• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia memiliki wilayah yang luas dengan banyak pulau yang terletak pada pertemuan Lempeng Eurasia di bagian utara, Lempeng Indo-Australia di bagian selatan, Lempeng Filipina dan Samudra Pasifik di bagian timur serta terletak di antara rangkaian pegunungan Sirkum Mediteran dan Sirkum Pasifik, menyebabkan Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kerawanan bencana alam yang tinggi. Karena letak Negara Indonesia yang berada pada jalur gempa bumi dan gunung berapi, yang menyebabkan banyak terjadinya bencana, salah satunya adalah bencana erupsi gunungapi.

Keberadaan gunung berapi membawa dampak positif berupa tanah yang subur disekitarnya, sehingga banyak penduduk yang bermukim dan bekerja di sekitar lereng gunung berapi tersebut terutama di bidang pertanian. Namun dibalik itu semua, terdapat bahaya yang dapat mengancam keselamatan jiwa, dan kerusakan lingkungan apabila terjadi bencana gunung meletus. Peristiwa bencana alam merupakan kejadian yang sulit dihindari dan diperkirakan secara tepat. Dampak bencana dapat berupa korban jiwa, harta benda, kerusakan infrastruktur, lingkungan sosial, dan gangguan terhadap tata kehidupan dan penghidupan masyarakat yang telah mapan sebelumnya.

Gunungapi Merapi merupakan satu diantara 129 gunungapi aktif di Indonesia. Gunungapi Merapi adalah gunungapi teraktif di Indonesia bahkan di dunia dengan siklus erupsi 4 hingga 6 tahun sekali (Surono, 2012). Gunungapi Merapi ini memiliki ketinggian 2.968 mdpl (9.737 kaki) dan terletak pada koordinat 7°32’30” LS dan 110°26’30” BT. Berdasarkan letak administrasi, lereng sisi selatan berada dalam administrasi Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan sisanya berada dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah yaitu Kabupaten Magelang di sisi barat, Kabupaten Boyolali di timur dan utara serta Kabupaten Klaten pada sisi tenggara. Gunungapi Merapi merupakan gunungapi bertipe khusus, karena memiliki karakteristik yang berbeda dengan gunungapi pada umumnya, yakni strato (Sutikno dkk, 2007). Berdasarkan morfologinya Gunungapi Merapi dapat dikelompokkan

(2)

2 menjadi 5 bentuklahan yaitu kerucut gunungapi (volcanic cone), lereng gunungapi (volcanic slope), kaki gunungapi (volcanic foot), dataran kaki gunungapi (volcanic foot plain), dan dataran aluvial gunungapi (fluvio vulcanic plain).

Salah satu bencana akibat gunungapi di Indonesia yang mengejutkan berbagai pihak dan menjadi perhatian nasional adalah Erupsi Gunungapi Merapi pada tahun 2010. Erupsi Gunungapi Merapi pada tahun 2010 tersebut merupakan erupsi terbesar yang terjadi di Gunungapi tersebut dalam jangka waktu 100 tahun terakhir (Jousset dkk, 2013).

Sejak meletus pada tanggal 26 Oktober 2010, menurut data Pusat Pengendalian dan Operasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana jumlah korban tewas akibat letusan Gunungapi Merapi pada tahun 2010 berjumlah 388 orang. Aliran awan panas yang dimuntahkan lava atau material Merapi pada hari Jumat malam 5 November 2010 dengan kecepatan mencapai 100 km per jam, dan panas mencapai kisaran 450-600 derajat celsius, membakar pepohonan dan rumah-rumah sehingga dilakukan evakuasi penduduk secara besar-besaran.

Tabel 1.1 Jumlah Korban Letusan Gunung Merapi dan Banjir Lahar Dingin dalam Kurun Waktu 100 Tahun Terakhir

No Tahun Awan panas Lahan dingin

1 1902-1904 16 - 2 1920 - 35 3 1930-1931 1369 - 4 1954 64 - 5 1961 6 - 6 1969 1 3 7 1974 - 9 8 1976 - 29 9 1994 65 - 10 2006 2 - 11 2010 386 2 Jumlah 1909 78

sumber : Materi paparan BPBD Kabupaten Magelang, 2014

Kondisi saat itu memaksa pemerintah memperlebar zona bahaya hingga berjarak 20 km dari puncak Merapi, yang sebelumnya ditetapkan dengan radius 15 km. Letusan Merapi memicu evakuasi massa di wilayah DI Yogyakarta (Sleman, Yogyakarta, Bantul) dan Jawa Tengah (Magelang, Klaten, Boyolali). Berdasarkan

(3)

3 data yang tercantum dalam Rencana Aksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Merapi 2011-2013, erupsi besar yang terjadi pada tahun 2010 telah menyebabkan kerusakan dan kerugian yang mencapai Rp 3,629 triliun dengan rincian Provinsi D I Yogyakarta sebesar Rp. 2,141 triliun dan Provinsi Jawa Tengah sebesar Rp. 1,487 triliun.

Bencana letusan Gunung Merapi telah menyebabkan kerusakan lingkungan seperti lahan, infrastruktur, pemukiman, kebakaran hutan, tercemarnya air sungai dan sumber penghidupan masyarakat, termasuk masyarakat di Desa Ngargomulyo, Kecamata Dukun, Kabupaten Magelang. Masyarakat Desa Ngargomulyo sebagai korban erupsi Merapi mengalami trauma karena kehilangan orang yang dicintai, harta benda, hancurnya rumah dan sawah yang menjadi mata pencaharian mereka selama ini. Sebagai fenomena alam, erupsi Merapi merupakan ancaman bagi masyarakat desa yang berada dalam kawasan resiko bencana tiga ini (KRB III yaitu kawasan dengan tingkat kerawanan terkena dampak bencana tinggi).

Bencana selalu memberikan dampak kejutan dan menimbulkan kerugian baik korban jiwa maupun materi. Menurut Bakornas PB (2007: 2), setidaknya ada interaksi empat faktor utama yang dapat menimbulkan bencana-bencana tersebut menimbulkan banyak korban dan kerugian besar, yaitu: 1) kurangnya pemahaman terhadap karakteristik bahaya (hazards); 2) sikap atau perilaku yang mengakibatkan penurunan sumber daya alam (vulnerability); 3) kurangnya informasi/peringatan dini (early warning) yang menyebabkan ketidaksiapan; 4) ketidakberdayaan atau ketidakmampuan masyarakat dalam menghadapi ancaman bahaya.

