SEJARAH MEDIASI
SEBAGAI ALTERNATIF PENYELESAIAN PERKARA PERDATA DI PENGADILAN
Tugas Makalah
Mata Kuliah : Sejarah Hukum Dosen : Dr. Arief Suryono, S.H., M.H.
Disusun Oleh :
1. Imdadurrouf E2A015053
2. Jaenuri E2A015055
3. Lilik Winarti E2A015057
PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER ILMU HUKUM UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
A. PENDAHULUAN
Manusia adalah makhluk sosial (zoon politicon) dimana mereka saling membutuhkan satu sama lain. Dengan adanya hubungan timbal balik, maka sering kali timbul fenomena sosial berupa konflik yang timbul akibat adanya kepentingan yang berbeda-beda. Dengan timbulnya konflik, maka hukum memegang peranan penting dalam menyelesaikan konflik tersebut.
Lembaga peradilan merupakan salah satu lembaga penyelesaian konflik (sengketa) yang berperan selama ini. Namun putusan yang diberikan pengadilan belum mampu menciptakan kepuasan dan keadilan bagi kedua belah pihak yang bersengketa. Putusan pengadilan cenderung memuasakan salah satu pihak dan tidak memuaskan pihak lain. Pihak yang mampu membuktikan bahwa dirinya memiliki hak atas sesuatu, maka pihak tersebut akan dimenangkan oleh pengadilan. Sebaliknya, pihak yang tidak mampu mengajukan bukti bahwa ia memiliki hak terhadap sesuatu, maka pihak tersebut pasti dikalahkan oleh pengadilan, walaupun secara hakiki pihak tersebut memiliki hak. Dalam konteks ini penyelesaian sengketa melalui pengadilan menuntut ‘pembuktian formal’, tanpa menghiraukan kemampuan para pihak dalam mengajukan alat bukti. Menang kalah merupakan hasil akhir yang akan dituai para pihak, jika sengketa tersebut diselesaikan melalui jalur pengadilan.
pada renggangnya hubungan silaturahmi antara para pihak yang bersengketa.3
Dalam proses penyelesaian sengketa di pengadilan, hakim mewajibkan para pihak untuk menempuh mediasi. Pernyataan ini disampaikan hakim kepada para pihak pada sidang pertama. Ia meminta para pihak untuk memilih mediator dari daftar mediator yang dimiliki oleh pengadilan maupun mediator diluar daftar pengadilan. Apabila para pihak memilih mediator dari daftar pengadilan, maka ketua majelis akan membuat surat penetapan mediator. Bila para pihak tidak setuju dengan daftar mediator yang ada dipengadilan atau mediator dari luar pengadilan, maka ketua majelis dengan kewenangan yang ada menunjuk seorang mediator dari daftar mediator pada pengadilan tingkat pertama dengan suatu penetapan.4
Mediasi merupakan alternatif penyelesaian sengketa yang dapat di gunakan oleh para pihak. Lembaga ini memberikan kesempatan kepada para pihak untuk berperan mengambil inisiatif, guna menyelesaikan sengketa mereka yang dibantu pihak ketiga sebagai mediator. Prinsip mediasi adalah sama-sama menang (win-win solution), sehingga para pihak yang terlibat sengketa merasakan tidak adanya pihak menang dan pihak kalah. Mediasi bukan hanya mempercepat proses penyelesaian sengketa, tetapi juga menghilangkan dendam dan memperteguh hubungan silaturahmi.5
Mediator adalah pihak ketiga yang membantu penyelesaian sengketa para pihak, yang mana ia tidak melakukan intervensi terhadap pengambilan keputusan. Mediator menjembatani pertemuan para pihak melakukan negosiasi, menjaga dan mengontrol proses negosiasi, menawarkan alternatif solusi dan secara bersama-sama para pihak
3 Syahrial Abbas, Mediasi dalam hukum syariah, hukum adat, dan hukum nasional, Kencana, Jakarta,
2011, hal x.
4 Retnowulan Sutantio dan Iskandar Oeripkartawinata, Hukum Acara Perdata, CV. Mandar Maju,
Bandung, Cetakan Kesebelas, 2009, hal. 35-37. Baca juga; Ahmad Mujahidin, Pembaharuan Hukum Acara Peradilan Agama, Ghalia Indonesia, Bogor, 2012, hal. 150-153.
merumuskan kesepakatan penyelesaian sengketa. Meskipun mediator teerlibat dalam menawarkan solusi dan merumuskan kesepakatan, bukan berarti ia yang menentukan hasil kesepakatan. Keputusan akhir tetap berada ditangan para pihak yang bersengketa. Mediator hanyalah membantu mencari jalan keluar, agar para pihak bersedia duduk bersama menyelesaikan sengketa yang mereka alami.6
Mediasi dapat dilakukan melalui jalur pengadilan atau diluar jalur pengadilan. Ketentuan dalam Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 ditujukan untuk menyelesaikan sengketa diluar jalur pengadilan, sedangkan Perma No. 02 Tahun 2003 sebagaimana telah di ubah dengan Perma No. 1 tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan diterbitkan untuk prosedur mediasi di Pengadilan. Mediasi di pengadilan merupakan suatu rangkaian dengan pemeriksaan perkara di pengadilan. Bila para pihak gagal menempuh mediasi, maka hakim akan melanjutkan pemeriksaan perkara sesuai dengan ketentuan hukum acara yang berlaku.
