DAN REPUBLIKA.CO.ID Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana (S.Sos.)
Disusun oleh : Muhammad Sayid Furqon
11140510000133
KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
1442 H/2021 M
i
ANALISI FRAMING PEMBERITAAN KEBIJAKAN POLISI VIRTUAL PADA MEDIA ONLINE TIRTO.ID
DAN REPUBLIKA.CO.ID
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)
Oleh:
Muhammad Sayid Furqon NIM. 11140510000133
Pembimbing,
Dr. Armawati Arbi, M. Si.
NIP. 19652071991032002
JURUSAN KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
TAHUN 1442 H/2021 M
iii ABSTRAK
MUHAMMAD SAYID FURQON (11140510000133)
ANALISIS FRAMING PEMBERITAAN KEBIJAKAN POLISI VIRTUAL PADA MEDIA ONLINE TIRTO.ID DAN REPUBLIKA.CO.ID
Vortual Police merupakan upaya Kepolisian Republik Indonesia untuk memberikan edukasi kepada publik agar tidak menyebarkan konten yang diduga melanggar hukum. Sistem ini masih sangat baru dan belum pernah dilakukan sebelumnya di negara ini. Sehingga menjadi topik pembicaraan yang serius untuk masyarakat digital atau neitizen. Hal ini mencuri perhatian media yang sering membingkai berita isu dan terbilang segar.
Dari uraian di atas, memunculkan pertanyaan mayor dan minor. Adapun pertanyaan mayornya adalah Bagaimana framing pemberitaan Kebijakan Polisi Virtual pada Media Online Tirto.id dan Republika? Kemudian Pertanyaan minornya bagaimana framing Tirto.id dan Republika menggunakan aspek define problem, diagnose cause, make moral judgement, treatment recommendation?
Penulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskripsif dan paradigma konstruktivis. Metode yang digunakan adalah analisis framing Robert N. Entman dalam mengkaji teks berita dan menganalisa secara deskriptif.
Dari hasil penelitian menunjukan terdapat perbedaan framing pada kedua media. Tirto id yang lebih kritis menganggap patroli polisi di media sosial tidak hanya memberikan ketakutan warga, tetapi juga mengedukasi agar berlaku baik dalam menggunakan sosial media. Republika.co.id menganggap bahwa kesadaran etika di dunia digital sangat diperlukan, tindakan teguran yang dilakukan semata berdasarkan pelanggaran.
Kata kunci: Framing, polisi virtual, Tirto.id, Republika.co.id
iv
KATA PENGANTAR Assalamu‟alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
Alhamdulillahirobbil „Alamin, puji dan syukur penulis haturkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kemudahan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisi Framing Pemberitaan Kebijakan Polisi Virtual pada Media Online Tirto.id dan Republika.co.id”. Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi besar Nabi Muhammad SAW, semoga kita semua senantiasa mendapatkan syafaat-Nya hingga akhir kelak.
Skripsi ini merupakan salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos) dari Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selama proses penyusunan skripsi, penulis menyadari masih banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna.
Hal ini dikarenakan keterbatasan kemampuan dan pengetahuan penulis. Tentu saja dalam penyelesaian skripsi ini penulis tidaak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, baik dalam bentuk material maupun moril. Oleh sebab itu, pada kesempatan baik ini penulis ingin menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Suparto, M.Ed, Ph.D., sebagai Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi. Dr. Siti Napsiyah, S.Ag, MSW., sebagai Wakil Dekan I Bidang Akademik. Dr. Sihabudin Noor, M.Ag., sebagai Wakil Dekan II Bidang Adminitrasi
v
Umum. Drs. Cecep Castrawijaya, M.A., sebagai Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan.
2. Dr. Armawati Arbi, M.Si., sebagai Ketua Jurusan Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) sekaligus sebagai Dosen Pembimbing dan juga Dosen Penasehat Akademik, yang telah bersedia membimbing serta selalu sabar memberikan masukan, saran dan waktunya kepada penulis sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Dan juga yang selalu memberikan motivasi, masukan dan saran selama perkuliahan. Semoga beliau dan keluarga selalu sehat dan dalam lindungan Allah. Amiin.
3. Dr. H. Edi Amin, S.Ag., M.A., sebagi Sekretaris Program Studi Komuniasi Penyiaran Islam (KPI).
4. Seluruh dosen dan staf Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
5. Seluruh Staf Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Perpustakaan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi.
6. Tim redaksi Tirto.id Mohammad Barnie dan Redaktur Republika.co.id Ratna Puspita yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian ini.
7. Kedua orang tua tercinta dan terkasih, Bapak Mulyadi A.
dan Ibu Martinah, yang selalu memberikan dukungan baik berupa moril maupun material, motivasi, saran, kasih sayang, perhatian dan do’a yang tak henti-hentinya terucap. Selalu sabar menyemangati, dan sabar menunggu
vi
penulis menyelesaikan studi dan mendapatkan gelar sarjana,
8. Kakak peremepuan Asri Andini dan adik perempuan Fitri Aulia, yang selalu memberi semangat, motivasi, dan menjadi penghibur dikala penulis merasa jenuh, bahkan membantu mengoreksi kesalahan pengetikan.
9. Rumini Fajar yang selalu meyemangati, membantu dan menemani penulis selama menyelesaikan skripsi.
10. Keluarga Besar DNK TV, angkatan 5 DNK TV, yang telah memberikan banyak pengalam dan kekeluargaan di kampus.
11. Teman-teman Kuliah Kerja Nyata (KKN) Penyemarak 63 2017
Akhir kata terima kasih banyak dan mohon maaf atas segala salah dan khilaf yang terjadi selama proses penyelesaian skripsi ini. Segala budi baik semua pihak yang disebutkan maupun tidak semoga mendapatkan balasan dari Allah SWT.
Besar harapan penulis agar apa yang telah penulis usahakan ini bermanfaat, baik bagi penulis maupun bagi orang lain.
Jakarta, 9 Agustus 2020
Muhammad Sayid Furqon
vii DAFTAR ISI
LEMBAR PERNYATAAN ... ii
ABSTRAK ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR TABEL ... x
BAB I PENDHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 8
C. Batasan Masalah dan Rumusan Masalah ... 8
D. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian ... 10
E. Kajian Pustaka ... 11
F. Metodologi Penelitian ... 13
G. Sistematika Penulisan ... 16
BAB II KERANGKA TEORITIS ... 17
A. Framing ... 17
B. Konsep Framing Robert N. Entman ... 21
C. Berita dan Media Online ... 24
D. Polisi Virtual ... 30
BAB III GAMBARAN UMUM ... 37
viii
A. Profil Tirto.id ... 37
B. Profil Republika.co.id ... 41
BAB IV DATA DAN TEMUAN PENELITIAN ... 45
A. Berita Polisi Virtual Pada Tirto.id ... 45
B. Berita Polisi Virtual Pada Republika.co.id ... 67
BAB V PEMBAHASAN ... 80
A. Analisis Framing Berita Polisi Virtual Pada Tirto.id ... 80
B. Analisis Framing Berita Polisi Virtual Pada Republika.co.id ... 91
C. Perbandingan Framing Berita Polisi Virtual dari Tirto.id dan Republika.co.id ... 102
BAB VI PENUTUP ... 109
A. Simpulan ... 109
B. Implikasi ... 111
C. Saran ... 111
DAFTAR PUSTAKA ... 113
LAMPIRAN ... 117
ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar 4. 1 Tampilan Judul dan Gambar ... 46
Gambar 4. 2 ... 55
Gambar 4. 3 ... 62
Gambar 4. 4 ... 68
Gambar 4. 5 ... 72
Gambar 4. 6 ... 76
x
DAFTAR TABEL
Tabel 4. 1 Daftar Berita Polisi Virtual Tirto.id ... 45 Tabel 4. 2 Daftar Berita Polisi Virtual pada Republika.co.id ... 67 Tabel 5. 1 Framing Berita Tirto.id "Polisi Virtual: Jalan Pintas Indonesia Menuju "Negara Polisi"?” ... 80 Tabel 5. 2 Framing Berita Tirto.id “Apa Itu Virtual Police?
