• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

8

Sebagai pertimbangan dan acuan perbandingan untuk landasan penelitian yang akan dilakukan, Sejumlah penelitian yang berkaitan telah dilakukan, antara lain oleh:

1. Penelitian tentang Studi Waktu

Metode studi waktu salah satu metode yang sudah banyak digunakan pada peneliti sebelumnya untuk mengetahui pengukuran kerja yang dimana mengatasi permasalahan tentang waktu pada proses produksi. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Noni Tri Rahmawati (2015). Penelitian tersebut memiliki tujuan untuk mengetahui pengukuran kerja pada divisi pompa minyak PT Bukaka Teknik Utama Tbk. Hasil data yang diperoleh dalam menggunakan waktu standar yang baik, produktivitas kerja meningkat dengan jumlah unit yang semula dihasilkan 2500 perbulan pada setiap produk, produk Roller Step dibagian pemotongan/cutting meningkat jumlah produknya sebesar 83 unit, dibagian finishing meningkat jumlah produknya sebesar 53 unit, dibagian fininshing meningkat sebesar 1.219 unit. Produk Roda Fork Lift dibagian pemotongan/cutting meningkat jumlah produknya sebesar 63, dan dibagian finishing meningkat sebesar 532 unit.

Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Noriah Yusoff, Ahmed Jaffar, Norliana Mohd Abbas dan Nor Hayati Saad (2012) dengan tema pengukuran kinerja untuk perbaikan proses. Penelitian ini dilakukan pada perusahaan manufaktur kursi mobil. Dengan menggunakan teknik

(2)

pengukuran kerja dan metode studi waktu sebagai upaya membangun waktu patokan dalam pembuatan kursi mobil. Dan hasilnya diketahui 13,42 menit waktu siklus untuk efisiensi produksi 100% dan 14,09 menit waktu siklus untuk efisiensi produksi 95% yang dapat digunakan sebagai waktu standar pembuatan.

Dan yang ke tiga penelitian terdahulu dari Dyah Ika Rinawati, Diana Puspitasari, Fatrin Muljadi (2012) yang dilakukan pada Batik Saud Effendy yang merupakan salah satu IKM batik di kampong batik laweyan, Surakarta.

Pengolahan dan analisa data menggunakan studi waktu kerja. Yang dimana hasil penelitian dapat dihasilkan waktu baku pengerjaan 1 lot batik cap di ikm batik saud effendi adalah 36 jam 30 menit 36 detik. Setara dengan 4,56 hari kerja. Jumlah tenaga kerja usulan untuk masing-masing proses produksi di ikm batik saud effendi yaitu untuk proses pemotongan kain mori 1 orang, pengecapan 5 orang,pewarnaan 1 orang, pengeringan dan pencucian 1 orang, penglodoran, pengeringan dan packing masing-masing 1 orang 2. Penelitian tentang Studi waktu dan work sampling

Beberapa peneliti dengan menggunakan metode studi dan metode work sampling, pada penelitian yang selanjutnya dilakukan oleh Subhan, M.

Thaib Hasan, Suhendra (2015) yakni peningkatan produktivitas kerja pada industri batu bata. Penelitian ini menggunakan teknik analisis studi waktu dan work sampling dengan hasil yang didapat adalah waktu standar operator dalam menyelesaikan pekerjaanya sebesar 2,082 menit dari hasil pengolahan data yang telah dilakukan diperoleh bahwa, jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan pada bagian percetakan batu bata sebesar 7 orang

(3)

sedangkan jumlah tenaga kerja yang tersedia sebanyak 3 orang dan presentase produktivitas rata-rata seluruh operator adalah sebesar 95.04 %.

3. Penelitian tentang Metode Job Shop dan Gantt Chart

Selain menggunakan studi waktu beberapa peneliti juga menggunakan metode lain untuk menyelesaikan permasalahannya yakni menggunakan metode job shop dan gantt chart, yang pada penelitian tersebut dilakukan oleh Pardeep Kumar dan Mukesh Kumar (2015) dengan tema penjadwalan produksi dengan pertimbangan waktu pengangkutan dan pengolahan waktu kriteria terpendek. Penelitian ini menggunakan metode Job Shop dan Gantt Chart yang dimana hasilnya pada studi kasus pertama dengan ukuran 4x6 memiliki makespan 329 dan dengan usulan total makespan 340dan pada studi kasus kedua dengan ukuran 5x5 memiliki makespan 34 dengan usulan total makespan 47.

Persamaan dari para peneliti sebelumnya yaitu pada penelitiannya memiliki tujuan yang sama guna meningkatkan efisiensi dalam proses produksi. Perbedaan dari ke lima pada peneliti sebelumnya yakni pada objek yang dipilih, hasil yang dicapai dan alat analisis yang digunakan seperti pada peneliti pertama, kedua dan ketiga hanya menggunakan studi waktu, kemudian penelitian keempat menggunakan studi waktu dan metode gantt dan yang kelima menggunakan metode job shop dan gantt chart. Sedangkan penelitian yang akan ditulis saat ini menggunakan alat analisis studi waktu dan metode gantt.

(4)

B. Teori dan Kajian Pustaka 1. Pengukuran Kerja

a. Pengertian Pengukuran Kerja

Pengukuran kerja yang dilakukan secara berkelanjutan memberikan umpan balik, yang merupakan hal yang penting dalam upaya perbaikan secara terus menerus. Salah satu kriteria pengukuran kerja adalah pengukuran waktu (time study). Pengukuran kerja yang dimaksudkan adalah pengukuran waktu standar atau waktu normal. Menurut (Heizer &

Render 2005) Pengertian pengukuran kerja adalah suatu aktivitas untuk menentukan waktu yang dibutuhkan oleh seseorang operator dalam melaksanakan kegiatan kerja dalam kondisi dan tempo kerja yang normal.

Proses pengukuran waktu dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yaitu pengukuran waktu secara langsung dan pengukuran waktu secara tidak langsung. Disebut secara langsung karena pengamat berada di tempat di mana objek sedang diamati. Pengamat secara langsung melakukan pengukuran atas waktu kerja yang dibutuhkan oleh seorang operator (obyek pengamatan) dalam menyelesaikan pekerjaannya. Pengukuran secara langsung terdiri dari dua cara, yaitu pengukuran dengan menggunakan stop watch dan sampling kerja.

Dapat disimpulkan bahwa dengan adanya pengukuran kerja berguna untuk menentukan waktu yang dibutuhkan dalam melaksanakan masing-masing pekerjaan secara berurutan, selain itu pengukuran kerja

(5)

sendiri mengamati secara langsung waktu kerja yang dibutuhkan oleh seorang operator apakah sudah sesuai dengan waktu yang diberikan oleh perusahan atau masih mengalami ketidaksesuaian.

b. Metode pengukuran kerja 1. Pengalaman Historis

Standar kerja dapat diestimasi berdasarkan pada pengalaman historis, yang mana berapa banyak jam kerja yang diperlukan untuk mengerjakan suatu tugas pada waktu yang terakhir dikerjakan. Standar historis memiliki keuntungan menjadi mudah secara relatif dan murah untuk memperolehnya.

2. Studi Waktu

Melibatkan sampel kinerja pekerja dan menggunakannya untuk menetapkan suatu standar. Sampel waktu penampilan pekerjaan dengan menggunakan basis standar waktu. Studi stopwatch adalah yang sangat banyak menggunakan metode standar tenaga kerja.

3. Standar Waktu yang Telah di Tetapkan Sebelumya

Sebagai tambahan pada pengalaman historis dan studi waktu, dapat menetapkan standar waktu yang telah ditetapkan sebelumnya (predetermined time standarts) membagi kerja manual kedalam elemen dasar yang kecil yang telah menetapkan waktu (didasarkan pada ukuran sampel perkerja yang sangat besar).

(6)

4. Pengambilan Sampel Kerja

Pengambilan sampel kerja (work sampling) memperkirakan persentase waktu yang dihabiskan oleh pekerja atas tugas yang bervariasi. Observasi acak digunakan untuk mencatat aktivitas yang dikerjakan oleh pekerja. Hasilya terutama digunakan untuk menentukan bagaimana karyawan mengalokasikan waktu mereka diantara bermacam-macam aktivitas.

c. Studi Waktu

Pengukuran waktu kerja dengan Jam Henti (Stop Watch Time Study) diperkenalkan pertama kali oleh Frederick W. Taylor sekitar abad 19 yang lalu. Aktivitas pengukuran waktu kerja dengan jam henti umumnya diaplikasikan pada industri manufakturing yang memiliki karateristik kerja yang berulang-ulang, terspesifikasi jelas dan menghasilkan output yang relatif sama (Heizer & Render 2005).

Meskipun demikian aktivitas ini bisa pula diaplikasikan untuk pekerjaan- pekerjaan non manufakturing seperti yang bisa dijumpai dalam aktivitas kantor gudang atau jasa pelayanan lainnya asalkan kriteria-kriteria dibawah ini bisa terpenuhi menurut (Heizer & Render 2015), yaitu : 1) Pekerjaan tersebut harus dilaksanakan secara repetitive dan uniform 2) Isi / macam pekerjaan itu harus homogen

3) Hasil kerja (Output) harus dapat dihitungkan secara nyata (kuantitatif) baik secara keseluruhan ataupun untuk tiap-tiap elemen kerja yang langsung

(7)

4) Pekerjaan tersebut cukup banyak dilaksnakan dan teratur sifatnya sehingga akan memadai untuk diukur dan dihitung waktu bakunya

Menurut (Zulian Yamit 2002) Dalam praktek, waktu dasar tidak ditetapkan hanya brdasarkan satu kali observasi, lazimnya diambil dari beberapa siklus, kemudian dihitung waktu dasar rata-rata untuk setiap elemen unsur pekerjaan. Sebagai pedoman umum dalam jumlah siklus pengamatan menyarankan sekurang-kurangnya 50 kali untuk pekerjaan siklus pendek dan 20-30 kali untuk pekerjaan siklus panjang. Semakin besar siklus dan sampel, semakin akurat waktu dasar yang diperkirakan.

Berikut Langkah-langkah dalam menentukan studi waktu menurut (Heizer & Render 2015) :

1. Mendefinisikan tugas untuk dipelajari.

2. Membagi tugas ke dalam elemen secara persis tepat.

3. Membagi berapa banyak kali untuk mengukur tugas.

4. Waktu dan mencatat waktu mendasar dan memeringkatkan kinerja.

5. Menghitung rata-rata waktu yang diobservasi (actual).

Rata-rata waktu yang diobservasi =

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑘𝑖𝑛𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑚𝑎𝑠𝑖𝑛𝑔−𝑚𝑎𝑠𝑖𝑛𝑔 𝑒𝑙𝑒𝑚𝑒𝑛

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑜𝑏𝑠𝑒𝑟𝑣𝑎𝑠𝑖

6. Menentukan pemeringkatan kinerja (kecepatan kerja) dan kemudian menghitung waktu normal untuk masing-masing elemen.

Waktu Normal = Rata-rata waktu diobservasi x Faktor pemeringkatan kinerja

7. Menambahkan waktu normal untuk tiap elemen untuk mengembangkan total waktu normal bagi tugas.

(8)

8. Menghitung waktu standar.

Waktu standar = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑛𝑜𝑟𝑚𝑎𝑙 1−𝐹𝑎𝑘𝑡𝑜𝑟 𝑐𝑎𝑑𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛

Berdasarkan pemasalahan yang diangkat tentang waktu maka dibutuhkan beberpa teori yang mendukung pada penelitian ini. Pada teori yang sebelumnnya menjelaskan tentang pengukuran kerja yang dimana menggunakan alat analisis studi waktu kerja. Kemudian selanjutnya teori mengenai penjadwalan yang berguna sebagai rujukan peneliti untuk langkah berikutnya dalam menentukan penjadwalan tenaga kerja meggunakan diagram gantt.

2. Penjadwalan

a. Pengertian Penjadwalan

Untuk lebih jelas dalam memahami teori penjadwalan, sebenarnya ada banyak literatur yang menjelaskan tentang definisi penjadwalan dari para ahli. Namun penulis hanya mengambil beberapa literatur yang ada untuk dijadikan sebagai bahan referensi landasan teorinya, berikut merupakan pembahasan dari definisi yang menjelaskan mengenai penjadwalan.

Saat proses produksi terjadi pada suatu perusahaan pasti menerapkan sebuah penjadwalan yang baik agar dapat memenuhi proses produksi dengan lancar dan sesuai target jumlah yang akan di produksi.

Unsur-unsur vital didalam model-model penjadwalan adalah sumber- sumber dan tugas-tugas. Sumber-sumber biasanya dikenal dengan mesin- mesin sedangkan tugas-tugas dikenal dengan job atau pekerjaan (Heizer

& Render 2010).

(9)

Menurut (Assauri 2008) memberikan definisi penjadwalan atau scheduling produksi merupakan proses penentuan pekerjaan yang akan dilakukan. Penjadwalan adalah suatu tahapan dari pengawasan produksi yang menetapkan pekerjaan dalam urut-urutan yang sesuai dengan prioritasnya dan kemudian dilengkapi pelaksanaan rencana tersebut pada waktu yang tepat dengan urutan yang benar, sehingga berhubungan dengan kapan suatu pekerjaan akan dilaksanakan pada suatu bagian produksi.

Dari urian diatas yang didapat dari para ahli mengenai definisi penjadwalan, dapat disimpulkan bahwa Penjadwalan adalah suatu kegiatan perancangan berupa pengalokasian sumber daya baik mesin maupun tenaga kerja untuk menjalankan sekumpulan tugas sesuai prosesnya dalam jangka waktu tertentu.

b. Penentuan Jadwal Maju Mundur

Penjadwalan sangat erat kaitannya dengan waktu operasi.

Penjadwalan dimulai dengan perencanaan kapasitas yang meliputi fasilitas dan penguasaan terhadap mesin, kemudian jadwal induk membagi rencana kasar dan membuat jadwal keseluruhan untuk output.

Penjadwalan jangka pendek menerjemahkan keputusan kapasitas, rencana jangka menengah ke dalam urutan pekerjaan, penugasan khusus terhadap karyawan, bahan baku dan fasilitas.

Ada 2 penentuan jadwal yang berkitan menurut Heizer & Render (2015) diantaranya :

(10)

1. Penjadwalan kedepan

Penjadwalan ke depan memulai skedul atau jadwal segera setelah persyaratan diketahui. Banyak digunakan pada rumah sakit, klinik, restoran untuk makan malam, perusahaan permesinan.

Pekerjaan dilaksanakan atas pesanan konsumen dan sesegera mungkin dilakukan pengiriman. Dirancang untuk menghasilkan jadwal yang bisa diselesaikan meski tidak berarti memenuhi tanggal jatuh temponya.

2. Penjadwalan Kebelakang

Penjadwalan ke belakang dimulai dengan tanggal jatuh tempo, menjadwal operasi finsal dahulu. Tahap-tahap dalam pekerjaan kemudian dijadwal pada suatu waktu, dibalik. Dengan mengurangi lead time untuk tiap item akan didapatkan waktu awal. Banyak

digunakan perusahaan manufaktur dan juga jasa seperti katering. Hal- hal tehnis seperti kerusakan mesin, masalah mutu seringkali membuat penjadwalan semakin kompleks, sehingga perlu pemikiran khusus.

c. Kriteria Penentuan Jadwal

Teknik penentuan jadwal yang tepat bergantung pada pada volume pesanan, ciri operasi, keseluruhan kompleksitas pekerjaan, serta perhatian pada tujuan dari penjadwalan itu sendiri. Pentingnya penempatan 4 kriteria penentuan jadwal produksi adalah sebagai berikut menurut (Heizer dan Render, 2010):

(11)

a. Meminimalkan waktu penyelesaian. Hal ini dihitung dengan menentukan rata-rata waktu penyelesaian.

b. Memaksimalkan pemanfaatan. Hal ini dihitung dengan menentukan persentase penggunaan suatu fasilitas atau sumber daya di lantai produksi.

c. Meminimalkan persediaan barang dalam proses atau WIP (work in process). Di evaluasi dengan menentukan rata-rata jumlah pengerjaan

dalam suatu sistem. Hubungan antara jumlah penegerjaan dalam sistem dengan persediaan dalam proses akan tinggi. Oleh karena itu, semakin sedikit jumlah pengerjaan yang terdapat dalam suatu sistem, persediaan akan semakin kecil.

