• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peraturan Dirjen Perbendaharaan | KPPN TANJUNGBALAI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Peraturan Dirjen Perbendaharaan | KPPN TANJUNGBALAI"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

KEUANGAN

INDONESIA

JENDERAL PERBENDAHARAAN

DIREKTUR JENDERAL PERBENDAHARAAN NOMOR PER-

PENGESAHAN PENDAPATAN DAN BELANJA

SATUAN UMUM

DIREKTUR JENDERAL PERBENDAHARAAN,

Menimbang : a. bahwa tata pertanggungjawaban penggunaan PNBP oleh BLU telah ditetapkan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor

Petunjuk Pelaksanaan Pengelolaan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) oleh Satuan Kerja lnstansi Pemerintah yang Menerapkan Pengelolaan Keuangan Umum (PK-BLU);

b. bahwa dalam rangka penyempurnaan ketentuan mengenai pertanggungjawaban pendapatan belanja dari Penerimaan Negara Bukan Pajak yang digunakan langsung oleh BLU, dipandang perlu mengatur kembali mengenai mekanisme pengesahan pendapatan dan belanja satuan

kerja Umum;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan

Mekanisme Pengesahan Pendapatan dan Belanja Satuan Kerja Umum;

Mengingat : I. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);

. , 2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 Perbendaharaan Negara

(Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan

Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 4355);

3. Undang-Undang Nomor 15 Tahun Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik

lndonesia Nomor 4400);

4. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 Pengelolaan Keuangan

Umum (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 2005 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 4502); 5. Peraturan Menteri Keuangan Nomor Rencana Bisnis

dan Anggaran Pelaksanaan Anggaran Umum; 6. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor

Petunjuk Pelaksanaan Pengelolaan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) oleh Satuan Kerja lnstansi Pemerintah yang Menerapkan Pengelolaan

Keuangan Umum (PK-BLU);

7. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor

Tata Cara Pengintegrasian Keuangan Umum ke

(2)

8. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor

Tata Cara Penerbitan Surat Perintah Membayar dan Surat Perintah Pencairan Dana;

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN JENDERAL PERBENDAHARAAN

PENGESAHAN PENDAPATAN DAN BELANJA SATUAN

KERJA UMUM.

BAB

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan ini, yang dimaksud dengan:

1. Umum yang selanjutnya disingkat BLU adalah instansi di lingkungan Pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat penyediaan barang danlatau jasa yang

mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip dan produktivitas.

2. Pendapatan BLU adalah hak BLU yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih yang telah diterima dalam kas BLU pada periode tahun anggaran yang bersangkutan.

3. Belanja BLU adalah kewajiban BLU yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih yang telah dibayar dari kas BLU pada periode tahun anggaran yang bersangkutan.

4. Pengguna Anggaran yang selanjutnya disingkat PA adalah pejabat yang dan bertanggung jawab penggunaan anggaran pada

Kementerian yang membawahi satker BLU

bersangkutan.

5. Kuasa Pengguna Anggaran yang selanjutnya disebut Kuasa PA adalah pejabat yang kewenangan dan tanggung jawab dari PA untuk menggunakan anggaran pada satker BLU.

6. Pejabat Surat Perintah Membayar yang selanjutnya disebut PP-SPM adalah pejabat yang diberi kewenangan oleh

PA untuk melakukan pengujian dan perintah pembayaran

belanja negara, melakukan pengujian perintah pengesahan pendapatan danlatau belanja BLU yang sumber dananya berasal dari PNBP yang digunakan langsung.

7. Surat Perintah Pengesahan Pendapatan dan Belanja BLU yang selanjutnya disebut BLU adalah surat perintah yang diterbitkan oleh PP-SPM untuk dan nama Kuasa PA kepada Kuasa Bendahara Umum Negara untuk mengesahkan pendapatan danlatau belanja BLU yang sumber dananya berasal dari PNBP yang digunakan langsung.

