3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada Bulan Juli 2007 sampai dengan Februari 2008. Penelitian dilakukan di Kabupaten Banyuasin Propinsi Sumatera Selatan yang berlokasi di daerah Sungsang (Lampiran 1). Kegiatan penelitian meliputi : 1. Pelaksanaan penelitian di lapangan selama 3 bulan (Juli – September 2007)
yaitu pengambilan data primer dan data sekunder di lapangan.
2. Pelaksanaan tabulasi data dan penyusunan tesis selama 5 bulan (September 2007 - Februari 2008).
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah buku identifikasi ikan, kuisioner, kamera, alat-alat tulis, satu unit PC, software yang digunakan adalah Microsoft Word, Excel, Maple VIII, Lindo, dan CMap. Buku identifikasi digunakan untuk melakukan identifikasi setiap spesies yang tertangkap oleh masing-masing alat tangkap selama penelitian berlangsung. Kuisioner dengan nelayan dan pedagang pengumpul mencakup hasil tangkapan, alat tangkap, wilayah penangkapan, pemasaran dan lain-lain. Untuk melakukan pengolahan data digunakan satu unit Personal Computer (PC). Peralatan lain seperti kamera dan alat-alat tulis digunakan untuk dokumentasi dan pencatatan data lapangan. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan pelagis. 3.3 Tahapan Penelitian
Penelitian ini akan difokuskan pada analisis skoring, analisis finansial, optimasi alat penangkapan ikan dan strategi pengembangan perikanan pelagis di Kabupaten Banyuasin. Rincian tahapan penelitian tampak pada Gambar 6.
Gambar 6 Bagan alir tahapan penelitian 3.4 Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei dan observasi lapangan. Data yang di kumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan melalui pengukuran dan pengamatan langsung terhadap unit penangkapan ikan pelagis serta wawancara menggunakan daftar pertanyaan yang sesuai dengan tujuan penelitian. Wawancara dilakukan terhadap nelayan pemilik alat penangkapan ikan pelagis, nelayan sebagai pekerja dan para stakeholder perikanan tangkap di Kabupaten Banyuasin. Jenis ikan pelagis yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tiga jenis ikan yang dominan yang terdapat di Sungsang yaitu ikan tongkol (Auxis sp), ikan tembang (Sardinella sp), dan ikan kembung (Rastrelliger sp) dengan alat tangkap jaring insang hanyut, bagan tancap dan rawai hanyut.
KONDISI PERIKANAN PELAGIS
1. Ketersediaan dan tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan 2. Keragaan kebijakan pengelolaan SDI Pelagis
3. Keragaan armada dan alat tangkap perikanan pelagis
4. Keragaan teknis dan ekonomis usaha penangkapan ikan dengan alat tangkap
5. Perkembangan alat tangkap
ANALISIS FINANSIAL
TEKNOLOGI PENANGKAPAN BERKELANJUTAN UNTUK IKAN PELAGIS
ALOKASI UNIT PERIKANAN TANGKAP PELAGIS
REKOMENDASI KEBIJAKAN PENGELOLAAN PERIKANAN PELAGIS TERKAIT DENGAN
PENGOPERASIAN ALAT TANGKAP Pendapatan Usaha,R/C,ROI, BEP, Net B/C,IRR,NPV dan Sensitivitas METODE SKORING BERBASIS CCRF LINEAR GOAL PROGRAMMING
PENENTUAN STRATEGI PENGEMBANGAN PERIKANAN TANGKAP
ANALISIS SWOT
Data sekunder diperoleh dari Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Sumatera Selatan, Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Banyuasin, dan berbagai tulisan melalui penelusuran pustaka (studi pustaka). Mengingat keterbatasan sumberdaya penelitian (tenaga, waktu dan dana) jumlah sampel yang dikumpulkan dibatasi sekurang-kurangnya 10 % dari unit populasi untuk setiap unit penangkapan ikan pelagis. Perbandingan antara jumlah dengan populasi jenis alat tangkap ikan pelagis yang menjadi sampel penelitian (Tabel 1). Responden dikumpulkan secara purposive sampling, yaitu dengan cara memastikan diperolehnya sejumlah sampel yang mewakili populasi yang akan diteliti (Mangkusubroto dan Trisnadi, 1985).
