Perkembangan Makro Ekonomi Indonesia
Tahun 1998-2013
Makalah Diajukan Untuk Melengkapi Tugas Mata Kuliah Perekonomian Indonesia
Disusun oleh :
Nama
: Hilmiah
Nim
: 041202503125143
Kelas L305
PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI (AKUNTANSI) UNIVERSITAS SATYA NEGARA INDONESIA
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-NYA, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Penyusunan makalah ini merupakan syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Perekonomian Indonesia dengan judul “Perkembangan Makro Ekonomi Indonesia Tahun 1998 s.d 2013”.
Dalam makalah ini penulis menyadari masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu segala saran dan kritik guna perbaikan dan kesempurnaan sangat kami nantikan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan para pembaca pada umumnya.
Jakarta, Juli 2014
Daftar Isi
Kata Pengantar...i
Daftar Isi...ii
Bab I. Pendahuluan
...11.1. Latar Belakang ...1
1.2. Rumusan Masalah ...3
1.3. Tujuan ...3
Bab II. Tinjauan Teoritis
...42.1. Pertumbuhan Ekonomi ...4
a. Definisi Pertumbuhan Ekonomi ...4
b. Menstabilkan Kegiatan Ekonomi ...5
c. Teori-Teori Pertumbuhan Ekonomi ...5
2.2 Inflasi ...9
a. Definisi Inflasi ...9
b. Faktor-Faktor Penyebab Inflasi ...10
c. Akibat Buruk Inflasi ...11
2.3 Pengangguran ...13
a. Faktor Yang Menimbulkan Pengangguran...14
b. Akibat Buruk Pengangguran ...14
2.4 Neraca Perdagangan ...15
a. Pengertian Ekspor Impor ...15
b. Manfaat Melakukan Ekspor & Impor...16
c. Faktor Pendorong ...17
Bab III. Analisis Data
...193.1 Tingkat Pertumbuhan Ekonomi ...19
3.2 Inflasi ...22
3.3 Tingkat Pengangguran Di Indonesia ...25
3.4 Perkembangan Ekspor dan Impor Indonesia ...30
Bab IV. Kesimpulan
...19BAB I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Tanda-tanda perekonomian mulai mengalami penurunan adalah pada tahun 1997 dimana pada masa itulah awal terjadinya krisis. Saat itu pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya berkisar pada level 4,7%, sangat rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang 7,8 %. Kondisi keamanan yang belum kondusif akan sangat mempengaruhi iklim investasi di Indonesia. Mungkin hal itulah yang terus diperhatikan oleh pemerintah. Hal ini sangat berhubungan dengan aktivitas kegiatan ekonomi yang berdampak pada penerimaan negara serta pertumbuhan ekonominya. Adanya peningkatan pertumbuhan ekonomi yang diharapkan akan menjanjikan harapan bagi perbaikan kondisi ekonomi dimasa mendatang. Bagi Indonesia, dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi maka harapan meningkatnya pendapatan nasional (GNP), pendapatan persaingan kapita akan semakin meningkat, tingkat inflasi dapat ditekan, suku bunga akan berada pada tingkat wajar dan semakin bergairahnya modal bagi dalam negeri maupun luar negeri.
bangsa Indonesia turut tercabik-cabik oleh krisis yang berlangsung dengan nyata di Jakarta yang menjadi ibukota Indonesia. Puluhan bahkan ratusan perusahaan, mulai dari yang berskala kecil sampai milik konglomerat bertumbangan. Lebih dari 70 persen perusahaan yang tercatat di pasar modal mengalami kebangkrutan. Hampir semua sector bisnis pada sendi
-sendi perekonomian Indonesia mengalami kemunduran. Hanya sedikit sekali sector bisnis Indonesia yang mampu bertahan dalam kondisi krisis tersebut, krisis ekonomi itu pun juga membuat kondisi ketenaga kerjaan di Indonesia ikut memburuk. Dimana terjadi kemerosotan Produk Domestik Bruto (PDB), output menurun, banyak perusahaan yang bangkrut, perbankan hancur, pengangguran meningkat, kemiskinan meningkat.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah definisi dari pertumbuhan ekonomi dan teori-teori pertumbuhan ekonomi?
2. Bagaimana cara menstabilkan kegiatan ekonomi?
3. Apakah definisi dari inflasi?
4. Apakah faktor-faktor penyebab terjadinya inflasi serta dampaknya serta bagaimana cara penggunaan tenaga kerja penuh tanpa inflasi ?
