• Tidak ada hasil yang ditemukan

Direito. Dwi Mingguan Hak Azasi Manusia. Menggugat Pelaku Kekerasan Timor Lorosae di Amerika Serikat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Direito. Dwi Mingguan Hak Azasi Manusia. Menggugat Pelaku Kekerasan Timor Lorosae di Amerika Serikat"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Direito

D w i M i n g g u a n H a k A z a s i M a n u s i a

Yayasan HAK

Jl. Gov. Serpa Rosa T-091, Farol Dili - Timor Lorosae

Tel.: + 670 390 313323 Fax.: + 670 390 313324

e-mail:[email protected]

E d i s i 14 • 16 April 2001

Daftar Isi

Direito Utama ...Menggugat Pelaku Kekerasan Timor Lorosae Lorosae di Amerika Serikat 1-2

... Allan Nairn: Jenderal Lumintang, Murid Kesayangan Amerika Serikat 3

Info Hak Asasi Manusia ... ETAN/US Mendukung Keadilan untuk Timor 4

InfoHukum ... Mengapa Pengadilan Dilakukan di Amerika 5

Wawancara ... Aniceto Neves: Memperjuangkan Rasa Keadilan 6

Opini ... Mereka Datang untuk Memberikan Kesaksian 8

Serba Serbi ... Pelatihan Masalah Seks dan Gender 10

... Pengurus Baru Koperasi Ukun Rasik An 10

... Kegiatan RR Baucau 10

... Bantuan untuk Korban Insiden Viqueque 10

Ami Lian ... Kesempatan untuk Mendapatkan Keadilan 11

... Pemerintah Indonesia Menentang Pengadilan In-Absentia 11

.... Bukti Pamungkas Tentang Kuasa Teror yang Direncanakan TNI 11

... Bukti-bukti Kejahatan Lumintang 12

L

etnan Jenderal Johny J.

Lumintang, sekarang Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan Indonesia digugat di peng-adilan di Amerika Serikat. Gugatan

ter-Menggugat Pelaku Kekerasan

Timor Lorosae di Amerika Serikat

sebut diajukan atas nama enam orang Timor Lorosae, yang anggota keluar-ganya dibunuh dan harta bendanya di-hancurkan, pada saat terjadinya kerasan besar-besaran menyusul

ke-menangan pilihan merdeka pada Kon-sultasi Popular 30 Agustus 1999.

Pihak penggugat diwakili oleh para pengacara dari organisasi Center for Constitutional Rights (CCR, Lembaga Hak-hak Konstitusional), New York dan Center for Justice and Account-ability (CJA, Lembaga untuk Keadilan dan Pertanggungjawaban), San Fran-cisco.

Gugatan yang diajukan ke Pengadi-lan Distrik Columbia, ibukota AS Wa-shington ini adalah kasus perdata untuk perbuatan eksekusi kilat, penyiksaan, perlakuan kejam, tidak manusiawi atau merendahkan martabat, kejahatan ter-hadap kemanusiaan, kematian tidak wajar, serangan dan pemukulan, se-ngaja menimbulkan tekanan pera-saan.

Penggugat pertama, seorang perem-puan yang namanya disamarkan men-jadi Jane Doe I, kehilangan seorang a-naknya karena dibunuh oleh tentara In-donesia. Pada 6 September, anak laki-laki yang namanya disamarkan menjadi John Doe I, itu ditembak di rumahnya. Sebelumnya anggota milisi berkali-kali mendatangi rumah keluarga mereka mengancam akan “membersihkan” ke-lompok pro-kemerdekaan.

Penggugat kedua, seorang laki-laki, John Doe II, pada bulan September dihentikan oleh seregu tentara di Dili. Mereka kemudian menginterogasi, memukul dengan popor senapan, dan kemudian menendangnya sampai jatuh. Selanjutnya, ketika ia berusaha melari-kan diri, tentara menembak pada

kaki-Sidang pengadilan yang dilaksanakan 27-29 Maret lalu dilangsungkan

secara in absentia (tanpa dihadiri oleh tergugat).

Bandit bersenjata anti-kemerdekaan beraksi di Dili. Foto kecil: Letnan Jenderal Lumintang

Foto: W

ebsite Solidamor dan ET

(2)

2

Direito 14 16 April 2001

E d i t o r i a l

nya. Karena perawatan rumah sakit ti-dak memadai, ia kemudian mengalami infeksi. Akhirnya kakinya terpaksa di-amputasi.

John Doe III, seorang laki-laki peker-ja hak asasi manusia, yang bersama penggugat keempat yang adalah ayah-nya, John Doe IV, dan kakak laki-laki-nya John Doe V mulai Februari 1999 berkali-kali mengalami ancaman dan pemukulan dari anggota Milisi MA-HIDI (Mati Hidup Demi Integrasi). Se-telah Konsultasi Popular 30 Agustus, mereka bersembunyi. Tetapi setelah pe-ngumuman hasil Konsultasi Popular, anggota-anggota milisi dan tentara ber-hasil menemukan mereka. John Doe V ditembak mati, sedang John Doe IV selamat meskipun luka-luka.

Dasar gugatan mereka adalah Tor-ture Victim Protection Act (Undang-un-dang Perlindungan Korban) tahun 1992 dan Alien Tort Claim Act (Undang-Un-dang Ganti Rugi Orang Asing) tahun 1789. Kedua undang-undang ini mem-berikan wewenang kepada pengadilan di AS untuk “setiap gugatan perdata o-leh orang asing untuk kerugian saja, yang dilakukan melanggar hukum bang-sa-bangsa atau suatu perjanjian Ameri-ka SeriAmeri-kat.”

“Berdasar undang-undang ini, orang bukan warga negara AS yang menjadi korban tindakan melanggar hukum oleh siapa saja, warga negara manapun, bisa mengajukan gugatan ganti rugi melalui pengadilan di AS. Syaratnya, pelakunya berada di AS ketika gugatan tersebut diterima pengadilan,” kata John Miller. Hukum yang dianggap dilanggar oleh Lumintang, menurut surat gugatan mere-ka adalah Hukum kebiasaan inter-nasional, Piagam PBB, Pernyataan Se-mesta tentang HAM (1948), Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Poli-tik (1966), Konvensi Menentang Pe-nyiksaan, Hukum kebiasaan AS, Hukum Distrik Columbia, dan Hukum Timor Lorosae.

Gugatan terhadap Lumintang disampaikan oleh para pengacara me-reka kepada Pengadilan Distrik Co-lumbia pada April 2000. Pada saat itu

Letnan Jenderal Lumintang sedang ber-kunjung ke Amerika Serikat untuk me-ngikuti suatu seminar. Pengadilan pun mengeluarkan surat kepadanya mem-beritahukan adanya gugatan terhadap dirinya. Pengadilan kemudian menetap-kan menggelar pengadilan pada 27-29 Maret.

Ada dua bukti kuat yang diajukan pa-ra pengacapa-ra. Pertama adalah selembar telegram yang dikirimkan oleh Jenderal Lumintang dalam kedudukan sebagai Wakil Kepala Staf TNI-AD kepada Panglima Kodam Udayana Mayor Jen-deral Adam Damiri bertanggal 5 Mei 1999. Telegram ini memerintahkan: “Persiapan rencana keamanan untuk mencegah perang saudara yang meliputi tindakan pencegahan (cipta kondisi), tindakan polisionil, tindakan represif/ koersif, dan rencana mundur/pengungsi-an bila opsi kedua dipilih.”

Bukti kedua adalah satu dokumen “rahasia” yang dikeluarkan Markas Be-sar TNI Angkatan Darat, dengan nomor pengesahan SK KASAD No. Skep/ 365/VI/1999 tanggal 30 Juni 19-99. Surat ini ditandatangani Wakil KSAD Letnan Jenderal Johny Lumintang atas nama KASAD yang saat itu dijabat oleh Jenderal Subagyo Hadi Siswoyo. Dokumen berjudul “Buku Petunjuk Pembinaan tentang Sandi Yudha TNI AD” Nomor 43-B-01 memberi petun-juk tentang pembinaan pasukan Kopas-sus di bidang teknik dan taktik “perang urat syaraf, propaganda, penculikan, te-ror, agitasi, sabotase, penyusupan, pe-nyurupan, penyadapan, foto intelijen, dan operasi psikologi.”

