• Tidak ada hasil yang ditemukan

RETRIBUSI PELAYANAN PARKIR DITEPI JALAN UMUM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "RETRIBUSI PELAYANAN PARKIR DITEPI JALAN UMUM"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

PEMERINTAH KABUPATEN PARIGI MOUTONG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PARIGI MOUTONG

NOMOR 36 TAHUN 2005

TENTANG

RETRIBUSI PELAYANAN PARKIR DI TEPI JALAN UMUM

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI PARIGI MOUTONG,

Menimbang   :

Mengingat   :

a. bahwa   dengan   semakin   bertambahnya   jumlah   penduduk   yang

dibarengi   pula   dengan   peningkatan   pemilikan   kendaraan, sehingga   bertambah   pula   permintaan   akan   ruang   jalan   untuk kegiatan lalu lintas;

b. bahwa guna menunjang keselamatan, keamanan, ketertiban dan

kelancaran lalu lintas dan angkutan jalan serta pelayanan parkir lainnya dapat disediakan pelayanan fasilitas parkir di tepi jalan umum;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam

huruf   a   dan   huruf   b,   perlu   membentuk     Peraturan   Daerah tentang Retribusi Pelayanan Parkir Di Tepi Jalan Umum;

1. Undang­Undang     Nomor     8     Tahun     1981   tentang   Hukum   Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor  3209);

2. Undang­Undang Nomor   14   Tahun 1992   tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun  1992 Nomor  44 , Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3480);

(2)

4048);

4. Undang­Undang Nomor 28 Tahun 1997 tentang Kepolisian Negara

Republik Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 81, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3710) sebagaimana telah diubah dengan Undang­Undang Nomor   2   Tahun   2002   (Lembaran   Negara   Republik   Indonesia Tahun   2002   Nomor   2,   Tambahan   Lembaran   Negara   Republik Indonesia Nomor 4168);

5. Undang­Undang Nomor  10  tahun  2002  tentang Pembentukan

Kabupaten   Parigi   Moutong   Di   Propinsi   Sulawesi   Tengah (Lembaran Negara  Republik Indonesia Tahun  2002  Nomor  23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4185);

6. Undang – Undang Nomor  10  Tahun 2004  tentang Pembentukan

Peraturan   Perundang­Undangan   (Lembaran   Negara   Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor   53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor  4389);

7. Undang­Undang Nomor   32   Tahun 2004 tentang Pemerintahan

Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125,   Tambahan   Lembaran   Negara   Republik   Indonesia   Nomor 3839), sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti   Undang­Undang   Nomor   3   Tahun     2005   (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun   2005 Nomor   38, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4493);

8. Peraturan   Pemerintah   Nomor     27     Tahun     1983     tentang Pelaksanaan   Kitab   Undang­Undang   Hukum   Acara   Pidana (Lembaran   Negara   Republik   Indonesia   Tahun   1983   Nomor   38, Tambahan Lembaran Negara  Republik Indonesia Nomor  3258); 9. Peraturan   Pemerintah     Nomor     41     Tahun     1993     tentang

Angkutan   Jalan   (Lembaran   Negara   Republik   Indonesia   Tahun 1993 Nomor  59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor  3527);

(3)

Indonesia   Nomor  3530);

13. Peraturan Pemerintah Nomor  66 Tahun  2001  tentang Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 119,   Tambahan   Lembaran   Negara   Republik   Indonesia     Nomor 4139);

14. Peraturan Daerah Kabupaten Parigi Moutong Nomor   1   Tahun 2004     tentang   Kewenangan   Kabupaten   Parigi   Moutong   Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Daerah Tahun  2004 Nomor 4 Seri E Nomor 3);

15. Peraturan Pemerintah Daerah Kabupaten Parigi Moutong Nomor 4     Tahun   2004     tentang   Susunan   Organisasi   Dan   Tata   Kerja Dinas­Dinas   Daerah   Kabupaten   Parigi   Moutong     (Lembaran Daerah Tahun  2004 Nomor 7 Seri D Nomor 2);

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN PARIGI MOUTONG dan

BUPATI PARIGI MOUTONG

MEMUTUSKAN  :

Menetapkan   :  PERATURAN DAERAH TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN PARKIR DI TEPI JALAN UMUM

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan  :

1. Daerah adalah Kabupaten Parigi Moutong.

2. Pemerintah Daerah adalah Bupati dan perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggara

Pemerintahan Daerah.

3. Bupati adalah Bupati Parigi Moutong.

4. Dewan   Perwakilan   Rakyat   Daerah   yang   selanjutnya   disingkat   DPRD   adalah   Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah.

5. Dinas Perhubungan adalah Dinas Perhubungan Kabupaten Parigi Moutong.

(4)

7. Peraturan   Daerah   adalah   Peraturan   Perundang­undangan   yang   dibentuk   oleh     DPRD

duduk   tidak   termasuk   tempat   duduk   pengemudi,   baik   dengan   maupun   tanpa perlengkapan pengangkutan bagasi.

13.Kendaraan   Khusus   adalah   kendaraan   bermotor   selain   dari   pada   kendaraan     bermotor untuk penumpang dan kendaraan bermotor untuk barang yang penggunaannya untuk keperluan khusus atau mengangkut barang­barang khusus.

14.Parkir adalah keadaan kendaraan yang tidak bergerak yang bersifat sementara.

15.Tempat Parkir adalah lokasi atau bangunan yang dipergunakan sebagai tempat parkir.

16.Tempat   meletakan/menyimpan   kendaraan   bermotor   adalah   lokasi,   bangunan   yang

dipergunakan untuk menaruh kendaraan bermotor sebagai bagasi pada malam hari mulai

melakukan   usaha   maupun   tidak   melakukan   usaha   yang   meliputi   Perseroan   Terbatas, Perseroan Komanditer, Perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun, Firma, Kongsi, Koperasi, Dana Pensiun Persekutuan, Perkumpulan, Yayasan, Organisasi Massa, Organisasi Sosial Politik, atau Organisasi yang sejenis, Lembaga, bentuk usaha tetap, dan bentuk badan lainnya.

(5)

21.Jasa Umum adalah jasa yang disediakan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan.

22.Wajib Retribusi adalah Orang pribadi atau badan yang menurut Peraturan Perundang­

undangan   Retribusi   diwajibkan   untuk   melakukan   pembayaran   Retribusi   termasuk pemungut atau pemotong Retribusi tertentu. 

23.Masa Retribusi adalah suatu jangka waktu tertentu yang merupakan batas waktu bagi

Wajib Retribusi untuk memanfaatkan jasa dari Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong.

24.Surat   Setoran   Retribusi   Daerah,   yang   selanjutnya   disebut   SSRD   adalah   surat   yang digunakan oleh Wajib Retribusi untuk melakukan pembayaran atau penyetoran Retribusi Wajib   Retribusi   sebagai   dasar     perhitungan   dan   pembayaran   Retribusi   yang   terutang menurut perundang­undangan Retribusi Daerah.

27.Surat Ketetapan Retribusi Daerah Kurang Bayar yang dapat disingkat SKRDKB adalah

surat   ketetapan   Retribusi   yang   menentukan   besarnya   jumlah   pokok   Retribusi,   jumlah kredit Retribusi, kekurangan pembayaran pokok Retribusi besarnya sanksi administrasi dan jumlah yang masih harus dibayar.

28.Surat Ketetapan Retribusi Daerah Kurang Bayar Tambahan yang selanjutnya di singkat

SKRDKBT,   adalah   Surat   ketetapan   yang   menentukan   tambahan   atas   jumlah   Retribusi yang telah ditetapkan.     

29.Surat   Ketetapan   Retribusi   Daerah   Lebih   Bayar,   yang   dapat   disingkat   SKRDLB   adalah Surat   ketetapan   Retribusi   yang   menentukan   jumlah   kelebihan   pembayaran   Retribusi karena jumlah kredit Retribusi lebih  besar dari pada Retribusi yang terutang atau tidak Daerah   dan   untuk   tujuan   lain   dalam   rangka   melaksanakan   ketentuan   peraturan perundang­undangan Retribusi Daerah.

32.Penyidikan Tindak Pidana di bidang Retribusi Daerah adalah serangkaian tindakan yang

(6)

BAB II

NAMA, OBYEK DAN SUBYEK RETRIBUSI Pasal 2

Dengan   nama   Retribusi   Pelayanan   Parkir   Di   tepi   Jalan   Umum   dipungut   retribusi   sebagai pembayaran atas pelayanan tempat parkir di tepi jalan umum.

Pasal 3

Obyek Retribusi adalah setiap pelayanan kepada orang pribadi atau badan yang menggunakan fasilitas parkir, tempat meletakan/menyimpan kendaraan bermotor.

Pasal 4

Subyek Retribusi adalah setiap orang pribadi atau badan yang menggunakan tempat parkir.

BAB III

GOLONGAN RETRIBUSI Pasal 5

Retribusi Pelayanan Parkir  digolongkan sebagai Retribusi Jasa umum

BAB   IV

CARA MENGUKUR TINGKAT PENGGUNAAN JASA Pasal   6

Tingkat penggunaan jasa diukur berdasarkan jenis kendaran dan tingkat penggunaan tempat parkir.

