• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG KELUARGA SAKINAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG KELUARGA SAKINAH"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN UMUM TENTANG KELUARGA SAKINAH

A. Pengertian Keluarga Sakinah

Istilah keluarga sakinah merupakan konsep berkeluarga ideal umat Islam yang sudah tidak asing lagi. Istilah ini dibentuk oleh dua suku kata, yakni kata keluarga dan kata sakinah. Secara etimologi (kebahasaan), keluarga dalam kamus besar bahasa Indonesia mempunyai artian :Ibu,bapak dengan anak-anaknya; Orang seisi rumah yang menjadi tanggungan, batih.1 Pengertian lain dari keluarga secara terminologi

(peristilahahan), seperti didefinisikan oleh Ismail Widjaja yakni suatu bentuk ikatan

yang syah antara laki-laki dengan perempuan melalui ikatan perkawinan. Ikatan perkawinan tersebut kemudian melahirkan keturunan yang secara hukum menjadi tanggungjawab suami dan istri atau ibu dan bapak dalam membina dan mengembangkan mereka.2 Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan pada pasal 1 disebutkan : “Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dan seorang perempuan sebagai suami-isteri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan agama dan kepercayaannya masing-masing.3

Buku panduan KB. Mandiri4, menguraikan mengenai tujuan dan alasan mengapa sesorang ingin berkeluarga, beberapa diantaranya antara lain :

a. Ingin dilayani oleh suami atau isteri , baik pelayanan yang bersifat kebutuhan

1 Pusat penyusunan dan pengembangan bahasa, Kamus besar bahasa Indonesia, Balai Pustaka,

Cet.3, jakarta, 1990, hlm. 667

2 H. Ismail Widjaja, (ed.), Panduan KB. Mandiri, PT. Falwa Arika, Jakarta, 1987, hlm. 125 3 Ibid., Hlm. 99

(2)

lahiriah maupun batiniah.

b. Ingin mempunyai keturunan guna meneruskan kelangsungan hidup generasinya.

c. Untuk merencanakan kehidupan masa depan yang lebih baik, dan d. Adanya anjuran dari agama.

Sejumlah tujuan dan alasan seseorang ingin berkeluarga seperti tersebut diatas, dapat diambil rumusan yang sederhana mengenai tujuan berkeluarga yaitu : “berkeluarga adalah untuk mengembangkan cinta kasih, kepribadian, kebutuhan keturunan, juga termasuk ingin bekerjasama dan merencanakan masa depan yang lebih baik.

Istilah sakinah secara etimologis (bahasa) disebutkan sebanyak enam kali dalam Al-quran seperti tertulis pada buku ensiklopedi Islam5. Pengungkapan Al-Qur’an itu jelas disebutkan bahwa sakinah itu memiliki arti ketentraman, ketenangan, kedamaian, rahmat, dan tuma’ninah yang berasal dari Allah SWT. Seperti terurai pada QS. Al-Baqarah :248

ﺎﻤّﻣ ٌﺔّﻴﻘﺑو ﻢﻜﺑّر ﻦﻣ ﺔﻨﻴﻜﺳ ﻪﻴﻓ تﻮﺑ ﺎﺘﻟ ا ﻢﻜﻴﺗ ﺄﻳ نا ﻪﻜﻠﻣ ﺔﻳا ّن ا ﻢﻬّﻴﺒﻧ ﻢﻬﻟ ل ﺎﻗو

ﺮﺗ

٭ ﻦﻴﻨﻣﺆّﻣ ﻢﺘﻨآ ن ا ﻢﻜﻟ ﺔﻳ ﻻ ﻚﻟ ذ ﻲﻓ ّنا ﺔآ ﻰﻠﻤﻟا ُﻪُﻠﻤﺤﺗ نوﺮه لاو ﻰﺳ ﻮﻣ ُل ا ك

Artinya : “Dan nabi mereka berkata lagi: bahwa bulti ia akan menjadi raja ialah akan datang kembali kepadamu peti yang didalamnya berisi sesuatu untuk ketenangan hatimu dari Tuhanmu...”6

5 Dewan penyusun ensiklopedi Islam, EnsiklopediIslam,Cet.I, jilid I, 1993, hlm.201 6 Yayasan Penyelenggara penterjemah/ penafsir, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Departemen

(3)

Kemudian dalam QS. Baraa-ah : 26 yang berarti tentram.

و ﺎه و ﺮﺗ ﻢّﻟ اًد ﻮﻨﺟ ل ﺰﻧاو ﻦﻴﻨﻣ ﺆﻤﻟ ا ﻼﻋو ﻪﻟ ﻮﺳر ﻰﻠﻋ ﻪﺘﻨﻴﻜﺳ ﻪّﻠﻟا ل ﺰﻧ ا ﻢﺛ

بّﺬﻋ

ﻚﻟ ذواوﺮﻔآ ﻦﻳ ﺬّﻟ ا

٭ ﻦﻳﺮﻔﻜﻟاءﺁﺰﺟ

Artinya : “Kemudian Allah menurunkan ketentraman hati kepada Rasul-Nya

dan orang-orang yang beriman…” (QS. Baraa-ah:26) 7

Kemudian dalam QS. Al-Fath : 4 yang berarti tentram.

