• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KERANGKA TEORITIS

A. Framing

Berdasarkan masalah utama ini, sesuai dengan teori framing Robert N. Entman, maka rumusan masalah tersebut dapat dibahas lebih rinci dalam sub-sub masalah sebagai berikut:

a. Bagaimana framing polisi virtual pada Tirto.id dan Republika.co.id ditinjau dari aspek Define problem (pendefinisian masalah)?

b. Bagaimana framing polisi virtual pada Tirto.id dan Republika.co.id ditinjau dari aspek Diagnose cause (memperkirakan masalah/ sumber masalah)?

c. Bagaimana framing polisi virtual pada Tirto.id dan Republika.co.id ditinjau dari aspek Make moral judgement (membuat keputusan moral)?

d. Bagaimana framing polisi virtual pada Tirto.id dan Republika.co.id ditinjau dari aspek Treatment recommendation (menekankan penyelesaian)?

2. Batasan Masalah

Agar pembahasan proposal ini tidak meluas dan keluar dari pembahasan. Maka Batasan yang akan diambil dari penelitian ini adalah 3 buah berita polisi virtual dari masing-masing media online.

a. Berita Tirto.id 20 Februari 2021 dengan judul Polisi Virtual: Jalan Pintas Indonesia Menuju "Negara Polisi"?

b. Berita Tirto.id 25 Februari 2021 “Apa Itu Virtual Police? Aturan, Cara Kerja dan Kaitan dengan UU ITE.

c. Berita Tirto.id 1 Maret 2021 Polisi Virtual Memicu Warganet Semakin Takut Berkomentar.

d. Berita Republika.co.id 25 Feb 2021 DPR: Polisi Virtual Harus Tetap Perhatikan Hak Masyarakat.

e. Berita Republika.co.id 27 Feb 2021 Polisi Virtual Diharapkan tak Kekang Aspirasi Masyarakat.

f. Berita Republika.co.id 25 Feb 2021 Polri: Polisi Virtual tak Kekang Kebebasan Berpendapat.

D. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan pokok permasalahan diatas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pembingkaian berita yang dilakukan oleh media online Tirto.id dan Republika.co.id.

2. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini ditinjau secara akademis dan praktis

a. Manfaat Akademis

Manfaat penelitian ini adalah dapat menambahkan informasi dan referensi penelitian tentang konsep analisis framing dan pembingkaian berita polisi virtual di media online.

b. Manfaat Praktis

Manfaat praktis dari penelitian ini adalah memberikan informasi dan gambaran bagi masyarakat mengenai bagaimana suatu media membingkai sebuah peristiwa menjadi sebuah berita. Sehingga masyarakat dapat memilih dan memahami berita dengan baik.

Selain itu dari penelitian ini diharapkan menjadi pencerahan bagi media dan selalu menjaga objektifitas dan tidak berpihak terhadap siapapun.

E. Kajian Pustaka

Dalam penelitian ini, penulis melakukan tinjauan pustaka terlebih dahulu terhadap beberapa penelitian sebelumnya. Kajian pustaka ini juga berguna untuk mengurangi penelitian ulang dengan tema yang sama.

Pertama ialah Skripsi Analisi Framing Berita Dugaan Nepotisme Rektor Universitas Negeri Jakarta Di Majalah Lembaga Pers Mahasiswa Didaktika Tahun 2017 Oleh Eko Ramdani dengan NIM 11140510000035 mahasiswa program studi Komunikasi dan Penyiaraan Islam, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Membahas tentang keberpihakan LPM Ddidaktika di rubrik kampusiana. Hasil dari penelitian ini menampilkan berbagai data yang membenarkan adanya dugaan nepotisme serta kasus plagiarisme yang ada di Pasca Sarjana UNJ.9

9 Ramdani Eko, Analisi Framing Berita Dugaan Nepotisme Rektor Universitas Negeri Jakarta Di Majalah Lembaga Pers Mahasiswa Didaktika

Skripsi ini menggunakan Paradrigma konstruktivis dengan pendekatan kualitatif, menggunakan konsep dari Pan dan Kosicky untuk metode analisis framing. Perbedaan dengan penelitian penulis terletak pada objek dan subjek penelitian yang diambil.