5. Apakah definisi dari pengangguran serta apa sajakah faktor yang menimbulkan pengangguran dan akibat-akibat buruknya?
6. Apakah definisi dari ekspor impor serta manfaat dan faktor pendorong dari ekspor impor?
1.3 Tujuan
1. Pembaca mengerti tentang pertumbuhan ekonomi di Indonesia 2. Pembaca mengetahui tingkat inflasi di indonesia
3. Pembaca mengetahui tingkat pengangguran di Indonesia
4. Pembaca mengetahui neraca perdagangan ekspor maupun impor
Tinjauan Teoritis
2.1 Pertumbuhan Ekonomi
a. Definisi Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi dapat didefinisikan sebagai perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksikan dalam masyarakat bertambah. Masalah petumbuhan ekonomi dapat dipandang sebagai masalah makro ekonomi dalam jangka panjang. Dari satu periode ke periode lainnya kemampuan sesuatu negara untuk menghasilkan barang dan jasa akan meningkat. Kemampuan yang meningkat ini disebabkan karena faktor-faktor produksi akan selalu mengalami pertambahan dalam jumlah dan kualitasnya. Teknologi yang digunakan berkembang, disamping itu juga tenaga kerja bertambah sebagai akibat perkembangan penduduk dan pengalaman kerja dan pendidikan menambah keterampilan mereka.
Perkembangan kemampuan memproduksi barang dan jasa sebagai akibat pertambahan faktor-faktor produksi pada umumnya tidak selalu diikuti pertumbuhan produksi barang dan jasa yang sama besarnya. Pertambahan potensi memproduksi kerap kali lebih besar dari pertambahan produksinya yang sebenarnya.
Kestabilan ekonomi yang diidam-idamkan setiap negara pada umumnya diartikan sebagai suatu keadaan ekonomi di mana tidak terdapat pengangguran yang serius dan perekonomian menikmati kestabilan harga-harga. Pengertian tersebut meliputi pula kestabilan dalam neraca pembayarannya. Dengan demikian pengertian kestabilan ekonomi meliputi kewujudan dalam tiga hal berikut :
- Tingkat penggunaan tenaga kerja adalah tinggi
- Tingkat harga-harga tidak menunjukkan perubahan yang berarti - Terdapat keseimbangan di antara ekspor impor dan lalu lintas dari/
ke luar negeri
Tujuan menstabilkan ekonomi berarti pula keinginan untuk menghindari fluktuasi yang tajam dalam kegiatan ekonomi dari satu waktu ke waktu yang lainnya. Pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat dapat menimbulkan inflasi. Apabila inflasi ini tidak dapat dikendalikan, kemerosotan ekonomi yang serius dapat berlaku pada masa berikutnya. Fluktuasi yang tidak dikendalikan tidak akan menjamin kewujudan tiga hal yang dinyatakan di atas, yaitu pengganguran yang rendah, kestabilan harga-harga dan kestabilan neraca pembayaran.
c. Teori-Teori Pertumbuhan Ekonomi
Teori Klasik
meningkat, dan investasi juga akan bertambah. Hal ini akan meningkatkan stok modal yang ada. Skala produksi meningkat dan meningkatkan permintaan terhadap tenaga kerja sehingga tingkat upah juga meningkat. Yang terakhir ini selanjutnya mengakibatkan jumlah suplai tenaga kerja meningkat yang akhirnya akan menurunkan tingkat produktifvitas dan keuntungan karena berlakunya hukum tambahan hasil yang semakin berkurang (diminishing return) karena terbatasnya jumlah Sumber Daya Alam seperti luas tanah. Proses ini selanjutnya mengakibatkan produksi, permintaan tenaga kerja dan juga upah menurun.
Menurut pemikiran klasik, pada kondisi seperti ini perekonomian mengalami tingkat kejenuhan atau keadaan stasioner. Ini adalah sebuah keadaan dimana perekonomian telah dewasa, mapan dan masyarakat telah sejahtera, tetapi tanpa perkembangan lebih lanjut. Beberapa teori klasik tersebut antara lain sebagai berikut:
- Teori pertumbuhan Adam Smith
Di dalam teori ini, ada tiga faktor penentu proses produksi/ pertumbuhan yaitu SDA, SDM, dan barang modal.
- Teori pertumbuhan David Ricardo
minimumnya. David Ricardo juga melihat pertanian sebagai sektor utama sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi.
- Teori pertumbuhan dari Thomas Robert Malthus
Menurutnya, ukuran keberhasilan pembangunan suatu perekonomian adalah kesejahteraan negara, yaitu jika PNB potensialnya meningkat. Sektor yang dominan adalah pertanian dan industri. Jika output di kedua sektor tersebut ditingkatkan, maka PNB potensialnya akan bisa ditingkatkan. Ada dua kelompok faktor yang sangat menentukan pertumbuhan, yaitu faktor-faktor ekonomi seperti tanah, tenaga kerja, modal dan organisasi; dan faktor-faktor non-ekonomi seperti keamanan atas kekayaan, konstitusi dan hukum yang pasti, etos kerja dan disiplin pekerja yang tinggi. Diantara faktor-faktor ekonomi tersebut, yang paling berpengaruh adalah faktor akumulasi modal. Tanpa penambahan modal (peningkatan investasi), proses produksi akan berhenti dan berarti PNB potensial akan berkurang atau hilang, sumber utama akumulasi modal adalah keuntungan dari pengusaha, bukan penghematan konsumsi atau tabungan masyarakat.
- Teori Marx
Marx membuat lima tahapan perkembangan sebuah perekonomian yaitu : perekonomian komunal primitif, perekonomian perbudakan, perekonomian feodal, perekonomian kapitalis, dan perekonomian sosialis. Titik kritis dari teori Marx ini adalah pada transisi dari perekonomian kapitalis ke perekonomian sosialis.
Jika dirangkum teori-teori klasik ini, maka ada dua hal penting yang membedakannya dengan teori-teori lainnya yang muncul setelah itu, yakni:
2) Peran teknologi dan ilmu pengetahuan serta peningkatan kualitas dari tenaga kerja dan dari input-input produksi lainnya terhadap pertumbuhan output tidak mendapat perhatian secara eksplisit atau dianggap konstan (teknologi dianggap suatu koefisien yang tetap tidak berubah).
Teori non-Keynesian
Model pertumbuhan yang masuk di dalam kelompok teori non-Keynesian adalah model dari Horrod dan Domar yang mencoba memperluas teori Keynes, mengenai keseimbangan pertumbuhan ekonomi dalam perspektif jangka panjang dengan melihat pengaruh dari investasi, baik pada permintaan agregat maupun pada perluasan kapasitas produksi atau penawaran agregat yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Dapat dikatakan bahwa model pertumbuhan dari Horrod-Domar (dikenal dengan sebutan H-O) adalah suatu gabungan dengan modifikasi dari model pertumbuhan dari Domar dan model pertumbuhan dari Horrod. Model dari Domar lebih memfokuskan pada laju pertumbuhan investasi.
2.2 Inflasi
a. Definisi Inflasi
Inflasi dapat didefinisikan sebagai suatu proses kenaikan harga-harga umum yang berlaku dalam suatu perekonomian dari satu periode ke periode lain. Tingkat inflasi adalah persentasi kenaikan harga-harga pada suatu tahun tertentu berbanding dengan tahun sebelumnya
lebih rendah. Inflasi di Indonesia tinggi sekali pada zaman Presiden Soekarno, karena kebijakan fiskal dan moneter sama sekali tidak prudent (“kalau perlu uang, cetak saja”). Di zaman Soeharto, pemerintah berusaha menekan inflasi - akan tetapi tidak bisa di bawah 10 persen setahun rata-rata, antara lain oleh karena Bank Indonesia masih punya misi ganda, antara lain sebagai agent of development, yang bisa mengucurkan kredit likuiditas tanpa batas. Baru pada zaman reformasi, mulai pada zaman Presiden Habibie maka fungsi Bank Indonesia mengutamakan penjagaan nilai rupiah. Tetapi karena sejarah dan karena inflationary expectations masyarakat (yang bertolak ke belakang, artinya bercermin kepada sejarah) maka “inflasi inti” masih lebih besar dari pada 5 persen setahun.
tingkat ekonomi mikro atau makro, baik fiskal maupun moneter. Pada tingkat mikro, rumah tangga/masyarakat misalnya dapat memanfaatkan angka inflasi untuk dasar penyesuaian nilai pengeluaran kebutuhan sehari-hari dengan pendapatan mereka yang relatif tetap. Pada tingkat korporasi, angka inflasi dapat dipakai untuk perencanaan pembelanjaan dan kontrak bisnis. Dalam lingkup yang lebih luas (makro), angka inflasi menggambarkan kondisi/stabilitas moneter dan perekonomian.
b. Faktor-Faktor Penyebab Inflasi
Masalah kenaikan harga-harga yang berlaku di berbagai negara diakibatkan oleh banyak faktor. Di negara-negara industri pada umumnya inflasi bersumber dari salah satu atau gabungan dari dua masalah berikut:
Tingkat pengeluaran agregat yang melebihi kemampuan perusahaan-perusahaan untuk menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa. Keinginan untuk mendapatkan barang yang mereka butuhkan akan mendorong para konsumen meminta barang itu pada harga yang lebih tinggi. Sebaliknya, para pengusaha akan mencoba menahan barangnya dari hanya menjual kepada pembeli-pembeli yang bersedia membayar pada harga yang lebih tinggi. Kedua-dua kecenderungan ini akan menyebabkan kenaikan harga-harga.
perekonomian. Kenaikan biaya produksi tersebut akan mendorong perusahaan-perusahaan menaikkan harga-harga barang mereka.
c. Akibat Buruk Inflasi
Inflasi menimbulkan beberapa akibat buruk kepada individu, masyarakat dan kegiatan perekonomian secara keseluruhan. Oleh sebab itu masalah tersebut perlu dihindari. Salah satu akibat penting dari inflasi ialah ia cenderung menurunkan taraf kemakmuran segolongan besar masyarakat. Sebagian besar pelaku-pelaku kegiatan ekonomi terdiri dari pekerja-pekerja yang bergaji tetap. Inflasi biasanya berlaku lebih cepat dari kenaikan upah para pekerja. Oleh sebab itu upah riil para pekerja akan merosot disebabkan oleh inflasi dan keadaan ini berarti tingkat kemakmuran segolongan besar masyarakat mengalami kemerosotan.