8. Surat Pernyataan Tanggung Jawab yang selanjutnya disingkat SPTJ adalah pemyataan tanggung jawab yang dibuat oleh Kuasa

(3)

Pendapatan dan BLU yang selanjwtnya adalah yang diterbitkan oleh Kantor

Perbendaharaan Negara (KPPN) selaku Kuasa Bendahara Umum Negara untuk mengesahkan pendapatan danlatau belanja BLU

BLU.

Komputer yang selanjutnya disingkat ADK adalah data yang tersimpan secara elektronik dalam sarana penyimpanan data antara lain

diskette,

atau compact disc (CD) yang digunakan untuk proses transfer BLU secara aplikasi di KPPN.

masyarakat, satker memperoleh pendapatan dari:

a. yang diberikan kepada masyarakat;

b. hibah tidak terikat danlatau hibah terikat yang diperoleh dari masyarakat atau lain;

c. hasil kerjasama BLU dengan pihak danlatau hasil lainnya; d. pendapatan lainnya yang sah; danlatau

e. anggaran yang berasal dari APBN.

(2) Hasil lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat huruf c adalah pendapatan jasa lembaga keuangan, hasil penjualan aset tetap, dan pendapatan sewa.

(3) Pendapatan sebagaimana dimaksud pada ayat huruf a, huruf b, huruf c, dan-huruf d, merupakan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) BLU.

PNBP BLU sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) dapat digunakan langsung untuk membiayai program dan kegiatan yang tercantum dalam Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA).

(2) PNBP yang dapat digunakan langsung oleh satker BLU adalah sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan mengenai penetapan instansi pemerintah yang menerapkan pengelolaan keuangan BLU.

BAB

Dalam rangka mempertanggungjawabkan pendapatan dan belanja yang sumber dananya berasal dari PNBP yang digunakan langsung, satker BLU mengajukan BLU ke KPPN.

(4)

BAB

RUANG

( I ) Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan ini mengatur mengenai mekanisme pengesahan pendapatan dan belanja satker BLU yang sumber dananya berasal dari PNBP yang digunakan langsung.

(2) Mekanisme gencairan anggaran yang berasal dari APBN sebagaimana dalam 2 ayat (1) huruf e, ketentuan mengenai

rnekanisme pembayaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

BAB

DAN BLU

Bagian Pertama Umum

(1) Format BLU adalah sebagaimana diatur dalam I Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan ini.

(2) BLU dibuat menggunakan aplikasi yang telah disediakan oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan.

Bagian Kedua

Pejabat Penandatangan BLU

(1) Pejabat penandatangan BLU adalah PP-SPM.

(2) Dalam penunjukan PP-SPM tahun anggaran 201 1 telah ditetapkan, PA melakukan revisi terhadap surat keputusan penunjukan PP-

SPM

dengan menambahkan kewenangan sebagai penandatangan BLU.

(3) Revisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada Kepala KPPN.

Bagian Ketiga

Petugas Pengantar BLU

(5)

(2) Dalam penunjukan petugas pengantar SPM pada satker BLU tahun anggaran 201 1 telah ditetapkan, PA melakukan revisi terhadap surat keputusan penunjukan petugas pengantar SPM dengan menambahkan untuk mengantar BLU.

(3) Revisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada Kepala KPPN.

Bagian Keempat

Penyampaian BLU

(1) Periode penyampaian BLU ke KPPN adalah triwulanan.

(2) Penyampaian BLU dapat dilakukan satu kali atau lebih dari satu kali dalam satu triwulan.

BLU disampaikan ke KPPN dilampiri:

a. Surat Pernyataan Tanggung Jawab (SPTJ) yang ditandatangani oleh Kuasa BLU dengan format sebagaimana diatur dalam

Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan ini; dan

b. ADK BLU yang dihasilkan dari aplikasi yang telah disediakan oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan.

