• Tidak ada hasil yang ditemukan

daftar isi Ironi Pasal Makar dan Pembungkaman Kebebasan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "daftar isi Ironi Pasal Makar dan Pembungkaman Kebebasan"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

EDITORIAL

Memoria Passionis Papua

Kekerasan politik dan pelanggaran HAM masih terus berlangsung di Papua. Teror, intimidasi, kekerasan aparat, masih kerap mewarnai kes-eharian orang asli Papua. Nestapa ini meng-genapi janji-janji pembangunan yang tak kun-jung terbukti turut andil memulihkan martabat mereka. Bagaimana seharusnya menempatkan Papua dalam rumah besar keindonesiaan? LAPORAN UTAMA

De-sekuritisasi Papua, Upaya Memutus Rantai Kekerasan

Upaya memtus rantai kekerasan di papua mem-butuhkan perubahan cara pandang aparat, politik, dan kebijakan keamanan di Papua, se-cara mendasar. Akankah pendirian Kodam baru memupus asa ini?

Papua dari Rezim ke Rezim

Semenjak bergabung menjadi salah satu wilayah provinsi dari republik ini, nasib Papua tampak belum beranjak signifikan. Bila mencer-mati berbagai kebijakan dan praktik pemba-ngunan di Papua dari rezim ke rezim, nasib provinsi yang berada di ujung paling timur ini selalu menjadi tanda tanya besar: mau dibawa ke mana?

LAPORAN UTAMA

Wajah Kekerasan “Pembangunan” di Papua Hampir satu setengah dekade Otonomi Khusus untuk Papua bergulir. Puluhan triliun rupiah sudah digelontorkan. Namun, rupanya pemba-ngunan di Papua tidak berkontribusi terhadap pemenuhan hak-hak dasar orang asli Papua. Ironi Pasal Makar dan Pembungkaman Kebe-basan Berekspresi

Pembungkaman terhadap ekspresi politik orang asli Papua terus berlangsung. Cermin buruk ke-hidupan demokrasi di Papua.

Ketika Kekerasan Negara Menular ke Masyarakat

Berbagai bentuk kekerasan yang dilakukan ak-tor-aktor negara pada gilirannya direproduksi di tingkat komunitas. Kekerasan horizontal pun tak terelakkan.

RESENSI FILM

Indonesia Perlu Kacamata

Sebagai biopic, lewat film Jagal kita “meminjam kacamata” pembantai yang menganggap peris-tiwa 1965 adalah sebuah perisperis-tiwa heroik yang harus dirayakan sebagai “sejarah”. Kita diingat-kan lagi tentang Inong dan Amir Siahaan yang dengan jumawa bercerita bagaimana mereka membantai Ramli. Keduanya memperagakan bagaimana mereka membantai, lengkap den-gan rekonstruksi seadanya di depan kamera. OPINI

Efek Jokowi untuk Perubahan Papua?

Jika Jokowi memang bertekad untuk bertin-dak dan tibertin-dak hanya memesona publik dengan politik pencitraan seperti yang dilakukan SBY, dia ditantang untuk mampu mengoyak govern-mentality yang telah membelenggu Papua seki-an lama. Dengseki-an semboyseki-an Revolusi Mental yang kerap Jokowi gaungkan, apakah ia mampu memimpin revolusi mental itu untuk Papua?

OPINI

Papua, Pembangunan, dan HAM

Sebagian kalangan memandang pembangunan di Papua hanya sekadar menjalankan program, bahkan sebagian melihat ini sebagai peluang untuk memperoleh fee proyek. Padahal se-sunguhnya, membangun Papua seharusnya ditujukan sebagai upaya pemenuhan dan per-lindungan hak asasi manusia, khususnya da-lam rumpun hak ekonomi, sosial dan budaya (EKOSOB).

daftar isi

10

16

5

9

4

27

29

19

21

22

23

REHAL BUKU

“Lingkar Belajar Bersama” Perempuan Korban Pelanggaran HAM

Buku ini merekam beberapa peristiwa pelang-garan HAM yang menimpa kaum hawa dan memunculkan penderitaan dan trauma kolek-tif berkepanjangan di antara mereka, terutama terkait dengan peristiwa 1965-1966, kehidupan tahanan politik di Pulau Buru dan Kupang, dan pelaksanaan Daerah Operasi Militer di Aceh dan Papua

24

26

(3)

Penanggung Jawab

Indriaswati Dyah Saptaningrum Pemimpin Redaksi:

Rusman Nurjaman Dewan Redaksi:

Indriaswati Dyah Saptaningrum, Zainal Abidin, Wahyu Wagiman

Redaktur:

Wahyudi Djafar, Andi Muttaqien, Ikhana Indah B, Adiani Viviana

Reporter:

Kosim, Paijo, Purnama Ayu Sekretaris Redaksi: Ari Yurino

Sirkulasi/Distribusi: Khumaedy

Tata Letak dan Infografis: Dodi Sanjaya

Penerbit

Lembaga Studi dan Advokasi masyarakat (ELSAM)

Alamat Redaksi

Jl. Siaga II No 31, Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta 12510. Telepon (021) 7972662,79192564 Faximile : (021) 79192519. E-mail :[email protected], [email protected]

Redaksional

dari redaksi

Sidang pembaca yang terhormat,

Buletin ASASI edisi kali ini mendedah isu praktik ke-kerasan yang terjadi di Papua. Isu ini menjadi penting mengingat kekerasan di Papua terus terjadi dan sema-kin meluas tiap tahunnya. Sepanjang 2014 saja ELSAM mencatat 102 kasus kekerasan dan pelanggaran HAM terjadi di Papua. Sebagian besar kasus kekerasan yang terjadi di 19 kabupaten/kota di Papua ini melibatkan aparat keamanan dan anggota aparat keamanan, ang-gota TNI, dan kelompok sipil bersenjata. Terakhir, ter-jadi peristiwa penembakan oleh aparat keamanan di Paniai yang menewaskan 4 orang anak sekolah dan 1 remaja pada Desember 2014 silam.

Laporan yang disajikan memuat hasil reportase Tim Redaksi kami. Kami wawancarai beberapa pihak terkait pandangan mereka tentang kekerasan yang terjadi di Papua, berikut solusi yang bisa diupayakan. Reportase ini juga menyertakan data statistik tentang kekerasan yang berhasil dihimpun.

Edisi ini juga dilengkapi ulasan tentang kemungkinan perubahan kebijakan terhadap Papua di era rezim baru dari Dr. Budi Hernawan, Peneliti Abdurrahman Wahid Centre for Interfaith and Peace Universitas Indone-sia. Ada juga opini dari Amiruddin al Rahab, analis so-sial-politik Papua, Ketua Papua Resource Center, yang ikut dalam delegasi Indonesia pada Sidang Komite HAM EKOSOB PBB, 2014, di Jenewa.

Selamat membaca. Redaksi ASASI

Redaksi senang menerima tulisan, saran, kritik dan ko-mentar dari pembaca. Buletin Asasi bisa diperoleh secara rutin. Kirimkan nama dan alamat lengkap keredaksi. Kami juga menerima pengganti biaya cetak dan distribusi bera-papun nilainya. Transfer kerekening :

ELSAM Bank Mandiri Cabang Pasar Minggu No. 127.00.0412864-9

(4)

editorial

Peristiwa Paniai berdarah kembali membuka mata publik tentang na-sib anak bangsa di belahan ujung timur republik. Kekerasan politik dan pelanggaran HAM masih ter-us berlangsung di Papua. Teror, in-timidasi, kekerasan aparat, masih kerap mewarnai keseharian orang asli Papua. Nestapa ini menggena-pi janji-janji pembangunan yang tak kunjung terbukti turut andil memulihkan martabat mereka. Sementara siklus kekerasan di Papua sudah terjadi sejak lama, bahkan sebelum pelaksanaan Pe-nentuan Pendapat Rakyat (Pepera) tahun 1969. Sejarah mencatat, op-erasi militer di Papua berlangsung sejak dekade 1950-an. Puncaknya terjadi ketika operasi militer yang dipimpin Ali Murtopo melahir-kan kekerasan politik menjelang Pepera. Tokoh-tokoh intelektual dan masyarakat yang tidak setuju dengan integrasi Papua ke Indone-sia ditekan dengan intimidasi dan teror, diberi minuman keras, diberi perempuan, dan seterusnya. Pada titik inilah kemudian, sejarah inte-grasi dan status politik orang Pap-ua menyisakan persoalan panjang dan melahirkan persoalan-per-soalan baru. Konflik yang semes-tinya diselesaikan dengan dialog konstruktif, tak pernah terwujud. Sebaliknya, setiap kali muncul su-ara-suara kritis, selalu dibungkam dengan kekerasan militer.

Situasi inilah yang melatar be-lakangi merebaknya kekerasan politik dan pelanggaran HAM se-bagai pengalaman obyektif yang dialami oleh rakyat Papua. Berb-agai peristiwa kekerasan dan kon-tak senjata kerap terjadi di banyak tempat. Tak pelak, banyak warga

sipil yang menjadi korban. Bah-kan, sejatinya rakyat Papua tidak hanya mengalami kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan psikologis dan kekerasan struktural. Situasi ini masih diperparah dengan adan-ya penangkapan dan penahanan sewenang-wenang terhadap, jur-nalis, aktivis, dan pekerja kemanu-siaan yang bekerja di Papua. Demikianlah, seiring waktu, pres-iden boleh berganti, tapi watak rezim terhadap Papua--kecuali di era Presiden Abdurrahman Wa-hid--tidak pernah berubah. Ke-kerasan selalu ada di Papua. Ada rezim militer yang berada di atas segalanya. Alhasil, siklus kekerasan di Papua tidak pernah berhenti. Pengalaman inilah yang kemudi-an menimbulkkemudi-an luka ykemudi-ang dalam dan trauma berkepanjangan di ka-langan orang asli Papua (memoria passionis). Setelah bergabung den-gan Indonesia, tampaknya sejarah Papua banyak diwarnai kekece-waan demi kekecekekece-waan.

