• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

No. 36/07/72/Th.XVIII, 01 Juli 2015

P

ERKEMBANGAN

I

NDEKS

H

ARGA

K

ONSUMEN

/I

NFLASI

Selama Juni 2015, Inflasi Sebesar 0,03 Persen

Mulai Januari 2014, penghitungan inflasi secara nasional telah menggunakan IHK tahun dasar baru (2012=100) berdasarkan hasil Survei Biaya Hidup (SBH) 2012. Dibandingkan tahun dasar lama (2007=100), terdapat perluasan cakupan kota yang diikuti oleh perubahan paket komoditas dan diagram timbang. Penggunaan tahun dasar baru dilakukan untuk menyesuaikan perubahan pola konsumsi masyarakat dibandingkan periode sebelumnya. SBH 2012 dilaksanakan di 82 kota, yang terdiri dari 33 ibukota provinsi dan 49 kota besar terpilih lainnya. Dari seluruh kota pantauan, terdapat 66 kota yang merupakan cakupan kota SBH lama dan 16 lainnya merupakan cakupan kota baru. Paket komoditas Kota Palu hasil SBH 2012 mencapai 346 komoditas.

Di tingkat nasional, terdapat 76 kota mengalami inflasi selama Juni 2015 yakni Sorong (1,90 persen), Pematang Siantar (1,44 persen), Sibolga (1,36 persen), Balikpapan (1,23 persen), Banda Aceh (1,20 persen), Manokwari (1,14 persen), Bau-Bau (1,13 persen), Lhokseumawe (1,03 persen), Palangka Raya (0,96 persen), Mamuju (0,95 persen), Sampit (0,91 persen), Bengkulu (0,89 persen), Tegal (0,89 persen), Ternate (0,89 persen), Batam (0,87 persen), Lubuk Linggau (0,86 persen), dan kota lainnya di bawah 0,85 persen. Sedangkan yang mengalami deflasi adalah Tual (0,80 persen), Bima (0,79 persen), Merauke (0,57 persen), Ambon (0,25 persen), Singaraja (0,18 persen), dan Pangkal Pinang (0,14 persen).

Dari 82 kota pantauan secara nasional, 76 kota mengalami inflasi sedangkan 6 kota lainnya

mengalami deflasi selama Juni 2015. Kota Palu mengalami inflasi terendah sebesar 0,03 persen

dengan indeks harga 120,46.

Kenaikan indeks harga terjadi pada kelompok pengeluaran makanan jadi, minuman, rokok, dan

tembakau (0,52 persen), perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar (0,14 persen), kesehatan

(0,14 persen), sandang (0,07 persen), transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan (0,04

persen), serta pendidikan, rekreasi, dan olahraga (0,03 persen). Sebaliknya, penurunan indeks

harga terjadi pada kelompok pengeluaran bahan makanan sebesar 0,65 persen.

Laju inflasi tahun kalender hingga Juni 2015 sebesar 0,21 persen, sedangkan laju inflasi year on

(2)

Dari 18 kota di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua), inflasi tertinggi terjadi di Kota Sorong (1,90 persen), diikuti Manokwari (1,14 persen), Bau-Bau (1,13 persen), Mamuju (0,95 persen), Ternate (0,89 persen), Jayapura (0,80 persen), Palopo (0,77 persen), Makassar (0,75 persen), Gorontalo (0,71 persen), dan kota-kota lainnya di bawah 0,70 persen. Sedangkan kota yang mengalami deflasi adalah Tual (0,80 persen), Merauke (0,57 persen), dan Ambon (0,25 persen).

I. Perkembangan Inflasi/Deflasi Menurut Kelompok Pengeluaran

Selama Juni 2015, inflasi sebesar 0,03 persen dipengaruhi oleh kenaikan indeks harga makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau (0,52 persen), perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar (0,14 persen), kesehatan (0,14 persen), sandang (0,07 persen), transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan (0,04 persen), serta pendidikan, rekreasi, dan olahraga (0,03 persen). Sebaliknya, penurunan indeks harga terjadi pada kelompok pengeluaran bahan makanan sebesar 0,65 persen.

Laju

Inflasi Inflasi

Jun 2014 Des 2014 Mei 2015 Jun 2015

tahun Kalender 2015 ** [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] U m u m 113,64 120,21 120,42 120,46 0,03 0,21 6,00 0,03 1 Bahan Makanan 113,26 122,39 120,87 120,09 -0,65 -1,88 6,03 -0,13

2 Makanan Jadi, minuman, Rokok, dan

Tembakau 123,72 128,19 131,66 132,34 0,52 3,24 6,97 0,11

3 Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan

Bahan bakar 108,97 113,76 115,89 116,05 0,14 2,01 6,50 0,03

4 Sandang 104,78 105,78 106,62 106,69 0,07 0,86 1,82 0,00

5 Kesehatan 107,79 111,21 112,33 112,49 0,14 1,15 4,36 0,01

6 Pendidikan, Rekreasi, dan Olah raga 107,42 113,51 113,84 113,87 0,03 0,32 6,00 0,00

7 Transportasi, Komunikasi, dan Jasa

Keuangan 115,67 126,94 122,42 122,47 0,04 -3,52 5,88 0,01

*) Perubahan IHK bulan Juni 2015 terhadap IHK bulan Mei 2015 **) Perubahan IHK bulan Juni 2015 terhadap IHK bulan Desember 2014 ***) Perubahan IHK bulan Juni 2015 terhadap IHK bulan Juni 2014

[1]

Tabel 1

Perkembangan Inflasi/Deflasi Kota Palu Menurut Kelompok Pengeluaran (2012=100) Juni 2015

Indeks Harga Konsumen

Year on Year ***

Andil Inflasi

Kelompok Pengeluaran Inflasi Juni 2015*

Perkembangan inflasi/deflasi menurut kelompok pengeluaran Kota Palu selama Juni 2015

secara lebih rinci sebagai berikut:

1. Bahan Makanan

Kelompok bahan makanan selama Juni 2015 mengalami penurunan indeks harga sebesar 0,65 persen yakni dari 120,87 pada Mei 2015 menjadi 120,09 pada Juni 2015. Secara keseluruhan kelompok bahan makanan memberikan andil terhadap deflasi sebesar 0,13 persen. Penurunan indeks harga terjadi pada

(3)

subkelompok ikan segar (8,41 persen), ikan diawetkan (0,61 persen), sayur-sayuran (0,43 persen), padi-padian, umbi-umbian, dan hasil-hasilnya (0,22 persen). Sedangkan kenaikan indeks harga terjadi pada subkelompok bumbu-bumbuan (10,57 persen), telur, susu, dan hasil-hasilnya (4,55 persen), daging dan hasil-hasilnya (4,24 persen), kacang-kacangan (1,86 persen), bahan makanan lainnya (0,51 persen), buah-buahan (0,46 persen), serta lemak dan minyak (0,09 persen).

Beberapa komoditas kelompok bahan makanan yang memiliki andil terhadap deflasi meliputi ikan layang (0,17 persen), ikan cakalang (0,17 persen), ikan ekor kuning (0,12 persen), ikan selar (0,11 persen), beras (0,01 persen), nangka muda (0,01 persen), ikan teri kering (0,01 persen), bayam (0,01 persen), dan komoditas lainnya di bawah 0,01 persen. Sedangkan beberapa komoditas yang memiliki andil terhadap inflasi meliputi telur ayam ras (0,10 persen), bawang merah (0,09 persen), ayam hidup (0,04 persen), ikan teri segar (0,03 persen), daging ayam ras (0,03 persen), bawang putih (0,03 persen), cabai merah (0,03 persen), ikan kembung (0,02 persen), cabai rawit (0,01 persen), tempe (0,01 persen), jagung manis (0,01 persen), ikan bandeng (0,01 persen), udang basah (0,01 persen), dan komoditas lainnya di bawah 0,01 persen.

2. Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau

Dibandingkan bulan sebelumnya, kelompok ini mengalami kenaikan indeks harga sebesar 0,52 persen dari 131,66 menjadi 132,34 selama Juni 2015. Andil kelompok ini terhadap inflasi sebesar 0,11 persen. Kenaikan indeks harga terjadi pada subkelompok minuman yang tidak beralkohol sebesar 0,71 persen dan makanan jadi sebesar 0,63 persen. Sementara subkelompok tembakau dan minuman beralkohol selama Juni 2015 relatif tetap.

Komoditas pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau yang memberikan andil terhadap inflasi terutama berasal dari mie olahan sebesar 0,09 persen, gula pasir sebesar 0,02 persen, dan beberapa komoditas lainnya dengan andil yang tidak signifikan.

3. Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan Bahan Bakar

Kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar mengalami kenaikan indeks harga sebesar 0,14 persen, yakni dari 115,89 pada Mei 2015 menjadi 116,05 pada Juni 2015. Secara keseluruhan, kelompok ini memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,03 persen. Selama Juni 2015, seluruh subkelompok pengeluaran mengalami kenaikan indeks harga meliputi perlengkapan rumahtangga (0,36 persen), bahan bakar, penerangan dan air (0,22 persen), penyelenggaraan rumahtangga (0,17 persen), serta biaya tempat tinggal (0,08 persen).

Beberapa komoditas yang mempengaruhi tingkat inflasi dalam kelompok ini berasal dari seng (0,012 persen), tarif listrik (0,011 persen), sabun cair (0,004 persen), kulkas (0,003 persen), kompor (0,002 persen), mesin cuci (0,001 persen), dan beberapa komoditas lainnya dengan andil di bawah 0,001 persen.

(4)

4. S a n d a n g

Kelompok sandang mengalami kenaikan indeks harga sebesar 0,07 persen, yakni dari 106,62 pada Mei 2015 menjadi 106,69 pada Juni 2015. Secara keseluruhan, andil terhadap inflasi kurang signifikan sebesar 0,004 persen. Subkelompok yang mengalami kenaikan indeks harga yakni barang pribadi dan sandang lain sebesar 0,20 persen dan sandang wanita sebesar 0,08 persen. Sedangkan subkelompok sandang laki-laki dan sandang anak-anak selama Juni 2015 relatif tetap.

Komoditas yang mempengaruhi tingkat inflasi dalam kelompok ini yakni ongkos jahit pakaian (0,002 persen), celana panjang jeans wanita (0,001 persen), emas perhiasan (0,001 persen), dan beberapa komoditas lainnya di bawah 0,001 persen.

5. K e s e h a t a n

Dibandingkan bulan sebelumnya, kelompok kesehatan mengalami kenaikan indeks harga sebesar 0,14 persen yakni dari 112,33 pada Mei 2015 menjadi 112,49 pada Juni 2015. Kelompok kesehatan memiliki andil terhadap inflasi sebesar 0,01 persen. Dari empat subkelompok pengeluaran untuk kesehatan, terjadi kenaikan indeks harga pada subkelompok obat-obatan sebesar 0,85 persen. Sedangkan subkelompok jasa kesehatan, jasa perawatan jasmani, serta perawatan jasmani dan kosmetika selama Juni 2015 relatif tidak mengalami perubahan.

Komoditas yang memiliki andil terhadap inflasi didominasi oleh obat gosok sebesar 0,003 persen, obat flu sebesar 0,002 persen, dan obat batuk sebesar 0,001 persen. Sementara itu, andil komoditas lainnya relatif tidak signifikan.

6. Pendidikan, Rekreasi, dan Olahraga

Indeks harga kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga selama Juni 2015 mengalami kenaikan sebesar 0,03 persen, atau dari 113,84 pada Mei 2015 menjadi 113,87 pada Juni 2015. Secara umum kelompok ini memberikan andil kurang signifikan terhadap inflasi sebesar 0,001 persen. Subkelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks harga yakni rekreasi sebesar 0,14 persen. Sedangkan subkelompok pendidikan, kursus-kursus/pelatihan, perlengkapan/peralatan pendidikan, serta olahraga selama Juni 2015 relatif stabil.

Komoditas yang memiliki andil terhadap inflasi terutama berasal dari majalah berkala/dewasa sebesar 0,002 persen, majalah remaja sebesar 0,002 persen, surat kabar harian sebesar 0,001 persen, dan beberapa komoditas lainnya di bawah 0,001 persen.

7. Transportasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan

Kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami kenaikan indeks harga sebesar 0,04 persen yakni dari 122,42 pada Mei 2015 menjadi 122,47 pada Juni 2015. Secara keseluruhan

(5)

pengeluaran, yang mengalami kenaikan indeks harga adalah subkelompok sarana dan penunjang transportasi sebesar 0,15 persen serta transportasi sebesar 0,04 persen. Sedangkan subkelompok komunikasi dan pengiriman serta jasa keuangan selama Juni 2015 relatif stabil.

Komoditas yang dominan memiliki andil terhadap inflasi yakni bensin sebesar 0,010 persen dan ban luar motor sebesar 0,002 persen.

II. Perkembangan Inflasi/Deflasi Selama Tiga Tahun Terakhir

Selama Juni 2015, Kota Palu mengalami inflasi sebesar 0,03 persen, merupakan capaian inflasi terendah dibandingkan Juni 2013 sebesar 0,88 persen dan Juni 2014 sebesar 0,94 persen. Laju inflasi sampai dengan Juni 2015 sebesar 0,21 persen, jauh lebih rendah dibandingkan Juni 2014 sebesar 2,90 persen dan Juni 2013 sebesar 0,38 persen. Sementara itu, laju inflasi year on year tahun 2015 sebesar 6,00 persen, lebih rendah dibandingkan tahun 2014 sebesar 10,37 persen. Namun demikian, masih lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2013 yang hanya sebesar 3,89 persen.

No. Inflasi 2013 2014 2015

1 Inflasi Juni 0,88 0,94 0,03

2 Laju Inflasi (Tahun Kalender) 0,38 2,90 0,21

3 Laju Inflasi (Year on Year ) 3,89 10,37 6,00

Tabel 2

Perbandingan Inflasi/Deflasi Bulanan dan Laju Inflasi Kota Palu Tahun 2013 - 2015 -3,00 -2,00 -1,00 0,00 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des

Grafik 1

Inflasi/Deflasi Bulanan Kota Palu Tahun 2013 - 2015

(6)

III. Perbandingan Inflasi/Deflasi Nasional dan Kawasan Sulampua

Selama Juni 2015, inflasi nasional sebesar 0,54 persen. Berdasarkan tahun kalender, terjadi inflasi sebesar 0,96 persen. Tingkat inflasi year on year sebesar 7,26 persen. Dari 82 kota pantauan, 76 kota mengalami inflasi dan 6 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Sorong sebesar 1,90 persen, sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Kota Tual sebesar 0,80 persen. Kota Palu mengalami inflasi sebesar 0,03 persen, menduduki peringkat ke-76 di tingkat nasional dan ke-15 di Kawasan Sulampua.

IHK Inflasi (%) Laju Inflasi

(%) Y o Y [2] [3] [4] [5] 1 Sorong 119,69 1,90 3,15 8,93 2 Manokwari 113,99 1,14 1,25 6,15 3 Bau-Bau 123,88 1,13 1,63 9,90 4 Mamuju 118,65 0,95 1,54 7,59 5 Ternate 123,67 0,89 1,12 8,22 6 Jayapura 121,42 0,80 1,01 8,15 7 Palopo 117,88 0,77 1,15 6,89 8 Makassar 118,67 0,75 1,86 8,61 9 Gorontalo 115,98 0,71 0,62 6,09 10 Pare-Pare 116,96 0,68 -0,64 6,98 11 Bulukumba 125,55 0,63 -0,05 6,12 12 Watampone 116,35 0,54 -0,85 4,27 13 Manado 119,91 0,49 1,10 8,73 14 Kendari 115,67 0,28 -0,42 6,40 15 Palu 120,46 0,03 0,21 6,00 16 Ambon 120,87 -0,25 5,07 8,06 17 Merauke 123,24 -0,57 -0,53 8,35 18 Tual 133,57 -0,80 6,57 17,83 [1] Tabel 3

Perbandingan Indeks Harga dan Tingkat Inflasi/Deflasi Beberapa Kota di Kawasan Sulampua

Juni 2015 Kota -0,80 -0,57 -0,25 0,03 0,28 0,49 0,54 0,63 0,68 0,71 0,75 0,77 0,80 0,89 0,95 1,13 1,14 1,90 Gambar 2. Inflasi Kawasan Sulampua

Gambar

Gambar 2.  Inflasi Kawasan Sulampua  Bulan Juni 2015

Referensi

Dokumen terkait

Dari pengukuran dinamik dan statik dibuat model hubungan konstanta elastik seperti, modulus Young (E), modulus bulk (K), dan nisbah Poisson dengan porositas terhadap batugamping

Namun dalam pembuatannya tersebut diperlukan suatu analisa yang mana diperlukan untuk mengetahui kelayakan produk melalui beberapa pengujian terkait produk pangan

Iktiyanto (2010) menyatakan bahwa Nitrogen merupakan unsur yang paling dominan diantara unsur yang diperlukan oleh tanaman tebu karena berfungsi untuk

Ketika dilihatnya mata Perawan Maha Sakti mulai redup dan menjadi sayu, senyum tipisnya kian mekar penuh harap, napasnya mulai tampak tak teratur, bibirnya sering digigit

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang berjudul “ Pengujian Serta Analisis Berbagai Bentuk Kolom Beton Bertulang Terhadap Kapasitas Lentur dan Daktilitas Menahan

Benar saja, ketika pihak FA melakukan penyelidikan sedikitnya federasi sepakbola Inggris tersebut menemukan ada tujuh pemain dari kedua kesebelasan yang terlibat dalam

Secara umum keberhasilan anggaran sebagai alat perencanaan dan pengendalian perusahaan sangat ditentukan oleh beberapa faktor dalam sistem penyusunan anggaran itu

Serta pihak-pihak lain yang turut membantu penulis baik secara langsung.. maupun