• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 TINJAUAN TEORI"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

11

TINJAUAN TEORI

2.1 Temper Tantrum

2.1.1 Pengertian Temper Tantrum

Ada beberapa definisi yang menjelaskan tentang pengertian temper tantrum, diantaranya yang dikemukakan dalam kamus lengkap psikologi, Chaplin (2009) mendefinisikan tantrum sebagai suatu ledakan emosi kuat sekali disertai rasa marah, serangan agresif, menangis, menjerit-jerit, menghentak-hentakkan kedua kaki, dan tangan pada lantai atau tanah.

Dari sumber lain juga menyatakan temper tantrum adalah suatu luapan emosi yang meledak-ledak dan tidak terkontrol. Temper tantrum seringkali muncul pada anak usia 15 bulan hingga 6 tahun (Zaviera, 2008). Termper tantrum yang terjadi pada anak usaia tersebut dikarenakan ketidakmampuan anak dalam mengontrol emosinya dan menyampaikan keinginannya.

(2)

Temper tantrum juga didefinisikan sebagai perilaku tidak terkontrol, termasuk menjerit, menginjak-injak kaki, memukul, membentur-benturkan kepala, menjatuhkan diri dan perilaku unjuk frustasi lain yang mengandung kekerasan. Dalam bentuk ekstremnya, tantrum dapat disertai dengan menahan nafas, muntah dan agresi serius, termasuk menggigit. Perilaku seperti ini paling sering dijumpai bila anak merasa frustasi, marah, atau bahkan hanya karena tidak dapat menerima suatu keadaan. Temper tantrum dianggap normal pada usia 1 sampai 3 tahun, jika periode temper tantrum hanya berlangsung singkat dan tantrum tidak bersifat manipulatif. (Marcdante, 2013).

Mashar (2011) mengemukakan bahwa Temper tantrum adalah suatu letupan kemarahan anak yang sering terjadi pada saat anak menunjukkan sikap negatif atau penolakan. Perilaku ini sering diikuti tingkah laku seperti menangis dengan keras, berguling-guling dilantai, menjerit, melempar barang, memukul-mukul, menendang, dan berbagai kegiatan lainnya.

Pendapat lain juga dikatakan oleh Tandry (2010), tantrum adalah perilaku menangis, berteriak, atau bisa juga dikatakan sebagai luapan frustasi yang ekstrim yang tampak seperti kehilangan kendali. Perilaku ini dapat dicirikan dengan gerak tubuh yang kasar atau agresif seperti membuang barang, berguling dilantai, membenturkan kepala dan menghentakan kaki ke lantai. Pada anak yang lebih kecil (lebih muda) biasanya sampai muntah, pipis, atau bahkan nafas sesak karena terlalu banyak menangis dan berteriak.

(3)

Dalam kasus tertentu, ada pula anak yang sampai menendang atau memukul orang tua atau orang dewasa lainnya misalnya pada baby sitter.

Dari beberapa definisi yang telah djelaskan sebelumnya, dapat disimpulkan temper tantrum adalah perilaku ketidakmampuan anak dalam mengontrol emosi yang terjadi sebagai respon dari keinginan atau kebutuhan yang tidak terpenuhi.

2.1.2 Etiologi Temper Tantrum

Anak-anak biasanya ingin belajar „lebih‟ dan bersifat individu. Mereka ingin lebih dari kemampuan dirinya dalam mengatur secara fisik dan emosional. Bila anak tidak mampu, maka dapat menyebabkan anak frustasi dan diekspresikan dengan berbagai cara. Tantrum dan tingkah laku agresif dapat berkembang sebagai hasil dari ganjaran yang tidak sesuai (Inappropriate reinforcement). Perilaku „baik‟ (“constructive behavior”) tidak dapat mendapatkan ganjaran, tetapi hanya perilaku „nakal‟ (“naughty behavior”) yang mendapat perhatian dari orangtua atau guru. Anak kemudian belajar bahwa dia dapat menerima ganjaran berupa perlakuan (treats) dan perhatian kasih sayang (loving attention) dengan menjadi nakal (by being naughty), dan menjadi “good” berarti kurang diperhatikan atau diberi ganjaran. Ganjaran yang diberiakan secara tidak konsisten dapat menyebabkan anak menjadi khawatir atau menarik diri, karena anak tidak mengetahui apakah ia akan dihukum atau diberi ganjaran untuk perilakunya. Anak dihadapkan kepada suatu kebingungan (ambiguity).

