• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAYA HASIL GALUR-GALUR KEDELAI TOLERAN LAHAN KERING MASAM DI LAMPUNG SELATAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DAYA HASIL GALUR-GALUR KEDELAI TOLERAN LAHAN KERING MASAM DI LAMPUNG SELATAN"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

DAYA HASIL GALUR-GALUR KEDELAI TOLERAN LAHAN KERING MASAM DI LAMPUNG SELATAN

N. R. Patriyawaty, Heru Kuswantoro, Febria Cahya Indriani dan Agus Supeno

Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Jl. Raya Kendalpayak Km 8 Kotak Pos 66 Malang 65101, Telp.(0341) 801468

E-mail: [email protected]

ABSTRAK

Permintaan terhadap kedelai cukup tinggi sejalan dengan semakin meningkatnya industri pakan dan industri pengolahan bahan makanan yang memerlukan bahan baku kedelai, sementara produksi di dalam negeri tidak mencukupi kebutuhan. Salah satu upaya yang perlu dilakukan untuk meningkatkan produksi kedelai adalah melalui ekstensifikasi ke lahan-lahan suboptimal di luar Jawa. Penelitian bertujuan untuk mengetahui galur-galur kedelai toleran lahan kering masam. Penelitian dilaksanakan di KP Natar, Lampung Selatan, pada MK I 2010.

Bahan yang digunakan adalah 22 galur kedelai dan dua varietas pembanding Tanggamus dan Wilis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar galur yang diuji termasuk berukuran biji besar. Terdapat 5 galur yang mempunyai hasil lebih tinggi daripada varietas pembanding.

Galur-galur tersebut berpotensi dalam pembentukan varietas toleran lahan kering masam, berbiji besar, dan berproduksi tinggi.

Kata kunci: kedelai, hasil, lahan kering masam

ABSTRACT

The yield potential of soybean lines tolerant to acidic soil condition in South Lampung. The domestic soybean demand is very high, while the production cannot meet the demand. One at many attempts should be conducted for increasing soybean production is soybean extending to sub-optimal land outside Java island. Research was conducted at Natar Experimental Station in South Lampung district, in dry season 2010. The objective of the research was to find out the tolerance of soybean lines to acidic soil condition. The experiment was arranged in randomize complete block design, two replicates with 25 genotypes as treatment. The results showed that most of the lines have large seed size. There were five lines with high seed yield, and those yields were higher than those of Tanggamus and Wilis variety.

These lines therefore have potency in developing new acid soil tolerant variety, with large seed and high production.

Keywords: soybean genotype, yield, acid soil

PENDAHULUAN

Permintaan terhadap kedelai cukup tinggi sejalan dengan semakin meningkatnya industri pakan dan industri pengolahan berbahan baku kedelai, sementara produksi di dalam negeri tidak mencukupi kebutuhan. Pada tahun 2009 areal panen kedelai 701.392 ha dengan produktivitas 1,32 t/ha sehingga diperoleh total produksi kedelai 924.511 t.

Angka ini dipastikan belum memenuhi kebutuhan dalam negeri, karena pada tahun 2008 produksi kedelai baru mencapai 780.000 t, hanya mencukupi 38% kebutuhan (BPS 2009).

Salah satu upaya yang perlu dilakukan untuk meningkatkan produksi kedelai adalah melalui ekstensifikasi ke lahan-lahan suboptimal di luar Jawa, karena di Jawa terdapat

(2)

kendala keterbatasan lahan subur. Upaya tersebut juga perlu disertai dengan penyediaan varietas unggul berdaya hasil tinggi dan beradaptasi baik (sesuai) di lahan-lahan sub- optimal. Untuk menjamin ketersediaan varietas unggul yang sesuai perlu dilakukan pem- bentukan varietas. Namun upaya tersebut sering mengalami kendala karena terjadinya interaksi antara genotipe x lingkungan (Miller 1989). Hal tersebut terjadi karena kompleks- nya kondisi lingkungan yang meliputi suhu, air, jenis/kesuburan tanah, gangguan hama penyakit tanaman, dan teknik budi daya. Terlebih pada lahan suboptimal yang sering mengalami kekeringan selama beberapa waktu dan memiliki kesuburan tanah yang rendah, termasuk kandungan unsur kimia tertentu yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman, seperti pH rendah, keracunan Al, Mn, dan Fe (Makarim et al. 2005).