Dalam kedudukannya sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Darat, Lumin-tang bersama-sama pejabat tinggi mili-ter lainnya, membuat rencana menarik mundur tentara Indonesia dan memin-dahkan paksa ratusan ribu orang Timor Lorosae setelah Konsultasi Popular. Rencana ini kemudian menjadi kenya-taan dengan terjadinya pembunuhan, pengrusakan, dan pengungsian paksa. Saat itu berlangsung pola pelanggaran hak asasi manusia berat dan pelanggar-an terhadap hukum humpelanggar-aniter. ***

K

ita tahu, proses peradilan atas kasus-kasus pelanggaran hak asasi yang berat sebelum dan sesudah Konsultasi Popular, 1999, berjalan sangat lamban. Terutama proses pem-bentukan pengadilan hak asasi manu-sia di Indonemanu-sia dan pengadilan di Ti-mor Lorosae yang menyediakan panel khusus untuk kejahatan berat.

Sangat banyak bukti untuk meng-adili pelaku kejahatan berat itu. Begitu banyak bangunan hancur rata dengan tanah. Ribuan orang menjadi korban kekerasan dan puluhan ribu orang masih berada di Timor Barat. KPP-HAM Indonesia dan Komisi Penye-lidik Internasional untuk Timor Loro-sae telah membuat laporan tentang itu. Tetapi, mengapa semuanya berjalan lamban? Tak ada tanda-tanda akan dibentuknya pengadilan internasional untuk kejahatan tahun 1999 itu. Xanana Gusmao, di Universitas Co-lombia, AS belum lama ini malah me-ngatakan, rakyat Timor Lorosae tidak memprioritaskan pengadilan internasi-onal karena banyak masalah yang lebih mendesak.

Siapa yang dimaksudkan dengan rakyat Timor Lorosae itu? Pada saat ini memang kita semua membutuhkan beras, pendidikan, dan fasilitas dasar lainnya. Meskipun begitu, tidak berarti bahwa rakyat yang telah menjadi korban tak butuh keadilan.

Sudah jelas kita tak mungkin meng-harapkan peradilan di Indonesia. Organisasi-organisasi hak asasi manusia di Indonesia saja menuntut pembentukan pengadilan interna-sional. Sementara di sini, UNTAET seperti menutup mata dan telinga meskipun telah menerbitkan Regulasi No. 15/2000 tentang Pembentukan Panel Khusus untuk Kejahatan Berat. Berbicara hukum berarti berbicara tentang keadilan.Rakyat Timor yang telah lama menjadi korban ketidak-adilan tentu paham betul bahwa ke-adilan adalah kebutuhan pokok yang mendesak. Karena itu pengadilan un-tuk kejahatan berat 1999 harus menjadi prioritas sekarang juga. ***

(3)

3 Direito 14 16 April 2001

Direito Utama

S

ekretaris Jenderal Departemen Pertahanan Indonesia Johny Lumintang yang digugat orang Timor Lorosae di pengadilan Amerika Serikat adalah perwira militer Indone-sia didikan AS di bidang teror terhadap rakyat sipil. Demikian tulis Allan Nairn, seorang jurnalis yang mengkhususkan diri pada investigasi tentang keterli-batan Amerika Serikat membantu rezim diktator Dunia Ketiga.

Menurut hasil investigasi Nairn, Lu-mintang dikirim oleh tentara Indonesia untuk mengikuti kursus International Defense Management (IDM, Manage-men Pertahanan Internasional), yang merupakan bagian dari program IMET (International Military Education and Training, Pelatihan dan Pendidikan Mili-ter InMili-ternasional) yang diselenggarakan oleh Departemen Pertahanan AS (yang dikenal dengan sebutan Pentagon). Lu-mintang mengikuti pendidikan ini de-ngan nomor siswa 23294.

Setelah kembali ke Indonesia, Lu-mintang menduduki jabatan komando untuk dua daerah operasi militer, yaitu di Timor Lorosae dan Papua Barat. Di dua wilayah ini, dan terutama sekali di Timor Lorosae, tentara menjalankan o-perasi “memelihara keamanan” dengan melakukan penyiksaan, penculikan, pembunuhan, dan pengawasan me-nyeluruh yang sistematis terhadap pen-duduk sipil.

Menjelang Konsultasi Popular, pada 30 Juni 1999 Lumintang mengesahkan dan menandatangani sebuah dokumen berisi petunjuk untuk operasi rahasia Kopassus. Dokumen berjudul “Buku Petunjuk Pembinaan Sandi Yudha” itu berisi menggariskan penyiapan pasu-kan Kopassus di bidang “taktik dan teknik teror, penculikan, sabotase, pe-nyamaran, infiltrasi, dan penyadapan”.

Menurut informasi yang diperoleh Allan Nairn dari jenderal-jenderal pe-jabat tinggi TNI, buku petunjuk ini ma-sih digunakan dan kini diterapkan dalam operasi Kopassus di Papua Barat dan Aceh, serta dalam operasi intelijen memprovokasi kerusuhan di Ambon dan Kalimantan.

Kopassus sendiri telah mendapatkan latihan dari Amerika Serikat dengan program JCET (Joint Combined Ex-change and Training, Pelatihan dan Per-tukaran Gabungan) yang diselenggara-kan Pentagon. Mereka dilatih untuk bi-dang penghancuran, mata-mata, me-nembak jitu tingkat lanjutan, serangan darat, laut, dan udara, serta “operasi psikologis”. Pelatihan untuk “operasi psikologis” ini diselenggarkan setelah meletusnya Insiden “27 Juli 1996”.

Dalam kelanjutan Insiden 27 Juli, tim Kopassus menculik sejumlah aktivis pro-demokrasi yang sebagian di antara-nya hilang hingga sekarang. Baantara-nyak ka-langan menduga kuat bahwa pasukan Kopassus juga berada di balik “Peris-tiwa Mei 1998” di mana lebih dari seribu orang mati dalam gedung-gedung yang dibakar oleh orang-orang tak dikenal, dan puluhan perempuan diperkosa.

Pasukan Kopassus ini yang disak-sikan oleh Allan Nairn mengarahkan pasukan milisi Aitarak di Dili melakukan aksi-aksi penyerangan terhadap sasaran sipil dan gedung-gedung di Dili. Allan Nairn memang berada di Timor Loro-sae menjelang referendum 30 Agustus hingga ia ditangkap Tentara Indonesia di jalan di Kota Dili tanggal 14 Sep-tember 1999. Dalam tahanan di markas Korem, Nairn menyaksikan pasukan Aitarak keluar markas militer tersebut untuk melakukan aksi-aksi biadabnya. Latihan JCET itu kemudian dihen-tikan pada 1998 setelah di AS terjadi

protes dari masyarakat umum dan Ko-ngres. Tetapi, menurut investigasi Na-irn, latihan ini dilanjutkan lagi setelah Jenderal Soeharto mundur dari kekua-saan. Kali ini alasan Pentagon adalah di bawah pimpinan perwira moderat se-perti Jenderal Lumintang, angkatan ber-senjata Indonesia sedang bersungguh-sungguh melakukan reformasi internal dan karena itu mereka berhak menda-patkan bantuan senjata dan keahlian dari AS.

Lumintang sendiri memang telah lama menjadi “murid kesayangan” intelijen AS, dan telah dipromosikan oleh De-partemen Pertahanan AS sebagai tokoh “moderat” Indonesia yang terkemuka. “Prestasi” Lumintang berikut ini menggambarkan seberapa jauh arti dari penilaian AS tersebut. Sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Darat, Lumin-tang berperan besar dalam pembumi-hangusan Timor Lorosae. Pada saat di New York, Menteri Luar Negeri Indo-nesia dan Portugal sedang menyelesai-kan “Kesepakatan 5 Mei”, ia mengelu-arkan telegram berisi perintah kepada para komandan di Timor Lorosae un-tuk melakukan persiapan “rencana kea-manan”. Setelah terbukti mayoritas rak-yat Timor Lorosae memilih merdeka, rencana ini menjadi kenyataan dengan terjadinya pembunuhan, penghancuran harta benda, dan pengungsian besar-besaran.

