• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peraturan Perusahaan umum perum bulog

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Peraturan Perusahaan umum perum bulog "

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

P U T U S A N

Nomor : 08 / Pdt.G / 2013 / PN.JKT.UT.

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA ” Pengadilan Negeri Jakarta Utara yang memeriksa dan mengadili perkara perdata gugatan pada peradilan tingkat pertama telah menjatuhkan putusan sela sebagai berikut dalam perkara antara :

---PT. LANCAR BUANA KARYA, berkedudukan di Jakarta Utara, beralamat di Jl. Bandung Blok A-1 No. 9, Cilincing, Marunda, Jakarta Utara, untuk selanjutnya disebut sebagai --- PENGGUGAT ; M E L A W A N :

1. PT. KAWASAN BERIKAT NUSANTARA (Persero), berkedudukan di Jakarta Utara, beralamat kantor di Jalan Raya Cakung Cilincing, Tanjung Priok, Jakarta Utara (14120), untuk selanjutnya disebut sebagai TERGUGAT I;

2. NEGARA REPUBLIK INDONESIA cq PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA cq BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA cq KANTOR WILAYAH BADAN PERTANAHAN NASIONAL DKI JAKARTA cq KANTOR BADAN PERTANAHAN NASIONAL JAKARTA UTARA, Jl. Yos Sudarso No.27-29, Tanjung Priok, Jakarta Utara, untuk selanjutnya disebut sebagai ---

TERGUGAT II ; Pengadilan Negeri tersebut ;

Setelah membaca surat gugatan Penggugat ;

Setelah membaca jawaban replik dan duplik para pihak ;

Hal 1 dari 34 hal. - Putusan No.08/Pdt.G/2013/PN.Jkt.Ut.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(2)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

TENTANG DUDUK PERKARA

Menimbang, bahwa Penggugat telah mengajukan surat gugatan No.08/ Pdt.G/2013/PN.Jkt.Ut., tertanggal 10 Januari 2013 yang diterima Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada tanggal 14 Januari 2013, pada pokoknya telah mengemukakan hal-hal sebagai berikut :

1.a. Bahwa berdasarkan Akta Perjanjian Nomor : 43, tanggal 14 Juli 1988, yang dibuat dihadapan Soedarno, SH. Notaris di Jakarta (BUKTI P-1) Penggugat telah menerima pengalihan hak atau penyerahan tanah kapling dari Perseroan Terbatas (Persero) Pusat Perkayuan Marunda disingkat PT. MARUNDA, atas sebidang tanah kapling yang terletak di DKI Jakarta, wilayah Jakarta Utara, Kec. Cilincing, Kel. Cilincing, Kapling Blok II B 1 No.9, seluas 9.600 M2 (Sembilan ribu enam ratus) meter persegi, semula dengan batas-batas :

- Utara : Blok II B 1 No.7-8 - Timur : Jalan Kolektor - Selatan : Jalan Lingkungan - Barat : Blok II B 1, No.10

Dengan membayar harga pembelian atau ganti rugi tanah kavling dimaksud untuk setiap meter persegi sebesar Rp.37.000,- sehingga seluruhnya berjumlah Rp. 355.200.000,- (tiga ratus lima puluh lima juta dua ratus ribu rupiah). Belum termasuk pajak-pajak sesuai peraturan yang berlaku yang dibayar secara bertahap dengan 4 kali angsuran sehingga harga ditambah pajak-pajak seluruhnya sebesar Rp.390.720.000,- (tiga ratus sembilan puluh juta tujuh ratus dua puluh ribu rupiah) ;

b. Bahwa selain itu Penggugat juga dibebani membayar jasa exploitasi untuk pemeliharaan prasarana, kebersihan dan keamanan lingkungan yang besarnya selalu berubah, yang kemudian setelah diurus HGB nya dengan biaya-biaya yang ditanggung/dibayar oleh Penggugat, saat ini atas bidang tanah tersebut bersertifikat HGB No.66/Desa Cilincing, Kec. Cilincing, Kodya Jakarta Utara, Propinsi DKI Jakarta, di Jalan/Persil : Perkavlingan

2

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(3)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Marunda Blok II-B-1, Kav. No.9, asal Persil Pemberian Hak Guna Bangunan, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional tanggal 1 Juli 1993, No.720/HGB/BPN/93, lamanya hak berlaku 20 tahun, berakhirnya hak tanggal 22 Juli 2013, Gambar Situasi Nomor : 4267/1992, tanggal 28 Oktober 1992, luas 9.580 m2 (sembilan ribu lima ratus delapan puluh) atas pemegang hak perseroan terbatas PT. LANCAR BUANA KARYA (Penggugat) (Bukti P-2) ;

c. Bahwa dengan demikian TERBUKTI secara sah menurut hukum Penggugat adalah PEMILIK SAH atau PEMEGANG HAK ATAS BIDANG TANAH SERTIPIKAT HBG No.66/Desa Cilincing, Kec. Cilincing, Kodya Jakarta Utara, Propinsi DKI Jakarta, di Jalan/Perdir : Perkavlingan Marunda Blok II-B-1, Kav. No.9, asal Persil Pemberian Hak Guna Bangunan, berdasarkan Surat Keputausan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional tanggal 1 Juli 1993, No.720/HGB/BPN/93, lamanya hak berlaku 20 tahun, berakhirnya hak tanggal 22 Juli 2013, Gambar Situasi Nomor : 4267/1992, tanggal 28 Oktober 1992, luas 9.580 m2 (sembilan ribu lima ratus delapan puluh) atas nama pemegang hak perseroan terbatas PT. LANCAR BUANA KARYA (Penggugat) ;

2. Bahwa kemudian Perseroan Terbatas (Persero) Pusat Perkayuan Marunda disingkat PT. MARUNDA dibubarkan berdasarkan Peraturan Pemerintah RI Nomor : 31 Tahun 1990 Tentang “Pembubaran Perusahaan Persero PT. PUSAT PERKAYUAN MARUNDA dan Penyertaan Modal Negara yang berasal dari kekayaan Negara Hasil Likuidasi Perseroan tersebut ke dalam Modal Saham Perusahaan PT. KAWASAN BERIKAT NUSANTARA” sehingga karenanya segala hak dan kewajiban PT. Pusat Perkayuan Marunda demi hukum beralih menjadi hak dan kewajiban PT. Kawasan Berikat Nusantara (Persero)/TERGUGAT I (BUKTI P-3/PP No.31 Tahun 1990) ;

3. Bahwa dalam Perjanjian tersebut P-1, antara lain ditentukan sebagai berikut :

Pada Pasal 2 TARIF KAVLING :