ﺬّﻟا ﻮه

ﻢﻬﻧ ﺎﻤﻳا ﻊّﻣ ﺎﻧ ﺎﻤﻳا اودادﺰﻴﻟ ﻦﻴﻨﻣ ﺆﻤﻟا ب ﻮﻠﻗ ﻲﻓ ﺔﻨﻴﻜﺴﻟا ل ﺰﻧا ي

...

Artinya : “Dialah yang telah menurunkan ketentraman didalam hati

orang-orang yang beriman supaya bertambah keimananya disamping keimanan yang telah ada. (QS. Al-Fath: 4)8

Secara terminologis (istilah) ungkapan tentang sakinah dalam Al-Qur’an muncul beberapa pengertian. Ali bin Muhammad al-Jurjani (w.816 H /1413 M), ahli pembuat kamus-kamus ilmiah, menyebutkan bahwa sakinah adalah adanya ketentraman dalam hati pada saat datangnya sesuatu yang tak diduga, dibarengi satu nur (cahaya) dalam hati yang memberi ketenangan dan ketentraman dalam hati pada yang menyaksikannya dan merupakan pokok ‘ain al-yaqin (keyakinan berdasarkan penglihatan).9 Pasal 3 KHI (Kompilasi Hukum Islam) disebutkan bahwa : “perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah (tentram), mawaddah (penuh cinta) dan rohmah (penuh kasih sayang).” 10

7 Yayasan Penyelenggara penterjemah/ penafsir, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Departemen

Agama, 1986, hlm. 272

8 Ibid., Hlm. 830

9 Dewan penyusun ensiklopedi Islam, “Sakinah”, EnsiklopediIslam,Cet.I, jilid I, 1993, hlm.202 10 Peradilan agama dan kompilasi hukum islam dalam tata hukum Indonesia, Dadan Muttaqien

(4)

Pengertian secara epistemologis (keilmuan) pada penelitian ini, keluarga sakinah memiliki makna sekelompok orang yang terdiri atas Ibu,bapak beserta anak-anaknya, yang berupaya untuk mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga dengan diliputi perasaan tenang, tentram, bahagia dan tidak gelisah berdasar atas tuntunan agama.

Keluarga sakinah yang mawaddah (penuh cinta) dan warrohmah (penuh kasih sayang), bukan suatu hal yang mudah, tetapi sangat sulit dan benar-benar harus dicari untuk dapat mencapai tujuan kesana. Ibaratnya akan banyak duri dan batu sandung yang harus disingkirkan terlebih dahulu.

B. Pandangan Umum Tentang Keluarga Sakinah Ruang Lingkup Keluarga Sakinah.

Satu-satunya cara mengawali pembentukan rumah tangga sakinah yang berdasarkan pada syariat Islam adalah dengan pernikahan yang syah. Islam memandang pernikahan adalah bagian dari ibadah, bukan pemuasan seksual. Pelaksanaannya tidak dipersulit, bahkan dimudahkan sesuai tuntunan syariat sehingga terkondisi dalam masyarakat kehidupan luhur, kesucian dan keterpeliharaan harga diri manusia.

Anjuran menikah merupakan bagian dari pengaturan Islam atas pemenuhan naluri berselera hasrat kepada lain jenis (ghorizah nau’) agar manusia tidak punah. Anjuran menikah tercantum dalam banyak ayat maupun hadits, diantaranya firman Allah :

ءا ﺮﻘﻓ ا ﻮﻧ ﻮﻜّﻳ نا ﻢﻜﻋ ﺎﻣاو ﻢآ د ﺎﺒﻋ ﻦﻣ ﻦﻴﺤﻠﺼﻟاو ﻢﻜﻨﻣ ﻰﻣ ﺎﻳ ﻻا ا ﻮﺤﻜﻧا و

٭ ﻢﻴﻠﻋ ﻊﺳاو ﻪّﻠﻟاو ﻪﻠﻀﻓ ﻦﻣ ﻪّﻠﻟ ا ﻢﻬﻨﻐﻳ

Artinya : “Dan Kawinkanlah siapa saja diantaramu yang masih bujangan

baik pria maupun wanita, atau siapa saja diantara hamba sahayamu baik pria atau wanita yang sudah sepatutnya dikawinkan. Jika mereka dalam kemelaratan, Allah akan memberikan kecukupan

(5)

kepada mereka dengan kemurahannya. Allah maha luas pemberianya lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur : 32)11

Nabi Muhammad SAW. Sendiri pernah berkata:

ﺮﺼﺒﻠﻟ ﺾﻏأ ﻪﻧ ﺈﻓ ج ّو ﺰﺘﻴﻠﻓ ة ء ﺎﺒﻟا ﻢﻜﻨﻣ ع ﺎﻄﺘﺳ ا ﻦﻣ ب ﺎﺒﺸﻟ ا ﺮﺸﻌﻣ ﺎﻳ

٭ ٌء ﺎﺟ و ﻪﻟ ﻪّﻧ ﺈﻓ مﻮﺼﻟ ﺎﺑ ﻪﻴﻠﻌﻓ ﻊﻄﺘﺴﻳ ﻢﻟ ﻦﻣو ﺮﻔﻠﻟ ﻦﺴﺣأو

Artinya : “Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu

memikul beban, hendaklah ia segera menikah, karena hal itu dapat menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan. Sebaliknya siapa saja yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa, karena hal itu dapat menjadi perisai baginya.” 12

