i
S
NORRISKA OLIVIA KARINA 185030100111103
DWI KRISTANTI 185030100111117
NENSI YULI KRISDAYANTI 185030100111097 KELOMPOK 6
Komunikasi dan Advokasi (B)
i
KATA MUTIARA
“Agama tanpa ilmu pengetahuan adalah buta. Dan ilmu pengetahuan tanpa agama adalah lumpuh.”
-Albert Einstein
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan paper ini yang berjudul “Komunikasi dalam Hubungan Pribadi” dengan lancar dan tepat waktu. Paper ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Komunikasi dan Advokasi yang diampu oleh Dr. Muhammad Shobaruddin, MA.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan paper ini masih terdapat banyak kekurangan didalamnya. Oleh karena itu, penulis mengharapkan segala bentuk kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak demi perbaikan paper ini.
Malang, 7 Maret 2021
Penulis
iii DAFTAR ISI COVER
KATA MUTIARA... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
BAGAN ALUR PEMBAHASAN………iv
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Kata Pengantar ... 1
1.2 Tujuan Penulisan ... 1
1.3 Metode Penulisan ... 1
BAB II PEMBAHASAN 2.1 Mendefinisikan Hubungan Pribadi ... 2
2.2 Perubahan Hubungan Pribadi... 3
2.3 Tantangan Dalam Hubungan Pribadi ... 5
BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan ... 7
3.2 Saran... 7 DAFTAR PUSTAKA
iv
BAGAN ALUR PEMBAHASAN
Komunikasi Dalam Hubungan Pribadi
Mendefinisikan Hubungan
Pribadi
Perubahan Hubungan Pribadi
Tantangan Dalam Hubungan
Pribadi
1. Keunikan.
2. Komitmen.
3. Aturan Hubungan.
4. Dipengahruhi Oleh Konteks.
5. Dialektika Rasional.
1. Persahabatan.
2. Hubungan Romantis.
1. Berurusan Dengan Jarak.
2. Menciptakan Hubungan Yang Setara.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Manusia merupakan makhluk sosial yang hidup dan menjalankan seluruh aktivitasnya sebagai individu dalam kelompok sosial, komunitas, organisasi maupun masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap manusia berinteraksi dengan sesamanya. Oleh karena itu, manusia tidak dapat menghindari dari suatu tindakan yang disebut komunikasi. Disadari atau tidak, komunikasi merupakan bagian dari kehidupan manusia itu sendiri.
Komunikasi merupakan suatu proses dua arah yang menghasilkan pertukaran informasi dan pengertian antara masing-masing individu yang terlibat. Komunikasi merupakan dasar dari seluruh interaksi antar manusia. Komunikasi merupakan kebutuhan hakiki dalam kehidupan manusia untuk saling tukar menukar informasi. Karena tanpa komunikasi, interaksi antar manusia tidak akan mungkin terjadi. Manusia memerlukan kehidupan sosial, baik dalam persahabatan, pasangan romantis, maupun masyarakat.
Komunikasi dalam hubungan persahabatan dan pasangan merupakan salah satu komunikasi yang penting untuk diketahui. Karena komunikasi ini sangat dekat dengan kehidupan manusia itu sendiri, serta memiliki ciri yang berbeda dari bentuk komunikasi lainnya. Oleh sebab itu dalam paper ini akan dijelaskan pentingnya komunikasi dalam hubungan pribadi.
1.2 Tujuan Penulisan
1. Mengetahui pengertian komunikasi dalam hubungan pribadi.
2. Mengetahui proses perkembangan persahabatan dan hubungan romantis.
3. Mengetahui cara menangani kebutuhan sahabat dan pasangan yang saling bersaing untuk waktu bersama dan kemandirian.
4. Mengetahui strategi komunikasi yang membantu orang mempertahankan hubungan jarak jauh.
5. Mengetahui tentang siklus pelecehan.
1.3 Metode Penulisan
Metode penulisan paper ini menggunakan metode deskriptif. Menurut Jauhari, “metode deskriptif merupakan metode yang memberikan gambaran atau secara deskriptif mengenai objek sehingga dapat diperoleh informasi tentang kondisi subjek atau objek penulisan.”
2 BAB II PEMBAHASAN 2.1 Mendefinisikan Hubungan Pribadi
Hubungan pribadi adalah komitmen unik antara individu tak tergantikan (sahabat karib/
pasangan hidup) yang dipengaruhi oleh aturan, dialektika relasional, dan konteks sekitarnya. Untuk lebih jelasnya mengenai hubungan pribadi adalah sebagai berikut.
