Journal Of Midwifery Senior e-ISSN 2621-2627 Volume 3 Nomor 1: Agustus 2020
31
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ibu Dalam Melakukan Kunjungan
Antenatal Care (Anc) Pada Masa Kehamilan Di Wilayah Kerja
Puskesmas Kenangan Deli Serdang Tahun 2019
Nurbaiti Br. Singarimbun1*Program Studi DIII Kebidanan
1Sekolah Tingi Ilmu Kesehatan (STIKes) Senior Medan
ABSTRACT
Pregnancy screening is also a test conducted by pregnant women both physically and mentally as well as saving mothers and children in pregnancy, childbirth, time of Nifas, so that the state of post partum healthy and normal, not only physical but also mental. This study aims to determine the factors affecting mothers in conducting Antenatal Care (ANC) visits during pregnancy. The research design used is crossectional. The population of the study was the third trimester pregnant mother who checked her pregnancy at the kenangan public health center in April-July 2019. Research samples of 70 pregnant mothers using Accidental Sampling. Data collection is done using primary and secondary data. Data processing starts from editing, coding, processing and cleaning. Data analysis starts from the univariate and bivariate with the Chi Square test test. The results showed that there was an age relationship of expectant mothers (p = 0.000), media information (p = 0.007), knowledge of pregnant mothers (p = 0.001), education of pregnant women (p = 0.001), husband support (p = 0.000) with the ANC visit during pregnancy. There is no parity relationship with expectant mothers with ANC visits during pregnancy (p = 0.273). It is hoped that the expectant mother can make a visit to the health ministry so that pregnant women can know the condition or state of their health during pregnancy.
Keywords: Factors affecting ANC's Visit.
ABSTRAK
Pemeriksaan kehamilan juga merupakan pemeriksaan yang dilakukan oleh ibu hamil baik fisik dan mental serta menyelamatkan ibu dan anak dalam kehamilan, persalinan, masa nifas, sehingga keadaan post partum sehat dan normal, tidak hanya fisik tetapi juga mental. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Faktor – faktor yang mempengaruhi ibu dalam melakukan kunjungan Antenatal Care (ANC) pada masa kehamilan. Desain penelitian yang digunakan adalah crossectional. Populasi penelitian adalah ibu hamil trimester ke tiga yang memeriksakan kehamilannya di Puskesmas Kenangan pada bulan April-Juli 2019. Sampel penelitian sebanyak 70 orang ibu hamil dengan menggunakan Accidental Sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data primer dan sekunder. Pengolahan data dimulai dari editing, coding, processing dan cleaning. Analisis data dimulai dari univariat dan bivariat dengan uji chi square test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan umur ibu hamil (p = 0,000), media informasi (p = 0,007), pengetahuan ibu hamil (p = 0,001), pendidikan ibu hamil (p = 0,001), dukungan suami (p = 0,000) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan. Tidak ada hubungan paritas ibu hamil dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan (p = 0,273). Dengan demikian diharapkan kepada ibu hamil agar dapat melakukan kunjungan ketempat pelayanan kesehatan sehingga ibu hamil dapat mengetahui kondisi atau keadaan kesehatannya selama kehamilan.
Volume 3 Nomor 1: Agustus 2020
32
PENDAHULUANAngka Kematian Ibu (AKI) masih menjadi isu strategis di Indonesia sampai saat ini. Hal ini dibuktikan dengan AKI di Indonesia yang masih tetap tinggi. Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2015 AKI sebesar 305 per 100.000 kelahiran hidup. AKI tersebut masih sangat jauh dari target kelima Millenium Development Goals (MDGs), yaitu pada tahun 2015 sebesar 102 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Target penurunan AKI ini masih tetap dijadikan sebagai target Sustainable Development Goals (SDGs) sebesar 70 per 100.000 kelahiran hidup yang harus dicapai pada tahun 2030 mendatang (Kemenkes, 2015).
Upaya pemerintah dalam penurunan Angka Kematian Ibu(AKI) dengan program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dimanaprogram Antenatal Care (ANC) salah satunya. Antenatal Care (ANC) merupakan pelayanan pemeriksaan kesehatan rutin ibu hamil untuk mendiagnosis komplikasi obstetri serta untuk memberikan informasi tentang gaya hidup, kehamilan dan persalinan (Backe et al, 2015).
Kunjungan ANC merupakan kunjungan yang dilakukan oleh setiap ibu pada saat hamil ke dokter ataupun ke bidan yang dilakukan sedini mungkin pada saat dia merasakan bahwa dirinya sedang hamil untuk mendapatkan pelayanan atau asuhan antenatal. Petugas kesehatan diharapkan untuk mengumpulkan serta menganalisis data pada saat dilakukan kunjungan antenatal tentang kondisi ibu hamil tersebut dengan cara melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik untuk dapat menegakkan diagnosis kehamilan intrauterine, serta ada tidaknya penyulit atau komplikasi yang terjadi pada saat kehamilan (Wundashary, 2016).