Hingga kini, harus diakui, strategi pemerintah dalam menangani per-soalan Papua masih menggunakan paradigma dan cara-cara lama, yaitu melalui pendekatan yang represif-militeristik dan menutup pintu dialog. Dengan cara ini, rep-resentasi menonjol negara dan pemerintah pusat di Papua adalah kehadiran tentara dan polisi. Nega-ra sebagai institusi hadir di Papua dalam bentuk kekuatan militer. Se-baliknya, negara—meminjam per-spektif Foulcault (1977) tentang governmentality—sebagai seni memerintah demi mewujudkan kesejahteraan rakyat, tidak pernah dirasakan kehadirannya di tanah Papua.

Tak lama setelah rezim Orde Baru runtuh dan agenda reformasi digulirkan, sesungguhnya sempat ada titik terang. Melalui UU No. 21/2001 pemerintah memberikan status otonomi khusus untuk Pap-ua. Namun setelah hampir satu setengah dekade Otsus berjalan, wajah Papua belum juga bersa-lin rupa. Pendekatan yang lebih manusiawi juga dilakukan melalui pembentukan Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Pap-ua Barat (UP4B). Uang triliunan rupiah memang digelontorkan untuk menunjang pelaksanaan Otsus dan percepatan pemban-gunan di tanah Papua. Sejumlah hasil memang berhasil dicapai, terutama dalam bidang pemban-gunan sosial ekonomi dan pem-bangunan infrastruktur. Namun alih-alih menyentuh akar perso-alan, pendekatan kesejahteraan yang ditempuh pemerintah pun pada akhirnya cenderung bercorak legalistik semata.

Lantas, upaya apa yang harus di-tempuh untuk memutus rantai kekerasan di Papua? Bagaimana mengefektifkan kinerja pemban-gunan di Papua hingga dapat me-menuhi hak-hak dasar orang asli Papua? Bagaimana sebaiknya me-nempatkan Papua dalam rumah besar keindonesiaan? Setidaknya tiga pertanyaan itulah yang harus dijawab melalui dialog konstruktif antara Jakarta dengan Papua. Di-alog konstruktif masih relevan se-bagai jalan damai demi menjawab kebuntuan dan sebagai titik masuk untuk menyemai harapan meretas jalan baru Papua.[]

(5)

De-sekuritisasi Papua,

Upaya Memutus Rantai Kekerasan

Sejumlah pihak meyakini de-seku-ritisasi dan pengurangan personil militer akan mengurangi kasus ke-kerasan dan pelanggaran HAM di Papua. Upaya ini membutuhkan perubahan cara pandang aparat, politik, dan kebijakan keaman-an di Papua, secara mendasar. Akankah pendirian Kodam baru memupus asa ini?

Sebulan setelah dilantik sebagai kepala negara, Presiden Joko Widodo menyetujui rencana pem-bentukan Komando Daerah Mi-liter (Kodam) baru di tanah Papua. Bersamaan dengan itu, juga akan dibentuk Komando Armada Ten-gah untuk Angkatan Laut di wilayah Timur. Hal ini disampaikan Jokowi setelah menggelar pertemuan ter-tutup dengan Panglima TNI, Jen-deral Moeldoko, di Istana Bogor,

medio November 2014 silam. Sebelumnya, usulan mengenai rencana pembentukan Kodam baru tersebut berasal dari Pangli-ma TNI Jenderal Moeldoko. Dalam acara pemberian pengarahan Pres-iden Jokowi kepada para Panglima Komando Utama (Pangkotama) TNI se-Indonesia, Moeldoko men-gusulkan pembentukan komando gabungan wilayah pertahanan, serta pembentukan Kodam Mana-do dan Papua. Alasannya, antara lain, untuk memperkuat pertahan-an dpertahan-an mempermudah koordinasi TNI di Papua.

“Penambahan Kodam di Papua, se-suai rencana strategi (renstra) su-dah disiapkan. Tapi yang pertama di Manado sudah mulai dijalankan. Harapan kita untuk Papua tahun depan sudah bisa dijalankan,” ujar

Moeldoko di Mabes TNI, Cilang-kap, Jakarta Timur, sebagaimana dilansir sejumlah media ibukota, Desember 2014 silam.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, lu-asnya wilayah Papua menyulit-kan rentang kendali bagi seorang pemimpin di mana Pangdam harus mengendalikan seluruh prajurit-nya yang sangat jauh. Moeldoko menyangkal adanya kepentingan politik dalam rencana pembentu-kan Kodam baru di Papua tersebut. Menurut dia, rencana ini murni un-tuk kepentingan pertahanan. Terlepas dari alasan Panglima TNI di atas, kebijakan keamanan baru di Papua mengundang tanda tan-ya besar, terlebih di tengah rantai siklus kekerasan yang tak kunjung reda. Sejumlah pihak menilai, pem-bentukan Kodam baru mengin-dikasikan peningkatan pendeka-tan keamanan yang justru akan kontraproduktif dengan upaya penyelesaian masalah kekerasan politik dan pelanggaran HAM di Papua yang terjadi selama ini. Kekerasan demi kekerasan: kon-tradiksi sekuritisasi

Yafed Leonard Franky, pegiat hak asasi manusia dari Yayasan Pusaka, menuturkan, kekerasan di Papua terus terjadi dan semakin meluas. Menurut dia, hal ini terjadi kare-na pendekatan dan cara pandang aparat keamanan TNI dan Polri be-lum berubah. Boleh jadi ini dikare-nakan dominasi pandangan mi-literistik yang melihat rakyat sipil di Papua sebagai lawan dan ancaman, atau digerakkan oleh kepentingan kekuasaan dan ekonomi, maupun

laporan utama

Kekerasan dan pelanggaran HAM di Papua hingga saat ini masih terus berlangsung (Dok. Indoprog

ress)

(6)

laporan utama

pandangan diskriminatif.

“Sehing-ga, selalu saja terjadi kekerasan dan menggunakan alat kekerasan untuk menaklukkan rakyat Papua, meskipun melanggar hukum,” tu-tur Angky, begitu dia kerap disapa. Sekadar catatan, sepanjang 2014 saja ELSAM mencatat 102 kasus kekerasan dan pelanggaran HAM terjadi di Papua. Sebagian besar kasus kekerasan yang terjadi di 19 kabupaten/kota di Papua ini mel-ibatkan aparat keamanan dan an-ggota aparat keamanan, anan-ggota TNI, dan kelompok sipil bersenjata Terakhir, terjadi peristiwa penem-bakan oleh aparat keamanan di Paniai yang menewaskan 4 orang anak sekolah dan 1 remaja pada

Desember 2014 silam (Selengkap-nya, lihat infografis).

Jika menengok ke belakang, ke-kerasan dan pelanggaran HAM di Papua sudah berlangsung lama sei-ring dengan dilakukannya operasi militer. Sejarah mencatat, operasi militer di Papua sudah dilakukan sejak 1952 di bawah komando Ali Kahar. Namun saat itu, operasi mi-liter dilakukan untuk mengkonfron-tasi Belanda yang masih bercokol di sana. Sejak itu, nama-nama seperti Beny Moerdani, Ali Murtopo, dan Sarwo Edhie Wibowo, bergantian memimpin operasi militer Papua. Puncaknya adalah ketika Ali Mur-topo memimpin operasi militer

antara 1961-1969 untuk menga-wal proses integrasi Papua hingga pelaksanaan Pepera. Sejak itulah terjadi kekerasan politik dan pe-langgaran HAM di Papua. Pasalnya, menjelang Pepera kelompok mi-liter Indonesia getol melakukan in-timidasi dan memperlakukan orang Papua semena-mena. Tokoh-tokoh intelektual dan masyarakat yang tidak setuju dengan integrasi Pap-ua ke Indonesia ditekan dengan in-timidasi dan teror, diberi minuman keras, dan perlakuan semena-me-na lainnya.

Hingga kini, berbagai gejolak politik di Papua selalu diselesaikan den-gan jalan kekerasan. Rezim boleh berubah, presiden boleh berganti,

Presiden Soekarno mengumumkan Tri Komando Rakyat (Trikora) untuk merebut Irian Barat.

15 Agustus 1962

Persetujuan New York, Belanda menyerahkan kekua-saan atas Papua Barat kepada Indonesia.

1 Oktober 1962

Badan PBB, The United Nation Temporary Executive Authority (UNTEA) mengambil alih pemerintahan dari Belanda.

1 Mei 1963

Penyerahan pemerintahan atas Irian Barat dari UN-TEA kepada Pemerintahan RI. Pembagian wilayah enam keresidenan peninggalan pemerintah Hindia Belanda dipertahankan.

Era Presiden Soeharto (Orde Baru) 14 Juli-2 Agustus 1969

Pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) . Hasil Pepera menunjukkan opsi bergabung ke Indone-sia memperoleh suara terbanyak. Namun jauh sebe-lum itu, dilakukan Operasi Militer untuk pemenangan Pepera yang melahirkan kekerasan politik dan pelang-garan HAM terhadap orang asli Papua.

10 September 1969

Presiden Soeharto meresmikan sembilan kabupaten di Provinsi Irian Barat dan meresmikan provinsi terse-Era Kolonial

17 Maret 1824

Perjanjian London. Belanda dan Inggris membagi wilayah Hindia. Belanda memperoleh Suma-tera, Jawa, Maluku, dan Netherlands New Guinea (New Guinea sebelah Barat)

1942-1944

Sebagian besar wilayah utara Netherlands New Guinea diduduki pasukan Jepang.

Era Presiden Soekarno 23 Agustus 1945

Enam hari setelah Proklamasi Kemerdekaan, Soekarno mendeklarasikan (wilayah) kesatuan Indonesia “Dari Sabang sampai Merauke”. 15 November 1946

Dalam Persetujuan Linggarjati, Netherlands New Guinea tidak termasuk wilayah RI

16 Agustus 1956

Pihak RI membentuk pemerintahan provinsi oto-nom Irian Barat yang berkedudukan di Tidore 1 Desember 1961

Belanda mengganti nama Netherlands New Guinea menjadi Papua Barat

19 Desember 1961

(7)

laporan utama

tapi siklus kekerasan di Papua tidak

pernah berhenti. Kekerasan selalu ada di Papua. Ada siklus kekerasan yang sulit untuk dihentikan kare-na rezim militer yang berada di atas segalanya seiring kebijakan dan pendekatan keamanan yang dilakukan pemerintah untuk Pap-ua. Oleh karena itu, sejumlah pi-hak menilai rencana pembentukan komando teritorial militer baru di Papua kian mempersulit penyele-saian masalah pelanggaran HAM dan kekerasan politik.