(1) Dalam satker BLU menyampaikan BLU satu kali dalam satu triwulan, satker BLU melakukan cut off realisasi pendapatan danlatau belanja BLU sejak tiga hari kerja sebelum akhir triwulan berkenaan (ilustrasi sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan ini).

(2) Satker BLU menyampaikan BLU paling pada hari kerja terakhir triwulan berkenaan pukul 10.00 waktu setempat.

(3) Realisasi pendapatan danlatau belanja sejak cut off sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan akhir triwulan berkenaan dipertanggungjawabkan dalam penyampaian BLU triwulan berikutnya.

Pasal 13

(1) Dalam satker BLU menyampaikan BLU lebih dari satu kali dalam satu satker BLU tetap menyampaikan BLU pada akhir triwulan berkenaan sepanjang terdapat realisasi pendapatan danlatau belanja sampai dengan akhir triwulan berkenaan.

(2) Satker BLU melakukan cut off realisasi pendapatan danlatau belanja BLU terhadap BLU akhir triwulan.

(3) Cut pendapatan danlatau belanja BLU dilakukan sejak tiga hari kerja sebelum akhir triwulan berkenaan (ilustrasi sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan ini).

(6)

,

.

berkenaan 10.00 waktu setempat.

.

(5) Realisasi pendapatan belanja sejak cut off sebagaimana , dimaksud pada ayat (3) sampai dengan akhir triwulan berkenaan dipertanggungjawabkan dalam penyampaian BLU triwulan berikutnya.

. Pasal 14

(1) BLU cut off pendapatan belanja

terhadap BLU akhir triwulan IV.

(2) BLU pada akhir triwulan tahun anggaran

berkenaan, mengikuti ketentuan mengenai langkah-langkah akhir tahun anggaran.

BAB V

DAN BLU

( I ) KPPN menerbitkan BLU berdasarkan BLU yang diajukan oleh satker BLU.

(2) BLU sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan dilakukan pengujian terhadap BLU.

(3) Pengujian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi:

,

.

.

a. memeriksa kelengkapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11;

b. memeriksa kesesuaian kode dana

dengan DlPA BLU;

c. memeriksa kebenaran dalam penulisan, termasuk tidak boleh terdapat cacat dalam penulisan;

-

d. mencocokkan pada, BLU dengan spesimen tanda

, e. memeriksa jumlah belanja BLU tidak melebihi

lanja sesuai yang telah ditetapkan dalam DlPA BLU. memeriksa kesesuaian pencanturnan pendapatan dan belanja pada

BLU dengan SPTJ; dan

'mencocokkan tanda Kuasa BLU pada SPTJ

dengan spesimen tanda

Format BLU adalah sebagaimana diatur dalam n Direktur Jenderal Perbendaharaan ini.

(7)

(1) Petugas pengambil BLU adalah petugas pengambil pada satker BLU.

(2) Dalam penunjukan petugas pengambil satker BLU tahun anggaran 201 1 telah ditetapkan, PA melakukan revisi terhadap surat keputusan penunjukan petugas pengambil dengan menambahkan untuk mengambil BLU.

(3) Revisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada Kepala KPPN.

Pasal 17

(1) Dalam terjadi kesalahan pada BLU, satker BLU mengajukan ralat BLU ke KPPN.

(2) Kesalahan BLU dapat berupa kesalahan administrasi

kesalahan pencantuman jumlah nominal pendapatan belanja

BLU.

(3) Kesalahan administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah kesalahan pencantuman kegiatan, output, jenis belanja, dan akun.

(4) Pengajuan ralat BLU dilampiri:

a. Fotokopi BLU yang akan diralat;

b. Surat Pernyataan Tanggung Jawab (SPTJ) yang ditandatangani oleh

Kuasa BLU dengan format sebagaimana diatur dalam

Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan ini;

c. ADK dan hard copy ralat BLU yang dihasilkan dari aplikasi yang

telah disediakan oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan;

d. penjelasan penyebab terjadinya kesalahan yang ditandatangani Kuasa

BLU (format sebagaimana diatur dalam V

Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan ini).

Pasal 18

KPPN menerbitkan ralat BLU berdasarkan ralat BLU

melakukan:

a. pemeriksaan kelengkapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal

17 ayat (4);

b. pengujian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (3) terhadap ralat BLU; dan

c. pencocokan tanda Kuasa BLU pada

(8)

BAB KETENTUAN

Pasal

realisasi pendapatan belanja yang sumber

dananya berasal dari PNBP yang digunakan langsung oleh BLU, sejak

1 Januari 2011 sampai dengan cut off periode triwulan I tahun 2011, disampaikan ke KPPN paling 30 (tiga puluh) hari Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan ini ditetapkan.

(2) Dalam akhir penyampaian BLU sebagaimana dimaksud pada ayat (1) jatuh pada hari libur, maka BLU disampaikan ke KPPN pada kerja sebelumnya.

(3) Dalam satker BLU telah menyampaikan SPM Pengesahan triwulan I tahun anggaran 201 1, dan telah diterbitkan Pengesahannya oleh KPPN, maka satker BLU wajib melakukan pencetakan ulang SPM

Pengesahan triwulan I sesuai BLU menggunakan

aplikasi yang telah disediakan oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan.

(4) Satker BLU menyampaikan BLU sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada KPPN dilampiri ADK.

(5) KPPN mencetak BLU berdasarkan BLU yang diterima, mengggantikan Pengesahan yang telah diterbitkan sebagaimana dimaksud pada ayat (3).

(6) BLU sebagaimana dimaksud pada ayat disampaikan ke KPPN paling 30 (tiga puluh) hari kalender Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan ini ditetapkan.

(7) Dalam akhir penyampaian pencetakan ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (6) jatuh pada hari libur, maka penyampaian ke KPPN dilakukan pada hari kerja sebelumnya.

BAB

KETENTUAN N

Tata cara mengenai:

a. penyampaian surat keputusan penunjukan pejabat perbendaharaan untuk tahun anggaran berikutnya ke KPPN;

b. tata cara penyampaian SPM dan pengambilan c. penunjukan petugas pengantar SPM dan pengambil

d. penyampaian surat keputusan penunjukan petugas pengantar SPM dan pengambil

e. penerimaan SPM di KPPN; dan

(9)

.

.

.

. ,

,

. diatwr dalam Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Tata Cara Penerbitan Surat Perintah .. Membayar dan Surat Perintah Pencairan Dana, berlaku

terhadap tata cara mengenai:

penyampaian surat pejabat yang

bertanggungjawab terhadap realisasi pendapatan belanja yang

- -

~umber dananya berasal dari PNBP yang digunakan langsung BLU

.

.

untuk tahun anggaran berikutnya ke KPPN;

.

. .

b. tata

penyampaian BLU dan pengambilan BLU;

...

c. penunjukkan petugas pengantar BLU dan Pengambil BLU; d. penyampaian surat keputusan petugas pengantar BLU

dan pengambil BLU;

e. penerimaan BLU di KPPN; dan

f. BLU.

Pada saat Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan ini ditetapkan, maka: a. nama dan format SPM Pengesahan dan Pengesahan BLU

sebagaimana diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor Pengintegrasian Keuangan Umum ke dalam Keuangan Kementerian baga;

b. akhir penyampaian SPM Pengesahan dan format SPTJ sebagaimana diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor

Petunjuk Pelaksanaan Pengelolaan PNBP oleh Saturan Kerja lnstansi Pemerintah yang Menerapkan PK BLU; dan

c. ketentuan lain yang bertentangan dengan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan ini, dinyatakan tidak berlaku.

BAB

KETENTUAN PENUTUP

Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan ini mulai berlaku pada

ditetapkan.

(10)

I

PERATURAN JENDERAL

NOMOR PER-

PENGESAHAN PENDAPATAN DAN SATUAN

KERJA UMUM

SURAT PENGESAHAN PENDAPATAN DAN BELANJA BLU

(02) Nomor: (03)

1. Saldo Awal Rp

Rp

...

Rp

4. Saldo Akhir Rp

Fungsi, Subfungsi, BA, Unit Eselon I, Program

Kegiatan, Output, Lokasi

(14) Sumber Dana

Jumlah Belanja

Kepada : Bendahara Umum Negara untuk dibukukan seperlunya

Yaitu

(23)

...

, seperti diatas Kuasa Pengguna Anggaran Pejabat Penandatangan SPM

... ...

(17)

(18) Jumlah Pendapatan

...

(20)

...

(11)

PETUNJUK SURAT PENGESAHAN PENDAPATAN DAN

Diisi uraian KPPN Pembayar, diikuti dengan kode KPPN

Diisi jumlah:

a. Saldo akhir pada BLU triwulan IV tahun anggaran sebelumnya untuk BLU yang diajukan pertama kali pada tahun anggaran berkenaan; atau

b. Saldo akhir pada BLU sebelumnya untuk pengajuan BLU pengajuan BLU dimaksud huruf a

Diisi jumlah pendapatan yang telah diterima dalam kas BLU

Diisi jumlah belanja yang telah dibayar dari kas BLU

Diisi jumlah saldo akhir (saldo awal + pendapatan

-

belanja)

Diisi Periode: Triwulan

Diisi Tahun Anggaran berkenaan

Diisi dasar penerbitan BLU, antara lain, Nomor Undang-undang serta

Nomor dan BLU

Diisi kode satuan kerja digit), jenis kewenangan (dua digit) sesuai jenis kewenangan, yaitu KP untuk Kantor dan KD untuk Kantor Daerah, serta uraian nama satuan kerja

Diisi kode Fungsi, Sub Fungsi, Bagian Anggaran, Unit Eselon I, Program

Diisi kode program (dua digit) Diisi kode unit eselon I (dua digit)

Diisi kode Bagian Anggaran (tiga digit)

Disi kode sub fungsi (dua digit) Diisi kode fungsi (dua digit)

Kegiatan, Output, Lokasi

Diisi kode lokasi digit)

Diisi kode output (dua digit)

Diisi kode kegiatan digit)

(12)

(16) Diisi kode akun

(17) jumlah nominal rupiah untuk tiap akun belanja

(18) Diisi jumlah nominal rupiah untuk belanja (19) Diisi kode akun pendapatan

(20)

(21)

(22)

(23)

(24)

(25)

Diisi jumlah nominal rupiah untuk akun pendapatan

Diisi jumlah nominal rupiah untuk seluruh pendapatan

a. Satker BLU yang menyampaikan BLU satu kali dalam satu triwulan, diisi dengan

uraian: ,.-

pendapatan belanja BLU triwulan tahun anggaran I--

* &

b. Satker BLU yang menyampaikan BLU dari satu kali dalam satu triwulan, diisi dengan uraian:

.

"Pengesahan pendapatan belanja BLU triwulan

tahun anggaran

c. Dalam satker BLU menyampaikan ralat BLU, diisi dengan uraian:

"Ralat BLU pengesahan . pendapatan danlatau

belanja triwulan tahun anggaran sebagaimana telah tercantum

pada BLU Nomor yang telah diterbitkan BLU

Nomor.. Tanggal..

d. Dalam satker BLU menyampaikan BLU untuk pengesahan pendapatan

danlatau belanja BLU sejak 1 januari 2011 sampai cut off periode triwulan I tahun anggaran 201 diisi dengan uraian:

"Pengesahan pendapatan belanja BLU triwulan pertama tahun anggaran 201 1

dalam BLU disampaikan satu kali dalam satu triwulan.

