BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Berubahnya kurikulum 2006 menjadi kurikulum 2013, menuntut guru- guru mata pelajaran produktif menggunakan asesmen otentik untuk mengukur kompetensi siswanya. SMK Negeri merupakan sekolah kejuruan, dimana 70%
mata pelajarannya adalah mata pelajaran produktif. Sehingga guru-guru SMK diwajibkan untuk menilai kinerja siswanya dengan asesmen otentik sesuai dengan cirri dari kurikulum 2013.
Mengingat sangat banyaknya mata pelajaran produktif, maka guru harus trampil membuat alat evaluasi untuk mata pelajaran produktif tersebut.
Penyusunan asesmen otentik dan rubrik penilaian antara masing-masing mata pelajaran keterampilan tentunya berbeda-beda. Untuk itu para guru perlu memperoleh bekal dan kecakapan dalam membuat alat evaluasi terutama asesmen otentik dan rubrik penilaian.
Untuk dapat meningkatkan ketrampilan guru dalam menyusun alat evaluasi, perlu latihan dan guru harus memiliki sumber informasi dalam menyusun asesmen otentik dan rubriknya. Sering siswa kurang tertantang untuk mengerjakan tugas yang menuntut hasil karya nyata, hal ini disebabkan karena kurangnya keterampilan yang dimiliki guru dalam menyusun asesmen otentik dan rubrik penilaian dalam mata pelajaran produktif untuk dapat menilai hasil karya siswa.
Khalayak sasaran yang strategis untuk masalah ini adalah guru SMK N di
Kabupaten Buleleng yang berjumlah 30 orang guru. Dipilihnya guru pengampu
mata pelajaran produktif SMK Negeri, karena guru-guru ini harus dapat
mengembangkan kreativitasnya untuk menyusun alat evaluasi yang sesuai dan
nantinya menjadi contoh untuk mahasiswa PPL dalam membuat alat evaluasi di
bidang mata pelajaran produktif.
Pengabdian masyarakat dalam bidang pelatihan penyusunan asesmen otentik belum pernah dilakukan, sehingga guru-guru SMK untuk menilai suatu produk atau hasil karya siswa masih secara global.
Berdasarkan analisis situasi di atas, dipandang perlu untuk melatih keterampilan dan kecakapan guru SMK Negeri di Kabupaten Buleleng dalam menyusun alat evaluasi yang berbentuk asesmen kinerja. Oleh karena itu kegiatan dalam bentuk Pengabdian Masyarakat ini sangat relevan untuk memecahkan permasalahan yang ada di SMK Negeri dalam hal menyusun asesmen otentik dan rubrik penilaian.
1.2 Perumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan uraian analisis situasi, dapat dikemukanan bahwa guru-guru SMK Negeri yang mengajar mata pelajaran produktif masih memiliki kekurangan dalam hal menyusun asesmen otentik untuk menilai hasil karya siswa. Untuk itu dipandang perlu memberikan informasi yang sesuai dalam menyusun asesmen otentik. Oleh sebab itu untuk dapat memiliki sejumlah ketrampilan dalam membuat asesmen otentik, maka diperlukan sejumlah pelatihan ketrampilan yaitu:
(a) menyusun asesmen otentik, (b) menyusun rubrik penilaian.
Permasalahan ini harus segera ditangani secara bijak dan komprehensif melalui strategi dan program yang terpadu agar sumber daya manusia (guru dan siswa) dan sumber daya selebihnya yang ada SMK dapat meningkat.
Berdasarkan identifikasi masalah tersebut dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
a. Bagaimankah pelaksanaan pelatihan penyusunan asesmen otentik dalam kurikulum 2013 dan rubrik penilaian untuk mata pelajaran produktif di SMK Negeri Kabupaten Buleleng.
b. Bagaimana tanggapan guru-guru SMK Negeri di Kabupaten Buleleng
terhadap pelatihan penyusunan asesmen otentik untuk mata pelajaran
produktif?
1.3 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang dikemukakan di depan, maka tujuan yang inggin dicapai dalam kegiatan pengabdian ini adalah :
a. Untuk mengetahui teknik pelatihan penyusunan asesmen otentik dalam kurikulum 2013 pada mata pelajaran produktif.
b. Untuk mengetahui tanggapan guru-guru tehadap pelatihan penyusunan asesmen otentik dalam kurikulum 2013 pada mata pelajaran produktif.
1.4 Manfaat Penelitian
Jika tujuan di atas dapat tercapai diharapkan dapat bermanfaat pada : a. Lembaga Universitas Pendidikan Ganesha yaitu merupakan kegiatan
pengabdian kepada masyarakat sebagai salah satu Tri Darma Perguruan Tinggi
b. Bagi Dosen, melalui kegiatan ini dapat mengembangkan wawasan kemasyarakatan kalangan dosen dan mahasiswa, sehingga nantinya terjalin komunikasi yang efektif dan produktif antara perguruan tinggi dengan masyarakat, bagi peningkatan peran serta kalangan kampus dalam pemberdayaan masyarakat luas.
c. Guru SMK Negeri di Kabupaten Buleleng, hasil kegiatan pelatihan ini
diharapkan dapat meningkatkan wawasan pengetahuan dan ketrampilan
dalam menyusun asesmen kinerja dan rubrik penilaian yang benar dan
tepat. Melalui kegiatan pengabdian ini, guru-guru SMK dapat menjadi
contoh dalam menyusun asesmen otentik untuk kepentingan penilaian
produk siswa.
BAB II
METODE PELAKSANAAN
2.1 Kerangka Pemecahaan Masalah
Gambar 2.1 Kerangka Pemecahan Masalah
Kondisi riil yang dijumpai di SMK Negeri Kabupaten Buleleng pada saat
penelitian adalah guru pamong kurang cakap dalam memberikan penjelasan
terkait dengan pemberian nilai untuk hasil produk siswa dalam pelajaran praktik
atau keterampilan. Hal ini mungkin disebabkan kurangnya pemahaman guru
tentang alat evaluasi yang sesuai untuk penilaian dalam bidang produktif. Sejalan
dengan hal tersebut, hasil penelitian tentang analisis kebutuhan asesmen otentik
dalam kurikulum 2013, menunjukkan bahwa sekolah jenjang pendidikan
menengah atas sangat memerlukan bimbingan dan pelatihan tentang asesmen
otentik terkait dengan pelaksanaan kurikulum 2013. Berangkat dari kondisi riil
dan hasil penelitian yang sudah dilakukan, maka dipandang perlu untuk
melakukan pelatihan penyusunan asesmen otentik di SMK Negeri di Kabupaten
Buleleng. Oleh karena itu sudah seharusnya perguruan tinggi melalui penerapan Dharma ke 3 yaitu Pengabdian Pada Masyarakat memberikan kontribusi untuk memecahkan persoalan tersebut. Realisasi pemecahan masalah terhadap kerangka pemecahan masalah dilakukan melalui pemberian pelatihan penyusunan asesmen otentik sesuai dengan keahlian produktifnya. Dengan harapan guru dapat trampil dan siswa memiliki tolak ukur dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.
Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan selama 6 bulan yang terbagi dalam tiga tahap yaitu: (1) tahap perencanaan, (2) tahap pelaksanaan, (3) tahap evaluasi.
Tahap perencanaan telah ditetapkan hal-hal sebagai berikut: tempat/lokasi kegiatan dipilih di SMK N 1, 2, 3 Singaraja, SMK N 1 Sukasada dan SMK N 1 Seririt di Kabupaten Buleleng. Jenis kegiatan berupa pelatihan penyusunan asesmen otentik untuk mata pelajaran produktif. Tahap pelaksanaan berupa penyajian materi secara teori selama 1 kali pertemuan dan dilanjutkan dengan 1 kali pelatihan penyusunan asesmen otentik, serta tahap terakhir adalah evaluasi akhir dan pelaporan.
2.2 Metode Pemecahaan Masalah
Kegiatan pengabdian pada masyarakat (P2M) menggunakan metode dalam bentuk pelatihan penyusunan tes kinerja melalui ceramah, diskusi, praktek penyusunan asesmen otentik dan tanya jawab. Kegiatan ini direncanakan selama 6 bulan. Adapun tahapan-tahapan dalam pelaksanaan kegiatannya :
1. Ceramah digunakan untuk menyampaikan pengetahuan secara umum tentang asesmen otentik dalam kurikulum 2013 dan manfaat yang didapat dengan menggunakan asesmen otentik untuk menilai suatu produk.
2. Diskusi digunakan untuk memberikan kesempatan kepada guru-guru untuk saling bertukar pendapat, guna menambah pengetahuannya tentang asesmen otentik.
3. Tanya jawab digunakan untuk melengkapi hal-hal yang belum terakomodasi
oleh kedua metode di atas.
4. Tugas latihan penyusunan asesmen otentik untuk mengetahui kemampuan guru dalam menyusun asesmen otentik pada masing-masing mata pelajaran produktif yang diampu.
5. Evaluasi hasil akhir.
2.3 Khalayak Sasaran
Pelatihan ini melibatkan dosen Undiksha yang ahli dalam bidang evaluasi.
Bekerja sama dengan SMK Negeri di Kabupaten Buleleng yang berjumlah 31 orang guru produktif sebagai subyek sasaran. Pengabdian ini dilakukan dalam upaya mengadakan hubungan yang erat melalui penerapan disiplin ilmu khususnya dibidang mata pelajaran produktif. Guru memperoleh pengetahuan dan keterampilan tentang teknik penyusunan asesmen otentik dalam kurikulum 2013 beserta rubrik penilaian yang lebih berkualitas dan dapat digunakan dikalangan sekolah SMK N di Kabupaten Buleleng.
2.4 Evaluasi dan Kriteria Keberhasilan
Tingkat keberhasilan pelatihan ini dilakukan melalui penilaian hasil produk (asesmen otentik) guru, yang dilakukan oleh instruktur dengan mengacu pada indikator yang tercantun dalam rubrik yang telah disiapkan. Adapun model rubrik yang digunakan sebagai berikut:
Tabel 2.4.1 Check List Hasil Produk (Asesmen Otentik)
No Aspek Kemampuan Skala Nilai
5 4 3 2 1
1 Menjabarkan Indikator sesuai dengan SK dan KD
2 Menjabarkan Kisi-kisi dan nomor butir soal
3 Menyusun Asesmen otentik sesuai dengan indikator
4 Menentukan bobot soal 5 Menyusun Rubrik Penilaian
6 Menentukan Skor tertinggi dan skor terendah
7 Menggunakan bahasa yang baku
5=Sangat baik, 4=baik, 3=cukup,
2=kurang, dan 1=sangat kurang
Selanjutnya hasil akhir penilaian kinerja dirata-ratakan dan dikonversi menggunakan pedoman konversi sebagai berikut:
Tabel 2.4.2 Pedoman Hasil Evaluasi
No Rentangan Nilai Katagori
1 85 – 100 5 Sangat baik
2 70 – 84 4 Baik
3 55 – 69 3 Cukup
4 35 – 54 2 Kurang
5 0 – 34 1 Sangat Kurang
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Esensi Asesmen dalam Pembelajaran
Kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kemampuan satuan pendidikandalam mengelola proses pembelajaran. Asesmen (penilaian) merupakan bagian yang penting dalam pembelajaran. Dengan melakukan asesmen, pendidiksebagai pengelola kegiatan pembelajaran dapat mengetahui kemampuan yang dimiliki peserta didik, ketepatan metode mengajar yang digunakan, dan keberhasilan peserta didik dalam meraih kompetensi yang telah ditetapkan. Berdasarkan hasil asesmen, pendidik dapat mengambil keputusan secara tepat untuk menentukan langkah yang harus dilakukan selanjutnya. Hasil penilaian juga dapat memberikan motivasi kepada peserta didik untuk berprestasi lebih baik.Untuk mendapatkan pemahaman komprehentif mengenai arti asesmen, Salvia dan Ysseldike (1994) menjelaskan bahwa asesmen adalah suatu proses mengumpulkan data dengan tujuan agar dapat dilakukan keputusan mengenai suatu objek. Sementara itu, Nitko (1996) mengatakan bahwa asesmen merupakan suatu proses mendapatkan data yang digunakan untuk pengambilan keputusan mengenai pebelajar, program pendidikan, dan kebijakan pendidikan. Jika dikatakan ’mengases kompetensi pebelajar’, maka itu berarti pengumpulan informasi untuk dapat ditentukan sejauhmana seorang pebelajar telah mencapai suatu target belajar.
Aasesmen diartikan oleh Stiggins (1994) sebagai penilaian, proses, kemajuan dan hasil belajar siswa (outcomes). Begitu juga menurut Linn dan Gronlund (1995), asesmen (assessment) adalah istilah umum yang melibatkan semua rangkaian prosedur yang digunakan untuk mendapatkan informasi tentang hasil belajar peserta didik (misalnya: observasi, skala bertingkat tentang kinerja, tes tertulis) dan pelaksanan penilaian mengenai kemajuan belajar peserta didik.
Berkaitan dengan hal tersebut, Marzano et al (1994) menyatakan bahwa dalam
mengungkap penguasaan konsep siswa, asesmen tidak hanya mengungkap konsep
yang telah dicapai, akan tetapi juga tentang proses perkembangan bagaimana suatu konsep tersebut diperoleh. Dalam hal ini asesmen tidak hanya dapat menilai hasil dan proses belajar siswa, akan tetapi juga kemajuan belajarnya.
Dengan demikian, asesmen dalam pembelajaran merupakan rangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan bagi siswa.
3.2 Definisi dan Makna Asesmen Otentik
Secara konseptual asesmen otentik lebih bermakna secara signifikan dibandingkan dengan tes pilihan ganda terstandar sekali pun. Ketika menerapkan asesmen otentik untuk mengetahui hasil dan prestasi belajar peserta didik, guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, aktivitas mengamati dan mencoba, dan nilai prestasi luar sekolah.
Menurut Mueller (2006), asesmen otentik merupakan suatu bentuk penilaian yang para siswanya diminta untuk menampilkan tugas pada situasi yang sesungguhnya yang mendemonstrasikan penerapan keterampilan dan pengetahuan esensial yang bermakna,
Dalam Permendikbud No.66 tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikandisebutkan bahwa penilaian hasil peserta didik didasarkan prinsip objektif, terpadu,ekonomis, transparan, akuntabel dan edukatif. Terkait dengan hal tersebut, diungkap pengertian asesmen otentik, sebagai berikut.
a.
Asesmen autentik merupakan penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari masukan (input), proses, dan keluaran (output) pembelajaran, yangmeliputi ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
b.
Asesmen autentik adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasilbelajar peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
c.
Asesmen autentik adalah penilaian yang dilakukan menggunakan beragam
sumber, pada saat/setelah kegiatan pembelajaran berlangsung, dan menjadi bagian takterpisahkan dari pembelajaran.
d.
Asesmen autentik merupakan proses pengamatan, perekaman dan pendokumentasian karya (apa yang dilakukan anak dan bagaimana hal itu dilakukan) sebagai dasar penentuan keputusan yang dapat menuju pada pembentukan anak sebagai individuallearner (pembelajar mandiri).
e.
Asesmen autentik adalah proses pengumpulan informasi oleh guru tentangperkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didikmelalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan, membuktikan ataumenunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran telah benar-benar dikuasai dandicapai.
Bertolak dari berbagai definisi tersebut, ada satu benang merah yang mengaitkan kelimanya yaitu asesmen (penilaian) yang mengutamakan perolehan fakta aktual (pada saat itu) dalam upaya pencapaian kompetensi. Kompetensi adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang terunjukkerjakan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak dalam suatu persoalan yang dihadapi. Ciri utama kompetensi adalah “able to do‟, yaitu siswa dapat melakukan sesuatu berdasarkan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajarinya.
3.3 Tinjauan Tentang Kurikulum 2013
Sejalan dengan perkembangan Ilmu Pendidikan dan Teknologi, Indonesia selalu mengembangkan inovasi – inovasi baru untuk mengimbangi perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang semakin pesat. Salah satu inovasi tersebut adalah dengan memperbaharui kurikulum. Menurut UU No. 20 Tahun 2003 Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Kurikulum yang saat ini tengah dijalankan oleh seluruh satuan pendidikan dari tingkat pendidikan dasar sampai menengah adalah kurikulum 2013.
Inti dari Kurikulum 2013, adalah ada pada upaya penyederhanaan, dan
tematik-integratif. Kurikulum 2013 disiapkan untuk mencetak generasi yang siap
di dalam menghadapi masa depan. Karena itu kurikulum disusun untuk
mengantisipasi perkembangan masa depan.Titik beratnya, bertujuan untuk mendorong peserta didik atau siswa, mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan (mempresentasikan), apa yang mereka peroleh atau mereka ketahui setelah menerima materi pembelajaran.
Adapun obyek yang menjadi pembelajaran dalam penataan dan penyempurnaan kurikulum 2013 menekankan pada fenomena alam, sosial, seni, dan budaya.Melalui pendekatan itu diharapkan siswa memiliki kompetensi sikap, karakter, ketrampilan, dan pengetahuan jauh lebih baik. Mereka akan lebih kreatif, inovatif, dan lebih produktif, sehingga nantinya mereka bisa sukses dalam menghadapi berbagai persoalan dan tantangan di zamannya, memasuki masa depan yang lebih baik.
Kurikulum 2013 dikembangkan untuk meningkatkan capaian pendidikan dengan 2 (dua) strategi utama yaitu peningkatan efektifitas pembelajaran pada satuan pendidikan dan penambahan waktu pembelajaran di sekolah. Efektifitas pembelajaran dicapai melalui 3 tahapan yaitu efektifitas Interaksi, efektifitas pemahaman, dan efektifitas penyerapan.
Efektifitas Interaksi akan tercipta dengan adanya harmonisasi Iklim
akademik dan budaya sekolah. Iklim dan budaya sekolah sangat kental dipengaruhi oleh manajemen dan kepemimpinan dari kepala sekolah dan jajarannya. Efektifitas Interaksi dapat terjaga apabila kesinambungan manajemen dan kepemimpinan pada satuan pendidikan. Tantangan saat ini adalah sering dijumpai pergantian manajemen dan kepemimpinan sekolah secara cepat sebagai efek adanya otonomi pendidikan yang sangat dipengaruhi oleh politik daerah.Efektifitas Pemahaman menjadi bagian penting dalam pencapaian efektifitas pembelajaran. Efektifitas tersebut dapat tercapai apabila pembelajaran yang mengedepankan pengalaman personal siswa melalui observasi (Menyimak, Melihat, Membaca, Mendengar), asosiasi, bertanya, menyimpulkan, mengkomunikasikan. Oleh karena itu Penilaian berdasarkan proses dan hasil pekerjaan serta kemampuan menilai sendiri.Efektifitas Penyerapan dapat tercipta mana kala adanya kesinambungan pembelajaran secara horisontal dan vertikal.
Kesinambungan pembelajaran secara horizontal bermakna adanya kesimbungan
sampai dengan IX pada tingkat SMP dan kelas X sampai dengan kelas XII.
Selanjutnya kesinambungan pembelajaran vertikal bermakna adanya kesinambungan antara mata pelajaran pada tingkat SD, SMP, sampai dengan SMA/SMK.Sinergitas dari ketiga efektifitas pembelajaran tersebut akan menghasilkan sebuah transfomasi nilai yang bersifat universal, nasional dengan tetap menghayati kearifan lokal yang berkembang dalam masyarakat Indonesia yang berkarakter mulia.Selanjutnya, penerapan kurikulum 2013 diimplementasikan adanya penambahan jam pelajaran. Hal tersebut sebagai akibat dari adanya perubahan proses pembelajaran yang semula dari siswa diberi tahu menjadi siswa mencari tahu. Selain itu, akan merubah pula proses penilaian yang semula dari berbasis output menjadi berbasis proses dan output.
Orientasi Kurikulum 2013 adalah terjadinya peningkatan dan keseimbangan antara kompetensi sikap (attitude), keterampilan (skill) dan pengetahuan (knowledge). Hal ini sejalan dengan amanat UU No. 20 Tahun 2003 sebagaimana tersurat dalam penjelasan Pasal 35: kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati. Hal ini sejalan pula dengan pengembangan kurikulum berbasis kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dengan mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu.
Pada kurikulum 2013, proporsi pembinaan karakter lebih diutamakan dari pada proporsi pembinaan akademik.Penilaian Kelas dalam Kurikulum 2013 memiliki karakteristik sebagai berikut.
1.
Belajar Tuntas
Asumsi yang digunakan dalam belajar tuntas adalah peserta didik dapat
mencapai kompetensi yang ditentukan, asalkan peserta didik mendapat bantuan
yang tepat dan diberi waktu sesuai dengan yang dibutuhkan. Peserta didik yang
belajar lambat perlu diberi waktu lebih lama untuk materi yang sama,
dibandingkan peserta didik pada umumnya. Untuk kompetensi pada kategori
pengetahuan dan keterampilan (KI-3 dan KI-4), peserta didik tidak
diperkenankan mengerjakan pekerjaan atau kompetensi berikutnya, sebelum
mampu menyelesaikan pekerjaan dengan prosedur yang benar dan hasil yang
baik.
2.
Otentik
Penilaian dan pembelajaran adalah merupakan dua hal yang saling berkaitan. Penilaian otentik harus mencerminkan masalah dunia nyata, bukan dunia sekolah. Menggunakan berbagai cara dan kriteria holistik (kompetensi utuh merefleksikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap). Penilaian otentik tidak hanya mengukur apa yang diketahui oleh peserta didik, tetapi lebih menekankan mengukur apa yang dapat dilakukan oleh peserta didik. Berikut contoh-contoh tugas otentik.
a.
Pemecahan masalah matematika
b.Melaksanakan percobaan
c.
Bercerita
d.
Menulis laporan
e.Berpidato
f.
Membaca puisi
g.
Membuat peta perjalanan
3.
Berkesinambungan
Penilaian berkesinambungan dimaksudkan sebagai penilaian yang dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan selama pembelajaran berlangsung. Tujuannya adalah untuk mendapatkan gambaran yang utuh mengenai perkembangan hasil belajar peserta didik, memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil terus menerus dalam bentuk penilaian proses, dan berbagai jenis ulangan secara berkelanjutan (ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester).
4.
Menggunakan teknik penilaian yang bervariasi
Teknik penilaian yang dipilih dapat berupa tertulis, lisan, produk, portofolio, unjuk kerja, projek, pengamatan, dan penilaian diri.
5.
Berdasarkan acuan kriteria
Kemampuan peserta didik tidak dibandingkan terhadap kelompoknya, tetapi dibandingkan terhadap kriteria yang ditetapkan, misalnya ketuntasan minimal, yang ditetapkan oleh satuan pendidikan masing-masing
Jika ditinjau berdasarkan jenjang pendidikannya yaitu jenjang pendidikan dasar (SD dan SMP) dan menengah (SMA), implementasi kurikulum 2013 seperti yang telah dipaparkan diatas sebenarnya tidak terlalu jauh berdeda. Namun khusus untuk sekolah dasar, model penyajian pembelajaran menggunakan model tematik terpadu. Materi pembelajaran disajikan dalam bentuk tema atau sub tema yang diikat oleh beberapa mata pelajaran. Peserta didik sudah tidak dikenalkan lagi mata pelajaran, sebagai penggantinya adalah tema dan sub tema. Nilai positif dari model tematik terpadu sebagai mana dikemukakan oleh Munif Chatib (2013) adalah pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran menjadi konkret, tidak lagi abstrak. Peserta didik tidak lagi dikenalkan materi di awang-awang. Sebagai contoh misalnya berapa jumlah kegiatan yang dilakukan oleh siswa kelas I (pada pembelajaran dengan sub tema: kegiatanku). Bisa jadi sepulang sekolah orangtua bertanya pada anak tentang materi yang dibelajarkan pada hari itu, biasanya anak akan menjawab Bahasa Indonesia, IPA, Matematika, dan lain-lain. Dengan model tematik terpadu untuk anak kelas I, anak akan menjawab: minggu ini aku belajar tentang “Aku dan Temanku” minggu besok belajar tentang “Tubuhku” minggu berikutnya belajar tentang “Aku Merawat Tubuhku” dan lain-lain. Dalam hal ini anak menjawab dengan jawaban tema atau sub tema bukan lagi mata pelajaran.
3.4 Implementasi Asesmen Otentik Dalam Kurikulum 2013
Asesmen Otentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah
dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013. Karena, asesmen
semacam ini mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik, baik
dalam rangka mengobservasi, menalar, mencoba,membangun jejaring, dan lain-
lain. Asesmen otentik cenderung fokus pada tugas-tugas kompleks atau
kontekstual, memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi mereka
dalam pengaturan yang lebih autentik. Karenanya, asesmen autentik sangat
relevan dengan pendekatan tematik terpadu dalam pembejajaran, khususnya
jenjang sekolah dasar atau untuk mata pelajaran yang sesuai. Karakteristik Asesmen Kurikulum 2013 adalah sebagai berikut.
a.i.1. Mengukur berpikir kritis
a.i.2. Mengukur hierarki berpikir hingga Habits of Mind a.i.3. Menilai proses dan hasil belajar
a.i.4. Menilai kemampuan faktual, konseptual, prosedural dan metakognitif 6. Melibatkan portofolio
7. Perangkat penilaian dan tugas yang bersifat otentik
Asesmen Otentik menurut Kurikulum 2013 adalah penilaian yang dilakukan
secara komprehensif untuk menilai mulai dari masukan (input), proses,dan
keluaran (output) pembelajaran, (Permen No 66 Tahun 2013).
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Hasil Pelatihan Penyusunan Asesmen Otentik Kurikulum 2013 Pada Guru-Guru Pengampu Mata Pelajaran Produktif di SMK Negeri Kabupaten Buleleng
Kegiatan pelatihan penyususnan asesemen otentik kurikulum 2013 pada guru-guru pengampu maata pelajaran produktif di SMK Negeri Kabupaten Buleleng, dilaksanakan selama 1 hari yaitu, pada hari rabu 20 Juli 2016. Kegiatan dimulai pukul 08.00 wita sampai dengan pukul 13.00 wita. Kegiatan diawali dengan mengumpulkan peserta di ruang seminar FTK Uniksaha Singaraja sekaligus sebagai tempat pelatihan. Target peserta 30 orang dan yang hadir sebanyak 31 orang siswa (100%) yang terdiri dari guru-guru pengampu mata pelajaran produktif di SMK Negeri Kabupaten Buleleng yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Untuk pendampingan dilakukan pada tanggal 2 Agustus 2016 dan 12 Agustus di FTK Undiksha Singaraja.
a. Pelatihan Penyusunan Asesmen Otentik Kurikulum 2013 Pada Guru- Guru Pengampu Mata Pelajaran Produktif di SMK Negeri Kabupaten Beleleng
Instruktur dalam pelaihan ini adalah Prof. Dr. Anak Agung Istri Ngurah
Marhaeni, MA., dibantu oleh anggota menyampaikan hal-hal yang berkaitan
dengan asesmen otentik melalui metode ceramah. Peserta terlihat antusias
menggikuti kegiatan ini, dan merekaa sangat tertarik untuk mencoba. Adapun
kegiatan yang dilakukan paada proses penyusunan asesmen otentik kurikulum
2013 pada dasarnya sama, yaitu peserta diberikan kesempatan untuk memilih
mata pelajaran produktif yang akan dibuatkan tes asesmen otentik dan rubriknya.
Setiap peserta dibebaskan menyususn asesemen otentik dengan contoh yang sudah disiapkan pelatih atau membuat kreasi sendiri dengan kebutuhan masing- masing. Setiap kelompok yang sudah menyelesaikan penyususna asesmen otentik, diberi kesempatan untuk bertanya dan menyempurnakan hasil pekerjaannya.
Langkah-langkah atau prosedur yang harus dilakukan oleh guru-guru sebelum menyusun asesmen otentik adalah: 1) mengetahui materi pelajaran yang akan dibuatkan asesemen otentik; 2) menyiapkan kompetensi inti dan kompetensi dasar; 3) membuat indikator pencapaian pelajaran; 4) membuat kisi-kisi soal ; 5) penyusunan butir soal; 6) menyusun rubrik penilaian; 7) membuat konfersi penilaian akhir.
Hasil kegitan pelatihan penyususnan asesmen otentik kurikulum 2013 pada guru-guru pengampu mata pelajaran produktif di SMK Negeri Buleleng secara umum dapat dikatakan berhasil. Hal ini dapat dilihat dari presentase kehadiran peserta mencapai 100%, sedangkan berdasarkan perencanaan, proses, dan hasil pelatihan dan selama pendampingan di FTK Undiksha Poses dan hasil pelatihan selama pendampingan dapat dijabarkan sebagai berikut:
Tabel 4.1.1 Rekapitulasi Data Hasil Kegiatan Penyusunan Asesmen Otentik (Kinerja)
No
Peserta 1 2 3 4 5 6 7 Total
1 4 4 4 5 4 5 5 31
2 4 5 5 5 4 5 5 33
3 4 5 5 4 5 5 5 33
4 5 4 4 5 5 5 5 33
5 4 5 5 4 4 5 5 32
6 4 4 5 5 5 4 4 31
7 5 5 4 5 5 4 5 33
8 3 4 5 5 4 5 5 31
9 4 5 4 3 5 4 4 29
10 4 5 4 4 5 5 5 32
11 4 4 4 4 4 4 4 28
12 4 5 5 5 5 5 5 34
13 5 4 4 5 4 5 5 32
14 5 4 5 4 5 5 5 33
15 5 5 4 5 4 4 4 31
16 5 5 5 4 5 5 5 34
No
Peserta 1 2 3 4 5 6 7 Total
17 4 4 5 5 4 4 4 30
18 5 5 4 4 5 5 5 33
19 4 4 5 5 5 4 4 31
20 5 3 4 5 5 5 5 32
21 4 4 5 5 5 4 4 31
22 5 5 5 4 4 5 5 33
23 5 4 5 5 5 4 4 32
24 4 5 4 4 4 5 5 31
25 5 4 5 4 5 5 5 33
26 5 4 5 5 5 5 5 34
27 4 5 4 4 5 5 5 32
28 5 4 5 5 5 5 5 34
29 5 5 5 5 4 4 4 32
30 5 5 5 4 5 5 5 34
31 4 5 5 4 5 5 5 33
Total 138 139 143 140 144 145 146 995
89,03 89,67 92,26 90,32 92,9 0
93,54 94,1 9
91,7
Skor maksimal = 155 Keterangan :
1. Menjabarkan Indikator sesuai dengan SK dan KD 2. Menjabarkan Kisi-kisi dan nomor butir soal
3. Menyusun Asesmen otentik sesuai dengan indikator 4. Menentukan bobot soal
5. Menyusun Rubrik Penilaian
6. Menentukan Skor tertinggi dan skor terendah 7. Menggunakan bahasa yang baku
Tabel 4.1.2 Skor Penilaian
No Nilai Katagori
1 5 Sangat baik
2 4 Baik
3 3 Cukup
4 2 Kurang
5 1 Sangat Kurang
Berdasarkan data pada Tabel 3.1 dapat dikatakan dapat dikatakan bahwa
pada penyusunan asesmen otentik (kinerja) untuk menjabarkan indikator sesuai
dengan SK dan KD memperoleh persentase 89,03% dalam kategori sangat baik, Menjabarkan Kisi-kisi dan nomor butir soal memperoleh prosentase 89,67%
dalam kategori sangat baik, Menyusun Tes Kinerja sesuai dengan indikator memperoleh prosentase 92,26% dalam kategori sangat baik, Menentukan bobot soal memperoleh prosentase 90,32% dalam kategori sangat baik, Menyusun Rubrik Penilaian memperoleh prosentase 92,90% dalam kategori sangat baik, Menentukan Skor tertinggi dan skor terendah memperoleh prosentase 93,54%
dalam kategori sangat baik, dan Menggunakan bahasa yang baku memperoleh prosentase 94,19% dalam kategori sangat baik pula. Jadi dapat disimpulkan bahwa pembuatan penyusunan asesmen otentik dikatakan berhasil sesuai dengan harapan.
Tabel 4.1.3. Rekapitulasi Data Hasil Kegiatan Penyusunan Asesmen Otentik (Proyek)
No
Peserta 1 2 3 4 5 6 7 Total
1 5 4 5 5 4 4 5 32
2 4 5 4 5 4 5 5 32
3 4 5 5 4 5 5 5 33
4 5 4 4 5 5 5 5 33
5 4 5 5 4 4 5 5 32
6 4 4 5 5 5 4 4 31
7 4 5 4 5 5 4 5 32
8 3 4 5 5 4 5 5 31
9 4 5 4 3 5 4 4 29
10 4 5 4 4 5 5 5 32
11 4 4 4 4 4 4 4 28
12 4 5 5 5 5 5 5 34
13 5 4 4 5 4 5 5 32
14 5 4 5 4 5 5 5 33
15 5 5 4 5 4 4 4 31
16 5 5 5 4 5 5 5 34
17 4 4 5 5 4 4 4 30
18 5 5 4 4 5 5 5 33
19 4 4 5 5 5 5 4 32
20 5 3 4 5 5 5 5 32
21 4 4 5 5 5 5 4 32
22 4 5 5 4 4 5 5 32
23 5 4 5 5 5 4 5 33
No
Peserta 1 2 3 4 5 6 7 Total
24 4 5 4 4 4 5 5 31
25 5 4 5 5 5 5 5 34
26 5 4 5 5 5 5 5 34
27 4 4 5 4 5 5 5 32
28 4 4 5 5 5 5 5 33
29 5 5 5 5 4 4 4 32
30 5 5 5 4 5 5 5 34
31 4 5 5 4 5 5 5 33
Total 136 138 144 141 145 146 147 996
87,74 89,03 92,90 90,97 92,5
4 93,19 94,8
3 91,79
Skor maksimal = 155 Keterangan :
1. Menjabarkan Indikator sesuai dengan SK dan KD 2. Menjabarkan Kisi-kisi dan nomor butir soal
3. Menyusun Asesmen otentik sesuai dengan indikator 4. Menentukan bobot soal
5. Menyusun Rubrik Penilaian
6. Menentukan Skor tertinggi dan skor terendah 7. Menggunakan bahasa yang baku
Tabel 4.1.4 Skor Penilaian
No Rentangan Nilai Katagori
1 85 – 100 5 Sangat baik
2 70 – 84 4 Baik
3 55 – 69 3 Cukup
4 35 – 54 2 Kurang
5 0 – 34 1 Sangat Kurang
Berdasarkan data pada Tabel 3.2 dapat dikatakan dapat dikatakan bahwa pada penyusunan asesmen otentik (kinerja) untuk menjabarkan indikator sesuai dengan SK dan KD memperoleh persentase 87,74% dalam kategori sangat baik, Menjabarkan Kisi-kisi dan nomor butir soal memperoleh prosentase 89,03%
dalam kategori sangat baik, Menyusun Tes Kinerja sesuai dengan indikator
memperoleh prosentase 92,90% dalam kategori sangat baik, Menentukan bobot
soal memperoleh prosentase 90,97% dalam kategori sangat baik, Menyusun
Rubrik Penilaian memperoleh prosentase 92,54% dalam kategori sangat baik,
Menentukan Skor tertinggi dan skor terendah memperoleh prosentase 93,19%
dalam kategori sangat baik, dan Menggunakan bahasa yang baku memperoleh prosentase 94,83% dalam kategori sangat baik pula. Jadi dapat disimpulkan bahwa pembuatan penyusunan asesmen otentik dalam bentuk proyek dikatakan berhasil sesuai dengan harapan.
Tabel 4.1.5. Rekapitulasi Data Hasil Kegiatan Penyusunan Asesmen Otentik (Portofolio)
No
Peserta 1 2 3 4 5 6 7 Total
1 5 4 5 5 5 4 5 33
2 4 5 4 5 4 5 5 32
3 4 5 5 4 5 5 5 33
4 5 4 4 5 5 5 5 33
5 5 5 5 4 4 5 5 33
6 4 4 5 5 5 4 4 31
7 4 5 4 5 5 4 5 32
8 4 4 5 5 4 5 5 32
9 4 5 4 5 5 4 4 31
10 4 5 4 4 5 5 5 32
11 4 4 5 4 4 4 5 30
12 4 5 5 5 5 5 5 34
13 5 4 4 5 4 5 5 32
14 5 4 5 4 5 5 5 33
15 5 5 4 5 5 5 4 33
16 5 5 5 4 5 5 5 34
17 4 5 5 5 4 4 4 31
18 5 5 4 5 5 5 5 34
19 4 4 5 5 5 5 5 33
20 5 4 4 5 5 5 5 33
21 4 4 5 5 5 5 4 32
22 4 5 5 4 4 5 5 32
23 5 4 5 5 5 4 5 33
24 4 5 4 4 4 5 5 31
25 5 4 5 5 5 5 5 34
26 5 4 5 5 5 5 5 34
27 4 4 5 4 5 5 5 32
28 4 4 5 5 5 5 5 33
29 5 5 5 5 4 4 4 32
30 5 5 5 4 5 5 5 34
31 4 5 5 4 5 5 5 33
Total 138 140 145 144 146 147 149 1009
89,03 90,32 93,54 92,90 94,19 94,83 96,12 92,99