Cahyo Pamungkas, peneliti Lem-baga Ilmu Pengetahuan Indone-sia (LIPI) menilai, kian intensifnya pendekatan sekuritisasi isu Pap-ua, setidaknya menimbulkan tiga

dampak serius. Pertama, men-gurangi kepercayaan dan dukun-gan dunia internasional. Sebagai contoh, pada 2010 salah seorang anggota Kongres Amerika Serikat menyatakan dukungan terhadap kemerdekaan Papua. “Ini menun-jukkan kecaman dunia internasion-al terhadap pelanggaran HAM yang terjadi di Papua. Saya kira itu yang pertama untuk menilai pendekat-an sekuritisasi,” papar Cahyo. Kedua, lanjut dia, meningkatnya ketidakpercayaan orang asli Papua terhadap pemerintah. Hal ini bisa dilihat dari pernyataan pemimp-in-pemimpin di Papua, terutama di kalangan pemimpin komunitas gereja, yang menyuarakan

pelang-garan HAM di Papua. S e b a g a i contoh, tak lama setelah kasus peris-tiwa Paniai b e r d a r a h , pendeta Socrates menyerukan agar Jokowi s e b a i k n y a

dilarang merayakan natal di Papua sebelum menyelesaikan kasus ini. “Itulah bukti bahwa pendekatan keamanan menjadi kontraproduk-tif,” tegasnya.

Ketiga, peningkatan korban ke-kerasan semakin meningkat. Pada but menjadi provinsi Indonesia yang ke-17.

1 Maret 1973

Nama Irian Barat diubah menjadi Irian Jaya Era Presiden BJ Habibie

4 Oktober 1999

UU No. 45/1999 tentang pembentukan Provinsi Irian Jaya Tengah Provinsi Irian Jaya Barat. Seminggu kemudian, dengan Dekrit No. 327/1999 Presiden BJ Habibie mengangkat Gubernur Irian Jaya Barat dan Irian Jaya Tengah. Dua keputusan ini ditolak DPRD Irian Jaya. UU No. 45/1999 lalu ditunda, dan Dekrit No. 327/1999 dibatalkan.

Era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) 1 Januari 2000

Di Jayapura, Presiden Wahid meresmikan pergan-tian nama Provinsi Irian Jaya menjadi Provinsi Papua 29 Mei-3 Juni 2000

Kongres Rakyat Papua menolak penyatuan Papua dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Era Presiden Megawati Soekarnoputri 21 November 2001

UU No. 21/2001 tentang otonomi khusus bagi Provinsi Papua.

27 Januari 2003

Inpres No. 1/2003 tentang percepatan pelaksanaan UU No. 45/19999 yang sempat tertunda.

Era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 23 Desember 2004

Majelis Rakyat Papua disahkan oleh Presiden Susi-lo Bambang Yudhoyono.

18 April 2007

Perubahan nama Provinsi Irian Jaya Barat menjadi Provinsi Papua Barat

20 September 2011

Melalu Perpres No. 65/2011 Pemerintah melun-curkan Program Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (P4B) yang kemudian disusul den-gan Perpres No. 66/2011 tentang pembentukan Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B)

Era Presiden Joko Widodo 30-31 Oktober 2014

Pemerintah kembali menggulirkan wacana peme-karan dan program transmigrasi di Papua.

28 November 2014

Presiden Joko Widodo menyetujui rencana pem-bentukan Komando Daerah Militer (Kodam) baru di Manokwari, Papua Barat.

Sumber: ELSAM, 2014; diolah dari berbagai-sumber.

(8)

laporan utama

2012, ada 63 orang tewas. Keban-yakan yang meninggal adalah war-ga sipil, dan jumlahnya semakin meningkat sepanjang 2011-2014. Catatan dokumentasi ELSAM mel-aporkan selama periode 2012-2014, setidaknya terdapat 169 warga sipil yang tewas, dan 783 orang mengalami luka-luka. Jum-lah ini masih belum termasuk jum-lah korban dari aparat dan anggota TNI sendiri, serta kelompok sipil bersenjata. Menurut Cahyo, hal ini menunjukkan pendekatan seku-ritisasi itu sudah tidak bisa diper-tahankan, justru akan semakin menambah perasaan bahwa iden-titas orang Papua sebagai bangsa orang yang berbeda dengan bang-sa Indonesia.

Dominasi tentara, derita rakyat Papua

Saat ini, di Papua yang luasnya tiga setengah kali Pulau Jawa memiliki satu Kodam dengan empat Korem dan 14 Kodim serta 113 Koramil. Pada 2012, perkiraan jumlah pasu-kan TNI di Papua mencapai 14.842 orang, dengan rincian: TNI AD 13.000 orang, TNI AL 1.272 orang, dan TNI AU 570 orang. Jumlah ini mendekati setengah dari jumlah

prajurit TNI yang digelar dalam situasi Darurat Militer di Aceh pada 2003 silam. Ironis memang, mengingat saat ini baik Papua maupun Papua Barat tidak sedang berada dalam status Darurat Mi-liter maupun Sipil. Bahkan, den-gan pembentukan Kodam baru, jumlah pasukan TNI di Papua bisa bertambah dua kali lipat!

Josie Susilo, wartawan Kompas untuk daerah Papua, menuturkan, jumlah tentara di Papua memang terlalu berlebihan. Saat ini me-mang belum ada data resmi soal berapa jumlah personil militer di Papua. Tapi dia memperkirakan setidaknya untuk Polda Papua saja ada 15.000 personil. Kalau ditambah, jumlah tentara di sana mungkin menjadi 30.000 orang, papar Josie. “Bayangkan, dengan jumlah penduduk 4 juta orang, di Papua terdapat 2 Kodam dan 2 Pol-da. Ini berlebihan,” ujar Josie. Sebagai orang yang lama tinggal dan menyinggahi banyak tempat di Papua, Josie cukup mengenal dengan baik wilayah dan aspek de-mografi Papua. Menurut dia, daer-ah yang paling padat penduduk di Papua hanya Jayapura. Sementara di derah pedalaman setiap 1 Km hanya bisa ditemui rata-rata 1-2 keluarga saja. “Tapi lalu mengapa harus mendatangkan militer ban-yak-banyak?” gugat Josie.

Lebih lanjut Josie menuturkan, dengan kehadiran militer di banyak titik mungkin semuanya menjadi terawasi dengan baik. Tapi kalau di kampung-kampung, khususnya pos daerah rawan, kehadiran mi-liter di sana justru dapat memicu rasa tidak aman warga. “Padahal, kalau kita lihat sendiri, tidak ada potensi bahaya di sana. Artinya, militer sendiri yang menciptakan mitos tentang adanya bahaya atau

daerah rawan di Papua. Dengan menyebut ada “pos rawan” atau “tim khusus”, mereka menciptakan satu situasi yang melegitimasi ke-hadiran mereka di sana,” papar Josie.

Sementara itu, baik tentara atau aparat bersenjata di sana tidak pernah mengakui kekerasan yang mereka lakukan di Papua. Menurut Josie, mereka memang selalu mencari kambing hitam, selalu menyalahkan simpatisan OPM atau KNPP. Terhadap kasus pen-embakan di Papua, misalnya, mer-eka menyalahkan KNPP. “Mermer-eka selalu mengatakan: ‘bukan kami pelakunya’, ‘tidak mungkin itu kami pelakunya’, dan segala macam. Tapi ketika dilakukan pengecekan, akhirnya ketahuan yang melakukan mereka,” ujar Josie.

Ironisnya, semakin hari dominasi militer di Papua kian tak terbend-ung. Mereka tak hanya menjalani peran di sektor keamanan, tetapi juga mulai masuk ke ranah bisnis, dan pembangunan. Pada 2012, misalnya, seiring dengan pelak-sanaan program Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B), pemerintah menge-luarkan Perpres No. 40 tahun 2012 tentang pembangunan ruas-ruas jalan.

Pembangunan infrastruktur jalan ini diyakini bakal membuka ket-erisolasian Tanah Papua. Namun alih-alih memberi ruang bagi ket-erlibatan masyarakat asli dalam membangun tanah Papua, pemer-intah bersama DPR justru menger-ahkan Satuan Zeni TNI untuk men-gawal pembangunan ruas-ruas jalan P4B ini. Penggunaan satuan pasukan tentara ini untuk men-gurangi pengaruh para kontrak-tor pendatang yang menjamur di tanah Papua, begitu dalih Peta Provinsi Papua dan Papua Barat

(9)

laporan utama

intah (Tempo).

Pandangan kritis pun muncul dari beberapa pihak, salah satunya adalah Otto Nur Abdullah, ang-gota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Dengan mencermati berbagai kebijakan dan praktik pembangunan di Pap-ua, Otto melihat pendekatan yang dilakukan pemerintah selama ini lebih menyerupai pendekatan kolonial. Hal ini jelas merupakan langkah yang kontradiktif bagi up-aya penyelesaian masalah Papua. “Pemerintah kolonial Belanda dulu melakukan tiga hal. Pertama, men-girim tentara; kedua, menmen-girim pe-jabat birokrasi, dan; ketiga, mem-bangun jalan,” ujar Otto. Dalam hal ini, jalan dibangun demi kelancar-an alirkelancar-an logistik ykelancar-ang terkait den-gan proses penundukkan. Artinya, jalan dibuat untuk mobilitas amu-nisi dan pasukan.

“Kalau dalam konteks sekarang, di-tambah dengan mobilitas sumber daya alam yang sama sekali tidak bersentuhan dengan kesejahter-aan dan kenyamanan hidup se-bagai warga negara di Papua. Oleh karena itu, saya katakan pendeka-tannya sangat kolonial,” tegas dia. Angky mempunyai pandangan yang kurang lebih senada. Dia me-lihat pembangunan infrastruktur ini bermata dua. Di satu sisi, pem-bangunan infrastruktur memang populer untuk membuka daerah terisolasi, tetapi di sisi lain, juga memberi jalan lapang buat kepent-ingan investasi untuk mengeruk sumber daya setempat dan men-jadi sasaran pasar. “Pihak-pihak yang berkepentingan tentu akan terus memelihara dan menggu-nakan pendekatan keamanan da-lam menjalankan bisnis yang saling menguntungkan,” ucap dia.