Tabel 1 Jumlah sampel menurut unit penangkapan ikan pelagis yang ada di Kabupaten Banyuasin
No Jenis Alat Tangkap Ikan Pelagis Populasi (unit) Jumlah Sampel (unit)
1. Rawai Hanyut 20 4
2. Jaring Insang Hanyut 90 9
3. Bagan Tancap 110 11
Jumlah 220 24
Data yang dikumpulkan untuk masing-masing aspek kajian (aspek biologi, teknis, sosial, ekonomi, dan keramahan lingkungan) adalah sebagai berikut : 1. Aspek biologi
Pengukuran parameter biologi pada penelitian ini dilakukan terhadap, sumberdaya ikan pelagis sebagai salah satu sampel penelitian. Beberapa parameter biologi yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini dapat disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2 Pengukuran parameter biologi terhadap sumberdaya ikan pelagis
No Parameter Uraian
1. 2. 3.
Komposisi target spesies Ukuran hasil tangkapan Musim penangkapan
Komposisi hasil tangkapan utama yaitu ikan pelagis.
Rata-rata ukuran panjang ikan pelagis hasil tangkapan.
Lama waktu nelayan melakukan operasi penangkapan ikan pelagis.
2. Aspek teknis
Pengukuran parameter teknis dilakukan pada perahu dan alat penangkapan. Parameter teknis penting untuk diketahui karena menyangkut masalah produksi unit penangkapan ikan pelagis yang dioperasikan. Beberapa parameter teknis yang akan dikumpulkan pada penelitian ini dapat disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3 Pengukuran parameter teknis pada perahu dan alat penangkapan ikan pelagis No Parameter Uraian 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Ukuran perahu Jenis mesin
Jenis bahan bakar minyak (BBM) yang digunakan
Ukuran alat penangkapan ikan pelagis
Material alat penangkapan ikan pelagis
Produksi per tahun Produksi per trip
Pengukuran ini dilakukan untuk mengetahui panjang, lebar dan tinggi perahu yang digunakan oleh nelayan, tentunya berkaitan dengan GT, jangkauan daerah penangkapan serta kapasitas produksi.
Perbedaan mesin yang digunakan oleh nelayan sebagai tenaga penggerak perahu, jenis mesin ini berkaitan dengan kemudahan pengadaan materialnya, harganya terjangkau, fasilitas pelayanannya seperti bengkel serta daya tahan operasional penangkapan dilakukan.
Perbedaan bahan bakar minyak (BBM) yang digunakan sangat tergantung dari jenis mesin yang dipakai oleh nelayan, namun diharapkan BBM yang digunakan tersedia setiap waktu, harganya terjangkau dan membuat mesin menjadi tahan lama.
Pengukuran alat penangkapan ikan pelagis seperti dimensi (panjang dan lebar) dan pengukuran mata jaring (mesh size) dari tiga alat penangkapan ikan pelagis.
Tiga jenis alat penangkapan ikan pelagis terbuat dari bermacam-macam material, yang diharapkan dari bahan ini adalah tahan lama, harganya terjangkau serta mudah didapatkan oleh nelayan. Jumlah hasil tangkapan yang dihasilkan setiap unit penangkapan ikan pelagis selama lima tahun terakhir.
Jumlah hasil tangkapan setiap unit penangkapan ikan pelagis pertrip, satu kali trip yaitu satu kali armada penangkapan ikan pelagis terhitung sejak armada penangkapan ikan pelagis meninggalkan fishing base menuju daerah penangkapan dan kembali ke fishing base semula atau fishing base lainnya untuk mendaratkan hasil tangkapannya.