B. PERUMUSAN PERMASALAHAN
Bagaimanakah sejarah perkembangan Mediasi sebagai alternatif penyelesaian perkara perdata di pengadilan sampai dengan sekarang ?
C. PEMBAHASAN
Penyelesaian konflik (sengketa) secara damai telah dipraktikan dalam kehidupan masyarakat Indonesia pada masa-masa yang telah lalu. Masyarakat Indonesia merasakan penyelesaian sengketa secara damai telah mengantarkan mereka pada kehidupan yang harmonis, adil, seimbang, dan terpeliharanya nilai-nilai kebersamaan (komunalitas) dalam masyarakat. Masyarakat mengupayakan penyelesaian sengketa mereka secara cepat dengan tetap menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan tidak merampas atau menekan kebebasan individual. Masyarakat Indonesia,
sebagaimana masyarakat lainnya didunia, merasakan bahwa konflik atau sengketa yang muncul dalam masyarakat tidak boleh dibiarkan terus menerus, tetapi harus diupayakan jalan penyelesaiannya. Dampak dari konflik tidak hanya memperburuk hubungan antar para pihak, tetapi juga dapat menganggu keharmonisan sosial dalam masyarakat.
Penyelesaian konflik atau sengketa dalam masyarakat mengacu pada prinsip “kebebasan”7 yang menguntungkan kedua belah pihak. Para pihak dapat menawarkan opsi penyelesaian sengketa dengan perantara tokoh masyarakat. Para pihak tidak terpaku pada upaya pembuktian benar atau salah dalam sengketa yang mereka hadapi, tetapi mereka cenderung memikirkan penyelesaian untuk masa depan, dengan mengakomodasi kepentingan-kepentingan mereka secara berimbang. Penyelesaian sengketa yang dapat memuasakan para pihak dapat ditempuh melalu mekanisme musyawarah dan mufakat. Penerapan prinsip musyawarah ini umumnya dilakukan diluar pengadilan. Musyawarah mufakat merupakan falsafah masyarakat Indonesia dalam setiap pengambilan keputusan, termasuk penyelesaian sengketa. Musyawarah mufakat sebagai nilai filosofi bangsa dijelmakan dalam dasar negara, yaitu Pancasila. Dalam sila keempat Pancasila disebutkan, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Nilai tertinggi ini, kemudian dijabarkan lebih lanjut dalam UUD 1945 dan sejumlah peraturan perundang-undangan dibawahnya. Prinsip musyawarah mufakat merupakan nilai dasar yang digunakan pihak bersengketa dalam mencari solusi terutama diluar jalur pengadilan. Nilai musyawarah mufakat terkonkritkan dalam bentuk mediasi, dan berbagai bentuk penyelesaian sengketa lainnya.
Dalam sejarah perundang-undangan Indonesia prinsip musyawarah mufakat yang berujung damai juga digunakan dilingkungan peradilan, terutama dalam penyelesaian sengketa perdata. Hal ini terlihat dari sejumlah peraturan perundang-undangan sejak masa kolonial belanda
7 Kebebasan yang dimaksudkan adalah para pihak lebih leluasa untuk mengkreasi kemungkinan opsi
sampai sekarang masih memuat asas musyawarah damai sebagai salah satu asas peradilan (baca: peradilan perdata) di Indonesia. Bahkan akhir-akhir ini muncul dorongan kuat dari berbagai pihak untuk memperteguh prinsip damai melalui mediasi dan arbitrase dalam penyelesaian sengketa. Dorongan ini didasarkan pada sejumlah pertimbangan antara lain penyelesaian sengketa melalui pengadilan memerlukan waktu yang cukup lama, melahirkan pihak menang kalah, cenderung mempersulit hubungan para pihak pasca lahirnya putusan hakim, dan para pihak tidak leluasa mengupayakan opsi penyelesaian sengketa mereka.8
Istilah mediasi dan arbitrase cukup gencar dipopulerkan oleh para akademisi dan praktisi akhir-akhir ini. Para ilmuan berusaha mengungkap secara jelas makna mediasi dalam berbagai literatur melaui riset dan studi akademik. Para praktisi juga cukup banyak menerapkan mediasi dalam praktek penyelesaian sengketa. Perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, dan berbagai lembaga lain cukup banyak menaruh perhatian pada mediasi ini.9
Secara etimologi istilah mediasi berasal dari bahasa latin “mediare”
yang berarti berada di tengah, makna ini menunjuk pada peran yang ditampilkan pihak ke tiga sebagai mediator dalam tugasnya menengahi dan menyelesaikan sengketa antara para pihak.10 Secara terminologi para ahli tidak seragam dalam memberikan definisi mediasi, karena masing-masing memberikan pengertian sesuai dengan sudat pandangnya, misalnya J. Folberg dan A. Taylor sebagaiman dikutip Prof. Dr. Syahrizal Abbas dalam bukunya Mediasi (Dalam hukum syariah, hukum adat dan hukum nasional) mendefinisikan mediasi” ...the process by wich the participants, together with the assistance of a neutral persons, systematically issolate dispute in order to develop options, consider alternatif, and reach consensual settlement that will accomodate their
8 Syahrial Abbas, Mediasi …Op. Cit., hal 285.
9 Gatot Sumartono, Arbitrase dan Mediasi di Indonesia, PT Gramedia Media Pustaka Utama, 2006, hal
119.