(4)

Tantrum sering ditemukan pada anak-anak yang terlampau dimanjakan (overindulgent), atau orangtua yang terlampau mencemaskannya (oversolicitous), atau orangtua yang terlampau menlindungi (overprotective). Walaupun tantrum pada mulanya merupakan perasaan tidak senang pada perlakuan fisik, tantrum juga dimaksudkan sebagai suatu usaha untuk mendapatkan hadiah-hadiah (gratifications), atau menguasai keluarganya melalui cetusan marah (outburst), atau merupakan suatu hasil meniru dari orangtua atau anggota keluarga lainnya. Tantrum biasanya terjadi pada anak umur 18 bulan – 4 tahun. Tantrum ini disebut otonomi diri, yaitu rasa mampu berbuat sesuai kehendak (autonomy vs shame and doubt). Pada umur 1-3 tahun, timbul beberapa kebebasan dari ketergantungan total pada orangtua. Kebebasan fisik berupa mulai belajar dan kemudian berlari. (Soetjiningsih, 2013).

2.1.3 Tipe – tipe temper tantrum

Pada dasarnya temper tantrum merupakan bagian dari proses pertumbuhan dan perkembangan anak dalam mengontrol emosi dalam dirinya. Jika perilaku ini tidak didukung oleh keikutsertaan orangtua dalam mengasuh anak secara tepat, maka anak akan belajar menjadi orang yang kasar dan agresif dalam menghadapi sebuah permasalahan. Tantrum juga dapat menjadi masalah yang serius bila orangtua tidak dapat memahami cara anak dalam mengekspresikan emosinya maupun keinginannya yang tidak dapat terpenuhi.

(5)

Ada beberapa jenis tantrum sebagaimana disebutkan oleh Hildayani (2008) :

1. Manipulative Tantrum

Manipulative tantrum terjadi ketika seseorang anak tidak memperoleh apa yang diinginkan. Perilaku ini akan berhenti saat keinginan anak dituruti.

2. Verbal Frustation Tantrum

Tantrum jenis ini terjadi ketika anak tahu apa yang ia inginkan, tapi tidak tahu bagaimana cara menyampaikan keinginannya dengan jelas. Anak akan mengalami frustasi. Tantrum jenis ini akan menghilang sejalan dengan peningkatkan kemampuan komunikasi anak, dimana anak semakin dapat menjelaskan kesulitan yang dialaminya.

3. Temperamental Tantrum

Temperamental tantrum terjadi ketika tingkat frustasi anak mencapai tahap yang sangat tinggi, anak menjadi sangat tidak terkontrol dan sangat emosional. Anak akan menjadi sangat lelah dan sangat kecewa. Pada tantrum jenis ini anak sulit untuk berkonsentrasi dan mendapatkan kontrol terhadap dirirnya sendiri. Anak tampak bingung dan mengalami disorientasi.

Sedangkan menurut Buchalter dalam Rahmah (2012) menyebutkan ada 2 jenis tantrum, yaitu tantrum aktif dan pasif. Tanrum aktif terdiri atas protes dan sosial, serta tantrum pasif terdiri atas merengek dan tidak kooperatif. Tantrum aktif adalah ketika anak tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. Biasanya anak akan melakukan protes dengan cara menangis, menjerit, menendang-nendang bahkan melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya. Tantrum aktif bisa juga muncul