Lahan yang potensial untuk pengembangan kedelai adalah lahan kering masam.

Lahan kering masam adalah hamparan lahan yang tidak pernah tergenang pada sebagian besar waktu dalam setahun, memiliki rejim kelembaban udik atau ustik (bukan aquik), reaksi tanah masam (pH<5,0) dan kejenuhan basa <50%. Sebagian lahan kering masam terdapat di Kalimantan (39.242.486 ha) dan Sumatera (29.344.534 ha) (Mulyani et al.

2003 dalam Rachman et al. 2007). Pada lahan semacam ini keracunan Al merupakan kendala utama dalam pengembangan kedelai, karena menyebabkan terhambatnya per- tumbuhan akar dan pembentukan nodul. Kondisi perakaran menjadi tidak normal, pendek, menebal, dan mereduksi pengambilan air dan hara oleh tanaman, dengan demi- kian tanaman mudah tercekam kekeringan (Muhidin 2004). Gejala yang sangat jelas pada tanaman kedelai di tanah masam adalah pertumbuhan yang kerdil, daun berwarna kuning-kecoklatan, pertumbuhan perakaran sangat terbatas, bunga yang terbentuk minimal, produktivitas sangat rendah dan bakal gagal menghasilkan biji (Sumarno 2005).

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi daya hasil galur-galur harapan kedelai toleran lahan kering masam.

BAHAN DAN METODE

Penelitian dilaksanakan di Natar Kab. Lampung Selatan pada MK I 2010. Bahan yang digunakan adalah 22 galur kedelai hasil persilangan varietas Tanggamus/Anjasmoro, satu galur hasil persilangan varietas Nanti/Grobogan, varietas Tanggamus serta Wilis sebagai pembanding. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok, dua ulangan. Ukuran petak percobaan 2,4 m x 4,5 m, jarak tanam 40 cm x 15 cm, dua tanaman/rumpun. Tana- man dipupuk dengan 75 kg urea, 125 kg SP36 dan 75 kg KCl/ha, diberikan secara sebar merata sebelum tanam. Hama, penyakit, dan gulma dikendalikan secara optimal. Data dianalisis menggunakan sidik ragam.

Variabel agronomik yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah polong per tanaman, bobot 100 biji, dan hasil biji. Pengamatan dilakukan melalui pengambilan lima tanaman contoh secara acak, kecuali tanaman pinggir pada setiap petak percobaan. Pengamatan dilakukan pada fase masak fisiologis untuk karakter tinggi tanaman dan pada saat panen untuk jumlah polong per tanaman, bobot 100 biji, dan hasil biji.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa galur-galur yang diuji berbeda sangat nyata untuk tinggi tanaman dan berbeda nyata untuk bobot 100 biji. Namun untuk karakter jumlah polong/tanaman dan hasil tidak berbeda nyata (Tabel 1).

(3)

Tabel 1. Hasil analisis ragam karakter kuantitatif galur-galur kedelai di lahan kering masam.

Natar, MK I 2010.

Kuadrat tengah Karakter Rata-rata

Galur Galat F-hit KK (%) Tinggi tanaman (cm) 54,48 190,72 34,15 5,58 ** 10,73 Jumlah polong/tanaman 29,8 0,14 0,12 1,21 tn 6,15 Bobot 100 biji (g) 14,07 4,05 1,55 2,61 * 8,85 Hasil (t/ha) 1,05 0.61 0,40 1,82 tn 9,42 Ket: ** dan * berbeda nyata pada p: 0,01 dan 0,05. tn: tidak berbeda nyata

Keragaan galur yang diuji lebih rendah dibandingkan dengan varietas Tanggamus (61,1cm) dan Wilis (61,0cm) dengan kisaran 36,0−77,4 cm (Tabel 2). Namun terdapat enam galur dengan tinggi tanaman lebih tinggi dibandingkan kedua varietas pemban- dingnya, yaitu Tgm/Anj-810 (77,4 cm), Tgm/Anj-814 (63,8), Tgm/Anj-860 (68,4 cm), Tgm/Anj-868 (65,0 cm), Tgm/Anj-896 (64,6 cm), dan Tgm/Anj-910 (64,8 cm).