nedds”.11 Para ahli yang lain misalnya Prof. Dr. Takdir Rahmadi, S.H., LL.M dalam bukunya Mediasi (penyelesaian sengketa melalui pendekatan mufakat) mendefinisikan Mediasi sebagai “Suatu proses penyelesaian sengketa antara dua pihak atau lebih melalui perundingan atau cara mufakat dengan bantuan pihak netral yang tidak memiliki kewenangan memutus”.12 Dalam Peraturan Mahkamah agung (Perma) Nomor 01 tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan Pasal 1 ayat 7 memberikan definisi : “ Mediasi adalah cara penyelesaian sengketa melalui proses perundingan untuk memperoleh kesepakatan para pihak dengan dibantu oleh mediator.“
Sedangkan Pengertian arbitrase sendiri secara etiomologi berasal dari kata “ arbitase (Latin), arbitrage (Belanda), arbitration (Inggris),
schiedspruch (Jerman), dan arbitrage (Prancis), yang berarti kekuasaan untuk menyelesaikan sesuatu menurut kebijaksanaan atau damai oleh arbiter atau wasit. Sedangkan secara terminologi dalam Black Law Distionary sebagaimana dikutip Rachmadi Usman, S.H. dalam bukunya Pilihan Penyelesaian sengketa di luar pengadilan dijelaskan “ Arbitration is the reference of a dispute to an impartial (third) person chosen by the parties to the dispute whoo agree in advance to abide by the arbitrator’s award issued after hearing at which both parties hace an opportunity to be heard. An arrangement for taking and abiding by the judgment of selected persons in some disputed matter, istead of carrting it to establish tribunal of justice, and is intended to avoid the formalities, the delay, the expense and taxation of ordinary litigation” dan dalam kamus Hukum Ekonomi ELIPS menyatakan “ Arbitration, arbitrase, perwasitan adalah : metode penyelesaian sengketa diluar pengadilan dengan memakai jasa wasit atas persetujuan para pihak yang bersengketa dan keputusan wasit mempunyai kekuatan hukum mengikat. Arbitor, arbiter, wasit adalah orang yang bukan hakim yang bertugas memeriksa dan mengadili perkara
11Ibid., hal 4.
12 Takdir Rahmadi, Mediasi (penyelesaian sengketa melalui pendekatan mufakat), PT RajaGrafindo
menurut tata cara perwasitan”.13 Sedangkan didalam Undang-Undang Arbitrase Nomor 30 tahun 1999 tentang Arbitrase Pasal 1 ayat 1 mendefinisikan Arbitrase adalah: “Cara penyelesaian suatu sengketa perdata diluar pengadilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa”
Berikut akan dikemukakan sejumlah peraturan yang menjadi perkembangan mediasi dari hukum adat, masa kolonial belanda, masa kemerdekaan sampai dengan sekarang serta dasar yuridis bagi penerapan mediasi di pengadilan maupun diluar pengadilan. Mediasi dengan landasan musyawarah menuju kesepakatan damai, mendapat pengaturan tersendiri baik dalam hukum adat, dalam peraturan produk hukum hindia belanda maupun produk hukum setelah Indonesia merdeka sampai hari ini. Pengaturan alternatif penyelesaian sengketa dalam aturan hukum amat penting, mengingat Indonesia adalah negara hukum (rechtsstaat). Dalam negara hukum tindakan lembaga negara dan aparatur negara harus memiliki landasan hukum, karena tindakan negara atau aparatur negara yang tidak ada dasar hukumnya dapat dibatalkan atau batal demi hukum. Mediasi sebagai institusi penyelesaian sengketa dapat dilakukan oleh hakim (aparatur negara) di pengadilan atau pihak lain diluar pengadilan, sehingga keberadaannya memerlukan aturan hukum.
1. Mediasi dalam sistem hukum adat
Konsep penyelesaian sengketa melalui mediasi yang menggunakan win-win solution atau penyelesaian menang sama menang, telah lama dikenal dalam hukum adat di Indonesia. Konsep penyelesaian sengketa melalui musyawarah antara para pihak telah lama dikenal oleh masyarakat hukum adat, jauh sebelum sistem litigasi diperkenalkan oleh pemerintah kolonial belanda.14
13 Rachmadi Usman, Pilihan penyelesaian sengketa di luar pengadilan, PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung, 2003, hal. 107-110.