Setiap ibu hamil sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan ANC komprehensif yang berkualitas minimal 4 kali yaitu, minimal 1 kali pada trimester pertama (sebelum usia kehamilan 16 minggu), minimal 1 kali pada trimester kedua (usia kehamilan 24-28 minggu) dan minimal 2 kali pada trimester ketiga (antara minggu ke 30-32 dan antara minggu ke 36-38) termasuk minimal 1 kali kunjungan diantar suami atau anggota keluarga. Kunjungan pertama ANC sangat
dianjurkan pada usia kehamilan 8-12 minggu (Backe et al, 2015; Kemenkes RI, 2016).
Cakupan kunjungan ibu hamil K4 di Indonesia pada tahun 2016 ialah sebesar 85,35%. Cakupan tertinggi terdapat di Provinsi Sumatera Selatan (97,78%), sedangkan yang terendah ialah di Provinsi Maluku Utara (21,00%). Cakupan di Provinsi Sumatera Utara pada kurun waktu yang sama ialah 84,78%. Cakupan ini telah memenuhi target Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kesehatan sebesar 74% (Kemenkes RI, 2016).
Berdasarkan Data Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara tahun 2017, cakupan pelayanan K4 ibu hamil sebesar 87,09%, angka ini belum mencapai target yang ditetapkan dalam Renstra Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara sebesar 95%. Kabupaten/Kota dengan pencapaian tertinggi adalah Deli Serdang (96,51%), Tapanuli Selatan (96,02%) dan Tapanuli Tengah (94,73%), sedangkan kabupaten/kota dengan capaian terendah adalah Nias Selatan (51,68%), Gunungsitoli (60,85%) dan Nias Barat (63,93%).
Puskesmas Kenangan sebagai salah satu unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Daerah Deli Serdang yang memiliki kewajiban untuk melaksanakan pembangunan kesehatan, salah satunya memberikan pelayanan Antenatal Care (ANC). Berdasarkan laporan tahunan Puskesmas Kenangan tahun 2018, cakupan pelayanan K1 sebesar 91,50% dan cakupan pelayanan k4 sebesar 90%. Dan cakupan tersebut belum mencapai standar cakupan ANC yang diharapkan, yaitu K1 sebesar 95% dan K4 sebesar 95% (Profil Puskesmas Kenangan, 2018).
Berdasarkan survey awal yang peneliti lakukan di wilayah kerja Puskesmas Kenangan Deli Serdang diperoleh informasi dari 7 orang ibu hamil yang saat itu sedang memeriksakan kehamilannya, 3 di antaranya rutin melakukan pemeriksaan ANC tiap bulan ke bidan dan Puskesmas, dan 4 orang lagi memeriksakan kehamilan jika ada keluhan saja, tidak teratur, tidak mengetahui standar kunjungan pelayanan ANC yang benar, dan kontak pertama dengan tenaga kesehatan pada awal trimester dua dengan alasan tidak tahu bahwa dirinya hamil, malas ke pelayanan kesehatan sebelum yakin dirinya hamil, karena menurut mereka takut untuk cepat mengambil kesimpulan dirinya hamil sebelum merasa yakin benar-benar hamil seperti
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ibu Dalam Melakukan Kunjungan Antenatal Care (Anc) Pada Masa Kehamilan Di Wilayah Kerja Puskesmas Kenangan Deli Serdang Tahun 2019
33
kehamilannya sudah mulai terlihat dan cukup besar, ada yang mengatakan karena tidak ada yang mengantarkan, dan ada juga yang mengatakan kehamilan itu hal yang wajar, pengalaman hamil sebelumnya aman-aman saja.
Dari data yang ada dapat di tarik kesimpulan bahwa masyarakat di wilayah kerja Puskesmas kenangan Deli Serdang masih banyak yang belum memanfaatkan pelayanan Antenatal Care (ANC), sehingga peneliti tertarik mengangkat penelitian untuk mengetahui faktor – faktoryang mempengaruhi ibu dalam melakukan kunjungan Antenatal Care (ANC) pada masa kehamilan di wilayah kerja Puskesmas Kenangan Deli Serdang.
METODOLOGI
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional, yaitu dengan cara pengumpulan data sekaligus pada suatu waktu dengan tujuan untuk mencari Faktor-faktor yang mempengaruhi ibu dalam melakukan kunjungan Antenatal Care (ANC) pada masa
kehamilan.Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan April sampai Juli tahun 2019 di Puskesmas Kenangan Deli Serdang Tahun 2019 yang berlokasi di Jln.Tiung Raya, Perumnas Mandala Deli Serdang.