Selanjutnya, Skripsi Analisis Framing Berita Interseks (Studi Komparatif Media Online Tirto.id dan Deutsche Welle Indonesia) oleh Ineike Pramestiya dengan NIM 11150510000117 mahasiswi program studi Jurnalistik, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penelitian ini membahas tentang pemberitaan Interseks di portal media online, konteks yang sangat menarik mengingat interseks atau gender biner sendiri jarang terjadi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan framing pada kedua media, dan membahas lebih lanjut mengenai pendidikan gender dan seksualitas serta menegakkan hak asasi kaum minoritas. 10 Skripsi ini menggunakan pendekatan kualitatif dan paradigma konstruktivis. Metode yang digunakan analisi framing model Robert N. Entman. Salah satu subjek yang diteliti sama dengan apa yang akan penulis teliti, perbedaan dengan penelitian penulis terletak pada objek penelitian.

Tahun 2017, Skripsi, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hudayatullah Jakarta, 2020.

10 Pramestiya Ineike, Analisis Framing Berita Interseks (Studi Komparatif Media Online Tirto.id dan Deutsche Welle Indonesia), Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2020.

F. Metodologi Penelitian 1. Paradigma Penelitian

Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivis, yang menurut Cohen dan Manion (1994) sebagai pendekatan penelitian yang bertujuan memahami dunia pengalaman manusia. Konstruktivis atau kadang disebut paradigma Interpretif menganggap bahwa realita adalah hasil kontruksi social. (Mertens, 2005, h.12).

Kontruktivis atau interpratif cenderung melandasi pada cara pandang partisipan atau situasi (Creswell, 2003, h.8).

Paradigma kontruktivis merujuk pada the social contructivism worldview yang menurut Creswell (2003) berasumsi bahwa individu selalu mencari pemahaman atas dunia dimana mereka tinggal dan berkerja. Setiap individu memiliki makna subjektif atas pengalaman mereka yang mengarah pada suatu objek atau hal tertentu. Makna dikonstruksi oleh individu ketika mereka terlibat dalam dunia yang mereka tafsirkan, dan berusaha memahaminya berdasarkan cara pandang social dan historis mereka.11 2. Pendekatan Penelitian

Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian dimana peneliti tidak menggunakan angka atau rumus statistik

11 Crotty Michael, The Foundations of Social Research (Meaning and Perspective in the Research Process), (London: SAGE Publications, 1998).

dalam mengumpulkan data dan dalam memberikan penafsiran terhadap hasilnya. Menurut Crasswell seperti yang dikutip dalam buku Burhan Bungin mengatakan bahwa, ada empat asumsi dalam pendekatan kualitatif.

Pertama pendekatan kualitatif tidak bertumpu pada hasil akhir saja, melainkan lebih memerhatikan proses. Kedua, interpretasi juga diperhatikan oleh penelitian kualitatif dari pada hasil. Ketiga, peneliti itu sendiri menjadi alat utama untuk mengumpulkan data, termasuk proses turun ke lapangan dan melakukan observasi lapangan.

Selanjutnya, peneliti kualitatif terlibat dalam proses penelitian, interpretasi data, dan memberikan pemahaman melalui kata atau gambar.

3. Subjek dan Objek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini ialah Tirto.id dan Republika.co.id. Sedangkan Objek penelitiannya adalah teks berita yang dipublikasikan oleh Tirto.id dan Republika.co.id yaitu tentang berita polisi virtual.

4. Teknik Pengumpulan Data a. Dokumentasi

Merupakan cara yang digunakan untuk mendapatkan hitorisasi data . Dengan demikian, pada penelitian ini maka dokumentasi memegang peranan yang sangat penting, peneliti melakukan pengambilan data dari berita polisi virtual pada media online Tirto.Id periode 20 Februari 2021 dan periode 25 Februari 2021.

b. Wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan narasumber yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. 12 Dalam penelitian ini peneliti mengadakan tanya jawab kepada redaksi media online Tirto.id dan Republika.co.id.

c. Studi Kepustakaan

Mengumpulkan data melalui sember-sumbernya yang berada diperpustakaan seperti jurnal, buku-buku, literatur, surat kabar dan bahan kepustakaan lainnya yang berkaitan dengan penelitian ini. Dalam hal ini peneliti memperoleh data dengan cara mengutip data dari sumber lain untuk melengkapi data yang sudah ada.

5. Teknik Analisis Data

Penelitian ini menggunakan analisi framing Robert N. Etnman. Dalam model analisis framing Robert N.

Etnman terdapat 4 rumusan atau model perangkat framing yakni Define problems (definisi masalah), Diagnose causes (sumber masalah), Make moral judgement (membuat keputusan moral), dan Treatment recommendation (menekankan penyelesaian).

12 Moleong, Lexy J, Metodologi penelitian kualitatif, (Bandung:

Remaja Rosdakarya, 2010).186.

G. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dalam penelitian ini dibagi pembahasannya menjadi lima bab, yakni;

BAB I: Bab ini merupakan bab pendahuluan yang terdiri dari: Latar belakang masalah, tujuan penelitian dan kegunaan penelitian, metodologi penelitian serta teknik pengumpulan data.

BAB II: Bab ini menjelaskan tentang landasan teori yang berkaitan dengan pembahasan masalah yang diteliti. Termasuk di dalamnya kajian teori, kajian terdahulu dan kerangka pikir.

BAB III: Bab ini berisikan gambaran umum tentang Tirto.Id dan Republika.co.id. Didalamnya juga berisi profil, sejarah hingga visi dan misi.

BAB IV: Berisikan temuan data dan penelitian yang akan di Analisa.

BAB V: Bagian ini berisi uraian yang mengaitkan latar belakang, teori dan rumusan teori baru dari penelitian.

BAB VI: Bab terakhir ini berisikan penutup yang didalamnya mencakup kesimpulan, implikasi serta saran yang ditulis oleh penulis.

17 BAB II

KERANGKA TEORITIS

A. Framing

Analisis framing adalah analisi yang dipakai untuk melihat bagaimana media mengkonstruksi realitas. Analisi framing digunakan untuk melihat bagaimana peristiwa dibingkai media. Karena banyak media yang meliput suatu realitas, maka realitas akan di konsruksi secara berbeda oleh media. Realitas dipahami sebagai hsil konstruksi. Berbagai hal yang terjadi, fakta, orang, diabstraksikan menjadi peristiwa yang hadir dihadapan khalayak. Lebih spesifiknya dalam penelitian framing yang menjadi titik persoalan adalah bagaimana media membingkai peristiwa dalam konstruksi tertentu.1

Dalam pembetukan suatu berita, media massa memiliki strategi dalam mengemas suatu topik sehingga memiliki daya tarik yang tinggi dan pesan berisi makna tertentu yang menjadi opini kepada khalayak. Dalam pembetukan opini publik, proses ini melalui apa yang disampaikan oleh Hamad (2004) yaitu terdapat tiga tindakan yang biasa dilakukan pekerja media, khususnya oleh para komunikator massa ketika melakukan konstruksi realitas yaitu pemilihan simbol (fungsi bahasa),

1 Eriyanto, Analisis Framing, Konstruksi Ideologi, dan Politik Media, (Yogyakarta: LkiS, 2002), h.7.

pemilihan fakta yang akan disajikan (strategi framing), dan kesediaan memberi tempat (agenda setting).2

Gagasan tentang framing pada awalnya dikemukakan oleh Baterson tahun 1955. Mulanya frame dimaknai sebagai struktur konseptual atau perangkat kepercayaan yang mengorganisir pandangan politik, kebijakan, dan wacana serta yang menyediakan kategori-kategori standar untuk mengapresiasi realitas. Tahun 1974, Goffman mengembangkan konsep frame sebagai kepingan-kepingan perilaku (strips of behaviour) yang membimbing individu dalam membaca realitas. 3 Dalam perspektif komunikasi, analisis framing dipakai untuk membedah cara-cara atau ideologi media saat mengkonstruksi fakta.