Perkawinan yang baik akan menjadi salah satu jembatan untuk menuju rumah tangga yang baik pula. Perkawinan yang baik disini mengandung pengertian bahwa perkawinan yang didasari atas (petunjuk) agama yang baik oleh masing-masing pihak. Sang suami telah memilih calon isteri yang baik budi pekertinya, baik akhlak dan agamanya, cantik menurut pandangannya, dan terhormat kedudukannya. Sang isteri– pun begitu pula hendaknya dalam memilih calon suami, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

ﻊﺑر ﻷ ة أ ﺮﻤﻟا ﺢﻜﻨﺗ

:

ﺮﻔﻇﺎﻓﺎﻬﻨﻳ ﺪﻟو ﺎﻬﻟ ﺎﻤﺠﻟو ﺎﻬﺒﺴﺤﻟو ﺎﻬﻟ ﺎﻤﻟ

كاﺪﻳ ﺖﺑﺮﺗ ﻦﻳ ﺪﻟا ت ا ﺬﺑ

*

Artinya: “Dari Abu hurairah dari Nabi saw. Bersabda : Dikawini

perempuan karena dalam 4 perkara : karena hartanya,

11 Yayasan Penyelenggara penterjemah/ penafsir, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Departemen

Agama, 1986, hlm. 555

12 Hadits diririwayatkan oleh Bukhari, Muslim Abu Daawud, Tirmidzi, dan Nasa’i. Lihat Jami’ul

(6)

keturunannya,kecantikannya, dan agamanya, maka pilihlah kerena

agamanya maka bahagialah engkau.” 13

Hadits tersebut menerangkan pemilihan pasangan yang tepat sebelum menikah akan memudahkan adaptasi dan pengaturan biduk rumah tangga sesuai bimbingan ideologi Islam. Memilih calon pasangan hidup berdasar agamanya bukan sekedar ibadah ritualnya saja, melainkan kekafahannya dalam ber-Islam. Masyarakat sekuler kapitalis dewasa ini banyak dijumpai individu yang secara fisik Islam, namun aturan hidup yang mengikatnya adalah aturan kufur. Sholat dikerjakan, puasa diamalkan, namun korupsi, makan riba, dan dusta juga dijalankan.

Abu Zaid dan Ridha Salamah menerangkan, pasangan serasi itu terlihat bukan dari kekayaannya yang sama, juga bukan sama-sama tampan dan cantik, Namun pasangan serasi adalah pasangan yang memiliki pola pikir dan pola sikap Islam, artinya sama-sama berkepribadian Islam.14

Persoalan apapun yang akan dihadapi, ringan ataupun berat akan mudah ditemukan bersama solusinya ketika landasan berpikir dan bersikap suami isteri telah sama, yaitu aqidah Islam. Saat terjadi pertentangan pendapat, segera kembali kepada dalil syara’ terkuat, dan keduanya penuh keridhoan qona’ah menerima keputusan yang datang dari Allah dan RasulNya, sekalipun bertentangan dengan keinginan dan hawa nafsunya.

Diharapkan dari diawali dengan pemilihan pasangan hidup yang tepat, akan menumbuhkan kasih sayang dalam keluarga, kasih sayang sejati, yakni tidak membiarkan setiap anggota keluarga tersentuh oleh api neraka seujung rambutpun. Perjalanan dalam mengayuh biduk rumah tangga akan terjadi sikap saling muhasabbah (introspeksi) kalau-kalau terjadi penelantaran kewajiban dalam berpegang teguh dalam ajaran agama.

13 Hussein Bahreisy (peny.), Himpunan Hadits pilihan, Hadits Shahih Bukhari, Al-Ikhlas,

Surabaya, 1980, hlm. 312

14 Abu Zaid dan Ridha Salamah, Membangun Rumah Tangga Ideologis, PT. Wahyu Media

(7)

Sebelum membahas lebih lanjut tentang keluarga sakinah mawadah warahmah, terlebih dahulu akan penulis uraikan apa yang sebenarnya dimaksud dengan bahagia dan damai itu dan bagaimana cara memperolehnya karena jika salah dalam mencarinya, tidak akan dapat menemukan kedamaian dan kebahagiaan untuk selamanya.

Drs. Lubis salam15 berpendapat, bahwa kedamaian dan kebahagiaan hati itu diartikan oleh kebanyakan orang dengan adanya kekayaan yang cukup, punya kedudukan, juga sehat badannya, sebab semua makanan akan terasa nikmat jika badannya sehat, dan orang yang sengsara adalah orang yang sedang sakit, karena sebanyak apapun kekayaan yang dimilikinya tidak terasa nikmat bagi dirinya.

Sekilas faktor-faktor tersebut merupakan beberapa indikator adanya rasa bahagia dan tenang bagi tiap manusia secara lahiriah didunia ini. Kedamaian dan ketentraman itu pada dasarnya ada dalam jiwa seseorang, yang tidak seorang pun mengetahui akan rahasia jiwa, sebab jiwa atau roh itu urusan Allah dan hanya Allah yang mengetahui akan segala rahasianya. Firman Allah SWT. :

ﻢﻠﻌﻟ ا ﻦّﻣ ﻢﺘﻴﺗ و ا ﺎﻣو ﻰﺑ ر ﺮﻣا ﻦﻣ ح و ﺮﻟ ا ﻞﻗ ح و ّﺮﻟ ا ﻦﻋ ﻚﻧ ﻮﻠﻌﺴﻳ و

ﻼﻴﻠﻗ ﻻ ا

Artinya: “ Dan mereka akan bertanya kepadamu tentang roh, katakanlah: soal

roh adalah urusan Tuhanku. Adapun ilmu yang telah kamu peroleh tentang roh itu masih terbatas sekali !” (QS. Al-Isra : 85)16

Allah-lah yang mengetahui rahasia jiwa, maka hanya Allah yang dapat menunjukkan suatu jalan untuk mencapai ketenangan dan ketentraman hati seseorang. Kalau manusia hendak mengetahui siapa orang yang bahagia dan damai serta tentram

15 Drs. Lubis Salam, MenujuKeluarga Sakinah, Terbit terang, Surabaya, t.th., hlm.8 16 Yayasan Penyelenggara penterjemah/ penafsir, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Departemen

(8)

hatinya itu hendaklah bertanya kepada Allah, sebab hanya Allah mengetahui urusan roh.17

Kebahagiaan keluarga adalah merupakan salah satu tujuan yang ingin dicapai oleh mereka yang mendirikan rumah tangga. Untuk mendapatkannya maka tidak sedikit usaha dan pengorbanan yang ikhlas oleh setiap suami dan isteri guna meningkatkan usaha agar menambah dan melestarikan sesuatu yang telah dimilikinya.

Bermacam-macam nilai dan ukuran manusia tentang perasaan bahagia itu sendiri. Ada sementara orang menilai dan memandangnya dari segi material yang dimiliki, ada pula dari segi-segi rohaniah, serta banyak pula yang memandang dari segi keduanya secara utuh dan bulat.

Hasan Basri18 menerangkan bahwa taraf kebahagiaan seseorang sangat ditentukan oleh beberapa keadaan dan faktor, seperti : pemilikan harta benda secukup kebutuhan, kemampuan ekonomi guna memenuhi kebutuhan hidup dalam keluarga, kedewasaan diri dalam setiap aspeknya, kesehatan badan dan batin, serta keadaan seksualitas suami-isteri dalam keluarga tersebut.

Naluri seksual yang ada pada setiap manusia adalah sunatullah yang indah. Libido ini mula-mula timbul karena kemasakannya di masa remaja atau masa pubertas yang diawali dengan perasaan ketertarikan dengan lawan jenisnya. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika taraf kebahagiaan dalam kehidupan keluarga akan terasa mengganjal jika kehidupan seksual suami isteri dalam suatu keluarga tidak tercapai dengan maksimal.

Lebih lanjut Hasan Basri menjelaskan agar kebahagiaan hidup dalam keluarga dapat berkembang dengan subur dan teguh, maka ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan hal-hal yang rahasia dalam keluarga, yaitu permasalahan seksualitas ini kiranya

17 Drs. Lubis Salam, op. cit., hlm. 10

18 Drs. Hasan Basri, Keluarga sakinah, tinjauan psikologi dan agama, Pustaka Pelajar, 1995,

(9)

perlu mendapatkan perhatian yang cukup dari masing-masing pasangan suami-isteri.19 Azis Musthofa20 lebih jauh mendefiniskan setidaknya terdapat lima aspek dalam mewujudkan keluarga sakinah yaitu :

1. Mewujudkan kehidupan keberagamaan dalam keluarga, dari segi keimanannya kepada Allah murni (tidak melakukan kesyirikan), taat kepada ajaran Allah dan RasulNya, cinta kepada Rasulullah dengan mengamalkan misi yang diembannya. Sehingga tiap anggota keluarga berupaya untuk mencapai yang terbaik, sabar dan tawakal menerima qadar Allah.

2. Peningkatan pengetahuan agama, dengan memiliki semangat untuk mempelajari, memahami dan memperdalam ajaran Islam. Taat melaksanakan tuntunan akhlak mulia, disamping juga menciptakan kondisi rumah yang Islami. Orang tua mempunyai kewajiban lain untuk memberikan motivasi terhadap pendidikan formal bagi setiap anggota keluarga dengan membudayakan gemar membaca, mendorong anak-anak untuk melanjutkan dan menyelesaikan sekolahnya, terutama bila mampu sampai ketingkatan sarjana.

3. Perhatian terhadap masalah kesehatan keluarga. Semua anggota keluarga hendaknya diarahkan untuk menyukai olah raga, sehingga tidak mudah sakit, kalau ada yang sakit segera menggunakan jasa pertolongan puskesmas atau dokter. Anak sejak balita dibekali dengan imunisasi pokok, penciptaan keadaan rumah yang sehat, bersih dan indah, juga didukung oleh sanitasi lengkap dan lancar.

4. Tercukupinya ekonomi keluarga. Suami istri mempunyai penghasilan yang cukup untuk memenuhi setiap kebutuhan pokok. Pengeluaran tidak melebihi pendapatan, bahkan kalau cukup bisa ditabung, sehingga kebutuhan pokok seperti makan, sandang, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya bisa dicukupi.

5. Hubungan sosial keluarga yang harmonis. Ditandai dengan terciptanya hubungan suami-istri yang saling mencintai, menyayangi, saling membantu,

19 Ibid., hlm. 43

(10)

menghormati, mempercayai, saling terbuka dan bermusyawarah bila mempunyai masalah. Harmonisnya pula hubungan antara orang tua dengan anak. Orang tua mampu menunjukkan rasa cinta dan kasih sayangnya, memberikan perhatian, bersikap adil, mampu membuat suasana terbuka, sehingga anak merasa bebas mengutarakan masalahnya, membuat suasana rumah tangga itu mampu menjadi tempat bernaung yang indah, aman, dan segar.

Abdullah Gymnastiar atau lebih akrab dengan sapaan Aa’ Gym21, juga memaparkan empat visi dalam membangun keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, yaitu :

1. Menjadikan rumah tangga sebagai pusat ketentraman batin dan ketenangan jiwa. 2. Rumah tangga sebagai pusat ilmu.

3. Rumah tangga sebagai pusat nasehat. 4. Rumah tangga sebagai pusat kemuliaan.

Menciptakan atmosfer rumah tangga sebagai pusat ketentraman batin dan ketenangan jiwa bagi setiap anggota keluarga sehingga suasana dalam rumah laksana berada di surga, Al-baiti jannati. Hal ini tidak akan tercapai tanpa adanya pemahaman dari tiap anggota keluarga untuk mau mendekatkan diri kepada Allah.

ﷲا ﺮآ ﺬﺑ ﻻا ﷲ ا ﺮآ ﺬﺑ ﻢﻬﺑﻮﻠﻗ ّنﺈﻤﻄﺗو اﻮﻨﻣ ا ﻦﻳ ﺬّﻟا

٭ ب ﻮﻠﻘﻟا ّﻦﻌﻤﻄﺗ

Artinya : “Mereka ialah orang-orang yang beriman, yang hatinya menjadi

tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati orang mukmin akan menjadi tentram. (QS. Ar-Ra’du:28)22

Aa Gym lebih jauh menandaskan agar rumah tangga kita menjadi rumah tangga yang ahli sujud, rumah tangga yang ahli taat, rumah tangga yang menghiasi dirinya dengan dzikrullah.23

21 Abdullah Gymnastiar, Membangun Keluarga, MQS. Pustaka Grafika, Bandung, 2002, hlm. i 22 Yayasan Penyelenggara penterjemah/ penafsir, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Departemen

(11)

Rumah tangga yang kurang ilmu adalah rumah tangga yang hanya akan akrab dengan sikap emosi, jauh dari kearifan, dan hanya mengandalkan kekerasan saja.24 Ilmu dapat diibaratkan sebagai pupuknya iman. Memiliki harta tapi kurang ilmu, malah kita menjadi budak harta. Kalau semakin banyak ilmu yang dimiliki, ilmulah yang akan menjaga manusia. Seperti firman Allah SWT. :

ﻞﻴﻗاذاو ﻢﻜﻟ ﻪّﻠﻟا ﺢﺴﻔﻳ اﻮﺤﺴﻓ ﺎﻓ ﺲﻠﺠﻤﻟ ا ﻰﻓ اﻮﺤّﺴﻔﺗ ﻢﻜﻟ ﻞﻴﻗ ا ذا اﻮﻨﻣ ا ﻦﻳ ﺬﻟا ﺎﻬﻳﺎﻳ

ﺎﻤﺑ ﷲاو ﺖﺟ رد ﻢﻠﻌﻟ اا ﻮﺗ و ا ﻦﻳ ﺬّﻟاو ﻢﻜﻨﻣ ا ﻮﻨﻣ ا ﻦﻳ ﺬّﻟا ﷲا ﻊﻓ ﺮﻳ ا و ﺰﺸﻧ ا

٭ ﺮﻴﺒﺧ ن ﻮﻠﻤﻌﺗ

Artinya : “ Hai orang-orang yang beriman, bila dikatakan kepadamu :

‘berlapang-lapanglah didalam majelis’, maka hendaklah kamu meluangkan tempat, tentu Allah akan meluaskan tempatmu di akhirat. Dan bila diminta : ‘berilah luangan!’ hendaklah kamu luangkan, tentu Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan para cendekiawan diantaramu, dengan beberapa derajat. Dan Allah maha mengetahui apa saja yang kamu kerjakan.”

(QS. Al-mujadilah: 11)25

Berkaitan dengan hal pendidikan, Hasan Langgulung26 juga mengemukakan ulama terdahulu telah menekankan pentingnya keluarga dalam memegang peranan pendidikan terutama pada tahun-tahun pertama anak. Langgulung menegaskan bahwa minimal ada tujuh bidang pendidikan yang dapat dapat dimaninkan kedua orang tua, yaitu pendidikan jasmani, kesehatan, intelektual, keindahan (estetika), emosi dan psikologi, agama, spiritual , akhlak , sosial dan politik.