Aturan, Cara Kerja dan Kaitan dengan UU ITE” ... 85 Tabel 5. 3 Framing Berita Tirto.id “Polisi Virtual Memicu
Warganet Semakin Takut Berkomentar” ... 88 Tabel 5. 4 Framing Berita Republika.co.id “DPR: Polisi Virtual Harus Tetap Perhatikan Hak Masyarakat” ... 92 Tabel 5. 5 Framing Berita Republika.co.id “Polisi Virtual
Diharapkan tak Kekang Aspirasi Masyarakat” ... 95 Tabel 5. 6 Framing Berita Republika.co.id “Polri: Polisi Virtual tak Kekang Kebebasan Berpendapat” ... 98 Tabel 5. 7 Perbandingan Framing Berita Polisi Virtual dari Tirto.id dan Republika.co.id ... 103
1 BAB I
PENDHULUAN A. Latar Belakang
Pada awal tahun 2020 sampai dengan tahun 2021 ini, dunia dan negara Indonesia khususnya tengah menghadapi pandemi virus covid-19. Virus yang pertama kali ditemukan di Kota Wuhan, China pada pada akhir tahun 2019. Pandemi ini telah menularkan umat manusia, sampai pada saat penelitian ini ditulis pada 14 Maret 2021 telah menjangkit sebanyak 1.419.455 orang di Indonesia. Menurut, pernyataan yang dikeluarkan oleh Kemenkes.go.id.1 Dengan demikian porotokol kesehatan yang diatur oleh pemerintah dalam mengurangi proses penularan virus tersebut semakin ditingkatkan. Pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan kegiatan untuk Jawa dan Bali dengan melaksanakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).
Seiring dengan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat, aktivitas di luar rumah terbatas ruang geraknya dan kegiatan kumpul atau yang mengundang keramaian di malam hari pun ditiadakan. Sehingga aktivitas sehari-hari masyarakat dan kegiatan tatap muka pun beralih ke pada media sosial dan internet. Mulai dari usia dini sampai dengan
1 PHEOC Kemenkes RI,
https://infeksiemerging.kemkes.go.id/dashboard/covid-19, diakses pada tanggal 14 Maret 2021.
usia lanjut semakin terbiasa mengungkapkan ekspresi dan pendapatnya di sosial media yang menjadi pusat dari segala informasi.
Artinya, dalam kondisi PPKM ini, intensitas aktivitas kegiatan masyarakat di internet menjadi lebih tinggi.
Sehingga, semakin meningkatnya kasus pencemaran nama baik, hoax, ujaran kebencian, dan aksi pelanggaran UU ITE.
Di tengah pandemi yang semakin merebak dan kegiatan masyarakat dibatasi oleh pemerintah dengan saling menjaga jarak dan mengatur waktu aktivitas demi menangani pandemi virus covid-19. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menghadirkan virtual police atau polisi virtual untuk mengatur ketertiban di tengah masyarakat atau warganet yang aktif bersosial media. 2 Namun, kebijakan Kapolri yang menghadirkan polisi virtual di media sosial menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Keputusan ini dinilai positif karena bisa mengurangi penyebaran fitnah, penyebaran hoaks, penyebaran berita bohong dan sebagainya.3 Sebagaimana mestinya dalam Al-Qur’an bahkan sudah dijelaskan atau memberikan kita tuntunan dalam menyikapi hoaks. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 6 yang artinya:
2Ali Mansur, Penjelasan Polri Soal Pembentukan Polisi Virtual, https://www.republika.co.id/berita/qopxxh396/penjelasan-polri-soal-
pembentukan-polisi-virtual, diakses pada tanggal 18 Maret 2021.
3Alexander Haryanto, “Apa Itu Virtual Police? Aturan, Cara Kerja dan Kaitan dengan UU ITE”, https://tirto.id/apa-itu-virtual-police-aturan-cara- kerja-dan-kaitan-dengan-uu-ite-gaBQ, di akses pada tanggal 14 Maret 2021.
ٰ ي
ْٰوُ نَم اَٰنْيِذَّلاٰاَهُّ يَا ٓ
ٌٰقِساَفْٰمُكَءۤاَجْٰنِاٰا ٓ
ٰ ٓ
ْٰوُ نَّ يَ بَتَ فٍٰاَبَنِب
ْٰنَاٰا ٓ
اًمْوَ قٰاْوُ بْيِصُت
ٰ ٓ اَمٰى لَعٰاْوُحِبْصُتَ فٍٰةَلاَهَجِب
َٰنْيِمِد نْٰمُتْلَعَ ف ٰ
"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."4
Tetapi, dari sisi negatifnya dirasa akan menekan kebijakan dalam membatasi ruang gerak di media sosial, banyak masyarakat yang merasakan keresahan. Tidak hanya itu, media pun merasa semakin dibatasi haknya dalam memberikan informasi dan kritik terhadap pemerintahan.
Perdebatan mengenai kebijakan tersebut tidak dapat dipungkiri dan memuat tanggapan berbagai media. Sudah semestinya pemimpin membuat kebijakan yang benar dan baik sehingga rakyat sejahtera.
َنْيِذَّلا َشْخَيْلَو ْمِهْيَلَع اْوُ فاَخ اًفٰعِض ًةَّيِّرُذ ْمِهِفْلَخ ْنِم اْوُكَرَ ت ْوَل
ۖ
اًدْيِدَس ًلًْوَ ق اْوُلْوُقَ يْلَو َوّٰللا اوُقَّ تَيْلَ ف
“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap
4 QS. Al-Hujarat (49): 6, Al-Quran dan Terjemahan, Kementrian Agama Republik Indonesia.
(kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (QS. An-Nisa: 9)5
Di era reformasi saat ini dengan tumbuhnya kebebasan informasi yang luar biasa, industri media tidak perlu lagi menunggu izin dari pemerintah dalam penyampaian informasinya, sehingga banyak fenomena yang sesungguhnya penting dan seharusnya diketahui oleh masyarakat justru dikendalikan oleh kekuasaan maupun sebaliknya. Berbagai pemberitaan tentang kasus kebijakan polisi virtual dimuat berbagai media yang kemudian dikemas dengan beragam pandangan dalam melihat kasus ini. Konsep yang digunakan dalam menggambarkan proses penyeleksian dan penyorotan aspek-aspek khusus sebuah realita oleh media. Dalam studi komunikas, konstruksi realitas oleh media massa menjadi pembahasan yang menarik. Cara media nyeleksi informasi, menggambarkan situasi dan memberi citra tentang suatu peristiwa. Media bukan hanya menyampaikan informasi, namun memiliki tujuan tertentu dengan memberikan cara pandang atau perspektif unntuk menentukan fakta yang diambil.
Hal ini agar media dapat memegang teguh informasi yang baik, sebagaimana diterangkan dalam Al-Quran surat Al-Ahzab Ayat 70:
ٰي اوُنَمٰا َنْيِذَّلا اَهُّ يَا ۖ اًدْيِدَس ًلًْوَ ق اْوُلْوُ قَو َوّٰللا اوُقَّ تا
ۖ
5 QS. An-Nisa (4): 9, Al-Quran dan Terjemahan, Kementrian Agama Republik Indonesia.
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”6
Istilah konstruksi atas realitas sosial (social construntion of reality) menjadi terkenal sejak diperkenalkan sebagai pandangan oleh Peter L. Berger dan Thomas Lukmann melalui bukunya yang berjudul The Social Construction of Reality: A Treatise in the Socialogical of Knowledge (1996), yang menggambarkan proses sosial melalui tindakan dan interaksinya, di mana individu menciptakan secara terus menerus suatu realitas yang dimiliki dan dialami secara subjektif.7
Menurut Nurudin, seperti dikutip dalam bukunya bahwa Maxwell McCombs dan Donald L. Shaw adalah orang yang pertama kali memperkenalkan teori agenda setting.
Teori ini muncul sekitar tahun 1973 dengan publikasi pertamanya berjudul “The Agenda Setting Function of The Mass Media”. Secara singkat, teori ini mengatakan media (khususnya media berita) tidak selalu berhasil memberitahu apa yang masyarakat pikir, tetapi media tersebut benar-benar berhasil memberitahu masyarakat berpikir tentang apa. Media massa selalu mengarahkan khalayak terhadap apa yang harus masyarakat lakukan. Media memberikan agenda melalui pemberitaannya, dan masyarakat akan mengikutinya. Dalam
6 QS. Al-Ahzab (33): 70, Al-Quran dan Terjemahan, Kementrian Agama Republik Indonesia.
7 Peter L Berger. Thomas Luckmann. (2008). Kostruksi Sosial Media Massa: Kekuatan Pengaruh Media Massa, Iklan Televisi, dan Keputusan Konsumen Serta Kritik Terhadap. (Jakarta: Kencana Predana Media Group)
teori, ini media mempunyai kemampuan untuk menyeleksi dan mengarahkan perhatian masyarakat pada gagasan atau peristiwa tersebut. Media mengatakan pada khalayak apa yang penting dan tidak penting serta mengatur apa yang harus dilihat dan tokoh siapa yang harus didukung.8
Asumsi dari teori ini adalah bahwa jika media memberi tekanan pada suatu peristiwa, maka media itu akan mempengaruhi masyarakat untuk menganggapnya penting.
Jadi apa yang dianggap penting media, maka penting juga bagi masyarakat. Dalam hal ini media diasumsikan memiliki efek yang sangat kuat, terutama karena asumsi ini berkaitan dengan proses belajar bukan dengan perubahan sikap dan pendapat.
Wajar bila dalam suatu peristiwa yang sama akan disajikan berbeda oleh media, setiap media memiliki karakteristik yang beda dalam mengangkat sudut pandang pemberitaannya. Sebagaimana kita ketahui, sejak awal perkembangannya media massa baik media sosial atau media online telah menjadi bagian dari politik. Secara khusus, media online pun memiliki persepsi demikian. Media massa tidak berdiri sendiri, tetapi dikelilingi dengan berbagai kepentingan yang mewarnainya. Lebih dari itu, penyampaian sebuah berita ternyata menyimpan subyektifitas penulis.
8 Nurudin. (2007). Pengantar Komunikasi Massa (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada). 195
Untuk melihat subjektivitas penulis tersebut, diperlukan sebuah analisis tersendiri terhadap isi berita sehingga akan diketahui latar belakang seorang penulis dalam menulis berita. Pembaca akan lebih memahami bagaimana seorang penulis atau institusi pers dalam menulis berita. Salah satu cara untuk menganalisis berita di media adalah analisis bingkai (frame analysis). Analisis bingkai adalah bagaimana cara media memaknai, memahami dan membingkai kasus/peristiwa yang penting. Metode semacam ini berusaha menafsirkan makna dari suatu teks dengan jalan menguraikan bagaimana media membingkai isu.
Studi ini difokuskan untuk menganalisi framing berita Tirto.id dan Republika.co.id (selanjutnya disingkat ROL) terkait berita kebijakan polisi virtual sebagai objek bahasan karena merupakan sebuah badan baru dari kepolisian Republik Indonesia. Menjadi sebuah daya tarik bagi penulis dan juga tentu untuk media online membuat rubrik yang menyegarkan.
Sementara pemilihan Tirto.id berdasarkan latar belakang historis media tersebut yakni, nama Tirto yang dipilih dari Tirta Adhi Soerjo yang ditetapkan sebagi “Bapak Pers” pada 1973 sekaligus pahlawan nasional. Beliau merupakan orang cerdas dan kritis memanfaatkan surat kabar sebagai alat perlawanan terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda. Selanjutnya Republika.co.id, didasari oleh latar belakang sejarah pendirian Republika yang bernafaskan politik Islam. Dengan dukungan modal, intelektual, dan
sumber daya manusia dari kelompok Islam jelas menjadikan nama Republika eksis dalam konteks kebangkitan Islam politik di Indonesia. Dengan ideologi mengacu kepada Islam, hal ini menjadi berkesinambungan dengan program studi penulis saat ini.
Berdasarkan paparan diatas penulis tertarik mengangkat isu yang sedang ramai menjadi perbincangan publik Indonesia saat ini. Oleh karena itu, penulis ingin mengangkat judul penelitian “Analisis Framing Pemberitaan Kebijakan Polisi Virtual Pada Media Online Tirto.Id” dengan menggunakan model framing Robert N.
Entman.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti mengidentifikiasi beberapa masalah yang akan dijadikan penelitian:
1. Kebijakan polisi virtual yang pro dan kontra di masyrakat.
2. Banyaknya kasus berita hoax dan kejahatan cyber.
3. Kekhawatiran warganet akan kebebasan berekspresi.
C. Batasan Masalah dan Rumusan Masalah 1. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dipaparkan di atas, maka penulis merumuskan permasalahan secara umum adalah “Bagaimana framing pemberitaan kebijakan
polisi virtual pada media online tirto.id dan republika.co.id?”
Berdasarkan masalah utama ini, sesuai dengan teori framing Robert N. Entman, maka rumusan masalah tersebut dapat dibahas lebih rinci dalam sub-sub masalah sebagai berikut:
a. Bagaimana framing polisi virtual pada Tirto.id dan Republika.co.id ditinjau dari aspek Define problem (pendefinisian masalah)?
b. Bagaimana framing polisi virtual pada Tirto.id dan Republika.co.id ditinjau dari aspek Diagnose cause (memperkirakan masalah/ sumber masalah)?
c. Bagaimana framing polisi virtual pada Tirto.id dan Republika.co.id ditinjau dari aspek Make moral judgement (membuat keputusan moral)?
d. Bagaimana framing polisi virtual pada Tirto.id dan Republika.co.id ditinjau dari aspek Treatment recommendation (menekankan penyelesaian)?
2. Batasan Masalah
Agar pembahasan proposal ini tidak meluas dan keluar dari pembahasan. Maka Batasan yang akan diambil dari penelitian ini adalah 3 buah berita polisi virtual dari masing-masing media online.
a. Berita Tirto.id 20 Februari 2021 dengan judul Polisi Virtual: Jalan Pintas Indonesia Menuju "Negara Polisi"?
b. Berita Tirto.id 25 Februari 2021 “Apa Itu Virtual Police? Aturan, Cara Kerja dan Kaitan dengan UU ITE.
c. Berita Tirto.id 1 Maret 2021 Polisi Virtual Memicu Warganet Semakin Takut Berkomentar.
d. Berita Republika.co.id 25 Feb 2021 DPR: Polisi Virtual Harus Tetap Perhatikan Hak Masyarakat.
e. Berita Republika.co.id 27 Feb 2021 Polisi Virtual Diharapkan tak Kekang Aspirasi Masyarakat.
f. Berita Republika.co.id 25 Feb 2021 Polri: Polisi Virtual tak Kekang Kebebasan Berpendapat.
D. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pokok permasalahan diatas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pembingkaian berita yang dilakukan oleh media online Tirto.id dan Republika.co.id.
2. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini ditinjau secara akademis dan praktis
a. Manfaat Akademis
Manfaat penelitian ini adalah dapat menambahkan informasi dan referensi penelitian tentang konsep analisis framing dan pembingkaian berita polisi virtual di media online.
b. Manfaat Praktis
Manfaat praktis dari penelitian ini adalah memberikan informasi dan gambaran bagi masyarakat mengenai bagaimana suatu media membingkai sebuah peristiwa menjadi sebuah berita. Sehingga masyarakat dapat memilih dan memahami berita dengan baik.
Selain itu dari penelitian ini diharapkan menjadi pencerahan bagi media dan selalu menjaga objektifitas dan tidak berpihak terhadap siapapun.
E. Kajian Pustaka
Dalam penelitian ini, penulis melakukan tinjauan pustaka terlebih dahulu terhadap beberapa penelitian sebelumnya. Kajian pustaka ini juga berguna untuk mengurangi penelitian ulang dengan tema yang sama.
Pertama ialah Skripsi Analisi Framing Berita Dugaan Nepotisme Rektor Universitas Negeri Jakarta Di Majalah Lembaga Pers Mahasiswa Didaktika Tahun 2017 Oleh Eko Ramdani dengan NIM 11140510000035 mahasiswa program studi Komunikasi dan Penyiaraan Islam, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Membahas tentang keberpihakan LPM Ddidaktika di rubrik kampusiana. Hasil dari penelitian ini menampilkan berbagai data yang membenarkan adanya dugaan nepotisme serta kasus plagiarisme yang ada di Pasca Sarjana UNJ.9
9 Ramdani Eko, Analisi Framing Berita Dugaan Nepotisme Rektor Universitas Negeri Jakarta Di Majalah Lembaga Pers Mahasiswa Didaktika
Skripsi ini menggunakan Paradrigma konstruktivis dengan pendekatan kualitatif, menggunakan konsep dari Pan dan Kosicky untuk metode analisis framing. Perbedaan dengan penelitian penulis terletak pada objek dan subjek penelitian yang diambil.
Selanjutnya, Skripsi Analisis Framing Berita Interseks (Studi Komparatif Media Online Tirto.id dan Deutsche Welle Indonesia) oleh Ineike Pramestiya dengan NIM 11150510000117 mahasiswi program studi Jurnalistik, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penelitian ini membahas tentang pemberitaan Interseks di portal media online, konteks yang sangat menarik mengingat interseks atau gender biner sendiri jarang terjadi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan framing pada kedua media, dan membahas lebih lanjut mengenai pendidikan gender dan seksualitas serta menegakkan hak asasi kaum minoritas. 10 Skripsi ini menggunakan pendekatan kualitatif dan paradigma konstruktivis. Metode yang digunakan analisi framing model Robert N. Entman. Salah satu subjek yang diteliti sama dengan apa yang akan penulis teliti, perbedaan dengan penelitian penulis terletak pada objek penelitian.
Tahun 2017, Skripsi, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hudayatullah Jakarta, 2020.
10 Pramestiya Ineike, Analisis Framing Berita Interseks (Studi Komparatif Media Online Tirto.id dan Deutsche Welle Indonesia), Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2020.
F. Metodologi Penelitian 1. Paradigma Penelitian
Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivis, yang menurut Cohen dan Manion (1994) sebagai pendekatan penelitian yang bertujuan memahami dunia pengalaman manusia. Konstruktivis atau kadang disebut paradigma Interpretif menganggap bahwa realita adalah hasil kontruksi social. (Mertens, 2005, h.12).
Kontruktivis atau interpratif cenderung melandasi pada cara pandang partisipan atau situasi (Creswell, 2003, h.8).
Paradigma kontruktivis merujuk pada the social contructivism worldview yang menurut Creswell (2003) berasumsi bahwa individu selalu mencari pemahaman atas dunia dimana mereka tinggal dan berkerja. Setiap individu memiliki makna subjektif atas pengalaman mereka yang mengarah pada suatu objek atau hal tertentu. Makna dikonstruksi oleh individu ketika mereka terlibat dalam dunia yang mereka tafsirkan, dan berusaha memahaminya berdasarkan cara pandang social dan historis mereka.11 2. Pendekatan Penelitian
Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian dimana peneliti tidak menggunakan angka atau rumus statistik
11 Crotty Michael, The Foundations of Social Research (Meaning and Perspective in the Research Process), (London: SAGE Publications, 1998).
dalam mengumpulkan data dan dalam memberikan penafsiran terhadap hasilnya. Menurut Crasswell seperti yang dikutip dalam buku Burhan Bungin mengatakan bahwa, ada empat asumsi dalam pendekatan kualitatif.
Pertama pendekatan kualitatif tidak bertumpu pada hasil akhir saja, melainkan lebih memerhatikan proses. Kedua, interpretasi juga diperhatikan oleh penelitian kualitatif dari pada hasil. Ketiga, peneliti itu sendiri menjadi alat utama untuk mengumpulkan data, termasuk proses turun ke lapangan dan melakukan observasi lapangan.
Selanjutnya, peneliti kualitatif terlibat dalam proses penelitian, interpretasi data, dan memberikan pemahaman melalui kata atau gambar.
3. Subjek dan Objek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini ialah Tirto.id dan Republika.co.id. Sedangkan Objek penelitiannya adalah teks berita yang dipublikasikan oleh Tirto.id dan Republika.co.id yaitu tentang berita polisi virtual.
4. Teknik Pengumpulan Data a. Dokumentasi
Merupakan cara yang digunakan untuk mendapatkan hitorisasi data . Dengan demikian, pada penelitian ini maka dokumentasi memegang peranan yang sangat penting, peneliti melakukan pengambilan data dari berita polisi virtual pada media online Tirto.Id periode 20 Februari 2021 dan periode 25 Februari 2021.
b. Wawancara
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan narasumber yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. 12 Dalam penelitian ini peneliti mengadakan tanya jawab kepada redaksi media online Tirto.id dan Republika.co.id.
c. Studi Kepustakaan
Mengumpulkan data melalui sember-sumbernya yang berada diperpustakaan seperti jurnal, buku-buku, literatur, surat kabar dan bahan kepustakaan lainnya yang berkaitan dengan penelitian ini. Dalam hal ini peneliti memperoleh data dengan cara mengutip data dari sumber lain untuk melengkapi data yang sudah ada.
5. Teknik Analisis Data
Penelitian ini menggunakan analisi framing Robert N. Etnman. Dalam model analisis framing Robert N.
Etnman terdapat 4 rumusan atau model perangkat framing yakni Define problems (definisi masalah), Diagnose causes (sumber masalah), Make moral judgement (membuat keputusan moral), dan Treatment recommendation (menekankan penyelesaian).
12 Moleong, Lexy J, Metodologi penelitian kualitatif, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2010).186.
G. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dalam penelitian ini dibagi pembahasannya menjadi lima bab, yakni;
BAB I: Bab ini merupakan bab pendahuluan yang terdiri dari: Latar belakang masalah, tujuan penelitian dan kegunaan penelitian, metodologi penelitian serta teknik pengumpulan data.
BAB II: Bab ini menjelaskan tentang landasan teori yang berkaitan dengan pembahasan masalah yang diteliti. Termasuk di dalamnya kajian teori, kajian terdahulu dan kerangka pikir.
BAB III: Bab ini berisikan gambaran umum tentang Tirto.Id dan Republika.co.id. Didalamnya juga berisi profil, sejarah hingga visi dan misi.
BAB IV: Berisikan temuan data dan penelitian yang akan di Analisa.
BAB V: Bagian ini berisi uraian yang mengaitkan latar belakang, teori dan rumusan teori baru dari penelitian.
BAB VI: Bab terakhir ini berisikan penutup yang didalamnya mencakup kesimpulan, implikasi serta saran yang ditulis oleh penulis.
17 BAB II
KERANGKA TEORITIS
A. Framing
Analisis framing adalah analisi yang dipakai untuk melihat bagaimana media mengkonstruksi realitas. Analisi framing digunakan untuk melihat bagaimana peristiwa dibingkai media. Karena banyak media yang meliput suatu realitas, maka realitas akan di konsruksi secara berbeda oleh media. Realitas dipahami sebagai hsil konstruksi. Berbagai hal yang terjadi, fakta, orang, diabstraksikan menjadi peristiwa yang hadir dihadapan khalayak. Lebih spesifiknya dalam penelitian framing yang menjadi titik persoalan adalah bagaimana media membingkai peristiwa dalam konstruksi tertentu.1
Dalam pembetukan suatu berita, media massa memiliki strategi dalam mengemas suatu topik sehingga memiliki daya tarik yang tinggi dan pesan berisi makna tertentu yang menjadi opini kepada khalayak. Dalam pembetukan opini publik, proses ini melalui apa yang disampaikan oleh Hamad (2004) yaitu terdapat tiga tindakan yang biasa dilakukan pekerja media, khususnya oleh para komunikator massa ketika melakukan konstruksi realitas yaitu pemilihan simbol (fungsi bahasa),
1 Eriyanto, Analisis Framing, Konstruksi Ideologi, dan Politik Media, (Yogyakarta: LkiS, 2002), h.7.
pemilihan fakta yang akan disajikan (strategi framing), dan kesediaan memberi tempat (agenda setting).2
Gagasan tentang framing pada awalnya dikemukakan oleh Baterson tahun 1955. Mulanya frame dimaknai sebagai struktur konseptual atau perangkat kepercayaan yang mengorganisir pandangan politik, kebijakan, dan wacana serta yang menyediakan kategori-kategori standar untuk mengapresiasi realitas. Tahun 1974, Goffman mengembangkan konsep frame sebagai kepingan- kepingan perilaku (strips of behaviour) yang membimbing individu dalam membaca realitas. 3 Dalam perspektif komunikasi, analisis framing dipakai untuk membedah cara-cara atau ideologi media saat mengkonstruksi fakta.