Sebagian besar masyarakat Desa Ngargomulyo (87%) berprofesi sebagai petani, hal tersebut membuat sumberdaya alam terutama ketersediaan lahan pertanian sangat mempengaruhi sistem penghidupan yang ada di desa tersebut. Jadi, apabila terjadi bencana seperti erupsi Merapi yang terjadi pada tahun 2010 silam, menyebabkan masyarakat mengalami hambatan dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-harinya dan menyebabkan adanya perubahan strategi penghidupan masyarakatnya karena sumberdaya alam yang biasanya merupakan tonggak kehidupannya menjadi rusak atau hilang terkena bencana tersebut. Tak jarang pula akibat rusak atau hilangnya aset kepemilikan harta benda dan tempat tinggal masyarakat Desa Ngargomulyo terpaksa harus mengungsi ke tempat lain yang lebih aman.

Kerusakan yang dialami oleh masyarakat Desa Ngargomulyo pasca terjadinya erupsi Merapi tahun 2010 menimbulkan rasa kehilangan yang mendalam bagi

(4)

4 masyarakat Desa Ngargomulyo terlebih lagi mereka terpaksa mengungsi ke tempat barak-barak pengungsian yang memiliki fasilitas kurang memadai. Selain itu, perubahan zona aman yang berkali-kali menyebabkan masyarakat Desa Ngargomulyo kesulitan untuk menemukan tempat pengungsian. Berdasarkan pengalaman tersebut, pasca bencana erupsi Merapi tahun 2010 BPBD Kabupaten Magelang bersama dengan Kepala Desa Ngargomulyo bernisiatif untuk mengembangkan sebuah konsep manajemen bencana yang baru yang dikenal dengan istilah konsep Sister Village (Desa Bersaudara). Tujuan dari adanya pengembangan konsep ini adalah supaya masyarakat yang berada di kawasan rawan bencana (KRB III) dapat dengan jelas mengetahui tujuan pengungsiannya yaitu menuju desa saudaranya yang berlokasi di kawasan yang lebih aman (KRB I) apabila terjadi bencana secara tiba-tiba. Saat ini pengembangan konsep tersebut masih dalam tahap pematangan melalui monitoring dan evaluasi terus menerus yang dilakukan oleh BPBD Kabupaten Magelang bersama pemerintah desa setempat dan pihak-pihak lain yang terkait. Selain itu juga, Pemerintah Desa Ngargomulyo baru dapat menemukan Desa Bersaudara yang dapat diajak bekerja sama setelah erupsi Merapi tahun 2010 berakhir yaitu pemerintah Desa Tamanagung yang loksinya berada pada zona aman (Kawasan Rawan Bencana I).

Dampak bencana selalu menimbulkan perubahan terhadap penghidupan masyarakat yang terkena bencana. Hal tersebut terjadi karena masyarakat yang terkena bencana harus mulai menata kembali kehidupannya seperti sebelum terjadi bencana. Upaya pemulihan tersebut yang seringkali mengalami perubahan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi saat ini. Tidak mengherankan apabila masyarakat Desa Ngargomulyo juga mengalami perubahan strategi bertahan hidup. Berdasarkan pernyataan tersebut maka penelitian ini bermaksud untuk mengetahui penghidupan masyarakat yang ada di Desa Ngargomulyo setelah terjadinya erupsi Merapi pada tahun 2010, berdasarkan kerusakan wilayah yang terjadi dan kepemilikan aset masyarakat serta pengembangan konsep Sister Village yang ada di desa tersebut dalam manajemen bencana.

1.2 Perumusan Masalah

Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunungapi Merapi merupakan kawasan yang memiliki kerawanan terkena dampak dari bencana. Kawasan Rawan Bencana ini dibagi menjadi tiga, yaitu KRB I , II , dan III. KRB III adalah kawasan yang letaknya

(5)

5 paling dekat dengan Gunungapi Merapi beserta dengan tingat risiko terhadap bencana yang sangat tinggi seperti sering terlanda awan panas, aliran lava, guguran batu, lontaran batu dan hujan abu lebat.

Desa Ngargomulyo desa di Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang yang berada dalam KRB III. Warga Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III Merapi sudah sering mengalami peristiwa atau kejadian ancaman bahaya letusan Gunung Merapi seperti abu vulkanik, “wedhus gembel” dan lontaran material gunung lainnya. Meski kejadian letusan Gunung Merapi sudah sering terjadi namun demikian bukan berarti masyarakat dan lingkungannya dapat menghindari setiap risiko yang timbul akibat letusan, khususnya dampak negatif yang merusak lingkungan dan bahkan membahayakan jiwa makhluk hidup di daerah tersebut. Kerusakan lingkungan yang ditimbulkan antara lain adalah rusaknya kawasan budidaya seperti persawahan dan peternakan, terjadinya erosi, tanah longsor, kebakaran hutan, perubahan bentang alam, pendangkalan sungai, hilangnya sejumlah spesies, rusaknya berbagai habitat flora dan fauna hingga kerusakan ekosistem.

Upaya untuk mengurangi dampak risiko kerusakan akibat ancaman letusan Merapi sangat penting sebagai upaya untuk mempertahankan keberlanjutan ekologi Kawasan Merapi yaitu Gunung Merapi sebagai sumber kehidupan masyarakat yang sebagian besar adalah petani. Gunung Merapi merupakan salah satu tempat yang digunakan sebagian besar masyarakat yang tinggal disekitarnya sebagai tempat menggantungkan hidup dalam mencari nafkah sekaligus sebagai lingkungan yang harus lestari sebagai tempat bergantungya generasi sekarang dan masa yang akan datang. Dalam kajian risiko bencana, masyarakat sebagai korban bencana diharapkan memiliki kemampuan untuk mengelola kapasitas yang ada dalam dirinya untuk mengurangi kerentanan yang mampu mengurangi tingkat risiko bencana sehingga tingkat kerusakan lingkungan (alam, pemukiman), infrastruktur, hewan/tumbuhan, bahkan harta benda dan jiwa dapat direduksi sekecil mungkin.