3. Aspek sosial
Pengukuran parameter sosial dalam penelitian ini diarahkan kepada nelayan sebagai pelaku utama dalam kegiatan penangkapan ikan pelagis. Pentingnya mengetahui parameter sosial masyarakat nelayan karena didorong oleh perubahan faktor produksi yang dimiliki seperti alat penangkapan ikan pelagis yang setiap kurun waktu tertentu mengalami perubahan dari unit penangkapan yang berteknologi tradisional ke unit penangkapan ikan pelagis yang berteknologi tradisional ke unit penangkapan ikan pelagis yang berteknologi lebih baik. Apakah alat tangkap dengan teknologi yang lebih baik dapat diterima oleh nelayan. Parameter sosial yang penting untuk diketahui karena menyangkut masalah sumberdaya manusia yang mengoperasikan unit penangkapan ikan pelagis. Beberapa parameter sosial yang dikumpulkan dalam penelitian ini dapat disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4 Pengukuran parameter sosial pada nelayan yang menggunakan unit penangkapan ikan pelagis
No Parameter Uraian
1.
2.
3.
Jumlah nelayan yang terserap setiap unit penangkapan ikan pelagis
Pendapatan nelayan per tahun
Tingkat penguasaan teknologi
Banyaknya nelayan yang bekerja atau digunakan oleh setiap unit penangkapan ikan pelagis dalam setiap kegiatan operasi penangkapan ikan pelagis dengan pendapatan yang sesuai.
Pendapatan nelayan dari bagi hasil antara pemilik kapal dengan ABK tanpa memperhitungkan kelebihan satu sama lainnya.
Bagaimana pengusaan nelayan terhadap teknologi alat tangkap yang digunakan, (1) mudah; (2) sedang; (3) sedikit sukar; dan (4) sukar.
4. Aspek ekonomi
Pengukuran parameter ekonomi dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui manfaat ekonomi dari suatu usaha penangkapan ikan pelagis. Parameter ekonomi yang dikumpulkan dalam penelitian ini seperti biaya investasi, biaya operasional, biaya perawatan, dan nilai produksi. Beberapa parameter ekonomi yang dikumpulkan dalam penelitian ini disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5 Pengukuran parameter ekonomi terhadap unit penangkapan ikan pelagis No Parameter Uraian 1. 2. 3. 4. Biaya investasi Biaya operasional Biaya perawatan Nilai produksi
Biaya yang dikeluarkan untuk pengadaan kapal/perahu, alat penangkapan ikan pelagis, mesin dan perlengkapan lainnya.
Biaya yang dikeluarkan saat kegiatan operasional penangkapan dilaksanakan seperti bahan bakar minyak (BBM), perbekalan dan es.
Biaya yang dikeluarkan untuk pemeliharaan perahu, alat penangkapan ikan pelagis, mesin dan perlengkapan lainnya.
Berat produksi dikalikan harga persatuan berat pada tingkat harga produsen, dinyatakan dalam rupiah.
5. Aspek lingkungan
Pengukuran parameter lingkungan dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui manfaat lingkungan dari usaha penangkapan ikan pelagis. Beberapa parameter lingkungan yang dikumpulkan dalam penelitian ini disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6 Pengukuran parameter lingkungan terhadap unit penangkapan ikan pelagis No Parameter Uraian 1. 2. 3. 4. 5. By catch rendah
Selektivitas yang tinggi
Dampak ke biodiversity kecil
Tidak merusak habitat perairan Menghasilkan ikan berkualitas tinggi
Ikan non target yang tertangkap dalam proses penangkapan karena tidak mempunyai pasar yang baik di lokasi penelitian.
Hanya menangkap target spesies, menangkap ikan dengan ukuran tertentu, dan menghindari tertangkapnya biota yang dilindungi.
Keanekaragaman hayati yang ada di perairan harus tetap dijaga keberadaannya untuk keseimbangan ekologi.
Proses penangkapan tidak berdampak negatif terhadap ekosistem perairan.
Kualitas ikan hasil tangkapan sangat ditentukan oleh jenis alat tangkap yang digunakan, metode penangkapan dan penanganannya.
6.