1. Keunikan
Sebagian besar hubungan kita bersifat sosial, bukan pribadi. Dalam hubungan sosial, partisipan menganut peran sosial daripada berinteraksi sebagai individu yang unik. Nilai hubungan sosial lebih terletak pada apa yang dilakukan peserta daripada siapa mereka, karena berbagai orang dapat memenuhi fungsi yang sama. Namun, dalam hubungan pribadi, orang-orang tertentu siapa mereka dan apa yang mereka pikirkan, rasakan, dan lakukan menentukan nilai koneksi / hubungan.
Tidak ada orang lain yang bisa menggantikannya. Ketika satu orang dalam hubungan pribadi meninggalkan hubungan atau meninggal, hubungan itu berakhir. Misalnya kita memiliki sahabat karib, kemudian ia meninggal karena sakit, maka hubungan persahabatan itu berakhir, dan jika nanti kita memiliki sahabat karib lain, ia tidak akan bisa menggantikan sahabat kita sebelumnya.
2. Komitmen
Komitmen adalah keputusan untuk tetap berada dalam suatu hubungan. Ciri khas dari komitmen adalah niat untuk berbagi masa depan. Teman dan pasangan yang berkomitmen menganggap mereka akan tetap bersama. Karena hubungan yang berkomitmen mengasumsikan masa depan, mitra tidak mungkin memberi jaminan jika keadaan menjadi sulit. Sebaliknya, mereka mengalami masa-masa sulit (Le & Agnew, 2003; Lund, 1985; Previti & Amato, 2003). Komitmen adalah keputusan untuk bertahan bersama-sama meskipun ada masalah, kekecewaan, kebosanan sporadis, dan ketenangan dalam gairah. Komitmen cenderung tinggi ketika mitra memiliki rasa hormat yang tinggi satu sama lain.
3. Aturan Hubungan
Aturan hubungan menentukan apa yang diharapkan, apa yang tidak diperbolehkan, dan kapan serta bagaimana melakukan berbagai hal. Biasanya, aturan hubungan adalah pemahaman yang tidak diucapkan di antara mitra. Terdapat 2 aturan dalam hubungan yaitu aturan konstitutif mendefinisikan arti berbagai jenis komunikasi dalam hubungan pribadi. Dan aturan regulasi yaitu mempengaruhi interaksi dengan menentukan kapan dan dengan siapa harus terlibat dalam berbagai jenis komunikasi.
4. Dipengaruhi Oleh Konteks
Persahabatan dan hubungan romansa dipengaruhi oleh lingkungan, lingkaran sosial, unit keluarga, dan masyarakat secara keseluruhan. Lingkaran sosial kita menetapkan norma untuk
3
aktivitas seperti minum, keterlibatan dengan kelompok masyarakat, belajar, dan berpesta. Dalam banyak hal, keluarga, teman, dan masyarakat membentuk aturan yang kita bentuk dalam hubungan kita.
5. Dialektika Relasional
Adalah tegangan yang berlawanan dan terus-menerus yang normal dalam hubungan pribadi.
Pertama, Otonomi / Koneksi yaitu dalam hubungan persahabatan ataupun pasangan terdapat tegangan dimana ada keinginan untuk otonomi (mandiri) dan berhubungan (selalu bersama). Kedua, Kebaruan / Prediktabilitas yaitu ketegangan antara menginginkan rutinitas yang akrab dan menginginkan hal baru. Ketiga, Keterbukaan / Ketertutupan yaitu ketegangan antara keinginan akan keterbukaan dan keinginan untuk privasi. Keempat, Mengelola Dialektika, menurut Leslie Baxter (1990) mengidentifikasi empat cara rekan kerja menangani ketegangan dialektis yaitu penetralan, pemisahan, segmentasi, dan membingkai ulang.
2.2 Perubahan Hubungan Pribadi
Setiap hubungan yang terjalin memiliki keunikan serta kecepatannya sendiri. Dalam meningkatkan hubungan pribadi dibutuhkan suatu komunikasi yang baik untuk mencapai suatu proses persahabatan.