Itulah mengapa pendekatan kea-manan juga digunakan sekaligus untuk mengontrol ruang gerak masyarakat, menaklukan, dan melucuti hak-hak rakyat. “Ini dilakukan supaya rakyat menerima ‘kepentingan pemerintah’ yang di-tumpangi kepentingan bisnis kor-porasi,” lanjut Angky.

De-sekuritisasi butuh nyali Jokowi Menimbang berbagai dampak sekuritisasi tersebut, Angky ber-harap kebijakan keamanan di Papua ditinjau ulang. Dia meng-himbau perlu adanya perubahan dalam cara pandang aparat dalam menyelesaikan permasalahan. Se-lain itu, harus ada penegakkan hu-kum dan secara konsisten dilaku-kan secara berkesinambungan. Misalnya, dengan memberikan sangsi pada pihak-pihak yang me-langgar dan merusak rasa keadilan. Josie juga berpandangan serupa. Ke depannya, kata Josie, kehadiran militer harus dikurangi dan diarah-kan untuk hanya berkonsentrasi di area perbatasan saja.

Namun demikian, bagi Otto, ken-dati tak bisa ditawar-tawar lagi, mengakhiri dominasi militer (de-sekuritisasi) di Papua tam-paknya tak semudah membalik telapak tangan. Menurut dia, tan-tangan utamanya adalah bagaima-na mengefektifkan daya kontrol rezim terhadap pergerakan militer di Papua. Bercermin dari pengala-man Aceh, pergerakan militer se-harusnya ada di bawah kontrol Presiden. Jika tidak, sulit untuk mengendalikan gerak-gerik tentara di lapangan.

Sebagai contoh, di Aceh dulu per-nah terjadi kesimpangsiuran ko-mando militer. Antara Presiden, Panglima TNI, dan hasil perjanjian damai, saling berbeda dalam

mem-beri intruksi. Walhasil, pergera-kan militer di lapangan tidak ter-kontrol. Baru kemudian setelah Presiden SBY mampu mengontrol militer, proses perdamaian pun berjalan, dan pelanggaran HAM di Aceh turun drastis.

“Semua harus satu komando. Kon-trol tentara harus di bawah Presi-den. Kita lihat sejak zaman Habibie hingga Megawati, kontak senjata terus berlangsung di Aceh karena mereka tak mampu mengontrol militer,” kenang Otto. “Baru di era SBY, mulai mencoba mengontrol militer meskipun dengan susah payah sambil membangun komu-nikasi dengan elite politik yang berlawanan di Aceh. Jadi alurnya jelas. Nah, sekarang Jokowi mau apa dengan Papua?”.

Jika kelompok militer masih men-gangkat senjata, menurut Otto, itu menunjukkan bahwa rezim Jo-kowi belum mampu mengontrol sepenuhnya gerak-gerik mereka di Papua. Masalah kebijakan kemilit-eran atau pertahanan dan keaman-an terkait dengkeaman-an Polri di Papua juga belum jelas.

De-sekuritisasi dan pengurangan aparat militer di Papua jelas akan mengurangi kasus kekerasan dan pelanggaran HAM di Papua. Na-mun, seperti yang disampaikan Otto, hal ini membutuhkan peru-bahan politik dan kebijakan kea-manan di Papua secara mendasar. Selain menghilangkan faktor-fak-tor penyebab pelanggaran HAM, perubahan politik dan kebijakan keamanan di Papua harus diorien-tasikan pada upaya penyelesaian konflik Papua secara damai. Ini akan menjadi langkah radikal yang membutuhkan kemauan politik dan keberanian Presiden Jokowi.[]

(10)

laporan utama

Wajah Kekerasan “Pembangunan” di Papua

Indeks pembangunan manusia

Papua tak bergerak naik, semen-tara tingkat kemiskinan masih tinggi. Benarkah kebijakan dan praktik pembangunan di Papua tak pernah menyentuh hak-hak dasar penduduk asli Papua? Hampir satu setengah dekade Oto-nomi Khusus untuk Papua bergulir. Puluhan triliun rupiah sudah dige-lontorkan. Namun, rupanya pem-bangunan di Papua tidak berkontri-busi terhadap pemenuhan hak-hak dasar orang asli Papua. Mari kita mulai dari data-data indeks pem-bangunan manusia berikut. IPM dengan tiga variabelnya, yaitu pendidikan, kesehatan, dan daya beli masyarakat, setidaknya bisa memberi gambaran umum ten-tang pencapaian pembangunan di

Papua, utamanya dalam kerangka pemenuhan hak-hak ekonomi, so-sial, dan budaya. Berdasarkan data BPS, pada 2013 IPM Papua tercatat 66,25. Papua Barat relatif lebih baik, yaitu 70,62. Angka ini meray-ap naik dibanding 2009. Lima ta-hun lalu IPM Papua tercatat masih 64,53 dan Papua Barat 68,58. Namun dibanding provinsi lainnya di seluruh Indonesia, IPM kedua provinsi ini menempati urutan yang paling buncit dan masih di bawah rata-rata IPM nasional. Banding-kan, misalnya, dengan IPM Daer-ah Istimewa Yogyakarta (77,37) dan Sulawesi Utara (77,36). Kedua provinsi tersebut menempati uru-tan kedua dan ketiga, di bawah DKI Jakarta yang menempati urutan teratas. Sementara rata-rata IPM nasional tercatat 73,81.

Kendati begitu, data-data IPM di atas sesungguhnya belum be-nar-benar dapat menggambarkan realitas pembangunan manusia Papua yang sesungguhhnya. Apa pasal? Menurut Josie Susilo, kita harus harus berhati-hati dalam membaca IPM Papua. Jika mem-baca data-data IPM tersebut han-ya selintas saja, demikian ungkap Josie, kita akan kesulitan meng-etahui kondisi Papua secara leb-ih jelas. Meskipun data tersebut disajikan per kabupaten/kota, atau bahkan diderivasikan lagi per keca-matan.

“Tapi kalau kemudian data itu di-tempatkan pada masing-masing kabupaten/kota dalam peta Papua, maka kita akan dapat lebih jelas dalam melihat Papua,” ujar Josie. Penyelenggaraan pendidikan dasar di Papua belum beranjak dari kondisi darurat, terutama karena kekurangan guru dan buku pelajaran (Dok. Kemdikbud)

(11)

laporan utama

Dalam konteks nasional IPM Papua

memang paling rendah. Tapi kalau kita lihat dalam konteks keseluru-han Papua itu sendiri, lanjut Josie, IPM-nya beragam, yaitu antara 47 sampai 66. Daerah dengan IPM di atas 60 umumnya kabupaten/ kota yang berada di wilayah pesisir, seperti Jayapura, Nabire, Merauke, Sorong, Fakfak. “Sementara, kalau kita cermati, daerah yang berada di Pegunungan Tengah, rata-rata IPM-nya 50, bahkan kurang,” im-buh dia.

Tak hanya itu. Josie mengatakan gambaran mengenai data IPM Pap-ua ini akan menjadi lebih detail jika kita memasukkan variabel kom-posisi demografi. Sebab, dari sisi komposisi penduduk, kita akan melihat kondisi Papua yang ber-beda lagi. Di beberapa kabupat-en/kota yang berada di wilayah pesisir, dengan komposisi pen-duduk asli dan pendatang 50:50, rata-rata IPM-nya lebih tinggi. Jayapura, kota yang lebih ban-yak penduduk pendatang ketim-bang penduduk asli, mempunyai IPM paling tinggi. Sebaliknya, untuk kabupaten yang berada di wilayah pegunungan dengan komposisi penduduk lebih dari 90 persen orang asli Papua, ra-ta-rata IPM-nya 50. “Dari sini, kita bisa mulai melihat agak lebih rinci. Untuk wilayah yang berpenduduk 90 persen orang asli Papua, IPM-nya lebih rendah,” timpal Josie. Tak pelak lagi, fakta-fakta terse-but menggambarkan pencapaian pembangunan yang dijalankan dalam kerangka kebijakan oto-nomi khusus (Otsus) yang sudah berlangsung sejak 2002. Merujuk pada UU Otonomis Khusus No. 21 Tahun 2001, kebijakan Otsus sendiri mengamanatkan tiga hal: perlindungan, keberpihakan, dan pemberdayaan orang asli Papua.

Namun dari data IPM di atas tam-pak jelas bahwa ketiga amanat tersebut belum terwujud dengan dengan baik.

Masih menurut Josie, bukti di lapangan memang menunjukkan bahwa dengan menutup mata kita bisa menunjuk kampung apa saja yang ada di situ, rata-rata in-stitusi pelayanan publik di sana tidak berjalan dengan baik. “Seko-lah dan Puskesmas memang ada, tetapi guru dan dokternya tidak ada. Inilah yang menyebabkan IPM mereka rendah,” timpal Josie. Sebagai gambaran, mari kita ten-gok, misalnya, kondisi Kabupaten Deiyai di kawasan Pegunungan

Tengah. Rasio guru-murid sekolah dasar di wilayah ini lumayan ting-gi, yaitu 1:50,59. Artinya, satu guru harus menangani 50 orang murid. Di bidang kesehatan pun tak jauh beda. Daerah tingkat dua yang ber-penduduk 89.327 jiwa ini hanya memiliki 2 orang dokter, 22 bidan, dan 58 perawat. Dari segi sosial ekonomi, kabupaten ini memili-ki jumlah penduduk mismemili-kin paling tinggi, yaitu 45,92 persen. Angka ini jauh melebihi rata-rata tingkat kemiskinan di Provinsi Papua yang merupakan provinsi paling miskin

di Indonesia, 30,5 persen.