1) Besarnya ganti rugi kavling untuk setiap meter persegi dimaksud dalam Pasal 1 Perjanjian ini adalah sebesar Rp. 37.000,- (tiga puluh tujuh ribu rupiah), sehingga untuk seluruhnya yaitu seluas 9.600 M2 (Sembilan ribu enam ratus) meter persegi menjadi Rp.355.200.000,- (tiga ratus lima

Hal 3 dari 34 hal. - Putusan No.08/Pdt.G/2013/PN.Jkt.Ut.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(4)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

puluh lima juta dua ratus ribu rupiah) ganti rugi tanah kavling tersebut belum termasuk pajak-pajak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku ;

Pada Pasal 20 dengan sub judul LAIN-LAIN sebagai berikut :

1) Perjanjian ini tidak akan berakhir dengan meninggalnya dan/atau

likuidasi salah satu pihak dan mereka sebagai penggantinya yang sah

menurut hukum, wajib mentaati dan/atau terikat pada syarat-syarat dan

ketentuan dalam perjanjian ini ;

2) Hukum yang berlaku untuk perjanjian ini dengan segala akibatnya adalah

hukum yang berlaku di Republik Indonesia ;

3) Dalam hal Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) dimaksud perjanjian ini

telah berakhir, maka akan diatur lebih lanjut oleh Pihak Pertama

berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 tahun 1997

tentang Tata Cara Permohonan dan Penyelesaian Pemberian Hak Atas

bagian-bagian Tanah Hak Pengelolaan serta Pendaftarannya ;

4) Pihak Kedua diberikan prioritas untuk melanjutkan penggunaan tanah

tersebut apabila jangka waktu Hak Guna Bangunan berakhir dengan

harga pasar yang berlaku pada saat itu ;

5) Sisa perbedaan waktu antara jangka waktu penyerahan tanah dan

berlakuknya Sertifikat Hak Guna Bangunan akan diperhitungkan secara

proporsional dengan memakai harga yang tersebut dalam ayat 1 pasal 2

“Perjanjian” ;

6) Hal-hal yang belum/kurang cukup diatur dalam perjanjian ini akan diatur lebih lanjut secara tertulis oleh kedua belah pihak dan merupakan bagian

yang tidak terpisahkan dari perjanjian ini ;

4. Bahwa dengan surat Tergugat I No. ZBA/DRT.1.1/06/2006, bulan Juni 2006, perihal perpanjangan Rekomendasi Hak Guna Bangunan No.66/Cilincing diatas HPL No.1 Cilincing yang menjawab surat Penggugat No.062/WA-KKT/VI/2006 tanggal 2 Juni 2006, menyatakan sebagai berikut : (Bukti P-4)

1) Bahwa pada prinsipnya kami setuju dengan permohonan saudara untuk

Perpanjangan Perjanjian Penggunaan Tanah Industri selama 5 Tahun

sesuai dengan jangka waktu berakhirnya sertifikat HGB No.66 Cilincing

(22 Juli 2013) yang terletak di atas HPL No.1/Cilincing miliki PT.KBN ;

4

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(5)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

2) Adapun besaran uang sewa yang harus dibayar sesuai Perjanjian

Penggunaan Tanah Industri Akta No.43, tanggal 14 Juli 1988, Notaris

Soedarno, SH di Jakarta, yang akan berakhir tahun 2008 (5 tahun)

sebesar : 9.600 m2 x Rp.10.000 = Rp.96.000.000,- (sembilan puluh enam

juta rupiah) ;

Sehingga oleh karenanya Tergugat I menentukan pembayaran perpanjangan penggunaan tanah industri dengan mendasarkan pada akta perjanjian No.43 tanggal 14 Juli 1988 dengan tarif Rp.37.000,- untuk setiap meter persegi sebagaimana ditentukan pada pasal 2 dengan sub judul TARIF KAVLING yang telah disetujui serta disepakati oleh Penggugat dan Tergugat I sejak semula, sehingga Penggugat pun telah membayar kepada Tergugat I selisih jangka waktu penggunaan tanah industri dengan tarif sebesar Rp.37.000, per meter persegi yang seluruhnya : Rp.355.200.000,- + PPN 10% Rp.35.520.000,- = Rp.390.720.000,- (tiga ratus sembilan puluh juta tujuh ratus dua puluh ribu rupiah) ;

5. Bahwa dengan demikian ketentuan-ketentuan atau klausula yang ditentukan dalam akta perjanjian No.43 tanggal 14 Juli 1988 (P-1) berlaku sebagai undang-undang yang ditaati dan mengikat antara Penggugat dan Tergugat I sehingga antara Penggugat dan Tergugat I wajib melaksanakan Perjanjian tersebut dengan segala akibatnya berdasarkan hukum yang berlaku di Republiki Indonesia, dan hal-hal yang belum/ kurang cukup diatur dalam perjanjian tersebut akan diatur lebih lanjut secara tertulis oleh kedua belah pihak dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjanjian tersebut vide pasal 20 ayat (2) dan ayat (6) Perjanjian/(P-1) junto pasal 1338 KUHPerdata ;

6. Bahwa akan tetapi secara tiba-tiba Penggugat menerima surat dari Tergugat I tertanggal 30 Juni 2011 NO.230/SBA/KMP.11.3/06/2011, Perihal : Biaya perpanjangan penggunaan tanah industri (PPTI) yang isinya menentukan besaran biaya perpanjangan tanah industri untuk perubahaan Penggugat dengan perhitungan sebagai berikut (Bukti P-5) :

a. Perhitungan besar PPTI ;

Luas lahan = 9.500 m2

Masa berlakunya PPTI = 14.07-1988 s/d 13-07-2008

Biaya PPTI = 9.600 m2XRp.620.000,- = Rp.5.952.000.000,-

Hal 5 dari 34 hal. - Putusan No.08/Pdt.G/2013/PN.Jkt.Ut.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(6)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

(lima milyar sembilan ratu lima puluh dua juta rupiah)

b. Biaya perpanjangan PPTI tahap ke II (kedua) adalah untuk jangka waktu

20 (dua puluh) tahun dari tanggal 14-07-2008 s/d tanggal 13-07-2028 ;

c. Perjanjian perpanjangan penggunaan tanah industri tahap ke II (dua)

tanggal 14-07-2008 s/d tanggal 13 Juli 2028 akan kami proses apabila

saudara telah membayar biaya PPTI tersebut minimal sebesar 10 % dari

total biaya PPTI ;

d. Kami memberikan toleransi waktu pembayaran paling lama 30 hari

setelah diterimanya surat ini ;

