• Tidak ada hasil yang ditemukan

SIMULASI DAN OPTIMASI HARGA AIR BERSIH P

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "SIMULASI DAN OPTIMASI HARGA AIR BERSIH P"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

SIMULASI DAN OPTIMASI HARGA AIR BERSIH PADA PROYEK

WADUK TITAB KABUPATEN BULELENG PROPINSI BALI

I Gusti Ngurah Antariza1 Rispiningtati2 Ussy Andawayanti2

1

Program Studi Magister Teknik Pengairan, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang

2

Dosen Pengajar Program Studi Magister Teknik Pengairan, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang

ABSTRAK

Air adalah sumber kehidupan bagi mahluk hidup yang keberadaannya mutlak diperlukan, dengan bertambah tuanya planet bumi ini telah terjadi pemanasan global yang mengakibatkan berkurangnya jumlah volume air hujan. Pertemuan internasional oleh UNED badan dari PBB pada tahun 1996 mengulas tentang hubungan pengaturan air melalui mekanisme ekonomi.

Propinsi Bali dengan luas wilayah sekitar 5.632,86 Km2 dan luas daerah aliran sungai di lokasi Bendungan Titab adalah sebesar 69,54 km2 dengan panjang sungai 25 km. Proyek Bendungan Titab berfungsi untuk penyediaan air irigasi di Saba seluas 1396.40 ha dan Puluran seluas 398.42 ha, serta suplai air baku untuk air minum, pembangkit listrik 3,15 MW.

Tujuan dari studi ini adalah memberikan sumbangan pemikiran untuk penetapan dan analisa simulasi harga air bersih yang sesuai dengan ketentuan dan kebutuhan masyarakat pengguna setelah berdirinya proyek Waduk Titab tersebut.

Lokasi waduk Titab terletak pada Sub Satuan Wilayah Sungai (Sub SWS) Bali Penida, dan secara administratif termasuk di empat wilayah desa, yaitu Desa Telaga, Desa Ularan, Desa Busungbiu Kecamatan Busungbiu dan Desa Ringdikit Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng. Luas daerah aliran sungai di lokasi bendungan adalah sebesar 69,54 km2 dengan panjang sungai 25 km.

Hasil perhitungan uji kesesuaian metode proyeksi penduduk diambil dengan menggunakan metode eksponensial sebesar 0,921115 karena memiliki angka mendekati +1 dibandingkan metode yang lainnya. Penduduk Kabupaten Buleleng pada tahun 2025 berjumlah sebanyak 2,343,380 jiwa yang akan digunakan sebagai dasar perhitungan kebutuhan air bersih. Kebutuhan air rata–rata yang digunakan adalah kebutuhan air rata rata tahun 2025 dimana sebagai acuan untuk perhitungan BCR yaitu 65,095,932 lt/hari x 5500 (Harga air eksisting maksimum) = Rp 130,680,082,750 (Manfaat air bersih). Dalam perhitungan Benefit Cost Ratio dengan tingkat suku bunga 12% B/C Waduk Titab >1 maka dapat dikatakan bahwa proyek ini layak secara ekonomi, atau lebih tepatnya proyek ini melebihi nilai impas. Dari hasil analisa perbandingan dapat diketahui bahwa harga air mimimum eksisting sebesar Rp 800/m³ dan harga air maksimum sebesar 5500/m³, sedangkan dari hasil simulasi didapat harga air minimum sebesar Rp.982/ m³ dan harga air maksimum sebesar 5695/m³ sehingga didapat bahwa untuk mendapakan nilai B/C > 1 maka pihak pengelola air dapat menerapkan harga air yang sudah di analisa.

Ketersediaan air pada musim kemarau sangat terbatas, sehingga perlu dilakukan pendekatan kepada petani agar mau melaksanakan pola tata tanam yang sudah di jadwalkan dan hendaknya pihak-pihak terkait selalu meninjau dan turut serta dalam pemeliharaan Waduk Titab agar waduk dapat beroperasi secara optimal sesuai usia gunanya serta terjaga keefektifitasannya.

(2)

ABSTRACT

Water is a life source absolutely needed for any creatures. Earth is aging because global warming has reduced rainfall volume. International assembly organized by UNED of United Nations in 1996 reviews about water management through economic mechanism. Bali Province has 5,632.86 km2 land width. Titab Reservoir river basin is 69.64 km2 width with 25 km length. Titab Reservoir Project is designed to provide irrigating water to Saba with 1396.40 ha width and Puluran with 398.42 ha width, to supply standard water for tap water, and to generate 3.15 mv electric.

The objective of research is to contribute to the determination and analysis of simulation of clean water price based on the determination and demand of the user community after the launching of Titab Reservoir Project.

Titab Reservoir is located at River Basin Subunit in Bali Penida. Administratively, it has boundary with four villages, Telaga Village, Ularan Village, Busungbiu Village at Busungbiu Subdistrict, and Ringdikit Village at Seririt Subdistrict in Buleleng Regency. River basin width of the reservoir is 69.64 km2 width with length of 25 km.

Result of compatibility test with using residential projection and exponential methods is 0.921115 because the number approaches +1 compared to other mehod. The residents of Buleleng Regency in 2025 are estimated to count for 2,343,380 heads. This number is useful for the base of measuring the demand of tap water. The average water demand is the average water demand in 2025 to calculate BCR, which is 65,095,932 lt/day x 5500 (maximum existing water price) = Rp. 130,680,082,750 (clean water benefit). In the calculation of Benefit Cost Ratio at 12 % interest rate, B/C of Titab Reservoir is > 1, which is meant that this project is reliable economically, or the project has exceeded return on investment. Result of comparative analysis shows that the existing tap water is Rp 800/m3 and maximum water price is 5500/m3. Result of simulation indicates that minimum water is Rp 982/m3 and maximum water price is Rp 5695/m3 such that to obtain B/C > 1, the water manager employs the analyzed water price.

Water availability in dry season is very limited such that the farmer must be convinced to keep the scheduled planting pattern. The authority should review the maintenance of Titab Reservoir to ensure its optimum operation, cycle life, and effectiveness.