Pemerintah Kabupaten Magelang beserta pemerintah Desa Ngargomulyo nampaknya menyadari betul ancaman bahaya yang mengintai penduduknya. Atas dasar adanya potensi bahaya yang cukup besar serta pengalaman erupsi sebelumnya yang kurang terorganisir pada fase tanggap darurat khususnya dalam hal proses evakuasi dan pengungsian, maka Pemerintah Kabpaten Magelang melalui BPBD Kabupaten Magelang beserta pemerintah Desa Ngargomulyo bekerja sama untuk

(6)

6 mengembangkan program “Sister Village” (Desa Bersaudara) sebagai program manajamen bencana yang baru. Desa yang menjalin kerja sama Desa Bersaudara dengan Desa Ngargomulyo yang berada di Kecamatan Dukun adalah Desa Tamanagung yang berada di Kecamatan Muntilan. Desa Tamanagung sendiri berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB I) sehingga daerahnya dirasa cukup aman dari bahaya erupsi Merapi yang mungkin terjadi.

Hasil penelitian Vayda dan McCay (1978) dalam Su Ritohardoyo (2013) mengungkap pentingnya adaptasi manusia dalam rangka menanggulangi bahaya dan resiko lingkungan. Sumber bahaya dan resiko bagi manusia dapat berasal dari geofisik, biologik, dan sosial budaya manusia. Bagaimana masyarakat menanggulangi intensitas bahaya dan resiko lingkungan tersebut, adalah suatu pertanyaan tersirat dan tersurat tentang perwujudan adaptasi manusia, yang perlu dikaji melalui penelitian empiris. Oleh karena itu, erupsi Merapi sebagai konteks kajian utama beserta konsekuensinya seperti hilang atau rusaknya pemilikan harta benda, hancur atau rusaknya permukiman, berbagai sarana dan prasarana pengidupan, serta hilangnya kepemilikan aset, akses dan kesempatan kerja, merupakan permasalahan yang menarik untuk dikaji secara lebih mendalam sebagai upaya untuk mengetahui perubahan strategi penghidupan ataupun strategi bertahan hidup yang terjadi di lingkungan masyarakat, terutama masyarakat Desa Ngargomulyo serta mengetahui pendapat masyarakat Desa Ngargomulyo terkait dengan adanya pengembangan konsep Sister Village (Desa Bersaudara) dalam manajemen bencana.

1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1.3.1 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan perumusan masalah yang ada, maka tujuan dari penelitian ini yaitu : 1) Mengidentifikasi dampak bencana erupsi Merapi tahun 2010 terhadap

perubahan penghidupan masyarakat tani Desa Ngargomulyo

2) Menganalisis strategi bertahan hidup masyarakat tani Desa Ngargomulyo pasca bencana erupsi Merapi tahun 2010

3) Mengetahui persepsi masyarakat Desa Ngargomulyo terkait dengan pengembangan konsep Sister Village dalam manajemen bencana

1.3.2 Kegunaan Penelitian

(7)

7 2) Memberikan gambaran mengenai sistem penghidupan masyarakat tani Desa

Ngargomulyo pasca bencana erupsi Merapi tahun 2010

3) Memberikan gambaran mengenai sejauh mana konsep Sister Village dapat di terima oleh masyarakat Desa Ngargomulyo di Kabupaten Magelang.

4) Memberikan rekomendasi kepada pengambil kebijakan di Kabupaten Magelang terutama terkait dengan upaya peningkatan kontigensi dan manajemen bencana melalui konsep Sister Village di Kabupaten Magelang. 5) Menjadi bahan perbandingan bagi penelitian sebelumnya.

1.4 Tinjauan Pustaka

1.4.1 Pendekatan Geografi

Menurut Bintarto (1984), geografi adalah ilmu yang mempelajari hubungan kausal gejala-gejala yang ada di permukaan bumi, baik yang sifatnya fisik maupun menyangkut makhluk hidup lain beserta permasalahannya melalui pendekatan kelingkungan, keruangan, maupun kompleks wilayah untuk kepentingan program, proses, dan keberhasilan suatu pembangunan. Sedangkan menurut Yeates (1968) dalam Bintarto (1998) geografi adalah suatu ilmu yang memperhatikan perkembangan rasional dan lokal dari berbagai sifat yang beranekaragam di permukaan bumi.

Secara umum analisis dalam studi geografi didasarkan pada tiga pendekatan utama yaitu pendekatan kelingkungan (ecological), pendekatan keruangan (spatial), dan pendekatan kompleks wilayah (regional complex). Secara lebih mendalam Bintarto (1998) menjelaskan ketiga pendekatan tersebut seperti uraian berikut :

a. Pendekatan Kelingkungan (Ecological Approach)

Pendekatan ini menekankan pada gejala ekologis yaitu hubungan antara organisme hidup seperti manusia, hewan, dan tumbuhan terhadap lingkungan alamnya. Penekanan dalam pendekatan ini terletak pada aspek manusia yang menjadi fokus utama di dalam proses interaksi.

b. Pendekatan Keruangan (Spatial Approach)

Pendekatan ini mempelajari perbedaan antar lokasi mengenai sifat dan karakteristik yang ditimbulkan. Dalam analisis ini terdapat dua faktor yang harus diperhatikan yakni penyebaran penggunaan ruang yang telah ada serta penyediaan ruang yang akan digunakan untuk berbagai kegiatan. Penekanan di

(8)

8 dalam pendekatan ini didasarkan pada analisis yang terkait dengan aspek ruang itu sendiri.

c. Pendekatan Kompleks Wilayah (Regional Complex Approach)

Pendekatan ini merupakan gabungan dari pendekatan kelingkungan dan pendekatan keruangan. Di dalam pendekatan ini menekankan pada aspek penyebaran suatu fenomena tertentu (analisa keruangan) dan hubungan interaksi antara manusia dengan lingkungan fisiknya (analisa ekologi) serta keterkaitan di antara keduanya.

Berdasarkan ketiga pendekatan geografi tersebut, penelitian ini nantinya akan menggunakan salah satu pendekatan yaitu pendekatan Kelingkungan (Ecological Approach). Pendekatan ini pada prinsipnya akan mengkaji mengenai perubahan yang terjadi pada penghidupan masyarakat Desa Ngargomulyo terhadap kontigensi dan manajeman bencana dengan konsep Sister Village yang ada di Kabupaten Magelang dan mengkaji adanya hubungan atau interaksi antara aktivitas manusia dengan lingkungannya yang dilakukan sebagai respon adanya kebijakan pemerintah dan pemanfaatan ruang di permukaan bumi yang membentuk pola dan keterkaitan ruang tertentu.