Tabel 2. Beberapa karakter kuantitatif galur-galur kedelai di lahan kering masam. Natar, MK I 2010.

Nama Galur Tinggi tanaman (cm)

Jumlah polong/

tanaman Bobot 100 biji (g) Hasil (t/ha)

Tgm/Anj-810 77,4 31,0 14,1 1,69 Tgm/Anj-814 63,8 24,0 14,7 0,83 Tgm/Anj-829 60,0 30,3 12,2 1,41 Tgm/Anj-830 50,0 36,5 12,5 0,86 Tgm/Anj-832 48,3 25,6 14,3 0,94 Tgm/Anj-833 48,3 22,3 15,0 1,34 Tgm/Anj-840 49,0 32,3 15,8 0,57 Tgm/Anj-846 55,8 40,5 14,2 1,27 Tgm/Anj-860 68,4 24,1 14,3 1,69 Tgm/Anj-868 65,0 40,0 14,0 1,39 Tgm/Anj-869 55,0 35,3 14,4 1,50 Tgm/Anj-890 36,0 28,1 15,5 0,76 Tgm/Anj-894 45,2 22,5 16,2 0,59 Tgm/Anj-896 64,6 54,6 14,6 0,32 Tgm/Anj-898 50,4 19,0 14,4 1,23 Tgm/Anj-902 47,4 19,5 15,7 1,41 Tgm/Anj-906 50,5 21,1 14,6 0,95 Tgm/Anj-909 46,8 32,0 12,6 1,57 Tgm/Anj-910 64,8 43,4 13,1 1,23 Tgm/Anj-911 43,0 19,8 15,0 0,79 Tgm/Anj-918 55,6 24,2 14,7 0,95 Tgm/Anj-966 54,8 27,7 13,3 0,95 Nti/Grb-430 39,8 32,5 15,5 0,26 TANGGAMUS 61,1 26,8 11,3 1,00 WILIS 61,0 32,6 10,4 0,93 Rata-rata 54,5 29,8 14,1 1,1

Rata-rata jumlah polong pertanaman pada galur yang diuji adalah 29,8 polong/

tanaman dengan kisaran 19,0−54,6 polong/tanaman (Tabel 2). Jumlah polong varietas

(4)

pembanding Tanggamus adalah 26,8 polong/tanaman, sedangkan untuk varietas Wilis 32,6 polong/ tanaman. Terdapat enam galur yang mempunyai jumlah polong/tanaman lebih banyak dibanding varietas pembanding Tanggamus dan Wilis, yaitu Tgm/Anj-830 (36,5 polong), Tgm/Anj-846 (40,5 polong), Tgm/Anj-868 (40,0 polong), Tgm/Anj-869 (35,3 polong), Tgm/Anj-896 (54,6 polong), dan Tgm/Anj-910 (43,4 polong). Dari 22 galur yang diuji terdapat 17 galur yang memiliki jumlah polong/tanaman lebih sedikit dari varietas pembanding. Hal ini disebabkan oleh pengaruh cuaca, dimana curah hujan sangat kurang pada saat penelitian, yang mempengaruhi pertumbuhan karena tanaman kedelai membutuhkan air jumlah yang cukup pada fase pembungaan, pembentukan dan pengisian polong. Jika pada fase tersebut air kurang tersedia, maka pembentukan dan pengisian polong akan terhambat (Adisarwanto et al. 2002). Hal serupa juga diungkapkan oleh Suprapto (2001), bahwa apabila pada fase pembentukan dan pengisian polong pasokan air tidak tersedia, maka jumlah polong yang terbentuk lebih sedikit dan biji menjadi lebih kecil. Kuswantoro dan Arsyad (2001) juga menyatakan bahwa bila pada saat pengisian polong tanaman kedelai mengalami kekurangan air, akan mempengaruhi hasil biji.

Sebanyak 18 galur memiliki bobot 100 biji lebih besar daripada varietas pembanding.

Bobot 100 biji varietas Tanggamus adalah 11,3 g sedangkan varietas Wilis 10,4 g. Galur yang diuji memiliki bobot 100 biji rata-rata 14,07 g dengan kisaran 10,4−16,2 g (Tabel 2).