Sehingga Penggugat sangat kaget/terkejut dan merasa terpukul serta tidak habis mengerti mengapa Tergugat I begitu tega dan sadis menentukan secara sepihak besaran biaya perpanjangan dimaksud dengan jumlah yang fantastis, sedemikian besarnya dan tidak masuk akal karena sebenarnya

tanah HGB No.66/Cilincig adalah sudah dibayar harga ganti ruginya oleh Penggugat sebagaimana yang telah disepakati/disetujui dalam perjanjian No.43 tanggal 14 Juli 1988; Oleh karena itu besaran biaya yang ditentukan oleh Tergugat I secara sepihak, sewenang-wenang, dan sesuka hatinya dengan tidak melibatkan Pengguat dan tidak diatur bersama dengan Penggugat dalam menentukannya, maka menurut hukum perbuatan tersebut dapat dikualifikasi sebagai Perbuatan Melawan Hukum yang merugikan Penggugat ;

7. Bahwa belum hilang rasa kaget, heran dan terpukulnya Penggugat terhadap besaran biaya perpanjangan tanah industri yang nota bene “atas tanah tersebut adalah merupakan tanah milik atau pemegang haknya Penggugat karena sudah membayar harga ganti ruginya”, Penggugat ditekan dan diteror lagi oleh Tergugat I dengan suratnya tertanggal 6 Juli 2011, No.252/ SBA/KMP.11.2/07/2011, Perihal : Jangka Waktu Pembayaran Biaya Perpanjangan Penggunaan Tanah Industri Tahap Ke-II dengan perhitungan sebagai berikut (Bukti P-6) :

1) Biaya perpanjangan PPTI tahap ke II (kedua) adalah sebesar

Rp.5.952.000.000,- (lima milyar sembilan ratus lima puluh dua juta rupiah)

untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun, berakhir tanggal 22 Juli 2033 ;

6

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(7)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

2) Mengingat masa HGB saudara sudah akan berakhir pada 22 Juli 2013,

dan sebagai syarat pengajuan perpanjangan HGB tersebut kepada Badan

Pertanahan Nasional (BPN) diantaranya :

Surat rekomendasi perpanjangan HGB dari PT. Kawasan Berikat

Nusantara (P)

Mengajukan surat permohonan perpanjangan HGB kepada BPN 2

(dua) tahun sebelum masa HGB berakhir ;

3) Berkenaan dengan hal tersebut diatas, sebelum surat rekomendasi perpanjangan HGB kami terbitkan, maka diminta kepada saudara

agar membayarkan terlebih dahulu biaya perpanjangan PPTI minimal

10% dari total biaya PPTI, dan apapun toleransi waktu pembayaran kami

berikan selama 30 (tiga puluh) hari setelah diterimanya surat ini ;

8. Bahwa kemudian Penggugat juga menerima surat dari Tergugat I tentang pemberitahuan tertanggal 29 Nopember 2011, No.417/SBA/ KMP.11.2/11/2011 yang ditujukan kepada seluruh perusahaan maupun perorangan pengguna tanah industri dalam wilayah usaha Tergugat I tentagn tempat pelayanan kepengurusan perpanjangan PPTI di Jalan Lampung No.1 PT. Kawasan Berikat Nusantara (Persero) Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara (bukti P-7) ;

9. Bahwa penentuan besaran perpanjangan tanah industri yang ditentukan oleh Tergugat I secara sepihak dan sewenang-wenang dengan mengabaikan rasa keadilan dan kepatutan, tidak manusiawi dan tidak berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku, serta menentukan dengan sesukanya sendiri tersebut adalah dapat dikualifikasi sebagai perbuatan melawan hukum yang merugikan Penggugat ;

10. Bahwa kemudian Penggugat mendapat lagi tindakan terror dan tekanan dari Tergugat I dengan surat No.118/SBA/KMP.11.3/04/2012, tanggal 04 April 2012 (Bukti P-7) yang menyampaikan :

1) Bahwa Perjanjian Penggunaan Tanah Industri/HGB tahap I (Pertama)

periode 14-07-1988 s/d 22 Juli 2013 akan berakhir tanggal 22 Juli 2013 ;

2) Adapun syarat untuk pemberian surat rekomendasi perpanjangan

HGB setelah membayar lunas seluruh biaya perpanjangan PPTI tahap

ke II (dua) periode 22-07-2013 s/d 22-07-2033 ;

Hal 7 dari 34 hal. - Putusan No.08/Pdt.G/2013/PN.Jkt.Ut.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(8)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

3) Perhitungan PPTI tahap ke II (dua) atas PT. Lancar Buana Karya

(Penggugat) adalah sebagai berikut :

Luas lahat = 9.600 m2

Biaya PPTI =Rp.620.000,-/m2/20 tahun

Jumlah yang harus dibayar adalah = 9.600 m2 x Rp.620.000,- =

Rp.5.952.000.000,- (sembilan milyar sembilan ratus lima puluh dua juta

rupiah) belum termasuk PPN 10% ;

Oleh karena itu untuk kedua kalinya Penggugat terkaget-kaget dan klenger serta bingung dan pusing memikirkan perbuatan Tergugat I yang begitu kejam secara sepihak dengan sesukanya sendiri menentukan besaran biaya perpanjangan PPTI serta melakukan penekanan dan pemaksaan secara psikhologis kepada Penggugat agar terlebih dahulu membayar lunas biaya perpanjangan PPTI tahap ke II sebesar Rp.5.952.000.000,- (lima milyar sembilan ratus lima puluh dua juta rupiah) dalam waktu 30 hari terhitung setelah diterimanya surat Tergugat I tersebut, padahal menurut hukum Tergugat I tidak mempunyai wewenang data/atau dasar hukum secara sepihak melakukan pemungutan uang kepada Penggugat maupun para pemegang sertifikat HGB atas tanah kavling yang berada dan terletak dalam Kawasan Berikat Nusantara yang secara yuridis perbuatan tersebut

merupakan pemungutan uang kepada masyarakat umum para pengusaha seperti Penggugat dan lain-lainnya yang tergabung didalam Forum Komunikasi Investro KBN Marunda, sehingga perbuatan Tergugat I tersebut bertentangan dengan hukum dan peraturan perundang-udangan yang berlaku yang dapat dikualifikasi sebagai perbuatan melawan hukum yang merugikan Penggugat ;

11. Bahwa berdasarkan ketentuan hukum, penentuan secara sepihak dan sewenang-wenang besarnya biaya perpanjangan tanah industri oleh Tergugat I sebagaimana tersebut diatas (bukti P-5, P-6 dan P-7) selain merupakan perbuatan melawan hukum yang merugikan Penggugat, juga

menghambat perekonomian nasional dan mempersulit bahkan mematikan usaha pribumi yang seharusnya digalakan dan di suport untuk maju, bukan diperas oleh Tergugat I dengan dipaksa dan diharuskannya membayar besaran biaya PPTI yang sangat mahal dan tidak berdasarkan hukum; Maka perbuatan pemungutan uang yang ditentukan secara sepihak

8

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(9)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

oleh Tergugat I bertentangan dengan Undang-Undang Keuangan Negara dan mematikan usaha Penggugat beserta kawan-kawan lainnya yang tergabung dalam Forum Investor KBN Marunda ; Oleh karena itu menurut hukum Tergugat I tidak mempunyai dasar hukum memungut uang pembayaran biaya perpanjangan PPTI, dengan demikian pemungugatan biaya PPTI yang dilakukan Tergugat I dalah tidak sah dan melawan hukum serta bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945 khususnya mengenai Pasal 23 A yang menentukan “Pajak dan Pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan Negara diatur dengan Undang-Undang” dan Pasal 28 A, 28 D, 28 H yang mengatur Hak Asasi Manusia jo Undang-Undang tentang Keuangan Negara ;

12. Bahwa tentang tanah bersertifikat HGB dan perpanjangannya, berdasarkan

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.40 Tahun 1996 Tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai Atas Tanah, antara lain ditentukan hal-hal sebagai berikut :

Pasal 1

Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan :

1. Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai adalah hak atas

tanah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang No.5 Tahun 1960

tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria.

2. Hak Pengelolaan adalah hak menguasai dari Negara yang kewenangan

pelaksanaannya sebagian dilimpahkan kepada pemegangnya.

3. Sertifikat adalah tanah bukti hak yang dimaksud dalam Pasal 19

Undang-Undang Pokok Agraria.

4. Uang Pemasukan adalah sejumlah uang yang harus dibayar oleh

penerima hak pada saat pemberian Hak Guna Usaha, Hak Guna

Bangunan dan Hak Pakai serta perpanjangan dan pembaharuannya ;

5. Pejabat Pembuat Akta Tanah adalah ....dst;

6. Perpanjangan hak adalah penambahan jangka waktu berlakunya sesuatu

hak tanpa mengubah syarat-syarat dalam pemberian hak tersebut;

7. Pembaharuan hak adalah pemberian hak yang sama kepada pemegang

hak atas tanah yang telah dimilikinya dengan Hak Guna Usaha, hak Guna

Bangunan atau Hak Pakai sesudah jangka waktu hak tersebut atau

perpanjangannya habis ;

Hal 9 dari 34 hal. - Putusan No.08/Pdt.G/2013/PN.Jkt.Ut.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(10)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

8. Menteri adalah ... dst.

Pasal 22

1) Hak Guna Bangunan atas tanah Negara diberikan dengan keputusan

pemberian hak oleh menteri atau pejabat yang ditunjuk ;

2) Hak Guna Bangunan atas tanah hak pengelolaan diberikan dengan

keputusan pemberian hak oleh menteri atau pejabat yang ditunjuk

berdasarkan usul pemegang hak pengelolaan ;

3) Ketentuan mengenai tatacara dan syarat permohonan dan pemberian

diatur lebih lanjut dengan Keputusan Presiden.

Pasal 25

1) Hak Guna Bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 diberikan

untuk jangka waktu paling lama tiga puluh tahun dan dapat diperpanjang

untuk jangka waktu paling lama dua puluh tahun.

2) Sesudah jangka waktu Hak Guna Bangunan dan perpanjangannya

sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berakhir, kepada bekas pemegang

hak dapat diberikan pembaharuan Hak Guna Bangunan di atas tanah

yang sama ;

Pasal 26

1) Hak Guna Bangunan atas tanah Negara sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 22, atas permohonan pemegang hak dapat diperpanjang atau

diperbarui jika memenuhi syarat :

a. Tanahnya masih dipergunakan dengan baik sesuai dengan keadaan,

sifat dan tujuan pemberian hak tersebut ;

b. Syarat-syarat pemberian hak tersebut dipenuhi dengan baik oleh

pemegang hak, dan

c. Pemegang hak masih memenuhi syarat sebagai pemegang hak

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ;

d. Tanah tersebut masih sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah

yang bersangkutan.

2) Hak Guna Bangunan atas tanah Hak Pengelolaan diperpanjang atau

diperbarui atas permohonan pemegang Hak Guna Bangunan setelah

mendapat persetujuan dari pemegang Hak Pengelolaan ;

Pasal 28

10

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(11)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

1) Untuk kepentingan penanam modal, permintaan perpanjangan dan

pembaharuan Hak Guna Bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal

25 dapat dilakukan sekaligus dengan membayar uang pemasukan yang

ditentukan, untuk itu pada saat pertama kali mengajukan permohonan Hak

Guna Bangunan ;

2) Dalam hal uang pemasukan telah dibayar sekaligus sebagaimana

dimaksud dalam ayat (1) untuk perpanjangan atau pembaharuan Hak

Guna Bangunan hanya dikenakan biaya administrasi yang besarnya

ditetapkan oleh Menteri setelah mendapat persetujuan dari Menteri

Keuangan ;

3) Persetujuan untuk memberikan perpanjangan atau pembaharuan Hak

Guna Bangungan sebagaimana dimaksud dalam Pasl 26 ayat (1) dan

perincian uang pemasukan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)

dicantumkan dalam keputusan pemberian Hak Guna Pembangunan ;

Pasal 33

1) Hak Guna Bangunan dapat dijadikan jaminan utang dengan dibebani Hak

Tanggungan ;

2) Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hapus dengan

hapausnya Hak Guna Bangunan ;

Pasal 59

Besarnya uang pemasukan untuk memperoleh Hak Guna Usaha, Hak Guna

Bangunan dan hak Pakai termasuk perpanjangan atau pembaharuan haknya

ditetapkan oleh Menteri setelah mendapat persetujuan dari Menteri

Keuangan ;

13. Bahwa juga berdasarkan Peraturan Pemerintah Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No.4 Tahun 1998 tentang Pedoman Penetapan Uang Pemasukan Dalam Pemberian Hak Atas Tanah Negara, antara lain ditentukan :

Pasal 5 ayat (1) huruf a butir 3 dan butir 4 ;

1) “besarnya uang pemasukan untuk pemberian Hak Guna Bangunan ditetapkan dengan rumus :

a. Untuk jangka waktu 30 tahun

3) Lebih dari 600 m2 sampai dengan 2000 m2 2% x luas tanah x harga dasar

Hal 11 dari 34 hal. - Putusan No.08/Pdt.G/2013/PN.Jkt.Ut.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(12)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

4) Lebih dari 2000 m2 :

3% x luas tanah x harga dasar

b. Untuk jangka waktu kurang lebih dari 30 tahun :

Jangka waktu HGB yang diberikan x perhitungan rumus pada a

30

Pasal 5 ayat (4)

“untuk perpanjangan dan atau pembaharuan Hak Guna Bangunan yang

diberikan sekaligus pada waktu pemberian pertama Hak Guna Bangunan

tersebut sesuai Pasal 28 Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996

dikenakan uang pemasukan sebagaimana dimaksud pada ayat ini

dengan harga dasar yang berlaku pada waktu penetapan keputusan

pemberian hak tersebut”.

Oleh karena itu dalam menentukan besarnya uang pemasukan untuk perpanjangan uang pemasukan untuk perpanjangan atau pembaharuan HGB No.66/Cilincing a/n Penggugat adalah sebesar :

20 x3%xluas tanahxharga dasar sesuai perjanjian sebesar Rp.37.000 30

Atau sama dengan :

20 x 3% x 9.580 m2 x Rp.37.000,- = Rp.7.089.200,-30

(tujuh juta delapan puluh sembilan ribu dua ratus rupiah) ;

Maka besarnya uang pemasukan untuk perpanjangan Sertipikat Hak Guna Bangunan yang wajib dibayar oleh Penggugat kepada Tergugat I adalah juga harus sebesar :

20 x 3% x 9.580 m2 x Rp.37.000,- = Rp.7.089.200,-30

14. Bahwa berdasarkan ketentuan sebagaimana diuraikan diatas, menurut hukum perbuatan Tergugat I menentukan secara sepihak, sewenang-wenang, mengabaikan rasa keadilan dan kepatutan, serta tidak berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku, bahkan tidak manusiawi, tentang besarnya biaya PPTI yang harus dibayar Penggugat kepada Tergugat I untuk mendapatkan “Surat Rekomendasi” perpanjangan

12

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(13)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

SHGB No.66/Cilincing atas ama Penggugat sebesar Rp.5.952.000.000,- (lima milyar sembilan ratus lima puluh dua juta rupiah) dengan dalih sebagai biaya PPTI tahap ke-II adalah merupakan perbuatan melawan hukum yang merugikan Penggugat ;

15. Bahwa secara sadar Tergugat I mengetahui dengan pasti tentang masa berlakunya Sertipikat HGB No.66/Cilincing atas nama Penggugat akan segera berakhir pada tanggal 22 Juli 2013 dan untuk perpanjangan sertipikat tersebut harus dengan Surat Rekomendasi Perpanjangan Sertipikat HGB dari Tergugat I sebagaimana disyaratkan/ditentukan oleh Tergugat II, akan tetapi dengan sengaja dan melawan hukum Tergugat I tidak mau memberi Surat Rekomendasi Perpanjangan HGB tersebut

sebelum Penggugat membayar lunas kepada Tergugat I uang Perpanjangan PPTI sebesar Rp.5.952.000.000,- (lima milyar sembilan ratus lima puluh dua juta rupiah) walaupun menurut hukum sertipikat HGB tersebut dapat diperpanjang melalui/oleh Tergugat II dengan jangka waktu perpanjangan selama 20 tahun sebagaimana ditentukan Pasal 35 ayat (2) Undang-Undang No.5 tahun 1960/Undang-Undang Pokok Agraria; Namun demikian Tergugat II juga tidak mau melakukan proses perpanjangan SHGB No.66/Cilincing atas nama Penggugat apabila tidak ada surat rekomendasi Perpanjangan dari Tergugat I, sehingga Tergugat II juga melakukan Perbuatan Melawan Hukum yang merugikan Penggugat; Dengan demikian Tergugat II harus dihukum untuk memproses/ mengeluarkan perpanjangan SGHB No.66/Cilincing atas nama Penggugat

sekalipun tidak ada surat rekomendasi perpanjangan dari Tergugat I ; 16. Bahwa sebenarnya Penggugat bersedia membayar uang pemasukan

untuk perpanjangan SHGB tersebut asalkan besarnya uang pemasukan dimaksud sesuai dengan harga dasar yang ditentukan dalam perjanjian No.43/Bukti P-1 atau berdasarkan Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN No.4 tahun 1998 Tentang Pedoman Penetapan Uang Pemasukan Dalam Pemberian Hak Atas Tanah yang dalam Pasal 5 ayat (1) dan ayat (4) untuk perpanjangan SHGB dikenakan uang pemasukan dengan harga dasar yang berlaku pada perjanjian No.43 tanggal 14 Juli

Hal 13 dari 34 hal. - Putusan No.08/Pdt.G/2013/PN.Jkt.Ut.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(14)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

1998 yang dihitung dengan rumus sebagai berikut : 20/30 x 3% x luas

tanah/9.580 m2 x harga dasar Rp.37.000,- per meter persegi;

17. Bahwa namun demikian untuk perpanjangan SHGB No.66/Cilincing a/n Penggugat, Tergugat I dengan sengaja memaksa atau mengharuskan Penggugat membayar uang/biaya perpanjangan PPTI sebesar Rp.5.952.000.000,- (lima milyar sembilan ratus lima puluh dua juta rupiah) jika mau mendapatkan Surat Rekomendasi Perpanjangan SHGB No.66/ Cilincing atas nama Penggugat; Oleh karena itu menurut hukum Tergugat I telah terbukti secara sah dan menyakinkan melakukan perbuatan melawan hukum (onrechtmatigdaad) yang merugikan Penggugat, sehingga menurut hukum Tergugat I harus mengganti kerugian yang diderita Penggugat tersebut seketika dan lunas sekaligus sebagaimana yang dimaksud pada pasal 1365 KUHPerdata yang menyatakan :

“Tiap perbuatan yang melawan hukum dan membawa kerugian kepada

orang lain, mewajibkan orang yang menimbulkan kerugian itu karena

kesalahnnya untuk mengganti kerugian tersebut”;

18. Bahwa perbuatan melawan hukum Tergugat I tersebut mengakibatkan kerugian pada Penggugat baik kerugian materiil maupun immateriil yaitu :

KERUGIAN MATERIIL :

• Bahwa Penggugat harus mengeluarkan serta membayar biaya-biaya

untuk mengurus dan menyelesaikan masalah ini termasuk akan tetapi tidak terbatas pada menggunakan jasa hukum professional dalam mengurus hak-hak Penggugat serta akibat dari perbuatan Tergugat I yang tidak patut serta melawan hukum dengan tidak mengeluarkan surat rekomendasi perpanjangan HGB serta sewenang-wenang secara sepihak menentukan tarif biaya pemasukan atas perpanjangan sertipikat HGB sehingga merupakan perbuatan melawan hukum yang mengakibatkan kerugian bagi Penggugat yang jika di nilai dengan uang kerugian tersebut adalah pantas dan tepat jika ditetapkan sebesar Rp.100.000.000.000,- (seratus milyar rupiah);