Prospek pembangunan ekonomi jangka panjang akan menjadi semakin memburuk sekiranya inflasi tidak dapat dikendalikan. Inflasi cenderung akan menjadi bertambah cepat apabila tidak diatasi. Inflasi yang bertambah serius tersebut cenderung untuk mengurangi investasi yang produktif, mengurangi ekspor dan menaikkan impor. Kecenderungan ini akan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Berikut beberapa efek-efek yang ditimbulkan inflasi kepada individu dan masyarakat :
1. Inflasi akan menurunkan pendapatan riil orang-orang yang berpendapatan tetap. Pada umumnya kenaikan upah tidaklah secepat kenaikan harga-harga. Maka inflasi akan menurunkan upah riil individu-individu yang berpendapatan tetap.
2. Inflasi akan mengurangi nilai kekayaan yang berbentul uang.
institusi-institusi keuangan lain merupakan simpanan keuangan. Nilai riilnya akan menurun apabila inflasi berlaku
3. Memperburuk pembagian kekayaan. Telah ditunjukkan bahwa penerima pendapatan tetap akan menghadapi kemerosotan dalam nilai riil pendapatannya, dan pemilik kekayaan bersifat keuangan mengalami penurunan dalam nilai riil kekayaannya. Akan tetapi pemilik harta-harta tetap tanah, bangunan dan rumah dapat mempertahankan atau menambah nilai riil pendapatannya. Dengan demikian inflasi menyebabkan pembagian pendapatan di antara golongan berpendapatan tetap dengan pemilik-pemilik harta tetap dan penjual/pedagang akan menjadi semakin tidak merata.
d. Penggunaan Tenaga Kerja Penuh Tanpa Inflasi
selalu dapat mencapai kegiatan perekonomian pada penggunaan tenaga kerja penuh.
2.3 Pengangguran
Pengangguran adalah suatu keadaan di mana seseorang yang tergolong dalam angkatan kerja ingin mendapatkan pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya. Seseorang yang tidak bekerja, tetapi tidak secara aktif mencari pekerjaan tidak tergolong sebagai penganggur. Sebagai contoh, ibu rumah tangga yang tidak ingin bekerja karena ingin mengurus keluarganya tidak tergolong sebagai penganggur.
a. Faktor Yang Menimbulkan Pengangguran
Faktor utama yang menimbulkan pengangguran adalah kekurangan pengeluaran agregat. Para pengusaha memproduksi barang dan jasa dengan maksud untuk mencari keuntungan. Keuntungan tersebut hanya akan diperoleh apabila para pengusaha dapat menjual barang yang mereka produksikan. Semakin besar permintaan, semakin banyak barang dan jasa yang akan mereka wujudkan. Kenaikkan produksi yang dilakukan akan menambah penggunaan tenaga kerja. Dengan demikian terdapat perhubungan yang erat di antara tingkat pendapatan nasional yang dicapai dengan penggunaan tenaga kerja yang dilakukan; semakin tinggi pendapatan nasional, semakin banyak penggunaan tenaga kerja dalam perekonomian.
Disamping itu faktor-faktor lain yang menimbulkan pengangguran:
1.
Menganggur karena ingin mencari kerja lain yang lebih baik3.
Ketidaksesuaian di antara keterampilan pekerjaan yang sebenarnya dengan keterampilan yang diperlukan dalam industri-industri.b. Akibat Buruk Pengangguran
Salah satu faktor penting yang menentukan kemakmuran sesuatu masyarakat adalah tingkat pendapatannya. Pendapatan masyarakat mencapai maksimum apabila tingkat penggunaan tenaga kerja penuh dapat diwujudkan. Pengangguran mengurangi pendapatan masyarakat, dan ini mengurangi tingkat kemakmuran yang mereka capai.
Ditinjau dari sudut individu, pengangguran menimbulkan berbagai masalah ekonomi dan sosial kepada yang mengalaminya. Ketiadaan pendapatan menyebabkan para penganggur harus mengurangi pengeluaran konsumsinya. Disamping itu ia dapat mengganggu taraf kesehatan keluarga. Pengangguran yang berkepanjangan menimbulkan efek psikologis yang buruk ke atas diri penganggur dan keluarganya.
Apabila keadaan pengangguran di sesuatu negara adalah sangat buruk, kekacauan politik dan sosial selalu berlaku dan menimbulkan efek yang buruk kepada kesejahteraan masyarakat dan prospek pembangunan ekonomi dalam jangka panjang.