14 Nurnaningsih Amriani, Mediasi alternative penyelesaian sengketa perdata di pengadilan,
Penyelesaian sengketa menurut hukum adat selalu diarahkan kepada pemulihan dan keseimbangan tatanan yang terganggu karena adanya sengketa tersebut, dan tidak bersifat penghukuman.15
Ketua adat didalam menyelesaikan sengketa tidak untuk mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah. Penyelesaian sengketa melalui musyawarah mufakat dan damai bahkan telah dikenal pada zaman Mataram II. Pada saat Sultan Agung berkuasa, urusan peradilan dilaksanakan oleh penghulu agama atas nama raja yang didampingi oleh beberapa ulama sebagai anggota majelis peradilan. Peradilan ini disebut dengan peradilan serambi. Peradilan ini dilaksanakan atas dasar musyawarah dan mufakat (collegiale rechtspraak). Hasil putusan musyawarah menjadi putusan terakhir oleh raja. Pada zaman tersebut disamping adanya peradilan serambi, didaerah-daerah juga berlaku peradilan “padu”, yaitu penyelesaian perselisihan-perselisihan antara perorangan oleh peradilan keluarga (peradilan desa) secara damai, dan apabila tidak dapat diatasi secara kekeluargaan, maka diselesaikan oleh peradilan padu secara damai dibawah pimpinan seorang pejabat kerajaan yang disebut Jaksa.16
Kemudian pola-pola penyelesaian sengketa tersebut tetap dikenal didalam hukum adat pada zaman pemerintahan kolonial Belanda. Pada zaman ini dikenal apa yang disebut dengan hakim perdamaian desa. Lembaga perdamaian desa mendapat pengakuan secara hukum berdasarkan Pasal 3a RO (Rechtelijke Organisatie), yang antara lain menyatakan bahwa hakim-hakim adat tidak boleh menjatuhkan hukuman (ayat 3). Oleh karena tidak boleh menjatuhkan hukuman, ditempuhlah suatu usaha “perdamaian”. Dalam menegakan hukum adat, lembaga perdamaian desa ini menjalankan peranan
15 Syahrial Abbas, Mediasi …Op. Cit., hal 249.
16 H. Hilman Hadikusuma, Pengantar Ilmu Hukum Adat di Indonesia, CV. Mandar Maju, Bandung,
mendamaikan dan membina ketertiban disebutkan dalam Pasal 3 dan 13 Regelement Indonesia yang diperbaharui (RIB).17
Beberapa aspek positif dari perdamaian desa, yaitu :18
a) Hakim perdamaian desa bertindak aktif mencari fakta
b) Hakim meminta nasihat kepada tetua-tetua adat dalam masyarakat.
c) Putusan diambil berdasarkan musyawarah dan/atau mufakat
d) Putusan dapat diterima oleh para pihak dan juga memuaskan masyarakat secara keseluruhan
e) Pelaksanaan sanksi melibatkan para pihak, hal mana menunjukan adanya tenggang rasa (toleransi) yang tinggi diantara para pihak.
f) Suasana rukun dan damai antara para pihak dapat dikembalikan
g) Integrasi masyarakat dapat dipertahankan
Pola-pola penyelesaian sengketa secara musyawarah dan damai tetap bertahan didalam masyarakat hukum adat Indonesia dewasa ini. Didalam masyarakat Batak, misalnya: masih mengandalkan forum
rukun adat yang pada intinya adalah penyelesaian sengketa secara musyawarah dan kekeluargaan. Dalam masyarakat Minangkabau juga dikenal adanya Lembaga Hakim Perdamaian Minangkabau, yang secara umum bertindak sebagai mediator dan konsiliator. Dalam masyarakat Minang telah berkembang suatu tradisi bahwa kalau terjadi perselisihan, termasuk sengketa dagang (yang dianggap identik sebagai pekerjaan orang Minang), mereka mencari berbagai kemungkinan alternatif mana yang lebih efektif jika kasusnya harus segera diselesaikan dipengadilan atau diluar pengadilan. Dengan sejumlah pertimbangan, banyak kasus dagang di Minang ternyata diselesaikan melalui “mediasi” (kesepakatan) atau konsiliasi (kesepakatan dengan kompensasi).19 Demikian juga dalam
17 Nurnaningsih Amriani, Mediasi … Op. Cit., hal 117. 18Ibid., hal 117.
masyarakat Jawa, penyelesaian sengketa dilakukan melalui musyawarah yang difasilitasi oleh tokoh masyarakat atau tokoh agama.
Dari uraian diatas jelas terlihat bahwa konsep penyelesaian melalui mediasi telah lama dikenal dalam sistem hukum adat kita. Sayangnya pola-pola penyelesaian sengketa win-win solution yang dikenal dalam hukum adat kita kurang dikembangkan oleh masyarakat. Bahkan, masyarakat kita yang menyatakan diri sebagai masyarakat yang kompromis, telah beralih menjadi masyarakat litigasi (litigious society).
2. Mediasi pada masa Kolonial Belanda
Mediasi juga dikenal dalam sistem hukum kolonial belanda walaupun hanya secara implisit. Setidaknya ada dua peraturan perundang-undangan yang dapat dijadikan dasar untuk menerapkan mediasi, yaitu HIR (Herziene Indonesische Reglement) dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang merupakan terjemahan dari BW (Burgerlijk Wetboek).20
HIR adalah hukum acara perdata peninggalan pemerintahan kolonial Belanda yang berlaku hingga sekarang berdasarkan aturan peralihan Pasal II aturan peralihan Undang-Undang Dasar 1945, yang kemudian diperkuat dengan Undang-Undang Darurat Nomor 1 tahun 1951 tentang tindakan-tindakan sementara untuk menyelenggarakan kesatuan susunan, kekuasaan dan acara pengadilan-pengadilan sipil.
Pada masa kolonial belanda ini lembaga pengadilan diberikan kesempatan untuk mendamaikan para pihak yang bersengketa. Kewenangan mendamaikan hanya sebatas kasus-kasus keluarga dan perdata pada umumnya seperti perjanjian, jual beli, sewa menyewa, dan berbagai aktivitas bisnis lainnya. Hakim diharapkan mengambil peran maksimal dalam proses mendamaikan para pihak yang
bersengketa. Hakim yang baik berusaha maksimal dengan memberikan sejumlah saran agar upaya damai tidak hanya bermanfaat bagi para pihak, tetapi juga memberikan kemudahan bagi hakim dalam mempercepat penyelesaian sengketa yang menjadi tugasnya.21
Dalam pasal 130 HIR (Het Herziene Indonesich Reglement, Staatsblad 1941:44) ayat (1) dikatakan bahwa :
“Jika pada hari yang ditentukan untuk itu, kedua belah pihak datang maka pengadilan negeri dengan pertolongan ketua mencoba akan memperdamaikan mereka”
Selanjutnya dalam ayat (2) dikatakan bahwa :
“Jika perdamaian yang demikian itu dapat dicapai, maka pada waktu bersidang, diperbuat sebuah surat (akta) tentang itu, dalam mana kedua belah pihak dihukum akan menepati perjanjian yang diperbuat itu, surat mana akan berkekuatan dan akan dijalankan sebagai putusan yang biasa”.
Atau juga dalam Pasal 154 R.Bg (Rechts reglement Buitengwesten, Staatsblad, 1927:227) atau pasal 31 Rv (Reglement op de Rechtsvordering, Staatsblad 1874:52), disebutkan bahwa hakim atau majelis hakim akan mengusahakan perdamaian sebelum perkara mereka diputuskan. 22
Ketentuan dalam pasal 130 HIR/ 154 R.bg/ 31 Rv mengambarkan bahwa penyelesaian sengketa melalui jalur damai merupakan bagian dari proses penyelesaian sengketa dipengadilan. Upaya damai menjadi kewajiban hakim, dan ia tidak boleh memutuskan perkara sebelum upaya mediasi dilakukan terlebih dahulu. Bila kedua belah pihak bersetuju menempuh jalur damai, maka hakim harus segera melakukan mediasi terhadap kedua belah pihak, sehingga mereka sendiri menemukan bentuk-bentuk kesepakatan yang dapat menyelesaikan sengketa mereka.
Kesepakatan tersebut harus dituangkan dalam sebuah akta perdamaian, sehingga memudahkan para pihak melaksanakan kesepakatan itu. Akta damai memeiliki kekuatan hukum sama dengan
vonnies hakim, sehingga ia dapat dipaksakan kepada para pihak jika salah satu diantara mereka enggan melaksanakan isi kesepatakatan tersebut. Para pihak tidak dibenarkan melakukan banding terhadap akta perdamaian yang dibuat dari hasil mediasi. Dalam sejarah hukum, penyelesaian sengketa melalui proses damai dikenal dengan :
dading”23
Peraturan perundang-undangan pada masa belanda juga mengatur penyelesaian sengketa melalui upaya damai diluar pengadilan. Upaya tersebut dikenal dengan Arbitrase. Ketentuan mengenai hal ini diatur dalam Pasal 615-651 Rv (Reglement op de Rechtsvordering, Staatsblas 1874:52), atau Pasal 377 HIR (Het Herziene Indonesich Reglement, Staatsblad 1941:44). Ketentuan dari pasal-pasal ini antara lain berbunyi : Jika orang bangsa bumiputera dan orang Timur Asing hendak menyuruh memutuskan perselisihannya oleh juru pemisah atau arbitrase, maka dalam hal itu mereka wajib menurut peraturan mengadili perkara bagi bangsa Eropa.24
R. Tresna memberikan komentar bahwa Pasal 377 HIR, pada dasarnya memberikan peluang bagi para pihak bersengketa untuk meminta bantuan atau jasa baik dari pihak ketiga guna menyelesaikan perselisihan mereka. Pihak ketiga dikenal dengan scheidsgerecht atau pengadilan wasit. Scheidsgerecht tidak berbeda dengan pengadilan biasa, kecuali orang yang mengadili perkara bukanlah hakim, melainkan seseorang atau beberapa orang yang dipilih oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk menyelesaikan sengketa mereka. Keputusaan dari pengadilan wasit atau scheidsgerecht sama
23Ibid., hal 288.