KERUGIAN IMMATERILL :

• Bahwa dengan adanya perbuatan melawan hukum yang dilakukan

oleh Tergugat, Penggugat juga menderita kerugian immaterial berupa

14

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(15)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

hilangnya waktu untuk mengurus perpanjangan sertipikat HGB dimaksud, pikiran terbebani karena tidak ada kepastian hukum berupa surat rekomendasi perpanjangan HGB dari Tergugat yang apabila dinilai dengan uang patut dan adil apabila ditetapkan sebesar

Rp.50.000.000.000,- (lima milyar rupiah) ;

Sehingga seluruh kerugian yang diderita Penggugat dan wajib dibayar Tergugat I adalah sebesar Rp.150.000.000.000,- (seratus lima puluh milyar rupiah) atau sejumlah lain yang dianggap adil dan patut menurut pertimbangan rasa keadilan pengadilan ;

19. Bahwa mengingat Penggugat telah mencoba menyelesaikan masalah tersebut dengan secara kekeluargaan baik dengan tertulis maupun lisan, bahkan ingin bertemu untuk mencari solusinya, akan tetapi tuntutan Penggugat untuk penyelesaiannya secara musyawarah mufakat tidak diperlakukan secara wajar oleh Tergugat I sehingga gugatan ini diajukan, maka dari itu Penggugat merasa khawatir, apabila Tergugat I, yang bertingkah laku dan berkarakter buruk tersebut, tidak mau memenuhi kewajibannya kepada Penggugat dan atau hendak mengasingkan harta kekayaannya untuk menghindar dari kewajibannya membayar kerugian kepada Penggugat sebagai akibat yang ditimbulkan dari perbuatannya,

maka menurut hukum cukup beralasan apabila Penggugat mohon

perkenan Pengadilan agar meletakan sita jaminan terhadap harta kekayaan Tergugat baik berupa benda tidak bergerak maupun benda bergerak tersebut dibawah ini yaitu :

Sebidang tanah dan bangunan, setempat dikenal umum dengan

segala fasilitas dan turutannya serta perabotan dan peralatan

serta perlengkapan kantor yang ada didalamnya tersebut,

setempat dikenal umum terletak di Jl. Jalan Raya Cakung

Cilincing, Tanjung Priok, Jakarta Utara 14120 ;

20. Bahwa gugatan Penggugat mengenai pemenuhan suatu kewajiban akibat dari perbuatan melawan hukum sehingga di dalam pelaksanaan putusannya harus ada pemaksaan, karena sangat dikhawatirkan Tergugat I dan Tergugat II tidak mau melakukan dengan sukarela; Oleh karena itu cukup beralasan apabila Tergugat I dan Tergugat II lalai melaksanakan isi putusan tersebut dikenakan uang paksa (dwangsom)

Hal 15 dari 34 hal. - Putusan No.08/Pdt.G/2013/PN.Jkt.Ut.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(16)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

sebesar Rp.50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) untuk setiap harinya apabila Para Tergugat lalai mematuhi putusan tersebut ;

21. Bahwa gugatan Penggugat didasarkan pada bukti-bukti otentik yang sah dan tidak dapat lagi disangkal kebenarannya sehingga memenuhi ketentuan pasal 180 HIR, maka Penggugat mohon agar putusan dalam perkara ini dapat dilaksanakan, terlebih dahulu meskipun ada bantahan, banding atau kasasi (uit voerbaar bij voorrad) ;

22. Dalam Provisi :

Bahwa guna menghindari kerugian bagi Penggugat dan anggota Forum Komunikasi Investor Marunda maka perlu adanya tindakan hukum yang sangat urgent dan mendesak untuk mencegah perbuatan melawan hukum lainnya yang potensial cenderung dapat mengakibatkan kerugian bagi Penggugat dan anggota Forum Komunikasi Investor Marunda akan tetapi juga pihak ketiga lainnya, maka menurut hukum cukup alasan apabila demi tertibnya dan kepastian hukum, Penggugat mohon kepada Majelis Hakim untuk kiranya berkenan memeriksa gugatan ini dan menjatuhkan putusan dalam provisi yaitu :

Menghukum Tergugat I memberikan surat rekomendasi perpanjangan SHGB No.66/Cilincing atas nama Penggugat yang harus diserahkan

kepada Tergugat II dan karenanya menghukum Tergugat II untuk

melakukan proses penerbitan perpanjangan SHGB No.66/Cilincing atas

nama Penggugat sambil menunggu adanya putusan dalam perkara ini

berkekuatan hukum tetap”;

Maka berdasarkan hal-hal sebagaimana uraian tersebut di atas, Penggugat mohon agar kiranya Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini berkenan memberikan putusan yang amarnya berbunyi sebagai berikut :

I. DALAM PROVISI :

1. Mengabulkan Permohonan Provisi Penggugat tersebut ;

2.a). Menghukum Tergugat I memberikan surat rekomendasi perpanjangan SHGB No.66/Cilincing atas nama Penggugat yang harus

diserahkan kepada Tergugat II ;

b) Menghukum Tergugat II untuk melakukan proses penerbitan

perpanjangan SHGB No.66/Cilincing atas nama Penggugat walaupun

tidak ada surat rekomendasi perpanjangan SHGB dari Tergugat I sambil

16

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(17)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

menunggu adanya putusan dalam perkara ini berkekuatan hukum

tetap ;

3. Biaya menurut hukum ; II. DALAM POKOK PERKARA :

• PRIMAIR :

1. Mengabulkan gugatan Penggugat seluruhnya ;

2. Menyatakan sah dan tetap berlaku menurut hukum Akta Perjanjian No.43, tanggal 14 Juli 1988 yang dibuat dihadapan Soedarno, SH. Notaris di Jakarta dan mengikat serta wajib ditaati Tergugat I ;

3. Menyatakan Tergugat I dan Tergugat II melakukan perbuatan-perbuatan melawan hukum yang merugikan Penggugat;

4. Menghukuum Tergugat I membayar kerugian Penggugat sebesar

Rp.150.000.000.000,- (seratus lima puluh milyar rupiah) atau sejumlah lain yang dianggap adil dan patut menurut pertimbangan rasa keadilan pengadilan ;

5. Menghukum Tergugat I membuat dan menyerahkan Surat Rekomendasi Perpanjangan SHGB No.66/Cilincing atas nama Penggugat dalam tenggang waktu 8 hari sejak putusan dalam perkara ini diucapkan/dijatuhkan oleh Pengadilan Negeri ;