(6)

ketika anak marah dengan temannya. Biasanya anak bertindak agresif (dapat memukul, menendang, mancakar) dan tidak bersahabat saat bermain bersama temannya. Adapun tantrum pasif yaitu ketika anak merasa tidak puas terhadap suatu hal. Biasanya anak merengek, ngambek atau terus menerus bertanya dengan cara menganggu. Tantrum pasif juga terjadi ketika anak tidak suka melakukan sesuatu yang diperintahkan oleh orangtuanya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa jenis tantrum yang biasa terjadi pada anak, yakni manipulative tantrum, verbal frustation tantrum, temperamental tantrum, dan tantrum aktif yang terdiri atas protes dan sosial, serta tantrum pasif yang terdiri atas merengek dan tidak kooperatif. Jenis-jenis tantrum tersebut dibedakan berdasarkan penyebab terjadinya tantrum. Setiap jenis tantrum tersebut membutuhkan penanganan yang berbeda-beda agar perilaku tantrum terebut tidak terus terjadi dan dapat meminimalisir terjadinya perilaku tantrum dimasa mendatang.

2.1.4 Gejala-gejala anak temper tantrum

Selain memahami penyebab munculnya perilaku tantrum perlu juga diamati gejala-gejala yang muncul pada anak tantrum seperti yang disebutkan Mashar (2011) antara lain:

1. Anak memiliki kebiasaan tidur, makan, dan buang air besar tidak teratur. 2. Sulit beradaptasi dengan situasi, makanan, dan orang-orang baru.

(7)

4. Mood atau suasana hatinya lebih sering negatif. Anak sering merespons sesuatu dengan penolakan.

5. Mudah dipengaruhi sehingga timbul perasaan marah atau kesal. 6. Perhatiannya sulit dialihkan.

7. Memiliki perilaku yang khas, seperti: menangis, menjerit, membentak, menghentak-hentakkan kaki, merengek, membanting pintu, memecahkan benda, memaki, mencela diri sendiri, menyerang kakak/adik atau teman, mengancam, dan perilaku-perilaku negatif lainnya.

2.2 Konsep Pola Asuh orangtua

2.2.1 Pengertian Pola Asuh

Dalam Kamus Bahasa Indonesia pola memiliki arti cara kerja, sistem dan model, dan asuh memiliki arti menjaga atau merawat dan mendidik anak, sedangkan orangtua memiliki arti ayah dan ibu, jadi dapat disimpulkan pola asuh orangtua memiliki arti cara atau sistem ayah dan ibu dalam merawat atau mendidik anak. Pola asuh orangtua adalah kegiatan atau cara mengasuh orangtua dalam berinteraksi dengan anak (Handayani dkk, 2012).

(8)

2.2.2 Macam – Macam Pola Asuh

Menurut Baumrind dalam Dariyo (2011) ada tiga jenis pola asuh:

1. Pola asuh otoriter

Dalam pola asuh ini orangtua merupakan sentral. Artinya segala ucapan, perkataan maupun kehendak orangtua dijadikan patokan (aturan) yang harus ditaati oleh anak-anak. Supaya taat, orangtua tidak segan-segan menerapkan hukuman yang keras kepada anak. Orangtua beranggapan agar aturan itu stabil dan tak berubah, maka seringkali orangtua tak menyukai tindakan anak yang memprotes, mengkritik atau membantahnya. Kondisi tersebut mempengaruhi perkembangan diri pada anak. Banyak anak yang dididik dengan pola asuh otoriter ini, cenderung tumbuh berkembang menjadi pribadi yang suka membantah, membrontak dan berani melawan arus terhadap lingkungan sosial.

2. Pola asuh permisif

Pola asuh permisif ini, orangtua justru merasa tidak peduli dan cenderung memberi kesempatan serta kebebasan secara luas kepada anak. Orangtua seringkali menyetujui terhadap semua keinginan dan kehendak anaknya. Semua kehidupan keluarga seolah-olah ditentuka oleh kemauan dan keinginan anak. Jadi anak merupakan sentral dan segala aturan dalam rumah. Dengan demikian orangtua tidak mempunyai kewibawaan.

3. Pola asuh demokratis

Pola asuh ini adalah gabungan antara pola asuh otoriter dan pola asuh permisif dengan tujuan menyeimbangkan pemikiran, sikap dan tindakan antara anak dan

(9)

orangtua. Baik orangtua maupun anak mempunyai kesempatan untuk menyampaikan suatu gagasan, ide, atau pendapat untuk mencapai suatu keputusan. Dengan demikian orangtua dan anak dapat berdiskusi, berkomunikasi atau berdebat konstruktif, logis, rasional demi mencapai kesepakatan bersama. Karena hubungan komunikasi antara orangtua dengan anak dapat berjalan menyenangkan, makan terjadi pengembangan kepribadian yang mantap pada diri anak. Anak makin mandiri, matang, dan dapat menghargai diri sendiri dengan baik.

