• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH DEBAT CAPRES 2019 DI TELEVISI TERHADAP PARTISIPASI POLITIK MASYARAKAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH DEBAT CAPRES 2019 DI TELEVISI TERHADAP PARTISIPASI POLITIK MASYARAKAT"

Copied!
183
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH DEBAT CAPRES 2019 DI TELEVISI

TERHADAP PARTISIPASI POLITIK MASYARAKAT

Diajukan Oleh :

Nama : Helda Rahmania

Nim : 2015 – 41 – 163

Konsentrasi : Hubungan Masyarakat

Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Guna Mencapai Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi

Program Studi Ilmu Komunikasi Jakarta

(2)
(3)
(4)
(5)

i

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan taufik dan hidayahNya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan penelitian yang berjudul “Pengaruh Debat Capres 2019 Di Televisi Terhadap Partisipasi Politik Masyarakat” untuk memenuhi syarat guna mencapai gelar Sarjana Strata Satu (S1) Ilmu Komunikasi Konsentrasi Humas di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Peneliti berusaha semaksimal mungkin agar dapat memenuhi harapan semua pihak mengenai tujuan penelitian dan sebagai sambutan atas pesta demokrasi rakyat Indonesia dalam Pemilihan Umum 2019. Penelitian ini dapat memberikan dampak postif bagi kehidupan sosial dan perpolitik masyarakat Indonesia. Penulis mengucapkan terimakasih kepada Allah SWT dan berbagai pihak yang telah memberikan izin dan kelancaran hingga detik ini dalam penyelesaian penelitian dan kepada Ooang tua yang selalu mendoakan dan mensupport baik moril maupun materi.

Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi kita semua dalam rangka menambah wawasan pengetahuan.

Jakarta, 8 Agustus 2019 Peneliti

(6)

ii

utama terima kasih untuk Tuhan YME yang sudah saya risaukan dengan permintaan – permintaan saya selama proses penelitian. Selain itu, ucapan terimakasih juga turut diberikan kepada;

1. Ibu Ai Yayah Handani Sari atas kemampuan yang luar biasa membidik saya lewat dekapan Tuhan.

2. Bapak Asim Kelana untuk mengantarkan saya hingga tahap ini.

3. Dekan Fakultas Komunikasi, yaitu Bapak Dr. Prasetya Yoga Santoso, M.M dan Bapak Dr. Wahyudi M. Pratopo, M.Si selaku Ketua Program Studi Humas Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

4. Dosen Pembimbing I saya Bapak H. Hanafi Murtani, MM dan Dosen Pembimbing II saya Bapak Kustiatno SE, M.Si.

5. Seluruh dosen FIKOM UPDM(B) yang banyak memberikan saya ilmu dan pengetahuan, dan segenap staff kepustakaan FIKOM UPDM(B) yang sudah banyak membantu.

6. Teman – teman yang sudah memberikan dorongan semangat untuk berjuang menyelesaikan skripsi ini. (Larasati Destarini, Zefanya Pamela, Leni Yunita dan Bismo Pamenang).

(7)

ii Hanna, Dina, Dicky, Zul & Saka).

8. Kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini dan karena keterbatasan penulis tidak dapat menyebutkan satu persatu.

Jakarta, 5 September 2019 Peneliti

Helda Rahmania

(8)

ii LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI

SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS SKRIPSI

KATA PENGANTAR ... i

UCAPAN TERIMA KASIH ... ii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

ABSTRAK ... xiii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian ... 1

1.2 Fokus Masalah ... 8 1.3 Rumusan Masalah ... 8 1.4 Tujuan Penelitian ... 9 1.5 Signifikansi Penelitian ... 9 1.5.1 Kegunaan Teoritis ... 9 1.5.2 Kegunaan Praktis ... 10

BAB II KAJIAN PUSTAKA, TEORI DAN HIPOTESIS DAN KERANGKA KONSEP 2.1 Kajian Pustaka ... 11

(9)

ii 2.1.2.2 Proses Komunikasi ... .16 2.1.2.3 Fungsi Komunikasi ... 18 2.1.2.4 Tujuan Komunikasi ... 19 2.1.2.5 Public Relation ... 20 2.1.3 Komunikasi Massa... 22 2.1.4 Komunikasi Politik ... 28

2.1.5 Media dan Politik ... 30

2.1.6 Program Tayangan ... 37 2.1.7 Pengertian Televisi ... 40 2.1.8 Pengertian Debat ... 41 2.1.8.1 Etika Debat ……….. 42 2.1.9 Partisipasi Politik ... 43 2.2 Kerangka Teori ... 46

2.2.1 Teori Stimulus Organisme Respon (S-O-R) .... 47

2.2.2 Teori Program Tayangan ... 48

2.2.3 Teori Penilaian Sosial ... 50

2.2.4 Teori Pilihan Rasional ... 53

2.3 Hipotesis Penelitian ... 55

2.4 Kerangka Konsep ... 56

2.4.1 Variabel bebas ... 56

(10)

ii 3.1 Paradigma Penelitian ... 61 3.2 Pendekatan Penelitian ... 63 3.3 Jenis Penelitian ... 64 3.4 Metode Penelitian ... 64 3.5 Populasi ... 65

3.6 Teknik pengambilan sampel ... 65

3.7 Teknik Pengumpulan Data ... 67

3.7.1 Kuisioner (angket) ... 67

3.7.2 Studi Kepustakaan ... 67

3.8 Uji Validitas dan Reabilitas Instrumen ... 68

3.8.1 Uji Validitas & Uji Reliabilitas ... 68

3.9 Teknik Analisis Data ... 69

3.10 Hipotesis Statistik ... 72

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Obyek Penelitian dan Subjek Penelitian ... 73

4.1.1 Profil Singkat Humas ………. 73

4.1.2 Sejarah Program Debat Capres ... 74

4.1.3 Profile Program Debat Capres di Indonesia ... 75

4.1.4 Subjek Penelitian ... 77

4.2 Deskripsi Hasil Penelitian ... 82

4.2.1 Uji Validitas & Reabilitas ... 83

(11)

ii

4.3 Analisis Data Hasil Penelitian... 91

4.3.1 Pedoman Analisis Data ... 91

4.3.2 Frekuensi Variabel (X) ... 91

4.3.3 Frekuensi Variabel (Y) ... 111

4.4 Pengujian Hipotesis ... 124

4.4.1 Persamaan Regresi dan Uji t ... 125

4.5 Pembahasan……… 126 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ... 133 5.2 Saran ... 134 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

(12)

ii

Tabel 3.1 Tiga Paradigma Ilmu Sosial ... 62

Tabel 4.1 Jenis Kelamin ... 79

Table 4.2 Usia ... 80

Tabel 4.3 Pendidikan ... 81

Tabel 4.4 Pekerjaan ... 82

Tabel 4.5 Tayangan Debat Capres 2019 Menarik Untuk Ditonton ... 92

Tabel 4.6 Debat Capres 2019 Menarik Untuk Diikuti Dari Awal Sampai Akhir Segmen ... 93

Tabel 4.7 Penyajian Program Debat Capres 2019 Putaran Pertama Hingga Ke-lima menarik ditonton ... 94

Tabel 4.8 Pemiihan Moderator Debat Capres 2019 Setiap Putaran Selalu Menarik ... 95

Tabel 4.9 Ketegasan Moderator Tepat Untuk Memandu Berjalannya Program Debat Capres 2019 ... 96

Tabel 4.10 Peserta Kandidat Pasangan Calon No Urut 1&2 adalah Sosok yang Telah Ditetapkan oleh Publik ... 97 Tabel 4.11 Gaya Bicara Kandidat Debat Dapat Dimengerti Oleh

(13)

ii

Capres 2019 ... 99

Tabel 4.13 Debat Terbuka Calon Presiden dan Wakil Presiden Perlu

Dilakukan Sebelum Pemilu ... 100

Tabel 4.14 Kampanya Politik Sangat Tepat Diadakan Melalui

Media Massa... 101

Tabel 4.15 Debat Capres 2019 Cerminan Netralisasi KPU dalam

Pemilu 2019 ... 102

Tabel 4.16 Segmen Tanya Jawab Dijadikan Adu Visi Misi dan Program

Kerja antara Para Kandidat Debat ... 103

Tabel 4.17 Tema Debat Capres 2019 Bagian Dari Persoalan Bangsa

yang Perlu Dibahas Diruang Publik ... 104

Tabel 4.18 Perhatian Tidak Hanya Tertuju Pada Jawaban Para

Kandidat Namun Juga Tingkah Laku Mereka di Atas

Panggung ... 105

Tabel 4.19 Pemilihan para Panelis Dalam Membentuk Pertanyaan

Debat Sudah Tepat ... 106

(14)

ii

Tabel 4.21 Debat Capres 2019 di Televisi Lebih Menarik Dibandingkan

Live Streaming Melalui Platform Digital (Youtube) ... 108

Tabel 4.22 Rekapitulasi Nilai Variabel X 1 ... 109 Tabel 4.23 Hak Pilih Dalam Pemilihan 2019 adalah Hak Setiap Warga

Negara ... 111

Tabel 4.24 Menurut Anda Pasangan Calon No Urut 1 & 2 Sudah

Familiar Dimata Publik ... 113 Tabel 4.25 Pemilihan Isu-isu Senstitive Mengenai Persoalan Bangsa