6. Menghukum Tergugat II memberikan perpanjangan SHGB No.66/ Cilincing atas nama Penggugat untuk jangka waktu selama 20 tahun terhitung sejak tanggal 7 Pebruari 2013 sampai dengan tanggal 7 Pebruari 2033 dengan tidak memerlukan adanya Surat Rekomendasi dari Tergugat I ;

7. Menyatakan Tergugat I tidak berwenang dan tidak berhak memungut biaya PPTI kepada Penggugat atas tanah SHGB No.66/ Cilincing atas nama Penggugat ;

8. Menghukum Tergugat I melakukan pembicaraan dengan Penggugat untuk membahas dan menentukan besarnya biaya perpanjangan SHGB No.66/Cilincing atas nama Penggugat dan hasil yang disepakati atau disetujui tentang besarnya biaya perpanjangan SHGB tersebut dituangkan dalam perjanjian yang

Hal 17 dari 34 hal. - Putusan No.08/Pdt.G/2013/PN.Jkt.Ut.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(18)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

berlaku sebagai Addendum Perjanjian No.43 tanggal 14 Juli 1988

sesuai dengan klausula/ketentuan pasal 20 ayat (6) ; 9. Menyatakan sah dan berharga sita jaminan tersebut ; 10. Menguatkan Putusan Provisi sebagaimana tersebut diatas ;

11. Menghukum Para Tergugat secara sendiri-sendiri untuk membayar uang paksa (dwangsom) sebesar Rp.50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) setiap harinya apabila lalai/terlambat melaksanakan isi putusan ini yang dapat ditagih sekaligus tanpa syarat dan harus dibayar tunai ; 12. Menyatakan putusan ini dapat dilaksanakan terlebih dahulu (Uit

Voorbaar Bij Vooraad) walaupun ada bantahan, banding atau kasasi ; 13. Menghukum Tergugat II tunduk dan mentaati putusan ini ;

14. Menghukum Para Tergugat membayar biaya perkara menurut hukum;

SUBSIDAIR :

1. Mengabulkan gugatan Penggugat seluruhnya ;

2. Menyatakan sah dan tetap berlaku menurut hukum Akta Perjanjian No.43, tanggal 14 Juli 1988 yang dibuat dihadapan Soedarno, SH. Notaris di Jakarta dan mengikat serta wajib ditaati Tergugat I ;

3. Menyatakan Tergugat I dan Tergugat II melakukan perbuatan melawan hukum yang merugikan Penggugat ;

4. Menghukum Tergugat I membayar kerugian Penggugat sebesar

Rp.150.000.000.000,- (seratus lima puluh milyar rupiah) atau sejumlah lain yang dianggap adil dan patut menurut pertimbangan rasa keadilan pengadilan ;

5. Menghukum Tergugat I membuat dan menyerahkan Surat Rekomendasi Perpanjangan SHGB No.66/Cilincing atas nama Penggugat dalam tenggang waktu 8 hari sejak putusan dalam perkara ini diucapkan/dijatuhkan oleh Pengadilan Negeri ;

6. Menghukum Tergugat II memberikan perpanjangan SHGB No.66/ Cilincing atas nama Penggugat untuk jangka waktu selama 20 tahun terhitung sejak tanggal 7 Pebruari 2013 sampai dengan tanggal 7 Pebruari 2033 dengan tidak memerlukan adanya Surat Rekomendasi dari Tergugat I ;

7. Menghukum Tergugat I melakukan pembicaraan dengan Penggugat untuk membahas dan menentukan besarnya biaya perpanjangan SHGB No.66/Cilincing atas nama Penggugat dan hasil yang disepakati

18

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(19)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

atau disetujui tentang besarnya biaya perpanjangan SHGB tersebut dituangkan dalam perjanjian yang berlaku sebagai Addendum Perjanjian No.43 tanggal 14 Juli 1988 sesuai dengan klausula/ ketentuan pasal 20 ayat (6) ;

8. Menetapkan besarnya biaya perpanjangan penggunaan tanah industri (PPTI) tahap ke – II untuk SHGB No.66/Cilincing atas nama Penggugat untuk masa berlakunya SHGB 20 tahun dengan rumus perhitungan : 20/30 x 3% x luas tanah 9.580m2 x Rp.37.000,- (tiga puluh tujuh ribu rupiah) ;

9. Menyatakan sah dan berharga sita jaminan tersebut ; 10. Menguatkan Putusan Provisi sebagaimana tersebut diatas ;

11. Menghukum Para Tergugat secara sendiri-sendiri untuk membayar uang paksa (dwangsom) sebesar Rp.50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) setiap harinya apabila lalai/terlambat melaksanakan isi putusan ini yang dapat ditagih sekaligus tanpa syarat dan harus dibayar tunai ; 12. Menyatakan putusan ini dapat dilaksanakan terlebih dahulu (Uit

Voorbaar Bij Vooraad) walaupun ada bantahan, banding atau kasasi ; 13. Menghukum Tergugat II tunduk dan mentaati putusan ini ;

14. Menghukum Para Tergugat membayar biaya perkara menurut hukum ;

LEBIH SUBSIDAIR :

Atau apabila Pengadilan berpendapat lain,

Mohon putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono)

Menimbang, bahwa setelah para pihak dipanggil secara sah dan patut ternyata Penggugat datang menghadap kuasanya yang bernama Teguh Samudra,SH.,MH., dkk dari Kantor Advokat Teguh Samudra & Associates, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 10 Januari 2013 demikian pula Tergugat I hadir kuasanya Johanis Tanak,SH.,Mhum., dkk berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 25 Pebruari 2013 , Doli P. Situmeang,SH.,MH., dkk dari Kantor Advokat Situmeang & Situmeang Law Firm berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 19 Pebruari 2013 dan H.M. ALI ABBAS ,SH.MH dkk, Advokat berdasar surat Kuasa Khusus tanggal, 19 April 2013 beralamat di Jl.Raya Cakung Cilincing Tanjung Priok Jakarta Utara ,serta Tergugat II datang menghadap kuasanya Sudarna,SH., staf pada Badan Pertanahan Nasional, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 13 Pebruari 2013 ;

Hal 19 dari 34 hal. - Putusan No.08/Pdt.G/2013/PN.Jkt.Ut.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(20)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Menimbang, bahwa terhadap gugatan tersebut, telah diupayakan perdamaian melalui mediasi dan dinyatakan gagal dengan pemeriksaan dilanjutkan ;

Menimbang, bahwa terhadap gugatan tersebut, oleh Tergugat I telah mengajukan eksepsi dalam jawaban tertanggal 15 Mei 2013 yang mengemukakan hal-hal sebagai berikut :