BAB V

PRINSIP DAN SASARAN DALAM PENETAPAN STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF Pasal 7

Prinsip   dan   sasaran   dalam   penetapan   tarif   retribusi   pelayanan   parkir   ditepi   jalan   umum didasarkan pada tujuan untuk pengendalian dan pengaturan penggunaan jalan umum.

BAB VI

STUKTUR DAN BESARNYA TARIF Pasal 8

(1) Struktur dan besarnya tarif retribusi ditetapkan sebagai berikut  : a.  Dipungut berlangganan  :

(7)

 ­  Mobil Penumpang Umum/Pribadi sebesar Rp.  36.000/tahun/kendaraan; 

 ­  Mobil Angkutan Barang sebesar Rp.  54.000/tahun/kendaraan.  

b. Kendaraan bermotor tanpa menunjukan kartu bebas parkir dipungut ditempat,

untuk :

­  Sepeda Motor sebesar Rp.    500/sekali parkir;

­  Mobil Penumpang Umum/Pribadi sebesar Rp. 1.000/sekali parkir;

­  Mobil Angkutan Barang  sebesar Rp. 1.500/sekali parkir.  

(2) Pemerintah Daerah menetapkan tempat parkir dan / atau bagian tepi jalan di Wilayah Daerah.

(3) Dilarang   melakukan   pungutan   atau   dengan   sebutan   lain   diluar   yang   telah   ditetapkan dalam Peraturan Daerah ini.

BAB VII

WILAYAH PEMUNGUTAN Pasal 9

Retribusi  yang terutang dipungut di Daerah Kabupaten Parigi Moutong.

BAB VIII

MASA RETRIBUSI DAN SAAT RETRIBUSI TERUTANG Pasal 10

(1)

Masa retribusi untuk pelayanan parkir adalah jangka waktu yang lamanya :

a. 1 (satu) tahun untuk yang berlangganan; b.  sekali parkir.

(2) Saat retribusi terutang adalah pada saat diterbitkannya SKRD atau dokumen lain

yang dipersamakan.

BAB IX

SURAT PENDAFTARAN DAN PENETAPAN RETRIBUSI Pasal 11

(1) Wajib Retribusi wajib mengisi SPdORD.

(2) SPdORD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diisi dengan jelas, benar dan

lengkap serta ditandatangani oleh Wajib Retibusi atau kuasanya.

(3) Bentuk,   isi   serta   tata   cara   pengisian   dan   penyampaian   SPdORD   sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.

Pasal 12

(8)

(2) Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan dan ditemukan data baru dan / atau data yang semula   belum   terungkap   yang   menyebabkan   penambahan   jumlah   retribusi   yang terutang, maka dikeluarkan SKRDKB dan SKRDKBT.

(3) Bentuk,   isi   dan   tata   cara   penerbitan   SKRD   atau   dokumen   lain   yang   dipersamakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) SKRDKB dan SKRDKBT sebagaimana dimaksud pada ayat (2) akan diatur lebih lanjut  dengan Peraturan Bupati. 

BAB X

TATA CARA PEMUNGUTAN Pasal 13

(1) Pemungutan retribusi tidak dapat diborongkan

(2) Retribusi   dipungut   dengan   menggunakan   SKRD   atau   dokumen   lain   yang

dipersamakan, SKRDKB dan SKRDKBT.

BAB XI

SANKSI ADMINISTRASI Pasal 14

Dalam hal Wajib Retribusi tidak membayar tepat pada   waktunya atau kurang membayar, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (Dua Perseratus)  setiap bulan dari retribusi yang terutang atau kurang dibayar dan ditagih dengan menggunakan STRD.

BAB XII

INSTANSI PEMUNGUT Pasal 15

(1) Instansi yang melaksanakan pemungutan retribusi adalah Dinas Perhubungan.

(2) Petugas   pemungut   retribusi   sebagaimana   dimaksud   pada   ayat   (1)   adalah   Pegawai Negeri Sipil Dinas Perhubungan, yang ditetapkan dengan Keputusan Bupati, atas usulan Kepala Dinas Perhubungan.

BAB XIII

TATA CARA PEMBAYARAN Pasal 16

(1) Retribusi yang terutang di lunasi sekaligus untuk 1 (satu) kali masa retribusi.

(2) Retribusi   yang   terutang   di   lunasi   selambat­lambatnya     15   (Lima   belas)   hari   sejak   Wajib Retribusi menerima   SKRD atau dokumen lain yang persamakan, SKRDKB, SKRDKBT dan STRD.

(9)

BAB XIV

TATA CARA PENAGIHAN Pasal 17

(1) Pengeluaran Surat Teguran, Surat Peringatan atau Surat lain yang sejenis sebagai awal pelaksanaan   penagihan   retribusi   dikeluarkan   7   (rujuh)   hari   sejak   saat   jatuh   tempo pembayaran.

(2) Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah Surat Teguran, Surat Peringatan atau Surat lain yang sejenis, Wajib Retribusi harus melunasi Retribusi yang terutang.

(3) Surat  Teguran  /  surat  peringatan   atau  surat  lain  yang  sejenis  sebagaimana   dimaksud pada ayat (1) dikeluarkan oleh Bupati atau Pejabat yang ditunjuk.

BAB XV K E B E R A T A N

Pasal 18

(1) Wajib Retribusi, wajib mengajukan keberatan hanya kepada Bupati atau Pejabat yang ditunjuk atas SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan, SKRDKB, SKRDKBT dan SKRDLB.

(2) Keberatan diajukan secara tertulis dalam Bahasa Indonesia dengan disertai alasan­alasan

yang jelas.

(3) Dalam   hal   Wajib   Retribusi   mengajukan   keberatan   atas   ketetapan   retribusi,   Wajib Retribusi harus dapat membuktikan ketidakbenaran ketetapan retribusi tersebut.

(4) Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan sejak SKRD atau

dokumen lain yang dipersamakan, SKRDKBT dan SKRDLB diterbitkan, kecuali apabila Wajib   Retribusi   tertentu   dapat   menunjukan   bahwa   jangka   waktu   itu   tidak   dapat dipenuhi karena keadaan diluar kekuasaannya.

(5) Keberatan yang tidak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3)

tidak dianggap sebagai suatu keberatan, sehingga tidak dipertimbangkan.

(6) Pengajuan   keberatan   tidak   menunda   kewajiban   membayar   retribusi   dan   pelaksanaan penagihan retribusi.

Pasal 19

(1) Bupati atau Pejabat yang ditunjuk dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak

tanggal   surat   keberatan   diterima   harus   memberi   keputusan   atas   keberatan   yang diajukan.

(2) Keputusan Bupati atas keberatan dapat berupa menerima seluruhnya atau sebagian,

menolak atau menambah besarnya retribusi yang terutang.

(3) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaskud pada ayat (1) telah lewat dan Bupati tidak

(10)

BAB XVI

PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN Pasal 20

(1)  Atas   kelebihan   pembayaran   retribusi,   Wajib   Retribusi   dapat   mengajukan   permohonan pengembalian kepada Bupati.

(2)   Bupati dalam jangka waktu paling lama   6(enam) bulan sejak diterimanya permohonan kelebihan pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)  harus memberikan keputusan.

(3)  Apabila   jangka   waktu   sebagaimana   pada   ayat     (2)   telah   dilampaui   dan   Bupati   tidak memberikan   keputusan,   keberatan   yang   diajukan   tersebut   dianggap   dikabulkan   dan SKRDLB  harus diterbitkan dalam jangka waktu paling lama  1(satu)  bulan.

(4)  Apabila   Wajib   Retribusi     mempunyai   utang   retribusi   lainnya   kelebihan   pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat  (1) langsung diperhitungkan untuk melunasi terlebih dahulu utang retribusi tersebut.

(5)   Pengembalian   kelebihan   pembayaran   retribusi   sebagaimana   dimaksud   pada   ayat   (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan sejak diterbitkannya SKRDLB. (6)  Apabila   pengambilan   kelebihan   pembayaran   retribusi   dilakukan   lewat   jangka   waktu

6(enam) bulan, Bupati  memberikan imbalan bunga sebesar 2% (dua perseratus) sebulan atas keterlambatan pembayaran kelebihan retribusi.

Pasal 21

(1) Permohonan   pengembalian   kelebihan   pembayaran   retribusi   diajukan   secara

tertulis   kepada   Bupati   atau   Pejabat   yang   dirtunjuk   dengan   sekurang­kurangnya menyebutkan  :

(3) Bukti   penerimaan   oleh   Pejabat   Daerah   atau   bukti   pengiriman   pos   tercatat

merupakan bukti saat permohonan diterima oleh Bupati.

Pasal 22

(1) Pengembalian   retribusi   dilakukan   dengan   memberikan   surat   perintah   pembayaran retribusi.