Keywords: simulation, optimization, clean water price, Titab Reservoir

1. PENDAHULUAN

Latar Belakang

Air adalah sumber kehidupan bagi mahluk hidup yang keberadaannya mutlak diperlukan, dengan bertambah tuanya planet bumi ini telah terjadi pemanasan global yang mengakibatkan berkurangnya jumlah volume air hujan.

Pertemuan internasional oleh UNED badan dari PBB pada tahun 1996

(3)

Penelitian yang dilaksanakan oleh

Lund (1998), Hatmoko (1999), Labadie (1999), Leon (2000) kebanyakan hanya

mencakup studi optimasi khusus alokasi air tanpa mempertimbangkan harga air. sehingga jelas terdapat kesenjangan antara kebutuhan saat ini dengan yang sudah ada. Penelitian yang dibutuhkan saat ini antara lain penelitian yang menghasilkan :

•Aturan pendistribusian atau alokasi air yang pasti pada satu sistem sungai dengan mempertimbangkan air sebagai komoditas ekonomi. •Kepastian alokasi air dan harga air

dari hasil optimasi gabungan ketersediaan air dan harga air secara simultan .

•Studi optimasi yang mudah

digunakan oleh yang

berkepentingan.

Luas daerah aliran sungai di lokasi bendungan adalah sebesar 69,54 km2 dengan panjang sungai 25 km. Proyek Bendungan Titab berfungsi untuk:

1. Penyediaan air irigasi di Saba seluas 1396.40 Ha dan Puluran seluas 398.42 ha.

2. Suplai air baku untuk air minum, pembangkit listrik 3,15 mw.

Sesuai dengan kebutuhan air untuk tujuan seperti tersebut diatas maka bendungan direncanakan dengan tinggi 59,8 m dari dasar sungai, dengan tampungan effektif sebesar 10,37 juta m3 yaitu antara Muka Air Tinggi (HWL) El. 156,00 m dan Muka Air Rendah (LWL) El. 131,20 m.

Secara geografis, kondisi pemenuhan kebutuhan air Bali Utara dan Bali Timur kurang baik jika dibandingkan dengan Bali Barat dan Tengah. Hal ini mengakibatkan areal sawah di Bali Utara belum mampu dikelola dengan baik dan masih mengandalkan air hujan dan pengairan tradisional. Potensi lahan pertanian dan perkebunan yang cukup luas dan sebagian besar masyarakat bekerja di

sektor ini mendorong adanya pemikiran pengoptimalan sumber air yang ada.

Propinsi Bali dengan luas wilayah sekitar 5.632,86 Km2 merupakan daerah berkembang pesat dengan pariwisata sebagai sektor andalan. Sektor Pariwisata secara tidak langsung mendorong arus pembaharuan dan kemajuan sehingga Bali menjadi penunjang devisa terbesar bagi Indonesia. Perkembangan yang pesat ini berdampak pada meningkatnya kebutuhan air bersih, baik untuk keperluan domestik maupun untuk air industri.

Saat ini kebutuhan air bersih Kabupaten Buleleng untuk keperluan domestik dan industri adalah sebesar 15 m3.det-1 (PDAM Kota Buleleng) dan diperkirakan akan terus meningkat sejalan dengan perkembangan Kabupaten Buleleng di masa yang akan datang. Untuk mengantisipasi maka dilakukan upaya alternatif, yaitu dengan memanfaatkan alur sungai Tukad Saba sebagai tampungan memanjang (long

storage) sebagai penampung air baku.

Tampungan memanjang ini dibuat dengan membangun Waduk Titab di bagian hilir sungai Tukad Saba.

Pembangunan proyek Waduk Titab ini membutuhkan investasi yang cukup besar, maka sebelum dilaksanakan harus diperhatikan beberapa faktor yang dapat membatalkan pelaksanaannya. Salah satu faktor diantaranya adalah kelayakan ekonomi proyek. Hal ini disebabkan karena pada setiap investasi akan ditemui permasalahan antara biaya yang dikeluarkan dan manfaat yang dihasilkan.

Perbandingan antara keduanya

merupakan salah satu faktor penting yang sangat mempengaruhi kelayakan ekonomi proyek tersebut.

Identifikasi Masalah

(4)

sangat ketat sehingga air tersebut layak untuk dikonsumsi (diminum). Seperti diketahui bahwa kebutuhan air untuk irigasi dan air baku tidak dapat diganggu gugat. Dengan adanya proyek Bendungan Titab ini dapat dipergunakan untuk melihat kemungkinan pemanfaatan air yang berlimpah pada musim penghujan

dengan menampungnya dan

dipergunakan pada saat-saat kekurangan air.

Batasan Masalah

Adapun batasan-batasan masalah dalam kajian ini adalah sebagai berikut: 1. Besarnya kebutuhan air bersih untuk

keperluan domestik, dan irigasi Kabupaten Buleleng

2. Dalam perhitungan biaya konstruksi didasarkan pada harga yang berlaku pada akhir tahun 2009.

3. Penentuan harga air per m3 dari debit air yang dapat dihasilkan.

4. Penentuan harga air irigasi per m3 dari debit air yang dapat dihasilkan. 5. Penentuan harga listrik per kWh dari

daya listrik yang dapat dihasilkan oleh PLN.

6. Analisa simulasi optimasi harga air keseluruhan per m3 dari debit outflow waduk.

7. Tidak membahas analisis konstruksi Waduk Titab Kabupaten Buleleng Propinsi Bali.

Rumusan Masalah

Dengan memperhatikan batasan-batasan masalah, maka permasalahan dalam kajian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Berapakah besarnya biaya proyek pembanganunan Waduk Titab

2. Berapakah manfaat yang didapat dari air irigasi dan air baku

3. Berapakah besarnya perbandingan antara manfaat dan biaya (benefit cost

ratio/BCR) serta tingkat

pengembalian internal (internal rate

of return/IRR)?