“Jenderal Lumintang adalah salah se-orang yang memberi perintah bergerak kepada mereka. Perwira-perwira itu — dan para sekutu asingnya — harus dia-dili atas kejahatan mereka,” tulis Allan Nairn. Para sekutu asing yang dimak-sudkannya adalah para pejabat di De-partemen Pertahanan dan Dinas Ra-hasia (CIA) Amerika Serikat! ***

Pemerintah AS tahu rencana pembumihangusan oleh militer Indonesia,

tetapi seperti pada Invasi 1975, mereka tak mencegahnya.

Jenderal Lumintang, Murid Kesayangan Amerika

(4)

4 Direito 14 16 April 2001

Info HAM

E

TAN atau East Timor Action

Network berperan penting dalam mengkoordinasikan dan mendukung gugatan hukum yang baru-baru ini diajukan terhadap Jenderal Lu-mintang. Apa sebenarnya ETAN, dan apa strateginya untuk membantu Timor Lorosae mendapatkan keadilan?

East Timor Action Netswork/US atau Jaringan Aksi Timor Lorosae/US adalah organisasi hak asasi manusia beranggotakan rakyat biasa yang be-kerja bersolidaritas dengan rakyat Ti-mor Lorosae. Sejak 1991, ETAN men-dukung perjuangan keadilan dan pe-nentuan nasib sendiri untuk Timor Lorosae. Didanai oleh sekelompok ke-cil aktivis rakyat, ETAN sekarang punya 27 cabang lokal di seluruh AS. Stafnya ada empat orang yang bekerja dengan ratusan relawan di seluruh AS.

Rumusan misi ETAN sekarang me-nyatakan, “ETAN mendukung martabat manusia untuk seluruh rakyat Timor Lo-rosae dengan memperjuangkan hak pe-rempuan, demokrasi, pembangunan berkelanjutan, praktek lingkungan yang baik, dan keadilan sosial, hukum, dan ekonomi yang menyeluruh.”

“Untuk mencapai tujuan ini, kami be-kerja mempengaruhi kebijakan-ke-bijakan politik pemerintah AS dan lem-baga-lembaga internasional yang berhu-bungan dengan Timor Lorosae. Sejarah dukungan AS kepada invasi dan pen-dudukan ilegal Indonesia terhadap Ti-mor Lorosae menggarisbawahi upaya ETAN untuk tercapainya pertanggung-jawaban bagi mereka yang bertang-gungjawab di dalam dan di luar negeri atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan sejak tahun 1975.”

Bagaimana suatu organisasi seperti ETAN bisa mempengaruhi kebijakan-kebijakan politik negeri terkaya di du-nia itu? Apa strategi ETAN untuk men-dukung tercapainya keadilan dan

de-mokrasi di Timor Lorosae?

Pendidikan adalah langkah pertama yang diperlukan. Sulitnya, sekalipun AS memberikan dukungan politik, militer, dan diplomatik kepada invasi dan pen-dudukan terhadap Timor Lorosae, ke-banyakan orang di AS tidak tahu apa-apa tentang sejarah ini. ETAN bekerja mendidik masyarakat umum dengan menyelenggarakan pidato keliling, yang dilakukan oleh aktivis-aktivis Timor Lo-rosae dan ETAN untuk memberikan in-formasi mengenai sejarah Timor Loro-sae, keadaan yang sedang berlangsung, bagaimana hubungannya dengan warga-negara AS dan apa yang bisa dilakukan orang biasa untuk membantu Timor Lo-rosae.

Selain mendidik masyarakat umum, ETAN juga mendidik pejabat-pejabat pemerintah AS, para diplomat, media, dan berbagai organisasi keadilan sosial dan hak asasi manusia mengenai kasus Timor Lorosae yang khas.

Pendidikan harus selalu terkait de-ngan tindakan. Apa yang harus dilaku-kan untuk menjamin keadilan?

ETAN menyelenggarakan demons-trasi-demonstrasi umum untuk menarik perhatian media pada Timor Lorosae. ETAN juga mengkoordinasi upaya lo-bby di Washington, DC, kantor PBB di New York, dan kantor-kantor pe-merintah daerah seluruh AS. ETAN mengorganisir kampanye menulis surat kepada pejabat pemerintahan; mengko-ordinasi hari-hari nasional rakyat me-ngunjungi para wakil rakyat mendesak mereka mendukung peraturan hukum yang menjamin keadilan dan demokrasi untuk rakyat Timor Lorosae.

ETAN memperjuangkan pertang-gungjawaban hak asasi manusia, kem-balinya pengungsi, dan proses rekon-struksi yang demokratis. ETAN men-desakkan pengadilan internasional keja-hatan perang untuk Timor Lorosae yang akan meliputi kejahatan dari 1975

sam-pai 1999 dan yang akan menyelidiki pe-ran pemimpin-pemimpin AS dalam ke-kejaman-kekejaman tersebut.

Pada bulan April 2000 ETAN berha-sil meminta pengiriman sebuah delegasi Kongres AS untuk mengunjungi kamp-kamp pengungsi di Timor Barat. Berda-sarkan pengamatan di kamp-kamp ter-sebut, delegasi itu kembali ke AS de-ngan satu pesan bahwa AS perlu men-desak pemerintah Indonesia untuk menghentikan kekerasan TNI dan milisi serta disinformasi di kamp-kamp.

ETAN mendukung kerja organisasi-organisasi lain yang tujuannya sama. La’o Hamutuk, Institut Pemantauan dan Analisis Rekonstruksi Timor Lorosae, adalah salah satu organisasi seperti ini. Dibentuk pada bulan Mei 2000, La’o Hamutuk mendukung proses yang transparan dan demokratik unuk transisi Timor Lorosae menuju kemerdekaan. ETAN juga mendukung organisasi In-donesia Human Rights Network yang dibentuk belum lama ini.

Bulan Maret 2001, disidangkan gu-gatan hukum terhadap Jenderal Johny Lumintang karena perannya dalam pe-langgaran hak asasi manusia yang berat di Timor Lorosae. Gugatan ini diajukan oleh organisasi Center for Constitutional Rights (CCR) New York, Center for Justice and Accountability (CJA) San Francisco, dan Biro Hukum Patton Bogs di Washington DC. Kelompok-kelompok ini mempelajari kasus ini dari para aktivis ETAN dan memperoleh informasi dari ETAN untuk mendukung gugatan mereka.

John Miller dari ETAN mengatakan, “Semua cara yang ada harus digunakan untuk mendapatkan keadilan bagi Ti-mor Lorosae.”

*Pamela Sexton adalah aktivis IFET (In-ternational Federation of East Timor)/ Federasi Internasional Timor Lorosae, yang sekarang berada di Timor Lorosae, bekerja untuk La’o Hamutuk.

ETAN/US Mendukung Keadilan untuk Timor

(5)

5 Direito 14 16 April 2001

Info Hukum

S

ebuah pengadilan di Washington telah memeriksa bukti tentang peran langsung militer Indonesia dalam kampanye teror terhadap rakyat Timor Lorosae. Tiga orang Timor Loro-sae menggugat ganti rugi dan denda dari Jenderal Lumintang atas penderitaan yang mereka alami tahun 1999.

Lumintang adalah Wakil Kepala Staf TNI AD pada saat itu, dan sekarang Sekretaris Jenderal Departemen Perta-hanan. Jenderal ini diberi surat gugatan sipil ketika mengunjungi AS satu tahun yang lalu, tetapi tidak datang unuk mem-bela diri di pengadilan.

Chomsky:

Karena ada undang-undang di AS, yang telah berumur 250 tahun, yang me-nyatakan bahwa seorang asing bisa da-tang ke Pengadilan Federal di AS untuk mengajukan gugatan ganti rugi, atas per-buatan yang melanggar hukum bangsa-bangsa. Maksudnya, Anda hanya bisa mengajukan gugatan seperti ini kalau o-rang yang Anda gugat melakukan per-buatan yang melanggar norma-norma yang diakui secara universal, seperti norma menentang penyiksaan atau per-budakan.

Ini adalah kasus perdata karena dia-jukan oleh orang yang dilukai, meng-upayakan ganti rugi atas penderitaan yang dialaminya, dan ukakan tuntutan oleh negara yang mengupayakan pem-berian hukuman berupa kurungan pen-jara atau denda.

Radio Australia:

Apakah tindakan hukum ini dilaku-kan di Amerika Serikat juga karena proses hukum seperti ini tidak bisa dila-kukan di Indonesia sendiri?

Chomsky:

Tentu saja, ya. Saya pikir jika para penggugat percaya bahwa akan ada ke-adilan di Indonesia, dan kalau mereka aman pergi ke Indonesia, pengadilan di Indonesia lebih mereka inginkan. Radio Australia:

Apa bukti bahwa Jenderal Lumin-tang terlibat langsung dalam kekejaman di Timor Lorosae?

Chomsky:

Ia adalah orang kedua di TNI AD dan tidak mungkin seorang pejabat mili-ter tingkat tinggi tidak mengetahui ten-tang terjadinya pelanggaran hak asasi manusia yang berat akibat aktivitas-ak-tivitas angkatan darat di Timor Lorosae, dan karena itu tidak bertanggungjawab memerintahkannya, atau mendukung-nya, atau bahkan tidak menghentikan-nya. Juga ada dua bukti spesifik yang menghubungkannya dengan apa yang telah terjadi.

Pertama adalah telegram yang diki-rimkannya tanggal 5 Mei, hari ketika referendum diumumkan, yang meng-indikasikan langkah-langkah yang harus diambil untuk antisipasi kalau rakyat memilih menolak otonomi dan karena itu memilih merdeka.

Dan bukti kedua adalah sejenis ma-nual perang rahasia yang ditandatanga-ninya, yang menguraikan berbagai ma-cam teknik di antaranya adalah hal-hal seperti penculikan, agitasi dan teror dan ternyata itulah yang mereka lakukan. Radio Australia:

Jenderal Lumintang tidak hadir di pe-ngadilan. Ia tidak membela diri. Apakah ini tidak mengurangi nilai kasus ini? Chomsky:

Tentu saja kami lebih suka kalau dia

datang dan melakukan pembelaan diri yang menurutnya bisa dia lakukan untuk menjawab gugatan. Ketidakhadirannya tidak mengubah kenyataan bahwa ini adalah pengadilan yang bisa dipaksa-kan dan bahwa kalau ia nanti datang ke AS atau kalau kami bisa menentukan lokasi kekayaannya kami akan menge-jarnya. Kami pasti berharap bisa mem-peroleh ganti rugi.

Radio Australia:

Tetapi kasus ini bukan untuk mempe-roleh ganti rugi ‘kan?

Chomsky:

Sama sekali bukan. Kami khususnya meminta hukuman denda dan hukuman denda dimaksudkan untuk memberi isyarat kepada orang-orang yang akan berbuat melanggar hak asasi manusia bahwa ada harga yang harus mereka bayar, suatu peringatan agar mereka ti-dak mengulangi tinti-dakan yang sama. Dan juga tingkat hukuman denda di-anggap mencerminkan kemarahan mo-ral terhadap jenis perbuatan, perbuatan jahat yang terbukti dilakukan.

Radio Australia:

Apakah mungkin ada banding untuk keputusan pengadilan?

Chomsky:

Saya kira sangat tidak mungkin, ka-rena tergugat tidak datang membela diri dan kenyataannya bisa diperdepatkan bahwa ia melepaskan semua keberatan yang bisa dia ajukan karena tidak mem-bela diri.

Diperkirakan satu bulan setelah si-dang, pengadilan menjatuhkan ke-putusan jumlah ganti rugi yang ha-rus dibayar Lumintang.***

Mengapa Pengadilan Dilakukan

di Amerika Serikat

Radio Australia pada 30 Maret lalu mewawancarai Judith Chomsky, pengacara para penggugat. Mares dari Program Asia Pasifik bertanya, mengapa pengadilan dilakukan di Amerika Serikat.

(6)

6 Direito 14 16 Maret 2001

Wa w a n c a r a

Aniceto Neves:

Memperjuangkan Rasa Keadilan

Menurut jurnalis Allan Nairn, Johny Lumintang adalah murid kesayang-an intelijen dkesayang-an Departemkesayang-an Perta-hanan AS (Pentagon).

Tentang persoalan ini saya tidak memberi kesaksian secara langsung di depan hakim. Tetapi dalam ceramah dan diskusi saya dengan kelompok-ke-lompok aktivis dan organisasi hak asasi manusia, termasuk Amnesty Interna-tional, Indonesia Human Rights Net-work, pejabat pemerintah di State De-partment (Departemen Luar Negeri AS), dan sejumlah staf ahli Senat AS saya mengatakan bahwa pemerintah AS tidak dapat melepas tangan atas tin-dak kejahatan TNI sebagai

institusi di Timor Lorosae. Sejak invasi 1975 pemerin-tah AS telah terlibat membe-rikan dukungan militer dan diplomatik kepada peme-rintah Indonesia.

Gugatan di pengadilan AS, berdasarkan UU

Gan-ti Rugi Orang Asing 1789 adalah gugatan perdata. Apa bisa memenu-hi rasa keadilan?

Begini, persoalannya bukan pada pemerintah Indonesia harus memberi ganti rugi kepada korban dan keluarga-nya, tetapi lebih kepada penegakan hu-kum dan hak asasi manusia. Dalam ka-sus ini adalah hak keluarga korban, da-lam arti ada proses hukum yang jelas terhadap orang yang bertanggungjawab atas terjadinya sebuah tindakan keja-hatan, seperti perbuatan Lumintang.

Sebuah proses yang tranparan dan

demokratis itu dapat memberi rasa kea-dilan bagi korban dan keluarganya. Ter-lepas dari tuntutan ganti rugi dalam ben-tuk material. Gugatan di AS adalah lang-kah awal untuk membuktikan bahwa kekerasan-kekerasan sebelum dan se-telah referendum 1999, bukanlah per-buatan satu dua oknum TNI dan milisi, tetapi suatu tindakan yang sistematis, meluas dan terencana oleh penanggung-jawab keamanan, dalam hal ini TNI. Bagaimana prosesnya?

Setelah laporan tiga kasus kami di-sampaikan kepada ETAN, ETAN menghubungi para pengacara dari CJA dan CCR, dan Biro Hukum Patton Bogs di Washington untuk mewakili korban dan ke-luarganya me-ngajukan gu-gatan hukum. Gugatan itu di-sampaikan kepada Pengadilan Distrik Columbia dan juga kepada Jenderal Lumintang. Pengadilan juga membe-ritahu Lumintang, bahwa dirinya dituntut oleh tiga orang korban dan keluarganya atas kejahatan yang terjadi di Timor Lo-rosae.

Selanjutnya, pada bulan Januari 2001 Pengadilan Distrik Columbia me-nyetujui kasus tersebut untuk diproses di pengadilan. Pengacara dari CCR, Anthony DiCaprio selama enam hari mengunjungi Timor Lorosae untuk ngumpulkan informasi yang lengkap

me-ngenai tiga kasus itu dengan menemui korban dan saksi-saksi, termasuk me-ngumpulkan bukti-bukti.

Apa saja bukti-bukti itu?

Buktinya adalah telegram Lumintang kepada Pangdam Udayana Adam Da-miri, buku petunjuk operasi intelijen, dan bukti atas tiga korban (laporan peme-riksaan dokter, surat kematian dari CN-RT), dan keterangan saksi-saksi. Khu-sus keterangan para saksi ini, direkam dengan video karena mereka tidak bisa pergi ke AS. Bukti-bukti tersebut, ter-masuk video ditunjukkan kepada peng-adilan. Kemudian, ETAN memfasilitasi satu orang korban dan dua keluarga korban untuk berangkat ke AS dalam rangka memberikan kesaksian langsung di hadapan pengadilan.

Setelah itu ...?

Sidang pengadilan berlangsung sela-ma tiga hari, 27 sampai 29 Maret 2001. Untuk memberikan kekuatan hukum a-tas gugatan tersebut, para pengacara te-lah menghadirkan empat orang saksi ahli di pengadilan. Mereka adalah Prof. Dr. Richard Tanter, yang sekarang menjadi guru besar di salah satu universitas di Jepang. Ia telah mengadakan penelitian yang mendalam tentang intelijen Indo-nesia.

Saksi ahli kedua adalah ahli psikologi Dr. Estela Abosch, yang bekerja di se-buah klinik psikologi di Baltimore, Was-hington, DC. Saksi ahli ketiga adalah Arnold S. Kohen, seorang peneliti yang telah lama menggeluti masalah Timor Lorosae dan telah menulis buku

bio-Gugatan di AS adalah langkah awal untuk mem-buktikan, bahwa kekeras-an-kekerasan 1999 adalah suatu tindakan yang sis-tematis, meluas dan teren-cana ...

