.2.1 Metode Pengumpulan Data

Data-data yang dikumpulkan dapat berupa data-data primer mau pun data sekunder, data primer yang dimaksud adalah data yang berasal dari perusahaan itu sendiri yang didapat dari wawancara dan survey. Data-data sekunder adalah data- data yang didapat melalui buku yang berkaitan dengan promosi dan bidang usaha perusahaan yaitu plaza. Data tersebut akan didapat dengan menggunakan purposive sampling (Sampel bertujuan) bagian dari keseluruhan yang menjadi objek sesungguhnya dari suatu penelitian itulah yang disebut dengan sampel dan metodologi untuk menyeleksi individu-individu masuk kedalam sampel yang representatif yang disebut sampling (Koentjaraningrat, 89). Di bawah ini akan dibahas tentang metode pengumpulan data yang akan digunakan :

• Studi kepustakaan

Studi kepustakaan dilakukan untuk mencari informasi tentang promosi, shopping center serta mempelajari data-data yang diperlukan sebagai bahan perancangan promosi dari sumber-sumber yang ada. Data-data tersebut diperoleh melalui internet, majalah, buku-buku dan lain sebagainya.

• Metode Wawancara

Metode wawancara ini dilakukan untuk mendapat informasi data-data tentang perusahaan yang diperlukan didalam perancangan promosi. Wawancara tidak dilakukan hanya melalui via telephone, fax dan tatap muka dengan orang yang bersangkutan dengan perusahaan akan tetapi metode ini juga akan dilakukan kepada pihak konsumen terkait.

• Metode Survey

Data-data yang diperoleh dari metode wawancara tidak cukup kuat. Oleh sebab itulah akan ditunjang dengan melakukan metode survey, yang dilakukan dengan cara pembagian kuesioner. Kuesioner ini akan dibagikan dan disebarkan kepada konsumen Samarinda Central Plaza, adapun tujuan dari

(7)

pembagian kuesioner ini adalah untuk mengetahui seberapa jauh para konsumen mengetahui tentang Samarinda Central Plaza, bagaimana tanggapannya mengenai Samarinda Central Plaza. Kuesioner ini juga akan digunakan untuk mengetahui harapan-harapan konsumen terhadap Samarinda Central Plaza serta saran, kritik dan keluhan terhadap Samarinda Central Plaza.

• Dokumentasi

Selain studi kepustakaan, wawancara dan survey data Samarinda Central Plaza juga akan didapat melalui foto. Foto ini digunakan untuk promosi selain itu foto-foto ini akan dimasukan kedalam lampiran sebagai bahan yang akan membantu dalam mendesain perancangan promosinya.

1.2.3. Metode Analisis

Metode analisis yang dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif, pendekatan kualitatif ini menggunakan proses penyimpulan secara deduktif dan induktif. Menggunakan pendekatan kualitatif karena penelitian ini bukan melalui uji hipotesis melainkan pada usaha menjawab pertanyaan penelitian melalui cara- cara berfikir formal dan argumentatif.

(8)

1.3 Sistematika Perancangan

Gambar 1.1 Sistematika Perancangan

Latar belakang

Rumusan Masalah

Tujuan dan manfaat perancangan

Ruang Lingkup Perancangan

Identifikasi

Identifikasi Data Analisis Masalah

Pemecahan Masalah

Konsep Perancangan

Perencanaan Komunikasi Visual

LayoutPengembangan Ide

Final Artwork Program Perancangan

Alternatif Desain

Evaluasi

Figur

Gambar 1.1 Sistematika Perancangan

Gambar 1.1

Sistematika Perancangan p.8

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :