• Tidak ada hasil yang ditemukan

lib.archiplan.ugm.ac.id

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "lib.archiplan.ugm.ac.id"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN

5.1. BENTUK KEGIATAN DAN RUANG 5.1.1. Pelaku Kegiatan

Pelaku utama kegiatan dalam Movie Square dimayoritaskan penduduk WNI yang tinggal di kota Yogyakarta, tidak hanya dikhususkan untuk warga kota saja tetapi membuka kemungkinan untuk pendatang dari luar daerah juga.

Menurut data yang dihimpun oleh Meiske Taurisia menyebutkan bahwa, jumlah penonton yang dapat mengakses ke bioskop hanya sekitar 13% dari jumlah populasi total Indonesia pertahun. Jika nilai ini dipukul rata di semua daerah artinya kuota penonton dari Movie Square hanyalah sebesar 51.222 jiwa pertahun (BPS Kota Yogyakarta, 2014). Jika dikalkulasikan perhari dapat menghasilkan angka sebesar 143 jiwa perharinya. Faktor harian dan weekend dan beberapa hari libur nasional memungkinkan untuk menutup jumlah hitungan kasar penonton pertahun. Dengan adanya faktor event khusus dan weekend perhitungan dapat tergandakan. Ini masih belum terhitung dengan banyaknya jumlah pendatang dari luar daerah.

Berdasarkan faktor fleksibilitas, kegiatan dalam Movie Square tidak hanya berupa menonton film saja. Terdapat juga kegiatan rekreasi dan menonton pertunjukan hiburan non media seperti pertunjukan drama, konser kecil, nobar, dan lain-lain. Kegiatan menonton masih dalam satu lingkup bangunan yang nantinya dapat digabung dalam satu kondisi yang memungkinkan.

5.1.2. Kebutuhan Ruang

Secara garis besar berdasarkan pelakunya, akan terdapat ruang fasilitas utama dan ruang fasilitas pendukung.

1. Ruang fasilitas utama

Berdasarkan kebutuhannya, ruang fasilitas utama merupakan ruang dengan fungsi utama dari Movie Square yaitu bioskop. Selain itu Movie Square sendiri akan memiliki panggung hiburan yang menjadi alternatif hiburan lain dalam satu ruang yang sama.

Berdasarkan permasalahan yang ditemui, ruang untuk bioskop akan terbagi menjadi 2 jenis, bioskop kelas atas yang memiliki fleksibilitas dengan panggung hiburan, dan bioskop kelas menengah yang murni bioskop yang menampilkan berbagai film dan tontonan non profit.

lib.archiplan.ugm.ac.id

(2)

Gambar 5 . 2 Diagram Kegiatan Cafe Sumber : pemikiran penulis

2. Ruang fasilitas pendukung

Ruang-ruang fasilitas pendukung yaitu sifatnya mendukung ruang utama, biasanya berupa ruang servis, ruang staff dan pengelola, lobby, gudang, toilet, cafe, parkir, ruang meeting point.

Berikut adalah jenis ruang yang dibutuhkan :

Ruang Utama Ruang Pendukung

Studio bioskop + panggung indoor Ruang staff dan pengelola

Ruang ticketing Toilet

Lobby Ruang ganti pementasan (rias)

Cafe Ruang proyektor

Panggung outdoor Backstage panggung

Toko merchandise Ruang loker

Ruang penyimpanan roll film ME, Genset, AHU, AC, Pompa air

Tabel 5 . 1 Kebutuhan Ruang dalam Movie Square

Di bawah ini adalah diagram kegiatan setiap ruang utama:

a. Lobby

b. Cafe

Gambar 5 . 1 Diagram Kegiatan Ruang Lobby Sumber : pemikiran penulis

lib.archiplan.ugm.ac.id

(3)

c. Studio bioskop

5.1.3. Kebutuhan Luasan Ruang

Ruang Kebutuhan Kapasitas Satuan Luas Total Bioskop  Lobby

 R. Ticketing

 R. Studio Bioskop (6)

 Toilet

300 orang

@200 orang

@0,5m2

@0,5m2

150m2 + 10%

20m2

(6) 100m2 + 10%

30m2

800m2 ~ 840m2 Pertunjukan  R. Ganti + Loker

 Backstage

 Panggung Outdoor

 Panggung Indoor

40m2 + 10%

200m2 300m2

Digabung dgn r studio 520m2 ~ 550m2

Cafe  Dining Room

 Bar

 Dapur

 Kasir

 Toilet

 Gudang Bahan

 R. Karyawan

50 orang @1,5m2 75m2 + 10%

10m2 20m2 2m2 10m2 16m2 12m2

145m2 ~ 155m2 Toko

Merchandise

 Area toko

 Kasir

 Gudang barang

2-3 orang @1m2

100m2 3m2 15m2 118m2

Gambar 5 . 3 Diagram Kegiatan Studio Bioskop Sumber : pemikiran penulis

lib.archiplan.ugm.ac.id

(4)

Gambar 5 . 4 Bubble Diagram Skenario 1 Sumber : pemikiran penulis

Ruang penunjang

 Gudang film

 R. Proyektor (2)

 R. Kontrol Besar

 Genset

 Mesin AC

 AHU

 ME

 Pompa air

@10m2

40m2

20m2 + 10%

20m2 + 10%

30m2 40m2 10m2 40m2 15m2

215m2 ~ 220m2 Kantor

pengelola

 Kantor pengelola

 R. Rapat

 R. Servis

 R. Direksi

 R. Karyawan

 Toilet

10 orang @1,5m2 30m2 40m2 25m2 20m2 30m2 20m2

165m2 ~ 170m2

Jumlah total 1963m2 ~ 2053m2

Tabel 5 . 2 Kebutuhan Luasan Ruang

5.1.4. Hubungan dan Organisasi Ruang

Berikut adalah beberapa bentuk diagram pola hubungan ruang berdasarkan pola kegiatan diatas yang menimbulkan beberapa skenario hubungan ruang yang dapat terjadi:

- Skenario 1

lib.archiplan.ugm.ac.id

(5)

Gambar 5 . 5 Bubble Diagram Skenario 2 Sumber : pemikiran penulis

: area pengunjung

: area staff dan pengelola

Pada skenario ini dikondisikan bahwa akses pengunjung dan akses staff digabung. Pintu masuk ke dalam site terbagi menjadi 2, depan dan belakang.

Pintu masuk depan diperuntukkan bagi pengunjung dan staff, sedangkan pintu masuk belakang diperuntukkan bagi pemain pementasan dan kru yang memiliki kewajiban. Kelebihan dari skenario ini adalah pintu yang steril untuk pementas dengan mempertimbangkan keamanan artis / pemain. Kekurangannya adalah akses dari staff dan pengunjung yang digabung menunjukkan kurang jelasnya FOH dan BOH dari Movie Square, selain itu juga kurang jelasnya ruangan khusus staff yang bersifat privat.

- Skenario 2

: area pengunjung

: area staff dan pengelola

Pada skenario ini mulai dipisah antara pintu masuk depan untuk pengunjung, dan pintu masuk samping / belakang untuk staff dan pemain pementasan. Pemisahan ruang yang bersifat privat dengan publik sudah mulai terlihat, BOH dan FOH juga sudah terpisah. Unsur fleksibilitas ruang diaplikasikan pada ruang studio yang memiliki fungsi ganda, dimana ruang ini dapat ditransformasikan menjadi panggung pertunjukan indoor.

lib.archiplan.ugm.ac.id

(6)

5.2. SISTEM BANGUNAN

5.2.1. KONSEP PERANCANGAN TAPAK 5.2.1.1. Sirkulasi Tapak

Jalur sirkulasi pada tapak dibagi menjadi dua, sirkulasi pengunjung (publik) dan sirkulasi staff dan pengelola (privat). Untuk sirkulasi pemain yang akan tampil digabung dengan sirkulasi untuk staff dengan pertimbangan kenyamanan dan keamanan.

Untuk sirkulasi publik, dibagi lagi menjadi dua, pedestrian dan sirkulasi kendaraan bermotor. Sirkulasi pedestrian ditandai dengan pergola bertutup tanaman rambat yang dilapis polikarbonat dibawahnya. Pergola ini selain untuk penanda sirkulasi pedestrian dapat juga dipakai untuk berteduh dari terik matahari dan hujan.

Diutamakan peletakan pedestrian di pinggir sehinga tidak terganggu dengan akses kendaraan bermotor yang keluar masuk site.

Akses pedestrian Akses kendaraan bermotor

Untuk sirkulasi staff dan akses untuk pemain pementasan disendirikan, ini dilakukan dengan pertimbangan keamanan dan kenyamanan, selain itu juga akses ini dapat berhubungan langsung dengan backstage yang juga digunakan untuk menyimpan properti pementasan.

5.2.1.2. Pencapaian Site

Lokasi site memiliki keuntungan besar dengan kondisi yang berada pada pinggir jalan besar. Dengan sendirinya pencapaian pada site akan secara langsung untuk akses pengunjung. Sedangkan untuk

Gambar 5 . 6 Akses Kendaraan Bermotor dan Pedestrian

Sumber : pemikiran penulis

lib.archiplan.ugm.ac.id

(7)

staff dan pemain pementasan akan melalui jalan kecil di sebelah selatan site yang dikhususkan untuk area privat. Pemisahan akses ini untuk memberikan kenyamanan dan kemanan bagi pengunjung dan pemain pementasan.

Akses publik

Akses staff dan pemain pementasan

Dari gambar diatas pengunjung akan masuk ke dalam site secara langsung dan menuju ke area parkir terlebih dahulu, setelah itu baru menuju ke bangunan. Sedangkan untuk staff dan pemain pementasan melalui jalan eksisting yang berada pada selatan site, kemudian memutar melalui jalan baru dalam site yang dikhususkan untuk staff.

Kedua akses ini memiliki pintu keluar yang sama pada sisi utara site.

5.2.1.3. Zonasi

Zonasi pada site terbagi menjadi 3 bagian, publik-semi publik- privat. Zona publik, adalah area untuk pengunjung yang berupa kafe, toko merchandise, areal parkir, lobby, panggung outdoor, dan ruang studio + panggung indoor.

Zona semi publik digunakan sebagai area transisi dimana terdapat dua ruang atau lebih yang memiliki keterkaitan namun aksesnya terbatas, diantaranya adalah ruang ticketing, dan ruang proyektor.

Disini dapat diartikan bahwa pengunjung dapat mengakses ke ruang ticketing tetapi tidak memiliki akses atau pintu menuju ruang tersebut.

Begitu juga dengan ruang proyektor yang hanya memiliki fungsi menampilkan film yang diputar ke studio bioskop namun tidak memiliki akses pintu ke studio.

Gambar 5 . 7 Akses Staff dan Pengunjung Sumber : pemikiran penulis

lib.archiplan.ugm.ac.id

(8)

Zona privat dikhususkan untuk staff dan para pemain pementasan yang memang memiliki kepentingan di dalam bangunan. Diantaranya adalah ruang staff, ruang ganti, backstage panggung, ruang loker, dan gudang film. Ruang-ruang ini memiliki akses yang terpisah dengan akses pengunjung dengan pertimbangan keamanan dan kenyamanan.

5.2.2. KONSEP PERANCANGAN BANGUNAN 5.2.2.1. Bentuk dan Massa Bangunan

Berdasarkan 2 skenario hubungan ruang diatas, maka dapat dihasilkan massa berupa 1 buah massa utama dengan pendukung diluar berupa panggung outdoor yang dapat berbentuk amphiteater dan musholla. Adanya panggung outdoor dengan bentuk amphiteater ini adalah sebagai selingan ketika pada suatu waktu tertentu studio bioskop sedang digunakan, atau sedang peak usage dan dari pihak manajemen akan menampilkan sebuah seni pertunjukan pada saat yang bersamaan.

Amphiteater ini juga dapat berfungsi sebagai ruang berkumpul dan bersantai ketika menunggu jadwal film bioskop dimulai.

Dengan adanya satu massa utama diharapkan pengunjung tidak rancu ketika akan masuk ke studio bioskop. Mungkin agak terkesan monoton dan sulit untuk dipadukan dengan bentukan amphiteater yang membutuhkan ruang cukup banyak, namun peletakan amphiteater ini akan diturunkan pada level ketinggian yang berbeda dengan ketinggian massa utama supaya tidak terlihat menonjol dan tidak mengganggu

Gambar 5 . 8 Zonasi Area Movie Square Sumber : pemikiran penulis

lib.archiplan.ugm.ac.id

(9)

Gambar 5 . 9 Bentukan Massa Movie Square Sumber : pemikiran penulis

5.2.2.2. Tata Massa

Bentukan dasar massa mengkolaborasikan elemen berbentuk dasar seperti kotak, lingkaran, dan segitiga. Bentukan dasar seperti ini dapat mengoptimalkan potensi keruangan site dan memaksimalkan hubungan-hubungan dalam bangunan dengan menyederhanakan geometri bangunan.

Peletakan massa utama bangunan yang berbentuk kotak akan mengalami kesulitan dalam berpadu dengan amphiteater yang berbentuk dasar setengah lingkaran. Sehingga pengaturan massa secara kluster atau berkelompok memungkinkan adanya interaksi bentukan massa yang berbeda bentuk dan memudahkan penataan ruang lain yang berkaitan.

Dalam pembentukan geometri dasar bangunan Movie Square terdapat beberapa pertimbangan, antara lain :

1. Bentukan massa terhadap kondisi site 2. Orientasi bangunan dan vegetasi

3. Pengaruh terhadap lingkungan di dalam site 4. Pengaruh terhadap lingkungan di luar site

5.2.2.3. Tata Ruang Luar

Tata ruang luar mencakup area parkir, panggung outdoor, musholla, dan cafe pada rooftop. Elemen keruangan outdoor dimainkan dalam desain sebagai upaya untuk mendapatkan pengalaman ruang yang menarik dan cukup menghibur.

lib.archiplan.ugm.ac.id

(10)

Penataan tata ruang luar menekankan banyaknya open space dan open scape sebagai fasilitas penunjang bangunan. Penggunaan elemen pertamanan juga dapat mempertegas keberadaan ruang eksterior bagi pengunjung. Vegetasi juga menjadi guideline pengunjung untuk dapat menentukan dimana posisi meeting point, track line untuk pedestrian, dan sedikit peredam kebisingan dari arus lalu lintas.

Arus sirkulasi untuk pengunjung dibedakan menjadi arus pedestrian dan arus kendaraan, keduanya dipisah dengan mempertimbangkan unsur keamanan dan kenyamanan. Mulai dari entrance site hingga pintu masuk ke dalam bangunan, jalur pedestrian akan memutar mengelilingi area parkir kendaraan dan dibatasi dengan vegetasi kecil sebagai pengganti pagar. Penggunaan pagar bata maupun besi dirasa akan menciptakan kesan yang kurang nyaman, terbatas, dan tertutup bagi para pengunjung yang berjalan kaki.

Pintu entrance mempertahankan sistem dari bangunan lama, yaitu terdapat pada sisi selatan tapak dengan lebar sekitar 8 meter.

Sistem seperti ini memudahkan untuk kendaraan keluar masuk dari arus datang sebelah utara (menyebrang jalan) dan selatan, kemudian keluar melalui pintu keluar di sisi utara tapak. Pintu keluar dipisahkan dari pintu masuk dengan pertimbangan kendaraan untuk staff dan pemain juga akan melalui pintu tersebut apabila keluar dan langsung diarahkan ke utara, mengingat di bawah jembatan terdapat jalur putar untuk kendaraan.

5.2.2.4. Tata Ruang Dalam

Tujuan utama dari bangunan Movie Square adalah bioskop dengan tambahan fungsi ruang pertunjukan dalam bangunan yang sama. Dengan menggabungkan dua buah ruang studio akan membentuk satu ruang pertunjukan yang cukup besar. Penggabungan ini dapat diaplikasikan ketika dinding partisi berupa dinding yang fleksibel, dengan kata lain kebutuhan luasan ruang pun dapat dikendalikan sesuai kebutuhan.

Kursi penonton direncanakan akan menyesuaikan dengan kebutuhan fungsi ruangan. Ketika menjadi studio bioskop kapasitas

lib.archiplan.ugm.ac.id

(11)

kursi yang digunakan sekitar 200 buah, sedangkan ketika menjadi ruang pertunjukan akan menyesuaikan dengan kebutuhan luasan panggung sehingga jumlah kursi dapat dikurangi atau bahkan ditambahkan.

Dengan mempertimbangkan kenyamanan konsumen, jarak samping antar kursi dibuat sedikit lebih besar yaitu 60cm. Jarak sebesar ini sudah cukup besar untuk ukuran tempat duduk. Dan jarak depan antar kusi dibuat sebesar 1m dengan mempertimbangkan arus lalu lalang penonton ketika mencari tempat duduk dan keluar. Meskipun demikian kursi dapat dilipat ketika tidak digunakan, bahkan dapat disimpan di bawah ruangan jika memerlukan luasan yang cukup besar di depan panggung.

Jumlah kursi yang berderet dibatasi sekitar 15 deret dengan asumsi peletakan kursi dipisah setiap 4 deret. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan situasi gawat darurat maka penonton tidak harus mengantri panjang untuk lari ke pintu keluar. Jarak antar deret diatur sebesar 1,2m.

5.2.2.5. Struktur

Dengan pertimbangan besar ruangan studio yang akan difungsikan ganda dengan membutuhkan luasan besar tanpa adanya penyangga di tengah ruangan, struktur atap yang memungkinkan adalah struktur baja dengan bentang panjang (space truss) dan struktur dinding berbahan beton dengan pertimbangan keamanan kebakaran.

Struktur atap space truss memiliki kelebihan berupa ruang-ruang kosong untuk meletakkan beberapa elemen dan kebutuhan studio maupun panggung, baik itu lampu, speaker, maupun kabel-kabel dan lainnya. Struktur dinding berbahan beton memungkinkan bangunan untuk tahan terhadap bahaya kebakaran untuk waktu yang cukup lama, sehingga memberi waktu pengunjung untuk kabur ketika kebakaran mengancam.

5.2.2.6. Utilitas

A. Jaringan Listrik

lib.archiplan.ugm.ac.id

(12)

Pasokan listrik utama yang digunakan berasal dari listrik PLN melalui trafo yang diteruskan ke MDP dan SDP, kemudian dibagi ke ruang-ruang yang membutuhkan listrik. Untuk mengantisipasi matinya listrik akan ditambahkan genset sebagai cadangan listrik.

B. Jaringan Air Bersih dan Kotor

Arus air bersih dapat bersumber dari air tanah melalui sumur yang diteruskan ke dalam bak penyimpanan lalu dialirkan ke toilet dan tempat-tempat tertentu yang membutuhkan air bersih.

Arus air kotor dibagi menjadi 3, air kotor limbah sabun, air kotor tinja, dan air hujan. Air hujan akan diteruskan ke riol kota melalui saluran pipa dan melalui beberapa bak kontrol untuk mencegah tersumbat. Air kotor sabun ditangani dengan adanya bak kontrol dan bak minyak yang diteruskan ke sumur peresapan. Kemudian untuk air tinja akan dialirkan ke septictank.

C. Fire Protection

Sistem fire protection dapat ditempuh melalui cara preventif dan pencegahan. Larangan merokok pada ruangan yang menggunakan material mudah terbakar sangat diwajibkan, kemudian dilengkapi dengan fire alarm system, water sprinkle, fire detector, dan hydrant.

Mengingat ruang studio yang cukup besar dan material yang digunakan sangat mudah terbakar, maka nantinya ruang studio menggunakan bahan yang mudah dijebol pada sisi belakang layar.

Keuntungan sistem ini penonton yang terjebak mudah untuk kabur dari ancaman kebakaran dan penonton tidak perlu berdesak-desakan untuk keluar melalui pintu keluar.

5.2.2.7. Evakuasi

Sistem evakuasi diutamakan pada ruang studio dimana ruang tersebut merupakan ruang tertutup. Ketika terjadi kebakaran dan ancaman lainnya penonton diutamakan kabur melalui pintu keluar.

Diatas pintu keluar diberikan signage bertulisan keluar / exit supaya penonton tidak berhamburan dan memudahkan penonton untuk keluar.

lib.archiplan.ugm.ac.id

(13)

Ruangan studio juga dilengkapi dengan fire detector, water sprinkle, dan fire alarm sebagai upaya peringatan penonton dan segera meninggalkan ruangan. Untuk ruangan lain dikondisikan mendekati dengan spesifikasi ruang studio dan akses keluar dekat dengan pintu utama.

Arus keluar pengunjung akan diarahkan keluar dari bangunan secara cepat dan dekat, untuk ruang studio / auditorium akses keluar memiliki jalur langsung dengan area backstage yang berupa ruang terbuka. Kemudian di daerah parkir kendaraan memiliki area berkumpul ketika ada pengunjung rombongan yang terpisah dari kelompoknya. Area ini juga dapat digunakan ketika dalam keadaan normal sebagai titik pertemuan atau titik berkumpul, area ini juga diletakkan pada posisi yang tidak terancam bahaya arus kendaraan dan keadaan gawat darurat lainnya.

5.2.2.8. Fleksibilitas Ruang

Fleksibilitas ruang memiliki 3 sifat; versabilitas, konvertibilitas, dan ekspansibilitas. Dari sifat-sifat ini dapat diaplikasikan bentukannya dalam elemen keruangan pada ruang studio bioskop, baik elemen lantai, dinding, langit-langit, maupun elemen lainnya.

1. Dinding / Partisi

Ekspansibilitas yang dapat diartikan sebagai perluasan kapasitas maksimum untuk mengakomodasi penambahan kebutuhan ruang dalam waktu yang bersamaan. Dalam hal ini pengaplikasian unsur fleksibilitas dapat diterapkan pada teknologi dinding / partisi. Dinding yang diharuskan untuk memiliki material peredam akan memiliki ketebalan yang cukup besar dan masih bisa dipindahkan untuk perluasan ruang.

Pergeseran dinding pun juga dapat diaplikasikan dalam beberapa bentuk antara lain dilipat, dilepas, atau digeser ke salah satu sisi ruangan.

lib.archiplan.ugm.ac.id

(14)

Gambar 5 . 10 Aplikasi Fleksibilitas Dinding Partisi Sumber : pemikiran penulis

Sistem seperti ini sebenarnya memiliki kekurangan dimana nantinya ruangan akan difungsikan untuk studio bioskop dan ruang pertunjukan. Masing-masing fungsi ruang ini jelas berbeda kebutuhan akustiknya, dimana ketika skenario ruangan ini menjadi ruangan studio maka ruangan memerlukan peredam suara yang cukup banyak, namun ketika berubah menjadi ruang pertunjukan maka ruang ini memerlukan material yang dapat memantulkan suara dengan baik tanpa adanya peredam suara. Dari pertimbangan diatas maka salah satu solusinya adalah dengan membuat dinding samping juga dapat fleksibel dengan cara membalik permukaannya. Dengan kata lain dinding samping ruangan memiliki 2 permukaan, permukaan dengan peredam dan permukaan dengan pemantul akustik.

Gambar 5 . 11 Aplikasi Fleksibilitas Dinding Samping Sumber : pemikiran penulis

lib.archiplan.ugm.ac.id

(15)

Gambar 5 . 12 Aplikasi Fleksibilitas Panggung Sumber : pemikiran penulis

2. Lantai / panggung

Fleksibilitas pada lantai / panggung memiliki sifat konvertibilitas dimana pengaturan layoutnya disesuaikan dengan kebutuhan fungsi ruang. Panggung yang fleksibel ini dapat dinaikkan dan diturunkan sesuai kebutuhan. Teknologi yang dipakai pada lantai / panggung adalah panggung yang dapat dinaikkan dan diturunkan dengan lift hidrolik.

Penggunaan lift hidrolik mempertimbangkan besaran ruang lift yang akan dipakai dan kebutuhan ruang kontrol untuk panel-panel lift.

Panggung ini berupa panggung modular dengan ukuran panjang yang menyesuaikan besar studio bioskop. Nantinya panggung dapat dinaikkan dengan menyesuaikan luasan ruang yang dipakai.

Skenarionya antara lain ketika ruangan yang dipakai hanya cukup satu ruang studio, dengan kata lain dinding tidak digeser, maka hanya panggung pada ruang tersebut yang akan dinaikkan. Begitu juga ketika kebutuhan ruang pementasan akan memakai luasan 2 buah ruang studio, maka panggung studio yang sebelah kiri dan kanan diwajibkan untuk memiliki koneksi agar tidak terlihat berlubang di tengah.