7.
8.
9.
Tidak membahayakan nelayan
Produksi tidak membahayakan konsumen
Tidak membahayakan ikan-ikan yang dilindungi
Dapat diterima secara sosial
Tingkat bahaya atau resiko yang diterima oleh nelayan dalam mengoperasikan alat tangkap tergantung pada jenis alat tangkap dan keterampilan yang dimiliki nelayan. Tingkat bahaya yang diterima oleh konsumen terhadap produksi yang dimanfaatkan tergantung dari ikan yang diperoleh dari proses penangkapan.
Alat tangkap tersebut mempunyai peluang yang cukup besar untuk tertangkapnya spesies yang dilindungi.
Penerimaan masyarakat terhadap suatu alat tangkap yang digunakan tergantung pada kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat setempat.
3.5 Analisis Data
Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode skoring yang tujuannya adalah menetapkan prioritas unit penangkapan ikan pelagis terpilih. Selanjutnya, analisis finansial bertujuan untuk menentukan kelayakan usaha alat tangkap yang ada. Kemudian dilakukan pengalokasian unit penangkapan ikan pelagis dengan menggunakan model linear goal programming untuk mengetahui jumlah alokasi dari alat tangkap dan untuk melihat strategi pengembangan perikanan tangkap menggunakan analisis SWOT.
3.5.1 Metode skoring
Metode skoring dapat digunakan untuk penilaian kriteria yang mempunyai satuan berbeda. Skoring diberikan dengan nilai terendah sampai nilai tertinggi. Untuk nilai tertinggi diberikan urutan prioritas 1 begitupun seterusnya. Dalam menilai semua kriteria atau aspek yang digunakan nilai tukar, sehingga semua nilai mempunyai standar yang sama. Jenis alat tangkap yang memperoleh nilai tertinggi berarti lebih baik daripada yang lainnya, demikian juga sebaliknya. Standarisasi dengan fungsi nilai dapat dilakukan dengan menggunakan rumus dari Mangkusubroto dan Trisnadi (1985) sebagai berikut :
0 0 ) ( X X X X X V a − − =
∑
= = n a i Xi Vi A V( ) ( )i = a, b, c, d...n dimana :
V(X) = Fungsi nilai dari variabel X X = Nilai variabel X
Xa = Nilai tertinggi pada kriteria X
Xo = Nilai terendah pada kriteria X
V(A) = Fungsi nilai dari alternatif A
V1(Xi) = Fungsi nilai dari alternatif pada kriteria ke-i
Penentuan unit penangkapan ikan pelagis menggunakan metode skoring, sebagai berikut :
Analisis aspek biologi : komposisi target spesies (X1), ukuran panjang tubuh ikan hasil tangkapan (X2), musim penangkapan ikan pelagis (X3) yang diperoleh dari hasil wawancara dengan nelayan.
Analisis aspek teknis (perahu, alat penangkapan ikan pelagis dan hasil tangkapan). Sedangkan penilaian kriteria teknis dari unit penangkapan pelagis yaitu mencakup produksi per tahun (X1), produksi per trip (X2), produksi per tenaga kerja (X3).
Analisis aspek sosial yakni berkaitan dengan tenaga kerja yang diserap setiap unit penangkapan pelagis antara lain, jumlah tenaga kerja per unit penangkapan ikan pelagis (X1), pendapatan nelayan pertahun (X2), dan tingkat penguasaan teknologi (X3).
Analisis aspek ekonomi dapat dijabarkan menjadi aspek ekonomi kriteria efisiensi usaha. Aspek ekonomi kriteria efisiensi usaha meliputi: penerimaan kotor per tahun (X1), penerimaan kotor per trip (X2), penerimaan kotor per tenaga kerja (X3).
Analisis aspek ramah lingkungan dilakukan untuk mengetahui manfaat lingkungan dari usaha penangkapan ikan pelagis. Aspek ramah lingkungan meliputi : mempunyai selektivitas yang tinggi (X1), tidak merusak habitat (X2), menghasilkan ikan berkualitas tinggi (X3), tidak membahayakan nelayan (X4), produksi tidak membahayakan konsumen (X5), by-catch rendah (X6), dampak ke biodiversity (X7), tidak membahayakan ikan-ikan yang dilindungi (X8), dan dapat diterima secara sosial (X9).
3.5.2 Analisis finansial
Analisis finansial adalah suatu analisis proyek dimana proyek dilihat dari sudut badan-badan atau orang-orang yang menanam modalnya dalam proyek atau yang berkepentingan langsung dalam proyek (Kadariah et al. 1978). Analisis finansial yang digunakan adalah analisis usaha dan analisis kriteria investasi. 3.5.2.1 Analisis usaha
Analisis usaha merupakan analisis jangka pendek yaitu analisis yang dilakukan untuk mengetahui besarnya keuntungan yang diperoleh dari suatu kegiatan usaha dalam waktu satu tahun. Analisis usaha terdiri atas analisis pendapatan usaha, analisis R/C, analisis BEP (break even point) dan ROI (return on investment)
1) Analisis pendapatan usaha
Pendapatan usaha dalam pengembangan perikanan tangkap dapat dicari dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
TC TR− = π Keterangan :
TR = Total revenue (penerimaan total) TC = Total cost (biaya total)
Dengan kriteria usaha :
TR > TC : Usaha menguntungkan
TR = TC : Usaha pada titik keseimbangan (titik impas) TR < TC : Usaha mengalami kerugian
2) Analisis revenue-cost ratio (R/C)
Analisis ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana manfaat yang diperoleh dari kegiatan usaha selama periode tertentu (1 tahun) cukup menguntungkan. Rumus yang digunakan :
TC TR C R/ = Dengan kriteria :
R/C > 1, maka usaha menguntungkan R/C = 1, maka usaha impas
3) Analisis break even point (BEP)
Break even point menunjukkan produksi minimum setiap tahun pada tingkat tidak untung dan tidak rugi. Break even point atau analisis titik impas adalah suatu alat analisis yang digunakan untuk mengetahui sampai pada batas mana kegiatan usaha yang dijalankan masih mendatangkan keuntungan. Keadaan titik impas merupakan keadaan dimana penerimaan perusahaan (TR) sama dengan biaya yang ditanggungnya (TC), TR=TC. Break even point dapat dirumuskan sebagai berikut :
( ) HasilPenjuBiayaTetapalan xBiayaVariaoduksi bel BEPKg − = Pr ( ) alan HasilPenju bel BiayaVaria BiayaTetap BEPRp − = 1 4) Rentabilitas
Peluang pengembangan usaha tidak terlepas dari pertimbangan ekonomi diantaranya besar keuntungan dan lama waktu pengembalian investasi. Return on investment adalah kemampuan suatu usaha untuk menghasilkan keuntungan. Perhitungan terhadap ROI dilakukan untuk mengetahui besarnya keuntungan yang diperoleh dibandingkan dengan besar investasi yang ditanamkan (Rangkuti, 2001). Rumus yang digunakan adalah :
% 100 x Investasi Keuntungan ROI = Dengan kriteria : > 25 % : Baik > 15 - 25% : Cukup baik 5 – 15 % : Cukup buruk < 5 % : Buruk
3.5.2.2 Analisis kriteria investasi 1) Net present value (NPV)
Net present value digunakan untuk menilai manfaat investasi, yaitu berapa nilai kini (present value) dari manfaat bersih proyek yang dinyatakan dalam rupiah. Proyek dinyatakan layak untuk dilanjutkan apabila NPV>0,
