KAITAN PSIKOLOGIS
ANAK DAN SOSIAL
MEDIA
Oleh: Leyla Fajr
______________˙ ✉˚ ʦ Ƙ Ɠ__________
Menjumpai anak-anak yang
akrab dengan gadget dan
sosial media adalah fenomena
biasa di era digital dan
elekronik saat ini.
Orang-orang mengakses
informasi tanpa batas secara
bebas. Fenomena
‘menjamur’, asyik dengan alam dunia maya.
Sederhananya, ada asumsi
berkata begini :
“Pokoknya asal ada gadget
dan smartphone yang lain
seolah tak penting lagi, tak
peduli dengan kanan dan
kiri”
Kadang tak jarang mereka
lepas dari pengawasan orang
tua dalam berselancar di
dunia internet dan sosial
Masalah yang menjadi kendala adalah :
Kita berada di Era ledakan
informasi, di mana segala
informasi mudah di akses
tanpa batasan ruang dan
waktu.
Akibatnya, informasi menjadi
tak ter-kendali dan tanpa
filter atas kelayakan content
yang dipertontonkan.
Tiada yang bisa membatasi
selain diri sendiri yang
wajib pandai memilah
untuk di baca, dengar dan tonton.
Karakter manusia terbentuk
dari pengalaman atas apa yang sering dilihat dan didengar dalam kesehariannya.
Sering mendapat masukan ilmu
akan menjadi banyak tahu,
sering mendengar dan membaca artikel agama dan ayat-ayat al-kitab akan menjadi seorang
alim, sering melihat
produk-produk yang menjual
barang akan menjadi seorang
yang ahli shoping.
Berteman dengan penjual
menjadi wangi, namun bergumul
dengan bangkai akan ikut
berbau bangkai.
Bisa dibayangkan seperti apa
jadinya seorang anak yang
belum pandai menilai baik dan buruk atas suatu hal, lalu
bersosial media secara bebas
di berbagai situs.
Siapa yang bisa menjamin
situsnya aman dari konten
kekerasan dan pornografi.
Katakanlah ada lembaga sensor yang memantau, namun adanya sensor tidak menjamin secara
menyeluruh kebebasan
Sensor hanya memberi sedikit
kontribusi atas jaminan
keamanan seorang anak dalam
berselancar dan melakukan
penelusuran.
Bahkan pernah saya temukan
berbagai konten porno dan
kekerasan di beranda facebook
yang sangat tidak layak untuk dilihat oleh anak-anak dan remaja sekolah.
Parahnya lagi justru yang
mem-posting dan melakukan
adegan "kotor" tersebut
adalah kebanyakan dari mereka
anak-anak dan para remaja
Kurangnya kesadaran orangtua
menjadi satu alasan atas
bobroknya mutu pertumbuhan
sang anak.
Mutu pertumbuhan itu apa?
"Kami sudah berupaya memberi
nutrisi makanan dan
fasilitas yang lengkap untuk anak kami!"
Begitu komentar sebagian
orang tua yang mendengar
sentilan kalimat "mutu
pertumbuhan" pada sesi dialog
singkat agenda rapat
Secara umum bisa dikatakan
bahwa sosmed, internet , dan
smartphone adalah tuntutan
kebutuhan di era globalisasi
yang tanpa batas.
Alhasil, terjadilah ledakan
informasi yang selain
memiliki sisi positif juga membawa dampak negatif.
1. Kita butuh literasi
informasi sebagai bekal anak dalam memilah, meng-akses dan menggunakan informasi secara wajar.
Apa itu literasi informasi
silakan baca di
.id/2017/04/kita-butuh-litera si-informasi.html?m=1
2. Tumbuhkan kesadaran
sebagai orang tua yang
bertanggung jawab penuh atas
tindakan anak.
Memfasiliitasi dan mencukupi
segala kebutuhan anak berupa
materi bukan satu-satunya
cara mengeksplor mutu
pertumbuhan anak , satu hal
yang pentung selalu di ingat,
bekali anak dengan iman dan
takwa. Bagaimanapun juga budi pekerti adalah elemen penting
bagi pembentukan generasi
Kecerdasan sikap,
intelektual, emosional dan
kecerdasan spiritualnya
harus seimbang agar tercapai mutu pertumbuhan.
Mutu pertumbuhan dalam
konteks pertumbuhan anak
adalah pencapaian
nilai-nilai sebagai parameter
perkembangan karakter.
Lalu bagaimana dengan kondisi
psikologisnya?
Psikologis membahas sisi-sisi
yang berhubungan dengan
masalah kejiwaan. Kondisi
psikologis menurut saya
keadaan di mana seseorang
merasakan, memikirkan dan
melakukan satu tindakan
berdasarkan satu alasan yang berkaitan dengan pengalaman.
Tentu saja apa yang sering dilihat, dibaca dan didengar dapat menjadi sebuah sugesti pada anak. Di situ dia akan
belajar dan menarik
kesimpulan tentang bagaimana ia bertindak dan berekspresi.
Memang sosial media menjadi
sebuah wadah untuk berkreasi
dan unjuk ekspresi bagi
sebagian orang. Namun ada
juga yang tidak terlalu
sosial media dikarenakan memang tidak terbiasa.
Satu hal yang digaris bawahi di sini yaitu KEBIASAAN.
Sosial media atau ‘akrab’ di
panggil sosmed ini sering
menyebabkan efek ketagihan
pada sebagian besar orang
yang menggunakannya.
Candu sosmed dapat berdampak
buruk pada keadaan psikologis anak, lihat saja kebanyakan
orang tua maupun muda
tergila-gila dengan gadget,
atau bahkan rela berjam-jam
seharian duduk terpaku
laptop tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarnya.
Membuat renggang hubungan
yang seharusnya di pererat di
dalam rumah sendiri akibat
jarang menikmati dan
menghabiskan waktu bersama
karena sebagian besar waktu tercurah pada sosmed.
Beberapa dampak negatifnya
antara lain:
● Mengurangi empati pada
keadaan sekitar akibat
kepedulian yang semakin berkurang.
● Menumbuhkembangkan sikap
egois yang
● Mencekal kreatifitas anak pada masa tumbuhkembang yang seharusnya
● Salah menempatkan diri
atas apa yang layak di share dan tidaknya sebuah konten.
● Semakin menjamurnya
penggunaan "topeng"
● Kesempatan tindakan
kriminal semakin terbuka
● Hilangnya rasa
kebersamaan pada diri
anak
● Kecanduan yang
menyebabkan waktu menjadi sia-sia,
akibat kondisi psikologis
anak yang ketagihan sosmed.
Meskipun begitu hidup
tetaplah berjalan kontras.
Ada negatif tentu ada
positifnya. Keuntungan dari arus ledakan informasi yang tak terbendung ini akan saya paparkan di lain kesempatan.
Kesimpulannya:
Karakter anak akan terbentuk
dari apa yang sering di
lihat, di dengar dan di
tonton oleh anak setiap
adalah pelajaran yang di terjemahkan otak menjadi buah
kebiasaan dalam tutur dan
perilaku hidup sehari-hari. Bagaimanapun juga, media dan
komunikasi sangat
mempengaruhi kualitas
generasi.
Ingin negara memiliki