2.2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pola Asuh

Dalam memberlakukan pola asuh di lingkungan keluarga, orang tua dipengaruhi oleh beberapa hal. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh orang tua terhadap anak menurut Hurlock (2010) adalah:

1. Kesamaan dengan disiplin yang digunakan orang tua.

Jika orang tua merasa memberikan pola asuh yang baik maka akan mereka tetapkan juga pada anak mereka, namun sebaliknya jika kurang sesuai maka akan digunakan cara yang berlawanan.

2. Penyesuaian dengan cara yang disetujui kelompok.

Semua orang tua lebipenelitianh dipengaruhi oleh apa yang oleh anggota kelompok mereka dianggap sebagai cara “terbaik”, daripada oleh pendirian mereka sendiri mengenai apa yang terbaik.

(10)

3. Usia orang tua.

Orang tua yang lebih muda cenderung demokratis dan permisif dibandingkan dengan mereka yang tua. Mereka cenderung mengurangi kendali ketika anak beranjak remaja.

4. Pendidikan untuk menjadi orang tua.

Orang tua yang belajar cara mengasuh anak dan mengerti kebutuha anak akan lebih menggunakan pola asuh yang demokratis daripada orang tua yang tidak mengerti. 5. Jenis kelamin.

Wanita pada umumnya lebih mengerti anak dan kebutuhannya dibanding pria, dan mereka cenderung kurang otoriter. Hal ini berlaku untuk orang tua maupun pengasuh lainnya.

6. Status sosial ekonomi.

Orang tua dari kalangan menengah kebawah akan lebih otoriter dan memaksa daripada mereka yang dari menengah ke atas. Semakin tinggi pendidikan pola asuh yang digunakan semakin cenderung demokratis.

7. Konsep mengenai peran orang dewasa.

Orang tua yang mempertahankan konsep tradisional mengenai peran orang tua, cenderung lebih otoriter dibandingkan orang tua yang telah menganut konsep modern.

8. Jenis kelamin anak.

Orang tua pada umumnya akan lebih keras terhadap anak perempuan daripada terhadap anak laki-lakinya.

(11)

Pola asuh otoriter digunakan untuk anak kecil, karena anak-anak tidak mengerti penjelasan sehingga mereka memusatkan perhatian pada pengendalian otoriter. 10. Situasi.

Ketakutan dan kecemasan biasanya tidak diganjar hukuman sedangkan sikap menantang, negativisme, dan agresi kemungkinan lebih mendorong pengendalian yang otoriter.

Moch. Sochib (2010) membagi menajdi 9 hal yang mempengaruhi orangtua dalam mendisiplinkan anak :

1. Lingkungan fisik

2. Lingkungan sosial internal dan eksternal 3. Pendidikan internak dan eksternal 4. Dialog dengan anak-anaknya 5. Suasana psikologis

6. Sosial budaya

7. Perilaku yang ditampilkan pada saat terjadinya pertemuan dengan anak-anak 8. Control terhadap perilaku anak-anak

9. Menentukan nilai-nilai moral sebagai dasar berperialku dan yang diupayakan kepada anak-anak

(12)

2.3 Konsep Pengetahuan

2.3.1 Pengertian Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil dari “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakini indera pengelihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (over behaviour) (Notoatmodjo, 2007).

2.3.2 Tingkat Pengetahuan

Enam tingkat pengetahuan menurut Mubarak, dkk (2007), yaitu:

1. Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, mengingat kembali termasuk (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan atau rangsangan yang diterima.

2. Memahami (Comprehesion)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara luas. 3. Aplikasi (Aplication)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang nyata.