sedangkan apabila NPV<0, maka investasi dinyatakan tidak menguntungkan yang berarti proyek tersebut tidak layak untuk dilaksanakan. Pada keadaan ini nilai NPV=0 maka berarti pada proyek tersebut hanya kembali modal atau tidak untung dan juga tidak rugi. Rumus yang digunakan untuk menghitung NPV adalah :
∑
= + − = n t t t i C B NPV 1 (1 )dimana : B = benefit; C = cost; i = discount rate dan t = periode. 2) Net benefit-cost ratio (Net B/C)
Menurut Kadariah et al. (1978) adalah perbandingan antara jumlah kini (present value total) dari keuntungan bersih pada tahun-tahun dimana keuntungan bersih bernilai positif dengan keuntungan bersih yang bernilai negatif. Rumus yang digunakan adalah :
(
)
(
)
∑
∑
= = 〈 − + − 〉 − + − = n t t n t t Ct Bt i Ct Bt Ct Bt i Ct Bt CRatio NetB 1 1 0 ) 1 ( 0 ) 1 ( /Dengan kriteria kelayakan :
B/C ≥ 1, berarti usaha layak dijalankan B/C < 1, berarti usaha tidak layak dijalankan 3) Internal rate of return (IRR)
Internal rate of return adalah nilai tingkat suku bunga i yang membuat NPV sari proyek sama dengan nol. IRR dapat diartikan sebagai tingkat suku bunga dimana nilai kini dari biaya total sama dengan nilai kini dari penerimaan total. IRR dapat dirumuskan sebagai berikut :
(
" ')
" ' ' ' i i NPV NPV NPV i IRR − − + = Keterangan :i’ = Tingkat suku bunga yang menghasilkan NPV+
i” = Tingkat suku bunga yang menghasilkan NPV
-NPV’ = NPV pada tingkat suku bunga yang i’
NPV” = NPV pada tingkat suku bunga yang i”
IRR ≥ tingkat suku bunga yang berlaku : Usaha layak dijalankan IRR ≤ tingkat suku bunga yang berlaku : Usaha tidak layak dijalankan
3.5.2.3 Analisis sensitivitas
Analisis sensitivitas adalah sebuah proses analisis yang menunjukkan perubahan-perubahan koefisien perencanaan. Koefisien perencanaan semula dapat berubah karena dapat dipengaruhi oleh beragam pilihan kegiatan yang dilaksanakan. Menurut Kadariah et al. (1978) tujuan analisis sensitivitas adalah untuk melihat apa yang akan terjadi dengan hasil analisis proyek jika ada suatu kesalahan atau perubahan dalam dasar-dasar perhitungan atau manfaat.
Analisis sensitivitas dalam penelitian pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Banyuasin dilakukan untuk menguji kepekaan perubahan keadaan terhadap kelayakan investasi. Metode yang digunakan adalah switching value. Metode ini digunakan untuk mengetahui berapa besar presentasi perubahan terhadap harga kenaikan minyak tanah dan solar terhadap penurunan harga ikan yang dapat membuat nilai NPV negatif, Net B/C, dan IRR < i. Harga kenaikan minyak tanah dan solar terhadap penurunan harga ikan sangat berpengaruh dalam kegiatan usaha pengembangan perikanan.
3.5.3 Optimasi alokasi unit penangkapan
Menurut Soekartawi (1993) prinsip optimasi penggunaan faktor produksi pada dasarnya adalah bagaimana menggunakan faktor produksi tersebut seefisien mungkin. Pengoptimalan alokasi beberapa unit penangkapan ikan secara bersamaan akan dibatasi oleh berbagai kendala maka dapat digunakan model goal programming. Stevenson (1989) mengatakan bahwa goal programming merupakan variasi dari model linear programming yang dapat digunakan untuk menangani masalah yang mempunyai banyak sasaran.
Model goal programming terdapat variabel deviasional dalam fungsi kendala. Variabel tersebut berfungsi untuk menampung penyimpangan hasil penyelesaian terhadap sasaran yang hendak dicapai. Dalam proses pengolahan model terebut, jumlah variabel deviasional akan diminimumkan di dalam fungsi tujuan (Siswanto 1993).
menggunakan model matematik: Fungsi tujuan:
(
)
∑
= + = m i DAi DBi Z 1 Fungsi kendala-kendala : m m m n mn m m n n n n b DA DB x a x a x a b DA DB x a x a x a b DA DB x a x a x a = − + + + + = − + + + + = − + + + + ... . . . ... ... 2 2 1 11 2 2 2 2 2 22 1 21 1 1 1 1 2 12 1 11 dimana :Z = Fungsi tujuan (total deviasi) yang akan diminimumkan DBi = Deviasi bawah kendala ke-i
DAi = Deviasi atas kendala ke-i Cj = Parameter fungsi tujuan ke-j
b1 = Kapasitas /ketersediaan kendala ke-i
aij = Parameter fungsi kendala ke-i pada variabel keputusan ke-j kendala
Xj = Variabel putusan ke-j (jumlah unit penangkapan) Xj, DAi dan DBi > 0, untuk I = 1,2,….,m dan j =1,2….,n
Sebelum melakukan analisis optimasi terlebih dahulu perhitungan CPUE yang akan digunakan dalam analisis perhitungan fungsi produksi lestari. Standarisasi upaya penangkapan perlu dilakukan terlebih dahulu sebelum melakukan perhitungan catch per unit effort (CPUE), yaitu dengan cara membandingkan hasil tangkapan per upaya penangkapan masing-masing unit penangkapan. Unit penangkapan yang dijadikan standar adalah jenis unit penangkapan yang paling dominan menangkap jenis-jenis ikan tertentu di suatu daerah dan memiliki nilai faktor daya tangkap (fishing power indekx) sama dengan satu. Perhitungan FPI adalah sebagai berikut :
s s s FE HT CPUE = s s S CPUE CPUE FPI =
i i i FE HT CPUE = CPUE CPUE FPI i i =
Upaya standarisasi diperoleh dengan menggunakan persamaan sebagai berikut yaitu :
SE = FPII × FEi
Dimana :
s
CPUE = Catch per unit effort atau jumlah hasil tangkapan per satuan upaya unit penangkapan standar pada tahun ke-i;
i
CPUE = Catch per unit effort atau jumlah hasil tangkapan per satuan upaya jenis penangkapan yang akan distandarisasi;
s
HT = Jumlah hasil tangkapan (catch) jenis unit penangkapan yang dijadikan standar pada tahun ke-i;
HTi = Jumlah hasil tangkapan (catch) jenis unit penangkapan yang akan distandarisasi pada tahun ke-i;
s
FE = Jumlah upaya penangkapan (effort) jenis unit penangkapan ikan yang dijadikan standar pada tahun ke-i;
FEi = Jumlah upaya penangkapan (effort) jenis unit penangkapan ikan yang akan distandarisasi pada tahun ke-i;
S
FPI = Fishing power indekx atau faktor daya tangkap jenis unit penangkapan standar pada bulan ke-i;
i
FPI = Fishing power indeks atau daya tangkap jenis unit penangkapan yang akan distandarisasi pada tahun ke-i;
SE = Upaya penangkapan (effort) hasil standarisasi pada tahun ke-i
Perikanan tangkap yang dikembangkan oleh Gordon Schaefer, Model bio-ekonomi yang digunakan adalah model bio-bio-ekonomi statik dengan harga tetap. Model ini disusun dari model parameter biologi, biaya penangkapan dan harga ikan. Berdasarkan asumsi bahwa harga ikan per kg (p) dan biaya penangkapan per unit upaya tangkap adalah konstan, maka total penerimaan nelayan dari usaha penangkapan (TR) adalah :
TR= p.C Dimana :
TR = total revenue (penerimaan total)
p = harga rata-rata ikan hasil survei per kg (Rp) C = jumlah produksi ikan (kg)
Total biaya penangkapan (TC) dihitung dengan persamaan : TC = c.E
Dimana :
TC = total cost (biaya penangkapan total)
c = total pengeluaran rata-rata unit penangkapan ikan (Rp)
E = jumlah upaya penangkapan untuk menangkap sumberdaya ikan (unit) maka keuntungan bersih usaha penangkapan ikan (π) adalah :
π = TR− TC
π = p.Y− c.E π = p(aE− bE2)− cE
3.5.4 Analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities and Threats)
Sebelum melakukan proses pengambilan keputusan yang layak untuk suatu kasus, terlebih dahulu dilakukan analisis terhadap faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhinya dalam kondisi yang ada saat ini. Dalam hal ini, analisis situasi yang popular digunakan saat ini adalah analisis SWOT. Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi (Rangkuti 2001). Analisis SWOT didasarkan pada asumsi bahwa strategi yang efektif adalah dengan memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities), serta meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats).