23 Ibid., hlm. 16 24

Ibid., hlm. 21

25 Yayasan Penyelenggara penterjemah/ penafsir, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Departemen

Agama, 1986, hlm. 898

26 Hasan Langgulung, Manusia dan pendidikan, suatu analisis psikologi dan

(12)

Bagian akhir penelitian Ikrom, menyimpulkan setidaknya ada empat bidang pendidikan yang terkandung dalam Surat luqman, yakni :

1) Pendidikan keimanan (ayat 13),

٭ ﻢﻴﻈﻋ ﻢﻠﻈﻟ ك ﺮﺸﻟا ّنا ﻪّﻠﻟ ﺎﺑ ك ﺮﺴﺗ ل ّﻰﻨﺒﻳ ﻪﻈﻌﻳ ﻮهو ﻪﻨﺑ ﻻ ﻦﻤﻘﻟ ل ﺎﻗ ذاو

Artinya : “Berkatalah luqman dalam wejangan kepada anaknya: “ Hai anakku ! janganlah engkau mempersekutukan Allah ! Sebab mempersekutukan Allah itu adalah dosa besar” (QS. Al-luqman: 13)

2) Pendidikan ibadah shalat (ayat 17),

ّنا ﻚﺑ ﺎﺻ ا ﺎﻣ ﻰﻠﻋ ﺮﺒﺻو ﺮﻜﻨﻤﻟ ا ﻦﻋ ﻪﻧاو فو ﺮﻌﻤﻟﺎﺑﺮﻣأو ة ﻮﻠﺼﻟا ﻢﻗا ّﻰﻨﺒﻳ

٭ ر ﻮﻣ ﻻا مﺰﻋ ﻦﻣ ﻚﻟ ذ

Artinya : “Anakku ! kerjakanlah shalat, anjurkanlah perbuatan yang baik, cegahlah perbuatan keji dan bersabarlah terhadap kemalangan yang menimpamu. Sesungguhnya semua itu termasuk hal-hal yang menjadi intisari hidup yang diwajibkan Tuhan.” (QS.al-Luqman:17)

3) Pendidikan akhlak (ayat 18).

رﻮﺨﻓ ل ﺎﺘﻨﻣ ﻞآ ﺐﺤﻳ ﻻ ﷲا ّنا ﺎًﺣ ﺮﻣ ضرﻻا ﻰﻓ ﺶﻤﺗ ﻻو س ﺎﻨﻠﻟ ك ّﺪﺧ ّﻊﺼﺗ ﻻو

Artinya : “Dan janganlah engkau membuang muka penuh kesombongan

terhadap orang lain dan janganlah engkau berjalan dimuka bumi dengan angkuh. Sebab Allah tidak senang terhadap semua orang yang sombing, lagi angkuh. (QS. Al-Luqman:18)

Keempat pendidikan keluarga yang diajarkan oleh Luqman tersebut harus dipahami bukan sebagai materi yang terjabarkan dalam buku-buku secara tafsili. Bidang-bidang pendidikan tersebut merupakan ajaran yang mujmal. Lebih tepatnya,

(13)

keempat pendididkan tersebut diberikan kepada anak secara alamiah dan normatif, tidak terprogram dan sistematik, sebagaimana proses pendidikan yang ada dalam lembaga pendidikan formal, karena itu pendidikan keluarga itu pada dasarnya bersifat praktis interaktif.27

Kaitan Sakinah, Mawaddah dan Warrahmah

Terminologi Sakinah sebagaimana telah dijelaskan pada awal tulisan ini mempunyai makna tenang tentram, dan tidak gelisah. Sedang terminologi dari Mawaddah yakni penuh cinta, dan terminologi warrahmah memiliki artian kasih sayang.

Tujuan dalam penelitian kali ini tidaklah cukup dalam mengetahui term sakinah saja,dengan perasaan tenang. Mawaddahlah yang menjembatani agar cita-cita kehidupan keluarga menjadi penuh cinta dalam anggota keluarga muslim, yang kemudian didasari oleh warrahmah perasaan kasih sayang yang tulus terhadap sesama dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

C. Metode Pembinaan Keluarga Sakinah

Bentuk perserikatan paling kecil, namun menentukan dalam masyarakat adalah “lembaga keluarga”, atau biasa disebut rumah tangga. Suatu masyarakat akan baik kalau lingkungannya terdiri dari keluarga-keluarga yang bertanggung jawab. Sebaliknya, masyarakat akan rusak jika terdiri dari keluarga rusak. Mustahil suatu lembaga keluarga dapat serasi tanpa keharmonisan anggota-anggotanya sendiri, terutama kecocokan antara ayah dan ibu.

Rumah tangga islami adalah rumah tangga yang laksana surga bagi setiap penghuninya, tempat melepas lelah, tempat bersenda gurau, yang diliputi rasa bahagia, aman dan tentram, sebagaimana sabda Rasulullah SAW.: “Rumah tanggaku adalah Surgaku”.

27 Drs. Ikrom, M.Ag, “Abstraksi pendidikan dalam pandangan surat Luqman”, Jurnal Walisongo,

(14)

Kehidupan rumah tangga memang tidak selamanya selalu tentram dan damai, kadang-kadang terjadi juga selisih pendapat antara suami dan istri adalah sesuatu yang wajar, asal jangan sampai berlarut-larut. Pepatah mengatakan “Pertengkaran-pertengkaran kecil dalam keluarga merupakan bumbu pelekat kasih sayang”. Artinya, jika pertengkaran berlangsung, hendaklah mendiamkan pasangan yang sedang marah. Setelah kemarahan mereda, barulah dicari penyelesaianya, dengan menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya atau meminta kejelasan tentang masalah tersebut. Jangan sampai apabila pasangan marah, kita-pun menanggapinya dengan perasaan marah pula, sehingga dapat menyebabkan malapetaka baru yang dahsyat.

Untuk itu perlu kiranya mengetahui faktor-faktor apa saja penyebab terjadinya kemerosotan keluarga, agar dikemudian hari kita dapat menyikapinya dengan tepat. Susi Bawarni dan Arin Mariani28, menjelaskannya keadalam empat faktor, yaitu : kefakiran, kekayaan harta, pertentangan dan perselisihan keluarga, dan perceraian.

1. Kefakiran.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa didalam hidup manusia membutuhkan sandang, pangan dan papan, yang dengan itu ia dapat melakukan kewajiban-kewajiban yang diamantkan kepadanya. Kelayakan hidup sebagai manusia itu perlu, karena jika semua umat Islam fakir, tentu tidak dapat berinfak dan berzakat, padahal perjuangan dijalan Allah juga memerlukan biaya. Kefakiran seringkali mendekatkan orang pada kekafiran, terutama pada orang yang tipis imannya.

2. Kekayaan atau Harta.

Kakayaan/harta yang melimpah, yang tidak disertai dengan iman pemiliknya, merupakan salah satu penyebab kemerosotan keluarga. Ayah dan ibu yang melimpahi anak-anaknya dengan uang atau harta tetapi batinnya tidak diisi, berarti orang tua

28 Dra. Susi Bawarni dan Arin Mariani, potret keluarga sakinah, Media Idaman Pers, Surabaya,

(15)

tersebut telah menjadikan batin anak-anaknya fakir (miskin) jiwa. Otomatis ia telah mengantarkan anak-anaknya menuju api neraka.

3. Pertentangan dan Perselisihan dalam Keluarga.

Pertentangan dan perselisihan yang terus menerus dan tidak ada pemecahannya dalam anggota keluarga adalah suatu hal yang berbahaya, karena itu menciptakan rumah tangga yang bahagia, aman,, dan rukun, diperlukan empat hal yaitu :

a. Mawaddah (Cinta kasih sesama anggota keluarga); b. Mahabbah ( Rasa menyayangi);

c. Takafful (Tolong menolong); dan d. Tafahum ( Saling pengertian).

4. Menghindari Perceraian.

Setiap keluarga muslim hendaknya menghindari perceraian, karena hal ini dapat menyebabkan anak menjadi stress, tidak mempunyai pegangan hidup, tidak tahu lagi apa tujuan hidup, dan hancur moralnyanya, sehingga ia berbuat sekehendak hatinya dengan tidak menghiraukan kepentingan orang lain.29

Lubis Lukman30 menjelaskan orang tua mempunyai tiga peranan terhadap anak, yakni :

1. Merawat fisik anak, agar anak tumbuh kembang dengan sehat.

2. Proses sosialisasi anak, agar anak belajar menyesuaikan terhadap lingungannya (keluarga, masyarakat, kebudayaan).

3. Kesejahteraan psikologis dan emosional dari anak.

Yang jelas ialah bahwa jika peran dari salah seorang anggota keluarga berubah, maka akan berubah pula peran dari anggota keluarga lainnya. Keluarga Merupakan suatu sistem dinamis dari interaksi (hubungan) anggota keluarga dengan

29 Ibid., hlm. 37

(16)

kebutuhannya masing-masing. Masalah yang dirasakan oleh salah seorang anggota keluarga akan mempunyai dampak terhadap keseluruhan sistem tersebut.

Faktor kunci lain guna mewujudkan dan membina keluarga yang tenang, tentram dan bahagia adalah komunikasi31. Komunikasi dalam kehidupan umat manusia semakin dirasakan urgensinya, bukan saja karena disebabkan kemajuan ilmu dan teknologi, tetapi karena hasrat dasar sosial yang terdapat didalam diri setiap individu. Dengan berkomunikasi manusia akan mendapatkan keperluannya yang sangat dibutuhkan, bahkan dengan kegiatan ini manusia akan menemukan salah satu sumber kebahgiaan yang lain, karena dengan berkomunikasi manusia dapat menyampaikan pikiran, perasaan, kemauan dan penolakan dirinya akan sesuatu.