Tepat Untuk Dibahas dalam Debat Capres 2019 ... 114 Tabel 4.26 Isu-isu Tersebut Tepat Dijadikan Untuk Tema Debat

Capres 2019 ... 115

Tabel 4.2 Tema yang Dibahas Dalam Debat Capres 2019 Mudah

Dipahami ... 116

Tabel 4.28 Isu yang Dibahas Dalam Debat Capres 2019 Menambah

Pengetahuan Baru ... 117 Tabel 4.29 Para Kandidat Debat Menguasai Isu-isu yang

Dibahas ... 118

(15)

ii

Tabel 4.31 Jawaban Calon Kandidat Capres & Cawapres Dalam Debat Capres 2019 Mempengaruhi Pemilihan Anda

Dalam Pemilu... 120

Tabel 4.32 Tema yang Dibahas Dalam Debat Capres 2019 Tidak Berjarak Dalam Realita Masyarakat ... 121

Tabel 4.33 Rekapitulasi Nilai Variabel Y ... 122

Tabel 4.34 Koefisien Determinasi ... 124

Tabel 4.35 Coefficientsa ... 125

(16)

ii

2. Coding Sheet

3. Hasil SPSS

(17)

ii

KONSENTRASI HUBUNGAN MASYARAKAT

ABSTRAK

Nama : Helda Rahmania

NIM : 2015 – 41 – 163

Program Studi : Ilmu Komunikasi

Konsentrasi : Hubungan Masyarakat

Judul Skripsi : Pengaruh Debat Capres

2019 Melalui Televisi Terhadap Partisipasi Masyarakat

Indonesia

Bab : 5 Bab + 34 Buku + 3 Jurnal

Pembimbing I : Dr. H. Hanafi Murtani, MM

Pembimbing II : Kustiatno SE, M.Si

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan Pengaruh Debat Capres 2019 Melalui Televisi Terhadap Partisipasi Politik Masyarakat yaitu variabel x (Debat Capres 2019) dan variabel y (Partisipasi Politik Masyarakat). Peneltian ini didasari oleh menjelang pemilihan Presiden 2019 lembaga KPU menyelenggarakan suatu program Debat terbuka Calon Presiden dan Wakil presiden melalui televisi diharapkan dapat menuntun keterbukaan informasi yang didapat oleh masyarakat sebelum menggunakan hak pilih mereka ketika pemilu mendatang.

Paradigma dalam penelitian adalah Positivisme dan hipotesis dalam penelitian adalah adanya pengaruh program tayangan Debat Capres 2019 terhadap partisipasi politik masyarakat RT 04 RW 05 Pangkalan Jati Baru Kecamatan Cinere Kota Depok. Konsep dan teori yang digunakan adalah Teori Stimulus Organisme Respon (SOR), Teori Program Tayangan, Teori Peniliaian Sosial dan Teori Pilihan Rasional.

(18)

ii

metode koefisien determinasi, regresi sederhana dan korelasi product moment. Dari data hasil rata – rata variable X yaitu Program Tayangan Debat Capres 2019 diperoleh nilai 231dan masuk dalam kategori tinggi. Lalu hasil mean variable y sebesar nilai 239 dan masuk dalam kategori tinggi. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa variabel dari Debat Capres 2019 berpengaruh signifikan terhadap partisipasi politik masyarakat.

Kata kunci : Debat Capres 2019, Partisipasi Politik Masyarakat.

(19)

ii

FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI

KONSENTRASI HUBUNGAN MASYARAKAT

ABSTRAK

Name : Helda Rahmania

NIM : 2015 – 41 – 163

Study Program : Communication

Concentration : Public Relation

Thesis Title : The influence of the 2019 Presidential Debate

show program on the political participation of the community RT 04 RW 05 Pangkalan Jati Baru Sub-district of Cinere Depok City.

Chapter : 5 Chapter + 34 Books + 3 Journals

Advisor I : Dr. H. Hanafi Murtani, MM

Advisor II : Kustiatno SE, M.Si

This study aims to determine and explain the Effects of the 2019 Presidential Debate Show Through Television on Indonesian Political Participation, namely the variable x (Debate Program 2019) and the y variable (Community Political Participation). This research is based on the eve of the 2019 presidential election. KPU institutes organizing an open debate program. Candidates for president and vice president through television are expected to be able to guide the disclosure of information obtained by the public before exercising their voting rights during the upcoming elections.

(20)

ii

Assessment Theory and Rational Choice Theory.

This type of research uses quantitative explanative, the sample used is 60 respondents with simple random sampling technique in the community of RT 04 RW 05 Pangkalan Jati Baru, Cinere Subdistrict, Depok City who watch the Debate and have the right to vote in the Election. The data collection method uses a questionnaire. Data analysis uses the coefficient of determination, simple regression and product moment correlations.

From the data of the average X variable, the 2019 Presidential Candidate Debate, the score was 231 and included in the high category. Then the result of the mean variable y is 239 and goes into the high category. The results of this study indicate that the variables of the 2019 Presidential Debate show program significantly influence the political participation of the community.

Keywords: 2019 Debate Candidate Precidential, Community Political Participation.

(21)

iv

SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS SKRIPSI

KATA PENGANTAR ... i

UCAPAN TERIMA KASIH ... ii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

ABSTRAK ... xiii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian ... 1

1.2 Fokus Masalah ... 9 1.3 Rumusan Masalah ... 9 1.4 Tujuan Penelitian ... 10 1.5 Signifikansi Penelitian ... 10 1.5.1 Kegunaan Teoritis ... 10 1.5.2 Kegunaan Praktis ... 11

BAB II KAJIAN PUSTAKA, TEORI DAN HIPOTESIS DAN KERANGKA KONSEP 2.1 Kajian Pustaka ... 12

(22)

iv 2.1.2.3 Proses Komunikasi ... 22 2.1.2.4 Tujuan Komunikasi ... 23 2.1.2.5 Public Relation ... 24 2.1.3 Komunikasi Massa ... 28 2.1.4 Komunikasi Politik ... 36 2.1.5 Media dan Politik ... 38 2.1.6 Program Tayangan ... 45 2.1.7 Pengertian Televisi ... 49 2.1.8 Pengertian Debat ... 51 2.1.9 Partisipasi Politik ... 51 2.2 Kerangka Teori ... 55 2.2.1 Teori Stimulus Organisme Respon (S-O-R) .... 56 2.2.2 Teori Program Tayangan ... 58 2.2.3 Teori Penilaian Sosial ... 59 2.2.4 Teori Pilihan Rasional ... 64 2.3 Hipotesis Penelitian ... 66 2.4 Kerangka Konsep ... 67 2.4.1 Variabel bebas ... 67 2.4.2 Variabel terikat ... 68

(23)

iv

3.3 Jenis Penelitian ... 76 3.4 Metode Penelitian ... 77 3.5 Populasi ... 77 3.6 Teknik pengambilan sampel ... 78 3.7 Teknik Pengumpulan Data ... 80 3.7.1 Kuisioner (angket) ... 80 3.7.2 Studi Kepustakaan ... 81 3.8 Uji Validitas dan Reabilitas Instrumen ... 81 3.8.1 Uji Validitas & Uji Reliabilitas ... 81 3.9 Teknik Analisis Data ... 82 3.10 Hipotesis Statistik ... 86 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Obyek Penelitian dan Subjek Penelitian ... 87 4.1.1 Sejarah Program Debat Capres ... 87 4.1.2 Profile Program Debat Capres di Indonesia ... 89 4.1.3 Subjek Penelitian ... 90 4.2 Deskripsi Hasil Penelitian ... 95 4.2.1 Uji Validitas & Reabilitas ... 96 4.3 Analisis Data Hasil Penelitian ... 104 4.3.1 Pedoman Analisis Data ... 105 4.3.2 Frekuensi Variabel (X) ... 105

(24)

iv 4.5 Pembahasan……… 140 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ... 147 5.2 Saran ... 149

(25)

ix

Tabel 2.2 Operasionalisasi Konsep ... 70 Tabel 3.1 Tiga Paradigma Ilmu Sosial ... 74 Tabel 4.1 Jenis Kelamin ... 92 Table 4.2 Usia ... 93

Tabel 4.3 Pendidikan ... 94

Tabel 4.4 Pekerjaan ... 95

Tabel 4.5 Tayangan Debat Capres 2019 Menarik Untuk

Ditonton ... 105 Tabel 4.6 Debat Capres 2019 Menarik Untuk Diikuti Dari Awal Sampai

Akhir Segmen ... 107

Tabel 4.7 Penyajian Program Debat Capres 2019 Putaran Pertama

Hingga Ke-lima menarik ditonton ... 108 Tabel 4.8 Pemiihan Moderator Debat Capres 2019 Setiap Putaran