1. Persahabatan
Hubungan yang berbentuk pertemanan atau persahabatan akan melalui banyak fenomena sosial yang akan berpengaruh terhadap masing-masing individu antara lain bertukar informasi, pengalaman pribadi, sampai pada berbagi kesedihan dan kebahagiaan. Terdapat lima tahapaan dalam pembentukaan persahabatan yaitu
a. Interaksi peran yang terbatas, pertemanan dimulai dari interaksi antar dua orang yang terbatas biasanya dimulai dari beberapa kegiatan sederhana. Kegiatan tersebut biasanya terjadi di tempat kerja, di restoran, di kereta, di media sosial, dan tempat-tempat lainnya. Menurut (Snapp &
Leary, 2001) di awal pertemuan biasanya akan menggunakan aturan sosial yang berlaku di lingkungannya seperti menjaga sopan santun, berhati-hati dalam berbicara dengan menerapkan stereotip peran sosial.
b. Hubungan pertemanan, adalah hubungan yang dimana setiap individu melihat apakah terdapat cukup banyak persamaan antar mereka untuk membangun hubungan persahabatan. Hal tersebut dapat dilihat dari arah obrolan yang mengalir antara satu sama lain. Dalam hal ini individu lebih terbuka dan kurang berhati-hati dalam berbicara.
c. Gerakan menuju persahabatan, tahap ini melampaui peran sosial dimana setiap individu menginsyaratkan bahwa mereka tertarik untuk berteman dan mengenal secara pribadi antar satu sama lain dan memiliki keinginan untuk memperluas ikatan pertemanan kepada ikatan persahabatan.
4
d. Persahabatan yang baru lahir, dalam tahap ini setiap individu meningkatkan stereotip dan standart sosial dengan melakukan interaksi yang lebih luas dan menyusun kegiatan bersama dengan berkumpul bersama.
e. Persahabatan stabil, menunjukkan rasa saling percaya satu sama lain, dukungan emosional, berbagi cerita rahasia, dan sering bertemu untuk melanjutkan persahabatan mereka hingga batas waktu yang tidak bisa ditentukan.
f. Persahabatan yang menipis, Dalam tahap ini terjadi perubahan dalam sebuah hubungan persahabatan, dimana persahabatan sudah mulai renggang dikarenakan masing-masing ditarik ke dalam hal yang berbeda oleh tuntutan pribadi atau karir, menceritakan rahasia kepada orang ketiga, lingkungan yang berbeda. Hal tersebut dapat dicegah dengan tetap menjaga komunikasi dan kepercayaan antar satu sama lain.
2. Hubungan Romantis
Seperti halnya hubungan pertemanan, percintaan juga memiliki evolusi yang khas tetapi tidak universal. Terdapat tiga tahapan dalam hubungan universal didalamnya yaitu tahapan eskalasi, navigasi, dan kemunduran.Tahap eskalasi merupakan tahap interaksi secara progesif yang menggerakan orang menuju komitmen yang lebih serius. Tahap ini terdiri dari lima tahap yaitu kebebasan, menurut Bachen & Ilouz (1996) sebelum membentuk hubungan romantic maka seorang individu akan terlebih dahulu memahami dirinya sendiri dengan mempelajari aturan komunikasi konstitutif dan regulatif. Komunikasi undangan, dimana individu mengekspresikan minat dalam berinteraksi dimana terdapat tiga pengaruh terbesar pada ketertarikan awal yaitu konsep diri, kedekatan, dan kesamaan. Komunikasi eksplorasi, dimana tahap ini mengeksplorasi kemungkinan suatu hubungan dengan meningkatkan kepercayaan satu sama lain. Mengintensifkan komunikasi, dimana terjadi peningkatan didalam hubungan dimana interaksi timbal balik diperlukan dalam tahap ini. Merevisi komunikasi, bukan bagian dalam peningkatan hubungan tetapi cukup sering terjadi didalam sebuah hubungan dengan membicarakan masalah, potensi hubungan di masa depan dimana sering terjadi negosiasi dan konflik, sehinnga dibutuhkan skomitmen untuk ke jenjang yang lebih serius.