3. Langit-langit

Posisi langit-langit menentukan sifat akustik dari sebuah ruangan, ketika berfungsi untuk konser pertunjukan akan menjadi baik apabila

lib.archiplan.ugm.ac.id

(16)

Gambar 5 . 13 Aplikasi Fleksibilitas Langit-Langit Sumber : pemikiran penulis

posisinya dapat memantulkan suara dengan baik dan tidak menimbulkan gema (echo). Sebaliknya, ketika sebuah ruangan dengan fungsi studio bioskop maka langit-langit berfungsi untuk meredam suara baik dari luar (atas) dan dari dalam agar tidak keluar. Biasanya terdapat sela diantara langit-langit dengan lantai atap untuk peletakan komponen-komponen lampu, listrik, dan sound system untuk bioskop.

Dengan penerapan diatas dapat disimpulkan, langit-langit akan berupa “moveable” dengan penyesuaian pada jenis ruangan yang ada.

Karena elemen dinding juga “moveable” maka posisi langit-langit memungkinkan untuk tidak menempel secara permanen terhadap dinding / partisi tetapi mampu untuk menahan suara dari ruang sebelah ketika posisi dinding / partisi berfungsi untuk membagi ruang studio.

4. Kursi penonton

Kapasitas kursi penonton merupakan faktor penting dalam menentukan luasan studio. Ketika kapasitas penonton melebihi kuota kursi maka dapat ditambahkan dengan jenis dan kursi yang sejenis.

Sistemnya dapat dikatakan sama dengan sistem panggung yang

Gambar 5 . 14 Aplikasi Fleksibilitas Kursi Penonton Sumber : pemikiran penulis

lib.archiplan.ugm.ac.id

(17)

“moveable”, dimana terdapat sejumlah kursi cadangan yang disimpan di bawah panggung kursi. Sebaliknya apabila panggung membutuhkan luasan yang cukup besar dan perlu “mengorbankan” beberapa kursi, maka kondisi kursi penonton dapat disimpan ke bawah untuk menambah luasan di depan panggung menggunakan sistem hidrolik.

Sistem ini memiliki kelebihan dengan menambah kuota kursi sebanyak yang diperlukan, dengan kekurangan luasan ruang yang terbatas membatasi jumlah kapasitas yang dapat ditambahkan.

lib.archiplan.ugm.ac.id

Gambar

Gambar 5 . 2 Diagram Kegiatan Cafe  Sumber : pemikiran penulis
Gambar 5 . 3 Diagram Kegiatan Studio Bioskop  Sumber : pemikiran penulis
Gambar 5 . 4 Bubble Diagram Skenario 1  Sumber : pemikiran penulis
Gambar 5 . 5 Bubble Diagram Skenario 2  Sumber : pemikiran penulis
+7

Referensi

Dokumen terkait

Perpustakaan perguruan tinggi seni sebagai media simpan karya seni adalah lembaga yang memiliki kegiatan mulia karena lewat penyimpanan karya seni akan terekam semua jejak langkah

Sedangkan dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh Program PUAP terhadap petani di daerah penelitian adalah sebagai berikut: (1) petani dapat memperoleh bantuan

Pemisahan satu komponen dari larutan homogen dilakukan dengan menambahkan zat lain yang tak dapat larut, pelarut, dan dalam pelarut ini zat yang diinginkan dari larutan, solute,

Pengurus Komisi Beasiswa mengucapkan terimakasih kepada seluruh jemaat/Donatur HKBP Kebayoran Baru yang telah bersama-sama mengumpulkan dana memperjuangkan bantuan dana

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang saya banggakan, Kita butuh ilmu pengetahuan dan teknologi yang membuat kita bisa melompat dan mendahului bangsa lain.. Kita

Sebagai Negara demokrasi, Opini publik dan media massa Australia memang memiliki pengaruh dalam keputusan yang diambil pemerintah Australia untuk membatalkan eksekusi

Sedangkan hasil tangkapan ikan make (Sardinella fimbriata) diperoleh pada periode bulan baru yang mempunyai nilai kecerahan yang rendah adalah lebih menguntungkan dibandingkan

khususnya yang berkaitan dengan penerapan pola asuh orang tua dalam perkembangan perilaku sosial di sekolah khususya tentang Hubungan Pola Asuh Orang Tua Terhadap