Berdasarkan nilai rata-rata bobot 100 biji, sebagian besar galur yang diuji termasuk berukuran biji besar. Hal ini sesuai dengan kriteria ukuran biji yang ditetapkan oleh Adie dan Krisnawati (2007), yaitu biji kedelai kategori besar mempunyai bobot 14 g/100 biji atau lebih, sedangkan untuk kategori sedang mempunyai bobot 10−14 g/100 biji,dan untuk kategori kecil kurang dari 10 g/100 biji.

Varietas pembanding Tanggamus mempunyai hasil 0,99 t/ha, sedangkan varietas Wilis 0,92 t/ha. Rata-rata hasil untuk galur yang diuji 1,05 t/ha dengan kisaran 0,26−1,69 t/ha (Tabel 2). Terdapat lima galur yang mempunyai hasil lebih tinggi daripada varietas pembanding dengan kisaran 0,94−1,69 t/ha, yaitu Tgm/Anj-810 (1,69 t/ha), Tgm/Anj-860 (1,69 t/ha), Tgm/Anj-868 (1,38 t/ha), Tgm/Anj-869 (1,50 t/ha), dan Tgm/Anj-902 (1,41 t/ha). Galur dengan hasil lebih tinggi daripada varietas pembanding diduga lebih toleran terhadap lahan kering masam. Galur-galur tersebut dirakit, diuji, dan diseleksi selama beberapa tahun pada lahan kering masam. Menurut Arsyad et al. (2007), hasil kedelai nyata dipengaruhi oleh lokasi, galur, dan interaksi lokasi x galur. Hal ini sejalan dengan Susanto (2004) yang menyatakan bahwa semakin tinggi bobot 100 biji dan jumlah polong per tanaman, semakin tinggi hasil yang dicapai. Faktor lain yang turut mempengaruhi produksi tanaman adalah lingkungan dan iklim. Setiap galur/varietas tanaman memiliki kemampuan daya adaptasi yang berbeda, kedelai yang unggul di suatu daerah belum tentu unggul di daerah lain karena adanya perbedaan topografi dan iklim (Baco et al.

1997 dalam Fattah et al. 2005).

Terdapat lima galur (Tgm/Anj-810, Tgm/Anj-860, Tgm/Anj-868, Tgm/Anj-869 dan Tgm/Anj-902) yang prospektif dilepas sebagai varietas unggul dan dapat dikembangkan di Lampung Selatan.

KESIMPULAN

1. Galur-galur yang diuji berbeda sangat nyata pada karakter tinggi tanaman dan berbeda nyata pada karakter bobot 100 biji, namun, tidak berbeda nyata pada karakter jumlah polong per tanaman dan hasil biji.

(5)

2. Terdapat lima galur yang menunjukkan hasil lebih tinggi daripada varietas pembanding, yaitu Tgm/Anj-810, Tgm/Anj-860, Tgm/Anj-868, Tgm/Anj-869, dan Tgm/Anj-902. Galur-galur tersebut berpotensi untuk diuji lebih lanjut di beberapa lokasi.

UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih disampaikan kepada Pemerintah Korea Selatan melalui Proyek AFACI (Asian Food and Agriculture Cooperation Initiative) yang telah menyediakan dana sehingga penelitian ini dapat dilaksanakan.

DAFTAR PUSTAKA

Adie, M., dan Ayda Krisnawati. 2007. Biologi tanaman kedelai. hal.: 45−73. Dalam Sumarno, Suyamto, Adi Widjoyo, Hermanto dan Husni Kasim. (Eds.). Kedelai Teknik Produksi dan Pengembangan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor.

Adisarwanto, T., dan R. Wudianto. 2002. Meningkatkan hasil panen kedelai di lahan sawah kering pasang surut. Penebar Swadaya. Jakarta.

Arsyad, D.M, Kuswantoro, H dan Purwantoro. 2007. Kesesuaian varietas kedelai di lahan kering masam Sumatera Selatan. Jurnal Penelitian Pertanian Tanaman Pangan 26 (1) : 26−31.

BPS. 2009. Statistik Indonesia 2009. Badan Statistik Indonesia. 640 p.

Fattah, A., Amin Nur, dan D. M. Arsyad. 2005. Uji daya hasil beberapa galur harapan kedelai di Sulawesi selatan. Jurnal Agrivor. 5 (1) : 85−91.