Tahap navigasi adalah proses komunikasi yang berkelanjutan untuk mempertahankan komitmen dari waktu ke waktu dalam menghadapi perubahan dalam diri sendiri, pasangan, hubungan, dan konteks lingkungan sehingga dapat menjadi semangat dinamis. Dalam tahap ini pasangan akan menerima masalah baru, masalah lama untuk dapat mengakomodasi perubahan sehingga melibatkan pemeliharaan preventif dan perbaikan berkala. Inti dalam tahap ini adalah budaya relasioanal, aturan pribadi, pemahaman, makna, serta pola interaksi yang ciptakan. Tahap kemunduran merupakan tahap penurunan kualitas hubungan ketika ikatan hubungan mulai melemah, terdapat lima fase kemunduran dalam tahap kemuduran yaitu Proses intrapsikis merupakan
5
kerusakan relasional yang merefleksikan ketidakpuasan antar satu dengan yang lain. Bagi wanita proses kemunduran tersebut terjadi saat komunikasi menurun dalam kualitas dan kuantitas, sedangkan bagi pria proses kemunduran terjadi saat ketidakpuasan perilaku yang diberikan oleh seorang wanita. Proses dyadic adalah proses awal yang dapat memecahkan pola, pemahaman, dan aturan dalam suatu hubungan sehinga ketika budaya relasional melemah, maka ketidakpuasan antar individu akan meningkat. Dalam ilmu komunikasi dikatakan bahwa banyak pasangan yang menghindari pembicaraan tentang masalah, meskipun terkadang menyakitkan untuk membicarakan masalah, tetapi dengan menghindarinya sekalipun tidak dapat menyelesaikan masalah. Proses dukungan sosial merupakan proses dimana seseorang yang tidak memiliki ketrampilan komunikasi untuk memulihkan hubungan mereka sehingga melibatkan orang lain dengan memberitahu masalah dan mencari dukungan dari orang tersebut. Proses gravedressing merupakan proses yang terjadi jika pasangan memilih untuk berpisah dan menjelaskan kepada teman, keluarga, rekan kerja tentang alasan mereka berpisah, dan individu mengintropeksi diri untuk mendapatkan pasangan yang lebih baik di masa depan. Proses kebangkitan adalah proses dimana setiap mantan pasangan bergerak menuju masa depan dengan mempersiapkan diri sendiri baik dalam jangka waktu pendek atau panjang. Dengan tahapan-tahapan yang telah dikemukakan dapat menggambarkan berapa banyak orang mengalami evolusi romansa, namun tidak semua pasangan mengikuti pola standart.
2.3 Tantangan dalam Hubungan Pribadi
Dalam suatu hubungan, komunikasi diperlukan untuk menghadapi tantangan yang ada. Baik tantangan internal maupun eksternal. Tantangan ini dapat dihadapi apabila hubungan yang dijalani oleh dua orang atau lebih memiliki komunikasi yang terjalin dengan baik. Komunikasi ini akan mempengaruhi ketahanan dan kualitas hubungan pribadi. Beragam gaya komunikasi yang berbeda tiap orang merupakan salah satu tantangan dalam hubungan. Tantangan dalam hubungan pribadi apabila tidak dapat dilewati akan menimbulkan konflik. Tiap orang memiliki budaya yang berbeda sehingga harus memahami dan menghargai budaya komunikasi orang lain. Contohnya, masyarakat Korea mengungkapkan rasa hormatnya dengan menundukkan badan. Sedangkan hal tersebut berbeda dengan budaya di negara lain. Oleh sebab itu tiap orang harus menghargai perbedaan tersebut dalam menafsirkan komunikasi yang diungkapkan orang lain.
1. Berurusan dengan jarak
Sebagian besar orang lain pernah mengalami hubungan jarak jauh yang membatasi komunikasi mereka. Pemisahan hubungan karena jarak geografis akan menghambat hubungan pertemanan maupun hubungan dua lawan jenis yang menjalin cinta. Dari suatu survey yang dilakukan, 70% mahasiswa sedang atau pernah mengalami hubungan jarak jauh (Guldner, 2003).
Jumlah hubungan romantis antar lawan jenis yang mengalami hubungan jarak jauh disebabkan karena usaha mereka untuk mengejar karir yang membutuhkan jarak atau pemisahan grafis
6
(McGrane, 2000). Salah satu yang menjadi penghambat dalam hal ini adalah kurangnya komitmen dalam menjalin hubungan secara intensif. Padahal, hal ini menjadi tantangan agar mempertahankan hubungan pribadi yang dijalani secara jarak jauh. Dalam permasalahan ini, kedua pihak perlu untuk berbagi komunikasi mengenai aktivitas sehari-hari, permasalahan yang sedang dihadapi, maupun kebahagiaan yang dialami. Hubungan pribadi yang dijalani jarak jauh apabila memiliki komunikasi yang intens maka tidak menjadi tantangan untuk mempertahankan hubungan. Masalah kedua dalam hubungan jarak jauh yaitu ekspektasi keduanya atas kebersamaan secara fisik karena keterbatasan jarak geografis. Sedangkan tantangan ketiga adalah adanya idealisasi. Pandangan yang tidak realistis dari satu sama lain yang dimiliki beberapa pasangan jarak jauh menjelaskan mengapa putus cinta adalah hal biasa bagi pasangan yang bertransisi ke hubungan yang dekat secara geografis (Stafford
& Merolla, 2007).