Proses peradilan atas kasus-kasus kekerasan 1999 berjalan sangat lamban. Terutama proses pembentukan pengadilan hak asasi manusia di Indonesia dan di Timor Lorosae. Padahal

KPP-HAM Indonesia telah menyelesaikan laporan penyelidikan dan rekomendasinya lebih dari setuhun yang lalu. Demikian pula Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB. Sampai sekarang

belum terlihat akan dibentuknya pengadilan internasional untuk kejahatan tahun 1999. Berikut ini hasil wawancara Direito dengan Aniceto Neves.

(7)

7 Direito 14 16 April 2001

Wa w a n c a r a

grafi Uskup Belo. Saksi ahli keempat adalah Siem Thomas, seorang jurnalis freelance, berkewarganegaraan Ing-gris. Dia merekam rangkaian aksi bumi hangus selama bulan September 1999 melalui jaringan satelit. Di pengadilan, dia menunjukkan semua bukti tentang pembumihangusan seluruh wilayah Ti-mor Lorosae berupa foto-foto berwarna seukuran kertas folio.

Selain keterangan saksi-saksi ahli, di depan hakim para pengacara dari CCR, CJA, dan Biro Hukum tersebut memberikan pertanyaan kepada satu orang korban dan dua keluarga korban tersebut. Pada akhir persidangan hakim Aaron Kay menyatakan, menerima bukti-bukti dan keterangan para saksi dan akan memberikan keputusan setelah satu bulan kemudian. Pengadilan itu tidak dihadiri

oleh Johny Lumintang maupun pengacaranya, jadi diselenggarakan secara in absentia.

Apakah pengadilan itu bisa meme-nuhi tuntutan Anda sebagai keluarga korban?

Ya… saya belum tahu apa keputusan hakim. Tetapi obsesi saya, jika kasus ini berhasil disidangkan di pengadilan AS dan memutuskan bahwa Johny Lu-mintang bersalah, itu telah memberikan rasa keadilan bagi kami sebagai keluarga korban. Terlepas dari berapa besar ganti rugi kepada saya. Yang paling pen-ting adalah Johny Lumintang harus di-nyatakan bersalah atas kejahatan di Ti-mor Lorosae.

Itu saja telah memberikan rasa kea-dilan bagi saya sebagai keluarga korban. Saya tidak bisa menghitung keadilan itu dalam bentuk materil. Wa-laupun kasus ini adalah kasus perdata, yang kalau tergugat dinyatakan bersalah maka akan dijatuhi hukuman denda dan ganti rugi.

Sebagian pemimpin mengatakan kita tidak perlu lagi menuntut

pe-ngadilan untuk kekerasan 1999 ... Saya tidak sependapat dengan pen-dapat itu. Saya juga memahami, bahwa sekarang di Timor Lorosae banyak ke-butuhan mendesak dalam masyarakat yang harus ditangani. Tetapi jangan lupa hal-hal mendesak itu adalah konse-kuensi dari pelanggaran hak asasi manu-sia berat terhadap rakyat Timor Lorosae tahun 1999.

Saya tetap berpendapat bahwa perlu segera dibentuk sebuah pengadilan in-ternasional untuk menyelesaikan kasus pelanggaran berat tahun 1999.

Kedua, di satu sisi saya memahami, bahwa proses ke arah itu membutuhkan sumberdaya yang banyak, tetapi harus ada proses yang diarahkan untuk men-dukung pembentukan pengadilan inter-nasional. Ini tidak saja untuk mengadili TNI dan milisi, tetapi juga merupakan syarat untuk terciptanya rekonsiliasi. Rekonsilitasi harus didasarkan pada ra-sa keadilan. Artinya keadilan bagi kor-ban, keluarga korkor-ban, dan juga keadilan bagi pelaku.

Keadilan bagi pelaku, untuk meng-hindari kesalahan penghukuman terhdap pelaku-pelaku pelanggaran hak a-sasi manusia, seperti para pelaku pe-langgaran hak asasi manusia yang berat dihukum lebih ringan daripada pelaku pelanggaran kecil atau ringan. Ini juga untuk menghindari terjadinya balas den-dam, karena orang berbuat sendiri-sendiri terhadap pelaku atau melakukan “pengadilan jalanan”.

Sejumlah organisasi hak asasi

ma-nusia di Jakarta juga menyerukan kepada masyarakat internasional, a-gar segera membentuk pengadilan internasional untuk Timor Lorosae. Apa komentar Anda?

Seruan tentang pengadilan internasio-nal itu dilakukan oleh banyak orang di Timor Lorosae, setelah UNTAET men-jalankan misinya di Timor Lorosae. Di AS saya juga berbicara banyak tentang kebutuhan itu. Sikap yang sama juga ditunjukkan oleh gerakan-gerakan solidaritas di AS seperti ETAN, Indo-nesia Human Rights Net-work, International Forum for Human Rights in Indo-nesia, dan juga aktivis hak asasi manusia dari Indone-sia secara individu-individu yang sekarang bermukim di AS. Maka tepat sekali sikap dan seruan dari sejumlah organisasi hak asasi manusia itu dan memperkuat tuntutan dibentuk-nya pengadilan internasional untuk ke-jahatan berat di Timor Lorosae yang dilakukan TNI.

Sebagian orang khawatir jika pelaku kejahatan 1999 diadili, pengungsi di Timor Barat takut pulang ...

Itu adalah pendapat yang pesimis. Pendapat seperti itu dikeluarkan oleh para pendukung otonomi termasuk yang sekarang berada di sini. Itu kam-panye untuk menolak pengadilan inter-nasional dan menuntut amnesti. Pe-ngungsi yang sekarang masih berada di Timor Barat itu tidak tergantung pada proses hukum atas para pelaku yang sekarang ditahan di sini.

Selama ini para pengungsi berada dalam pengawasan TNI dan milisi. Se-bagian besar pengungsi adalah korban. Saya menghimbau rakyat Timor Loro-sae untuk tidak percaya dengan omong kosong itu dan saya meminta kepada mereka yang sekarang berada di Timor Barat untuk segera pulang, termasuk yang terlibat agar kita dapat menyelesai-kan persoalan pelanggaran hak asasi manusia tahun 1999. ***

Tengkorak korban kekerasan 1999 di Batugade

(8)

8 Direito 14 16 April 2001

O p i n i

Memperingati korban-korban Invasi 1975 di Ponte Cais Dili

Foto: C. Caminha

Mereka Datang Untuk Memberikan Kesaksian

Oleh

John Miller *

Empat belas ribu mil dari Dili, tiga orang Timor Lorosae berdiri di Washington, DC,

untuk menyampaikan kepada sebuah pengadilan AS, penderitaan mereka dan rakyat

Timor Lorosae karena perbuatan militer Indonesia. Mereka datang untuk memberi

kesaksian, untuk kepentingan diri mereka sendiri dan anggota keluarga yang terbunuh,

dalam gugatan hukum terhadap Letnan Jenderal Johny Lumintang dari Indonesia.

G

ugatan terhadap Jenderal

Lumintang adalah tindakan hukum yang pertama yang di-lakukan terhadap seorang komandan militer Indonesia atas terjadinya peng-hancuran sistematis setelah “konsultasi rakyat” 30 Agustus 1999.

Jenderal Lumintang, yang tidak hadir untuk membela diri di pengadilan, tidak bisa diekstradisi atau dipenjara karena tindakan hukum ini adalah gugatan per-data, bukan proses pidana. Si-dang yang dilakukan adalah un-tuk menenun-tukan seberapa keru-gian dalam hitungan uang yang harus dibayarnya.

Tanggal 27-29 Maret hakim yang memimpin sidang Aaron Kay memperoleh pendidikan yang luas mengenai Timor Loro-sae yang berfokus pada peran militer Indonesia dalam sejarah tragis bangsa ini. Gugatan hukum itu, yang didasarkan pada un-dang-undang AS yang memungkinkan siapa saja untuk mengajukan gugatan atas perbuatan penyiksaan atau pelang-garan hak asasi manusia yang sistematis, meskipun perbuatan itu dilakukan di lu-ar wilayah AS.

Ketika membuka sidang, pengacara Anthony DiCaprio dari Center for Con-stitutional Rights mengatakan kepada pengadilan bahwa hanya melalui kesak-sian langsung hakekat sebenarnya dari perbuatan-perbuatan yang dilakukan

o-leh militer Indonesia di Timor Lorosae bisa dimengerti secara lengkap. Per-buatan-perbuatan ini, yang meliputi ke-jahatan terhadap kemanusiaan, keja-hatan perang, dan pelanggaran lainnya yang berat terhadap hak asasi manusia, dilakukan tidah hanya terhadap orang-orang Timor Lorosae yang datang ke pengadilan ini tetapi juga terhadap selu-ruh penduduk Timor Lorosae.

Kesaksian yang rinci dan sangat

me-nyentuh hatinurani, yang kerap membu-at para saksi dan pengunjung sidang meneteskan air mata, diberikan oleh para penggugat mengisahkan bagaima-na para anggota keluarga mereka dibu-nuh, dipukuli oleh TNI, dipaksa mening-galkan kampung halaman, dan harta benda mereka dihancurkan.

Yang memberikan kesaksian adalah seorang laki-laki yang kehilangan kaki-nya setelah ditembak oleh seorang ten-tara ketika kembali ke Dili dari

per-sembunyian di Dare, dan seorang pe-rempuan yang anak laki-lakinya dibunuh oleh tentara Indonesia setelah dipisah-kan dari keluarganya pada hari peng-umuman hasil referendum. Perempuan ini dan anggota keluarganya terpaksa mengungi ke Timor Barat. Ketika kem-bali, ternyata rumahnya telah hancur.

Penggugat terakhir mengajukan gu-gatan atas nama ayahnya yang rumahnya dihancurkan dan saudara laki-lakinya di-siksa secara kejam dan ke-mudian dibunuh oleh ten-tara setelah referendum. Hanya sedikit tulang, abu jenazah, dan dompet yang tersisa ketika mayatnya di-temukan.

Saksi ahli, antara lain Profesor Richard Tanter, memberikan uraian tentang sejarah Timor Lorosae, menyoroti invasi dan pen-dudukan oleh Indonesia. Tanter menjelaskan secara rinci struktur komando angkatan darat Indonesia, serta tanggungjawab Lumintang dalam rantai komando. Tahun 1999, Lumin-tang adalah wakil kepala staf angkatan darat. Ia dilatih di AS dalam program IMET (International Military Education and Training) Departemen Pertahanan AS dan pernah menjadi komandan di Timor Lorosae.

Tanter menyoroti bukti dua dokumen yang ditandatangani oleh Jenderal

(9)

Lu-9 Direito 14 16 April 2001

O p i n i

Korban kekerasan 1999 di Suai. Air mata mereka mungkin tak akan pernah mengering sebelum tercapainya keadilan

Foto: C. Caminha

mintang. Yang pertama, selembar tel-egram kepada komandan-komandan yang bertanggungjawab untuk wilayah Timor Lorosae bertanggal 5 Mei 1999 (hari ketika di New York, Indonesia, Portugal, dan Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan menandatangani kesepa-kan penyelenggaraan konsultasi rakyat). Telegram ini berisi perintah untuk me-laksanakan tindakan “represif/koersif” dan rencana “pemindahan ke belakang/ pengungsian apabila opsi kedua menja-di pilihan.”

Dokumen kedua a-dalah petunjuk operasi rahasia Kopassus ber-judul “Buku Petunjuk Pembinaan tentang Sandi Yudha TNI AD”, bertanggal Juni 1999. Dokumen ini meng-gariskan penggunaan te-ror, penculikan, sabota-se, dan taktik-taktik teror terhadap musuh. Tanter menguraikan bagaimana kedua do-kumen ini dan doku-men-dokumen lainnya

serta kejadian-kejadian membuktikan peran militer dalam perencanaan, pro-mosi, dan pelaksanaan penghancuran besar-besaran, pembunuhan, deporta-si, pelanggaran-pelanggaran hak asasi lainnya yang terjadi selama dan setelah proses referendum.

Ia kepada pengadilan mengatakan bahwa penyelidikan hak asasi manusia PBB dan Indonesia juga jelas menye-butkan bahwa penanggungjawab per-buatan penghancuran dan pelanggaran hak asasi manusia tersebut adalah militer Indonesia bukan gerombolan yang tak terorganisir dan tanpa disiplin.

Meringkaskan kasus untuk Hakim Kay, pengacara Steven Schneebaum, mengatakan bahwa tergugat tidak harus melakukan pelanggaran hak asasi ma-nusia dengan tangannya sendiri. Jende-ral Lumintang, yang nyaris berada di puncak komando, kemungkinan me-ngesahkan apa yang merupakan “kam-panye terencana teror, intimidasi,

pen-culikan, pembunuhan, pembakaran, perkosaan, dan pelanggaran-pe-langgaran lainnya.”

Ia telah membiarkan atau secara sadar mengabaikan dan karena itu harus dinyatakan bertanggungjawab. Ia mendesak dijatuhkan hukuman yang be-sar sebagai isyarat yang kuat tidak hanya untuk Jenderal Lumintang dan pejabat-pejabat militer Indonesia lainnya, tetapi juga untuk setiap orang yang merasa bahwa mereka bisa bebas melakukan

kejahatan yang serupa di negara-negara lain.

Lumintang secara pribadi diberi pem-beritahuan tentang gugatan ini pada 30 Maret 2000, ketika hendak mening-galkan Washington, DC. Hakim Gladys Kessler menetapkannya bersalah sete-lah tergugat tidak memberikan jawaban atas gugatan. Setelah kalah, sidang yang dilakukan adalah bagian dari proses me-nentukan jumlah kerugian berupa uang, sebagai ganti rugi atas penderitaan peng-gugat dan sebagai hukuman denda.

Jenderal Lumintang, yang sekarang menjadi sekretaris jenderal Departemen Pertahanan, dilatih AS dalam program IMET. Program ini dibatasi oleh Ko-ngres akibat desakan terus-menerus ETAN sejak tahun 1999. Para pendukung IMET berpendapat bahwa latihan ini menumbuhkan penghormatan pada hak asasi manusia.

Gugatan seperti yang dilakukan ter-hadap Lumintang, berdasarkan

prinsip-prinsip hukum yang sama, telah berhasil dilakukan terhadap menteri pertahanan Guatemala, bekas pemimpin Bosnia Radovan Karadzic, dan Jenderal Sin-tong Panjaitan yang menjabat Pangdam Udayana pada saat peristiwa pem-bantaian Santa Cruz 12 November 1991 terhadap lebih dari 270 orang Ti-mor Lorosae.

Tahun 1992, sebuah pengadilan me-mutuskan ganti rugi $ 4 juta dan denda $ 10 juta untuk diserahkan kepada Helen Todd, ibu Ka-mal Bamadhaj, satu-satunya orang bukan Timor Lorosae yang mati dalam peristiwa pembataian itu. Tetapi uang itu belum diterima dari Panjaitan.

Gugatan terhadap Lumintang, seperti ka-sus Panjaitan, didasar-kan pada Undang-Un-dang Ganti Rugi O-rang Asing, 1789 yang memungkinkan setiap orang, warganegara maupun bukan, untuk mengajukan gugatan atas tindakan yang dilakukan di luar wilayah AS yang “me-langgar hukum bangsa-bangsa dan perjanjian Amerika Serikat.”

Undang-Undang Perlindungan Kor-ban Penyiksaan, 1992 memperkuat un-dang-undang tahun 1789 tersebut dan memberlakukannya untuk korban pe-nyiksaan. Gugatan hukum hanya bisa dilakukan jika tergugatnya diberi surat gugatan ketika berada di AS.

Pengacara kasus ini adalah CCR, CJA dan firma hukum Patton, Bogs. Sambil melanjutkan perjuangan untuk pembentukan pengadilan internasional, ETAN mendukung gugatan hukum ini sebagai salah satu cara untuk menjamin bahwa orang-orang yang menjadi pe-laku penghancuran Timor Lorosae ta-hun 1999 diadili dan calon pelanggar hak asasi menjadi gentar. ***

* Naskah asli berjudul “Indonesian Gen-eral on Trial in U.S. Court”, diambil dari www.etan.org.

(10)

10 Direito 14 16 April 2001

Serba Serbi

C

oncern Worlwide Lospalos

pada 5 dan 6 April lalu menyelenggarakan pelatihan tentang gender dan seks.

Namun, materi yang dibahas tidak hanya tentang gender dan seks. Yayasan HAK diundang untuk menjadi fasilitator selama dua hari dengan pembahasan soal “bekerja di masyarakat” dan “ba-gaimana menjadi pendengar yang baik”. Dua materi tersebut dibahas dalam hu-bungan dengan pelayanan pekerjaan yang dilakukan oleh NGO. Pada ke-sempatan kali ini, Yayasan HAK diwakili oleh Tito de Aquino dari Rumah Rakyat Baucau.

“Tujuan pelatihan ini adalah untuk meningkatkan partisipasi seluruh NGO terhadap masalah gender dan seks,” be-gitu menurut Concern Worlwide Los-palos.***

Pelatihan Masalah

Gender dan Seks

Pengurus Baru

Koperasi Ukun Rasik An

Y

ayasan HAK bersama

Fokupers membangun sebuah koperasi yang diberi nama “Koperasi Ukun Rasik An”, pada bulan November 1999 lalu.

“Ide itu bermula untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari seluruh staf Yayasan HAK dan Fokupers,” ka-ta Jose Luis, dari Yayasan HAK yang menjabat sebagai pengurus sementara. Setelah kembali dari pengungsian, Ya-yasan HAK dan Fokupers menerima begitu banyak bantuan logistik dari ber-bagai organisasi di Indonesia. Di antara mereka adalah Tim Relawan untuk Ke-manusiaan (TRuK), Pokastim, dan Fortilos.

Dalam perkembangannya, Koperasi Ukun Rasik An tidak saja memenuhi kebutuhan pekerja kedua NGO itu. Tetapi terbuka untuk siapa saja, sesuai

dengan pengertian koperasi sebagai usaha bersama untuk kesejahteraan se-mua.

Pada 7 April lalu, di Kantor Yayasan HAK diselenggarakan Rapat Umum Anggota untuk memilih pengurus baru periode Mei 2001-Mei 2002 dan per-tanggungjawaban pengurus sementara. Setelah memilih pimpinan dan wakil sidang, anggota koperasi dibagi per ke-lompok untuk membahas rancangan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga.

Terpilih sebagai pengurus harian ada-lah Jose Jaquelino (ketua), Maria Bar-reto (sekretaris), Silvina Soares Tou (bendahara), Abilio Amaral dan Helena de Araujo (anggota). Sementara Jose Luis terpilih sebagai ketua Dewan Pe-ngawas dan Aniceto Guterres Lopes bersama Santina Amaral (anggota).***

Maaf ...

Pada Direito edisi No. 13/2001, 19 Maret lalu terdapat kesalahan. Dalam rubrik Serba Serbi: “Investigasi RR Baucau” tertulis: “... karena kerjasama antara terdakwa dengan salah seorang jaksa.” Seharusnya “jaksa” ditulis “pengacara”.

Dengan ini kesalahan telah diperbaiki. Redaksi

Kegiatan RR Baucau

T

anggal 5 dan 6 Maret lalu, Tito de Aquino dan Lino Lopes menandatangani surat kontrak dengan Radio Comunidade Lospalos (RCL). Program kerjasama antara RCL dan Yayasan HAK adalah Pro-gram Pendidikan Hukum dan Hak Asa-si ManuAsa-sia.

Acara diskusi di radio itu dimulai pa-da 12 Maret. Papa-da diskusi perpa-dana membahas masalah “hukum dan pene-rapannya selama masa transisi” dengan narasumber Basilio Sequiera, jaksa dan Domingos Monteiro, Kepala Kejak-saan Baucau.

Pada 29 Maret Rumah Rakyat (RR) Baucau bekerjasama dengan Panitia Konferensi Pembangunan Berkelanjut-an di Timor Lorosae menyelenggarakBerkelanjut-an workshop di Aula St. Yosep Baucau. Konferensi tersebut dihadiri oleh berbagai NGO, OMT, Gereja dan CNRT dari Baucau, Lospalos, dan Viqueque. ***

Bantuan untuk Korban

Insiden Viqueque

G

ereja, CNRT dan UNTAET

bertindak sebagai juru damai setelah terjadi konflik di Distrik Viqueque beberapa waktu lalu. Konflik di wilayah itu terjadi akibat perseterusan antara dua perguruan silat, yaitu “Kera Sakti” dan “Setia Hati”. A-kibat dari insiden itu dua pemuda tewas dan sejumlah penduduk memilih

me-ngungsi karena merasa tidak aman. Ketika Yayasan HAK memberikan bantuan untuk keperluan sehari-hari un-tuk para korban, pada akhir Maret lalu, telah mencatat beberapa hal. Setelah terjadi insiden ada sejumlah penduduk yang mengungsi di gereja. “Meskipun setiap malam ada CivPol dan PKF Ba-talyon Jordania yang menjaga, kami te-tap saja takut. Karena masih saja ada orang yang terlibat dalam konflik berada di sekitar gereja,” kata salah seorang pengungsi.

Sampai dengan akhir Maret lalu, ter-dapat 38 rumah penduduk yang dibakar dan dihancurkan. Sementara 14 kepala keluarga yang rumahnya dibakar memi-lih tinggal di gunung. Anak-anak sekolah pun masih takut untuk pergi ke sekolah. “Banyak pula pengungsi yang setiap ha-ri menengok rumahnya sekadar untuk memberi makan pada binatang pelihara-an mereka.”

Banyak pula di antara pengungsi, ter-masuk bayi dan anak-anak yang men-derita pilek dan diare. ***

(11)

11 Direito 14 16 April 2001

A m i L i a n

Kesempatan Untuk Mendapatkan Keadilan

S

urat gugatan juga mengutip

laporan Komisi Penyelidik Pelanggaran Hak Asasi Manu-sia (KPP-HAM) yang menyatakan, “terjadi pelanggaran yang berlangsung dalam bentuk intimidasi, perendahan martabat dan teror, pengrusakan harta benda, kekerasan terhadap kaum pe-rempuan, dan pengusiran orang yang sistematis dan meluas. Juga ditemukan bukti mengenai terjadinya penghancuran bukti dan keterlibatan TNI dan milisi dalam kekerasan tersebut.”

Lumintang oleh para pengacara ditu-duh telah melakukan perbuatan-perbu-atan yang “merupakan bagian dari pola dan praktek pelanggaran hak asasi ma-nusia yang sistematis yang dirancang,

diperintahkan, dilaksanakan, dan dia-rahkan dengan partisipasi tergugat dan dijalankan oleh personil militer yang bertindak dengan pengarahan, dorong-an atau pengetahudorong-an tergugat.”

Singkatnya, Johny Lumintang diang-gap merupakan salah seorang yang ber-tanggungjawab atas terjadinya kekeras-an di Timor Lorosae tahun 1999. Dalam gelombang kekerasan tersebut, para penggugat dan keluarganya telah meng-alami pembunuhan kilat (summary kill-ing), penderitaan fisik maupun mental yang luar biasa, perendahan martabat dan derajat, ketakutan yang sangat mendalam, penyiksaan, pemukulan dan serangan lainnya yang merupakan bagi-an dari kejahatbagi-an terhadap umat mbagi-anu-

manu-sia (crimes against humanity), serta tekanan untuk menimbulkan penderita-an perasapenderita-an.

Para penggugat dalam kasus ini se-benarnya terpaksa jauh-jauh pergi ke AS untuk mendapatkan keadilan. Me-reka bersikap membantu ketika KPP-HAM dari Indonesia menjalankan pe-nyelidikan, dan telah lebih dari setahun menunggu para pelaku kekerasan dia-dili. Proses di Indonesia dan di Timor Lorosae sangat lambat, sementara De-wan Keamanan PBB, tidak memperli-hatkan gejala akan membentuk pe-ngadilan internasional. Gugatan Alien Tort adalah salah satu celah dan meru-pakan kesempatan untuk mendapatkan keadilan bagi korban. ***

P

emerintah Indonesia

menentang terhadap pengadilan in-absen-tia, Letnan Jenderal Johny Lumintang di pengadilan Dis-trik Washington, AS.

Menteri Pertahanan Mah-fud M.D. mengatakan, “Ma-syarakat internasional sulit menerima penerapan ekstra-teritorial hukum AS terhadap

orang yang disangka melakukan pe-langgaran hukum di negara lain dari penggugat yang mengaku sebagai kor-ban dan bukan warganegara AS,” ke-pada The Jakarta Post, (6/4).

Pengadilan terhadap orang yang terli-bat dalam pelanggaran hak asasi di Ti-mor oleh pengadilan HAM ad hoc yang didukung oleh Komisi Hak Asasi Ma-nusia PBB sedang dijalankan. “Berda-sarkan 20 berita acara di Kantor Kejaksaan Agung, ia bukan tersangka.” Pengadilan yang diselenggarakan a-tas inisiatif East Timor Action Network (ETAN) adalah kampanye untuk men-diskreditkan Indonesia. ***

Pemerintah Indonesia Menentang Pengadilan In-Absentia

Bukti Pamungkas Tentang Kuasa Teror yang

Direncanakan TNI

J

enderal-jenderal In-donesia me-rancang kampa-nye represi dan koersi di Timor dalam suatu upa-ya habis-habisan untuk mencegah wilayah ini memi-lih kemerdekaan. Demikian yang terungkap dari surat-su-rat rahasia militer yang diperoleh The Independent.

Dokumen-dokumen ini, yang ditemu-kan dari gedung-gedung militer oleh pa-ra pekerja hak asasi manusia di Dili, memberikan bukti pamungkas pertama, bahwa selama beberapa bulan menje-lang referendum PBB mengenai kemer-dekaan Timor Lorosae, Agustus tahun lalu, tentara Indonesia melakukan upaya sistematis untuk menggagalkannya.

Dokumen-dokumen ini memperlihat-kan, bahwa tentara memasok senjata-senjata otomatis kepada kelompok-kelompok milisi dan boneka-boneka

Ja-karta dalam pemerintahan lokal yang menggunakan senjata-senjata tersebut untuk melakukan pembunuhan-pembu-nuhan selama setengah tahun pertama dua tahun lalu. Bertentangan dengan ke-sepakatan yang ditandatangani oleh pe-merintah mereka di PBB, para perwira di Dili meminta kapal angkatan laut un-tuk membagikan beras cuma-cuma agar mendukung Indonesia.

Akhirnya, setelah menerima ke-mungkinan kalah, tentara menjalankan rencana untuk “evakuasi” paksa 250.000 orang ke Timor Barat, setelah pengumuman hasil pemungutan suara, 78.5% rakyat memilih kemerdekaan.

Dokumen-dokumen ini menyebut-kan keterlibatan perwira di setiap ting-katan hirarki militer dan akan menam-bah tekanan bagi pengadilan kejahatan perang. Jenderal Indonesia yang pal-ing berkuasa, Wiranto, terus-menerus menolak seruan pengunduran diri oleh Presiden Abdurrahman, dan mening-katkan kekhawatiran akan terjadinya perpecahan antara tentara dengan pe-merintah sipil.***

(12)

Redaksi Direito

Neves, Julio, NK, Lito, Caminha, TI, Moises, Oscar, Julito, Avan, Viana, Edio, Kopral.

Ami Lian

Diterbitkan atas dukungan:

S

idang untuk Kasus Lumintang

telah diselenggarakan di ruang sidang Hakim Kessler, pada Gedung Pengadilan Federal AS, lantai 3, Constitution Ave., NW, Wash-ington, DC.

Pada hari Selasa, 28 Maret 2000, Jenderal Indonesia Johny Lumintang di-beri tahu melalui surat, bahwa sebuah gugatan telah diajukan atas nama enam orang penggugat yang anggota keluar-ganya dibunuh, atau harta bendanya di-hancurkan, atau dilukai, atau dipaksa meninggalkan rumah setelah pemungut-an suara 30 Agustus 1999 mengenai ke-merdekaan Timor Lorosae. Gugatan hukum ini diajukan oleh Center for Constitutional Rights yang berpusat di New York dan Center for Justice and Accountability yang berpusat di San Francisco.

Bukti pertama ada-lah telegram yang di-tandatangani oleh Jenderal Lumintang dan dikirimkan ke panglima militer dae-rah Mayor Jenderal Adam Damiri dan komandan-koman-dan lain beberapa jam sebelum dicapai-nya kesepakatan me-ngenai penyeleng-garaan pemungutan suara mengenai status politik Timor Lorosae ditandatangani PBB pada 5 Mei.

Telegram itu

merintahkan para komandan untuk me-rencanakan tindakan kalau rakyat Ti-mor Lorosae memilih kemerdekaan. Telegram itu berbunyi: “Persiapkan rencara keamanan untuk mencegah perang saudara yang meliputi

tin-Bukti-bukti Kejahatan Lumintang

dakan pencegahan (menciptakan

kondisi), tindakan polisionil, tindak-an represif/koersif, dtindak-an renctindak-ana mundur/evakuasi kalau opsi kedua yang menang.”

Segera setelah pe-mungutan suara, ren-cana itu dijalankan dan ratusan ribu orang di-paksa meninggalkan rumah karena demi keamanan pergi ke Ti-mor Barat atau pulau-pulau lain Indonesia.

Surat gugatan terse-but mengutip bukti ke-dua, yaitu buku petun-juk angkatan darat ta-hun 1999, yang juga di-tandatangani oleh Lu-mintang.Buku tersebut menyatakan, pelaksana inteli-jen Kopassus dilatih di bidang propaganda, penculikan, te-ror, agitasi, sa-botase, infiltrasi, operasi maran, penya-dapan telepon, intelijen foto-grafis, dan ope-rasi psikologis. Pelaksana ope-rasi Kopassus terlibat dalam penculikan aktivis-aktivis kemerdekaan Timor Lorosae sebelum dan sesudah pemungutan suara yang mayoritas me-milih kemerdekaan.

Kutipan dari halaman 35 buku petun-juk yang bertanda RAHASIA adalah:

Latihan dilaksanakan untuk mening-katkan kemampuan Sandi Yudha TNI-AD yang telah dimiliki dengan cara:

a) Mempelajari teori Sandi Yudha TNI-AD di kelas-kelas yang dibuat dan disesuaikan de-ngan jadwal ke-giatan masing-masing yang terdiri dari: 1).Taktik dan Teknik Perang Urat Syaraf 2) TT Propa-ganda 3) TT Pencu-likan 4) TT Teror 5) TT Agitasi 6) TT Sabo-tase 7) TT Infiltrasi 8) TT ? 9) TT Penyadapan 10) TT Intelijen Fotografis 11) TT Operasi Psikologis

b) Tes tertulis untuk menentukan se-berapa jauh anggota telah menangkap pelajaran-pelajaran teori Sandi Yudha yang telah diberikan.

c) Praktek lapangan oleh orang/ke-lompok untuk mempraktekkan teori dan pelajaran Sandi Yudha yang telah diberikan.

3) Penugasan. Semua personil Sandi Yudha TNI-AD punya kesem-patan yang sama untuk menerima penu-gasan khusus di wilayah operasi ini. Pe-nugasan di wilayah operasi akan men-dapatkan sarana-sarana yang diperlu-kan untuk menguji kemampuan Sandi Yudha personil TNI-AD.

Bukti-bukti ini yang dibawa East Ti-mor Action Network (ETAN) untuk menggugat kejahatan Lumintang. ***

Referensi

Dokumen terkait

Beck '!"#1( mendefinisikan *B) sebagai pendekatan konseling yang dirancang untuk menyelesaikan permasalahan konseli pada saat ini dengan cara melakukan restrukturisasi

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari satu variabel terikat atau dependent variabel yaitu pinjaman luar negeri serta variabel bebas atau independent

Kondisi saat ini di lapangan menunjukkan bahwa saat tali tambat (mooring hawser) menerima beban maksimun sensor monitoring yang ada akan mengirim respon ke sistem kontrol elektronik

Dalam pengumpulan data tersebut, data tersebut akan digunakan untuk menentukan tema, sinematografi, tone warna, gaya visual dan lain – lainnya yang dianggap perlu

Permasalahan yang dihadapi saat ini adalah rendahnya teknologi penggelondongan yang dimiliki petani/pengusaha, baik itu padat tebar, pemberian pakan tambahan dan

 merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas

Untuk Pelaksanaan Ujian Nasional Tersebut Mendiknas Telah Mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 97 Tahun 2013 Tentang Kriteria Kelulusan