24 Rachmadi Usman, Pilihan penyelesaian sengketa di luar pengadilan, PT. Citra Aditya Bakti,
kekuatannya dengan keputusan pengadilan (vonnies hakim), kecuali dalam pelaksanannya memerlukan keterangan (baca: pengesahan) dari hakim. Hakim pengadilan dapat memberikan pengesahan atau menolak memberikan pengesahan, jika ditemukan kesalahan formil yang menurut undang-undang dapat membatalkan keputusan yang dibuat oleh scheidsgerecht atau pengadilan wasit. Hakim dalam memberikan pengesahan terhadap putusaan scheidsgerecht tidak boleh mempertimbangkan apakah isi putusan wasit itu betul atau salah, karena penyelesaian sengketa dengan bantuan wasit atau arbitrase hanya mungkin dilakukan bila kedua belah pihak menginginkannya.25
3. Mediasi pada masa kemerdekaan sampai sekarang
Dalam pasal 24 UUD 1945 ditegaskan bahwa kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang beada dibawahnya lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peadilan militer, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah mahkamah konstitusi. Ketentuan pasal 24 mengisyartkan bahwa penyelesaian sengketa yang terjadi dikalangan masyarakat dilakukan melalui jalur pengadilan (litigasi). Badan peradilan adalah pemegang kekuasaan kehakiman yang mewujudkan hukum dan keadilan. Meskipun demikian, sistem hukum di Indonesia juga membuka peluang menyelesaikan sengketa diluar jalur pengadilan (nonlitigasi). Dua model penyelesaian ini disebut dengan metode penyelesaian sengketa dalam bentuk formal dan informal.
a) Mediasi pada lembaga peradilan
(1) Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) Nomor 02 tahun 2003
Terbitnya Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) RI Nomor 02 tahun 2003 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan menjadikan mediasi sebagai bagian dari proses beracara pada pengadilan. Ia menjadi bagian integral dalam penyelesaian sengketa dipengadilan. Mediasi pada pengadilan memperkuat upaya damai sebagaimana yang tertuang dalam hukum acara pasal 130 HIR atau pasal 154 Rbg. Hal ini ditegaskan dalam pasal 2 Perma No. 02 tahun 2003, yaitu semua perkara perdata yang diajukan ke pengadilan tingkat pertama wajib terlebih dahulu diselesaikan melalui perdamaian dengan bantuan mediasi.26
Ketentuan Pasal 2 Perma ini mengharuskan hakim sebelum melanjutkan proses pemeriksaan perkara terlebih dahulu menawarkan mediasi kepada pihak yang bersengketa. Penawaran ini bukanlah suatu bentuk pilihan (choice) tetapi merukan kewajiban yang haru diikuti oleh para pihak. Pasal 3 ayat (1) Perma No. 02 Tahun 2003 menyebutkan bahwa pada hari sidang pertama yang dihadiri kedua belah pihak, hakim mewajibkan para pihak yang berperkara terlebih dahulu menempuh mediasi. Ketentuan dalam ayat ini menunjukan bawahwa para pihak tidak dapat menolak kewajiban yang dibebankan hakim untuk menempuh jalur mediasi terlebih dahulu sebelum perkaranya dilanjutkan.
Dalam Perma No. 02 Tahun 2003 secara keseluruhan berisi 18 Pasal yang terbagi menjadi 6 Bab, yaitu ketentuan umum, tahap Pra mediasi, tahap mediasi, tempat dan biaya, lain-lain dan terakhir Penutup.
Kemudian pada perkembangan selanjutnya Mahkamah Agung menyempurnakan prosedur mediasi di pengadilan dengan mengeluarkan Perma No. 01 tahun 2008 tentang prosedur mediasi di pengadilan, hal ini dilakukan karena ditemukan beberapa masalah, sehingga tidak efektif penerapannya di pengadilan. Perma No. 01
tahun 2008 ini sebagai upaya untuk mendayagunakan dan mempercepat, mempermurah dan mempermudah penyelesaian sengketa serta memberikan akses yang lebih besar kepada pencari keadilan. Mediasi merupakan instrumen efektif untuk mengatasi penumpukan perkara di pengadilan, dan sekaligus memaksimalkan fungsi lembaga pengadilan dalam menyelesaikan sengketa, disamping proses pengadilan yang bersifat memutus (adjudikatif).27
(2) Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) Nomor 01 tahun 2008
Disusunnya Perma No. 01 Tahun 2008 dimaksudkan untuk lebih mendayagunakan dan memberikan kepastian, ketertiban, kelancaran dalam proses mendamaikan para pihak untuk menyelesaikan suatu sengketa pedata. Hal ini dapat dilakukan dengan mengintensifkan dan mengintegrasikan proses mediasi kedalam prosedur berperkara di pengadilan. Mediasi mendapat kedudukan penting dalam Perma No. 01 Tahun 2008, karena merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses berperkara di pengadilan. Hakim wajib mengikuti prosedur penyelesaian sengketa melalui mediasi. Bila hakim melanggar atau enggan menerapkan prosedur mediasi, maka putusan hakim terbut batal demi hukum (Pasal 2 ayat 3). Oleh karenanya, hakim dalam pertimbangan putusannya wajib menyebutkan bahwa perkara yang bersangkutan telah diupayakan perdamaian melalui mediasi dengan menyebutkan nama mediator untuk perkara yang bersangkutan.
Pasal 4 Perma No. 01 Tahun 2008 menentukan perkara yang dapat diupayakan mediasi adalah semua sengeketa perdata yang diajukan ke pengadilan tingkat pertama, kecuali perkara yang diselesaikan melalui prosedur pengadilan niaga, pengadilan hubungan industrial, keberatan atas putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen dan keberatan atas putusan Komisi Pengawas Persaingan
Usaha. Perkara perdata yang dapat dilakukan mediasi adalah perkara perdata yang menjadi kewenangan lingkup peradilan umum dan lingkup peradilan agama yang meliputi perkara perkawinan, kewarisan, wakaf, hibah, sodaqoh, wasiat, dan ekonomi Islam.