Kabupaten Deiyai tak sendirian. Di Kabupaten Yalimo rasio guru-murid mencapai 1:195. Sedangkan untuk tenaga kesehatan, wilayah kabu-paten yang berpenduduk 54, 911 ini hanya mempunyai 10 dokter, 8 bidan, dan 58 perawat. Kondisi yang kurang lebih serupa juga ter-jadi pada beberapa kabupaten lain di Papua, seperti Dogiyai, Membra-mo Tengah, Puncak dan Waropen. Semua daerah tingkat dua ini tak mempunyai tenaga kesehatan dan pendidikan dalam jumlah yang me-madai.

Lompatan-lompatan pembangu-nan yang tak membumi

Terhitung sejak proses integrasi pada 1963, setengah abad lebih sudah Papua bergabung dengan Indonesia. Selama itu juga pem-bangunan di Bumi Cenderawasih ini tak pernah menorehkan jejak yang berarti bagi penduduk asli Papua. Selama ini pembangunan di Papua hanya diterjemahkan dalam bentuk investasi dalam rangka pembangunan ekonomi yang meminggirkan orang asli Papua. Masalahnya klasik, me-mang. Akan tetapi, Bambang Shergi Laksono, Direktur Pap-ua Center Universitas Indonesia, tetap melihat isu ini sebagai kom-ponen pokok.

Dia mencontohkan program MP3EI. Program pembangunan yang diluncurkan Bappenas pada 2011 ini meletakkan Papua sebagai lumbung pangan nasional bah-kan internasional. Tapi kemudian dalam pelaksanaannya ini lebih diartikan sebagai pembukaan lah-an bagi investor produsen plah-anglah-an untuk memenuhi produsen global. Padahal, menurut Bambang, akan lebih baik bila bingkai itu dikaitkan Bambang Shergi Laksmono

(12)

laporan utama

Ironi Pasal Makar dan Pembungkaman Kebebasan Berekspresi

Sementara kekerasan demi kekerasan terus ter-jadi, pembungkaman terhadap ekspresi politik orang asli Papua tengah berlangsung. Hal ini terbukti dari adanya penangkapan para jurnalis, pembungkaman kebebasan pers, dan pelarangan terhadap wartawan asing untuk melakukan lipu-tan di Papua. Situasi ini masih diperparah dengan pelbagai kasus penangkapan sewenang-wenang dan penganiayaan yang dilakukan aparat terha-dap aktivis pro demokrasi dan pembela hak asasi manusia di Papua

Semua itu menggambarkan buruknya kehidupan demokrasi di Papua. Tidak adanya kebebasan berpendapat dan berkumpul, menurut Angky, merupakan potret pengabaian konstitusi dan an-caman bahaya bagi cita-cita kesejahteraan dan pembangunan untuk rakyat.

Josie Susilo, wartawan Kompas yang lama tinggal di Papua, juga mengakui adanya situasi mence-kam tersebut. Namun menurut dia, penangka-pan aktivis memang sudah berlangsung sejak lama.

“Tapi tidak selalu masif, hanya selalu ada. Mis-alnya, kalau ada yang melakukan unjuk rasa ser-ing ada penangkapan, tapi kemudian besoknya dilepas lagi. Itu mungkin yang disebut sebagai tekanan terhadap kebebasan berekspresi” ucap Josie.

Umumnya, para aktivis yang ditangkap aparat dijerat dengan pasal makar. Meski sudah jarang terjadi di Jayapura, Josie menengarai hal ini masih sering ter-jadi di banyak tempat lain di Papua. Menurut Josie, ini suatu fenomena yang tergolong aneh. “Di negara demokrasi kok masih ada pasal makar?!” ujar Josie. Sementara Angky melihat seringnya penggunaan pasal makar untuk meredam suara-suara kritis mer-upakan upaya untuk melemahkan aspirasi rakyat. Semestinya suara kritis yang mucul menjadi koreksi pemerintah untuk lebih baik dalam melayani kepent-ingan masyarakat, bukan mengadili dan memenjara-kan rakyat.

Oleh karena itu, praktik pembungkaman terhadap kebebasan berekspresi politik harus dihentikan. Hal ini bisa tercapai jika ada perubahan dan kemauan politik dari pemerintah untuk memenuhi hak mas-yarakat. Kebebasan berekspresi dan berpendapat bukan ancaman, begitu kata Angky, melainkan justru merupakan potensi bagi pembangunan dan pening-katan pelayanan masyarakat.

Pada titik ini, lanjut Angky, perlu menciptakan dan membuka ruang informasi yang bebas dan lebih ter-buka, mudah dikontrol oleh rakyat, dan memberi kebebasan bagi rakyat untuk menyuarakan hak-hak-nya.

Di samping penangkapan aktivis pro demokrasi,

dengan pangan lokal dan kedaula-tan pangan nasional. Terlebih jika mengingat selama ini Papua dike-nal daerah penghasil sagu sebagai simbol pangan lokal.

“Mengapa tidak ada institusi nasi-onal yang meletakkan sagu sebagai produk pangan lokal yang mempu-nyai kontribusi nasional? Semuan-ya kembali kepada kemauan poli-tik,” ujar Bambang.

Akan tetapi, lanjut Bambang, da-lam hal ini kita kalah dari negeri tetangga, Malaysia. Negeri Jiran itu sudah melakukan riset-riset

unggulan untuk menemukan al-ternatif karbohidrat yang rendah kalori. Mereka menemukan sagu dan mulai mengembangkannya di Riau. Sebaliknya, kini hutan Papua tengah beralih menjadi tanaman monokultur dengan penanaman sawit. Itu hal yang ironis mengin-gat Papua punya kapasitas produk-si dan bahan baku yang potenproduk-sial. “Saya pikir sangat bernilai kalau kita mengoptimalkan potensi sagu sebagai pangan lokal yang berkon-tribusi terhadap pangan nasional,” ungkap dia.

Bambang lalu bertutur tentang

Papua pada dekade 1950-60an ketika pemerintah Belanda masih ada di sana. Saa itu, pemerintah kolonial berencana membangun perkebunan cokelat terbesar. Be-landa kemudian memberikan rinti-san perkebunan karet dan cokelat. Sebagai orang Papua juga diberi bekal keterampilan agar dapat be-radaptasi dengan suatu organisasi perkebunan yang lebih modern. “Sekarang, mengapa potensi ini ti-dak dikembangkan?”

Namun, Bambang menenga-rai bahwa pemerintah seringkali melaksanakan praktik

(13)

pemban-laporan utama

pengebirian atas hak berekspresi juga bisa diindikasikan dengan masifnya ancaman dan teror yang dialami pekerja media. Tak hanya itu, kekerasan fisik juga kerap dialami war-tawan baik media dalam negeri maupun me-dia asing, yang melakukan peliputan di Papua. Kendati secara konstitusional kebebasan pers telah dijamin dengan UU pers Nomor 40 Tahun 1999 dan UUD pasal 28F yang berupa perlind-ungan negara pada warganya untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengo-lah, dan menyampaikan informasi, dengan menggunakan segala jenis saluran yang terse-dia. Namun sejak 1963 tindakan represif atas wartawan sudah mulai banyak terjadi di Pap-ua. AJI Jayapura mencatat, selama kurun wak-tu 2013 saja jumlah kasus kekerasan terhadap pekerja media sebanyak 20 kasus, meliputi ke-kerasan fisik, pelecehan, pelarangan liputan, penyerangan kantor, gugatan hukum, peram-pasan, pemidanaan, teror, dan ancaman. Sementara pada 2014, menurut catatan do-kumentasi ELSAM, ada sebanyak tiga kasus kekerasan jurnalis yang berhasil didokumen-tasikan. Pertama kekerasan polisi pada April-ia Wayar (Tabloidjubi.com) dan OctavApril-ianus Pogau (suarapapua.com), berupa intimidasi dan pemukulan saat meliput demonstrasi di Abepura, Papua. Kedua, penikaman Findi

Rak-meni, jurnalis Jaya TV oleh Satpol PP di Jayapura, Papua. Berikutnya pelarangan pengambilan gam-bar yang dilakukan jurnalis TV One untuk wilayah Jayapura, Jorsul Sattuan.

Tak hanya kekerasan pada wartawan lokal, pada Agustus silam, publik pun dikejutkan dengan pen-angkapan dua jurnalis asing asal Perancis, Thomas Dandois (40) dan Valentine Borrat (29). Dandois ditangkap di Hotel Mas Budi, Wamena, Kabupat-en Jayawijaya Papua. Ia merupakan jurnalis yang malang melintang mewartakan isu-isu HAM di daerah konflik seperti Somalia, Darfur, Chechnya, dan Burma. Sedang Borrat ditangkap kala melaku-kan peliputan kegiatan Tentara Pembebasan Nasi-onal Papua Barat/ Organisasi Papua Merdeka (TPN-PB/OPM) di wilayah Pirime, Lanny Jaya, Papua. Dua wartawan tersebut ditangkap lantaran meng-gunakan visa turis saat meliput di Papua. Menurut Stanley, anggota Dewan Pers, Papua sejak Orde Baru memang sengaja ditutup rapat supaya publik tak bisa mengatahui kejadian-kejadian di tempat tersebut. Akses masuk wartawan Indonesia dibata-si, pun wartawan asing yang hendak mengajukan permohonan visa secara resmi untuk masuk ke Papua sudah barang tentu ditolak. Tak ayal, mereka yang nekat, biasanya akan menggunakan visa turis untuk reportase di Papua.

gunan yang sesungguhnya tidak dimengerti oleh masyarakat. Dia mencontohkan pertambangan be-sar dan perkebunan sawit di Pap-ua. Padahal, ketika zaman Belanda, Papua sudah diarahkan untuk mau mengolah potensi yang ada. “Jadi, dalam melihat Papua saat ini, ma-salah yang muncul adalah adanya lompatan-lompatan pembangu-nan yang tidak didasarkan pada suatu kapasitas lokal yang sifatnya historis.”

Pembangunan minus pember-dayaan

Tahun 2011, melalui PP No. 66 Ta-hun 2011 pemerintah membentuk Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) un-tuk menggenjot pembangunan di Papua. Dengan kendali langsung di bawah presiden, pembangunan yang diinisiasi oleh UP4B berorien-tasi pada peningkatan kesejahter-aan melalui penyelenggarkesejahter-aan program ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan kebijakan afirmatif untuk orang asli Papua.