4. Mengetahui besaran harga air dan simulasi harga bagi para pengguna (Irigasi, PLTA, dan Air Baku).

Maksud dan Tujuan

Maksud dari kajian ini adalah untuk mengetahui besaran manfaat modal diperoleh dari air yang dijual, serta perbandingan yang dibutuhkan dari biaya (cost) , manfaat (benefit), dan (internal

rate of return/IRR) serta mensimulasi dan

mengoptimasi harga air bersih dari proyek Waduk Titab Kabupaten Buleleng Propinsi Bali yang selanjutnya dapat digunakan sebagai acuan dalam menetapkan tarif harga jual air bersih.

Tujuan dari kajian ini adalah memberikan sumbangan pemikiran untuk penetapan dan analisa simulasi harga air bersih yang sesuai dengan ketentuan dan kebutuhan masyarakat pengguna setelah berdirinya proyek Waduk Titab tersebut.

2. METODE PENELITIAN

Daerah Kajian

Lokasi waduk Titab terletak pada Sub Satuan Wilayah Sungai (Sub SWS) Bali Penida, dan secara administratif termasuk di empat wilayah desa, yaitu Desa Telaga, Desa Ularan, Desa Busungbiu Kecamatan Busungbiu dan Desa Ringdikit Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng.

Data-Data Yang Dibutuhkan

Data-data yang digunakan dalam kajian ini sebagian besar adalah data sekunder yang diperoleh dari Balai Wilayah Sungai Bali Penida antara lain: 1. Data teknik Waduk Titab dan fasilitas

pengolahan air (IPA).

2. Data biaya konstruksi dan usia guna bangunan.

3. Data curah hujan DAS Tukad Saba. 4. Data luas daerah irigasi pada DAS

Tukad Saba.

5. Data pola tata tanam DAS Tukad Saba.

6. Data debit sungai Tukad Saba dari tahun 2001 sampai tahun 2010. 7. Data jumlah penduduk Kabupaten

(5)

8. Data jumlah Industri di Kabupaten Buleleng periode tahun 2005 sampai dengan 2010.

Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan penetapan harga air baku ini secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Dari data teknis Waduk Titab, menghitung biaya konstruksi.

2. Dari biaya konstruksi, biaya operasi dan pemeliharaan, dan usia guna bangunan dilakukan analisa biaya. 3. Dari data jumlah penduduk dihitung

proyeksi jumlah penduduk sampai dengan tahun 2025.

4. Menghitung besarnya kebutuhan air baku berdasarkan proyeksi jumlah penduduk.

5. Menghitung kebutuhan air baku terhadap debit sumber air yang ada, apakah debit sumber tersebut

mencukupi untuk memenuhi

kebutuhan air bersih sampai dengan tahun 2025.

6. Menghitung besarnya produksi air dari tingkat pemakaian air penduduk di Kecamatan Binangun, sehingga diperoleh nilai manfaat.

7. Setelah mengetahui besarnya manfaat dan biaya selanjutnya dilakukan analisa ekonomi yaitu B-C, B/C, IRR, Analisa sensivitas.

8. Menetapkan harga air bersih per m3 dari hasil analisa ekonomi.

Perusahaan Listrik Negara (PLN)

1. Melakukan analisa sistem interkoneksi listrik yang dilakukan PLN.

2. Melakukan analsis harga tarif listrik PLN Kabupaten Buleleng Sistematika pembahasan penetapan harga air irigasi dalam studi ini secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Menghitung total biaya proyek Waduk Titab

• Biaya Konstruksi

• Biaya Operasional dan Pemeliharaan

2. Menghitung keuntungan / manfaat selama umur ekonomi proyek

3. menghitung B/C, B-C, IRR dan analisa sensivitas

4. Menghitung harga air irigasi Sistematika pembahasan simulasi dan optimasi harga air dalam studi ini secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Menghitung total biaya • Biaya Konstruksi • Biaya O&P

2. Menghitung keuntungan / manfaat selama umur ekonomi proyek

3. Menghitung B/C, B-C, IRR dan analisa sensivitas

4. Menghitung analisa simulasi dan optimasi harga air.

3. ANALISIS DATA

Pembangunan Bendungan Titab yang terletak di, Kabupaten Buleleng ini direncanakan untuk memenuhi akan kebutuhan air baku, air irigasi, dan PLTA berdasarkan dari data primer yang diperoleh.

Proyeksi Jumlah Penduduk

Perhitungan proyeksi penduduk pada studi ini menggunakan tiga metode, yaitu metode aritmatik, metode eksponensial dan metode geometrik. Setelah diketahui hasil perhitungan dari masing-masing metode, maka digunakan metode penentuan nilai koefisien korelasi untuk menentukan metode perhitungan yang akan digunakan dalam perhitungan proyeksi kebutuhan air. Kriteria penentuan metode proyeksi penduduk yang dipilih berdasarkan pada nilai koefisien korelasi yang terbesar mendekati +1.

Proyeksi Pertumbuhan Penduduk dengan Metode Eksponensial

Contoh perhitungan pertumbuhan penduduk tahun 2011:

P0 = 857.960 jiwa (Tahun 2010)

n = 2 (proyeksi tahun ke-n)

(6)

Maka perhitungan proyeksi jumlah penduduk untuk tahun 2011 adalah sebagai berikut :

Pn = P0 . er.n

= 857,960 2,7182818 0,06698 . 3 = 917,400 jiwa

Dengan cara yang sama, didapatkan pula hasil proyeksi jumlah penduduk hingga tahun 2025 yang disajikan pada tabel 1.

