• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAITAN PSIKOLOGIS ANAK DAN SOSIAL MEDIA (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KAITAN PSIKOLOGIS ANAK DAN SOSIAL MEDIA (1)"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

KAITAN PSIKOLOGIS

ANAK DAN SOSIAL

MEDIA

Oleh: Leyla Fajr

______________˙ ✉˚ ʦ Ƙ Ɠ__________

Menjumpai anak-anak yang

akrab dengan ​gadget dan

sosial media adalah fenomena

biasa di era ​digital dan

elekronik​ saat ini.

Orang-orang mengakses

informasi tanpa batas secara

bebas. Fenomena

(2)

‘menjamur’, asyik dengan alam dunia maya.

Sederhananya, ada asumsi

berkata begini :

“​Pokoknya asal ada gadget

dan smartphone yang lain

seolah tak penting lagi, tak

peduli dengan kanan dan

kiri”

Kadang tak jarang mereka

lepas dari pengawasan orang

tua dalam ​berselancar di

dunia ​internet dan sosial

(3)

Masalah yang menjadi kendala adalah :

Kita berada di Era ledakan

informasi, di mana segala

informasi mudah di akses

tanpa batasan ruang dan

waktu.

Akibatnya, informasi menjadi

tak ter-kendali dan tanpa

filter atas kelayakan ​content

yang ​dipertontonkan​.

Tiada yang bisa membatasi

selain diri sendiri yang

wajib pandai memilah

(4)

untuk di baca, dengar dan tonton.

Karakter manusia terbentuk

dari pengalaman atas apa yang sering dilihat dan didengar dalam kesehariannya.

Sering mendapat masukan ilmu

akan menjadi banyak tahu,

sering mendengar dan membaca artikel agama dan ayat-ayat al-kitab akan menjadi seorang

alim, sering melihat

produk-produk yang menjual

barang akan menjadi seorang

yang ahli ​shoping​.

Berteman dengan penjual

(5)

menjadi wangi, namun bergumul

dengan bangkai akan ikut

berbau bangkai.

Bisa dibayangkan seperti apa

jadinya seorang anak yang

belum pandai menilai baik dan buruk atas suatu hal, lalu

bersosialmedia secara bebas

di berbagai situs.

Siapa yang bisa menjamin

situsnya aman dari konten

kekerasan dan pornografi.

Katakanlah ada lembaga sensor yang memantau, namun adanya sensor tidak menjamin secara

menyeluruh kebebasan

(6)

Sensor hanya memberi sedikit

kontribusi atas jaminan

keamanan seorang anak dalam

berselancar dan melakukan

penelusuran​.

Bahkan pernah saya temukan

berbagai ​konten porno dan

kekerasan di beranda ​facebook

yang sangat tidak layak untuk dilihat oleh anak-anak dan remaja sekolah.

Parahnya lagi justru yang

mem-posting dan melakukan

adegan "kotor" tersebut

adalah kebanyakan dari mereka

anak-anak dan para remaja

(7)

Kurangnya kesadaran orangtua

menjadi satu alasan atas

bobroknya mutu pertumbuhan

sang anak.

Mutu pertumbuhan itu apa?

"​Kami sudah berupaya memberi

nutrisi makanan dan

fasilitas yang lengkap untuk anak kami!"

Begitu komentar sebagian

orang tua yang mendengar

sentilan kalimat "mutu

pertumbuhan" pada ​sesi ​dialog

singkat agenda rapat

(8)

Secara umum bisa dikatakan

bahwa ​sosmed, internet , dan

smartphone adalah tuntutan

kebutuhan di era globalisasi

yang tanpa batas.

Alhasil, terjadilah ​ledakan

informasi yang selain

memiliki sisi positif juga membawa dampak negatif.

1. Kita butuh ​literasi

informasi sebagai bekal anak dalam memilah, meng-akses dan menggunakan informasi secara wajar.

Apa itu ​literasi informasi

silakan baca di

(9)

.id/2017/04/kita-butuh-litera si-informasi.html?m=1

2. Tumbuhkan kesadaran

sebagai orang tua yang

bertanggung jawab penuh atas

tindakan anak.

Memfasiliitasi dan mencukupi

segala kebutuhan anak berupa

materi bukan satu-satunya

cara mengeksplor mutu

pertumbuhan anak , satu hal

yang pentung selalu di ingat,

bekali anak dengan iman dan

takwa. Bagaimanapun juga budi pekerti adalah elemen penting

bagi pembentukan generasi

(10)

Kecerdasan sikap,

intelektual, emosional dan

kecerdasan ​spiritualnya

harus seimbang agar tercapai mutu pertumbuhan.

Mutu pertumbuhan dalam

konteks pertumbuhan anak

adalah pencapaian

nilai-nilai sebagai parameter

perkembangan​ karakter.

Lalu bagaimana dengan kondisi

psikologisnya​?

Psikologis membahas sisi-sisi

yang berhubungan dengan

masalah kejiwaan. Kondisi

psikologis menurut saya

(11)

keadaan di mana seseorang

merasakan, memikirkan dan

melakukan satu tindakan

berdasarkan satu alasan yang berkaitan dengan pengalaman.

Tentu saja apa yang sering dilihat, dibaca dan didengar dapat menjadi sebuah sugesti pada anak. Di situ dia akan

belajar dan menarik

kesimpulan tentang bagaimana ia bertindak dan berekspresi.

Memang sosial media menjadi

sebuah wadah untuk ​berkreasi

dan unjuk ekspresi bagi

sebagian orang. Namun ada

juga yang tidak terlalu

(12)

sosial media dikarenakan memang tidak terbiasa.

Satu hal yang digaris bawahi di sini yaitu KEBIASAAN.

Sosial media atau ‘akrab’ di

panggil sosmed ini sering

menyebabkan efek ketagihan

pada sebagian besar orang

yang ​menggunakannya​.

Candu ​sosmed dapat berdampak

buruk pada keadaan psikologis anak, lihat saja kebanyakan

orang tua maupun muda

tergila-gila dengan ​gadget​,

atau bahkan rela berjam-jam

seharian duduk terpaku

(13)

laptop tanpa ​mempedulikan orang-orang di sekitarnya.

Membuat renggang hubungan

yang seharusnya di pererat di

dalam rumah sendiri akibat

jarang menikmati dan

menghabiskan waktu bersama

karena sebagian besar waktu tercurah pada sosmed.

Beberapa dampak negatifnya

antara lain:

● Mengurangi empati pada

keadaan sekitar akibat

kepedulian yang semakin berkurang.

● Menumbuhkembangkan sikap

egois yang

(14)

● Mencekal kreatifitas anak pada masa tumbuhkembang yang seharusnya

● Salah menempatkan diri

atas apa yang layak di share dan tidaknya sebuah konten.

● Semakin menjamurnya

penggunaan "topeng"

● Kesempatan tindakan

kriminal semakin terbuka

● Hilangnya rasa

kebersamaan pada diri

anak

● Kecanduan yang

menyebabkan waktu menjadi sia-sia,

(15)

akibat kondisi psikologis

anak yang ketagihan ​sosmed​.

Meskipun begitu hidup

tetaplah berjalan kontras.

Ada negatif tentu ada

positifnya. Keuntungan dari arus ledakan informasi yang tak terbendung ini akan saya paparkan di lain kesempatan.

Kesimpulannya​:

Karakter anak akan terbentuk

dari apa yang sering di

lihat, di dengar dan di

tonton oleh anak setiap

(16)

adalah pelajaran yang di terjemahkan otak menjadi buah

kebiasaan dalam tutur dan

perilaku hidup sehari-hari. Bagaimanapun juga, media dan

komunikasi sangat

mempengaruhi kualitas

generasi.

Ingin negara memiliki

Referensi

Dokumen terkait

Wanita kebanyakannya didiagnosa dengan mioma uteri dalam usia 40- an; tetapi, ianya masih tidak diketahui pasti apakah mioma uteri yang terjadi adalah disebabkan peningkatan

Data dan Perhitungan Hasil Sampling Sampah dari Empat lokasi... Data Jumlah sampah di pulung orang perhari

Following the Coleman and Gur- tin thermodynamics, different researchers have employed the ISV theory for dislocations, creep, continuum damage mechanics (CDM),

[r]

Pada pelaksanaan pekerjaan bangunan terdapat berbagai kemungkinan perbedaan antara spesifikasi yang ada di lapangan dengan spesifikasi yang di persyaratakan, maka dari itu

terpimpin dengan Polisi yang bertugas di Polsek Genuk Semarang. 2) Sumber data sekunder. Sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah sumber data

Hasil analisis diperoleh F hitung sebesar 35.166 dengan tingkat signifikansi 0.000, yang jauh lebih kecil dari 0.05, dengan demikian pelayanan fiskus dan pengetahuan perpajakan

Nasyadizi Nilamsar Noor, Kusdi Rahardjo , Ika Ruhana, 2016, Pengaruh Stres Kerja Dan Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan (Studi Pada Karyawan PT JasaRaharja