Nyatalah bahwa masalah pengangguran adalah masalah yang sangat buruk efeknya kepada perekonomian masyarakat, dan oleh sebab itu secara terus menerus usaha-usaha harus dilakukan untuk mengatasinya.
2.4 Neraca Perdagangan
a. Pengertian Ekspor & Impor
Ekspor adalah proses transportasi barang atau komoditas dari suatu negara ke negara lain secara legal, umumnya dalam proses perdagangan. Proses ekspor pada umumnya adalah tindakan untuk mengeluarkan barang atau komoditas dari dalam negeri untuk memasukannya ke negara lain. Ekspor barang secara besar umumnya membutuhkan campur tangan dari bea cukai di negara pengirim maupun penerima. Ekspor adalah bagian penting dari perdagangan internasional.
Impor adalah proses transportasi barang atau komoditas dari suatu negara ke negara lain secara legal, umumnya dalam proses perdagangan. Proses impor umumnya adalah tindakan memasukan barang atau komoditas dari negara lain ke dalam negeri. Impor barang secara besar umumnya membutuhkan campur tangan dari bea cukai di negara pengirim maupun penerima. Impor adalah bagian penting dari perdagangan internasional.
Sedangkan neraca keseluruhan menunjukkan pertimbangan di antara keseluruhan aliran pembayaran ke luar negeri dan keseluruhan aliran penerimaan dari luar negeri. Defisit neraca pembayaran berarti pembayaran ke luar negeri melebihi penerimaan dari luar negeri. Salah satu faktor penting yang menimbulkan masalah ini adalah impor melebih ekspor. Pengaliran modal yang terlalu banyak ke luar negeri adalah faktor lain yang menimbulkan defisit tersebut.
b. Manfaat Melakukan Ekspor & Impor
Manfaat perdagangan internasional adalah sebagai berikut.
adanya perdagangan internasional, setiap negara mampu memenuhi kebutuhan yang tidak diproduksi sendiri.
Memperoleh keuntungan dari spesialisasi
Sebab utama kegiatan perdagangan luar negeri adalah untuk memperoleh keuntungan yang diwujudkan oleh spesialisasi. Walaupun suatu negara dapat memproduksi suatu barang yang sama jenisnya dengan yang diproduksi oleh negara lain, tapi ada kalanya lebih baik apabila negara tersebut mengimpor barang tersebut dari luar negeri.
Memperluas pasar dan menambah keuntungan
Terkadang, para pengusaha tidak menjalankan mesin-mesinnya (alat produksinya) dengan maksimal karena mereka khawatir akan terjadi kelebihan produksi, yang mengakibatkan turunnya harga produk mereka. Dengan adanya perdagangan internasional, pengusaha dapat menjalankan mesin-mesinnya secara maksimal, dan menjual kelebihan produk tersebut keluar negeri.
Transfer teknologi modern
Perdagangan luar negeri memungkinkan suatu negara untuk mempelajari teknik produksi yang lebih efesien dan cara-cara manajemen yang lebih modern.
c. Faktor Pendorong
Banyak faktor yang mendorong suatu negara melakukan perdagangan internasional, di antaranya sebagai berikut :
1. Untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa dalam negeri
2. Keinginan memperoleh keuntungan dan meningkatkan pendapatan negara
4. Adanya kelebihan produk dalam negeri sehingga perlu pasar baru untuk menjual produk tersebut.
5. Adanya perbedaan keadaan seperti sumber daya alam, iklim, tenaga kerja, budaya, dan jumlah penduduk yang menyebabkan adanya perbedaan hasil produksi dan adanya keterbatasan produksi.
6. Adanya kesamaan selera terhadap suatu barang.
7. Keinginan membuka kerja sama, hubungan politik dan dukungan dari negara lain.
8. Terjadinya era globalisasi sehingga tidak satu negara pun di dunia dapat hidup sendiri.
3.1 Tingkat Pertumbuhan Ekonomi
Pada Bulan Mei 1998 disaat berakhirnya pemerintahan masa orde baru saat krisis keuangan Asia mencapai titik terburuknya dan menghantam perekonomian Indonesia. Setelah mengalami suatu pertumbuhan negatif sekitar 13% pada tahun 1998 akibat krisis Asia tersebut, ekonomi Indonesia mulai pulih kembali sejak tahun 1999 dengan laju pertumbuhan yang kembali positif yang merangkak secara perlahan setiap tahunnya. Pada tahun 2008 hingga 2009 terjadi suatu krisis ekonomi global yang berawal dari suatu krisis keuangan yang besar di AS. Perekonomian Indonesia juga terkena imbasnya terutama lewat penurunan volume ekspor manufaktur untuk sejumlah barang terutama meubel akibat permintaan dunia merosot waktu itu. Namun berbeda dengan pengalaman Indonesia sewaktu krisis keuangan Asia , pada krisis 2008 – 2009, ekonomi Indonesia tetap mampu mempertahankan pertumbuhan yang positif walaupun lajunya lebih rendah daripada yang diharapkan saat sebelum krisis terjadi.