Pada prinsipnya mediasi dilingkungan pengadilan dilakukan oleh mediator yang berasal dari luar pengadilan. Namun, mengingat jumlah mediator yang sangat terbatas dan tidak semua pengadilan tingkat pertama tersedia mediator, maka Perma ini mengizinkan hakim menjadi mediator. Hakim yang menjadi mediator bukanlah hakim yang sedang menangani perkara yang akan dimediasikan, tetapi hakim-hakim lainnya dipengadilan tersebut. Mediator non hakim-hakim dapat berpraktik di pengadilan, bila memiliki sertifikat mediator yang diperoleh setelah mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh lembaga yang mendapat akreditasi Mahkamah Agung RI ( Pasal 5 ayat 1 ).
Jika medisi menghasilkan kesepakatan perdamaian, para pihak dengan bantuan mediator wajib merumuskan secara tertulis kesepakatan yang dicapai, bentuk kesepakatan perdamaian tersebut dituangakan dalam bentuk akta perdamaian (Pasal 17)
Dalam Perma No. 01 Tahun 2008 secara keseluruhan berisi 27 Pasal yang terbagi menjadi 8 Bab, yaitu ketentuan umum, tahap Pra mediasi, tahap-tahap proses mediasi, tempat penyelenggaraaan mediasi, perdamaian di tingkat banding, kasasi, dan peninjauan kembali, kesepakatan diluar pengadilan, pedoman perilaku mediator dan insentif dan terakhir Penutup.
b) Mediasi diluar lembaga peradilan
sengketa. Biasanya lembaga ini berbadan hukum yayasan atau dalam bentuk lainnya, yang mana mereka menyediakan jasa mediasi bagi masyarakat yang menginginkan penyelesaian sengketa.28
Penyelesaian sengketa yang sudah lama berkembang adalah
arbitrase. Para pihak melalaui klausul yang disepakati dalam perjanjian, menundukan diri (submission) menyerahkan penyelesaian sengketa yang timbul dari perjajian kepada pihak ketiga yang netral dan bertindak sebagai arbiter. Dalam tata hukum nasional di Indonesia ketentuan mengenai arbitrase diatur dalam Undang-Undang Nomor 30 tahun 1999 tentang Arbitrase dan alternatif penyelesaian sengketa.29
Undang-Undang No 30 tahun 1999 ini memuat 82 Pasal yang terdiri dari 11 bab, yaitu ketentuan umum, Alternatif penyelesaian sengketa, Syarat arbitrase pengangkatan arbiter dan hak ingkar, syarat pengangkatan arbiter, acara yang berlaku dihadapan majelis arbitrase, pendapat dan putusan arbitrase, pelaksanaan putusan arbitrase, pembatalan putusan arbitrase, berakhirnya tugas arbiter, biaya arbitrase, ketentuan peralihan dan ketentuan penutup.
Dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 30 tahun 1999 tersebut mendefinisikan “ Arbitrase adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata diluar pengadilan umum uang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa”. Arbitrase digunakan untuk mengantisipasi perselisihan yang mungkin terjadi maupun yang sedang mengalami perselisihan yang tidak dapat diselesaikan secara negosiasi/konsultasi maupun melalui pihak ketiga serta untuk menghindari penyelesaian sengketa melalui Badan Peradilan yang selama ini dirasakan memerlukan waktu yang lama.30
28Ibid., hal 336.
Arbitrase sangat berbeda dengan mediasi, perbedaan pokoknya terletak pada fungsi dan kewenangannya, yakni : (1) Arbiter diberi kewenangan penuh oleh para pihak untuk menyelesaikan sengketa, (2) untuk itu arbiter berwenang mengambil putusan yang lazim disebut award, (3) sifat putusan langsung final and binding (final dan mengikat) kepada para pihak.31
Salah satu lembaga mediasi yang terkenal adalah Pusat Mediasi Nasional (National Mediation Center). Disamping itu terdapat pula lembaga penyedia jasa pelayanan mediasi, walaupun tidak menggunakan nama pusat mediasi, lembaga tersebut antara lain:32
(1)Pusat Mediasi Nasional
(2)Indonesian Institute for Conflict Transformation (IICT)
(3)Badan Arbitrase Nasional (BANI)
(4)Badan Arbitrase Mu’amalah Indonesia (BAM-UI)
(5)Badan Arbitrase Pasar Modal Indonesia (BAPMI)
(6)Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS)
Dan berbagai lembaga lainnya. Kegiatan utama lembaga ini adalah menjalankan arbitrase, namun mereka juga memiliki sejumlah mediator yang memberikan pelayanan kepada pihak yang bersengketa, jika para pihak menempuh jalur mediasi dan bukan arbitrase.