Populasi pada penelitian ini adalah ibu hamil trimester ke tiga yang memeriksakan kehamilannya di Puskesmas Kenangan pada bulan April-Juli 2019 sebanyak 95 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan Accidental Sampling. Menurut Sugiyono (2009), Accidental Sampling adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu ibu hamil trimester ke tiga yang secara kebetulan /incidental bertemu dengan peneliti saat memeriksakan kehamilannya dapat digunakan sebagai sampel sebanyak 70 orang. . Uji yang digunakan adalah uji Chi Square dengan menggunakan derajat kepercayaan 95% untuk melihat ada tidaknya hubungan diantara kedua variabel .
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis Bivariat
Tabel 1. Tabulasi Silang Hubungan Umur Dengan Kunjungan ANC Pada Masa Kehamilan Di Puskesmas KenanganDeli Serdang Tahun 2019
Umur
Kunjungan ANC Pada Masa
Kehamilan Total
p value
Kurang baik Baik
N % N % n % Beresiko (≤20 tahun/>35 tahun) 37 84,1 7 15,9 44 100 0,000 Tidak beresiko (20-35 tahun) 6 23,1 20 76,9 26 100 Total 43 61,4 27 38,6 70 100
Tabel 1 menunjukkan bahwa dari 44 orang ibu hamil yang berumur (≤20/35 tahun) terdapat 37 orang (84,1%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan kurang baik dan 7 orang (15,9%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan yang baik. Sedangkan dari 26 orang ibu hamil yang berumur (20-35 tahun) terdapat 6 orang (23,1%) dengan kunjungan
ANC pada masa kehamilan kurang baik dan 20 orang (76,9%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan yang baik. Hasil uji statistik diperoleh nilai p= 0,000 artinya bahwa ada hubungan umur ibu hamil dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan.
34
Tabel 2. Tabulasi Silang Hubungan Pendidikan Dengan Kunjungan ANC Pada Masa Kehamilan Di Puskesmas KenanganDeli Serdang Tahun 2019
Pendidikan
Kunjungan ANC Pada Masa
Kehamilan Total
p value
Kurang baik Baik
N % N % n %
Rendah (SD,SMP) 35 76,1 11 23,9 46 100
0,001
Tinggi (SMA/D3/S1) 8 33,3 16 66,7 24 100
Total 43 61,4 27 38,6 70 100
Tabel 2 menunjukkan bahwa dari 46 orang ibu hamil yang berpendidikan rendah (SD,SMP) terdapat 35 orang (76,1%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan kurang baik dan 11 orang (23,9%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan yang baik. Sedangkan dari 24 orang ibu hamil yang berpendidikan tinggi (SMA/D3/S1) terdapat 8 orang (33,3%) dengan kunjungan ANC pada
masa kehamilan kurang baik dan 16 orang (66,9%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan yang baik.. Hasil uji statistik diperoleh nilai p= 0,001 artinya bahwa ada hubungan pendidikan ibu hamil dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan.
Tabel 3 Tabulasi Silang Hubungan Pengetahuan Dengan Kunjungan ANC Pada Masa Kehamilan Di Puskesmas KenanganDeli Serdang Tahun 2019
Pengetahuan
Kunjungan ANC Pada Masa
Kehamilan Total
p value
Kurang baik Baik
N % n % n %
Kurang baik 33 78,6 9 21,4 42 100
0,001 Baik 10 35,7 18 64,3 28 100
Total 43 61,4 27 38,6 70 100
Tabel 3 menunjukkan bahwa dari 42 orang ibu hamil yang berpengetahuan kurang baik terdapat 33 orang (78,6%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan kurang baik dan 9 orang (21,4%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan yang baik. Sedangkan dari 28 orang ibu hamil yang berpengetahuan baik terdapat 10 orang (35,7%) dengan kunjungan ANC pada masa
kehamilan kurang baik dan 18 orang (64,3%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan yang baik. Hasil uji statistik diperoleh nilai p= 0,001 artinya bahwa ada hubungan pengetahuan ibu hamil dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan
Tabel 4 Tabulasi Silang Hubungan Paritas Dengan Kunjungan ANC Pada Masa Kehamilan Di Puskesmas KenanganDeli Serdang Tahun 2019
Paritas
Kunjungan ANC Pada Masa
Kehamilan Total
p value
Kurang baik Baik
N % n % n %
Beresiko (≥4 orang) 23 69,7 10 30,3 33 100
0,273
Tidak beresiko <4 orang 20 54,1 17 45,9 37 100
Total 43 61,4 27 38,6 70 100
Tabel 4 menunjukkan bahwa dari 33 orang ibu hamil dengan paritas ≥4 orang terdapat 23 orang (69,7%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan kurang baik dan 10 orang (30,3%) dengan kunjungan ANC
pada masa kehamilan yang baik. Sedangkan dari 37 orang ibu hamil dengan paritas <4 orang terdapat 20 orang (54,1%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan kurang baik dan 17 orang (45,9%) dengan kunjungan
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ibu Dalam Melakukan Kunjungan Antenatal Care (Anc) Pada Masa Kehamilan Di Wilayah Kerja Puskesmas Kenangan Deli Serdang Tahun 2019
35
ANC pada masa kehamilan yang baik. Hasil uji statistik diperoleh nilai p= 0,273 artinya bahwa tidak ada hubungan paritas ibu hamil
dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan.