Tabel 1. Proyeksi Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Buleleng dengan Metode Eksponensial

No Tahun Jumlah Penduduk

1 2011 917,400

Sumber : Perhitungan

Uji Kesesuaian Metode Proyeksi

Perhitungan uji kesesuaian metode proyeksi yaitu dengan menggunakan angka koefisien korelasi pada persamaan. Dari hasil perhitungan koefisien korelasi pada ketiga metode tersebut, diperoleh hasil bahwa metode eksponensial memiliki koefisien korelasi terbesar dan mendekati +1. Dengan demikian metode yang dipilih untuk proyeksi jumlah penduduk pada Kabupaten Buleleng hingga tahun 2020 adalah metode eksponensial karena metode ini mendekati perkembangan penduduk sesungguhnya. Benefit Cost Ratio (B/C)

Dalam perhitungan Benefit Cost Ratio ini dilakukan dengan tingkat suku

bunga yang dipakai dalam kajian ini adalah 12% (Indonesia,Bank 2008:178) dan usia guna waduk Titab adalah 60 tahun. Adapun Contoh perhitungan BCR untuk Konstruksi Waduk Titab adalah sebagai berikut :

Komponen biaya (Cost)

Total biaya Konstruksi (tahun 1s/d5) : Rp 428,716,771,000

Faktor Konversi (F/P, 12): 1,761 Nilai sekarang biaya konstruksi : Rp 754,970,233,731

Total O&P(tahun 6 s/d 60) : Rp 2,388,065,073

Faktor Konversi (P/A, 12, 60) : 8,324 Nilai sekarang biaya konstruksi OP : Rp 754,970,233,731

Total Biaya sekarang :

Rp754,970,233,731+Rp19,878,253,671

= Rp 774,848,487,402

Komponen Manfaat (benefit) Total manfaat air bersih (6 s/d 60) : Rp. 130,680,082,750

Faktor Konversi (P/A, 12, 60): 8,324 Nilai sekarang biaya konstruksi: Rp.1,087,781,008,814 layak secara ekonomi, atau lebih tepatnya proyek ini melebihi nilai impas.

Net Present Value (NPV atau B-C)

Metode kedua dalam evaluasi ekonomi ini adalah analisa ekonomi dengan menggunakan selisih benefit dan

cost (B-C). Dalam evaluasi proyek ini

(7)

Nilai sekarang total manfaat (B) = Rp 1,087,781,008,814

Nilai sekarang total biaya (C) = Rp 774,848,487,402

B-C = Rp 214,043,338,793

Internal Rate of Return (IRR)

Internal Rate of Return (tingkat

pengembalian internal) didefinisikan sebagai tingkat suku bunga yang membuat manfaat dan biaya mempunyai nilai yang sama atau B-C=0 atau tingkat suku bunga yang membuat B/C = 1 (Kodoatie,1995:112). Perhitungan IRR untuk proyek pembangunan waduk titab ini adalah sebagai berikut: yang digunakan dalam kegiatan.

Analisa Sensivitas

Analisis sensivitas dimaksudkan untuk mengetahui apa yang terjadi dengan hasil proyek apabila terjadi

kemungkinan perubahan dalam

penentuan nilai-nilai untuk biaya dan manfaat masih merupakan suatu estimasi (perkiraan), sehingga bila terjadi asumsi-asumsi yang tidak sama dengan keadaan sebenernya.

Dalam analisis ini dilakukan perhitungan terhadap :

Komponen biaya (cost) naik 10%, manfaat (benefit) tetap

• Komponen biaya (cost)

turun10%, manfaat (benefit) tetap Komponen biaya (cost) tetap,

manfaat (benefit) naik 10% Komponen biaya (cost) tetap,

manfaat (benefit) naik 10%

Komponen biaya (cost) naik 10%, manfaat (benefit) turun10%,

• Komponen biaya (cost)

turun10%, manfaat (benefit) naik 10%

Penetapan Harga Air Baku

Dalam kajian ini penetapan harga air berdasarkan kondisi paling kritis yaitu pada saat manfaat turun 10% sedangkan biaya naik 10%, sehingga harga jual air berdasarkan kondisi yang paling minimum yang dapat dikenakan pada konsumen agar proyek Pembangunan Waduk Titab benar-benar layak. Pada kondisi manfaat turun 10% dan biaya naik 10%, maka harga jual air dihitung sebagai berikut :

§ nilai B/C = 1.126

PLN Kota Buleleng

Pelayanan listrik di Kabupaten Buleleng dilaksanakan oleh Perusahaan Listrk Negara (PLN) Kota Singaraja. sumber pasokan listrik ke PLN Buleleng merupakan interkoneksi dari beberapa Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) maupun Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang ada dalam sistem interkoneksi pembangkit listrik Jawa-Bali.

(8)

(BWS Bali Penida) sebesar = Rp. 1,752,065,073

Nilai Depresiasi.

Nilai depresiasi dipengaruhi oleh nilai SFF yang ditentukan berdasarkan tabel dari hubungan besarnya bunga dan umur proyek.

Dari bunga 12 % dan umur proyek 60 tahun didapat nilai SFF = 0.00013

Maka besarnya depresiasi adalah = 0,00013 x Rp. 11,425,875,700 =

Rp.1,485,363.-

Perhitungan biaya tahunan.

Perhitungan biaya tahunan yang dilakukan adalah perhitungan biaya tahunan konstan dalam artian analisa dilakukan berdasarkan atas biaya tahunan yang tetap sepanjang usia proyek bukan berdasarkan biaya tahunan yang tidak tetap. Perhitungannya adalah sebagai berikut :

1. Bunga 12 % x 11,425,875,700 = 1,371,105,084,-

2. Depresiasi = 1,485,363,- 3. Biaya O&P = 1,752,065,073,- Total biaya tahunan = 3.124.655.520,-

Perhitungan Tarif Rata-Rata

Perhitungan diambil dengan cara mengambil nilai rata-rata dari tiap pelanggan

Industri 589.00

5

Pemerintah dan Penerangan Jalan Umum

00

Maka Nilai Rata-rata Total adalah

042

Dengan perhitungan Tarif Dasar diatas maka untuk pemakaian pada Blok I diperkirakan PLN mendapat pemasukan Rp. 663,042 per kWh tiap bulannya.

Sehingga pemasukan selama 1 tahun sebesar 12 x Rp 663,042 = Rp 7,956. per kWh.

Perhitungan Penetapan Tarif Harga Listrik Menurut Teori EkonomiTeknik

Contoh langkah perhitungan penetapan harga jual energi listrik

Diketahui:

• Usia guna proyek PLTA Titab: 60 tahun

• Tingkat suku bunga (i): 12 % Perhitungannya adalah :

1. Produksi Energi Tahunan: Kwh

(sumber Skripsi : Studi Penetapan

Harga Energi Listrik Terhadap

Kelayakan Ekonomi Teknik Pada Proyek PLTA Kesamben Blitar; Sidik Budi Sayogyo NIM 9001060387-64)

2. Biaya Proyek PLTA Waduk Titab dan penunjangnya:

= Rp. 11,425,875,700.00

3. Biaya Tahunan PLTA Waduk Titab:

= (A/P, 12, 60) * Rp. 11,425,875,700 ,- Produksi Energi Tahunan:

= Rp. 1752 x 567,943.00

= Rp 995,036,136.00

Manfaat energi listrik PLTA Titab = Rp 995,036,136.00

Keuntungan Pertanian

Keuntungan yang Dapat Dihitung (Tangible Benefit)

(9)

Bendungan Titab. Pola tanam yang direncanakan di daerah studi adalah:

• Padi – Palawija- Angggur

Sedangkan curah hujan efektif yang digunakan dengan tingkat keandalan 50% serta alternatif awal tanam ditentukan pada 1 November.

Keuntungan yang Tidak Dapat Dihitung (Intangible Benefit)

Dengan adanya proyek waduk Titab ini secara langsung akan mempengaruhi ketersediaan air irigasi pada musim kemarau, sehingga panen akan lebih banyak dan perekonomian masyarakat meningkat.

Benefit Cost Ratio

Dalam perhitungan Benefit Cost Ratio ini masing-masing komponen manfaat dan biaya dijadikan nilai sekarang (present value). Hal ini

dilakukan untuk mempermudah

perhitungan. Tingkat suku bunga yang dipakai dalam kajian ini adalah 12% (Indonesia,Bank 2008:178) Dan usia guna waduk Titab adalah 60 tahun. Adapun Contoh perhitungan BCR untuk Konstruksi Waduk Titab adalah sebagai berikut :

Komponen biaya (Cost)

Total biaya Konstruksi (tahun 1 s/d 5) : Rp 428,716,771,000

Faktor Konversi (F/P, 12, 5) : 1,761 Nilai sekarang biaya konstruksi : Rp 722,387,759,135

Total O&P(tahun 6 s/d 60) : Rp 2,388,065,073

Faktor Konversi (P/A, 12, 60): 8,324 Nilai sekarang biaya konstruksi OP: Rp 19,878,253,671

Total Biaya sekarang :

Rp754,970,233,731+Rp19,878,253,671 = Rp 744,848,487,402

Komponen Manfaat (benefit)

Total manfaat air irigasi (6 s/d 60): Rp. 154,150,729,909

Faktor Konversi (P/A, 12, 60) : 8,324 Nilai sekarang biaya konstruksi : Rp 1,283,150,675,758. layak secara ekonomi, atau lebih tepatnya proyek ini melebihi nilai impas.

Net Present Value (NPV atau B-C)

Metode kedua dalam evaluasi ekonomi ini adalah analisa ekonomi dengan menggunakan selisih benefit dan

cost (B-C). Dalam evaluasi proyek ini

nilai pada NPV pada tingkat suku bunga yang berlaku harus mempunyai harga >0. Jika nilai NPV=0 maka proyek tersebut mempunyai manfaat yang senilai dengan biaya investasinya. Jika NPV < 0 maka proyek tersebut dari segi ekonomi tidak layak dibangun.

Contoh perhitungan NPV proyek rencana untuk tingkat suku bunga 12 % adalah sebagai berikut :

Nilai sekarang total manfaat (B) = Rp 1,283,150,675,758

Nilai sekarang total biaya (C) = Rp 774,848,487,402

B-C = Rp 508,302,188,356

Internal Rate of Return (IRR)

Internal Rate of Return (tingkat

pengembalian internal) didefinisikan sebagai tingkat suku bunga yang membuat manfaat dan biaya mempunyai nilai yang sama atau B-C=0 atau tingkat suku bunga yang membuat B/C = 1 (Kodoatie,1995:112).

(10)

= 15% + 0.6%

= 15,06 % > 12% bunga yang digunakan

Analisa Sensivitas

Analisis sensivitas dimaksudkan untuk mengetahui apa yang terjadi dengan hasil proyek apabila terjadi

kemungkinan perubahan dalam

penentuan nilai-nilai untuk biaya dan manfaat masih merupakan suatu estimasi (perkiraan), sehingga bila terjadi asumsi-asumsi yang tidak sama dengan keadaan sebenernya. Dalam analisis ini dilakukan perhitungan terhadap :

Komponen biaya (cost) naik 10%, manfaat (benefit) tetap

• Komponen biaya (cost)

turun10%, manfaat (benefit) tetap Komponen biaya (cost) tetap,

manfaat (benefit) naik 10% Komponen biaya (cost) tetap,

manfaat (benefit) naik 10% Komponen biaya (cost) naik 10%,

manfaat (benefit) turun10%, (kondisi ekstrim

Penetapan Harga Air Irigasi

Dalam kajian ini penetapan harga air berdasarkan kondisi paling kritis yaitu pada saat manfaat turun 10% sedangkan biaya naik 10%, sehingga harga jual air berdasarkan kondisi yang paling minimum yang dapat dikenakan pada konsumen agar proyek ini benar-benar layak. Pada kondisi manfaat turun 10% dan biaya naik 10%, maka harga jual air dihitung sebagai berikut :

§ nilai B/C = 1.55

§ B=C = Rp.449,776,631,758 § IRR = 16,648%

§ Bunga bank = 12%

§ Kebutuhan air irigasi total = 407,652,010.26 m3/tahun

§ Manfaat air irigasi = Harga air irigasi x Kebutuhan air irigasi x (P/A,12,60) x (P/F,12,5)

Harga Air Irigasi =

Harga Air Irigasi = dengan Program Solver

Kapasitas Tampungan dan Luas Genangan

Kapasitas tampungan Waduk Titab dihitung berdasarkan peta hasil pengukuran. Elevasi kontur tertinggi pada elevasi +162,00 m. Hubungan antara elevasi dengan kapasitas waduk dan luas tampungan seperti diuraikan pada gambar 1.

Gambar 1. Kurva Kapasitas Tampungan dan Luas Bendungan Titab

Simulasi pada waduk dimaksudkan untuk mengetahui tingkat keberhasilan waduk berdasarkan ketersediaan air dan jumlah kebutuhan air yang akan dikeluarkan dari waduk yaitu untuk irigasi dan air baku.

Kapasitas tampungan efektif dihitung dengan menggunakan kurva lengkung massa yang didasarkan pada besarnya debit inflow dan kebutuhan air serta kehilangan air akibat evaporasi. Kurva Kapasitas Tampungan dan Luas Waduk Titab disajikan pada gambar 1.

Prinsip dasar dalam analisis kapasitas tampungan efektif bendungan

adalah untuk mengoptimalkan

(11)

Debit inflow pada analisa kapasitas tampungan efektif menggunakan debit andalan Q80. Sedangkan debit outflow

untuk irigasi menggunakan alternatif terpilih ditambah dengan air baku dan besarnya evaporasi pada bendungan. Persamaan umum untuk kapasitas tampungan efektif sbb:

St = S(t-1) + It – Ot – Et - Lt

0 St-1 C

dimana,

C = kapasitas tampungan efektif St = kapasitas tampungan pada

periode waktu t

S(t-1) = kapasitas tampungan pada

periode waktu t-1

It = debit masuk (inflow) pada

waktu ke t

Ot = debit kebutuhan pada

periode waktu ke t

Et = penguapan yang terjadi pada

tampungan pada periode waktu ke t

Lt = kehilangan air pada periode

waktu ke t

Dari hasil analisa tampungan efektif didapatkan kapasitas tampungan efektif untuk Waduk Titab sebesar 10,37 x 106 m3 dan volume tampungan total sebesar 12,795 juta m3.

Optimasi Harga Air dan Simulasi Keadalan Waduk Titab

Optimasi harga untuk waduk adalah optimasi yang dilakukan hanya pada satu waduk tanpa hubungan dengan waduk lain.

Fungsi Tujuan Memaximumkan

Total Net Benefit Pengguna (Model R1) Max : TNB = ∑ ni =1 (Bi-Yi) Xi, n = 5

Kendala :

X i ≥ besaran volume kebutuhan ∑ ni =1X i ≤ besaran volume tertentu

Y i…….≤ ratio model B i = Benefit per m3 Z =∑ ni =1 X i Y i

Z = Total biaya waduk

Hasil perhitungan layanan maksimum waduk untuk masing-masing awal tanam adalah sebagai berikut : Simulasi tampungan Waduk Titab digunakan untuk mengetahui hubungan antara :

1. Perubahan volume tampungan dan elevasi waduk, sepanjang tahun 2. Keandalan waduk

3. Menentukan Pola Operasi Waduk Pada simulasi ini digunakan debit inflow 15 harian untuk tiap tahun sedangkan untuk debit outflow

berdasarkan kebutuhan air irigasi untuk 6 alternatif Awal Tanam dihitung dengan beberapa variasi yaitu 1 Januari, 16 Januari, 1 Pebruari, 16 Pebruari, 1 Maret, dan 16 Maret, kebutuhan air baku sampai tahun 2025, maintenance flow, besarnya evaporasi dan kebutuhan air untuk pembangkit tenaga listrik.

Kegagalan dari simulasi tampungan waduk ditentukan dengan angka prosentase jumlah kegagalan dari total periode simulasi maksimal 20 % atau prosentase angka kepercayaan 80%.

Perhitungan simulasi waduk disajikan pada bab ini. Contoh rekapitulasi elevasi waduk hasil simulasi dengan awal tanam 1 Januari dan 16 Januari.

Awal Tanam 1 Januari

-Inflow waduk=101,388,636 m3 -Irigasi Saba = i.MT I:1396,4 ha, ii.MT II :1186,94 ha,

iii.MT III :1256,76 ha -Irigasi Puluran = i. MT :398,42 ha,

ii.MT II :338,657 ha, iii.MT III :358,578 ha -Suplesi Air Baku = 0,526 m3/detik -Vol. Tampungan Total = 12,795 juta m3 -Vol. Tampungan Eff = 10,37 juta m3 -El. MAW maksimum = El. 156 m -Maintenance Flow = 0,29 m3/detik -QPLTA/Suplesi interkoneksi = 0.77m3/detik

(12)

Tabel.2 Hasil Optimasi Harga Air Simulasi (a1)

Vol.Tot.Outflow ? 81.059 X106m3

Total Alokasi 47.950 Beaya Dam ? 4,287 X10^8Rp Total Harga 4,287 Total Net Benefit 5,055 Pengguna Alokasi X106

m3

Benefit X10^Rp Alokasi Harga / m3

F.power F.Expon PLTA ? 24.20 99 24.20 90.00 87 129 Irigasi ? 40.30 128 40.30 12.01 74 126 Air Baku ? 16.55 108 16.55 98.18 99 130 Jumlah 81 335 81 200 260 385 Nilai Rata-rata 27 53 27 67 87 128

? Vol.Inflow Vol.Out Vol Wdk Alok X Harga Alok X net ben Ratio F.Logarit Pengguna 81 19

PLTA 24 2,178 218 90 146 Irigasi 484 4,674 83 126 Air Baku 1,625 162 98 161 Jumlah 81 24 4,287 5,055 271 433 Nilai Rata-rata 2,132 3,297 53 142

Sumber : Perhitungan

Kendala Hasil optimasi

Gambar 2. Grafik Alokasi dan Harga Air (a1)