Di Indonesia, lembaga penyedia jasa mediasi tumbuh cukup banyak, dan kemungkinan besar akan bertambah lagi dimasa mendatang, mengingat kebutuhan penyelesaian sengketa secara cepat dan memuaskan para pihak menjadi tuntutan terutama bagi para pelaku bisnis.33
D. Kesimpulan
Mediasi adalah proses penyelesaian sengketa yang melibatkan pihak ketiga sebagai mediator. Pihak ketiga akan menjadi mediator, bila ia
mendapatkan kepercayaan (trust) dari para pihakyang bersengketa. Kepercayaan diperoleh mediator bila ia dianggap adil, jujur, tidak memihak dan tidak memiliki kepentinganapapun terhadap sengketa yang dialami para pihak. Kepercayaan merupakan modal utama bagi para mediator dalam menjembatani para pihak untuk “duduk bersama” mencarikan jalan keluar terhdap sengketa yang mereka hadapi. Mediator hanyalah membantu para pihak untuk mencarikan sejumlah kemungkinan solusi bagi penyelesaian sengketa. Mediator tidak dapat menawarkan atau memaksakan para pihak untuk menerima solusi yang berasal darinya, tetapi mediator harus mendorong para pihak untuk menciptakan sendiri sejumlah solusi yang dapat mengakhiri sengketa mereka.
Dalam sistem hukum adat, mediasi digunakan oleh masyarakat hukum adat sebagai cara dalam penyelesaian sengketa. Mediasi memiliki keterkaitan dengan pandangan hidup masyarakat hukum adat, bahwa sengketa yang terjadi antara para pihak menandakan adanya gangguan keseimbangan nilai komunal dari masyarakat hukum adat. Persengketaan tidak boleh dibiarkan terus berlanjut, tetapi para pihak yang terlibat berkewajiban menyelesaikannya dalam rangka menjaga keseimbangan nilai kebersamaan dan kerukunan dalam masyarakat hukum adat. Tokoh adat amat berperan dalam membantu para pihak yang menyelesaikan sengketa melalui mediasi. Keberadaan tokoh adat sebagai pihak ketiga (mediator) amat diperlukan, karena mereka adalah orang yang memiliki otoritas dan kewibawaan dalam menjaga dan menegakan nilai-nilai adat.
Pada masa kolonial belanda ini lembaga pengadilan diberikan kesempatan untuk mendamaikan para pihak yang bersengketa. Kewenangan mendamaikan hanya sebatas kasus-kasus keluarga dan perdata pada umumnya seperti perjanjian, jual beli, sewa menyewa, dan berbagai aktivitas bisnis lainnya.
Undang-Undang No. 30 tahun 1999 yang menyatakan sengketa atau beda pendapat perdata dapat diselesaikan oleh para pihak melalui alternatif penyelesaian sengketa yang didasarkan pada itikad baik dengan menyampingkan penyelesaian secara litigasi di Pengadilan. Ketentuan pasal ini memberi ruang gerak mediasi yang cukup luas, yaitu seluruh perbuatan hukum yang termasuk dalam ruang lingkup perdata.
Hal senada juga ditegaskan dalam peraturan Mahakamah Agung RI Nomor 1 tahun 2008 tentang prosedur mediasi di pengadilan. Dalam pasal 4 Perma tersebut disebutkan bahwa semua sengketa perdata yang diajukan ke pengadilan tingkat pertama wajib terlebi dahulu diselesaikan melalui perdamaian dengan bantuan mediator, kecuali perkara yang diselesaiakan melaui porsedur pengadilan niaga, pengadilan hubungan industrial, keberatan atas putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen dan keberatan atas putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha. Ketentuan pasal ini menggambarkan bahwa ruang lingkup sengketa yang dapat dimediasikan adalah seluruh perkara perdata yang menjadi kewewenangan peradilan umum dan peradilan agama pada tingkat pertama. Kewenangan peradilan agama meliputi perkara perkawinan, kewarisan, wakaf, hibah, sodakoh, wasiat, dan ekonomi Islam. Dengan demikian, mediasi dalam sistem hukum nasional dapat dilaksanakan diluar pengadilan maupun dihadapan pengadilan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam proses beracara.
Abbas, Syahrial, Mediasi Dalam Hukum Syariah, Hukum Adat, Dan Hukum Nasional, Kencana, Jakarta, 2011.
Amriani, Nurnaningsih, Mediasi Alternative Penyelesaian Sengketa Perdata Di Pengadilan, RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2011.
Hadikusuma, Hilman, Pengantar Ilmu Hukum Adat di Indonesia, CV. Mandar Maju, Bandung, 1992.
Mujahidin, Ahmad, Pembaharuan Hukum Acara Peradilan Agama, Ghalia Indonesia, Bogor, 2012.
Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 02 Tahun 2003 Tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.
Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 01 Tahun 2008 Tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.
Rahmadi, Takdir , Mediasi (Penyelesaian sengketa melalui pendekatan mufakat), PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2011.
Sumartono, Gatot, Arbitrase dan Mediasi di Indonesia, PT Gramedia Media Pustaka Utama, 2006, hal 119.
Sutantio, Retnowulan dan Iskandar Oeripkartawinata, Hukum Acara Perdata, CV. Mandar Maju, Bandung, Cetakan Kesebelas, 2009.
Usman, Rachmadi, Pilihan Penyelesaian Sengketa Di Luar Pengadilan, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2003.