PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
TIPE STAD TERHADAP HASIL BELAJAR TEKNIK DASAR PASSING
SEPAK BOL
A
Made Agus Rumaket Utama, I Wayan Rai, I Made Kusuma Wijaya
Jurusan Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi
Fakultas Olahraga dan Kesehatan Universitas Pendidikan Ganesha,
Kampus Tengah Undiksha Singaraja, Jl Udayana Singaraja-Bali Tlp. (0362) 32559
e-mail:
{[email protected], [email protected], [email protected]} @undiksha.ac.idAbstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division terhadap hasil belajar teknik dasar
passing sepak bola . Penelitian ini adalah penelitian eksperimen sunguhan dengan
menggunakan rancangan penelitian the randomized pretest post-test control group the same
subject design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 1
banjar tahun pelajaran 2016/2017 yang berdistribusi ke dalam 12 kelas. Sampel penelitian ditentukan dengan teknik simple random sampling. Sampel penelitian ini adalah kelas VII B dan Kelas VII D. Pengumpulan data menggunakan tes hasil belajar dengan melalui observasi, tes objektif, dan unjuk kerja. Data dianalisis menggunakan uji-t. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan hasil belajar passing sepak bola antara siswa yang mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan rata-rata gain score 0,29 dan standar deviasi 0,83. Sedangkan siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional dengan rata-rata
gain score 0,15 dan standar deviasi 0,70. Angka signifikansi yang diperoleh melalui uji-t
adalah p=0,000. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh signifikan terhadap peningkatan hasil belajar teknik dasar passing sepak bola pada siswa. Dan model pembelajaran ini dapat dijadikan salah satu alternatif pembelajaran yang dapat diterapkan di kelas.
Kata-kata kunci: STAD, hasil belajar teknik dasar passing sepak bola. Abstract
This research aimed to determine the effect of implementing cooperative learning model student team achievement division (STAD) to the learning outcomes of basic techniques of passing football. This research was a true-experimental researching the randomized pretest-posttest control group the same subject design. The population was students of class VII SMP Negeri 1 Banjar academic year 2016/2017 yhat distributed twelve classes. Sampling technique used was simple random sampling. The sample used in this class VII B and clas VII D. Data were collected through essay tests, observation and performance tests. Data analysis using t-test. The result of research shows the difference learning outcome football passing between students who following learning model cooperative type STAD with average on gain score 0,29 and standard deviation 0,83. While students who following learning model conventional with average on gain score 0,15 and standard deviation 0,70. Significance obtained through t-test was p=0,000..Based on the above exposure, implementation of learning model cooperative type STAD effect significantly to the result of learning basic techniques passing football. And this learning model can found one alternative learning that can be implementing in the class.
PENDAHULUAN
Pembelajaran pada intinya merupakan membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau murid. Di dalam melakukan pembelajaran PJOK, guru diharapkan mampu mengajarkan berbagai keterampilan gerak dasar, teknik, strategi, permainan olahraga, nilai-nilai (sportivitas, jujur dan kerjasama) serta pembinaan hidup sehat dan guru perlu banyak menerapkan konsep belajar mengajar, model yang baik dan efisien agar di dalam proses pembelajarannya dapat menghasilkan suatu hasil yang maksimal. Dalam kegiatan pembelajaran, model yang baik sangat diperlukan oleh guru untuk memperoleh hasil belajar siswa yang berkualitas. Akan tetapi, dalam perkembangan dan pelaksanaan di lapangan PJOK masih mengalami masalah yang sangat serius, hal ini dapat dilihat dari proses pembelajaran PJOK yang masih bersifat klasikal. Proses ini hanya menekankan pada pencapaian tuntunan kurikulum dari pada pengembangan kemampuan belajar dan pembangunan individu secara keseluruhan.
Untuk meningkatkan hasil belajar siswa, perlu dilakukan peningkatan kualitas pembelajaran. kualitas pembelajaran sangat dipengaruhi oleh faktor siswa, alat pendukung terjadinya pembelajaran, dan lingkungan. Alat pendukung pembelajaran meliputi guru, kurikulum, sarana dan prasarana. Guru merupakan alat pendukung pembelajaran karena guru bertugas mempersiapkan dan mengelola pembelajaran. Dalam hal ini guru diharapkan dapat menyiapkan model pembelajaran dengan baik dan tepat sehingga peserta didik lebih mudah membangun pemahamannya sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa model pembelajaran yang dipilih berpengaruh pada hasil belajar siswa. Siswa diharapkan dapat berperan penuh dalam proses pembelajaran dengan guru sebagai fasilitator.