2. Menciptakan hubungan yang setara
Dalam menciptakan hubungan antar lawan jenis yang harmonis, kesetaraan hubungan didapatkan apabila keduanya mengalami kepuasan atas komunikasi yang terjalin. Peneliti mengatakan bahwa pasangan kencan dan pernikahan paling bahagia memiliki kepercayaan yang tinggi (Buunk & Mutsaers, 1999; DeMaris, 2007). Dalam pasangan yang sudah menikah, suatu hal yang sangat mempengaruhi kepuasan pasangan adalah kesetaraan dalam pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak. Hal ini karena pembagian kewajiban rumah tangga yang tidak adil memicu ketidakpuasan dan kebencian yang keduanya dapat merusak keintiman (Anderson & Guerrero, 1998;
Steil, 2000). Dua hal tersebut karena merupakan aspek penting dalam pernikahan yang dapat menguatkan hubungan. Stabilitas pernikahan akan lebih erat apabila terkait dengan pembagian yang adil dari perawatan anak dan pekerjaan rumah daripada mengenai pendapatan atau kehidupan seks (Oakley, 2002; Risman & Godwin, 2001). Sayangnya dalam suatu hubungan pribadi tidak sedikit yang mengalami kekerasan. Kekerasan tersebut bisa karena kekerasan verbal maupun non verbal.
Sebagian besar kekerasan pasangan yang dilaporkan dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan (Johnson, 2001, 2006; Johnson & Ferraro, 2000). Peneliti menemukan bahwa banyak pria yang melakukan kekerasan pada pasangan karena memiliki harga diri yang rendah (Boyd, 2002).
Kekerasan dalam hal ini juga harus diselesaikan dengan komunikasi yang terjalin antar keduanya.
Komunikasi ini untuk menyelesaikan.
7 BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan
Hubungan pribadi merupakan sebuah komitmen antar individu yang dipengaruhi oleh aturan, dialektika relasional, dan konteks yang berasal dari lingkungan sekitar yang dimana setiap hubungan memiliki keunikan, komitmen, aturan hubungan, dipengaruhi oleh konteks sehingga hubungan antar individu dapat berjalan sesuai dengan keinginan. Di dalam suatu hubungan pasti akan terjadi suatu perubahan karena setiap hubungan memiliki keunikan serta kecepatannya sendiri dalam membentuk sebuah persahabatan. Perubahan tersebut terjadi akibat fenomena-fenomena sosial yang terjadi dalam lingkungan pertemanan, sehingga dibutuhkan suatu komunikasi yang baik untuk meningkatkan peran sosial. Dalam hubungan pertemanan sama pula dengan hubungan percintaan dimana memiliki proses yang khas tetapi tidak universal, sehingga setiap hubungan pertemanan maupun hubungan percintaan memiliki tantangan tersendiri. Komunikasi merupakan kunci dalam setiap tantangan yang terjadi karena akan mempengaruhi ketahan serta kualitas dalam suatu hubungan dengan tetap menghargai perbedaan yang ada.
3.2 Saran
Hubungan pribadi yang sudah memiliki komitmen hendaknya dijaga dengan baik meskipun terdapat banyak perbedaan. Dengan komunikasi interperpersonal maka akan menjadikan individu menjadi lebih dekat dengan individu lain, sehingga perlu diperhatikan beberapa aspek yaitu keterbukaan, empati, dukungan, kepositifan dan kesamaan. Untuk mengatasi permasalahan dalam hubungan
DAFTAR PUSTAKA
Chrysan, Meydita & Gigit Mujianto.Basilek Sebagai Representasi Kekuasaan Dan Keakraban Dalam Tutur Penolakan Pada Interaksi Jual-Beli Pasar Tradisional.Jurnal Skripta. 6(2) : 1-15
Permata, Ayu Arnesa, dkk. 2015. Kemampuan Komunikasi Interpersonal Yang Buruk. 1-17
Wood, J.T. 2008. Communication in Our Lives. Wadsworth: Chengange Learning.
Zaprulkhan. 2013. Membangun Relasi Agama dan Ilmu Pengetahuan. Vol 7 No. 2