mencapai 20 % , pembentukan modal tetap domestik bruto (investasi) yang bertambah 7,9 % dan kenaikan ekonomi faktor pendorong utama adalah sektor perdagangan , hotel dan restoran yang tumbuh sekitar 9,6 % selama periode yang sama. Sektor pertanian yang biasanya sebagai pendorong utama pertumbuhan PDB Indonesia dari sisi penawaran, kali ini perannya tidak dominan, yang mencatat laju pertumbuhan outputnya hanya 3,1 %. Dengan laju pertumbuhan tersebut, BPS optimis bahwa nominal PDB akhir tahun 2010 akan melampaui asuransi pemerintah sebesar Rp 6.254 triliun atau bahkan bisa mencapai hingga Rp 6.400 triliun. Menurut BPS, seperti yang dikutip oleh Kompas, nominal PDB atau total transaksi yang terjadi di seluruh Perekonomian Indonesia pada triwulan I tahun 2010 adalah Rp 1.498,7 triliun atas dasar harga berlaku saat itu. Namun berdasarkan harga pasar tahun 2000, nominal PDB Indonesia pada periode tersebut menjadi Rp 558,1 triliun.
berpendapatan rendah. Sebelum terjadi krisis ekonomi, Indonesia telah mencapai kemajuan pesat dalam berbagai aspek pembangunan manusia. Sejak tahun 1975 hingga pertengahan tahun 1990-an, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terus meningkat sampai terjadinya penurunan yang sangat tajam pada tahun 1998. Krisis ekonomi dan berbagai kebijakan pemulihan ekonomi yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk memimpin lebih dinamis dan fluktuatif harga bahan makanan dan input pertanian sejak pertengahan tahun 1997. Presiden B.J Habibie dilantik sebagai Presiden R.I pada tanggal 21 Mei 1998 atau beberapa hari setelah kerusuhan tanggal 12 Mei 1998 dan setelah Pemerintah memutuskan menurunkan harga BBM pada tanggal 15 Mei 1998. Pada masa pemerintahanan Presiden B.J Habibie pemerintah tidak menaikkan harga bersubsidi BBM.
berikutnya. Salah satu penyebab utama kesuksesan perekonomian Indonesia adalah efektifnya kebijakan pemerintahyang berfokus pada disiplin fiska yang tinggi dan pengurangan utang Negara. Perkembangan yang terjadi dalam 5 tahun terakhir membawa perubahan yang signifikan terhadap persepsi dunia mengenai Indonesia. Kondisi perekonomian pada masa pemerintahan SBY mengalami perkembangan yang sangat baik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh pesat di tahun 2010 seiring pemulihan ekonomi dunia pasca krisis global yang terjadi sepanjang 2008 hingga 2009.
3.2 Inflasi
sebagai salah satu informasi dasar untuk pengambilan keputusan baik tingkat ekonomi mikro atau makro, baik fiskal maupun moneter. Pada tingkat mikro, rumah tangga/masyarakat misalnya, dapat memanfaatkan angka inflasi untuk dasar penyesuaian nilai pengeluaran kebutuhan sehari-hari dengan pendapatan mereka yang relatif tetap. Pada tingkat korporasi, angka inflasi dapat dipakai untuk perencanaan pembelanjaan dan kontrak bisnis. Dalam lingkup yang lebih luas (makro), angka inflasi menggambarkan kondisi/stabilitas moneter dan perekonomian.
Rumus/Formula Inflasi:
INF t = ( IHKt - IHKt-1 )X 100 IHKt-1
Keterangan :
- INF = inflasi (atau deflasi) pada waktu (bulan atau tahun) t / inflation (or deflation) at (month or year) t
- IHK = Indeks Harga Konsumen / Consumer Price Index
- IHK = CPI
TABEL INFLASI DAN PERTUMBUHAN EKONOMI DARI TAHUN 1998-2013
Tahun Inflasi Pertumbuhan
ekonomi
Kurs
1998 14,4 3,30 9,730
1999 4,48 5,57 8,470
2000 4,63 5,51 8,510
2001 4,54 5,54 8,480
2002 4,54 5,54 8,480
2003 4,65 5,50 8,510
2004 4,98 5,38 8,590
2005 8,09 4,20 9,360
2007 10,8 3,59 10,000
2008 14,4 1,81 10,900
2009 9,14 3,81 9,620
2010 11,5 2,93 10,200
2011 14,6 1,74 11,000
2012 14,6 1,75 11,000
2013 14,6 1,76 11,000
untuk inflasi adalah 14,6, pertumbuhan ekonomi 1,75 dan kurs Rp 11,000. Dan tahun 2013 ekspektasi untuk inflasi adalah 14,6, pertumbuhan ekonomi 1,76 dan kurs Rp 11,000.