(13)

4. Analisis (Analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain.

5. Sintesis (synthesis)

Sintesis menunjukan kepada suatu kemampuan untuk meletakan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

6. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek

2.3.3 Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2010) faktor yang mempengaruhi pengetahuan antara lain yaitu:

1. Faktor Pendidikan

Semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang, maka aan semakin mudah untuk menerima informasi tentang obyek atau yang berkaitan dengan pengetahuan. Pengetahuan umumnya dapat diperoleh dari informasi yang disampaikan oleh orang tua, guru, dan media masa. Pendidikan sangat erat kaitannya dengan pengetahuan, pendidikan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang sangat diperlukan untuk pengembangan diri. Semakin tinggi tingkat 12 pendidikan seseorang, maka akan semakin mudah untuk menerima, serta mengembangkan pengetahuan dan teknologi.

(14)

2. Faktor Pekerjaan

Pekerjaan seseorang sangat berpengaruh terhadap proses mengakses informasi yang dibutuhkan terhadap suatu obyek.

3. Faktor Pengalaman

Pengalaman seseorang sangat mempengaruhi pengetahuan, semakin banyak pengalaman seseorang tentang suatu hal, maka akan semakin bertambah pula pengetahuan seseorang akan hal tersebut. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menyatakan tantang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden

4. Keyakinan

Keyakinan yang diperoleh oleh seseorang biasanya bisa didapat secara turun-temurun dan tidak dapat dibuktikan terlebih dahulu, keyakinan positif dan keyakinan negatif dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang.

5. Sosial budaya

Kebudayaan berserta kebiasaan dalam keluarga dapat mempengaruhi pengetahuan, presepsi, dan sikap seseorang terhadap sesuatu.

2.4 Konsep Status Sosial Ekonomi

2.4.1 Pengertian Status Sosial Ekonomi

Orangtua yang berasal dari kelas sosial ekonomi menengah ke atas cenderung lebih bersifat hangat dibandingkan orangtua yang berasal dari sosial ekonomi rendah. Lebih menekankan pada perkembangan keingintahuan anak, control dalam diri anak,

(15)

kemampuan untuk menunda keinginan, bekerja untuk jangka panjang dan kepekaan anak dalam hubungannya dengan oranglain. Orangtua dari golongan ini lebih bersikap terbuka terhadap hal-hal yang baru. (Hetherington dan parke dalam prasetyo 2003).

Menurut Priyono dan Budhi (2008), bahwa ekonomi adalah bagaimana manusia dan masyarakat melakukan pilihan dengan atau tanpa menggunakan uang untuk memanfaatkan sumber daya yang langka dalam mengahasilkan berbagai barang dan jasa dan mendistribusikannya diantara mereka bagi keperluan konsumsi, pada saat ini atau dimasa mendatang, diantara berbagai manusia dan kelompok yang ada di masyarakat.

Status sosial ekonomi adalah kedudukan atau posisi seseorang dalam masyarakat, status sosial ekonomi adalah gambaran tentang keadaan seseorang atau suatu masyarakat yang ditinjau dari segi sosial ekonomi, gambaran itu seperti pendidikan, padapatan dan sebagainya. Status sosial ekonomi kemungkinan besar merupakan pembentuk gaya hidup sesorang. (Soetjiningsih, 2004)

(16)

2.4.2 Faktor Yang Mempengaruhi Status Sosial Ekonomi

Menurut Friedman (2004) faktor yang mempengaruhi status sosial ekonomi seseorang yaitu :

1. Pendidikan

Pendidikan berabrti bimbingan yang diberikan oleh seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju ke arah suatu cita-cita tertentu. Makin tinggi tingkat pendidikan sesorang maka makin mudah dalam memperoleh pekerjaan, sehingga semakin banyak pula penghasilan yang diperoleh. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap sesorang terhadap nilai-nilai yang baru dikenal.

2. Pekerjaan

Pekerjaan adalah symbol status seseorang dimasyarakat. Pekerjaan adalah jembatan untuk memperoleh uang dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup.