Namun sayangnya, sejumlah pihak mencermati UP4B tidak berjalan maksimal. Menurut Cahyo

Pa-mungkas, peneliti LIPI, penyebab-nya antara lain karena pemerintah kurang serius, sehingga dana yang dialokasikan untuk Papua yang dib-utuhkan UP4B, tidak termanfaat-kan dengan baik. Selain itu, UP4B sendiri tidak memiliki pendekatan yang komunikatif dengan orang asli Papua. Mereka membuat rencana pembangunan tanpa melibatkan orang asli Papua secara memadai. Dan yang lebih parah lagi, menurut Cahyo, tidak ada pemberdayaan ekonomi bagi orang asli Papua. Sementara itu, UP4B menggenjot pembangunan infrastruktur untuk

(14)

membuka keterisolasian Papua. Misalnya, membangun jalan tanah dari sungai-sungai di selatan Papua ke wilayah Pegunungan Tengah, dan pembangunan jalan dari timur ke utara dan dari barat ke selatan. “Tetapi pembangunan jalan ini melibatkan tentara. Ini yang men-jadi kritikan,” ungkap Cahyo. Dalam perspektif aktivis Papua, keterlibatan tentara dalam UP4B merupakan satu hal yang men-yakiti perasaan orang Papua. Se-lama ini, tentara menjadi simbol represif negara dan mereka tidak pernah mau melakukan dialog. Alhasil, jalan pun dibangun tanpa mempedulikan kepemilikan tanah-tanah ulayat yang mereka lalui. Akibatnya, pembangunan infras-truktur fisik di Papua berdampak pada peminggiran orang asli Pap-ua.

Meski begitu, Cahyo mengakui, terdapat beberapa program UP4B

layak diapresiasi. Sebagai contoh, program pendidikan UP4B berhasil menyekolahkan anak-anak Papua yang lulus SMA untuk kuliah di PTN di luar Papua, memberikan bea-siswa bagi anak-anak SMA yang tidak mampu, dan pemberian kuo-ta khusus untuk anak Papua di Ke-polisian, AKABRI, dan pilot. Namun semua program ini tidak maksimal karena tidak ada dana.

Terusir di tanah sendiri

Sementara itu, di tengah centang perenangnya kondisi Papua, wa-cana pemekaran terus bergulir. Saat ini, Pemerintah melalui Ke-menterian Dalam Negeri tengah mengkaji rencana pemekaran dua provinsi baru di tanah Papua, di-antaranya adalah pembentukan Provinsi Papua Tengah. Tjahjo Kumolo, Menteri Dalam Negeri, mengatakan, pemekaran di Papua tetap diperlukan untuk mening-katkan pemerataan kesejahteraan.

Terlebih, lanjut Tjahjo, daerah Pap-ua masih sangat lPap-uas.

Tak hanya itu, pemerintah baru juga berupaya untuk menginten-sifkan kembali program transmi-grasi di Papua. Program yang dii-nisiasi oleh Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi ini terkait dengan pembangunan kawasan perbatasan. Pemerintah menilai, program transmigrasi yang dilak-sanakan di Provinsi Papua selama ini telah mampu memberikan kon-tribusi bagi pembangunan daerah. Sebagai contoh, beberapa kawasan transmigrasi beberapa kawasan transmigrasi telah berkembang menjadi pusat pemerintahan, per-dagangan maupun ekonomi, sep-erti Arso, Jagebob.

Di atas kertas, kedua rencana pro-gram tersebut tampak indah dan membawa berkah bagi Papua. Akan tetapi, pengalaman menun-jukkan sebaliknya. Dalam

pelak-laporan utama

Pembangunan di Papua selama ini belum menyentuh pemberdayaan ekonomi untuk orang asli Papua (Dok. Etnohistori)

(15)

sanaannya transmigrasi akan mengambil tanah ulayat dan mem-inggirkan orang Papua. Ke depan, orang Papua akan semakin teran-cam dengan adanya transmigrasi. Mengenai kebijakan pemekaran baru, menurut Cahyo Pamungkas, hal tersebut justru bakal memecah belah kesatuan adat orang Papua. Berdasarkan UU Otsus, rencana pemekaran seharusnya melalui proses konsultasi dengan Majelis Rakyat Papua (MRP) dan Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) dengan memperhatikan kesatuan sosial budaya, kesiapan sumber daya manusia dan kemampuan ekonomi, dan perkembangan di masa mendatang. Tetapi

Kemend-agri malah mengambil keputu-san sepihak dan memaksakannya dari atas tanpa persejutuan dari rakyat Papua melalui wakil-wakil-nya di MRPR dan DPRP. Hal yang sama pernah terjadi di era Presi-den Megawati melalui Inpres No. 1 Tahun 2003 untuk pemekaran Provinsi Papua Barat.

“Itulah mengapa orang Papua ti-dak menyukai kedua rencana pe-merintah tersebut,” ungkap Ca-hyo. “Kalau melihat semua itu, kita jadi pesimis. Jokowi yang awalnya dipercaya dan mendapat dukun-gan orang Papua, tetapi sekarang menteri-menterinya seperti tidak searah dengan pemikiran pemimp-in,” ungkapnya.

Alih-alih bakal meningkatkan kesejahteraan dan pemerataan, pemekaran provinsi baru justru dinilai akan menghambat efektivi-tas pembangunan di Papua. Oleh karena itu, menurut Bambang, sebaiknya Papua tidak dipecah. Yang harus mendapat perhatian dan dikembangkan justru kapasi-tas mereka dalam melaksanakan pembangunan. Sedangkan dengan adanya pemekaran, energi mereka akan habis untuk melakukan kon-solidasi politik. Dan hal ini, lanjut dia, akan terus menyita waktu pe-merintah daerah ketimbang ber-pikir dan bekerja melaksanakan agenda-agenda yang lebih konkrit dirasakan manfaatnya oleh rakyat Papua.[]

Ketika Kekerasan Negara Menular ke Masyarakat

Kekerasan horizontal di antara sesama masyarakat memang bukan hal baru di Indonesia. Fenomena ini mengemuka menjelang keruntuhan rezim Orde Baru hingga masa-masa awal reformasi di banyak penjuru tanah air. Hanya saja, ketika di daerah lain menunjukkan gejala penurunan, siklus kekerasan horizontal di Papua masih terus berlangsung hing-ga kini. Jumlah kasusnya bahkan menempati uru-tan paling tinggi melebihi ragam bentuk kasus ke-kerasan lainnya yang terjadi di Papua.

Selama tahun 2014, ELSAM mencatat sedikitnya terjadi 25 kasus kekerasan horisontal. Diband-ing tahun sebelumnya, jumlah kasusnya memang cenderung mengalami penurunan. Tahun 2013 tercatat ada 40 kasus dan tahun 2012 terjadi 55 kasus. Namun dari sisi korban, jumlahnya fluktua-tif. Tahun 2014, dari penduduk sipil jumlah korban tewas mencapai 35 jiwa dan 323 orang mengala-mi luka-luka, ditambah korban dari polisi 1 orang tewas dan 5 luka-luka, serta anggota TNI 1 orang luka-luka. Pada tahun 2013, kekerasan horizontal di Papua memakan korban 55 orang warga sipil te-was dan 286 orang luka-luka serta 7 orang polisi luka-luka. Sedangkan pada 2012, tercatat 22 orang warga sipil tewas dan 87 orang luka-luka serta 1 orang TNI/Polri tewas dan 5 orang luka-luka.

Bahkan jika merunut ke belakang, kekerasan hori-zontal di Papua memakan korban yang lebih ban-yak lagi. Sejarah mencatat, tahun 2011 melahirkan tragedi paling tragis dalam sejarah kekerasan di Papua. Dalam sebuah kasus bentrok massa yang dikenal sebagai insiden Ilaga, jumlah warga sipil yang tewas mencapai 300 dan 900 lainnya luka-lu-ka. Jumlah ini berdasarkan hitungan korban yang mendapat santunan uang negara hingga mencapai total Rp17 milyar.

Demikianlah, kekerasan horisontal di Papua tam-pak tiada henti-hentinya, beralih dari satu wilayah ke wilayah lain. Dalam tiga tahun terakhir, momen-tum peristiwa kekerasannya selalu berkaitan den-gan tiga isu berikut: pemekaran, Pilkada, dan Pileg. Momen pemilihan kepala daerah di Papua menjadi ajang kekerasan horisontal yang paling banyak me-nelan korban.

Situasi ini tentu saja menambah penderitaan orang Papua. Oleh karena itu, tak heran jika kemudian Gubernur Papua, Lukas Enembe, pada tahun 2013 silam pernah mengeluh ketika menghadap Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso, di Senayan. Ini pemilihan kepala daerah di Papua menjadi ajang kekerasan komunal paling banyak menelan korban jiwa. Bahkan korban tewas dalam pilkada, lebih

(16)

banyak ketimbang aksi separatis. Kenyataan korban ke-kerasan keke-kerasan, baik yang tewas maupun luka-luka, tiga tahun terakhir paling menonjol dibanding dengan korban-korban konflik lainnya.

Dari sisi ruang geografis, kekerasan horizontal ini menye-bar di enam wilayah kabupaten/kota: Kabupaten Mim-ika, Kota Jayapura, Kabupaten Merauke, Kota Sorong, Kabupaten Keerom, dan Kabupaten Jayawijaya. Ber-dasarkan intensitas dan jumlah korban kasus kekerasan, Kabupaten Mimika merupakan wilayah yang paling sering terjadi bentrokan massa dengan jumlah korban mencapai 60 persen. Semua ini belum termasuk keru-gian harta benda yang dimiliki penduduk. (Lihat tabel) Sayangnya, dihadapkan pada situasi ini, pemerintah ti-dak ada inisiatif untuk menyelesaikan akar persoalan yang memicu kekerasan horizontal di tanah Papua. Se-baliknya, pemerintah justru terkesan menutup mata terhadap situasi ini, alih-alih ada upaya untuk menyele-saikannya.