Upaya untuk mencapai hasil belajar yang baik dalam pembelajaran PJOK, guru PJOK perlu mengupayakan peningkatan kualitas pembelajaran dan efektivitas model pembelajaran. Untuk mengaktualisasikan hal tersebut diperlukan model pembelajaran. Model pembelajaran yang dimaksud adalah model pembelajaran yang dapat melibatkan banyak siswa dalam proses pembelajaran sehingga membantu siswa lebih aktif dan kreatif dalam beraktivitas. Aktivitas dalam proses pembelajaran sangat mempengaruhi prestasi belajar siswa, karena itu siswa secara aktif berusaha mengetahui apa yang belum diketahui. Dengan penerapan model pembelajaran yang efektif dan efisien pada setiap mata pelajaran, termasuk dalam mata pelajaran PJOK maka hasil belajar siswa menjadi meningkat.
Berdasarkan hasil awal yang peneliti lakukan pada hari rabu 12 oktober 2016 di SMP Negeri 1 Banjar ditemukan permasalahan bahwa hasil belajar siswa dalam pembelajaran teknik dasar passing sepak bola dapat dikatakan masih belum memenuhi nilai KKM. Permasalahan yang diidentifikasi sebagai faktor penyebab rendahnya aktivitas dan hasil belajar PJOK di SMP Negeri 1 Banjar antara lain : (1) masih terpusatnya pembelajaran pada guru yang menyebabkan rendahnya aktivitas belajar siswa. (2) kurangnya penerapan model pembelajaran yang lebih banyak melibatkan siswa dalam proses pembelajaran, mengakibatkan siswa banyak diam dan kurang aktif sehingga berdampak pada rendahnya hasil belajar siswa. (3) kurangnya perhatian guru terhadap interaksi siswa dalam kelompok belajar, sehinnga siswa terlalu banyak belajar mandiri hanya tergantung pada materi yang diajarkan oleh guru saja. (4) interaksi diantara siswa, siswa yang memiliki kemampuan kurang, mereka tidak mau bertanya dan berlatih pada siswa yang lebih mampu sehingga kelas tampak pasif. (5) sarana dan prasarana kurang memadai, sehingga kesempatan siswa melakukan gerakan
passing sepak bola (menggunakan kaki
bagian dalam dan kaki bagian luar) terbatas.
Berdasarkan hasil penilaian PJOK dengan materi passing sepak bola menggunakan kaki bagian dalam dan passing menggunakan kaki bagian luar di kelas VII SMP Negeri 1 Banjar, ditemukan bahwa siswa VII B dapat diperoleh sebagai berikut. Dari jumlah 38 orang, terdapat 9 siswa ≤60 (23,7%) tidak tuntas, 24 siswa memproleh nilai 61-69 ( 63,2) tidak tuntas, 5 siswa memproleh nilai 70-79 (13,1%) tuntas. Sedangkan pada kelas VII D yang terdiri dari 38 orang terdapat 7 siswa memproleh nilai ≤60 (18,4%) tidak tuntas, 2 siswa memproleh nilai 61-69 (60,5%) tidak tuntas, 8 siswa memproleh nilai 70-79 (21,1%) tuntas. Sedangkan nilai KKM dari kelas VII adalah 70 masih banyak siswa yang mendapatkan kurang dari nilai KKM.
Dari data tersebut peneliti mencoba untuk mengadakan penelitian dan mencari solusi untuk perbaikan hasil belajar siswa dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Student
Teams Achievement Division (STAD),
dimana model pembelajaran ini adalah model pembelajaran yang dirancang agar siswa dalam pembelajaran aktif berdiskusi, dan kemudian mempresentasikan hasil diskusi sehingga terjadi peningkatan aktivitas pembelajaran siswa yang tentunya akan disertai dengan peningkatan hasil belajar.
Pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok 4-5 orang siswa secara heterogen. Diawali dengan penyampaian tujuan pembelajaran penyampaian materi, kegiatan kelompok,kuis,dan penghargaan kelompok (Trianto, 2007:52). Dari model pembelajaran kooperatif tipe STAD tersebut, diharapkan nantinya mampu memotivasi siswa untuk meningkatkan aktivitas belajar dan meningkatkan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran KAJIAN TEORI
Hasil belajar terdiri dari dua suku kata hasil dan belajar. Menurut Kamus Besar Indonesia bahwa hasil belajar memiliki pengertian sesuatu yang diadakan. Hasil belajar merupakan hasil
dari suatu interaksi tindakan belajar dan tindakan mengajar dan puncak dari proses belajar. Hasil belajar tersebut dapat dibedakan menjadi dua (Dimyati dan Muddjiono, 2006:295) yaitu:
a) Dampak belajar adalah hasil belajar yang dapat diukur, seperti tertuang dalam angka rapot, angka dalam ijasah atau kemampuan dalam meloncat setelah latihan.
b) Dampak pengiring adalah terapan pengetahuan dan kemampuan dibidang lain, suatu transfer belajar.
Berdasarkan taksonomi Bloom (dalam Dimyati dan Mudjiono, 2006 26-30) “mengkatagorikan jenis perilaku dan kemampuan internal akibat belajar, antara lain: (a) ranah kognitif, (b) ranah afektif, dan (c) ranah psikomotor”. Adapun penjelasan dari ketiga ranah di atas sebagai berikut:
a. Ranah Kognitif
Ranah kognitif terdiri dari enam jenis perilaku antara lain sebagai berikut. 1. Pengetahuan yakni pencapaian
kemampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan ini berkenaan dengan fakta, peristiwa, pengertian, kaidah, teori, prinsip dan metode.
2. Pemahaman yang mencakup kemampuan menangkap arti dan makna tentang yang dipelajari. 3. Penerapan yang mencakup
kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru. 4. Analisis yang mencakup
kemampuan terperinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik. 5. Sintesis yang mencakup
kemampuan membentuk suatu pola baru.
6. Evaluasi yang mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu.
b. Ranah Afektif
1. Penerimaan yang mencakup kepekaan tentang hal tertentu dan kesediaan memperhatikan.
2. Partisipasi yang mencakup
kerelaan, kesediaan
memperhatikan, dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan.
3. Penilaian dan penentuan sikap yang mencakup menerima suatu nilai, menghargai, mengakui dan menentukan sikap.
4. Organisasi yang mencakup kemampuan membentuk suatu sistem nilai sebagai pedoman dan pegangan hidup.
5. Pembentukan pola hidup yang
mencakup kemampuan
menghayati nilai membentuknya menjadi nilai kehidupan pribadi. c. Ranah Psikomotor
1. Persepsi yang mencakup kemampuan memilah hal-hal secara khas dan menyadari akan adanya perbedaan yang khas tersebut.
2. Kesiapan yang mencakup kesiapan menempatkan diri dalam keadaan di mana akan terjadinya suatu gerakan atau rangkaian gerak.
3. Gerakan terbimbing yang mencakup kemampuan melakukan gerakan sesuai dengan contoh atau gerakan peniruan.
4. Gerakan yang terbiasa yang mencakup kemampuan melakukan gerakan tanpa contoh.
5. Gerakan kompleks yang mencakup kemampuan melakukan gerakan atau keterampilan yang terdiri dari banyak tahap secara lancar, efisien dan tepat.
6. Penyesuaian gerak yang
mencakup kemampuan
mengadakan perubahan dan penyesuaian pola gerak-gerak dengan persyaratan khusus yang berlaku.
Dari pendapat-pendapat di atas persamaan bahwa hasil belajar adalah pembelajaran yang dilakuakan oleh guru terhadap hasil pembelajaran untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi peserta didik, serta digunakan sebagai bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar, dan memperbaiki proses pembelajaran.
model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain. Adapun model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran (Suprijono, 2009:46-68) sebagai berikut: a) model pembelajaran langsung, b) model pembelajaran kooperatif, dan c) model pembelajaran berbasis masalah.
a. Model Pembelajaran Langsung
Pembelajaran langsung atau direct
instruction dikenal dengan sebutan active teaching. Penyebutan itu mengacu pada
gaya mengajar di mana guru terlibat aktif dalam mengusung isi pelajaran kepada peserta didik dan mengajarkanya secara langsung kepada suluruh kelas.
b. Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, di mana guru menetapkan tugas dan pertanyan-pertanyan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah yang dimaksud. c. Model Pembelajaran Berbasis
Masalah
Model pembelajaran berbasis masalah dikembangkan berdasarkan konsep-konsep yang dicetuskan oleh Jerome Bruner. Konsep tersebut adalah belajar penemuan atau discovery learning. Proses belajar penemuan meliputi proses informasi, transformasi, dan evaluasi. Belajar penemuan menekankan pada berpikir tingkat tinggi. Belajar ini memfasilitasi peserta didik mengembangkan dialektika berpikir melalui induksi logika yaitu berpikir dari fakta ke konsep.