Awal Tanam 16 Januari

- Inflow waduk = 100,999,374 m3 - Irigasi Saba =

i.MT I:1396,4 ha, ii.MT II :1186,94 ha, iii.MT III :1256,76 ha - Irigasi Puluran =

i.MT I:398,42 ha, ii.MT II :338,657 ha, iii.MT III :358,578 ha

- Suplesi Air Baku = 0,526 m3/detik - Vol. Tampungan Total = 12,795 juta

m3

- Vol. Tampungan Eff = 10,37 juta m3 - El. MAW maksimum = El. 156 m - Maintenance Flow = 0,29 m3/detik - QPLTA/Suplesi interkoneksi = 0.77

m3/detik

- Daya max PLTA=3.18 MW

- Daya min PLTA=1.32 MW 0.77 m3/detik

- Daya max PLTA = 3.18 MW - Daya min PLTA = 1.32 MW

Tabel 3. Hasil Optimasi Harga Air Simulasi (b1)

Vol.Tot.Outflow ? 82.740 X106m3 Total Alokasi 47.950

Beaya Dam ? 4,287 X10^8Rp Total Harga 4,287

Total Net Benefit 5,055 Pengguna Alokasi X106m3 Benefit X10^Rp Alokasi Harga / m3 F.power F.Expon

PLTA ? 24.20 99 24.20 90.00 87 129 Irigasi ? 40.30 128 40.30 12.01 74 126 Air Baku ? 16.55 108 16.55 98.18 99 130 Jumlah 81 335 81 200 260 385 Nilai Rata-rata 27 52 27 67 87 128

? Vol.Inflow Vol.Out Vol Wdk Alok X Harga Alok X net ben Ratio F.Logarit Pengguna 83 13

PLTA 24 2,178 218 90 146 Irigasi 484 4,674 81 126 Air Baku 1,625 162 98 161 Jumlah 83 24 4,287 5,055 270 433 Nilai Rata-rata 2,132 3,297 52 142

Sumber : Perhitungan

Kendala Hasil optimasi

Gambar 3. Grafik Alokasi dan Harga Air (b1)

4. KESIMPULAN

Harga Air Baku Waduk Titab

Berdasarkan hasil analisa data maka harga air baku dapat disimpulkan hal sebagai berikut :

1. Alokasi biaya proyek Pembangunan Waduk Titab

Biaya Konstruksi Waduk Titab : Rp 428,716,771,000

Biaya Operasional dan Pemeliharaan (pertahun) : Rp 2,388,065,073. Manfaat yang diperoleh setelah adanya proyek Waduk Titab :

- Manfaat yang dapat dihitung (tangible Benefit ) : Rp 130,680,082,750

- Manfaat yang tidak dapat dihitung (Intangible Benefit)

2. Besarnya nilai B-C,B/C dan IRR pada kondisi cost naik 10%, benefit turun 10% yaitu: B-C sebesar Rp 256,754,029,530, B/C sebesar 1,31 dan IRR sebesar 15,203 %.

(13)

Harga Air Irigasi Waduk Titab

Berdasarkan hasil analisa data dapat disimpulkan Harga Air Irigasi sebagai berikut :

1. Alokasi biaya proyek Pembangunan Waduk Titab

Biaya Konstruksi (perbaikan) : Rp 428,716,771,000

Biaya Operasional dan Pemeliharaan (pertahun) : Rp 2,388,065,073. Manfaat yang diperoleh setelah adanya proyek Waduk Titab :

- Manfaat yang dapat dihitung (tangible Benefit ) : Rp. 154,150,729,909

- Manfaat yang tidak dapat dihitung (Intangible Benefit)

• Bagi petani

Adanya rasa aman, sehingga tidak muncul kekhawatiran kekeringan yang akan berdampak pada kegagalan panen.Panen melimpah sehingga tingkat perekonomian masyarakat meningkat.

• Bagi pemerintah

Pertambahan Pendapatan asli daerah dari sektor pertanian.

1. Besarnya nilai B-C,B/C dan IRR pada kondisi cost naik 10%, benefit turun 10% yaitu

B-C sebesar Rp.

449,776,631,758, B/C sebesar 1,55 dan IRR sebesar 16,648%. 2. Harga air irigasi pada kondisi

cost naik 10%, benefit turun 10% , biaya sebesar Rp 529,946,667,935.31 dan harga air sebesar Rp 88,69.

Harga Air Hasil Simulasi Waduk Titab Kabupaten Buleleng

Dari hasil analisa perbandingan maka dapat diketahui bahwa harga air mimimum eksisting sebesar Rp 800/m³ dan harga air maksimum sebesar 5500/m³, sedangkan dari hasil simulasi didapat harga air minimum sebesar Rp.982/m³ dan harga air maksimum sebesar 5695/m³ sehingga didapat bahwa untuk mendapakan nilai B/C > 1 maka

pihak pengelola air dapat menerapkan harga air yang sudah di analisa.

Tarif Listrik Kabupaten Buleleng

Perhitungan tarif rata-rata dilakukan sebagai berikut

Industri 589.00

5

Pemerintah dan Penerangan Jalan Umum

00

Maka Nilai Rata-rata Total adalah

042 kemarau sangat terbatas, sehingga perlu dilakukan pendekatan kepada petani agar mau melaksanakan pola tata tanam yang sudah di jadwalkan. 2. Hendaknya pihak-pihak terkait selalu

meninjau dan turut serta dalam pemeliharaan Waduk Titab agar waduk dapat beroperasi secara optimal sesuai usia gunanya serta terjaga keefektifitasannya.

3. Harga air yang sudah dipehitungkan hendaknya dibayarkan tepat waktu agar waduk Titab dapat terpelihara dengan baik

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous , 1996. Laporan Pra Studi

Kelayakan Waduk Basoka

Kabupaten Madura : Balai

(14)

Anonimous , 2009. Laporan Studi

PDAM Kabupaten Buleleng

Aghte, D E. 1996. Water Price Effect on

Residential and Appartment

Low-flow fixtures. Journal of

Water Resources Planning and Mana gement122(1):20-32 Ahsan, M.R. 1999. Water Resources

Management–A Comprehensive Approach. Proc. Civil and

Engineering Conference, Bangkok, Thailand p33-50. Alfredo, A. 1987. Probability Concepts

In Engineering Planning And Design. First edition. John

Wiley & Sons, Inc.USA.