Tabel 5 Tabulasi Silang Hubungan Media Informasi Dengan Kunjungan ANC Pada Masa Kehamilan Di Puskesmas KenanganDeli Serdang Tahun 2019
Media Informasi
Kunjungan ANC Pada Masa
Kehamilan Total
p value
Kurang baik Baik
N % N % n %
Tidak memperoleh informasi 34 73,9 12 26,1 46 100
0,007
Memperoleh informasi 9 37,5 15 62,5 24 100
Total 43 61,4 27 38,6 70 100
Tabel 5 menunjukkan bahwa dari 46 orang ibu hamil yang tidak memperoleh informasi terdapat 34 orang (73,9%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan kurang baik dan 12 orang (26,1%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan yang baik. Sedangkan dari 24 orang ibu hamil dengan paritas <4 orang terdapat 9 orang (37,5%)
dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan kurang baik dan 15 orang (62,5%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan yang baik. Hasil uji statistik diperoleh nilai p= 0,007 artinya bahwa ada hubungan media informasi dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan.
Tabel 6 Tabulasi Silang Hubungan Dukungan Suami Dengan Kunjungan ANC Pada Masa Kehamilan Di Puskesmas KenanganDeli Serdang Tahun 2019
Dukungan Suami/keluarga
Kunjungan ANC Pada Masa
Kehamilan Total
p value
Kurang baik Baik
N % N % n %
Tidak ada dukungan 39 86,7 6 13,3 45 100
0,000
Ada dukungan 4 16 21 84 25 100
Total 43 61,4 27 38,6 70 100
Tabel 6 menunjukkan bahwa dari 45 orang ibu hamil yang tidak mendapat dukungan dari suami/keluarga terdapat 39 orang (86,7%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan kurang baik dan 6 orang (13,3%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan yang baik. Sedangkan dari 84 orang ibu hamil yang mendapat dukungan dari suami/keluarga terdapat 4 orang (16%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan kurang baik dan 21 orang (84%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan yang baik. Hasil uji statistik diperoleh nilai p= 0,000 artinya bahwa ada hubungan dukungan suami/keluarga dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan.
1. Hubungan Umur Dengan Kunjungan ANC Pada Masa Kehamilan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan umur ibu hamil dengan
kunjungan ANC pada masa kehamilan (p= 0,000). Hal ini sejalan dengan penelitian (Ginting, 2019) tentang faktor- faktor yang memengaruhi ketidak lengkapan kunjungan antenatal care pada ibu hamil, menunjukkan bahwa ada hubungan umur ibu hamil dengan ketidaklengkapan ANC pada ibu hamil (p= 0,049).
Secara teori yang dikemukakan oleh Notoadmodjo pada Irianti (2017), semakin bertambah usia ibu, semakin bertambah pula tingkat kematangan dan kekuatan seseorang dalam berpikir dan bekerja. Namun faktor usia bukanlah faktor satu-satunya yang berpengaruh dengan pemeriksaan kehamilan. Meskipun usia ibu bertambah, namun apabila tidak diikuti dengan kenaikan tingkat pendidikan hanya akan membuat ibu semakin kesulitan memperoleh informasi. Ibu yang berpendidikan rendah akan bersikap lebih acuh dan tidak memahami pentingnya memeriksakan kehamilannya.