DALAM KONVENSI

I. TENTANG EKSEPSI

A. EKSEPSI KOMPETENSI ABSOLUT

1. Bahwa Penggugat dalam posita gugatan halaman 13 butir 15 menyebutkan :

“ ... Namun demikian Tergugat II juga tidak mau melakukan proses

perpanjangan SHGB No.66/Cilincing atas nama Penggugat apabila

tidak ada surat rekomendasi Perpanjangan dari Tergugat I, sehingga

Tergugat II juga melakukan Perbuatan Melawan Hukum yang merugikan

Penggugat; Dengan demikian Tergugat II harus dihukum untuk

memproses/mengeluarkan perpanjangan SGHB No.66/Cilincing atas

nama Penggugat sekalipun tidak ada surat rekomendasi perpanjangan

dari Tergugat I”;

2. Selanjutnya Penggugat dalam petitum gugatan halaman 17 butir 6 menyebutkan :

“Menghukum Tergugat II memberikan perpanjangan SHGB No.66/

Cilincing atas nama Penggugat untuk jangka waktu selama 20 tahun

terhitung sejak tanggal 7 Pebruari 2013 sampai dengan tanggal 7

Pebruari 2033 dengan tidak memerlukan adanya Surat Rekomendasi

dari Tergugat I”;

3. Bahwa dari uraian posita halam 13 butir 15 dan petitum gugatan halaman 17 butir 6 jelas bahwa Penggugat merasa dirugikan atas tindakan Tergugat II yang tidak mau melakukan proses perpanjangan SHGB No.66/Cilincing atas nama Penggugat

4. Dalil Penggugat sebagaimana diuraikan diatas termasuk dalam objek sengketa Tata Usaha Negara dengan alasan sebagai berikut :

20

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(21)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

a. Pasal 1 butir 4 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 sebagaimana diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Peradilan Tata Usaha Negara (“UU TUN”) menyebutkan :

“Sengketa Tata Usaha Negara adalah sengketa yang timbul dalam

bidang Tata Usaha Negara antara orang atau badan hukum

perdata dengan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara, baik di

pusat maupun di daerah, sebagai akibat dikeluarkannya

Keputusan Tata Usaha Negara, termasuk sengketa kepegawaian

berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku”. b. Pasal 3 ayat (1) UU TUN menyebutkan ;

“Apabila Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara tidak

mengeluarkan keputusan, sedangkan hal itu menjadi

kewajibannya, maka hal tersebut disamakan dengan Keputusan

Tata Usaha Negara”;

c. Pasal 53 ayat (1) UU TUN menyebutkan :

“Seseorang atau badan hukum perdata yang merasa

kepentingannya dirugikan oleh suatu Keputusan Tata Usaha

Negara dapat mengajukan gugatan tertulis kepada pengadilan

yang berwenang yang berisi tuntutan agar Keputusan Tata Usaha

Negara yang disengketakan itu dinyatakan batal atau tidak sah,

dengan atau tanpa disertai tuntutan ganti rugi dan/atau rehabilitasi” d. Berdasarkan uraian pasal 1 butir 4, pasal 3 ayat (1) dan pasal 53

ayat (1) UU TUN jelas bahwa dalil Penggugat yang merasa dirugikan atas tindakan Tergugat II yang tidak mau melakukan proses perpanjangan SHGB No.66/Cilincing atas nama Penggugat termasuk dalam objek sengketa Tata Usaha Negara sebagaimana dimaksud dalam ketentuan pasal 3 ayat (1) UU TUN. Dengan demikian secara yuridis kualifikasi perkara ini bukanlah perkara perdata, melainkan perkara Tata Usaha Negara. Oleh karena itu cukup beralasan bagi Majelis Hakim untuk menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima, karena secara absolut Pengadilan negeri Jakarta Utara tidak memiliki kewenangan untuk memeriksa dan mengadili perkara ini.

Hal 21 dari 34 hal. - Putusan No.08/Pdt.G/2013/PN.Jkt.Ut.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(22)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

B. EKSEPSI PROSESUIL

GUGATAN PENGGUGAT PREMATUR

1. Bahwa HGB No.66/Desa Cilincing, Kec. Cilincing, Kodya Jakarta Utara, Provinsi DKI Jakarta, Di Jalan/Persil : Perkavlingan Marunda Blok II B-1, Kav. No.9, Gambar Situasi Nomor : 4267/1992, tanggal 28 Oktober 1992, luas 9.580 m2 akan berakhir pada tanggal 22 Juli 2013. 2. Bahwa perkara ini didaftar pada Pengadilan Negeri Jakarta Utara

sebagai perkara perdata di bawah No.08/Pdt.G/2013/PN.Jkat.Ut. 3. Bahwa HGB No.66/Desa Cilincing tersebut, akan berakhir pada tanggal

22 juli 2013, artinya belum ada perubahan status quo sertifikat HGB No.66/Cilincing, dengan demikian perkara ini belum bisa diajukan pada diajukan ke Pengadilan Negeri Jakarta Utara, pada tanggal 14 Januari 2013 tersebut oleh karena itu demi hukum gugatan Penggugat harus dinyatakan tidak dapat diterima (niet ontvangklijk verklaard).

GUGATAN PENGGUGAT KABUR (Obscuur Libel)

1. Tuntutan Penggugat tidak jelas, apakah atas dasar Perbuatan Melawan Hukum atau Wanprestasi.

a) Bahwa dalam Posita Penggugat pada halaman 14 butir 17, Penggugat menyatakan Tergugat I telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan perbuatan melawan hukum (onrechtmatigdaad) yang merugikan Penggugat.

b) Bahwa Judul Gugatan Penggugat adalah “Perbuatan Melawan Hukum”, namun dalam Posita gugatannya pada halaman 5 butir 5 menyebutkan :

“... sehingga oleh karenanya Tergugat I menentukan pembayaran

penggunaan tanah industri dengan mendasarkan pada akta

perjanjian No.43 tanggal 14 Juli 1988 dengan tarif Rp.37.000,- untuk

setiap meter persegi sebagaimana ditentukan pada 2 dengan sub

judul TARIF KAVLING yang telah disetujui serta disepakati oleh

Penggugat dan Tergugat I sejak semula ..”

c) Bahwa dalam posita gugatan halaman 5 butir 5 Penggugat menyebutkan :

“Bahwa dengan demikian ketentuan-ketentuan atau klausula yang

ditentukan dalam akta perjanjian No.43 tanggal 14 Juli 1988 (P-1)

22

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

Referensi

Dokumen terkait

Setiap santri harus membayar uang iuran pendidikan bulanan (IPB) dan keuangan yang lain yang ditetapkan oleh pesantren tepat pada waktunya. Setiap santri diharuskan sudah berada

(2) Dalam hal keadaan mendesak dan/atau secara teknis Perusahaan tidak mampu memenuhi permintaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) maka pencetakan uang rupiah