d. Meminimalkan waktu tunggu pelanggan. Hal ini dinilai dengan menghitung rata-rata jumlah pesanan yang terlambat dalam hari atau jam.

d. Metode Penjadwalan

Pembuatan jadwal secara keseluruhan atau dalam jumlah besar sangat sulit untuk dilakukan karena menyangkut aktivitas perusahaan secara keseluruhan. Namun demikian seperti dinyatakan terdahulu bahwa salah satu kunci keberhasilan meningkatkan efisiensi dalam operasi adalah kemampuan untuk menyusun jadwal secara efektif. Beberapa metode yang dapat digunakan untuk menyusun jadwal dapat diuraikan berikut dengan segala bentuk kelebihan dan kekurangannya menurut (Zulian Yamit, 2002).

(12)

1. Metode Jalur Kritis (critical path method)

Metode jalur kritis ini lebih cocok untuk penjadwalan pekerjaan proyek atau pekerjaan yang sekali jalan. Proyek yang dimaksudkan adalah yang memiliki kegiatan awal dan kegiatan akhir. Metode ini akan menghadapi kesulitan apabila diterapkan untuk mengatur jadwal produksi khususnya untuk produksi massa atau menggunakan sistem kelompok.

2. Pendekatan cabang dan batas ( branch and bound approach)

Metode pendekatan cabang dan batas banyak digunakan untuk membuat jadwal produksi kelompok. Alternatif jadwal yang mungkin dilakukan disajikan dalam bentuk pohon dengan cabang-cabangnya.

Untuk mendapatkan jadwal yang fisibel harus dilakukan pemeriksaan setiap cabang dan akhirny metode ini kurang praktis

3. Lini Keseimbangan ( line of balance)

Metode lini keseimbangan hampir mirip dengan metode jalur kritis, bahkan secara historis lini keseimbangan dikembangkan lebih dahulu sebelum metode jalur kritis, Metode ini efektif digunakan untuk pembuatan jadwal proyek atau jadwal produksi untuk unit tunggal yang menggunakan sistem rakitan, seperti dalam pembuatan kursi jok dalam contoh terdahulu.

4. Metode perencanaan kebutuhan bahan (material requirement planning

= MRP)

(13)

Metode MRP dapat dikatakan metodologi baru dalam pengendalian produksi atau operasi.

5. Metode tepat waktu ( just in time = JIT)

Metode JIT merupakan sistem produksi yang dikembangkan oleh Jepang dan berhasil secara meyakinkan terutama untuk pekerjaan produksi massa dan berulang dengan pengendalian yang lebih ketat.

Pabrik mobil Toyota Jepang sangat berhasil dalam merepkan metode JIT

6. Metode teknologi yang dioptimalkan ( optimized production technology = OPT)

Metode OPT merupakan metode yang relative baru dan mempunyai kesamaan dengan metode JIT. Kalau dalam JIT lebih banyak mengandalkan sistem manual, maka metode OPT didukung oleh perangkat lunak computer

7. Metode Gantt Chart

Metode menggunakan diagram gantt ini merupakan metode yang paling mudah dipahami oleh pembaca. Dalam metode ini menentukan penjadwalan hanya jangka pendek.

e. Gantt Chart

Gantt Chart merupakan alat bantu visual yang sangat berguna dalam pembebanan penjadwalan. Nama diagram ini berasal dari Henry Gantt yang membuat diagram ini pada akhir tahun 1800an. Diagram ini menunjukkan waktu pembebanan dan waktu menganggur dari beberapa departemen. Diagram ini menampilkan beban kerja relatif di dalam

(14)

sistem sehingga para manajer bisa tahu penyesuain seperti apa yang tepat untuk dilakukan dalam lantai produksi. Menurut Heizer & Render (2010), Diagram perencanaan yang digunakan untuk menjadwalkan sumber daya dan mengalokasikan waktu. Ketika digunakan dalam pembebanan Diagram Gantt menujukkan pembebanan dan waktu luang pada beberapa departemen, mesin atau fasilitas.

Diagram gantt menujukkan beban kerja dan sistem sedemikian rupa sehingga manajer mengetahui penyesuaian apa yang sesuai. Salah satu batasan utama diagram ini adalah tidak bisa diandalkan untuk variabilitas produksi seperti kerusakan yang tidak diharapkan atau kesalahan manusia yang mensyaratkan pekerjaan itu harus dilakukan ulang. Gantt Chart harus diperbaharui secara teratur untuk menjadwalkan perkerjaan yang baru dan merevisi perkiraan waktu (Heizer dan Render, 2015).

C. Kerangka Pikir

Gambar 2.1 Kerangka Pikir

Sumber : Heizer dan Render (2015), diolah

Kerangka pikir yang diusulkan oleh peneliti dapat memudahkan penelitian agar terarah pada topik dan metodenya. Tahap pertama dari kerangka pikir tersebut yakni pengukuran kerja dengan menggunakan alat

Diagram Gantt - Waktu Kerja

- Pembebanan Kerja Studi Waktu

- Waktu rata-rata - Waktu normal - Waktu Standar

- Waktu standar

(15)

analisis studi waktu sehingga terjadinya keterlambatan tenaga kerja dalam proses produksi yang akan dipecahkan masalah tersebut menggunakan alat analisis tersebut. Didalam buku (Heizer dan Render 2015) bahwa langkah untuk menentukan studi waktu ada 3 yang harus ditentukan yang pertama dilakukan adalah menentukan waktu rata-rata dengan jumlah waktu yang diterima untuk kinerja masing – masing elemen dibagi dengan jumlah observasi sehingga dapat diketahui waktu rata-rata nya, kemudian menghitung waktu normal dengan cara hasil waktu rata-rata dikali faktir pemeringkatan kinerja, dan yang terakhir menghitung waktu standar diperoleh dari hasil perhitungan waktu normal dibagi faktor cadangan.

Setelah waktu standar diketahui, maka hasil dari setiap tenaga kerja dapat diketahui outputnya sebagai acuan waktu untuk berproduksi.

Kemudian hasil yang nantinya akan didapat dilampirkan untuk menentukan penjadwalan dengan metode gantt chart sebagai alat peraga visual untuk menggambarkan sebagai hasil yang didapat dari alat analisis studi waktu sebagai penjadwalan dengan menentukan waktu kerja dan pembebanan kerja yang akan direncanakan kedepannya.

Gambar

Diagram gantt menujukkan beban kerja dan sistem sedemikian rupa  sehingga  manajer  mengetahui  penyesuaian  apa  yang  sesuai

Referensi

Dokumen terkait

Lebar jalur lalulintas normal adalah 3,50 m kecuali jalan penghubung dan IIC yang cukup menggunakan lebar jalur lalulintas sebesar 3,00 m dan jalan-jalan raya utama

Alhamdulillahirobbil’alamin, puji syukur kepada Allah yang telah memberi perlindungan selama kuliah di Universitas Sebelas Maret, serta memberikan kemudahan dan kelancaran

Berdasarkan analisa mengenai Implementasi Program Pendistribusian Beras Untuk Keluarga Miskin (Raskin) di kecamatan Minggir bahwa proses pelaksanaan sesuai mekanisme

† Manajer pembelian dan produksi bersama dengan akuntan manajemen menggunakan informasi yang didapat dari langkah 3 sampai dengan langkah menggunakan informasi yang didapat

Dengan asumsi teknik yang sama, jaringan, dan faktor yang berpengaruh lainnya, respon jaringan pada seluruh jenis benang jahit relatif sama pada hari ke lima hingga hari ke

Produk pengembangan ini memiliki beberapa kelebihan, yaitu dalam LKS selain berisikan materi yang dilengkapi dengan kegiatan pembelajaran yang menggunakan suatu

Dengan demikian penggunaan anti nyamuk bakar bukan merupakan faktor risiko terjadinya ISPA pada balita di kawasan industri wilayah Puskesmas Kebomas Kabupaten

Sirup buah talok dapat dijadikan peluang usaha yang menjanjikan karena bahan baku yang digunakan mudah diperoleh dan murah, sirup buah talok tidak mengandung pengawet