Analisis ini didahului oleh proses identifikasi faktor eksternal dan internal. Untuk menentukan strategi yang terbaik, dilakukan pembobotan terhadap tiap unsur SWOT berdasarkan tingkat kepentingan (Tabel 7). Bobot/nilai yang diberikan berkisar antara 1- 5. Nilai 1 berarti tidak penting, 2 berarti sedikit penting, 3 berarti cukup penting, 4 berarti penting dan 5 berarti sangat penting.
Tabel 7 Pembobotan tiap unsur SWOT
Kekuatan Bobot Peluang Bobot Kelemahan Bobot Ancaman Bobot
S2 S3 . . Sn O2 O3 . . On W2 W3 . . Wn T2 T3 . . Tn Keterangan :
Nilai 5 = Sangat Penting, Nilai 4 = Penting, Nilai 3 = Cukup Penting, Nilai 2 = Kurang Penting, Nilai 1= Tidak Penting
Setelah masing-masing unsur SWOT diberi bobot/nilai, unsur-unsur tersebut dihubungkan untuk memperoleh beberapa alternatif strategi yang diprioritaskan untuk dilakukan didasarkan pada rangking dari masing-masing strategi alternatif. Strategi dengan rangking tertinggi merupakan alternatif strategi yang menjadi prioritas.
Tabel 8 Matriks hasil analisis SWOT
Peluang Ancaman Kekuatan SO1 SO2 SO3 . . SOn ST1 ST2 SO3 . . STn Kelemahan WO1 WO2 WO3 . . WOn WT1 WT2 WT3 . . WTn
Alternatif strategi pada matriks hasil analisis SWOT (Tabel 9) dihasilkan dari penggunaan unsur-unsur kekuatan untuk mendapatkan peluang yang ada (SO), penggunaan kekuatan yang ada untuk menghadapi ancaman yang akan datang (ST), reduksi kelemahan yang ada dengan memanfaatkan peluang yang tersedia (WO) dan pengurangan kelemahan yang ada untuk menghadapi ancaman yang akan datang (WT). Strategi yang dihasilkan terdiri atas beberapa alternatif strategi. Untuk menentukan prioritas strategi yang harus dilakukan, maka dilakukan penjumlahan bobot yang berasal dari keterkaitan antar unsur-unsur SWOT yang terdapat dalam suatu alternatif strategi. Jumlah bobot tadi kemudian akan menentukan rangking prioritas alternatif strategi pengembangan usaha perikanan pelagis dengan alat tangkap yang terpilih.
Tabel 9 Rangking alternatif strategi No Unsur SWOT Keterkaitan Jumlah Bobot Rangking Strategi SO 1 SO1 S1,S2,...Sn,O1,O2,...On SO2 S1,S2,...Sn,O1,O2,...On ... ... n SOn S1,S2,...Sn,O1,O2,...On Strategi ST 1 ST1 S1,S2,...,Sn,T1,T2,...Tn ST2 S1,S2,...,Sn,T1,T2,...Tn ... ... n STn S1,S2,...,Sn,T1,T2,...Tn Strategi WO 1 WO1 W1,W2,...,Wn,O1,O2,...On WO2 W1,W2,...,Wn,O1,O2,...On ... ... n WOn W1,W2,...,Wn,O1,O2,...On Strategi WT 1 WT1 W1,W2,...,Wn,T1,T2,...,Tn WT2 W1,W2,...,Wn,T1,T2,...,Tn ... ... n WTn W1,W2,...,Wn,T1,T2,...,Tn