Analisis ini mencermati strategi seleksi, penonjolan, dan pertautan fakta ke dalam berita agar bermakna, lebih menarik, lebih berarti atau lebih diingat, untuk menggiring interpretasi khalayak sesuai perspektifnya.

Dengan kata lain, framing adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita. Cara pandang atau perspektif itu pada akhirnya menentukan fakta apa yang diambil, bagian mana yang ditonjolkan dan dihilangkan, serta hendak

2 Ibnu Hamad. Konstruksi Realitas Politik dalam Medai Massa.

(Jakarta: Granit, 2004).

3 Alex Sobur, Analisis Teks Media, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009), h. 162.

dibawa ke mana berita tersebut. 4 Karenanya, berita menjadi manipulatif dan bertujuan mendoninasi keberadaan subjek sebagai sesuatu yang legitimate, objektif, alamiah, wajar, atau tak terelakkan.

Analisis framing adalah salah satu metode analisis teks yang berada dalam kategori penelitian konstruksionis.

Analisis framing secara sederhana dapat digambarkan sebagai analisis untuk mengetahui bagaimana realitas (peristiwa, aktor, kelompok atau apa saja) dibingkai oleh media. Pembingkaian tersebut tentu saja melalui proses konstruksi. Realitas sosial dimaknai dan dikonstruksi dengan makna tertentu. Peristiwa dipahami dengan bentukan tertentu. Hasilnya, pemberitaan media pada sisi tertentu atau wawancara dengan orang-orang tertentu.

Semua elemen tersebut tidak hanya bagian dari teknis jurnalistik, tetapi menandakan bagaimana peristiwa dimaknai dan ditampilkan.5 Analisis framing dipahami dan banyak digunakan dalam penelitian sebagai salah satu teknik analisis isi. Tetapi pada perkembangan berikutnya, analisis framing telah berubah menjadi seperangkat teori yang oleh sejumlah pakar komunikasi dipahami sebagai salah satu pendekatan untuk melihat bagaimana domain dibalik teks media mengkonstruksi pesan. Entman melihat framing dalam dua dimensi besar yaitu: “Seleksi isu dan

4 Bimo Nugroho. Eriyanto, dan Frans Suadiarsis, Politik Media Mengemas Media, (Jakarta: Institut Studi Arus Informasi, 1999). h. 21.

5 Eriyanto, Analisis Framing, Konstruksi Ideologi, dan Politik Media, (Yogyakarta: LkiS, 2002). 4.

penekanan atau penonjolan aspek-aspek realitas. Kedua faktor ini dapat lebih mempertajam framing berita melalui proses seleksi isu yang layak ditampilkan dan penekanan isi beritanya. Perspektif wartawanlah yang akan menentukan fakta yang dipilihnya, ditonjolkannya, dan dibuangnya. Dibalik semua ini, pengambilan keputusan mengenai sisi mana yang ditonjolkan tentu melibatkan nilai dan ideologi para wartawan yang terlibat dalam produksi sebuah berita”.6

Konsep framing dalam pandangan Entman, menawarkan sebuah cara untuk mengungkap the power of a communication text. Secara esensial meliputi penyeleksian dan penonjolan. Menurut G. J. Aditjondro, framing merupakan metode penyajian realitas di mana kebenaran tentang suatu kejadian tidak diingkari secara total, melainkan dibelokkan secara halus, dengan memberikan sorotan terhadap aspek-aspek tertentu saja, dengan menggunakan istilah-istilah yang punya konotasi tertentu, dan dengan bantuan foto, karikatur, dan alat ilustrasi lainnya. Maka dari itu, proses framing tidak hanya melibatkan para pekerja pers, tetapi juga pihak-pihak yang bersengketa dalam kasus-kasus tertentu yang masing-masing berusaha menampilkan sisi informasi yang ingin ditonjolkannya (sambil menyembunyikan sisi-sisi lainnya), sambil mengaksentuasikan kesahihan

6 Alex Sobur, Analisis Teks Media, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009), h. 163.

pandangannya dengan mengacu pda pengetahuan, ketidaktahuan, dan perasaan pembaca.7

Dalam dokumen Disusun oleh : Muhammad Sayid Furqon (Halaman 21-33)

Dokumen terkait