3. Keadaan ekonomi

Kondisi ekonomi keluarga yang rendah mendorong seseorang untuk tidak melanjutkan pendidikan lebih lanjut

4. Latar belakang budaya

Culture universal adalah unsur kebudayaan yang bersifat universal, adala didalam semua kebudayaan didunia, seperti pengetahuan bahasa dan khasanah dasar, cara pergaulan sosial, adat-istiadat, penilaian umum. Tanpa disadari, kebudayaan telah menanamkan garis pengaruh sikap terhadap berbagai masalah. Kebudayaan telah mewarnai sikap anggota masyarakatnya, karena kebudayaan pulalah yang memberi

(17)

corak pengalaman individu-individu yang menjadi anggota kelompok masyarakat asuhannya. Hanya kepercayaan individu yang telah mapan dan kuatlah yang dapat memudarkan dominasi kebudayaan dalam pembentukan individual.

5. Pendapatan

Pendapatan adalah hasil yang diperoleh dari kerja atau usaha yang telah dilakukan. Pendapatan akan memenuhi gaya hidup seseorang. Orang atau keluarga yang mempunyai status ekonomi atau pendapatan tinggi akan memperaktikan gaya hidup yang mewah misalnya lebih konsumtif karena mereka mampu untuk membeli semua yang dibutuhkan bila dibandingkan dengan keluarga yang kelas ekonominya kebawah.

Berdasarkan penggolongannya BPS (Badan Pusat Statistik) membedakan pendapatan penduduk menjadi 4 golongan, yaitu :

1. Golongan Pendapatan sangat tinggi adalah jika pendapatan rata-rata lebih dari Rp. 3.500.000 per bulan

2. Golongan pendapatan tinggi adalah jika pendapatan rata-rata antara Rp 2.500.000 s/d Rp. 3.500.000 per bulan

3. Golongan pendapatan sedang adalah jika pendapatan rata-rata dibawah antara Rp. 1.500.000 s/d Rp 2.500.000 per bulan

4. Golongan pendapatan rendah adalah jika pendapatan rata-rata Rp. 1.500.000 per bulan

(18)

Tabel 2.1 ukuran status sosial ekonomi

Status sosial Ekonomi Klasifikasi Pendidikan Rendah Menengah Tinggi Tidak sekolah SD SMP SMA Perguruan Tinggi Pekerjaan Rendah Menengah Tinggi

Tenaga tidak terampil Tenaga semi terampil Tenaga terampil Teknisi Tenaga profesional Kekayaan Rendah (miskin) Menengah (sedang) Tinggi (kaya)

Memiliki harta dan simpanan uang senilai kurang dari Rp. 5.000.000

Memiliki harta dan simpanan uang senilai Rp 5.000.000 – Rp 15.000.000

Memiliki harta dan simpanan uang senilai diatas Rp. 15.000.000

Gambar

Tabel 2.1 ukuran status sosial ekonomi

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pantai Tanamon dihuni 18 jenis Echinodermata yang merupakan anggota dari 4 kelas yaitu Kelas Asteroidea (4 jenis), Kelas

Hasil akhir dari deteksi plagiarisme ini mampu mendeteksi menghasilkan persentase sesuai dengan yang dibahas pada bab sebelumnya yaitu dengan melakukan pengujian kemiripan

Dengan menambah luas permukaan sendi yang dapat menerima beban, osteofot mungkin dapat memperbaiki perubahan-perubahan awal tulang rawan sendi pada osteoartritis, akan tetapi

Ini adalah juga merupakan salah satu tujuan sedekah laut yang dilaksanakan pada masa sekarang ini, tetapi lain dengan tujuan masa lalu disamping sebagai sarana

Kedua, Imam Malik menganggap bahwa perbuatan liwath adalah perbuatan jarimah (tindak pidana) karena ia sama seperti dengan perbuatan zina yang dikategorikan

Menguji kewajaran suatu jumlah dalam populasi berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap sampel, digunakan jika auditor dalam auditnya mau menerima saldo suatu

Tahun 2003 menjadi awal titik balik dari perkembangan BMT Ki Ageng Pandanaran, dibawah pengurus baru ini BMT dapat berkembang dengan baik, karena pengurus dan anggota koperasi

Produk pengembangan buku modul pelatihan pembuatan gerabah sebagai panduan untuk masyarakat dalam pembuatan gerabah secara praktis dalam kaitannya dengan aktivitas