1.4.2 Pengertian Masyarakat Tani

Kata masyarakat berasal dari bahasa Arab yaitu kata syaraka yang berarti ikut serta atau berperan serta, saling bergaul, beriteraksi. Dalam istilah bahasa Inggris, masyarakat dikenal dengan society (berasal dari kata latin, socius yang berarti kawan). Koentjaraningrat (1996) mendefinisikan masyarakat sebagai kumpulan manusia yang saling berinteraksi satu sama lain. Menurut Hassan Sadily (1980) dalam Imron (2012), masyarakat dipahami sebagai suatu golongan besar atau kecil yang terdiri dari beberapa manusia yang dengan atau karena sendirinya bertalian secara golongan dan pengaruh mempengaruhi satu sama lain. Sejalan dengan beberapa pendapat tersebut, masyarakat dipahami sebagai kelompok manusia yang saling berinteraksi yang memiliki prasarana untuk kegiatan tersebut dan adanya saling keterikatan untuk mencapai tujuan bersama.

Petani dalam Kamus Besar bahasa Indonesia memiliki kata dasar yaitu tani yang memiliki arti sebagai mata pencaharian di bentuk bercocok tanam (mengusahakan tanah dengan tanam menanam). Sehingga dapat disimpulkan terkait pengertian dari

(9)

9 petani adalah seseorang yang bekerja di bidang pertanian, utamanya dengan cara melakukan pengolahan tanah dengan tujuan untuk menumbuhkan dan memelihara tanaman sehingga memperoleh hasil untuk digunakan bagi dirinya sendiri maupun dijual kepada orang lain. Sedangkan pengertian petani menurut Undang-Undang No 19 tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani menyatakan bahwa petani adalah warga negara Indonesia perseorangan dan/ atau beserta keluarganya yang melakukan usaha tani di bidang pangan, holtikultura, perkebunan, dan/ atau peternakan. Apabila ditelaah kembali pengertian petani seakan memiliki pengertian terbatas dalam orang yang melakukan produksi pertanian menanam komoditas tani dan menjualnya ke pasar, namun disisi lain perspektif petani ternyata mengandung pengertian yang berbeda dan tingkah laku baik sosiologi dan ekonomi yang berbeda. Menurut Rodjak ( 2002 ) petani adalah orang yang melakukan kegiatan bercocok tanam hasil bumi atau memelihara ternak dengan tujuan untuk memperoleh kehidupan dari kegiatannya itu. Petani sebagai pengelola usahatani berarti ia harus mengambil berbagai keputusan di dalam memanfaatkan lahan yang dimiliki untuk kesejahteraan hidup keluarga.

1.4.3 Konsep Penghidupan Masyarakat

Para ahli Geografi telah mempelajari penghidupan (livelihood) sejak lama, namun baru populer belakangan ini. Gagasan tentang pendekatan penghidupan (livelihoods approach) dapat ditelusuri sekitar pertengahan 1980an ketika Chambers melakukan riset aksi bersama kolega para ahli dan masyarakat perdesaan.

Gagasan tersebut berkembang bersamaan dengan riset aksinya mengenai pendekatan partisipatif. Pengertian tentang penghidupan juga dikemukakan oleh Ellis (2000) dalam Saragih (2007) yang menyatakan bahwa penghidupan adalah kemampuan individu atau rumah tangga yang terdiri dari aset (alam, fisik, manusia, keuangan, dan modal sosial), aktivitas dan akses yang termediasi oleh lembaga-lembaga dan hubungan sosial secara bersama menentukan peningkatan kehidupan suatu individu atau rumah tangga tertentu. Berdasarkan definisi dari Ellis (2000), perhatian sebenarnya dalam konsep livelihood yaitu melihat hubungan antara aset dan pilihan orang dari apa yang dimilikinya untuk mengejar kegiatan alternatif yang dapat membangkitkan level pendapatan yang diperlukan untuk bertahan hidup.

Pengertian penghidupan berkelanjutan memiliki keterkaitan penting dengan isu kemiskinan dan lingkungan. Masih menurut Ellis (2000) suatu penghidupan

(10)

10 dikatakan berkelanjutan jika mampu mengentaskan kemiskinan dan pulih dari berbagai kerentanan, yaitu tekanan dan guncangan baik yang terjadi saat ini maupun masa mendatang. Dalam arti lain, berkelanjutan memiliki arti mampu mengatasi kemiskinan dan pulih dari kondisi yang kritis atau rentan, misalnya kecenderungan (trend), perubahan (change), perubahan musim (seasonality), dan ketegangan atau guncangan (shock) yang terjadi saat ini maupun masa mendatang. Hal yang juga penting dalam penghidupan berkelanjutan adalah pemanfaatan aset dengan baik tanpa merusak sumber daya yang tersedia.

Dimensi keberlanjutan meliputi berbagai aspek yakni lingkungan, ekonomi, sosial dan kelembagaan (Saragih, dkk, 2007). Keberlanjutan lingkungan tercapai ketika produktivitas sumber daya alam dan yang menopang kehidupan dilestarikan atau ditingkatkan penggunaannya oleh generasi mendatang. Keberlanjutan ekonomi dicapai ketika tingkat satuan ekonomi tertentu (rumah tangga) mempertahankan tingkat pengeluaran secara stabil. Keberlanjutan sosial tercapai ketika pengucilan sosial diminimalkan dan persamaan sosial dimaksimalkan. Keberlanjutan kelembagaan tercapai ketika struktur-struktur dan proses-proses yang berlangsung mampu terus menjalankan fungsinya dan berkontribusi secara positif terhadap penghidupan masyarakat dalam jangka panjang.

Konteks kajian dalam penghidupan masyarakat menyatakan bahwa berbagai ahli juga mengembangkan konsep penghidupan, baik dalam pendekatan kerangka ilmiah dan praktis pengalaman lapangan. Para ahli mengembangkan konsep penghidupan dikaitkan dengan isu mendasar mengenai penanggulangan kemiskinan dan pengelolaan sumberdaya. Ditambahkan pula konsep pemberdayaan dan keberlanjutan dalam berbagai analisis dan strategi pengembangannya. Scoones (1998) mengemukakan bahwa analisis penghidupan berkelanjutan terkait dengan konteks yang mempengaruhi seperti politik dan kebijakan makro, sejarah dan dinamika sosial ekonomi, serta kondisi agroekologi.