36
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa dari 44 orang ibu hamil yang berumur (≤20/35 tahun) terdapat 37 orang (84,1%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan kurang baik dan 7 orang (15,9%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan yang baik. Sedangkan dari 26 orang ibu hamil yang berumur (20-35 tahun) terdapat 6 orang (23,1%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan kurang baik dan 20 orang (76,9%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan yang baik. Hal ini berarti bahwa sebagian dari ibu hamil tidak mempunyai pemahaman dan pengalaman melahirkan sebelumnya sehingga mereka tidak melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan, selain itu karena usia ibu hamil yang masih mudah dimana masih terdapat usia (≤20 tahun) atau ibu hamil pertama kali melahirkan dan tidak mempunyai pengalaman dalam melakukan pemeriksaan kehamilan maka hal ini dapat mempengaruhi kunjungan untuk melakukan antentatal care masih kurang baik, sementara pada usia ibu hamil > 35 tahun tidak melakukan kunjungan antenatal care hal ini dapat terjadi karena ibu hamil pada usia tersebut sudah memiliki pengalaman melahirkan sebelumnya dan tidak mengalami masalah dalam menjalani persalinan sehingga mereka mengganggap bahwa tidak begitu penting untuk melakukan pemeriksaan kehamilan,
Dari (37,1%) umur ibu hamil 20-35 tahun dan tidak melakukan kunjungan antenatal care yang kurang baik, ini dapat terjadi karena sebagian dari ibu hamil menganggap bahwa pada usia tersebut juga tidak perlu melakukan pemeriksaan kehamilan jika tidak mengalami masalah seperti pada pengalaman melahirkan sebelumnya, hal ini juga dapat dilihat dari hasil penelitian bahwa masih banyak ibu usia 20-35 tahun yang tidak melakukan kunjungan antenatal care yang lengkap, melihat keadaan mereka menghadapi persalinan sebelumnya tidak mengalami masalah serta tidak melakukan kunjuangan antenatal care yang lengkap maka hal ini dapat mempengaruhi ibu hamil tersebut tidak melakukan kunjuangan antenatal care yang baik.
2. Hubungan Pendidikan Dengan
Kunjungan ANC Pada Masa Kehamilan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa ada hubungan pendidikan ibu hamil dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan (p= 0,001). Hal ini sejalan dengan penelitian (Ginting, 2019) tentang faktor- faktor yang mempengaruhi ketidak lengkapan kunjungan antenatal care pada ibu hamil, menunjukkan bahwa ada hubungan pendidikan ibu hamil dengan ketidaklengkapan ANC pada ibu hamil (p= 0,018).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 46 orang ibu hamil yang berpendidikan rendah (SD,SMP) terdapat 35 orang (76,1%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan kurang baik dan 11 orang (23,9%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan yang baik. Sedangkan dari 24 orang ibu hamil yang berpendidikan tinggi (SMA/D3/S1) terdapat 8 orang (33,3%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan kurang baik dan 16 orang (66,9%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan yang baik. Hal ini berarti bahwa dengan pendidikan mereka yang rendah maka dapat mempengaruhi pengetahuan mereka tentang pemeriksaan kehamilan menjadi kurang sehingga tidak melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan ditempat pelayanan kesehatan. Rendahnya pendidikan mereka dapat terjadi karena biaya yang dibutuhkan selama masa sekolah cukup besar membuat mereka tidak mau melanjutkan pendidikan mereka sehingga sebagian diantara mereka ada yang berpendidikan yang rendah dan hal inilah yang mempengaruhi pengetahuan mereka tentang sesuatu seperti halnya pengetahuan tentang pemeriksaan kehamilan menjadi kurang
Wanita yang berpendidikan akan lebih terbuka terhadap ide-ide baru dan perubahan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang proposional karena manfaat pelayanan kesehatan akan mereka sadari sepenuhnya. Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan. Pendidikan di Indonesia mengenal tiga jenjang pendidikan, yaitu pendidikan dasar (SD/MI/Paket A dan SLTP/MTs/Paket B), pendidikan menengah (SMU, SMK), dan pendidikan tinggi yang mencakup program
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ibu Dalam Melakukan Kunjungan Antenatal Care (Anc) Pada Masa Kehamilan Di Wilayah Kerja Puskesmas Kenangan Deli Serdang Tahun 2019
37
pendidikan diploma, sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.
Menurut Notoadmojo (2012), orang dengan pendidikan formal yang tinggi akan mempunyai pengetahuan yang lebih tinggi dibanding orang dengan tingkat pendidikan formal yang rendah, karena akan mampu dan mudah memahami arti pentingnya kesehatan serta pemanfaatan pelayanan kesehatan.
3. Hubungan Pengetahuan Dengan Kunjungan ANC Pada Masa Kehamilan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan pengetahuan ibu hamil dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan (p= 0,001). Hal ini dapat terjadi karena dengan pengetahuan ibu hamil yang kurang baik tentang pemeriksaan kehamilan maka hal ini dapat mempengaruhi ibu hamil tidak melakukan kunjungan antenatal care ditempat pelayanan kesehatan. Penelitian ini sejalan dengan penelitian (Kadir, 2018) tentang faktor yang berhubungan dengan pemeriksaan antenatal care pada ibu hamil trimester ke iii di puskesmasbowong cindea kabupaten Pangkep, menunjukkan bahwa ada hubungan pengetahuan ibu hamil dengan pemeriksaan kehamilan (p= 0,001).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 42 orang ibu hamil yang berpengetahuan kurang baik terdapat 33 orang (78,6%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan kurang baik dan 9 orang (21,4%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan yang baik. Sedangkan dari 28 orang ibu hamil yang berpengetahuan baik terdapat 10 orang (35,7%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan kurang baik dan 18 orang (64,3%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan yang baik. Hal ini berarti bahwa sebagian dari ibu hamil juga masih belum mendapat informasi yang jelas tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan sehingga mereka tidak melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan. Ibu hamil yang tidak melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan ini juga dapat terjadi karena banyak ibu hamil yang tidak pernah berkunjung ke Posyandu sehingga pengetahuan mereka tentang manfaat pmeriksaan kehamilan masih kurang baik serta tidak tahu kalau pemeriksaan kehamilan
dapat dilakukan minimal 4 kali selama kehamilan bahkan mereka melakukan pemeriksaan kehamilan jika mereka merasa sakit.
Pengetahuan seorang ibu tentang kehamilan sangat diperlukan untuk menjalani proses kehamilannya. Banyak sumber informasi yang dapat diperoleh ibu untuk meningkatkan pengetahuan tentang kehamilannya, seperti dari petugas kesehatan (bidan, dokter) saat menjalani pemeriksaan dengan melakukan tanya jawab (konseling), maupun dari media massa yaitu informasi yang diperoleh dari media elektronik (televisi) maupun media cetak (majalah, koran, tabloid, poster, dan lain-lain). Pada umumnya, jika pengetahuan ibu sudah baik maka akan memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan.
Informasi tentang Antenatal Care (ANC) dapat diperoleh media cetak atau elektronik, penyuluhanoleh petugas kesehatan. Informasi tersebut akan meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya melakukan kunjungan Antenatal Care (ANC), sehingga dapat mendorong ibu untuk melakukan kunjungan Antenatal Care (ANC) secara teratur. Kasyou (2008), bahwa peran pemerintah dalam memberikan informasi mengenai Antenatal Care (ANC) sangat membantu ibu hamil memperoleh informasi yang lebih baik.
Menurut (Notoatmodjo, 2012) pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan itu terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior).
4. Hubungan Paritas Dengan Kunjungan ANC Pada Masa Kehamilan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa tidak ada hubungan paritas ibu hamil dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan (p= 0,273). Hal ini sejalan dengan penelitian (Sari dkk., 2018) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan ibu hamil dalam melakukan pemeriksaan
38
kehamilan di puskesmas cibungbulang kabupaten bogor provinsi jawa barat tahun 2018, menunjukkan bahwa tidak ada hubungan paritas ibu hamil dengan ketidaklengkapan (p= 0,763).
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa dari 33 orang ibu hamil dengan paritas ≥4 orang terdapat 23 orang (69,7%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan kurang baik dan 10 orang (30,3%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan yang baik. Sedangkan dari 37 orang ibu hamil dengan paritas <4 orang terdapat 20 orang (54,1%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan kurang baik dan 17 orang (45,9%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan yang baik. Hal ini berarti bahwa ibu hamil yang tidak melakukan kunjungan antenatal care ini dapat terjadi karena sebagian dari ibu hamil memikili jumlah anak yang banyak (rata-rata 4-6 orang) dan tidak pernah mengalami masalah selama hamil dan juga dalam menghadapi persalinan sebelumnya sehingga mereka tidak termotivasi untuk melakukan kunjungan antenatal careyang lengkap ditempat pelayanan kesehatan. Ibu yang baru pertama kali hamil merupakan hal yang sangat baru sehingga termotivasi dalam memeriksakan kehamilannya ketenaga kesehatan. Sebaliknya ibu yang sudah pernah melahirkan lebih dari satu orang mempunyai anggapan bahwa ia sudah berpengalaman sehingga tidak termotivasi untuk memeriksakan kehamilannya. Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut kematian maternal.Paritas 1 dan paritas tinggi (lebih dari 3) mempunyai angka kematian maternal lebih tinggi.Makin tinggi paritas ibu maka makin kurang baik endometriumnya. Menurut kehamilannya (DepkesRI, 2016), ibu yang pernah melahirkan mempunyai pengalaman tentang Antenatal Care (ANC), sehingga dari pengalaman yang terdahulu kembali dilakukan untuk menjaga kesehatan
Paritas adalah keadaan seorang ibu yang melahirkan janin lebih dari satu orang. Ibu yang baru pertama kali hamil merupakan hal yang sangat baru sehingga termotivasi dalam memeriksakan kehamilannya ketenaga kesehatan. Sebaliknya ibu yang sudah pernah melahirkan lebih dari satu orang mempunyai anggapan bahwa ia sudah berpengalaman sehingga tidak termotivasi untuk
memeriksakan kehamilannya (Wikjosastro, 2015).
5. Hubungan Media Informasi Dengan
Kunjungan ANC Pada Masa
Kehamilan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan media informasi dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan (p= 0,007). Hal ini dapat terjadi karena dengan ibu hamil tidak mendapatkan informasi tentang pemeriksaan kehamilan maka hal ini akan mempengaruhi ibu hamil tidak melakukan pemeriksaan kehamilan. Penelitian ini sejalan dengan penelitian (Sari dkk., 2018) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan ibu hamil dalam melakukan pemeriksaan kehamilan di puskesmas cibungbulang kabupaten bogor provinsi jawa barat tahun 2018, menunjukkan bahwa ada hubungan media informasi dengan ketidaklengkapan(p= 0,043).
Hasil peneltian menunjukkan bahwa dari 46 orang ibu hamil yang tidak memperoleh informasi terdapat 34 orang (73,9%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan kurang baik dan 12 orang (26,1%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan yang baik. Sedangkan dari 24 orang ibu hamil dengan paritas <4 orang terdapat 9 orang (37,5%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan kurang baik dan 15 orang (62,5%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan yang baik. Ini berarti bahwa dengan ibu hamil tidak mendapatkan informasi tentang pemeriksaan kehamilan maka hal ini akan mempengaruhi ibu hamil tidak melakukan pemeriksaan kehamilan. Informasi terkait pemeriksaan kehamilan dapat diperoleh dari tenaga kesehatan melalui penyuluhan, dan juga melalui brosur atau leaflet yang disediakan dari Posyandu atau Puskesmas. Akan tetapi dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa tidak tersedianya brosur/leaflet tentang antenatal caredi Posyandu/Puskesmas sehingga informasi yang diperoleh oleh ibu hamil tentang pemeriksaan kehamilan masih kurang.
Menurut (Notoatmodjo, 2010), bahwa keterpaparan media dapat dinyatakan dengan media sebagai sumber informasi tentang kunjungan K-4 yang diterima oleh masyarakat khususnya ibu hamil.Sumber informasi
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ibu Dalam Melakukan Kunjungan Antenatal Care (Anc) Pada Masa Kehamilan Di Wilayah Kerja Puskesmas Kenangan Deli Serdang Tahun 2019
39
merupakan asal atau sumber pesan yang disampaikan tentang sesuatu. Sumber informasi yang diperoleh ibu sehubungan dengan informasi tentang kunjungan K-4 berasal dari petugas kesehatan maupun melalui media massa. Informasi yang diperoleh melalui petugas kesehatan dapat berupa penyuluhan-penyuluhan kesehatan tentang kunjungan K-4 maupun melalui interaksi ibu dengan petugas kesehatan. Sedangkan informasi yang diperoleh dari media berasal dari media elektronik (radio, televisi, VCD), sedangkan media cetak berupa brosur-brosur, buku-buku, majalah, koran, dan lain-lain.
6. Hubungan Dukungan Suami Dengan
Kunjungan ANC Pada Masa
Kehamilan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan dukungan suami/keluarga dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan (p= 0,000). Hal ini dapat terjadi karena dengan dukungan suami yang kurang baik mempengaruhi ibu hamil tidak melakukan kunjungan antenatal care. Hal ini sejalan dengan penelitian (Abdullah, dkk,., 2017) tentang analisis faktor internal dan eksternal dengan antenatal care K4 di wilayah kerja puskesmas teluk dalam kota banjarmasin tahun 2017, menunjukkan bahwa ada hubungan dukungan suami/keluarga dengan antenatal care K4 (p= 0,023).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 45 orang ibu hamil yang tidak mendapat dukungan dari suami/keluarga terdapat 39 orang (86,7%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan kurang baik dan 6 orang (13,3%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan yang baik. Sedangkan dari25 orang ibu hamil yang mendapat dukungan dari suami/keluarga terdapat 4 orang (16%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan kurang baik dan 21 orang (84%) dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan yang baik. Ini berarti bahwa dukungan suami merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi ibu hamil dalam melakukan pemeriksaan kehamilannya.Kurangnya dukungan suami membuat ibu tidak mau melakukan pemeriksaan kehamilan. Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa masih banyak suami yang
tidak memberi dukungan kepada istrinya dalam melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan seperti suami tidak mengantarkan istri dan tidak mengingatkan istri untuk melakukan pemeriksaan kehamilan.