3.3 Tingkat Pengangguran Di Indonesia
- Tahun 2005
Jumlah angkatan kerja Februari 2005 mencapai 105,8 juta orang, bertambah 1,8 juta orang dibanding Agustus 2004 sebesar 104,0 juta orang. Jumlah penduduk yang bekerja dalam 6 bulan yang sama hanya bertambah 1,2 juta orang, dari 93,7 juta menjadi 94,9 juta orang, yang berarti menambah jumlah penganggur baru sebesar 600 ribu orang.
- Tahun 2006
Jumlah angkatan kerja pada Februari 2006 mencapai 106,3 juta orang, bertambah 500 ribu orang dibandingkan jumlah angkatan kerja pada Februari 2005 sebesar 105,8 juta orang. Jumlah penduduk yang bekerja pada Februari 2006 sebesar 95,2 juta orang, bertambah 300 ribu orang jika dibandingkan dengan keadaan pada Februari 2005, tetapi bertambah 1,2 juta orang jika dibandingkan dengan keadaan November 2005.
- Tahun 2007
angkatan kerja Agustus 2006 sebesar 106,39 juta orang atau bertambah 1,85 juta orang dibanding Februari 2006 sebesar 106,28 juta orang. Jumlah penduduk yang bekerja di Indonesia pada Februari 2007 mencapai 97,58 juta orang, bertambah 2,12 juta orang jika dibandingkan dengan keadaan pada Agustus 2006 sebesar 95,46 juta orang, atau bertambah 2,40 juta orang jika dibandingkan dengan keadaan Februari 2006 sebesar 95,18 juta orang. Jumlah penganggur pada Februari 2007 mengalami penurunan sebesar 384 ribu orang dibandingkan dengan keadaan Agustus 2006 yaitu dari 10,93 juta orang pada Agustus 2006 menjadi 10,55 juta orang pada Februari 2007, dan mengalami penurunan sebesar 556 ribu orang jika dibandingkan dengan keadaan Februari 2006 sebesar 11,10 juta orang.
- Tahun 2008
Jumlah angkatan kerja di Indonesia pada Agustus 2008 mencapai 111,95 juta orang, bertambah 470 ribu orang dibanding jumlah angkatan kerja Februari 2008 sebesar 111,48 juta orang atau bertambah 2,01 juta orang dibanding Agustus 2007 sebesar 109,94 juta orang. Jumlah penduduk yang bekerja di Indonesia pada Agustus 2008 mencapai 102,55 juta orang, bertambah 503 ribu orang dibanding keadaan pada Februari 2008 sebesar 102,05 juta orang, atau bertambah 2,62 juta orang dibanding keadaan Agustus 2007 sebesar 99,93 juta orang.
Jumlah angkatan kerja di Indonesia pada Agustus 2009 mencapai 113,83 juta orang, bertambah 90 ribu orang dibanding jumlah angkatan kerja Februari 2009 sebesar 113,74 juta orang atau bertambah 1,88 juta orang dibanding Agustus 2008 sebesar 111,95 juta orang. Jumlah penduduk yang bekerja di Indonesia pada Agustus 2009 mencapai 104,87 juta orang, bertambah 380 ribu orang dibanding keadaan pada Februari 2009 sebesar 104,49 juta orang, atau bertambah 2,32 juta orang dibanding keadaan Agustus 2008 sebesar 102,55 juta orang.
- Tahun 2010
Jumlah angkatan kerja di Indonesia pada Agustus 2010 mencapai 116,5 juta orang, bertambah sekitar 530 ribu orang dibanding angkatan kerja Februari 2010 yang sebesar 116,0 juta orang atau bertambah 2,7 juta orang dibanding Agustus 2009 yang sebesar 113,8 juta orang. Jumlah penduduk yang bekerja di Indonesia pada Agustus 2010 mencapai 108,2 juta orang, bertambah sekitar 800 ribu orang dibanding keadaan pada Februari 2010 yang sebesar 107,4 juta orang atau bertambah 3,3 juta orang dibanding keadaan Agustus 2009 yang sebesar 104,9 juta orang.
- Tahun 2005
Tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Tahun 2005 mencapai 11,3 persen, lebih tinggi dibanding TPT pada Agustus 2004 sebesar 9,9 persen.
- Tahun 2006
Tingkat pengangguran terbuka pada Tahun 2006 mencapai 10,4 %, sedikit lebih rendah dibandingkan keadaan pada Februari 2005 (11,3%).