1.4.4 Pengertian Strategi Pengidupan

Strategi penghidupan pada dasarnya adalah upaya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki untuk meningkatkan kesejahteraan. Selain itu, strategi penghidupan mampu membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya baik melalui mata pencaharian maupun potensi yang terdapat di suatu daerah tertentu. Dalam konteks strategi penghidupan itu sendiri, strategi penghidupan yaitu

(11)

11 kemampuan untuk menyesuaikan diri atau untuk mengatasi tekanan-tekanan yang mengganggu baik tekanan yang bersifat jangka panjang ataupun guncangan (Burgers, 2004 dalam Baiquni, 2007). Hal tersebut diperkuat dengan pengertian penghidupan yang memberikan perhatian penting dalam kaitannya antara aset dan pilihan pengguna yang dilakukan oleh rumah tangga atau masyarakat untuk mewujudkan alternatif kegiatan yang mampu meningkatkan pendapatan yang diperlukan untuk hidupnya.

Strategi penghidupan (livelihood strategy) merupakan kemampuan, aset, dan kegiatan yang diperlukan untuk menjalani kehidupan (Chambers dan Conway, 1992, dalam Baiquni, 2007). Pengertian tersebut mengandung makna bahwa dalam penghidupan meliputi hubungan yang kompleks antara kemampuan, aset, kegiatan ekonomi, dan dinamika masyarakat. DFID, (1999) dalam Ardiyanto, (2013) merumuskan aset penghidupan meliputi modal (manusia, sosial, finansial, fisik, dan natural) dan pengaruh atau aktivitas serta akses yang dikuasai dan dimiliki tiap rumah tangga.

Strategi penghidupan secara umum dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu aset dan akses. Aset atau modal dideskripsikan sebagai persediaan modal yang dapat digunakan secara langsung maupun tidak langsung, untuk membangkitkan cara bertahan rumah tangga atau menyokong kebahagiaan pada level yang berbeda diatas bertahan (Ellis, 2000). Aset atau modal dapat dikelompokan menjadi 5 jenis yaitu sumberdaya alam (natural capital), sumberdaya manusia (human capital), sumberdaya fisik (phisycal capital), sumberdaya ekonomi (financial capital), dan sumberdaya sosial (social capital). Sumberdaya alam atau natural capital merupakan semua komponen dari lingkungan alamiah yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya bersama (asli di alam), contohnya: ketersediaan tanah (lahan), tanaman dan ketersediaan air sebagai modal produksi. Modal natural bervariasi pada setiap wilayah baik ketersediaan maupun karakteristiknya, sehingga dapat membentuk pola penghidupan masyarakatnya. (Baiquni, 2007). Sumberdaya manusia (human capital) terdiri dari ketrampilan, pengetahuan, dan kemampuan untuk bekerja serta kondisi kesehatan yang baik (DFID, 1999). Modal manusia menjadi penting karena menentukan kemampuan dalam mengelola keempat modal lainnya.

Sumberdaya fisikal (physical capital) merupakan kepemilikan terhadap setiap benda yang berwujud, sedangkan yang bukan merupakan sumberdaya alam. Modal fisikal terdiri dari bangunan, kendaraan, perabotan, alat-alat produksi, alat-alat rumah tangga, barang elektronik, dan lain sebagainya. Sumberdaya fisik berupa sumber daya

(12)

12 alam yang sudah ada campur tangan dari manusia dan diinvestasikan menjadi aset fisik. Sumberdaya ekonomi (financial capital) merupakan basis modal (uang tunai, kredit/hutang, dan aset ekonomi lainnya), contohnya : pendapatan, tabungan. Sementara itu sumberdaya sosial (social capital) merupakan kekuatan untuk mengusahakan penghidupan melalui jejaring dan keterkaitan sosial yang memungkinkan sumberdaya sosial dipadukan seperti gotong royong, juga adanya hubungan saling percaya dan kerjasama yang saling menguntungkan seperti jaminan sosial (Baiquni, 2007). Ada banyak ragam dari sumberdaya sosial, misalnya: hubungan keluarga, hubungan kekerabatan, pertemanan, organisasi sosial dan lain sebagainya.

Akses digambarkan dengan aturan dan norma sosial yang mempengaruhi perbedaan kemampuan orang di perdesaan untuk memiliki, mengontrol, bahkan mengklaim atau menggunakan sumberdaya seperti lahan dan barang kepemilikan bersama. Akses dapat ditentukan oleh berapa faktor seperti jarak, infrastruktur, perolehan informasi serta pelayanan. Dalam pembahasan penghidupan masyarakat tani di Desa Ngargomulyo terkait pengembangan Konsep Sister Village dalam manajemen bencana, akses yang dimaksud adalah akses terhadap aset. Perbedaan akses terhadap aset merupakan penyebab utama perbedaan strategi penghidupan (DFID, 1999). Aktivitas merupakan usaha untuk mengubah diri dari kondisi yang rentan atau dalam situasi tekanan bahkan goncangan. Kegiatan ini tercermin dari usaha mendayagunakan aset dengan kemampuan yang dimiliki (Baiquni, 2007). Dengan kata lain aktivitas dapat diartikan sebagai bekerja, bertani, berdagang atau melakukan kegiatan apapun yang dapat mendatangkan income

Beragam faktor mempengaruhi strategi yang dilakukan tiap rumah tangga untuk mempertahankan hidupnya. Menurut White (1981), dalam Baiquni, (2007), perbedaan strata sosial ekonomi dapat menyebabkan perbedaan tipe strategi penghidupan yang digunakan. Sehingga tipe strategi penghidupan dapat dibagi menjadi strategi bertahan hidup (survival strategy), strategi konsolidasi (consolidation strategy), dan strategi akumulasi (accumulation strategy). Selain itu, menurut Ellis (2000), dalam Saragih, dkk, (2007) strategi penghidupan tiap rumah tangga terdiri dari berbagai aktivitas yang dibagi dalam dua kategori yakni aktivitas penghidupan berbasis sumber daya alam (pertanian, peternakan, perikanan, dll) dan aktivitas tidak berbasis sumber daya alam (perdagangan, jasa, industri, infrastruktur, dll). Strategi penghidupan merupakan pilihan yang dibentuk oleh aset, akses dan aktivitas yang

(13)

13 dipengaruhi pula oleh kapasitas seseorang atau rumahtangga untuk melakukannya (Baiquni, 2007). Pilihan tersebut dinamis dan fleksibel,dalam arti selalu terdapat perubahan. Adakalanya muncul peluang dari kondisi eksternal atau adanya perubahan internal berkaitan dengan rumahtangga atau masyarakat. Strategi penghidupan yang sering dikemukakan ada tiga, yaitu: intensifikasi maupun ekstensifikasi pertanian, diversifikasi penghidupan serta migrasi (Scoones,1998 dalam Baiquni, 2007).