Pembelajaran kooperatif adalah suatu strategi pembelajaran yang terstruktur dan sistematis, dimana kelompok-kelompok kecil bekerja sama untuk mencapai tujuan-tujuan bersama.
Dalam pembelajaran kooperatif siswa tetap tinggal dalam kelompoknya selama beberapa kali pertemuan. Mereka diajarkan keterampilan-keterampilan khusus agar dapat bekerja sama dengan baik di dalam kelompoknya, seperti menjadi pendengar aktif, memberi penjelasan teman kelompok dengan baik, dan dapat melakukan diskusi kelompok. Pembelajaran belum selesai jika salah satu anggota kelompok ada yang belum menguasai materi pelajaran.
Menurut (Trianto, 2007), pembelajaran kooperatif bertujuan untuk: “(1) meningkatkan partisipasi siswa, (2) memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, dan (3) memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa yang berbeda latar belakangnya”. Jadi, model pembelajaran kooperatif merupakan model yang mengkondisikan siswa bekerja bersama untuk memperoleh tujuan bersama dalam kelompok-kelompok kecil dengan tingkat kemampuan yang berbeda-beda.
Terdapat lima unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif (Santyasa, 2005) yaitu: “a) saling ketergantungan positif, b) interaksi tatap muka, c) keterampilan-keterampilan kolaboratif, d) pemrosesan interaksi-interaksi kelompok, e) tanggung jawab individu”. Penjelasan dari kelima unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif sebagai berikut.
a. Saling Ketergantungan Secara Positif Saling ketergantungan secara positif adalah perasaan antar kelompok siswa untuk membantu setiap orang dalam kelompok tersebut. Cara-cara mempromosikan saling ketergantungan secara positif dalam kelompok meliputi: tujuan, penghargaan, peranan, sumber dan identitas.
b. Interaksi Tatap Muka
Interaksi tatap muka menuntut para siswa dalam kelompok dapat saling bertatap muka sehingga mereka dapat melakukan dialog, tidak hanya dengan guru, tetapi juga dengan sesama siswa. Interaksi semacam itu memungkinkan para siswa dapat saling menjadi sumber belajar sehingga sumber belajar lebih bervariasi.
c. Keterampilan-keterampilan Kolaboratif
Keterampilan-keterampilan
kolaboratif yang baik adalah sangat penting tidak hanya untuk sukses di luar sekolah dengan teman dan keluarga, tetapi juga dalam karir. Guru memilih suatu keterampilan kolaboratif hendaknya lebih menekankan pada kesesuaian dengan karakteristik masing-masing pelajaran. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa akan terdapat keterampilan yang sama untuk beberapa pelajaran.
d. Pemrosesan Interaksi-interaksi Kelompok
Sebagai bagian dari masing-masing unit dimana pembelajaran kooperatif digunakan, waktu hendaknya direncanakan paling tidak sekali untuk para siswa mendiskusikan bagaimana sebaiknya kelompok mereka bekerja bersama. Pemrosesan interaksi kelompok memiliki dua aspek. Pertama, menjelaskan tentang keberfungsian kelompok. Kedua, kelompok akan mendiskusikan apakah interaksi mereka perlu diperbaiki. Pemrosesan interaksi kelompok ini membantu kelompok belajar bagaimana berkolaborasi dengan lebih efektif, dimana dapat ditetapkan selama atau diakhir kegiatan.
e. Tanggung Jawab Individu
Satu hal yang paling umum bagi siswa bekerja dalam kelompok adalah bahwa beberapa anggota kelompok akan mengakhiri semua pekerjaan dan semua pembelajaran. Jadi, mendorong setiap orang dalam kelompok untuk berpartisipasi dan belajar merasakan bertanggung jawab secara individual untuk keberhasilan kelompok mereka.
Alasan peneliti memilih model pembelajaran kooperatif tipe STAD karena dari observasi awal yang dilakukan, guru penjasorkes mengajar dengan menggunakan model pembelajaran konvensional dan keberhasilan dari para peneliti yang lain menggunakan model kooperatif tipe STAD, hal ini yang mendorong peneliti menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. STAD merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. (Trianto, 2007) menyatakan
bahwa pada STAD siswa ditempatkan dalam tim belajar yang beranggotakan 4-5 orang yang merupakan campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku. Guru menyajikan pelajaran, dan selanjutnya siswa bekerja dalam tim mereka dan memastikan seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Kemudian siswa diberikan tes tentang materi tersebut, pada saat tes ini mereka tidak diperbolehkan saling membantu.
Pembelajaran kooperatif tipe STAD membutuhkan persiapan-persiapan yang matang sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Persiapan-persiapan tersebut antara lain:
1) Perangkat pembelajaran
Sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran ini, perlu dipersiapkan perangkat pembelajarannya yang meliputi Rencana Pembelajaran (RP), Buku Siswa, Lembar Kegiatan Siswa (LKS) beserta lembar jawabannya.
2) Membentuk kelompok kooperatif Menentukan anggota kelompok diusahakan agar kemampuan siswa dalam kelompok adalah heterogen dan kemampuan antar satu kelompok dengan kelompok lainnya relatif homogen. Apabila memungkinkan, kelompok kooperatif perlu memperhatikan ras, agama, jenis kelamin, dan latar belakang sosial
3) Menentukan skor awal
Skor awal yang dapat digunakan dalam kelas kooperatif adalah nilai tes sebelumnya.
4) Pengaturan posisi siswa
Pengaturan posisi dalam pembelajaran kooperatif sangat penting untuk menunjang keberhasilan pembelajaran kooperatif. Apabila tidak ada pengaturan, maka dapat menimbulkan kekacauan yang mennyebabkan gagalnya pembelajaran pada kelas kooperatif.
5) Kerja kelompok
Untuk mencegah adanya hambatan dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD maka perlu diadakan latihan kerjasama kelompok yang bertujuan untuk lebih jauh mengenalkan masing-masing individu dalam kelompok.
Pembelajaran konvensional menekankan pada guru sebagai pusat informasi dan siswa sebagai penerima
informasi. Situasi kelas sebagian besar masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, serta pengguanaan model ceramah sebagai pilihan utama strategi belajar mengajar. Model pembelajaran konvensional adalah model pembelajaran tradisional atau disebut juga model ceramah, karena sejak dulu model ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan anak didik dalam proses belajar mengajar. Model pembelajaran konvensional merupakan model yang masih berpandagan pada paradigma lama. Model pembelajaran ini cenderung menganggap siswa sebagai objek bukan subjek. Siswa dianggap sebuah botol kosong yang harus diisi terus menerus oleh guru.“Pembelajaran konvensional cenderung dimulai dengan apersepsi, penyajian informasi, pemberian soal-soal dan tugas, kemudian membuat simpulan” (Suryosubroto, 2002:71).
Pembelajaran konvensional sering
juga
disebut
sebagai
pembelajaran
tradisional.
Siswa
menjadi
penerima
pengetahuan yang pasif dan kebanyakan
menghafal tanpa belajar untuk berfikir.
Pada umumnya kegiatan pembelajaran
bergantung pada pembicaraan guru yang
menggunakan
metode
ceramah
atau
sebuah pertanyaan dan sebuah jawabannya
hanya melibatkan daya ingat dasar dari
pembelajar.
“Permainan sepak bola dimainkan oleh dua tim yang masing-masing beranggotakan 11 orang. Masing-masing tim mempertahankan sebuah gawang dan mencoba menjebolkan ke gawang lawan” (I Made Satyawan, 2012). Setiap tim memiliki kiper yang mempunyai tugas untuk menjaga gawang. Kiper diperbolehkan untuk mengontrol bola dengan tangannya di dalam daerah penalti.Pemain lainnya tidak diperbolehkan menggunakan tangan atau lengan mereka untuk mengontrol bola, tetapi mereka dapat menggunakan kaki, tungkai, atau kepala. Gol diciptakan dengan menendang atau menanduk bola ke dalam gawang lawan. Setiap gol dihitung dengan skor satu, dan tim yang paling banyak menciptakan gol memenangkan permainan.
Sepak bola sejatinya adalah permainan tim. Walaupun pemain yang memiliki keterampilan tinggi bias mendominasi pada kondisi tertentu, seorang pemain sepak bola harus saling bergantung pada setiap anggota tim untuk menciptakan permainan cantik dan membuat keputusan tepat.
Tim sepak bola terdiri dari sepuluh pemain lapangan dan satu penjaga gawang.Keterampilan untuk mengoper dan menerima bola membentuk jalinan vital yang menghubungkan kesebelas pemain ke dalam satu unit yang berfungsi lebih baik dari pada bagian-bagiannya.Ketepatan, langkah, dan waktu pelepasan bola merupakan bagian yang penting dari kombinasi pengoperan bola yang berhasil. Keterampilan mengoper dan menerima bola yang tidak baik akan mengakibatkan lepasnya bola dan membuang-buang kesempatan untuk menciptakan gol.
Adapun teknik dasar permainan sepak bola menurut (Mielke, 2003) adalah sebagai berikut: “1) menggiring bola (dribbling), 2) mengoper (passing), 3) menghentikan bola (trapping), 4) lemparan ke dalam (throw-in), 5) menyundul bola (heading), 6) mengecoh dan membalik (tricks and turns), 7) menembak (shooting)”.
1. Menggiring bola (dribbling)
Menggiring bola adalah keterampilan dasar dalam sepak bola karena semua pemain harus mampu menguasai bola saat sedang bergerak, berdiri, atau siap melakukan operan atau tembakan.
2. Mengoper (passing)
Passing adalah seni memindahkan
momentum bola dari satu pemain ke pemain lain. Passing membutuhkan banyak teknik yang sangat penting agar dapat tetap menguasai bola.
3. Menghentikan bola (trapping)
Menghentikan bola (trapping) baik dengan menggunakan kaki, paha, atau dada merupakan bagian yang sangat penting mengontrol bola.Trapping terjadi ketika seorang pemain menerima passing atau menyambut bola dan mengontrolya sedemikian rupa sehingga pemain tersebut dapat bergerak dengan cepat
untuk melakukan dribbling, passing dan
shooting.
4. Lemparan ke dalam (throw-in)
Lemparan ke dalam (throw-in) adalah salah satu keterampilan yang sering diabaikan dalam sepak bola. Penggunaan throw-in yang benar dapat menciptakan banyak peluang untuk mengontrol bola dan mencetak gol selama pertandingan.Salah satu kunci keberhasilan dalam melakukan throw-in adalah komunikasi. Pelempar dan penerima bola harus mengetahui apa yang akan dilakukan masing-masing sebelum lemparan tersebut dilakukan. Arah dan kecepatan penerima bola akan menentukan bagaimana pelempar bola melemparkan bolanya.
5. Menyundul bola (heading)
Salah satu cirri unik sepak bola adalah kepala boleh digunakan untuk memainkan bola di udara.Banyak sekali perdebatan berkaitan dengan permainan menggunakan kepala.Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa terdapat kemungkinan fatal yang bisa diakibatkan karena heading. Di samping kekhawatiran-kekhawatiran tersebut, pemain yang telah berpengalaman bisa melakukan gerak yang sangat berharga ini dengan aman jika telah menerima pelatihan yang tepat tentang teknik yang benar.Ketika dilakukan dengan benar,
heading memberikan dimensi yang cukup
besar pada permainan. Para pemain bisa melakukan heading ketika sedang meloncat, melompat ke depan, menjatuhkan diri (diving), atau tetap diam dan mengarahkan bola dengan tajam ke gawang atau teman satu tim.
6. Mengecoh dan Membalik (tricks and
turns)
Perubahan kecepatan dan arah yang cepat memungkinkan seorang pemain untuk menghindari dan mengalahkan lawan. Penguasaan dasar-dasar keterampilan dribbling dan mengontrol bola sangat diperlukan hamper disemua situasi. Gerak mengecoh dan membalik ini memungkinkan pemain untuk menghindarkan diri dari lawan dan menciptakan peluang yang lebih baik untuk mengarahkan bola atau melakukan tembakan langsung ke gawang.
Dari sudut pandang penyerangan, tujuan sepak bola adalah melakukan
shooting ke gawang. Seorang pemain
harus menguasai keterampilan dasar menendang bola dan selanjutnya mengembangkan sederetan teknik
shooting yang memungkinkan untuk
melakukan tendangan dan mencetak gol dari berbagai posisi di lapangan. Ketika keterampilan seorang pemain sudah meningkat, pemain tersebut harus mulai melakukan shooting lebih jauh dari gawang. Kemampuan seorang pemain untuk memanfaatkan berbagai macam keterampilan yang telah dipelajari akan mempermudah dalam melakukan
shooting. Cara yang paling tepat untuk
mengembangkan teknik shooting adalah melatihnya berkali-kali menggunakan teknik yang benar. Pemain akan semakin bisa menjalankan keterampilan ini di dalam pertandingan dan memanfaatkan peluang shooting dengan baik jika semakin banyak berlatih menggunakan situasi yang berbeda.
METODE PENELITIAN
Dalam penelitian ini yang menjadi populasi penelitian adalah seluruh siswa-siswi kelas VII SMP Negeri 1 banjar tahun pelajaran 2016/2017 yang terdiri dari dua belas kelas yaitu: VII A sebanyak 37 orang, VII B sebanyak 38 orang, VII C sebanyak 36 orang, dan VII D sebanyak 38 orang,VII E sebanyak 39 0rang, VII F sebanyak 37 orang, VII G sebanyak 37 orang, VII H 38 orang, VII I 39 orang, VII J 35 orang, VII K 35 orang, VII L 37 sehingga keseluruhan jumlah populasi penelitian adalah 446 orang siswa. Pemilihan sampel dilakukan dengan
simple random sampling berdasarkan
kelas dan diperoleh kelas VII B sebanyak 38 orang sebagai kelompok eksperimen dan VII D sebanyak 38 orang sebagai kelompok kontrol. Penelitian ini dilakukan sebanyak dua kali perlakuan. Pengambilan data hasil belajar dilakukan dengan cara memberikan tes objektif, observasi, dan unjuk kerja. Analisis data dilakukan dengan uji t pada data gain
score. Sebelum dilakukan uji t terlebih
dahulu data diuji normalitas dan homogenitasnya. Jika dari hasil uji normalitas dan homogenitas varians,
diketahui bahwa data berdistribusi normal dan variansnya homogen maka untuk menguji hipotesisnya digunakan
Independent Sample T-test dengan taraf
signifikansi 5%, kriteria pengujian tolak H0 jika p>0,05. Sedangkan jika dari hasil uji normalitas dan homogenitas varians, diketahui bahwa data berdistribusi tidak normal dan atau variansnya tidak homogen maka untuk menguji hipotesisnya digunakan Uji Nonparametric
(Uji Mann-Whitney U) dengan taraf
signifikansi 5%, kriteria pengujian tolak H0 jika p>0,05.
HASIL dan PEMBAHASAN
Data tentang hasil belajar teknik dasar passing sepak bola (passing kaki bagian dalam dan passing kaki bagian luar) diperoleh melalui data gain score. Dari data gain score diperoleh rata-rata skor kelompok eksperimen = 0,29 sedangkan rata-rata skor kelompok kontrol =0,15 Standar deviasi dari kelompok eksperimen = 0,83 sedangkan standar deviasi dari kelompok kontrol = 0,70.
Sebelum uji hipotesis terlebih dahulu dilakukan pengujian prasyarat terhadap sebaran data yang meliputi uji normalitas sebaran data dan uji homogenitas varians. Untuk mengetahui normalitas sebaran data digunakan rumus
Kolmogorov-Smirnov pada signifikansi
0,05. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dengan menggunakan SPSS
16.00 for Windows didapatkan hasil untuk
nilai signifikansinya kedua kelompok adalah pada kelompok experimen signifikansinya 0,200 dan pada kelompok control signifikasinya 0,200. Untuk semua variabel signifikansi pada uji
Kolmogorov-Smirnov lebih besar dari 0,05. Dengan
demikan maka semua sebaran data berdistribusi normal.
Berdasarkan hasil perhitungan homogenitas data menggunakan uji
Levene’s ditunjukkan bahwa untuk hasil
belajar teknik dasar passing sepak bola siswa yaitu 0,313 yaitu lebih dari 0.05 sehingga tidak terdapat perbedaan varians kedua kelompok atau varians data gain score kedua kelas homogen.
Untuk uji hipotesis penelitian digunakan uji t dua ekor dengan asumsi
varians yang sama. Nilai sig pada kolom sig (2-tailed) dan baris equal variances assumed, jika nilai sig < 0,05 artinya Ho ditolak dan Ha diterima. Nilai sig untuk uji hipotesis adalah 0.000 yaitu kurang dari 0.05 sehingga Ho ditolak dan Ha diterima.
Hal ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Frendi Bagus Septianto (2015) juga menemukan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran mengukur besaran-besaran listrik dalam rangkaian elektronika di kelas X SMK Sunan Drajat Paciran Lamongan. Selain itu Penelitan yang di lakukan oleh putra adnyana (2013) menemukan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model kooperatif tipe STAD memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar matematika siswa kelas V SD GUGUS UBUD dengan nilai thitung 3,92 >
ttabel 2,00. Dari uraian di atas peneliti akan mencoba memberikan salah satu alternatif pemecahan masalah yaitu dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Selain itu penelitian yang di lakukan oleh Bijak Adhi Suroyo Dan Sasminta Christina Yuli Hartati (2014) dengan Judul “Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
Student Teams Achievement Division
(STAD) Terhadap Hasil Belajar Shooting Sepak bola” Dari hasil penghitungan diperoleh peningkatan hasil belajar keterampilan shooting sepak bola kelompok eksperimen sebesar 30,13%. Hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar shooting sepak bola pada kelompok eksperimen yang diberi perlakuan dengan model pembelajaran STAD lebih baik dari hasil belajar shooting sepak bola pada kelompok kontrol yang tidak diberi perlakuan dengan model pembelajaran STAD.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh signifikan p=0,000 terhadap peningkatan hasil belajar materi teknik dasar passing sepak bola (passing kaki bagian dalam
dan passing kaki bagian luar) pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Banjar tahun pelajaran 2016/2017.
Berdasarkan hasil analisis data, pembahasan, dan kesimpulan maka dapat diajukan beberapa saran untuk proses pembelajaran dan penelitian lebih lanjut sebagai berikut. 1) Bagi guru PJOK, model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat dijadikan salah satu alternatif pembelajaran yang dapat diterapkan di kelas. 2) Penelitian ini dilaksanakan pada pokok bahasan teknik dasar passing sepak bola kaki bagian dalam dan kaki bagian luar di kelas VII B SMP Negeri 1 Banjar, sehingga untuk memperoleh bukti-bukti yang lebih umum dari penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD diharapkan peneliti lain untuk mencoba pada pokok bahasan lain untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran PJOK secara lebih mendalam. 3) Penelitian ini hanya mengukur ada atau tidaknya pengaruh dari model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap hasil belajar teknik dasar
passing sepak bola kaki bagian dalam dan
kaki bagian luar tanpa meneliti lebih jauh arah pengaruh yang diberikan. Di waktu mendatang dapat dilakukan suatu penelitian untuk meneliti sejauh mana arah pengaruh yang diberikan oleh model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap hasil belajar PJOK siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Adnyana Putra. ” Pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap hasil belajar matematika siswa kelas V SD Gugus Ubud”. Tersedia pada ejournal.undiksha.ac.id/index.php/ JJPGSD/article/downl
oad/958/828
(diakses pada: selasa, 3 Januari
2017).
Bijak Adhi Suroyo. 2014 “Pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe student teams
achivement division (STAD)
terhadap hasil belajar shooting sepak bola”(Studi pada siswa
Kelas VIII SMP Negeri 1 Kediri). Tersedia Padahttp://jurnalmahasiswa.unesa. ac.id/index.php/jurnal-pendidikan-jasmani/article/view/8011 Volume 02 Nomor 01 Tahun 2014, 56 – 60. (diakses pada: selasa, 3 Januari 2017).
Frendi Bagus Septianto. 2015 “ Pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD denagn sofware multisim terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran mengukur besaran-bedaran listrik dalam rangakaian elektronika di kelas X SMK Sunan Drajat Paciran Lamongan”. Tersedia pada http://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/ index.php/jurnal-pendidikan-teknik elektro/article/view/11427/baca-artikel Volume 04 Nomor 02 Tahun 2015, 415 – 422. (diakses pada: selasa, 3 Januari 2017).
I Made Satyawan. (2012). Buku Ajar
Permainan Sepak Bola. Singaraja.
Kanca, I Nyoman. 2010. Metodologi Penelitian Pengajaran Pendidikan Jasmani dan Olahraga. Singaraja : Universitas Pendidikan Ganesha Suprijono, Agus. 2009. Cooperative
Learning. Surabaya: Pustaka
Belajar.
Suryosubroto, B. 2002. Proses Belajar
Mengajar di Sekolah. Jakarta: PT
Rineka Cipta.
Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran
Inovatif Berorientasi Konstruktif.