Diisi lokasi instansi penerbit BLU dan penerbitan BLU

Diisi nama pejabat penandatangan SPM

(13)

PERATURAN JENDERAL PERBENDAHARAAN

NOMOR PER- 30

PENGESAHAN PENDAPATAN DAN BELANJA SATUAN

KERJA UMUM

SURAT PERNYATAAN TANGGUNG JAWAB

Nomor..

Yang bertandatangan di bawah ini Kuasa Pengguna BLU

menyatakan bahwa saya bertanggung jawab penuh

...

(1 0). Dengan rincian sebagai berikut:

Bukti-bukti pendapatan danlatau belanja di disimpan sesuai ketentuan yang berlaku

untuk kelengkapan administrasi dan keperluan pemeriksaan aparat pengawas fungsional.

Apabila di kemudian hari kerugian negara akibat terbitnya BLU ini, saya

bersedia bertanggungjawab sepenuhnya kerugian negara dimaksud dan dapat dituntut

penggantian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

BELANJA

Demikian Surat Pernyataan dibuat dengan sebenarnya.

(14)

TATA CARA SURAT PERNYATAAN TANGGUNG JAWAB (SPTJ)

sumber dananya berasal dari PNBP yang digunakan langsung, diisi dengan:

"segala realisasi pendapatan yang telah diterima danlatau belanja yang telah dibayar kepada yang berhak menerima, yang sumber dananya berasal dari PNBP yang

(1

(12)

(13)

(14)

(15)

(16)

(17)

(18)

digunakan langsung oleh BLU pada triwulan tahun anggaran sebagaimana yang tercantum dalam BLU Nomor:

b. Uraian SPTJ untuk ralat BLU, diisi dengan:

realisasi pendapatan yang telah diterima belanja yang telah dibayar kepada yang berhak menerima, yang sumber dananya berasal dari PNBP

yang digunakan langsung oleh BLU pada triwulan tahun anggaran

sebagaimana yang tercantum dalam BLU Nomor:

yang merupakan ralat dan BLU Nomor:

2. "Kebenaran pencantuman kodeluraian.. jumlah nominal pendapatan danlatau belanja PNBP yang digunakan langsung oleh BLU, dalam

rangka ralat terhadap BLU Nomor: tanggal..

Diisi kode akun belanja

Diisi jumlah nominal rupiah untuk tiap akun belanja Diisi jumlah nominal rupiah untuk seluruh belanja Diisi kode akun pendapatan

Diisi jumlah nominal rupiah untuk tiap akun pendapatan

Diisi jumlah nominal rupiah untuk seluruh pendapatan

Diisi dan diterbitkannya SPTJ BLU

(15)

PERATURAN JENDERAL PERBENDAHARAAN NOMOR PER-

PENGESAHAN PENDAPATAN DAN BELANJA SATUAN

KERJA UMUM.

PENGAJUAN BLU BESERTA PENETAPAN CUT OFF UNTUK TA 2011

1. Penyampaian BLU ke KPPN adalah triwulanan, sebagaimana berikut:

a. Triwulan I adalah untuk realisasi pendapatan dan belanja mulai 1

27 Maret 201 1. Cut off triwulan I adalah 28 Maret 201 1 (3 hari kerja sebelum akhir triwulan I)

b. Triwulan adalah untuk realisasi pendapatan dan belanja sejak cut I , yaitu

28 Maret 201 1 23 Juni 201 1. Cut off triwulan adalah 24 Juni 201 1

(3 hari kerja sebelum akhir triwulan

c. Triwulan adalah untuk realisasi pendapatan dan belanja sejak cut off triwulan yaitu

24 Juni 201 1 26 September 201 1. Cut off triwulan adalah 27

September 201 1 (3 hari kerja sebelum akhir triwulan

d. Triwulan adalah untuk realisasi pendapatan dan belanja sejak cut off triwulan yaitu