1.4.5 Konsep Sister Village dalam Manajemen Bencana

Konsep Desa Bersaudara (Sister Village) adalah kerjasama yang dijalin antar dua desa yaitu desa yang berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB III) dengan desa yang lokasinya lebih aman atau di Kawasan Raawan Bencana (KRB I). Dalam penelitian ini pasangan desa Sister Village yang dipilih adalah Desa Ngargomulyo dan Desa Tamanagung, dimana pada saat terjadi ancaman bahaya disalah satu desa maka penduduk di desa tersebut akan dievakuasi dan diungsikan di desa yang lebih aman. Beberapa pertimbangan pemilihan pemilihan calon desa penyangga, adalah pertama, pada tahun 2010 telah menjadi tempat pengungsian mereka dan di antara para perangkat dan tokoh masyarakat kedua belah pihak sudah saling mengenal, sehingga memudahkan membuat kesepakatan bersama dan sosialisasi kepada warganya; kedua, kedekatan pertemanan antara kepala desa KRB III dengan kepala desa penyangga; ketiga, secara teknis mitigatif saat melakukan evakuasi warga menghindari menyeberang sungai yang berpotensi menjadi jalur awan panas maupun lahar hujan, sehingga bisa mengancam jiwa masyarakat pada proses evakuasi, dan; keempat, mempertimbangkan fasilitas yang ada di desa penyangga, seperti yang dilakukan oleh Desa Ngargomulyo memilih desa Tamanagung dengan pertimbangan di Desa Tamanagung terdapat pasar hewan, sementara warga Desa Ngargomulyo memiliki banyak hewan ternak (jumlah sapi lebih dari 1.600 ekor dan ratusan hewan ternak lainnya, seperti kerbau dan kambing), selain itu Desa Tamangaung juga memiliki beberapa gedung baik berupa gedung sekolah, balai desa, gedung pertemuan dan juga gedung serbaguna yang dapat digunakan untuk menampung para pengungsi dari Desa Ngargomulyo. Hal ini diharapkan dapat memudahkan pada saat proses evakuasi penyelamatan hewan ternak mereka. Walaupun demikian, Desa Ngargomulyo juga telah memiliki beberapa komunitas siaga bencana yaitu PASAG (Paguyupan sabuk Gunung) Merapi, Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) dan Santri Siaga Bencana Nahdlatul Ulama (Winarti, 2010).

(14)

14 Konsep Sister Village (Desa Bersaudara) pada tahun 2013 lalu sudah diangkat menjadi salah satu program yang diformalkan dalam manajemen bencana. Pengembangan konsep Sister Village (Desa Bersaudara) menjadi salah satu alternatif solusi pada saat krisis, terlebih karena Gunungapi Merapi memiliki siklus erupsi (4 tahunan). Berdasarkan pola geografisnya, desa-desa yang termasuk dalam KRB III selelu memilih desa saudara yang berada jauh dari Gunungapi Merapi atau menjauhi gunung tersebut. Hal tersebut dilakukan untuk menjauhi bahaya yang mungkin ditimbulkan apabila terjadi bencana terkait Gunungapi Merapi. Berdasarkan gambar 1.1 dapat diketahui bahwa pola persaudaraan antara desa dalam KRB III dengan desa penyangga memiliki pola vertical dengan menjauhi puncak gunung Merapi ke daerah dibawahnya yang dirasa lebih aman dan jauh dari dampak terbesar potensi bahaya atau bencana yang mungkin terjadi.

(15)

15

Gambar 1.1 Skema Evakuasi dan Penanganan Pengungsi Bencana Gunung Merapi Berbasis Sister Village

(16)

16 Salah satu poin kerjasama yang terdapat pada Rancangan Perjanjian Kerjasama dalam penanggulangan/pengurangan risiko bencana/erupsi Gunung Merapi antara Desa Tamanagung yang berada di Kecamatan Muntilan dengan Desa Ngargomulyo yang berada di Kecamatan Dukun adalah bahwa apabila salah satu desa mengalami bahaya (misalnya bencana erupsi Merapi) maka desa yang lain berkewajiban untuk membantu penduduk di desa yang terkena bencana, misalnya dalam penyediaan tempat pengungsian dan membantu dalam proses evakuasi.

1.4.6 Sejarah Terbentuknya Konsep Sister Village

Erupsi Gunung Merapi tahun 2010 telah memberikan banyak pengalaman dan juga pelajaran berharga bagi semua pihak. Salah satu pelajaran berharga adalah banyaknya pengalaman pengungsi yang sangat tidak nyaman selama di lokasi pengungsian, pengalaman yang sama juga dirasakan oleh para petugas pengelola pengungsian, bahkan juga dirasakan oleh pemerintah. Hal ini disebabkan karena ketidaksiapan semua pihak menghadapi bencana erupsi Gunung Merapi yang sangat dahsyat pada tahun 2010 yang lalu. Berbagai upaya dilakukan guna untuk mengurangi risiko bencana letusan Gunung Merapi. Salah satunya di Kabupaten Magelang, Pemerintah Kabupaten Magelang melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyusun sebuah konsep penanganan bencana yang lebih baik. Salah satu konsep yang diwacanakan dan mulai dirintis oleh Pemerintah Kabupaten Magelang lewat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang adalah Konsep Sister Village (Desa Bersaudara).