Menurut Pastor Anselmus Amo, Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Agung Merauke (SKP KAME), perlu ada strategi untuk mem-blow up isu ini melalui media tidak hanya di level nasional tapi juga di level internasional. Saat ini memang banyak media arus utama yang meliput Papua tidak selalu memberitakan secara tulus. Namun, lanjut Amo, pada titik ini perlu mempertimbangkan untuk mengoptimalkan peran me-dia alternatif.

Namun, benarkah merebaknya kekerasan horisontal di Papua dalam 3-4 tahun terakhir semata-mata terkait dengan kebijakan pemekaran atau ajang momentum politik seperti Pilkada atau Pileg?

Amo menuturkan, sejatinya kekerasan horizontal di Pap-ua tak bisa dilepaskan dari cara bagaimana pemerintah Indonesia memperlakukan Papua. Strategi pemerintah dalam menangani persoalan Papua masih menggunakan paradigma dan cara-cara lama, yaitu melalui pendekat-an ypendekat-ang represif-militeristik. Dengpendekat-an cara ini, represen-tasi menonjol negara dan pemerintah pusat di Papua adalah kehadiran tentara dan polisi. Alhasil, kekerasan fisik dan kekerasan psikis, berupa tekanan (intimidasi), kerap dialami oleh orang asli Papua.

Jelas, kata Amo, hal ini memicu situasi yang tidak nya-man bagi orang asli Papua. “Dengan adanya tekanan dari aparat dan militer, bagaimana mereka bisa merasa nyaman ketika berhadapan dengan investor atau pe-merintah,” begitu kata Amo.

Situasi yang mengkondisikan orang asli Papua selalu berada dalam tekanan ini diperparah dengan adan-ya perebutan penguasaan lahan. Hal ini terjadi kare-na adanya kebijakan pemekaran wilayah dan pen-gambilalihan ratusan ribu hektar tanah-tanah milik komunitas adat orang asli Papua oleh korporasi yang membuka hutan Papua untuk perkebunan atau per-tambangan.

Dalam praktiknya, baik kebijakan pemekaran dan perampasan tanah adat atau pembukaan hutan ini memang mengabaikan batas-batas lahan yang di-miliki komunitas adat. Selain itu juga, terjadi pemi-skinan massal orang asli Papua seiring dengan ket-ercerabutan mereka dari tanahnya. Dengan latar situasi ini lah, menurut Amo, masyarakat asli Papua menjadi mudah tersulut provokasi yang kemudian melahirkan kekerasan.

Pemicu lainnya muncul dari praktik kese-wenang-wenangan yang selama ini diperagakan oleh aparat keamanan dan militer di Papua terhadap orang asli Papua. Teror, intimidasi, penganiayaan, penangkapan, penembakan oleh aparat kerap di-alami oleh orang Papua. Aspirasi politik orang Pap-ua juga tidak tersalurkan karena adanya pembung-kaman kebebasan berekspresi, khususnya ekspresi politik. Berbagai bentuk kekerasan yang dilakukan aktor-aktor negara ini pada gilirannya direproduksi di tingkat komunitas. Kekerasan horizontal pun tak terelakkan. Pada titik inilah kekerasan negara menu-lar ke masyarakat.

Cahyo Pamungkas, peneliti LIPI, mengatakan, adan-ya kekerasan horizontal memang menunjukkan adanya ketidakpuasan orang Papua terhadap kebi-jakan-kebijakan Pemerintah di Tanah Papua. Misaln-ya, pembatasan atas kebebasan berekspresi, masih banyaknya tahanan dan narapidana yang didakwa dengan tuduhan pelanggaran politik. Secara umum dapat dibaca bahwa konflik Papua belum berhasil diselesaikan oleh Pemerintah.

Padahal dari kacamata politik, lanjut Cahyo, banyak-nya kekerasan di Papua menunjukkan bahwa ada akar persoalan yang belum diselesaikan oleh Pemer-intah Pusat, yang tidak hanya mencakup pembangu-nan sosial dan ekonomi tetapi juga mengenai per-soalan politik, seperti identitas politik, status politik dan pelurusan sejarah Papua, serta pelanggaran HAM pada masa lalu. []

(17)
(18)
(19)

opini

Revolusi mental! Itulah semboy-an Jokowi ysemboy-ang berhasil merasuki gerakan kebangkitan baru dalam masyarakat Indonesia. Tampilnya Jokowi ke pucuk pemerintahan negeri ini tak bisa dipisahkan dari gerah dan jenuhnya masyarakat terhadap jurus pencitraan dan mental punggawa yang diwariskan rezim-rezimpemerintah sebelumn-ya.

Pertanyaan kita kemudian adalah apakah Jokowi mampu memimpin revolusi mental itu untuk Papua? Pertanyaan ini sebenarnya adalah sebuah pertanyaan jebakan. Men-gapa? Pertanyaan ini mengasum-sikan bahwa perubahan otomatis-terjadi manakala pucuk pimpinan berganti. Dengan kata lain revolusi mental diandaikan bisa terjadi be-gitu saja seiring dengan perubahan kepemimpinan. Asumsi ini tidak sepenuhnya salah dan memangse-bagian berakar dari fakta sejarah dimana pemimpin yang visioner ternyata mampu mengubah jalann-ya sejarah dan lekat dalam ingatan banyak orang. Namun demikian, pada realitasnyaada banyak unsur lain yang juga berpengaruh dan bahkan menentukan keberhasilan suatu perubahan struktural selain faktor pemimpin. Sebagai contoh, Reformasi Mei 1998 tidak serta merta terjadi lantaran kantor PDIP diserang pada 27 Juli 1996 atau

belasan aktivis mahasiswa diculik oleh Kopassus.Reformasi dapat terwujud karena konsolidasi gera-kan perlawanan rakyat yang telah digalang selama puluhan tahun se-belum reformasi. Demikian halnya, mesin genosida Nazi yang canggih tidak dibangun oleh Kapten Adolf Hitler seorang diri, melainkan oleh pertautan yang solid antara bangk-itnya nasionalisme Jerman, keban-gkitan tentara Nazi, pengerahan sumber daya yang dimiliki negara, dan dukungan publikyang menguat sejak Jerman menjadi pecundang dalam Perang Dunia I.

Menelaah Revolusi Mental di Papua

Revolusi mental atau perubahan struktural manapun tidak terjadi semata-mata karena pemimpin-berganti, melainkan terlebih kare-na seluruh unsur yang memba-ngun dan merawat jejaring tata kelola (governmentality) yang rumit dan amat dinamis berubah total. Menurut filsuf Prancis Mi-chel Foucault, kekuasaan bukanlah semacam cairan atau energi yang bisa diserap dan dimonopoli oleh seseorang atau sekelompok orang. Kekuasaanadalah jejaring raksasa yang secara impersonal menjebak setiap orang sehingga terperang-kap di dalamnya secara permanen. Secara amat kenyal governmen-tality ini beradaptasi dengan

kon-figurasi dan dinamika aktorserta-hubungan-hubungan antar aktor, rasionalitas, dan struktur tindakan yang mendasarinya.

Foucault mengidentifikasitiga un-sur yang membentuk jejaring tata kelola tersebut. Pertama adalah pertautan yang solid dan dinamis antara lembaga, prosedur, dan strategi untuk menerapkan je-jaring tata kelola itu guna mengon-trol suatu masyarakat. Kedua ada-lah kecenderungan jejaring tata kelola tersebut untuk memproduk-si perangkat dan pengetahuan tata kelola tertentu. Ketiga adalah pros-es transformasi dari negara feo-dalistik Abad Pertengahan kepada negara administratif dan akhirnya negara yang mencengkeram war-ganya secara efektif dengan jar-ing-jaring halus (misalnya melalui sistem perpajakan), bukan dengan cara-cara kasar apalagi dengan ke-kerasan fisik (Foucault 2003: 244). Dengan kacamata Foucauldian ini kita akan coba menelaah per-tanyaan revolusi mental di atas yang kembali mencuat di peng-hujung tahun 2014 ketika terja-di pembunuhan kilat atas empat orang siswa SMU di Enarotali, Papua, oleh aparat TNI dan Polri, 8 Desember 2014 yang lalu. Hing-ga Presiden Joko Widodo berkun-jung ke Jayapura pada 27 Desem-ber 2014, pemerintah tak kunjung

Efek Jokowi untuk Perubahan Papua?

(20)

opini

mengambil tindakan tegas terkait

perkara tersebut. Hal ini tentu menuai kritik tajam dari berbagai kalangan.

Mari kita simak pola tata kelola Papua. Selama lebih dari lima da-sawarsa, tata kelola Papua bersifat tumpang tindih dan kerapkali ber-tentanganmeski dapat digolong-kan dalam dua pendekatan be-sar:pendekatan militeristik yang dicampur dengan pendekatan developmentalistik. Pendekatan milisteristik beranggapan bahwa Papua adalah wilayah dengan ger-akan bersenjata sehingga aparat militer merupakan garda terdepan dalam mengelola pembangunan di Papua. Pada masa Orde Baru, ke-bijakan militeristik terjadi secara jauh lebih terang-terangan seh-ingga lebih mudah diukur dampa-knya.Sejak Reformasi tidak pernah didefinisikan secara jelas seberapa jauh TNI mengambil peran dalam mengelola Papua, seberapa jauh Polri mengambil peran serupa, dan seberapa jauh Gubernur dan Presiden menentukan batas-batas penerapan pendekatan militer-istik tersebut meski UU 21/2001 tentang Otonomi Khusus secara eksplisit mengatur peran Guber-nur Papua dalam soal ini. Mas-ing-masing secara leluasa mendi-rikan lembaga-lembaga kontrol baru, prosedur-prosedur khusus dan berbagai macam strategi yang tumpang tindih yang pada giliran-nya mengorbankan penduduk asli Papua.

Misalnya saja dalam kasus Paniai, Humas Polda Papua tetap memakai istilah Kelompok Sipil Bersenjata saat menjelaskan insiden pem-bunuhan itu,padahal jelas-jelas keempat korban berstatus sebagai siswa sekolah menengah. Penyang-kalan sedemikian terang-terangan tidak hanya melukai hati keluarga

korban tetapi juga membuktikan bahwa sifat mengontrol dari aparat jauh lebih kuat daripada sikap me-negakkan hukum secara profesion-al.