(11)

BAB XVII

PENGURANGAN, KERINGANAN DAN PEMBEBASAN RETRIBUSI Pasal 23

(1) Bupati   atau   Pejabat   yang   ditunjuk   dapat   memberikan   pengurangan,   keringanan   dan pembebasan retribusi.

waktu  3   (tiga)  tahun   terhitung  sejak   saat  terutangnya   retribusi,  kecuali   apabila  Wajib Retribusi  melakukan tindak pidana dibidang retribusi.

(2) Kadaluwarsa penagihan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tertangguh,

apabila  :

a.  Diterbitkan surat teguran;

b.   Ada  pengakuan   utang  retribusi   dari  Wajib   Retribusi  baik   langsung  maupun   tidak langsung. daerah   sebagaimana   dimaksud   dalam   undang­undang   Nomor   8   Tahun   1981   tentang Hukum Acara Pidana.

(2)   Wewenang penyidik sebagaimana dimaksud pada  ayat  (1)  adalah  :

a.  Menerima, mencari, mengumpulkan dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan   tindak   pidana   dibidang   Retribusi   Daerah   agar   keterangan     atau   laporan tersebut menjadi lengkap dan jelas;

b. Meneliti, mencari dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan tentang   kebenaran   perbuatan   yang   dilakukan   sehubungan   dengan   tindak   pidana dibidang perpajakan Daerah.

(12)

d.  Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan barang bukti pembukuan, pencatatan dan   dokumen­dokumen   lain,   serta   melakukan   penyitaan   terhadap   barang   bukti tersebut;

e.   Meminta   bantuan   tenaga   ahli   dalam   rangka   pelaksanaan   tugas   penyidikan   tindak pidana dibidang Retribusi Daerah;

f.  Menyuruh   berhenti,   atau   melarang   seseorang   meninggalkan   ruangan   atau   tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang dan atau

j.  Melakukan   tindakan   lain   yang   perlu   untuk   kelancaran   penyidikan   tindak   pidana dibidang Retribusi Daerah menurut hukum yang dapat dipertanggung jawabkan. (3)  Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat  (1) memberitahukan dimulainya penyidikan

dan   penyampaian   hasil   penyidikan   kepada   Penuntut   Umum   melalui   Penyidik   Pejabat Polisi Negara Republik Indoneis, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang­ undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

BAB XX

KETENTUAN PIDANA Pasal 27

(1) Wajib   Retribusi   yang   tidak   melaksanakan   kewajibannya   sehingga   merugikan

keuangan   Daerah   diancam   pidana   kurungan   paling   lama   6   (enam)   bulan   atau   denda

Agar   setiap   orang   mengetahuinya,   memerintahkan   pengundangan   Peraturan   Daerah   ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Parigi Moutong.

(13)

BUPATI PARIGI MOUTONG,

LONGKI DJANGGOLA

LEMBARAN DAERAH NOMOR 45 SERI E NOMOR 15

PENJELASAN ATAS

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PARIGI MOUTONG NOMOR  36  TAHUN 2005 

TENTANG

RETRIBUSI PELAYANAN PARKIR DI TEPI JALAN UMUM

(14)

Dalam rangka penyelenggaraan Pemerintah Daerah dan pembangunan daerah yang nyata dan  dinamis,   serasi   dan   bertanggungjawab,   maka  Retribusi  Daerah   adalah   merupakan  sumber pendapatan Daerah yang penting guna menggerakkan peran serta masyarakat dalam pembiayaan penyelenggaraan Pemerintahan dan pembangunan Daerah maka telah ditetapkan Undang­undang Nomor   18   Tahun   1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang kemudian dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor  66 Tahun  2001 tentang Retribusi Daerah. Guna menunjang keselamatan,   keamanan,   ketertiban   dan   kelancaran   lalu   lintas   angkutan   jalan   dapat   diadakan fasilitas   parkir   untuk   umum.   Penyediaan   fasilitas     parkir   untuk   umum   juga   dapat   berfungsi sebagai salah satu alat pengendali lalu lintas.Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka pada (empat)   dipungut   pertahun   /   kendaraan   melalui   Samsat   atau   perusahaan   dan diberikan tanda bukti lunas parkir.

huruf b    

(15)

Pasal  10       Ayat (1)

Cukup Jelas Ayat (2)

Yang   dimaksud   dokumen   lain   yang   dipersamakan   antara   lain   berupa   karcis   masuk, kupon dan kartu langganan. 

(16)

     Cukup jelas Pasal  26

    Cukup jelas Pasal  27

     Cukup jelas Pasal  28

    Cukup jelas Pasal  29

    Cukup jelas

Referensi

Dokumen terkait

Pemerintah Republik Indonesia,Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara Republik

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3472 Tahun

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437),

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437 sebagaimana