Selalu Menarik ... 109

Tabel 4.9 Ketegasan Moderator Tepat Untuk Memandu Berjalannya

Program Debat Capres 2019 ... 110

Tabel 4.10 Peserta Kandidat Pasangan Calon No Urut 1&2 adalah

(26)

ix

Capres 2019 ... 113

Tabel 4.13 Debat Terbuka Calon Presiden dan Wakil Presiden Perlu

Dilakukan Sebelum Pemilu ... 114

Tabel 4.14 Kampanya Politik Sangat Tepat Diadakan Melalui

Media Massa... 115

Tabel 4.15 Debat Capres 2019 Cerminan Netralisasi KPU dalam

Pemilu 2019 ... 116

Tabel 4.16 Segmen Tanya Jawab Dijadikan Adu Visi Misi dan Program

Kerja antara Para Kandidat Debat ... 117

Tabel 4.17 Tema Debat Capres 2019 Bagian Dari Persoalan Bangsa

yang Perlu Dibahas Diruang Publik ... 118

Tabel 4.18 Perhatian Tidak Hanya Tertuju Pada Jawaban Para

Kandidat Namun Juga Tingkah Laku Mereka di Atas

Panggung ... 119

Tabel 4.19 Pemilihan para Panelis Dalam Membentuk Pertanyaan

(27)

ix

Program Acara Lainnya ... 121

Tabel 4.21 Debat Capres 2019 di Televisi Lebih Menarik Dibandingkan

Live Streaming Melalui Platform Digital (Youtube) ... 122

Tabel 4.22 Rekapitulasi Nilai Variabel X 1 ... 23 Tabel 4.23 Hak Pilih Dalam Pemilihan 2019 adalah Hak Setiap Warga

Negara ... 125

Tabel 4.2 Menurut Anda Pasangan Calon No Urut 1 & 2 Sudah

Familiar Dimata Publik ... 127 Tabel 4.25 Pemilihan Isu-isu Senstitive Mengenai Persoalan Bangsa

Tepat Untuk Dibahas dalam Debat Capres 2019 ... 128 Tabel 4.26 Isu-isu Tersebut Tepat Dijadikan Untuk Tema Debat

Capres 2019 ... 129

Tabel 4.2 Tema yang Dibahas Dalam Debat Capres 2019 Mudah

Dipahami ... 130

Tabel 4.28 Isu yang Dibahas Dalam Debat Capres 2019 Menambah

Pengetahuan Baru ... 131 Tabel 4.29 Para Kandidat Debat Menguasai Isu-isu yang

(28)

ix

Capres 2019 Mempengaruhi Pemilihan Anda

Dalam Pemilu... 134

Tabel 4.32 Tema yang Dibahas Dalam Debat Capres 2019 Tidak

Berjarak Dalam Realita Masyarakat ... 135

Tabel 4.33 Rekapitulasi Nilai Variabel Y ... 136

Tabel 4.34 Koefisien Determinasi ... 138

(29)

2. Coding SPSS 3. Hasil SPSS

(30)

xiii

ABSTRAK

Nama : Helda Rahmania

NIM : 2015 – 41 – 163

Program Studi : Ilmu Komunikasi

Konsentrasi : Hubungan Masyarakat

Judul Skripsi : Pengaruh Debat Capres

2019 Melalui Televisi Terhadap Partisipasi Masyarakat

Indonesia

Bab : 5 Bab + 34 Buku + 3 Jurnal

Pembimbing I : Dr. H. Hanafi Murtani, MM

Pembimbing II : Kustiatno SE, M.Si

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan Pengaruh Debat Capres 2019 Melalui Televisi Terhadap Partisipasi Politik Masyarakat yaitu variabel x (Debat Capres 2019) dan variabel y (Partisipasi Politik Masyarakat). Peneltian ini didasari oleh menjelang pemilihan Presiden 2019 lembaga KPU menyelenggarakan suatu program Debat terbuka Calon Presiden dan Wakil presiden melalui televisi diharapkan dapat menuntun keterbukaan informasi yang didapat oleh masyarakat sebelum menggunakan hak pilih mereka ketika pemilu mendatang.

Paradigma dalam penelitian adalah Positivisme dan hipotesis dalam penelitian adalah adanya pengaruh program tayangan Debat Capres 2019 terhadap partisipasi politik masyarakat RT 04 RW 05 Pangkalan Jati Baru Kecamatan Cinere Kota Depok. Konsep dan teori yang digunakan adalah Teori Stimulus Organisme Respon (SOR), Teori Program Tayangan, Teori Peniliaian Sosial dan Teori Pilihan Rasional.

Jenis penelitian ini menggunakan eksplenatif kuantitatif, sample yang digunakan sebanyak 60 responden dengan teknis simple random sampling pada masyarakat RT 04 RW 05 Pangkalan Jati Baru Kecamatan Cinere Kota Depok yang menonton Debat dan memiliki hak pilih dalam Pemilu. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis data

(31)

xiii

hasil mean variable y sebesar nilai 239 dan masuk dalam kategori tinggi. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa variabel dari Debat Capres 2019 berpengaruh signifikan terhadap partisipasi politik masyarakat.

(32)

xiii

KONSENTRASI HUBUNGAN MASYARAKAT

ABSTRAK

Name : Helda Rahmania

NIM : 2015 – 41 – 163

Study Program : Communication

Concentration : Public Relation

Thesis Title : The influence of the 2019 Presidential Debate

show program on the political participation of the community RT 04 RW 05 Pangkalan Jati Baru Sub-district of Cinere Depok City.

Chapter : 5 Chapter + 34 Books + 3 Journals

Advisor I : Dr. H. Hanafi Murtani, MM

Advisor II : Kustiatno SE, M.Si

This study aims to determine and explain the Effects of the 2019 Presidential Debate Show Through Television on Indonesian Political Participation, namely the variable x (Debate Program 2019) and the y variable (Community Political Participation). This research is based on the eve of the 2019 presidential election. KPU institutes organizing an open debate program. Candidates for president and vice president through television are expected to be able to guide the disclosure of information obtained by the public before exercising their voting rights during the upcoming elections.

The paradigm in the research is Positivism and the hypothesis in the research is the influence of the 2019 Presidential Debate show program on the political participation of the community RT 04 RW 05 Pangkalan Jati Baru Sub-district of Cinere Depok City. The concepts and theories used are Response Organism Stimulus Theory (SOR), Impression Program Theory, Social Assessment Theory and Rational Choice Theory.

(33)

xiii

coefficient of determination, simple regression and product moment correlations.

From the data of the average X variable, the 2019 Presidential Candidate Debate, the score was 231 and included in the high category. Then the result of the mean variable y is 239 and goes into the high category. The results of this study indicate that the variables of the 2019 Presidential Debate show program significantly influence the political participation of the community.

(34)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Komunikasi adalah suatu proses mengenai pembentukan,

penyampaian, penerimaan dan pengolahan pesan. Setiap pelaku komunikasi

dengan demikian akan melakukan empat tindakan; membentuk,

menyampaikan, menerima dan mengolah pesan. Empat tindakan tersebut lazim terjadi secara berurutan. Membentuk pesan artinya menciptakan suatu ide atau gagasan. Ini terjadi dalam benak kepala seseorang melalui proses kerja sistem saraf. Pesan yang telah terbentuk ini, kemudian disampaikan kepada orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. Bentuk-bentuk pesannya dapat berupa pesan verbal maupun nonverbal. Disamping membentuk dan mengirim pesan, seseorang akan menerima pesan yang disampaikan kepada orang lain. Pesan yang diterimanya ini, kemudian dioleh melalui sistem saraf dan diinterpretasikan. Setelah diinterpretasikan, pesan tersebut dapat menimbulkan tanggapan dari orang tersebut.

Pesan – pesan yang didapat dari proses komunikasi tersebut dapat berupa informasi-informasi yang dijadikan sebagai tanggapan masyarakat terhadap suatu fenomena. Ketergantungan masyarakat akan informasi pada saat ini sangat dibutuhkan sekali untuk menyesuaikan diri dengan fenomena-fenomena sosial yang sedang terjadi maupun sudah terjadi dikehidupan sekitar. Informasi tersebut dapat diperoleh masyarakat salah satunya melalui media massa. Media massa adalah alat atau sarana yang digunakan untuk

(35)

menyampaikan informasi maupun pesan dari komunikator kepada khalayak dan merupakan peran penting untuk mendukung proses komunikasi. Dengan media massa masyarakat akan mudah untuk mendapatkan informasi dimana saja dan kapan saja. Karena media massa dekat kaitannya dengan kehidupan sosial bermasyarakat dimulai dari media massa elektronik, cetak maupun internet. Kemudahan mendapatkan akses informasi menjadikan masyarakat dapat ikut turut serta mengambil peran penting dalam fenomena sosial yang sedang terjadi pada kehidupan sehari - hari.

Salah satu jenis media massa yang sering digunakan oleh masyarakat adalah media elektronik televisi, yang berguna untuk mencari berbagai macam bidang informasi mulai dari politik, sosial hingga hiburan. Televisi adalah media massa yang dapat menyita begitu banyak perhatian masyarakat tanpa mengenal batas usia, jenis kelamin, pendidikan maupun strata sosial masyarakat. Ini disebabkan karena televisi memiliki sejumlah kelebihan terutama kemampuan dalam menyatukan antara fungsi audio dan visual ditambah dengan kemampuan memainkan warna. Melalui media televisi, komunikasi politik mampu menjangkau orang-orang yang cacat sekalipun seperti tuna netra atau tuna rungu. Bagi mereka yang tak dapat melihat bisa menikmati dengan mendengar, begitu juga bagi yang tak dapat mendengar dapat menikmatinya dengan visualisasinya. Selain faktor aktualitas, televisi dengan karakteristik audio visualnya memberikan sejumlah keunggulan, di antaranya mampu menyampaikan pesan melalui gambar dan suara secara bersamaan dan hidup, serta dapat menayangkan

(36)

ruang yang sangat luas kepada sejumlah besar pemirsa dalam waktu bersamaan. Televisi disini sebagai media atau sarana penyebaran arus informasi yang dipancarkan baik melalui gelombang siaran maupun melalui saluran televisi kabel. Proses komunikasi massa yang dilakukan lewat televisi dengan menyampaikan isi pesan maupun informasi memiliki keunggulan dengan informasi maupun pesan tersebut dapat diterima kepada khalayak luas dengan jangkauan waktu yang serentak. Pesan yang disampaikan kepada satu orang akan memiliki dampak yang berbeda apabila pesan tersebut disampaikan secara langsung kepada banyak orang di waktu yang bersamaan. Selain manfaat waktu dan tenaga komunikasi massa memiliki dampak positif dengan keuntungan yang cukup besar lainnya. Komunikasi massa bahkan mampu menggerakkan sebuah massa atau sejumlah besar orang dan komunitas untuk melakukan suatu hal yang diharapkan melalui sebuah pesan. Komunikasi massa adalah jenis kekuatan sosial yang mampu mengarahkan masyarakat dan organisasi media untuk mencapai sebuah tujuan yang telah ditetapkan, seperti contohnya adalah tujuan sosial.

Keunggulan media massa itulah yang terus berlangsung dalam mendukung arus komunikasi pada masyarakat terutama erat kaitannya dengan bidang politik. Televisi dapat memberikan sistem kontrol terhadap elit politik negeri dalam menjalankan kekuasaan dan mengawal terjadinya proses komunikasi politik kepada masyarakat dengan praktis dan efisien. Agar komunikasi bersifat efektif, komunikasi politik harus menjadi posisi

(37)

penting terutama sebagai jembatan untuk menyampaikan pesan-pesan yang dapat memfungsikan kekuasaan.

Dalam komunikasi politik, media massa adalah sarana dan aspek utama yang dalam mendukung kegiatan. Berbagai metode dan kegiatan komunikasi seperti pemberitaan, iklan, kampanye, propaganda, Public relations dan lainnya sebagai bagian dari proses komunikasi politik yang cukup dominan menghiasi media massa. Maka dari itu, salah satu kegiatan komunikasi politik melalui media massa dapat dilihan menjelang Pemilihan presiden 2019 seperti saat sekarang ini, tidak heran bila begitu riuhnya hiruk-pikuk perpolitikan di negeri ini yang sudah dirasakan jauh-jauh hari. Seolah tidak ada yang lain lagi isu di negara kita ini. Walaupun ada namun nuansa politik sangat kental mengisi berbagai media. Begitu kuatnya aroma intrik politik dalam media massa saat sekarang ini terlihat dari berbagai isu saling serang antar pendukung pasangan calon presiden nomor urut satu maupun nomor urut dua, guna mempengaruhi pilihan para pemilih pada pemilu nanti.

Dengan begitu menjelang Pemilu serentak yang akan diadakan pada

17 April 2019 mendatang, Komisi Pemilihan Umum (KPU)

menyelenggarakan suatu program pada media televisi berupa Debat terbuka calon presiden dan wakil presiden 2019. Debat terbuka yang disiarkan langsung oleh stasiun-stasiun televisi di Indonesia diharapkan dapat menuntun keterbukaan informasi yang didapat oleh masyarakat sebelum menggunakan hak pilih mereka ketika pemilu mendatang. Serta dapat membentuk opini masyarakat secara jelas mengenai kredibilitas calon

(38)

presiden dan wakil presiden yang akan mereka unggulkan dalam pemilu mendatang. Sebab visi misi yang ditawarkan calon presiden dan wakil presiden masih menjadi alasan pemilih untuk menentukan pilihan mereka.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk meneliti Debat terbuka calon presiden dan wakil presiden 2019 dikarenakan dalam tayangan tersebut akan terdapat sebuah praktik komunikasi politik yang dijalankan oleh peserta debat dengan fungsi penyampaian pesan berupa visi misi serta pemaparan pengetahuan dan rencana dalam memecahkan permasalahan yang merundung negera Indonesia sekarang ini lewat media massa televisi. Dalam penyampaian pesan tersebut pasangan calon harus melalui proses komunikasi. Dimana dalam proses tersebut harus direncakan starategi yang digunakan untuk menilai berhasil maupun tidaknya pesan berupa visi misi yang disampaikan kepada masyarakat luas. Oleh karena itu, pengelolaan kesan merupakan bagian terpenting dalam komunikasi politik di televisi. Visualisasi tubuh dan artikulasi verbal dari para kandidat maupun tim sukses atau para panelis dan moderator debat dalam penayangan tersebut merupakan bagian dari fungsi bahasa yang harus diperhatikan sehingga dengan demikian penayangan itu merupakan hasil dari pengolahan citra melalui bahasa, yang menurut istilah Ben Anderson gejala ini disebut ‘penopengan’ yang mereduksi, bahkan mendistorsi pesan yang seharusnya tampil sebagaimana adanya.

Segmentasi Debat yang dimaksud dapat memberikan dorongan kepada masyarakat dalam membentuk kesan atau opini untuk para kandidat,

(39)

ditunjukan pada saat para kandidat menjawab pertanyaan yang sebelumnya telah ditentukan oleh para panelis yang didatangkan dari berbagai aktor politik bangsa hingga guru besar dan dosen di perguruan tinggi di Indonesia. Pertanyaan tersebut disesuaikan oleh isu-isu sensitif yang sedang berlangsung di kehidupan masyarakat dan menjadi permasalahan yang diharapkan dapat dipecahkan atau diselesaikan oleh kandidat presiden dan wakil presiden terpilih nantinya. Tentunya para kandidat mempunyai strategi tersendiri dalam menyampaikan solusi yang ditawarkan untuk permasalahan-permasalahan tersebut sehingga jawaban yang diberikan dapat menarik perhatian masyarakat.

Debat capres 2019 yang disiarkan perdana sejak tanggal 17 Januari 2019 dengan format Debat Capres tahun ini berbeda dengan Debat pada tahun 2014 sebelumnya dimana pada Debat kali ini akan disiarkan oleh 18 stasiun televisi dengan mekanisme untuk membagi 18 stasiun menjadi 5 grup. Grup dibagi berdasarkan rangkaian debat, yakni 5 kali debat kandidat. Masing-masing grup mendapat akses khusus meliput langsung para paslon di ruang debat. Rangkaian debat dibagi menjadi lima tema yang ditentukan langsung oleh KPU berdasarkan jadwal Debat yang telah ditentukan. Kemudian Debat dipandu langsung oleh dua moderator untuk mengiringi berjalannya penyampaian visi misi kedua paslon termasuk ketika berada disegmen tanya jawab.

Adanya tayangan Debat terbuka yang disiarkan secara langsung dan serentak diberbagai stasiun televisi dalam bentuk bukti perwujudan pilar

(40)

demokrasi negera ini terhadap keterbukaan informasi publik. Bahwa sesungguhnya segala informasi yang berhubungan dengan rakyat yaitu masyarakat Indonesia harus turut serta disampaikain secara jelas dan tepat kepada khalayak luas. Dalam menyambut pesta demokrasi pada tahun ini turut dimeriahkan oleh berbagai fanatisme para kandidat yang menjadi bukti bahwa pesan yang disampaikan lewat media massa dapat membentuk opini masyarakat dalam menyerap isi pesan tersebut. Fanatisme tersebut semakin terbentuk atas gambaran yang diberikan oleh tayangan Debat lewat media massa dan menjadi sebuah dukungan yang dibutuhkan oleh para kandidat dalam menjadi pasangan terpilih nantinya.

Dengan tayangan debat capres tersebut merupakan salah satu bentuk upaya pemerintah untuk memperkecil bahkan mentiadakan pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya dalam pemilu atau sering disebut sebagai Golput (Golongan Putih). Tayangan tersebut diharapkan dapat meningkatkan partisipasi politik masyarakat dalam berani menentukan kandidat pilihan mereka. Pemilih yang memiliki motivasi, prinsip, pendidikan serta pengetahuan cenderung akan menggunakan hak pilih mereka. Hak pilih yang ditentukan tersebut yang menjadi bukti bagaimana masyarakat telah berpartisipasi dalam penentuan siapa penguasa politik negara Indonesia periode mendatang.

Namun seorang pemilih umumnya tidak memiliki informasi yang baik dibidang politik oleh karena informasi yang diterima tidak seimbang, sehingga menyebabkan mereka memilih tidak rasional. Terhadap hal ini

(41)

diketahui prasyarat lainya dalam menggunakan hak pilih adalah adanya akses informasi terhadap kebijakan pemerintah oleh masyarakat, tanpa akses informasi ini mustahil masyarakat dapat menilai kandidat yang akan dipilih. Oleh karena itu dengan ditayangkannya langsung Debat Capres 2019 akan membuka akses pengetahuan masyarakat dalam menjadi pemilih yang rasional dan menentukan untung rugi yang mereka dapat dengan mempertimbangkan visi misi yang ditawarkan para pasangan calon presiden dan calon wakil presiden pada tayangan Debat.

1.2 Fokus Masalah

Fokus masalah ini adalah usaha untuk menetapkan fokus-fokus dari masalah penelitian yang akan diteliti. Fokus masalah ini berguna bagi kita untuk mengidentifikasi faktor mana saja yang tidak termasuk dalam ruang lingkup masalah penelitian. (Usman dan Akbar, 2001:23)

Guna membatasi permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini, maka penelitian difokuskan pada hal; Pengaruh Program Debat Capres 2019 di televisi terhadap partisipasi politik masyarakat. Sesuai dengan bidang konsentrasi yang dipelajari yaitu Humas. Dengan masalah yang akan penulis batasi pada bagaimana pengaruh program Debat Capres 2019 dalam memberikan informasi yang dapat mempengaruhi partisipasi politik masyarakat.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas perumusan masalah dalam penelitian ini adalah: “Bagaimana Debat Capres

(42)

2019 Di televisi berpengaruh terhadap partisipasi masyarakat RT 04 RW 05 Pangkalan Jati Baru, Kecamatan Cinere, Kota Depok?”

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penelitian ini adalah:

1. Meneliti kualitas program tayangan Debat Capres 2019 pada masyarakat RT 04 RW O5 Pangkalan Jati Baru, Kecamatan Cinere, Kota Depok. 2. Mengetahui partisipasi politik masyarakat RT 04 RW 05 Pangkalan Jati

Baru, Kecamatan Cinere, Kota Depok terhadap Debat Capres 2019 di televisi.

3. Ada atau tidaknya pengaruh tayangan Debat Capres 2019 terhadap partisipasi politik masyarakat RT 04 Rw 05 Pangkalan Jati Baru, Kecamatan Cinere, Kota Depok.

4. Mengukur besaran pengaruh tayangan Debat Capres 2019 terhadap partisipasi politik masyarakat RT 04 Rw 05 Pangkalan Jati Baru, Kecamatan Cinere, Kota Depok.

1.5 Signifikansi Penelitian

Signifikansi penelitian adalah suatu manfaat yang dapat diperoleh dengan adanya suatu penelitian yang dilakukan. Dengan adanya penelitian ini mempunyai dua macam manfaat sebagai berikut:

1.5.1 Kegunaan Teoritis

a. Sejauh mana penelitian ini dapat mendukung perkembangan ilmu

metodelogi dalam mengungkap permasalahan partisipasi politik

(43)

b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi perkembangan ilmu komunikasi khususnya kajian hubungan masyarakat (Public Relations) dalam merencanakan hubungan dan menjalankan arus informasi komunikasi massa dari penelitian ini.

1.5.2 Kegunaan Praktis

a. Memberi informasi mengenai partisipasi politik yang diharapkan masyarakat RT 04 RW 05 Pangkalan Jati Baru, Cinere Depok dalam menonton program tayangan Debat Capres 2019 di Televisi.

b. Memberikan gambaran yang jelas bahwa sejauh mana kepuasan informasi penonton terhadap program tayangan Debat Capres 2019 memberi pengaruh terhadap kebutuhan partisipasi politik masyarakat.

(44)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA, TEORI DAN HIPOTESIS DAN KERANGKA KONSEP 2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Penelitian sejenis

Penelitian terhadap pengaruh program tayangan televisi sangat banyak dilakukan. Guna melakukan penelitan yang baik, peneliti telah mempelajari beberapa penelitian terdahulu. Peneliti mengambil contoh dari skripsi peneliti sebelumnya yang judulnya hampir sama dengan judul yang peneliti lakukan, seperti:

Penelitian pertama yang dilakukan oleh mahasiswa yang bernama Hilzkia Asca Putra mahasiswa FIKOM Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) yang mengambil judul “Pengaruh Program Mata Najwa terhadap Kepuasan Penonton (Survei: 3 Kelas Mahasiswa/I Batch XVII Sekolah Tinggi Ilmu Komuniksi London School of Public Relations)”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh program Mata Najwa terhadap Kepuasan Penonton (Survei: 3 Kelas Mahasiswa/I Batch XVII Sekolah Tinggi Ilmu Komuniksi London School of Public Relations). Dalam penelitian ini teori yang digunakan adalah teori program tayangan dan teori kepuasan penonton.

Paradigma dalam penelitian tersebut adalah Positivisme dan Hipotesis dalam Penelitian adalah adanya pengaruh program Mata Najwa terhadap kepuasan penonton. Jenis penelitian yang digunakan

(45)

adalah peneltian eksplenatif kuantitatif. Penelitian menggunakan teknik simple random sampling yaitu sampel yang diambil secara acak Metode penelitian yang digunakan adalah metode suvey. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara program Mata Najwa terhadap kepuasan penonton.

Penelitian kedua yang dilakukan oleh mahasiswa yang bernama Fauzia Rahmi mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Alauddin Makassar yang mengambil judul “Pengaruh Tayangan Televisi Terhadap Perkembangan Perilaku Anak Pada Murid Kelas IV SD Negeri 47 Tempotikka Kecamatan Masyarakat Kota Palopo”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh tayangan televisi

terhadap perkembangan perilaku anak. Dalam penelitian ini

menggunakan pendekatan kuantitatif.. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori penggunaan dan kepuasaan (uses and gratification theory). Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, kuesioner dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis statistik deskriptif dengan menggunakan presentase dan frekuensi untuk menentukan karakter setiap responden dan analisis statistik inferensial dengan analisis korelasi, analisis regresi linear sederhana serta uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tayangan televisi berpengaruh terhadap perkembangan perilaku anak.

Perbedaaan dengan penelitian sebelumnya dengan penelitian yang akan dilakukan adalah peneliti akan menganalisa pengaruh

(46)

tayangan Debat Capres 2019 yang disiarkan langsung di stasiun - stasiun lokal ditelevisi di waktu yang serentak dengan perubahan minat partisipasi memilih calon presiden dan wakil presiden kandidat Debat pada pemilu 2019 di masyarakat RT 04 RW 05 Pangkalan Jati Baru, Kecamatan Cinere, Kota Depok. Tayangan yang diteliti dalam penelitian ini sangat mengandung unsur sensitif berupa isu – isu yang sedang menjadi perbincangan hangat dikalangan masyarakat. Isu – isu yang dibahas tersebut erat hubungannya dengan kehidupan bersosial masyarakat kini. Tentunya jika membicarakan bidang politik tentu tidak boleh salah informasi sebab hal tersebut mempengaruhi dukungan dan ikatan emosional partisipasi pihak fanatisme dari masing-masing pasangan calon presiden maupun wakil presiden. Dengan pembahasan tersebut sangat memengaruhi tanggapan masyarakat dalam menyambut pesta demokrasi yang akan diadakan pada tanggal 17 April mendatang.

Sedangkan penelitian sebelumnya meneliti mengenai hubungan dari program hiburan berupa talkshow dengan kepuasaan penonton dan perubahan sikap atau perilaku yang dilakukan oleh anak - anak sekolah dasar dengan tayangan televisi yang mereka tonton, tentu dalam penelitian tersebut lebih meneliti pada jenis tayangan hiburan bukan pada bidang politik. Jadi walaupun sama-sama meneliti mengenai program tayangan yang disiarkan melalui media televisi tapi pada dasarnya terdapat berbagai perbedaan dengan penelitian ini.

(47)

2.1.2 Tinjauan Teoritis 2.1.2.1 Komunikasi

Komunikasi merupakan salah satu aspek terpenting dalam kegiatan bersosialisasi. Komunikasi berpengaruh terhadap keberhasilan atau kegagalan atas ide yang disampaikan, sehingga dengan melalui komunikasi segala kepentingan, keinginan dan harapan-harapan baik organiasai dan khalayaknya dapat diketahui dan dimengerti.

Komunikasi mempunyai banyak arti dan masing-masing memberikan penekanan arti, ruang lingkup dan konteks yang bebeda. Fenomena komunikasi adalah suatu yang konstan dan tidak berubah tetapi hanya pemahamannya saja yang berubah. Pengertian komunikasi juga disampaikan oleh Belerson dan Stainer dalam karyanya “Human Behavior” seperti dikutip oleh Effendy dalam bukunya Komunikasi Teori dan Praktek (2003:24), mendefinsikan komunikasi sebagai berikut:

Komunikasi adalah penyampaian informasi, gagasan, emosi, keterampian dan sebagainya dengan menggunakan lambang-lambang, kata-kata, gambar, bilangan, grafik, dan lian-lain. Kegiatan atau proses penyampaian yang biasanya dinamakan komunikasi.

Untuk lebih memahami pengertian komunikasi, kita merujuk pada pendapat Laswell dalam buku “A Confenience Way to Describe An Act of Communicating is to Answer The Following Questions”. Yang menjelaskan cara yang terbaik untuk memahami komunikasi ialah menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: Who, Says What, In Which Channel, To Whom and With What Effect (Effendy, 2001:10)

(48)

Formula Laswell tersebut secara sederhana dapat digambarkan dalam model sebagai berikut:

1 2 3 4 5

(Sumber: Sendjaja, 2013:3.10)

Berdasarkan pendapat tersebut menunjukan bahwa pihak pengirim pesan (Komunikator) pasti mempunyai suatu keinginan untuk mempengaruhi pihak penerima (komunikan) dan karenanya komunikasi harus dipandang sebagai upaya persuasi. Seperti upaya penyampaian pesan dianggap seakan menghasilkan akibat, baik positif ataupun negatif. Hal ini, menurut Laswell banyak ditentukan oleh banyak bentuk dan cara penyampaiannya.

Lalu Kotler (Effendy, 2001:11) menerangkan unsur-unsur dalam proses komunikasi yang ideal setidaknya meliputi:

1. Sender :Komunikator yang menyampaikan pesan

kepada seseorang atau sejumlah orang. 2. Encoding :Penyandian, yakni proses pengalihan pikiran

kedalam bentuk lambang.

3. Message :Pesan yang merupakan seperangkat lambang bermakna yang disampaikan oleh komunikator. 4. Media :Saluran komunikasi tempat berlalunya pesan dari

komunikator kepada komunikan.

5. Decoding :Proses dimana komunikan menetapkan makna

pada lambang yang disampaikan oleh

komunikator kepadanya.

6. Receiver :Komunikan yang menerima pesan dari komunikator.

7. Response :Tanggapan, seperangkat reaksi pada komunikan setelah diterima pesan.

Siapa Mengatakan Apa

Dengan Saluran Apa

Kepada Siapa Dengan Akibat Apa

(49)

8. Feedback :Umpan balik, yakni tanggapan komunikan

apabila tersampaikan atau disampaikan kepada komunikator.

9. Noise :Gangguan tak terencana yang terjadi dalam proses komunikasi sebagai akibat diterimanya pesan lain oleh komunikan yang berbeda dengan pesan yang disampaikan oleh komunikator kepadanya.

Dalam kegiatan komunikasi perlu dipahami agar proses komunikasi berjalan dengan apa yang diharapkan, komunikasi akan berjalan aktraktif bilamana dalam proses komunikasi mempunyai pandangan atau persepsi yang sama akan menyikapi suatu permasalahan.

2.1.2.2 Proses Komunikasi

Proses komunikasi pada hakikatnya adalah proses penyampaian pikiran dan perasaan oleh seseorang (Komunikator) kepada orang lain (Komunikan). Pikiran bisa merupakan gagasan, opini yang muncul dari benaknya. Secara linier, Sendjaja dalam bukunya Pengantar Ilmu Komunikasi (2013:2.2) menyebutkan proses komunikasi sedikitnya melibatkan empat (4) elemen atau komponen sebagai berikut;

1. Sumber/pengiriman pesan/komunikator, yakni seseorang atau sekelompok orang atau suatu organisasi/institusi yang mengambil inisiatif menyampaikan pesan.

2. Pesan, berupa lambang atau tanda seerti kata-kata tertulis atau secara lisan, gambar, angka, gestur.

3. Saluran, yakni sesuatu yang dipakai sebagai alat penyampaian pengiriman pesan (misalnya tlepon radio, surat, surat kabar, majalah, TV, gelombang udara dalam konteks komunikasi antarprbadi secara tatap muka)

4. Penerima/komunikan, yakni seseorang atau sekelompok orang atau organisasi/institusi yang dijadikan sasaran penerima pesan.

(50)

Proses komunikasi terjadi pada diri komunikator dan komunikan, ketika komunikator berniat akan menyampaikan pesan kepada komunikan, maka dalam dirinya terjadi suatu proses. Menurut Effendy dalam bukunya Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek (Effendy, 2007;14) proses komunikasi dibagi menjadi 2 (dua), yaitu:

1. Proses Komunikasi Secara Primer

Proses komunikasi secara primer adalah proses

penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (symbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah Bahasa, isyarat, gambar, warna dan lain sebagainya yang secara langsung mampu “menerjemahkan” pikiran dan tau perasaan komunikator ke komunikan.

2. Proses Komunikasi Secara Sekunder

Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama. Seorang komunikator menggunakan media kedua dalam melancarkan komunikasinya karena komunikasi sebagai sasaranya berada ditempat yang relatif jauh atau jumlahnya banyak. Surat, telepon, fax, surat kabar, majalah, radio, televisi, film dan banyak lagi adalah media kedua yang sering digunakan dalam komunikasi sekunder.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti menyimpulkan bahwa suatu proses komunikasi primer merupakan kebutuhan manusia dalam berhubungan antara satu dengan yang lain, mampu antara kelompok satu dengan yang lain. Hal tersebut dilakukan untuk saling bertukar informasi atau pesan yang ingin disampaikan kepada khalayak dalam ruang lingkup sosialisasi yang luas.

(51)

2.1.2.3 Fungsi Komunikasi

Pada umumnya fungsi dari berkomunikasi adalah untuk saling menyatakan dan mendukung identitas diri dan untuk membangun interaksi sosial dengan orang-orang yang dilingkungan sosial serta untuk mempengaruhi orang lain agar berpikir, merasa, ataupun bertingkah seperti apa yang kita harapkan.

Sedangkan menurut Mulyana (2001:12) fungsi komunikasi dalam bukunya Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar adalah sebagai berikut:

1. Komunikasi Sosial

Fungsi komunikasi sebagai komunikasi sosial setidaknya meng-isyaratkan bahwa komunikasi itu penting untuk membangun konsep diri kita, akulturasi diri, untuk kelangsungan hidup, untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan dan ketegangan, antara lain lewat komunikasi yang bersifat menghibur, daan memupuk hubungan dengan orang lain.

2. Komunikasi Ekspresif

Komunikasi ekspresif tidak otomatis bertujuan

mempengaruhi orang lain, namun dapat dilakukan sejauh

komunikasi tersebut menjadi instrument untuk

menyampaikan perasaan-perasaan (emosi) kita. Pesan tersebut dikompromikasikan melalui pesan-pesan nonverbal. 3. Komunkasi Ritual

Erat kaitannya dengan komunikasi ekspresif adalah komunikasi ritual, yang biasanya dilakukan secara kolektif,

suatu komunitas sering melakukan upacara-upacara

berlainan sepanjang tahun dan sepanjang hidup, yang disebut para antropolog sebgai rites of passage.

4. Komunikasi Instrumental

Komunikasi instrumental mempunyai beberapa tujuan umum: menginformasian, mengajar, mendorong, mengubah sikap dan keyakinan dan mengubah perilaku atau mengerakkan tindakan dan juga untuk menghibur.

Dalam menunjang kebutuhan sosial masyarakat komunikasi memiliki banyak fungsi yang harus dijalankan dalam berbagai bidang

(52)

kehidupan sosial. Dari pengetian fungsi komunikasi diatas menerangkan bahwa ilmu komunikasi adalah kajian ilmu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial masyarakat.

2.1.2.4 Tujuan Komunikasi

Tujuan dari komunikasi tentunya adalah untuk menyampaikan informasi dalam pengertian dalam menyampaikan informasi ini bertujuan untuk menyampaikan informasi dari komunikator kepada komunikan, yang sifatnya memberi tahu. Selain itu komunikasi di sini sifatnya tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga sebagai pemroses, penyimpan dan juga penyebar informasi.

Dalam buku ilmu, teori dan filsafah komunikasi oleh Effendy (2003:28) menyebutkan bahwa terdapat empat tujuan komunikasi yaitu:

1. Mengubah sikap (to hange the attitude)

2. Mengubah opini/pendapat/pandangan (to change the opinion) 3. Mengubah perilaku (to change the behavior)

4. Mengubah masyarakat (to change the society)

Dalam suatu komunikasi tujuan tersebut sangat berhubungan erat dengan berjalannya suatu proses komunikasi. Proses komunikasi memiliki tujuan akhir yaitu mengubah sikap/perilaku khalayak. Dengan tercapainya tujuan ini maka tercapai pula komunikasi yang dilakukannya.

Dalam penelitian ini yang menjadi fokus penelitian penulis adalah hanya proses komunikasi massa yang memiliki tujuan yaitu mempengaruhi perilaku masyarakat dari komunikasi yang dilakukan melalui media massa televisi. Karena objek penelitianya merupakan bentuk penyajian program tayangan acara melalui televisi.

(53)

2.1.2.5 Public Relations

Pada bagian ini, penulis akan membahas mengenai definisi Public Relations yang dipakai dalam penelitian ini. Berikut pendapat para ahli mengenai definisi Public Relations.

Menurut Scott M, Cutlip, Aleen H. Center dan Glen M. Broom dalam bukunya “Effective Public Relations” definisi PR, yakni: Public Relations adalah fungsi manajemen yang menilai sikap-sikap public, mengidentifikasi kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur dari individu atau organisasi atas dasar kepentingan public dan melaksanakan rencana kerja untuk memperoleh pengertian dan pengakuan publik (Ardianto, 2011:8).

Sementara menurut, Denny Griswold, Public Relations adalah suatu fungsi manajemen yang menilai sikap publik, menunjukkan kebijaksanaan dan prosedur dari seorang individu atau sebuah lembaga atas dasar kepentingan publik, merencanakan, dan menjalankan rencana kerja untuk memperoleh pengertian dan dapat diterima dengan baik oleh publik (Danandjaja, 2011:16). Dalam menjalankan tugasnya sebagai penentuan sikap bagi suatu citra organisasi atau perorangan seorang Public Relations tidak boleh lupa mengenai peran-peran pada Public Relations. Menurut Ruslan (2002:10), peran Public Relations sebagai berikut:

1. Sebagai communicator atau penghubung antara organisasi atau lembaga yang diwakili dengan publiknya. Dari uraian tersebut dijelaskan Public Relations berperan sebagai perwakilan perusahaan dalam melakukan komunikasi dengan publik internal dan eksternal.

2. Membina relationship, yaitu berupaya membina hubungan yang positif dan saling menguntungkan dengan pihak publiknya. Dalam hal ini Public Relations berperan dalam melakukan pendekatan hubungan baik dengan publik.

3. Peranan back up management, yakni sebagai pendukung dalam fungsi manajemen organisasi atau perusahaan. Public Relations memiliki peranan sebagai pendukung organisasi yang selalu sigap dalam menjalankan tugas dari atasan/ perusahaan.

(54)

4. Membentuk corporate image, artinya peranan Public Relations berupaya menciptakan citra bagi organisasi atau lembaganya. Selain itu Public Relations juga memiliki fungsi-fungsi dalam menjalankan perannya. Menurut Effendy (Rosady Ruslan, 2002:9), dalam bukunya “Hubungan Masyarakat Suatu Komunikologis” mengemukakan bahwa ada empat fungsi dari Public Relations yaitu:

1. Menunjang kegiatan manajemen dalam mencapai tujuan organisasi. Public Relations bertanggung jawab dalam kegiatan organisasi untuk mencapai tujuan yang diinginkan perusahaan/ organisasi.

2. Membina hubungan yang harmonis antara organisasi dengan publik baik publik eksternal maupun publik internal. Public Relations menjalin hubungan baik dengan berbagai kalangan public baik internal maupun ekternal.

3. Menciptakan komunikasi dua arah timbal balik dengan menyebarkan informasi dari organisasi kepada publik dan menyalurkan opini publik kepada organisasi. Public Relations berfungsi dalam mengkomunikasikan informasi organisasi kepada publik dan mengkomunikasikan opini publik kepada organisasi.

Segala kegiatan pasti memiliki tujuan, seorang Public Relations juga memiliki tujuan-tujuan dalam menjalankan fungsi dan peranannya terhadap masyarakat, Menurut Rosady Ruslan (2002: 246), tujuan Public Relations adalah sebagai berikut:

1. Menumbuh kembangkan citra perusahaan yang positif untuk publik eksternal atau masyarakat dan konsumen.

2. Mendorong tercapainya saling pengertian antara publik sasaran dengan perusahaan.

3. Mengembangkan sinergi fungsi pemasaran dengan Public Relations.

4. Efektif dalam membangun pengenalan merek dan

pengetahuan merek.

(55)

Dari uraian di atas dapat dijelaskan bahwa tujuan Public Relations adalah mengembangkan citra baik terhadap internal dan eksternal,

sebagai penengah di antara publik/masyarakat dan

perusahaan/organisasi/perorangan. Publik yang menjadi sasaran dalam humas adalah:

1. Publik internal yang menjadi sasaran seperti: karyawan/masyarakat (employee relations) dan hubungan dengan pemegang saham (stakeholder relations)

2. Publik eksternal yang menjadi sasaran seperti: costumer relations, consumer relations, suplier relations, community relations, humannity relations, goverment relations.

Dalam hal ini peranan humas bersifat dua arah, yaitu berorientasi kedalam (Internal Humas) dan keluar (Eksternal Humas). Internal humas harus mampu mengidentifikasikan atau mengenal hal-hal yang menumbuhkan gambaran negatif dalam publik masyarakat sebelum kebijakan itu dijalankan oleh oraganisasi. Sedangkan eksternal humas berperan mengusahakan timbulnya sikap dan gambaran positif publik terhadap lembaga yang di walikinya.

2.1.3 Komunikasi Massa

Komunikasi massa adalah komunikasi yang dilkukan di media massa. Media massa dapat dikelompokan ke dalam media massa cetak dan media massa elektronik. Media massa meliputi; koran, majalah, dan

(56)

bulletin. Media massa elektronik mencakup; radio, televisi dan film. Komunikasi melalui media massa pada dasarnya ditujukan ke khalayak yang luas, heterogen, anonim, tersebar, serta tidak mengenal geografis atau kultural. Kegiatan komunikasi melalui media massa bersifat umum, bukan perorangan atau pribadi. Isi pesan yang disampaikan menyangkut kepentingan orang banyak, tidak hanya untuk kepentingan perorangan atau pribadi. Keunggulan dalam pola penyampaian pada media massa berjalan sangat cepat dan mampu mencangkup khalayak luas, bahkan mungkin tidak terbatas secara geografis maupun kultural.

Dalam proses komunikasi yang terjadi pada media massa yakni proses komunikasi yang terjadi pada komunikator (organisasi media) sampai pada khalayak. Untuk menggambarkan proses komunikasi tersebut, peneliti menggambarkan dengan model komunikasi dari Schramm. Model ini menggambarkan tentang fungsi-fungsi yang dilaksanakan oleh komunikator (organisasi media) dan penerima (khalayak) yakni fungsi encoding, interpreting dan decoding.

Gambar 2.3.1

(Sumber, McQuail, Dennis (2014))

Proses komunikasi massa dalam model Schramm dapat diilustrasikan sebagai berikut; Media menerima informasi dan berita dari

(57)

berbagai sumber. Di sini tim redaksi berfungsi sebagai gatekeeper (penjaga gerbang) yang melakukan seleksi atas isi pemberitaan yang layak untuk dimuat. Tim redaksi menjalankan fungsinya sebagai decorder, interpreter, dan encoder. Dalam arti bahwa tim redaksi

membaca, menilai, menyeleksi berita-berita yang masuk dan

memutuskan hal-hal yang layak dimuat atau disiarkan media tersebut. Dalam prosedur ini, materi yang lolos seleksi sering kali dimodifikasikan oleh tim redaksi. Kegiatan selanjutnya adalah menyebarkan atau menyiarkan pesan-pesan media tersebut pada khalayak.

Khalayak media terdiri dari individu-individu. Disinilah kegiatan decoding, interpreting dan decoding juga berlangsung. Setiap individu akan menyeleksi dan menginterpretasikan berita yang dibaca atau program yang didengar atau dilihatnya. Biasanya individu yang terjangkau pesan-pesan media adalah bagian dari suatu kelompok, sehingga pesan-pesan dari media dapat mengalir ke anggota-anggota kelompok di sekelilingnya. Karena proses komunikasi massa berlangsung satu arah maka umpan balik (feedback) hanya bersifat dugaan atau tertunda. Dalam pengerian bahwa bila seseorang tidak tertarik dengan acara yang disiarkan, ia akan berhenti melihat acara tersebut.

Secara umum menurut Sendjaja (2013;1.18) dalam bukunya Pengantar Ilmu Komunikasi menyebutkan karakteristik isi pesan media yang disukai oleh khalayak, seperti:

(58)

1. Novelty

Sesuatu yang “baru” merupakan unsur-unsur terpenting bagi suatu pesan media. Khalayak akan tertarik untuk menonton suatu program acara TV, mendengarkan siaran radio atau

membaca surat kabar/majalah apabila isi pesannya

dipadandang mengungkapkan sesuatu hal yang baru atau belum diketahui.

2. Jarak

Jarak terjadinya suatu peristiwa dengan tempat publikasinya peristiwa itu, mempunyai arti penting. Khalayak akan tertarik untuk mengetahui hal-hal yang berhubungan langsung dengan kehidupan dan lingkungannya.

3. Popularitas

Popularitas tentang tokoh, organisasi/kelompok, tempat dan waktu yang penting dan terkenal akan menjadi berita besar atau menarik perhatian khalayak.

4. Pertentangan

Hal-hal yang mengungkapkan pertentangan, baik dalam bentuk kekerasan ataupun menyangkut perbedaan pendapat dan nilai, biasanya disukai oeh khalayak.

5. Komedi

Manusia pada dasarnya tertarik pada hal-hal lucu dan menyenangkan. Oleh karena itu bentuk-bentuk penyampaian pesan yang bersifat humor (komedi) lazimnya disenangi khalayak.

6. Seks dan keindahan

Salah satu sifat manusia adalah menyenangi unsur seks dan keindahan atau kecantikan sehingga kedua unsur tersebut

bersifat universal. Karena unsur seks dan

keindahan/kecantikan bersifat universal dan menarik perhatian khalayak media massa sering kali menunjukan dua unsur ini. 7. Emosi

Hal-hal yang berkaitan dan menyentuh kebutuhan dasar (basic needs) manusia sering kali bisa menimbulkan emosi dan simpati khalayak. Menurut Abraham A. Maslow kebutuhan dasar manusia mencakup kebutuhan fisik (pangan, sandang, papan), rasa aman, sosial, harga diri dan aktualisai diri. Peristiwa-peristiwa yang menyentuh kebutuhan dasar tersebut akan menimbulkan emosi sekaligus simpati khalayak.

8. Nostalgia

Pengertian nostalgia disini adalah menunjuk pada hal-hal yang mengungkapkan pengalaman di masa lalu. Misalnya orang yang lahir tahun 1940-an akan menyukai lagu-lagu top pada tahun 1960-an. Acara “Berpacu dalam melodi” yang menyajikan lagu-lagu lama, banyak diikuti dan diminati oleh kalangan orang tua.

(59)

9. Human interest

Setiap orang pada dasarnya ingin mengetahui segala peristiwa atau hal yang menyangkut kehidupan orang lain. Gambaran tentang kehidupan orang ini (cerita – cerita human interest) dapat dikemas dalam bentuk berita, feature, biografi dan berbagai bentuk acara deskriptif lainnya. oleh karena itu, untuk menarik perhatian khalayak diperlukan keahlian wartawan dalam menggambarkan atau menuliskan unsur human interest ini.

Selain karakteristik isi pesan yang dimiliki media massa, komunikasi yang dilakukan media massa secara garis besar memiliki dua fungsi pokok: fungsi terhadap masyarakat (societal-function) dan fungsi terhadap individu (individual-function). Kedua fungsi ini terkait dan terjabarkan di dalam proses pengolahan, pengiriman dan penerimaan isi pesan media massa. Pada media elektronik, yaitu isi berbagai program yang disiarkan atau ditayangkan.

Selain itu, dua fungsi komunikasi massa tersebut, satu dengan yang lainnya saling melengkapi. Artinya, fungsi terhadap masyarakat tidak terlepas sama sekali dengan fungsi terhadap individu. Butir-butir dan isi-isi fungsi terhadap masyarakat kegunaannya dapat pula dikenakan pada individu-individu. Perbedaan yang nyata antara kedua fungsi tersebut adalah pada sifatnya. Fungsi terhadap masyarakat bersifat menyangkut orang banyak atau bersifat sosiologis. Dan fungsi terhadap individu bersifat psikologis.

Fungsi terhadap masyarakat memiliki pengertian luas

(60)

sistem-sistem budaya termasuk norma-norma sosial. Menurut Laswell dan Wright (1975) ada empat fungsi komunikasi massa, yaitu:

1. Pengawasan Lingkungan

Pengawasan lingkungan merujuk pada upaya pengumpulan dan penyebaran informasi mengenai berbagai peristiwa yang terjadi di dalam dan di luar lingkungan suatu masyarakat. Media massa seperti majalah, kora, radio, film maupun televisi menyebarkan segala kejadian atau peristiwa yang ada sehingga menjadi informasi bagi khalayak luas. kejadian-kejadian yang berkaitan dengan aspek sosial, politik, ekonomi dan budaya akan selalu dilaporkan setiap media massa. 2. Korelasi Antara Bagian Dalam Masyarakat untuk Menanggapi

Lingkungannya

Fungsi korelasi meliputi interpretasi terhadap informasi dan preskripsi (memberi petunjuk atau alternative) untuk mencapai consensus dalam upaya mencegah konsekuensi-konsekuensi yang tidak diinginkan akan terjadi karena adanya informasi tentang lingkungan tersebut. Setiap sajian berita apalagi yang menyangkut hidup orang banyak akan menjadi stimuli bagi khalayak untuk membiarkan tanggapan atau bebruat sesuatu. Apabila berita disajikan dengan publisitas yang berlebihan dapat menimbulkan mobilisasi yang berlebihan pula. Disinilah

media massa dituntut untuk berpranan dalam

menghubungkan setiap kejadian dengan tanggapan yang dapat muncul dari khalayak.

3. Sosialisasi Atau Peristiwa Nilai-Nilai

Fungsi sosialisai menunjuk pada upaya transmisi dan pendidikan nilai-nilai serta norma-norma dari suatu generasi yang berikutnya atau dari suatu kelompok masyarakat terhadap para anggota kelompoknya yang baru. Fungsi semacam ini fungsi yang telah dilakukan oleh para orang tua atau para guru disekolah. Dalam fungsi ini media massa, telah memberikan kerangka pikir umum yang sangat penting bagi masyarakat. Disini proses transmisi nilai-nilai dan norma-norma sosial yang penting dalam kehidupan akan selalu terjadi.

4. Hiburan

Fungsi hiburan merujuk pada upaya-upaya komunikasi yang bertujuan memberikan hiburan pada khalayak luas. bentuk-bentuk hiburan ini pada media massa mencakup hal-hal seperti kehidupan glamour para arti seni maupun film, keindahan tempat-tempat wisata, kota-kota bersejarah music, olahraga atau permainan-permainan.

(61)

Seperti yang kita tahu fungsi – fungsi media massa sangat membantu kehidupan sosial masyarakat sebab manusia adalah makhluk sosial yang sangat membutuh informasi dalam menjalankan kehidupan sehari – hari, hadirnya media massa menjadi media (alat) untuk memenuhi kebutuhan informasi tersebut.

2.1.4 Komunikasi Politik

Komunikasi politik bukan hanya sekedar proses penyampaian suatu pesan mengenai poliitk oleh seseorang kepada orang lain. Bukan pula merupakan pengertian komunikasi plus atau ditambah pengertin politik. Pengertian komunikasi politik harus dikaji tidak secara otomistik dengan memilah-milah setiap komponen yang terlibat, tetapi harus ditelaah secara holistic paradigmatic dengan melihat kaitan antara komponen yang satu dengan komponen yang lain secara fungsional, dimana terdapat tujuan yang jelas yang akan dicapai. Sedangkan pengertian Komunikasi Politik menurut Ramlan Surbakti dalam bukunya Memahami Ilmu Politik (2010:152), menjalaskan bahwa, Komunikasi politik ialah proses penyampaian informasi mengenai politik dari pemerintah kepada masyarakat dan dari masyarakat kepada pemerintah.

Dalam buku Pengantar Sosiologi Politik Rush dan Althoff (2008: 24) Komunikasi politik dijabarkan sebagai proses di mana informasi politik yang relevan diteruskan dari satu bagian sistem politik kepada bagian lainnya, dan di antara sistem-sistem sosial dengan sistem-sistem politik. Kejadian

(62)

tersebut merupakan proses yang berkesinambungan, melibatkan pula pertukaran informasi di antara individu - individu dengan kelompok kelompoknya pada semua tingkatan masyarakat. Lagi pula tidak hanya mencakup penampilan pandangan - pandangan serta harapan-harapan para anggota masyarakat, tetapi juga merupakan sarana dengan mana pandangan dan asal-usul serta anjuran-anjuran pejabat yang berkuasa diteruskan kepada anggota-anggota masyarakat selanjutnya juga melibatkan reaksi-reaksi anggota-anggota masyarakat terhadap pandangan-pandangan dan janji serta saran-saran para penguasa. Maka komunikasi politik itu memainkan peranan yang penting sekali di dalam sistem politik: komunikasi politik ini menentukan elemen dinamis, dan menjadi bagian menentukan dari sosialisasi politik, partisipasi politik, dan pengrekrutan politik.

Kenyataan dalam kehidupan politik meunjukan, bahwa seseorang pemimpin politik adalah orang yang memiliki kemampuan memobilisasi opini publik; dan kegiatan memobilisasi opini publik adalah komunikasi. Dalam sejarah politik Indonesia kita mengetahui betapa hebatnya kemampuan Bung Karno dalam memobilisasi opini publik, yang dengan komunikasi retorikanya disertai kharismanya yang berkadar tinggi, membawa publik Indonesia – bahkan publik dunia – kearah yang dikendakinya. Bahwa Bung Karno, selain seorang political leader juga seorang political - communicator yang menguasai ilmu komunikasi, khususnya retorika.

Para ahli komunikasi menganggap opini publik amat penting dalam komunikasi politik. Menurut Hadley Cantril (1947) dalam buku Komunikasi

Gambar

Tabel 4.1  Jenis Kelamin
Tabel 4.2  Usia  n=60
Tabel 4.3  Pendidikan
Tabel 4.4  Pekerjaan
+4

Referensi

Dokumen terkait

Debat calon gubernur tersebut merupakan bentuk kampanye baru di mata masyarakat Jawa Barat, khususnya masyarakat di Kota Bandung, dimana bentuk kampanye

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat serta hidayah-Nya, sehingga skripsi tentang “Analisis Gaya Bahasa Calon Presiden pada Acara Debat

Menurut Undang Pemilu no, 42 tahun 2008 tentang, Pemilihan Umum Presiden Dan Wakil Presiden, Pasal 9 bahwa Pasangan Calon diusulkan oleh Partai Politik atau

Disini dijelaskan bahwa Prabowo sebagai lawan politik dari Jokowi dalam debat putaran kedua calon Presiden 2019 menanggapi terkait permasalahan yang dianggap

Sejak Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan Joko Widodo dan Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada Pemilu Presiden 2019, para pendukung semakin masif

Disini dijelaskan bahwa Prabowo sebagai lawan politik dari Jokowi dalam debat putaran kedua calon Presiden 2019 menanggapi terkait permasalahan yang dianggap

Dalam hal ini Stimulus yang berupa terpaan tayangan iklan calon presiden Prabowo-Hatta di televisi kemudian melewati tahapan Organisme yang berupa perhatian,

Dari hasil penelitian, partispasi politik masyarakat dengan indikator mengadakan hubungan dengan pejabat pemerintah atau anggota parlemen dalam pemilihan Presiden