- Tahun 2007
Tingkat pengangguran terbuka di Indonesia pada Tahun 2007 mencapai 9,1 % , mengalami penurunan dibandingkan keadaan pada Tahun 2006 (10,4 %)
Tingkat pengangguran terbuka di Indonesia pada Agustus 2008 mencapai 8,4 persen, mengalami penurunan dibanding pengangguran Tahun 2007 sebesar 9,1 %
- Februari 2009
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia pada Februari 2009 mencapai 9,3 %, mengalami peningkatan apabila dibandingkan TPT Tahun 2008 sebesar 8,3 %.
- Agustus 2009
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia pada Agustus 2009 mencapai 7,8 %, mengalami penurunan apabila dibandingkan TPT pada Februari 2009 sebesar 9,3 %.
3.4 Perkembangan Ekspor dan Impor Indonesia
total ekspor hanya sebesar 56.320,9 juta US$ (menurun 9,34%), demikian juga untuk eskpor non migas yang menurun 8,53%. Di tahun 2003 ekspor mengalami peningkatan menjadi 61.058,2 juta US$ atau naik 6,82% banding eskpor tahun 2002 yang sebesar 57.158,8 juta US$. Hal yang sama terjadi pada ekspor non migas yang naik 5,24% menjadi 47.406,8 juta US$. Tahun 2004 ekspor kembali mengalami peningkatan menjadi 71.584,6 juta US$ (naik 17,24%) demikian juga ekspor non migas naik 18,0% menjadi 55.939,3 juta US$. Pada tahun 2006 nilai ekspor menembus angka 100 juta US$ menjadi 100.798,6 juta US$ atau naik 17,67%, begitu juga dengan ekspor non migas yang naik 19,81% dibandingkan tahun 2005 menjadi 79.589,1 juta US$.
Selama lima tahun terakhi, nilai impor Indonesia menunjukkan trend meningkat rata-rata sebesar 45.826,1 juta US$ per tahun. Pada tahun 2006, total impor tercatat sebesar 61.065,5 juta US$ atau meningkat sebesar 3.364,6 juta US$ (5,83%) dibandingkan tahun 2005. Peningkatan ini disebabkan oleh meningkatnya impor migas sebesar 1.505,2 juta US$ (8,62%) menjadi 18.962,9 juta US$ dan non migas sebesar 1.859,4 juta US$ (4,62%) menjadi 42.102,6 juta US$. Pada periode yang sama, peningkatan impor terbesar 54,15% dan non migas sebesar 39,51%.
Perkembangan Nilai Ekspor dan Impor (juta US$)
Jenis Tahun
menjamin kewujudan tiga hal yang dinyatakan di atas, yaitu pengganguran yang rendah, kestabilan harga-harga dan kestabilan neraca pembayaran.
2. Prospek pembangunan ekonomi jangka panjang akan menjadi semakin memburuk sekiranya inflasi tidak dapat dikendalikan. Inflasi cenderung akan menjadi bertambah cepat apabila tidak diatasi. Inflasi yang bertambah serius tersebut cenderung untuk mengurangi investasi yang produktif, mengurangi ekspor dan menaikkan impor. Kecenderungan ini akan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
3. Terdapat perhubungan yang erat di antara tingkat pendapatan nasional yang dicapai dengan penggunaan tenaga kerja yang dilakukan; semakin tinggi pendapatan nasional, semakin banyak penggunaan tenaga kerja dalam perekonomian. masalah pengangguran adalah masalah yang sangat buruk efeknya kepada perekonomian masyarakat, dan oleh sebab itu secara terus menerus usaha-usaha harus dilakukan untuk mengatasinya.
4. Ekspor adalah proses transportasi barang atau komoditas dari suatu negara ke negara lain secara legal, umumnya dalam proses perdagangan. Proses ekspor pada umumnya adalah tindakan untuk mengeluarkan barang atau komoditas dari dalam negeri untuk memasukannya ke negara lain. Ekspor barang secara besar umumnya membutuhkan campur tangan dari bea cukai di negara pengirim maupun penerima. Ekspor adalah bagian penting dari perdagangan internasional.
perdagangan. Proses impor umumnya adalah tindakan memasukan barang atau komoditas dari negara lain ke dalam negeri. Impor barang secara besar umumnya membutuhkan campur tangan dari bea cukai di negara pengirim maupun penerima. Impor adalah bagian penting dari perdagangan internasional.
BAB V
Daftar Pustaka
http://pelita-dunia27.blogspot.com/2013/03/pertumbuhan-ekonomi-diindonesia.html
Sumber: http://www.bps.go.id/aboutus.php?search=1
http://id.wikipedia.org/wiki/Inflasi_dan_perekonomian_Indonesia http://pratamafahri.blogspot.com/2012/04/perkembangan-ekspor-impor-di-indonesia.html
T.H Tambunan,Tulus. Perekonomian Indonesia. GI
Sadono, Sukirno. 2011. Makroekonomi Teori Pengantar. Rajawali Pers
Rahardja, Prathama., Mandala Manurung. Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro & Makro. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia