• Tidak ada hasil yang ditemukan

Polisi Virtual

Dalam dokumen Disusun oleh : Muhammad Sayid Furqon (Halaman 42-134)

BAB II KERANGKA TEORITIS

D. Polisi Virtual

Menurut Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Raden Prabowo Argo Yuwono, Virtual Police adalah upaya Korps Bhayangkara untuk memberikan edukasi kepada publik agar tidak menyebarkan konten yang diduga melanggar hukum.

Cara kerja dan aturan unit virtual police yakni:

1. Virtual Police memberikan peringatan kepada akun di media sosial yang diduga melanggar. Hal ini dilakukan setelah mempertimbangkan pendapat ahli, bukan pendapat subjektif penyidik Polri, kata Argo.

2. Saat akun mengunggah tulisan gambar yang berpotensi melanggar pidana. Langkah selanjutnya, petugas akan menyimpan tampilan unggahan itu untuk dikonsultasikan dengan tim ahli yang terdiri

dari ahli pidana, ahli bahasa, dan ahli informasi dan transaksi elektronik (ITE).

3. Jika ahli mengatakan konten tersebut memuat pelanggaran pidana, baik penghinaan atau yang lainnya, langkah selanjutnya adalah diajukan ke direktur siber atau pejabat yang ditunjuk di siber memberikan pengesahan.

4. Kemudian Virtual Police Alert dikirim secara pribadi ke akun yang bersangkutan secara resmi.

5. Peringatan akan dikirimkan lewat direct message (DM). Sebab, Kepolisian tidak ingin peringatan dari Virtual Police kepada pengguna media sosial ini diketahui pihak lain karena bersifat rahasia.

a. Penerapan Polisi Virtual di Negara Lain

Melihat cara kerja polisi virtual atau Virtual Police di negara lain, maka ini bias menjadi pengekang kemerdekaan rakyat. Sebab, dalam kasusu tertentu, virtuial police akan menjadi penentu mana yang boleh disuarakan dan mana yang tidak. Paling tidak ada dua jenis sensor, yakni "hard censorship" atau sensor keras dan "soft censorship" atau sensor halus, demikian sebagaimana disebutkan oleh David Bamman, dalam studi berjudul "Censorship and Deletion Practices in Chinese Social Media", yang

diterbitkan di dalam jurnal First Mondel Vol. 17 No. 3, Maret 2012.20

Sensor halus atau soft cencorship ini yang akan menjadi hal menakutkan. Cara kerjanya adalah dengan mengecek konten-konten di media sosial. Selain itu, perusahaan media sosial pun harus ikut melakukan sensor apabila diminta oleh pemerintah.

Pertama, di negara Cina. Soft cencorship bekerja meninjau segala konten yang diunggah rakyat di berbagai media sosial ala Cina. Menghapus konten yang mengandung kata/kalimat yang tak direstui pemerintah Beijing. Selanjutnya, di Amerika Serikat polisi sejak 2015 menggunakan alat buatan perusahaan bernama Geofeedia untuk menengok konten-konten masyarakat yang diunggah di Facebook, Twitter, dan Instagram, khususnya tatkala protes hendak dilakukan. Terakhir, di negara Turki, Erdogan memang membiarkan Wikipedia dapat diakses walaupun sempat diblokir penuh sejak 29 April 2017-15 Januari 2020. Namun, entri seperti “vagina” dan

“penis” di Wikipedia terlarang dikunjungi.21

20 Alexander Haryanto, “Apa Itu Virtual Police? Aturan, Cara Kerja dan Kaitan dengan UU ITE”, https://tirto.id/apa-itu-virtual-police-aturan-cara-kerja-dan-kaitan-dengan-uu-ite-gaBQ, diakses pada tanggal 14 Maret 2021.

21 Alexander Haryanto, “Apa Itu Virtual Police? Aturan, Cara Kerja dan Kaitan dengan UU ITE”, https://tirto.id/apa-itu-virtual-police-aturan-cara-kerja-dan-kaitan-dengan-uu-ite-gaBQ, diakses pada tanggal 14 Maret 2021.

b. Konseptualisasi Kebijakan Virtual Police dalam Islam

Kata polisi atau aparat keamanan dalam bahasa Arab disebut Syurtoh/syurthi. Lafaz ini sudah dikenal sejak zaman nabi Muhammad -shallallahu alaihi wasallam-. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik di dalam Shohih Bukhori:

َناَك ٍدْعَس َنْب َسْيَ ق َّنِإ ِوْيَلَع ُللها ىَّلَص ِِّبَِّنلا ِيَدَي َْيَْ ب ُنوُكَي

،َمَّلَسَو ِطَرُّشلا ِبِحاَص ِةَلِزْنَِبِ

ِيِمَلأا َنِم

“Sesungguhnya Qais bin Sa‟ad berada di sisi Nabi SAW seperti kepala polisi di sisi pemimpin (raja).” (HR Bukhori)

Maksud kata syurthoh yang disebutkan di dalam hadits di atas. Di dalam kamus lisanul Arab ada begitu banyak makna dari kata tersebut, di antaranya adalah kaki tangan penguasa, mereka dinamakan syurthoh, karena mereka mereka memiliki ciri khusus yang dengannya mereka dapat diidentifikasi. (Lisanul Arab 7/39)

Adapun makna secara Istilah syurthoh adalah aparat yang diandalkan oleh khalifah atau gubernur dalam menjaga keamanan dan pemerintahan, menangkap pelaku kriminal dan tugas-tugas administratif lainnya yang menjamin keamanan dan

ketentraman rakyat. (Tarikhul Islam As Siyasi wad Dini wa Tsaqofi wal Ijtima’i 1/460).

Dalam Islam, sebuah negara memiliki kewajiban yang sifatnya fardu kifayah untuk mewujudkan lembaga kepolisian guna menjalankan tugas-tugas keamanan dalam Islam. Di antara tugas-tugas utama lembaga tersebut adalah untuk memberikan rasa aman dan ketentraman rakyat serta menjaga kenyamanan masyarakat dalam menjalankan ibadah dan kehidupan sosial.

Pemerintah dalam hal ini harus menjadi pribadi yang bijaksana yaitu yang bisa menyampaikan kebenaran dengan baik dan indah. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

َيِى ِْتَِّلاِب ْمُْلِْداَجَو ِةَنَسَْلْا ِةَظِعْوَمْلاَو ِةَمْكِْلْاِب َكِّبَر ِلْيِبَس ٰلِٰا ُعْدُا ُنَسْحَا وِلْيِبَس ْنَع َّلَض ْنَِبِ ُمَلْعَا َوُى َكَّبَر َّنِا ۖ

َوُىَو ُمَلْعَا َنْيِدَتْهُمْلاِب

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih

mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.( QS. An-Nahl Ayat 125)22.

Menurut Abul Hasan As Sanadi Al-Madani di dalam Hawasyi (sejenis syarh) Musnad Imam Ahmad berkata, “Syuroth adalah bentu jamak dari kata syurthi (polisi) mereka adalah kaki tangan penguasa untuk memantau kondisi masyarakat, menjaga mereka dan juga bertugas untuk menegakkan hudud (hukum pidana Islam).” (At-Tarotiibu Al Idariyah 1/22)

Berdasarkan pemaparan di atas, maka polisi virtual atau virtual police memiliki peran yang sama dalam menjalakan tugas sebagaimana mestinya.

Memberikan keamanan dan ketentraman masyarakat, serta menegakkan keadilan untuk hak-hak rakyat.

Berbeda dengan hakikatnya, pada praktiknya polisi virtual dirasa mengekang hak kemerdekaan rakyat di media sosial demi memenuhi kepentingan dan membela pemerintah. Seperti hadits yang dikatakan oleh penulis kitab Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih berkata, “Mereka adalah orang-orang yang berada di sekitar orang-orang zalim, bekerja kepadanya laksana serigala dan mereka mengusir manusia dari orang zalim itu dengan menggunakan

22 QS. An-Nahl (16): 125, Al-Quran dan Terjemahan, Kementrian

Agama Republik Indonesia.

pukulan.” (Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih 6/2301)

BAB III

GAMBARAN UMUM

A. Profil Tirto.id 1. Tentang Tirto.id

Logo Tirto.id

Tirto.id merupakan media online yang terdaftar di Dewan Pers Indonesia. Tirto.id dilucurkan pada 3 Agustus 2016 didirikan oleh Atmaji Sapto Anggoro yang sekaligus menjabat sebagai pimpinan redaksi dan CEO, didampingi Teguh Budi Santoso selaku Chief Content Officer dan serta Nur Samsi sebagai Chief Technology Officer. Tirto.id memiliki sebuah slogan “Jernih Mengalir Mencerahkan”.

Berdasarkan website resmi Tirto.id, nama Tirto diambil dari Tirta yang artinya air. 1 Dinamakan deminkian karena Tirto.id memiliki cita-cita

1 Tirto.id, https://tirto.id/insider/tentang-kami, diakses pada tanggal 14 mei 2021.

mengubah asumsi tentang jurnalisme online yang asal mengundang klik, banyaknya halaman dibuka (page views), lepas dari konteks, dangkal, dan tidak enak dibaca. Selain air, nama Tirto juga kami pilih sebagai ungkapan rasa hormat kepada Tirto Adhi Soerjo (1880-1918), Bapak Pers (ditetapkan pada 1973) sekaligus Pahlawan Nasional (Keppres RI no 85/TK/2006). Almarhum Tirto terlibat dalam penerbitan Soenda Berita, Medan Prijaji, dan Putri Hindia, juga pembentukan Sarekat Dagang Islam.

Pada zamannya, Tirto yang cerdas dan kritis memanfaatkan surat kabar sebagai sebagai alat perlawanan terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Kemudian sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, menjuluki Tirto “Sang Pemula” sebagai penanda jasa-jasanya mengawali upaya pencerahan pada masa itu berupa kesadaran kebangsaan lewat jurnalisme di Indonesia. Lalu disematkan pula id. pada belakang nama Tirto yang merupakan kode domain Indonesia dalam jaringan internet global juga tak lepas dari semangat berbangsa tersebut. Pewarnaan logo yang biru sebagai perlambang air jernih dan dalam, serta pemilihan huruf kecil sebagai ujud jati diri kami

yang rendah hati dan selalu terbuka yang tidak harus merasa paling benar dan jumawa.2

Tirto.id bersama para awaknya berpengalaman dan terampil di bidang ilmu-ilmu sosial, penulisan jurnalistik, riset, dan olah statistik, Tirto.id memilih melaju di rel jurnalisme presisi (precision journalism).

Selain memanfaatkan data berwujud foto, kutipan, rekaman peristiwa, serta data statistik yang ditampilkan baik secara langsung maupun lewat infografik dan video infografik. , produk-produk Tirto dilengkapi pula dengan hasil analisis ratusan media massa dari seluruh Indonesia yang disarikan ke dalam bentuk tiMeter (pengukuran sentimen) atas tokoh, lembaga, serta kasus yang dibicarakan dalam tiap-tiap laporan mendalam.

Tirto.id percaya bahwa laporan-laporan yang tercipta dari kekuatan data, disampaikan secara baik, namun tak abai pada kecepatan adalah sumber informasi yang layak diperoleh oleh masyarakat Indonesia hari ini, terutama para pengambil keputusan,

dan pengendali perubahan.

Berdiri di atas dan untuk semua golongan, serta non-partisan. Tirto.id tidak bekerja untuk kepentingan politik mana pun. Tirto.id juga merupakan

2 Tirto.id, https://tirto.id/insider/tentang-kami, diakses pada tanggal 14 mei 2021.

media online yang terdaftar resmi di Dewan Pers Indonesia.

2. Visi dan Misi Tirto.id a. Visi

Mencerahkan itu sebagai keharusan menyajikan tulisan-tulisan yang jernih (clear), mencerahkan (enlighten), berwawasan (insightful), memiliki konteks (contextual), mendalam (indepth), investigatif, faktual, didukung banyak data kuantitatif dan kualitatif (baik skunder maupun primer), serta dapat dipertanggungjawabkan.

b. Misi

Mencerdaskan para pengguna internet dengan konten-konten yang berkualitas, informasi yang penting, relevan, dan berdasarkan fakta.

3. Alamat Tirto.id

a. Kantor Pusat Jakarta : Jl. Madrasah No.

11A, RT 08 RW 04 Cilandak Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan – 12560, Telepon:

(021) 27876956

b. Kantor Pusat Yogyakarta : Jalan Candi Sambisari Juwangen RT 01 / RW01 No 58, Kalasan, Sleman, Yogyakarta 55571, Telepon:

(0274) 2851743 c. Email:

Redaksi : [email protected]

Opini : [email protected]

Magang dan Karier : [email protected]

Iklan : [email protected]

B. Profil Republika.co.id 1. Tentang Republika.co.id

Logo Republika.co.id

Republika Online hadir sejak 17 Agustus 1995, dua tahun setelah Harian Republika terbit. Republika Online merupakan portal berita yang menyajikan informasi secara teks, audio dan video yang tebentuk berdasarkan teknologi hipermedia dan hiperteks.

Dengan kemajuan informasi dan perkembangan media sosial, Republika Online kini hadir dengan berbagai fitur baru yang merupakan percampuran komunikasi media digital. Informasi yang disampaikan diperbaharui secara berkelanjutan yang terangkum

dalam sejumlah kanal, dan menjadikannya sebuah portal berita yang bisa dipercaya.3

Sebagai media online yang telah berdiri belasan tahun silam, Republika Online memilki tagline yaitu Jendela Umat. Tagline tersebut memiliki arti bahwa Republika Online berkeinginan untuk mengantarkan masyarakat Indonesia memasuki era baru media konvergen yang akan mempengaruhi berbagai perubahan di segala aspek, menjadikan Republika Online sebagai media umat yang terpercaya dan mengedepankan nilai-niai universal yang sejuk, toleran,damai, cerdas, dan profesional, namun mempunyai prinsip dalam keterlibatannya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dan kepentingan umat islam berdasarkan pemahaman rahmatan lil „aalamiin (rahmat bagi seluruh alam).

Jendela umat disini memiliki arti bahwa media ini dikhususkan untuk komunitas Muslim agar memiliki pegangan kebenaran seputar berita keislaman dan umum.

Tagline Republika tersebut sejalan dengan prinsip-prinsip dasar Republika Online itu sendiri yakni:

a. Mengutamakan berita dan informasi interaktif dalam format citizen journalism.

3 Republika, http://www.republika.co.id/page/about, diakses pada tanggal 14 mei 2021.

b. Memberi ruang luas bagi content how to, tips, people, dan services.

c. Santun, ramah dan akrab dengan keluarga.

d. Dekat dengan semua komunitas.

e. Mengutamakan berita dan informasi keislaman.

f. Menyeimbangkan god news dan bad news.

g. Menyajikan berita secara ringkas dan cepat, mudah diakses.4

2. Visi dan Misi Visi:

Menjadikan HU Republika sebagai koran umat terpercaya dan mengedepankan nilai-nilai universal yang sejuk, toleran, damai, cerdas, dan profesional, namun mempunyai prinsip dalam keterlibatannya menjaga persatuan bangsa dan kepentingan umta Islam yang berdasarkan pemahaman Rahmatan Lil Alamin.

Misi:

a. Menciptakan dan menghidupkan sistem manajemen yang efisien dan efektif, serta mampu dipertanggungjawabkan secara profesional.

b. Menciptakan budaya kerja yang sehat dan transparan.

4 Republika, http://www.republika.co.id/page/about, diakses pada tanggal 14 mei 2021

c. Meningkatkan kinerja dengan menciptakan sistem manejemen yang kondusif dan profesional.

d. Merajut tali persaudaraan dengan organisasi Islam di Indonesia.

e. Bekerjasama dengan mitra usaha di dalam pengembangan pasar HU Republika di luar pulau jawa.

f. Mengelola kantor perwakilan sebagai “semi otonomi”.

g. Menjadikan PT Republika Media Mandiri sebagai “sister company” yang sehat. 8.

Menjadikan HU Republika sebagai Koran nomor satu.5

3. Alamat Republika.co.id

Kantor Pusat Jakarta : Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext 308, Telpon: 021 780 3747, Fax: 021 799 7903

Email:

Redaksi : [email protected] Redaksi : [email protected] Marketing : [email protected]

5 Republika, http://www.republika.co.id/page/about, diakses pada tanggal 14 mei 2021.

45 BAB IV

DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

Dalam bab ini, peneliti akan menggambarkan sumber data dan temuan tersebut merupakan pemberitaan pada website Tirto.id dan Republika.co.id. Dengan pemberitaan mengenai kebijakan polisi virtual yang terjadi pada kalangan masyarakat digital atau netizen yang menjadi perbincangan di era digital saat ini. Berikut data dan temuan yang dirangkum dalam bentuk tabel:

A. Berita Polisi Virtual Pada Tirto.id

Tabel 4. 1 Daftar Berita Polisi Virtual Tirto.id No. Media Tanggal Judul Penulis

Warganet

Semakin Takut Berkomentar

1. Polisi Virtual: Jalan Pintas Indonesia Menuju

"Negara Polisi"?

Gambar 4. 1 Tampilan Judul dan Gambar

Oleh: Ahmad Zaenudin - 20 Februari 2021

https://tirto.id/polisi-virtual-jalan-pintas-indonesia-menuju-negara-polisi-gapP

Duo pendiri Instagram Kevin Systrom dan Mike Krieger menghadapi masalah gawat pada 2011. Jumlah pengguna Instagram yang awalnya dirancang sebagai tempat bagi orang-orang menggunggah foto artsy nan indah itu tengah meningkat--15 foto diunggah setiap detik dari 150 juta pemakai. Tiba-tiba, media sosial yang kala

itu masih 'bocah' mendadak dibanjiri foto-foto mengerikan mulai dari foto korban pembunuhan, kekerasan, hingga potret depresi. Tak mau Instagram dibanjiri konten-konten negatif, Systrom dan Krieger berencana menjalankan strategi bernama "pruning the troll" yang akan memblokir secara otomatis pengunggah konten negatif--tanpa pemberitahuan apapun.1

Namun, sebagaimana dikisahkan Sarah Frier dalam bukunya berjudul No Filter: The Inside Story of Instagram (2020), strategi tersebut ditentang, khususnya oleh karyawan nomor lima Instagram, Jessica Zollman.

Zollman, mantan pegawai Formspring yang bertugas bekerjasama dengan FBI untuk menghadapi cyberbullying, menentang pruning the troll karena "jika kita mulai meninjau konten secara proaktif, secara hukum kita bertanggung jawab atas semua konten yang ada di Instagram. Kita harus memeriksa semua konten, tanpa terkecuali, sebelum naik". Andai Instagram gagal membendung satu saja konten negatif, Zollman beragumen, Instagram akan beurusan dengan hukum karena merujuk Communications Decency Act Section 230, perusahaan seperti Instagram dianggap sebagai pemilik segala konten yang dimuatnya dan karenanya

1 Ahmad Zaenudin, Polisi Virtual: Jalan Pintas Indonesia Menuju

"Negara Polisi"?, https://tirto.id/polisi-virtual-jalan-pintas-indonesia-menuju-negara-polisi-gapP, diakses pada tanggal 14 Maret 2021.

harus bertanggung-jawab atas semua konten, kecuali Instagram menyatakan sebaliknya sejak awal. "Jangan,"

tegas Zollman kepada bosnya.2

Delapan tahun berlalu. Apa yang diucapkan Zollman keluar juga dari mulut Mark Zuckerberg, Chief Executive Officer Facebook dan pemilik Instagram--sekaligus sosok yang membuat Zollman berstatus miliarder. Dalam opininya yang dimuat The Washington Post pada Maret 2019 silam, Zuckerberg menyatakan Facebook dibanjiri oleh konten-konten negatif--yang disebutnya "wajar" karena Facebook dihuni miliaran orang di seluruh dunia--dan juga konten-konten positif.

Untuk konten positif, Zuckerberg mengklim bahwa

"Facebook memberi semua orang cara untuk menggaungkan suara agar didengar, dan hal tersebut menciptakan manfaat nyata". Di sisi lain, ia tak ingin bertanggungjawab soal konten negatif dan mengatakan bahwa "pemerintah seharusnya lebih aktif untuk meregulasi internet".3

Yang tak diketahui (lebih tepatnya: pura-pura tak diketahui) Zuckerberg: tanpa diminta pun tangan

2 Ahmad Zaenudin, Polisi Virtual: Jalan Pintas Indonesia Menuju

"Negara Polisi"?, https://tirto.id/polisi-virtual-jalan-pintas-indonesia-menuju-negara-polisi-gapP, diakses pada tanggal 14 Maret 2021.

3 Ahmad Zaenudin, Polisi Virtual: Jalan Pintas Indonesia Menuju

"Negara Polisi"?, https://tirto.id/polisi-virtual-jalan-pintas-indonesia-menuju-negara-polisi-gapP, diakses pada tanggal 14 Maret 2021.

pemerintah telah mencengkram erat media sosial dan

segala sisi dunia digital. 4

Polisi Virtual

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, dalam Rapat Pimpinan Polri, Selasa (16/2) lalu, mengingatkan Direktur Siber Polri "untuk segera membuat virtual police". Pembentukan virtual police atau polisi virtual dilakukan menindaklanjuti arahan Presiden Joko Widodo tentang pasal-pasal karet dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE. Melalui pasal-pasal karet itu, banyak laporan "pencemaran nama baik" masuk ke kepolisian, yang menurut Sigit merepotkan polisi.

Terlebih, pengekangan pendapat dan hilangnya kebebasan berekspresi juga tak jarang terjadi karena pasal-pasal itu.5

Dalam penuturan Sigit, polisi virtual yang hendak dibentuk bertujuan untuk menegur "kalimat-kalimat yang kurang pas" yang diucapkan masyarakat di dunia maya yang diduga "melanggar UU ITE". Bagi Sigit, kerja petugas polisi virtual yang memelototi dunia maya

4 Ahmad Zaenudin, Polisi Virtual: Jalan Pintas Indonesia Menuju

"Negara Polisi"?, https://tirto.id/polisi-virtual-jalan-pintas-indonesia-menuju-negara-polisi-gapP, diakses pada tanggal 14 Maret 2021.

5 Ahmad Zaenudin, Polisi Virtual: Jalan Pintas Indonesia Menuju

"Negara Polisi"?, https://tirto.id/polisi-virtual-jalan-pintas-indonesia-menuju-negara-polisi-gapP, diakses pada tanggal 14 Maret 2021.

dilakukan untuk menghindari konflik horizonal. “Virtual police dahulu yang mengedukasi. Saya kira ini juga bisa melibatkan influencer yang disukai masyarakat, yang memiliki pengikut banyak. Sehingga proses edukasi dirasakan nyaman, tidak sekadar menakuti,” tambahnya.6

Penjelasan Kapolri soal pembentukan polisi virtual terdengar sangat positif. Namun, fakta berkata lain, khususnya jika kita menengok polisi virtual di negara lain. Polisi virtual, polisi siber, atau apapun namanya, lebih mungkin menjadi pengekang kemerdekaan rakyat. Mereka menentukan mana yang boleh disuarakan dan mana yang tidak. David Bamman, dalam studi berjudul "Censorship and Deletion Practices in Chinese Social Media", yang diterbitkan di dalam jurnal First Mondel Vol. 17 No. 3, Maret 2012, menyebut bahwa sensor pemerintah secara umum bisa diartikan sebagai pemblokiran, entah atas situs web atau DNS.

Bagi Bamman, "hard censorship" alias sensor keras ini mengerikan. Namun, yang terjadi tak melulu sensor keras.

Dengan "The Great Firewall of China", misalnya, Beijing memblokir akses Google, Facebook, dan kawan-kawan.

Tetapi, dengan aksi blokir website ini, Beijing sukses

6 Ahmad Zaenudin, Polisi Virtual: Jalan Pintas Indonesia Menuju

"Negara Polisi"?, https://tirto.id/polisi-virtual-jalan-pintas-indonesia-menuju-negara-polisi-gapP, diakses pada tanggal 14 Maret 2021.

membuat Baidu, Weibo, dan Tencent menjadi raja di negeri sendiri.7

Yang justru lebih mengerikan adalah "soft censorship" atau sensor halus. Jenis penyensoran ini tetap mengizinkan situsweb atau aplikasi berjalan, tetapi meninjau ulang konten-konten di dalamnya. Cara kerjanya mirip polisi virtual yang dibayangkan Kapolri:

memelototi konten-konten di media sosial--dengan tambahan, perusahaan media sosial pun harus ikutan melakukan sensor ketika diminta pemerintah. Dalam kasus Weibo, misalnya, selain dipelototi Beijing, media sosial tersebut juga mempekerjakan 100 pegawai khusus.8

Di Cina, sensor halus bekerja dengan meninjau semua konten yang diunggah warga di berbagai media sosial ala Cina. Menghapus konten yang mengandung kata/kalimat yang tak direstui Beijing, termasuk yang sesungguhnya biasa-biasa saja. Beberapa kata/kalimat yang dilarang adalah: "Impian Kaisar" (merujuk pada film berjudul Emperor's Dream tentang korupsi partai nasionalis Kuomintang), Disney (betul, merujuk pada karakter Winnie the Pooh), 1984 (merujuk pada imajinasi

7 Ahmad Zaenudin, Polisi Virtual: Jalan Pintas Indonesia Menuju

"Negara Polisi"?, https://tirto.id/polisi-virtual-jalan-pintas-indonesia-menuju-negara-polisi-gapP, diakses pada tanggal 14 Maret 2021.

8 Ahmad Zaenudin, Polisi Virtual: Jalan Pintas Indonesia Menuju

"Negara Polisi"?, https://tirto.id/polisi-virtual-jalan-pintas-indonesia-menuju-negara-polisi-gapP, diakses pada tanggal 14 Maret 2021.

distopia yang muncul di novel George Orwell), hingga

"kekal". Tak tanggung-tanggung, Beijing pun pernah mengharamkan huruf "N".9

Riset Bamman dilakukan antara 30 Juni hingga 25 Juli 2011 dengan mengumpulkan 1.308.430 pesan yang diunggah ke Weibo. Beijing menghapus 212.583 di antaranya.10

Tak hanya Cina yang melakukan penyensoran konten media sosial. Di AS, sebagaimana dilaporkan Jonah Engel Bromwich untuk The New York Times, sejak 2015 polisi menggunakan alat buatan perusahaan bernama Gofeedia untuk menengok konten-konten masyarakat yang diunggah di Facebook, Twitter, dan Instagram, khususnya tatkala protes hendak dilakukan.

Aparat kepolisian di Newark, New Jersey, membentuk

"The Citizen Virtual Patrol" yang bertugas memelototi masyarakat bukan pada media sosialnya, tetapi langsung ke individu melalui 100 kamera CCTV yang dipasang di seantaro kota. Pada 2011, dengan bantuan uang tak kurang dari USD 19 miliar dari Cina, Ekuador pun

9 Ahmad Zaenudin, Polisi Virtual: Jalan Pintas Indonesia Menuju

9 Ahmad Zaenudin, Polisi Virtual: Jalan Pintas Indonesia Menuju

Dalam dokumen Disusun oleh : Muhammad Sayid Furqon (Halaman 42-134)

Dokumen terkait