27 September 201 1 31 Desember 201 1.

2. Contoh satker BLU yang menyampaikan BLU satu kali dalam satu triwulan:

a. Pengajuan BLU Triwulan I adalah mulai 28, 29, 30, dan paling

31 Maret 201 1 pada pukul 10.00 waktu setempat.

b. Pengajuan BLU Triwulan adalah mulai 24, 27, 28, dan paling

30 Juni 201 1 pada pukul 10.00 waktu setempat.

c. Pengajuan BLU Triwulan adalah mulai 27, 28, 29, dan paling

30 September 201 1 pada pukul 10.00 waktu setempat.

d. Pengajuan BLU Triwulan mengikuti ketentuan mengenai langkah-langkah

menghadapi akhir tahun anggaran.

3. Contoh satker BLU yang menyampaikan BLU lebih dari satu kali dalam satu triwulan:

a. Pada triwulan BLU pertama diajukan pada 29 Juli 201 1 untuk realisasi

sejak cut off pada triwulan yaitu 24 Juni 201 1 sampai dengan realisasi

pendapatan danlatau belanja yang dipertanggungjawabkan dalam dimaksud

(misalkan 28 Juli 201

b. Satker BLU menyampaikan BLU kedua pada 25 Agustus 2011 untuk

realisasi sejak 29 Juli 2011 sampai dengan realisasi pendapatan danlatau

belanja yang dipertanggungjawabkan dalam dimaksud (misalnya 24

Agustus 201 1).

c. Dalam sampai dengan cut off triwulan (27 September 2011) masih terdapat

realisasi pendapatan belanja, maka satker BLU menyampaikan BLU

ketiga dengan ketentuan sebagai berikut:

BLU yang ketiga merupakan pertanggungjawaban realisasi pendapatan

danlatau belanja sejak 25 Agustus 201 1 26 September 201 1.

2) Pengajuan BLU yang ketiga adalah mulai 27, 28, 29, dan paling

30 September 201

3) Realisasi pendapatan danlatau belanja 27, 28, 29, dan 30 September 2011

(16)

mpai dengan cut 27 September 201 tidak terdapat

realisasi pendapatan belanja, maka satker BLU tidak menyampaikan

ketiga.

BLU pertama pada triwulan adalah realisasi pendapatan dan

sejak cut off 27 September 2011) realisasi yang akan

dipertanggungjawabkan pada BLU berikutnya.

.

. .

. .

.

, -

. "a- ,

. .

.

.

,

. ,

.

. .

.+ , -%-. .

. , .

.

.

.

. .

(17)
(18)
(19)
(20)

Referensi

Dokumen terkait

UKM Toko Trisaldi dibangun atas nama milik pribadi tanpa ada hubungan dengan usaha menengah sehingga dapat disebut sebagai usaha kecil, Sebagaimana yang dikemukakan

Metode penelitian yang penulis gunakan adalah metode fishbone analysis, dimana fishbone analysis digunakan untuk menganalisa dari permasalahan, digunakan juga untuk pembahasan

Beberapa peran yang dapat dilaku kan oleh Akademisi dan generasi muda dala m me mbendung pengaruh budaya negatif dala m kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan

Struktur Pengendalian Internal (internal control structure) terdiri dari kebijakan dan procedure yang dibuat untuk memberikan tingkat jaminan yang wajar atas

diharapkan para siswa tidak asing dengan fisika dan siapa tahu hal itu juga Pintar Yogya telah berusaha memasukkan sains yang semakin dirasakan relevan bagi d. Latihan akhir

Berdasarkan ketentuan Pasal 14 Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2000 tentang Usaha dan Peran Masyarakat Jasa Konstruksi, Badan Usaha Nasional yang

In 2011, SMSM has added its production capacity, from previously 1.2 million pcs per year to 1.95 million pcs per year for radiators product (up by 62.5%), and from

mengikuti seluruh ketentuan seperti ditetapkan dalam Diktum - diktum tersebut diatas, sambil menunggu perubahan dimaksud supaya dilakukan perubahan terhadap Keputusan