Dukungan suami dan keluarga merupakan hal yang tidak dapat diabaikan dalam perubahan perilaku ibu hamil.Contohnya suami / keluarga perlu memberikan penjelasan dan mengajarkan pada ibu untuk memeriksa kehamilan minimal 4 kali selama kehamilan.Dukungan seperti itu memberi kontribusi yang besar dalam tercapainya kunjungan K-4 dan meminimalkan risiko yang terjadi selama kehamilan dan persalinan (Notoatmodjo, 2010).
Faktor penguat dalam pemanfaatan pelayanan antenatal care selain dari petugas puskesmas adalah dukungan suami dan keluarga. Dukungan suami dan keluarga merupakan hal yang tidak dapat diabaikan dalam perilaku ibu hamil. Contohnya suami/keluarga perlu memberikan penjelasan dan mengajarkan pada ibu untuk memeriksa kehamilan minimal 4 kali selama kehamilan.
Menurut Sarwono (2013), dukungan keluarga adalah bantuan yang bermanfaat secara emosional dan memberikan pengaruh positif yang berupa informasi, bantuan instrumental, emosi, maupun penilaian yang diberikan oleh anggota keluarga yang terdiri dari suami, orangtua, mertua maupun saudara lainnya. Dampak positif dari dukungan keluarga adalah meningkatkan penyesuaian diri seseorang terhadap kejadian-kejadian dalam kehidupan.
KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian mengenai faktor – faktor yang memengaruhi ibu dalam melakukan kunjungan Antenatal Care (ANC) pada masa kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas Kenangan Deli Serdang, maka dapat diambil kesimpulan seperti berikut : 1. Ada hubungan umur ibu hamil dengan
kunjungan ANC pada masa kehamilan (p = 0,000).
2. Ada hubungan media informasi dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan (p = 0,007).
3. Tidak ada hubungan paritas ibu hamil dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan (p = 0,273).
40
4. Ada hubungan pengetahuan ibu hamil dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan (p = 0,001).
5. Ada hubungan pendidikan ibu hamil dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan (p = 0,001).
6. Ada hubungan dukungan suami/keluarga dengan kunjungan ANC pada masa kehamilan (p = 0,000).
DAFTAR PUSTAKA
Agus, Riyanto, (2011). Aplikasi Metodologi Penelitian Kesehatan. Nuha. Medika. Yogyakarta.
Anwar, Saifuddin (2014). Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Arikunto, S. 2010. Metodologi Penelitian kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara.
2017. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Utara Tahun 2017. Medan.
Departement Kesehatan RI. Standar Pelayanan ANC. Jakarta : Departemen Kesehatan RI, 2014.
Kementerian Kesehatan RI. Kesehatan dalam Kerangka Sistainable Development Goals (SDG'S). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2015.
Kementrian Kesehatan Ri. Profil Kesehatan Indonesia 2015. Jakarta: Kementrian Kesehatan Ri, 2016.
Kusmiyati, Y. 2009. Perawatan Ibu Hamil. Fitramaya. Yogyakarta.
Marmi. 2014. Asuhan Kebidanan Pada Masa Antenatal. Yogjakarta: Pustaka Belajar.
Nirmala. 2011. Nutrition and Food. Kompas. Jakarta.
Notoatmodjo,S. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Puskesmas Kenangan. 2015. Profil Puskesmas
Kenangan Tahun 2015
KabupatenDeli Serdang.
Padila. 2014. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Yogyakarta: Nuha Medika.
Prawirohardjo, Sarwono. 2015. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Sulistyawati, A. 2009. Buku Ajar Asuhan
Kebidanan pada Ibu Nifas. Yogyakarta: Andi Offset.
Sarwono.2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Sembiring. 2015. Standar Pelayanan Kebidanan. Sembiring. Jakarta.
Tiran, Denise. 2008. Mual Muntah Kehamilan. Jakarta: ECG.
World Health Organization. Definisi Sehat WHO: WHO; 1947 [cited 2016 20 February]. Available from:
www.who.int.
Wiknjosastro, Hanifa. 2010. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Wundashary D A Demny, Darmawansyah, Nurhayani, 2015, Analisis Mutu Pelayanan Antenatal Care Di Puskesmas Wonrely Kabupaten Maluku Barat Daya Provinsi Maluku Tahun 2015 Laporan Penelitian Alumni Bagian AKK FKM Universitas Hasanudin, Maluku
Yulifah, Rita dan Surachmindari. 2013. Konsep Kebidanan Untuk PendidikanKebidanan. Jakarta : Salemba Medika.