Keluarga yang berbahagia ternyata bukan saja diwarnai oleh terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan primer dan sekunder material, tetapi yang juga tak kalah pentingnya adalah keadaan komunikasi yang berlangsung didalam rumah tangga. Hasan Basri berpendapat, kehidupan suatu keluarga akan bertambah kebahagiaannya apabila tiap warganya mempunyai kemauan yang baik untuk berkomunikasi efektif. Lebih jauh Hasan menerangkan bahwa komunikasi dalam keluarga mempunyai fungsi sebagai:

Pertama, sarana untuk mengungkapkan perasaan kasih sayang; kedua, media untuk

menyatakan penerimaan atau penolakan atas pendapat yang disampaikan; ketiga, sarana untuk menambah keakraban hubungan sesama warga dalam keluarga; keempat, menjadi barometer bagi baik-buruknya hubungan interkasi dalam sebuah keluarga.32

31 Carl I Hovland menerangkan bahwa komunikasi adalah proses dimana seseorang insan

menyampaikan perangsang untuk mengubah perilaku insan-insan lainnya. Kemudian Astrid S. Susanto mengemukakan bahwa komunikasi adalah kegiatan pengoperan lambang yang mengandung arti makna. Dari kedua definisi tersebut, setidaknya terdapat lima macam unsur komunikasi yang perlu diperhatikan, yakni : (1) komunikator yang menyampaikan bahan-bahan yang akan dikomunikasikan; (2) Messages (pesan atau perangsang ) yang dioperkan oleh kominikator; (3) Komunikan yang menerima pesan-pesan tersebut; (4) Response yakni reaksi atau tanggapan komunikan terhadap komunikaor; dan (5) media yang dipergunakan. Baca bukunya Astrid S. Susanto, Komunikasi sosial di Indonesia, BinaCipta,

Bandung, 1980, hlm 37.

(17)

Faktor binaan dalam mewujudkan keluarga sakinah dalam era informasi dan teknologi ini terasa semakin kompleks. Wacana mengenai emansipasi wanita didalam keadaan zaman yang telah bertambah canggih membuat pola berpikir masyarakatpun ikut mengalami perubahan, dan lebih besar condong kepada hal-hal yang realistis. Perubahan culture (budaya) kerja yang sudah tidak lagi didominasi oleh kaum pria, cukup memberikan warna tersendiri bagi upaya penegakkan rumah tangga yang harmonis. Hal ini menuntut adanya sikap kedewasaan dan kebijakan suami-isteri dalam keluarga untuk dapat mengorientasikan pada mahligai rumah tangga yang bahagia. Konsep emansipasi wanita dalam islam tidak jadi masalah atau hambatan, karena wacana baru ini cukup memberikan kesempatan luas bagi wanita untuk berpartisipasi dalam membangun masyarakatnya bersama kaum pria.

Pekerjaan atau tugas-tugas rumah tangga yang membutuhkan kesabaran dan perhatian khusus, juga waktu-waktu anak dekat dengan ibunya, nampak sekarang ini telah ada yang dialih tugaskan kepada pria, karena bisa jadi si pria atau suami menganggur dan sulit mencari pekerjaan. Sementara sang Ibu harus keluar rumah dan kurang perhatian terhadap anak. Hal ini akan bisa sangat berpengaruh buruk terhadap perkembangan psikologi anak-anak akibat kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orang tua.

Ibnu Musthafa33 menyarankan, hendaknya keluarga-keluarga Islam perlu memperbaiki diri dengan segera, dengan merenungkan kembali apa yang telah, sedang, dan akan terjadi. Keluarga muslim harus kembali kepada fitrahnya dan mengkaji ulang apa yang telah diperbuat yang telah menimbulkan kesengsaraan-kesengsaraan pribadi dan anak-anaknya. Kesadaran suami-istri akan fitrahnya masing-masing akan memungkinkan terbinanya kesejahteraan dan keseimbangan dalam keluarga Islam yang Sakinah, mawaddah dan warrahmah.

Referensi

Dokumen terkait

1) Untuk mengoptimalkan potensi sumberdaya yang ada di wilayah Kabupaten Tapin sekaligus berusaha untuk mewujudkan penata lingkungan wilayah pertambangan di Kabupaten

Adalah yang menangani apakah materi yang sudah dibuat oleh penyusun dan penulis naskah baik dari segi materi penulisan, penggunaan ilustrasi yang mendukung, dan

Sedangkan zakat ditinjau dari segi istilah terdapat banyak ulama’ yang mengemukakan dengan redaksi yang berbeda-beda , akan tetapi pada dasarnya mempunyai maksud yang

Ajaran Kebenaran adalah Permulaan bersatu padu dengan adat budaya Simalungun, sebagai tata tuntunan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari masyarakat atau dapat disebut

Pengertian Islam secara istilah adalah : agama yang ditururnkan Allah kepada manusia melalui rasul-rasulnya berisi hukum-hukum yang mengatur manusia dengan Allah, manusia dengan

Panti Asuhan Karya Murni terbuka untuk semua orang yang datang dan tinggal di panti dengan kategori anak tersebut memiliki cacat netra.. Hingga saat ini warga panti asuhan Karya

perbuatannya berupa perbuatan pasif, misalnya diatur dalam Pasal 224, 304 dan 552 KUHP. 2) Tindak pidana tidak murni adalah tindak pidana yang pada dasarnya berupa tindak

Hadiah adalah pemberian sesuatu kepada seseorang dengan maksud untuk memuliakan atau memberikan penghargaan. Rasulullah SAW menganjurkan kepada umatnya agar saling