• Tidak ada hasil yang ditemukan

INTEGRASI ILMU DAN AGAMA INTERPRETASI DA (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "INTEGRASI ILMU DAN AGAMA INTERPRETASI DA (1)"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

INTEGRASI ILMU DAN AGAMA INTERPRETASI DAN AKSI

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mandiri Mata Kuliah : Keterpaduan Iptek Islam dan Sains

Dosen Mata Kuliah : Edy Chandra S.Si. M.Ag

Disusun oleh:

BAYU WAHYUDIN

( 59461227 )

Tarbiyah / Biologi C / VII

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

SYEKH NURJATI

CIREBON

(2)
(3)

IDENTITAS BUKU

Judul buku : INTEGRASI ILMU DAN AGAMA INTERPRETASI DAN AKSI

Pengarang : Zainal Abidin Bagir (MYIA)

Jarot Wahyudi (SUKA Press UIN Sunan Kalijaga) Afnan Anshori (MYIA)

Penerbit : PT Mizan Pustaka

(4)

INTEGRASI ILMU DAN AGAMA INTERPRETASI DAN AKSI

RINGKASAN ISI BUKU

A. ILMU DAN AGAMA DALAM KURIKULUM PERGURUAN TINGGI 1. Perbedaan mendasar antara Ilmu dan Agama

Pertama, mind-set dasarnya berbeda. Ilmu bersandar pada etos otonomi pemahaman. Seperti di tekankan pada francis bacon dan newton, sikap ilmiah sejati berangkat dari keberanian berpikir dan mengamati sendiri tanpa bersandar pada otoritas pendapat orang lain atau instansi supranatural apa pun. Newton bahkan menekankan sikap keraguan lebih radikal. Pendeknya, sikap skeptic dan tak mudah percaya adalah kodrat seorang ilmuwan, sementara agama tentu saja kebalikannya. Sikap dasarnya adalah sebuah keutamaan, dalam dunia keilmuan ketidak percayaan (sebelum terbukti) adalah sebuah keutaman, dalam dunia keagamaan, keprcayaanlah yang menjadi keutamaan.

Kedua, ilmu relatif lebih terbuka terhadap pandangan-pandangan baru asalkan masuk akal dan ditunjang bukti faktual yang memadai. Agama agak sebaliknya, meski umumnya diyakini bahwa manusia Wajib menggunakan akalnya untuk memahami wahyu atau kitab suci, dalam kenyataannya agama-agama cendenrung sangat defensif terhadap pemahaman-pemahaman baru, bahkan agak tabu untuk memerkarakan dirinya sendiri. Tidaklah mengherankan jika dibandingkan dengan perkembangan ilmu yang sangat pesat, agama sering terasa tertinggal jauh. Bisa saja seorang ilmuan yang sangat intelektual dalam keilmuannya, tetapi dalam hal kegamaan tetap kekanak-kanakan.

Ketiga, sebenarnya ranah utama wacana agama-agama adalah ranah misteri-misteri terdalam kehidupan beserta makna-makna pengalaman, yang sesungguhnya diluar wilayah atau diluar batas jangkauan ilmu-ilmu empirik. Bahasa yang digunakan pun berbeda, bahasa yang digunakannya pun berbeda. Bahasa-bahasa yang digunakan agama lebih berupa mitos, penuh metafora ataupun retorika. Sedangkan bahasa ilmu adalah bahasa yang aktual, lugas, dan literal.

(5)

2. Persoalan zaman

Di era abad 21 ini, sebenarnya banyak terjadi persoalan yang memaksa para ilmuatau agama utuk mengintrospeksi dirinya dan keluar menjadi sososk yang baru.

Dalam wilayah keilmuan, misalnya, bias disebutkan berbagai persoalan.

Pertama,berbagi kritik pada dunia ilmu, terutama dari sudut filsafat ilmu, dengan tegas memperlihatkan bahwa ilmu sesungguhnya mengandung persoalan-persoalan yang serius, baik pada tingkat asumsi-asumsi mendasar metodologis maupun implikasi epistimologis dan ontologisnya. Feyerabend menunjukan dalam pendapatnya bahwa pada kenyataannya, ilmu pnegetahuan dan perkembangannya tidak bergantung pada metodologi umum atu hukum tertentu.

Faktanya perkembangan ilmu itu kompleks dan anarkistik. Peretensi kesahihan metodologis juga menyebabkan ilmu menjadi ideologis dan bersikap tak adil terhadap berbagai jenis pengetahuan lain. Thomas khun menyatakan bahwa diterima atau tidaknnya suatu oaradigma buka dilihat dari alasan yang logis, tetapi banyak juga yang dipengaruhi oleh unsur sosiologis dan psikologis. Dan sejak munculnya teori relativitas, fisika kuantum, dan teori ketidakpastian, konsep tentang “objektivitas” dan “observasi” juga menjadi suatu masalah, sebab sudah jelas disana bahawa peran subjek dan teoritas sangatlah menetukan.

Kedua, hasil-hasil ilmu pengetahuan dan teknologi juga ternyata sangat ambivalen. Disatu sisi ilmu makin mampu merekayasa realitas menjadi semakin sesuai dengan keinginan manusia, disisi lain efeksampingnya pun bias sangat destruktif dan menimbulkan persoalan yang serius. Seperti rekayasa genetis yang nmengakibatkan makan yang kita makan mengandung zat-zat beracun dan sebagainya.

Ketiga, secara perlahan, ilmu kini masuk dalam wilayah-wilayah spiritual, seperti dalm bentuk Spiritual Quotient (SQ) dalam psikologi, Quantum-Self dalam fisika baru, ataupun pola kognisi yang autopoteik dalam cognitive-science, dan sebagainya. Sehingga kini wilayah kajian ilmu semakin banyak berinterakasi denngan agama, seteah lama antara keduanya sulit berinterkasi.

(6)

Disisi lain kehidupan beragama sendiri memiliki berbagai persoalan, diantaranya.

Pertama, tendensi-tendensi destruktif kini banyak bermunculan dalam kehidupan beragama, entah dalam kehidupan beragama, dalam bentuk eksklusivisme kelompok, moralitas berlebihan dan lainnya.

Kedua, secara interen agama-agama pun kini mengalami kebingungan dogmatis abikat makin suburnya kecenderungan multitafsir.

Ketiga, mentalitas superior 9suprematisme) masih kuat tertanam di kalangan rang-orang beragama sehingga tendensi keingingan saling menaklukan atau merasa saling terancam masih kuat, dan ini seringkali diperparah oleh cara berpikir yang terbelakang.

Keempat, faktanya, agama dirasa tidak membawa pengaruh yang signifikan terhadap kehidupan sehari-hari.

Selain menghadapi persoalan-persoalan yang intern, ilmu dan agama pun menghadapi masalah yang global bersama yang ditandai dengan permisivisme pasar (apapun boleh dijalankan asalkan secara ekonomis menguntungkan).

- Ketidakadilan structural yang memicu terorisme atau peperangan - Prinsip survival of the fittest yang ian menguat pada tataran praktis

- Kerusakan lingkungan ekologis, perkembangan rekayasa genetika yang meyebabkan racun kimiawi, junk food dan yang lainnya.

3. Kemungkinan titik temu

Setelah terdapat berbagai permasalahan yang ada pada masing-masing ilmu dan agama, serta berbagai persoalan zaman yang keduanya hadapi bersanma, sebenarnya ilmu mampu membantu agama merevitalisasi dengan beberapa cara.

1. Kesadaran kritis dan sikap realistis yang dibentuk oleh ilmu sangatlah berguna untuk mengikis sisi-sisi ilusoris agama, bukan untuk mrnghancurkan agama, melainkan untuk menemkan hal yang elebih esensial dari agama.

2. Kemampuan logis dan kehati-hatian mengambil kesimpulan yang diterapkan dalam dunia ilmiah menjadikan kita mampu menilai secara kritis kemunculan berbagai tafsir baru yang banyak muncul dan membingungkan.

(7)

4. Temuan-ilmu pengetahuan dan teknoligi mampu memberikan peluang kepada agama agar mewujudkan idealism-idealismenya secara konkret terutama yang menyangkut kemusiaan umum.

Begitupun sebaliknya, agama dapat membantu ilmu agar teteap mausiawi dan selalu menyadari persoalan-persoalan konkret yang mesti dihadapinya.

1. Agama bisa selalu mengingatkan bahwa ilmu bukanlah satu-satunya kebenaran dan makna dari kehidupan manusia. Dalam dunia manusia ada pengalaman relitas batin yang membentuk makna dan nilai, dan itu adalah wilayah yang tak banyak disentuh oleh ilmu, wilayah yang bermakna banyak tetapi tetap nyata.

2. Agama bisa selalu mengingatkan bahwa ilmu dan teknologi untuk senantiasa membela nilai kehidupan dan kemanusiaan bahkan diatas kemajuan pengathaun itu sendiri.

3. Agama juga dapat memabantu ilmu pengetahuan menjelajah wilayah-wilayah supranatural, apalagi wilayah itu merupakan ujung yang tak dapat dipungkiri dari pencarian ilmiah saat ini.

4. Agama dapat selalu menjaga sikap mental manusia agar tidak terjerumus pada mentalitas pragmatis-insrumental yang menganggap bahwa sesuatu dianggap bernilai apabila dilihat dari manfaatnya untuk kepentingan kita. Ada banyak hal dalam hidup manusia yang teidak jelas manfaatnya tetapi sangatlah penting untuk manusia.

Maka, jika kita berbicara integrasi antara agama dan ilmu itu harus dianggap sebagai suatu interaksi. Masing-masing masih tetap mempunyai kebijakan sendiri dan kekuatan khasnya sendiri. Mencampur adukan keduanya akan menghasilkan sebuah teologisasi ilmu, atau empirisisasi teologi, keduanya absurd, sebab dengan menteologikan ilmu otomatis bobot keilmiahan akan turun. Sebaliknya, mengempirikkan teologi, walaupun bisa, itu akan menjadi seperti mengempirikkan filsafat.

B. ILMU DAN AGAMA DI PERGURUAN TINGGI

(8)

1. Perbedaaan Yang Menipiskan Kemungkinan Perpaduan

Dalam hubungannya dengan agama,ilmu memamng meliputi keseluruhan peta taksonomi itu kecuali agama, tetapi sejak bergulirnya gerakan pencerahan sampai sekarang yang dominan ialah ilmu-ilmu ke alaman beserta turunannya,yakni teknologi. Secara aksiologi baik agama maupun ilmu sama-sama menghampiri ideal Aristoteles (Ilmu untuk ilmu) dan ideal Bacon (ilmu demi kemaslahatan manusia), tetapi dalam agama,penghampiran kedua ideal itu bukan tujuan akhir sebab yang benar-benar dituju pengalihragaman pribadi demi kepatuhan kepada perintah Allah.

Alkitab bukanlah buku teks ilmu. Alkitab dengan muatan pesannya adalah penting pada dirinya sendiri, dan bukan karena kesusuaiannya dengan ilmu. Yang melakukan othak-athik-gathuk untuk memaksakan penyesuaian ayat-ayat Alkitab dengan temuan –temuan ilmu ialah orang-orang yang sebenarnya “silau” oleh kehebatan ilmu,atau “kelewat bersemangat” dalam usahanya membantu mengangkat harkat Alkitab. Pada hal Alkitab-Allah yang menurunkannya-sama sekali tidak membutuhkan pertolongan siapa pun. Jadi sekali lagi,sebaiknya perpaduan ilmu dengan agama jangan dipaksakan.Menekan ilmu dengan dogma dan fatwa demi perpaduan itu tidak dapat dibenarkan. Demikian pula membengkokkan agama agar sesuai dan dapat dipadukan dengan ilmu.

2. Persamaan Sebagai Dasar Perbincangan

(9)

Jadi kebenaran yang sama-sama dicari dalam agama dan ilmu dicapai suatu lompatan (einir sprung),semacam kuantum leap,lompatan kesadaran.barangkali inilah yang dalam buddhisme disebut pencerahan (enlightenment). Kesejajaran ilmu dan agama dalam mengurusi perkara – perkara dunia ini pun merupakan “modal” untuk memulai perbincangan yang berlanjut terus.

3. Bidang dan Ragam Perbincangan

Taksonomi Barbour tentang hubungan antara ilmu dan agama bukan satu-satunya kategorisasi,dan tipologi Barbour itu juga tidak luput dari kritik. Dalam kritiknya yang dikutip oleh Barbour sendiri menyatakan satu-satunya cara untuk menghampiri hubungan yang rumit tetapi penting ini secara benar-benar memadai ialah dengan melihat bagaimana hubungan itu berperan secara kontekstual. Ini pula lah sebabnya, mengapa taksonomi empat cabang Ian Barbour yang terkenal dan berguna untuk menghubungkan agama dengan ilmu melalui pertentangan,perbincangan,perpisahan atau perpaduan sekarang barangkali menjadi terlalu generic dan terlalu universal sebagai katagori-katagori yang bermaksud menangkap interaksi antara kedua kekuatan yang dominan dalam kebudayaan kita ini.

4. Sekelumit Tentang Ideal Aristoteles

Umar A.Jenie dalam seminar nasional “Reintegrasi Epistimologi Keilmuan” membuat pernyataan yang menggelitik, namun apabila eksperimen ini just for the sake of itself,maka itu sangat perlu diwaspadai. Lalu tambahnya para pakar telah mampu memindahkan gen fosforesensi ketubuh lebah,memang tampaknya fantastis ditinjau dari segi pandang sains.

(10)

Dalam amanatnya didepan Akademi Ilmu Kepausan di Roma, 10 November 1979, Paus Johannes Paulus II menyatakan bahwa : mencari kebenaran adalah tugas ilmu dasar…ilmu murni adalah berkat yang harus mampu dibudidayakan setiap bangsa dalam sepenuh kebebasan dari segala bentuk perbudakan internasional atau penjajahan intelektual. Seperti setiap kebenaran lainnya, kebenaran keilmuan senyatanya hanya harus dipertanggungjawabkan kepada dirinya sendiri dan kepada kebenaran yang tertinggi,Allah,Khalik manusia dan segala sesuatu.

Agama menganjurkan keterbukaan ,partisipasi dan tanggung jawab. Menurut rohanian katolik,Karl Rahnel, keterbukaan tidak hanya meliputi kebebasan untuk bertukar informasi, tetapi juga keterbukaan terhadap masa depan. Kata Rahner. “ Seandainya dapat dicapai suatu takat (a point) dimana masa depan benar-benar diketahui sebagai sesuatu yang dapat diperkirakan secara menyeluruh,pada takat itu pada dasarnya masa depan akan tersingkir,yang ada hanya masa kini yang terus menetap. Kita memang harus waspada tetapi juga harus berani menerima resiko “sia-sia”-nya suatu penelitian dasar. Harus diingat bahwa penelitian murni tampaknya “hanya” memuaskan rasa ingin tahu, dan seolah-olah hanya bertujuan menunjukan kemampuan sipeneliti, dapat saja kemudian ternyata sangat besar manfaatnya.

C. INTEGRASI ILMU-ILMU ALAM DAN AGAMA ISLAM DI PERGURUAN TINGGI

Mengingat bahwa bagi sebagian besar umat islam dimensi spiritual dan religious mengenai kandungan Al-Quran sudah tak asing lagi, maka tulisan ini akan diarahkan pada aspek perkembangan sains dengan pengkhususan pada ilmu-ilmu alam yang menyangkut pengintegrasiannya dalam agama pada kurikulum perguruan tinggi agama melalui eksplorasi perpadanan antara struktur pradigmatik dan substansi keilmuan,yang dibatasi pada sains alamiah dengan struktur dan substansi kauniyyah maupun qauliyyah yang kita temukan dalam kajian Al-Quran dan hadist.

1. Karakteristik Sains Dan Metodologi Kajiannya

(11)

diatur oleh hokum sebab akibat. Hukuman ini sebagai cerminan kekuasaan Allah dalam mengatur perilaku ciptaan-Nya (Al-Kaun) secara deterministic untuk system makro,tetapi untuk system mikro berubah sifatnya menjadi deterministic secara rata-rata mengikuti pradigma mekanika kuantum bagi ciptaan yang bersifat in animate sehingga tidak memiliki kehendak (Nagel,1982,hh.227-335). Tujuan penyelidikan ilmiah saat ini yang melahirkan perkembangan sains adalah memisahkan berbagai factor yang teramati dalam alam sesuai dengan masalah yang diangkat, dan menguji factor-faktor itu dalam hal kesesuainnya dengan ramalan yang objektif dan dapat diulangi serta fakta-fakta yang diterima dan terdokumentasi sebelumnya.

2. SOU Sebagai Tiga Pradigma Utama dan Peranan Pokoknya

Pradigma utama ketiga adalah Unifikasi,yang sudah dimulai sejak Maxwell berhasil memadukan teori kemagnetan,kelistrikan,elektronikan,optika dan fisika plasma menjadi teori Maxwell sebagai substansi pokok paradigm elektrodinamika klasik. Keterpaduan lain antara sains dan agama tampil dalam kasus bagaimana pradigma simetri,unifikasi,dan optimasi muncul dalam hadist Rasul mengenai penentuan criteria perilaku utama minimal yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu shiddiq terkait dengan simetri luar-dalam.apa yang di ucapkan sama dengan apa yang terkandung dalam pikiran; amanah menampilkan kesamaan (simetri) antara apa yang diucapkan;tabligh menampilkan perilaku unifikasi dalam kepemilikan informasi seseorang ke individu lain di lingkungannya.; sedangkan fathanah menampilkan kemampuan seseorang yang istimewa dalam memilih tindakan terbaik (optimum) apabila menghadapi suatu permasalahan.

D. MENILAI ULANG GAGASAN “ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN” SEBAGAI BLUE PRINT PENGEMBANGAN KEILMUAN.

Dalam konteks ini disusunlah struktur keilmuan dengan meletakan alquran dan sunnah sebagai sumbernya. Arahnya jelas,struktur keilmuan ini digunakan untuk mengidentifikasi mana ilmu islami dan mana yang non islami.

(12)

tersebut adalah orang-orang islam yang taat, tentu saja ini bias dibenarkan,tetapi yang terjadi adalah besarnya penentangan kalangan ortodoks untuk menolak filsafat hanya karena ia di adopsi dari yunani, dan tidak diturunkan dari Al-Quran dan sunnah,atau tidak sesuai densgn pandangan keislaman kalangan ortodoks tersebut.

E. REINTEGRASI ILMU-ILMU DALAM ISLAM

Sesungguhnya tujuan ilmu keislaman adalah untuk menunjukan kesatuan dan keterkaitan semua yang ada. Sehingga merenungkan kesatuan kosmos,manusia mampu mencapai kesatuan prinsip ketuhanan. Karena itu,mengapa ilmuan muslim percaya bahwa pengetahuan rasional empiris akan menghantarkan pada penegasan kesatuan ketuhanan.

ANALISIS ISI BUKU

Dalam buku ini yang berjudul Integrasi Ilmu dan Agama Interpretasi dan Aksi yaitu membahas kaitannya Ilmu dan Agama yang berkembang serta interpretasi dan aksi dalam kehidupan sehari-hari serta diskusi secara formal maupun non formal. Integrasi sains ilmu beserta agama islam yang didasarkan pada struktur epistimologi yang bersifat global memberikan indikasi pararelisme yang komperhensif antara epistemology sains dan kandungan ontologism maupun epistimologis ayat-ayat al-quran serta hadist.

Dalam perkembangan ilmu serta agama yaitu adanya hubungan yang signifikan melalui dukungan-dukungan para pemikir dan filosof,selain al-quran dan hadis,para menikir mengartikan juga bahwa ilmu adalah salah satu dasar pemikiran yang harus di integrasikan sesuai kemampuan individu tetapi jika ilmu itu selalu berkembang maka diri kita lah yang selalu mencari serta belajar demi naiknya derajat ilmu didalam dirinya. Begitu pula agama,banyak sekali selain Al-quran dan hadis yang mengartikan bahwa agama adalah panutan yang utama dibandingkan ilmu,karena dari alquran dan hadis mengatakan bahwa adanya agama tanpa ilmu itu buta dan sebaliknya ada ilmu tanpa agama itu hancur,oleh karana irtu agama adalah penting bagi individu karana agama adalah salah satu percaya adanya maha pencipta sang khalik dan memberikan kenyamanan hati secara rill dan konkrit.

(13)

menunjukkan bahwa manusia diwajibkan untuk mengembangkan ilmu baik ilmu agama maupun ilmu sosial. Bahwa orang yang berilmu dan orang yang tidak dalam islam kedudukannya sangat berbeda jauh. Nabi juga bersabda "tuntutlah ilmu sampai kenegeri cina". Kenapa kenegeri cina? Karena pada masa itu cina sudah berkembang dengan pesat bahkan sudah menciptakan kertas. Nabi menganjurkan bahwa ilmu untuk mengembangkan agama boleh diambil dari orang selain islam asalkan untuk mendekatkan diri pada Allah. Dan islam sebagai filter (penyaring ilmu-ilmu tersebut).

Kemudian dalam hal agama dan ilmu ini bahwa sejauh menyangkut keilmuan,tantangan terkini umat islam saat ini ada dua hal.pertama ,ilmu-ilmu yang terpisah dari nilai-nilai spiritual dan etis dalam beberapa hal diharamkan bahkan untuk masa depan umat manusia dan alam semesta. Ilmu-ilmu semacam ini harus direndam oleh nilai-nilai keagamaan dan spiritual sehingga ilmu-ilmu tersebut membawa manfaat sepenuhnya bagi umat manusia dan alam semesta. Kultivasi ilmu-ilmu terpadu dalam dunia islam jelas bergantung pada system pendidikan yang memungkinkan transmisi dan implantasi ilmu pengetahuan diseluruh bentuknya dalam sebuah sikap yang terpadu dan holistik, system pendidikan islam harusnya menekankan pada seluruh ilmu keagamaan sekaligus juga mencangkup semua bentuk ilmu pengetahuan dan sains.

Maka dari itu bahwasannya agama dan ilmu saling berkaitan satu sama lain, hanya saja bahwa agama dan ilmu mempunyai kekurangan dan kelebihan serta kelemahan dari sisi masing-masing pengetahuan yang ada, entah itu dari masalah yang kecil hingga yang besar serta penyelesain masalah dari agama serta ilmu ada semua secara sistematis maupun agamis.mungkin dari diri kitanya saja bisa mengaitkan antara agama dan ilmu secara baik dan benar.

KELEBIHAN DARI ISI BUKU

Buku ini mempunyai banyak kelebihannya baik dari segi bahasa,pengetahuan dan lain-lain dan sangat bermanfaat bagi yang pembacanya. Buku ini mempunyai karakter yang unik artinya dapat dipelajari dengan mudah bagi tingkatan pelajar dan bagi mahasiswa,dan isinya pun sangatlah berarti karena mempunyai unsur-unsur baik dan penting dalam kehidupan sehari-hari.

(14)

universitas yang terkenal. Dan buku ini mempunyai hubungan yang erat antara ilmu dan agama sehingga para pembaca tertarik untuk mempelajarinya, dan salutnya lagi buku ini setelah mengintegrasikan agama dan ilmu banyak referensi-referensinya dari para pemikir dan tokoh yang terdahulu dan itu pun di dukung oleh al-quran dan hadist. Oleh karena itu buku ini bukan bersifat khayalan maupun imajinasi tetapi bersifat nyata yang harus dan wajib di pelajari manusia khusunya yang beragama muslim.

KELEMAHAN DARI ISI BUKU

Referensi

Dokumen terkait

Ketiga, belajar merupakan bentuk pengalaman. Pengalaman pada dasarnya adalah hasil dari interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya.. Dari prinsip-prinsip

Melakukan pekerjaan rutin teknis untuk memastikan sarana dan prasarana pendukung kerja tersedia dalam kondisi yang bersih dan rapih, antara lain: membersihkan

dilakukan penyesuaian penyajian LRA tahun sebelumnya sesuai klasifikasi akun pada kebijakan akuntansi yang baru. PERUBAHAN ESTIMASI AKUNTANSI. Agar memperoleh Laporan Keuangan

Perlu diketahui bahwa informasi yang digunakan suatu sistem informasi umumnya digunakan oleh berbagai kegunaan, sehingga tidak mudah untuk menghubungkan suatu bagian

Dalam segi kehidupan spiritual anak, tidak lepas dari kerja kerasnya guru sekolah minggu, dalam titik tertentu guru sekolah minggu menjadi penentu masa depan

Dari hasil analisis diatas, dapat disimpulkan bahwa formula gel ekstrak etanol daun Kecombrang (Etlingera elatior) mempunyai efektivitas dalam menyembuhkan luka sayat pada kelinci

Nilai TBE yang paling tinggi 389,27 terdapat pada sampel 35 dengan kemiringan 23,1 % ,vegetasi kopi, tanpa tindakan konservasi, kedalaman efektipnya 95 cm dengan

Kepuasan kerja dibentuk oleh beberapa aspek yang berkaitan dengan pekerjaan karyawan sebagai berikut: Pekerjaan itu sendiri (penilaian pekerjaan berorientasi kepada apakah kerja