Kekerasan militer serupa terus-me-nerus dicatat olehberbagai lemba-ga-lembaga hak asasi manusia di dalam maupun di luar Papua se-bagai bentuk pelanggaran HAM yang tergolong dalam kejaha-tan terhadap kemanusiaan yang dibentengi oleh tembok impunitas (kebal salah dan kebal hukum). Misalnya berkas Kasus Wasior 2001 dan Wamena 2003 tetap men-gendap di Kejaksaan Agung hingga detik ini. Oleh karena itu, ketika terjadi pembunuhan atas lima war-ga masyarakat Paniai, orang Pap-ua tidak terlalu kaget bahwa hal semacam ini dianggap sepele saja dan tidak ada reaksi baik dari pe-merintah (pusat dan daerah) mau-pun publik secara nasional. Semua pihak tampak tenang-tenang saja. Pendekatan developmentalistik tersirat dalam berbagai stigma yang dilekatkan pada wilayah Pap-ua dan penduduk asli PapPap-ua. Isti-lah ‘putra daerah’ maupun ‘daerah tertinggal atau terbelakang’ mer-upakan sebuah asosiasi dan stigma yang negatif. Pendekatan develop-mentalistik telah melahirkan ma-cam-macam kebijakan mutakhir seperti Crash Program dan Oto-nomi Khusus pada masa pemer-intahan Presiden Megawati, New Deal dan Unit Percepatan Pem-bangunan Papua dan Papua Barat (UP4B)pada masa kepemimpinan Presiden SBY, juga pemekaran wilayah kabupaten, distrik dan desa sejak era Presiden Megawati hingga Presiden SBY. Mengingat si-fat dasar tata kelola Indonesia yang bercorak patron-klien, pendekatan ini melanggengkan ketergantungan bawahan terhadap atasan,

daer-ah terhadap pusat, yang berekses menjamurnya korupsi di berbagai tingkat. Sejumlah bupati dari Pap-ua sudah dijatuhi vonis dalam ka-sus korupsi,sementara sejumlah pejabat lain, termasuk mantan Gu-bernur Barnabas Suebu, telah be-rada dalam tahanan KPK. Namun demikian, perlu dicatat bahwa korupsidi Papua bukanlah barang baru yang muncul baru-baru saja melainkan sudah jauh sebelum-nya ketika pemerintah Soekarno mendirikan ibukota Irian Barat di Soa-Siu, Pulau Tidore. Kesaksian Herlina, si Pending Emas, dalam memoarnya, misalnya, merupakan kesaksian nyaring atas bobroknya tata kelola pemerintah kita sejak zaman Trikora tahun 1960-an. Kedua pola pendekatan utama tersebut pada akhirnya menempat-kan Papua sebagai “perke-cualian”. Inilah yang dimaksudkan Foucault sebagai ke-cenderungan jaring-jaring tata kelola yang memproduksi pengeta-huan tertentu. Selain berbagai stig-ma di atas, telah menjadi rahasia umum bahwa Papua tetap dicitra-kan sebagai wilayah primitif yang didera oleh ‘perang suku’. Citra ini kemudian direproduksi secara mas-sal oleh media. Dengan kata lain, Papua diproduksi sebagai ‘sebuah perkecualian’. Akibatnya khalayak ramai mempercayai stigma terse-but sebagai sebuah kebenaran fak-tual dan menganggap wajar jika di wilayah yang “terbelakang”seperti Papua diperlukan tindakan di luar aturan yang normal seperti yang berlaku di provinsi lain di Indone-sia. Perkecualian dijadikan dalih oleh otoritas negara untuk menge-luarkan berbagai kebijakan yang akhirnya saling tumpang tindih dan bertentangan satu sama lain. Ketiga, tata kelola pemerintah kita ternyata belum beranjak dari tata

(21)

opini

kelola feodalistik yang bermental punggawa. Selama lebih dari lima dasawarsa, gaya pemerintahan itu belum banyak berubah ke arah yang lebih berpijak pada kepastian hukum serta jaminan kebebasan fundamental berbasis hak asasi manusia. Peristiwa Paniai menjadi indikator terbaru dari cara bertin-dak pemerintah kita yang bera-kar pada pola dominasi daripada rekonsiliasi. Pola rekonsiliasi ini pernah dimulai oleh Alm. Presi-den Abdurrahman Wahid Presi-dengan mengembalikan nama ‘Papua’ se-bagai identitas asli orang Papua. Pendekatan ini saya sebut pendeka-tan rekonsiliasi karena tidak meng-gurui orang Papua sebagai kelom-pok ‘terbelakang’ sehingga harus ‘dibangun’ sebagaimana asumsi dasar pendekatan developmentalis atau harus ‘dikontrol’ karena dinilai sebagai ‘pemberontak’ sebagaima-na diklaim oleh ideologi militeris-tik. Gus Dur tidak menilai Papua sebagai wilayah terbelakang atau mengancam tetapi menjadikan Papua sebagai entitas masyarakat yang dipulihkan harga dirinya. Dalam pemulihan nama tersebut terjadi juga pemulihan relasi yang renggang antara pemerintah dan orang Papua. Relasi timpang dan saling mencederai coba diperbaha-rui menjadi relasi yang lebih setara dan saling menghormati.

Dengan warisan jejaring tata kelo-la yang dengan karakter seperti diuraikan di atas, kiranya siapap-un presiden yang memimpin akan berhadapan dengan jejaring tata kelola Papua yang sudah dirajut dengan kukuh. Jejaring ini dibentuk

oleh rezim politik sebelumnya jauh hari sebelum Jokowi naik tahta. Menuju Tata Kelola Baru?

Dengan kenyataan di atas, apa efek yang ditimbulkan Jokowi pada peru-bahan Papua? Jika Jokowi memang bertekad untuk bertindak dan ti-dak hanya memesona publik den-gan politik pencitraan seperti yang dilakukan SBY, dia ditantang untuk mampu mengoyak governmentali-ty yang telah membelenggu Papua sekian lama. Hal ini dapat dilaku-kan dengan sekurang-kurangnya tiga langkah. Pertama,pendekatan militeristik dan developmentalistik perlu diaudit. Karenanya semua biaya dan efektivitas operasi kea-manan yang dilakukan oleh berb-agai dinas intelijen, TNI dan Polri harus diperiksa oleh lembaga-lem-baga yang berwenang seperti KPK dan hasilnya diumumkan secara terbuka kepada publik. Begitu juga dengan semua program pemba-ngunan, khususnya Otsus, New Deal, UP4B, perlu dievaluasi secara menyeluruh dan hasilnya dipapar-kan kepada publik nasional. Kebija-kan baru (seperti RUU Otsus Plus) haruslah mendasarkan diri pada hasil audit tersebut dan melibat-kan konsultasi luas dengan orang asli Papua, bukan semata hasil ra-pat tertutup sekelompok birokrat dan politisi.

Kedua,stigma Papua sebagai perke-cualian harus dihapuskan dengan memberlakukan Papua sebagai provinsi biasa dan normal. Melalui media, pemerintah perlu mengem-bangkan sikap merangkul, inklu-sif dan rekonsiliatoris terhadap

orang Papua. Tawaran dialog per-lu segera disambut dengan lang-kah-langkah konkret, dibarengi dengan penegakkan hukum dan penanganan berkas-berkas kasus pelanggaran HAM berat yang su-dah mengendap bertahun-tahun di Kejaksaan Agung. Dengan de-mikian, kita semua akan melihat bahwa impunitas tidak bisa diteri-ma diditeri-manapun dan kapanpun. Akhirnya, pemerintah perlu men-dorong transformasi dari sistem fe-odal dimana pemerintah terpusat pada pejabat ke tata kelola yang berpusat pada kepentingan rakyat dengan pendekatan persuasif dan rekonsiliasi. Jokowi telah memili-ki modal dasar yang kuat,antara lain melalui pendekatan blusukan, perolehan suara signifikan dalam pilpres, maupun keberaniannya mendengarkan aspirasi rakyat. Modal ini perlu dikembangkan dengan sikap rekonsiliasi yang se-cara proaktif memulihkan kere-takan hubungan antara Papua dan Jakarta. Modal yang sama perlu di-jadikan landasan untuk mengger-akkan mesin birokrasi dan pejabat Papua untuk berpaling pada rakyat Papua dan berani blusukan ke kam-pung-kampung, gunung-gunung, rawa-rawa Papua, bukan sekadar plesiran ke Jakarta.[]

*) Penulis adalah Peneliti Abdurrahman Wahid Centre for Interfaith and Peace Universitas Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

Adapun dalam bidang muamalah, yang menjadi dasar adalah memberikan kemashlahatan dan mamfaat bagi manusia karena ma- nusialah yang lebih mengetahui kemashlahatannya.. Bila dalam

Sektor limbah menyumbang sekitar 11% emisi gas rumah kaca (GRK) yang merupakan sumber emisi GRK keempat terbesar di Indonesia. Indonesia telah berjanji untuk menurunkan

Berdasarkan hal tersebut di atas dapat disimpulkan analisis data merupakan proses mencari dan menyusun data yang diperoleh dari hasil teknik pengumpulan data yaitu dari

Kesimpulan dari hasil penelitian dari 5 variabel yang diteliti memiliki hubungan antara usia, pendidikan, paritas, penyakit keturunan, pekerjaan dengan kejadian pre eklamsi

Jadi persepsi Kiai Muhammad Ulin Nuha Al-Hafidz tentang isu- isu gender dalam Kitab ‘Uqudullujain menunjukan beliau belum mempunyai sensitifitas gender, karena masih

Untuk mencegah terjadinya blighted ovum, maka dapat dilakukan beberapa tindakan pencegahan seperti pemeriksaan TORCH, imunisasi rubella pada wanita yang hendak hamil,

Adapun beberapa perubahan yakni tarif yang awalnya pada PP No.46 Tahun sebesar 1% berubah menjadi 0.5% dan Batasan waktu dalam penggunaan fasilitas pajak UMKM

Herpes zoster adalah radang kulit akut dan setempat, terutama terjadi pada orang tua yang khas ditandai adanya nyeri radikuler unilateral serta timbulnya lesi vesikuler