Kuswantoro, H., dan D. M. Arsyad. 2001. Identifikasi kedelai toleran kekeringan. Kinerja teknologi untuk meningkatkan produktivitas tanaman kacang-kacangan dan umbi-umbian. Puslitbangtan.

Badan litbang.

Makarim, A.K., D.M. Arsyad., dan A. Ghozi. 2005. Model simulasi peningkatan produksi kedelai di lahan suboptimal. hlm. 19–32. Dalam A.K. Makarim et al. (eds). Prosiding Lokakarya.

Pengembangan Kedelai di Lahan Suboptimal, 26–2711lahan kering di Indonesia. Prosiding Simposium Nasional Pendayagunaan Tanah Masam. Bandar Lampung 29-30 September 2003 Dalam Rachman, A., IGM. Subiksa dan Wahyunto. 2007. Kedelai (Teknik Produksi dan Pengembangan). Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Badan Litbang Pertanian. hlm 185–203.

Miller, J. E. 1989. Implication of genotype environment interaction, p. 2303-2319. In A.J. Pascale (ed): Proc. on World Soybean Research Conference IV. Buenos Aires.

Muhidin. 2004. Uji cepat toleransi tanaman kedelai terhadap cekaman Aluminium. Jurnal Agroland.

11 (1) : 18−24.

Mulyani, A., Hikmatullah, dan Subagyo. 2003. Karakteristik dan potensi tanah masam lahan kering di Indonesia. Hlm 185−203. Prosiding Simposium Nasional Pendayagunaan Tanah Masam.

Bandar Lampung 29-30 September 2003. Dalam Rachman, A., IGM. Subiksa dan Wahyunto.

2007. Kedelai (Teknik Produksi dan Pengembangan). Pusat Penelitian Tanaman Pangan.

Badan Litbang Pertanian.

Rachman A, IGM Subiksa, Wahyunto. 2007. Kedelai (Teknik Produksi dan Pengembangan). Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Badan Litbang Pertanian. hlm 185–203.

Sumarno. 2005. Strategi pengembangan kedelai di lahan masam. hlm. 37–45. Dalam A.K. Makarim et al. (eds). Prosiding lokakarya. Pengembangan kedelai di lahan suboptimal, 26−27 Juli.

Puslitbangtan. Badan Litbang Pertanian.

Suprapto, 2001. Kedelai dan pertumbuhannya. Bertanam Kedelai. Penebar Swadaya. Jakarta.

Susanto, G.W.A. 2004. Variasi genetik karakteristik kuantitatif galur-galur kedelai. Dukungan Pemuliaan Terhadap Industri Perbenihan pada Era Pertanian Kompetatif. Prosiding Lokakarya Perhimpunan Ilmu Pemuliaan Indonesia Bekerjasama dengan Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian.

Gambar

Tabel 2. Beberapa karakter kuantitatif galur-galur kedelai di lahan kering masam. Natar, MK I 2010

Referensi

Dokumen terkait

Skripsi yang berjudul Peningkatan Perlindungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Pada Pekerjaan Kehutanan (Studi Kasus: IUPHHK-HA PT. Sarmiento Parakantja Timber, Kalimantan

Adapun persyaratan yang harus terpenuhi agar akuntabilitas kinerja instansi pemerintah tercapai antara lain adalah sistem pemerintahan harus dapat menjamin bahwa

[r]

Pada kecepatan angin 80 km/jam di dapatkan grafik tekanan yang dihasilkan pada analisis, pada bagian ini terdapat tekanan angin yang lebih rendah dari gambar grafik

Seringkali mengalami server error 12% Fitur yang disediakan kadang sulit dimengerti dan kalau ada kendala harus telfon call center 121 11% Kurang minat untuk beli tiket

Oleh karena itu, untuk dapat mengeksplorasi materi yang penulis tuangkan dalam buku modul tersebut, maka dibutuhkan berbagai masukan dari berbagai pihak sehingga

Abu dasar batubara merupakan bahan buangan dari proses pembakaran batubara pada pembangkit tenaga yang mempunyai ukuran partikel lebih besar dan lebih berat

Berkhoff (1972), menurunkan persamaan model refraksi – difraksi oleh batimetri gelombang dengan menggunakan suatu anggapan bahwa kemiringan dasar perairan adalah sangat kecil,