Konsep ini mulai dirintis seiring dengan pelaksanaan kegiatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi pasca erupsi Gunung Merapi 2010. Dalam kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi tersebut kita memadukan dua kegiatan utama, yaitu kegiatan “technical engineering” (rekayasa teknis) dengan kegiatan yang bersifat “social engineering” (rekayasa sosial). Dalam konsep Sister Village ini kita mencoba memetakan desa-desa rawan bencana erupsi Merapi dan desa-desa yang yang kita nilai “cukup aman” dari ancaman erupsi Merapi.

Konsep Sister Village merupakan upaya pengurangan risiko bencana dengan menempatkan pengungsi di desa saudara yang letaknya di luar Kawasan Rawan Bencana (KRB) III Gunung Merapi. Sehingga apabila bencana terjadi, masyarakat di KRB III Gunung Merapi tidak panik dan bingung karena sudah punya arah dan tujuan

(17)

17 yang jelas kemana mereka harus mengungsi. Penempatan pengungsi di desa saudara (desa penyangga) bervariasi, ada yang ditempatkan di gedung fasilitas umum, rumah penduduk atau perpaduan antara gedung fasilitas umum dengan rumah penduduk, semua tergantung pada kondisi desa yang ditempati pengungsi.

Konsep Sister Village ini menyatukan dua pasang desa atau lebih dalam suatu hubungan yang dilembagakan. Di dalam mempersiapkan penerapan program ini, desa penyangga turut bekerja keras. Hal ini dikarenakan fasilitas dan sarana prasarana pendukung pengungsian berada di desa penyangga, sehingga mereka juga turut berperan dalam penyediaannya. Pemenuhan kebutuhan dasar pengungsian seperti tempat penampungan, tempat logistik, dapur umum, dan tempat MCK (mandi, cuci, kakus) harus dipersiapkan dengan baik.

1.5 Kerangka Pemikiran

Bencana merupakan gangguan atau kekacauan yang terjadi pada kehidupan

yang berdampak kepada manusia seperti kehilangan jiwa, luka-luka dan kerugian harta benda. Gangguan atau kekacauan tersebut terjadi secara tiba-tiba, tidak disangka dengan cakupan yang cukup luas. Bencana juga berdampak pada infrastruktur pendukung utama struktur sosial dan ekonomi masyarakat seperti kerusakan infrastruktur yang meliputi kerusakan sistem jalan, sistem air bersih, listrik, komunikasi, dan pelayanan utilitas penting lainnya.

Selain infrastruktur, objek lain yang terkena dampak terjadinya suatu bencana adalah masyarakat. Masyarakat terutama masyarakat miskin merupakan objek yang sangat rentan terhadap bencana. Oleh karena itu diperlukan suatu upaya dalam meminimalisir tingkat kerentanan tersebut. Walaupun demikian, rumah tangga atau masyarakat memiliki karakteristik tersendiri dalam memulihkan kehidupannya dan juga memiliki strategi dalam menjalani kehidupan untuk bertahan hidup seperti sebelum terjadinya bencana Bencana alam erupsi Merapi pada tahun 2010 yang terjadi di Desa Ngargomulyo dan sekitarnya telah banyak merugikan kehidupan masyarakat itu baik secara material maupun fisik. Oleh karena itu, dengan adanya kejadian ini maka penghidupan masyarakat yang ada di desa tersebut juga menjadi terganggu dan mengalami perubahan yang mengakibatkan masyarakat harus melakukan proses pemulihan hidup. Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh

(18)

18 masyarakat dalam melakukan pemulihan pasca terjadinya bencana adalah dengan memanfaatkan tiga komponen yang dapat ada yaitu aset, akses dan aktivitas.

Selain menggunakan tiga komponen tersebut dalam melakukan pemulihan kehidupan, saat ini di Desa Ngargomulyo sedang dikembangkan konsep Sister Village (Desa Bersaudara) dengan Desa Tamanagung untuk senantiasa saling membanntu apabila salah satu desa tersebut mengalami bahaya salah satunya adalah bencana erupsi Merapi. Pemanfaatan dari tiga komponen pemulihan yang digunakan dan ditambah dengan adanya pengembangan konsep Sister Village (Desa Bersaudara) maka akan membentuk sebuah strategi bertahan hidup atau strategi penghidupan yang baru yang bersumber dari setiap individu, dan bagaimana mereka dapat memanfaatkan aset, akses, dan aktivitas dengan baik. Sebenarnya bagi masyarakat yang dapat memanfaatkan ke tiga komponen tersebut dengan baik maka mereka akan cepat pulih dari dampak bencana yang terjadi sedangkan masyarakat yang tidak memanfaatkan ke tiga komponen tersebut dengan baik maka akan memerlukan waktu yang cukup lama untuk memulihkan penghidupannya, sebagaimana yang terlihat pada gambar 1.2 berikut

(19)

19

AsAset

Gambar 1.2. Diagram Alir Kerangka Pemikiran

1.6 Keaslian Penelitian

Beberapa penelitian yang terkait dengan strategi penghidupan masyarakat pernah dilakukan sebelumnya baik itu dengan locus, focus, dan method yang berbeda. Sedangkan penelitian ini nantinya akan mengarah kepada riset yang bersifat deskriptif yaitu mengidentifikasi dampak bencana pasca erupsi Merapi terhadap kepemilikan aset, akses dan aktivitas masyarakat korban bencana. Selain itu penelitian ini juga

Manajemen Bencana Bencana erupsi Gunungapi Merapi Konsep Sister Village Dampak Perubahan Penghidupan Masyarakat tani Persepsi Masyarakat Aktivitas Asset Akses Modal Natural Modal Fisikal Modal Sosial Modal Manusia Modal Finansial

Strategi Bertahan Hidup

Pengembangan Konsep Sister Village antara Desa Ngargomulyo dan Desa Tamanagung

(20)

20 akan difokuskan kepada mengidentifikasi strategi bertahan hidup masyarakat korban bencana erupsi merapi terkait dengan pengembangan konsep Sister Village. Dimana dalam hal ini lokasi penelitian yang diambil berada di Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Berdasarkan hasil penelusuran sementara dapat diidentifikasi beberapa penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya, sebagaimana telah disajikan pada tabel 1.2 berikut.