Beecher, J. A. 1999. Sustainable Water

Pricing. Water Resources

Update 114:26-33

Fauzi. A. 2002. Microsoft Excel

2002.First edition. PT

Gramedia Jakarta.

Gleick, P. H. 2000. Water Planning And

Management Under Climate Change. The World’s Water.

112: p25-32.

Grigg, N.S. 1996. Management Frame

work for Large-Scale Water Problems. Journal of Water

Re-sources Planning and

Management. 122 (4) : 296-300. Hunt, C.1999. Transposing of Water

Policies From Developed To Deve-loping Countries the Case

of User Pays. Water

International. 24(4): 293-306. Harald D. 1996. Water Crisis in

Deve-loping World Misconceptions about Solution. Journal Of

Water Resources Planning and Management, 122(2):79-87 Hatmoko, W. 1999. Model Alokasi Air

Untuk Mendukung

Pengusahaan Sumberdaya Air

Yang Adil Dan

Berkesinambungan. proc

Seminar Nasional Desentralisasi Pengelolaan Sumberdaya Air Di Indonesia.ITB Bandung.p 54- 63.

Hernowo S.M. 1999. Pengusahaan Air

dan Sumber Air di Satuan Wilayah Sungai Citarum. Proc.

Seminar National Desentralisasi Pengelolaan Sumber Daya Air di Indonesia. ITB Bandung. P 1-6.

Kadariah. 1989. Evaluasi Proyek. Jakarta : Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Kuiper, Edward. 1971. Water Resources

Project Economics. Canada :

University of Manitoba.

Kodoatie, J. Robert.1995. Analisis Kelayakan Ekonomi Proyek.

Yogyakarta: Kanisius

Labadie, J.W.2001. Reservoir System

Optimization Models. Water

Resources Update, USA.108: 83-110.

Lasdon,L.1998. Microsoft Excel Solver

uses the Generalized Reduced

Gradient Non linear

Optimization. University of Texas Austin Cleveland State University.

Linsley, Ray. K, Joseph B. Franzinni. 1985. Teknik Sumber Daya Air.

Terjemahan Djoko Sasongko.

Jakarta : Erlangga.

Lippai, I.2000. Efficient and Equitable

Impact Fees for Urban Water

System Journal Of Water

Resources Planning and Management, 126(2): 75-84 Loucks, D.P. 1985. Water Resources

Systems Planning And Analysis

Prentice Hall, Inc. Englewood Cliffs, New Jersey. 07632

Lund, J.R. 1996.Operating Rule

Opti-mization for Missouri River Reservoir System Journal of

Water Resources Planning and Mana-gement.122(4) : 287-295 Macdonald, A. 2001. Water Resources in

Twenty First Century, Global Challenge. Journal of Comission

Water Engineering

(15)

Major, D.C. 1998. Climate Change And

Water Resources The Role Of

Risk Management

Methods.Water Re-sources

Update, USA. 112: 47-50

Mc. Neill, D. 2000. Water as an

Economic Good. Water

Resources Update USA.

Niedda, M. 1996. Mixed Optimization

Technique For Large Scale

Water Resources Systems.

Journal of Water Resources Planning and Management. 122(6) : 387-396

Pigram, J.J. 2000. Economic Instrument

In The Management Of

Australia’s Water Resources : A Critical View. Water Policy

Research, Armidale, Australia. LooseLeaf n. p.

Rispiningtati. 1992. Using Spreadsheet

For Irrigation Distribution

System. Development Techno

logies Unit The University of Melbourne. Australia.

Rispiningtati. 2008. Water Allocation and

Water Price Model at Multi reservoir River System. Argitek

Vol 16.FTUB.

Sayogyo, Sidik Budi . 1995. Studi

Penetapan Harga Energi Listrik Terhadap Kelayakan Ekonomi

Teknik Pada Proyek PLTA

Gambar

Tabel 1. Proyeksi Pertumbuhan Penduduk         Kabupaten Buleleng dengan Metode  Eksponensial
Gambar 1. Kurva Kapasitas Tampungan dan Luas     Bendungan Titab
Tabel.2 Hasil Optimasi Harga Air Simulasi (a1)

Referensi

Dokumen terkait

SAMBUNGAN AIR BERSIH BARU DAN PENUTUPAN SAMBUNGAN AIR BERSIH PADA PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM KOTA SURAKARTA”, Tugas Akhir, Program Studi Manajemen Administrasi,

Dalam analisa yang dilakukan untuk mencari kebutuhan air bersih Kecamatan Medan Sunggal pada tahun 2064, seluruh proyeksi jumlah pengguna air bersih di sektor domestik dan

Dalam analisa yang dilakukan untuk mencari kebutuhan air bersih Kecamatan Medan Sunggal pada tahun 2064, seluruh proyeksi jumlah pengguna air bersih di sektor domestik dan

Dalam studi ini akan ditunjukkan lebih lanjut analisis ekonomi dalam penentuan harga air bersih di PDAM Kabupaten Karangasem dengan mempertimbangkan Nilai Rasio

Tujuan utama penelitian adalah melakukan kajian sumbangan curah hujan untuk kebutuhan air bersih di Pulau-Pulau Kecil menggunakan penerapan teknologi pemanenan air

Pada saat ini sumber daya air yang umum dimanfaatkan untuk kebutuhan pelayanan air bersih bagi kebutuhan Kota Kupang diambil dari sumber mata air yang keluar pada

Sumber air yang diperlukan oleh masyarakat perkotaan dalam mencukupi kebutuhan air bersih yang layak untuk dikonsumsi diperoleh dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). PDAM

Penentuan analisa yang tepat diharapkan masyarakat dapat terlayani dengan baik dalam kebutuhan air bersih untuk tahapan pengembangan di Perumhan Nusantara Lestari