Analisis ini mencermati strategi seleksi, penonjolan, dan pertautan fakta ke dalam berita agar bermakna, lebih menarik, lebih berarti atau lebih diingat, untuk menggiring interpretasi khalayak sesuai perspektifnya.
Dengan kata lain, framing adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita. Cara pandang atau perspektif itu pada akhirnya menentukan fakta apa yang diambil, bagian mana yang ditonjolkan dan dihilangkan, serta hendak
2 Ibnu Hamad. Konstruksi Realitas Politik dalam Medai Massa.
(Jakarta: Granit, 2004).
3 Alex Sobur, Analisis Teks Media, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009), h. 162.
dibawa ke mana berita tersebut. 4 Karenanya, berita menjadi manipulatif dan bertujuan mendoninasi keberadaan subjek sebagai sesuatu yang legitimate, objektif, alamiah, wajar, atau tak terelakkan.
Analisis framing adalah salah satu metode analisis teks yang berada dalam kategori penelitian konstruksionis.
Analisis framing secara sederhana dapat digambarkan sebagai analisis untuk mengetahui bagaimana realitas (peristiwa, aktor, kelompok atau apa saja) dibingkai oleh media. Pembingkaian tersebut tentu saja melalui proses konstruksi. Realitas sosial dimaknai dan dikonstruksi dengan makna tertentu. Peristiwa dipahami dengan bentukan tertentu. Hasilnya, pemberitaan media pada sisi tertentu atau wawancara dengan orang-orang tertentu.
Semua elemen tersebut tidak hanya bagian dari teknis jurnalistik, tetapi menandakan bagaimana peristiwa dimaknai dan ditampilkan.5 Analisis framing dipahami dan banyak digunakan dalam penelitian sebagai salah satu teknik analisis isi. Tetapi pada perkembangan berikutnya, analisis framing telah berubah menjadi seperangkat teori yang oleh sejumlah pakar komunikasi dipahami sebagai salah satu pendekatan untuk melihat bagaimana domain dibalik teks media mengkonstruksi pesan. Entman melihat framing dalam dua dimensi besar yaitu: “Seleksi isu dan
4 Bimo Nugroho. Eriyanto, dan Frans Suadiarsis, Politik Media Mengemas Media, (Jakarta: Institut Studi Arus Informasi, 1999). h. 21.
5 Eriyanto, Analisis Framing, Konstruksi Ideologi, dan Politik Media, (Yogyakarta: LkiS, 2002). 4.
penekanan atau penonjolan aspek-aspek realitas. Kedua faktor ini dapat lebih mempertajam framing berita melalui proses seleksi isu yang layak ditampilkan dan penekanan isi beritanya. Perspektif wartawanlah yang akan menentukan fakta yang dipilihnya, ditonjolkannya, dan dibuangnya. Dibalik semua ini, pengambilan keputusan mengenai sisi mana yang ditonjolkan tentu melibatkan nilai dan ideologi para wartawan yang terlibat dalam produksi sebuah berita”.6
Konsep framing dalam pandangan Entman, menawarkan sebuah cara untuk mengungkap the power of a communication text. Secara esensial meliputi penyeleksian dan penonjolan. Menurut G. J. Aditjondro, framing merupakan metode penyajian realitas di mana kebenaran tentang suatu kejadian tidak diingkari secara total, melainkan dibelokkan secara halus, dengan memberikan sorotan terhadap aspek-aspek tertentu saja, dengan menggunakan istilah-istilah yang punya konotasi tertentu, dan dengan bantuan foto, karikatur, dan alat ilustrasi lainnya. Maka dari itu, proses framing tidak hanya melibatkan para pekerja pers, tetapi juga pihak- pihak yang bersengketa dalam kasus-kasus tertentu yang masing-masing berusaha menampilkan sisi informasi yang ingin ditonjolkannya (sambil menyembunyikan sisi- sisi lainnya), sambil mengaksentuasikan kesahihan
6 Alex Sobur, Analisis Teks Media, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009), h. 163.
pandangannya dengan mengacu pda pengetahuan, ketidaktahuan, dan perasaan pembaca.7
B. Konsep Framing Robert N. Entman
Robert N. Entman adalah salah seorang ahli yang meletakkan dasar-dasar bagi analisis framing untuk studi media isi. Ia menulis sebuah artikel untuk Journal of Political Communication yang berisi konsep framing dan tulisan lain yang mempraktikkan konsep tersebut dalam suatu studi kasus pemberitaan media. Menurut Entman, konsep framing digunakan untuk menggambarkan proses seleksi dan menonjolkan aspek tertentu dari realitas oleh media.8
Media massa dapat diartikan sebagai media diskusi publik tentang suatu masalah yang melibatkan tiga pihak yakni wartawan, sumber berita dan khalayak. Ketiganya mendasari keterlibatannya pada peran sosial masing- masing dan hubungan di antara mereka terbentuk melalui operasionalisasi teks yang mereka konstruksi.9 Setiap pihak berusaha menonjolkan penafsiran atau argumentasi masing-masing terkait dengan persoalan yang diberitakan.
Proses framing menjadikan media massa sebagai suatu arena di mana informasi tentang masalah-masalah tertentu
7 Alex Sobur, Analisis Teks Media, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009), h. 165.
8 Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi dan Politik Media, (Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2018), h. 77.
9 Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi dan Politik Media, 230.
diperebutkan dalam suatu perang simbolik antara berbagai pihak yang sama-sama menginginkan pandangannya didukung oleh pembaca.10 Pada praktiknya, framing yang dilakukan oleh media yaitu dengan menyeleksi isu tertentu dan meninggalkan yang lain. Frame yang ditonjolkan mereka berupa wacana yang berbentuk berita.
Contohnya dengan mempertajam kemasan (package) dari isu politik mereka mengklaim bahwa opini publik yang berkembang mendukung kepentingan mereka, atau sesuai dengan kebenaran versi mereka.
Dua dimensi besar menurut Entman menurut buku Teori-Teori Komunikasi:11
a. Seleksi Isu
Apek ini berhubungan dengan pemilihan kata. Dari realitas yang beragam itu, aspek mana yang diseleksi untuk ditampilkan? Dari proses ini terkandung didalamnya ada bagian berita yang dimasukkan (include), tetapi ada juga berita yang dikeluarkan (exclude). Tidak semua aspek atau bagian dari isu ditampilkan, wartawan memilih aspek tertentu dari suatu isu.
b. Penonjolan Aspek Tertentu dari Suatu Isu
Aspek ini berhubungan dengan penulisan fakta.
Ketika aspek tertentu dari suatu isu tersebut telah dipilih,
10 Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi dan Politik Media, 232.
11 Zikri Fachrul Nurhadi, Teori-Teori Komunikasi; Teori Komunikasif Dalam Perpektif Penelitian Kualitatif, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2015), h. 91.
bagaimana aspek tersebut ditulis? Hal ini sangat berkaitan dengan kata, kalimat, gambar, dan citra untuk ditampilkan kepada khalayak.