(21)

21

Tabel 1.2 Matriks Penelitian Sebelumnya

No Penulis Judul Penelitian Tujuan Metode Hasil

1. Novan Marosa, 2009. Skripsi. Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Perubahan Penghidupan Masyarakat Pasca Bencana Alam Tsunami di Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat (Studi Kasus Masyarakat Desa Suak Indrapuri, Ujong Baroh, dan Drien Rampak)

1) Mengetahui karakteristik sosial masyarakat pasca bencana alam tsunami di Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat 2) Mengetahui perubahan

penghidupan masyarakat pasca bencana alam tsunami di Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat

3) Mengetahui pemulihan penghidupan masyarakat pasca bencana alam tsunami di Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat

- Metode analisis : statistik deskriptif dan analisis ANOVA

- Terdapat perbedaan perubahan penghidupan masyarakat pasca bencana alam tsunami sesuai dengan tingkat kerusakan wilayah

- Tingkat kecepatan pemulihan bervariasi di tiga desa tersebut dipengaruhi oleh tingkat kerusakan, semakin parah tingkat kerusakan wilayah maka pemulihan penghidupan masyarakata akan menjadi semakin lama

2. Lisa Okta Kharisma, 2012. Skripsi. Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Dampak Bencana Lahar Dingin Pada Perubahan Strategi Penghidupan Masyarakat Desa Sirahan, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang

1) Identifiaksi perubahan kondisi aset, akses dan aktivitas masyarakat setelah terjadi bencana lahar dingin di Desa Sirahan, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang

2) Mengkaji perubahan strategi penghidupan masyarakat setelah terjadi bencana lahar dingin di Desa Sirahan, Kecamatan Salam,

Kabupaten Magelang 3) Membuat arahan penanganan

korban pasca bencana lahar dingin dalam memulihkan kehidupan setelah terjadi bencana lahar dingin di Desa Sirahan, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang

- Analisis deskriptif kualitatif

-

- Deskripsi perubahan strategi penghidupan masyarakat pasca bencana lahar dingin

- Arahan penanganan korban pasca bencana lahar dingin dalam memulihkan kehidupan di Desa Sirahan, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang

(22)

22 3. Aisyah Maya Tara, 2012. Skripsi. Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Strategi Penghidupan Masyarakat Pasca Bencana Alam Gempa Bumi 30 September 2009 di Kota Padang (Kasus Masyarakat Kelurahan Kampung Pondok dan Kelurahan Purus, Kecamatan Padang Barat)

1) Mengetahui perubahan penghidupan masyarakat pasca bencana alam gempa bumi pada sektor sosial dan ekonomi di Kelurahan Kampung Pondok dan Kelurahan Purus 2) Mengetahui dampak terhadap aset,

akses dan aktivitas masyarakat nelayan dan pedagang dalam menjalani kehidupan sehari-hari serta usaha masyarakat dalam pemulihan

3) Mengetahui Strategi masyarakat nelatan dan pedagang dalam bertahan hidup pasca bencana alam gempa bumi di Kelurahan Kampung Pondok dan Kelurahan Purus

- Metode penelitian deskriptif kulitatif

- Deskripsi perubahan kondisi kepemilikan aset, akses dan aktivitas pasca bencana alam gempa bumi - Deskripsi perubahan strategi

penghidupan masyarakat pasca bencana alam gempa bumi 30 September 2009 di Kota Padang

4. Candra Ragil, 2013. Tesis. Program Pasca Sarjana Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Strategi Penghidupan Masyarakat Pesisir Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak dalam Menghadapi Abrasi dan Banjir Rob

1) Menganalisis perubahan kualitas dan kondisi aset, akses dan aktivitas yang dimiliki masyarakat pesisir di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak

2) Mengidentifikasi strategi

penghidupan masyarakat pesisir di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak

3) Menganalisis mobilitas dan adaptasi penduduk terhadap strategi

penghidupan yang baru dan mengidentifikasi tingkat keberhasilannya - Metode penelitian deduktif - Metode analisis deskriptif kualitatif

- Kondisi aset (natural, fisikal, sosial, finansial, manusia), akses dan aktivitas masyarakat pesisir di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak beragam - Pilihan strategi pengidupan yang di

lakukan oleh masyarakat pesisir di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak juga beragam

(23)

23

1.7 Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian dapat dirumuskan beberapa pertanyaan penelitian yaitu :

1) Seperti apakah dampak bencana erupsi Merapi tahun 2010 terhadap penghidupan masyarakat tani Desa Ngargomulyo ?

2) Seperti apakah strategi bertahan hidup masyarakat tani Desa Ngargomulyo pasca bencana erupsi Merapi tahun 2010 ?

3) Sejauh manakah konsep Sister Village dapat diterima oleh masyarakat, terutama masyarakat Desa Ngargomulyo di Kabupaten Magelang ?

(24)

Gambar

Tabel 1.1 Jumlah Korban Letusan Gunung Merapi dan Banjir Lahar Dingin  dalam Kurun Waktu 100 Tahun Terakhir
Gambar 1.2. Diagram Alir Kerangka Pemikiran  1.6 Keaslian Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

yang kurang tertarik untuk menjadi seorang wirausaha. Padahal siswa telah dibekali pengetahuan kewirausahaan melalui mata pelajaran kewirausahaan yang di

(1) Analisa rinci sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (3) huruf c memuat kemampuan dan batasan parameter dari setiap bagian Produk Alpalhankam dan/atau

Onay Aminah Guru Dewasa Tk.I SMK Bina Karya Utama Kota Jakarta Timur Dki

Berdasarkan Tabel 13, hasil uji korelasi Spearman menunjukan bahwa terdapat hubungan yang nyata dan positif antara penerapan GDFP dengan pendapatan peternak, nilai

C. Maksud, Tujuan, dan Kegunaan Penelitian 1. Mendapatkan gambaran nyata tentang kualitas pelayanan pegawai pada pada Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil

Dengan demikian, untuk mengatasi kondisi hukum negara yang dinilai lemah dalam menghadapi kekerasan massa yang terjadi, kita harus melihatnya mulai dari upaya untuk melakukan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Ekstrak Etanolik Herba Ciplukan memberi- kan efek sitotoksik dan mampu meng- induksi apoptosis pada sel kanker payudara MCF-7

Variasi pengaruh kelima faktor tersebut terhadap keputusan eksportir melakukan ekspor ditunjukkan oleh nilai R 2 sebesar 0,683, yang menunjukkan bahwa 68,3 persen variasi