Konsep framing menurut Entman menggambarkan secara luas bagaimana peristiwa dimaknai dan ditandai oleh wartawan. Dasarnya merujuk pada pemberian definisi, penjelasan, evaluasi, dan rekomendasi.12 Berikut adalah penjelasannya:
a. Define problem (pendefinisian masalah), bagaimana suatu peristiwa dilihat atau sebagai masalah apa. Ini elemen pertama atau bingkai utama yang dilihat mengenai framing karena menekankan bagaimana peristiwa dipahami oleh wartawan. Peristiwa yang sama dapat dipahami berbeda dan menyebabkan pembentukan realitas yang berbeda.
b. Diagnose cause (memperkirakan masalah/ sumber masalah), peristiwa disebabkan oleh apa? Apa yang dianggap masalah? Siapa yang dianggap masalah? Penyebab disini bias apa (what) atau siapa (who). Pemahaman peristiwa tentu menentukan apa dan siapa penyebab masalah.
Penyebab masalah akan berbeda jika memahami peristiwa dengan cara yang berbeda pula.
12 Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi dan Politik Media, 223.
c. Make moral judgement (membuat keputusan moral), nilai moral apa yang digunakan untuk menyelesaikan masalah? Elemen ini berupa argumentasi kuat untuk mendukung gagasan pendefinisian dan penyebab masalah yang sudah ditentukan.
d. Treatment recommendation (menekankan penyelesaian), penyelesaian apa yang ditawarkan?
Elemen ini berupa jalan yang dikehendaki oleh wartawan sebagai penyelesaian masalah.
Penyelesaian juga tergantung pada peristiwa itu dilihat dan penyebab maslah.
C. Berita dan Media Online a. Pengertian Berita
Berita berasal dari Bahasa sansekerta, yakni vrit yang dalam Bahasa Inggris disebut Write, arti sebenarnya adalah ada atau terjadi. Sebagian lain menyebutkan dengan vritta yang artinya kejadian yang telah terjadi. Dalam Bahasa Indonesia menjadi
"berita" atau "warta".13
Secara etimologis berita dalam Bahasa Inggris (news) berasal dari kata New yang berarti "baru".
Dikalangan wartawan mengartikan news sebagai singkatan dari north, east, west dan south. Yang
13 Totoj Djunarto, Manajemen Penerbitan Pers, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2000), cet ke 1. h. 46.
memiliki arti arah mata angin utara, timur, barat, dan selatan. Mereka mengartikan berita sebagai laporan dari berbagai penjuru dunia. Jadi berita adalah peristiwa-peristiwa yang baru.14
Dapat dikatakan bahwa berita adalah cerita tentang peristiwa-peristiwa terbaru dan penting. Atau arti lain dari berita yaitu suatu informasi mengenai fakta atau sesuatu yang sedang terjadi. Ini berarti bahwa berita mengandung dua hal, yaitu peristiwa dan jalan cerita.
Jalan cerita tanpa peristiwa atau sebaliknya itu tidak dapat disebut sebagai berita.15
Pada umumnya, berita berkualitas yang dimuat oleh suatu media memiliki kriteria tertentu. Sehingga memiliki daya tarik dan menimbulkan efek balik bagi media tersendiri.
b. Nilai Berita
Beberapa elemen nilai berita yang merupakan karakter intrinsik dan menjadi ukuran untuk menentukan kelayakan berita antara lain:16
1. Immediacy
Immediacy/ timelines berkaitan dengan unsur waktu yang bias menentukan kesegaran atau kebaruan sebuah berita yang dilaporkan.
14 Onong Uchajana Effendy, Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi, (Bandung: PT Citra Asitya Bakti, 2003). h. 131.
15 Sudirman Tebba, Jurnalistik Baru, (Jakarta: Penerbitan Kalam Indonesia, 2005). h.55.
16 Septiawan, Santana, Jurnalisme Kontemporer. (Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2005). H. 18-20.
2. Proximity
Kedekatan sebuah peristiwa yang diberitakan dengan pemirsa dalam kehidupan mereka.
Biasanya orang-orang akan lebih tertarik dengan berita-berita yang berkaitan dengan kehidupan mereka.
3. Consequence
Berita yang mengandung konsekuensi adalah berita yang dapat mengubah kehidupan pembaca. Contohnya berita tentang kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak), masyarakat dengan segera akan mengikutinya karena terkait dengan konsekuensi kalkulasi ekonomi sehari-hari yang akan mereka hadapi.
4. Conflict
Nilai berita yang berkaitan dengan ketegangan, perang, demonstrasi maupun kriminal.
5. Oddity
Peristiwa unik yang tidak biasa terjadi adalah sesuatu yang akan diperhatikan masyarakat.
6. Sex
Seks sering menjadi satu elemen utama dari sebuah pemberitaan, seperti perselingkuhan figure public, tindakan asusila dan pelecehan seksual. Namun, seks juga sering menjadi
elemen tambahan bagi pemberitaan tertentu seperti pada olahraga, selebritas atau kriminal.
7. Emotion
Elemen ini menyentuh perasaan khalayak dengan kisah-kisah yang mengandung kesedihan, kemarahan, simpati, ambisi, cinta, kebencian, kebahagiaan, atau rumor.
8. Prominence
Elemen ini adalah unsur yang menjadi istilah dasar “names make news”, nama membuat berita atau berrti kekokohan yang terlibat dalam peristiwa atau suatu berita. Seseorang yang terkenal akan selalu diburu oleh pembuat berita.
9. Suspense
Elemen ini berisi tentang peristiwa sesuatu yang ditunggu-tunggu masyarakat dan nilai kebenaran tetap menjadi hal penting yang dituntut pemirsa.
10. Progress
Elemen ini merupakan elemen “perkembangan”
peristiwa yang ditunggu masyarakat seperti lahirnya penemuan-penemuan baru, pengobatan baru dan alat-alat baru.
c. Media Online
Menurut definisi, media online (online media) disebut juga cybermedia (media siber), internet media (media internet), dan new media (media baru) dapat diartikan sebagai media yang tersaji secara online di situs web (website) internet.
Pedoman Pemberitaan Media Siber (PPMS) yang dikeluarkan Dewan Pers mengartikan media siber sebagai “segala bentuk media yang menggunakan wahan internet dan melaksanakan kegiatan jurnalistik, serta memenuhi persyaratan Undang-Undang Pers dan Standar Perusahaan Pers yang ditetapakan Dewan Pers”.17
Dalam Persfektif studi media atau komunikasi massa, media online menjadi kajian objek “media baru” (new media), yaitu istilah yang mengacu pada permintaan akses ke konten (isi/informasi) kapan saja, dimana saja, pada setiap perangkat digital serta umpan balik pengguna intraktif, partisipasi kreatif, dan pembentukan komunitas sekitar konten media, juga aspek generasi “real-time”.18
d. Karakteristik Media Online
17 Romli, A. S. (2018). Jurnalistik Online (Panduan Mengelola Media Online). Bandung: Nuansa Cendikia. Hal.34
18 Romli, A. S. (2018). Jurnalistik Online (Panduan Mengelola Media Online). Bandung: Nuansa Cendikia. Hal.35
Karakteristik sekaligus keunggulan media online dibandingkan dengan media konvensional (cetak atau elektronik) identic dengan karakteristik jurlatiktik online, anatara lain:19
1. Multimedia: dapat memuat atau menyajikan berita/informasi dalam bentuk teks, audio, video, grafis, dan gambar secara bersamaan.
2. Aktualisasi: berisi info aktual karena kemudahan dan kecepatan penyajiannya.
3. Cepat: begitu di posting atau di upload, langsung bias diakses semua orang.
4. Update: pembaruan (updating) informasi dapat dilakukan dengan cepat baik dari sisi konten maupun redaksional, misalnya kesalahan ketik/ejaan. Kita belum menemukan istilah “ralat” di media online sebagimana sering muncul di media cetak. Informasi pun disampaikan secara terus-menerus.
5. Kapasitas luas: Halaman web bias menampung naskah sangat panjang.
6. Fleksibilitas: pemuatan dan editing naskah bias kapan saja dan dimana saja, jadwal juga terbit (update) bias kapan saja, setiap saat.
19 Romli, A. S. (2018). Jurnalistik Online (Panduan Mengelola Media Online). Bandung: Nuansa Cendikia. Hal.37-38
7. Luas: menjangkau seluruh dunia yang memiliki aksesinternet.
8. Interaktif: dengan adanya fasilitas kolom komentar dan chat room.
9. Terdokumentasi: informasi tersimpan di “bank data” (arsip) dan dapat ditemukan melaui
“link”, “artikel terkait”, dan fasilitas “cari”
(search).
10. Hyperlingked: terhubung dengan sumber lain (link) yang berkaitan dengan informasi tersaji.
D. Polisi Virtual
Menurut Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Raden Prabowo Argo Yuwono, Virtual Police adalah upaya Korps Bhayangkara untuk memberikan edukasi kepada publik agar tidak menyebarkan konten yang diduga melanggar hukum.
Cara kerja dan aturan unit virtual police yakni:
1. Virtual Police memberikan peringatan kepada akun di media sosial yang diduga melanggar. Hal ini dilakukan setelah mempertimbangkan pendapat ahli, bukan pendapat subjektif penyidik Polri, kata Argo.
2. Saat akun mengunggah tulisan gambar yang berpotensi melanggar pidana. Langkah selanjutnya, petugas akan menyimpan tampilan unggahan itu untuk dikonsultasikan dengan tim ahli yang terdiri
dari ahli pidana, ahli bahasa, dan ahli informasi dan transaksi elektronik (ITE).
3. Jika ahli mengatakan konten tersebut memuat pelanggaran pidana, baik penghinaan atau yang lainnya, langkah selanjutnya adalah diajukan ke direktur siber atau pejabat yang ditunjuk di siber memberikan pengesahan.
4. Kemudian Virtual Police Alert dikirim secara pribadi ke akun yang bersangkutan secara resmi.
5. Peringatan akan dikirimkan lewat direct message (DM). Sebab, Kepolisian tidak ingin peringatan dari Virtual Police kepada pengguna media sosial ini diketahui pihak lain karena bersifat rahasia.
a. Penerapan Polisi Virtual di Negara Lain
Melihat cara kerja polisi virtual atau Virtual Police di negara lain, maka ini bias menjadi pengekang kemerdekaan rakyat. Sebab, dalam kasusu tertentu, virtuial police akan menjadi penentu mana yang boleh disuarakan dan mana yang tidak. Paling tidak ada dua jenis sensor, yakni "hard censorship" atau sensor keras dan "soft censorship" atau sensor halus, demikian sebagaimana disebutkan oleh David Bamman, dalam studi berjudul "Censorship and Deletion Practices in Chinese Social Media", yang
diterbitkan di dalam jurnal First Mondel Vol. 17 No. 3, Maret 2012.20
Sensor halus atau soft cencorship ini yang akan menjadi hal menakutkan. Cara kerjanya adalah dengan mengecek konten-konten di media sosial. Selain itu, perusahaan media sosial pun harus ikut melakukan sensor apabila diminta oleh pemerintah.
Pertama, di negara Cina. Soft cencorship bekerja meninjau segala konten yang diunggah rakyat di berbagai media sosial ala Cina. Menghapus konten yang mengandung kata/kalimat yang tak direstui pemerintah Beijing. Selanjutnya, di Amerika Serikat polisi sejak 2015 menggunakan alat buatan perusahaan bernama Geofeedia untuk menengok konten-konten masyarakat yang diunggah di Facebook, Twitter, dan Instagram, khususnya tatkala protes hendak dilakukan. Terakhir, di negara Turki, Erdogan memang membiarkan Wikipedia dapat diakses walaupun sempat diblokir penuh sejak 29 April 2017- 15 Januari 2020. Namun, entri seperti “vagina” dan
“penis” di Wikipedia terlarang dikunjungi.21
20 Alexander Haryanto, “Apa Itu Virtual Police? Aturan, Cara Kerja dan Kaitan dengan UU ITE”, https://tirto.id/apa-itu-virtual-police-aturan-cara- kerja-dan-kaitan-dengan-uu-ite-gaBQ, diakses pada tanggal 14 Maret 2021.
21 Alexander Haryanto, “Apa Itu Virtual Police? Aturan, Cara Kerja dan Kaitan dengan UU ITE”, https://tirto.id/apa-itu-virtual-police-aturan-cara- kerja-dan-kaitan-dengan-uu-ite-gaBQ, diakses pada tanggal 14 Maret 2021.
b. Konseptualisasi Kebijakan Virtual Police dalam Islam
Kata polisi atau aparat keamanan dalam bahasa Arab disebut Syurtoh/syurthi. Lafaz ini sudah dikenal sejak zaman nabi Muhammad -shallallahu alaihi wasallam-. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik di dalam Shohih Bukhori:
َناَك ٍدْعَس َنْب َسْيَ ق َّنِإ ِوْيَلَع ُللها ىَّلَص ِِّبَِّنلا ِيَدَي َْيَْ ب ُنوُكَي
،َمَّلَسَو ِطَرُّشلا ِبِحاَص ِةَلِزْنَِبِ
ِيِمَلأا َنِم
“Sesungguhnya Qais bin Sa‟ad berada di sisi Nabi SAW seperti kepala polisi di sisi pemimpin (raja).” (HR Bukhori)
Maksud kata syurthoh yang disebutkan di dalam hadits di atas. Di dalam kamus lisanul Arab ada begitu banyak makna dari kata tersebut, di antaranya adalah kaki tangan penguasa, mereka dinamakan syurthoh, karena mereka mereka memiliki ciri khusus yang dengannya mereka dapat diidentifikasi. (Lisanul Arab 7/39)
Adapun makna secara Istilah syurthoh adalah aparat yang diandalkan oleh khalifah atau gubernur dalam menjaga keamanan dan pemerintahan, menangkap pelaku kriminal dan tugas-tugas administratif lainnya yang menjamin keamanan dan
ketentraman rakyat. (Tarikhul Islam As Siyasi wad Dini wa Tsaqofi wal Ijtima’i 1/460).
Dalam Islam, sebuah negara memiliki kewajiban yang sifatnya fardu kifayah untuk mewujudkan lembaga kepolisian guna menjalankan tugas-tugas keamanan dalam Islam. Di antara tugas-tugas utama lembaga tersebut adalah untuk memberikan rasa aman dan ketentraman rakyat serta menjaga kenyamanan masyarakat dalam menjalankan ibadah dan kehidupan sosial.
Pemerintah dalam hal ini harus menjadi pribadi yang bijaksana yaitu yang bisa menyampaikan kebenaran dengan baik dan indah. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
َيِى ِْتَِّلاِب ْمُْلِْداَجَو ِةَنَسَْلْا ِةَظِعْوَمْلاَو ِةَمْكِْلْاِب َكِّبَر ِلْيِبَس ٰلِٰا ُعْدُا ُنَسْحَا وِلْيِبَس ْنَع َّلَض ْنَِبِ ُمَلْعَا َوُى َكَّبَر َّنِا ۖ
َوُىَو ُمَلْعَا َنْيِدَتْهُمْلاِب
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih
mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.( QS. An- Nahl Ayat 125)22.
Menurut Abul Hasan As Sanadi Al-Madani di dalam Hawasyi (sejenis syarh) Musnad Imam Ahmad berkata, “Syuroth adalah bentu jamak dari kata syurthi (polisi) mereka adalah kaki tangan penguasa untuk memantau kondisi masyarakat, menjaga mereka dan juga bertugas untuk menegakkan hudud (hukum pidana Islam).” (At-Tarotiibu Al Idariyah 1/22)
Berdasarkan pemaparan di atas, maka polisi virtual atau virtual police memiliki peran yang sama dalam menjalakan tugas sebagaimana mestinya.
Memberikan keamanan dan ketentraman masyarakat, serta menegakkan keadilan untuk hak-hak rakyat.
Berbeda dengan hakikatnya, pada praktiknya polisi virtual dirasa mengekang hak kemerdekaan rakyat di media sosial demi memenuhi kepentingan dan membela pemerintah. Seperti hadits yang dikatakan oleh penulis kitab Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih berkata, “Mereka adalah orang-orang yang berada di sekitar orang-orang zalim, bekerja kepadanya laksana serigala dan mereka mengusir manusia dari orang zalim itu dengan menggunakan
22 QS. An-Nahl (16): 125, Al-Quran dan Terjemahan, Kementrian
Agama Republik Indonesia.
pukulan.” (Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih 6/2301)
BAB III
GAMBARAN UMUM
A. Profil Tirto.id 1. Tentang Tirto.id
Logo Tirto.id
Tirto.id merupakan media online yang terdaftar di Dewan Pers Indonesia. Tirto.id dilucurkan pada 3 Agustus 2016 didirikan oleh Atmaji Sapto Anggoro yang sekaligus menjabat sebagai pimpinan redaksi dan CEO, didampingi Teguh Budi Santoso selaku Chief Content Officer dan serta Nur Samsi sebagai Chief Technology Officer. Tirto.id memiliki sebuah slogan “Jernih Mengalir Mencerahkan”.
Berdasarkan website resmi Tirto.id, nama Tirto diambil dari Tirta yang artinya air. 1 Dinamakan deminkian karena Tirto.id memiliki cita-cita
1 Tirto.id, https://tirto.id/insider/tentang-kami, diakses pada tanggal 14 mei 2021.
mengubah asumsi tentang jurnalisme online yang asal mengundang klik, banyaknya halaman dibuka (page views), lepas dari konteks, dangkal, dan tidak enak dibaca. Selain air, nama Tirto juga kami pilih sebagai ungkapan rasa hormat kepada Tirto Adhi Soerjo (1880-1918), Bapak Pers (ditetapkan pada 1973) sekaligus Pahlawan Nasional (Keppres RI no 85/TK/2006). Almarhum Tirto terlibat dalam penerbitan Soenda Berita, Medan Prijaji, dan Putri Hindia, juga pembentukan Sarekat Dagang Islam.
Pada zamannya, Tirto yang cerdas dan kritis memanfaatkan surat kabar sebagai sebagai alat perlawanan terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Kemudian sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, menjuluki Tirto “Sang Pemula” sebagai penanda jasa-jasanya mengawali upaya pencerahan pada masa itu berupa kesadaran kebangsaan lewat jurnalisme di Indonesia. Lalu disematkan pula id. pada belakang nama Tirto yang merupakan kode domain Indonesia dalam jaringan internet global juga tak lepas dari semangat berbangsa tersebut. Pewarnaan logo yang biru sebagai perlambang air jernih dan dalam, serta pemilihan huruf kecil sebagai ujud jati diri kami
yang rendah hati dan selalu terbuka yang tidak harus merasa paling benar dan jumawa.2
Tirto.id bersama para awaknya berpengalaman dan terampil di bidang ilmu-ilmu sosial, penulisan jurnalistik, riset, dan olah statistik, Tirto.id memilih melaju di rel jurnalisme presisi (precision journalism).
Selain memanfaatkan data berwujud foto, kutipan, rekaman peristiwa, serta data statistik yang ditampilkan baik secara langsung maupun lewat infografik dan video infografik. , produk-produk Tirto dilengkapi pula dengan hasil analisis ratusan media massa dari seluruh Indonesia yang disarikan ke dalam bentuk tiMeter (pengukuran sentimen) atas tokoh, lembaga, serta kasus yang dibicarakan dalam tiap-tiap laporan mendalam.
Tirto.id percaya bahwa laporan-laporan yang tercipta dari kekuatan data, disampaikan secara baik, namun tak abai pada kecepatan adalah sumber informasi yang layak diperoleh oleh masyarakat Indonesia hari ini, terutama para pengambil keputusan,
dan pengendali perubahan.
Berdiri di atas dan untuk semua golongan, serta non- partisan. Tirto.id tidak bekerja untuk kepentingan politik mana pun. Tirto.id juga merupakan
2 Tirto.id, https://tirto.id/insider/tentang-kami, diakses pada tanggal 14 mei 2021.
media online yang terdaftar resmi di Dewan Pers Indonesia.
2. Visi dan Misi Tirto.id a. Visi
Mencerahkan itu sebagai keharusan menyajikan tulisan-tulisan yang jernih (clear), mencerahkan (enlighten), berwawasan (insightful), memiliki konteks (contextual), mendalam (indepth), investigatif, faktual, didukung banyak data kuantitatif dan kualitatif (baik skunder maupun primer), serta dapat dipertanggungjawabkan.
b. Misi
Mencerdaskan para pengguna internet dengan konten-konten yang berkualitas, informasi yang penting, relevan, dan berdasarkan fakta.
3. Alamat Tirto.id
a. Kantor Pusat Jakarta : Jl. Madrasah No.
11A, RT 08 RW 04 Cilandak Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan – 12560, Telepon:
(021) 27876956
b. Kantor Pusat Yogyakarta : Jalan Candi Sambisari Juwangen RT 01 / RW01 No 58, Kalasan, Sleman, Yogyakarta 55571, Telepon:
(0274) 2851743 c. Email:
Redaksi : [email protected]
Opini : [email protected]
Magang dan Karier : [email protected]
Iklan : [email protected]
B. Profil Republika.co.id 1. Tentang Republika.co.id
Logo Republika.co.id
Republika Online hadir sejak 17 Agustus 1995, dua tahun setelah Harian Republika terbit. Republika Online merupakan portal berita yang menyajikan informasi secara teks, audio dan video yang tebentuk berdasarkan teknologi hipermedia dan hiperteks.
Dengan kemajuan informasi dan perkembangan media sosial, Republika Online kini hadir dengan berbagai fitur baru yang merupakan percampuran komunikasi media digital. Informasi yang disampaikan diperbaharui secara berkelanjutan yang terangkum
dalam sejumlah kanal, dan menjadikannya sebuah portal berita yang bisa dipercaya.3
Sebagai media online yang telah berdiri belasan tahun silam, Republika Online memilki tagline yaitu Jendela Umat. Tagline tersebut memiliki arti bahwa Republika Online berkeinginan untuk mengantarkan masyarakat Indonesia memasuki era baru media konvergen yang akan mempengaruhi berbagai perubahan di segala aspek, menjadikan Republika Online sebagai media umat yang terpercaya dan mengedepankan nilai-niai universal yang sejuk, toleran,damai, cerdas, dan profesional, namun mempunyai prinsip dalam keterlibatannya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dan kepentingan umat islam berdasarkan pemahaman rahmatan lil „aalamiin (rahmat bagi seluruh alam).
Jendela umat disini memiliki arti bahwa media ini dikhususkan untuk komunitas Muslim agar memiliki pegangan kebenaran seputar berita keislaman dan umum.
Tagline Republika tersebut sejalan dengan prinsip- prinsip dasar Republika Online itu sendiri yakni:
a. Mengutamakan berita dan informasi interaktif dalam format citizen journalism.
3 Republika, http://www.republika.co.id/page/about, diakses pada tanggal 14 mei 2021.
b. Memberi ruang luas bagi content how to, tips, people, dan services.
c. Santun, ramah dan akrab dengan keluarga.
d. Dekat dengan semua komunitas.
e. Mengutamakan berita dan informasi keislaman.
f. Menyeimbangkan god news dan bad news.
g. Menyajikan berita secara ringkas dan cepat, mudah diakses.4
2. Visi dan Misi Visi:
Menjadikan HU Republika sebagai koran umat terpercaya dan mengedepankan nilai-nilai universal yang sejuk, toleran, damai, cerdas, dan profesional, namun mempunyai prinsip dalam keterlibatannya menjaga persatuan bangsa dan kepentingan umta Islam yang berdasarkan pemahaman Rahmatan Lil Alamin.
Misi:
a. Menciptakan dan menghidupkan sistem manajemen yang efisien dan efektif, serta mampu dipertanggungjawabkan secara profesional.
b. Menciptakan budaya kerja yang sehat dan transparan.
4 Republika, http://www.republika.co.id/page/about, diakses pada tanggal 14 mei 2021